BAB IV KENDALA YANG DIHADAPI DALAM PELAKSANAAN
A. Yayasan Sebagai Badan Hukum Nirlaba
Dipilihnya yayasan sebagai bentuk badan hukum oleh kebanyakan masyarakat salah satunya karena adanya anggapan dari masyarakat bahwa yayasan terbebas dari pajak. Pada zaman orde baru yayasan yang bertujuan nirlaba dan bergerak dibidang agama , pendidikan, kesehatan dan kebudayaan diberikan kemungkinan pembebasan pajak. Dikarenakan yayasan yang dapat diberikan pembebasan pajak hanyalah yayasan yang bergerak dibidang sosial, kemanusiaan, keagamaan, namun dalam prakteknya umumnya yayasan-yayasan tersebut dibebaskan dari pemungutan pajak walaupun lembaga yayasan tersebut berorientasi pada mencari keuntungan sehingga dengan demikian banyak yang mendirikan yayasan dengan tujuan untuk mendapatkan pembebasan pajak tersebut.137
Dengan dikeluarkaannya Undang Undang Yayasan Nomor 16 Tahun 2001 yang kemudian dirubah melalui Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004 tentang Perubahan UU Nomor 16/2001, maka yayasan telah diakui sebagai badan hukum privat dan juga sebagai subjek hukum mandiri yang telepas dari kedudukan subjek hukum para pendiri atau pengurusnya. Sebagai subjek hukum mandiri berarti yayasan dapat menyandang hak dan kewajiban, dapat menjadi debitur maupun kreditur, atau
137 Ibrahim Assegaf, et.all, Tafsir Sempit Akuntabilitas dan Sisi Bisnis Yayasan, (Jakarta: Jentera, 2003), h. 36.
dengan kata lain yayasan dapat melakukan hubungan hukum dengan pihak lain. “Undang-undang tersebut diharapkan akan menjadi dasar hukum yang kuat dalam mengatur kehidupan yayasan di Indonesia serta menjamin kepastian dan ketertiban hukum agar yayasan berfungsi sesuai dengan maksud dan tujuannya.”138
Dalam Undang-Undang tersebut pengertian yayasan dapat dilihat sebagai berikut: “Yayasan adalah badan hukum yang terdiri atas kekayaan yang dipisahkan dan diperuntukkan untuk mencapai tujuan tertentu dibidang sosial, keagamaan dan kemanusiaan, yang tidak mempunyai anggota.”139
Rumusan pasal ini secara tegas menyatakan bahwa yayasan adalah :
1. Badan hukum, dengan ketentuan bahwa status hukum yayasan baru diperoleh setelah Akta Pendirian yayasan disahkan oleh Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia atau oleh Kepala Kantor Wilayah Departemen Kehakiman dan Hak Azazi Manusia.
2. Merupakan kumpulan modal atau kekayaan yang dipisahkan, bukan kumpulan orang karena yayasan dapat didirikan hanya oleh satu orang yang menyisihkan harta kekayaan pribadinya menjadi harta kekayaan awal yayasan. Pemahaaman ini diperkuat dengan rumusan yang memungkinkan pendirian yayasan dengan surat wasiat.
3. Oleh karena akta pendirian yayasan harus dibuat dalam bentuk akta Notaris, maka surat wasiat yang memungkinkan pendirian yayasan juga harus merupakan surat wasiat yang dibuat oleh atau dihadapan notaris.140
Dengan keluarnya undang-undang yayasan maka keberadaan yayasan sebagai entitas hukum privat tidak perlu diragukan lagi karena mempunyai landasan yuridis yang kuat. Sebagai subjek hukum yayasan harus memenuhi syarat:
138Ais Chatamarrasjid,Badan Hukum Yayasan,(Bandung: PT. Citra Aditya Bakti,2006), h. 2. 139Pasal 1 angka (1) UU Nomor 16 Tahun 2001.
1. Yayasan adalah perkumpulan orang
2. Yayasan dapat melakukan perbuatan hukum dalam hubungan hubungan hukum
3. Yayasan mempunyai harta kekayaan sendiri 4. Yayasan mempunyai maksud dan tujuan 5. Yayasan mempunyai pengurus
6. Yayasan mempunyai kedudukan hukum (domisili) tempat 7. Yayasan mempunyai hak dan kewajiban
8. Yayasan dapat digugat atau menggugat dimuka pengadilan.141
Secara teoritis yayasan dapat didirikan oleh satu orang, dua orang atau lebih. Yayasan tidak mempunyai anggota (semacam pemegang saham dalam PT), tetapi yayasan mempunyai organ yang terdiri atas Pembina, Pengurus dan Pengawas. Eksistensi yayasan semata-mata diperuntukan untuk mencapai tujuan tertentu dalam bidang sosial, kemanusiaan dan keagamaan. Oleh sebab itu semua kegiatan yayasan harus diabdikan kepada pencapaian tujuan tersebut. Undang-undang yayasan menegaskan hal ini dengan melarang pembagian hasil usaha kepada organ yayasan, disertai ancaman pidana.142
Dalam rangka untuk mencapai maksud dan tujuannya yayasan dapat mendirikan badan usaha yang kegiatannya sesuai dengan maksud dan tujuan yayasan.143 Yayasan juga dapat melakukan penyertaan dalam bentuk usaha yang bersifat prosfektik dengan ketentuan seluruh penyertaan tersebut paling banyak 25% (dua puluh lima persen) dari seluruh nilai kekayaan yayasan.
Undang-Undang Yayasan melarang organ atau orang yang mempunyai jabatan sebagai Pembina, pengurus dan pengawas yayasan untuk merangkap anggota
141Ibid,h. 21.
142Pasal 5 j.o Pasal 20 UU Nomor 28 Tahun 2004. 143Pasal 7 UU No. 16/2001
direksi atau pengurus dan anggota dewan komisaris atau pengawas dari badan usaha yang didirikan. “Hal ini adalah sejalan dengan maksud dan tujuan yayasan yang bersifat sosial, keagamaan dan kemanusiaan sehingga seseorang yang menjadi anggota pembina, pengurus dan pengawas yayasan harus bekerja secara sukarela tanpa menerima gaji, upah atau honor tetap.”144
Perkembangan dinamis yang terjadi baik di tingkat internasional maupun nasional telah menuntut adanya perubahan paradigma dalam pengelolaan organisasi nirlaba (not for profit organization) termasuk yayasan. Yayasan yang selama ini dikelola secara konvensional atau tradisional kiranya perlu melakukan instropeksi dan pembenahan apabila ingin dapat survive dan sukses menjalankan misinya dalam era reformasi yang menuntut adanya profesionalisme, keterbukaan, dan akuntabilitas dalam pengelolaan yayasan.
Selama ini terdapat penafsiran yang keliru dalam pengelolaan yayasan seperti: 1. Yayasan dianggap sebagai organisasi nirlaba yang sama sekali tidak boleh mencari keuntungan (nonprofit oriented). Adanya pemikiran ini telah menyebabkan banyak yayasan yang lesu darah karena dalam upaya pendanaan hanya mengandalkan sumbangan dari para donatur tanpa berusaha mencari sumber-sumber lain yang lebih kreatif.
2. Karena yayasan mempunyai misi sosial dan kemanusiaan maka dapat dipahami bahwa manajemen yayasan kurang profesional dibandingkan dengan manajemen bisnis yang bertujuan laba (profit oriented), karena para pendiri dan pengurusnya adalah para sukarelawan yang juga mempunyai banyak kesibukan lain.
3. Kualitas pelayanan yang diberikan oleh yayasan tidak setinggi kualitas pelayanan yang diberikan oleh perusahaan, karena karyawan yayasan diberikan imbalan yang lebih rendah mengingat misi sosial yayasan.
4. Administrasi pembukuan yayasan kurang begitu tertib, karena tidak mampu menggaji staf yang kompeten dan juga mempunyai misi nasional, maka administrasi pembukuan tidak begitu dirasakan kebutuhannya.
5. Sebagai organisasi nirlaba, yayasan jarang melakukan program pemasaran karena pemasaran dianggap identik dengan aspek komersial dan penjualan. 6. Sebagai organisasi nirlaba, pengelolaan yayasan dianggap berbeda dengan
pengelolaan perusahaan. Banyak yayasan yang tidak berkembang karena dikelola dengan kurang profesional, tidak efisien, tidak adanya akuntabilitas publik, lemahnya pengawasan dan sebagainya.145
Hal tersebut di atas menunjukkan kelemahan aspek manajerial merupakan salah satu faktor kunci yang kiranya perlu dibenahi agar yayasan dapat berkembang dengan sehat dalam mencapai maksud dan tujuannya.
Baik yayasan maupun perusahaan masing-masing mempunyai visi dan misi yang ingin dicapai, maka mengelola yayasan dan perusahaan haruslah dilakukan secara profesional agar visi dan misi tersebut dapat tercapai dengan optimal. Ditinjau dari aspek manajerial, perbedaan pokok antara yayasan dan perusahaan terletak pada peruntukkan surplus atau keuntungan yang dihasilkan dan dalam alternative sumber pendanaan. Surplus perusahaan diperuntukkan bagi kepentingan pemiliknya, sedangkan surplus atau keuntungan yang dihasilkan yayasan diperuntukkan bagi kepentingan sosial, keagamaan dan kemanusiaan. Ditinjau dari alternatif pendanaan, sumber pendanaan yayasan jauh lebih luas karena dapat juga menggalang pendanaan baik dari sumbangan wakaf, hibah, hibah wasiat dan sumber lain yang halal termasuk kegiatan usaha (Pasal 26 undang-undang yayasan).
145 H.P.Panggabean, Kasus Aset Yayasan Dan Alternatif Penyelesaian Sengketa (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2002), h. 158-159.
Ditinjau dari aspek manajerial, agar yayasan dapat tumbuh berkesinambungan dalam mencapai maksud dan tujuannya, maka yayasan perlu kiranya mempertimbangkan hal-hal strategis yaitu Pendiri dan Pengurus harus bersedia menanggalkan kepentingan pribadi dan secara sukarela menyumbangkan pikiran dan sumberdaya lainnya bagi pencapaian maksud dan tujuan yayasan.
Visi dan Misi yayasan harus dirumuskan dengan jelas dan tegas sebagai dasar untuk memberi arah dalam penyusunan rencana strategis dalam pencapaian maksud dan tujuan yayasan. Pengelolaan yayasan harus dijalankan secara transparan, karena para donatur dan konstituen yayasan menuntut adanya keterbukaan dan akuntabilitas yang baik. Profesionalisme pengelolaan yayasan akan menciptakan citra yang sangat positif di mata donatur dan stakeholder termasuk pemerintah. Dengan citra yang positif akan memudahkan yayasan menggalang dukungan dan partisipasi berbagai pihak dalam menggali sumber pendanaan untuk pencapaian maksud dan tujuan yayasan.
Pengelolaan yayasan dilakukan secara efektif dan efisien sebagaimana halnya suatu organisasi bisnis, namun dana yang dihasilkan diperuntukkan sepenuhnya untuk pencapaian maksud dan tujuan yayasan. Pengelolaan yayasan dilakukan berdasarkan prinsip profesionalisme dan tidak cukup hanya dengan idealisme. Manajer professional dan karyawan harus diberikan kompetensi yang layak karena mereka juga harus dituntut berprestasi sebagaimana layaknya manajer perusahaan biasa.
Yayasan harus menciptakan kegiatan dan program yang kreatif yang berorientasi pasar. Program yang berorientasi pasar akan sangat disukai oleh
konsumen sehingga memudahkan yayasan menggali sumber pendanaan untuk mendukung kegiatannya. Untuk itu sudah selayaknya yayasan mengiplementasikan strategi pemasaran dalam upaya mengidentifikasikan potensi pasar, menciptakan program yang dibutuhkan masyarakat dan melakukan promosi-promosi atas program itu.
Pengelolaan keuangan dilakukan secara professional berlandaskan prinsip transparansi, efisiensi dan akuntabilitas. Pembukuan harus diselenggarakan dengan tertib dan informasi keuangan dihasilkan tepat waktu sehingga dapat dimanfaatkan oleh pengurus untuk tujuan evaluasi, pengawasan dan perencanaan.
Pengurus harus meningkatkan pemahaman tentang anggaran dasar dan anggaran rumah tangga yayasan serta berbagai aspek hukum lainnya yang relevan untuk meyakinkan bahwa segala tindakan dan keputusan yayasan telah sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.146
Memasuki era akuntabilitas dan transparansi dengan berlakunya undang- undang yayasan, maka yayasan akan memasuki era akuntabilitas dan transparansi. Yayasan sebagai suatu bentuk organisasi yang bergerak di sektor public diwajibkan untuk menerapkan pendekatan akuntabilitas yang digunakan dalam perusahaan.
Dari sudut pandang akuntansi, ada persamaan praktek akuntansi (keuangan dan manajemen) antara yayasan (not for profit organization) dengan perusahaan (for profit organization). Kesamaan yayasan dengan perusahaan adalah :
1) Keduanya diwajibkan melakukan pembukuan dengan sistem berpasangan (double entry bookkeeping) dan mengacu pada standar akuntansi;
2) Memiliki siklus akuntansi yang serupa dalam membuat laporan keuangan setiap akhir periode akuntansi (bila perlu diaudit oleh akuntan publik);
3) Obyektifitas dan tranparansi dalam laporan keuangan;
4) Harus menjalankan kegiatan operasionalnya secara efisien dan efektif karena kelangkaan sumber daya (scarcity of resources) yang dimiliki;
5) Yayasan dan perusahaan merupakan bagian integral dari sistem ekonomi, dan menggunakan sumber daya yang sama untuk mencapai tujuan organisasi. 6) Para manajer kedua organisasi tersebut membutuhkan informasi yang handal
dan relevan untuk melaksanakan fungsi manajemen (misalnya perencanaan, koordinasi, dan pengendalian);
7) Kedua bentuk organisasi tersebut terikat pada peraturan perundang-undangan dan ketentuan hukum yang disyaratkan, misal yayasan pada undang-undang yayasan dan perusahaan pada UU PT.
Pada hakikatnya tujuan akuntansi pada yayasan, mencakup :
a. Memberikan informasi yang diperlukan untuk mengelola yayasan secara tepat, efisien dan ekonomis atas suatu aktivitas dan alokasi sumber daya ekonomi.
b. Memberikan informasi yang memungkinkan para pengurus yayasan melaporkan pelaksanaan tanggung jawab mengelola secara tepat dan efektif.147
Dengan demikian, akuntansi mempunyai peran sebagai penyediaan informasi, pengendalian manajemen, dan akuntabilitas. Dalam penyediaan informasi, akuntansi mempunyai fungsi sebagai alat informasi bagi manajemen yayasan dan alat informasi bagi publik. Bagi manajemen yayasan, informasi akuntansi digunakan sebagai proses pengendalian manajemen, mulai dari perencanaan strategik, penyusunan program, pengaggaran, evaluasi kinerja, sampai dengan laporan kinerja, sedangkan akuntabilitas mencakup penyediaan informasi bagi donatur pemerintah dan publik pada umumnya.
Walaupun secara idiilnya yayasan adalah suatu bentuk Badan Hukum nirlaba namun yayasan adalah termasuk Badan Hukum wajib pajak menurut Undang-
Undang Nomor 18 Tahun 2000 (UUPPN).148 Sebagai wajib pajak yayasan mempunyai kewajiban untuk mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP, menghitung dan membayar sendiri pajaknya, menyelenggarakan pembukuan, jika diperiksa wajib memperlihatkan dokumen yang berkaitan dengan objek yang terutang pajak, dan memberikan keterangan yang diperlukan.
Sebagai Wajib pajak Yayasan mempunyai Hak antara lain: 1. Mengajukan surat keberatan dan surat banding;
2. Menerima tanda bukti pemasukan SPT yang telah diterima; 3. Melakukan pembetulan SPT yang telah dimasukkan; 4. Mengajukan permohonan penundaan pemasukan SPT;
5. Mengajukan permohonan penundaan atau pengangsuran pembayaran pajak; 6. Mengajukan permohonan perhitungan pajak yang dikenakan dalam surat
ketetapan pajak
7. Meminta pengembalian kelebihan pembayaran pajak;
8. Mengajukan permohonan penghapusan dan pengurangan sanksi serta pembetulan surat ketetapan pajak yang salah;
9. Memberi kuasa kepada orang untuk melaksanakan kewajiban pajaknya; 10. Apabila wajib pajak dipotong oleh pemberi kerja wajib pajak berhak meminta
bukti pemotongan PPh Pasal 21 kepada pemotong pajak.149
B. Hambatan Dalam Pelaksanaan Perubahan Hak Milik Menjadi Hak Guna