• Tidak ada hasil yang ditemukan

Isolasi Dan Analisis Komponen Kimia Minyak Atsiri Dari Daun Jinten (Coleus Aromatikus Benth) Dengan GC – MS Dan Uji Anti Bakteri

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Isolasi Dan Analisis Komponen Kimia Minyak Atsiri Dari Daun Jinten (Coleus Aromatikus Benth) Dengan GC – MS Dan Uji Anti Bakteri"

Copied!
104
0
0

Teks penuh

(1)

ISOLASI DAN ANALISIS KOMPONEN KIMIA MINYAK

ATSIRI DARI DAUN JINTEN (Coleus Aromatikus

Benth) DENGAN GC – MS DAN UJI ANTI

BAKTERI

TESIS

Oleh

BAGUS SINULINGGA

087006035/

KIM

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUANALAM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

ISOLASI DAN ANALISIS KOMPONEN KIMIA MINYAK

ATSIRI DARI DAUN JINTEN (Coleus Aromaticus Benth)

DENGAN GC – MS DAN UJI ANTI BAKTERI

TESIS

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister sains dalam program studi ilmu Kimia pada Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera utara

Oleh:

BAGUS SINULINGGA

087006035/

KIM

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUANALAM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

Judul Tesis : ISOLASI DAN ANALISIS KOMPONEN KIMIA MINYAK ATSIRI DARI DAUN JINTEN (Coleus

Aromatikus Benth)DENGAN GC – MS DAN

UJI ANTI BAKTERI

Nama : Bagus Sinulingga Nomor pokok : 087006035

Progam Studi : Kimia

Menyetujui: Komisi Pembimbing

( Prof.Dr. Tonel Barus ) ( Lamek Marpaung, M.Phil,Ph.D ) Ketua Anggota

Ketua Program Studi, Dekan

( Prof. Basuki Wirjosentono, MS,Ph.D ) (Dr.Sutarman,MSc)

(4)

Telah diuji pada

Tanggal: 21 Juni 2011

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : 1. Prof. Dr. Tonel Barus

Anggota : 2. Lamek Marpaung, M.phil,Ph.D 3. Prof. Basuki Wirjosentono, MS, Ph.D 4. Dr. Hamonangan Nainggolan MSc 5. Dr. Minpin Ginting MS

(5)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan dahwa tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kerjasama di suatu perguruan tinggi dan sepanjang sepengetahun saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis maupun diterbitkan oleh orang lain, kecuali secara tertulis diacu dalam naskah dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, Juni 2011

Penulis

(6)

ISOLASI DAN ANALISIS KOMPONEN KIMIA MINYAK

ATSIRI DARI DAUN JINTEN (Coleus Aromatikus

Benth) DENGAN GC – MS DAN UJI ANTI

BAKTERI

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan dengan skala laboratorium. Sebagai bahan penelitian digunakan daun jinten yang segar. Perlakukan yang dilakukan yaitu untuk mengisolasi minyak atsiri dari daun jinten, ini dilakukan dengan cara destilasi air (hidrodestilasi). Untuk menganalisa komponen-komponen kimia dilakukan dengan kromatografi gas – spektrometri massa. Hasil kromatografi gas menunjukan adanya 15 puncak, yang berarti terdapat 15 komponen kimia dari minyak atsiri daun jinten. Berdasarkan analisa (identifikasi) dengan spektrometri massa didapatkan senyawa-senyawa kimia dalam minyak daun jinten adalah sebagai berikut: α–Thujene, α - pinem, 7-oktena-4-ol, β -Myrcene , α – Phellandrene , 4-isopropil, 1- metil-1,3 sikloheksadiena , para Cimene , 4- isopropil, 1-metil, 1,4-sikloheksadiena , timol , β- Kriopillen , α -Humulene ,β - Bisabolene , β- Sesquihelladrene dan Kariopillene oksida. Berdasarkan hasil uji anti bakteri yang dilakukan terhadap 4 bakteri ternyata memberikan hasil yang positif. Adapun hasil yang ke 4 untuk Indeks Anti Mikroba adalah Staphylococcus aureus (681 mm), Streptococcus mutan (859 mm), Salmonella typii (651 mm) dan Eschericia coli (696 mm)

Kata kunci : Minyak atsiri, Komponen kimia dari daun jinten dan uji aktivitas anti Bakteri

(7)

ISOLATION AND ANALYSIS CHEMICAL COMPONENT

ESSENTIAL OIL OF LEAVE JINTEN (Coleus Aromaticus Benth)

WITH GC-MS AND TEST ANTI BACTERY

ABSTRACT

The research was conducted whit the scale of laboratore. The object ofthis research was fresh leave jinten. The treatment done was to isolatethe essential oil of leave jinten (Coleus Aromaticus Benth) though water distillation . To analyzed chemical components was done with mass Spectrometry – gas Cromatography. The reuslt of gas cromatography showed 15 apexes meaning that the essensial oil of the leave jinten. Based on analysis with spectrometry mass inducted that chemical compound in essential 0il leave jinten as fullows : α-Thujene, α-Pinene, 7-Octen-4-ol, β -Myrcene, α-Phellandrene, 1,3Cyclohexadiene,1-methyl-4-(1-methylethyyl), ParaCymene,1,4-Cyclohexadiene,1-methyl-4-(-1methylethyl),Thymol, β-Caryophylene α-Humulene, β-Bisabolene, β-Ses Quiphellandrene, Caryophyllene Oxide. Based on the result of test activity anti bactery which done to 4 bacteryes in jact it gave the positive result. The result of 4 bacteries for the the anti indeks microbial(IAM): Staphylococcus aureus (681 mm), Streptococcus mutan (859), Salomnella typii (651 mm) and Eschericia Coli (696 mm).

Key words : Essential Oil, Chemical component of leave jinten and Atibactery activity test.

. . .

(8)

KATA PENGANTAR

Puji sukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas berkatnya

dan kasihnya sehingga saya dapat menyelesaikan penulisan tesis ini sebagai tugas

akhir dalam jenjang Magister.

Saya menyadari bahwa tesis ini mash juah dari kesempurnaanya, baik dalam

penulisan kata maupun bobot ilmiahnya. Untuk ini maka kritik dan saran dari pembaca

sangat diterima dengan senang hati demi kesempurnaan tesis ini. Oleh karena itu, pada

kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Kepada Rektor Universitas Sumatera Utara yang telah memberi kesempatan

kepada saya untuk melanjutkan pendidikan ke program magister kimia.

2. Kepada Dekan FMIPA USU yang telah memberikan kesempatan menjadi

mahasiswa program Magister Sains pada pascasarjana FMIPA Universitas

Sumatera Utara

3. Kepada bapak Direktur Politekni Negeri Medan yang telah memberikan

Izin untuk kuliah di pascasarjana diprogram magister kimia

4. Kepada bapak Prof. Basuki Wirjosentono,MS.Ph.D segagai ketua program studi

Magister Kimia dan juga sebagai dosen penguji.

5. Kepada bapak Prof. Dr. Tonel Barus dan bapak Lamek Marpaung, M.Phl,Ph.D

sebagai pembimbing saya.

6. Kepada bapak Dr. Hamonangan Nainggolan, MSc dan bapak Dr. Minpin Ginting

MS sebagai dosen penguji

(9)

7. Kepada seluruh staf dosen yang memberi kuliah diprogram Magister Kimia

maupun pegawai yang telah banyak membantu saya.

8. Kepada almarhum orang tua saya dengan susah payah membiayai saya selama

kuliah di FMIPA USU Medan sampai saya meraih gelar S1

9. Kepada istri saya tercinta Dra. Jenda mari Sembiring dan anak saya Devi Santa

Monika Sinulingga , Hesron Liasna Sinulingga yang telah banyak memberi

dorongan dan memberi semangat kepada saya untuk

menyelesaikan kuliah saya di magister kimia usu Medan.

9. Kepada teman – teman sekerja di Politeknik Negeri Medan yang telah memberi

semangat kepada saya untuk kuliah dipascasarjana program studi Kimia USU

Medan

Medan,

Bagus Sinulingga

(10)

RIWAYAT HIDUP

Nama : Bagus Sinulingga

Tempat/ Tanggal lahir : Namo Tating, 11 Maret 1956

Riwayat Pendidikan :

SD Tamat : Tahun 1968

SMP Tamat : Tahun 1971

SMA Tamat : Tahun 1974

FMIPA- USU Tamat : Tahun 1985

Sekolah Pasca sarjana USU Tamat : Tahun 2011

Riwayat Pekerjaan :

Dosen Politeknik Negeri Lhokseuwe : Tahun 1987 S/D 2000

Dosen Politeknik Negeri Medan : Tahun 2000 Sampai sekarang

Nama istri : Dra Jenda Mari Sembiring

Nama anak : Devi Santa Monika Sinulingga

Hesron Liasna Sinulingga

Nama ayah : (Alm) P. Sinulingga

Nama ibu : (Alm) Ng. Sembiring

(11)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK i

ABSTRACT ii

KATA PENGANTAR iii

RIWAYAT HIDUP v

DAFTAR ISI vi

DAFTAR TABEL ix

DAFTAR GAMBAR x

DAFTAR LAMPIRAN xi

BAB I. PENDAHULUAN 1

1.1. Latar Belakang 1

1. 2. Permasalahan 2

1.3. Tujuan Penelitian 3

1.4. Manfaat Penelitian 3

1.5. Lokasi Penelitian 3

1.6. Metodologi Penelitian 3

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 5

2.1. Minyak Atsiri 5

2.1.1 Sumber Minyak Atsiri

2.1.2, Penggunaan Minyak Atsiri 8

2.1.3. Cara Isolasi Minyak Atsir 9

2.1.3.1. Metode Penyulingan (Destilasi) 10

(12)

2.1.4. Proses Kimiawi Penyebab Kerusakan Minyak Atsiri 11

2.1.4.1. Proses Oksidasi 11

2.1.4.2.Proses Hidrolisa 12

2.1.4.3. Proses Penyabunan 13

2.2. Kromatografi Gas – Spektrometri Massa (GC-MS) 13

2.3. Kromatografi Gas 14

2.3.1.GasPembawa 15

2.3.2. Sistem Injeksi 16

2.3.3. Kolom 16

2.3.4. Detektor 16

2.3.5. Rekorder 16

2.4. Spektrum Massa 17 2,4,1 Pengenalan puncak ion molekul 18

2.5. Analisa minyak atsiri 18

2.6. Minyak Atsiri Sebagai Anti Bakteri 18 2.7. Tumbuhan Jinten 20

BAB III. METODE PENELITIAN DAN MATERI

22

3.1 Metode Penelitian 22

3.2 Alat Dan Bahan Yang Digunakan 22

3.2.1. Alat-Alat Yang Digunakan 22

(13)

3.2.2. Bahan Yang Digunakan 23

3.3. Prosedur Kerja 23

3.3.1. Isolasi Minyak Atsiri Dari Daun Jinten 23

3.4. Bagan Penelitian 24

3.5. Prosedur Kerja Pengujian Anti Bakteri 25

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 26

4.1 Hasil Penelitian 26

4.1.1. Hasil GC – MS 26

4.2. Pembahasan 29

4.2.1. Pengujian Aktivitas Anti Bakteri Terhadap Minyak Atsiri 58

SARAN BAB V. 64 KESIMPULAN DAN SARAN 64

5.1 Kesimpulan 64

5.2. Saran 64

DAFTAR PUSTAKA 65

(14)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

2.1. Sumber minyak Atsiri 7

4.1. Komposisi senyawa kimia minyak daun Jinten 62

(15)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

2.1 Struktur Monoterpen Dan Seskuiterpen Pada Minyak atsiri 7

4.1 Kromatogram Minyak Atsiri Daun Jinten 28

4.2 Spektrum Massa Minyak Atsiri Dengan RT 6,249 Menit 29

4.3 Spektrum Massa Minyak atsiri Dengan RT 6,426 Menit 32

4.4 Spektrum Massa Minyak Atsiri Dengan RT 7,689 Menit 33

4.5 Spektrum Massa Minyak atsiri Dengan RT 7,894 Menit 34

4.6 Spektrum Massa Minyak Atsiri Dengan RT 8,240 Menit 36

4.7 Spektrum Massa Minyak Atsiri Dengan RT 8,536 Menit 38

4.8 Spektrum Massa Minyak Atsiri Dengan RT 8,807 Menit 40

4.9 Spektrum Massa Minyak Atsiri Dengan RT 9,604 Menit 42

4.10 Spektrum Massa minyak Atsiri Dengan RT 14,571 Menit 44

4.11 Spektrum Massa minyak Atsiri Dengan RT 16,112 Menit 47

4.12 Spektrum Massa minyak Atsiri Dengan RT 16,584 Menit 50

4.13 Spektrum Massa Minyak Atsiri Dengan R 17,208 Menit 53

4.14 Spektrum Massa Minyak Atsiri Dengan RT17,433 Menit 56

4 15 Spektrum Massa Minyak Atsiri Dengan RT 18,353 Menit 58

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman

1. Data Kondisi Operasi Peralatan GC-MS 69

2. Data Kromatogram MS Minyak Atsiri Daun Jinten 70

3. Gambar Alat Stahl 86

4. Gambar Tumbuhan Jinten 87

5. Data hasil uji anti bakteri 89

(17)

ISOLASI DAN ANALISIS KOMPONEN KIMIA MINYAK

ATSIRI DARI DAUN JINTEN (Coleus Aromatikus

Benth) DENGAN GC – MS DAN UJI ANTI

BAKTERI

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan dengan skala laboratorium. Sebagai bahan penelitian digunakan daun jinten yang segar. Perlakukan yang dilakukan yaitu untuk mengisolasi minyak atsiri dari daun jinten, ini dilakukan dengan cara destilasi air (hidrodestilasi). Untuk menganalisa komponen-komponen kimia dilakukan dengan kromatografi gas – spektrometri massa. Hasil kromatografi gas menunjukan adanya 15 puncak, yang berarti terdapat 15 komponen kimia dari minyak atsiri daun jinten. Berdasarkan analisa (identifikasi) dengan spektrometri massa didapatkan senyawa-senyawa kimia dalam minyak daun jinten adalah sebagai berikut: α–Thujene, α - pinem, 7-oktena-4-ol, β -Myrcene , α – Phellandrene , 4-isopropil, 1- metil-1,3 sikloheksadiena , para Cimene , 4- isopropil, 1-metil, 1,4-sikloheksadiena , timol , β- Kriopillen , α -Humulene ,β - Bisabolene , β- Sesquihelladrene dan Kariopillene oksida. Berdasarkan hasil uji anti bakteri yang dilakukan terhadap 4 bakteri ternyata memberikan hasil yang positif. Adapun hasil yang ke 4 untuk Indeks Anti Mikroba adalah Staphylococcus aureus (681 mm), Streptococcus mutan (859 mm), Salmonella typii (651 mm) dan Eschericia coli (696 mm)

Kata kunci : Minyak atsiri, Komponen kimia dari daun jinten dan uji aktivitas anti Bakteri

(18)

ISOLATION AND ANALYSIS CHEMICAL COMPONENT

ESSENTIAL OIL OF LEAVE JINTEN (Coleus Aromaticus Benth)

WITH GC-MS AND TEST ANTI BACTERY

ABSTRACT

The research was conducted whit the scale of laboratore. The object ofthis research was fresh leave jinten. The treatment done was to isolatethe essential oil of leave jinten (Coleus Aromaticus Benth) though water distillation . To analyzed chemical components was done with mass Spectrometry – gas Cromatography. The reuslt of gas cromatography showed 15 apexes meaning that the essensial oil of the leave jinten. Based on analysis with spectrometry mass inducted that chemical compound in essential 0il leave jinten as fullows : α-Thujene, α-Pinene, 7-Octen-4-ol, β -Myrcene, α-Phellandrene, 1,3Cyclohexadiene,1-methyl-4-(1-methylethyyl), ParaCymene,1,4-Cyclohexadiene,1-methyl-4-(-1methylethyl),Thymol, β-Caryophylene α-Humulene, β-Bisabolene, β-Ses Quiphellandrene, Caryophyllene Oxide. Based on the result of test activity anti bactery which done to 4 bacteryes in jact it gave the positive result. The result of 4 bacteries for the the anti indeks microbial(IAM): Staphylococcus aureus (681 mm), Streptococcus mutan (859), Salomnella typii (651 mm) and Eschericia Coli (696 mm).

Key words : Essential Oil, Chemical component of leave jinten and Atibactery activity test.

. . .

(19)

BAB 1

seperti sabun, pasta gigi dan sampo sebagai anti nyeri, anti infeksi atau sebagai

antibakteri. Dalam industri makanan digunakan sebagai bahan penyedap atau

penambah citra rasa, sebagai pewangi dalam berbagai produk minyak wangi, maupun

digunakan sebagai bahan pengawet, maupun sebagai insektisida.

tersebut. Menurut Wells minyak jeruk yang kaya senyawa terpen cendrung lebih

(20)

Kelompok kedua adalah minyak atsiri yang sukar dipisahkan menjadi komponen

murninya. Secara kimia minyak atsiri komponennya kebanyakan dijumpai terdiri dari

senyawa terpen dan senyawa terpenoid. Minyak atsiri merupakan minyak mudah

menguap ( essential oil ) dan akhir-akhir ini minyak atsiri menarik perhatian hal ini

disebabkan karena beberapa tumbuhan yang menghasilkan minyak atsiri memiliki sifat

aktivitas biologis baik digunakan sebagai anti bakteri maupun sebagai anti jamur.

Salah satu tumbuhan yang dapat menghasilkan minyak atsiri adalah tumbuhan

jinten (Coleus Aromaticus Benth) dan tumbuhan ini telah lama digunakan oleh

masyarakat Indonesia sebagai tumbuhan berkhasiat obat. Tumbuhan ini termasuk

daun jinten hitam mengandung bahan aktif yang berfungsi dalam tubuh sebagai anti

histamin/anti elergi, antioksidan, anti infeksi dan broncodiaalating ( melonggarkan

tenggorokan) (Nirma Chakravaty MD, 1993). Mengenai sifat aktif sebagai anti bakteri

maupun tentang komponen-komponenkimia minyak atsiri yang terkandung pada

daun jinten tersebut belum diketahui. Berdasarkan dari uraian yang telah dikemukakan

diatas maka penulis tertarik untuk melakukan suatu penelitian tentang kandungan

minyak atsiri yang terdapat pada daun jinten tersebut dan apakah minyak atsirinya

yang terkandung dapat digunakan sebagai anti bakteri.

1.2 Permasalahan

1. Apakah minyak minyak atsiri yang terdapat pada daun jinten (Coleus Aromaticus

Benth) dapat diperoleh dengan secara destilasi air (hidrodistilasi) menggunakan

(21)

2. Senyawa apakah yang dapat diidentifikasi dalam minyak atsiri tersebut,jika

dilakukan pemeriksaan melalui analisa secara GC – MS.

3. Apakah minyak atsiri dari daun jinten (C. aromaticus benth) yang diperoleh

mengandung senyawa yang dapat digunakan sebagai anti bakteri

.

1.3 Tujuan Penelitian.

1. Untuk mengisolasi minyak atsiri dari daun Jinten (C, aromaticus benth) secara

hidrodestilasi dengan menggunakan alat Stahl.

2. Mengidentifikasi kandungan kimia minyak atsiri yang terdapat pada daun Jinten

yang dianalisis secara GC-MS.

3. Menguji aktivitas minyak atsiri yang diperoleh sebagai anti bakteri

.

1.4. Manfaat Penelitian

1. Memberikan suatu informasi bahwa daun Jinten (C.aromaticus benth) yang

belum dimanfaatkan kandungan minyak atsirinya

2. Memberikan informasi tentang jenis senyawa kimia apa saja yang terdapat

dalam minyak atsiri yang diperoleh dari daun jinten (C.aromaticu benth).

3. Dari hasil penelitian ini dapat memberikan informasi kepada masyarakat tentang

komponen minyak atsiri dari daun Jinten (C. aromaticus benth) yang salah satu

(22)

1.6. Metodologi Penelitian

Pada penelitian ini dilakukan secara eksprimen dengan skala

laboratorium, dimana sampel yang digunakan sebagai bahan penelitian adalah

daun jinten yang segar, dimana daun jinten mula-mula dirajang kemudian

dilakukan destilasi air dengan menggunakan alat stahl , minyak atsiri yang

dihasilkan masih bercampur dengan air destilat, untuk memisahkan air

dengan minyak diekstraksi dengan eter dan sisa air yang ada dalam minyak

kemudian tambahkan natrium sulfat anhidrad, dan selanjutnya dipisahkan

dengan cara penyaringan. Minyak atsiri yang sudah kering selanjutnya dianalisa

komponen kimianya dengan GC-MS maupun dilakukan pengujian terhadap

(23)

BAB 2

prosesnya tidak rumit dan tidak mahal. Cara proses penyulingan ini dimana uap air

dialirkan kedalam tumpukan bahan tumbuh- tumbuhan sehingga minyak atsiri

terdapat pada minyak atsiri antara lain alkohol, aldehid, keton dan ester sering terdapat

(24)

yang mengandung 15 atom karbon. Golongan terpen merupakan persenyawaan

hidrokarbon tidak jenuh yang molekulnya tersusun dari unit isoprene (C5H8).Unit ini

yang berkondensasi dengan cara persambungan antara kepala dengan ekor

isopentenilpirofosfat dan dimetil alilpirofosfat sehingg menghasilkan geranil

pirofosfat yang selanjutnya mengalami reaksi sekunder seperti hidrolisa, isomerisasi ,

oksidasi, reduksi maupun dehidrasi untuk menghasilkan senyawa terpen maupun

senyawa terpenoid yqng terdapat didalam tumbuh-tumbuhan.

Kepala Ekor

Isoprene (C5) Satuan Isoprene

Didalam minyak atsiri bagian utamanya merupakan senyawa terpenoid. Zat

inilah penyebab terjadinya bau wangi, harum atau bau yang khas yang terjadi pada

tumbuh- tumbuhan. Pemanfaatan senyawa ini sangat penting artinya sebagai dasar

wewangian alam dalam industri parfum dan begitu juga untuk pemanfaatan

rempah-rempah serta sebagai senyawa citarasa didalam industri makanan maupun industri

minuman. (Harborne, 1987).

Senyawa monoterpen maupun senyawa seskuiterpen dapat dipilah-pilah ini

didasarkan kepada kerangka atom karbon dasarnya. Pada umumnya adalah senyawa

asiklik (misalnya fenesoldan graniol ), senyawa monosiklik (misalnya bisabolena dan

limonene), untuk senyawa bisiklik (misalnya α dan β-pinena). Didalam setiap

golongan senyawa monoterpen maupun golongan senyawa seskuiterpen bisa terdapat

senyawa hidrokarbon tak jenuh atau senyawa keton (Herborne, 1987). Beberapa

contoh dari struktur monoterpen dan seskuiterpen dapat dilihat pada gambar dibawah

(25)

OH

Mentol

O

Kamfor

Misren

OH

Linalool

CHO

Sitronelal

Osimin

Bisabolen

Fernasol

Gambar 1. Beberapa contoh struktur monoterpen dan seskuiterpen yang didalam

minyak atsiri

2

.1.1.

Sumber Minyak Atsiri

Minyak atsiri yang terdapat pada tumbuhan dan biasanya diperoleh dan

bagian tertentu dari tumbuhan seperti bunga, buah, akar, daun, kulit kayu dan

rimpang. Bahkan ada jenis tanaman yang seluruh bagiannya mengandung minyak

atsiri. Kandungan minyak atsiri tidak akan selalu sama antara bagian yang satu

dengan bagian yang lainnya, seperti contoh kandungan minyak atsiri yang terdapat

pada kuntum bunga berbeda dengan yang terdapat pada bagian daunnya (Toni,1994).

Minyak atsiri merupakan salah satu hasil akhir proses metabolisme sekunder dalam

(26)
(27)

2.1.2. Penggunaan Minyak Atsiri

Minyak atsiri telah dikenal dan digunakan beberapa abad yang lalu, pada masa

itu minyak atsiri yang dipakai terbatas hanya pada minyak atsiri tertentu yang berasal

dari rempah-rempah saja. Dengan semakin majunya peradapan dan kebudayaan

Minyak atsiri dapat larut dalam lemak yang terdapat pada kulit, dapat terserap ke

(28)

2.1..3.1. Metode Penyulingan ( Destilasi )

Ada beberapa metoda yang sering digunakan dalam pengolahan minyak atsiri

antara lain adalah:

a. Penyulingan Dengan Air

Metoda penyulingan dengan air yang paling lazim dan paling sederhana

dilakukan untuk mengisolasi minyak atsiri dari tumbuh- tumbuhan. Pada metoda ini

diletakan diatas piring atau plat besi berlubang seperti ayakan yang terletak beberapa

sentimer diatas permukaan air. Pada prinsipnya metoda penyulingan ini menggunakan

Pada sistim ini air sebagai sumber uap panas terdapat dalam boiler yang letaknya

terpisah dengan ketel penyuling. Uap yang dihasilkan mempunyai tekanan lebih tinggi

dari tekana udara luar. Proses penyulingan dengan uap ini baik jika digunakan untuk

menyuling bahan baku minyak atsiri berupa kayu, kulit batang maupun biji-bijian yang

(29)
(30)

OH

proses pemisahan group OR dari group hasil dalam molekul ester, ini akan secara

(31)

itu terjadi kenaikan penggunaan yang sangat besar dari metoda ini. Ada dua alasan

utama terjadinya hal tersebut, pertama telah ditemukannya alat yang dapat

menguapkan hampir semua senyawa organik dapat mengionkan uap. Kedua fragmen

yang dihasikan dari ion molekul dapat dihubungkan dengan stuktur molekulnya.

GC-MS adalah singkatan dari gas kromatografi-mass spektrometri. Instrumen alat ini

adalah gabungan dari alat GC dan MS, hal ini berarti sampel yang hendak diperiksa

diidentifikasi terlebih dahulu dengan alat kromatografi baru kemudian diidentifikasi

dengan alat MS(Mass spektromitri). GC dan MS merupakan kombinasi kekuatan

simultan untuk memisahkan dan mengidentifikasi komponen-kompon

campuran.Adapun kegunaan alat GC-MS adalah:

1. Untuk menentukan berat molekul dengan sangat teliti, sebagai contoh misalnya

ada senyawa-senyawa CO massa molekulnya 28, N massa molekulnya 28,

CH =CH massa molekulnya 28 jika dihitung massa molekul masing-masing

dengan teliti , maka masing-masing masa molekulnya berbeda.

2

(32)

2. Spektroskofi massa dapat digunakan untuk mengetahui rumus molekul tampa

berdasarkan waktu tambat retensi yang khas pada kondisi yang tepat. Waktu retensi

(33)

kolom (Granados, J, 1997). Dalam kromatografi gas ada beberapa komponen utama

yaitu:

2.3.1 Gas Pembawa

Faktor yang menyebabkan suatu senyawa bergerak melalui kolom kromatografi

gas ialah keatsirian yang merupakan sifat senyawa itu dan aliran gas melalui kolom.

Gas pembawa harus memenuhi persyaratan; harus inert, tidak bereaksi dengan

kromatograf yaitu sebesar 10 s/d 50 psi sedangkan untuk aliran gas sebesar 25 s/d 150

ml/menit.

2.3.2. Sistem Injeksi

Dalam pemisahan dengan GC cuplikan harus dalam bentuk fase uap, gas dan uap

dapat dimasukan secara langsung. Tetapi kebanyakan senyawa organik berbentuk

cairan dan padatan, sehingga dengan demikian senyawa yang berbentuk cairan dan

padatan pertama-tama harus diuapkan. Ini membutuhkan pemanasan sebelum masuk

kolom. Suhu injeksi sekitar 50 C lebih tinggi dari titik didih campuran dari cuplikan

yang mempunyai titik didih yang paling tiggi. Perlu diperhatikan bahwa penginjeksian

tidak boleh menginjeksian cuplikan terlalu banyak karena GC sangat sinitif , biasanya

dilakukan 0,5-50 ml gas dan 0,2-20 ml untuk cairan.

(34)

2.3.3. Kolom

Kolom: Kolom merupakan jantung dari kromatografi. Bentuk kolom dapat lurus,

bengkok misalnya bentuk V atau W dan kumparan /spiral. Panjang kolom 1-3 m

diameter, kolom kapiler berdiameter 0,02-0,2mm. Temperatur kolom dapat bervariasi

antara 50 C sampai 250 C dan temperatur kolom lebih rendah dari pada gerbang

injeksi pada kolom, sehingga beberapa komponen campuran dapat berkondensasi pada

awal kolom, namun beberapa bagian dari senyawa tersebut akan menguap kembali

dengan jalan yang sama seperti air yang menguap saat udara panas meski suhu

dibawah 100 C. Beberapa senyawa akan lebih mudah larut dalam cairan dibandingkan

yang lainnya. Senyawa yang mudah larut akan terserap pada fase diam sedangkan

senyawa yang sukar larut menghabiskan waktunya lebih banyak dalam fase gas.

dilakukan pada suhu yang lebih tinggi. Fungsi umum detektor mengubah sifat-sifat

molekul dari senyawa organik menjadi arus listrik kemudian arus listrik tersebut

diteruskan ke rekorder untuk menghasilkan kromatogram. Detektor yang umum

digunakan adalah: Detektor hantaran panas (Thermal Conductivity

Detector),Detektor ionisasi nyala(Flame Ionization Detector), Detektor Penangkap

Elektron (Electron Capture Detectop).

2.3.5. Rekorder

Rekorder berfungsi sebagai pengubah sinyal dari detektor yang diperkuat

melalui elektrometer menjadi bentuk kromatogram. Dari kromatogram yang

diperoleh dapat dilakukan analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisa kuantitatif

dengan cara membandingkan waktu retensi sampel dengan standrat. Analisa

kualitatif dengan menghitung luas area maupun tinggi dari kromatogram

(35)

elektronik agar bisa diolah oleh rekorder atau sistem data. Sebuah rekorder

bekerja dengan mengerakkan kertas dengan kecepatan tertetu. Di atas kertas

tersebut dipasangkan pena yang digerakkan oleh sinyal keluaran detektor sehingga

posisinya akan berubah-ubah sesuai dengan dinamika keluaran penguat sinyal

dalam fasa gas oleh sebuah elektron dalam berkas elektron dan membentuk suatu ion

molekul yang merupakan suatu kation radikal (M+).

Suatu spektrum massa menyatakan massa-massa sibir-sibir bermuatan positif

terhadap (konsentrasi) nisbinya. Puncak paling kuat (tinggi) pada spektrum disebut

puncak dasar (base peak), dinyatakan dengan nilai 100 % dan kekuatan (tinggi x faktor

kepekaan) puncak-puncak lain, termasuk puncak ion molekulnya, dinyatakan sebagai

maka untuk setiap 100 molekul yang mengandung satu atom 12C, sekitar 1,08 %

molekul mengandung satu atom 13C. Karenanya molekul- molekul ini akan

menghasilkan sebuah puncak M +1 yang besarnya 1,08 % kuat puncak ion

molekulnya, sedangkan atom-atom 2H yang akan memberikan sumbangan tambahan

yang amat lemah pada puncak M + 1 itu. Jika suatu senyawa mengandung sebuah

(36)
(37)

massa, kepustakaan terpen oleh Robert P. Adams yang dibuat oleh Finningan dan

dengan waktu retensi dan massa spektra dari senyawa autentik referensi standar yang

disuplay oleh SCM Gligdco dan Aldrich.

Analisis terhadap minyak atsiri menggunakan GC-MS paling sering dilakukan

dan biasa digunakan oleh para peneliti sebelumnya. Antara lain adalah minyak atsiri

yang diperoleh dari tiga spesies Angelica, L. yang tumbuh di Perancis, sehingga dapa

t

diketahui komponen masing-masing spesies tersebut yaitu Angelica archangelica

Sub.Sp.Archangelica minyak atsiriar.elation wahlemb dan A heterocarpa Lioyd

masing-masing 18,7 % dan 5,2% (Bernard, dkk, 1997). Minyak yang dihasikan dari

daun Eugenia uruguayensis dianalisa dengan GC dan GC-MS diproleh 60 komponen

yang teridentifikasi dalam minyak, dimana komponen utama merupakan limonen

(17,6%), 1,8-sineol (17%), α -pinen (10%) dan kariofilen oksida (8,3%) Dellasca, dkk,

1997)

2.6. Minyak Atsiri Sebagai Anti Bakteri

Beberapa literature telah melaporkan bahwa minyak atsiri mempunyai aktivitas

sebagai anti bakteri maupun sebagai analgesic (mengurangi rasa sakit) (Sentosa dkk

1997). Minyak atsiri merupakan minyak yang mudah menguap yang akhir-akhir ini

menarik perhatian dunia hal ini disebabkan karena minyak atsiri yang terdapat dari

berbagai tumbuhan bersifat aktif biologis sebagai anti bakteri maupun sebagai anti

jamur.

Beberapa peneliti yang telah menemukan bahwa minyak atsiri dari daun sirih,

kunyit memiliki aktivitas sebagai antijamur dan anti bakteri. (Elistina 2005),

sedangkan minyak atsiri yang dihasilkan dari rimpang temu putih berhasit sebagai anti

radang dan anti oksidan yang dapat mencegah kerusakan gen. Berdasarkan penelitian

yang pernah dilakukan, minyak atsiri yang diperoleh dari hasi penyulingan daun jeruk

nipis, dari analisa ternyata memiliki aktivitas sebagai anti bakteri terhadap

(38)

Minyak atsiri pada umumnya dibagi menjadi dua bagian, ini dibagi berdasarkan

golongan hidrokarbon dan golongan hidrokarbon teroksigenisasi (Robinson 1991).

Menurut Hyene 1987 bahwa senyawa- senyawa dari turunan golongan hidrokarbon

teroksigenasi (fenol) senyawa ini memiliki daya anti bakteri yang sangat kuat.

2.7. Tumbuhan Jinten

Tumbuhan jinten (C. aromaticus benth) merupakan salah satu tanaman herbal,

karena tumbuhan ini sudah lama dikenal olah masyarakat sebagai tanaman obat,

terutama daunnya untuk mengobati asma, batuk, demam, sariawan, sakit kepala,

reumatik maupun sebagai obat perut kembung. Selain digunakan untuk pengobatan,

tumbuhan jinten juga mengandung minyak atsiri terutama pada bagian daunnya.

Tumbuhan jinten dikenal nama daerahnya; jinten (Jawa tengah), ajiran (Sunda),

bangun- bangun (Sumatera utara), Sukan (melayu), daun kambing (madura), Iwak

(bali) , Oregano (Malaysia),Aceran dan daun hati-hati.Tumbuhan ini berdaun tunggal

dan tebal, berbentuk bujur telur, tepi bergerigi dan permukaannya berbulu. Tumbuhan

ini merupakan jenis rumput-rumputan yang mempunyai batang yang beruas .ruas dan

pada setiap ruas dapat tumbuh tunas,jika batang bersentuhan dengan tanah maka dapat

tumbuh akar. Batang tanaman ini lunak,berair dan mudah patah, daun jinten

mempunyai bau yang khas. Tumbuhan jinten menyukai tanah yang gembur, sedikit

lembab namun tidak berair. Biasanya tumbuhan jinten tumbuh didaerah dataran rendah

sampai pada ketinggin 1000 m diatas permukaan air laut. Pengembangbiakan

tumbuhan ini dilakukan dengan cara stek dan dapat ditanam dipot maupun langsung

ditanam ditanah, tanam ini jika ditanam ditempat yang terlalu banyak panas maka

(39)

Sistematik tumbuhan jinten adalah sebagai berikut:

Divisio : Spermatophyta

Sub Divisio : Angiospermae

Kelas : Dycotyledoneae

Ordo : Solanales

Famili : Labiatae

Genus : Coleus

(40)

BAB 3

- Seperangkat alat Gas Chromatography – Mass Spectroscopy (GC – MS)

(41)

3.3.2. Bahan-bahan yang Digunakan.

- Sebanyak 250 gram daun jinten yang telah dihaluskan dimasukan kedalam labu

alat stahl dan ditambahkan air sebanyak 500 ml.

- Lalu pasang alat buret yang berisi air.

- Kemudian didestilasi dengan penangas minyak selama 2 s/d 3 jam pada suhu

1500C

- Minyak yang terdestilasi dapat dibaca pada skala buret pada alat stahl sehingga

dapat ditentukan volume minyak.

- Destilat ditampung dengan gelas Erlenmeyer lalu dimasukkan kedalam corong

pisah.

- Tambahkan 10 ml eter kedalam corong pisah lalu dikocok- kocok dan didiamkan

lebih kurang 10 menit, sehingga terjadi dua lapisan,lapisan minyak dan eter

disebelah atas dan disebelah bawah lapisan air, kemudian dipisahkan kedua

lapisan tersebut.

- Pada lapisan minyak dan eter ditambahkan Na2SO4 anhidrad dan biarkan satu

malam, sedangkan pada lapisan air yang masih mengandung sedikit minysk

ditambahkan larutan NaCl sampai jenuh, dikocok-kocok lalu dpisahkan, lapisan

minyak dicampurkan dengan lapisan minyak dalam eter dan Na2SO4 anhidrad

yang didiamkan satu malam.

(42)

3.4. Bagan Penelitian Pembuatan Minyak Atsiri Dari Daun Jinten

Daun Jinten ( Coleus Aromaticus Benth)

Dirajang

Ditimbang

Irisan Daun Jinten

Destilasi Sthal

Minyak atsiri bersama air

Diekstraksi dengan Eter

Lapisan eter bersama minyak atsiri Lapisan air sedikit minyak

Ditambahkan Tabahkan NaCl

Na2SO4 anhidrad Saring hingga jenuh

Pisahkan

Filtrat (minyak Na2SO4

Atsiri) dalam eter hidrat Lapisan minyak Lapisan larutan Sedikit air NaCl

Destilasi

Destilat (eter) Residu (minyak atsiri) dari daun jinten

(43)

1.5. Prosedur Kerja Pengujian Terhadap Anti Bakteri

- Bagi cawan petri menjadi 3 kuadran (I,II,III) beri lebel nama bakteri kemudian

tuangkan media mueller hilton agar (MHA) kedalam cawan petri dan biarkan

memadat.

- Celupkan tangkai kotton swab steril (rendam dalam air mendidih). Kedalam

suspensi biakan, putar/tekan bagian atas kapas kesisi tabung supaya suspensi

tidak menetes kekapas tersebut.

- Uapkan permukaan media dengan cotton swab secara merata dan biarkan (15

menit).

- Dengan pinset letakkan kertas cakram yang berisi antibiotik yang berbeda pada

kuadran I, II dan III.

- Inkubasi dengan suhu 37 oC selama 24 s/d 48 jam.

- Amati dan ukur zona hambat untuk setiap antibiotik pada masing-masing

kuadran dan tentukan indeks anti mikroba dengan rumus :

Diameter zona – diameter cakram

Indeks antimikroba =

(44)

B A B 4

dihasilkan dari penyulingan destilasi air terdapat 15 puncak (gambar I) dan data dari

kromatogram MS sebanyak 15 senyawa yang dianalisa, dengan waktu retensi (RT)

yang berbeda-beda. Adapun data MS yang di identifikasi adalah sebagai berikut:

1. Data hasil analisa MS untuk senyawa dengan RT 6,249 menit memberikan

fragmentasi dengan puncak ion molekul pada m/z 136 diikuti puncak-puncak

fragmen dengan massa m/z sebagai berikut: 121, 105, 93, 77, 65, 63,dan 41

(gambar 4.2)

2. Data hasil analisa MS untuk senyawa dengan RT 6,426 menit memberikan

fragmentasi dengan puncak ion molekul pada 136 diikuti puncak- puncak

fragmen dengan massa sebagai berikut: 121, 105, 93, 77, 67, 53 dan 41. (gambar

4.3)

3. Data hasil analisa MS untuk senyawa dengan RT 7,689 menit memberikan

fragmentasi dengan puncak ion molekul pada m/z 128 diikuti puncak-puncak

fragmen dengan massa (m/z) sebagai berikut: 99, 85, 72, 57, dan 41 (gambar 4.4)

3. Data hasil analisa MS untuk senyawa dengan RT 7,894 menit memberikan

fragmentasi dengan puncak ion molekul pada m/z 136 diikuti dengan massa m/z

sebagai berikut:121, 107, 93, 79, 69, 53 dan 41.(gambar 4.5)

4. Data analisa untuk senyawa dengan RT 8,240 menit memberikan fragmentasi

dengan puncak ion molekul pada m/z 136 diikuti dengan massa m/z sebagai

(45)

5. Data analisa MS untuk senyawa dengan RT 8,536 menit memberikan

fragmentasi dengan puncak ion molekul pada m/z 136 diikuti dengan

puncak-puncak fragmendengan massa m/z sebagai berikut: 121, 105, 93, 77, 65 dan 41

(gambar 4,7)

6. Data hasil analisa untuk senyawa dengan RT 8,807 menit memberikan

fragmentasi dengan puncak ion molekul pada m/z 134 dan diikuti oleh

puncak-puncak fragmen dengan massa m/z 119, 103, 91, 77, 65, 51, dan 41 (gambar 4.8).

7. Data hasil analisa MS untuk senyawa dengan RT 9,604 menit memberikan

fragmentasi dengan puncak ian molekul pada m/z 136 kemudian diikuti

puncak-puncak fragmen dengan massa m/z 121, 105, 93, 77, 65, dan 41 (ganbar 4.9)

8. Data hasil analisa untuk senyawa dengan RT 14,571 menit memberikan

fragmentasi dengan puncak ion molekul pada m/z 150 selanjutnya diikuti oleh

puncak-puncak fragmen dengan massa m/z 135, 107, 91, 77, 65,51 dan 39.

(gambar 4.10)

9. Data hasil dari analisa untuk senyawa dengan RT 16,112 menit memberikan

fragmentasi dengan puncak ion molekul pada massa m/z 204 kemudian diikuti

12. Data analisa untuk senyawa dengan RT 17,433 menit memberikan fragmentasi

(46)

ion molekul pada massa m/z 189, 161, 147, 133, 120, 105, 91, 77, 69, 55 dan 41

(gambar 4.14)

13. Data dari hasil analisa terhadap senyawa dengan RT 18,353 menit memberikan

fragmentasi dengan puncak ion molekul pada massa m/z 220 selanjutnya diikuti

dengan puncak-puncak fragmen dengan massa m/z 177, 161, 149, 136, 121, 109,

95, 79, 69 dan 41 (gambar 4.15)

14. Data hasil analisa terhadap senyawa dengan RT 18,683 menit memberikan

fragmentasi dengan puncak ion molekul pada massa m/z 220 kemudian diikuti

dengan puncak-puncak fragmen dengan massa m/z 147, 138, 123, 109, 96, 81,

67dan 41.

(47)

4.2. Pembahasan

1. Puncak dengan RT 6,249 menit merupakan senyawa dengan rumus molekul C10H16

adalah data spektrum massa menunjukkan ion molekul m/z 136. Dengan

membandingkan data spektrum yang diperoleh dari data spektrum library yang lebih

mendekati adalah α-thujene dengan luas area 1322338 sebanyak 0,33 % dengan

ketinggian 457863 (gambar 4.2)

Gambar 4.2: Spektrum minyak atsiri dengan RT 6,249 menit.

Dimana spektrum massa memberikan puncak ion molekul pada massa m/z 136 yang

merupakan berat molekul dari senyawa α- Thujene yang rumus stukturnya sebagai

berikut: :

(48)

Berdasarkan data spektrum untuk fragmen m/z 121 ini merupakan hasil dari pada

terlepasnya CH3 dari fragmen m/z 136. Reaksinya sebagai berikut:

+ + CH3·

(C10H16) m/z 136 (C9H13) m/z 121

Fragmen dengan massa ion molekul m/z 93 ini merupakan pelepasan C2H4 dari ion

molekul massa,m/z 121. Reaksinya adalah sebagai berikut:

+ + C2H4

(C9H13 m/z 121 (C7H9) m/z 93

Selanjutnya diikuti fragmen dengan massa ion molekul m.z 77 sebagai hasil pelepasan

CH4 dari fragmen m/z 93. Reaksinya sebagai berikut:

+ + + + CH4

(C7H9) m/z 93 (C6H5) m/z 77

Untuk fragmen dengan massa m/z 41 adalah sebagai hasil dari pada pelepasan C4H4

dari fragmen dengan massa m/z 93. Reaksinya sebagai berikut:

+ C4H4

(49)

2. Puncak dengan RT 6,426 menit dengan luas area 500765 sebanyak 0,13 % dengan

ketinggian 170144 merupakan senyawa dengan rumus C10H16), data spektrum massa

menunjukkan ion molekul dengan massa m/z 136.Jika dibandingkan dengan data

spektrum yang diperoleh dengan data sprktrum pada library maka yang lebih

mendekati adalah senyawa α-pinem (gambar 4.3)

Gambar 4.3 spektrum massa minyak atsiri dengan RT 6,426 menit

Dimana spektrummemberikan puncak ion molekul pada massa m/z 136 yang

merupakan berat molekul senyawa α-pinem. Rumus stukturnya adalah:

(C10H16) m/ z 136

Berdasarkan data spektrum untuk fragmentasi dengan massa m/z 121 merupakan hasil

terlepasnya radikal CH3. Reaksinya sebagai berikut:

+ CH3·

(50)

Kemudian diikuti fragmen dengan massa m/z 93 sebagai hasil pelepasan C3H7 dari

fragmen m/z 136. Reaksinya sebagai berikut:

+ C3H7

(C10H16) m/z 136

(C7H9) m/z 93

Untuk fragmen dengan massa 77 dihasilkan dari pelepasan CH4 dari fragmen dengan

93. Reaksinya sebagai berikut:

+ CH4

(C7H9) m/z 93 (C6H5) m/z 77

ut:

Kemudian diikuti olehfragmen dengan massa m/z 41 sebagai hasil pelepasan C4H4

dari fragmen dengan massa m/z 93. Reaksinya sebagai berik

+ C4H4

(C3H5) m/z 41

(C7H9) m/z 93

(51)

3. Puncak dengan RT 7,689 menit merupakan seyawa dengan rumus molekul

membandingkan data spektrum yang diperoleh dengan data spektrum pada library,

yang lebih mendekati adalah 7-oktena,4-ol Dengan luas areanya 3823357 sebanyak

0,96 % denganketinggian1010324 (gambar4.4)

Gambar 4.4: Spektrum masa minyak atsiri dengan RT 7.689 menit

Dimana spektrum massa memberikan puncak ion pada m/z 128

merupakan berat molekul dari senyawa 7-oktena-4-ol yakni:

·

OH

(C8H16O) m/z 128

Selanjutnya diikuti oleh fragmen dengan massa ion molekul m/z 99 sebagai hasil

terlepasnya radikal C2H5 . Reaksinya adalah sebagai berikut.

+ C2H5

OH OH

(52)

Fragmen dengan m/z 85 adalah C5H9O yang dihasilkan dari pelepasan CH2 dari

fragmen 99. Reaksinya sebagai berikut:

+ CH2

OH OH

(C6H11) m/z 99 (C5H9O) m/z 85

Untuk fragmen dengan m/z 57 adalah C4H9 yang dihasilkan pada pelepasan :CO

dari fragmen m/z 85 sedangkan untuk m/z 41 dihasilkan karena lepasnya CH4 dari

fragmen m/z 57 Reaksinya sebagai berikut:

OH C4H9

C5H9O m/z 85 - CO m/z 57 - CH4 m/z 41

4. Puncak dengan RT 7,894 menit merupakan senyawa dengan rumus molekul C10H16,

data spektrum massa menunjukkan ion molekul m/z 136. Dengan membandingkan

data spektrum yang diperoleh dengan data spektrum pada library, yang lebih

mendekati adalah β-Myrcene, dengan luas area 2821927 sebanyak 0,71dengan

ketinggian 94046. (gambar 4,5)

(53)

Dari data spektrum massa memberikan puncak ion molekul pada m/z 136 yang

merupakan berat molekul senyawa dari pada senyawa β-Myrcene.

(C10H16) m/z 136

Berdasarkan data spektrum untuk fragmentasi m/z 121 merupakan hasil pelepasan

radikal CH3 dari fragmen m/z 136. Reaksinya sebagai berikut:

+ +

+ CH3·

(C10H16) m/z 136 (C9H13) m/z 121

Untuk fragmen dengan massa molekul m/z 93 yang dihasilkan dari pelipasan C2H4

dari fragmen dengan masa molekul m/z 121. Reaksinya sebagai berikut:

+ C2H4

(C9H13) m/z 121 (C7H9) m/z 93

Sedangkan untuk fragmen dengan mssa ion molekul m/z79 dihasilkan dari pelepasan

CH2 dari pelepasan ion molekul dengan massa m/z 93. Reaksinya sebagai berikut:

+ CH2

(54)

Selanjutnya untuk fragmen dengan massa m/z 41dihasilkan dari pelepasan C3H2 dari

fragmen dengan massa m/z 79. Reaksinya adalah sebagai berikut:

+ + C3H2

(C6H7) m/z 79 (C3H5) m/z 41

5. Puncak dengan RT 8,240 menit dengan luas area 372042 sebanyak 0,09 % dengan

ketinggian 123622 merupakan senyawa dengan rumus molekul C10H16. Data spektrum

massa menunjukkan ion molekul m/z 136. Bila dibandingkan dengan data spektrum

yang diperoleh dengan data spektrum pada library, yang lebih mendekati adalah α

-Phelladrene (gambar4.6)

Gambar 4.6 Spektrum massa minyak atsiri dengan RT 8,240 m2nit

Spektrum massa memberikan puncak ion molekul pada massa m/z 136 yang

merupakan berat molekul senyawa α-Phellandrene.

(55)

Berdasarkan data spektrum untuk fragmen dengan massa m/z 121 merupakan hasil

terlepasnya radikal CH3. Reaksinya sebagai berikut:

+· +·

+ CH3·

(C10H16) m/z 136 (C9H13) m/z 121

Untuk fragmen dengan massa m/z 105 merupakan hasil pelepasan CH4 dari fragmen

m/z 121. Reaksinya sebagai berikut:

+ CH4

(C9H13) m/z 121 (C8H9) m/z 105

Selanjutnya diikuti oleh fragmen dengan massa m.z 93 ini dihasilkan dengan

terlepasnya atom C2H4 dari fragmen m/z 121, Reaksinya sebagai berikut:

+ + C2H4

(C9H13) m/z 121 (C7H9) m/z 93

Kemudian diikuti oleh fragmen dengan massa m/z 77, ini dihasilkan akibat terlepasnya

CH4 dari fragmen m/z 93. Reaksinya sebagai berikut:

+ + CH4

(56)

Selanjutnya diikuti oleh fragmen dengan massa m/ 41 ini dihasilkan oleh terlepasnya

C4H4 dari fragmen dengan massa m/z 93. Reaksinya sebagai berikut:

+ + C4H4

(C7H9) m/z 93 ( C3H5 ) m/z 41

6. Puncak dengan RT 8,536 menit merupakan senyawa dengan rumus molekul C10H16

adalah data spektrum massa menunjukkan ion molekul m/z 136. Dengan

membandingkan data spektrum yang diperoleh dari data spektrum library yang lebih

mendekati adalah 1-isopropil-4-metil-1,3-sikloheksadiena, dengan luas area 4520473

sebanyak 1,13 % dengan ketinggian 1439749. (gambar 4.7)

Gambar 4.7: Spektrum minyak atsiri dengan RT 8,536 menit

Spektrum masa memberikan puncak ion molekul pada massa m/z 136 yang

merupakan berat molekul 4-isopropil,1- metil-1,3 sikloheksadiena

(57)

Berdasarkan data spektrum untuk fragmen m/z 121 merupakan hasil terlepasnya

radikal CH3dari fragmen dengan massa m/z 136. Reaksinya sebagai berikut:

+ +

+ CH3·

(C10H16) m/z 136 (C9H13) m/z 121

Untuk fragmen dengan massa molekul m/z 93 sebagai hasil dari pelepasan C2H4 dari

fragmen dengan m/z 121. Reaksinya sebagai berikut.

+ + + C2H4

(C9H13) m/z 121 (C7H9) m/z 93

Selanjutnya diikuti dengan fragmen m/z 77 ini dihasilkan dengan pelepasan CH4 dari

fragmen m/z 93. Reaksinya sebagai berikut:

+ + + C2H4

(C7H9) m/z 93 (C6H5) m/z 77

Untuk fragmen 41 dihasilkan dari pelepasan C2+ dari fragmen dengan massa m/z 65.

Reaksinya sebagai berikut:

+ + + + C4H4

+

(58)

7. Puncak dengan RT 8,807 menit merupakan senyawa dengan rumus molekul

C10H14, data spektrum masa menunjukan ion molekul m/z 134. Dengan bandingkan

data spektrum yang diperoleh dengan data spektrum pada library, yang lebih

mendekati adalah para Cimene, dengan luas area 39744802 sebanyak 9,93 % dengan

ketinggian 9383917 (gambar 4.8)

Gambar 4.8: Spektrum masa minyak atsiri dengan RT 8,807 menit

Berdasarkan hasil dari data-data spektrum massa yang tertera diatas memberikan

puncak- puncak ion molekul dengan massa m/z 134. Dengan demikian maka dari hasil

diidentifikasi dapat diketahui bahwa berat molekulnya senyawa ini sama dengan berat

molekulnya dari pada berat molekul senyawa para Cimene.

(C10H14)

(59)

Dari data spektrum untuk fragmen dengan massa ion molekul m/z 119. Ini merupakan

hasil dari terlepasnya radikal CH3.dari fragmen massaion molekul m/z 134. Reaksinya

sebagai berikut:

+

+ + CH3·

(C10H14) m/z 134 (C9H11) m/z 119

Kemudian untuk fragmen dengan massa molekul m/z 91 ini dihasilkan akibat dari

pelepasan C2H4 dari pada ion molekul dengan massa m/z 119. Reaksinya dapat

dituliskan sebagai berikut:

+ + + C2H4

(C9H11) m/z 119 (C7H7) m/z 91

Sedangkan untuk fragmen dengan massa ion molekul m/z 77. Ini dapat dihasilkan dari

terlepasnya CH2 dari fragmen dengan massa ion molekul m/z 91. Reaksinya sebagai

berikut:

+ + + + CH2

(C7H7) (C6H5)

(60)

Kemudian untuk fragmen dengan massa molekul dengan m/z 65.Ini dihasilkan dengan

terlepasnya C2H2 dari fragmen ion molekul dengan massa m/z 91. Sedangkan untuk

fragmen dengan massa ion molekul dengan m/z 51 dihasikan dari massa ion molekul

dengan m/z 65 denagan terlepasnya CH2. Reaksinya dapat dituliskan sebagai

+ C4H3

- C2H2 + - CH2 m/z 51

(C7H7) m/z 91 (C5H5) m/z 65

8. Puncak dengan RT 9,604 menit dengan luas area 36791655 sebanyak 9,2 % dengan

ketinggian 92636227 merupakan senyawa dengan rumus molekul C10H16. Dari data

spektrum masa menunjukkan ion molekul 136. Dengan membandingkan data spektrum

yang diperoleh dari data spektrum library yang lebih mendekati ialah senyawa dari

1-isopropil, 4-.metil 1,4-sikloheksadiena. (gambar 4.9)

Gambar 4.9: Spektrum masa minyak atsiri dengan RT 9,604 menit

Dari data spektrum massa dimana memberi puncak ion molekul pada m/z 136.

Dengan demikian maka senyawa tersebut merupakan berat molekul dari senyawa

4-isopropil,1-metil,1,4-sikloheksadiena.

(61)

Berdasarkan data spektrum yang didapatka maka untuk fragmen dengan massa ion

molekul m/z 121. Ini merupakan hasil dari pada terlepasnya gugus metil (CH3) dari

ftagmen dengan massa ion molekul m/z 136, Reaksinya dapat dituliskan sebagai

berikut:

+ +

+ CH3·

(C10H16) m/s 136 (C9H13) m/z 121

Sedangkan untuk Fragmen dengan ion massa molekul dengan m/z 93. Ini merupakan

hasil dari pada terlepasnya C2H4 dari pada fragmen dengan ion molekul dengan massa

m/z 121.

Reaksinya dapat digambarkan(dituliskan) sebagai berikutini:

+ C2H4

(C9H13) m/z 121 (C7H9) m/z 93

Untuk fragmen dengan massa m/z 77. Ini merupakan hasil dari pada terlepasanya

CH4 dari fragmen dengan masa ion molekul m/z 93. Reaksinya dapat digambarkan

sebagai berikut:

+ + + CH4

(62)

Selanjutnya untuk fragmen dengan massa ion molekul dengan m/z 41dimana ini terjadi

akibat terlepasan C4H4 dari pada fragman dengan m/z 65. Reaksinya sebagai berikut:

+ + + C4H4

C3H5

(C7H9) m/z 93 m/z 41

9. Berdasarkan dari Puncak dengan RT 14,571 menit, sedangkan dengan luas area

244609596 dan sebanyak 61,13% dengan ketinggian 13969862. Ini merupakan suatu

senyawa dengan rumus molekul yaitu C10H14O, dari data spektrum massa bahwa

menunjukkan ion molekul dengan massa m/z 150. Jika dibandingkan dengan data

spektrum yang diproleh dengan data spektrum pada library maka senyawa tersebut

dapat ditentukan, bahwa senyawa tersebut lebih mendekati kepada senyawa Timol.

(gambar 4.10)

(63)

Dari data pektrum massa dihasilkan memberikan puncak ion molekul pada masa m/z

150. Dengan demikian bahwa senyawa tersebut merupakan berat molekul dari pada

senyawa Timol. Rumus stukturnya adalah sebagai berikut.

OH

(C10H14O) m/z 150

Untuk fragmen dengan massa ion molekul dengan m/z135, ini merupakan sebagai

hasil dari pada pelepasan dari radikal CH3 dari fragmen dengan masa m/z 150.

Reaksinya sebagai berikut:

+ +

OH OH

+ CH3·

(C10H14) m/z 150 (C9H11O) m/z 135

Sedangkan untuk Fragmen dengan massa m/z 107 ini merupakan hasil dari

terlepasnya gugus dari C3H7 dari pada ion molekul massa m/z 135. Reaksi sebagai

berikut:

OH

+ + + + C2H4

HO

(64)

Kemudian diikuti oleh fragmen dengan massa ion molekul m/z 91, dan ini

sebabkan oleh akibat dari hasil pelepasan gugus C2H4O dari fragmen dengan ion

molekul m/z 35. Reaksinya sebagai berikut

Selanjutnya diikuti oleh fragmen dengan massa m/z 77, hasil ini disebabkan oleh

terjadinya pelepasan senyawa CH4 dari fragmen dengan ion massa m/z 91. Reaksinya

(65)

10. Puncak dengan RT 16, 112 menit dengan luas area 49435063 sebanyak

12,36 % dengan ketinggian 7374278 merupakan senyawa dengan rumus

molekul C15H24. Data spektrum masa menunjukkan bahwa ion molekul masa

m/z 204. Dengan membandingkan dengan data spektrum yang diperoleh dengan

data spektrum dari pada library yang mendekati adalah β Kariopillen ( gambar

4.11)

Gambar 4.11 Spektrum masa minyak atsiri dengan RT 16,112 menit

kturnya dapat digambarkan

(C15H24) m/z 2 04

Spektrum masa memberikan puncak ion molekul pada masa m/z 204 yang merupakan

berat molekul dari senyawa β- Kariopillen. Rumus stru

sebagai berikut.

(66)

Untuk fragmen dengan massa ion molekul m/z 189 dihasilkan akibat terjadi pelepasa

dari pada radikal CH3 dari fragmen dengan massaion molekul m/z 204. Reaksinya

dapat dituliskan Sebagai berikut:

+ +

+ CH3·

(C15H24) m/z 204 (C14H21) m/z 189

Kemudian diikuti ole fragmen dengan massamion molekul dari m/z 161, dan ini

sebagai dari hasil pelepasan C2H4 dari fragmen dengan massa m/z 189. Reaksinya

sebagai berikut:

+

+ C2H4

+

(C14H21) m/z 189 (C12H17) m/z 161

Untuk fragmen dengan massa ion molekul m/z 147 ini dihasilkan dari pelepasan CH2

dari fragmen dengan massa m/z 161. Reaksinya sebagai berikut:

+ +

+ CH2

(67)

Selanjutnya diikuti dengan fragmen ion molekul dengan massa m/z 133. Dari hasil

pelepasan CH2 dari fragmen dengan massa m/z 147. Reaksinya sebagai berikut:

+ +

+ CH2

(C11H15) (C10H13) m/z 133

Sedangkan untuk fragmen dengan massa m/z 120 dihasilkan dari pelepasan CH dari

fragmen ion molekul m/z 133. Reaksinya sebagai berikut:

Ini hasil pelepasan radil CH3 dari fragmen dengan massa ion molekul m./z 120.

Reaksinya adalah sebagai berikut:

+

+ + CH3

(C9H12) m/z 120 (C8H9) m/z 105

Kemudian diikuti oleh fragmen dengan massa m/z 93 dengan terlepasnya C2H3 dari

fragmen dengan massamolekul m/z 120. Reaksinya sebagai berikut:

+

+ + C2H3

(68)

Untuk fragmen dengan massa m/z 79 dihasilkan dari pelepasan CH2 dari fragmen 93,

sedangkan untuk fragmen dengan m/z 41 dihasilkan dari pelepasan C3H2 dari massa

m/z 79. Reaksinya sebagai berikut:

+ + + C3H2

- CH2

(C7H9) m/z 93 (C6H7) m/z 79 (C3H5) m/z 41

11. Puncak dengan RT 16,584 menit dengan luas area 8071136 sebanyak 2,02 %

dengan ketinggian 2516755 merupakan senyawa dengan rumus molekul C15H24. Data

spektrum masa menunjukkan ion molekul m/z 204. Bila dibandingkan dengan data

spektrum yang diperoleh dengan data spektrum pada library yang lebih mendekati

adalah α Humulene.(gambar 4.12)

Gambar 4.12: Spektrum masa minyak atsiri dengan RT 16,584 menit

Spektrum masa memberikan puncak ion pada m/z 204 yang merupakan berat molekul

dari senyawa α Humulene, yaitu :

(69)

Selanjutnya diikuti fragmen dengan ion massa m/z 189 sebagai dari hasil pelepasan

dari radikal CH3 dari fragmen dengan massa m/z 204. Reaksinya sebagaiberikut

+ +

+CH3·

(C15H24) m/z 204 (C14H21) m/z 189

Selanjutnya diikuti oleh fragmen dengan massa ion molekul m/z 161, ini sebagai dari

hasil terjadinya pelepasan senyawa C2H4 dari fragmen dengan massa ion molekul

dari massa m/z 189. Reaksinya dapat tuliskan (digambarkan) sebagai berikut:

+

+ + C2H4

(C14H21) m/z 189 (C12H17) m/z 161

Kemudian diikuti oleh fragmen dengan massa ion molekul m/z 136, ini terjadi sebagai

hasil dari pelepasan C2H dari fragmen dengan massa ion molekul m/z 161. Reaksinya

sebagai berikut:

+ +

+ C2H

(70)

Untuk fragmen dengan massa molekul m/z 121 dihasilkan dengan lepasnya CH3 dari

C2H4 dari fragmen ion molekul dengan m/z 121. Reaksinya sebagai berikut:

+

+

+ C2H4

(C9H13)) m/z 121 (C7H9) m/z 93

Untuk fragmen dengan massa ion molekul m/z 80 dihasilkan dari terlepasnya CH dari

ion molekul dengan massa m/z 93 dan dilanjutkan dengan ion molekul 41 ini

dihasilkan dari terlepasnya C3H3 dari fragmentasi ion molekul dengan massa m.z 80.

(71)

adalah C15H24. Dari data spektrum massa menunjukan bahwa ion molekul dengan

massa m/z 204. Bila dibandingkan dengan data spektrum yang diperoleh dengan data

spektrum pada library, senyawa yang lebih mendekati adalah senyawa β-Bisabolene

(gambar 4.13)

Gambar 4.13: Spektrum minyak atsiri dengan RT 17,208.

Spektrum massa memberikan puncak ion molekul m/z204 yang merupakan berat

molekul senyawa β-Bisabolene. CH2

C-CH2-CH2CH=C(CH3)2

(72)

Untuk fragmen dengan massa ion molekul m/z 189 merupakan hasil dari terlepasnya

radikal CH3 dari fragmen dengan massa m/z 204 sedangkan untuk fragmen dengan

massa molekul m/z 161 merupakan pelepasan C2H4 dari fragmen dari fragmen m/z

189. Reaksinya sebagai berikut:

ion molekul CH2 dari fragmen dengan massa m/z 161, kemudian untuk fragmen

dengan massa ion molekul m/z 119 adalah hasil pelepasan dari pada C2H4 dari

(73)

Untuk menghasilkan dari pada fragmen dengan massa ion molekul m/z 93, kemudian

terjadi dimana hal ini terjadi pelepasan dari C2H2 yang berasal daripada fragmen

dengan massa molekul m/z 119. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

terjadi pelepasan dari CH2 yang berasel dari fragmen ion molekul dengan massa m/z

93. Reaksinya sebagai berikut:

Untuk fragmen dengan massa ion molekul m/z 41 dihasilkan dari pelepasan C3H2 dari

ion molekul dengan massa m/z 79. Reaksinya sebagai berikut:

13. Puncak dengan RT 17,433 menit dengan luas area 520746 sebanyak 0,13 %

dengan ketinggian 156403. Bila dibandingkan dengan data spektrum pada library,

(74)

Gambar 4.14. Spektrum massa minyak atsiri dengan RT 17,433 menit.

Spektrum massa memberikan puncak ion molekul pada m/z 204 yang merupakan berat

molekul dari senyawa β-Sesquiphellandrene.

CH3

CH-(CH2)-CH=C(CH3)2

(75)

Berdasarkan data spektrum untuk fragmen massa m/z 189 ini merupakan hasil dari

pada terlepasnya CH3 dari fragmen ion molekul m/z 204 kemudian untuk fragmen

dengan massa ion molekul m/z 161, dimana akibat terlepasnya ion molekul C2H4 dari

fragmen ion molekul 189. Reaksinya sebagi berikut:

+

CH3 - CH3 ·

(C15H24) m/z 204 CH-CH2-CH2-CH=C(CH3)2

+

(C14H21) - C2H4

m/z 189 CH-CH2-CH2-CH=C(CH3)2

CH-CH2-CH2-CH=CH2

(C12H17) m/z 161

Untuk fragmen dengan massa ion molekul m/z 133 yang mana dihasilkan dari

terlepasnya molekul C2H4 dari fragmen ion molekul dengan massa m/z 161.

Reaksinya Digambarkan sebagai berikut:

+ C2H4

(C12H17) + CH-CH2-CH2-CH=CH2 (C10H15) + CH-CH2-CH=CH2

(76)

untuk fragmen ion molekul dengan massa m/z 120 ini dihasilkan dengan terlepasnya

CH dari fragmen ion molekul m/z 133 dan selanjutnya untuk fragmen ion molekul

dengan m/z 105 ini disebabkan terlepasnya CH3 dari fragmen ion dengan massa m/z

120. Reaksinya sebagai berikut:

pada terlepasnya ion molekul CH2 dari fragmen dengan massa ion molekul m/z 105

kemudian selanjutnya diikuti dengan fragmen dengan massa m/z 41 , balam hal ini

terjadi akibat terlepasnya ion molekul dari pada C4H7 dari fragmen ion molekul

(77)

14. Puncak dengan RT 18,353 menit dengan luas area 4671024 sebanyak 1,17 %

dengan ketinggian 1174533 merupakan senyawa dengan rumus molekul

C15H24O. Data spektrum masa menunjukkan ion molekul masa m/z 220. Bila

dibandingkan dengan data spektrum yang diperoleh dengan data spektrum pada

library, yang lebih mendekati adalah Kariopillene oksida (gambar 4.15)

Gambar 4,15. Spektrum masa minyak atsiri dengan RT 18,353 menit

Dimana spektrum massa memberikan puncak-puncak ion molekul pada massa m/z

220 dari hasil identifikas maka senyawa ini merupakan berat molekul dari senyawa

dari pada Kariopillene oksida

O

(78)

Kemudian diikuti oleh fragmen dengan massa ion molekul m/z 205, dimana dari hasil

identifikasi ternyata bahwa dihasilkan dari pelepasan CH3 dari fragmen dengan

massaion molekul m/z 220, selanjutnya diikuti dengan fragmen m/z 177 dihasikan

dengan terlepasnya ion molekul CO dari fragmen m/z 205. Reaksinya sebagai berikut:

+ +

O O

- CH3

(C15H24O) (C14H21)

m/z 220 m/z 205

+

+ CO

(C13H21) m/z 177

Selanjutnya diikuti oleh fragmen dengan massa m/z 149,ini sebagai hasil pelepasan

dari pada C2H4 dari fragmen dengan massa m/z 177. Reaksinya sebagai berikut:

+ C2H4

(C13H21) m/z 177 (C11H17) m/z 149

(79)

Untuk fragmen dengan masa m/z 135 sebagai hasil pelepasan dari CH2 dari fragmen

Selanjutnya diikuti fragmen dengan m/z 109 sebagai hasil pelepasan C2H2 dari

fragmen dengan massa m/z 135 kemudian diikuti dengan fragmen ion molekul dengan

massa 93 sebagai hasil pelepasan CH4 dari ion molekul dengan massa m/z 109.

Reaksinya sebagai berikut:

CH2 dari pragmen ion molekul dengan massa m/z 93 kemudian dilanjutkan dengan

(80)

15. Untuk kromatogram dengan nomor 15, waktu retensi 18.683 dan luas area 708036

sebanyak 0,18 % dengan ketinggian 185783 yang teridentifikasi pada data GC - MS

degan massa molekul 147. Ini tidak bisa diidentifikasi karena massa molekul dari

standard tidak ada fragmentasi yang cocok atau tidak ada yang sesuai dengan data

sampel. Ini dapat dilihat pada lampiran 2.

8 8/15 C10H16 4-Isopropil,1-metil,1,4-sikloheksadiena 9,20 %

Gambar

Gambar 1.  Beberapa contoh struktur monoterpen  dan seskuiterpen yang didalam
Tabel 2.1 Nama-nama Minyak Atsiri Dan Jenis tanaman Penghasil Minyak Asiri
Gambar 4.1 Data Kromatogram Minyak Atsiri dari Daun Jinten
Gambar 4.4: Spektrum masa minyak atsiri dengan RT 7.689   menit
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian yang dilakukan meliputi karakterisasi simplisia, isolasi minyak atsiri dengan destilasi air, analisis komponen minyak atsiri secara Gas Chromatography-Mass Spectrometry

Pemilihan sampel berdasarkan literatur dilakukan dengan alasan untuk mengetahui lebih lengkap komponen kimia minyak atsiri dari jeruk bali merah dari berbagai sumber pada bagian

Data hasil analisa didapat, data kromatogram GC dari Minyak atsiri daun kayu manis hasil destilasi uap adalah sebanyak 16 puncak dengan data kromatogram MS sebanyak 10 senyawa yang

Penelitian yang dilakukan meliputi karakterisasi simplisia, isolasi minyak atsiri dengan cara destilasi air dan analisis komponen minyak atsiri secara Gas

Hasil analisis GC-MS terhadap minyak atsiri dari bunga kecombrang yang dihasilkan melalui destilasi Stahl diperoleh kromatogram dengan memberikan puncak sebanyak 24 jenis senyawa

Hasil analisis GC-MS terhadap minyak atsiri dari bunga kecombrang yang dihasilkan melalui destilasi Stahl diperoleh kromatogram dengan memberikan puncak sebanyak 24 jenis senyawa

Karunia-Nya lah sehingga tesis dengan judul : ANALISIS SENYAWA KIMIA MINYAK ATSIRI DAUN KARI ( Murraya koenigii L. ) DENGAN GC – MS DAN UJI AKTIVITAS

Penelitian yang dilakukan meliputi karakterisasi simplisia, isolasi minyak atsiri dengan metode destilasi air dan analisis komponen minyak atsiri secara Gas