11
GARIS BESAR Latar Belakang Alkitab
Kitab Bacaan Mat. 27:28; Mrk.15;
Luk. 23; Yoh. 19
Kebenaran Alkitab
Yesus begitu mengasihi kita hingga korbankan nyawa-Nya demi kita.
Tujuan Pelajaran Pelajari kisah penyaliban Yesus sekaligus berikan pemahaman bahwa Yesus telah mati karena segala dosa kita dan membalas kasih setia-Nya yang besar.
Ayat Hafalan
“Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan dirinya ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian;
seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya,
Penyaliban melibatkan tindakan meletakkan diri korban pada kayu salib dengan mengikat pergelangan tangan dengan sabuk kulit atau memakukan dengan paku yang besar. Kadang disediakan balok atau pasak yang menjulur keluar dari tiang vertikal untuk menopang orang tersebut agar tergantung pada kayu salib. Kadang, kedua kakinya dipakukan pada tiang vertikal itu.
Saat korban tergantung pada kedua lengannya, peredaran darah tidak lagi mengaliri organ-organ vitalnya. Ia hanya dapat legakan diri ketika menopangkan tubuhnya pada pasak yang ada.
Tidak lama kemudian, korban akan menjadi letih dan meninggal. Kematian tidak akan terjadi sampai beberapa hari lamanya.
Bila korban mendapat pukulan keras, hidupnya tidak akan berlangsung lama.
Untuk percepat kematiannya, para prajurit mematahkan kedua kaki korban dengan tongkat pemukul hingga korban tidak dapat lagi menopangkan tubuhnya dan peredaran darah pun mulai terhenti serta akhirnya akan mati lemas. Pada umumnya, jenazah korban akan dibiarkan membusuk dan dimakan oleh
Yesus Kristus merupakan lambang dari pada kasih. Sekalipun terdapat permusuhan di antara kita dengan Allah, tetapi Yesus memilih untuk datang dan menyelamatkan kita. Ia begitu mengasihi kita hingga harus mengorbankan diri-Nya sendiri hanya demi kita, sekalipun Ia harus menjalani serangkaian penderitaan yang dahsyat hanya untuk menyelamatkan kita dari hukuman yang patut kita terima.
Yesus sungguh sanggup menyelamatkan diri-Nya, tetapi demi kasih-Nya bagi kita, Ia rela memikul penderitaan yang dahsyat itu. Ia dapat memilih untuk tidak menderita kesakitan dan tidak menerima penghinaan; Ia dapat saja melenyapkan orang-orang yang telah mengolok-olok diri-Nya, tetapi karena kasih-Nya kepada semua orang Ia rela jalani semuanya itu, bahkan terhadap para musuh-Nya sekalipun.
Segala dosa kita telah dipakukan-Nya pada kayu salib ketika Yesus disalibkan. Saat kita menatap salib Kristus, tidak ada istilah netral bagi kita; kita hanya dapat memilih untuk bertobat dan menjadi manusia baru, atau menolak-Nya dan tetap berada dalam dosa, bersandarkan pada diri sendiri. Ketika mengambil langkah bersama Kristus dan karya penebusan-Nya di bukit Kalvari, kita termotivasi untuk membuat dua pengakuan besar: Betapa mengherankan kasih-Nya yang mulia dan betapa diri kita ini yang begitu tidak
Ketika murid-murid meninggalkan masa kanak-kanak, mereka akan menghadapi suatu lembah kehidupan yang tidak teratur. Perbedaan antara benar dan salah tidak tampak begitu jelas. Ketidakpastian bertambah dan ketegangan emosional muncul karena konflik di antara sikap, nilai dan gaya hidup dari masa lalu yang membekas dan bayangan yang masih belum jelas pada masa yang akan datang.
Para remaja cenderung akan berpindah dari titik
“Jika demikian, mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?Atau tidak tahukah kamu,
bahwa kita semua
Ingatkan kepada murid-murid tentang penderitaan Yesus. Bimbinglah mereka untuk merasakan penghinaan dan siksaan mental yang Yesus rasakan selama persidangan-Nya. Arahkan situasi yang tampaknya negatif ini kepada pernyataan Paulus:
“Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” (2 Kor. 12:10).
Mintalah murid-murid untuk menuliskan sebuah cerita pendek yang kreatif, yang menghubungkan pemikiran mereka terhadap persidangan Yesus atau pengalaman mereka yang serupa dengan pengalaman Yesus sewaktu di persidangan. Pastikan murid-murid menyertakan solusinya ke dalam situasi yang diceritakan. Kumpulkan dan bacakan beberapa cerita dari antara mereka tanpa menyebutkan nama pengarangnya. Akhirilah pelajaran dengan cara mengingatkan kembali diri kita akan Yesus Kristus dalam kehidupan masing-masing. Anda pun dapat membuat sebuah kotak doa bagi murid-murid untuk memasukkan permohonan doa atau membentuk suatu jaringan doa di dalam kelas Anda sendiri.
"Murid-murid dapat berbagi dengan Anda
tentang banyak hal terdalam dan terpribadi
dalam kehidupan mereka."
Persiapkan Hati Murid
Dapatkah bayangkan seseorang yang kalian ketahui dan yang sungguh mengasihi kalian? Seorang yang pasti peduli terhadap kalian? Bagaimana cara orang tersebut dalam menunjukkan kasihnya kepada kalian?
Yesus menunjukkan kasih-Nya kepada manusia pada masa yang lampau, masa sekarang dan selamanya. Ia melakukan suatu hal untuk membuktikan kasih-Nya yang demikian besar bagi umat manusia;
kasih-Nya yang jauh melebihi dari apa yang dapat dibayangkan oleh semua manusia. Marilah kita selidiki, apa yang Ia telah lakukan bagi kita.
Lembar Kerja # 1
Yesus Kristus menjadi seorang manusia. Dari pelajaran yang terdahulu, kita dapat pelajari bahwa Yesus banyak mengajari kita, karena Ia telah menjadi salah seorang dari antara kita. Kita telah melihat, bagaimana Ia mengalahkan berbagai pencobaan, bergaul dengan banyak orang, menjelaskan tujuan hidup-Nya dan menunjukkan kasih dan belas kasihan-Nya kepada orang yang kerasukan setan ataupun yang sedang sakit. Sekarang, kita akan melihat bagaimana Ia akan tunjukkan kasih pengorbanan-Nya bagi diri kita.
Yesus menderita secara jasmani, rohani, dan kejiwaan. Marilah kita pelajari penderitaan kehidupan-Nya serta temukan bagaimana Ia menangani semuanya itu.
Dalam kitab Lukas, ada beberapa hal yang dicatatkan sebagai peristiwa yang terjadi berturut-turut secara cepat pada akhir kehidupan Yesus:
1. Bacalah Luk. 22:39-46
Ketika sungguh butuhkan dukungan, Yesus justru dikecewakan oleh para murid-Nya.
Yesus menyuruh para murid-Nya untuk berdoa bersama dengan-Nya. Begitu dashyat kesedihan Yesus saat itu hingga peluh-Nya menetes bagaikan titik-titik darah. Ia begitu butuh dukungan dan kehadiran dari para murid-Nya.
Sekalipun Yesus telah berulang kali memberikan peringatan dan nubuatan-Nya, tetapi para murid-Nya masih belum memahami tentang bencana yang akan menimpa Guru mereka itu. Ketika Yesus begitu butuhkan mereka, mereka semua justru tertidur.
2. Bacalah Luk. 22:47-48
Yesus dikhianati oleh Yudas Iskariot.
Yudas Iskariot telah mengikuti Yesus selama tiga tahun dan merupakan salah seorang dari 12 rasul mula-mula yang dipercayakan Yesus untuk membantu-Nya.
Ia bertanggung jawab terhadap bidang keuangan (Yoh.
Pemahaman Alkitab
"Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati
untuk kita orang-orang durhaka
pada waktu yang ditentukan oleh Allah.
Sebab tidak mudah seorang mau mati
untuk orang yang benar -tetapi mungkin untuk
orang yang baik ada orang yang berani mati."
(Rm. 5:6-7)
3. Bacalah Luk. 22:54-62 Yesus disangkal oleh Petrus.
Setelah Yesus ditangkap, para murid-Nya melarikan diri. Petrus secara khusus, menyangkal semua hubungannya terhadap Yesus. Penolakan itu merupakan hal yang menghancurkan hati.
Ketika Yesus menatap Petrus, hati Petrus menjadi hancur dan ia menangis dengan pedihnya.
Petrus menyadari bahwa dirinya telah menyangkal Yesus, sama seperti yang Ia telah katakan sebelumnya.
4. Bacalah Luk. 22: 63-65
Yesus diolok-olok dan disiksa.
Para prajurit menyiksa dan mengolok-olok-Nya.
Ketika mereka memukuli tubuh Yesus, mereka pun merendahkan martabat-Nya. Dalam Yes. 53 ditunjukkan bahwa Yesus tidak tampak seperti seorang manusia lagi saat mereka selesai menyiksa-Nya.
5. Bacalah Luk. 23:1-3
Yesus difitnah oleh para musuh-Nya.
Yesus dituduh telah berbuat salah oleh para musuh-Nya yang telah 'dibutakan' oleh kepentingan politik dan agama. Para musuh-Nya menuduh Yesus telah menyatakan diri-Nya sebagai raja orang Yahudi, sebuah tuduhan yang membawa-Nya ke kayu salib.
6. Bacalah Luk. 23:26,32-34
Orang banyak tidak mengasihani Yesus.
Para musuh Yesus menahan-Nya sepanjang malam melalui sebuah persidangan yang tidak sah.
Ketika Pilatus, seorang gubernur Roma, mencoba membebaskan Yesus, semua orang banyak yang berada di halaman gedung pengadilan itu meneriakkan agar Yesus disalibkan! Ketika gubernur mengabulkan permintaan mereka, maka Yesus dibawa untuk disiksa dengan cambuk oleh para prajurit Roma.
Keesokan paginya, sekalipun masih lelah dan lemah akibat memar dan luka di seluruh tubuh-Nya serta kekurangan darah, tetapi Yesus dipaksa untuk berjalan kaki menuju tempat penyaliban sambil
"Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati
untuk kita orang-orang durhaka
pada waktu yang ditentukan oleh Allah."
(Rm. 5:6)
Tempat penyaliban Yesus berada di luar kota, di balik tembok kota, di atas sebuah bukit yang bernama Golgota, dalam bahasa Ibrani dan Kalvari, dalam bahasa Latin. Nama tersebut berarti Bukit Tengkorak, karena bukit batu itu tampak seperti tengkorak.
Sebagian besar dari orang yang mengerumuni Yesus adalah para musuh-Nya (Luk. 23:35-37), di mana mereka begitu bergembira dan tertawa atas keadaan-Nya itu. Mereka begitu membenci Yesus! Betapa senangnya mereka menyaksikan kematian Yesus.
7. Bacalah Mrk. 15:29-32 Yesus diolok-olok.
Saat Yesus tergantung dengan penuh penderitaan, para imam justru mengejek Yesus dengan mengatakan: “Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan!” Beberapa orang dalam keramaian itu pun mencemoohkan-Nya dengan mengatakan: “Turunlah dari salib itu dan selamatkan diri-Mu!”
Yesus bukan disalibkan seorang diri tetapi disertai oleh dua penjahat yang disalibkan pula pada pagi hari itu. Mereka pun mencemooh Yesus. Betapa mengerikan harus merasakan begitu banyak kebencian yang tertuju kepada diri-Nya selagi menahan rasa sakit yang begitu sangat. Yesus memilih tetap berada pada kayu salib, menanggung semua hinaan, penderitaan dan rasa sakit. Sekalipun demikian, Yesus tetap tunjukkan kasih-Nya yang besar kepada mereka semua.
8. Bacalah Luk. 23:39-43
Seorang penjahat bertobat saat disalibkan.
Selang beberapa waktu lamanya, seorang dari antara kedua penjahat itu merasa malu atas apa yang pernah dilakukannya dan merasa pantas dirinya untuk dihukum mati, tetapi ia pun tahu bahwa Yesus tidak melakukan kesalahan. Oleh karena itu, ia berkata
"Lebih-lebih, karena kita sekarang
telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari
murka Allah."
(Rm. 5:9)
9. Bacalah Yoh. 19:25-27 Yesus mengasihi ibu-Nya.
Ibu Yesus dan beberapa orang murid-Nya pun berdiri dalam kerumunan pada sisi bukit Golgota.
Bahkan pada saat Ia mau mati, Yesus masih tetap memberi perhatian kepada ibu-Nya, Maria, dan menyuruh Yohanes, murid-Nya, untuk memeliharanya.
Sejak hari itu, maka Maria tinggal dalam rumah Yohanes.
10. Bacalah Mat. 27:45-56
Yesus ditinggalkan oleh Allah.
Pada tengah hari, di seluruh daerah itu diselimuti kegelapan. Waktu terus berlalu, Yesus semakin menderita.
Kira-kira pukul 3 sore, kerumunan orang banyak di sekeliling salib itu mendengar Yesus menyerukan:
“Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Saat Yesus menanggung segala dosa kita, maka Allah Bapa berbalik meninggalkan Anak-Nya. Betapa mengerikannya saat itu! Begitu menyakitkan lebih daripada penderitaan fisik. Tetapi Yesus rela menerima segala penderitaan itu karena Ia memahami bahwa hanya dengan cara itulah semua orang yang berdosa dapat diampuni. Alkitab memberitahukan bahwa karena kasih-Nya yang besar bagi kita, maka Yesus memikul dosa-dosa kita (1 Pet. 2:24).
11. Bacalah Yoh. 19:28-30; Luk. 23:44-46;
Mat. 27:57-60
Yesus mati dan dikuburkan.
Yesus tergantung pada kayu salib sekitar 6 jam lamanya. Setelah diberikan anggur asam untuk membasahi mulut-Nya, Ia mengatakan: “Sudah Selesai.” Yesus menebus segala dosa manusia. Ia mengorbankan diri-Nya bagi kita. Perkataan Yesus yang terakhir adalah “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Kemudian meninggallah Yesus.
Seorang kaya yang bernama Yusuf Arimatea, yang adalah seorang anggota Mahkamah Agama dan
"Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan,
supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya,
agar jangan kita menghambakan
diri lagi kepada dosa."
(Rm. 6:6)
Lembar Kerja # 2
Penyaliban merupakan bentuk penyiksaan yang paling kejam yang dapat dibayangkan oleh manusia.
Sebagai tambahan atas kengerian dalam penderitaan fisik, Yesus pun menderita secara batin, karena Ia menanggung beban dosa bagi orang yang percaya kepada-Nya di atas pundak-Nya. Bagaimana tanggapan Yesus mengenai hal ini? (Yesus mengampuni para penyiksa-Nya itu.)
Diskusi:
1. Pernahkah kalian dikhianati oleh seseorang yang kalian percayai? Berdasarkan teladan Yesus, bagaimana kalian akan mengatasi masalah ini?
2. Pernahkah kalian disangkal oleh seseorang yang kalian sayangi?
3. Pernahkah kalian dituduh berbuat salah sekalipun tidak pernah berbuat kesalahan?
Yesus Diolok-olok, Dipukuli dan Disalibkan
plajarane
11
Lembar Kerja # 1
Pemahaman Alkitab
32
Ja k r
aw ban Do te
1.Bacalah Luk. 22:39-46 Ketika sungguh butuhkan dukungan, bagaimana rasaan Yesus terhadap para murid-Nya?
2. Bacalah Luk. 22:47-48 Diserahkan kepada musuh
3. Bacalah Luk. 22:54-62 Apakah yang telah terjadi
6. Bacalah Luk. 23:26,32-34 Apakah yang orang banyak perlakukan kepada Yesus?
7. Bacalah Mrk. 15:29-32 Apakah yang para imam katakan kepada Yesus?
8. Bacalah Luk. 23:39-43 Apakah yang Yesus katakan kepada penjahat yang tobat?
9. Bacalah Yoh. 19:25-27 Bagaimana Yesus pelihara ibunya ketika Ia akan mati?
10. Bacalah Mat. 27:45-56 Apakah yang telah terjadi di sini?
11. Bacalah Yoh. 19:28-30;
Luk. 23:44-46;
Lalu bagaimana orang lain dapat mengetahui bahwa kita mengasihi mereka? Hal apa sajakah yang kalian dapat lakukan kepada orangtua untuk menunjukkan kasih terhadap mereka? Hal apa sajakah yang kalian dapat lakukan untuk menunjukkan kasih kepada Yesus?
Bimbinglah murid-murid dalam diskusi tentang perkataan yang diucapkan oleh Yesus di atas kayu salib yang menyatakan kasih-Nya terhadap kita. Mintalah murid-murid membaca nas-nas Alkitab pada saat mendiskusikan kata-kata tersebut.
Mengampuni (Luk. 23:34) Menerima (Luk. 23:43) Peduli (Yoh. 19:26-27) Haus (Yoh. 19:28) Selesai (Yoh. 19:30) Pasrah (Luk. 23:46) Ditinggalkan (Mat.
27:46-47)
1. Buatlah sebuah poster mengenai 7 perkataan Yesus yang terakhir.
2. Berilah kesempatan kepada murid-murid untuk ungkapkan rasa syukur mereka kepada Tuhan dengan cara membuat sebuah perjanjian yang menunjukkan pengorbanan kasih mereka terhadap seseorang dalam minggu ini. Sebaiknya, murid-murid mencatatkan janji mereka atau menyatakannya secara lisan.
3. Undanglah para orangtua murid ke dalam kelas untuk berbagi tentang makna kematian dan kebangkitan Yesus bagi mereka, dan bagaimana usaha mereka untuk menunjukkan kasih dan ucapan syukur itu kepada Tuhan.
"Dia yang
Lembar Kerja # 2
Aplikasi Kehidupan
1.Pernahkah kalian ti oleh seseorang yang kalian percayai? kan teladan Yesus, mana kalian akan atasi masalah ini?
2.Pernahkah kalian kal oleh seseorang yang kalian sayangi?
3.Pernahkah kalian dituduh berbuat salah sekalipun tidak pernah berbuat
Penyaliban merupakan bentuk penyiksaan yang paling kejam yang dapat dibayangkan oleh manusia. Sebagai tambahan atas kengeri-an dalam penderitakengeri-an fisik, Yesus pun menderita secara batin, kare-na Ia tanggung beban dosa bagi orang yang percaya kepada-Nya di atas pundak-Nya. Bagaimana tanggapan Yesus mengenai hal ini?
Bahkan di atas kayu orang lain kasihi kita dari apa yang mereka per-buat, dan bukan dari apa yang mereka katakan.
Kita tahu bahwa Yesus kasihi kita dari apa yang Ia telah perbuat bagi kita. Lalu bagaimana orang lain dapat tahu bahwa kita kasihi mereka?
Lembar Kerja # 3
Penyaliban merupakan bentuk penyiksaan yang paling kejam yang dapat dibayangkan oleh manusia.
Sebagai tambahan atas kengerian dalam penderitaan fisik, Yesus pun menderita secara batin, karena Ia menanggung beban dosa bagi orang yang percaya kepada-Nya di atas pundak-Nya. Tetapi Yesus rela menerima segala penderitaan itu karena Ia memahami bahwa hanya dengan cara itulah semua orang yang berdosa dapat diampuni. Alkitab memberitahukan bahwa karena kasih-Nya yang besar bagi kita, maka
"Hari itu, aku sedang belajar
tentang betapa kemurahan hati
dapat melampaui untuk memberi juga. ."
Yesus Diolok-olok, Dipukuli dan Disalibkan
pelajaran
11
Lembar Kerja # 3
Aplikasi
34
Alkitab Sebuah Hadiah untuk Berdua
“Anda tidak pernah tahu kebahagiaan yang dihasilkan dari sebuah perbuatan baik yang sederhana.” – (Bree Abel) Hari itu adalah hari yang indah untuk berjalan-jalan di tengah kota Portland. Kami adalah sekelompok konselor yang sedang cuti dan berjalan-jalan untuk menikmati hiburan. Cuaca saat itu sangat cocok untuk berekreasi. Jadi, saat makan siang tiba, kami mencari sebuah taman kecil di tengah kota itu. Karena kami semua mempunyai selera yang berbeda, maka kami putuskan untuk berpisah sejenak mencari makanan yang disukai, dan berkumpul kembali di taman dalam beberapa menit kemudian.
Aku bersama dengan Robby pergi ke penjual hot dog. Kami saksikan si penjual itu mem-bungkus hot dog yang lezat, tepat seperti yang Robby inginkan. Tetapi ketika ia mengambil uang untuk membayar, si penjual itu mengejutkan kami.
“Tampaknya hari ini cerah sekali,” katanya. ”Jadi kalian tidak perlu bayar, aku akan berikan gratis pada hari ini.”
Kami ucapkan terima kasih dan kembali berga-bung dengan teman-teman di taman untuk nikmati makan siang kami. Di saat kami berbincang-bincang sambil makan, aku terusik oleh seorang laki-laki yang duduk seorang diri di sebelah sana yang sedang memperhatikan kami. Menurutku, ia tampaknya tidak mandi berhari-hari lamanya, seperti seeorang tuna-wisma yang kalian sering dapati di tengah jalan, sayangnya aku tidak perhatikannya lebih lanjut.
Kami selesaikan makan dan ingin lanjutkan jalan-jalan. Tetapi ketika Robby dan aku menuju keranjang sampah untuk membuang kantong makan siang tadi, aku dengar suara yang keras berkata, “Tidak ada makanan lagi di kantong itu, bukan?”
Itu adalah laki-laki tadi yang selalu memperhatikan kami.
Aku tidak tahu harus berkata apa, “Tidak, aku sudah makan semuanya.”
“Oh,” hanya itu jawabannya, tanpa rasa malu sedikitpun dalam suaranya. Sebenarnya, ia lapar dan tidak tahan melihat sesuatu yang dilemparkan ke keranjang sampah dan selalu ia tanya-kan pertanyaan itu.
Aku merasa kasihan terhadap orang itu, tetapi tidak tahu apa yang seharusnya kulakukan.
Lalu, Robby berkata “Aku akan kembali, tunggu aku beberapa menit.” Kemudian, ia berlari. Aku perhatikan dengan penasaran saat ia pergi menyeberang ke stand penjual hot dog. Setelah itu, barulah kusadari apa yang sedang dilakukannya. Ia membeli sebuah hot dog, menyeberang kembali dan memberikannya kepada laki-laki yang sedang kelaparan itu.
Ketika ia kembali kepada kami, Robby berkata, “Aku hanya menyalurkan kebaikan yang orang lain telah berikan kepadaku.”
Hari itu, aku belajar betapa kemurahan hati dapat melampaui orang-orang yang kamu berikan. Dengan memberi, kamu sesungguhnya sedang mengajar orang lain untuk memberi pula.
(Andres Manslyey)