EFEKTIVITAS MODEL LEARNING CYCLE 6E DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN PREDIKSI
DAN PENGUASAAN KONSEP KOLOID
Oleh
KADEK YULIYA DEWI ASTUTI
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar SARJANA PENDIDIKAN
Pada
Program Studi Pendidikan Kimia
Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRAK
EFEKTIVITAS MODEL LEARNING CYCLE 6E DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN PREDIKSI
DAN PENGUASAAN KONSEP KOLOID
Oleh
KADEK YULIYA DEWI ASTUTI
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan efektivitas model Learning Cycle 6E dalam meningkatkan keterampilan prediksi dan penguasaan konsep koloid. Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen dengan Non-Equivalent Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPA SMA YP Unila Bandar Lampung, dengan kelas XI IPA2 dan kelas XI IPA4 sebagai sampel. Efektivitas model Learning Cycle 6E diukur berdasarkan perbedaan N-gain yang signifikan antara kelas kontrol dan kelas eksperimen serta dengan uji perbedaan dua rata-rata (uji t). Hasil penelitian menunjukkan rata-rata N-gain keterampilan prediksi untuk kelas kontrol dan kelas eksperimen yaitu 0,56 dan 0,65; sedangkan rata-rata N-gain penguasaan konsep untuk kelas kontrol dan kelas eksperimen yaitu 0,58 dan 0,73. Berdasarkan pengujian hipotesis dengan menggunakan uji-t, didapat kesimpulan bahwa model Learning Cycle 6E efektif dalam meningkatkan keterampilan prediksi dan penguasaan konsep koloid.
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR GAMBAR ... xv
I. PENDAHULUAN A.Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 4
C.Tujuan Penelitian ... 4
D.Manfaat Penelitian ... 4
E. Ruang Lingkup Penelitian ... 5
II. TINJAUAN PUSTAKA A.Teori Belajar Konstruktivisme ... 6
B. Model Pembelajaran LC 6E ... 8
C.Keterampilan Proses Sains ... 11
D.Penguasaan Konsep ... 14
E. Analisis Konsep ... 16
F. Kerangka Pemikiran ... 20
G.Anggapan Dasar ... 21
III.METODOLOGI PENELITIAN
A.Populasi dan Sampel Penelitian ... 23
B.Jenis dan Sumber Data ... 23
C.Metode dan Desain Penelitian ... 24
D.Variabel Penelitian ... 24
E. Instrumen Penelitian dan Validitasnya ... 25
F. Prosedur Pelaksanaan Penelitian ... 25
G.Hipotesis Statistik ... 28
H.Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis ... 29
IV.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.Hasil Penelitian ... 33
7. Rubrik Penskoran Pretest ... 150
8. Kisi-Kisi Soal Posttest ... 155
9. Soal Posttest ... 157
10. Rubrik Penskoran Posttest ... 164
11. Skor serta nilai Keterampilan Prediksi dan Penguasaan Konsep ... 171
12. Perhitungan ... 174
13. Lembar Aktivitas Siswa ... 196
14. Lembar Kinerja Guru ... 204
15. Surat Izin Penelitian ... 212
I. PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
IPA berkaitan dengan cara mencari tahu tentang gejala alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya berupa fakta-fakta, konsep-konsep, dan prinsip-prinsip saja tetapi merupakan suatu proses penemuan. Kimia merupakan ilmu yang termasuk rumpun IPA, oleh karenanya kimia memiliki karakteristik sama dengan IPA. Karakteristik tersebut adalah objek ilmu kimia, cara mem-peroleh serta kegunaannya.
Pada awalnya ilmu kimia diperoleh dan dikembangkan berdasarkan percoba-an namun pada perkembpercoba-angpercoba-an selpercoba-anjutnya kimia juga diperoleh dpercoba-an di-kembangkan berdasarkan teori. Ada tiga hal yang berkaitan dengan kimia yaitu, kimia sebagai produk yang berupa fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori; kimia sebagai proses atau kerja ilmiah; dan kimia sebagai sikap. Oleh sebab itu pembelajaran kimia harus memperhatikan karakteristik kimia sebagai produk, proses, dan sikap (BSNP.2006).
hukum, dan teori tersebut, sehingga tidak tumbuh sikap ilmiah dalam diri siswa. Pembelajaran kimia di SMA cenderug hanya menghafal konsep dan kurang mampu menggunakan konsep tersebut jika menemui masalah dalam kehidupan nyata yang berhubungan dengan konsep yang dimiliki, sehingga siswa kurang merasakan manfaat dari pembelajaran tersebut.
Hal ini diperkuat dari hasil wawancara dengan guru bidang studi kimia di SMA YP Unila Bandar Lampung, yang diperoleh informasi bahwa selama ini proses pembelajaran di kelas cenderung menggunakan metode ceramah, diskusi, dan presentasi (dengan menggunakan media pembelajaran power point) serta tidak dilakukan praktikum. Contohnya pada materi koloid yang pembelajarannya menggunakan metode diskusi tanpa adanya praktikum. Siswa hanya memperoleh informasi dari berbagai sumber tanpa dilibatkan langsung dalam menemukan konsep dari materi tersebut, sehingga tidak tumbuh sikap ilmiah dalam diri siswa yang menyebabkan KPS siswa kurang berkembang. Oleh karena itu, pada materi koloid diperlukan suatu model pembelajaran yang dapat membuat siswa aktif dan terlibat dalam menemukan konsep serta dapat melatih KPS siswa.
LC 6E terdiri dari 6 fase yaitu fase pendahuluan (engagement), fase eksplorasi (exploration), fase penjelasan (explaination), fase penguatan (echo), fase penerapan konsep (extension) dan fase evaluasi (evaluation).
KPS yang dapat dilatihkan pada materi koloid adalah keterampilan prediksi. Keterampilan prediksi memiliki dua indikator, yaitu (1) kemampuan mem-prediksikan dengan menggunakan pola-pola hasil pengamatan, dan (2) ke-mampuan mengemukakan apa yang mungkin terjadi pada keadaan yang belum diamati. Keterampilan prediksi ini menuntut siswa agar dapat me-nemukan suatu konsep atau meramalkan pola hasil pengamatan yang ada dan
meramalkan yang mungkin terjadi disekitar mereka, yang selama ini belum
mereka kuasai seutuhnya (Dimyati dan Moedjiono, 2002). Misalnya pada materi koloid siswa dapat memprediksikan muatan partikel koloid dari suatu
koloid yang di uji dengan tabung U berdasarkan pola hasil pengamatan yang
ada. Keterampilan ini dapat dilatihkan pada tahap extend.
Menurut studi pustaka yang mengkaji tentang model pembelajaran LC 6E yaitu hasil penelitian Siregar (2012) yang meneliti tentang Pengaruh Ke-terampilan Proses Sains melalui Model Pembelajaran Learning Cycle 6E terhadap Hasil Belajar Siswa pada Materi Fluida Statis, menunjukan bahwa adanya peningkatan hasil belajar siswa dengan digunakannya keterampilan proses sains dalam model LC 6E pada pembelajaran fisika.
B.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana efektivitas model LC 6E dalam meningkatkan keterampilan prediksi pada materi koloid?
2. Bagaimana efektivitas model LC 6E dalam meningkatkan penguasaan konsep pada materi koloid?
C.Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan, maka tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan efektivitas model LC 6E dalam meningkatkan ke-terampilan prediksi dan penguasaan konsep koloid.
D.Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak, yaitu: 1. Siswa
Dengan diterapkannya pembelajaran menggunakan model LC 6E dapat memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada siswa serta melatih keterampilan prediksi dan penguasaan konsep siswa pada materi koloid.
2. Guru dan calon guru
3. Sekolah.
Dengan diterapkannya pembelajaran menggunakan model LC 6E diharap-kan dapat dijadidiharap-kan masudiharap-kan dalam usaha meningkatdiharap-kan mutu proses pembelajaran dan hasil belajar dalam mata pelajaran Kimia di sekolah.
E.Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini adalah :
1. Pembelajaran dikatakan efektif meningkatkan keterampilan prediksi dan penguasaan konsep apabila secara statistik menunjukkan perbedaan N-gain yang signifikan antara kelas kontrol dan kelas eksperimen.
2. Model pembelajaran yang diterapkan adalah model LC 6E, yang terdiri dari 6 fase yaitu ( Engagement, Exploration, Explaination ,Echo, Extend, Evaluation ).
3. Keterampilan proses sains yang diteliti dalam penelitian ini adalah ke-terampilan prediksi, yang memiliki dua Indikator yaitu (1) kemampuan memprediksikan dengan menggunakan pola-pola hasil pengamatan, dan (2) kemampuan mengemukakan apa yang mungkin terjadi pada keadaan yang belum diamati.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Teori Belajar Konstruktivisme
Teori-teori baru dalam psikologi pendidikan dikelompokkan dalam teori pem-belajaran kontruktivis (contruktivist theories of learning ). Teori kontruktivis ini menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai.
Menurut teori kontruktivis ini, satu prinsip yang paling penting dalam psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya. Guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan memberikan ide-ide mereka sendiri, dan mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberi siswa anak tangga yang membawa siswa ke pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri yang harus memanjat anak tangga tersebut (Slavin dalam Nur,2002).
(realitas), pengetahuan kita merupakan kontruksi dari kita yang mengetahui sesuatu sehingga ilmu yang diperoleh diharapkan dapat bertahan lama. Von Glasersfeld menegaskan bahwa pengetahuan bukanlah suatu tiruan atau gambaran dari kenyataan yang ada, tetapi pengetahuan merupakan akibat dari suatu
konstruksi kognitif kenyataan melalui kegiatan seseorang. Pengetahuan itu bukanlah suatu fakta yang tinggal ditemukan, melainkan suatu perumusan yang diciptakan orang yang sedang mempelajarinya.
Teori konstruktivisme lahir dari ide Piaget dan Vygotsky. Konstruktivisme Piaget menekankan pada perkembangan kognitif anak sedangkan konstruktivisme
Vygotsky menekankan pada perkembangan sosial anak. Piaget menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skemata yang dimilikinya. Proses tersebut meliputi:
1. Skema/skemata adalah struktur kognitif yang dengannya seseorang beradaptasi dan terus mengalami perkembangan mental dalam interaksinya dengan
lingkungan. Skema juga berfungsi sebagai kategori-kategori untuk meng-identifikasi rangsangan yang datang dan terus berkembang.
skemata. Asimilasi adalah salah satu proses individu dalam mengadaptasikan dan mengorganisasikan diri dengan lingkungan baru sehingga pemahaman orang itu berkembang.
3. Akomodasi adalah proses pembentukan skema karena konsep awal sudah tidak cocok lagi. Dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman baru seseorang tidak dapat mengasimilasikan pengalaman yang baru dengan skemata yang telah dimiliki. Pengalaman yang baru itu bisa jadi sama sekali tidak cocok dengan skema yang telah ada. Dalam keadaan demikian orang akan mengada-kan akomodasi. Akomodasi terjadi untuk membentuk skema baru yang cocok dengan rangsangan yang baru atau memodifikasi skema yang telah ada
sehingga cocok dengan rangsangan itu.
4. Equilibrasi adalah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi sehingga seseorang dapat menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamnya (skemata). Proses perkembangan intelek seseorang berjalan dari disequili-brium menuju equilidisequili-brium melalui asimilasi dan akomodasi (Trianto, 2011).
Teori Vigotsky lebih menekankan pada aspek sosial dari pembelajaran. Vigotsky yakin bahwa fungsi mental yang lebih tinggi pada umunya muncul dalam percaka-pan dan kerjasama antar individu sebelum fungsi mental yang lebih tinggi itu ter-serap ke dalam individu tersebut. (Nur dan Wikandari, 2000).
B.Model Pembelajaran Learning Cycle 6E
Model learning cycle dikembangkan dari teori belajar Piaget. Model pembelajar-an ini menyarpembelajar-ankpembelajar-an agar proses pembelajarpembelajar-an dapat melibatkpembelajar-an siswa dalam kegiatan belajar yang aktif sehingga terjadi proses skema, asimilasi, akomodasi dan organisasi dalam struktur kognitif siswa. Bila terjadi proses konstruksi pengetahuan dengan baik maka siswa akan dapat meningkatkan pemahamannya terhadap materi yang dipelajari. Lebih lanjut Renner dalam Fajaroh dan Dasna (2008) mengungkapkan bahwa:
Siklus belajar (Learning Cycle) adalah suatu model pembelajaran yang ber-pusat pada siswa (student centered). Learning Cycle merupakan rangkaian tahap-tahap kegiatan (fase) yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga pem-belajar dapat menguasai kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperanan aktif.
LC pada mulanya terdiri dari tiga fase, yaitu fase eksplorasi (exploration), pengenalan konsep (concept introduction), dan aplikasi konsep (concept application). LC tiga fase saat ini telah dikembangkan dan disempurnakan menjadi 5 dan 6 fase, bahkan ada pula yang mengembangkan menjadi 7 fase. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan model LC 6 fase (Engagement, Exploration, Explaination, Echo, Extend, dan Evaluation), dan sering disebut Learning Cycle 6E (LC 6E). Tahap dari LC 6E dapat dilihat pada Gambar 1
Menurut Scheuermann dan Duran (2009) pada LC 6E ditambahkan fase echo setelah fase explain. Pada fase echo siswa memperkuat konsep yang diperoleh pada fase exploration. Peran guru pada fase echo mengkonfirmasi konsep siswa dan memberikan dukungan atau informasi tambahan jika diperlukan. Adapun penjelasan tahap-tahap dari LC6E adalah sebagai berikut:
1. Engagement
Pada fase engagement , bertujuan mempersiapkan diri siswa agar terkondisi dalam menempuh fase berikutnya dengan jalan mengeksplorasi pengetahuan awal dan ide-ide mereka serta untuk mengetahui kemungkinan terjadinya miskonsepsi pada pembelajaran sebelumnya. Dalam fase engagement ini minat dan keingintahuan (curiosity) siswa tentang topik yang akan diajarkan berusaha dibangkitkan. Pada fase ini pula siswa diajak membuat prediksi-prediksi tentang fenomena yang akan dipelajari dan dibuktikan dalam tahap eksplorasi.
2. Exploration (Eksplorasi).
Pada fase exploration, siswa diberi kesempatan untuk bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil tanpa pengajaran langsung dari guru untuk menguji prediksi, melakukan dan mencatat pengamatan serta ide-ide melalui kegiatan-kegiatan seperti praktikum dan telaah literatur
3. Explaination (Penjelasan Konsep).
4. Echo (Penguatan Konsep)
Siswa mengadakan latihan dan penguatan hasil belajar utama yang dilakukan pada fase exploration. Peran guru dalam fase ini adalah mengkonfirmasi konsep siswa dan memberi tambahan dukungan atau informasi jika diperlukan. 5. Extend, (Penerapan Konsep ).
Siswa menerapkan konsep dan keterampilan dalam situasi baru melalui kegiatan-kegiatan seperti praktikum lanjutan dan problem solving. 6. Evaluation (Evaluasi)
Pada tahap akhir, evaluation, dilakukan evaluasi terhadap efektifitas fase-fase sebelumnya dan juga evaluasi terhadap pengetahuan, pemahaman konsep, atau kompetensi siswa melalui problem solving dalam konteks baru yang kadang-kadang mendorong siswa melakukan investigasi lebih lanjut
C.Keterampilan Proses Sains
Menurut Hariwibowo dalam Fitriani (2009) mengemukakan bahwa:
Keterampilan proses adalah keterampilan yang diperoleh dari latihan ke-mampuan-kemampuan mental, fisik, dan sosial yang mendasar sebagai penggerak kemampuan-kemampuan yang lebih tinggi. Kemampuan-kemampuan mendasar yang telah dikembangkan dan telah terlatih lama-kelamaan akan menjadi suatu keterampilan.
Menurut Gagne dalam Dahar (1996) keterampilan proses sains sangat dibutuhkan untuk menggunakan dan memahami sains, karena keterampilan proses merupakan keterampilan yang khas yang digunakan oleh semua ilmuwan, serta dapat diguna-kan untuk memahami fenomena apapun juga.
Lebih lanjut, Hartono (Fitriani, 2009) mengemukakan:
Untuk dapat memahami hakikat IPA secara utuh, yakni IPA sebagai proses, produk dan aplikasi, siswa harus memiliki KPS. Dalam pembelajaran IPA, aspek proses perlu ditekankan bukan hanya pada hasil akhir dan berpikir benar lebih penting dari pada memperoleh jawaban yang benar. KPS adalah semua keterampilan yang terlibat pada saat berlangsungnya proses sains. KPS terdiri dari beberapa keterampilan yang satu sama lain berkaitan dan sebagai prasyarat. Namun pada setiap jenis keterampilan proses ada pene- kanan khusus pada masing-masing jenjang pendidikan.
Tabel 1. Indikator Keterampilan Proses Sains Dasar
Keterampilan proses sains yang ingin ditingkatkan pada penelitian ini adalah ke-terampilan prediksi. Prediksi merupakan suatu ramalan dari apa yang kemudian hari mungkin dapat diamati. Untuk dapat membuat prediksi yang dapat dipercaya tentang objek atau peristiwa, maka dapat dilakukan dengan memperhitungkan penentuan secara tepat perilaku terhadap lingkungan kita. Keteraturan dalam lingkungan kita mengizinkan untuk mengenal pola-pola dan untuk memprediksi terhadap pola-pola apa yang mungkin dapat diamati kemudian hari. Memprediksi
Keterampilan
Dasar Indikator
Mengamati (observing)
Mampu menggunakan semua indera untuk mengamati,
mengidentifikasi, dan menamai sifat benda dan kejadian secara teliti dari hasil pengamatan.
Inferensi (inferring)
Mampu membuat suatu kesimpulan tentang suatu benda atau fenomena setelah mengumpulkan, menginterpretasi data dan informasi.
Klasifikasi (classifying)
Mampu menentukan perbedaan, mengontraskan
ciri-ciri, mencari kesamaan, membandingkan dan menentukan dasar penggolongan terhadap suatu obyek.
Menafsirkan (predicting)
Mampu mengajukan perkiraan tentang sesuatu yang belum terjadi berdasarkan fakta dan yang menunjukkan suatu, misalkan
memprediksi kecenderungan atau pola yang sudah ada
menggunakan grafik untuk menginterpolasi dan mengekstrapolasi dugaan.
Meramalkan (prediksi)
Menggunakan pola/pola hasil pengamatan, mengemukakan apa yang mungkin terjadi pada keadaan yang belum diamati.
Berkomunikasi (Communicating)
dapat diartikan sebagai mengantisipasi atau membuat ramalan tentang segala hal yang akan terjadi pada waktu mendatang, berdasarkan perkiraan pada pola atau kecenderungan tertentu, atau hubungan antara fakta, konsep, dan prinsip dalam ilmu pengetahuan
Menurut (Dimyati dan Moedjiono, 2002) keterampilan Prediksi terdiri dari dua indikator yaitu :(1). kemampuan memprediksikan dengan menggunakan pola-pola hasil pengamatan dan (2). mengemukakan apa yang mungkin terjadi pada keadaan yang belum diamati. Terkait dengan indikator tersebut, Dahar (1996) menjelas-kan bahwa jika siswa dapat menggunamenjelas-kan pola-pola hasil pengamatan dan mengemukakan apa yang mungkin terjadi pada keadaan yang belum diamati, maka siswa memiliki keterampilan proses prediksi.
D.Penguasaan Konsep
menjelaskan peristiwa terjadinya muatan listrik pada partikel koloid , mendefinisi-kan koloid liofil dan liofob serta perbedaan keduanya dengan contoh yang ada di lingkungan, serta menjelaskan cara pembuatan koloid dengan cara kondensasi dan dispersi.
Penguasaan konsep akan mempengaruhi ketercapaian hasil belajar siswa. Suatu proses dikatakan berhasil apabila hasil belajar yang didapatkan meningkat atau mengalami perubahan setelah siswa melakukan aktivitas belajar, pendapat ini didukung oleh Djamarah dan Zain (2002) yang mengatakan bahwa belajar pada hakikatnya adalah perubahan yang terjadi di dalam diri seseorang setelah ber-akhirnya melakukan aktivitas belajar. Proses belajar seseorang sangat
di-pengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah pembelajaran yang digunakan guru dalam kelas, selain itu dalam belajar juga dituntut adanya suatu aktivitas yang harus dilakukan siswa sebagai usaha untuk meningkatkan penguasaan konsep.
Penguasaan terhadap suatu konsep akan lebih baik jika siswa terus belajar, sehingga siswa dapat mengetahui banyak materi pembelajaran. Sebagian besar materi pembelajaran yang dipelajari di sekolah terdiri dari berbagai konsep. Semakin banyak konsep yang dimiliki siswa, maka alternatif yang dapat dipilih dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya akan bertambah banyak. Menurut Sagala (2003) definisi konsep adalah :
Konsep merupakan pokok utama yang mendasari keseluruhan sebagai hasil ber-pikir abstrak manusia terhadap benda, peristiwa, dan fakta yang menerangkan banyak pengalaman. Pemahaman dan penguasaan konsep akan memberikan suatu aplikasi dari konsep tersebut, yaitu membebaskan suatu stimulus yang spesifik sehingga dapat digunakan dalam segala situasi dan stimulus yang mengandung konsep tersebut.
E.Analisis Konsep
Penguasaan konsep merupakan dasar dari penguasaan prinsip-prinsip dan teori-teori, artinya untuk dapat menguasai prinsip dan teori harus dikuasai terlebih dahulu konsep-konsep yang menyusun prinsip dan teori yang bersangkutan. Penguasaan konsep yang baik akan membantu pemakaian konsep-konsep yang lebih komplek.
Herron et al. dalam Fadiawati (2011) berpendapat bahwa belum ada definisi tentang konsep yang diterima atau disepakati oleh para ahli, biasanya konsep disamakan dengan ide. Markle dan Tieman dalam Fadiawati (2011) mendefinisi-kan konsep sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh ada. Mungkin tidak ada satu-pun definisi yang dapat mengungkapkan arti dari konsep. Untuk itu diperlukan suatu analisis konsep yang memungkinkan kita dapat mendefinisikan konsep, sekaligus menghubungkan dengan konsep-konsep lain yang berhubungan.
konsep. Analisis konsep dilakukan melalui tujuh langkah, yaitu menentukan nama atau label konsep, definisi konsep, jenis konsep, atribut kritis, atribut variabel, posisi konsep, contoh dan non contoh.
Menurut Suyanti (2010) analisis konsep dimaksudkan untuk mengidentifikasikan konsep-konsep esensial dalam topik-topik yang diajarkan, menyusun konsep secara rinci serta mengenali sifat, mengenali atribut, kedudukan, contoh dan non contoh. Konsep-konsep esensial yang sudah diidentifikasi dalam satu pokok bahasan dapat dilihat keterkaitannya melelui peta konsep. Konsep-konsep kimia dapat dikelompokan berdasarkan atribut-atribut konsep menjadi 7 kelompok yaitu sebagai berikut :
1. Konsep konkrit, yaitu konsep yang contohnya dapat dilihat.
2. Konsep abstrak, yaitu konsep yang contohnya tidak dapat dilihat, misalnya atom, molekul.
3. Konsep dengan atribut kritis yang abstrak tetapi contohnya dapat dilihat misalnya unsur,senyawa.
4. Konsep yang berdasarkan prinsip misalnya mol,campuran, larutan.
5. Konsep yang melibatkan pengambaran simbol, misalnya lambang unsur, rumus kimia.
6. Konsep yang menyatakan suatu sifat misalnya elektronegatif.
7. Konsep yang menunjukan atribut ukuran meliputi kg, g (ukuran massa), M, m, pH ( ukuran kosentrasi), C (ukuran muatanlistrik).
Tabel 2. Analisis Konsep Koloid
No Label
Konsep
Definisi Konsep Jenis
Konsep
Atribut Konsep Konsep Contoh Non contoh
Kritis Variabel Superordinat Koordinat Subordinat
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
1 Campuran Campuran merupakan gabungan dari dua zat atau lebih yang tidak mempunyai komposisi yang tetap dan dapat dipisahkan secara fisika.
Konsep Konkret
Gabungan dari dua zat atau lebih zat.
2. Suspensi Suspensi merupakan campuran heterogen yang terdiri dari dua fasa dan dapat dibedakan antara zat terlarut dengan zat pelarut.
Konsep konkret
Suspensi
Campuran heterogen Zat terlarut dan zat yang terdiri dari satu fasa dan tidak dapat dibedakan antara zat terlarut dengan zat pelarut.
Konsep konkret
larutan
campuran homogen zat terlarut dan
pelarut tidak dapat dibedakan
4. Koloid Koloid adalah suatu bentuk campuran yang keadaanya terletak antara larutan dan Suspensi (campuran
Campuran yang terletak antara suspensi dan larutan
Partikel
5. Aerosol Aerosol merupakan sistem koloid zat padat atau zat cair yang terdispersi dalam gas.
Konsep abstrak contoh konkret
aerosol
koloid dari partikel padat/cair yang terdispersi dalam gas
partikel
Air sungai, cat
6. sol Sol merupakan system koloid zat padat yang terdispersi dalam zat cair
jenis koloid dari partikel padat terdispersi dalam zat cair sistem koloid zat cair yang terdispersi dalam zat cair ( sistem koloid cair-cair) .
terdiri dari fase terdispersi cair dan medium pendispersi koloid yang terdiri dari gas yang terdispersi dalam zat cair
Terdiri dari fase terdispersi gas dan medium pendispersi karet busa batu apung
susu, santan, jeli
F. Kerangka Berfikir
Model pembelajaran merupakan salah satu faktor pendukung pencapaian tujuan pembelajaran. Kemampuan guru untuk memilih dan menerapkan model pem-belajaran yang tepat akan menentukan sejauh mana siswa dapat mengembangkan keterampilan proses sains siswa dalam pembelajaran IPA, khususnya mata pelajaran kimia. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan proses sains siswa adalah dengan model LC 6E. Model LC 6E merupakan rangkaian tahap-tahap kegiatan (fase) yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga siswa dapat menguasai kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperanan aktif.
Model LC 6E terdiri dari enam fase yaitu fase (engagement, exploration
kalimat mereka sendiri. Fase keempat adalah Echo, siswa mengadakan latihan dan penguatan hasil belajar utama yang dilakukan pada fase exploration. Fase kelima adalah Extend, siswa menerapkan konsep dan keterampilan dalam situasi baru. Fase terakhir dalam model LC 6E adalah Evaluation, untuk mengetahui efektivitas fase-fase sebelumnya dan juga evaluasi terhadap pengetahuan dan pemahaman konsep siswa.
Dengan fase-fase dalam model LC 6E tersebut, pembelajaran kimia dapat mem-berikan pengalaman belajar pada siswa sebagai proses dengan menggunakan sikap ilmiah agar mampu memiliki pemahaman melalui fakta-fakta yang mereka temu-kan sendiri, sehingga mereka dapat menemutemu-kan konsep, dan teori, serta dapat menghubungkan dan menerapkan pada kehidupan. Sehingga dari uraian di atas terlihat bahwa model LC 6E sangat mendukung siswa untuk mengembangkan keterampilan proses sains yang dimilikinya terutama keterampilan prediksi dan penguasaan konsep.
G. Anggapan Dasar
Anggapan dasar dalam penelitian ini adalah:
1. Siswa-siswa kelas XI IPA semester genap SMA YP Unila Bandar Lampung TP 2012/2013 yang menjadi subjek penelitian mempunyai kemampuan dasar yang sama dalam hal keterampilan prediksi dan penguasaan konsep.
H.Hipotesis Umum
III. METODOLOGI PENELITIAN
A.Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas XI IPA SMA YP Unila Bandar Lampung tahun pelajaran 2012/2013 yang berjumlah 238 siswa dan ter-sebar dalam enam kelas. Dari populasi tersebut diambil 2 kelas yang akan dijadi-kan sampel penelitian. Pengambilan sampel dilakudijadi-kan dengan teknik purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel yang didasarkan pada suatu per-timbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri, berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya, yaitu yang mempuyai kemampu-an kognitif ykemampu-ang sama atau hampir sama, dkemampu-an diperolehlah kelas XI IPA2 dkemampu-an XI IPA4 sebagai sampel penelitian. Kelas XI IPA2 sebagai kelas eksperimen yang mengalami pembelajaran dengan menggunakan model LC 6E, sedangkan kelas XI IPA4 sebagai kelas kontrol yang mengalami pembelajaran konvensional.
B.Jenis dan Sumber Data
Sumber data dibagi menjadi dua kelompok yaitu :
1. Data hasil pretest dan posttest yang bersumber dari kelas kontrol ; dan 2. Data hasil pretest dan posttest yang bersumber dari kelas eksperimen
Adapun data pendukung yang bersifat kualitatif, yaitu lembar aktivitas siswa, dan lembar observasi kinerja guru.
C.Metode dan Desain Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan menggunakan Non-Equivalent Control Group Design (Creswell, 1997). Desain penelitian ini melihat perbedaan pretest maupun posttest antara kelas eksperimen dan kelas kontrol, dengan rancangan seperti pada tabel berikut ini
Tabel 3. Desain penelitian
Pretest Perlakuan Posttest
Kelas eksperimen O1 X O2
Kelas kontrol O1 - O2
Keterangan:
X : Perlakuan berupa penerapan model Learning Cycle 6E. O1: Pretes yang diberikan sebelum perlakuan.
O2: Postes yang diberikan setelah perlakuan.
D.Variabel Penelitian
prediksi dan penguasaan konsep pada materi koloid siswa kelas XI SMA YP Unila Bandar Lampung.
E.Instrumen Penelitian dan Validitasnya
1. Instrumen.
Pada penelitian ini, instrumen yang digunakan berupa pemetaan SK-KD, silabus, RPP, lembar kerja siswa (LKS), kisi-kisi soal, serta soal-soal pretest dan posttest keterampilan prediksi dan penguasaan konsep dalam bentuk soal pilihan jamak dan uraian, lembar aktivitas siswa dan lembar observasi kinerja guru
2. Validitas
Instrumen penelitian ini menggunakan validitas isi. Adapun pengujian kevalidan isi ini dilakukan dengan cara judgment yaitu dengan pertimbangan seorang ahli, yang dalam hal ini dilakukan oleh dosen pembimbing penelitian.
F. Prosedur Pelaksanaan Penelitian
Langkah-langkah yang digunakan penelitian ini adalah: 1. Tahap prapenelitian
a. Membuat surat izin pendahuluan penelitian ke sekolah.
b. Meminta izin kepada kepala sekolah SMA YP Unila Bandar Lampung dan menyampaikan surat izin penelitian yang telah dibuat.
d. Menentukan dua kelas yang akan dijadikan sampel penelitian. 2. Tahap pelaksanaan penelitian
Prosedur pelaksanaan penelitian terdiri dari beberapa tahap, yaitu: a. Tahap persiapan
Peneliti menyusun silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS) dan instrumen tes (soal pretest dan posttest). b. Tahap penelitian
Prosedur pelaksanaan di kelas dikelompokkan menjadi dua yaitu penerapan pembelajaran dengan model LC 6E dan pembelajaran konvensional. Pada kelas XI IPA2 diterapkan model pembelajaran LC 6E , sedangkan untuk kelas XI IPA4 diterapkan pembelajaran konvensional. Prosedur
pelaksanaannya sebagai berikut:
a. melakukan pretest dengan soal yang sama pada kelas eksperimen dan kelas kontrol.
b. melaksanakan pembelajaran materi koloid sesuai model pembelajaran yang ditetapkan pada masing-masing kelas.
c. melakukan posttest dengan soal yang sama pada kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Pada penelitian ini dikembangkan alur penelitian dengan langkah-langkah penelitian seperti pada gambar berikut :
Gambar 2 Alur penelitian Pembelajaran
konvensional
Kelas kontrol (Pretes) Kelas eksperimen
Pembelajaran model LC 6E (Postes)
Analisis data
Pembahasan
Kesimpulan Observasi
Menentukan populasi dan sampel
Pembuatan instrumen dan perangkat pembelajaran
G. Hipotesis Statistik
Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis statistik., hipotesis dirumuskan dalam bentuk pasangan hipotesis nol (H0) dan hipotesis alternatif (H1). Adapun hipotesisnya yaitu :
1. Hipotesis pertama ( keterampilan prediksi)
H0 : µ1x≤ µ2x : Rata-rata N-gain keterampilan prediksi siswa di kelas yang diterapkan model LC 6E lebih rendah atau sama dengan keterampilan prediksi siswa dikelas yang diterapkan pembelajaran konvensional.
H1 : µ1x> µ2x : Rata-rata N-gain keterampilan prediksi siswa dikelas yang diterapkan model LC 6E lebih tinggi daripada keterampilan prediksi siswa dikelas yang diterapkan pembelajaran konvensional.
2. Hipotesis kedua (penguasaan konsep)
H0 : µ1y≤ µ2y : Rata-rata N-gain penguasaan konsep siswa di kelas yang diterapkan model LC 6E lebih rendah atau sama dengan penguasaan konsep siswa dikelas yang diterapkan pembelajaran konvensional.
H1 : µ1y> µ2y : Rata-rata N-gain penguasaan konsep siswa di kelas yang diterapkan model LC 6E lebih tinggi dari pada penguasaan konsep siswa dikelas yang diterapkan pembelajaran
Keterangan :
µ1 = rata-rata N-gain keterampilan prediksi dan penguasaan konsep kelas eksperimen
µ2 = rata-rata N-gain keterampilan prediksi dan penguasaan konsep kelas kontrol
x = keterampilan prediksi y = penguasaan konsep
H. Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis
1. Analisis data
Tujuan analisis data adalah untuk memberikan makna atau arti yang digunakan untuk menarik suatu kesimpulan yang berkaitan dengan masalah, tujuan, dan hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya.
a. Nilai siswa
Nilai pretes dan postes pada penilaian keterampilan prediksi dan penguasaan konsep siswa dirumuskan sebagai berikut:
Nilai siswa = ℎ � � � ℎ
ℎ x 100 ... (1)
Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menghitung N-gain yang selanjutnya digunakan untuk menguji hipotesis.
b. Gain ternormalisasi (N-gain)
Adapun rumus N-gain menurut Hake (1999) adalah sebagai berikut :
N-gain (g) = ( − )
( − ) ... (2)
Tabel 4. Klasifikasi N-gain ( g )
Besarnya N-gain (g) Interpretasi
g > 0,7 Tinggi
0,3 < g ≤ 0,7 Sedang
g ≤ 0,3 Rendah
Data gain ternormalisasi yang diperoleh diuji normalitas dan homogenitas-nya kemudan digunakan sebagai dasar dalam menguji hipotesis penelitian.
2. Pengujian Hipotesis a. Uji normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah dua kelompok sampel berasal dari populasi berdistribusi normal atau tidak. Hipotesis untuk uji normalitas :
H0 = data penelitian berdistribusi normal H1 = data penelitian berdistribusi tidak normal
Untuk uji normalitas data, digunakan rumus yang terdapat dalam Sudjana (2005) :
χ� =∑(Oi−Ei)2 Ei
... (3)
Keterangan : χ2 = uji Chi- kuadrat Oi = frekuensi observasi Ei = frekuensi harapan
b. Uji homogenitas dua varians
Uji ini dilakukan untuk mengetahui apakah data yang dibandingkan memiliki nilai rata-rata dan varians yang sama atau tidak. Hipotesis untuk uji
Homogenitas :
Ho : 2
2 2
1
= data penelitian mempunyai variansi yang homogen
H1 : 22
2
1
= data penelitian mempunyai variansi yang tidak homogen
Keterangan :
varians skor kelompok I
varians skor kelompok II
Untuk menguji homogenitas kedua varians kelas sampel, digunakan uji kesamaan dua varians, dengan rumusan statistik :
... (4)
Keterangan :
varians terbesar
varians terkecil Dengan kriteria uji
Terima H0 jika Fhitung < Ftabel, dan tolak sebaliknya (Sudjana, 2005). c. Uji perbedaan dua rata-rata.
Berikut adalah rumus untuk uji perbedaan dua rata-rata (uji-t).
hitung
=
�1
−� 2
� 1 1+1
2
... (5)
dengan
�2
=
1−1 12+(
2−1) 22 1+ 2−2
. ... (6)
Keterangan : thitung = Koefisien t
1
X = Gain rata-rata kelas eksperimen
2
X = Gain rata-rata kelas kontrol
sg2 = Varians
n1 = Jumlah siswa kelas eksperimen n2 = Jumlah siswa kelas kontrol
2 1
s = Varians kelas eksperimen
2 2
s = Varians kelas kontrol
Dengan kriteria pengujian: terima H0 jika thitung < t1-α dan tolak sebaliknya, d(k) = n1 + n2 – 2 dan tolak H0 untuk harga t lainnya. Dengan menentukan
V. SIMPULAN DAN SARAN
A.Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa: 1. Model Learning Cycle 6E pada materi koloid efektif dalam meningkatkan
keterampilan prediksi. Keterampilan prediksi dilatihkan pada fase extention 2. Model Learning Cycle 6E pada materi koloid efektif dalam meningkatkan
penguasaan konsep.
B.Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, disarankan:
1. Bagi calon peneliti lain yang tertarik melakukan penelitian agar lebih memperhatikan pengelolaan kelas dalam proses pembelajaran sehingga pembelajaran terlaksana dengan maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
Andriani, Y. 2012. Efektivitas Model Pembelajaran Problem Solving Dalam Meningkatkan Keterampilan Mengelompokkan dan Penguasaan Konsep Pada Materi Koloid. (Skripsi). Universitas Lampung. Bandar Lampung. BSNP. 2006. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Kimia SMA/MA. Depdiknas.
Jakarta.
Cartono. 2007. Profil Keterampilan Proses Sains Mahasiswa Program
Pendidikan Jarak Jauh S1 PGSD Universitas Sriwijaya. FKIP Universitas Sriwijaya. Palembang. Proceeding of The First International Seminar on Science Education.ISBN: 979-25-0599-7.
Creswell, J.W. 1997. Research Design Qualitative & Quantitative Approaches. Thousand Oaks-London-New. New Delhi. Sage Publications.
Dahar, R.W. 1996. Teor-teori Belajar. Erlangga. Jakarta.
Dimyati dan Moedjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Rineka Cipta. Jakarta.
Djamarah, S. dan Zain. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Rineka Cipta. Jakarta. Fadiawati, N. 2011. Perkembangan Konsepsi Pembelajaran Tentang Struktur
Atom Dari SMA Hingga Perguruan Tinggi. Disertasi. Perpustakaan Universitas Pendidikan Indonesia.
Fajaroh, F. , Dasna, I Wayan. 6 Januari 2008. Pembelajaran dengan Model Siklus Belajar (Learning Cycle). Diakses 15 Maret 2013(online)
http://massofa.wordpress.com/2008/01/06/pembelajaran-dengan-model-siklus-belajar-learning-cycle/.
pendekatan kontruktivis dalam pengajaran. PSMS Program Pascasarjana Unesa. Surabaya.
Hake, R. R. 1999. Analyzing Change / Gain Scores. [online]. Tersedia :
http://lists.asu.edu/cgi-bin/wa?A2=ind9903&L=area-d&&P=R6855. Diakses pukul 04.05 pm tanggal 3 Mei 2013.
Nur, M. 2002. Psikologi Pendidikaan Fondasi untuk pengajaran. PSMS Program Pascasarjana Unesa. Surabaya.
Scheuermann, Amy dan Duran, L.B. 25 Juni 2009. A 6-E Learning Cycle Science for All. Diakses 28 April 2013 dari http://cosmos.bgsu. edu/affiliated
projects/nwoTeams/Resources&Handouts/6E_Day1=2.pdf.
Sagala, S. 2003. Konsep dan Makna Pembelajaran. Alfabeta. Bandung
Sardiman. 2008. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Rajawali Pers. Jakarta. Siregar, A. Pengaruh Keterampilan Proses Sains Melalui Model Pembelajaran
Learning Cycle 6E Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Materi Fluida Statis. (Skripsi). Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Sudjana, N. 2005. Metode Statistika. PT. Tarsito. Bandung.
Suyanti, R. 2010. Strategi Pembelajaran Kimia. Graha Ilmu. Yogjakarta.
Trianto. 2011. Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Predana Media. Bandung. Uno, H. B. 2007. Perencanaan Pembelajaran. Bumi Aksara.