• Tidak ada hasil yang ditemukan

NILAI BUDAYA DALAM TATAK MAMURO PADA MASYARAKAT PAKPAK BHARAT.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "NILAI BUDAYA DALAM TATAK MAMURO PADA MASYARAKAT PAKPAK BHARAT."

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

NILAI BUDAYA DALAM TATAK MAMURO PADA

MASYARAKAT PAKPAK BHARAT

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagai Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh :

RINDIKA MILZAR MIRAZA

NIM. 2103340049

JURUSAN SENDRATASIK

FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

i

ABSTRAK

Rindika Milzar Miraza, 2103340049. Nilai Budaya Dalam Tatak Mamuro Pada Masyarakat Pakpak Bharat. Skripsi. Medan. Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan, 2017.

Tatak Mamuro merupakan tari yang menggambarkan tentang bagaimana

cara mengusir burung di ladang agar padi yang hendak dipanen tidak dimakan oleh burung. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai budaya dalam Tatak Mamuro pada masyarakat Pakpak Bharat.

Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Koentjaraningrat tentang nilai budaya terkait tiga hal yaitu: simbol-simbol, sikap tindak laku, dan kepercayaan yang tertanam.

Waktu yang di gunakan dalam penelitian di mulai bulan Oktober 2016 hingga Januari 2017. Lokasi penelitian ini dilakukan di Desa Pardomuan Kecamatan Kerajaan Kabupaten Pakpak Bharat. Populasi dalam penelitian ini adalah tatak mamuro, penari, masyarakat yang mengetahui Tatak Mamuro. Sampel nya adalah narasumber keturunan pencipta Tatak Mamuro, dan masyarakat yang pernah menarikan Tatak Mamuro. Teknik pengumpulan data di lakukan melalui observasi, studi pustaka, wawancara, dan dokumentasi. Analisis penelitian data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif,

Hasil penelitian berdasarkan data yang terkumpul, dapat diketahui bahwa nilai budaya yang terkandung dalam Tatak Mamuro terkait dalam tiga hal, adalah (1) terkait simbol dalam ragam gerak berisi tentang bagaimana sikap masyarakat Pakpak yang mengutamakan tuhan, bahwa dalam segala hal mereka selalu menyembah kepada Tuhan yang Maha Esa, selain itu menunjukkan bagaimana mereka melindungi padi sebagai hasil utama mata pencaharian mereka menjadi lebih baik, tetap utuh dan dapat di tingkatkan hasilnya, dan berguna bagi masyarakat. (2) terkait dengan sikap tindak laku dalam ragam gerak berisi penghalusan dari gerak wantah menjadi gerak tari seperti sikap bagaimana masyarakat Pakpak menghormati tuhan, sikap bagaimana seorang petani yang sedang menjaga padi nya dari serangan burung seperti berburu, mengusir burung dengan ketter, hingga sikap seorang petani yang sedang mengikat setiap padi yang mulai menunduk. (3) terkait kepercayaan dalam ragam gerak berisi bagaimana mereka tetap mengandalkan tuhan untuk segala macam sisi kehidupan dalam pekerjaan, dan bagaimana keyakinan mereka dengan menggunakan ketter dapat menghalau burung agar tidak memakan padi yang hendak di panen.

(7)

ii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur pertama sekali penulis panjatkan kehadirat Allah SWT

atas segala rahmat, ridho, dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi ini dengan judul “Nilai Budaya Dalam Tatak Mamuro Pada Masyarakat Pakpak Bharat”. Tujuan dari Skripsi ini adalah sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan di Jurusan Sendratasik

Program Studi Pendidikan Tari Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri

Medan.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan Skripsi ini masih jauh dari kata

kesempurnaan, karena keterbatasan penulis. Disini penulis dengan segala

kerendahan hati mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd, Rektor Universitas Negeri Medan

2. Dr. Isda Pramuniati, M.Hum, Dekan Fakultas Bahasa Dan Seni.

3. Uyuni Widiastuti, M.Pd, Ketua Jurusan Sendratasik.

4. Sitti Rahmah, S.Pd, M.Si, Ketua Program Studi Pendidikan Tari.

5. Dra. Rr. RHD. Nugrahaningsih, M.Si, Dosen Pembimbing I.

6. Irwansyah, S.Sn, M.Sn, Dosen Pembimbing II.

7. Dr. Nurwani. S.S.T, M.Hum, Dosen Penguji Skripsi I sekaligus Dosen

Pembimbing Akademik penulis selama duduk di bangku kuliah.

8. Martozet, S.Sn, M.Sn, Dosen Penguji.

9. Seluruh Dosen Jurusan Sendratasik Prodi Pendidikan Tari.

10.Muhammad Abror Harahap, SE, Tata Usaha Sendratasik

11.Ali Mahaji, Narasumber yang telah banyak membantu penulis.

12.Teristimewa untuk Ayahanda Muhammad Nizhar. dan Ibunda Jamilah,

Saudara Muhammad Ridho Fadly Alfizari, S.Pd, serta Syafiqa Ladiba

Nasution. Terima kasih telah memberikan kasih sayang, doa, motivasi

serta dukungan baik moral maupun material sehingga penulis dapat

(8)

iii

13.Sahabat-sahabat serta orang tersayang penulis, Arvika Tari, S.Pd,

Immanensia Tambun, S.Pd, Sylvia Purnama Sari, S.Pd, Gesty Riwanda,

Dini Wutsq Amelia, Nur Sari Rahmadiana, S.Pd serta Muhammad Amri

yang banyak membantu, serta memberikan motivasi bagi penulis serta

rekan-rekan Mahasiswa Pendidikan Tari 2012.

Terima kasih atas kebaikan dan keikhlasan yang telah diberikan. Penulis

hanya dapat berdoa semoga semua kebaikan yang telah kalian berikan akan

dibalas oleh Allah dengan yang lebih baik. Dan semoga amal yang telah kita

lakukan dijadikan amal yang tiada putus pahalanya, dan bermanfaat untuk kita

semua di dunia maupun diakhirat.

Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat berguna, khususnya

bagi penulis sendiri dan bagi para pembaca umumnya.

Medan, Maret 2017 Penulis,

(9)

iv

BAB II LANDASAN TEORITIS DAN KERANGKA KONSEPTUAL ... 7

A. Landasan Teoritis ... 7

1. Tatak Mamuro ... 8

2. Nilai Budaya... 8

B. Kerangka Konseptual ... 11

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 13

A. Metodologi Penelitian ... 13

B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 14

1. Lokasi Penelitian ... 14

2. Waktu Penelitian ... 14

C. Populasi dan Sampel Penelitian ... 14

1. Populasi Penelitian ... 14

2. Sampel Penelitian ... 14

D. Teknik Pengumpulan Data ... 15

1. Observasi ... 16

2. Wawancara ... 16

3. Dokumentasi ... 16

4. Studi Kepustakaan ... 17

(10)

v

BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN ... 20

A. Gambaran Umum Kabupaten Pakpak Bharat ... 20

1. Letak Geografis Kabupaten Pakpak Bharat ... 20

2. Sejarah Pakpak Bharat ... 22

3. Sistem Mata Pencaharian ... 23

4. Kesenian ... 24

B. Tatak Mamuro Pada Masyarakat Pakpak Bharat ... 27

C. Nilai Budaya Dalam Tatak Mamuro ... 29

1. Simbol-Simbol ... 29

2. Sikap, tindak laku, gerak gerik ... 32

3. Kepercayaan yang Tertanam (Believe System) ... 38

BAB V PENUTUP ... 40

A. Kesimpulan ... 40

B. Saran ... 41

DAFTAR PUSTAKA ... 42

(11)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sumatera Utara adalah salah satu Provinsi yang terletak di Negara

Indonesia. Sumatera Utara memiliki keanekaragaman suku dan budaya. Suku asli

di daerah Sumatera Utara ada 8 yaitu: Simalungun, Mandailing, Melayu, Pesisir

Sibolga, Pak-pak, Karo, Batak Toba dan Nias. Setiap suku tersebut memiliki

budaya yang berbeda-beda, hal ini disebabkan karena setiap suku mempunyai

pandangan hidup, cara mengekspresikan diri dan kebiasaan hidup yang berbeda.

Suku Pakpak sebagai salah satu suku pribumi di Provinsi Sumatera Utara,

tersebar di berbagai macam daerah di antaranya di Kabupaten Dairi, Kabupaten

Pakpak Bharat, Kota Madya Subulussalam, dan Kabupaten Tapanuli Tengah.

Perbedaan kebudayaan menjadi ciri dan identitas masyarakat Sumatera Utara

menjadi aset bagi bangsa, sehingga kita patut menjaga dan melestarikannya.

Masyarakat Pakpak mempunyai bermacam ragam bentuk kesenian, yaitu

(1) tarian, (2) musik, dan (3) rupa. Suryodiningrat dalam Heni Rohani (2007 : 2)

menjelaskan bahwa tari adalah gerakan-gerakan dari seluruh bagian tubuh yang

disusun selaras dengan irama musik, serta mempunyai maksud tertentu. Tari pada

masyarakat Pakpak dikenal dengan sebutan tatak.Tatak yang dihadirkan oleh

masyarakat Pakpak dalam kehidupannya salah satunya bertujuan untuk

menyampaikan kebiasaan, misalnya untuk menunjukkan kebiasaan mereka dalam

bertani, karena masyarakat Pakpak Bharat mayoritas bermata pencaharian sebagai

(12)

2

Tatak Mamuro. Tatak Mamuro atau tari menghalau burung (mengusir

burung) ini diciptakan pada tahun 1977 oleh Almahrum Djauli Padang. Tatak

Mamuro ini menggambarkan tentang bagaimana cara mengusir burung agar padi

yang hendak dipanen tidak dimakan oleh burung. Ketika padi sudah mulai tua

atau sudah mulai menguning maka para petani harus menjaga padinya agar tidak

dimakan oleh burung. Karena biasanya burung akan semakin banyak berdatangan

ketika padi sudah mulai menguning.

Pencipta Tatak Mamuro ini terinspirasi dari bagaimana para petani

menjaga padinya di ladang. Petani merasa jenuh dan lelah karena harus

mengelilingi ladangnya dan harus memperhatikan dengan seksama tanaman

padinya supaya tidak dimakan burung. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka

digunakanlah ketter (tali panjang yang diujung nya ada bambu). Ketika tali

ditarik, maka bambu tersebut akan mengeluarkan bunyi, yang menyebabkan

burung akan berterbangan. Ketter ini membantu petani untuk mengusir burung

tanpa harus berkeliling, tetapi tinggal menarik tali ketter tersebut. Terinspirasi

oleh situasi inilah, Almahrum Djauli Padang menyusun tari yang gerakannya

menyiratkan bagaimana para petani menghalau burung di ladang. Tatak mamuro

dapat ditarikan baik laki-laki, perempuan, atau gabungan laki-laki dan perempuan

tanpa batasan umur. Tatak Mamuro ini dari sejak diciptakan hingga sekarang

keberadaannya masih terpelihara oleh masyarakat Pakpak, karena pada setiap

acara pesta tahunan Tatak Mamuro ini selalu di tampilkan.

Setiap gerak pada Tatak Mamuro ini mengandung nilai budaya. Nilai

(13)

3

kelakuan, maksudnya menunjukkan bahawa nilai budaya biasanya juga berfungsi

sebagai tata kelakuan yang mengatur, mengawal dan memberi arah kepada

kelakuan dan perbuatan manusia dalam masyarakat.".

Berdasarkan penjelasan di atas, penulis akan menjelaskan dalam penelitian

ini nilai budaya yang terkandung dalam Tatak Mamuro ini. Maka dari itu penulis

menjadikan topik penelitian dengan judul “Nilai Budaya Dalam Tatak Mamuro

Pada Masyarakat Pakpak Bharat.”

B. Identifikasi Masalah

Dalam latar belakang penelitian ini, maka penulis perlu membuat

identifikasi masalah yang bertujuan untuk memperoleh gambaran yang luas

terhadap apa yang akan diteliti serta agar penelitian yang dilakukan menjadi

terarah dan cakupan masalah yang diketahui tidak terlalu luas. Identifikasi

masalah tersebut sesuai dengan pendapat Sugiyono (2008:385) yang mengatakan

bahwa : “Untuk dapat mengidentifikasi masalah dengan baik, maka penelitian

perlu melakukan penelitian studi pendahuluan ke objek yang akan

diteliti,melakukan observasi dan wawancara keberbagai sumber sehingga semua

permasalahan dapat teridentifikasi”.

Berdasarkan uraian yang tercatat dalam latar belakang maka menimbulkan

beberapa masalah yang perlu diidentifikasi yaitu:

1. Bagaimana ragam gerak Tatak Mamuro?

(14)

4

3. Bagaimana nilai budaya yang terkandung dalam Tatak Mamuro pada

masyarakat Pakpak?

C. Pembatasan Masalah

Mengingat luasnya cakupan masalah yang diidentifikasi serta keterbatasan

waktu, dana dan kemampuan teoritis maka peneliti perlu mengadakan pembatasan

masalah untuk memudahkan penyelesaian masalah yang dihadapi dalam

penelitian. Hal ini dilakukan agar dalam proses penelitian, pembahasan tidak

meluas sehingga penelitian yang dilakukan lebih terarah. Sesuai dengan pendapat

Surakhmad (2000:31) yang menyatakan bahwa: “sebuah masalah yang

dirumuskan terlalu umum dan luas,tidak pernah dipakai sebagai masalah

penyelidikan, oleh karena itu tidak jelas batas-batas masalahnya”.

Oleh sebab itu pembatasan masalah yang dilakukan terhadap penelitian ini

adalah:

1. Bagaimana nilai budaya yang terkandung dalam Tatak Mamuro pada

masyarakat Pakpak?

D. Rumusan Masalah

Rumusan masalah adalah usaha yang dilakukan peneliti untuk menyatukan

secara tersurat, pertanyaan penelitian apa saja yang perlu dijawab atau dicarikan

jalan keluar. Dalam menentukan masalah peneliti berpedoman pada pendapat

Maryaeni (2005:14) yang menjelaskan bahwa: “Rumusan masalah merupakan

(15)

5

semacam kontrak bagi peneliti karena penelitian merupakan upaya dalam

menentukan jabatan pertanyaan sebagaimana terpapar dalam rumusan masalah”.

Menurut pendapat diatas, sekaligus berdasarkan uraian latar belakang

masalah, identifikasi masalah dan pembatasan masalah, adapun rumusan masalah

dalam penelitian ini adalah: “Bagaimana Nilai Budaya Dalam Tatak Mamuro

Pada Masyarakat Pakpak Bharat?”

E. Tujuan Penelitian

Setiap penelitian selalu berorientasi pada tujuan. Tanpa tujuan yang jelas

maka arah kegiatan yang dilakukan tidak terfokus karena tidak tahu apa yang

ingin dicapai dari kegiatan tersebut. Tujuan penelitian tidak lain untuk

mengetengahkan indicator-indikator apa yang hendak ditemukan dalam penelitian

teutama yang berkaitan dengan variable-variabel penelitian. Untuk melihat

berhasil tidaknya suatu kegiatan, dapat dilihat melalui tercapainya tujuan yang

diterapkan. Tujuan penelitian ini mengungkapkan sasaran hasil yang ingin dicapai

dalam penelitian, ini sesuai dengan fokus yang telah dirumuskan.

Menurut pendapat Syahrum (2011:95) menyatakan bahwa “Tujuan

penelitian adalah sesuatu yang ingin diketahui dan didapatkan dari pertanyaan

penelitian yang harus dijawab oleh peneliti itu sendiri”. Maka tujuan yang

penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mendeskripsika nilai budaya dalam Tatak Mamuro pada masyarakat

(16)

6

F. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian adalah kegunaan dari hasil penelitian yang dilakukan

dan juga merupakan sumber informasi dalam mengembangkan penelitian

selanjutnya. Manfaat penelitian juga dapat bersifat keilmuan, dan dapat menjadi

referensi untuk membuat suatu galian yang lebih luas cakupannya.

Setiap penelitian pastilah hasilnya akan bermanfaat, segala sesuatu yang

dapat digunakan baik oleh peneliti itu sendiri maupun lembaga instansi tertentu

ataupu orang lain. Sebuah penelitian diharapkan dapat menanamkan kesadaran

dan membangkitkan keinginan pada generasi muda. Hal ini sejalan dengan

pendapat Hariwijaya (2008:50) yang menyatakan bahwa: “Manfaat penelitian

adalah apa yang diharapkan dari hasil penelitian tersebut, manfaat penelitian

mencakup dua hal yaitu: kegunaan dalam pengembangan ilmu serta manfaat di

bidang praktik”.

Maka manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut

1. Sebagai bahan masukan bagi penulis dalam menambah pengetahuan dan

wawasan mengenai Tatak Mamuro.

2. Sebagai sumber informasi tertulis bagi setiap pembaca mengenai nilai

budaya dalam Tatak Mamuro pada masyarakat Pakpak.

3. Menambah pengetahuan peneliti tentang Tatak Mamuro pada masyarakat

Pakpak.

4. Menambah wawasan dan pengetahuan mengenai etnis Pakpak.

5. Dapat menjadi inspirasi untuk mengembangkan kesenian daerah Pakpak

khususnya seni tari.

6. Sebagai bahan apresiasi bagi masyarakat diluar etnis Pakpak di dalam

memahami budaya Pakpak.

(17)

43

BAB V

PENUTUP

A.Kesimpulan

Dari penelitian yang sudah dilakukan dilapangan dan berdasarkan uraian

yang sudah dijelaskan mulai dari latar belakang sampai dengan pembahasan,

maka penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa dari keseluruhan hasil

penelitian terhadap Tatak Mamuro (Tari Menghalau Burung) pada masyarakat

Pakpak Bharat adalah.

1. Tatak Mamuro (tari menghalau burung) ini berawal dari sebuah kesunyian,

dan kebosanan petani ketika menjaga padinya agar tidak dimakan oleh

burung. Petani selalu berfikir bagaimana cara menghalau burung tanpa

harus merasakan rasa lelah dan rasa sunyi.

2. Tatak Mamuro (tari menghalau burung) berfungsi sebagai tari hiburan.

Pada masyarakat Pakpak Bharat sendiri tarian ini di zaman sekarang masih

sering ditampilkan di setiap acara pesta tahunan dan acara-acara hiburan.

3. Tatak Mamuro (tari menghalau burung) mengandung nilai budaya yang

terkait dalam tiga hal, yaitu: simbol-simbol, sikap tindak laku, dan

kepercayaan. Nilai budaya terkait simbol dalam ragam gerak Tatak

Mamuro berisi tentang bagaimana sikap masyarakat Pakpak yang

mengutamakan tuhan, bahwa dalam segala hal mereka selalu menyembah

kepada tuhan yang maha esa, selain itu menunjukkan bagaimana mereka

melindungi padi sebagai hasil utama mata pencaharian mereka menjadi

(18)

44

4. masyarakat. Nilai budaya terkait dengan sikap tindak laku dalam ragam

gerak Tatak Mamuro berisi penghalusan dari gerak wantah menjadi gerak

tari seperti sikap bagaimana masyarakat Pakpak menghormati tuhan, sikap

bagaimana seorang petani yang sedang menjaga padi nya dari serangan

burung seperti berburu, mengusir burung dengan ketter, hingga sikap

seorang petani yang sedang mengikat setiap padi yang mulai menunduk.

Nilai budaya terkait kepercayaan dalam ragam gerak Tatak Mamuro berisi

bagaimana mereka tetap mengandalkan tuhan untuk segala macam sisi

kehidupan dalam pekerjaan, dan bagaimana keyakinan mereka dengan

menggunakan ketter dapat menghalau burung.

B.Saran

Berdasarkan kesimpulan yang telah dijabarkan di atas, maka penulis dapat

member beberapa saran, antara lain sebagai berikut :

1. Dengan dilaksanakannya penelitian ini, maka peneliti berharap kepada

pemerintah daerah Pakpak Bharat agar selalu memberikan perhatian

khusus pada Tatak Mamuro ini sebagai tradisi yang dapat diangkat

kepermukaan dan menjadi seni budaya yang dijunjung tinggi.

2. Diharapkan agar seluruh masyarakat dari berbagai suku khususnya Pakpak

Bharat agar menjaga apa yang telah diwariskan oleh leluhur kita.

3. Diharapkan kepada seluruh masyarakat Pakpak Bharat agar dapat

melestarikan Tatak Mamuro ini pada acara pesta rakyat, karena tarian ini

merupakan gambaran dari kegiatan masyarakat Pakpak Bharat yaitu

(19)

45

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. (1978). Prosedur Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta.

Budiono Herusatoto, Simbolisme Jawa. (Yogyakarta: Ombak,2008)

Capah, Aisyah, Iska. (2013). Tatak Moccak Sebagai Seni Pertunjukkan Pada

Masyarakat Pakpak. Skrpipsi: Universitas Negeri Medan.

Dalman, H. (2012). Menulis Karya Ilmiah. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Dhorsono. (2007). Kritik Seni. Bandung : Rekayasa Sains.

Endraswara, Suwardi. (2006). Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan. Sleman: Pustaka Widyatama.

Esward Djamaris. (1993). Analisis Tema, Amanat dan Nilai Budaya. Jakarta: Balai Pustaka.

Herimanto, Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), h. 19

Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), h.24

Morris, (2015). Struktur Tatak Mamuro pada Masyarakat Pakpak di Kabupaten

Pakpak Bharat. Universitas Negeri Medan.

Royce, Anya Peterson. (2007). The Antropology of Dance. (F.X Widaryanto,

Terjemahan). _________: First Midland. Buku asli diterbitkan Tahun

1980.

Soedarsono. (1972). Djawa Bali: Dua Pusat Perkembangan Dramaturgi

Tradisional di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada Universitas Press.

Smith, Jacqueline. (1985). Problematika Seni Terjemahan Ben Suharto. Jakarta.

Trinton, Hariwijaya. (2008). Pedoman Penulisan Ilmiah Proposal dan Skripsi. Yogyakarta: Oriza.

http://unj-pariwisata.blogspot.com/2012/05/sistem-ekonomi-suku-pakpak.html

http://unj-pariwisata.blogspot.com/2012/05/kesenian-suku-pakpak.html

http://goegle.com/2015/01/berita-sumatera-utara-dan-nasional.html

Referensi

Dokumen terkait

tentang Nilai budaya adat Sumang. Materi yang ditanyakakan dalam wawancara adalah segala hal yang berkaitan dengan potensi nilai yang terdapat dalam budaya

nilai-nilai budaya yang terkandung dalam kumpulan cerita pendek ”Robohnya Surau

Nilai-nilai yang terkandung dalam budaya lokal tersebut seperti religious, gotongroyong, disiplin, tanggung jawab, peduli sesama dan peduli lingkungan dapat ditanamkan

Kepala sekolah dan guru memahami bahwa nilai-nilai budaya sikap toleransi sangat penting untuk ditanamkan kepada siswa, karena terkandung nilai-nilai yang terkait dengan

Penelitian etnografi dalam hal ini berfungsi untuk mengkonsepsi nilai-nilai budaya dan kearifan lokal masyarakat Bali Aga di desa Trunyan sebagai pusat pembudayaan,

Dalam upacara pernikahan pada masyarakat Pakpak, tari atau tatak. digunakan dalam hampir setiap

Dalam BAB IV mengenai tentang nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam budaya jawa terutama pada proses adat pemakaman di Desa Pager.. BAB V

Ekspresi dan simbol-simbol dalam cerita rakyat Ambai adalah representasi sosial budaya dari komunitas Ambai yang terkait dengan nilai-nilai pendidikan sosial budaya