KECEMBURUAN DALAM BERPACARAN PADA GAY
DEWASA DINI
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi persyaratan Ujian Sarjana Psikologi
Oleh
JIMMI PRIMA P.
061301101
FAKULTAS PSIKOLOGI
LEMBAR PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan
sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul :
Kecemburuan dalam Berpacaran Pada Gay Dewasa Dini
adalah hasil karya sendiri dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar
kesarjanaan di suatu perguruan tinggi mana pun.
Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan skripsi ini saya kutip dari
hasil karya orang lain yang telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan
norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.
Apabila di kemudian hari ditemukan adanya kecurangan di dalam skripsi
ini, saya bersedia menerima sanksi dari Fakultas Psikologi Universitas Sumatera
Utara sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Medan, Desember 2010
JIMMI PRIMA P.
iii
Kecemburuan Dalam Berpacaran Pada Gay Dewasa Dini
Jimmi Prima P. dan Ika Sari Dewi, S.Psi., psikolog
ABSTRAK
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui dinamika kecemburuan dalam berpacaran pada gay dewasa dini. Secara spesifik, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran riwayat hubungan berpacaran yang pernah dijalani, penyebab kecemburuan yang timbul, proses kecemburuan yang terjadi dan jenis kecemburuan yang dialami oleh gay dewasa dini yang berpacaran. Kecemburuan merupakan suatu reaksi emosi negatif yang kompleks yang dirasakan oleh individu terhadap munculnya ancaman akan hilangnya suatu hubungan yang bermakna dengan pasangannya, terhadap hadirnya pihak atau orang ketiga. Kecemburuan akan hadir pada setiap hubungan yang dijalin yang dirasakan bermakna oleh individu yang menjalaninya. Hubungan berpacaran merupakan salah satu aktivitas yang juga dilakukan oleh
gay dewasa dini. Pacaran dilakukan oleh gay dewasa dini untuk menemukan
teman hidup. Mencari pasangan hidup adalah sebagai salah satu tugas perkembangan dewasa dini pada umunya, termasuk di dalamnya adalah gay. Terpenuhinya tugas perkembangan tersebut akan memberikan kebermaknaan dalam diri gay dan tercapainya intimacy.
Responden dalam penelitian ini berjumlah 3 orang. Prosedur pengambilan responden penelitian dilakukan berdasarkan teori atau berdasarkan konstrak operasional (theory-based / operational construct sampling). Data diperoleh dengan metode wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara. Setelah data diperoleh kemudian dilakukan coding atau dikategorisasikan, kemudian dilakukan intepretasi atau analisa terhadap data dari masing-masing responden penelitian
Hasil peneltian ini menunjukkan bahwa ketiga responden dalam penelitian ini memiliki pengalaman berpacaran lebih dari satu kali pada masa dewasa dini. Ketiga subjek juga mengalami hurt, fear, dan anxiety pada saat merasa cemburu. Penyebab kecemburuan yang bersifat internal seperti dependence, mate value,
sexual exclusivity dan past experience ditemukan pada semua responden
penelitian. Berdasarkan stimulus yang menyebabkan hadirnya kecemburuan, semua responden dalam penelitian ini mengalami kecemburuan emosional. Semua responden juga melewati semua tahap dari proses kecemburuan namun yang membedakan adalah peristiwa yang terdapat pada masing-masing tahapan. Ketiga responden juga mengalami baik suspicious jealousy maupun fait accomply /
reactive jealousy dalam hubungan pacaran yang dijalin.
iv
Jealousy in Gay Dating in Early Adulthood
Jimmi Prima P. dan Ika Sari Dewi, S.Psi., psikolog
ABSTRACT
This research is a descriptive qualitative study aimed to determine the dynamics of jealousy in gay dating in early adulthood. Specifically, this study aims to find a picture history dating relationship has ever lived, the cause of jealousy that arises, the process of jealousy that occurred and the type of jealousy experienced by early adult gay dating. Jealousy is a complex negative emotional reaction is felt by individuals to emerging threats to the loss of a meaningful relationship with her / his partner, against the presence of parties or third persons. Jealousy will be present at every perceived relationship forged meaningful by individuals who live it. Dating relationship is one activity that is also done by early adult gay. Early adult gay dating done to find a life partner. Finding a life partner is as one of the tasks of early adult development in general, including in it are gay. Fulfillment of duties of these developments will provide significance in gay and achieving intimacy.
Respondents in this study amounted to 3 people. Respondents making procedure is based on theory-based / operational construct sampling. Data obtained by interview method using the interview guide. After the data obtained was then performed coding or categorized, and then performed the interpretation or analysis of data from each respondent research
The result of this research indicate that the three respondents in this study have experience dating more than one occasion in early adulthood. All three subjects also experienced hurt, fear, and anxiety at the time felt jealous. The cause of jealousy that are internal, such as dependence, mate value, sexual exclusivity and past experience was found in all study respondents. Based on the stimulus that causes the presence of jealousy, all the respondents in this study experienced emotional jealousy. All respondents were also passed all the stages of the process of jealousy but the difference is that there are events at each stage. The three respondents also experienced either suspicious jealousy or fait accomply / reactive jealousy in dating relationships are forged.
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan
berkat-Nyalah penulis dapat menyelesaikan skripsi ini, dengan judul “Kecemburuan
Dalam Berpacaran Pada Gay Dewasa Dini” ini dengan baik. Segala syukur dan
pujian yang tertinggi bagi-Nya karena berkat penyertaan-Nya, penulis dapat
menjalani tahap demi tahap penyelesaian skripsi ini dengan penuh pembelajaran
dan suka cita.
Penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada
mama dan papa yang tidak henti-hentinya berdoa dan bersabar hingga skripsi ini
rampung. Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis juga mendapat banyak
bantuan, bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada
kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan terimakasih yang tulus kepada
semua pihak yang telah membantu penyelesaian skripsi ini. Ucapan terima kasih
penulis tujukan kepada:
1. Ibu Prof. Dr. Irmawati, M.Si., psikolog selaku Dekan Fakultas Psikologi
USU, beserta Pembantu Dekan I, II, dan III Fakultas Psikologi USU.
2. Ibu Ika Sari Dewi, S.Psi., psikolog selaku Dosen Pembimbing yang telah
bersedia untuk meluangkan waktu di tengah-tengah kesibukan untuk
membimbing penulis. Terima kasih atas semua bimbingan, arahan, dan
bantuan Ibu untuk penulis. Penulis sangat berterima kasih kepada Ibu.
Semua kebaikan dan kesabaran Ibu dalam membimbing penulis tidak
akan mampu penulis balas dengan apapun dan akan penulis kenang selalu.
vi
3. Ibu Meidriani Ayu Siregar, S.Psi, M.Kes, selaku Dosen Penguji II yang telah
bersedia meluangkan waktunya untuk menguji skripsi ini. Ibu juga selalu
bersedia untuk memberikan informasi dan kritikan yang penulis butuhkan.
Terima kasih Ibu.
4. Kak Silviana Realyta, M.Psi. selaku Dosen Penguji III dan Dosen
Pembimbing Akademik penulis yang telah bersedia untuk membimbing
penulis dan memberikan masukan dalam bidang akademik pada setiap
semester perjalanan kuliah penulis. Kakak selalu memberikan motivasi dan
saran yang positif untuk penulis sehingga dapat memberikan hasil yang
terbaik. Terima kasih Kak.
5. Kepada Zaky yang telah memberikan banyak peneliti pengalaman pahit dan
sukanya sehingga menginspirasi penulis untuk mengangkat judul penelitian
ini. Terima kasih untuk setiap pengalamn yang telah diberikan kepada
peneliti.
6. Kepada ketiga orang responden peneltian yang telah membantu peneliti.
Kepada Vandi, Jonathan, dan Bagus, terima kasih banyak. Maaf telah banyak
merepotkan kalian. Semoga Tuhan memberkati kalian di setiap langkahnya.
7. Seluruh dosen di Fakultas Psikologi USU yang telah memberikan ilmu,
wawasan dan pengetahuan yang sangat berharga kepada penulis, dan seluruh
pegawai di Fakultas Psikologi USU yang setia membantu penulis
menyediakan segala keperluan selama perkuliahan, khususnya dalam
penelitian ini.
8. Sahabat-sahabat terbaik penulis di akhir-akhir kesibukan skripsi ini. The Baby
vii
kepada Tapi Yanda Sari yang telah memberikan peneliti sebuah jurnal
penelitian yang sangat berdampak besar terhadap isi penelitian ini, terima
kasih juga atas bantuannya untuk mau memeriksa dan memberikan
masukannya. Kepada teman-teman Baby Club lainnya, Nella Rizka Zahara,
terima kasih Nel atas informasi-informasi nya untuk mengusus semua
persayaratan siding, Rizkia Maulida, terima kasih Ki udah mau membaca
hasil penelitian ini, Henny Syahminda Nst. terima kasih Minda untuk
dukungannya kepada peneliti pada saat sedang down. Helvira Rosalia, terima
kasih ya Vir untuk informasi dan bantuannya dalam menyusun persyaratan
sidang, Nurul Mahvira, Yu kami sangat merindukanmu, Suri Mutia Siregar,
terima kasih atas dukungan dan perhatiannya yang selalu mengingatkan
peneliti agar cepat sidang, dan kepada sahabat seperjuangan peneliti, Feny
Dwi Maya Listianti, selalu semangat ya Fen dan jangan pernah putus asa.
9. Teman-teman angkatan 2006 Psikologi USU yang yang tidak mungkin
disebutkan satu per satu, terima kasih buat dukungan, semangat,
kebahagiaan, dan kesulitan yang telah kita alami bersama.
10.Para senior dan juniorku di Fakultas Psikologi USU.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, karena itu
penulis terbuka untuk menerima semua saran dan kritik demi tercapainya penulisan
yang lebih baik lagi. Akhir kata, penulis berharap kiranya skripsi ini dapat
memberikan manfaat bagi berbagai pihak.
Medan, Desember 2010
DAFTAR ISI
Halaman
COVER DALAM... ... i
LEMBAR PERNYATAAN... ii
ABSTRAK... iii
ABSTRACT... iv
KATA PENGANTAR... v
DAFTAR ISI... viii
DAFTAR TABEL... xii
DAFTAR GAMBAR... xiii
DAFTAR LAMPIRAN... xiv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 14
C. Tujuan Penelitian ... 15
D. Manfaat Penelitian ... 15
1. Manfaat teoritis... 15
2. Manfaat praktis... 15
E. Sistematika Penulisan ... 17
BAB II LANDASAN TEORI A. Kecemburuan ... 18
2. Penyebab Terjadinya Kecemburuan... 20
3. Tahap-Tahap Kecemburuan... 23
4. Jenis-Jenis Kecemburuan... 30
5. Jenis-Jenis kecemburuan... 28
B. Dewasa Dini ... 32
1. Pengertian Dewasa Dini... 32
2. Tugas-Tugas Perkembangan Dewasa Dini ... 33
3. Tugas Psikososial Dewasa Dini ... 34
C. Gay ... 37
1. Pengertian Gay ... 36
2. Jenis-Jenis Gay... 37
3. Tipe Hubungan Pada Gay... 38
4. Perkembangan Seseorang Menjadi Homoseksual... 40
D. Pacaran... 40
1. Pengertian Pacaran ... 40
2. Fungsi Pacaran………... 41
3. Tahap Pacaran... 42
4. Pacaran Pada Gay... 45
E. Kecemburuan dalam berpacaran pada gay dewasa dini ... 47
BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan Kualitatif ... 49
B. Metode Pengumpulan Data ... 50
x
1. Alat Perekam (Tape Recorder) ... 51
2. Pedoman Umum Wawancara... 52
D. Keabsahan Data... 52
E. Responden Penelitian... 56
1. Karakteristik Responden Penelitian... 56
2. Jumlah Subjek Penelitian... 57
3. Prosedur Pengambilan Responden Penelitian... 58
F. Prosedur Penelitian ... 58
1. Tahap Persiapan Penelitian ... 58
2. Tahap Pelaksanaan Penelitian ... 59
3. Tahap Pencatatan Data ... 60
G. Metode Analisa Data... 60
1. Organisasi data... 60
2.Coding... 61
3. Pengujian terhadap dugaan... 61
4. Strategi analisis... 61
5. Tahapan intepretasi... 62
BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN A. Responden 1... 64
1. Deskripsi Umum Responden... 64
2. Data Observasi Selama Wawancara... 69
3. Data Wawancara... 72
xi
B. Responden 2... 143
1. Deskripsi Umum Responden... 143
2. Data Observasi Selama Wawancara... 148
3. Data Wawancara... 151
4. Pembahasan... 197
C. Responden 3... 212
1. Deskripsi Umum Responden... 212
2. Data Observasi Selama Wawancara... 216
3. Data Wawancara... 221
4. Pembahasan... 279
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan... 310
B. Saran... 323
1. Saran Metodologis... 323
2. Saran Praktis... 324
DAFTAR PUSTAKA... 327
xii
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1 Perilaku Coping Terhadap Kecemburuan... 26
Tabel 2 Jadwal Wawancara Responden 1... 64
Tabel 3 Gambaran Umum Responden 1... 64
Tabel 4 Jadwal Wawancara Responden 2... 143
Tabel 5 Gambaran Umum Responden 2... 143
Tabel 6 Jadwal Wawancara Responden 3... 212
Tabel 7 Gambaran Umum Responden 3... 212
xiii
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Figure 1 Dimensi dan Respon Kecemburuan pada Model EVLN
Rusbult...
xiv
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman Lampiran 1 Verbatim
Responden I Wawancara 1... 1
Responden I Wawancara 2... 23
Responden I Wawancara 3... 47
Responden I Wawancara 4... 69
Responden II Wawancara 1... 83
Responden II Wawancara 2... 113
Reponden II Wawancara 3... 125
Responden II Wawancara 4... 138
Responden III Wawancara 1... 145
Responden III Wawancara 2... 173
Responden III Wawancara 3... 191
Lampiran 2 INFORMED CONSENT INFORMED CONSENT Responden 1... 212
INFORMED CONSENT Responden 2... 213
INFORMED CONSENT Responden 3... 214
Lampiran 3 Lembar Observasi... 215
Lampiran 4 Pedoman Wawancara... 216
iii
Kecemburuan Dalam Berpacaran Pada Gay Dewasa Dini
Jimmi Prima P. dan Ika Sari Dewi, S.Psi., psikolog
ABSTRAK
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui dinamika kecemburuan dalam berpacaran pada gay dewasa dini. Secara spesifik, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran riwayat hubungan berpacaran yang pernah dijalani, penyebab kecemburuan yang timbul, proses kecemburuan yang terjadi dan jenis kecemburuan yang dialami oleh gay dewasa dini yang berpacaran. Kecemburuan merupakan suatu reaksi emosi negatif yang kompleks yang dirasakan oleh individu terhadap munculnya ancaman akan hilangnya suatu hubungan yang bermakna dengan pasangannya, terhadap hadirnya pihak atau orang ketiga. Kecemburuan akan hadir pada setiap hubungan yang dijalin yang dirasakan bermakna oleh individu yang menjalaninya. Hubungan berpacaran merupakan salah satu aktivitas yang juga dilakukan oleh
gay dewasa dini. Pacaran dilakukan oleh gay dewasa dini untuk menemukan
teman hidup. Mencari pasangan hidup adalah sebagai salah satu tugas perkembangan dewasa dini pada umunya, termasuk di dalamnya adalah gay. Terpenuhinya tugas perkembangan tersebut akan memberikan kebermaknaan dalam diri gay dan tercapainya intimacy.
Responden dalam penelitian ini berjumlah 3 orang. Prosedur pengambilan responden penelitian dilakukan berdasarkan teori atau berdasarkan konstrak operasional (theory-based / operational construct sampling). Data diperoleh dengan metode wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara. Setelah data diperoleh kemudian dilakukan coding atau dikategorisasikan, kemudian dilakukan intepretasi atau analisa terhadap data dari masing-masing responden penelitian
Hasil peneltian ini menunjukkan bahwa ketiga responden dalam penelitian ini memiliki pengalaman berpacaran lebih dari satu kali pada masa dewasa dini. Ketiga subjek juga mengalami hurt, fear, dan anxiety pada saat merasa cemburu. Penyebab kecemburuan yang bersifat internal seperti dependence, mate value,
sexual exclusivity dan past experience ditemukan pada semua responden
penelitian. Berdasarkan stimulus yang menyebabkan hadirnya kecemburuan, semua responden dalam penelitian ini mengalami kecemburuan emosional. Semua responden juga melewati semua tahap dari proses kecemburuan namun yang membedakan adalah peristiwa yang terdapat pada masing-masing tahapan. Ketiga responden juga mengalami baik suspicious jealousy maupun fait accomply /
reactive jealousy dalam hubungan pacaran yang dijalin.
iv
Jealousy in Gay Dating in Early Adulthood
Jimmi Prima P. dan Ika Sari Dewi, S.Psi., psikolog
ABSTRACT
This research is a descriptive qualitative study aimed to determine the dynamics of jealousy in gay dating in early adulthood. Specifically, this study aims to find a picture history dating relationship has ever lived, the cause of jealousy that arises, the process of jealousy that occurred and the type of jealousy experienced by early adult gay dating. Jealousy is a complex negative emotional reaction is felt by individuals to emerging threats to the loss of a meaningful relationship with her / his partner, against the presence of parties or third persons. Jealousy will be present at every perceived relationship forged meaningful by individuals who live it. Dating relationship is one activity that is also done by early adult gay. Early adult gay dating done to find a life partner. Finding a life partner is as one of the tasks of early adult development in general, including in it are gay. Fulfillment of duties of these developments will provide significance in gay and achieving intimacy.
Respondents in this study amounted to 3 people. Respondents making procedure is based on theory-based / operational construct sampling. Data obtained by interview method using the interview guide. After the data obtained was then performed coding or categorized, and then performed the interpretation or analysis of data from each respondent research
The result of this research indicate that the three respondents in this study have experience dating more than one occasion in early adulthood. All three subjects also experienced hurt, fear, and anxiety at the time felt jealous. The cause of jealousy that are internal, such as dependence, mate value, sexual exclusivity and past experience was found in all study respondents. Based on the stimulus that causes the presence of jealousy, all the respondents in this study experienced emotional jealousy. All respondents were also passed all the stages of the process of jealousy but the difference is that there are events at each stage. The three respondents also experienced either suspicious jealousy or fait accomply / reactive jealousy in dating relationships are forged.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manusia merupakan mahluk yang tidak pernah berhenti berubah. Mulai
dari masa prenatal hingga akhir kehidupan selalu terjadi perubahan, baik dalam
kemampuan fisik maupun psikologis. Perkembangan kehidupan manusia terjadi
secara bertahap, dan setiap tahap perkembangan memiliki karakteristik,
tugas-tugas perkembangan serta risiko-risiko yang harus dihadapi. Setiap rentang
kehidupan seseorang akan selalu berhadapan dengan tugas-tugas
perkembangannya masing-masing dan setiap periode perkembangan dalam
kehidupan manusia memiliki peranan yang sangat penting. Havighurst (dalam
Hurlock, 1999) mengatakan tugas-tugas yang berhasil dilakukan akan
menimbulkan rasa bahagia dan membawa kepada arah keberhasilan pada tugas
perkembangan selanjutnya.
Erickson (dalam Bentley, 2007) membagi rentang kehidupan manusia ke
dalam delapan tahap perkembangan. Salah satu tahap perkembangan yang
dikemukakan oleh Erickson adalah tahap perkembangan masa dewasa dini. Tahap
perkembangan masa dewasa dini dimulai pada umur 18 tahun hingga 40 tahun
(Hurlock, 1999). Salah satu tugas perkembangan dewasa dini menurut Havighurst
dipusatkan pada harapan-harapan masyarakat dan mencakup untuk memilih
pasangan atau memilih teman hidup. Pemilihan pasangan dapat dilakukan invidu
dewasa dini melalui pacaran (Duvall, 1985).
2
Menurut Biran (2001), pada dasarnya hubungan pacaran merupakan
sarana untuk semakin mengenal pasangan, meskipun pada masa pacaran
kemungkinan untuk bertemu dengan orang yang lebih menarik tetap terbuka.
Individu yang terlibat dalam suatu hubungan percintaan mempunyai harapan agar
hubungan tersebut dapat bertahan lama dan terpelihara. Pendapat dari Duvall dan
Biran tersebut memberikan batasan bahwa pacaran merupakan aktifitas yang
terjadi hanya pada hubungan yang dilakukan oleh dua orang yang memiliki jenis
kelamin berbeda saja. Pendapat yang berbeda dinyatakan oleh Savin-Wiliam dan
Cohen (1996) bahwa membentuk dan mengembangkan hubungan pacaran sebagai
sesuatu hal yang penting bagi dewasa dini, dilakukan oleh semua orang tanpa
memandang orientasi seksual mereka. Orientasi seksual merupakan istilah yang
mengarah kepada jenis kelamin, dimana seseorang merasakan ketertarikan secara
emosional, fisik, seksual dan cinta yang bertahan lama terhadap orang lain
tersebut (Caroll, 2005 ).
Orientasi seksual terbagi tiga yaitu heteroseksual, homoseksual dan
biseksual. Heteroseksual merujuk kepada ketertarikan terhadap jenis kelamin
yang berbeda, sementara itu, homoseksual merujuk kepada ketertarikan terhadap
jenis kelamin yang sama dan biseksual merujuk kepada ketertarikan kepada kedua
jenis kelamin. Heteroseksual disebut juga dengan istilah straight, sedangkan pria
homoseksual dikenal denga istilah gay, dan wanita homoseksual disebut dengan
lesbian (Caroll, 2005)
Duvall (1985) menyatakan bahwa perilaku pacaran yang dilakukan oleh
berinteraksi dengan pasangan, belajar mengenai pasangan, dan membantu dewasa
dini belajar mengenai apa yang disukai, dan diterima oleh pasangan. Masa dewasa
dini merupakan waktu yang khusus untuk melakukan pacaran, karena pacaran
akan dilakukan lebih sungguh-sungguh dalam hubungannya mencari pasangan
hidup dan juga karena pada dewasa dini sudah mencapai kematangan seksual
(Caroll, 2005)
Pacaran tetap akan dilakukan oleh seseorang yang menunda-nunda
perkawinan sampai menemukan pasangan hidup, meski sudah memasuki usia
30-40 tahun. Setelah kehilangan pasangan pun, melalui kematian ataupun perceraian,
orang-orang pada umumnya menjalin pacaran kembali dengan tujuan menemukan
pasangan. Pacaran adalah sesuatu hal yang diharapkan oleh masyarakat,
mengakibatkan dewasa dini melakukan hal yang sama, karena orang lain yang ada
disekitar lingkungan melakukan hal yang sama (Duvall, 1985). Masyarakat akan
menganggap ada yang salah dengan seseorang yang tidak berpacaran.
Pada gay dewasa dini, pacaran juga merupakan aktifitas yang tetap
dilakukan. Pacaran tidak memandang orientasi seksual seseorang. Savin-William
& Cohen (1996) menyatakan bahwa pacaran adalah saat dimana suatu hubungan
romantis dibangun, dan dialami. Pacaran memberikan beberapa fungsi yang
penting seperti hiburan, rekreasi dan sosialisasi, yang akan menggiring seseorang
kepada makna dari sebuah hubungan. Isay (dalam Savin-William & Cohen)
menyatakan bahwa jatuh cinta merupakan faktor yang penting dalam menolong
seseorang gay untuk merasa nyaman dengan identitas dirinya sendiri. Menurut
pemilihan identitas diri sebagai seorang gay, dan membuat gay merasa lebih
lengkap sebagai seorang gay (dalam Savin-Williams & Cohen, 1996). Gay yang
memiliki pacar akan memiliki harga diri yang lebih tinggi, penerimaan diri yang
lebih tinggi, dan akan lebih terbuka kepada lingkungan mengenai identitas diri
sebagai seorang gay (Savin-Williams & Cohen, 1996).
Aktifitas pacaran yang dilakukan oleh pasangan gay tidak jauh berbeda
dengan pacaran yang dilakukan oleh pasangan straight, yang membedakan
hanyalah penerimaan lingkungan terhadap hubungan tersebut (Caroll, 2005).
Pacaran pada pasangan straight dapat ditunjukkan atau diberitahukan kepada
lingkungan tanpa adanya rasa takut dan malu. Berbeda halnya dengan pasangan
gay, mereka lebih memilih untuk menyembunyikan hubungan yang mereka jalani
terhadap lingkungannya (Papalia, 2007). Beberapa lingkungan masyarakat masih
menolak keberadaan kaum gay. Di Indonesia, secara formal ada stigma terhadap
perilaku homoseksual yang mengharamkan hubungan sesama jenis (Oetomo,
2003). Masyarakat Indonesia secara umum masih berpijak pada budaya Timur
yang masih sulit menerima keberadaan homoseksual. Kondisi penerimaan
lingkungan terhadap hubungan gay menyebabkan hubungan yang dijalani
dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Alasan ketakutan ketahuan oleh
masyarakat, terutama di tempat kerja/sekolah/kuliah dan di tempat tinggal
menjadi beban pacaran pada gay (Oetomo, 2003)
Biran (2001) menyatakan bahwa hubungan dengan pacar tentu saja tidak
semulus yang diduga sebelumnya. Dalam menjalani suatu hubungan pasti banyak
hubungan yang harmonis, salah satunya adalah munculnya kecemburuan
(jealousy) dan persaingan (Ahrnt, 2001). Kecemburuan paling sering muncul
diantara dua orang yang memang sudah terlibat dalam suatu hubungan romantis
(Hansen dalam Hendrick, 1992 ). Kecemburuan sering dilihat sebagai salah satu
dari perasaan yang kuat, lazim dan juga menjemukan, yang terdapat di dalam
suatu hubungan yang intim (Aune & Comstok dalam Demirtas, 2006).
Kecemburuan juga merupakan masalah yang sering ditekankan dalam penelitian
terhadap pernikahan dan terapi-terapinya (Buunk, dalam Demirtas, 2006). Dengan
kata lain, dalam suatu hubungan, baik itu pacaran maupun dalam pernikahan,
kecemburuan merupakan suatu emosi yang sering terjadi. Carol (2005)
menyebutkan kecemburuan ini sebagai sisi gelap dari cinta (the dark side of love).
Sama hal dengan berpacaran, perasaan cemburu tidak hanya dialami oleh kaum
straight saja, tetapi kaum gay juga dapat mengalami hal yang sama (Buss, 2000).
Kecemburuan bukanlah suatu emosi yang sederhana. Pada dasarnya
kecemburuan yang timbul adalah merupakan ketakutan akan kehilangan sesuatu
atau seseorang dari suatu hubungan yang bermakna terhadap rival atau saingannya
(Salovey, 1991). Perasaan cemburu dapat bervariasi pada masing-masing individu
seperti merasakan takut atau cemas; yang lainnya merasa marah atau kesal.
Kecemburuan dapat hadir dalam semua konteks budaya, tetapi apa yang
membangkitkan perasaan cemburu itu, berbeda-beda antara satu individu dengan
individu lainnya. Orang-orang yang mengalami sedikit kecemburuan dalam
hubungan mereka ditemukan merasa lebih aman, dan keamanan dalam hubungan
sehingga semakin lama suatu hungan terjalin, maka kecenderungan untuk merasa
cemburu akan semakin menurun (Knox, dalam Caroll, 2005)
Salovey (1991) menyatakan bahwa kecemburuan sebenarnya memiliki
konstribusi positif yang cukup penting dalam suatu hubungan. Sebagai contoh
kecemburuan ditemukan berhubungan dengan rasa cinta yang kuat dan juga dapat
meningkatkan komitmen diantara pasangan (White, dalam Salovey, 1991). Preifer
(2007) kemudian menambahkan bahwa kecemburuan dapat memiliki konsekuensi
positif dan negatif terhadap suatu hubungan, tergantung kepada frekuensi
kecemburuan yang dialami. Jika derajat frekuensi kecemburuan kecil, hal ini
dapat meningkatkan kualitas hubungan antar pasangan jika itu dipersepsikan
sebagai bentuk perhatian kepada pasangan bahkan dapat meningkatkan
ketertarikan kepada pasangan. Sebaliknya, frekuensi yang tinggi atau berlebihan
dari kecemburuan dapat mengarahkan individu kepada kecemburuan yang
sifatnya merusak. Kecemburuan yang sifatnya merusak ini dapat mengarah
kepada berakhirnya suatu hubungan, terjadinya berbagai macam bentuk
kekerasan, dan bahkan dapat mengarah kepada pembunuhan, baik itu kepada diri
sendiri, pasangan atau saingan (Buss, 2000)
Kaum gay berbeda dengan kaum straight dalam hal frekuensi hubungan
seksual yang mereka jalani. Suatu studi mengatakan bahwa laki-laki gay tujuh
kali lebih mungkin melakukan hubungan seksual di luar pasangan mereka, dan
studi lainnya menyatakan bahwa ini merupakan temuan yang umum (Buss, 2000).
Banyak gay yang walaupun sudah menjalin hubungan pacaran, perilaku
seseorang yang akan melakukan hubungan seksual dengan siapa saja tanpa ada
pertimbangan. Gay akan melakukan hubungan seksual dengan pria mana saja
yang disukai (Miracle, 2008). Hal ini berpengaruh kepada kecemburuan pada diri
gay tersebut. Salovey (1991) dalam percobaanya menemukan bahwa kelompok
laki-laki homoseksual ditemukan memiliki tingkat kecemburuan yang lebih
rendah secara seksual dibandingkan dengan kelompok laki-laki heteroseksual.
Hal ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan Buunk (Dijkstra, 2001)
bahwa semakin banyak seorang gay memiliki pasangan seksual pada masa
lalunya, maka semakin rendahlah tingkat kecemburuan seksual yang ada dalam
dirinya. Situasi akan berbeda ketika gay tersebut secara seksual permisif, atau
tidak menujukkan perilaku promiscuous. Hal ini akan berdampak kepada
kecemburuan yang mungkin timbul. Mengingat ada kecenderungan dalam diri gay
untuk melakukan perilaku promiscuous, yang mungkin saja terdapat dalam
pasangannya, kecemburuan yang ada di dalam diri gay tersebut akan semakin
terbangkitkan ketika mereka dihadapkan kepada rival atau saingan mereka dan
merasa terancam apabila pasangannya meninggalkan mereka (Silverstein, 2003).
Atau sebaliknya, para pasangan gay menghilangkan kecemburuan mereka dengan
cara sama-sama mengizinkan pasangannya untuk melakukan perilaku seksual
dengan pihak lain (Buss, 2000). JR seorang gay 25 tahun menjelaskan
persetujuan dalam pacaran yang mereka jalin :
seksual itu jangan sampai hal tersebut membuat kami jatuh cinta dengan selingkuhan kami itu...”
(Percakapan Personal, 12 Februari 2009, 16:00 WIB )
Berdasarkan wawancara diatas dapat dilihat bahwa untuk menghindari
kecurigaan serta kecemburuan yang berlebihan, JR dan pasangannya sama-sama
melakukan persetujuan untuk dapat melakukan hubungan seks dengan orang lain
selama hal tersebut tidak mengancam hubungan romantis diantara mereka.
Keputusan ini tidak diambil secara satu pihak saja, sehingga antara JR dan
pasangannya tidak terlalu menujukkan kecemburuan yang tinggi.
Buss (2000) menyatakan bahwa kecemburuan pada gay semakin
memuncak ketika mereka dihadapkan kepada rival atau saingan mereka. Hal ini
dikarenakan karena gay memiliki jumlah yang terbatas dalam pemilihan
pasangan. Susahnya untuk menemukan pasangan tersebut berhubungan dengan
jumlah gay yang ada jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah pria straight
yang ada (Miracle, 2008). Pendapat tersebut didukung oleh beberapa penelitian
yang dilakukan oleh beberapa peneliti, yaitu diantaranya Kinsey (dalam Caroll,
2005) menemukan 37% dari jumlah pria yang menjadi sampel dalam penelitian
tersebut mengaku pernah melakukan hubungan seksual dengan pria lain dalam
hidupnya, namun hanya 4% yang benar-benar mengaku gay. Mackay (dalam
Caroll, 2005) juga menyatakan bahwa antara 3 sampai 4% dari populasi pria di
dunia, merupakan gay.
Jumlah gay yang sangat sedikit dibandingkan dengan kaum straight,
membuat para gay harus bekerja keras dalam mempertahankan hubungan mereka
mengembangkan hubungan seksualitas mereka, karena stigma mengenai gay dan
tidak mudah menentukan pria mana yang memiliki potensi menjadi pasangan
mereka (Caroll, 2005). Sehingga kecemburuan yang dirasakan lebih besar
daripada pasangan straight dan bahkan mungkin memunculkan perilaku yang
tidak lazim dalam mengatasi kecemburuan mereka, salah satunya adalah
melakukan pembunuhan atau bunuh diri karena rasa cemburu (Pines-Ayala
Malakh, 1998). Ada beberapa kasus yang telah terjadi di Indonesia yang berkaitan
dengan rasa cemburu ini. Diantaranya adalah sebagai berikut,
1) Veri Idham Henyansyah alias Ryan (29), melakukan pembunuhan serta
mutilasi kepada Heri Santoso karena merasa cemburu dan tidak senang
kepada korban yang menaruh hati atau menaksir pacar sesama jenisnya
Novel (27). Pada awalnya korban meminta tolong kepada Ryan untuk
dicarikan pasangan pria. Tapi, ketika melihat foto Novel, pria yang
merupakan pasangan gay Ryan, Heri lantas menaruh hati. "Ih cakep juga
tuh. Gue bayarin deh biar bisa tidur sama dia," kata Heri dari pengakuan
Ryan. Tersinggung dengan ucapan Heri, Ryan langsung berang dan terjadi
perkelahian. Kemudian Ryan memukul Heri dengan besi dan menusuknya
dengan pisau. Belum puas dengan itu, Ryan memotong-motong tubuh Heri
menjadi 7 potong lalu membuangnya (Edwin, 2008). Hal yang lebih
mengejutkan adalah sebelumnya Ryan juga pernah melakukan
pembunuhan dan mayat korbannya tersebut dikubur di belakang rumahnya
di Jombang. Dari kesebelas korbannya, sembilan orang adalah gay dan dua
2) Welington, yang merupakan gay, membunuh temannya di Bandung, Jawa
Barat, Rabu (24/12/2008). Tersangka membunuh karena cemburu
melihat korban yang dianggap telah merebut kekasih prianya. Saat
ditemukan, jasad Nopriadi, mahasiswa sekolah perhotelan ini dalam
kondisi sekarat di tempat tidur di lantai dua rumahnya di Perumahan Bumi
Panyileukan, Bandung. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, korban tak
mampu bertahan hingga akhirnya tewas. Di lokasi kejadian, polisi
menangkap Welington. Ia pun langsung dijadikan tersangka dalam kasus
ini (Nurdin, 2008)
Kaum gay di Indonesia masih merupakan kaum minoritas. Rendahnya
populasi kaum gay menyebabkan rasa cemburu dan posesif menjai sifat dasar gay
saat menjalin hubungan dengan sesamnya. Mereka akan sangat marah jika
pasangannya terlihat kencan dengan orang lain (Aditya, 2009)
Buss (dalam Caroll, 2005) menyatakan bahwa dalam pasangan
heteroseksual, laki-laki lebih memiliki kecemburuan seksual (sexual jealousy)
yang lebih tinggi yaitu dimana ketika mereka meyakini bahwa pasangan
wanitanya melakukan hubungan seksual dengan pria lain, sementara itu wanita
lebih berfokus pada kecemburuan emosional (emotional jealousy). Pria straight
memiliki kecemburuan seksual yang lebih tinggi kepada pasangan wanitanya
dikarenakan pria straight menyakini bahwasannya wanita bisa jatuh cinta kepada
seseorang tanpa melakukan hubungan seksual, tetapi ketika seorang wanita telah
melakukan hubungan seksual dengan pria lain, ini mengartikan bahwa wanita
dengan wanita straight, memiliki kecemburuan emosional yang lebih tinggi
kepada pasangan prianya, karena mereka meyakini bahwa pria dapat melakukan
hubungan seksual dengan tanpa harus jatuh cinta dengan pasangannya, tetapi
ketika seorang pria sudah jatuh cinta dengan wanita lain, pria tersebut sudah pasti
melakukan hubungan seksual dengannya (Dijkstra, 2001)
Robert Bringle (dalam Buss, 2000) menyatakan bahwa untuk pasangan
gay yang melibatkan dua orang laki-laki, memiliki kecemburuan seksual yang
lebih rendah. Dia juga menemukan bahwa laki-laki gay dalam penelitiannya
melaporkan hanya sedikit kecemburuan yang terjadi ketika mereka melihat
pasangan mereka berciuman atau melakukan perselingkuhan dengan laki-laki lain.
Hal tersebut juga didukung oleh Michael Bailey (dalam Caroll 2005) yang
menyatakan bahwa laki-laki gay merasa lebih kecewa ketika mengetahui
pengkianatan emosional yang dilakukan pasangannya. Pendapat dari Buss dan
Michael tersebut, bertolak belakang dengan kedua kasus di atas. Dimana Ryan
dan Wellington melakukan pembunuhan karena merasa cemburu pasangannya
akan melakukan hubungan seksual dengan para korban.
Peneliti juga menemukan fenomena yang lain sehubungan dengan
kecemburuan seksual. Peneliti telah melakukan percakapan personal dengan AN
(29) dan WJ (20) yang merupakan seorang gay yang telah memiliki pacar. AN
telah 3 bulan lebih menjalani hubungan dengan IV (24). Berikut pernyataan dari
AN terhadap hubungannya dengan IV,
”’Saya tahu kalau dia itu udah punya pacar juga, namanya IQ . Saya juga
sampingnya tiap malam, karena aktifitas saya yang padat. Tetapi satu hal yang saya minta darinya, ketika saya butuh dirinya untuk berbagi, dia harus ada untuk saya. Meskipun itu hanya melalui telepon. Walaupun saya tahu dia pasti melakukan hubungan seksual, saya hanya bisa berpesan sambil bercanda, ”Jangan nakal ya disana.” Haya itu yang saya katakan kepadanya.”
(Percakapan Personal, 13 Juni 2009, 23:15 WIB)
Melalui percakapan di atas dapat dilihat bahwa AN sama sekali tidak
menujukkan adanya masalah walaupun pacarnya telah memiliki pacar lain yang
telah melakukan hubungan seksual dengan rivalnya. Serupa dengan apa yang
dinyatakan AN, WJ menyatakan :
”... bagiku lebih baik jika pacarku melakukan hubungan seksual dengan yang lain jika dibandingkan apabila pacarku jatuh cinta dan menaruh perhatian yang hampir sama seperti yang diberikan pacarku. Yah, karena aku juga melakukan hal yang sama dan aku tidak mau munafik...”
(Percakapan Personal, 28 Agustus 2009)
Berdasarkan wawawancara diatas dapat dilihat, sama seperti AN, WJ juga
menunjukkan kecemburuan yang lebih tinggi secara emosional daripada secara
seksual. Buss (2000) menyatakan bahwa bagi pasangan gay, kedekatan
emosional yang dilakukan pasangannya dengan orang lain, dirasakan lebih
mengancam bagi gay tersebut. Hubungan yang telah dibangun akan dapat
berakhir dikarenakan pasangannya telah jatuh cinta dengan orang lain meskipun
mungkin tanpa adanya hubungan seksual sebelumnya antara pasangannya
dengan pihak ketiga tersebut.
Kecemburuan juga dapat termanifestasikan melalui perilaku-perilaku
seperti perilaku detective dan protective yang berusaha untuk mencari-cari tahu
apa yang telah pasangannya lakukan (Preifer, 2007). Hal tersebut dilakukan oleh
mereka. Hal ini disebut sebagai suspicious jealousy (Salovey, 1991). Hasil
observasi awal mengenai kecemburuan yang ditampakkan oleh T (23) terhadap
pasangannya R (22) yaitu dengan cara memeriksa pesan-pesan singkat yang
terdapat di handphone R, selalu bertanya jika terdapat nomor baru yang tidak
dikenalnya, dan sering untuk menelepon secara tiba-tiba untuk memastikan
bahwa pasangannya tidak berselingkuh. Berdasarkan pengakuan R (22) terhadap
peneliti, R menyatakan :
”... abang merasa T itu sangat cemburu dan posesif. Entah mengapa terkadang kecurigaannya memang benar terhadap abang, tetapi terkadang itu membuat kami sering bertengkar karena tuduhan-tuduhan nya yang kelewatan. Dia suka sekali memeriksa sms di hp ku dan hanya karena sms di hp saja, kami bisa berantem dek. Kalau udah berantam, diam-diaman, baru T itu bilang tidak mau kehilangan abang, tidak rela abang jadi milik orang lain. Terkdang suka terlintas pikiran untuk meninggalkannya tetapi terkadang tidak sampai hati juga”
(Percakapan Personal, 22 Juli 2009, 22:00 WIB )
Berdasarkan wawancara di atas dapat dilihat bahwa T yang merupakan
pasangan dari R menujukkan perilaku-perilaku yang sifatnya mencurigai
pasangannya. R mengakui bahwa pasangannya memiliki pikiran-pikiran yang
negatif terhadap dirinya. Hal ini mengindikasikan adanya suspicious jealousy
pada diri T. Suspicious jealousy yang berlebihan yang ada pada diri T membuat
R jenuh dengan hubungan yang ia jalin dengan T
Berdasarkan fenomena di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kaum gay
juga mengalami kecemburuan dalam hubungan yang mereka jalani.
Kecemburuan yang dialami gay berbeda antara satu dengan yang lainnya.
Beberapa menunjukkan kecemburuan seksual yang lebih tinggi dibandingkan
ketidaksetiaan emosional yang dilakukan pasangannya dirasakan lebih
mengancam bagi hubungan mereka, sehingga beberapa pasangan gay merasakan
kecemburuan emosional yang lebih tinggi dibandingkan dengan kecemburuan
seksual. Fenomena lainnya juga memperlihatkan, meskipun pasangan tidak
melakukan perselingkuhan, kecurigaan-kecurigaan yang berlebihan kepada
pasangannya tersebut yang akhirnya mengarah kepada suspicious jealosy, juga
dialami oleh beberapa pasangan gay. Untuk itulah peneliti tertarik untuk melihat
bagaimana kecemburuanfd yang ada pada gay yang berpacaran.
B. Rumusan Masalah
Peneliti mencoba merumuskan masalah penelitian dalam bentuk
pertanyaan penelitian yaitu bagaimana dinamika kecemburuan dalam berpacaran
pada gay dewasa dini yang memiliki pacar, yang mencakup :
1. Bagaimanakah gambaran riwayat hubungan pacaran yang pernah
dijalani gay dewasa dini?
2. Apa penyebab kecemburuan yang ada pada gay dewasa dini yang
berpacaran?
3. Bagaimanakah proses kecemburuan yang dialami oleh gay dewasa dini
yang berpacaran?
4. Apa jenis kecemburuan yang dialami oleh gay dewasa dini yang
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika kecemburuan yang
dirasakan oleh gay dewasa dini yang berpacaran yang meliputi:
1. Untuk mengetahui gambaran riwayat hubungan pacaran yang pernah
dijalani gay dewasa dini
2. Untuk mengetahui penyebab kecemburuan yang ada pada gay dewasa
dini yang berpacaran
3. Untuk mengetahui proses kecemburuan yang dialami oleh gay dewasa
dini yang berpacaran
4. Untuk mengetahui jenis kecemburuan yang dialami oleh gay dewasa
dini yang berpacaran
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis dalam
memberikan informasi dan perluasan teori di bidang psikologi perkembangan,
yakni mengenai kecemburuan pada gay dewasa dini yang berpacaran. Selain itu,
penelitian ini diharapkan dapat memperkaya sumber kepustakaan penelitian di
bidang psikologi perkembangan, sehingga hasil penelitian ini nantinya diharapkan
dapat dijadikan sebagai bahan penunjang untuk penelitian selanjutnya.
2. Manfaat praktis
a) Pada gay yang berpacaran
Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi pada gay dewasa dini
sesama jenis yang mereka masing-masing jalani sehingga dapat lebih memahami
pasangannya masing-masing serta mengetahui bagaimana mengatasi rasa
kecemburuan yang dirasakan secara konstruktif
b) Pada masyarakat luas
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi pada
masyarakat luas tentang bagaimana kecemburuan yang dirasakan oleh gay yang
berpacaran khususnya kepada individu yang memiliki sahabat, kenalan, atapun
keluarga yang memiliki orientasi seksual sebagai gay, mengetahui penyebab
kecemburuan, serta dapat memberikan dukungan sosial maupun moril kepada
kerabat atau keluarga mereka. Selain itu penelitian ini diharapkan dapat
mengurangi stigma dan ketakutan yang berlebihan terhadap kaum gay khususnya
terhadap kecemburuan yang terdapat dalam hubungan gay.
c) Pada penelitian selanjutnya
Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan masukan bagi
peneliti-peneliti lainnya yang berminat meneliti lebih lanjut mengenai
kecemburuan pada gay dewasa dini yang berpacaran & menambah pengetahuan
tentang kecemburuan pada gay berpacaran jika tidak tercakup di dalam penelitian
ini.
d) Pada Konselor
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi aplikasi dalam gay
counseling, konselor dapat mengetahui hal-hala apa saja yang biasa menyebabkan
kecemburuan pada gay sehingga para konselor dapat mengenbangkan upaya
E. Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan dari penelitian ini adalah:
BAB I : Pendahuluan
Bab ini menguraikan tentang latar belakang masalah, perumusan
masalah, tujuan dan manfaat penelitian, serta sistematika
penulisan.
BAB II : Landasan Teori
Bab ini menguraikan tentang tinjaun teoritis dan
penelitian-penelitian terdahulu yang berhubungan dengan fokus penelitian-penelitian,
diakhiri dengan pembuat paradigma penelitian.
BAB III : Metodologi Penelitian
Pada bab ini dijelaskan alasan digunakannya pendekatan
kualitatif, responden penelitian, teknik pengambilan responden,
teknik pengumpulan data, alat bantu pengumpulan data serta
prosedur penelitian.
BAB IV : Hasil Analisa Data
Bab ini menguraikan tentang deskrispsi identitas diri, data hasil
wawancara dan observasi, dan analisa data masing-masing
responden.
BAB V : Kesimpulan dan Saran
Bab ini menguraikan kesimpulan penelitian serta saran praktis dan
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kecemburuan (Jealousy)
1. Pengertian Kecemburuan
Kata kecemburuan (jealousy) berasal dari bahasa Yunani yaitu zelos yang
menunjukkan kepada suatu usaha untuk menyamai atau melebihi, menujukkan
semangat serta intensitas dari perasaan (Pines, 1998). Knox (dalam Caroll, 2005)
mendefinisikan kecemburuan (jealousy) sebagai suatu reaksi emosional terhadap
suatu hubungan yang dirasakan terancam hilang. Salovey (1991) kemudian
menambahkan bahwa kecemburuan merupakan suatu pengalaman emosi ketika
seseorang merasa terancam hilangnya suatu hubungan yang penting atau
bermakna dengan orang lain (pasangannya) terhadap ”rival” atau saingannya.
Psikolog Gordon Clanton (dalam Buss, 2000) mendefinisikan kecemburuan
sebagai suatu perasaan yang tidak menyenangkan, yang mengekspresikan
ketakutan akan kehilangan pasangan atau ketidaknyamanan atas suatu
pengalaman nyata ataupun pengalaman imaginasi terhadap pasangannya yang
membentuk hubungan dengan pihak atau orang ketiga. Martin Daly dan Margo
Wilson (dalam Buss 2000) mendefinisikan kecemburuan sebagai suatu keadaan
(state) yang terbangkitkan oleh suatu ancaman yang dirasakan terhadap suatu
hubungan, yang kemudian memotivasi munculnya perilaku yang bertujuan untuk
Pengertian kecemburuan dari Gordon Clanton di atas, memberikan dua inti
dari kecemburuan yaitu ancaman dari hilangnya pasangan dan hadirnya pihak
ketiga. Sedangkan pengertian kecemburuan yang dikemukakan oleh Martin Daily
dan Margo Wilson, menambahkan ada tiga faset dari kecemburuan. Pertama,
kecemburuan merupakan suatu keadaan, yang berarti bersifat sementara atau
episodik, bukan merupakan suatu penderitaan yang permanen. Kedua,
kecemburuan merupakan suatu respon terhadap suatu ancaman kepada hubungan
yang berarti. Ketiga, kecemburuan memotivasi perilaku tertentu dalam
mengahdapi ancaman, misalnya memberikan ancaman seksual atau ancaman
finansial
Dari definisi diatas, kecemburuan bukanlah suatu konsep yang sederhana
dan bukanlah suatu emosi tunggal, tetapi merupakan kombinasi dari emosi- emosi
negatif (Bringle & Bunk 1985). Namun tiga hal yang paling tepat dalam
mendefiniskan kecemburuan adalah hurt, anger, dan fear. Hurt terjadi karena
adanya persepsi bahwa pasangan tidak menghargai komitmen yang telah
disepakati bersama dalam menjalin hubungan, sedangkan fear dan anxiety
dihasilkan dari kemungkinan yang mengerikan akan ditingalkan dan kehilangan
pasangan. (Guerrero & Andersen, 1998 dalam Brehm, 2002)
Dari penjelasan mengenai kecemburuan tersebut dapat diambil sebuah
kesimpulan mengenai pengertian kecemburuan yaitu merupakan suatu reaksi
emosi negatif yang kompleks yang dirasakan oleh individu terhadap munculnya
ancaman akan hilangnya suatu hubungan yang bermakna dengan pasangannya
2. Penyebab Terjadinya Kecemburuan
Brehm (2002) menyatakan ada dua aspek yang dapat menyebabkan
seseorang merasakan kecemburuan. Kedua aspek tersebut adalah :
a) Faktor Personal
Baik pria maupun wanita pada dasarnya tidak berbeda dalam
kecenderungannya untuk merasakan kecemburuan, tetapi terdapat
perbedaan-perbedaan individual yang dapat menyebabkan seseorang lebih mudah dan intens
dalam merasakan kecemburuan, diantaranya sebagai berikut :
1) Dependence
Berscheid (dalam Brehm,1992) menyatakan bahwa individu yang
sangat tergantung terhadap pasangannya - menyakini bahwa hanya
pasangannya saja yang dapat membuat dirinya bahagia dan tidak ada
orang lain yang dapat menggantikannya- maka akan semakin besar
pula lah rasa kecemburuan yang dialami individu tersebut. Sikap
dependence ini juga menjelaskan alasan mengapa beberapa orang tetap
mempertahankan hubungan yang mereka jalin meskipun menyakitkan
bagi mereka dikarenakan individu tersebut berfikir bahwa mereka
tidak memiliki alternatif lain di luar hubungan yang mereka jalin
(Choice & Lamke dalam Miller, 2002). Sikap dependence juga erat
kaitannya dengan sikap posesif yang hadir, dimana seseorang yang
bergantung dengan pacarnya akan berusaha sekuat mungkin untuk
menjaga dan mengawasi setiap gerak-gerik dari pasangannya (Caroll,
2) Mate Value
Seseorang yang menganggap pasangannya sebagai individu yang akan
disukai banyak orang- misalnya penampilan fisik yang menarik, kaya,
sejahtera ataupun berbakat- dibandingkan dirinya, seseorang tersebut
akan lebih mudah merasakan kecemasan, andaikata ada orang lain
yang lebih baik dari dirinya yang dapat mendampingi pacarnya
tersebut. Mate value juga dapat berarti ketika seseorang menganggap
bahwa dalam diri pasangannya terdapat kriteria-kriteria yang ia sukai
dan sangat cocok dengan dirinya, maka hal ini dapat membuat individu
tersebut semakin takut kehilangan pasangannya. Hal ini juga dapat
menjadi suatu ancaman ketika individu menyadari bahwa pacarnya
tersebut dapat melakukan atau mendapatkan orang lain yang lebih baik
dari mereka.
3) Sexual Exclusivity
Individu yang menganut nilai sexual exclusivity, yang menginginkan
dan mengharapkan pasangannya tetap setia hanya kepada dirinya saja,
dan tidak memperbolehkan pasangannya untuk melakukan hubungan
seksual dengan orang lain dan aktivitas intim lainnya, semakin besar
kemungkinan dirinya untuk mengalami kecemburuan.
4) Past Experience
Pengalaman berpacaran seseorang dapat mempengaruhi munculnya
kecemburuan pada hubungan yang akan dan sedang dijalin. Individu
kekecewaan pada hubungan sebelumnya, dapat menurunkan
kepercayaan individu tersebut kepada pasangannya yang sekarang. Hal
ini akan menyebabkan individu tersebut lebih mudah untuk merasa
cemburu dan curiga, karena semakin rendah kepercayaan individu
terhadap pasangannya,maka akan semakin mudah individu tersebut
untuk merasakan kecemburuan. (Knox, 1984)
b) Berdasarkan Sifat Stimulus Terjadinya Kecemburuan
Buss (dalam Brehm 2002) menyatakan bahwa stimulus yang dapat
menimbulkan kecemburuan, pada dasarnya diakibatkan oleh ketidaksetiaan
(infidelity) yang dilakukan oleh pasangan. Buss membagi stimulus tersebut dalam
dua bentuk, yaitu :
1) Kecemburuan Seksual
Kecemburuan seksual memaksudkan bahwa kecemburuan yang terjadi
dikarenakan adanya ketidaksetiaan seksual yang dilakukan pasangan.
Ketidaksetiaan seksual adalah ketidaksetiaan yang dilakukan pasangan
bersama pihak ketiga yang di dalamnya melibatkan hubungan fisik,
seperti pelukan, ciuman dan hubungan seksual
2) Kecemburuan Emosional
Kecemburuan emosional memaksudkan bahwa kecemburuan yang
timbul dikarenakan adanya ketidaksetiaan emosional yang dilakukan
pasangan. Ketidaksetiaan emosional adalah ketidaksetiaan yang
fisik, melainkan lebih menekankan kepada keakraban suatu hubungan,
seperti rindu atau ingin selalu berbicara dengan pihak ketiga tersebut.
3. Tahap- Tahap Kecemburuan
Kecemburuan yang dialami oleh seseorang melalui suatu proses dengan
melalui tahapan-tahapan. Menurut White (dalam Brehm, 1992) proses
kecemburuan melewati lima tahap dibwah ini :
a. Tahap awal (primary appraisal)
Saat seseorang merasakan adanya ancaman pada hubungan percintannya,
maka dimulailah tahap ini. Tahap ini pula lah yang menunjukkan ambang
kecemburuan seseorang. Setiap orang memiliki ambang kecemburuan yang
berbeda-beda. Ambang kecemburuan merupakan suatu titik ketika seseorang
merasa cemburu. Satu ambang kecemburuan terdiri dari beberapa faktor yang
mempengaruhinya yaitu kualitas dari hubungan itu sendiri (mis : apakah
seseorang merasa insecure atau dependence di dalam hubungan yang ia jalin),
jenis dari hubungan yang dijalin (kecemburuan akan lebih sering hadir di dalam
hubungan pacaran daripada hubungan pertemanan) dan juga severity of threat
(mis : karakteristik fisik yang disukai oleh pasangan terhadap pada diri rival).
Dalam tahap awal ini, pandangan seseorang tentang hubungan percintaan
dan ancaman yang ada saling mempengaruhi. Orang yang memandang
hubungannya secure, membutuhkan ancaman yang sangat kuat untuk dapat
membuatnya cemburu. Namun, bagi individu yang merasa insecure pada suatu
b. Tahap kedua (secondary appraisal)
Pada tahap kedua ini, individu berusaha untuk memahami situasi dengan
lebih baik dan berpikir mengenai cara mengatasi rasa cemburunya. Namun,
seringkali pada tahap ini melibatkan pula pikiran catatstrophic, yaitu pengambilan
kesimpulan secara ekstrem dan berdasarkan kemungkinan yang terburuk.
Contohnya adalah seseorang yang sedang cemburu karena pasangannya tidak
membalas SMS, dalam tahap ini megambil kesimpulan bahwa pasangannya
sedang bermesraan dengan orang lain, padahal pasangannya tersebut sedang ada
kegiatan yang tidak dapat diganngu.
Brehm (1992) menyatakan bahwa dalam tahap pertama (primary
appraisal) dan tahap kedua (secondary appraisal), melibatkan faktor kognitif
ketika seseorang mengalami kecemburuan. White (dalam Brehm 1992 & Pines
1998) menambahkan bahwa faktor kognitif merupakan salah satu komponen yang
membentuk kecemburuan. Komponen kognitif dalam kecemburuan meliputi
pemikiran seperti self-blame / menyalahkan diri sendiri (mis: ”Bagaimana
mungkin aku bisa sebuta ini, aku merasa aku begitu bodoh?”), membandingkan
diri dengan saingan (mis: ”Saya merasa saya tidak menarik, sexy, intelek, dan
sukses), berfokus kepada satu pandangan publik (mis: ” Setiap orang mengetahui
dan tertawa kepadaku”), mengasihani diri sendiri/self-pity (mis : ”Aku merasa
sendirian di dunia ini, tidak satupun yang mencintaiku”), rasa tidak percaya (mis :
”Bagaimana mungkin kamu membohongi aku seperti ini?”), posesif, pemikiran
akan disingkirkan, pemikiran mengenai balas dendam, dan pemikiran untuk
c. Tahap ketiga (emotional reaction)
Tahap ketiga ini melibatkan reaksi emosional. Seseorang yang sedang
mengalami kecemburuan biasanya tidak menyadari bahwa yang mereka pikirkan
adalah hal yang tidak rasional. Jenis-jenis emosi yang dirasakan saat seseorang
sedang mengalami kecemburuan antara lain adalah marah terhadap paangan
dan,atau orang ketiga, cemas akan kehilangan hubungan percintannya, depresi dan
sedih akan kehilangan yang dialami.
Brehm (1992) menyatakan bahwa tahap ketiga (emotional reaction) sama
halnya dengan komponen kecemburuan yang diungkapkan oleh White.
Komponen emosi merupakan salah satu komponen yang membentuk
kecemburuan seseorang (Whire, dalam Brehm 1992). White (dalam Pines 1998)
kemudian menambahkan komponen emosi yang berhubungan dengan
kecemburuan meliputi kesedihan, sakit hati, agresi, putus asa, marah-marah, takut,
iri hati, dan peraasan terhina.
d. Tahap keempat (coping response)
Menurut Bryson (dalam Brehm,1992), perilaku coping terhadap
kecemburuan dapat dibagi ke dalam dua orientasi tujuan yaitu mempertahankan
hubungan (relationship maintaining) dan mempertahankan self-esteem
(self-esteem maintaining). Dari dua orientasi tujuan besar tersebut, terbagi lagi ke
dalam empat kategori perilaku yang dapat diambil seorang individu untuk
mengatasi kecemburuannya (Bryson dalam Salovey, 1991). Pertama, apabila
seseorang memiliki keinginan untuk mempertahankan hubungannya dan juga
membicarakan masalah tersebut dan sama–sama mencari jalan keluar dari
masalah yang dihadapi. Kedua, apabila seseorang memiliki keinginan untuk lebih
mempertahankan self-esteem nya daripada mempertahankan hubungan yang ada,
maka perilaku yang mungkin terjadi adalah mengancam untuk mengakhiri
hubungan atau sama sekali memang mengakhiri hubungan yang telah dijalin, dan
menyerang pasangan secara fisik atau verbal. Ketiga, apabila seseorang lebih
memprioritaskan hubungan yang ada, namun bersedia untuk mengorbankan
self-esteem nya, maka perilaku yang mungkin terjadi adalah memohon kepada
pasangan untuk tetap bersama dirinya (hadirnya sikap dependence), menujukkan
tingkah laku seolah-olah tidak ada masalah yang terjadi, serta membuat
pasangannya berfikir bahwa ia tidak lagi perduli terhadap dirinya (impression
management). Keempat, apabila seseorang tidak terdorong untuk
mempertahankan hubungan yang ada dan juga tidak termotivasi untuk
mempertahankan self-esteem nya, maka perilaku yang mungkin terjadi adalah
menyalahkan diri sendiri, menyakiti diri sendiri dan hanya berharap semoga
pasangnnya berhenti menyakiti dirinya.
Tabel 1. Perilaku Coping Terhadap Kecemburuan (Analisis dual-motivation oleh Bryson, 1977)
MEMPERTAHANKAN HUBUNGAN
(RELATIONSHIP MAINTAINING)
Yes No
MEMPERTAHANKAN
SELF-ESTEEM (SELF-ESTEEM MAINTAINING)
Yes Negotiating a mutually
acceptable solution
Verbal/physical attacks against the partner
Terimination relationship
No Clinging to the relationship
Model coping response yang dikemukakan oleh Bryson di atas, belum
dapat melihat arah dari perilaku yang diambil, bersifat konstruktif atau destruktif.
Maka, Rusbult (dalam Salovey, 1991) kemudian mengembangkan model coping
response terhadap kecemburuan dari model Rusbult di atas dengan menyertakan
dua dimensi yaitu constructive-destructive dan active-passive. Kedua dimensi ini
digabungkan untuk menjelaskan empat kelas respon yang berbeda yaitu exit,
voice, loyalty, dan neglect (EVLN). Dimensi constructive-destructive lebih
menekankan kepada bagaimana hubungan itu dipertahankan atau dipelihara,
apakan melalui cara yang constructive (membangun) atau destructive (merusak),
sedangkan dimensi active-passive lebih merujuk kepada sifat respon yang
dimunculkan.
Active
Constructive
EXIT VOICE
LOYALTY NEGLECT
Passive
Destructive
Berikut adalah penjelasan dari keempat kelas respon :
1) Voice (active/constructive) : mengekspresikan ketidakpuasan
dengan tujuan untuk memperbaiki kondisi (pada model Bryson,
mempertahankan hubungan dan mempertahankan self-esteem)
2) Exit (active/destructive) : mengakhiri atau mengancam akan
mengakhiri hubungan (pada model Bryson, mempertahankan
self-esteem namun tidak mempertahankan hubungan)
3) Loyalty (passive/constructive) : menunggu dan berharap bahwa
kondisi akan kembali baik dengan sendirinya (pada model Bryson,
lebih memprioritaskan mempertahankan hubungan daripada
mempertahankan self-esteem)
4) Neglect (passive/destructive) : mengabaikan dan tidak akan
berusaha untuk memperbaiki hubungan lagi (pada model Bryson,
sama-sama tidak berorientasi untuk mepertahankan hubungan atau
self-esteem)
Tahap keempat (the coping response) yang dikemukakan oleh Bryson dan
Rusbult di atas merupakan perilaku yang ditunjukkan oleh seseorang ketika
mengalami kecemburuan. White (dalam Brehm,1992) menambahkan bahwa
komponen perilaku juga merupakan salah satu komponen yang membentuk
kecemburuan dalam diri seseorang. Komponen perilaku merupakan bagian dari
komponen eksternal kecemburuan, yang lebih mudah untuk dilihat dan
diekspresikan dalam beberapa bentuk perilaku. White ( dalam Priefer, 2007)
detective dan protective. Tindakan detective mencakup bertanya, dan mencari
tahu dengan siapa pasangannya lebih dekat. Sedangkan tindakan protective
mencakup segala macam bentuk tindakan yang dilakukan untuk memastikan agar
keintiman antara pasangan dan saingannya tidak terjadi. Adapun bentuk dari
perilaku ini seperti menghina atau menjelek-jelekkan saingannya, atau ikut
bergabung ketika pasangan dan saingannya terlibat dalam percakapan. Pines
(1998) menambahkan tindakan-tindakan seperti : berbicara secara terbuka
mengenai masalah yang dihadapi, berteriak, menangis, mengabaikan masalah,
menggunakan candaan/humor, membalas dendam, meninggalkan pasangan atau
menujukkan kekerasan juga merupakan bentuk dari komponen perilaku
e. Tahap kelima (the outcome)
Tahap kelima adalah hasil dari perilaku coping. Perilaku coping yang
konstruktif terhadap kecemburuan akan segera mengurangi rasa sakit yang
ditimbulkan oleh rasa cemburu dan berguna juga untuk efek jangka panjang
seperti kesejahteraan orang-orang yang terlibat dan kualitas hubungan tersebut.
Hasil dari perilaku coping yang ditunjukka individu dapat dilihat melalui tiga hal.
Pertama, apa dampak dari coping yang dilakukan terhadap hal yang dianggap
ancaman? Apakah individu tersebut mampu untuk mengurangi ancaman? Kedua,
apa dampak coping yang dilakukan terhadap individu-individu yang terlibat
dalam hubungan tersebut : diri nya sendiri, pasangan, dan individu lainya? Ketiga,
bagaiman perilaku coping yang ditunjukkan berdampak terhadap hubungan yang
dijalin. Apakah keadaan hubungan sama dengan sebelumnya, berubah atau
4. Jenis – jenis kecemburuan
Berdasarkan situasi yang memicu munculnya kecemburuan, Salovey
(1991) membagi kecemburuan dalam dua bentuk yaitu :
a. Suspicious Jealousy
Suspicious jealousy memaksudkan bahwa kecemburuan yang timbul
terjadi ketika individu melihat ancaman yang dapat merusak hubungan mereka,
hanyalah didasari pada kecurigaan semata ataupun ketika ancaman tersebut tidak
nyata hadir di hadapan mereka. Suspicious jealousy terjadi ketika seorang
individu meyakini bahwa pasangannya mengalihkan perhatian yang seharusnya
untuk dirinya kepada rival atau saingannya ataupun kepada pihak ketiga. Brinkle
& Buunk (1991, dalam Brehm, 2002) menambahkan bahwa suspicious jealousy
terjadi ketika salah satu orang dari pasangan tidak berbuat kesalahan dan salah
seorang lainnya merasa curiga namun tidak memiliki bukti. Suspicious jealousy
meliputi beberapa atribut berikut :
1) Kecemasan, ketakutan, keraguan, kecurigaan dan pikiran-pikiran
negatif yang berlebihan mengenai apa yang mungkin telah dilakukan
pasangannya.
2) Ketidakpercayaan/kecurigaan yang terus menerus terhadap pasangan
(obsesive mistrust of the partner), tidak mampu untuk berkonsentrasi
kepada hal lainnya, merenung, dan berfantasi bahwa pasangan dan
rivalnya menikmati suatu hubungan yang membahagiakan.
3) Perilaku-perilaku yang mencakup memata-matai pasangan, memeriksa
kecurigaan mereka dan berusaha untuk mengatur tingkah laku
pasangan.
b. Fait Accompli/Reactive Jealousy
Fait accompli/reactive jealousy terjadi ketika suatu ancaman terhadap
hubungan itu benar-benar muncul dalam kehidupan nyata, jelas, tidak ambigu,
dan sifatnya merusak. Ancaman yang hadir dalam jenis kecemburuan ini adalah
ancaman yang memang bersifat fakta, sesuatu yang diketahui telah terjadi, bukan
hanya sekedar imajinasi/khayalan. Karakteristik pengalaman dari fait
accompli/reactive jealousy ini sangat bergantung kepada fokus daripada
perhatian. Ketika fokus perhatian tertuju kepada hilangnya suatu hubungan, hal
yang dirasakan adalah kesedihan (sadness); ketika fokus perhatian terletak pada
pelanggaran komitmen atau pengkhiatan dari pasangan atau rivalnya, maka hal
yang dialami adalah marah (anger); ketika fokus perhatian tertuju kepada
kelemahan pribadi, maka hal yang dialmi adalah depresi dan cemas (depresion
and anxiety); dan ketika fokus terletak pada superioritas yang dimiliki oleh
rivalnya, maka hal yang dialami adalah perasaan iri (envy).
Salovey (1991) kemudian menambahkan bahwa dalam fait
accompli/reactive jealousy ini, seseorang akan sering melihat hubungan baru yang
dibentuk pasangannya dengan rivalnya sebagai sesuatu hubungan yang bahagia.
Seseorang akan sering membandingkan kesepian yang dialaminya dengan
kebahagiaan yang tampak pada mantan pasangannya; seseorang juga akan sering
membandingkan ketergantungan dan kerinduan yang dialami kepada mantan
Kedua jenis kecemburuan ini dapat berdiri sendiri dari stimulus yang
menyertainya, namun kadangkala dapat terjadi tumpang tindih antara suspicious
jealousy dan reactive jealousy pada saat reactive jealousy menghasilkan
suspicious jealousy. Meskipun seorang individu telah secara jelas mengetahui dan
mendapati peristiwa yang membuat ia cemburu hadirnya di depannya, namun
terkadang hal tersebut masih meninggalkan banyak sekali pertanyaan dan
ketidakjelasan. Pertanyaan seperti mengapa hal tersebut terjadi, apa yang
sebenarnya terjadi, bagaimana rival yang ia hadapi sebenarnya, apa yang telah
mereka lakukan bersama dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang merupakan
bagian dari suspicious jealousy. Hal yang mungkin terjadi juga adalah sebaliknya,
dimana suspicious jealousy menghasilkan reactive jealousy. Perilaku-perilaku
yang menunjukkan kecurigaan seperti mengawasi, memeriksa, berusaha mengatur
perilaku pasangan akhirnya dapat menjadi reactive jealousy ketika individu
tersebut berhasil membuktikkan kecurigaannya tersebut (Salovey, 1991).
B. Dewasa Dini
1. Pengertian Dewasa Dini
Kata adult berasal dari bahasa Latin, yang berarti tumbuh menjadi
dewasa, jadi orang dewasa adalah individu yang telah menyelesaikan
pertumbuhannya dan siap menerima kedudukan dalam masyarakat bersama
dengan orang dewasa lainnya (Hurlock, 1999). Setiap kebudayaan memiliki
perbedaan tersendiri dalam memberikan batasan usia kapan seseorang dikatakan
dewasa. Pada sebagaian besar kebudayaan kuno, status ini tercapai apabila