• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER KELAS V SDN 01 TEMPURAN TRIMURJO LAMPUNG TENGAH TAHUN PELAJARAN 2012/2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER KELAS V SDN 01 TEMPURAN TRIMURJO LAMPUNG TENGAH TAHUN PELAJARAN 2012/2013"

Copied!
70
0
0

Teks penuh

(1)

PERSEMBAHAN

Allhamdulillah Wa Syukurilah

Akhirnya yang dinantikan tiba,

Karya ini ku persembahkan teruntuk :

Ibuku atas kesabaran dan jerih payahnya,

untuk papa terimakasih untuk didikan dengan cara dan tingkah

laku yang berbeda,

Kakak-kakak dan ayuk-ayukku, terimakasih atas semuanya semoga Allah

selalu melindungi dan memberkahi keluarga kalian.

Bapak Ibu dosen yang senantiasa membimbing, menguatkan dan

memberikan kemudahan dalam penyusunan skripsi ini

Saudara seperjuangan serta berjuta orang baik yang ku kenal dan tidak ku

kenal. Terima kasih, banyak ilmu kehidupan yang kuambil dari mereka,

mohon maaf tanpa mereka tahu ilmu itu ku ambil darinya. Terima kasih...

(2)

RIWAYAT HIDUP

Penulis lahir di Tanjung Karang tanggal 21 November 1986, merupakan puteri kelima dari

lima bersaudara atas pasangan Bapak Anwar Zaldy, B.E dan Ibu Syar’ah

Jenjang pendidikan penulis dimulai dari Pendidikan di Sekolah Dasar Negeri 3 Perumnas Way

Halim tahun 1991, Sekolah Menengah Pertama Negeri 20 Bandar Lampung tahun 1998, dan

Sekolah Menengah Atas Gajah Mada Bandar Lampung Tahun 2001. Pada tahun 2005 penulis

secara resmi diterima sebagai mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Jurusan Ilmu

Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung (FKIP Unila) melalui

jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB)

Penulis juga melaksanakan kegiatan Praktek Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah

(PLBK-S) di SMP Negeri 22 Bandar Lampung tahun 2008. Selama masa perkuliahan, penulis

aktif sebagai pengurus pada beberapa organisasi diantaranya ; pengurus organisasi Himpunan

(3)

SANWACANA

Assalamualaikum Wr. Wb.

Puji syukur penulis ucapkan atas keahadirat Allah SWT karena hanya dengan lindungan dan limpahan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul: ” Upaya Menurunkan Kecemasan Menghadapi Ujian Akhir Semester Menggunakan Layanan Konseling Kelompok Pada Siswa Kelas VIII Di SMP Negeri 5 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2012/2013

Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ungkapan terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. Bujang Rahman, M.Si., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. 2. Bapak Drs. Baharuddin Risyak, M.Pd., selaku ketua Jurusan Ilmu Pendidikan.

3. Bapak Drs. Yusmansyah, M.Si., selaku Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling sekaligus dosen pembimbing yang telah memberikan kritik, saran, dan motivasi kepada penulis..

4. Ibu Diah Utaminingsih, S.Psi., M.A., Psi, selaku dosen pembahas yang telah menginspirasi penulis atas saran, kritik yang membangun diri.

5. Bapak Drs. Muswardi Rosra, M.Pd.,selaku pembimbing pertama, pembimbing akademik yang telah memberikan bimbingan, arahan, motivasi dan bantuannya selama penulis menyelesaikan skripsi ini.

(4)

7. Bapak dan Ibu dosen program studi Bimbingan dan Konseling FKIP Universitas Lampung, atas ilmu yang telah diberikan selama ini dan kepeduliannya selama ini.

8. Seluruh staf FKIP Universitas Lampung yang secara tidak langsung membantu dalam penyelesaian skripsi penulis.

9. Kedua orang tuaku yang selalu mendo’akan, memberi dukungan, dan izinnya dalam perjalanan hidup yang telah ananda jalani.

10. Kak Win dan Mbak Mery, Yuk Eri dan Kak Darmawan, Yuk Eli dan Kak Adri, Yuk Bertha dan Kak Habiebie, yang senantiasa selalu mengup-date perjalanan menyelesaikan amanah yang satu ini.

11. Keponakan-Keponakanku yang lucu dan bersemangat : Ayuk Nida, Teh Hasna, Mas Abid, Adik Azzam, Ayuk Fia, dan calon keponakan ku. Terkhusus untuk Mb Naura (alm) yang nun jauh di alam yang lain, semoga Allah kelak mempertemukan kita.

12. Teman-teman seperjuangan akhir dari BK’05 : Dwi Trisnaningsih, Satri Yanti, Wisni Widyawati, Desi Ardiyanti, Bayyinatushobariyah, Holipah, Arlia Rahmah, Lili Oktavia, Rachmawita...untuk kebersamaan menuntaskan amanah akademik.

13. Saudara Penyemangat dan Pewarna Hidup : Hidayati, Afrilianti, Desi Yanti, Anjar Arianingrum, Evi Marlina, Julia Agustina, Anita Anggraini, Octavia Solitaria Santi, Ida Nirwana, Era Hidayah, Aulia Fitri.

14. Ibunda dalam pemoles rekam jejak ku : Mb Neni, Mb Yuyun, Bu Indri, Mb Henny, Mb Tri, Mb Yuni, Ummi Azzam, Bu Linda, Mb Diah, Ummi Wulan, Bu Yanti.

15. Kakak dan adik tingkat dari angkatan 2004 – 2010 yang tidak dapat disebutkan satu persatu. 16. Kawan-kawan PLBK di SMP Negri 22 Bandar Lampun. Terima Kasih atas kebersamaandan

dukungan yang akan selalu penulis kenang.

(5)

18. Keluarga besar TKIT Qurrota A’yun serta teman-teman seperjuangan di bumi Harapan. Trimakasih atas dukungan dan persaudaraannya selama ini

19. Semua pihak yang turut andil dalam proses penyusunan skripsi ini, penulis ucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya.

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat-NYA serta membalas atas segala bantuan dan kebaikan yang telah diberikan kepada penulis.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Bandar Lampung, Desember 2012 Penulis

(6)

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penurunan kecemasan menghadapi ujian menggunakan layanan konseling kelompok?Masalah dalam penelitian ini adalah kecemasan siswa menghadapi ujian yang tinggi. Permasalahan dalam penelitian ini adalah “Apakah kecemasan siswa menghadapi ujian pada siswa dapat diturunkan dengan menggunakan layanan konseling kelompok?”. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode quasi eksperimen dengan desain One-Group Pretest-Posttest. Subjek dalam penelitian sebanyak 6 siswa kelas VIII yang memiliki kecemasan menghadapi ujian yang tinggi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan skala kecemasan. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kecemasan siswa menghadapi ujian siswa dapat diturunkan dengan menggunakan layanan konseling kelompok, hal ini ditunjukkan dari hasil analisis data dengan menggunakan uji Wilcoxon, dari hasil pretest dan posttest yang diperoleh zhitung = 2,207 > ztabel = 0,027 maka, Ho ditolak dan Ha diterima, yang artinya bahwa kecemasan siswa menghadapi ujian yang tinggi siswadapat diturunkan dengan menggunakan layanan konseling kelompok. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah kecemasan siswa menghadapi ujian yang tinggi siswadapat diturunkan dengan menggunakan layanan konseling kelompok,pada siswa kelas VIII di SMP Negeri 5 Bandarlampung Tahun Pelajaran 2011/2012. Saran yang dapat diberikan adalah (1) Kepada guru bimbingan dan konseling hendaknya dapat membantu dan memberikan informasi terhadap siswa untuk mengenali hal-hal yang dapat mengurangi dan memicu kecemasan ujian, sehingga siswa dapat lebih siap dalam menghadapi ujian. (2) Kepada Siswa hendaknya terus berusaha mempersiapkan diri menghadapi ujian, baik secara fisik, afektif, dan kognitif. Jika terjadi kecemasan menghadapi ujian, maka hal itu dianggap suatu hal yang wajar.(3) Kepada para peneliti, hendaknya dapat melakukan penelitian mengenai kecemasan siswa menghadap ujian pada kondisi subjek yang berbeda dengan menggunakan layanan yang sama maupun layanan lainnya.

(7)

I. PENDAHULUAN

A.Latar Belakang dan Masalah

1. Latar Belakang

Setiap diri cenderung memiliki emosi yang berubah-ubah. Rasa cemas merupakan salah

satunya, rasa ini timbul akibat perasaan terancam terhadap suatu hal yang bisa jadi belum

begitu jelas. Hal senada yg diungkapkan Nevid (2003:163), Kecemasan merupakan suatu

keadaan aprehensi atau keadaan khawatir yang mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan

segera terjadi.

Kecemasan dapat terjadi terhadap siapapun, kapanpun dan dimanapun, tak terkecuali remaja

yang menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Penyebab terjadinya

kecemasan tergantung situasi dan kondisinya, antara lain di sekolah, misalnya terlalu

tingginya target kurikulum, iklim pembelajaran yang tidak kondusif, padatnya pemberian

tugas, kurang bersahabatnya sikap dan perlakuan guru, penerapan disiplin sekolah yang ketat,

kurang nyamannya iklim sekolah, serta sarana dan prasarana belajar yang sangat terbatas juga

merupakan faktor pemicu terbentuknya kecemasan pada siswa yang bersumber dari faktor

manajemen sekolah (Sudrajat dalam Resminingsih & Astuti, 2010:19).

Faktor lainnya yang dapat menimbulkan kecemasan pada diri siswa adalah perasaan khawatir

berkaitan penyelesaian tugas. Hal ini biasanya terjadi saat siswa akan menghadapi evaluasi

(8)

semester (UAS), dan ujian nasional (UN). Siswa merasa sulit menjawab soal, takut salah

memilih jawaban, khawatir nilai yang diperoleh rendaah dan mengharuskn siswa mengikuti

remedy.

Hasil penelitian terdahulu telah menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara kecemasan dan tes

atau ujian yang dilaksanakan oleh siswa. Penelitian oleh Hill (Hasan, C.D.,2012) melibatkan

10.000 ribu siswa sekolah dasar dan menengah di Amerika menunjukkan bahwa sebagian

besar siswa yang mengikuti tes gagal menunjukkan kemampuan mereka yang sebenarnya

disebabkan oleh situasi dan suasana tes yang membuat mereka cemas. Sebaliknya, para siswa

ini memperlihatkan hasil yang lebih baik jika berada pada kondisi yang lebih optimal, dalam

arti unsur-unsur yang membuat siswa berada dibawah tekanan dikurangi atau dihilangkan

sama sekali.Ini menunjukkan bahwa sebenarnya para siswa tersebut menguasai materi yang

diujikan tapi gagal memperlihatkan kemampuan mereka yang sebenarnya karena kecemasan

yang melanda mereka saat menghadapi tes.

Kecemasan bisa menjadi penghambat dalam proses belajar mengajar. Sieber (dalam Sudrajat,

2012) menyatakan kecemasan dalam ujian merupakan faktor penghambat dalam belajar yang

dapat mengganggu kinerja fungsi-fungsi psikologis seseorang, seperti dalam berkonsentrasi,

mengingat, takut gagal, pembentukan konsep dan pemecahan masalah. Pada tingkat kronis

dan akut, gejala kecemasan dapat berbentuk gangguan fisik (somatik), seperti gangguan pada

saluran pencernaan, sering buang air, gangguan jantung, sesak di dada, gemetaran bahkan

(9)

Menurut Casbarro, J (dalam Tresna, 2011:33) menyebutkan bahwa:

“manifestasi kecemasan ujian terwujud sebagai kolaborasi dan perpaduan tiga aspek yang tidak terkendali dalam diri individu, yaitu: (a) Manifestasi kognitif, yang terwujud dalam bentuk ketegangan pikiran siswa, sehingga membuat siswa sulit konsentrasi, kebingungan dalam menjawab soal dan mengalami mental blocking, (b) Manifestasi Afektif, yang diwujudkan dalam perasaan yang tidak menyenangkan seperti khawatir, takut dan gelisah yang berlebihan (c) Perilaku motorik yang tidak terkendali, yang terwujud dalam gerakan tidak menentu seperti gemetar

Mengingat dampak yang ditimbulkan kecemasan menghadapi ujian beragam, maka perlu

diadakan upaya untuk mengurangi kondisi tersebut dengan menggunakan layanan konseling

kelompok. Konseling kelompok merupakan salah satu layanan bimbingan dan konseling

yang dilaksanakan secara berkelompok. Selama prosesnya, anggota dalam kelompok

tersebut dapat membantu mengatasi masalah anggota lainnya, sehingga terjadi proses saling

memberi dan menerima. Menurut Latipun (2005:147), konseling kelompok (group

counseling) merupakan salah satu bentuk konseling dengan memanfaatkan kelompok untuk

membantu, memberikan umpan balik (feedback) dan pengalaman belajar.

Wibowo (2005:33) mengungkapkan, kegiatan konseling kelompok merupakan hubungan

antar pribadi yang menekankan pada proses berpikir secara sadar, perasaan-perasaan dan

perilaku-perilaku anggota untuk meningkatkan kesadaran akan pertumbuhan dan

perkembangan individu yang sehat.

Lebih jauh pendapat tersebut diperkuat Gibson dan Mitchell (dalam Latipun : 2005:152)

bahwa konseling kelompok berfokus pada usaha membantu konseli dalam melakukan

(10)

misalnya modifikasi tingkah laku, pengembangan ketrampilan hubungan personal, nilai,

sikap atau membuat keputusan karier

Menurut Hansen (dalam Wibowo , 2005:305) tujuan konseling kelompok adalah sebagai berikut :

1. Memberikan kemudahan dalam perkembangan dan pertumbuhan siswa berkaitan dengan pribadi, sosial, belajar dan karir.

2. Membantu menghilangkan titik-titik lemah yang dapat mengganggu siswa berkaitan dengan pribadi, sosial, belajar dan karir.

3. Membantu mempercepat dan memperlancar penyelesaian masalah yang dihadapi siswa berkaitan dengan pribadi, sosial, belajar dan karir.

Uraian diatas memberikan gambaran bahwa konseling kelompok dapat membantu siswa

dalam meningkatkan dan membantu perkembangan individu menuju individu yang sehat,

membantu siswa agar dapat mengembangkan kemampuan secara optimal salah satunya

adalah dengan menurunkan kecemasan yang dirasakan siswa menghadapi ujian.

Berdasarkan uraian diatas, penulis terdorong untuk melakukan penelitian dalam upaya

menurunkan kecemasan siswa menghadapi ujian dengan penggunaan layanan konseling

kelompok. Siswa perlu diyakinkan bahwa mereka mampu menghadapi ujian tanpa harus

khawatir dengan gangguan kecemasan yang dialami, salah satu cara menurunkan kecemasan

dengan layanan konseling kelompok.

Penelitian dilakukan penulis pada kelas VIII di SMP Negeri 5 Bandar Lampung yang

merupakan rintisan sekolah bertaraf internasional. Informasi diperoleh berdasarkan hasil

(11)

melalui wawancara dengan guru Bimbingan dan Konseling, wali kelas bahwa terdapat siswa

yang mengalami kecemasan ketika akan melaksanakan Ujian Akhir Semester (UAS), yang

menunjukkan gejala dari kecemasan, seperti, kurang berkonsentrasi saat belajar, nilai

ulangan harian yang rendah, merasa gugup ketika guru menunjuk mereka untuk

mengerjakan soal latihan di depan kelas, merasa cemas menghadapi ujian, merasa takut

apabila mereka tidak naik kelas, merasa khawatir jika hasil ujiannya tidak memuasakan

sehingga harus remedial sehingga timbul rasa malu.

2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, dapat diidentifikasikan sebagai berikut: 1. Ada siswa yang gugup saat tes akan dimulai.

2. Ada siswa yang khawatir jika hasil ujian tidak memuaskan, nilainya lebih buruk dari

siswa yang lain.

3. Ada siswa yang mengalami ketakutan apabila nilai yang didapat tidak

mencapai standar yang telah ditetapkan sehingga harus mengikuti

remedial.

4. Ada siswa yang merasa malu jika harus mengikuti remedial.

5. Ada siswa yang kurang berkonsentrasi saat belajar di dalam kelas.

3. Pembatasan Masalah

Memperjelas arah dalam penelitian ini, selain karena keterbatasan kemampuan penulis serta

(12)

menghadapi ujian akhir semester (UAS) menggunakan layanan konseling kelompok pada

siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Bandar Lampung tahun pelajarn 2012-2013.”

4. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah

siswa yang mengalami kecemasan. Adapun permasalahannya adalah “Apakah kecemasan

menghadapi ujian akhir semester (UAS) dapat diturunkan menggunakan layanan konseling

kelompok ?”.

B.Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penurunan tingkat kecemasan siswa

menghadapi ujian dengan menggunakan layanan konseling kelompok.

Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah :

1. Kegunaan Teoritis

Secara teoritis penelitian ini berguna untuk mengembangkan layanan konseling kelompok

untuk menurunkan kecemasan siswa menghadapi ujian.

2. Kegunaan Praktis

Informasi yang diperoleh dari hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh guru

Bimbingan Konseling melaksanakan layanan konseling kelompok untuk menurunkan

kecemasan siswa menghadapi ujian. Selain itu, penelitian ini dapat membantu siswa

(13)

C.Kerangka Pemikiran

Penelitian ini menjelaskan tentang kecemasan menghadap ujiian Secara garis besar.

kecemasan adalah keadaan khawatir akan masa depan atau akan terjadi sesuatu yang tidak

diharapkan ataupun adanya pertentangan dalam diri. Menurut Sieber et.al (dalam Endang dan

Resminingsih, 2010:19) Kecemasan dianggap sebagai salah satu faktor penghambat dalam

belajar yang dapat mengganggu kinerja fungsi-fungsi kognitif seseorang, seperti dalam

berkonsetrasi, mengingat, pembentukan konsep dan pemecahan masalah. Pada tingkat kronis

dan akut, gejala kecemasan dapat berbentuk gangguang fisik (somatic), seperti gangguan pada

saluran pencernaan, sering buang air, sakit kepala, gangguan jantung, sesak didada,

gemetaran, bahkan pingsan.

Pembelajaran kurang efektif jika terdapat penghambat yang menghalanginya, salah satunya

adalah kecemasan. Selaras yang disampaikan oleh Tresna (2011) kesulitan dan rendahnya

prestasi belajar merupakan salah satu factor yang menjadi sorotan dunia pendidikan. Salah

satu penyebab kesulitan dan rendahnya prestasi belajar adalah kecemasan. Umumnya, siswa

mengalami kecemasan ketika dihadapkan pada pelajaran yang dianggap sulit, berorientasi

untuk mendapatkan nilai yang tinggi, guru tegas dalam mengajar serta cemas menghadapi

ujian. Siswa yang mengalami kesulitan belajar, akan sukar dalam menyerap mata pelajaran

yang disampaikan guru sehingga ia akan malas dalam belajar sehingga tidak mampu

menguasai materi, menghindari pelajaran, mengabaikan tugas-tugas yang diberikan,

penurunan nilai belajar dan prestasi nilai belajar rendah

Penelitian Hill membuktikan bahwa kecemasan dapat menjadi faktor penghambat dalam

(14)

menunjukkan bahwa sebagian besar siswa yang mengikuti tes gagal menunjukkan

kemampuan mereka yang sebenarnya disebabkan oleh situasi dan suasana tes yang membuat

mereka cemas. Sebaliknya, para siswa ini memperlihatkan hasil yang lebih baik jika berada

pada kondisi yang lebih optimal, dalam arti unsur-unsur yang membuat siswa berada dibawah

tekanan dikurangi atau dihilangkan sama sekali.

Ini menunjukkan bahwa sebenarnya para siswa tersebut menguasai materi yang diujikan tapi

gagal memperlihatkan kemampuan mereka yang sebenarnya karena kecemasan yang melanda

mereka saat menghadapi tes (Hasan, C.D.,2012)

Kecemasan pada diri siswa terwujud dalam perpaduan reaksi yang terjadi baik dari fisik,

afektif, serta motoriknya. Menurut Casbarro, J (dalam Tresna, 2011:33) menyebutkan bahwa

manifestasi kecemasan ujian terwujud sebagai kolaborasi dan perpaduan tiga aspek yang tidak

terkendali dalam diri individu, yaitu: (a) Manifestasi kognitif, yang terwujud dalam bentuk

ketegangan pikiran siswa, sehingga membuat siswa sulit konsentrasi, kebingungan dalam

menjawab soal dan mengalami mental blocking, (b) Manifestasi Afektif, yang diwujudkan

dalam perasaan yang tidak menyenangkan seperti khawatir, takut dan gelisah yang berlebihan

(c) Perilaku motorik yang tidak terkendali, yang terwujud dalam gerakan tidak menentu

seperti gemetar.

Berdasarkan teori dari beberapa ahli diatas penulis menyimpulkan kecemasan adalah

(15)

kecemasan itu mendorong individu untuk memberikan respon atau bertingkah laku terhadap

rasa cemas tersebut. Kecemasan menghadapi ujian yang timbul dari manifestasi kognitif,

afektif perilaku motorik pada siswa sebaiknya perlu mendapat penanganan khusus. Pada

penelitian ini penulis menggunakan layanan konseling kelompok sebagai perlakuan yang

diberikan untuk menurunkan kecemasan menghadap ujian.

Menurut Hansen ( Wibowo, 2005:305) tujuan konseling kelompok adalah sebagai berikut : 1. Memberikan kemudahan dalam perkembangan dan pertumbuhan siswa berkaitan dengan

pribadi, sosial, belajar dan karir.

2. Membantu menghilangkan titik-titik lemah yang dapat mengganggu siswa berkaitan dengan pribadi, sosial, belajar dan karir.

3. Membantu mempercepat dan memperlancar penyelesaian masalah yang dihadapi siswa berkaitan dengan pribadi, sosial, belajar dan karier

.

Konseling kelompok ini diselenggarakan dalam kelompok dengan memanfaatkan dinamika

kelompok yang terjadi didalam kelompok itu. Pelaksanaan konseling kelompok nantinya

diharapkan dapat membantu dalam upaya untuk membantu siswa menurunkan kecemasan

yang dialami. Proses konseling menitikberatkan bagaimana peserta kelompok dapat

menurunkan sekaligus mengelola kecemasan.

Berdasarkan uraian tersebut, maka timbul kerangka pikir dari penelitian ini. Jika siswa

mampu menurunkan tingkat kecemasan melalui layanan konseling kelompok, maka siswa

mampu menghadapi ujian dengan baik. .Berikut adalah kerangka pikir dari penelitian ini.

Tingkat

Kecemasan Tinggi Layanan

Konseling Kelompok,

(16)

Gambar 1. Kerangka Pikir Penelitian

Gambar 1 memperlihatkan bahwa pada siswa yang mengalami kecemasan tinggi, dalam

rentang waktu tertentu diberikan perlakuan menggunakan layanan konseling kelompok

dengan tujuan menurunkan tingkat kecemasan siswa sehingga diharapkan setelah diberi

perlakuan tersebut, maka siswa akan lebih siap menghadapi ujian.

D. Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah dugaan-dugaan sementara mengenai keadaan populasi dilapangan yang akan

diuji kebenarannya. Menurut Sugiyono (2011:96), hipotesis merupakan jawaban sementara

terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan

dalam bentuk kalimat perrtanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru

didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh

melalui pengumpulan data.

Agar penelitian ini terarah, dengan demikian diperlukan adanya hipotesis, adapun hipotesis

penelitian ini adalah tingginya tingkat kecemasan siswa menghadapi ujian dapat diturunkan

melalui layanan konseling kelompok.

Sedangkan, hipotesis statistik yang diajukan dalam penelitian ini adalah :

Ho Kecemasan siswa dalam menghadapi ujian tidak dapat diturunkan dengan

menggunakan layanan konseling kelompok.

Ha Kecemasan siswa dalam menghadapi ujian dapat diturunkan dengan

(17)
(18)

I. TINJAUAN PUSTAKA

Dalam tinjauan pustaka akan diuraikan lebih jelas tentang: a) kecemasan yang meliputi:

pengertian kecemasan, faktor penyebab terjadinya kecemasan, jenis kecemasan, tanda dan gejala

terjadinya kecemasani, b) layanan konseling kelompok yang meliputi: pengertian layanan

konseling kelompok, fungsi layanan konseling kelompok, persiapan pelaksanaan layanan

konseling kelompok, tahap kegiatan konseling kelompok, evaluasi kegiatan, analisis tindak

lanjut, c) kaitan antara layanan konseling kelompok dalam menurunkan kecemasan siswa

menghadapi ujian .

A.Kecemasan Menghadapi Ujian

1. Pengertian Kecemasan Menghadapi Ujian

Cemas merupakan salah satu penggambaran dari kondisi emosi, oleh sebab itu setiap makhluk

memilikinya dalam kehidupan sehari-hari. Istilah kecemasan dalam Menurut Nevid

(2003:163) menyatakan kecemasan (anxiety) adalah suatu keadaan aprehensi atau keadaan

khawatir yang mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Kecemasan dapat

menimpa siapa saja yang terjadi dengan adanya reaksi tertentu dari dalam diri.

Hal senada juga dinyatakan oleh Ramaiah (2003:17) bahwa kecemasan, adalah hasil dari

proses psikologis dan proses fisiologis dari dalam tubuh manusia, yang menunjukkan reaksi

terhadap bahaya dari indvidu yang bersangkutan mungkin kehilangan kendali dalam situasi

(19)

bencana. Ahli lain mengungkapkan bahwa kecemasan adalah suatu keadaan tegang yang

memotivasi kita untuk berbuat sesuatu Corey (2005:17).

Berdasarkan pendapat di atas bahwa kecemasan merupakan sebuah proses yang terjadi dalam

diri individu karena adanya reaksi baik secara psikologi dan fisiologis terhadap kondisi yang

mnurut individu tersebuut dapat menimbulkan bencana..

Berkaitan dengan kecemasan menghadapi ujian, setiap individu dari segala usia mengalami

proses dievaluasi dan dinilai berkaitan dengan kemampuan mereka, prestasi, atau kepentingan

hampir diseluruh bidang kehidupan, begitu juga yang terjadi pada diri remaja. Sebagaimana

yang dijelaskan oleh Sieber et.al (dalam Endang & Resminingsih, 2010:19), menjelaskan

salah satu faktor penghambat belajar adalah kecemasan:

Kecemasan dianggap sebagai salah satu faktor penghambat dalam belajar yang dapat mengganggu kinerja fungsi-fungsi kognitif seseorang, seperti dalam berkonsetrasi, mengingat, pembentukan konsep dan pemecahan masalah. Pada tingkat kronis dan akut, gejala kecemasan dapat berbentuk gangguang fisik (somatic), seperti gangguan pada saluran pencernaan, sering buang air, sakit kepala, gangguan jantung, sesak didada, gemetaran, bahkan pingsan.

Penelitian (Hill, dalam Hasan, C.D.,2012) menunjukkan bahwa sebagian besar siswa yang

mengikuti tes gagal menunjukkan kemampuan mereka yang sebenarnya disebabkan oleh

situasi dan suasana tes yang membuat mereka cemas. Sebaliknya, para siswa ini

memperlihatkan hasil yang lebih baik jika berada pada kondisi yang lebih optimal, dalam arti

unsur-unsur yang membuat siswa berada dibawah tekanan dikurangi atau dihilangkan sama

(20)

Berpijak dari hal di atas, kecemasan ujian akhir semesteradalah sebuah kondisi individu tidak

bisa melaksanakan fungsi-fungsi kognitifnya dengan sempurna, dikarenakan adanya

gangguan terhadap psikologis dan fisiologis individu. Komponen-komponen ini bergabung

untuk membuat perasaan tidak menyenangkan yang biasanya dikaitkan dengan ketegangan,

kegelisahan, ketakutan, atau khawatir sebagai reaksi terhadap adanya sesuatu yang bersifat

mengancam

2. Penyebab Terjadinya Kecemasan Menghadapi Ujian

Setiap individu, pada dasarnya senantiasa mengatasi kecemasan dengan cara melakukan

penyesuaian terhadap timbulnya rasa cemas itu bermula. Penyebab timbulnya kecemasanpun

beragam, tak terkecuali bagi siswa yang duduk dibangku sekolah. Menurut The Praxis

(2005:4-11), seseorang dapat mengalami kecemasan menghadapi ujian, penyebabnya sebagai

berikut :

1. You are unfamiliar with the test (Anda tidak terbiasa dengan tes). Tidak melakukan

pengenalan tentang tes/ujian melalui informasi dasar yang perlu diketahui tentang

tes/ujian.

Hal ini meliputi jumlah pertanyaan yang pada tes, format apa yang dipakai dalam

pertanyaan (pilihan ganda atau essay), berapa banyak waktu yang untuk mengerjakan,

topik-topik apa yang dibahas, membaca petunjuk manual yang diberikan saat ujian. Hal

(21)

2. You feel you haven’t mastered the subject being tested (Anda merasa belum menguasi

materi yang diujikan). Mempelajari materi yang diujikan bukan hanya sekedar membaca

isi buku tetapi paham secara menyeluruh terkait topik yang akan diujikan. Jika belum

menguasainya maka yang timbul adalah ketidaksiapan menghadapi ujian.

3. You have negative thoughts (Anda memiliki pikiran negative). Pikiran negative dapat

mempengaruhi ujian, sehingga perlu dilindungi dengan pikiran dan tindakan yang positif.

4. You belief certain mythys about test (Anda yakin terhadap mitos tertentu tentang tes).

Adanya mitos yang berkembang terkait ujian, maka jika ada pembicaraan/pikiran tentang

mitos bisa mengganggu dalam ujian.

5. Your body shows signs of anxiety (Adanya tanda-tanda kecemasan pada tubuh anda).

6. Tension reinforces it self and builds up. Ketika dalam tubuh terjadi ketegangan.

7. You allow the test environment to get on your nerves. Lingkungan juga berpengaruh

terhadap munculnya kegelisahan menghadapi ujian

8. Your mind goes blank or it wanders. Ketika gugup saat ujian pikiran menjadi kosong.

Individu dikatakan siap menghadapi ujian manakala penyebab kecemasan menghadapi ujian

dapat teratasi. Oleh karena itu ,dapat disimpulkan bahwa kecemasan menghadapi ujian dapat

muncul dengan timbulnya penyebab kecemasan siswa menghadapi ujian, yaitu tidak

mempelajari tentang ujian itu sendiri, kurang menguasai materi yang akan diujikan, adanya

pikiran negative dalam diri, adanya mitos seputar ujian, adanya tanda-tanda kecemasan dalam

diri, munculnya ketegangan, lingkungan yang kurang kondusif, dan kegugupan saat ujian.

(22)

Seseorang dapat mengenali kecemasan dengan lebih jelas dan dapat membedakan apakah

dirinya atau orang lain mengalami kecemasan atau tidak dengan cara mengamati reaksi-reaksi

individu terhadap rangsangan yang dihadapi.

Terdapat beberapa gejala kecemasan (Nevid, 2003):

1. Ciri – ciri fisik : Kegelisahan, kegugupan, tangan atau anggota tubuh yang gemetar, Sensasi dari pita ketat yang mengikat di sekitar dahi (mengernyit), kekencangan pada pori-pori kulit perut atau dada, banyak berkeringat, telapak tangan yang berkeringat, pening atau pingsan, mulut atau kerongkongan terasa kering, sulit berbicara, sulit bernafas, bernafas pendek, jantung yang berdebar keras atau berdetak kencang, suara yang bergetar jari-jari atau anggota tubuh yang menjadi dingin, pusing, merasa lemas atau mati rasa, sulit menelan, kerongkongan terasa tersekat, leher atau punggung terasa kaku, sensasi seperti tercekik atau tertahan, tangan yang dingin atau lembab, terdapat gangguan sakit perut atau mual, panas dingin, sering buang air kecil, wajah terasa memerah, diare, merasa sensitif atau ”mudah marah”

2. Ciri-ciri Behavioral : perilaku menghindar, perilaku melekat dan dependen, perilaku terguncang

3. Ciri-ciri Kognitif : khawatir tentang sesuatu, perasaan terganggu akan ketakutan atau aprehensi terhadap sesuatu yang terjadi di masa depan, keyakinan bahwa sesuatu yang mengerikan akan segera terjadi, tanpa ada, penjelasan yang jelas, terpaku pada sensasi kebutuhan, sangat waspada terhadap sensasi kebutuhan, merasa terancam oleh orang atau peristiwa yang normalnya hanya sedikit atau tidak mendapat perhatian, ketakutan akan kehilangan kontrol, berpikir bahwa dunia mengalami keruntuhan, berpikir bahwa semuanya tidak lagi bisa dikendalikan, berpikir bahwa semuanya terasa sangat membingungkan tanpa bisa diatasi, khawatir terhadap hal-hal yang sepele, berpikir tentang hal menganggu yang sama secara berulang-ulang, berpikir bahwa harus bisa kabur dari keramaian, kalau tidak pasti akan pingsan, pikiran terasa bercampur aduk atau kebingungan, tidak mampu menghilangkan pikiran-pikiran terganggu, berpikir akan segera mati, meskipun dokter tidak menemukan sesuatu yang salah secara medis, khawatir akan ditinggal sendirian, sulit berkonsetrasi atau memfokuskan pikiran.

(23)

“manifestasi kecemasan ujian terwujud sebagai kolaborasi dan perpaduan tiga aspek yang tidak terkendali dalam diri individu, yaitu: (a) Manifestasi kognitif, yang terwujud dalam bentuk ketegangan pikiran siswa, sehingga membuat siswa sulit konsentrasi, kebingungan dalam menjawab soal dan mengalami mental blocking, (b) Manifestasi Afektif, yang diwujudkan dalam perasaan yang tidak menyenangkan seperti khawatir, takut dan gelisah yang berlebihan (c) Perilaku motorik yang tidak terkendali, yang terwujud dalam gerakan tidak menentu seperti gemetar

Kesimpulan dari hal diatas, bahwa ada 3 hal yang menjadi gejala kecemasan seseorang dalam

menghadapi ujian, yaitu :

1. Manifestasi kognitif, ditandai dengan sulit berkonsentrasi, bingung,

munculnya mental bloking

2. Manifestasi afektif, terwujud dalam kekhawatiran, ketakutan, kegelisahan

3. Manifestasi fisiologi terwujud dengan reaksi tubuh.

B. Layanan Konseling Kelompok

Bimbingan dan konseling merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang bersifat sosial

dengan proses yang berkelanjutan. Proses bimbingan dan konseling dikatakan layanan jika

proses kegiatannya dilakukan melalui kontak langsung dengan sasaran layanan (klien), dan

langsung berkenaan dengan permasalahan ataupun kepentingan yang dirasakan oleh sasaran

layanan itu.

Adapun jenis bimbingan dan konseling, yaitu :1) Layanan Orientasi, 2) Layanan Informasi, 3)

Layanan Penempatan dan Penyaluran, 4) Layanan Pembelajaran, 5) Layanan Konseling

(24)

Penelitian ini akan menggunakan konseling kelompok. Hal ini karena masalah yang timbul

terjadi pada lebih dari satu klien.

1. Pengertian Layanan Konseling Kelompok

Rumusan mengenai konseling kelompok sudah banyak terpublikasikan, berikut pengertian

konseling kelompok menurut beberapa para ahli yaitu ,

Menurut Sukardi (2002:19), mengemukakan bahwa:

Konseling kelompok adalah layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan yang dialaminya melalui dinamika kelompok. Itu berarti bahwa dalam konseling kelompok para siswa dapat mengungkapkan berbagai masalah yang terjadi pada dirinya, dan memungkinkan mencari pemecahan masalah dengan bantuan anggota kelompok.

Konseling kelompok membantu siswa untuk dapat menyelesakan masalahnya secara

berkelompok. Layanan konseling ini yang diberikan dalam suasana kelompok yang

kegiatannya beorientasi pada masalah-masalah yang dihadapi anggota kelompok tersebut.

Gazda dalam Latipun (2005:147), mengemukakan bahwa Konseling kelompok di sekolah

merupakan:

“Kegiatan informasi kepada sekelompok siswa untuk membantu mereka menyusun rencana dan keputusan yang tepat. Konseling kelompok diselenggarakan untuk memberikan informasi yang bersifat personal, vokasional, dan sosial. Kegiatan dalam Konseling kelompok dikatakan sebagai pemberian informasi untuk keperluan tertentu bagi para anggota kelompok.”

Berpijak pada definisi dari para ahli yang ada, maka dapat disimpulkan bahwa layanan

konseling kelompok pada dasarnya adalah layanan konseling perorangan yang dilaksanakan

dalam suasana kelompok. Konseling kelompok merupakan upaya untuk membantu individu

(25)

perbaikan. Selama proses konseling terdapat konselor sebagai pemimpin kelompok dan klien,

sebagai anggota kelompok. Saat konseling pemimpin kelompok berusaha membangun

hubungan yang hangat, terbuka, permisif, dan penuh keakraban. Selain itu, terdapat

pengungkapan dan pemahaman masalah klien, penelusuran sebab-sebab timbulnya masalah,

upaya pemecahan masalah, serta kegiatan evaluasi dan tindak lanjut.

1. Tujuan Layanan Konseling Kelompok

Layanan konseling kelompok membantu individu agar dapat menjalani perkembangannya

dengan lebih lancar.

Memberi arti bahwa layanan ini mendorong dan motivasi kepada individu untuk membuat

perubahan-perubahan atau bertindak dengan memanfaatkan potensinya secara maksimal

sehingga dapat mewujudkan dirinya. Menurut Hansen (dalam Wibowo, 2005:305) tujuan

konseling kelompok adalah sebagai berikut :

1. Memberikan kemudahan dalam perkembangan dan pertumbuhan siswa berkaitan dengan

pribadi, sosial, belajar dan karir.

2. Membantu menghilangkan titik-titik lemah yang dapat mengganggu siswa berkaitan dengan pribadi, sosial, belajar dan karir.

3. Membantu mempercepat dan memperlancar penyelesaian masalah yang dihadapi siswa

berkaitan dengan pribadi, sosial, belajar dan karir.

Layanan konseling ini dimaksudkan untuk memungkinkan siswa secara bersama-sama

memperoleh berbagai bahan dari nara sumber yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari

baik sebagai individu maupun sebagai pelajar, anggota keluarga, dan masyarakat. Tujuan

konseling menurut Sukardi (2000), tujuan konseling meliputi :

1. Melatih anggota kelompok agar berani berbicara dengan orang banyak. 2. Melatih anggota kelompok dapat bertenggang rasa terhadap teman sebayanya.

(26)

4. Mengentaskan permasalahan-permasalahan kelompok.

Lebih jauh dengan layanan konseling kelompok para siswa diajak untuk bersama-sama

mengemukakan pendapat tentang sesuatu dan membicarakan topik-topik penting.

3. Dinamika Kelompok

Kelompok yang baik manakala kelompok itu diwarnai oleh semangat yang tinggi, kerjasama

yang lancar dan mantap, serta adanya saling mempercayai di antara anggota-anggotanya.

Dinamika kelompok merupakan sinergi dari semua faktor yang ada dalam semua kelompok,

artinya merupakan pengarahan secara serentak semua faktor yang dapat digerakkan dalam

kelompok itu. Dinamika kelompok merupakan jiwa yang menghidupkan dan menghidupi

suatu kelompok.

Perwujudan/perkembangan kedirian dan kehidupan kelompok harus saling menghidupi

sehingga mencapai suatu keselarasan, keserasian, dan keseimbangan diantara keduanya, yaitu

diantara tuntutan kepentingan pribadi atau kepentingan sosial. Konseling kelompok para

klien berusaha untuk menghasilkan perubahan-perubahan dalam diri sendiri, dalam sikap dan

perilaku.

4. Persiapan Pelaksanaan konseling kelompok

1. Persiapan menyeluruh meliputi persiapan fisik (tempat dan kelengkapannya), bahan,

(27)

2. Persiapan ketrampilan ; Guru pembimbing diharapkan mampu melaksanakan

teknik-teknik, antara lain :

a) Teknik umum, meliputi ; mendengar dengan baik, memahami secara penuh, merespon

secara tepat dan positif, dorongan minimal, penguatan dan keruntutan.

b) Ketrampilan memberi tanggapan, meliputi ; mengenal perasaan peserta,

mengungkapkan perasaan sendiri, dan merefleksikan.

c) Ketrampilan memberikan pengarahan, meliputi ; memberikan informasi, memberikan

nasihat, bertanya secara langsung dan terbuka, mempengaruhi dan mengajak,

menggunakan contoh pribadi, memberikan penafsiran, mengkonfrontasikan, mengupas

masalah, dan menyimpulkan.

3. Asas Kerahasiaan ; Pemimpin kelompok harus menjelaskan bahwa dalam pelaksanaan

konseling kelompok ini memiliki asas kerahasiaan, jadi sebagai anggota kelompok, maka

harus dapat menjaga rahasia ini dengan sebaik-baiknya.

5. Tahap-tahap Kegiatan Konseling Kelompok

Tahapan ini merupakan suatu kesatuan dalam seluruh kegiatan kelompok. Dengan

mengetahui dan mengguasai apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang hendaknya terjadi

dalam kelompok itu, pemimpin kelompok akan mampu menyelenggarakan kegiatan

kelompok itu dengan baik.

(28)

Tahap ini dianggap sebagai tahap persiapan pembentukan kelompok atau yang biasa disebut

prakonseling, ditandai dengan dibentuknya struktur kelompok. Proses utama selama tahap

awal ini adalah orientasi dan eksplorasi. Awalnya tahap ini akan diwarnai keraguan dan

kekhawatiran, namun juga harapan peserta.

Langkah-langkah pada tahap awal kelompok adalah :

a. Menerima secara terbuka dan mengucapkan terima kasih

b. Berdo’a

c. Menjelaskan pengertian konseling kelompok

d. Menjelaskan tujuan konseling kelompok

e. Menjelaskan cara pelaksanaan konseling kelompok

f. Menjelaskan asas-asas konseling kelompok

g. Melaksanakan perkenalan dilanjutkan rangkaian nama

2.Tahap Peralihan

Tahap ini biasa juga disebut tahap transisi. Tujuan tahap ini adalah membangun iklim saling

percaya yang mendorong anggota menghadapi rasa takut yang mucul pada tahap awal.

Langkah – langkah pada tahap peralihan adalah :

a. Menjelaskan kembali konseling kelompok

b. Tanya jawab tentang kesiapan anggota untuk kegiatan lebih lanjut

c. Mengenali suasana apabila anggota secara keseluruhan atau sebagian

(29)

tersebut

d. Memberi contoh masalah pribadi yang dikemukakan dan dibahas dalam

e. kelompok.

3.Tahap Kegiatan

Tahap ini disebut jugga tahap kerja yaitu adanya proses penggalian permasalahan yang

mendalam dan tindakan yang efektif. Menjelaskan masalah pribadi yang hendak

dikemukakan oleh anggota kelompok. Kegiatan pada tahap ini dipengaruhi pada tahap

sebelumnya, jadi apabila tahap sebelumnya berlangsung dengan efektif maka tahap ini

dilalui dengan baik, begitupun sebaliknya.

Langkah-langkah pada tahap kegiatan ini adalah :

a. Mempersilahkan anggota kelompok untuk mengemukakan masalah

pribadi masing-masing secara bergantian.

b. Memilih/menetapkan masalah yang akan dibahas terlebih dahulu.

c. Membahas masalah terpilih secara tuntas

d. Selingan

e. Menegaskan komitmen anggota yang masalahnya telah dibahas (apa yang akan

dilakukan berkenaan dengan adanya pembahasan demi terentaskan masalahnya).

4.Tahap Pengakhiran

Tahap ini pelaksanaan konseling ditandai dengan anggota kelompok mulai melakukan

perubahan tingkah laku di dalam kelompok. Konselor dapat memastikan waktu yang tepat

(30)

telah tercapai dan telah terjadi perubahan perilaku maka proses konseling dapat segera

diakhiri.

Langkah-langkah pada tahap pengakhiran ini adalah :

a. Menjelaskan bahwa kegiatan konseling kelompok akan diakhiri

b. Anggota kelompok mengemukakan kesan dan menilai kemajuan yang dicapai

masing-masing

c. Membahas kegiatan lanjutan

d. Pesan serta tanggapan anggota kelompok

e. Ucapan terima kasih

f. Berdo’a perpisahan

5.Pasca-Konseling

Saat proses konseling telah berakhir, sebaiknya konselor melakukan evaluasi terhadap

layanan konseling kelompok lebih bersifat penilaian dalam proses yang dapat dilakukan

melalui :

a. Mengamati partisipasi dan aktivitas peserta selama kegiatan berlangsung.

b. Mengungkapkan pemahaman peserta atas materi yang dibahas.

c. Mengungkapkan kegunaan layanan bagi mereka, dan perolehan mereka sebagai hasil

dari keikutsertaan mereka.

d. Mengungkapkan minat dan sikap mereka tentang kemungkinan kegiatan lanjutan.

e. Mengungkapkan kelancaran proses dan suasana penyelenggaraan layanan.

(31)

Hasil penilaian kegiatan layanan perlu dianalisis untuk mengetahui lebih lanjut seluk-beluk

kemajuan para peserta dan seluk-beluk penyelenggaraan layanan. Perlu dikaji apakah

hasil-hasil pembahasan dan atau pemecahan masalah sudah dilakukan sedalam atau setuntas

mungkin, atau sebenarnya masih ada aspek-aspek penting yang belum dijangkau dalam

pembahasan itu. Tindak lanjut dapat dilaksanakan melalui pertemuan Konseling kelompok

selanjutnya, atau melalui bentuk-bentuk layanan lainnya, atau bentuk-bentuk kegiatan non

layanan, atau kegiatan yang dianggap sudah memadai dan selesai sehingga oleh karenanya

upaya tindak lanjut tersendiri dianggap tidak diperlukan.

C.Kaitan Layanan Konseling Kelompok Dalam Menurunkan Kecemasan Siswa Dalam

Menghadapi Ujian

Siswa (peserta didik) pada dasarnya adalah individu yang siap atau dipersiapkan untuk

mengikuti proses pendidikan baik fisik dan psikologis. Siswa juga adalah manusia secara

rasional dan etnis selalu berusaha meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaannya.

Mereka merupakan suatu totalitas kehidupan, suatu pribadi yang memiliki sifat dasar terbuka

keluar (akan siap menerima perubahan) dan terbuka kedalam (terus mengembangkan

konsep-konsep individualitas). Peserta didik/siswa yang berada pada jenjang sekolah menengah

merupaka remaja yang berada pada masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa.

Menurut Garrinson ( dalam Prayitno, E : 2006) terdapat 7 kebutuhan khas dari remaja, yaitu:

1) kebutuhan kasih sayang, 2) kebutuhan akan keikutsertaan dan diterima dalam kelompok, 3)

(32)

pengakuan dari orang lain, 6) kebutuhan untuk dihargai, dan 7) kebutuhan untuk memperoleh

falsafah hidup .Kebutuhan-kebutuhan khas yang seharusnya ada pada remaja nyatanya tidak

selalu mudah diperoleh oleh siswa (remaja).

Partisipasi siswa dalam mengikuti ujian merupakan salah satu kebutuhan akan prestasi yang

dimiliki remaja. Siswa berupaya untuk mempersiapkan diri dengan baik untuk menghadapi

ujian. Namun, dalam perjalanannya, masih ada siswa yang mengalami kecemasan dalam

menghadapi ujian, merasa takut ujian yang dihadapi diluar batas kemampuan yang dimiliki,

khawatir akan hasil yang mereka peroleh, hal itu salah satu contoh penyebab kecemasan.

Menurut Casbarro, J (dalam Tresna, 2011:33) menyebutkan bahwa manifestasi kecemasan

ujian terwujud sebagai kolaborasi dan perpaduan tiga aspek yang tidak terkendali dalam diri

individu, yaitu: (a) Manifestasi kognitif, yang terwujud dalam bentuk ketegangan pikiran

siswa, sehingga membuat siswa sulit konsentrasi, kebingungan dalam menjawab soal dan

mengalami mental blocking, (b) Manifestasi Afektif, yang diwujudkan dalam perasaan yang

tidak menyenangkan seperti khawatir, takut dan gelisah yang berlebihan (c) Perilaku motorik

yang tidak terkendali, yang terwujud dalam gerakan tidak menentu seperti gemetar

Kecemasan dianggap wajar manakala siswa mampu mengatasi kekhawatirannya dan dapat

melaksanakan aktivitas belajar dengan baik dan dibuktikan dengan memperoleh nilai yang

baik. Kecemasan yang tinggi dalam menghadapi ujian tersebut tidak dapat dibiarkan begitu

saja, karena hal ini tidak hanya menyanngkut kesehatan mental siswa tetapi juga menyangkut

(33)

diturunkan, agar siswa mampu menghadapi dan menjalani ujian dengan percaya diri.

Berkaitan dengan kondisi yang ada, maka perlu kiranya membuat suatu penanggulangan yang

efektif untuk mengatasi hal tersebut. Untuk mengatasinya, upaya yang sebaiknya dilakukan

adalah memberikan bantuan melalui kegiatan layanan konseling kelompok.

Layanan ini memanfaatkan dinamika kelompok yang terjadi didalamnya. Masalah yang

dibahas dalam hal ini adalah masalah kecemasan sehingga proses konseling kelompokpun

bertujuan membantu siswa mengatasi permasalahn yang dihadapi berkataitan dengan

bagaimana mengelola kecemasan, sehingga siswa dapat lebih siap menghadapi ujian yang

dihadapi.

Hal ini sesuai dengan yang disampaikan Hansen (dalam Wibowo, 2005:305) tujuan konseling

kelompok adalah memberikan kemudahan dalam perkembangan dan pertumbuhan siswa

berkaitan dengan pribadi, sosial, belajar dan karir, membantu menghilangkan titik-titik lemah

yang dapat mengganggu siswa berkaitan dengan pribadi, sosial, belajar dan karir, membantu

mempercepat dan memperlancar penyelesaian masalah yang dihadapi siswa berkaitan dengan

pribadi, sosial, belajar dan karir.

Melalui layanan konseling kelompok diharapkan dapat membantu mengatasi permasalahan

(34)
(35)

1

III. METODE PENELITIAN

Salah satu ciri dari kegiatan ilmiah adalah terdapat suatu metode yang tepat dan

sistematis sebagai penentu ke arah pemecahan masalah, ketetapan memilih

metode merupakan persyaratan yang utama agar dapat tercapai hasil yang

diharapkan.

A. Tempat dan waktu penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 5 Bandar Lampung, waktu yang

digunakan semester genap tahun ajaran 2012-2013, terhitung Maret s/d 10

Agustus 2012

B.Metode Penelitian

Metode penelitian membantu dalam penyelenggaraan penelitian yang akan

dilakukan peneliti. Menurut Sugiyono (2011:3), metode penelitian merupakan

cara ilmiah mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental-kuasi

(quasi-eksperimental research) karena penelitian ini tidak menggunakan

kelompok kontrol dan subyek tidak dipilih secara random.

Hal ini berdasarkan pendapat Seniati (2005: 37) yang menyatakan bahwa

(36)

2

memenuhi tiga syarat utama dari suatu penelitian eksperimen yaitu manipulasi,

kontrol dan randomisasi. Kemudian diperkuat kembali dengan

pendapat,bahwa suatu penelitian dianggap eksperimental-kuasi apabila tidak

dilakukannya randomisasi dalam meneliti hubungan sebab-akibat. Hal ini

terjadi karena randomisasi sulit untuk dilakukan ataupun karena subjek sudah

memiliki variable bebas sebelumnya. (seniati,2003:37). Melihat dari

penjelasan tersebut, dalam penelitian ini peneliti tidak menggunakan kelompok

kontrol dan randomisasi, peneliti hanya melihat hasil dari pemberian layanan

konseling kelompok pada siswa yang memiliki kecemasan menghadapi ujian

yang tinggu di SMP Negeri 5 Bandar Lampung.

Selanjutnya desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah One-Group

Pretst–Posttest yaitu melakukan satu kali pengukuran didepan (pre-test)

sebelum adanya perlakuan (treatment) dan setelah itu dilakukan pengukuran

lagi (post-test). Kemudian, hasil perlakuan nantinya sesudah dapat

dibandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan.

Desain ini dapat digambarkan seperti berikut :

Gambar 3.1. pola komponen pretest dan postest Keterangan :

O1 : nilai pre test (sebelum diberikan perlakuan) yaitu pengukuran awal sebelum siswa diberikan layanan konseling kelompok

X : Perlakuan (pemberian layanan konseling kelompok pada siswa kelas VII SMPN 5 B.Lampung)

(37)

3

kedua setelah siswa diberikan layanan konseling kelompok.

C.Subjek Penelitian

Penentuan subjek penelitian ini merupakan aktivitas awal dalam proses

pengumpulan data sebelum ke tahap selanjutnya, Subjek adalah sumber data

untuk menjawab masalah. Subjek Penelitian diketahui melalui penyebaran

skala kecemasan yang dilakukan kepada siswa kelas VIII SMP Negeri 5

Bandar Lampung yang berjumlah 115 siswa.

Berdasarkan hasil penyebaran skala kecemasan, diperoleh 6 siswa yang

teridentifikasi memiliki kecemasan menghadapi ujian yang tinggi .

D.Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel

1. Variabel Penelitian

Variabel adalah subjek suatu penelitian atau apa yang menjadi perhatian suatu

penelitian. Variabel penelitian menjelaskan tentang apa dan bagaimana

penelitian ini. Menurut Sugiyono (2011:60), variabel penelitian adalah suatu

atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek atau kegiatan yang memiliki

variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian

ditarik kesimpulannya.

Berdasarkan pernyataan Sugiyono di atas, maka penulis menyatakan bahwa

(38)

4

a. Variabel Independen (X), yang biasa disebut variabel bebas adalah

merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab

perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat). Pada penelitian

ini variabel bebasnya adalah adalah konseling kelompok.

b. Variabel terikat (Y) atau yang hiasa disebut variable terikat adalah variabel

yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas.

Pada penelitian ini variabel terikatnya adalah kecemasan menghadapi

ujian.

2. Definisi Operasional Variabel

Definisi operasional merupakan uraian yang berisi perincian sejumlah indikator

yang dapat diamati dan di ukur untuk mengidentifikasikan variabel atau konsep

yang digunakan.

Kecemasan merupakan faktor penghambat bagi siswa untuk mengikuti ujian.

Kecemasan yang tinggi dalam menghadapi ujian tidak dapat dibiarkan begitu

saja, karena hal ini tidak hanya menyanngkut kesehatan mental siswa tetapi

juga menyangkut prestasi belajar siswa. Adapun yang menjadi dasar

pembuatan indikator kecemasan menghadapi ujian dalam penelitian ini adalah :

1. Manifestasi kognitif, ditandai dengan sulit berkonsentrasi, bingung,

munculnya mental bloking.

2. Manifestasi afektif, terwujud dalam kekhawatiran, ketakutan, kegelisahan

(39)

5

Sedangkan, layanan konseling kelompok adalah konseling yang dilakukan

secara berkelompok untuk memecahkan masalah-masalah anggota kelompok.

Terdapat empat tahap layanan konseling kelompok yaitu tahap pembentukan,

peralihan, kegiatan, pengakhiran.

E.Teknik Pengumpulan Data

Cara – cara yang ditempuh untuk memperoleh data yang diperlukan dalam

penelitian ini adalah:

1. Skala Kecemasan

Skala ini disusun untuk mengetahui tingkat kecemasan siswa sebelum dan sesudah diberikan layanan konseling kelompok. Skala ini dibuat dengan beberapa alternatif jawaban. Pernyataan dalam skala ini dibuat berdasarkan indikator kecemasan menghadapi ujian yang didapat dari definisi operasional.

Pernyataan dibuat dalam dua bentuk, yaitu pernyataan yang bersifat

mendukung (favourable) dan yang tidak mendukung (unfavourable). Setiap

item pernyataan disediakan lima alternatif jawaban yaitu sering, selalu, jarang,

kadang-kadang, tidak pernah.

Pernyataan yang baik ditentukan dengan memberi bobot nilai berdasarkan

jawaban langsung dengan metode summated ratings yang bertujuan

memberikan skor pada alternatif jawaban setiap pernyataan.

Berikut ini skor nilai dari masing-masing alternatif jawaban berdasarkan

(40)

6

Pernyataan Alternatif Jawaban

SS SS KKS TTS SSTS

Favourable 5 4 3 2 1

Unfavourable 1 2 3 4 5

Tabel 3.2. Skor Nilai Alternatif Jawaban

Adapun penskoran skala kecemasan menghadapi ujian ini dikategorikan

menjadi 3 yaitu : positif, sedang dan negatif. Untuk mengkategorikannya,

terlebih dahulu ditentukan besar intervalnya dengan ketentuan rumus interval

sebagai berikut :

i = NT-NR K Keterangan:

I = interval NT = nilai tertinggi NR = nilai terendah K = jumlah kategori (Hadi, 2006)

Nilai tertinggi (Nt) : 40 x 5 = 200 Nilai terendah (Nr) : 40 x 1 = 40 Kriteria (k) : 3

F. Uji Coba Instrument

Langkah awal yang dilakukan peneliti dalam melaksanakan penelitiannya

adalah melakukan uji persyaratan instrumen.

Uji coba dilakukan untuk mengetahui kemudahan cara penggunaan, tingkat

pemahaman responden terhadap pernyataan yang diajukan, serta mengetahui

(41)

7

ditempuh dalam penyusunan instrumen dilakukan dalam beberapa tahap, baik

dalam perbuatan atau uji cobanya. Lebih jelasnya dapat dilihat pada bagan di

[image:41.595.140.521.167.283.2]

bawah ini, yaitu :

Gambar 3.2. prosedur penyusunan instrumen

1. Uji Validitas dan Reliabilitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat – tingkat kevalidan

atau kesahihan suatu instrument. Menurut Sugiyono (2011:173), ”valid berarti

instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya

diukur”. Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk

mendapatkan data (mengukur) itu valid.

Untuk mengetahui kevalidan instrument dalam penelitian ini, peneliti

menggunakan validitas konstrak (construct validity). Pengujian validitas

konstrak, dapat dilakukan dengam membuat instrumen yang dikonstruksi

tentang aspek-aspek yang akan diukur dengan berlandaskan teori tertentu,

kemudian dikonsultasikan dengan para ahli.

Penelitian ini dikonsultasikan dengan tiga orang ahli dibidangnya, yaitu Wulan

Irodatiah Rahcman, S.Psi.,Psi., Dra. Renyep Proborini, M.Ed.Psi., Ranni kisi instrument

penelitian instrument penelitian instrumenuji coba revisi

(42)

8

Rahmayanthi Z, S.Pd., M.A. Berdasarkan uji ahli tersebut diperoleh kisi-kisi

sebagai berikut

Kisi Kecemasan Menghadapi Ujian

Variabel Indikator Deskriptor

Kecemasan Menghadapi

Ujian 1. Manifestasi Kognitif 1. 2. Sulit Bekonsentrasi Bingung 3. Mental Bloking 2. Manifestasi

Afektif 1. 2. Khawatir terhadap Ujian Gelisah Terhadap Ujian 3. Takut Terhadap Ujian 4. Manifestasi

[image:42.595.110.553.167.297.2]

Fisiologis 1. Reaksi Tubuh Tabel 3.2. kisi kecemasan menghadapi ujian

Kemudian, pengujian validitas skala kecemasan ini dilakukan dengan

membandingkan niai r hitung dengan r tabel, dalam hal ini peneliti

menggunakan penghitungan SPSS 17. Nilai r hitung dapat dilihat pada kolom

corrected item total correlation”, dengan kriteria uji, jika r hitung > r tabel

maka item tersebut dikatakan valid (lampiran ). Total pernyataan pada skala

kecemasan menghadapi ujian berjumlah 48 item, kemudian skala tersebut

diujicobakan, penghitungan hasil yang didapat yaitu dari 48 item ada 8 item

yang tidak valid/tidak berkontribusi. Item yang tidak valid tersebut dihilangkan

karena 40 item yang valid dianggap sudah mewakili indikator skala kecemasan

menghadapi ujian.

2. Uji Reabilitas Instrument

Reliabilitas adalah jika suatu instrument cukup dapat dipercaya untuk dapat

dipergunakan sebagai alat pengumpul data karena instrument tersebut sudah

baik. Untuk mengukur reliabilitas instrumen dalam penelitian ini menggunakan

(43)

9

Arikunto (2002:171) bahwa ”untuk mencari reliabilitas instrumen yang

skornya bukan 1 dan 0 menggunakan rumus alpha”. Adapun rumus Alpha

tersebut adalah sebagai berikut:





 

22

11

1

1

t

k

k

r

Keterangan:

r11 = Reliabilitas instrumen k = Banyaknya butir pertanyaan Σσ2 = Jumlah varian butir

2

t

= Varian totalsk

Berdasarkan hasil pengolahan data uji coba instrument ada 40 item yang

memiliki kontribusi yang besar dengan reliabilitas yang positif yakni 0,88

dengan rtabel 0,361.

Interprestasi angka korelasi menurut Prof. Sugiyono (2007) 0 – 0,199 : sangat rendah

0,20 – 0,399 : rendah 0,40 – 0,599 : sedang 0,60 – 0,799 : tinggi

0,80 – 1,0 : sangat tinggi

Dari hasil penghitungan mengggunakan SPSS 17 menunjukkan bahwa realiabilitas instrumen sangat tinggi yaitu 0,937 , sehingga instrumen kecemasan menghadapi ujian dapt dipercaya

G.Teknik Analisis Data

Data dari pelaksanaan pretest selanjutnya dianalisis dengan menggunakan

layanan konseling kelompok dengan tujuan menurunkan kecemasan siswa dalam

menghadapi ujian menggunakan metode eksperimen.

Metode ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana dampak dari suatu

perlakuan, dalam hal ini layanan konseling kelompok untuk kemudian

(44)

10

Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Wilcoxon Match Pairs Test. Uji

Wilcoxon adalah alternatif untuk uji t data berpasangan (t-paired) dimana pada uji

Wilcoxon ini data harus dilakukan pengurutan (ranking) dan kemudian baru

diproses (Santoso, 2009: 358). Dengan demikian, peneliti akan mengurutkan data

dimulai dari angka yang terbesar ke terkecil terlebih dahulu.

Dalam pelaksanaan uji Wilcoxon untuk menganalisis kedua data yang

berpasangan tersebut, dilakukan dengan menggunakan analisis uji melalui

program SPSS (Statistical Package for Social Science) 17. Hasil pengujian ini

kemudian disimpulkan untuk membuktikan adanya penurunan kecemasan siswa.

Pengambilan keputusan analisis data akan didasarkan pada hasil uji z. Hal ini

sesuai dengan pendapat Santoso (2009: 362) yang menyatakan bahwa mengambil

keputusan dapat didasarkan pada hasil uji z, yaitu:

Jika statistik hitung (angka z output) > statistik tabel (tabel z), maka Ho ditolak

(45)

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA

MELALUI MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE NUMBERED

HEADS TOGETHER KELAS V SDN 01 TEMPURAN TRIMURJO LAMPUNG TENGAH

TAHUN PELAJARAN 2012/2013

(Skripsi)

Oleh

DEVIANA MAY RITA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(46)

ABSTRAK

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA

MELALUI MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE NUMBERED

HEADS TOGETHER KELAS V SDN 01 TEMPURAN TRIMURJO LAMPUNG TENGAH

TAHUN PELAJARAN 2012/2013

Oleh

DEVIANA MAY RITA

Penelitian ini berawal dari masih rendahnya aktivitas dan hasil belajar siswa yaitu kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yaitu 65 pada mata pelajaran Matematika kelas V SDN 1 Tempuran. Tujuan penelitian adalah meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa menggunakan model Cooperative Learning tipe NHT.

Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas dengan daur pada setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Data kegiatan dikumpulkan melalui lembar observasi dan soal tes. Teknik analisis data menggunakan analisis data kualitatif dan kuantitatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model Cooperative Learning tipe NHT pada mata pelajaran matematika kelas V SDN 1 Tempuran dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa yang menunjukkan hasil perubahan pembelajaran siklus I, siklus II dan siklus III mengalami peningkatan setiap siklusnya yaitu persentase rata-rata aktivitas belajar siswa siklus I (46,9%), siklus II (55,8%), dan siklus III (67,19%). Begitu juga hasil belajar siswa pada siklus I terdapat 5 siswa (31,25%) mencapai ketuntasan belajar, pada siklus II terdapat 8 siswa (50%), dan untuk siklus III meningkat menjadi 12 siswa (81,25% ). Peningkatan hasil belajar didukung uji perbedaan hasil pre-tes dan post-tes, menggunakan uji t pada siklus I diperoleh hasil thitung = 11,33 > ttabel = 2,13, siklus II

diperoleh hasil thitung 7,74 = > ttabel = 2,13, dan siklus III diperoleh hasil thitung 5,37 = >

ttabel = 2,13 dengan α = 0,05 (taraf kepercayaan 5%), (dk): n-1 dan n = 16. Artinya

ada perbedaan antara hasil pre-tes dengan hasil post-tes secara signifikan.

(47)

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA

MELALUI MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE NUMBERED

HEADS TOGETHER KELAS V SDN 01 TEMPURAN TRIMURJO LAMPUNG TENGAH

TAHUN PELAJARAN 2012/2013

Oleh

DEVIANA MAY RITA

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan

Pada

Jurusan Ilmu Pendidikan

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(48)

HALAMAN PERSETUJUAN

Judul : PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL

COOPERATIVE LEARNING TIPE NUMBERED

HEADS TOGETHER KELAS V SDN 01

TEMPURAN TRIMURJO LAMPUNG TENGAH TAHUN PELAJARAN 2012/2013

Nama Mahasiswa : DEVIANA MAY RITA

Nomor Pokok Mahasiswa : 0813053022

Program Studi : S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD)

Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan (KIP)

MENYETUJUI,

1. Komisi Pembimbing

Dr. Alben Ambarita, M. Pd. Dra. Hj. Nelly Astuti, M. Pd.

NIP 19570711 198503 1 004 NIP 13176021 600000 0 000

2. Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan

(49)

MENGESAHKAN

1. Tim Penguji

Ketua : Dr. Alben Ambarita, M.Pd.

Sekretaris : Dra. Hj. Nelly Astuti, M.Pd.

Penguji

Bukan Pembimbing : Drs. Muncarno, M.Pd.

2. Dekan FKIP

Dr. Hi. Bujang Rahman, M.Si NIP 19600315 198503 1 003

(50)

HALAMAN PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama mahasiswa : Deviana May Rita NPM : 0813053022 Program studi : S-1 PGSD Jurusan : Ilmu Pendidikan

Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang berjudul “ Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar Matematika Melalui Model Cooperative Learning Tipe Numbered Heads Together Kelas V SDN 01 Tempuran Trimurjo Lampung Tengah Tahun Pelajaran 2012/2013” adalah asli hasil penelitian saya dan tidak plagiat, kecuali pada bagian-bagian tertentu yang dirujuk dari sumbernya dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Demikian pernyataan ini saya buat dan apabila dikemudian hari ternyata pernyataan ini tidak benar, maka saya sanggup dituntut berdasarkan Undang-Undang dan peraturan yang berlaku.

Metro, Februari 2013 Yang membuat pernyataan,

Deviana May Rita

(51)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Ganjaragung Kecamatan

Metro Barat, Kota Metro pada tanggal 07 Mei 1990,

sebagai anak pertama dari dua bersaudara dari

pasangan Bapak Mugiono dan Ibu Suyati.

Riwayat pendidikan peneliti:

1. Penulis menempuh Pendidikan Sekolah Dasar (SD) diselesaikan di SDN 06

Metro Barat pada tahun 2002.

2. Sekolah Menengah Pertama (SMP) diselesaikan di SMPN 01 Kota Metro pada

tahun 2005.

3. Sekolah Menengah Atas (SMA) diselesaikan di SMAN 02 Kota Metro pada

tahun 2008.

4. Tahun 2008 terdaftar sebagai mahasiswa program Sarjana Pendidikan

(52)

MOTTO

“Allah tidak membebankan sesuatu pada seseorang melainkan sesuai dengan

kemampuannya”.

(Q.S. Al-baqarah : 286)

”Ada waktunya ketika kau yakin semuanya berakhir. Padahal saat itu

merupakan awal.”

(Louis L’Amour)

(53)

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA

MELALUI MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE NUMBERED

HEADS TOGETHER KELAS V SDN 01 TEMPURAN TRIMURJO LAMPUNG TENGAH

TAHUN PELAJARAN 2012/2013

(Skripsi)

Oleh

DEVIANA MAY RITA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(54)

ABSTRAK

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA

MELALUI MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE NUMBERED

HEADS TOGETHER KELAS V SDN 01 TEMPURAN TRIMURJO LAMPUNG TENGAH

TAHUN PELAJARAN 2012/2013

Oleh

DEVIANA MAY RITA

Penelitian ini berawal dari masih rendahnya aktivitas dan hasil belajar siswa yaitu kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yaitu 65 pada mata pelajaran Matematika kelas V SDN 1 Tempuran. Tujuan penelitian adalah meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa menggunakan model Cooperative Learning tipe NHT.

Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas dengan daur pada setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Data kegiatan dikumpulkan melalui lembar observasi dan soal tes. Teknik analisis data menggunakan analisis data kualitatif dan kuantitatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model Cooperative Learning tipe NHT pada mata pelajaran matematika kelas V SDN 1 Tempuran dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa yang menunjukkan hasil perubahan pembelajaran siklus I, siklus II dan siklus III mengalami peningkatan setiap siklusnya yaitu persentase rata-rata aktivitas belajar siswa siklus I (46,9%), siklus II (55,8%), dan siklus III (67,19%). Begitu juga hasil belajar siswa pada siklus I terdapat 5 siswa (31,25%) mencapai ketuntasan belajar, pada siklus II terdapat 8 siswa (50%), dan untuk siklus III meningkat menjadi 12 siswa (81,25% ). Peningkatan hasil belajar didukung uji perbedaan hasil pre-tes dan post-tes, menggunakan uji t pada siklus I diperoleh hasil thitung = 11,33 > ttabel = 2,13, siklus II

diperoleh hasil thitung 7,74 = > ttabel = 2,13, dan siklus III diperoleh hasil thitung 5,37 = >

ttabel = 2,13 dengan α = 0,05 (taraf kepercayaan 5%), (dk): n-1 dan n = 16. Artinya

ada perbedaan antara hasil pre-tes dengan hasil post-tes secara signifikan.

(55)

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA

MELALUI MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE NUMBERED

HEADS TOGETHER KELAS V SDN 01 TEMPURAN TRIMURJO LAMPUNG TENGAH

TAHUN PELAJARAN 2012/2013

Oleh

DEVIANA MAY RITA

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan

Pada

Jurusan Ilmu Pendidikan

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(56)

HALAMAN PERSETUJUAN

Judul : PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL

COOPERATIVE L

Gambar

Gambar 3.2. prosedur penyusunan instrumen
Tabel 3.2. kisi kecemasan  menghadapi ujian

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan hasil belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran Kooperatif Tipe NHT menggunakan simulasi PhET dan

’’Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Cooperative Learning Tipe Numbered Heads Together (NHT) pada Mata Pelajaran IPA Kelas V B SDN 06 Metro

Aktivitas juga siswa meningkat dibuktikan dengan sebagian besar siswa terlibat aktif dalam pembelajaran, dimana siswa bersama kelompok mampu memecahkan masalah yang

Saran yang dapat diberikan adalah sebaiknya dalam pembelajaran IPA guru menerapkan pendekatan yang dapat meningkatkan keterampilan guru, aktivitas siswa, hasil belajar yaitu

Hasil penelitian menunjukkan adanya keterlaksanaan model Cooperative Learning tipe Numbered Heads Together dengan baik dan adanya peningkatan keaktivan siswa dalam

• Siswa dalam kelompok diberi soal yang telah disediakan oleh guru dalam lembar diskusi kelompok materi tentang proses pembentukan tanah karena pelapukan

Penerapan proses belajar mengajar dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif NHT dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam kelompok, mengerjakan

Simpulan Setelah melakukan analisis terhadap data penelitian pada variabel Layanan konseling kelompok menggunakan media gambar kartun terhadap kecemasan belajar peserta didik, serta