GAMBARAN KEPATUHAN POLA MAKAN PENDERITAHIPERTENSI YANG BEROBAT DI KLINIK SPESIALIS GINJAL DAN
HIPERTENSI RASYIDA MEDAN TAHUN 2015
SKRIPSI
Oleh: HESTI LESTARI
101000275
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
GAMBARAN KEPATUHAN POLA MAKAN PENDERITA HIPERTENSI YANG BEROBAT DI KLINIK SPESIALIS GINJAL DAN
HIPERTENSI RASYIDA MEDAN TAHUN 2015
Skripsi ini diajukan sebagai
Salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat
OLEH: HESTI LESTARI
NIM: 101000275
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
(2011) batas normal tekanan darah adalah kurang dari atau 120 mmHg tekanan sistolik dan kurang dari atau 80 mmHg tekanan diastolik.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kepatuhan pola makan penderita hipertensi yang berobat di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi
Rasyida Medan, yang ditinjau dari teori Health Belief Model. Jenis penelitian ini
adalah penelitian kuantitatif yang bersifat deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien hipertensi dalam satu tahun terakhir yang berobat di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan berjumlah 136 pasien dalam satu tahun terakhir (2014). Jumlah sampel 25 responden melalui teknik pengambilan sampel secara Accidental Sampling yaitu tehnik penentuan sampel berdasarkan kebetulan. Data diperoleh dengan menggunakan kuesioner yang dianalisis dengan analisis univariat.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, persepsi kerentanan (52,0%), persepsi keseriusan (88,0%), persepsi manfaat (92,0%), persepsi hambatan (64,0%), dan isyarat untuk bertindak (100%). Semua persepsi seperti persepsi kerentanan, keseriusan, manfaat dan hambatan, isyarat untuk bertindak, termasuk kategori kuat sehingga semua persepsi mempengaruhi tinggi rendahnya kepatuhan pola makan penderita hipertensi.
Diharapkan kepada pihak klinik agar dapat memantau kepatuhan pola makan pasien hipertensi dengan cara membuat brosur atau leftlet tentang makanan yang sehat dikonsumsi oleh penderita hipertensi. Dan diharapkan pihak klinik meningkatkan informasi kepada pasien tentang penyebab terjadinya penyakit hipertensi karena masih ada pasien tidak mengetahui apa yang menyebabkan mereka terkena penyakit hipertensi hal ini dikarenakan kurangnya informasi yang didapatkan pasien baik dari keluarga, media massa, dan media cetak.
normal blood pressure is less than 120 mm Hg or systolic pressure and less than 80 mmHg or diastolic pressure.
This study aims to describe dietary adherence of hypertensive patients who seek treatment at the Clinic Specialist Kidney and Hypertension Rasyida field, which in terms of theoretical Health Belief Model. This research is a descriptive quantitative research. The population in this study were all patients with hypertension in the past year are treated at the Clinic Specialist Kidney and Hypertension Rasyida Medan totaling 136 patients in the past year (2014). The total sample of 25 respondents through sampling technique accidental sampling technique sampling is based on chance. Data obtained using a questionnaire that was analyzed by univariate analysis.
Based on the results of research conducted, the perception of vulnerability (52.0%), the perception of the seriousness of (88.0%), perceived benefits (92.0%), perceived barriers (64.0%), and cues to action (100%) , All perceptions such as perceived susceptibility, seriousness, benefits and barriers, cues to action, including strong category so that all influence the perception of high and low compliance of patients with hypertension diet.
suggested to the clinic in order to monitor compliance with the diet of hypertensive patients by creating a brochure or leftlet about healthy foods consumed by people with hypertension. And the clinic is expected to improve information to patients about the causes of hypertension because there are still patients did not know what caused their disease hypertension this is due to lack of information obtained from both the patient's family, the media, and print media.
Tempat Lahir : Kuta Panjang
Tanggal Lahir : 09 Agustus 1992
Agama : Islam
Suku : Gayo
Jumlah Saudara : 2 orang
Nama Ayah : Alm. Hasby SE, MAP
Suku Bangsa Ayah : Indonesia
Nama Ibu : Jumiati S.Pd
Suku Bangsa Ibu : Indonesia
Pendidikan Formal :
1. Tahun 1995-1998 : TK IPC
2. Tahun 1998-2004 : SD Negeri 01 Kuta Panjang
3. Tahun 2005-2007 : SMP Swasta Darul Iman
4. Tahun 2007-2010 : SMA Negeri Perisai Aceh tenggara
5. Tahun 2010-2015 : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Pola Makan Penderita Hipertensi Yang Berobat di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan Tahun 2015” yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat.
Dalam penyusunan skripsi ini mulai dari awal hingga akhir penulis banyak memperoleh bimbingan dukungan bantuan, saran dan kritik dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Dr. Drs.Surya Utama, M.S, selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu dr. Linda T. Maas, MPH selaku Dosen Pembimbing I yang telah banyak meluangkan waktu, bimbingan, pengarahan, dan saran untuk kesempurnaan skripsi ini.
3. Bapak Drs. Tukiman, MKM, selaku Dosen Pembimbing II dan Ketua Departemen Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku yang telah banyak meluangkan waktu, bimbingan, pengarahan dan saran untuk kesempurnaan skripsi ini.
5. Bapak Drs. Eddy Syahrial, MS selaku Dosen Penguji I yang telah banyak memberikan kritik, saran dan pengarahan untuk kesempurnaan skripsi ini.
6. Bapak Drs. Alam Bakti selaku Dosen Penguji II yang telah banyak memberikan kritik, saran dan pengarahan untuk kesempurnaan skripsi ini.
7. Ibu Dr. Ir. Zulhaida Lubis, M.Kes selaku dosen Penasehat Akademik yang telah memberikan ilmu, bimbingan serta dukungan moral selama perkuliahan.
8. Seluruh Dosen dan Staf di FKM USU, terutama Departemen Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku yang telah memberikan ilmu, bimbingan serta dukungan moral selama perkuliahan.
9. Abangda Syahri selaku bagian Rekam Medik Klinik dan kepada staf Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan yang telah membantu penulis dalam melakukan penelitian.
11. Teruntuk abangda tercinta Firmansyah Novandi ST dan adik tersayang Yogi Mei Sandi yang selalu memberi doa dan semangat, serta dukungan kepada penulis selama mengikuti bangku perkuliahan.
12. Yang terkasih Andika Yudha yang selalu memberikan semangat, do’a dan
dukungan untuk membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
13. Sahabat-sahabat tersayang Try Desfi Rahayu, Rini Ria Kardina, Vinny Ardwifa, Putri, Melda Hayani, Eva Novia Andani terima kasih yang tulus untuk selalu ada dan semua hal yang telah kalian berikan.
14. Kepada teman, kakak-kakak dan adik-adik tersayang Gaby, Kamal, Riza, Bella, Ina, Vinetha, kak Patima, kak Dominika, kak Yanti, kak Nia, kak Melin, Kak Nadila, kak Ade, Putri Estha, Ika, Ayu, Oya, Widya, Rici, Yolanda dan Nadya yang sudah banyak membantu dan telah memberikan dukungan kepada penulis.
15. Terima kasih juga kepada sepupu-sepupuku tersayang kak Mayang, kak Irma, kak Mayra, kak Yossi, kak yuka, kak upit, Qory dan Lia yang selalu memberi
semangat dan do’a dalam menyelesaikan skripsi ini.
16. Teman-teman FKM USU angkatan 2010 terkhususnya teman Departemen PKIP FKM USU telah memberikan semangat dan dorongan kepada penulis.
17. semua pihak yang telah benyak membantu yang tidak dapat disebutkan satu
persatu atas dukungan, kerja sama dan do’anya.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak dalam rangka penyempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat terutama untuk kemajuan ilmu pengetahuan.
Medan,Agustus 2015
ABSTRACT ... iii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL... x
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 6
1.3 Tujuan Penelitian ... 6
1.3.1 Tujuan Umum ... 6
1.3.2 Tujuan Khusus ... 6
1.4 Manfaat Penelitian ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7
2.1 Kepatuhan ... 7
2.1.1 Pengertian Kepatuhan ... 7
2.1.2 Faktor-Faktor Yang Mendukung Kepatuhan ... 7
2.2 Pola Makan... 8
2.2.1 Pengertian Pola Makan ... 8
2.2.2 Makanan Yang Baik dan Sehat ... 9
2.2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pola Makan ... 11
2.3 Hipertensi ... 13
2.3.1 Pengertian Hipertensi ... 13
2.3.2 Klasifikasi Hipertensi ... 16
2.3.3 Gejala dan Tanda Hipertensi ... 17
2.3.4 Faktor Risiko Yang Tidak Dapat Diubah ... 18
2.3.5 Faktor Risiko Yang Dapat Diubah ... 20
2.4 Hemodialisis ... 25
2.4.1 Pengertian Hemodialis ... 25
2.5 Landasan Teori ... 25
2.5.1 Kerangka Konsep ... 29
BAB III METODE PENELITIAN ... 31
3.1 Jenis Penelitian ... 31
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 31
3.2.1 Lokasi Penelitian ... 31
3.2.2 Waktu Penelitian ... 31
3.5 Definisi Operasional... 33
3.6 Aspek Pengukuran ... 34
3.7 Instrumen... 38
3.8 Pengolahan dan Analisa Data... 38
3.8.1 Pengolahan Data... 38
3.8.2 Analisa Data ... 39
BAB IV HASIL PENELITIAN ... 40
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 40
4.2 Karakteristik Responden ... 41
4.3 Analisis Univariat... 43
4.3.1 Persepsi Kerentanan ... 43
4.3.2 Kategori Persepsi Kerentanan ... 45
4.3.3 Persepsi Keseriusan ... 46
4.3.4 Kategori Persepsi Keseriusan ... 48
4.3.5 Persepsi Manfaat ... 48
4.3.6 Kategori Persepsi Manfaat ... 51
4.3.7 Persepsi Hambatan ... 52
4.3.8 Kategori Persepsi Hambatan ... 53
4.3.9 Isyarat Untuk Bertindak ... 54
4.3.10 Kategori Isyarat Untuk Bertindak ... 58
BAB V PEMBAHASAN ... 59
5.1 Persepsi Kerentanan ... 59
5.2 Persepsi Keseriusan ... 61
5.3 Persepsi Manfaat ... 62
5.4 Persepsi Hambatan ... 62
5.5 IsyaratUntuk Bertindak ... 64
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN... 66
6.1 Kesimpulan ... 66
6.2 Saran ... 67
Tabel 4.1 Distribusi Karakteristik Responden ... 41
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Persepsi Kerentanan Terhadap Kepatuhan
Pola Makan Penderita Hipertensi Yang Berobat di Klinik
Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan ... 43
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Kategori Persepsi Kerentanan Terhadap
Kepatuhan Pola Makan Penderita Hipertensi Yang Berobat
di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan ... 45
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Persepsi Keseriusan Terhadap Kepatuhan
Pola Makan Penderita Hipertensi Yang Berobat di Klinik
Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan ... 46
Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Kategori Persepsi Keseriusan Terhadap
Kepatuhan Pola Makan Penderita Hipertensi Yang Berobat
di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan ... 48
Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Persepsi Manfaat Terhadap Kepatuhan
Pola Makan Penderita Hipertensi Yang Berobat di Klinik
Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan ... 49
Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Kategori Persepsi Manfaat Terhadap
Kepatuhan Pola Makan Penderita Hipertensi Yang Berobat
di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan ... 51
Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Persepsi Hambatan Terhadap Kepatuhan
Pola Makan Penderita Hipertensi Yang Berobat di Klinik
Tabel 4.10 Distribusi Frekuensi Isyarat Untuk Bertindak Terhadap Kepatuhan
Pola Makan Penderita Hipertensi Yang Berobat di Klinik
Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan ... 54
Tabel 4.11 Distribusi Frekuensi Kategori Isyarat Untuk Bertindak Terhadap
Kepatuhan Pola Makan Penderita Hipertensi Yang Berobat
Lampiran 2. Surat Keterangan Telah Selesai Penelitian ... 72
Lampiran 3. Kuesioner ... 73
Lampiran 4. Master Data ... 77
(2011) batas normal tekanan darah adalah kurang dari atau 120 mmHg tekanan sistolik dan kurang dari atau 80 mmHg tekanan diastolik.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kepatuhan pola makan penderita hipertensi yang berobat di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi
Rasyida Medan, yang ditinjau dari teori Health Belief Model. Jenis penelitian ini
adalah penelitian kuantitatif yang bersifat deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien hipertensi dalam satu tahun terakhir yang berobat di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan berjumlah 136 pasien dalam satu tahun terakhir (2014). Jumlah sampel 25 responden melalui teknik pengambilan sampel secara Accidental Sampling yaitu tehnik penentuan sampel berdasarkan kebetulan. Data diperoleh dengan menggunakan kuesioner yang dianalisis dengan analisis univariat.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, persepsi kerentanan (52,0%), persepsi keseriusan (88,0%), persepsi manfaat (92,0%), persepsi hambatan (64,0%), dan isyarat untuk bertindak (100%). Semua persepsi seperti persepsi kerentanan, keseriusan, manfaat dan hambatan, isyarat untuk bertindak, termasuk kategori kuat sehingga semua persepsi mempengaruhi tinggi rendahnya kepatuhan pola makan penderita hipertensi.
Diharapkan kepada pihak klinik agar dapat memantau kepatuhan pola makan pasien hipertensi dengan cara membuat brosur atau leftlet tentang makanan yang sehat dikonsumsi oleh penderita hipertensi. Dan diharapkan pihak klinik meningkatkan informasi kepada pasien tentang penyebab terjadinya penyakit hipertensi karena masih ada pasien tidak mengetahui apa yang menyebabkan mereka terkena penyakit hipertensi hal ini dikarenakan kurangnya informasi yang didapatkan pasien baik dari keluarga, media massa, dan media cetak.
normal blood pressure is less than 120 mm Hg or systolic pressure and less than 80 mmHg or diastolic pressure.
This study aims to describe dietary adherence of hypertensive patients who seek treatment at the Clinic Specialist Kidney and Hypertension Rasyida field, which in terms of theoretical Health Belief Model. This research is a descriptive quantitative research. The population in this study were all patients with hypertension in the past year are treated at the Clinic Specialist Kidney and Hypertension Rasyida Medan totaling 136 patients in the past year (2014). The total sample of 25 respondents through sampling technique accidental sampling technique sampling is based on chance. Data obtained using a questionnaire that was analyzed by univariate analysis.
Based on the results of research conducted, the perception of vulnerability (52.0%), the perception of the seriousness of (88.0%), perceived benefits (92.0%), perceived barriers (64.0%), and cues to action (100%) , All perceptions such as perceived susceptibility, seriousness, benefits and barriers, cues to action, including strong category so that all influence the perception of high and low compliance of patients with hypertension diet.
suggested to the clinic in order to monitor compliance with the diet of hypertensive patients by creating a brochure or leftlet about healthy foods consumed by people with hypertension. And the clinic is expected to improve information to patients about the causes of hypertension because there are still patients did not know what caused their disease hypertension this is due to lack of information obtained from both the patient's family, the media, and print media.
Hipertensi adalah kondisi medis kronis dengan tekanan darah di arteri
meningkat. Peningkatan menyebabkan jantung harus bekerja lebih keras dari
biasanya untuk mengedarkan darah melalui pembuluh darah. Menurut WHO
(2011) batas normal tekanan darah adalah kurang dari atau 120 mmHg tekanan
sistolik dan kurang dari atau 80 mmHg tekanan diastolik. Seseorang
dinyatakan mengidap hipertensi bila tekanan darahnya lebih dari 140/90
mmHg.
Berdasarkan data WHO dalam Non-Communicable Dissease Country
Profiles (2011), prevalensi hipertensi di dunia secara keseluruhan mencapai
40% pada usia 25 tahun ke atas. Sementara itu, di Asia diperkirakan 30% orang
menderita hipertensi. Indonesia merupakan negara yang prevalensi
hipertensinya lebih besar jika dibandingkan dengan negara Asia yang lain
Bangladesh, Korea, Nepal dan Thailand (WHO Sount East Asia Region, 2011).
Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia (2006), hipertensi merupakan penyakit
tidak menular sebagai penyebab kematian terbanyak yang menempati urutan
ke-5 dirumah sakit di Indonesia dengan jumlah kematian 1629 (2,1%).
Di dunia, sedikitnya sekitar 7,6 juta orang pada tahun 2011 meninggal
lebih dini karena hipertensi. Data World Health Organization (WHO) tahun
2000 menunjukkan, di seluruh dunia, sekitar 972 juta orang atau 26,4%
penduduk di seluruh dunia menderita hipertensi. Angka ini kemungkinan akan
333 juta berada di negara maju dan 639 sisanya berada di negara sedang
berkembang, termasuk Indonesia.
Hasil Riskesdas tahun 2013 di Indonesia Prevalensi hipertensi di Indonesia
yang didapat melalui pengukuran pada umur ≥18 tahun sebesar tertinggi di
Sulawesi Utara (15,0%), diikuti Kalimantan Selatan (13,1%), DI Yogyakarta
(12,8%),Sulawesi Tengah (10,6%),Gorontalo (11,1%), terendah di Papua
sebesar (3,2%) dan di Sumatera Utara sebesar (6,6%).
Profil Kesehatan Sumatera Utara(2001) melaporkan bahwa
prevalensihipertensi di Sumatera Utara sebesar 91 per100.000 penduduk,
sebesar 8,21% padakelompok umur di atas 60 tahun untukpenderita rawat
jalan. Berdasarkan penyakitpenyebab kematian pasien rawat inap di Rumah
Sakit Kabupaten/Kota ProvinsiSumatera Utara, hipertensi mendudukiperingkat
pertama dengan proporsi kematiansebesar 27,02% (1.162 orang),
padakelompok umur ≥ 60 tahun sebesar 20,23%(1.349 orang).
Ada beberapa faktor yang menyebabkan hipertensi, antara lain
karakteristik individu (usia, jenis kelamin, riwayat penyakit hipertensi), pola
makan (kebiasaan konsumsi lemak), status gizi overweight atau obesitas, dan
gaya hidup (kurang aktivitas fisik, stress dan kebiasaan merokok).
Sesungguhnya gaya hidup merupakan faktor terpenting yang sangat
mempengaruhi kehidupan masyarakat. Gaya hidup yang tidak sehat, dapat
menyebabkan terjadinya penyakit hipertensi, misalnya; Makanan, aktifitas
Jenis makanan yang menyebabkanhipertensi yaitu makanan yang siap saji
yang mengandung pengawet, kadar garam yang terlalu tinggi dalam makanan,
kelebihan konsumsi lemak (Susilo, 2011).
Konsumsi makanan yang tinggi lemak berhubungan dengan kenaikan
tekanan darah. Berdasarkan penelitian, risiko hipertensi berhubungan dengan
intake diary products (makanan yang berasal dari mamalia, seperti susu dan
hasil olahannya). Intake low-fat diary products berkontruksi untuk mencegah
hipertensi pada masa tua (Engberink, 2009). Pada studi lain yang melakukan
intervensi diet rendah lemak (dengan rasio lemak tidak jenuh: lemak jenuh
sebesar 1,2) pada subjek penelitiannya, setelah 6 minggu ditemukan penurunan
7,7 pada tekanan darah sistolik dan 2,8 mmHg pada tekanan darah diastolik
(Iacono, 2009).
Hasil penelitian Simamora (2012), menunjukkan bahwa kelompok kasus
ada sebanyak 103 orang (78,6%) dengan pola makan tidakbaik, sedangkan
pada kelompok kontrol ada sebanyak 57 orang (43,5%) dengan polamakan
tidak baik. Kemudian kelompok kasus ada sebanyak 28 orang (21,4%)
denganpola makan baik, sedangkan pada kelompok kontrol ada sebanyak 74
orang (56,5%)dengan pola makan baik. Pola makan yang menyebabkan
terjadinya penyakit hipertensi karena pengkonsumsian makanan yang tidak
sehat seperti jeroan, keripik asin, otak-otak, makanan dan minuman yang
didalam kaleng (sarden, kornet). Hal ini dikarenakan makanan diatas tidak
sesuai dengan kalori yang dibutuhkan dan mengandung banyak bahan
Hasil penelitian Stefhany (2012), menunjukkan bahwa kebiasaan
konsumsi lemak dibagi menjadi 2 kelompok yaitu sering dan tidak sering.
Responden paling banyak memiliki kebiasaan konsumsi lemak “sering” yaitu
sebanyak 64 responden (52,0%), dibandingkan dengan responden yang
memiliki kebiasaan konsumsi lemak “tidak sering” yaitu sebanyak 59
responden (48,0%). Responden yang memiliki kebiasaan konsumsi natrium
“tidak sering” yaitu sebanyak 62 responden (50,4%), dibandingkan dengan responden yang memiliki kebiasaan konsumsi natrium “sering” yaitu sebanyak
61 responden (49,6%). Responden yang memiliki kebiasaan konsumsi kalium
“tidak sering” yaitu sebanyak 64 responden (52,0%), dibandingkan dengan
responden yang memiliki kebiasaan konsumsi kalium “sering” yaitu sebanyak
59 responden (48,0%).
Hasil penelitian Chairiah (2012), menunjukkan bahwa pengaruh pola
makan dan status gizi terhadap kejadian hipertensi pada ibu
hamilmengkonsumsi makanan berdasarkan jumlahasupan energi, protein,
lemak dan natrium yang di lakukan selama 60 hari pemantauan pola makan
menurut asupan energi yang terbanyak adalah kategori baik yaitusebanyak 32
responden (53,3%). Sementara asupan energi yang tidak baik (>2750kal)
(38,3%) lebih tinggi dari asupan energi yang tidak baik (< 2250 kal)
sebesar(8,4%). Jumlah responden berdasarkan asupan protein yang dikonsumsi
yang terbanyak adalah pada kategori tidak baik yaitu sebanyak 29 responden
(48,3%).Sementara asupan protein yang tidak baik (>66 gram) (40,0%) lebih
respondenberdasarkan asupan Lemak yang dikonsumsi yang terbanyak adalah
pada kategoribaik yaitu sebanyak 37 responden (61,7%). Sementara asupan
lemak yang tidak baik(>88 gram) (28,3%) lebih tinggi dari asupan lemak yang
tidak baik (< 72 gram)sebesar (10,0%). Jumlah responden berdasarkan Asupan
Natrium yang dikonsumsiyang terbanyak adalah pada kategori baik yaitu
sebanyak 31 responden (51,7%).Sementara asupan Natrium yang tidak baik
(>2,64 mgr) (53,3%) lebih tinggi dariasupan Natrium yang tidak baik (< 2,16
mgr) sebesar (13,0%).
Berdasarkan hasil survei pendahuluan pada penderita hipertensi di Klinik
Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan didapatkan 136 pasien
penderita hipertensi selama satu tahun (2014). Dari wawancara yang saya
lakukan dengan 6 orang penderita hipertensi, kebiasaan yang masih mereka
lakukan setelah menderita henyakit hipertensi sering mengkonsumsi makanan
tinggi lemak, sering mengkonsumsi makanan yang berkaleng (sarden dll),
mengkonsumsi garam berlebih dan tidak pernah melakukan aktivitas fisik.
Hipertensi pada dasarnya merusak pembuluh darah. Darah dialiri
asupan-asupan lemak ke sel-sel pembuluh darah. Selanjutnyadinding pembuluh darah
yang makin tebal karena lemak tersebut bisa mempersempitpembuluh darah.
Jika ini terjadi pada ginjal,tentu akan terjadi kerusakan ginjal yangberakibat
kepada penyakit gagal ginjal.Jika pembuluh darahnya ada pada ginjal,tentu
ginjalnya yang mengalami kerusakan.
Hipertensi bisa berakibat gagalginjal.Sedangkan bila sudah menderita
dalammengendalikan tekanan darah.Oleh karena itu,berbagai penyakit dan
kelainan pada ginjal bisamenyebabkan terjadinya tekanan darahtinggi.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka yang menjadi rumusan masalah
dari penelitian ini adalah bagaimana gambaran pola makan pada penderita
hipertensi yang berobat di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida
Medan.
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pola makan pada penderita hipertensi yang
berobat di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan.
1.3.2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui gambaran variabel demografis individu (umur, jenis
kelamin, pendidikan dan penghasilan).
b. Untuk mengetahui kerentanan yang dirasakan terhadap kejadian hipertensi.
c. Untuk mengetahui keseriusan yang dirasakan terhadap kejadian hipertensi.
d. Untuk mengetahui persepsi manfaat dan hambatan yang dirasakan terhadap
kepatuhan pola makan.
e. Untuk mengetahui isyarat untuk bertindak terhadap kepatuhan pola makan.
1.4 Manfaat Penelitian
a. Memberikan masukan dan informasi kepada Klinik Spesialis Ginjal dan
Hipertensi Rasyida Medan mengenaihipertensi.
b. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai sumber informasi atau acuan
2.1.1 Pengertian Kepatuhan
Kepatuhan adalah tingkat ketepatan perilaku seorang individu dengan
nasehat medis atau kesehatan. Dengan menggambarkanpenggunaan obat sesuai
petunjuk pada resep serta mencakup penggunaannya pada waktu yang benar
(Siregar, 2006).
Kepatuhan berasal dari kata dasar patuh yang artinya taat. Kepatuhan
adalahperilaku pasien dalam melaksanakan cara pengobatan dan perilaku yang
disarankan dokter atau orang lain (Arisman, 2004).
Kepatuhan adalah tingkat seseorang dalam melaksanakan suatu aturan dan
perilaku yang disarankan. kepatuhan ini dibedakan menjadi dua yaitukepatuhan
penuh (total compliance) dan penderita yang tidak patuh (noncompliance).
2.1.2 Faktor-faktor yang Mendukung Kepatuhan
Menurut Feuer Stein dalam Niven (2002) ada beberapa faktor yang
mendukung sifat patuh, diantaranya :
a. Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
pendidikan tersebut merupakan pendidikan yang aktif.
b. Modifikasi faktor lingkungan dan sosial.
Membangun dukungan sosial dari keluarga dan teman-teman sangat
penting, kelompok pendukung dapat dibentuk untuk membantu memahami
kepatuhan terhadap program pola makan yang sehat.
c. Meningkatkan interaksi profesional kesehatan dengan pasien.
Suatu hal yang penting untuk memberikan umpan balik pada pasien
setelah memperoleh informasi pemilihan pola makan yang sehat.
2.2 Pola Makan
2.2.1 Pengertian Pola Makan
Pola makan adalah berbagai informasi yang memberi gambaran mengenai
jumlah dan jenis bahan makanan yang dimakan setiap hari oleh satu orang dan
mempunyai ciri khas untuk suatu kelompok masyarakat tertentu (Lie Hong Gong,
1985). Sedangkan menurut Suhardjo (1989), pola makan adalah cara seseorang
atau sekelompok orang (keluarga) dalam memilih makanan sebagai tanggapan
terhadap pengaruh fisiologis, psikologis, kebudayaan sosial.
Pola makan suatu daerah berubah-ubah sesuai dengan perubahan beberapa
faktor atau kondisi setempat yang dapat dibagi dalam dua bagian, yaitu:
1. Faktor yang berhubungan dengan persediaan dan pengedaan bahan pangan.
Dalam kelompok ini termasuk geografi, iklim, kesuburan tanah, yang dapat
mempengaruhi jenis tanaman dan jumlah produksinya di suatu daerah.
2. Faktor adat istiadat yang berhubungan dengan konsumentaraf sosio ekonomi dan
adat istiadat setempat memegang peranan penting dalam pola konsumsi makan
rendahnya jumlah konsumsi bahan pangan di suatu daerah. Demikian juga dalam
keluarga, jumlah anggota keluarga akan mempengaruhi pola konsumsi makan
anggota keluarga. Apalagi dengan pengetahuan, pendapatan yang rendah dan
jumlah anak yang banyak cenderung pola konsumsi akan menjadi berkurang.
2.2.2 Makanan Yang Baik dan Sehat
Keadaan gizi seseorang dipengaruhi oleh makanan yang dimakannya,
beberapa penelitian menunjukkan bahwa makanan adekuat adalah memenuhi
persyaratan kesehatan dan gizi dalam jumlah dan mutu yang cukup,
dipengaruhi terhadap produktifitas seseorang.
Makanan adalah kebutuhan pokok manusia, tidak ada manusia yang hidup
tanpa makan. Meskipun demikian orang makan dengan cukup kenyang belum
tentu sehat, dapat menderita gejala penyakit. Hal ini disebabkan, meskipun
orang tersebut cukup mendapat dari segi jumlah, tetapi tidak mengandung
zat-zat yang diperlukan tubuh sesuai dengan dibutuhkan.
Makanan yang beranekaragam dijamin dapat memberikan manfaat yang
besar terhadap kesehatan, sebab zat gizi tertentu yang tidak terkandung dalam
satu jenis bahan makanan akan dilengkapi oleh zat gizi serupa dari bahan
makanan yang lain. Demikian juga sebaliknya, masing-masing bahan makanan
dalam susunan aneka ragam menu seimbang akan saling melengkapi.
Kesimpulannya makan dihidangkan yang beranekaragam dapat menjamin
terpenuhinya kecukupan sumber zat tenaga zat pembangunan dan zat pengatur
Makanan yang kita makan sehari-hari dinilai sehat untuk mencukupi
kebutuhan tubuh, apabila makan tersebut tersusun atau terdiri dari bahan
makanan yang mempunyai tiga kegunaan yang disebut Tri Guna Makanan,
yaitu:
1. Mengandung zat tenaga adalah beras, jagung yang mengandung
karbohidrat, serta minyak, margarin dan santan yang mengandung lemak.
2. Mengandung zat pembangun berguna untuk pertumbuhan dan mengganti
jaringan tubuh yang rusak. Bahan makanan sumber zat pembangun yang
berasal dari hewan mengandung protein hewani dan protein nabati seperti
telur dan kacang tanah.
3. Mengandung zat pengatur berguna untuk semua fungsi tubuh dan
melindungi tubuh dari penyakit. Bahan makanan sumber zat pengatur
adalah semua jenis sayur-sayuran dan buah-buahan, yang mengandung
berbagai macam vitamin dan mineral.
Setiap orang yang dianjurkan cukup makanan ketiga unsur tersebut dalam
satu hidangan lengkap pada setiap kali malam. Frekuensi makan dalam satu
hari umumnya tiga kali yaitu pagi, siang dan malam. Diantaranya makan pagi
dan makan malam. Apalagi hanya satu atau dua kali makan setiap hari, makan
intake konsumsi mungkin berkurang baik kualitas maupun kuantitas (Soeharjo,
1989).
Pola makan yang baik mengandung makanan pokok, lauk-pauk,
kebutuhan. Dengan bertambahnya umur seseorang ia akan memerlukan
makanan dalam jumlah dan jenis yang berbeda-beda.
2.2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pola Makan
Pola makan yang terbentuk sangat erat kaitannya dengan kebiasaan makan
seseorang. Secara umum faktor yang mempengaruhi terbentuknya pola makan
adalah sebagai berikut :
1. Faktor ekonomi
Variabel ekonomi yang cukup dominan dalam mempengaruhi konsumsi
pangan adalah pendapatan keluarga dan harga. Meningkatnya akan
pendapatan akan meningkatkan peluang untuk membeli pangan dengan
kuantitas dan kualitas yang lebih baik, sebaliknya penurunan pendapatan
akan menyebabkan menurunnya daya beli pangan baik secara kualitas
maupun kuantitas.
2. Faktor sosio budaya
Kebudayaan suatu masyarakat mempunyai kekuatan yang cukup besar
untuk mempengaruhi seseorang dalam memilih dan mengolah pangan
yang akan dikonsumsi. Kebudayaan menuntun orang dalam cara
bertingkah laku dan memenuhi kebutuhan dasar biologinya, termasuk
kebutuhan terhadap pangan.
3. Agama
Pantangan yang didasari agama, khususnya Islam disebut haram dan
individu yang melanggar hukumnya berdosa. Konsep halal dan haram
4. Pendidikan
Pendidikan dalam hal ini biasanya dikaitkan dengan pengetahuan, akan
berpengaruh terhadap pemilihan bahan makanan dan pemenuhan
kebutuhan gizi.
5. Lingkungan
Faktor lingkungan cukup besar pengaruhnya terhadap pembentukan
perilaku makan. Lingkungan yang dimaksud dapat berupa lingkungan
keluarga, sekolah, serta adanya promosi melalui media elektronik maupun
cetak.
Pola makanan yang tidak seimbang antara asupan dengan kebutuhan baik
jumlah maupun jenis makanannya, seperti makan makanan tinggi lemak,
kurang mengonsumsi sayuran, buah dan sebagainya juga makan makanan yang
melebihi kebutuhan tubuh bisa menyebabkan obesitas atau kegemukan
(Supariasa, 2002).
Kejadian penyakit infeksi dan kekurangan gizi dapat diturunkan jika pola
makan seimbang, sebaliknya penyakit degeneratif dan penyakit kanker
meningkat jika pola makanan tidak seimbang. Di beberapa daerah masalah
penyakit infeksi masih menonjol sehingga dalam transisi epidemiologi kita
menghadapi beban ganda (Double Burden), peningkatan kemakmuran diikuti
oleh perubahan gaya hidup karena pola makan, di kota-kota besar berubah dari
pola makan tradisional yang mengandung banyak karbohidrat, serat dan
mengandung protein, lemak, gula dan garam tetapi rendah serat (Depkes RI,
2008).
Gaya hidup pada zaman modern ini telah mendorong orang mengubah
gaya hidup seperti makan makanan siap saji, makanan kalengan, sambal
botolan, minuman kaleng, buah dan sayur yang memakai bahan pengawet,
makanan kaya lemak, makanan kaya kolesterol. Gaya hidup seperti ini tidak
baik untuk tubuh dan kesehatan karena tubuh kita menjadi rusak karena
makanan yang tidak sehat sehingga tubuh menjadi lembek dan rentan penyakit
(Depkes RI, 2008).
2.3 Hipertensi
2.3.1 Pengertian Hipertensi
Hipertensi menurut Sidabutar, RP dan Wiguna P (1990) adalah suatu
keadaan di mana terjadi peningkatan tekanan darah (hasil perkalian antara
curah jantung dan resistensi perifer), di mana seseorang dapat dikatakan
menderita hipertensi bila tekanan sistolik sama atau lebih dari 130 mmHg dan
tekanan diastolik sama atau lebih dari 90 mmHg. Tingginya tekanan sistolik
berhubungan dengan besarnya curah jantung sedangkan tingginya tekanan
diastolik berhubungan dengan besarnya resistensi perifer dapat meningkatkan
tekanan darah.
Hipertensi juga didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana
tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90 mmHg.
Pada populasi lanjut usia, Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160
Kaplan N.M (2006) adalah keadaan tekanan darah sistolik lebih dari 140
mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 90mmHg.
Pada pengukuran tekanan darah dikenal dua istilah, yaitu tekanan darah
sistolik dan diastolik. Tekanan darah sistolik menunjukkan besarnya tekanan
pada dinding pembuluh darah pada saat jantung berkontraksi. Tekanan ini
merupakan tekanan tertinggi pada pembuluh darah pada satu waktu tertentu,
yaitu pada saat darah dipompakan dari ventrikel kiri. Tekanan darah diastolik
menunjukkan besarnya tekanan pada dinding pembuluh darah pada saat otot
jantung relaks diantara dua denyutan. Tekanan ini merupakan tekanan terkecil
di pembuluh darah pada satu waktu tertentu, yaitu saat darah kembali ke atrium
kanan.
Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang
lebih tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang
lebih rendah diperoleh pada saat jantung berelaksasi (diastolik). Tekanan darah
kurang dari 120/80 mmHg dikatakan normal.
Tekanan darah diukur dengan sphygmomanometer yang telah dikalibrasi
dengan tepat (80% dari ukuran manset menutupi lengan) setelah pasien
beristirahat nyaman, posisi duduk punggung tegak, lengan diatas meja. Lengan
atas dibalut dengan selembar kantong karet yang dapat digembungkan, yang
terbungkus dalam sebuah manset dan yang digandengkan dengan sebuah
pompa dan manometer.
Tekanan darah sistolik berpengaruh terhadap tekanan arteri pada gangguan
normal (<82 mmHg) tetapi TDS (Tekanan Darah Sistolik) tinggi (>158
mmHg) memiliki risiko terkena gangguan kardiovaskular dua setengah kali
lebih besar daripada seseorang dengan nilai TDD sama tetapi TDS-nya normal
( <130 mmHg).
Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami
kenaikan tekanan darah. Tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun
dan tekanan diastolik terus meningkat sampai usia 55-60 tahun, kemudian
berkurang secara perlahan atau bahkan menurun drastis. Dalam pasien dengan
diabetes melitus atau penyakit Ginjal, penelitian telah menunjukkan bahwa
tekanan darah diatas 130/80 mmHg harus dianggap sebagai faktor risiko dan
sebaiknya diberikan perawatan.
Hipertensi merupakan masalah kesehatan masyarakat baik di negara maju
maupun negara berkembang. Hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala,
dimana tekanan yang abnormal tinggi di dalam arteri menyebabkan
meningkatnya risiko terhadap stroke, aneurisma, gagal jantung, serangan
jantung dan kerusakan ginjal.
2.3.1 Klasifikasi Hipertensi
Berdasarkan penyebab ada dua jenis hipertensi, yaitu :
a. Hipertensi primer (esensial), adalah suatu peningkatan persisten tekanan
arteri yang dihasilkan oleh ketidak teraturan mekanisme kontrol
homeostatik normal. Hipertensi ini tidak diketahui penyebabnya dan
muncul pada usia antara 25-55 tahun, sedangkan usia dibawah 20 tahun
jarang ditemukan.
b. Hipertensi sekunder, adalah hipertensi persisten akibat kelainan dasar
kedua selain hipertensi esensial. Hipertensi ini penyebabnya diketahui dan
ini menyangkut +10% dari kasus-kasus hipertensi (Sheps, 2005).
Hipertensi sekunder memiliki patogenesis yang spesifik. hipertensi
sekunder dapat terjadi pada individu dengan usia sangat muda tanpa
disertai riwayat hipertensi dalam keluarga. Individu dengan hipertensi
pertama kali pada usia diatas 50 tahun atau yang sebelumnya diterapi tapi
mengalami refrakter terhadap terapi yang diberikan mungkin mengalami
hipertensi sekunder. Penyebab hipertensi sekunder antara lain penggunaan
estrogen, penyakit ginjal dan lain-lain.
WHO (1999) membagi hipertensi menjadi rendah, sedang, tinggi dan
tinggi sekali. Klasifikasi lain hipertensi dapat juga berdasarkan penyebab,
tingkat klinik, luasnya kerusakan organ tubuh dan peningkatan tekanan
[image:32.595.135.508.583.754.2]sistolik dan diastolik (Sadan K, 1994).
Tabel 2.1. Klasifikasi Tekanan Darah Menurut JNC 7, Tahun 2003
Klasifikasi tekanan
darah
Tekanan Sistolik
(mmHg)
Tekanan Diastolik
(mmHg)
Normal <120 <80
Prehipertensi 120-139 80-89
Hipertensi Derajat I 140-159 90-99
2.3.1 Gejala dan Tanda Hipertensi
Pada sebagian besar penderita, Hipertensi tidak menimbulkan gejala,
meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya
berhubungan dengan tekanan darah tinggi walaupun sesungguhnya tidak tepat
sepenuhnya. Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari
hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan yang bisa saja terjadi baik
pada penderita Hipertensi, maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang
normal.
Pada Hipertensi berat atau menahun serta tidak diobati, bisa timbul seperti
gejala sakit kepala, kelelahan, mual, muntah, sesak nafas, gelisah, pandangan
menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung
dan ginjal. Kadang penderita Hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran
dan bahkan koma karena terjadi pembengkakan otak. Keadaan ini disebut
Ensefalopati Hipertensif dan memerlukan penanganan segera.
Sementara itu, faktor risiko diartikan sebagai karakteristik yang berkaitan
dengan kejadian suatu penyakit diatas rata-rata. Faktor risiko memiliki
pengaruh yang sangat kuat dan lemah. Faktor risiko Hipertensi dibedakan
menjadi faktor risiko yang tidak bisa diubah dan faktor risiko yang bisa diubah
(Budistio, 2001).
2.3.1 Faktor risiko yang tidak dapat diubah
a. Umur
Hipertensi erat kaitannya dengan umur, semakin tua seseorang semakin
terkena hipertensi. Dengan bertambahnya umur, risiko terkena hipertensi lebih
besar sehingga prevalensi hipertensi dikalangan usia lanjut cukup tinggi yaitu
sekitar 40% dengan kematian sekitar 50% diatas umur 60 tahun. Arteri
kehilangan elastisitasnya atau kelenturannya dan tekanan darah seiring
bertambahnya usia, kebanyakan orang hipertensinya meningkat ketika berumur
lima puluhan dan enam puluhan. Dengan bertambahnya umur, risiko terjadinya
hipertensi meningkat. Meskipun hipertensi bisa terjadi pada segala usia, namun
paling sering dijumpai pada orang berusia 35 tahun atau lebih. Sebenarnya
wajar bila tekanan darah sedikit meningkat dengan bertambahnya umur. Hal ini
disebabkan oleh perubahan alami pada jantung, pembuluh darah dan hormon.
Tetapi bila perubahan tersebut disertai faktor-faktor lain maka bisa memicu
terjadinya hipertensi.
b. Jenis Kelamin
Bila ditinjau perbandingan antara wanita dan pria, ternyata terdapat angka
yang cukup bervariasi. Dari laporan Sugiri di Jawa Tengah didapatkan angka
prevalensi 6,0% untuk pria dan 11,6% untuk wanita. Prevalensi di Sumatera
Barat 18,6% pria dan 17,4% perempuan, sedangkan daerah perkotaan di
Jakarta (Petukangan) didapatkan 14,6% pria dan 13,7% wanita. Ahli lain
mengatakan pria lebih banyak menderita hipertensi dibandingkan wanita
dengan rasio sekitar 2,29 mmHg untuk peningkatan darah sistolik. Sedangkan
menurut Arif Mansjoer, dkk, pria dan wanita menapouse mempunyai pengaruh
wanita lebih banyak yang menderita hipertensi dibanding pria, hal ini
disebabkan karena terdapatnya hormon estrogen pada wanita.
c. Riwayat Keluarga
Menurut Nurkhalida, orang-orang dengan riwayat keluarga yang
mempunyai hipertensi lebih sering menderita hipertensi. Riwayat keluarga
dekat yang menderita hipertensi (faktor keturunan) juga mempertinggi risiko
terkena hipertensi terutama pada hipertensi primer. Keluarga yang memiliki
hipertensi dan penyakit jantung meningkatkan risiko hipertensi 2-5 kali lipat.
Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan lebih
besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya menderita hipertensi.
Menurut Sheps, hipertensi cenderung merupakan penyakit keturunan. Jika
seorang dari orang tua kita mempunyai hipertensi maka sepanjang hidup kita
mempunyai 25% kemungkinan mendapatkannya pula. Jika kedua orang tua
kita mempunyai hipertensi, kemungkunan kita mendapatkan penyakit tersebut
60%.
d. Genetik
Peran faktor genetik terhadap timbulnya hipertensi terbukti dengan
ditemukannya kejadian bahwa hipertensi lebih banyak pada kembar monozigot
(satu sel telur) daripada heterozigot (berbeda sel telur). Seorang penderita yang
mempunyai sifat genetik hipertensi primer (esensial) apabila dibiarkan secara
alamiah tanpa intervensi terapi, bersama lingkungannya akan menyebabkan
hipertensinya berkembang dan dalam waktu sekitar 30-50 tahun akan timbul
2.3.1 Faktor risiko yang dapat diubah
a. Kebiasaan Merokok
Rokok juga dihubungkan dengan hipertensi. Hubungan antara rokok
dengan peningkatan risiko kardiovaskuler telah banyak dibuktikan. Selain dari
lamanya, risiko merokok terbesar tergantung pada jumlah rokok yang dihisap
perhari. Seseoramg lebih dari satu pak rokok sehari menjadi 2 kali lebih rentan
hipertensi dari pada mereka yang tidak merokok. Zat-zat kimia beracun, seperti
nikotin dan karbon monoksida yang diisap melalui rokok, yang masuk kedalam
aliran darah dapat merusak lapisan endotel pembuluh darah arteri dan
mengakibatkan proses aterosklerosis dan hipertensi.
Nikotin dalam tembakau merupakan penyebab meningkatnya tekanan
darah segara setelah isapan pertama. Seperti zat-zat kimia lain dalam asap
rokok, nikotin diserap oleh pembuluh-pembuluh darah amat kecil didalam
paru-paru dan diedarkan ke aliran darah. Hanya dalam beberapa detik nikotin
sudah mencapai otak. Otak bereaksi terhadap nikotin dengan memberi sinyal
pada kelenjar adrenal untuk melepas epinefrin (adrenalin).
Hormon yang kuat ini akan menyempitkan pembuluh darah dan memaksa
jantung untuk bekerja lebih berat karena tekanan yang lebih tinggi. Setelah
merokok dua batang saja maka baik tekanan sistolik maupun diastolik akan
meningkat 10 mmHg. Tekanan darah akan tetap pada ketinggian ini sampai 30
menit setelah berhenti mengisap rokok. Sementara efek nikotin perlahan-lahan
menghilang, tekanan darah juga akan menurun dengan perlahan. Namun pada
b. Obesitas
Obesitas atau kegemukan adalah dimana berat badan mencapai indeks
massa tubuh >25 (berat badan (kg) dibagi kuadrat tinggi badan (m) juga
merupakan salah satu faktor risiko terhadap timbulnya hipertensi. Obesitas
merupakan ciri dari populasi penderita hipertensi. Curah jantung dan sirkulasi
volume darah penderita hipertensi yang obesitas lebih tinggi dari penderita
hipertensi yang tidak obesitas.
Pada obesitas tahanan perifer berkurang atau normal, sedangkan aktivitas
saraf simpatis meninggi dengan aktivitas renin plasma yang rendah. Olah raga
ternyata juga dihubungkan dengan pengobatan terhadap hipertensi. Melalui
olah raga yang isotonik dan teratur (aktivitas fisik aerobik selama 30- 45
menit/hari) dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan
darah. Selain itu dengan kurangnya olah raga maka risiko timbulnya obesitas
akan bertambah, dan apabila asupan garam bertambah maka risiko timbulnya
hipertensi juga akan bertambah.
Obesitas erat kaitannya dengan kegemaran mengkonsumsi makanan yang
mengandung tinggi lemak. Obesitas meningkatkan risiko terjadinya hipertensi
karena beberapa sebab. Makin besar massa tubuh, makin banyak darah yang
dibutuhkan untuk memasok oksigen dan nutrisi ke jaringan tubuh. Ini berarti
volume darah yang beredar melalui pembuluh darah menjadi meningkat
c. Inaktivitas Fisik
Olahraga dan aktifitas fisik banyak dihubungkan dengan pengelolaan
hipertensi, karena olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan tahanan
perifer yang akan menurunkan tekanan darah. Olahraga juga dikaitkan dengan
peran obesitas pada hipertensi. Kurang melakukan olahraga akan
meningkatkan kemungkinan timbulnya obesitas dan jika asupan garam juga
bertambah akan memudahkan timbulnya hipertensi.
Kurangnya aktifitas fisik meningkatkan risiko menderita hipertensi karena
meningkatkan risiko kelebihan berat badan. Orang yang tidak aktif juga
cenderung mempunyai frekuensi denyut jantung yang lebih tinggi sehingga
otot jantungnya harus bekerja lebih keras pada setiap kontraksi. Makin keras
dan sering otot jantung harus memompa, makin besar tekanan yang dibebankan
pada arteri.
d. Stres
Hubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf
simpatis, yang dapat meningkatkan tekanan darah secara bertahap. Apabila
stress menjadi berkepanjangan dapat berakibat tekanan darah menjadi tetap
tinggi. Hal ini secara pasti belum terbukti, akan tetapi pada binatang percobaan
yang diberikan pemaparan terhadap stres ternyata membuat binatang tersebut
menjadi hipertensi.
Stres adalah yang kita rasakan saat tuntutan emosi, fisik atau lingkungan
tak mudah diatasi atau melebihi daya dan kemampuan kita untuk mengatasinya
pengaruh yang datang dari luar itu. Stres adalah respon kita terhadap
pengaruh-pengaruh dari luar itu. Stres atau ketegangan jiwa (rasa tertekan, murung,
bingung, cemas, berdebar-debar, rasa marah, dendam, rasa takut, rasa bersalah)
dapat merangsang kelenjar anak ginjal melepaskan hormon adrenalin dan
memacu jantung berdenyut lebih cepat serta lebih kuat, sehingga tekanan darah
akan meningkat. Jika stres berlangsung cukup lama, tubuh berusaha
mengadakan penyesuaian sehingga timbul kelainan organis atau perubahan
patologis.
Gejala yang muncul dapat berupa hipertensi atau penyakit maag. Stres
juga memiliki hubungan dengan hipertensi. Hal ini diduga melalui saraf
simpatis yang dapat meningkatkan tekanan darah secara intermiten. Apabila
stress berlangsung lama dapat mengakibatkan peninggian tekanan darah yang
menetap. Stres dapat meningkatkan tekanan darah untuk sementara waktu dan
bila stres sudah hilang tekanan darah bisa normal kembali. Peristiwa mendadak
menyebabkan stres dapat meningkatkan tekanan darah, namun akibat stress
berkelanjutan yang dapat menimbulkan hipertensi belum dapat dipastikan.
e. Konsumsi garam
Secara umum masyarakat sering menghubungkan antara konsumsi garam
dengan hipertensi. Garam merupakan hal yang sangat penting pada mekanisme
timbulnya hipertensi. Pengaruh asupan garam terhadap hipertensi melalui
peningkatan volume plasma (cairan tubuh) dan tekanan darah. Keadaan ini
akan diikuti oleh peningkatan ekskresi kelebihan garam sehingga kembali pada
Garam merupakan faktor yang sangat penting dalam pathogenesis
hipertensi. Hipertensi hampir tidak pernah ditemukan pada suku bangsa dengan
asupan garam yang minimal. Asupan garam kurang dari 3 gram tiap hari
menyebabkan prevalensi hipertensi yang rendah, sedangkan jika asupan garam
antara 5-15 gram perhari prevalensi hipertensi meningkat menjadi 15-20%.
Konsumsi garam yang dianjurkan tidak lebih dari 6 gram/hari setara dengan
110 mmol natrium atau 2400 mg/hari.
f. Pola Makan
Menurut Mayo Clinic Staff (2012), banyak makan makanan mengandung
bahan pengawet, garam, dan bumbu penyebab juga dapat menyebabkan
hipertensi. Hal ini disebabkan karena makanan tersebut banyak mengandung
natrium yang bersifat menarik air ke dalam pembuluh darah, sehingga bahan
kerja jantung untuk memompa darah meningkat dan mengakibatkan hipertensi.
Dizaman yang serba aktif seperti sekarang, waktu terkesan sangat sedikit.
Kondisi ini menyebabkan sebagian masyarakat tidak dapat menyiapkan
makanan dirumah. Akibatnya, terjadi kenaikan dalam mengkonsumsi makan
siap saji atau makanan yang beku yang banyak dijual dipasar swalayan.
Padahal kondisi makan ini biasanya kurang sehat. Makanan-makanan tersebut
banyak mengandung lemak, kolestrol dan berkalori tinggi. Tentu saja jenis
makanan tersebut sangat tidak sesuai bagi penderita tekanan darah tinggi (Susi,
2.4 Hemodialisis
2.4.1 Pengertian Hemodialisis
Hemodialisis adalah suatu usaha untuk memperbaiki kelainan
biokimiawidarah yang terjadi akibat terganggunya fungsi ginjal, dilakukan
denganmenggunakan mesin hemodialisis. Hemodialisis merupakan salah satu
bentukterapi pengganti ginjal (renal replacement therapy/RRT) dan hanya
menggantikansebagian dari fungsi ekskresi ginjal. Hemodialisis dilakukan pada
penderita PGKstadium V dan pada pasien dengan AKI (Acute Kidney Injury)
yang memerlukanterapi pengganti ginjal. Menurut prosedur yang dilakukan HD
dapat dibedakanmenjadi 3 yaitu: HD darurat/emergency, HD
persiapan/preparative, dan HD
kronik/reguler (Kandarini, 2013).
2.5 Landasan Teori
Menurut Glanz dalam Notoatmodjo 2012, Health Belief Model (HBM)
merupakan salah satu model kepercayaan dari suatu penjabaran model
sosio-psikologi. Model ini muncul didasarkan pada kenyataan bahwa masalah-masalah
kesehatan ditandai oleh kegagalan orang atau masyarakat untuk menerima
usaha-usaha pencegahan dan penyembuhan penyakit yang diselenggarakan oleh
provider. Kegagalan ini akhirnya memunculkan teori yang menjelaskan perilaku
pencegahan penyakit (preventif health behavior), yang oleh Becker (1974)
dikembangkan dari teori lapangan (Field theory, 1954) menjadi model
kepercayaan kesehatan (Health Belief Model).
Merupakan persepsi individu tentang kemungkinannya terkena suatu
penyakit. Mereka yang merasa dapat terkena penyakit tersebut akan lebih
cepat merasa terancam. Seseorang akan bertindak untuk mencegah
penyakit bila ia merasa bahwa ia sangat mungkin terkena penyakit
tersebut. Kerentanan yang dirasakan setiap individu berbeda tergantung
persepsi tentang resiko yang dihadapi individu pada suatu keadaan
tertentu.
2. Perceived seriousness (Keseriusan yang dirasakan)
Merupakan pandangan individu tentang beratnya penyakit yang diderita.
Pandangan ini mendorong seseorang untuk mencari pengobatan atas
penyakit yang dideritanya. Keseriusan ini ditambah dengan akibat dari
suatu penyakit.
3. Perceived benefits and barriers (Manfaat dan rintangan-rintangan yang
dirasakan)
Individu akan mempertimbangkan apakah alternatif itu memang
bermanfaat dapat mengurangi ancaman penyakit, persepsi ini juga
berhubungan dengan ketersediaan sumber daya sehingga tindakan ini
mungkin dilaksanakan. Persepsi ini dipengaruhi oleh norma dan tekanan
dari kelompoknya. Sedangkan persepsi rintangan adalah persepsi terhadap
biaya/aspek negatif yang menghalangi individu untuk melakukan tindakan
kesehatan, misalkan: mahalnya biaya berobat, pengalaman yang tidak
menyenangkan, rasa sakit yang dialami.
Ada faktor pencetus untuk memutuskan menerima atau menolak alternatif
tindakan tersebut, isyarat dapat bersifat:
a. Internal, isyarat untuk bertindak yang berasal dari dalam diri individu,
misal gejala yang dirasakan.
b. Eksternal, isyarat untuk bertindak yang berasal dari interaksi interpersonal,
misal media massa, pesan, nasehat, anjuran, atau konsultasi dengan
petugas kesehatan.
Pesepsi terhadap kerentanan dan keparahan penyakit, petimbangan
manfaat dan biaya melakukan tindakan kesehatan serta isyarat untuk
brtindak dipengaruhi oleh:
a. Variabel demografi yaitu usia, jenis kelamin, pekerjaan, latar belakang,
budaya.
b. Variabel sosial-psikologis yaitu keperibadian, kelas sosial, tekanan sosial.
c. Variabel struktural yaitu pengetahuan dan pengalaman masalah
Berdasarkan definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa health belief model
adalah model kognitif yang menjelaskan dan memprediksi health behavior apa
yang akan dilakukan dengan fokus pada belief individu akan percieved
seriousness, percieved suspectibility, precieved benefits and barries, dan cues
Gambar 2.1 Health Belief Model
Variabel demografi: (umur, jenis kelamin dll)
Variabel sosial psikologi (peer, reference group keperibadian, pengalaman sebelumnya
Variabel struktur (kelas sosial, akses ke[elayanan kesehatan, dll)
Manfaat yang dilihat dari pengambilan tindakan dikurangi biaya (rintangan) yang dilihat dari pengambilan tindakan
Kecenderungan yang dilihat (preceived)
mengenai gejala penyakit. Syarat yang dilihat
mengenai gejala dan penyakit
Ancaman yang dilihat mengenai gejala penyakit
Pendorong (cues) untuk bertindak (kampanye media massa, peringatan dari dokter, tulisan, dll)
2.5.1 Kerangka Konsep
Berdasarkan hasil studi kepustakaan dapat disusun kerangka konsep
[image:45.595.102.560.241.574.2]penelitian sebagai berikut:
Gambar 2.2 Kerangka Konsep`
Kerangka konsep penelitian diatas menjelaskan bahwa ada beberapa hal
yang mempengaruhi kepatuhan pola makan penderita hipertensi yaitu variabel
demografis (umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, dan penghasilan
penderita hipertensi). Berdasarkan landasan teori yang digunakan pada indikator Pendorong untuk
bertindak: keluarga dan media massa Variabel demografis:
- Umur
- Jenis Kelamin
- Pendidikan
- Pekerjaan
- penghasilan
- Kerentanan yang
dirasakan terhadap kejadian hipertensi
- Keseriusan yang
dirasakan terhadap kejadian hipertensi
Ancaman yang dirasakan terhadap kejadian hipertensi
Manfaat dan hambatan terhadap pengambilan tindakan kepatuhan pola makan
kerentanan, keseriusan, dan ancaman terhadap penyakit hipertensi, menunjukkan
bahwa ketiga indikator ini saling mempengaruhi. Apabila responden mengetahui
ia rentan dan merasa ada ancaman terhadap penyakit hipertensi maka ia akan
mencari apa saja yang menjadi manfaat dan hambatan terhadap kejadian
hipertensi, sehingga responden dapat memutuskan adanya kemungkinan
pengambilan tindakan terhadap pola makan yang berkaitan dengan pemilihan
makanan yang didorong dengan dukungan keluarga, teman, serta petugas
Jenis penelitian ini penelitian kuantitatif yang bersifat deskriptif untuk
mengetahui gambararan kepatuhan pola makan penderita hipertensi di Klinik
Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan.
3.2 Lokasi Dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi
Rasyida Medan. Jalan Mayjen D.I Panjaitan No. 144 Medan Baru, Sumatera
Utara.
3.2.2 Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilaksanakan di bulan Februari-Juni tahun 2015.
3.3 Populasi Dan Sampel 3.3.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien hipertensi dalam satu
tahun terakhir yang berobat di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida
Medan berjumlah 136 pasien dalam satu tahun terakhir (2014).
3.3.2 Sampel
Adapun pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah pasien hipertensi
yang berobat di Klinik Spesialis Ginjal Hipertensi Rasyida Medan dengan
n =
n = 1,962 0,5 (1-0,5)136 0,12 (136-1) +1,962
= 130,6144 5,1916
= 25,15
=25
Keterangan:
n : besar sampel
N : besar populasi kunjungan selama tahun 2014 (265)
Z : standar deviasi normal (1,96 dengan Cl 95%)
P : target populasi (0,5)
d : derajat ketepatan yang digunakan (=10%)
α : tingkat kepercayaan (1%)
Setelah dilakukan perhitungan menggunakan rumus di atas maka diketahui
jumlah sampel dari populasi 136 pasien hipertensi yang berobat di klinik
spesialis ginjal dan hipertensi Rasyida didapat sampel sebanyak 25 pasien,
dimana subjek yang ditanya adalah pasien yang bersedia di wawancarai.
Teknik pengambilan sampel dilakukan secara Accidental Sampling yaitu
teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara
kebetulan/accidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel,
atau sesuai dengan karakteristik responden yang sudah ditentukan peneliti
yaitu:
1. Pasien ≥30 tahun yang mempunyai riwayat penyakit hipertensi
2. Bersedia menjadi responden.
3.4 Metode Pengumpulan Data 3.4.1 Data Primer
Data primer dilakukan dengan menggunakan wawancara langsung pada
pasien dengan menggunakan kuesioner kepada pasien hipertensi yang berobat
di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan.
3.4.2 Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dari dokumentasi bagian rekam medik Klinik
Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan.
3.5 Definisi Operasional
Agar tujuan dalam penelitian tercapai, peneliti menentukan defenisi
operasional sebagi berikut:
1. Umur adalah lamanya tahun yang dilalui oleh responden berdasarkan
aktekelahiran.
2. Jenis Kelamin adalah ciri khas yang dimiliki individu yang membedakannya
dengan individu yang lain yaitu laki-laki dan perempuan.
3. Pendidikan adalah tingkat pendidikan formal responden.
4. Pekerjaan adalah jenis kegiatan yang dijalani responden sehari-hari.
5. Penghasilan adalah besarnya pendapatan atau masukan keluarga (suami dan
berdasarkan Upah Minimum Provinsi (UMP) Sumatera Utara tahun 2015,
yaitu: Rp.
1.851.500,-6. Kerentanan yang dirasakan adalah keyakinan responden terhadap pola makan
dalam kejadian hipertensi dan mempunyai kondisi memungkinkan timbulnya
penyakit hipertensi.
7. Keseriusan yang dirasakan adalah suatu keyakinan responden tentang
keadaan yang dirasakan responden terhadap penyakit hipertensi yang
memiliki kondisi yang benar-benar fatal jika tidak diobati.
8. Ancaman yang dirasakan adalah hal yang dirasakan responden yang dapat
memicu dampak negatif dari suatu penyakit.
9. Manfaat yang dirasakan adalah pertimbangan atau pandangan responden
terhadap manfaat/kegunaan dari upaya pola makan yang baik pada hipertensi.
10. Hambatan yang dirasakan adalah persepsi/pandangan responden terhadap
aspek negatif yang menjadi hambatan dalam mematuhi pola makan.
11. Kemungkinan mengambil tindakan terhadap pola makan adalah bentuk nyata
keputusan responden yang berkaitan dengan pemilihan pola makan.
12. Isyarat untuk bertindak adalah faktor pendorong responden untuk melakukan
kepatuhan pola makan.
13. Kepatuhan pola makan adalahtindakan seseorang dalam melaksanakan suatu
aturan yang telah disarankan.
3.6 Aspek Pengukuran
Aspek pengukuran dalam penelitian ini didasarkan ada jawaban responden
Nilai yang tertinggi dikumpulkan, dikategorikan menjadi 3 (tiga) tingkat
(Arikunto, 2006) yaitu :
1. Baik : Jika total nilai yang diperoleh > 75%
2. Sedang : Jika total nilai yang diperoleh 45% - 75%
3. Kurang : Jika total yang diperoleh < 45%
Data yang telah terkumpul melalui kuisioner, kemudian diolah kedalam
bentuk kuantitatif, yaitu dengan cara menetapkan skor dari pertanyaan yang
telah dijawab oleh responden, dimana pemberian skor tersebut didasarkan pada
ketentuan Sugiyono (2008: 108).
Alternatif Bobot
SS (Sangat Setuju) 3
S (Setuju) 2
TS (Tidak Setuju) 1
[image:51.595.212.414.361.437.2]STS (Sangat Tidak Setuju) 0
Tabel 3.1 Penilaian Skala Likert (Sumber: Sugiyono, 2008)
Untuk persepsi hambatan ketentuan skoring kebalikan dari tabel yang telah
ditentukan diatas.
a. Persepsi Kerentanan
Persepsi kerentanan terdiri dari 5 pertanyaan yang diukur dengan
menggunakan skala Likert(Sugiyono, 2008). Dari seluruh pertanyaan
didapatkan total nilai 15. Berdasarkan Arikunto (2007), persepsi kerentanan
diklasifikasikan dalam 3 kategori yaitu:
1. Persepsi kerentanan kuat, apabila nilai diperoleh >75% dari nilai tertinggi
2. Persepsi kerentanan sedang, apabila nilai diperoleh 45-75% dari nilai
tertinggi seluruh pertanyaan.
3. Persepsi kerentanan lemah, apabila nilai yang diperoleh <45% dari nilai
tertinggi seluruh pertanyaan.
b. Persepsi keseriusan
Persepsi keseriusan terdiri dari 5 pertanyaan yang diukur dengan
menggunakan skala Likert (Sugiyono, 2008). Dari seluruh pertanyaan
didapatkan total nilai sebesar 15. Berdasarkan Arikunto (2007), persepsi
keseriusan diklasifikasikan dalam 3 kategori yaitu:
1. Persepsi keseriusan kuat, apabila nilai diperoleh >75% dari nilai tertinggi
seluruh pertanyaan.
2. Persepsi keseriusan sedang, apabila nilai diperoleh 45-75% dari nilai
tertinggi seluruh pertanyaan.
3. Persepsi keseriusan lemah, apabila nilai yang diperoleh <45% dari nilai
tertinggi seluruh pertanyaan.
c. Persepsi Manfaat
Persepsi manfaat terdiri dari 5 pertanyaan dimana keseluruhan pertanyaan
diukur dengan menggunakan skala Likert(Sugiyono, 2008). Dari seluruh
pertanyaan didapatkan total nilai sebesar 15. Berdasarkan Arikunto (2007),
persepsi manfaat yang dirasakan diklasifikasikan dalam 3 kategori yaitu:
1. Persepsi manfaat kuat, apabila nilai diperoleh >75% dari nilai tertinggi
2. Persepsi manfaat sedang, apabila nilai diperoleh 45-75%dari nilai tertinggi
seluruh pertanyaan.
3. Persepsi manfaat lemah, apabila nilai yang diperoleh <45% dari nilai
tertinggi seluruh pertanyaan.
d. Pesepsi Hambatan
Persepsi hambatan untuk bertindak terdiri dari 5 pertanyaan yang diukur
dengan menggunakan dkala Likert(Sugiyono, 2008). Dari seluruh pertanyaan
didapatkan total nilai sebesar 15. Berdasarkan Arikunto (2007), isyarat untuk
bertindak diklasifikasikan dalam 3 kategori yaitu:
1. Persepsi hambatan kuat, apabila nilai diperoleh >75% dari nilai tertinggi
seluruh pertanyaan.
2. Persepsi hambatan sedang, apabila nilai diperoleh 45-75% dari nilai
tertinggi seluruh pertanyaan.
3. Persepsi hambatan lemah, apabila nilai yang diperoleh <45% dari nilai
tertinggi seluruh pertanyaan.
e. Isyarat Untuk Bertindak
Persepsi isyarat untuk bertindak terdiri dari 10 pertanyaan yang diukur
dengan menggunakan skala Likert(Sugiyono, 2008). Skala pengukuran isyarat
untuk bertindak berdasarkan jawaban yang diperoleh dari responden terhadap
seluruh pertanyaan yang diberikan. Masing-masing dengan alternatif jawaban