• Tidak ada hasil yang ditemukan

Wilayah Rawan Bencana

RPJMD Kota Payakumbuh Tahun 2012 2017 I 82018, kaidah pelaksanaan, pengendalian dan evaluasi pelaksanaan

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH 2.1 ASPEK GEOGRAFI DAN DEMOGRAF

2.1.3. Wilayah Rawan Bencana

Dibandingkan dengan daerah lain di Sumatera Barat yang terletak di zona patahan, Kota Payakumbuh relatif aman dari ancaman bencana alam gempa bumi, tanah longsor, banjir, dan letusan gunung api, begitu juga terhadap ancaman tsunami. Dalam RPJM Daerah Provinsi Sumatera Barat tahun 2010-2015, Kota Payakumbuh sama sekali tidak termasuk dalam wilayah rawan bencana. Namun demikian, terdapat ancaman dan potensi bencana angin puting beliung.

Walaupun jauh dari zona patahan yang biasa menghasilkan episentrum gempa bumi, namun tetap berpotensi menerima dampak energi gempa bumi seperti halnya getaran. Efek secara menyeluruh terhadap stabilitas wilayah Kota Payakumbuh tergantung dari 4 (empat) faktor, yaitu : sifat fisik dan keteknikan material (tanah dan batu), kemiringan lereng, karakter gempa bumi, dan struktur geologi. Efek secara menyeluruh tersebut, diungkapkan sebagai tipologi kerawanan terhadap gempa bumi dan kelas stabilitas wilayah.

b c de fg

ot

hch ihjk

muu

lmh ln

n 2012

-201

o II -8 Di samping itu, potensi longsor juga ada di beberapa wilayah di Kota Payakumbuh. Potensi ini dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu : aspek fisik alamiah dan aspek aktivitas manusia.

a. Aspek Fisik Alamiah :

Dari aspek fisik alamiah, potensi terhadap longsor diindikasikan oleh 7 (tujuh) indikator, yaitu : kemiringan lereng, kondisi tanah, batuan penyusun lereng, curah hujan, tata air lereng, kegempaan, dan vegetasi. Dari kajian terhadap indikator-indikator tersebut, maka dari aspek fisik alamiah ini, Kota Payakumbuh masih termasuk berpotensi “rendah” terhadap bencana longsor. b. Aspek Aktivitas Manusia :

Dari aspek aktivitas manusia, tingkat kerawanan terhadap longsor diindikasikan oleh 7 (tujuh) indikator yaitu : pola tanam, penggalian dan pemotongan lereng, pencetakan kolam, drainase, pembangunan konstruksi, kepadatan penduduk, dan usaha mitigasi.

Dari analisa terhadap indikator-indikator tersebut, maka Kota Payakumbuh termasuk berpotensi “sedang” akan bencana longsor. Dilihat bencana alam selama ini, maka bencana angin puting beliung paling sering terjadi di Kota Payakumbuh. Wilayah yang sering dilanda angin ini antara lain Kecamatan Payakumbuh Utara dan Payakumbuh Timur, yaitu Kelurahan Payonibung, Kelurahan Talawi, Kelurahan Balai Batuang, Kelurahan Tanjuang Anau, Kelurahan Koto Baru, Kelurahan Koto Panjang dan Kelurahan Payobasung.

Sedangkan potensi wilayah rawan longsor berada di Kecamatan Payakumbuh Barat dan Payakumbuh Selatan, karena terdapat perbukitan dengan kemiringan 20- 40%, yaitu di Kelurahan Payolansek, Kelurahan Kubu Gadang, Kelurahan Balai Panjang, Kelurahan Limo Kampuang, Kelurahan Kapalo Koto dan Kelurahan Ampangan.

Ancaman bencana banjir relatif tidak ada di Kota Payakumbuh, karena sistem drainase dan pembuangan air saat hujan sudah cukup baik, selain itu dengan adanya Batang Agam dan beberapa sungai lain yang melintasi kota dapat menampung air limpahan saat musim penghujan. Untuk kondisi saat ini, yang terjadi hanyalah daerah genangan pada beberapa lokasi, seperti kawasan Nunang, kawasan Napar (Jalan Kenanga), Pusat Kota Jalan Sudirman, Labuh Baru, Perumahan Padang Leba, Padang Tiakar Hilir, Kawasan Ibuh, Tambago dan Padang Tangah Payobadar. Pengurangan daerah genangan sudah menjadi prioritas pemerintah selama beberapa tahun terakhir ini, karena berkaitan dengan kinerja layanan sanitasi daerah.

2.1.4. Demografi

Perencanaan pembangunan daerah sangat erat kaitannya dengan jumlah dan perkembangan penduduk, karena perencanaan dilakukan berorientasi pada kebutuhan penduduk. Penduduk dengan jumlah yang terus bertambah dan kegiatannya yang

p q rs tu

ot

vqv wvxy

muu

z{v z|

n 2012

-201

} II -9 kompleks sementara lahan yang tersedia terbatas maka perencanaan sangat berperan untuk mengatur penduduk dan kebutuhan terhadap segala kegiatan yang komplek 1. Pertumbuhan Penduduk

Pertumbuhan penduduk merupakan indikator yang menunjukkan kecepatan perubahan penduduk di suatu daerah yang akan mempengaruhi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan dan program pembangunan, khususnya mengenai penyediaan perumahan, pendidikan, dan fasilitas sosial lainnya. Laju pertumbuhan penduduk merupakan indikator yang menunjukkan kecepatan perubahan penduduk di suatu daerah.

Komposisi penduduk Kota Payakumbuh menurut jenis kelamin menunjukkan bahwa jumlah penduduk perempuan lebih banyak dari penduduk laki-laki sebagaimana terlihat pada Tabel 2.5 :

Tabel 2.5

Komposisi Penduduk Kota Payakumbuh Menurut Jenis Kelamin Tahun 2007-2011

Tahun Jumlah Penduduk (Jiwa) Pertumbuhan

rata-rata (%)

Laki-laki Perempuan Total

2007 51.961 53.008 104.969 0,79

2008 52.446 53.548 105.994 0,98

2009 52.906 54.005 106.911 0,87

2010 58.333 59.543 117.876 10,26

2011 59.493 60.558 120.051 1,81

Sumber : Payakumbuh Dalam Angka Tahun 2012

Tahun 2011 penduduk Kota Payakumbuh berjumlah 120.051 jiwa yang terdiri dari 59.493 jiwa penduduk laki-laki dan 60.558 jiwa penduduk perempuan dengan sex ratio 98. Dibanding tahun 2010, terjadi peningkatan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,81%.Laju pertumbuhan penduduk adalah angka yang menunjukan tingkat pertambahan penduduk per tahun. Angka ini dinyatakan dalam persentase seperti Tabel 2.6 :

Tabel 2.6

Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk Tahun 2007 – 2011 Tahun Jumlah penduduk (jiwa) Laju Pertumbuhan

2007 104,969 0,79

2008 105,994 0,98

2009 106.911 0,87

2010 117.876 10,26

2011 120.051 1,81

~  € ‚ƒ

ot

„„ …„†‡

muu

ˆ‰„ ˆŠ

n 2012

-201

‹ II -10 Berdasarkan tabel 2.6 diatas terlihat bahwa pertumbuhan atau pertambahan penduduk dari tahun 2009 ke tahun 2010, sangat tinggi yaitu 10,26%. Hal ini disebabkan beberapa hal seperti terjadinya migrasi yang cukup besar ke Kota Payakumbuh dan atau memang terjadinya under estimate pada periode sebelumnya, dimana hasil perhitungan sensus penduduk pada tahun 2000 tingkat pertumbuhan penduduk di Kota Payakumbuh yaitu 0,79%.

Berdasarkan hasil Sensus Penduduk bulan Mei tahun 2010, laju pertumbuhan penduduk 1,79%. Pada tahun 2011 sendiri pertumbuhan penduduk secara aritmatik tercatat sebesar 1.81%.Kenaikan yang ekstrim terjadi karena perbedaan laju pertumbuhan penduduk antar sensus (SP 2000 dengan SP 2010). Pertumbuhan tersebut lebih besar dibandingkan dengan pertumbuhan Sumbar yang secara rata-rata tercatat sebesar 1.28%. Laju pertumbuhan ini ditentukan oleh faktor demografi meliputi tingkat kelahiran, kematian dan perpindahan penduduk di kota Payakumbuh.

Proyeksi jumlah penduduk kota Payakumbuh tahun 2009 dalam RPJPD adalah sebesar 106.911 jiwa dan tahun 2014 sebesar 126.873 jiwa dengan laju pertumbuhan sebesar 1,79%. Pada tahun 2011, jumlah penduduk mencapai 120.051 jiwa dengan laju pertumbuhan 1,81%. Jika dihitung dengan laju pertumbuhan rata-rata penduduk tahun 2000-2010 maka pada tahun 2017 maka proyeksi jumlah penduduk tahun kota Payakumbuh mencapai 133.809 jiwa.

2. Kepadatan Penduduk

Salah satu dampak dari perubahan penduduk adalah tingkat kepadatan penduduk. Kepadatan penduduk merupakan salah satu indikator yang dapat mencerminkan tingkat kehidupan sosial masyarakat. Semakin tinggi tingkat kepadatan penduduk maka semakin kompleks permasalahan sosial yang akan dihadapi oleh suatu daerah. Tingkat kepadatan penduduk menunjukkan jumlah penduduk di suatu wilayah pada tahun tertentu dibandingkan dengan luas wilayah yang dihuninya, dengan kata lain banyaknya penduduk di suatu wilayah untuk setiap kilometer persegi.

Tingkat kepadatan yang tinggi di daerah perkotaan sangat rawan terhadap terjadinya konflik sosial yang muncul di masyarakat seperti banyaknya pengangguran dan munculnya lingkungan kumuh atau lingkungan yang tidak memadai. Hal ini akan menyulitkan pemerintah daerah dalam menyediakan fasilitas-fasilitas sosial yang dibutuhkan oleh masyarakat. Sebaliknya jika tingkat kepadatan penduduk terlalu rendah akan menyebabkan penyediaan berbagai fasilitas yang dibutuhkan oleh masyarakat relatif mahal. Sehingga ukuran kepadatan penduduk akan lebih bermakna bila dikaitkan dengan potensi yang ada dalam suatu daerah

Œ  Ž ‘

ot

’’ “’”•

muu

–—’ –˜

n 2012

-201

™ II -11 Tabel 2.7

Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kota Payakumbuh Tahun 2007 – 2011 Tahun Jumlah Penduduk Luas (Km.2) Kepadatan Penduduk

(Jiwa /Km2) 2007 104.969 80,43 1.305 2008 105.994 80,43 1.318 2009 106.911 80,43 1.329 2010 117.876 80,43 1.465 2011 120.051 80,43 1.493

Sumber data : Payakumbuh Dalam Angka 2012

Dengan luas wilayah Kota Payakumbuh sekitar 80,43 km² kepadatan penduduk pada tahun 2009 adalah 1.329 jiwa/km². Bila dibanding dengan tahun 2008 yaitu 1.318 jiwa/km², berarti telah terjadi kenaikan 11 jiwa/km².

Tahun 2010 dengan jumlah penduduk 117.876 jiwa maka rata-rata tingkat kepadatan adalah sebesar 1.465 jiwa/km². Dan tahun 2011 dengan jumlah penduduk 120.051 jiwa maka rata-rata tingkat kepadatan adalah sebesar 1.493 jiwa/km².

Pertumbuhan penduduk yang positif akan membuat kepadatan penduduk semakin tinggi. Pada tahun 2011 kepadatan Kota Payakumbuh yaitu 1.492 jiwa/km² yang merupakan kota terpadat ketiga setelah kota Padang dan Bukitinggi. Untuk persebaran penduduk kota Payakumbuh maka kecamatan Payakumbuh Barat dihuni oleh 40% persen penduduk yaitu 2.395 orang jiwa/km², sedangkan kepadatan terendah ada pada kecamatan Payakumbuh Selatan yaitu 684 jiwa/km².

3. Persebaran Penduduk

Kecamatan Payakumbuh Barat merupakan daerah terpadat karena dihuni oleh hampir 40% dari jumlah penduduk. Hal ini terjadi karena lokasi pasar berada pada kecamatan ini. Kecamatan Lamposi Tigo Nagari memiliki penduduk paling sedikit sebesar 8.889 jiwa, akan tetapi kepadatan penduduk paling rendah ada di Kecamatan Payakumbuh Selatan yaitu 684 orang per Km2, hal ini dapat dilihat pada Tabel 2.8.

Tabel 2.8

Sebaran Penduduk Menurut Luas Wilayah dan Kepadatan Kota Payakumbuh Tahun 2011

No Kecamatan Luas

(Km2)

Jumlah Penduduk (Jiwa) Kepadatan Penduduk 2010 2011 1 Payakumbuh Barat 19,08 46.128 47.080 2.395 2 Payakumbuh Utara 17,18 28.795 25.165 1.107 3 Payakumbuh Timur 22,82 24.742 29.286 2.016 4 Payakumbuh Selatan 11,61 9.470 9.631 684

5 Lamposi Tigo Nagari 9,74 8.741 8.889 944

Kota Payakumbuh 80,43 117.876 120.051 1.493

š › œ žŸ

ot

 ›  ¡ ¢£

muu

¤¥  ¤¦

n 2012

-201

§ II -12 Kecamatan Payakumbuh Barat merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk paling banyak yaitu 47.080 jiwa dan jumlah rumah tangga tertinggi dibanding 4 kecamatan lain.

Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 2010 terlihat penyebaran penduduk kota Payakumbuh sebagai berikut : Kecamatan Payakumbuh Barat yakni sebesar 39,25%, Kecamatan Payakumbuh Utara sebesar 24,36%, kecamatan Payakumbuh Timur sebesar 20,94%, Kecamatan Payakumbuh Selatan sebesar 8,04% dan Kecamatan Lamposi Tigo Nagari sebesar 7,39%.

Selama 10 tahun terakhir pola persebaran penduduk Kota Payakumbuh relatif sama, namun ada yang mengalami penurunan pada dua wilayah kecamatan karena terjadinya pemekaran wilayah Payakumbuh Barat dengan pemekarannya Kecamatan Payakumbuh Selatan dan Payakumbuh Utara dengan pemekarannya Kecamatan Lamposi Tigo Nagori. Berikut tabel persebaran menurut Kecamatan tahun 2000 dan Tahun 2010.

4. Pengelompokan Penduduk

Karakteristik penduduk yang paling berpengaruh terhadap tingkah laku sosial ekonomi penduduk adalah umur dan jenis kelamin, atau yang sering juga disebut komposisi penduduk jenis kelamin, sebagaimana disajikan pada Tabel 2.9.

Penduduk menurut kelompok umur dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok usia 0–14 tahun, 15–64 tahun dan 65 tahun keatas atau kelompok usia produktif dan non produktif. Penduduk yang non produktif adalah gabungan antara penduduk muda (0–14 tahun) dengan usia tua (65 tahun ke atas).

Penduduk muda berusia dibawah 15 tahun umumnya dianggap sebagai penduduk yang belum produktif karena secara ekonomis masih tergantung pada orang tua atau orang lain yang menanggungnya. Sementara itu penduduk berusia diatas 65 tahun juga dianggap tidak produktif lagi karena sudah melewati masa pensiun. Penduduk usia 15–64 tahun adalah penduduk usia kerja yang dianggap sudah produktif.

Tabel 2.9

Komposisi Penduduk Kota Payakumbuh Menurut Jenis Kelamin Tahun 2007-2010

Tahun Jumlah Penduduk (Jiwa) Sex Ratio

(%)

Laki-laki Perempuan Total

2007 51.961 53.008 104.969 98

2008 52.446 53.548 105.994 98

2009 52.906 54.005 106.911 98

2010 58.333 59.543 117.876 98

2011 59.493 60.558 120.051 98

¨ © ª« ¬­

ot

®©® ¯®°±

muu

²³® ²´

n 2012

-201

µ II -13 Komposisi penduduk Kota Payakumbuh berdasarkan kelompok umur menunjukkan penduduk dengan usia produktif (15-64 tahun) jauh lebih besar bila dibandingkan jumlah penduduk usia tidak produktif (<15 tahun dan 64 tahun >). Persentase penduduk berdasarkan kelompok usia produktif dan tidak produktif tertera pada Tabel 2.10:

Tabel 2.10

Komposisi Penduduk Kota Payakumbuh Berdasarkan Kelompok Umur

No Usia (tahun) Jiwa 2007 2008 2009 2010 2011 1. <15 32.782 32.052 32.052 36.793 37.474 2. 15- 64 65.947 68.875 68.875 74.344 75.714 3. >64 6.240 5.067 5.067 6.739 6.863 J u m l a h 104.969 105.994 106.911 117.876 120.051 Sumber : Payakumbuh Dalam Angka

Berdasarkan data Tabel 2.10 terlihat bahwa dalam 5 tahun terakhir rata-rata jumlah penduduk usia < 15 berada pada kisaran 30% dari jumlah penduduk, jumlah usia produktif 15-64 tahun sekitar 65% dan jumlah penduduk usia tidak produktif > 64 adalah 5% dari total penduduk kota Payakumbuh. Hal ini menerangkan bahwa usia produktif mendominasi dari komposisi penduduk kota Payakumbuh.

Komposisi penduduk Kota Payakumbuh dirinci menurut kelompok umur dan jenis kelamin menunjukkan bahwa penduduk laki-laki maupun perempuan terbesar berada pada usia muda 0–4 tahun dan 5–9 tahun. Bila dilihat dari tabel komposisi penduduk, menunjukkan bahwa penduduk usia 0–4 tahun sebesar 11,1% dan usia 5–9 tahun sebesar 10,93%.

Komposisi penduduk Kota Payakumbuh dirinci menurut kelompok umur dan jenis kelamin menunjukkan bahwa penduduk perempuan terbesar berada pada usia muda 0–4 tahun dan 10–14 tahun. Bila dilihat dari tabel komposisi penduduk menunjukkan bahwa penduduk usia 0–4 tahun sebesar 10,40% dan usia 10–14 tahun sebesar 9,75%.

Penduduk yang non produktif adalah gabungan antara penduduk muda (0–14 tahun) dengan usia tua (65 tahun ke atas) mencapai 36.93%, sementara itu penduduk yang termasuk dalam usia produktif (15–64) sebesar 63,07%. Hal ini dapat diartikan bahwa tingkat produktifitas penduduk tinggi, mengingat persentase penduduk usia produktif yang relatif besar.

2.2 ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT