• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kecemburuan dalam Berpacaran Pada Gay Dewasa Dini

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Kecemburuan dalam Berpacaran Pada Gay Dewasa Dini"

Copied!
356
0
0

Teks penuh

(1)

KECEMBURUAN DALAM BERPACARAN PADA GAY

DEWASA DINI

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi persyaratan Ujian Sarjana Psikologi

Oleh

JIMMI PRIMA P.

061301101

FAKULTAS PSIKOLOGI

(2)

LEMBAR PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan

sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul :

Kecemburuan dalam Berpacaran Pada Gay Dewasa Dini

adalah hasil karya sendiri dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar

kesarjanaan di suatu perguruan tinggi mana pun.

Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan skripsi ini saya kutip dari

hasil karya orang lain yang telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan

norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.

Apabila di kemudian hari ditemukan adanya kecurangan di dalam skripsi

ini, saya bersedia menerima sanksi dari Fakultas Psikologi Universitas Sumatera

Utara sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Medan, Desember 2010

JIMMI PRIMA P.

(3)

iii 

 

Kecemburuan Dalam Berpacaran Pada Gay Dewasa Dini

Jimmi Prima P. dan Ika Sari Dewi, S.Psi., psikolog

ABSTRAK

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui dinamika kecemburuan dalam berpacaran pada gay dewasa dini. Secara spesifik, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran riwayat hubungan berpacaran yang pernah dijalani, penyebab kecemburuan yang timbul, proses kecemburuan yang terjadi dan jenis kecemburuan yang dialami oleh gay dewasa dini yang berpacaran. Kecemburuan merupakan suatu reaksi emosi negatif yang kompleks yang dirasakan oleh individu terhadap munculnya ancaman akan hilangnya suatu hubungan yang bermakna dengan pasangannya, terhadap hadirnya pihak atau orang ketiga. Kecemburuan akan hadir pada setiap hubungan yang dijalin yang dirasakan bermakna oleh individu yang menjalaninya. Hubungan berpacaran merupakan salah satu aktivitas yang juga dilakukan oleh

gay dewasa dini. Pacaran dilakukan oleh gay dewasa dini untuk menemukan

teman hidup. Mencari pasangan hidup adalah sebagai salah satu tugas perkembangan dewasa dini pada umunya, termasuk di dalamnya adalah gay. Terpenuhinya tugas perkembangan tersebut akan memberikan kebermaknaan dalam diri gay dan tercapainya intimacy.

Responden dalam penelitian ini berjumlah 3 orang. Prosedur pengambilan responden penelitian dilakukan berdasarkan teori atau berdasarkan konstrak operasional (theory-based / operational construct sampling). Data diperoleh dengan metode wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara. Setelah data diperoleh kemudian dilakukan coding atau dikategorisasikan, kemudian dilakukan intepretasi atau analisa terhadap data dari masing-masing responden penelitian

Hasil peneltian ini menunjukkan bahwa ketiga responden dalam penelitian ini memiliki pengalaman berpacaran lebih dari satu kali pada masa dewasa dini. Ketiga subjek juga mengalami hurt, fear, dan anxiety pada saat merasa cemburu. Penyebab kecemburuan yang bersifat internal seperti dependence, mate value,

sexual exclusivity dan past experience ditemukan pada semua responden

penelitian. Berdasarkan stimulus yang menyebabkan hadirnya kecemburuan, semua responden dalam penelitian ini mengalami kecemburuan emosional. Semua responden juga melewati semua tahap dari proses kecemburuan namun yang membedakan adalah peristiwa yang terdapat pada masing-masing tahapan. Ketiga responden juga mengalami baik suspicious jealousy maupun fait accomply /

reactive jealousy dalam hubungan pacaran yang dijalin.

(4)

iv 

 

Jealousy in Gay Dating in Early Adulthood

Jimmi Prima P. dan Ika Sari Dewi, S.Psi., psikolog

ABSTRACT

This research is a descriptive qualitative study aimed to determine the dynamics of jealousy in gay dating in early adulthood. Specifically, this study aims to find a picture history dating relationship has ever lived, the cause of jealousy that arises, the process of jealousy that occurred and the type of jealousy experienced by early adult gay dating. Jealousy is a complex negative emotional reaction is felt by individuals to emerging threats to the loss of a meaningful relationship with her / his partner, against the presence of parties or third persons. Jealousy will be present at every perceived relationship forged meaningful by individuals who live it. Dating relationship is one activity that is also done by early adult gay. Early adult gay dating done to find a life partner. Finding a life partner is as one of the tasks of early adult development in general, including in it are gay. Fulfillment of duties of these developments will provide significance in gay and achieving intimacy.

Respondents in this study amounted to 3 people. Respondents making procedure is based on theory-based / operational construct sampling. Data obtained by interview method using the interview guide. After the data obtained was then performed coding or categorized, and then performed the interpretation or analysis of data from each respondent research

The result of this research indicate that the three respondents in this study have experience dating more than one occasion in early adulthood. All three subjects also experienced hurt, fear, and anxiety at the time felt jealous. The cause of jealousy that are internal, such as dependence, mate value, sexual exclusivity and past experience was found in all study respondents. Based on the stimulus that causes the presence of jealousy, all the respondents in this study experienced emotional jealousy. All respondents were also passed all the stages of the process of jealousy but the difference is that there are events at each stage. The three respondents also experienced either suspicious jealousy or fait accomply / reactive jealousy in dating relationships are forged.

(5)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan

berkat-Nyalah penulis dapat menyelesaikan skripsi ini, dengan judul “Kecemburuan

Dalam Berpacaran Pada Gay Dewasa Dini” ini dengan baik. Segala syukur dan

pujian yang tertinggi bagi-Nya karena berkat penyertaan-Nya, penulis dapat

menjalani tahap demi tahap penyelesaian skripsi ini dengan penuh pembelajaran

dan suka cita.

Penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada

mama dan papa yang tidak henti-hentinya berdoa dan bersabar hingga skripsi ini

rampung. Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis juga mendapat banyak

bantuan, bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada

kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan terimakasih yang tulus kepada

semua pihak yang telah membantu penyelesaian skripsi ini. Ucapan terima kasih

penulis tujukan kepada:

1. Ibu Prof. Dr. Irmawati, M.Si., psikolog selaku Dekan Fakultas Psikologi

USU, beserta Pembantu Dekan I, II, dan III Fakultas Psikologi USU.

2. Ibu Ika Sari Dewi, S.Psi., psikolog selaku Dosen Pembimbing yang telah

bersedia untuk meluangkan waktu di tengah-tengah kesibukan untuk

membimbing penulis. Terima kasih atas semua bimbingan, arahan, dan

bantuan Ibu untuk penulis. Penulis sangat berterima kasih kepada Ibu.

Semua kebaikan dan kesabaran Ibu dalam membimbing penulis tidak

akan mampu penulis balas dengan apapun dan akan penulis kenang selalu.

(6)

vi 

 

3. Ibu Meidriani Ayu Siregar, S.Psi, M.Kes, selaku Dosen Penguji II yang telah

bersedia meluangkan waktunya untuk menguji skripsi ini. Ibu juga selalu

bersedia untuk memberikan informasi dan kritikan yang penulis butuhkan.

Terima kasih Ibu.

4. Kak Silviana Realyta, M.Psi. selaku Dosen Penguji III dan Dosen

Pembimbing Akademik penulis yang telah bersedia untuk membimbing

penulis dan memberikan masukan dalam bidang akademik pada setiap

semester perjalanan kuliah penulis. Kakak selalu memberikan motivasi dan

saran yang positif untuk penulis sehingga dapat memberikan hasil yang

terbaik. Terima kasih Kak.

5. Kepada Zaky yang telah memberikan banyak peneliti pengalaman pahit dan

sukanya sehingga menginspirasi penulis untuk mengangkat judul penelitian

ini. Terima kasih untuk setiap pengalamn yang telah diberikan kepada

peneliti.

6. Kepada ketiga orang responden peneltian yang telah membantu peneliti.

Kepada Vandi, Jonathan, dan Bagus, terima kasih banyak. Maaf telah banyak

merepotkan kalian. Semoga Tuhan memberkati kalian di setiap langkahnya.

7. Seluruh dosen di Fakultas Psikologi USU yang telah memberikan ilmu,

wawasan dan pengetahuan yang sangat berharga kepada penulis, dan seluruh

pegawai di Fakultas Psikologi USU yang setia membantu penulis

menyediakan segala keperluan selama perkuliahan, khususnya dalam

penelitian ini.

8. Sahabat-sahabat terbaik penulis di akhir-akhir kesibukan skripsi ini. The Baby

(7)

vii 

 

kepada Tapi Yanda Sari yang telah memberikan peneliti sebuah jurnal

penelitian yang sangat berdampak besar terhadap isi penelitian ini, terima

kasih juga atas bantuannya untuk mau memeriksa dan memberikan

masukannya. Kepada teman-teman Baby Club lainnya, Nella Rizka Zahara,

terima kasih Nel atas informasi-informasi nya untuk mengusus semua

persayaratan siding, Rizkia Maulida, terima kasih Ki udah mau membaca

hasil penelitian ini, Henny Syahminda Nst. terima kasih Minda untuk

dukungannya kepada peneliti pada saat sedang down. Helvira Rosalia, terima

kasih ya Vir untuk informasi dan bantuannya dalam menyusun persyaratan

sidang, Nurul Mahvira, Yu kami sangat merindukanmu, Suri Mutia Siregar,

terima kasih atas dukungan dan perhatiannya yang selalu mengingatkan

peneliti agar cepat sidang, dan kepada sahabat seperjuangan peneliti, Feny

Dwi Maya Listianti, selalu semangat ya Fen dan jangan pernah putus asa.

9. Teman-teman angkatan 2006 Psikologi USU yang yang tidak mungkin

disebutkan satu per satu, terima kasih buat dukungan, semangat,

kebahagiaan, dan kesulitan yang telah kita alami bersama.

10.Para senior dan juniorku di Fakultas Psikologi USU.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, karena itu

penulis terbuka untuk menerima semua saran dan kritik demi tercapainya penulisan

yang lebih baik lagi. Akhir kata, penulis berharap kiranya skripsi ini dapat

memberikan manfaat bagi berbagai pihak.

Medan, Desember 2010

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

COVER DALAM... ... i

LEMBAR PERNYATAAN... ii

ABSTRAK... iii

ABSTRACT... iv

KATA PENGANTAR... v

DAFTAR ISI... viii

DAFTAR TABEL... xii

DAFTAR GAMBAR... xiii

DAFTAR LAMPIRAN... xiv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 14

C. Tujuan Penelitian ... 15

D. Manfaat Penelitian ... 15

1. Manfaat teoritis... 15

2. Manfaat praktis... 15

E. Sistematika Penulisan ... 17

BAB II LANDASAN TEORI A. Kecemburuan ... 18

(9)

2. Penyebab Terjadinya Kecemburuan... 20

3. Tahap-Tahap Kecemburuan... 23

4. Jenis-Jenis Kecemburuan... 30

5. Jenis-Jenis kecemburuan... 28

B. Dewasa Dini ... 32

1. Pengertian Dewasa Dini... 32

2. Tugas-Tugas Perkembangan Dewasa Dini ... 33

3. Tugas Psikososial Dewasa Dini ... 34

C. Gay ... 37

1. Pengertian Gay ... 36

2. Jenis-Jenis Gay... 37

3. Tipe Hubungan Pada Gay... 38

4. Perkembangan Seseorang Menjadi Homoseksual... 40

D. Pacaran... 40

1. Pengertian Pacaran ... 40

2. Fungsi Pacaran………... 41

3. Tahap Pacaran... 42

4. Pacaran Pada Gay... 45

E. Kecemburuan dalam berpacaran pada gay dewasa dini ... 47

BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan Kualitatif ... 49

B. Metode Pengumpulan Data ... 50

(10)

x

1. Alat Perekam (Tape Recorder) ... 51

2. Pedoman Umum Wawancara... 52

D. Keabsahan Data... 52

E. Responden Penelitian... 56

1. Karakteristik Responden Penelitian... 56

2. Jumlah Subjek Penelitian... 57

3. Prosedur Pengambilan Responden Penelitian... 58

F. Prosedur Penelitian ... 58

1. Tahap Persiapan Penelitian ... 58

2. Tahap Pelaksanaan Penelitian ... 59

3. Tahap Pencatatan Data ... 60

G. Metode Analisa Data... 60

1. Organisasi data... 60

2.Coding... 61

3. Pengujian terhadap dugaan... 61

4. Strategi analisis... 61

5. Tahapan intepretasi... 62

BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN A. Responden 1... 64

1. Deskripsi Umum Responden... 64

2. Data Observasi Selama Wawancara... 69

3. Data Wawancara... 72

(11)

xi

B. Responden 2... 143

1. Deskripsi Umum Responden... 143

2. Data Observasi Selama Wawancara... 148

3. Data Wawancara... 151

4. Pembahasan... 197

C. Responden 3... 212

1. Deskripsi Umum Responden... 212

2. Data Observasi Selama Wawancara... 216

3. Data Wawancara... 221

4. Pembahasan... 279

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan... 310

B. Saran... 323

1. Saran Metodologis... 323

2. Saran Praktis... 324

DAFTAR PUSTAKA... 327

(12)

xii

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1 Perilaku Coping Terhadap Kecemburuan... 26

Tabel 2 Jadwal Wawancara Responden 1... 64

Tabel 3 Gambaran Umum Responden 1... 64

Tabel 4 Jadwal Wawancara Responden 2... 143

Tabel 5 Gambaran Umum Responden 2... 143

Tabel 6 Jadwal Wawancara Responden 3... 212

Tabel 7 Gambaran Umum Responden 3... 212

(13)

xiii

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Figure 1 Dimensi dan Respon Kecemburuan pada Model EVLN

Rusbult...

(14)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Lampiran 1 Verbatim

Responden I Wawancara 1... 1

Responden I Wawancara 2... 23

Responden I Wawancara 3... 47

Responden I Wawancara 4... 69

Responden II Wawancara 1... 83

Responden II Wawancara 2... 113

Reponden II Wawancara 3... 125

Responden II Wawancara 4... 138

Responden III Wawancara 1... 145

Responden III Wawancara 2... 173

Responden III Wawancara 3... 191

Lampiran 2 INFORMED CONSENT INFORMED CONSENT Responden 1... 212

INFORMED CONSENT Responden 2... 213

INFORMED CONSENT Responden 3... 214

Lampiran 3 Lembar Observasi... 215

Lampiran 4 Pedoman Wawancara... 216

(15)

iii 

 

Kecemburuan Dalam Berpacaran Pada Gay Dewasa Dini

Jimmi Prima P. dan Ika Sari Dewi, S.Psi., psikolog

ABSTRAK

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui dinamika kecemburuan dalam berpacaran pada gay dewasa dini. Secara spesifik, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran riwayat hubungan berpacaran yang pernah dijalani, penyebab kecemburuan yang timbul, proses kecemburuan yang terjadi dan jenis kecemburuan yang dialami oleh gay dewasa dini yang berpacaran. Kecemburuan merupakan suatu reaksi emosi negatif yang kompleks yang dirasakan oleh individu terhadap munculnya ancaman akan hilangnya suatu hubungan yang bermakna dengan pasangannya, terhadap hadirnya pihak atau orang ketiga. Kecemburuan akan hadir pada setiap hubungan yang dijalin yang dirasakan bermakna oleh individu yang menjalaninya. Hubungan berpacaran merupakan salah satu aktivitas yang juga dilakukan oleh

gay dewasa dini. Pacaran dilakukan oleh gay dewasa dini untuk menemukan

teman hidup. Mencari pasangan hidup adalah sebagai salah satu tugas perkembangan dewasa dini pada umunya, termasuk di dalamnya adalah gay. Terpenuhinya tugas perkembangan tersebut akan memberikan kebermaknaan dalam diri gay dan tercapainya intimacy.

Responden dalam penelitian ini berjumlah 3 orang. Prosedur pengambilan responden penelitian dilakukan berdasarkan teori atau berdasarkan konstrak operasional (theory-based / operational construct sampling). Data diperoleh dengan metode wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara. Setelah data diperoleh kemudian dilakukan coding atau dikategorisasikan, kemudian dilakukan intepretasi atau analisa terhadap data dari masing-masing responden penelitian

Hasil peneltian ini menunjukkan bahwa ketiga responden dalam penelitian ini memiliki pengalaman berpacaran lebih dari satu kali pada masa dewasa dini. Ketiga subjek juga mengalami hurt, fear, dan anxiety pada saat merasa cemburu. Penyebab kecemburuan yang bersifat internal seperti dependence, mate value,

sexual exclusivity dan past experience ditemukan pada semua responden

penelitian. Berdasarkan stimulus yang menyebabkan hadirnya kecemburuan, semua responden dalam penelitian ini mengalami kecemburuan emosional. Semua responden juga melewati semua tahap dari proses kecemburuan namun yang membedakan adalah peristiwa yang terdapat pada masing-masing tahapan. Ketiga responden juga mengalami baik suspicious jealousy maupun fait accomply /

reactive jealousy dalam hubungan pacaran yang dijalin.

(16)

iv 

 

Jealousy in Gay Dating in Early Adulthood

Jimmi Prima P. dan Ika Sari Dewi, S.Psi., psikolog

ABSTRACT

This research is a descriptive qualitative study aimed to determine the dynamics of jealousy in gay dating in early adulthood. Specifically, this study aims to find a picture history dating relationship has ever lived, the cause of jealousy that arises, the process of jealousy that occurred and the type of jealousy experienced by early adult gay dating. Jealousy is a complex negative emotional reaction is felt by individuals to emerging threats to the loss of a meaningful relationship with her / his partner, against the presence of parties or third persons. Jealousy will be present at every perceived relationship forged meaningful by individuals who live it. Dating relationship is one activity that is also done by early adult gay. Early adult gay dating done to find a life partner. Finding a life partner is as one of the tasks of early adult development in general, including in it are gay. Fulfillment of duties of these developments will provide significance in gay and achieving intimacy.

Respondents in this study amounted to 3 people. Respondents making procedure is based on theory-based / operational construct sampling. Data obtained by interview method using the interview guide. After the data obtained was then performed coding or categorized, and then performed the interpretation or analysis of data from each respondent research

The result of this research indicate that the three respondents in this study have experience dating more than one occasion in early adulthood. All three subjects also experienced hurt, fear, and anxiety at the time felt jealous. The cause of jealousy that are internal, such as dependence, mate value, sexual exclusivity and past experience was found in all study respondents. Based on the stimulus that causes the presence of jealousy, all the respondents in this study experienced emotional jealousy. All respondents were also passed all the stages of the process of jealousy but the difference is that there are events at each stage. The three respondents also experienced either suspicious jealousy or fait accomply / reactive jealousy in dating relationships are forged.

(17)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Manusia merupakan mahluk yang tidak pernah berhenti berubah. Mulai

dari masa prenatal hingga akhir kehidupan selalu terjadi perubahan, baik dalam

kemampuan fisik maupun psikologis. Perkembangan kehidupan manusia terjadi

secara bertahap, dan setiap tahap perkembangan memiliki karakteristik,

tugas-tugas perkembangan serta risiko-risiko yang harus dihadapi. Setiap rentang

kehidupan seseorang akan selalu berhadapan dengan tugas-tugas

perkembangannya masing-masing dan setiap periode perkembangan dalam

kehidupan manusia memiliki peranan yang sangat penting. Havighurst (dalam

Hurlock, 1999) mengatakan tugas-tugas yang berhasil dilakukan akan

menimbulkan rasa bahagia dan membawa kepada arah keberhasilan pada tugas

perkembangan selanjutnya.

Erickson (dalam Bentley, 2007) membagi rentang kehidupan manusia ke

dalam delapan tahap perkembangan. Salah satu tahap perkembangan yang

dikemukakan oleh Erickson adalah tahap perkembangan masa dewasa dini. Tahap

perkembangan masa dewasa dini dimulai pada umur 18 tahun hingga 40 tahun

(Hurlock, 1999). Salah satu tugas perkembangan dewasa dini menurut Havighurst

dipusatkan pada harapan-harapan masyarakat dan mencakup untuk memilih

pasangan atau memilih teman hidup. Pemilihan pasangan dapat dilakukan invidu

dewasa dini melalui pacaran (Duvall, 1985).

(18)

2

Menurut Biran (2001), pada dasarnya hubungan pacaran merupakan

sarana untuk semakin mengenal pasangan, meskipun pada masa pacaran

kemungkinan untuk bertemu dengan orang yang lebih menarik tetap terbuka.

Individu yang terlibat dalam suatu hubungan percintaan mempunyai harapan agar

hubungan tersebut dapat bertahan lama dan terpelihara. Pendapat dari Duvall dan

Biran tersebut memberikan batasan bahwa pacaran merupakan aktifitas yang

terjadi hanya pada hubungan yang dilakukan oleh dua orang yang memiliki jenis

kelamin berbeda saja. Pendapat yang berbeda dinyatakan oleh Savin-Wiliam dan

Cohen (1996) bahwa membentuk dan mengembangkan hubungan pacaran sebagai

sesuatu hal yang penting bagi dewasa dini, dilakukan oleh semua orang tanpa

memandang orientasi seksual mereka. Orientasi seksual merupakan istilah yang

mengarah kepada jenis kelamin, dimana seseorang merasakan ketertarikan secara

emosional, fisik, seksual dan cinta yang bertahan lama terhadap orang lain

tersebut (Caroll, 2005 ).

Orientasi seksual terbagi tiga yaitu heteroseksual, homoseksual dan

biseksual. Heteroseksual merujuk kepada ketertarikan terhadap jenis kelamin

yang berbeda, sementara itu, homoseksual merujuk kepada ketertarikan terhadap

jenis kelamin yang sama dan biseksual merujuk kepada ketertarikan kepada kedua

jenis kelamin. Heteroseksual disebut juga dengan istilah straight, sedangkan pria

homoseksual dikenal denga istilah gay, dan wanita homoseksual disebut dengan

lesbian (Caroll, 2005)

Duvall (1985) menyatakan bahwa perilaku pacaran yang dilakukan oleh

(19)

berinteraksi dengan pasangan, belajar mengenai pasangan, dan membantu dewasa

dini belajar mengenai apa yang disukai, dan diterima oleh pasangan. Masa dewasa

dini merupakan waktu yang khusus untuk melakukan pacaran, karena pacaran

akan dilakukan lebih sungguh-sungguh dalam hubungannya mencari pasangan

hidup dan juga karena pada dewasa dini sudah mencapai kematangan seksual

(Caroll, 2005)

Pacaran tetap akan dilakukan oleh seseorang yang menunda-nunda

perkawinan sampai menemukan pasangan hidup, meski sudah memasuki usia

30-40 tahun. Setelah kehilangan pasangan pun, melalui kematian ataupun perceraian,

orang-orang pada umumnya menjalin pacaran kembali dengan tujuan menemukan

pasangan. Pacaran adalah sesuatu hal yang diharapkan oleh masyarakat,

mengakibatkan dewasa dini melakukan hal yang sama, karena orang lain yang ada

disekitar lingkungan melakukan hal yang sama (Duvall, 1985). Masyarakat akan

menganggap ada yang salah dengan seseorang yang tidak berpacaran.

Pada gay dewasa dini, pacaran juga merupakan aktifitas yang tetap

dilakukan. Pacaran tidak memandang orientasi seksual seseorang. Savin-William

& Cohen (1996) menyatakan bahwa pacaran adalah saat dimana suatu hubungan

romantis dibangun, dan dialami. Pacaran memberikan beberapa fungsi yang

penting seperti hiburan, rekreasi dan sosialisasi, yang akan menggiring seseorang

kepada makna dari sebuah hubungan. Isay (dalam Savin-William & Cohen)

menyatakan bahwa jatuh cinta merupakan faktor yang penting dalam menolong

seseorang gay untuk merasa nyaman dengan identitas dirinya sendiri. Menurut

(20)

pemilihan identitas diri sebagai seorang gay, dan membuat gay merasa lebih

lengkap sebagai seorang gay (dalam Savin-Williams & Cohen, 1996). Gay yang

memiliki pacar akan memiliki harga diri yang lebih tinggi, penerimaan diri yang

lebih tinggi, dan akan lebih terbuka kepada lingkungan mengenai identitas diri

sebagai seorang gay (Savin-Williams & Cohen, 1996).

Aktifitas pacaran yang dilakukan oleh pasangan gay tidak jauh berbeda

dengan pacaran yang dilakukan oleh pasangan straight, yang membedakan

hanyalah penerimaan lingkungan terhadap hubungan tersebut (Caroll, 2005).

Pacaran pada pasangan straight dapat ditunjukkan atau diberitahukan kepada

lingkungan tanpa adanya rasa takut dan malu. Berbeda halnya dengan pasangan

gay, mereka lebih memilih untuk menyembunyikan hubungan yang mereka jalani

terhadap lingkungannya (Papalia, 2007). Beberapa lingkungan masyarakat masih

menolak keberadaan kaum gay. Di Indonesia, secara formal ada stigma terhadap

perilaku homoseksual yang mengharamkan hubungan sesama jenis (Oetomo,

2003). Masyarakat Indonesia secara umum masih berpijak pada budaya Timur

yang masih sulit menerima keberadaan homoseksual. Kondisi penerimaan

lingkungan terhadap hubungan gay menyebabkan hubungan yang dijalani

dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Alasan ketakutan ketahuan oleh

masyarakat, terutama di tempat kerja/sekolah/kuliah dan di tempat tinggal

menjadi beban pacaran pada gay (Oetomo, 2003)

Biran (2001) menyatakan bahwa hubungan dengan pacar tentu saja tidak

semulus yang diduga sebelumnya. Dalam menjalani suatu hubungan pasti banyak

(21)

hubungan yang harmonis, salah satunya adalah munculnya kecemburuan

(jealousy) dan persaingan (Ahrnt, 2001). Kecemburuan paling sering muncul

diantara dua orang yang memang sudah terlibat dalam suatu hubungan romantis

(Hansen dalam Hendrick, 1992 ). Kecemburuan sering dilihat sebagai salah satu

dari perasaan yang kuat, lazim dan juga menjemukan, yang terdapat di dalam

suatu hubungan yang intim (Aune & Comstok dalam Demirtas, 2006).

Kecemburuan juga merupakan masalah yang sering ditekankan dalam penelitian

terhadap pernikahan dan terapi-terapinya (Buunk, dalam Demirtas, 2006). Dengan

kata lain, dalam suatu hubungan, baik itu pacaran maupun dalam pernikahan,

kecemburuan merupakan suatu emosi yang sering terjadi. Carol (2005)

menyebutkan kecemburuan ini sebagai sisi gelap dari cinta (the dark side of love).

Sama hal dengan berpacaran, perasaan cemburu tidak hanya dialami oleh kaum

straight saja, tetapi kaum gay juga dapat mengalami hal yang sama (Buss, 2000).

Kecemburuan bukanlah suatu emosi yang sederhana. Pada dasarnya

kecemburuan yang timbul adalah merupakan ketakutan akan kehilangan sesuatu

atau seseorang dari suatu hubungan yang bermakna terhadap rival atau saingannya

(Salovey, 1991). Perasaan cemburu dapat bervariasi pada masing-masing individu

seperti merasakan takut atau cemas; yang lainnya merasa marah atau kesal.

Kecemburuan dapat hadir dalam semua konteks budaya, tetapi apa yang

membangkitkan perasaan cemburu itu, berbeda-beda antara satu individu dengan

individu lainnya. Orang-orang yang mengalami sedikit kecemburuan dalam

hubungan mereka ditemukan merasa lebih aman, dan keamanan dalam hubungan

(22)

sehingga semakin lama suatu hungan terjalin, maka kecenderungan untuk merasa

cemburu akan semakin menurun (Knox, dalam Caroll, 2005)

Salovey (1991) menyatakan bahwa kecemburuan sebenarnya memiliki

konstribusi positif yang cukup penting dalam suatu hubungan. Sebagai contoh

kecemburuan ditemukan berhubungan dengan rasa cinta yang kuat dan juga dapat

meningkatkan komitmen diantara pasangan (White, dalam Salovey, 1991). Preifer

(2007) kemudian menambahkan bahwa kecemburuan dapat memiliki konsekuensi

positif dan negatif terhadap suatu hubungan, tergantung kepada frekuensi

kecemburuan yang dialami. Jika derajat frekuensi kecemburuan kecil, hal ini

dapat meningkatkan kualitas hubungan antar pasangan jika itu dipersepsikan

sebagai bentuk perhatian kepada pasangan bahkan dapat meningkatkan

ketertarikan kepada pasangan. Sebaliknya, frekuensi yang tinggi atau berlebihan

dari kecemburuan dapat mengarahkan individu kepada kecemburuan yang

sifatnya merusak. Kecemburuan yang sifatnya merusak ini dapat mengarah

kepada berakhirnya suatu hubungan, terjadinya berbagai macam bentuk

kekerasan, dan bahkan dapat mengarah kepada pembunuhan, baik itu kepada diri

sendiri, pasangan atau saingan (Buss, 2000)

Kaum gay berbeda dengan kaum straight dalam hal frekuensi hubungan

seksual yang mereka jalani. Suatu studi mengatakan bahwa laki-laki gay tujuh

kali lebih mungkin melakukan hubungan seksual di luar pasangan mereka, dan

studi lainnya menyatakan bahwa ini merupakan temuan yang umum (Buss, 2000).

Banyak gay yang walaupun sudah menjalin hubungan pacaran, perilaku

(23)

seseorang yang akan melakukan hubungan seksual dengan siapa saja tanpa ada

pertimbangan. Gay akan melakukan hubungan seksual dengan pria mana saja

yang disukai (Miracle, 2008). Hal ini berpengaruh kepada kecemburuan pada diri

gay tersebut. Salovey (1991) dalam percobaanya menemukan bahwa kelompok

laki-laki homoseksual ditemukan memiliki tingkat kecemburuan yang lebih

rendah secara seksual dibandingkan dengan kelompok laki-laki heteroseksual.

Hal ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan Buunk (Dijkstra, 2001)

bahwa semakin banyak seorang gay memiliki pasangan seksual pada masa

lalunya, maka semakin rendahlah tingkat kecemburuan seksual yang ada dalam

dirinya. Situasi akan berbeda ketika gay tersebut secara seksual permisif, atau

tidak menujukkan perilaku promiscuous. Hal ini akan berdampak kepada

kecemburuan yang mungkin timbul. Mengingat ada kecenderungan dalam diri gay

untuk melakukan perilaku promiscuous, yang mungkin saja terdapat dalam

pasangannya, kecemburuan yang ada di dalam diri gay tersebut akan semakin

terbangkitkan ketika mereka dihadapkan kepada rival atau saingan mereka dan

merasa terancam apabila pasangannya meninggalkan mereka (Silverstein, 2003).

Atau sebaliknya, para pasangan gay menghilangkan kecemburuan mereka dengan

cara sama-sama mengizinkan pasangannya untuk melakukan perilaku seksual

dengan pihak lain (Buss, 2000). JR seorang gay 25 tahun menjelaskan

persetujuan dalam pacaran yang mereka jalin :

(24)

seksual itu jangan sampai hal tersebut membuat kami jatuh cinta dengan selingkuhan kami itu...”

(Percakapan Personal, 12 Februari 2009, 16:00 WIB )

Berdasarkan wawancara diatas dapat dilihat bahwa untuk menghindari

kecurigaan serta kecemburuan yang berlebihan, JR dan pasangannya sama-sama

melakukan persetujuan untuk dapat melakukan hubungan seks dengan orang lain

selama hal tersebut tidak mengancam hubungan romantis diantara mereka.

Keputusan ini tidak diambil secara satu pihak saja, sehingga antara JR dan

pasangannya tidak terlalu menujukkan kecemburuan yang tinggi.

Buss (2000) menyatakan bahwa kecemburuan pada gay semakin

memuncak ketika mereka dihadapkan kepada rival atau saingan mereka. Hal ini

dikarenakan karena gay memiliki jumlah yang terbatas dalam pemilihan

pasangan. Susahnya untuk menemukan pasangan tersebut berhubungan dengan

jumlah gay yang ada jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah pria straight

yang ada (Miracle, 2008). Pendapat tersebut didukung oleh beberapa penelitian

yang dilakukan oleh beberapa peneliti, yaitu diantaranya Kinsey (dalam Caroll,

2005) menemukan 37% dari jumlah pria yang menjadi sampel dalam penelitian

tersebut mengaku pernah melakukan hubungan seksual dengan pria lain dalam

hidupnya, namun hanya 4% yang benar-benar mengaku gay. Mackay (dalam

Caroll, 2005) juga menyatakan bahwa antara 3 sampai 4% dari populasi pria di

dunia, merupakan gay.

Jumlah gay yang sangat sedikit dibandingkan dengan kaum straight,

membuat para gay harus bekerja keras dalam mempertahankan hubungan mereka

(25)

mengembangkan hubungan seksualitas mereka, karena stigma mengenai gay dan

tidak mudah menentukan pria mana yang memiliki potensi menjadi pasangan

mereka (Caroll, 2005). Sehingga kecemburuan yang dirasakan lebih besar

daripada pasangan straight dan bahkan mungkin memunculkan perilaku yang

tidak lazim dalam mengatasi kecemburuan mereka, salah satunya adalah

melakukan pembunuhan atau bunuh diri karena rasa cemburu (Pines-Ayala

Malakh, 1998). Ada beberapa kasus yang telah terjadi di Indonesia yang berkaitan

dengan rasa cemburu ini. Diantaranya adalah sebagai berikut,

1) Veri Idham Henyansyah alias Ryan (29), melakukan pembunuhan serta

mutilasi kepada Heri Santoso karena merasa cemburu dan tidak senang

kepada korban yang menaruh hati atau menaksir pacar sesama jenisnya

Novel (27). Pada awalnya korban meminta tolong kepada Ryan untuk

dicarikan pasangan pria. Tapi, ketika melihat foto Novel, pria yang

merupakan pasangan gay Ryan, Heri lantas menaruh hati. "Ih cakep juga

tuh. Gue bayarin deh biar bisa tidur sama dia," kata Heri dari pengakuan

Ryan. Tersinggung dengan ucapan Heri, Ryan langsung berang dan terjadi

perkelahian. Kemudian Ryan memukul Heri dengan besi dan menusuknya

dengan pisau. Belum puas dengan itu, Ryan memotong-motong tubuh Heri

menjadi 7 potong lalu membuangnya (Edwin, 2008). Hal yang lebih

mengejutkan adalah sebelumnya Ryan juga pernah melakukan

pembunuhan dan mayat korbannya tersebut dikubur di belakang rumahnya

di Jombang. Dari kesebelas korbannya, sembilan orang adalah gay dan dua

(26)

2) Welington, yang merupakan gay, membunuh temannya di Bandung, Jawa

Barat, Rabu (24/12/2008). Tersangka membunuh karena cemburu

melihat korban yang dianggap telah merebut kekasih prianya. Saat

ditemukan, jasad Nopriadi, mahasiswa sekolah perhotelan ini dalam

kondisi sekarat di tempat tidur di lantai dua rumahnya di Perumahan Bumi

Panyileukan, Bandung. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, korban tak

mampu bertahan hingga akhirnya tewas. Di lokasi kejadian, polisi

menangkap Welington. Ia pun langsung dijadikan tersangka dalam kasus

ini (Nurdin, 2008)

Kaum gay di Indonesia masih merupakan kaum minoritas. Rendahnya

populasi kaum gay menyebabkan rasa cemburu dan posesif menjai sifat dasar gay

saat menjalin hubungan dengan sesamnya. Mereka akan sangat marah jika

pasangannya terlihat kencan dengan orang lain (Aditya, 2009)

Buss (dalam Caroll, 2005) menyatakan bahwa dalam pasangan

heteroseksual, laki-laki lebih memiliki kecemburuan seksual (sexual jealousy)

yang lebih tinggi yaitu dimana ketika mereka meyakini bahwa pasangan

wanitanya melakukan hubungan seksual dengan pria lain, sementara itu wanita

lebih berfokus pada kecemburuan emosional (emotional jealousy). Pria straight

memiliki kecemburuan seksual yang lebih tinggi kepada pasangan wanitanya

dikarenakan pria straight menyakini bahwasannya wanita bisa jatuh cinta kepada

seseorang tanpa melakukan hubungan seksual, tetapi ketika seorang wanita telah

melakukan hubungan seksual dengan pria lain, ini mengartikan bahwa wanita

(27)

dengan wanita straight, memiliki kecemburuan emosional yang lebih tinggi

kepada pasangan prianya, karena mereka meyakini bahwa pria dapat melakukan

hubungan seksual dengan tanpa harus jatuh cinta dengan pasangannya, tetapi

ketika seorang pria sudah jatuh cinta dengan wanita lain, pria tersebut sudah pasti

melakukan hubungan seksual dengannya (Dijkstra, 2001)

Robert Bringle (dalam Buss, 2000) menyatakan bahwa untuk pasangan

gay yang melibatkan dua orang laki-laki, memiliki kecemburuan seksual yang

lebih rendah. Dia juga menemukan bahwa laki-laki gay dalam penelitiannya

melaporkan hanya sedikit kecemburuan yang terjadi ketika mereka melihat

pasangan mereka berciuman atau melakukan perselingkuhan dengan laki-laki lain.

Hal tersebut juga didukung oleh Michael Bailey (dalam Caroll 2005) yang

menyatakan bahwa laki-laki gay merasa lebih kecewa ketika mengetahui

pengkianatan emosional yang dilakukan pasangannya. Pendapat dari Buss dan

Michael tersebut, bertolak belakang dengan kedua kasus di atas. Dimana Ryan

dan Wellington melakukan pembunuhan karena merasa cemburu pasangannya

akan melakukan hubungan seksual dengan para korban.

Peneliti juga menemukan fenomena yang lain sehubungan dengan

kecemburuan seksual. Peneliti telah melakukan percakapan personal dengan AN

(29) dan WJ (20) yang merupakan seorang gay yang telah memiliki pacar. AN

telah 3 bulan lebih menjalani hubungan dengan IV (24). Berikut pernyataan dari

AN terhadap hubungannya dengan IV,

”’Saya tahu kalau dia itu udah punya pacar juga, namanya IQ . Saya juga

(28)

sampingnya tiap malam, karena aktifitas saya yang padat. Tetapi satu hal yang saya minta darinya, ketika saya butuh dirinya untuk berbagi, dia harus ada untuk saya. Meskipun itu hanya melalui telepon. Walaupun saya tahu dia pasti melakukan hubungan seksual, saya hanya bisa berpesan sambil bercanda, ”Jangan nakal ya disana.” Haya itu yang saya katakan kepadanya.”

(Percakapan Personal, 13 Juni 2009, 23:15 WIB)

Melalui percakapan di atas dapat dilihat bahwa AN sama sekali tidak

menujukkan adanya masalah walaupun pacarnya telah memiliki pacar lain yang

telah melakukan hubungan seksual dengan rivalnya. Serupa dengan apa yang

dinyatakan AN, WJ menyatakan :

”... bagiku lebih baik jika pacarku melakukan hubungan seksual dengan yang lain jika dibandingkan apabila pacarku jatuh cinta dan menaruh perhatian yang hampir sama seperti yang diberikan pacarku. Yah, karena aku juga melakukan hal yang sama dan aku tidak mau munafik...”

(Percakapan Personal, 28 Agustus 2009)

Berdasarkan wawawancara diatas dapat dilihat, sama seperti AN, WJ juga

menunjukkan kecemburuan yang lebih tinggi secara emosional daripada secara

seksual. Buss (2000) menyatakan bahwa bagi pasangan gay, kedekatan

emosional yang dilakukan pasangannya dengan orang lain, dirasakan lebih

mengancam bagi gay tersebut. Hubungan yang telah dibangun akan dapat

berakhir dikarenakan pasangannya telah jatuh cinta dengan orang lain meskipun

mungkin tanpa adanya hubungan seksual sebelumnya antara pasangannya

dengan pihak ketiga tersebut.

Kecemburuan juga dapat termanifestasikan melalui perilaku-perilaku

seperti perilaku detective dan protective yang berusaha untuk mencari-cari tahu

apa yang telah pasangannya lakukan (Preifer, 2007). Hal tersebut dilakukan oleh

(29)

mereka. Hal ini disebut sebagai suspicious jealousy (Salovey, 1991). Hasil

observasi awal mengenai kecemburuan yang ditampakkan oleh T (23) terhadap

pasangannya R (22) yaitu dengan cara memeriksa pesan-pesan singkat yang

terdapat di handphone R, selalu bertanya jika terdapat nomor baru yang tidak

dikenalnya, dan sering untuk menelepon secara tiba-tiba untuk memastikan

bahwa pasangannya tidak berselingkuh. Berdasarkan pengakuan R (22) terhadap

peneliti, R menyatakan :

”... abang merasa T itu sangat cemburu dan posesif. Entah mengapa terkadang kecurigaannya memang benar terhadap abang, tetapi terkadang itu membuat kami sering bertengkar karena tuduhan-tuduhan nya yang kelewatan. Dia suka sekali memeriksa sms di hp ku dan hanya karena sms di hp saja, kami bisa berantem dek. Kalau udah berantam, diam-diaman, baru T itu bilang tidak mau kehilangan abang, tidak rela abang jadi milik orang lain. Terkdang suka terlintas pikiran untuk meninggalkannya tetapi terkadang tidak sampai hati juga”

(Percakapan Personal, 22 Juli 2009, 22:00 WIB )

Berdasarkan wawancara di atas dapat dilihat bahwa T yang merupakan

pasangan dari R menujukkan perilaku-perilaku yang sifatnya mencurigai

pasangannya. R mengakui bahwa pasangannya memiliki pikiran-pikiran yang

negatif terhadap dirinya. Hal ini mengindikasikan adanya suspicious jealousy

pada diri T. Suspicious jealousy yang berlebihan yang ada pada diri T membuat

R jenuh dengan hubungan yang ia jalin dengan T

Berdasarkan fenomena di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kaum gay

juga mengalami kecemburuan dalam hubungan yang mereka jalani.

Kecemburuan yang dialami gay berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Beberapa menunjukkan kecemburuan seksual yang lebih tinggi dibandingkan

(30)

ketidaksetiaan emosional yang dilakukan pasangannya dirasakan lebih

mengancam bagi hubungan mereka, sehingga beberapa pasangan gay merasakan

kecemburuan emosional yang lebih tinggi dibandingkan dengan kecemburuan

seksual. Fenomena lainnya juga memperlihatkan, meskipun pasangan tidak

melakukan perselingkuhan, kecurigaan-kecurigaan yang berlebihan kepada

pasangannya tersebut yang akhirnya mengarah kepada suspicious jealosy, juga

dialami oleh beberapa pasangan gay. Untuk itulah peneliti tertarik untuk melihat

bagaimana kecemburuanfd yang ada pada gay yang berpacaran.

B. Rumusan Masalah

Peneliti mencoba merumuskan masalah penelitian dalam bentuk

pertanyaan penelitian yaitu bagaimana dinamika kecemburuan dalam berpacaran

pada gay dewasa dini yang memiliki pacar, yang mencakup :

1. Bagaimanakah gambaran riwayat hubungan pacaran yang pernah

dijalani gay dewasa dini?

2. Apa penyebab kecemburuan yang ada pada gay dewasa dini yang

berpacaran?

3. Bagaimanakah proses kecemburuan yang dialami oleh gay dewasa dini

yang berpacaran?

4. Apa jenis kecemburuan yang dialami oleh gay dewasa dini yang

(31)

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika kecemburuan yang

dirasakan oleh gay dewasa dini yang berpacaran yang meliputi:

1. Untuk mengetahui gambaran riwayat hubungan pacaran yang pernah

dijalani gay dewasa dini

2. Untuk mengetahui penyebab kecemburuan yang ada pada gay dewasa

dini yang berpacaran

3. Untuk mengetahui proses kecemburuan yang dialami oleh gay dewasa

dini yang berpacaran

4. Untuk mengetahui jenis kecemburuan yang dialami oleh gay dewasa

dini yang berpacaran

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis dalam

memberikan informasi dan perluasan teori di bidang psikologi perkembangan,

yakni mengenai kecemburuan pada gay dewasa dini yang berpacaran. Selain itu,

penelitian ini diharapkan dapat memperkaya sumber kepustakaan penelitian di

bidang psikologi perkembangan, sehingga hasil penelitian ini nantinya diharapkan

dapat dijadikan sebagai bahan penunjang untuk penelitian selanjutnya.

2. Manfaat praktis

a) Pada gay yang berpacaran

Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi pada gay dewasa dini

(32)

sesama jenis yang mereka masing-masing jalani sehingga dapat lebih memahami

pasangannya masing-masing serta mengetahui bagaimana mengatasi rasa

kecemburuan yang dirasakan secara konstruktif

b) Pada masyarakat luas

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi pada

masyarakat luas tentang bagaimana kecemburuan yang dirasakan oleh gay yang

berpacaran khususnya kepada individu yang memiliki sahabat, kenalan, atapun

keluarga yang memiliki orientasi seksual sebagai gay, mengetahui penyebab

kecemburuan, serta dapat memberikan dukungan sosial maupun moril kepada

kerabat atau keluarga mereka. Selain itu penelitian ini diharapkan dapat

mengurangi stigma dan ketakutan yang berlebihan terhadap kaum gay khususnya

terhadap kecemburuan yang terdapat dalam hubungan gay.

c) Pada penelitian selanjutnya

Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan masukan bagi

peneliti-peneliti lainnya yang berminat meneliti lebih lanjut mengenai

kecemburuan pada gay dewasa dini yang berpacaran & menambah pengetahuan

tentang kecemburuan pada gay berpacaran jika tidak tercakup di dalam penelitian

ini.

d) Pada Konselor

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi aplikasi dalam gay

counseling, konselor dapat mengetahui hal-hala apa saja yang biasa menyebabkan

kecemburuan pada gay sehingga para konselor dapat mengenbangkan upaya

(33)

E. Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan dari penelitian ini adalah:

BAB I : Pendahuluan

Bab ini menguraikan tentang latar belakang masalah, perumusan

masalah, tujuan dan manfaat penelitian, serta sistematika

penulisan.

BAB II : Landasan Teori

Bab ini menguraikan tentang tinjaun teoritis dan

penelitian-penelitian terdahulu yang berhubungan dengan fokus penelitian-penelitian,

diakhiri dengan pembuat paradigma penelitian.

BAB III : Metodologi Penelitian

Pada bab ini dijelaskan alasan digunakannya pendekatan

kualitatif, responden penelitian, teknik pengambilan responden,

teknik pengumpulan data, alat bantu pengumpulan data serta

prosedur penelitian.

BAB IV : Hasil Analisa Data

Bab ini menguraikan tentang deskrispsi identitas diri, data hasil

wawancara dan observasi, dan analisa data masing-masing

responden.

BAB V : Kesimpulan dan Saran

Bab ini menguraikan kesimpulan penelitian serta saran praktis dan

(34)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Kecemburuan (Jealousy)

1. Pengertian Kecemburuan

Kata kecemburuan (jealousy) berasal dari bahasa Yunani yaitu zelos yang

menunjukkan kepada suatu usaha untuk menyamai atau melebihi, menujukkan

semangat serta intensitas dari perasaan (Pines, 1998). Knox (dalam Caroll, 2005)

mendefinisikan kecemburuan (jealousy) sebagai suatu reaksi emosional terhadap

suatu hubungan yang dirasakan terancam hilang. Salovey (1991) kemudian

menambahkan bahwa kecemburuan merupakan suatu pengalaman emosi ketika

seseorang merasa terancam hilangnya suatu hubungan yang penting atau

bermakna dengan orang lain (pasangannya) terhadap ”rival” atau saingannya.

Psikolog Gordon Clanton (dalam Buss, 2000) mendefinisikan kecemburuan

sebagai suatu perasaan yang tidak menyenangkan, yang mengekspresikan

ketakutan akan kehilangan pasangan atau ketidaknyamanan atas suatu

pengalaman nyata ataupun pengalaman imaginasi terhadap pasangannya yang

membentuk hubungan dengan pihak atau orang ketiga. Martin Daly dan Margo

Wilson (dalam Buss 2000) mendefinisikan kecemburuan sebagai suatu keadaan

(state) yang terbangkitkan oleh suatu ancaman yang dirasakan terhadap suatu

hubungan, yang kemudian memotivasi munculnya perilaku yang bertujuan untuk

(35)

Pengertian kecemburuan dari Gordon Clanton di atas, memberikan dua inti

dari kecemburuan yaitu ancaman dari hilangnya pasangan dan hadirnya pihak

ketiga. Sedangkan pengertian kecemburuan yang dikemukakan oleh Martin Daily

dan Margo Wilson, menambahkan ada tiga faset dari kecemburuan. Pertama,

kecemburuan merupakan suatu keadaan, yang berarti bersifat sementara atau

episodik, bukan merupakan suatu penderitaan yang permanen. Kedua,

kecemburuan merupakan suatu respon terhadap suatu ancaman kepada hubungan

yang berarti. Ketiga, kecemburuan memotivasi perilaku tertentu dalam

mengahdapi ancaman, misalnya memberikan ancaman seksual atau ancaman

finansial

Dari definisi diatas, kecemburuan bukanlah suatu konsep yang sederhana

dan bukanlah suatu emosi tunggal, tetapi merupakan kombinasi dari emosi- emosi

negatif (Bringle & Bunk 1985). Namun tiga hal yang paling tepat dalam

mendefiniskan kecemburuan adalah hurt, anger, dan fear. Hurt terjadi karena

adanya persepsi bahwa pasangan tidak menghargai komitmen yang telah

disepakati bersama dalam menjalin hubungan, sedangkan fear dan anxiety

dihasilkan dari kemungkinan yang mengerikan akan ditingalkan dan kehilangan

pasangan. (Guerrero & Andersen, 1998 dalam Brehm, 2002)

Dari penjelasan mengenai kecemburuan tersebut dapat diambil sebuah

kesimpulan mengenai pengertian kecemburuan yaitu merupakan suatu reaksi

emosi negatif yang kompleks yang dirasakan oleh individu terhadap munculnya

ancaman akan hilangnya suatu hubungan yang bermakna dengan pasangannya

(36)

2. Penyebab Terjadinya Kecemburuan

Brehm (2002) menyatakan ada dua aspek yang dapat menyebabkan

seseorang merasakan kecemburuan. Kedua aspek tersebut adalah :

a) Faktor Personal

Baik pria maupun wanita pada dasarnya tidak berbeda dalam

kecenderungannya untuk merasakan kecemburuan, tetapi terdapat

perbedaan-perbedaan individual yang dapat menyebabkan seseorang lebih mudah dan intens

dalam merasakan kecemburuan, diantaranya sebagai berikut :

1) Dependence

Berscheid (dalam Brehm,1992) menyatakan bahwa individu yang

sangat tergantung terhadap pasangannya - menyakini bahwa hanya

pasangannya saja yang dapat membuat dirinya bahagia dan tidak ada

orang lain yang dapat menggantikannya- maka akan semakin besar

pula lah rasa kecemburuan yang dialami individu tersebut. Sikap

dependence ini juga menjelaskan alasan mengapa beberapa orang tetap

mempertahankan hubungan yang mereka jalin meskipun menyakitkan

bagi mereka dikarenakan individu tersebut berfikir bahwa mereka

tidak memiliki alternatif lain di luar hubungan yang mereka jalin

(Choice & Lamke dalam Miller, 2002). Sikap dependence juga erat

kaitannya dengan sikap posesif yang hadir, dimana seseorang yang

bergantung dengan pacarnya akan berusaha sekuat mungkin untuk

menjaga dan mengawasi setiap gerak-gerik dari pasangannya (Caroll,

(37)

2) Mate Value

Seseorang yang menganggap pasangannya sebagai individu yang akan

disukai banyak orang- misalnya penampilan fisik yang menarik, kaya,

sejahtera ataupun berbakat- dibandingkan dirinya, seseorang tersebut

akan lebih mudah merasakan kecemasan, andaikata ada orang lain

yang lebih baik dari dirinya yang dapat mendampingi pacarnya

tersebut. Mate value juga dapat berarti ketika seseorang menganggap

bahwa dalam diri pasangannya terdapat kriteria-kriteria yang ia sukai

dan sangat cocok dengan dirinya, maka hal ini dapat membuat individu

tersebut semakin takut kehilangan pasangannya. Hal ini juga dapat

menjadi suatu ancaman ketika individu menyadari bahwa pacarnya

tersebut dapat melakukan atau mendapatkan orang lain yang lebih baik

dari mereka.

3) Sexual Exclusivity

Individu yang menganut nilai sexual exclusivity, yang menginginkan

dan mengharapkan pasangannya tetap setia hanya kepada dirinya saja,

dan tidak memperbolehkan pasangannya untuk melakukan hubungan

seksual dengan orang lain dan aktivitas intim lainnya, semakin besar

kemungkinan dirinya untuk mengalami kecemburuan.

4) Past Experience

Pengalaman berpacaran seseorang dapat mempengaruhi munculnya

kecemburuan pada hubungan yang akan dan sedang dijalin. Individu

(38)

kekecewaan pada hubungan sebelumnya, dapat menurunkan

kepercayaan individu tersebut kepada pasangannya yang sekarang. Hal

ini akan menyebabkan individu tersebut lebih mudah untuk merasa

cemburu dan curiga, karena semakin rendah kepercayaan individu

terhadap pasangannya,maka akan semakin mudah individu tersebut

untuk merasakan kecemburuan. (Knox, 1984)

b) Berdasarkan Sifat Stimulus Terjadinya Kecemburuan

Buss (dalam Brehm 2002) menyatakan bahwa stimulus yang dapat

menimbulkan kecemburuan, pada dasarnya diakibatkan oleh ketidaksetiaan

(infidelity) yang dilakukan oleh pasangan. Buss membagi stimulus tersebut dalam

dua bentuk, yaitu :

1) Kecemburuan Seksual

Kecemburuan seksual memaksudkan bahwa kecemburuan yang terjadi

dikarenakan adanya ketidaksetiaan seksual yang dilakukan pasangan.

Ketidaksetiaan seksual adalah ketidaksetiaan yang dilakukan pasangan

bersama pihak ketiga yang di dalamnya melibatkan hubungan fisik,

seperti pelukan, ciuman dan hubungan seksual

2) Kecemburuan Emosional

Kecemburuan emosional memaksudkan bahwa kecemburuan yang

timbul dikarenakan adanya ketidaksetiaan emosional yang dilakukan

pasangan. Ketidaksetiaan emosional adalah ketidaksetiaan yang

(39)

fisik, melainkan lebih menekankan kepada keakraban suatu hubungan,

seperti rindu atau ingin selalu berbicara dengan pihak ketiga tersebut.

3. Tahap- Tahap Kecemburuan

Kecemburuan yang dialami oleh seseorang melalui suatu proses dengan

melalui tahapan-tahapan. Menurut White (dalam Brehm, 1992) proses

kecemburuan melewati lima tahap dibwah ini :

a. Tahap awal (primary appraisal)

Saat seseorang merasakan adanya ancaman pada hubungan percintannya,

maka dimulailah tahap ini. Tahap ini pula lah yang menunjukkan ambang

kecemburuan seseorang. Setiap orang memiliki ambang kecemburuan yang

berbeda-beda. Ambang kecemburuan merupakan suatu titik ketika seseorang

merasa cemburu. Satu ambang kecemburuan terdiri dari beberapa faktor yang

mempengaruhinya yaitu kualitas dari hubungan itu sendiri (mis : apakah

seseorang merasa insecure atau dependence di dalam hubungan yang ia jalin),

jenis dari hubungan yang dijalin (kecemburuan akan lebih sering hadir di dalam

hubungan pacaran daripada hubungan pertemanan) dan juga severity of threat

(mis : karakteristik fisik yang disukai oleh pasangan terhadap pada diri rival).

Dalam tahap awal ini, pandangan seseorang tentang hubungan percintaan

dan ancaman yang ada saling mempengaruhi. Orang yang memandang

hubungannya secure, membutuhkan ancaman yang sangat kuat untuk dapat

membuatnya cemburu. Namun, bagi individu yang merasa insecure pada suatu

(40)

b. Tahap kedua (secondary appraisal)

Pada tahap kedua ini, individu berusaha untuk memahami situasi dengan

lebih baik dan berpikir mengenai cara mengatasi rasa cemburunya. Namun,

seringkali pada tahap ini melibatkan pula pikiran catatstrophic, yaitu pengambilan

kesimpulan secara ekstrem dan berdasarkan kemungkinan yang terburuk.

Contohnya adalah seseorang yang sedang cemburu karena pasangannya tidak

membalas SMS, dalam tahap ini megambil kesimpulan bahwa pasangannya

sedang bermesraan dengan orang lain, padahal pasangannya tersebut sedang ada

kegiatan yang tidak dapat diganngu.

Brehm (1992) menyatakan bahwa dalam tahap pertama (primary

appraisal) dan tahap kedua (secondary appraisal), melibatkan faktor kognitif

ketika seseorang mengalami kecemburuan. White (dalam Brehm 1992 & Pines

1998) menambahkan bahwa faktor kognitif merupakan salah satu komponen yang

membentuk kecemburuan. Komponen kognitif dalam kecemburuan meliputi

pemikiran seperti self-blame / menyalahkan diri sendiri (mis: ”Bagaimana

mungkin aku bisa sebuta ini, aku merasa aku begitu bodoh?”), membandingkan

diri dengan saingan (mis: ”Saya merasa saya tidak menarik, sexy, intelek, dan

sukses), berfokus kepada satu pandangan publik (mis: ” Setiap orang mengetahui

dan tertawa kepadaku”), mengasihani diri sendiri/self-pity (mis : ”Aku merasa

sendirian di dunia ini, tidak satupun yang mencintaiku”), rasa tidak percaya (mis :

”Bagaimana mungkin kamu membohongi aku seperti ini?”), posesif, pemikiran

akan disingkirkan, pemikiran mengenai balas dendam, dan pemikiran untuk

(41)

c. Tahap ketiga (emotional reaction)

Tahap ketiga ini melibatkan reaksi emosional. Seseorang yang sedang

mengalami kecemburuan biasanya tidak menyadari bahwa yang mereka pikirkan

adalah hal yang tidak rasional. Jenis-jenis emosi yang dirasakan saat seseorang

sedang mengalami kecemburuan antara lain adalah marah terhadap paangan

dan,atau orang ketiga, cemas akan kehilangan hubungan percintannya, depresi dan

sedih akan kehilangan yang dialami.

Brehm (1992) menyatakan bahwa tahap ketiga (emotional reaction) sama

halnya dengan komponen kecemburuan yang diungkapkan oleh White.

Komponen emosi merupakan salah satu komponen yang membentuk

kecemburuan seseorang (Whire, dalam Brehm 1992). White (dalam Pines 1998)

kemudian menambahkan komponen emosi yang berhubungan dengan

kecemburuan meliputi kesedihan, sakit hati, agresi, putus asa, marah-marah, takut,

iri hati, dan peraasan terhina.

d. Tahap keempat (coping response)

Menurut Bryson (dalam Brehm,1992), perilaku coping terhadap

kecemburuan dapat dibagi ke dalam dua orientasi tujuan yaitu mempertahankan

hubungan (relationship maintaining) dan mempertahankan self-esteem

(self-esteem maintaining). Dari dua orientasi tujuan besar tersebut, terbagi lagi ke

dalam empat kategori perilaku yang dapat diambil seorang individu untuk

mengatasi kecemburuannya (Bryson dalam Salovey, 1991). Pertama, apabila

seseorang memiliki keinginan untuk mempertahankan hubungannya dan juga

(42)

membicarakan masalah tersebut dan sama–sama mencari jalan keluar dari

masalah yang dihadapi. Kedua, apabila seseorang memiliki keinginan untuk lebih

mempertahankan self-esteem nya daripada mempertahankan hubungan yang ada,

maka perilaku yang mungkin terjadi adalah mengancam untuk mengakhiri

hubungan atau sama sekali memang mengakhiri hubungan yang telah dijalin, dan

menyerang pasangan secara fisik atau verbal. Ketiga, apabila seseorang lebih

memprioritaskan hubungan yang ada, namun bersedia untuk mengorbankan

self-esteem nya, maka perilaku yang mungkin terjadi adalah memohon kepada

pasangan untuk tetap bersama dirinya (hadirnya sikap dependence), menujukkan

tingkah laku seolah-olah tidak ada masalah yang terjadi, serta membuat

pasangannya berfikir bahwa ia tidak lagi perduli terhadap dirinya (impression

management). Keempat, apabila seseorang tidak terdorong untuk

mempertahankan hubungan yang ada dan juga tidak termotivasi untuk

mempertahankan self-esteem nya, maka perilaku yang mungkin terjadi adalah

menyalahkan diri sendiri, menyakiti diri sendiri dan hanya berharap semoga

pasangnnya berhenti menyakiti dirinya.

Tabel 1. Perilaku Coping Terhadap Kecemburuan (Analisis dual-motivation oleh Bryson, 1977)

MEMPERTAHANKAN HUBUNGAN

(RELATIONSHIP MAINTAINING)

Yes No

MEMPERTAHANKAN

SELF-ESTEEM (SELF-ESTEEM MAINTAINING)

Yes Negotiating a mutually

acceptable solution

Verbal/physical attacks against the partner

Terimination relationship

No Clinging to the relationship

(43)

Model coping response yang dikemukakan oleh Bryson di atas, belum

dapat melihat arah dari perilaku yang diambil, bersifat konstruktif atau destruktif.

Maka, Rusbult (dalam Salovey, 1991) kemudian mengembangkan model coping

response terhadap kecemburuan dari model Rusbult di atas dengan menyertakan

dua dimensi yaitu constructive-destructive dan active-passive. Kedua dimensi ini

digabungkan untuk menjelaskan empat kelas respon yang berbeda yaitu exit,

voice, loyalty, dan neglect (EVLN). Dimensi constructive-destructive lebih

menekankan kepada bagaimana hubungan itu dipertahankan atau dipelihara,

apakan melalui cara yang constructive (membangun) atau destructive (merusak),

sedangkan dimensi active-passive lebih merujuk kepada sifat respon yang

dimunculkan.

Active

Constructive

EXIT VOICE

LOYALTY NEGLECT

Passive

Destructive

(44)

Berikut adalah penjelasan dari keempat kelas respon :

1) Voice (active/constructive) : mengekspresikan ketidakpuasan

dengan tujuan untuk memperbaiki kondisi (pada model Bryson,

mempertahankan hubungan dan mempertahankan self-esteem)

2) Exit (active/destructive) : mengakhiri atau mengancam akan

mengakhiri hubungan (pada model Bryson, mempertahankan

self-esteem namun tidak mempertahankan hubungan)

3) Loyalty (passive/constructive) : menunggu dan berharap bahwa

kondisi akan kembali baik dengan sendirinya (pada model Bryson,

lebih memprioritaskan mempertahankan hubungan daripada

mempertahankan self-esteem)

4) Neglect (passive/destructive) : mengabaikan dan tidak akan

berusaha untuk memperbaiki hubungan lagi (pada model Bryson,

sama-sama tidak berorientasi untuk mepertahankan hubungan atau

self-esteem)

Tahap keempat (the coping response) yang dikemukakan oleh Bryson dan

Rusbult di atas merupakan perilaku yang ditunjukkan oleh seseorang ketika

mengalami kecemburuan. White (dalam Brehm,1992) menambahkan bahwa

komponen perilaku juga merupakan salah satu komponen yang membentuk

kecemburuan dalam diri seseorang. Komponen perilaku merupakan bagian dari

komponen eksternal kecemburuan, yang lebih mudah untuk dilihat dan

diekspresikan dalam beberapa bentuk perilaku. White ( dalam Priefer, 2007)

(45)

detective dan protective. Tindakan detective mencakup bertanya, dan mencari

tahu dengan siapa pasangannya lebih dekat. Sedangkan tindakan protective

mencakup segala macam bentuk tindakan yang dilakukan untuk memastikan agar

keintiman antara pasangan dan saingannya tidak terjadi. Adapun bentuk dari

perilaku ini seperti menghina atau menjelek-jelekkan saingannya, atau ikut

bergabung ketika pasangan dan saingannya terlibat dalam percakapan. Pines

(1998) menambahkan tindakan-tindakan seperti : berbicara secara terbuka

mengenai masalah yang dihadapi, berteriak, menangis, mengabaikan masalah,

menggunakan candaan/humor, membalas dendam, meninggalkan pasangan atau

menujukkan kekerasan juga merupakan bentuk dari komponen perilaku

e. Tahap kelima (the outcome)

Tahap kelima adalah hasil dari perilaku coping. Perilaku coping yang

konstruktif terhadap kecemburuan akan segera mengurangi rasa sakit yang

ditimbulkan oleh rasa cemburu dan berguna juga untuk efek jangka panjang

seperti kesejahteraan orang-orang yang terlibat dan kualitas hubungan tersebut.

Hasil dari perilaku coping yang ditunjukka individu dapat dilihat melalui tiga hal.

Pertama, apa dampak dari coping yang dilakukan terhadap hal yang dianggap

ancaman? Apakah individu tersebut mampu untuk mengurangi ancaman? Kedua,

apa dampak coping yang dilakukan terhadap individu-individu yang terlibat

dalam hubungan tersebut : diri nya sendiri, pasangan, dan individu lainya? Ketiga,

bagaiman perilaku coping yang ditunjukkan berdampak terhadap hubungan yang

dijalin. Apakah keadaan hubungan sama dengan sebelumnya, berubah atau

(46)

4. Jenis – jenis kecemburuan

Berdasarkan situasi yang memicu munculnya kecemburuan, Salovey

(1991) membagi kecemburuan dalam dua bentuk yaitu :

a. Suspicious Jealousy

Suspicious jealousy memaksudkan bahwa kecemburuan yang timbul

terjadi ketika individu melihat ancaman yang dapat merusak hubungan mereka,

hanyalah didasari pada kecurigaan semata ataupun ketika ancaman tersebut tidak

nyata hadir di hadapan mereka. Suspicious jealousy terjadi ketika seorang

individu meyakini bahwa pasangannya mengalihkan perhatian yang seharusnya

untuk dirinya kepada rival atau saingannya ataupun kepada pihak ketiga. Brinkle

& Buunk (1991, dalam Brehm, 2002) menambahkan bahwa suspicious jealousy

terjadi ketika salah satu orang dari pasangan tidak berbuat kesalahan dan salah

seorang lainnya merasa curiga namun tidak memiliki bukti. Suspicious jealousy

meliputi beberapa atribut berikut :

1) Kecemasan, ketakutan, keraguan, kecurigaan dan pikiran-pikiran

negatif yang berlebihan mengenai apa yang mungkin telah dilakukan

pasangannya.

2) Ketidakpercayaan/kecurigaan yang terus menerus terhadap pasangan

(obsesive mistrust of the partner), tidak mampu untuk berkonsentrasi

kepada hal lainnya, merenung, dan berfantasi bahwa pasangan dan

rivalnya menikmati suatu hubungan yang membahagiakan.

3) Perilaku-perilaku yang mencakup memata-matai pasangan, memeriksa

(47)

kecurigaan mereka dan berusaha untuk mengatur tingkah laku

pasangan.

b. Fait Accompli/Reactive Jealousy

Fait accompli/reactive jealousy terjadi ketika suatu ancaman terhadap

hubungan itu benar-benar muncul dalam kehidupan nyata, jelas, tidak ambigu,

dan sifatnya merusak. Ancaman yang hadir dalam jenis kecemburuan ini adalah

ancaman yang memang bersifat fakta, sesuatu yang diketahui telah terjadi, bukan

hanya sekedar imajinasi/khayalan. Karakteristik pengalaman dari fait

accompli/reactive jealousy ini sangat bergantung kepada fokus daripada

perhatian. Ketika fokus perhatian tertuju kepada hilangnya suatu hubungan, hal

yang dirasakan adalah kesedihan (sadness); ketika fokus perhatian terletak pada

pelanggaran komitmen atau pengkhiatan dari pasangan atau rivalnya, maka hal

yang dialami adalah marah (anger); ketika fokus perhatian tertuju kepada

kelemahan pribadi, maka hal yang dialmi adalah depresi dan cemas (depresion

and anxiety); dan ketika fokus terletak pada superioritas yang dimiliki oleh

rivalnya, maka hal yang dialami adalah perasaan iri (envy).

Salovey (1991) kemudian menambahkan bahwa dalam fait

accompli/reactive jealousy ini, seseorang akan sering melihat hubungan baru yang

dibentuk pasangannya dengan rivalnya sebagai sesuatu hubungan yang bahagia.

Seseorang akan sering membandingkan kesepian yang dialaminya dengan

kebahagiaan yang tampak pada mantan pasangannya; seseorang juga akan sering

membandingkan ketergantungan dan kerinduan yang dialami kepada mantan

(48)

Kedua jenis kecemburuan ini dapat berdiri sendiri dari stimulus yang

menyertainya, namun kadangkala dapat terjadi tumpang tindih antara suspicious

jealousy dan reactive jealousy pada saat reactive jealousy menghasilkan

suspicious jealousy. Meskipun seorang individu telah secara jelas mengetahui dan

mendapati peristiwa yang membuat ia cemburu hadirnya di depannya, namun

terkadang hal tersebut masih meninggalkan banyak sekali pertanyaan dan

ketidakjelasan. Pertanyaan seperti mengapa hal tersebut terjadi, apa yang

sebenarnya terjadi, bagaimana rival yang ia hadapi sebenarnya, apa yang telah

mereka lakukan bersama dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang merupakan

bagian dari suspicious jealousy. Hal yang mungkin terjadi juga adalah sebaliknya,

dimana suspicious jealousy menghasilkan reactive jealousy. Perilaku-perilaku

yang menunjukkan kecurigaan seperti mengawasi, memeriksa, berusaha mengatur

perilaku pasangan akhirnya dapat menjadi reactive jealousy ketika individu

tersebut berhasil membuktikkan kecurigaannya tersebut (Salovey, 1991).

B. Dewasa Dini

1. Pengertian Dewasa Dini

Kata adult berasal dari bahasa Latin, yang berarti tumbuh menjadi

dewasa, jadi orang dewasa adalah individu yang telah menyelesaikan

pertumbuhannya dan siap menerima kedudukan dalam masyarakat bersama

dengan orang dewasa lainnya (Hurlock, 1999). Setiap kebudayaan memiliki

perbedaan tersendiri dalam memberikan batasan usia kapan seseorang dikatakan

dewasa. Pada sebagaian besar kebudayaan kuno, status ini tercapai apabila

Gambar

Figure  1: Dimensi dan Respon Kecemburuan Pada Model EVLN Rusbult
Tabel 2
Tabel 4
Tabel 8

Referensi

Dokumen terkait

Sebagian kaum muda Jepang lebih memilih menjadi freeter karena tidak memiliki keterikatan dengan perusahaan tempat mereka bekerja, seperti yang dialami para

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara asertivitas dengan kekerasan dalam berpacaran yang dialami perempuan dewasa awal.. Hipotesis yang

Strategi Coping Pada Gay Dalam Penyesuaian Sosial (Studi Kasus terhadap Dua Orang Gay Usia Dewasa Muda di Kota Bandung).. Universitas Pendidikan Indonesia

Peneliti memfokuskan diri pada proses pembentukan perilaku seksual pada kaum lesbian dan gay yang ada di Yogyakarta mengenai bagaimana mereka mengidentifikasi peran dirinya

Komunikasi nonverbal dalam interaksi yang terjadi dalam media sosial Grindr digunakan kaum gay seperti memasang foto profil untuk menunjukan kepribadian dirinya agar

Sebagian kaum muda Jepang lebih memilih menjadi freeter karena tidak memiliki keterikatan dengan perusahaan tempat mereka bekerja, seperti yang dialami para

Bagi wanita yang berada pada rentang usia dewasa dini yang pernah mengalami body shaming dalam hubungan berpacaran namun memiliki konsep diri yang positif,

Namun pada panggung belakang (back stage), gay yang telah maupun belum sepenuhnya coming out, sama-sama melakukan strategi self promotion sebagai teknik presentasi diri