SAKSI PARA PEMOHON 1 Isminarti Perwiran
B. Perihal menyatakan pasal-pasal UU Perkoperasian bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.
III. HAKIM KONSTITUS
7. Yang Mulia Hakim Konstitusi Prof.Dr.Maria Farida Indrawat
Pasal 17 ayat (1) dan ayat (3) mengatur mengenai larangan namun tidak ada sanksi didalam ketentuan tersebut. Kalau disini ada kata dilarang- dilarang dan tidak ada sanksi di dalam ketentuan sanksi, apa gunanya Undang-Undang ini diterapkan?
Jawaban Pemerintah:
Ketentuan sanksi dalam suatu peraturan perundang-undangan sebagaimana diketahui bertujuan untuk menjamin dapat ditegakkannya suatu ketentuan yang memuat norma tingkah laku (gedragnormen) baik berupa kewajiban maupun larangan. Ketentuan sanksi ini dapat berupa sanksi pidana (strafrechtelijke sanctie), sanksi perdata (privaatrechtelijke santie), dan sanksi administratif (administratiefrechtelijke sanctie).
Dalam hal suatu Undang-Undang tidak ditemukan sanksi atas pelanggaran ketentuan yang memuat norma larangan, hal itu tidak lantas berarti tujuan pengaturan norma tersebut sia-sia atau tidak ada gunanya karena dinilai tidak dapat ditegakkan. Untuk sampai pada kesimpulan yang sedemikian menurut pendapat kami kita harus melihat substansi ketentuan larangan itu sendiri, karena ketentuan sanksi dalam praktik pembentukan peraturan perundang-undangan tidak selalu diperlukan untuk menegakkan suatu norm larangan. Hal yang sedemikian dapat kami temukan dalam pasal-pasal larangan dalam UU Perkoperasian yaitu:
• Pasal 53 ayat (3) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian yang menyatakan 'ketentuan mengenai tanggung jawab Pengawas atas kesalahan dan kelalainnya yang diatur dalam Undang- Undang ini tidak mengurangi ketentuan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana'.
• Pasal 60 ayat (5) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian yang menyatakan 'ketentuan mengenai tanggung jawab pengurus atas kesalahan dan kelalaiannya yang diatur dalam Undang- Undang ini, tidak mengurangi ketentuan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana’.
Dengan demikian, di dalam Undang-Undang ini tidak mengatur secara khusus mengenai ketentuan pidana, tetapi mengacu pada Ketentuan dalam KUHPidana.
Ketentuan Pasal 17 UU Perkoperasian menentukan mengenai nama-nama yang dilarang digunakan oleh Koperasi [ayat (2)] dan larangan penggunaan kata "Koperasi" oleh badan usaha yang didirikan tidak menurut UU ini [ayat (3)].
Untuk menegakkan ketentuan larangan di atas tidak memerlukan sanksi, karena pelanggaran atas larangan tersebut dengan sendirinya membawa konsekwensi bahwa Akta Pendirian Koperasi, sebagai syarat untuk menjadi badan hukum, tidak akan pernah disahkan oleh Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang koperasi.
Larangan penggunaan kata "Koperasi" oleh badan usaha yang didirikan tidak menurut UU Koperasi, menurut pendapat kami merupakan sesuatu yang logis karena dengan demikian ia tidak berhak menggunakan kata Koperasi. Pemakaian kata "Koperasi" bagi badan usaha yang didirikan dalam bentuk PT misalnya, Akta Pendirian PT tersebut tidak akan pernah disahkan oleh Menteri Hukum dan HAM karena Anggaran Dasar PT yang bersangkutan menggunakan kata Koperasi yang dilarang ketentuan di atas. Berdasarkan hal-hal yang dikemukakan di atas, kami berpendapat, meskipun Pasal 17 UU Koperasi tidak mengatur ketentuan sanksi, larangan yang dimuat dalam kedua ketentuan tersebut tidak kehilangan esensinya untuk dipatuhi dalam pendirian koperasi atau badan usaha di luar koperasi. Pasal 78 ayat (2) UU Perkoperasian menentukan bahwa Koperasi dilarang membagikan kepada anggota Surplus Hasil Usaha yang berasal dari transaksi dengan non-anggota. Mengenai Surplus Hasil Usaha yang berasal dari non-anggota ini, menurut ayat (3) dapat digunakan untuk mengembangan usaha Koperasi dan meningkatkan pelayanan kepada anggota.
Larangan yang dimuat dalam ayat (2) di atas terkait dengan ketentuan mengenai penggunaan Surplus Hasil Usaha pada umumnya yang diatur dalam Pasal 78 ayat (1). Ketentuan ini menentukan, bahwa dengan mengacu pada anggaran dasar dan keputusan rapat anggota, Surplus Hasil Usaha harus disisihkan terlebih dahulu untuk dana cadangan dan sisanya digunakan seluruhnya atau sebagian, antara lain, untuk anggota sebanding dengan transaksi usaha yang dilakukan oleh masing-masing anggota dengan Koperasi [ayat (1) huruf a]. Ketentuan mengenai penggunaan Surplus Hasil Usaha menurut kami merupakan ketentuan 3 yang bersifat memaksa (dwingenrechts) yang harus dipatuhi oleh Koperasi, karena itu pula sejak pendirian koperasi ditentukan bahwa mengenai penggunaan Surplus Hasil Usaha ini harus diatur dalam anggaran dasar [Pasal 16 ayat (1) huruf j].
Anggaran dasar suatu badan usaha koperasi atau organisasi apapun, merupakan konstitusi bagi organisasi yang bersangkutan. Karena itu ketentuan mengenai penggunaan Surplus Hasil Usaha tersebut harus ditegakkan, atau menurut kata-kata Pasal 78 ayat (1) 'menjadi acuan dalam memutuskan penggunaan Surplus Hasil Usaha'.
Pasal 122 UU Perkoperasian memuat ketentuan peralihan bahwa koperasi yang mempunyai unit Simpan Pinjam, dalam waktu paling lambat 3 tahun sejak berlakunya Undang-Undang ini wajib mengubah Unit Simpan Pinjam menjadi Koperasi [ayat (1)]. Selanjutnya dalam ayat (2) memuat larangan, bahwa selama jangka waktu perubahan tersebut koperasi dilarang menerima Simpanan dan/atau memberikan Pinjaman baru kepada non- anggota.
Koperasi yang tidak mengubah Unit Usaha Simpan Pinjam menjadi Koperasi dalam waktu 3 tahun dilarang melakukan melakukan kegiatan simpan pinjam.
Ketentuan larangan pada ayat (2) pada dasarnya dapat dilihat sebagai usaha untuk memberikan jaminan kepastian hukum selama proses pendirian Koperasi baru, sebagai pengembangan Unit Simpan Pinjam yang diwajibkan kepada Koperasi yang bersangkutan. Kepastian hukum ini tidak saja penting bagi non-anggota yang akan melakukan transaksi dengan koperasi, tetapi juga terutama bagi proses pendirian Koperasi baru. Tidak
dipenuhinya larangan ini akan mengakibatkan terhambatnya pendirian Koperasi baru tersebut dalam memenuhi persayaratan pendirian Koperasi menurut UU Perkoperasian.
Khusus mengenai larangan pemberian pinjaman kepada non-anggota selama proses perubahan, menurut kami perlu dikaitkan dengan Pasal 23 ayat (1) yang menentukan, bahwa non-anggota yang mendapat pinjaman dari koperasi wajib didaftarkan menjadi Anggota dalam waktu paling lambat 3 bulan sejak Undang-Undang berlaku [lihat pula ayat (2) dan ayat (3)]. Ketentuan larangan melakukan kegiatan simpan pinjam bagi koperasi yang tidak mengubah unit simpan pinjam menjadi kopersi dalam waktu yang ditentukan [Pasal 122 ayat (3)], meskipun larangan ini tidak disertai sanksi atas pelanggarannya namun dapat dipastikan larangan tersebut membawa konsekuensi bahwa koperasi yang bersangkutan akan kehilangan kegiatan usahanya yang pada akhirnya akan mematikan Koperasi itu sendiri.
Adapun mengenai pengaturan larangan yang dimuat dalam ketentuan peralihan, hal itu menurut pendapat kami bersifat teknis karena merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindarkan. Dengan catatan harus tetap bertumpu pada prinsip penting pengaturan ketentuan peralihan yaitu untuk menjamin kepastian hukum.
Selain itu, Presiden juga mengajukan 4 (empat) ahli dan 2 (dua) saksi yang telah memberikan keterangan pada persidangan tanggal 4 Juli dan 18 Juli 2013 yang pada pokoknya menerangkan sebagai berikut: