• Tidak ada hasil yang ditemukan

pandangan MUI Jakarta utara tentang poligami

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "pandangan MUI Jakarta utara tentang poligami"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

PANDANGAN MUI JAKARTA UTARA TENTANG POLIGAMI

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Syariah (S.Sy)

Oleh:

ABDURRAHMAN SALEH BUGIS NIM: 1111044100021

K O N S E N T R A S I P E R A D I L A N A G A M A PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH J A K A R T A

(2)
(3)
(4)
(5)

ABSTRAK

Abdurrahman Saleh Bugis. NIM 1111044100021. PANDANGAN ULAMA JAKARTA UTARA TENTANG POLIGAMI. Konsentrasi Peradilan Agama, Program Studi Hukum Keluarga, Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 1435 H/2014 M. X + 72 halaman + lampiran-lampiran.

Masalah utama dalam skripsi ini adalah bagaimanakah sebenarnya Pandangan Ulama Jakarta Utara Tentang Poligami? Skripsi ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisa Pengetahuan Hukum, Pemahaman Hukum, Sikap Hukum dan Pandangan Hukum Pengurus.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dimana penyusun berpijak dari peristiwa yang berlangsung, sumber data diperoleh melalui wawancara.

Dari ketiga ulama yang penyusun wawancarai kesemuanya memiliki pengetahuan yang sama, tetapi memiliki pemahaman yang berbeda yaitu dua diantaranya menyebutkan bahwa hukum poligami adalah Rukhsah, dan satu orang ulama lagi menyebutkan Azimah, hal ini berakibat pada pemahaman dari dua ulama bahwa poligami itu hanya bisa dilakukan pada kondisi darurat atau adanya alasan saja. Sedangkan yang satu ulama lagi membolehkan poligami tanpa ada alasan atau kondisi darurat apapun.

Begitu juga, pemahaman tentang syarat adil sebagai syarat hukum atau syarat agama, dua di antara mereka memahami bahwa syarat adil adalah syarat hukum dan satu diantara mereka memahaminya sebagai syarat agama. Perbedaan pemahaman itu berakibat pada sah atau tidak perkawinan poligami. Jika orang yang berpoligami itu tidak adil, bagi ulama yang menyatakan adil itu sebagai syarat hukum, maka poligami tidak sah jika suami tidak adil.Sedangkan bagi ulama yang menyatakan adil itu sebagai syarat agama, maka suami hanya berdosa jika tidak berlaku adil. Tidak berpengaruh pada sah atau tidak sah nya hukum perkawinan poligami tersebut.

Terkait izin poligami dari Pengadilan Agama dan Istri dua diantaranya menyatakan setuju dengan peraturan tersebut dan satu diantaranya menyatakan tidak setuju. Ulama yang menyatakan tidak setuju dengan peraturan bahwa poligami baru dapat dilakukan apabila telah ada izin dari Pengadilan Agama, beralasan bahwa aturan yang demikian tidak terdapat dalam Al-Quran dan Hadits.Dari perbedaan pemahaman inilah yang berakibat pada prilaku ketiga ulama tersebut yaitu dua diantaranya tidak melakukan poligami dan satu diantaranya melakukan poligami.

Ketiga ulama tersebut menyatakan bahwa urusan perkawinan adalah urusan pribadi jadi tidak masalah bila dalam kepengurusan MUI kota administrasi Jakarta utara melakukan perkawinan poligami tanpa melalui proses izin terlebih dahulu melalui pengadilan agama.

Kata Kunci : Pengetahuan Hukum, Pemahaman Hukum, Sikap Hukum dan Pandangan Hukum, MUI Jakarta Utara.

(6)

KATA PENGANTAR

يحَّلا حَّلا ه لا سب

ع اسلا اصلا ، يدلا ي دلا ر أ ى ع يعتس هب ، ي ل علا ر ه د حلا

ي ، ي سّ لا فّشأ ى

ى ع س هي ع ها ى ص د ح

يدلا ي ىلإ سحإب ع ت

يعب تلا هب حصأ هلآ

Segala puji hanya milik Allah Rabb Alam Semesta, kepada Allah kita memohon

pertolongan atas segala urusan dunia dan agama, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah

atas sebaik-baik Rasul yaitu Nabi Muhammad SAW, dan atas semua keluarganya, para

sahabatnya, para tabi`in, dan semua yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari

pembalasan.

Dengan izin dan ridho Allah SWT, skripsi dengan judul “PANDANGAN MUI JAKARTA UTARA TENTANG POLIGAMI” telah selesai disusun guna memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana syariah (S.sy) strata satu dalam Konsentrasi

Peradilan Agama Program Studi Hukum Keluarga Fakultas Syariah dan Hukum Universitas

Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud

tanpa ada bantuan dari berbagai pihak. Maka tidak lupa penyusun mengucapkan terimakasih dan

jazakumullah khoirujaza kepada:

1. Asep Saepudin Jahar, MA., Ph.D selaku Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas

Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta beserta seluruh jajarannya, baik

bapak/ibu dosen yang telah membekali penyusun dengan ilmu pengetahuan, maupun para

(7)

2. Kamarusdiana, S.Ag., M.H selaku Ketua Program Studi Al-Ahwal Al-Syakhsiyyah dan

Sri Hidayati, M.Ag selaku Sekretaris Prodi Al-Ahwal Al-Syakhsiyyah.

3. Dr. Hj. Mesraini, MAg selaku Dosen Pembimbing yang telah rela meluangkan waktu di

tengah kesibukan untuk membimbing dan mengarahkan penyusun dalam pembuatan

skripsi.

4. Dr. H. M. Supriyadi Ahmad selaku Dosen Penasehat Akademik yang telah banyak

memberikan sokongan dan dukungan kepada penyusun hingga skripsi ini selesai.

5. Pengurus Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Fakultas Syariah dan Hukum yang telah

menyediakan berbagai macam literature dalam proses belajar di Universitas Islam Negeri

(UIN) Syaruf Hidayatullah Jakarta, khususnya pada saat pembuatan skripsi.

6. Kepala seluruh Ulama dalam kepengurusan Majelis Ulama Indonesia Kota Administrasi

Jakarta Utara yang telah meluangkan waktu dan bersedia diwawancara sebagai

narasumber dalam penelitian ini.

7. Orang tua saya, Drs. Muhammad Basri Ghazali, Nur Barokah, Kakak dan adik saya, dan

semua keluarga baik yang dari suku Jawa maupun dari suku Bugis yang telah

memberikan semangat dan motivasi.

8. Kepada seluruh teman-teman di organisasi HMI ciputat baik cabang maupun di

komisariat, yang selalu mendoakan.

9. Sahabat-sahabat dari HMPS (Himpunan Mahasiswa Program Studi) Hukum Keluarga,

Terima kasih atas kebersamaan selama penyusun menuntut ilmu di Universitas Islam

(8)

10.Kepada seluruh teman-teman di LKBHMI (Lembaga Kajian dan Bantuan Hukum

Mahasiswa Islam) yang telah memberikan motivasi dan mendukung kelancaran dalam

menyusun skripsi.

11.Serta berbagai pihak yang tidak dapat penyusun sebutkan seluruhnya, semoga amal baik

mereka diterima Allah SWT dan skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Amin.

Saran dan kritik yang membangun, sangat ditunggu demi kesempurnaan penulisan

skripsi ini dan wawasan ilmu penyusun. Besar harapan penyusun, skripsi ini dapat

bermanfaat bagi penyusun khususnya dan bagi pembaca umumnya. Amin.

Jakarta, 20 Maret 2015

(9)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL………

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING……….i

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI……….ii

LEMBAR KEASLIAN SKRIPSI………iii ABSTRAK……….iv

KATA PENGANTAR………v

DAFTAR ISI………...viii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pembatasan dan Rumusan masalah ... 6

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7

D. Review Studi Terdahulu ... 9

E. Metode Penelitian ... 11

F. Sistematika Penulisan ... 15

BAB II KERANGKA TEORI A. Pengertian Poligami dan Sejarahnya ... 18

B. Poligami dalam Pandangan Fuqaha 1. Hukum Melakukan Poligami ... 26

2. Jumlah Istri dalam Poligami ……….27

3. Syarat Boleh Melakukan Poligami ... 29

C. Poligami Menurut Peraturan Perkawinan di Indonesia 1. Hukum Melakukan Poligami……….31

2. Jumlah Istri dalam Poligami ……….…33

3. Tata Cara dan Prosedur Poligami ………...34

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Gambaran Umum tentang Majelis Ulama Indonesia Kota Administrasi Jakarta Utara 1. Sejarah Terbentuknya Majelis Ulama Indonesia ... 37

2. Sruktur Organisasi……….…....40 B. Poligami Menurut Pandangan Pengurus MUI Kota Administrasi Jakarta Utara

(10)

1. Pengetahuan Hukum Pengurus MUI Jakarta Utara tentang Syarat dan Prosedur Poligami di Indonesia ... 43 2. Pemahaman Hukum Pengurus MUI Jakarta Utara Tentang Syarat dan Prosedur Poligami di Indonesia ... 45 3. Sikap Hukum atau Prilaku Pengurus MUI Jakarta Utara Tentang Poligami.. ... 50 4. Pandangan atau Sikap Pengurus MUI Jakarta Utara Jika Ada Pengurus MUI Jakarta Utara Yang Melakukan Poligami Tanpa Memenuhi Persyaratan dan Prosedur Yang Sudah Diatur dalam Peraturan

Perundang-Undangan Indonesia………...53

BAB IV ANALISIS DATA

A. Analisis Terhadap Pengetahuan Hukum Pengurus MUI Jakarta Utara tentang Syarat dan Prosedur Poligami ... 57 B. Analisis Terahadap Pemahaman Hukum Pengurus MUI Jakarta Utara tentang Syarat dan Prosedur Poligami ... 57 C. Analisis Terhadap Sikap Hukum atau Prilaku Pengurus MUI Jakarta Utara tentang Poligami ... 63 D. Analisis Terhadap Pandangan atau Sikap Pengurus MUI Jakarta Utara Jika Ada Pengurus MUI Jakarta Utara Yang Melakukan Poligami Tanpa Memenuhi Persyaratan dan Prosedur Yang Sudah diatur Dalam Peraturan Perundang-Undangan di Indonesia ... 66

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ... 69 B. Saran-saran ... 71

(11)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dan

perempuan sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah

tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan yang maha esa.1

Secara realita perkawinan adalah bertemunya dua makhluk lawan jenis

yang mempunyai kepentingan dan pandangan hidup yang sejalan.2 Sedangkan

tujuan perkawinan itu adalah supaya manusia mempunyai kehidupan yang

bahagia dunia dan akhirat, atau dengan kata lain perkawinan bertujuan untuk

mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawadah, warohmah.

Perkawinan merupakan sunnatullah yamg umum dan berlaku pada semua

makhluk-nya, baik pada manusia, hewan, maupun tumbuh-tumbuhan. Ia

adalah suatu cara yang dipilih oleh Allah SWT., sebagai jalan bagi

makhluk-Nya untuk berkembang biak, dan melestarikan hidupnya.3

Salah satu bentuk perkawinan yang sering diperbincangkan dalam

masyarakat adalah poligami. Poligami adalah system perkawinan si suami

1

Tim Redaksi Fokusmedia, Himpunan Peraturan Perundang-Undangan tentang

Perkawinan, (Bandung: Fokus Media, 2005), cet, ke-1 hal, 1.

2

Titik Triwulan Tutik, Poligami Perspektif Perikatan Nikah, (Jakarta : Prestasi Pustaka Raya, 2007) set, hal. 4.

3

(12)

yang memiliki/mengawini beberapa lawan jenisnya dalam satu kurun waktu.4

Para ahli membedakan istilah bagi seorang laki-laki yang mempunyai lebih

dari seorang istri dengan istilah poligini yang berasal dari kata polus berarti

banyak dan gune berarti perempuan. Sedangkan bagi seorang istri yang

mempunyai lebih dari seorang suami disebut poliandri yang berasal dari kata

Polus yang berarti banyak dan Andros berarti laki-laki.5 Akan tetapi yang

dimaksud dengan poligami dalam skripsi ini adalah dalam arti poligini.

(seorang suami memiliki lebih dari sorang istri pada waktu yang bersamaan).

Keberadaaan poligami atau menikah lebih dari seorang isteri dalam

lintasan sejarah bukan merupakan masalah baru. Poligami telah ada dalam

kehidupan manusia sejak dahulu kala diantara berbagai kelompok masyarakat

diberbagai kawasan dunia. Orang-orang arab telah berpoligami jauh sebelum

kedatangan Islam. Demikian pula masyarakat di luar Bangsa Arab, bahkan di

Arab sebelum Islam telah dipraktekan poligami yang tanpa batas. Bentuk

poligami ini dikenal pula oleh orang-orang Babilonia, Abbesinia, dan Persia.6

Terkait dengan hal tersebut di dalam Negara Kesatuan Republik

Indonesia (NKRI) sebagai Negara Hukum yang berkedaulatan rakyat dengan

berdasar kepada Pancasila, sebagaimana tercantum dalam konstitusi

4

Tim Reality, Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Surabaya: Reality Publisher, 2008) Cet. I hal. 525.

5

Zakiah Darajat, Membina Nilai-nilai Moral di Indonesia (Jakarta: Bulan Bintang, 1985) hal. 17.

6

(13)

Indonesia, Indonesia bukanlah Negara Islam, namun sebuah Negara yang

dihuni umat Islam terbesar di dunia yang menetapkan Pancasila sebagai dasar

Negara, hukum Islam secara tidak langsung mempunyai posisi yang penting.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa adalah sejalan dengan ajaran tauhid sebagai

sendi pokok ajaran Islam dan hukum Islam telah memberikan landasan dasar

yang cukup kokoh untuk melaksanakan ketentuan hukum Islam dalam negara

hukum yang berdasarkan Pancasila. Dalam Pasal 29 UUD 1945 ditegaskan

pula bahwa Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk

memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan

kepercayaannya itu. Landasan konstitusional ini adalah merupakan jaminan

formal dari setiap muslim dan umat Islam di Indonesia untuk melaksanakan

ketentuan-ketentuan hukum Islam dalam kehidupannya di tengah-tengah

masyarakat dan bangsa Indonesia serta dalam kehidupan bernegara.7

Dari uraian di atas penulis menyimpulkan bahwa di dalam Negara

Kesatuan Republik Indonesia menjamin bagi umat Islam untuk melakukan

atau menjalankan ibadah menurut syariatnya sepanjang menurut aturan yang

ditetapkan oleh undang-undang.Salah satu dari hukum Islam yang

ditransformasikan ke dalam hukum nasional tersebut adalah tentang

Perkawinan yaitu diatur dalam UU. NO.1 Tahun 1974, termasuk dalam hal

poligami pun sudah diatur dalam Undang-Undang tersebut.

7

(14)

Bila ditinjau dari segi ayat Al-Quran, Allah SWT membolehkan

berpoligami sampai 4 orang istri dengan syarat berlaku adil kepada mereka.

yaitu adil dalam melayani istri, seperti urusan nafkah, tempat tinggal, pakaian,

giliran dan segala hal yang bersifat lahiriyah dan bathiniyah sebagaimana

yang tertera di dalam surah an nissa ayat 3.

Tetapi tidaklah cukup dengan hal tersebut, rupanya peraturan

Perundang-undangan di Indonesia melakukan pembatasan ketat terhadap

poligami. Diantaranya yang diatur di dalam Pasal 4 UU. No.1 Tahun 1974,

dengan memberlakukan beberapa ketentuan yang harus dipenuhi oleh

seseorang ketika hendak berpoligami, yaitu dengan mengajukan permohonan

kepada pengadilan, diantaranya adalah:

a. Istri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai isteri;

b. Istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan; c. Istri tidak dapat melahirkan keturunan.8

Selain itu, suami juga harus memenuhi beberapa persyaratan lain yang disebutkan dalam pasal 5 UU. No.1 Tahun 1974 diantaranya adalah :

a. Adanya persetujuan dari isteri/isteri-isteri;

b. Adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan-keperluan hidup isteri-isteri dan anak-anak mereka

c. Adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap isteri-isteri dan anak-anak mereka.9

Tetapi dalam praktek kehidupan sehari-hari ternyata ketentuan dalam

pasal 4 dan 5 UU. No.1 Tahun 1974 tentang perkawinan yang mengatur

8

Pasal 4 UU. No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan

9

(15)

tentang persyaratan poligami tersebut sering tidak dijalankan atau boleh jadi

hampir sudah tidak dihiraukan, baik dari kalangan awam maupun dari

kalangan intelektual Islam sekalipun, yang melakukan poligami tanpa

meminta izin pengadilan. Hal ini dibuktikan dengan sangat rendahnya

permohonan izin poligami yang diproses oleh pengadilan-pengadilan. Sebut

saja misalnya Pengadilan Agama Jakarta Utara selama tahun 2014 hanya

memutus perkara izin poligami sebanyak1 Permohonan.10

Dalam realita atau kehidupan sehari-hari penyusun melihat

praktik-praktik poligami dalam kota administrasi Jakarta Utara yang tidak tercatat

atau meminta izin terlebih dahulu melalui Pengadilan Agama, hal ini bukan

saja dilakukan oleh masyarakat awam melainkan dari kalangan intelektual

islam termasuk intelektual islam dalam kepengurusan MUI Jakarta Utara.

Menurut Bapak KH. Ahmad Munir. BA (Dewan Penasehat Majelis

Ulama Indonesia Kota Administrasi Jakarta Utara) mengatakan, sering sekali

orang yang telah mempunyai istri dan dia ingin menikah lagi tetapi tidak mau

meminta izin dari pengadilan, akhirya orang tersebut menggunakan cara

dengan berkata bohong atau berpura-pura dengan mengakui statusnya masih

bujangan lalu ia menggunakan cara lain untuk memperkuat pengakuannya

atau mempertajam bukti dengan mengubah KTP nya dengan Status „Belum

10

(16)

Menikah‟ alias bujangan padahal sudah menikah. Perbuatan tersebut dapat

dikatakan pula melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku di

Indonesia sekaligus masuk dalam kategori tindak kriminal penipuan

identitas,sehingga perlu diberikan arahan yang tepat agar pembentukan

keluarga Sakinah, Mawadah, Warahmah dapat berjalan dengan baik dan tidak

menimbulkan masalah yang cukup rumit.11

Pernikahan tersebut yang di paparkan oleh Bapak KH. Ahmad Munir

BA (Dewan Penasehat MUI Jakarta Utara) akan mendapatkan sangsi

administrative oleh Negara yaitu tidak diakui keabsahan pernikahannya atau

tidak mempunyai kekuatan hokum. Sebagaimana yang telah dijelaskan pada pasal 56 ayat 2 sebagai berikut : “Perkawinan yang dilakukan dengan istri

kedua, ketiga, atau keempat tanpa izin dari Pengadilan Agama, tidak

mempunyai kekuatan hukum.

Dari hasil pengamatan sementara penulis di masayarakat khususnya

masyarakat dalam kota administrasi Jakarta utara, terkesan bahwa praktik

poligami tanpa melalui proses izin pengadilan tersebut, tidak hanya dilakukan

oleh masyarakat awam, tetapi juga banyak dilakukan oleh ulama sebagai

uswatun hasanah bagi masyarakat awam. Apakah penyebab banyaknya

11

(17)

praktik poligami yang demikian? Dan bagaimana sebenarnya pandangan MUI

Jakarta Utara terhadap aturan poligami di Indonesia?

Atas dasar itulah penulis merasa tertarik untuk membahas dan

mengangkatnya dalam sebuah skripsi dengan judul “Pandangan MUI Jakarta Utara Tentang Poligami”.

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Pembatasan Masalah

Berdasarkan uraian terdahulu, maka masalah dalam penelitian ini

dibatasi sebagai berikut :

a. Poligami dibatasi pada pengertian seorang suami memiliki istri

lebih dari satu orang

b. Ulama Jakarta Utara dibatasi pada para ulama dalam

Struktural Organisasi Majelis Ulama Indonesia Kota

Administrasi Jakarta Utara Periode 2015–2020

2. Perumusan Masalah

Menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku di

Indonesia, masyarakat Indonesia yang ingin melakukan poligami harus

meminta izin terlebih dahulu kepada Pengadilan dalam hal ini untuk

umat islam adalah Pengadilan Agama. Suami yang mengajukan izin

poligami tersebut harus memenuhi syarat-syarat yang berlaku dalam

(18)

prakteknya sering terjadi pelanggaran-pelanggaran, diantaranya orang

yang ingin melakukan poligami tidak meminta izin terlebih dahulu

kepada pengadilan, tidak jarang juga para ulama atau intelektual Islam

yang melakukan hal tersebut. Dari masalah itulah Penulis tertarik

melakukan Penelitian ini. Adapun rumusan masalah ini dapat dirinci

kedalam beberapa bentuk pertanyaan sebagai berikut :

1. Bagaimana pengetahuan hukum Pengurus Majelis Ulama

Indonesia Jakarta Utara tentang syarat dan prosedur poligami

di Indonesia?

2. Bagaimana pemahaman hukum Pengurus Majelis Ulama

Indonesia Jakarta Utara tentang syarat dan prosedur poligami

di Indonesia?

3. Bagaimana perilaku hukum Pengurus Majelis Ulama

Indonesia Jakarta Utara tentang poligami?

4. Bagaimana pandangan/sikap pengurus Majelis Ulama

Indonesia Jakarta Utara jika ada pengurus MUI Jakarta Utara

yang melakukan poligami tanpa memenuhi persyaratan dan

prosedur yang sudah diatur dalam perundang-undangan di

Indonesia?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Dengan menganalisa latar belakang dan perumusan masalah tersebut

(19)

1. Menjelaskan pengetahuan hukum pengurus Majelis Ulama Indonesia Kota

Administrasi Jakarta Utara tentang syarat dan prosedur Poligami.

2. Menjelaskan pemahamanhukum pengurus Majelis Ulama Indonesia

Jakarta Utara tentang syarat dan prosedur poligami di Indonesia.

3. Menjelaskan prilaku hukum pengurus Majelis Ulama Indonesia Jakarta

Utara tentang poligami.

4. Menjelaskan pandangan/sikap pengurus Majelis Ulama Indonesia Jakarta

Utara jika ada pengurus MUI Jakarta Utara yang melakukan poligami

tanpa memenuhi persyaratan dan prosedur yang sudah diatur dalam

Perundang-undangan di Indonesia.

Adapun manfaat atau kegunaannya adalah :

1. Secara akademis

Yaitu untuk memenuhi salah satu syarat dalam mendapatkan gelar

kesarjanaan srata satu pada fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif

Hidayatullah jakarta

2. Secara ilmiah

a. Bagi fakultas Syariah dan Hukum, memberikan sumbangan

kepustakaan dalam rangka pengembangan pengetahuan akademis pada

umumnya.

b. Bagi penulis merupakan pengembangan pengetahuan yang didapat

(20)

c. Bagi Ulama Jakarta Utara dapat memberikan informasi yang Objektif

dan Akurat.

d. Bagi masyarakat dapat memahami atau menambah wawasan seputar

permasalahan poligami yang terjadi dimasyarakat.

D.Review Studi Terdahulu

Hasil penelitian terdahulu yang berhubungan dan sesuai dengan

aspek-aspek dalam penelitian tentang poligami iniyaitu:

Karya Idi Sugandi dengan judul “Dampak Positif Poligami dalam

Perspektif Hukum Islam” (Studi Kasus Desa Saninten Kecamatan Kadu Hejo

Kabupaten Pandeglang)” Tahun 2011 M/1432 H. Di dalam skripsi tersebut

menjelaskan tentang faktor dan dampak terhadap poligami. Faktor terssebut

diantaranya: Faktor Agama, Faktor Social Ekonomi, Faktor Pendidikan,

Faktor Sosial Budaya, Faktor Biologis. Adapun dampak positif poligami

diantaranya: terhindar dari maksiat, memperbanyak keturunan, melindungi

para janda, dan kelebihan perempuan, melatih kesabaran dan egoisme, status

yang jelas bagi perempuan yang dinikahinya.

Karya Abdul Khoir yang berjudul “Konsep Adil dalam Poligami”

(Analisis Perspektif Hukum Islam dan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974).

Tahun 2010 M/1431 H. dalam Skripsi tersebut menjelaskan mengenai: makna

adil dalam poligami perspektif Hukum Islam dan makna adil menurut

perspektif UU. No. 1 Tahun 1974 yaitu poligami merupakan solusi yang

(21)

merendahkan harkat wanita. Untuk itu dalam dalam UU. No. 1 Tahun 1974

melakukan pembatasan ketat terhadap poligami, agar tidak sang suami tidak

sewenang-wenang terhadap perempuan.

Karya Ahmad Fauzi dengan judul “Pengaruh Poligami Terhadap

Ketidakharmonisan Rumah Tangga” (Pandangan istri yang dipoligami di

kecamatan Karang Tengah)Tahun 2010 M/1431 H dalam skripsi tersebut

menjelaskan: pandangan responden tersebut yang menyebabkan

ketidakharmonisan rumah tangga yaitu kebanyakan seorang suami yang

melakukan poligami hanya karena hawa nafsu atau kebutuhan biologis,

sehingga kerugiannya lebih besar dibandingkan dengan keuntungan.

Dari ketiga tinjauan kepustakaan tersebut, penulis melihat bahwa

terdapat perbedaan pembahasan skripsi ini dengan skripsi-skripsi terdahulu

yakni, selain dari lokasi penelitian yang berbeda penulis juga lebih

menitikberatkan kepada pendapat ulama dalam hal ini Majelis Ulama

Indonesia khususnya Majelis Ulama Indonesia Kota Administrasi Jakarta

Utara sebagai objek bahasannya.

E. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian

kualitatif. Dimana penelitian kualitatif adalah berpijak dari realita atau

peristiwa yang berlangsung di lapangan. Apa yang dihadapi dalam

(22)

berupaya memandang apa yang sedang terjadi dalam dunia tersebut dan

melekatkan temuan-temuan yang diperoleh di dalamnya. Oleh karena itu,

apa yang dilakukan oleh peneliti selama dilapangan termasuk dalam suatu

posisi yang berdasar kasus, yang mengarahkan perhatian pada spesifikasi

kasus-kasus tertentu.12

2. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini berupa pendekatan

hukum sosiologi atau penelitian hukum empirik, yaitu penelitian yang

berdasarkan bukti kenyataan di lapangan atau realitas sosial. Metode

penelitian dalam skripsi ini adalah dengan menggunakan pendekatan

analisis kualitatif yaitu pendekatan yang ditujukan untuk meneliti pada

hasil wawancara mendalam (deep interview) , kemudian menganalisis

hasil data yang diperoleh untuk mendapatkan kesimpulan penelitian.

Pendekatan ini dimaksud untuk mengetahui Pandangan MUI Jakarta Utara

Tentang Poligami

3. Sumber data

a. Sumber Primer

Dalam penelitian hukum empiric, data primer diperoleh dari Pengurus

MUI Jakarta Utara yang berupa hasil wawancara dengan subjek

penelitian.

12

(23)

b. Di dalam penelitian ini, digunakan pula data sekunder yang memiliki

kekuatan mengikat yang dibedakan dalam beberapa macam:

1) Bahan hukum primer yaitu: bahan-bahan hukum yang mengikat.

Dalam buku ini adalah Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974

tentang Perkawinan, Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975

tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974, dan

Kompilasi Hukum Islam (KHI).

2) Bahan hukum sekunder yaitu: berupa buku-buku, makalah

seminar, jurnal-jurnal, laporan penelitian, artikel, majalah, situs,

testimony, koran maupun blog.

3) Bahan hukum tersier yaitu: berupa kamus hukum, ensiklopedia,

dan sebagainya.

4. Subjek dan Objek Penelitian

Untuk lebih fokusnya penelitian ini, lokasi yang akan digunakan

adalah Kantor Majelis Ulama Indonesia Kota Administrasi Jakarta Utara

dan Objek yang dituju adalah Pengurus Majelis Ulama Indonesia Kota

Administrasi Jakarta Utara masa tugas 2015–2020.Oleh karena tidak

mungkin mewawancarai seluruh pengurus tersebut, penulis hanya bisa

mewawancarai sebanyak 3 orang pengurus saja. Penunjukan 3 orang yang

(24)

Adapun Subjek dalam penelitian ini adalah penulis sendiri yang

berkeinginan untuk mengetahui bagaimana pandangan ulama perihal

poligami, khususnya pandangan pengurus Majelis Ulama Indonesia Kota

Administrasi Jakarta Utara masa tugas tahun 2015–2020.

5. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian hukum empirik ini, teknik yang digunakan untuk

mengumpulkan data adalah sebagai berikut :

a. Wawancara : dilakukan dengan pengurus atau struktur keorganisasian

Majelis Ulama Indonesia Kota Administrasi Jakarta Utara untuk

mendapatkan data mengenai pendapat mereka tentang poligami.

Wawancara dilakukan dengan cara terstruktur yaitu wawancara yang

pewawancaranya menerapkan sendiri masalah dan pertanyaan yang

akan diajukan.13

b. Studi Pustaka : dilakukan untuk mendapatkan data tentang teori-teori

tentang poligami baik Hukum Islam maupun peraturan

perundang-undangandiIndonesia.

6. Pedoman Penulisan Laporan

Teknik penulisan skripsi ini memiliki dasar acuan buku “Pedoman

Penulisan Skripsi, Tesis, dan Disertasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta”

yang diterbitkan oleh UIN Jakarta Press tahun 2012.

13

(25)

7. Metode Analisis Data

Tahap terakhir dalam sebuah penelitian setelah data dikumpulkan

adalah analisis data. Tahapan tersebut dilakukan dengan menganalisis data

yang telah terkumpul dengan tujuan memperoleh suatu kesimpulan dalam

penelitian. Sedangkan kesimpulan ditarik dari metode induktif, yaitu

dengan menghimpun data dari konsep-konsep Al-Qur‟an dan Hadist, serta

ditunjang dalam Perundang-undangan yang telah diberlakukan dan hasil

wawancara dari Ulama dalam structural/pengurus Majelis Ulama

Indonesia Kota Administrasi Jakarta Utara. Data yang telah terkumpul

tersebut dianalisis dan ditarik kesimpulan sehingga dapat menjawab inti

batasan dan rumusan masalah penelitian.

F. Sistematika Penulisan

Dalam penulisan Skripsi yang berjudul “PANDANGAN MUI

JAKARTA UTARA TENTANG POLIGAMI” ini dibagi menjadi lima Subab

dan susunan pembahasannya sebagai berikut :

BAB I, Pendahuluan, Mengenai uraian masalah tekhnis penulisan yakni : Latar Belakang, Pembatasan dan Perumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat

Penelitian, Metode Penelitian, Riview Studi Terdahulu, Sistematika

Penulisan.

BAB II, Kerangka Teoritis, A. Pengertian Poligami, B. Poligami Dalam Pandangan Fukaha: 1. Hokum melakukan poligami. 2. Jumlah istri dalam

(26)

Perkawinan di Indonesia: 1. Hukum melakukan poligami 2. Jumlah istri

dalam poligami 3. Tata cara dan prosedur poligami.

BAB III, Metodologi Penelitian A. Gambaran umum tentang Majelis Ulama Indonesia Kota Administrasi Jakarta Utara:1. Sejarah Terbentuknya Majelis

Ulama Indonesia.2. Struktur Organisasi.3. Tugas Pokok dan Fungsi.B.

Poligami menurut pengurus Majelis Ulama Indonesia Kota Administrasi

Jakarta Utara periode 2015– 2020: 1. Pengetahuan hukum pengurus MUI

Jakarta utara tentang syarat dan prosedur poligami di Indonesia. 2.

Pemahaman hukum pengurus MUI Jakarta utara tentang syarat dan prosedur

poligami di Indonesia. 3. Sikap Hukum atau Prilaku pengurus MUI Jakarta

utara tentang poligami. 4. Pandangan/sikap pengurus MUI Jakarta utara jika

ada pengurus MUI Jakarta utara yang melakukan poligami tanpa memenuhi

persyaratan dan prosedur yang sudah diatur dalam perundang-undangan di

Indonesia.

BAB IV, Analisis Data A. Analisis terhadap pengetahuan hukum pengurus MUI Jakarta utara tentang syarat dan prosedur poligami. B. analisis terhadap

pemahaman hukum pengurus MUI Jakarta utara tentang persyaratan dan

prosedur poligami di Indonesia. C. Analisis terhadap sikap hukum atau

prilaku pengurus MUI Jakarta utara tentang poligami. D. Analisis terhadap

Pandangan/sikap pengurus MUI Jakarta utara yang melakukan poligami tanpa

memenuhii persyaratan dan prosedur yang sudah diatur dalam

(27)
(28)

BAB II

LANDASAN TEORITIS

A. Pengertian Poligami dan Sejarahnya

Kata poligami berasal dari bahasa Yunani. Secara etimologis, poligami

merupakan derivasi dari kata apolus yang berarti banyak, dan gamos yang

berarti istri atau pasangan. Poligami bisa dikatakan sebagai mempunyai istri

lebih dari satu orang secara bersamaan.1 Adapun secara terminologis,

poligami dapat dipahami sebagai suatu keadaan di mana seorang suami

memiliki istri lebih dari satu orang. Seorang suami yang berpoligami dapat

saja beristri dua orang, tiga orang, empat orang, atau bahkan lebih, dalam

waktu bersamaan.

Dalam bahasa Arab poligami disebut Ta‟addud al-Zaujat, sedangkan

dalam bahasa Indonesia disebut “madu”.2

Menurut Arij Abdurrahman

al-sanan dalam bukunya Al-„adl Baina Al-Zaujat, yang dimaksud dengan

Ta‟addud Al-Zaujat adalah perbuatan seorang laki-laki mengumpulkan dalam

tanggungannya dua sampai empat orang istri, tidak lebih darinya.3 Seseorang

1

Nashruddin Baidan, Tafsir Bial-Ra‟yi, Upaya Penggalian Konsep Perempuan dalam

Al-quran (Mencermati Konsep Kesejajaran Perempuan dalam Al-Al-quran), Cet. I, Yogyakarta: Pustaka

pelajar, 1999, 94.

2

Islah Gusmian, Mengapa Nabi Muhammad Berpoligami, (Yogyakarta : Pustaa Marwa, 2007) Cet 1, h. 29.

3

(29)

dikatakan melakukan poligami berdasarkan jumlah istri yang dimilikinya pada

saat yang bersamaan, dan bukan jumlah perkawinan yang pernah dilakukan.

Suami yang ditinggal mati istri pertamanya, kemudian menikah lagi tidak

dapat dikatakan berpoligami, karena dia hanya menikahi satu orang istri pada

satu waktu. Sehingga apabila seseorang melakukan pernikahan sebanyak

empat kali atau lebih, tetapi istri yang terakhir berjumlah satu orang, maka dia

tidak dapat dikatakan poligami.

Penjelasan di atas berbeda dengan pendapat Henry Pratt Farchild, yang

mengatakan bahwa uraian tentang poligami tersebut tidak tepat bila dikatakan

sebagai poligami, tetapi lebih tepat disebut poligini. Sebab istilah poligami

dapat diartikan sebagai perkawinan antara seorang laki-laki dengan lebih dari

seorang istri, atau antara seorang perempuan dengan lebih dari seorang suami.

Istilah poligami dapat dilakukan oleh suami dan juga istri, sedangkan istilah

poligini hanya untuk seorang suami.4

Menurut Islah Gusman, ia mengartikan poligami adalah banyak nikah.

Istilah ini digunakan untuk menunjuk pada praktik perkawinan lebih dari satu

suami atau istri sesuai dengan jenis kelamin orang yang bersangkutan. Ia

berpendapat bahwa poligami dan poligini adalah berbeda. Poligini

menurutnya adalah banyak perempuan, istilah ini digunakan untk menunjuk

4

Henry Pratt Fairchild, Dictionary of Sosiology, dikutip oleh J.N.D. Anderson, Hukum Islam

(30)

pada seorang pria yang melakukan praktik banyak nikah dengan banyak

perempuan (pada masa yang sama, dan bukan karena kawin cerai).5

Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan poligami

adalah ikatan perkawinan yang salah satu pihak memiliki atau mengawini

beberapa lawan jenisnya dalam waktu yang bersamaan dan berpoligini berarti

menjalankan poligami.6

Namun perbedaan pemaknaan istilah tersebut tidak menjadi

permasalahan dalam pemaknaan terhadap perilaku suami yang memiliki lebih

dari satu istri. Sebab pada perkembangan selanjutnya, istilah poligami

dihadapkan pada istilah poliandri, yaitu seorang istri yang memiliki lebih dari

satu suami dalam waktu yang bersamaan. Oleh karena itu, dengan sendirinya

istilah poligami menjadi bersifat khusus, yaitu seorang lelaki yang

mempunyai lebih dari satu isteri secara bersamaan.

Islam dikenal sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin, yaitu agama

pembawa kesejahteraan bagi seluruh alam. Salah satu yang diperkenalkan

islam untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan perkawinan, yang

bertujuan membangun keluarga yang tentram dan penuh cinta kasih antara

orang yang ada di dalamnya. Hal ini ditunjukan dalam firman Allah dalam

Surah ar-Ruum (30): 21 sebagai berikut:

5

Islah Gusmian, Mengapa Nabi Muhammad Berpoligami, (Yogyakarta : Pustaka Marwa, 2007) h. 26.

6

(31)













Da di a tara ta da-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir .7

Menurut Islam, perkawinan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan

manusia dengan tanpa mengabaikan hak dan kewajiban suami dan istri dalam

posisinya sebagai makhluk yang sama, baik di mata masyarakat ataupun di

mata Allah SWT. Terdapat satu jenis perkawinan yang dibolehkan oleh islam

untuk dilakukan umat Islam. Bentuk perkawinan itu ialah poligami,

sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah an-Nisaa‟ (4): 3:





















Da jika ka u takut tidak aka dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu

iliki. Ya g de ikia itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat a iaya .8

7

Al-quran dan terjemahnya, semarang: CV. Toha Putra, 1989, 644

8

(32)

Perhatian penuh islam terhadap poligami sebagaimana ayat di atas ini

tidak semata-mata tanpa syarat. Islam menetapkannya dengan syarat, yaitu

keadilan dan pembatasan jumlah. Keadilan menjadi syarat karena istri

mempunyai hak untuk hidup dan bahagia. Adapun pembatasan jumlah

menjadi syarat karena jika tidak dibatasi maka keadilan akan sulit ditegakkan.

Pembatasan ini juga memberikan toleransi yang tinggi baik kepada laki-laki

maupun perempuan. Seorang laki-laki dengan segala kelebihannya dapat saja

beristri lebih dari empat, tetapi Islam memberikan jalan tengah dengan beristri

maksimal empat orang. Bagi perempuan pun, persyaratan tersebut dapat

membuat lebih terjaganya kehidupan dan kebahagiaan, dibandingkan dengan

tanpa pembatasan jumlah.

Islam bukanlah agama pertama yang melegitimasi poligini. Karena

sejarah membuktikan bahwa poligini sudah umum dilakukan sebelum

datangnya Islam oleh berbagai suku bangsa. Diantaranya bangsa Ebre dan

arab pada zaman Jahiliyah, juga terdapat pada suku bangsa „salafiyun‟ yaitu

Negara-negara yang sekarang disebut Rusia, letonia, Cekoslawakia dan

Yugoslavia juga terdapat disebagian Negara jerman dan inggris. Tidak hanya

hal itu, rupanya Agama Yahudi memperbolehkan poligami tanpa batas.

Nabi-nabi yang namanya disebut dalam Taurat, semuanya berpoligami tanpa

(33)

mempunyai tujuh ratus orang isteri yang merdeka dan tiga ratus isteri yang

berasal dari budak.9

Meskipun dalam Taurat tidak melarang poligami dan tidak

menghalangi seorang laki-laki untuk menikahi dengan berapa saja banyaknya

isteri, namun pendeta-pendeta Yahudi membenci poligami itu. Lalu mereka

berusaha mempersempit poligami dengan mengadakan pembatasan

banyaknya isteri hanya empat saja, dan menetapkan harus ada faktor-faktor

pendorong yang sah menurut agama, untuk bolehnya laki-laki menikah

dengan isteri baru.10

Agama Kristen pun pada asalnya tidak melarang poligami. Karena

larangan itu tidak ditentukan dalam injil maupun dalam surat-surat para Rasul

(Sahabat-sahabat Yesus) yang dikenal dengan kitab Perjanjian Baru. Dalam

kitab itu tidak ada keterangan yang jelas mengenai larangan poligami. Dr.

Kahfi sebagaimana yang dikutip oleh Abbuttawab Haikal mengatakan bahwa

kebiasaan poligami itu sudah ada pada Bangsa Israil sebelum Nabi Isa diutus,

ia kemudian menetapkan kebiasaan poligami itu. Bahkan Nabi Musa

mewajibkan seseorang untuk mengawini janda saudara laki-laki sendiri yang

meninggal dan tidak memiliki anak, walaupun ia sendiri sudah berkeluarga.

Apa yang diperbolehkan dalam taurat, sejauh tidak ada nash yang pasti dalam

9 Musthafa as Siba‟I,

Wanita diantara Hukum Islam dan Perundang-undangan, (Jakarta :

Bulan Bintang, 1997), cet. 1. h. 100.

10

Abdul Nasir Taufiq al-„Atthar, Poligami ditinjau dari Agama, Sosial dan

(34)

Injil yang melarangnya, maka diperbolehkan juga dalam agama Kristen,

termasuk di dalamnya poligami. Karena tidak ada nash (keterangan) yang

melarang poligami dalam injil. Sejarah membuktikan bahwa umat-umat

Kristen terdahulu dan para pemuka agama banyak melakukan poligami.11

George Zaidan, sebagaimana yang dikutip al-Siba‟I berkata bahwa tidak ada

keterangan yang jelas dalam agama Kristen yang melarang para pengikutnya

berpoligami dengan dua orang isteri ataupun lebih. Kalau sekiranya

orang-orang Kristen itu mau, tentu saja mereka boleh berbuat demikian. Sebaliknya

terjadi bagi bapak-bapak gereja itu yang mencukupkan seorang isteri saja, hal

itu demi untuk menjaga kerukunan rumah tangga mereka, seperti terdahulu

yang terjadi di kalangan Romawi. Kemudian mereka membawa idenya itu

dalam menafsirkan ayat-ayat tentang perkawinan dalam kitab suci mereka,

seperti yang sudah kita ketahui secara popular.12

Sekarang kita lihat gereja-gereja di Afrika mengakui bolehnya

poligami, karena para petugas penyiar agama Kristen itu menemukan diri

mereka berhadapan dengan susunan masyarakat yang biasa berpoligami, yaitu

di kalangan bangsa-bangsa Afrika yang beragama Animisme. Bapak-bapak

gereja berpendapat bahwa kalau mereka terus-menerus melarang poligami,

maka akhirnya masalah poligami itu akan menjadi penghalang bagi

11

Abduttawab Haikal, Rahasia Perkawinan Rasulullah SAW. Poligami dalam Islam VS

Monogami Barat, (Jakarta ; Pedoman Ilmu Jaya, 1993), cet. 1. H. 49.

12

(35)

bangsa Afrika untuk memasuki agama Kristen. Mereka lalu

mempropagandakan bolehnya poligami tanpa batas. Dan dalam masyarakat

tradisional Afrika, banyaknya jumlah istri merupakan kebanggaan tersendiri,

lambang kesuksesan dan status social tinggi serta menandakan kesejahteraan.

Poligami merupakan adat warisan leluhur orang-orang Afrika, buka saja

dianggap sebagai kewajaran bahkan hampir sebagai kelembagaan.13

Di Jazirah Arab sendiri jauh sebelum Islam, masyarakatnya telah

mempraktikan poligami bahkan tak terbatas. Sejumlah riwayat menceritakan

bahwa rata-rata pemimpin suku memiliki puluhan istri, bahkan tidak sedikit

kepala suku yang mempunyai sampai ratusan istri.14 Nabi Muhammad SAW

melakukan poligami diantara masyarakatnya karena hal itu telah dipraktikan

juga oleh orang-orang Yunani dan bangsa-bangsa lain. Bahkan seorang istri

bukan hanya dapat dipertukarkan, tetapi juga bisa diperjualbelikan secara

lazim antara mereka.15 Dalam konteks perkawinan, kedatangan islam jelas

memberikan suatu arah baru untuk memperoleh kebahagiaan dan rahmat bagi

kedua belah pihak. Inheren di dalamnya adalah usaha-usaha pembelan dan

sekaligus pemberdayaan atas perempuan. Ini dilakukan Islam, karena

perempuan sebelumnya pada masyarakat Arab pra Islam sama sekali tidak

13

Rahmat Hakim, Hukum Perkawinan Islam, (Bandung : Pustaka Setia, 2000), cet. 1. H. 120.

14

Musdah Mulia, Islam menggugat poligami, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2007).

15

(36)

dihargai dan bahkan dilecehkan. Lalu perempuan diangkat martabatnya oleh

Islam menjadi subjek yang bermanfaat.16

Dalam analisa Rahmat Hakim, kedatangan Islam sekedar membatasi

jumlah wanita yang dapat dimiliki pria dalam berpoligami agar tidak

terjadinya kesewenang-wenangan laki-laki terhadap wanita. Jadi, kalau diteliti

lebih jauh, lahirnya syariat ini adalah dalam upaya mengangkat derajat wanita,

seperti apa yang diharapkan dalam hakikat perkawinan itu sendiri.17

B. Poligami Dalam Pandangan Fuqoha 1. Hukum Melakukan Poligami

Para ulama sepakat menyatakan bahwa poligami adalah

diperbolehkan, namun tidak menjadikan poligami sebagai suatu kewajiban

bagi kaum muslimin.

Adapun dasar hukumnya dalam Surah An-Nisa ayat 3 dan 4 sebagai

berikut :

































16

Islah Gusmian, Mengapa Muhammad berpoligami, (Yogyakarta : Pustaka Marwa, 2007), h. 38.

17

(37)

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.18

Perbedaan pendapat dikalangan mereka terjadi berkenaan dengan

status hokum kebolehan tersebut, azimah dan rukhsah dan Tidak ada

perbedaan pendapat di kalangan ulama bahwa yang dimaksud dengan adil

di sini adalah adil secara lahir, yakni keadilan yang dapat dilakukan

manusia seperti adil dalam masalah tempat tinggal, pakaian, dan

sebagainya. Bukan adil secara bathin seperti kecenderungan hati kepada

salah seorang istri, karena adil secara batin tidak dapat disanggupi oleh

manusia sebagaimana diketahui dari ayat tersebut.19

2. Jumlah istri dalam poligami

Jumhur ulama berpendapat bahwa kebolehan berpoligami terbatas

sampai empat wanita, pendapat jumhur ulama mengacu kepada Surah

An-Nissa ayat 3 :

18

Al-quran dan terjemahnya, semarang: CV. Toha Putra, 1989, 644

19

(38)





















Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.20

Dan juga hadist tentang Qais Ibnu Al-Harits yang diriwayatkan oleh

Abu Daud dan Ibnu Majah:

د عو تملسا :لاق راحلا ب شيق ع

يب لا تيت اف . سن امث

جام با اور .اعبرا م ر خا :لاقف , كل تلقف :ملسو يلع ها ىلص

“Dari Qais Ibnu Al-Harits ia berkata: ketika masuk islam saya memiliki

delapan istri, saya menemui Rasulullah dan menceritakan keadaan saya,

lalu beliau bersabda: “pilih empat diantara mereka”. (H.R. Ibnu Majah).21

Jadi penulis menyimpulkan jumlah batasan berpoligami dalam islam

hanya diperbolehkan hingga 4 (empat orang istri saja) dan selebihnya

tidak boleh atau bisa dikatakan haram

.

20

Badran Abu al-‘Ai ai Badra , az-Zawaj wa at-Talaq fi al-Islam, hal, 88-92; asy-Syaukani, Nail al-Autar, juz VI, hal. 289-290 dan 320; Rasyid Rida, Tafsir Al-Manar, juz IV. Hal. 374-375; Fakhr ar-Razi, Tafsir Fakhir ar-ar-Razi, jilid III, hal. 137-138; Ibn Rusyd, Bidayah al-Mujtahid, juz II, hal. 40.

21

(39)

3. Syarat dibolehkan melakukan Poligami

Syarat dibolehkan poligami menimbulkan perbedaan pendapat,

Perbedaan pendapat di sini adalah antara kalangan Ulama Fiqh dengan

Ulama Tafsir terkait memahami ayat 3 surat An-Nisa‟ yang menjadi dasar

kebolehan poligami menurut mereka. Karena cara mereka memahami,

mengonsep dan memberikan solusi berbeda, menurut Ulama Fiqh syarat

berpoligami adalah syarat agama sedangkan menurut Ulama Tafsir syarat

berpoligami adalah syarat hukum.22 Berikut adalah pendapat mereka

masing-masing:

a. Menurut Ulama Tafsir

Syarat adil bagi kebolehan berpoligami dipandang oleh mereka

selaku syarat hukum, dengan arti kata ketika terdapat keadilan

maka terdapatlah hukum kebolehan berpoligami dan ketika tidak

terdapat keadilan maka terdapatlah hukum larangan berpoligami.

Larangan membawa kepada batalnya pekerjaan yang dilarang.

Mereka menggunakan kaidah yang berbunyi ‘annahyu yadullu

‘alalfasaadi’larangan itu menunjukan fasadnya hukum.

b. Menurut Ulama Fiqh

Syarat adil bagi kebolehan berpoligami bukanlah syarat hukum

sebagaimana menurut jalan fikir kalangan Ulama Tafsir, akan

22

(40)

tetapi ia adalah syarat Agama dengan pengertian bahwa agama

yang menghendakinya. Karena yang dikatakan syarat hukum itu

adalah yang dituntut adalah sebelum adanya hukum, dengan

pengertian bahwa syarat seperti itu tidak dapat berpisah dari

hokum. Contohnya wudhu‟ selaku syarat hukum syahnya dalam

menunaikan shalat, dituntut untuk dilakukan sebelum shalat,

karena shalat tidak akan sah dilakukan kecuali dengan wudhu‟

terlebih dahulu. Maka shalat dengan wudhu‟ tidak dapat

dipisahkan. Sama halnya adil tidak dapat dijadikan syarat hukum

sahnya poligami karena adil itu belum dapat diwujudkan sebelum

terwujudnya poligami. Oleh karena itulah syarat adil dalam

melakukan poligami tidak dapat dikatakan syarat hukum, akan

tetapi ialah syarat agama yang oleh karenannya ia menjadi salah

satu kewajiban si suami setelah melakukan poligami. Selain dari

pada itu syarat hokum itu mengakibatkan batalnya hukum ketika

batal syaratnya, tetapi syarat agama tidak demikian halnya,

melainkan ia hanya mengakibatkan dosa kepada tuhan. Jadi suami

yang tidak berlaku adil dia berdosa dan dapat diajukan kepada

hakim perkaranya dan hakim pun dapat menjatuhkan kepadanya

(41)

kebolehan berpoligami, maka jika suami tidak berlaku adil

nikahnya menjadi batal.23

C. Poligami Menurut Peraturan Perkawinan di Indonesia 1. Hukum Melakukan Poligami

Penulis sudah menjelaskan di atas mengenai hukum melakukan

poligami, dalam Hukum Islam seorang suami boleh berpoligami atau

memiliki isteri lebih dari satu sampai empat, tetapi di dalam Peraturan

Perundang-Undangan Indonesia Poligami dilakukan pembatasan secara

ketat.

Dalam Undang-Undang Perkawinan Nasional kita UU. Nomor.1

Tahun 1974 yaitu pasal 3 ayat 1 dikatakan „Pada asasnya dalam suatu

perkawinan seorang pria hanya boleh mempunyai seorang istri. Seorang

wanita hanya boleh mempunyai seorang suami‟.24

Dari penjabaran pasal

tersebut diketahui bahwa dalam peraturan perundang-undangan Indonesia

menganut asas Monogami.

Tetapi walaupun dinyatakan bahwa pada prinsipmya dasar perkawinan

adalah seorang pria hanya boleh mempunyai seorang isteri/monogamy

[Lex Generalis], namun dalam kondisi-kondisi tertentu pria tersebut

diperbolehkan untuk menikah dengan beberapa isteri dengan syarat-syarat

tertentu [Lex Spesialis]. Hal ini ditegaskan dalam pasal 3 ayat 2 dijelaskan

23

https://rahmatyudistiawan.worpress.com/2013/01/page/2/

24

(42)

tentang pengecualian dari pasal 3 ayat 1 yakni „Pengadilan dapat memberi

izin kepada seorang suami untuk beristeri lebih dari seorang apabila

dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan‟.25

Alasan-alasan tersebut tercantum di dalam pasal 4 ayat 2 dan pasal 5 yaitu :

Pasal 4 ayat 2

Pengadilan dimaksud dalam ayat (1) pasal ini hanya memberikan izin kepada seorang suami yang akan beristeri lebih dari seorang apabila:

a. Isteri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai isteri;

b. Isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan;

c. Isteri tidak dapat melahirkan keturunan.

Pasal 5

Untuk dapat mengajukan permohonan kepada pengadilan, sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (1) Undang-undang ini, harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

a. Adanya persetujuan dari isteri/isteri;

b. Adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan-keperluan hidup isteri-isteri dan anak-anak mereka;

c. Adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap isteri-isteri dan anak-anak mereka.26

Dalam Pasal 57 KHI pun mengaturnya:

Pengadilan Agama hanya memberikan izin kepada seorang suami yang akan beristeri lebih dari seorang apabila :

a. Isteri tidak dapat menjalankan berkewajiban sebagi isteri

b. Isteri mendapat cacad badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan.

c. Isteri tidak dapat melahirkan keturunan.27

Adapun poligami khusus untuk Pegawai Negeri Sipil yang di atur dalam PP. No. 10 Tahun 1983 yaitu :

25

UU. No 1 Tahun 1974 : Tentang Perkawinan.

26

UU. No. 1 Tahun 1974 : Tentang Perkawinan

27

(43)

Pasal 4

a. Pegawai Negeri Sipil pria yang akan beristeri lebih dari seorang, wajib memperoleh izin lebih dahulu dari pejabat

b. Pegawai Negeri Sipil wanita tidak diizinkan untuk menjadi isteri kedua/ketiga/keempat dari Pegawai Negeri Sipil

c. Pegawai Negeri Sipil wanita yang akan menjadi isteri kedua/ketiga/keempat dari bukan Pegawai Negeri Sipil, wajib memperoleh izin lebih dahulu dari Pejabat.

d. Permintaan izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (3) diajukan secara tertulis.

e. Dalam surat permintaan izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (4), harus dicantumkan alasan yang lengkap yang mendasari permintaan izin untuk beristeri lebih dari seorang atau untuk menjadi isteri kedua/ketiga/keempat.28

2. Jumlah Isteri Dalam Poligami

Dalam peraturan perundang-undangan Indonesia tidak mengatur

secara jelas berapa jumlah isteri yang diperbolehkan oleh suami dalam

melakukan poligami, tetapi secara eksplisit kita bisa menjumpai ketentuan

tersebut.

Di dalam pasal 2 ayat 1 UU. No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan

disebutkan: „Perkawinan sah apabila dilakukan menurut hukum masing

-masing agamanya dan kepercayaannya itu‟.29

Dalam hal ini umat islam di Indonesia perkawinannya berpedoman

kepada Instruksi Presiden No. 1 tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum

Islam yang diatur dalam Pasal 55 yaitu : „Beristeri lebih dari satu orang

pada waktu bersamaan, terbatas hanya sampai empat orang‟.

28

PP. No. 45 Tahun 1983 : Tentang Izin Perkawinan dan Perceraian Bagi Pegawai Negeri Sipil

29

(44)

Jadi penulis menyimpulkan bahwa jumlah istri dalam berpoligami

dalam Peraturan Perundang-Undangan di Indonesia khususnya untuk umat

islam berjumlah hingga 4 (empat) orang istri.

3. Tata Cara dan Prosedur Poligami

Mengenai tata cara dan prosedur pelaksanaan poligami diatur didalam

Pasal 40, 41, 43 PP No. 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yaitu :

Pasal 40

Apabila seorang suami bermaksud untuk beristri lebih dari seorang maka ia wajib mengajukan permohonan secara tertulis kepada pengadilan.

Pasal 41 Pengadilan kemudian memeriksa mengenai :

a. Ada atau tidaknya alsan yang memungkinkan seorang suami kawin lagi, ialah :

- Bahwa istri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai isteri; - Bahwa isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat

disembuhkan;

- Bahwa isteri tidak dapat melahirkan keturunan.

b. Ada atau tidaknya persetujuan dari isteri, baik persetujuan lisan maupun tertulis, apabila persetujuan merupakan persetujuan lisan, persetujuan itu harus diucapkan di depan sidang Pengadilan;

c. Ada atau tida adanya kemampuan suami untuk menjamin keperluan hidup isteri-isteri dan anak-anak, dengan memperlihatkan:

i. Surat keterangan mengenai penghasilan suami yang ditandtangani oleh bendahara tempat bekerja; atau

ii. Surat keterangan pajak penghasilan; atau

iii. Surat keteragan lain yang dapat diterima oleh pengadilan; d. Ada atau tidak adanya jaminan, bahwa suami akan berlaku adil

terhadap isteri-isteri dan anak-anak mereka dengan pernyataaan atau janji dari suami yang dibuat dalam bentuk yang ditetapkan untuk itu.

Pasal 43

Apabila pengadilan berpendapat, bahwa cukup alasan bagi pemohon untuk beristeri lebih dari seorang, maka pengadilan memberikan putusannya yang berupa izin untuk beristeri lebih dari seorang.

(45)

yang dituangkan dalam peraturan Menteri Agama (Permenag) No. 3 Tahun 1975. Ketentuan ini sebagai pedoman pelaksanaan teknis yang harus dipatuhi oleh Hakim Pengadilan Agama dalam memberikan putusan/penetapan Izin Berpoligami, maupun oleh Pejabat Pencatat Nikah dalam penyelenggarakan Pencatatan Perkawinan Poligami.30

Ketentuan-ketentuan dari Permenag No. 3 Tahun 1975 antara lain : Pasal 8 ayat 2

Bagi suami yang hendak beristeri lebih dari seorang, harus membawa surat izin dari Pengadilan Agama.

Pasal 1 ayat 2h

Izin beristeri lebih dari seorang dari pengadilan Agama ialah penetapan yang berupa izin beristeri lebih dari seorang.

Pasal 14 ayat 1

Apabila seorang suami bermaksud untuk beristeri lebih dari seorang maka ia wajib mengajukan permohonan secara tertulis disertai alasan-alasannya kepada Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat tinggalnya dengan membawa kutipan akte nikah yang terdahulu dan surat-surat lain yang diperlukan; (Permenag No. 3/1975 pasal14 (1) ).

Yang dimaksud oleh permenag pasal 1 ayat 1 di atas adalah atau syarat-syarat yang disebutkan dalam pasal 4 ayat 2 dan pasal 5 UUP, sebagaimana pula dalam PP pasal 41. Selanjutnya Permenag No. 3 Tahun 1975 tadi, menentukan:

Pasal 15 ayat 4

Apabila Pengadilan Agama berpendapat, bahwa cukup alasan bagi pemohon untuk beristeri lebih dari seorang, maka Pengadilan Agama memberikan penetapan yang berupa izin untuk beristeri lebih dari seorang kepada pemohon yang bersangkutan.31

Dapat ditambahkan, bahwa dalam UU No. 1 tahun 1974 pasal 5 ayat 2

menentukan: Persetujuan yang dimaksud pada ayat (1) huruf a pasal ini

tidak diperlukan bagi seorang suami apabila isteri/isteri-isterinya tidak

mungkin dimintai persetujuannya dan tidak dapat menjadi pihak dalam

perjanjian, atau apabila tidak ada kabar dari isterinya selama

30

Anwar Sitompul, Kewenangan dan Tata Cara Berperkara di Peradilan Agama (Bandung: CV. ARMICO, 1984). Cet. 1. Hal. 67

31

(46)

kurangnya 2 (dua) tahun, atau karena sebab-sebab lainnya yang perlu

mendapat penilaian dari Hakim Pengadilan.

Jadi penulis menyimpulkan bahwa suami yang ingin melakukan

poligami harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari Pengadilan Agama,

dan surat izin dari Pengadilan Agama tersebut harus dibawa ketika

mendaftarkan perkawinan poligaminya di KUA, surat tersebut akan

dijadikan bukti untuk dicatatkan oleh Pegawai Pencatat Nikah.

Pegawai Pencatat Nikah tidak boleh atau dilarang mencatatkan

perkawinan poligami seorang suami, jika sang suami tersebut tidak

mempunyai atau mendapatkan surat izin tertulis dari Pengadilan Agama,

sebagaimana yang telah diatur dalam Pasal 44 PP. No. 9. Tahun 1975.32

32

(47)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Gambaran Umum tentang Majelis Ulama Indonesia Kota Administasi Jakarta Utara.

1. Sejarah Terbentuknya Majelis Ulama Indonesia

Peristiwa terbentuknya Majelis Ulama Indonesia tidak dapat

dilepaskan dari kondisi pasang-surutnya peran ulama di tengah

masyarakat, baik sebelum maupun sesudah kolonialisme. Peran

tersebut, tidak terbatas pada persoalan-persoalan ibadah dan agama

saja, melainkan juga menyangkut persoalan-persoalan politik.

Munculnya kerajaan-kerajaan Islam di Jawa seperti Demak, Cirebon

dan Banten pada abad keenam belas tidak dapat dilepa

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan pertimbangan hukum hakim Pengadilan Agama Surakarta dalam memutus perkara izin poligami, yakni hakim telah memutus perkara dengan menggunakan dasar

Akibat hukum dari pernikahan poligami yang dilangsungkan tanpa izin dari pengadilan agama yaitu, pertama perkawinan yang dilakukan tidak sah menurut negara,

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pelaksanaan pemberian izin poligami dengan memperhatikan persetujuan istri di pengadilan agama dapat kita lihat pada contoh kasus di

Pertimbangan hakim Pengadilan Agama Kota Malang dalam memberikan izin poligami bagi Pegawai Negeri Sipil PNS sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku adalah

Majelis hakim Pengadilan Agama dalam menjatuhkan putusan tentang perkara permohonan izin poligami cenderung menggunakan pertimbangan hukum agama yang dianut dan

Keterangan pemohon di atas yang menyebutkan bahwa ia datang ke Pengadilan Agama Pangkajene untuk mendapatkan izin poligami telah sesuai dengan Undang-Undang

Sanksi hukum orang yang menikahkan pelaku poligami tanpa izin pengadilan agama dalam tinjauan hukum Islam tidak ada perbedaan tidak ada perbedaan pelaku poligami dan orang

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perkara izin poligami yang diajukan berdasarkan alasan istri (Termohon) menderita sakit jiwa sehingga tidak bisa lagi menjalankan