PERANCANGAN INTEGRASI METADATA ONLINE PUBLIC ACCESS
CATALOG PERPUSTAKAAN DENGAN REPOSITORY
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan studi untuk memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos) pada
program studi Perpustakaan dan Informasi
OLEH
ADESIMA QISTEE PERMATA 110709051
DEPARTEMEN STUDI ILMU PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
ABSTRAK
Adesima Qistee Permata. 2015. Perancangan Integrasi Metadata Online Public Access Catalog Perpustakaan dengan Repository Universitas Sumatera Utara. Medan: Departemen Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan perancangan integrasi metadata Online Public Access Catalog (OPAC) perpustakaan dengan Repository Universitas Sumatera Utara (USU-IR) dan membuat desain struktur metadata baru (OPAC dan USU-IR) hasil integrasi.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan analisis konten. Unit analisis dalam penelitian ini adalah database OPAC dan USU-IR, dengan struktur data dan kerangka metadata sebagai data primer penelitian.
Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur dan studi dokumentasi. Untuk mendapatkan data primer dengan cara melakukan penelusuran (searching) di situs database OPAC dan USU-IR yang diteliti, kemudian penulis mereview struktur data (konten) serta pemetaan metadata yang terdapat pada masing-masing database dan mendesain struktur baru yang merupakan gabungan dari metadata keduanya untuk digunakan pada integrasi.
Hasil penelitian ini adalah desain struktur data, pemetaan metadata, relasi database, serta user interface yang digunakan untuk mengintegrasikan database OPAC dan USU-IR.
LEMBAR PERSETUJUAN
Judul Skripsi : Perancangan Integrasi Metadata Online Public Access Catalog Perpustakaan dengan Repository Universitas Sumatera Utara
Oleh : Adesima Qistee Permata
NIM : 110709051
Pembimbing I : Dr. Drs. A. Ridwan Siregar, S.H., M.Lib. NIP : 19531125 197812 1 001
Tanda Tangan :
___________________ Tanggal :
___________________
Pembimbing II : Himma Dewiyana, S.T., M.Hum. NIP : 19720825 200604 2 001
Tanda Tangan :
___________________ Tanggal :
LEMBAR PENGESAHAN
Judul Skripsi : Perancangan Integrasi Metadata Online Public Access Catalog Perpustakaan dengan Repository Universitas Sumatera Utara
Oleh : Adesima Qistee Permata
NIM : 110709051
DEPARTEMEN STUDI ILMU PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI Ketua : Dr. Dra. Irawaty A. Kahar, M.Pd.
NIP : 19511119 198601 2 001 Tanda Tangan :
___________________ Tanggal :
___________________
FAKULTAS ILMU BUDAYA Ketua : Dr. Drs. Syahron Lubis, M.A. NIP : 19511013 197603 1 001
Tanda Tangan :
___________________ Tanggal :
PERNYATAAN ORISINALITAS
Karya ini adalah karya orisinalitas dan belum pernah disajikan sebagai suatu tulisan untuk memperoleh suatu klasifikasi tertentu atau dimuat pada media publikasi lain.
Penulis membedakan dengan jelas antara pendapat atau gagasan penulis dengan pendapat atau gagasan yang bukan berasal dari penulis dengan mencantumkan tanda kutip.
Medan, Juli 2015 Penulis
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi yang berjudul “Perancangan Integrasi Metadata Online Public Access Catalog Perpustakaan dengan Repository Universitas Sumatera Utara”. Skripsi ini diselesaikan sebagai salah satu persyaratan untuk meraih gelar Sarjana Sosial (S.Sos.) dalam bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.
Penulis juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Ayahanda terkasih Ir. Suheiry, M.T. dan Ibunda tercinta Ir. Irma Suryani beserta adik-adik tersayang Aulia Hafni El-Sima dan Jihan Natasya El-Sima yang senantiasa
mengiringi langkah ini dengan lantunan do’a dan kasih sayang yang tiada akhir beserta dukungan yang selalu menyertai hingga terselesaikannya skripsi ini.
Pada kesempatan ini penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu keberhasilan penyusunan skripsi ini baik secara langsung maupun tidak langsung. Penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Drs. Syahron Lubis, M.A. Selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Dr. Dra. Irawaty A. Kahar, M.Pd. Selaku Ketua Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Ilmu Budaya, yang telah memberikan izin dalam penyusunan skripsi ini.
3. Bapak Dr. Drs. A. Ridwan Siregar, S.H., M.Lib. Selaku Pembimbing I, dimana beliau telah banyak memberikan bimbingan dan arahan dalam penyelesaian skripsi ini. Rasa penghormatan dan terima kasih yang luar biasa atas waktu, dukungan, petunjuk, dan nasihatnya kepada penulis. 4. Ibu Himma Dewiyana, S.T., M.Hum. Selaku Pembimbing II, yang telah
5. Ibu Laila Hadri Nasution, S.Sos., M.P. Selaku Penguji I, dimana telah membantu memberikan saran serta masukan kepada penulis.
6. Bapak Ishak, S.S., M.Hum. Selaku Penguji II, dimana telah membantu memberikan saran serta masukan kepada penulis. Dan juga berperan sebagai Dosen Pembimbing Akademik yang senantiasa memberikan arahan dan nasihat kepada penulis dari awal perkuliahan.
7. Seluruh Dosen Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi yang telah mendidik dan memberikan ilmu pengetahuan selama ini.
8. Kepada Tim IT Pengembang Perpustakaan USU (Bapak Rasiman, S.Sos. dan Bapak Ray Ansyari Margolang, S.T.) yang telah membantu memberikan saran serta masukan kepada penulis, dan juga membantu kelengkapan data yang berhubungan untuk penyusunan skripsi ini.
9. Kepada Staf Pegawai Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi (Bang Yudi Purnomo) yang telah membantu dalam mengurus surat-surat yang berhubungan dengan penyusunan skripsi.
10.Kepada yang tersayang Fahmi Rinaldi dan teman-teman yang telah memberikan dukungannya; Kiki, Ayu, Mairil, Fanny, Feba, Kak Dayah, Kak Zura, Mulya, Dikko, Fauzi, Eliezer, dan seluruh mahasiswa angkatan tahun 2011 lainnya yang tidak mungkin disebutkan namanya satu persatu.
Semoga Allah SWT membalas budi baik yang telah mereka berikan kepada penulis. Akhir kata, penulis juga menyadari masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan dalam penulisan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan penulisan ini. Penulis juga berharap skripsi ini dapat bermanfaat dan dapat digunakan sebaik-baiknya untuk ilmu pengetahuan, terima kasih.
Medan, Juli 2015 Penulis
DAFTAR ISI
1.1. Latar Belakang Penelitian ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 4
1.3. Tujuan Penelitian ... 5
1.4. Manfaat Penelitian ... 5
1.5. Ruang Lingkup Penelitian ... 5
BAB II TINJAUAN LITERATUR ... 6
2.1. Database ... 6
2.1.1. Tujuan Penggunaan Database... 8
2.1.2. Struktur pada Database ... 9
2.1.3. Relational Database Management System (RDMS) ... 10
2.2. Metadata ... 12
2.2.1. Fungsi Penggunaan Metadata ... 14
2.2.2. Standar Metadata di Perpustakaan ... 16
2.2.2.1. Standar Metadata MARC dan IndoMARC ... 16
2.2.2.2. Standar Metadata Dublin Core ... 20
2.3. Database Bibliografis Perpustakaan Perguruan Tinggi ... 22
2.3.1. Pengertian dan Konsep Katalog Perpustakaan ... 22
2.3.2. Pengertian dan Konsep Repositori Institusi Perguruan Tinggi ... 24
2.4. Integrasi Online Public Access Catalog Perpustakaan dengan Institusional Repository ... 26
2.4.1. Pengalaman Perpustakaan dalam Integrasi OPAC Perpustakaan dengan Repository ... 31
2.4.2. Perbandingan Metadata OPAC Perpustakaan dengan Repository ... 35
BAB III METODE PENELITIAN ... 37
3.1. Pendekatan dan Metode Penelitian ... 37
3.2. Lokasi Penelitian ... 37
3.3. Unit Analisis ... 37
3.4. Teknik Pengumpulan Data ... 38
3.5. Jenis dan Sumber Data ... 38
3.6. Instrumen Penelitian... 39
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 43
4.1. Online Public Access Catalog Perpustakaan (USU OPAC) ... 43
4.1.1. Pemetaan Struktur Data dan Metadata pada USU OPAC ... 44
4.2. Institusional Repository (USU-IR) ... 46
4.2.1. Pemetaan Struktur Data dan Metadata pada USU-IR ... 48
4.3. Hasil Temuan Perancangan Integrasi Metadata OPAC Perpustakaan dengan USU-IR ... 51
4.3.1. Perbandingan Struktur Data dan Metadata OPAC dengan USU-IR ... 51
4.3.2. Bagan Arus Sistem Integrasi OPAC dengan USU-IR ... 53
4.3.2.1. Database Integrasi OPAC dengan USU-IR ... 54
4.3.3. Desain Relasi Database Integrasi OPAC dengan USU-IR ... 56
4.3.4. Desain Rekomendasi Pemetaan Struktur Data dan Metadata ... 58
4.3.5. Desain Rekomendasi Tampilan User Interface ... 61
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 65
5.1. Kesimpulan ... 65
5.2. Saran ... 66
DAFTAR PUSTAKA ... 67
Lampiran 1: Dokumentasi ... 73
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1. Unsur Metadata MARC ... 18
Tabel 2.2. Unsur Metadata Dublin Core ... 21
Tabel 2.3. Informasi Penelitian Terdahulu ... 31
Tabel 2.4. Struktur Data Integrasi OPAC dengan UZ-ETD ... 32
Tabel 2.5. Pemetaan Format Metadata IR dan OPAC ... 35
Tabel 2.6. Pemetaan Format Metadata IR dan OPAC ... 36
Tabel 3.1. Tabel Pengumpulan Data ... 40
Tabel 3.2. Tabel Analisis Data ... 41
Tabel 4.1. Elemen Metadata USU OPAC ... 45
Tabel 4.2. Elemen Metadata USU-IR ... 49
Tabel 4.3. Perbandingan Struktur Data OPAC dan USU-IR ... 52
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1. Lingkup Sistem Database secara Sederhana ... 7
Gambar 2.2. Hierarki/Tingkatan Data dalam Sebuah Struktur Database ... 9
Gambar 2.3. Simbol Relasi One to One ... 12
Gambar 2.4. Simbol Relasi One to Many dan Many to One ... 12
Gambar 2.5. Simbol Relasi Many to Many ... 12
Gambar 2.6. Contoh Metadata MARC ... 20
Gambar 2.7. Contoh Metadata Dublin Core ... 22
Gambar 2.8. Integrasi Presentasi ... 29
Gambar 2.9. Integrasi Data ... 29
Gambar 2.10. Integrasi Fungsional ... 30
Gambar 2.11. User Interface Konten Web Integrasi OPAC dengan UZ-ETD ... 33
Gambar 3.1. Alur Kerja (Flowchart) Penelitian ... 42
Gambar 4.1. Halaman Depan User Interface Katalog Perpustakaan (USU OPAC) ... 44
Gambar 4.2. Struktur Data pada USU OPAC ... 45
Gambar 4.3. Halaman Depan User Interface USU Repositori (USU-IR) ... 47
Gambar 4.4. Struktur Data pada USU-IR ... 48
Gambar 4.5. Bagan Arus Sistem Integrasi OPAC dan USU-IR... 53
Gambar 4.6. Ilustrasi Interaksi Pengguna dengan Sistem Database ... 55
Gambar 4.7. ERD OPAC dan USU-IR Terintegrasi ... 57
Gambar 4.8. Bagan Tautan Elemen Data dan File Elektronik (PDF) ... 59
Gambar 4.9. Ilustrasi Desain User Interface Hasil Penelusuran Konten Koleksi Integrasi OPAC + USU IR ... 62
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lamp 1.1. Ilustrasi Desain Hasil Penelusuran Integrasi OPAC dan USU-IR ... 74
Lamp 1.2. Ilustrasi Desain Rekod Katalog Integrasi OPAC dan USU-IR ... 75
Lamp 2.1. Surat Izin Observasi ... 77
ABSTRAK
Adesima Qistee Permata. 2015. Perancangan Integrasi Metadata Online Public Access Catalog Perpustakaan dengan Repository Universitas Sumatera Utara. Medan: Departemen Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan perancangan integrasi metadata Online Public Access Catalog (OPAC) perpustakaan dengan Repository Universitas Sumatera Utara (USU-IR) dan membuat desain struktur metadata baru (OPAC dan USU-IR) hasil integrasi.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan analisis konten. Unit analisis dalam penelitian ini adalah database OPAC dan USU-IR, dengan struktur data dan kerangka metadata sebagai data primer penelitian.
Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur dan studi dokumentasi. Untuk mendapatkan data primer dengan cara melakukan penelusuran (searching) di situs database OPAC dan USU-IR yang diteliti, kemudian penulis mereview struktur data (konten) serta pemetaan metadata yang terdapat pada masing-masing database dan mendesain struktur baru yang merupakan gabungan dari metadata keduanya untuk digunakan pada integrasi.
Hasil penelitian ini adalah desain struktur data, pemetaan metadata, relasi database, serta user interface yang digunakan untuk mengintegrasikan database OPAC dan USU-IR.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Penelitian
Didasarkan pada sebuah pernyataan hukum perpustakaan yang
dikemukakan oleh Ranganathan (1931) yang berbunyi “the library is a growing organism” yang berarti perpustakaan adalah sebuah organisasi yang berkembang.
Jika dikaitkan dengan teknologi perkembangan zaman saat ini, sebuah organisasi perpustakaan bukan tidak mungkin untuk terus menciptakan inovasi-inovasi dan juga diharapkan mampu untuk memahami strategi serta konsep otomasi dengan mengikuti tren teknologi dari perkembangan zaman di dunia agar perpustakaan tersebut tetap berkembang dan tidak ditinggalkan oleh penggunanya.
Perpustakaan menggunakan database sebagai dasar pengelolaan berbagai jenis sistem yang ada di dalam perpustakaan. Adanya sistem pengolahan informasi yang direpresentasikan ke dalam bentuk database dinilai sangat membantu perpustakaan dalam melakukan pemrosesan data dan pengetahuan yang menjadi salah satu tugas operasional perpustakaan. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya perpustakaan yang sudah memiliki database untuk penyebaran dan pengolahan informasi organisasinya.
Untuk memudahkan pendeskripsian sumber informasi dari objek data dalam database tersebut, maka digunakanlah metadata. Metadata merupakan pilar atau dasar dalam membangun database pada perpustakaan digital, dimana metadata bukan hanya sekedar data melainkan data yang berisikan data ataupun informasi data dan data informasi. Informasi kecil yang cukup representatif dalam suatu metadata akan memberikan kemudahan dalam pencarian informasi yang dibutuhkan. Perpustakaan sudah lama menciptakan metadata dalam bentuk pengatalogan koleksi.
perguruan tinggi adalah katalog koleksi perpustakaan digital atau Online Public Access Catalog (OPAC) dan Repositori Institusi atau Institusional Repository (IR). OPAC dan IR sama-sama memegang peranan penting dalam sistem temu kembali (information retrieval system) yang merupakan salah satu unsur penting dalam kegiatan penelusuran informasi di perpustakaan. OPAC merupakan sebuah database online berupa cantuman bibliografi yang dibangun perpustakaan untuk kemudahan pengguna dalam melakukan pencarian sumber daya informasi (koleksi tercetak) yang dimiliki perpustakaan, sedangkan IR merupakan sebuah media penyimpanan data-data digital hasil penelitian akademik dalam sebuah lingkungan perguruan tinggi.
Dari data yang dipaparkan oleh Rasiman (2010) dapat diketahui bahwa Perpustakaan Universitas Sumatera Utara (USU) sudah memulai pembuatan IR sejak tahun 2001 dan proses ini terus mengalami perkembangan hingga pada Februari 2002 dimulainya publikasi di situs web Perpustakaan USU dengan jumlah awal 298 artikel. Saat ini USU-IR masih terus mengalami pertumbuhan publikasi karya ilmiah dan telah menyimpan sebanyak 43.558 artikel (pada penghitungan Mei 2015) yang dapat diakses pada situs web repository.usu.ac.id. Dalam perkembangannya, USU-IR telah menggunakan metadata Dublin Core yang sudah mendukung Open Archive Initiative-Protocol for Metadata Harvesting (OAI-PMH) untuk kebutuhan pertukaran metadata secara cepat dan otomatis.
Dari survei ini dapat dibuktikan bahwa situs web Perpustakaan USU, yaitu OPAC dan IR menduduki presentasi tertinggi dalam hal pemanfaatan/akses yang dilakukan oleh pengguna daripada situs lainnya yang terdapat dalam usu.ac.id. Kedua database ini memegang peranan penting sebagai pusat rujukan informasi dalam memenuhi keperluan studi terutama untuk menunjang kegiatan akademik dan penelitian civitas akademika Perpustakaan USU.
Dari pengamatan awal penulis, terlihat bahwa pengguna memiliki keterbatasan waktu dalam melakukan pencarian dan penelusuran informasi yang tersebar di situs web Perpustakaan USU (OPAC dan IR) dalam bentuk publikasi elektronik (digital publishing) maupun sumber informasi bibliografi bahan tercetak (printed materials). Hal ini terjadi karena para pengguna harus melakukan penelusuran dengan database yang berbeda untuk mengakses sumber informasi yang dibutuhkan, sehingga hal ini dapat menyulitkan beberapa pengguna yang memiliki keterbatasan waktu dalam menelusur dan memanfaatkan informasi. Jika ditinjau lebih jauh lagi, hal ini secara perlahan akan mengakibatkan penurunan efisiensi serta kinerja dari layanan Perpustakaan USU.
Perilaku pengguna perpustakaan perguruan tinggi telah berubah drastis dalam beberapa tahun terakhir karena mesin pencari internet telah menjadi alat atau pilihan yang mampu memfasilitasi pengguna dalam mencari informasi yang mereka butuhkan. Banyak mahasiswa, dosen, dan peneliti beralih ke mesin pencari online seperti Google hanya karena Google jauh lebih mudah digunakan daripada database online perpustakaan. Perpustakaan menghadapi hilangnya posisinya sebagai pintu gerbang utama untuk bahan penelitian. Pustakawan harus secara efektif merespon tren ini dengan merevitalisasi OPAC perpustakaan dengan mengintegrasikannya dengan database IR untuk membuat sumber informasi menjadi lebih mudah ditemukan.
integrasi tersebut, penelusuran pada OPAC dan USU-IR dapat ditampilkan dalam satu antarmuka (interface) yang telah saling terintegrasi dan dikelola oleh suatu kerangka metadata yang efektif dan cocok untuk penggunaan dalam jangka panjang.
Namun kendala yang sering terjadi adalah format metadata pada interface penelusuran yang tidak seragam sehingga dapat menyulitkan penelusur untuk mengakses informasi pada database tersebut. Diperlukan adanya keseragaman antara OPAC dan USU-IR yang memungkinkan pengguna untuk mengakses informasi secara cepat walaupun berbeda format metadata sehingga perlu ditinjau kembali bagaimana sistem database terintegrasi agar tidak ada lagi database yang terpisah dan penelusuran informasi yang relevan juga tidak memakan waktu yang lama.
Untuk itu penulis akan mendesain struktur metadata dan struktur interface baru yang digunakan untuk integrasi OPAC dan USU-IR sehingga akan memudahkan pengguna perpustakaan dalam melakukan penelusuran informasi dengan hanya pada satu interface OPAC dapat menjaring publikasi elektronik yang terdapat pada USU-IR. Jika hal ini diterapkan, maka secara berkelanjutan akan mengakibatkan peningkatan efisiensi dan efektifitas pengguna dalam hal kemudahan akses serta kepuasan dalam melakukan penelusuran/pemanfaatan informasi yang merupakan salah satu tujuan dari keberhasilan layanan Perpustakaan USU.
Berdasarkan hal tersebut, untuk mengetahui penelitian lebih dalam, maka
penulis mengangkat judul “Perancangan Integrasi Metadata Online Public Access Catalog Perpustakaan dengan RepositoryUniversitas Sumatera Utara”.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah:
2. Bagaimana desain struktur metadata baru (OPAC dan USU-IR) setelah diintegrasikan?
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan penulis dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk menganalisis kebutuhan perancangan integrasi metadata Online Public Access Catalog (OPAC) perpustakaan dengan Repository USU (USU-IR).
2. Untuk membuat desain struktur metadata baru (OPAC dan USU-IR) hasil integrasi.
1.4. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi:
1. Perpustakaan USU, dapat menjadi bahan pertimbangan untuk mengambil kebijakan dalam integrasi (OPAC dan USU-IR) serta rancangan struktur metadata hasil integrasi tersebut.
2. Penulis, untuk menambah pengetahuan dan pemahaman penulis tentang metadata dan perancangannya.
3. Peneliti selanjutnya, sebagai bahan rujukan untuk melakukan penelitian yang berkaitan dengan metadata perpustakaan.
4. Menambah khasanah literatur bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi, khususnya kajian tentang metadata bibliografis perpustakaan.
1.5. Ruang Lingkup Penelitian
BAB II
TINJAUAN LITERATUR
2.1. Database
Basis data atau database merupakan kumpulan dari data yang saling berhubungan satu sama lain, tersimpan di perangkat keras komputer secara terstruktur sehingga memberikan kemudahan dalam akses kembali. Database dapat dikatakan sebagai salah satu komponen yang penting dalam sistem informasi karena merupakan basis data dalam menyediakan informasi bagi para pengguna.
Rainer dan Turban (2009, 412) mendefinisikan “Database adalah sekelompok file yang berhubungan secara logika yang menyimpan data dan saling
berkaitan”. Sedangkan William dan Sawyer (2011, 164) menjelaskan “Database
merupakan koleksi data yang disimpan secara elektronik dalam sistem komputer”.
Apabila melihat dari kedua definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa database merupakan sekelompok file yang berhubungan secara logika dan disimpan secara elektronik dan terkomputerisasi sehingga dapat diakses dengan mudah dan cepat.
Prinsip utama database adalah sebagai pengaturan data dengan tujuan utama fleksibilitas dan kecepatan pada saat pengambilan data kembali. Aurino (2007) menjabarkan lebih detail lagi mengenai gambaran sebuah database yaitu
kolom yang satu dengan kolom yang lainnya dan memiliki satu pengertian lengkap yang disimpan dalam satu record.
Berikut merupakan gambaran mengenai lingkup sistem database secara sederhana menurut Elmasri dan Navathe.
Gambar 2.1 Lingkup Sistem Database Secara Sederhana Sumber: Elmasri dan Navathe 2011, 1
Gambar di atas memperlihatkan bahwa sebuah database tidak hanya disimpan begitu saja, tetapi diolah dan dikelola oleh sebuah sistem database yang disebut Database Management System (DBMS). Database ini menggunakan perangkat lunak (software) tertentu untuk memanipulasinya yang merupakan bagian dari program aplikasi komputer (computer application programs). Jadi meski data yang diolah sangat besar, namun dapat tetap tersusun dan terstruktur untuk meningkatkan kecepatan dalam akses data. Dan dapat diketahui bahwa
Application Programs/Queries
Stored Database Definition (Meta-Data)
Stored Database
Users/Programmers
Database System
Software to Process Queries/Programs
Software to Access Stored Data
metadata-lah yang mengontrol dan menjadikan data terstruktur serta terkendali untuk kepentingan database tersebut.
2.1.1. Tujuan Penggunaan Database
Dalam penerapan suatu sistem pasti mempunyai suatu tujuan tertentu. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, database diorganisasikan sedemikian rupa untuk menemukan kemudahan dalam mengakses data yang dibutuhkan.
Menurut Wardhani (2007) tujuan dari penggunaan database adalah sebagai berikut:
1. Kecepatan dan kemudahan (speed); dimaksudkan agar user dapat menyimpan, memanipulasi, dan menampilkan kembali data lebih cepat dan mudah daripada cara biasa.
2. Efisiensi ruang penyimpanan (space); dapat mengurangi redundancy, misalnya dengan pengkodean dan membuat relasi.
3. Keakuratan (accuracy); dimaksudkan agar data sesuai dengan aturan dan batasan tertentu.
4. Ketersediaan (availability); yaitu agar data dapat diakses oleh setiap user yang membutuhkan.
5. Kelengkapan (completeness); yaitu dengan menambahkan field pada tabel.
6. Keamanan (security); yaitu pembedaan hak akses untuk setiap user terhadap data yang dapat dibaca atau proses yang dapat dilakukan yang bertujuan agar data yang rahasia tidak jatuh ke tangan user yang tidak berhak, misalnya dengan pengkodean atau membuat akun (username dan password).
7. Kebersamaan (shareability); yaitu mendukung lingkungan multiuser, menghindari inkonsistensi data dan deadlock.
Dari tujuan yang telah dijabarkan di atas, dapat diketahui bahwa database memiliki kecepatan, kemudahan, keakuratan dan efisiensi dalam menyimpan data sesuai dengan kebutuhan user; serta memiliki keamanan dan ketersediaan dalam hal akses dan penyimpanan.
Keuntungan yang diperoleh dari penerapan sebuah database untuk memenuhi tujuan dari suatu sistem seperti dikemukakan oleh Subekti (2004, 7) sebagai berikut:
1. Kontrol terpusat data operasional,
5. Penerapan standardisasi,
6. Penerapan pembatasan keamanan data (security), 7. Integritas data dapat dipelihara,
8. Kebutuhan yang berbeda dapat diselaraskan, dan 9. Independensi data/program.
Dari penerapan database ini diharapkan mampu menghindari atau meminimalisir ketidak konsistenan data, sehingga data dapat terkontrol secara terpusat dan integritas data juga dapat dipelihara. Kebutuhan pengguna yang berbeda juga dapat diselaraskan, serta keamanan dalam pembatasan pengggunaan data dapat diterapkan (Karyatin 2012, 11).
Mengarah kepada integritas yang tertera pada salah satu keuntungan penerapan database yang dikemukakan oleh Subekti pada penjelasan di atas, dalam penelitian ini penulis memfokuskan untuk membahas masalah integrasi berdasarkan rancangan struktur metadata pada database bibliografis Perpustakaan USU, yaitu OPAC dan IR.
2.1.2. Struktur pada Database
Sebelum menjabarkan mengenai konten atau komponen metadata dari database yang diperlukan untuk memulai tahapan integrasi, ada baiknya terlebih dahulu mengetahui akan tingkatan data dalam sebuah struktur database seperti yang dijelaskan oleh Widiarti sebagai berikut:
Gambar 2.2 Hierarki/Tingkatan Data dalam Sebuah Struktur Database Sumber: Widiarti 2008, 39
Database
File
Record
Field
Lebih lanjut, Widiarti (2008, 39) mengemukakan penjelasan mengenai lima tingkatan data dalam sebuah struktur database yang telah diketahui pada gambar di atas, yaitu:
1. Database : merupakan kumpulan dari tabel (file) yang saling berhubungan, database menduduki urutan tertinggi karena di dalamnya semua data disimpan.
2. File : sering disebut entitas. File terdiri atas record yang menggambarkan kesatuan data yang sejenis.
3. Record : merupakan kumpulan kolom (field) yang membentuk suatu record. Satu record menggambarkan informasi tentang individu tertentu.
4. Field : merupakan atribut dari record yang menunjukan suatu value/item data.
5. Value : jenjang terkecil yang merupakan isi dari field yang berupa karakter, huruf, dan angka.
Dapat dilihat bahwa jenjang dari tingkatan sebuah data pada database, dimulai tingkatan yang paling terkecil adalah value yang berupa karakter, kemudian menyusul field/kolom yang berisi dari kumpulan value, kemudian record yang merupakan kumpulan dari field, serta file yang menggambarkan kesatuan data yang sejenis yang terangkum dalam hierarki struktur database.
Value yang merupakan tingkatan paling terkecil dalam hierarki struktur database memuat informasi berupa struktur metadata yang digunakan sebagai format/standar untuk pengumpulan data. Penyeragaman metadata pada database penting untuk dilakukan agar integrasi dapat berjalan. Pada pembahasan selanjutnya akan dijelaskan mengenai metadata dan integrasi database.
2.1.3. Relational Database Management System (RDMS)
“Dalam basis data (database), terdapat tiga istilah penting yang berkaitan erat satu sama lain yaitu entitas, atribut, dan relationship” (Connolly 2010, 65; dalam Muliady dkk 2013, 8). Lebih lanjut, Connolly menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan entitas, atribut, dan relationship adalah
Dan relationship adalah asosiasi atau kumpulan keterhubungan yang mempunyai arti (meaningful association) antar tipe entitas (Conolly 2010, 65).
Konstruksi utama untuk merepresentasikan data dalam model relational database adalah relasi. Relasi terdiri dari contoh relasi yang berupa tabel, dan skema relasi yang berupa deskripsi kepala kolom (primary key) dari tabel.
Dalam mendesain sebuah relasi (relational database) perlu dilakukan identifikasi hubungan tiap-tiap entitas. Adapun solusi untuk menganalisa dan mengidentifikasi hubungan pada entitas database tersebut adalah dengan menggunakan Relational Database Management Systems (RDMS). RDMS dapat mengelola relasi-relasi yang merupakan sekumpulan entitas yang saling berkaitan pada suatu basis data, dan relasi ini juga akan menggambarkan atau menjelaskan hubungan antara satu entitas dengan entitas lain.
Adapun yang dimaksud dengan relational database pada RDMS seperti yang diungkapkan oleh Jae Jin Koh (2007) dalam International Forum on Strategic Technology IEEE bahwa “Relational database is a group of tables, also called relations in the database community”.
Sejalan dengan definisi di atas, Suri dan Sharma (2011, 116) dalam International Journal of Database Management Systems juga menambahkan
bahwa “A relational database is a database that comforms to the relational model and could also be defined as a set of relations or a database built in an RDMS”.
Dari dua pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa relational database merupakan database yang berisi dua atau lebih tabel yang saling berhubungan dan memungkinkan untuk menjelaskan hubungan antara semua data struktur.
Adapun tujuan utama dari desain relational database pada RDMS menurut Connolly (2010, 418) adalah untuk “mengelompokkan atribut-atribut ke dalam relasi-relasi sehingga meminimalisasi redundansi data atau mengurangi penggunaan tempat penyimpanan yang dibutuhkan oleh sebuah relasi dasar”.
Setiap relasi entitas pasti memiliki suatu batasan. Batasan utama pada relational entity disebut multiplicity, yaitu jumlah (range) dari kejadian yang mungkin terjadi pada suatu entitas yang terhubung ke satu kejadian dari entitas lain yang berhubungan melalui suatu relationship. Relationship yang paling umum dikenal adalah binary relationship (Connolly 2010, 382).
Adapun macam-macam binary relationship yang dipaparkan Connolly (2010, 382-389) adalah sebagai berikut:
1. One to one relationship
Jika sebuah entitas A berhubungan paling banyak dengan satu entitas B dan sebuah entitas B berhubungan paling banyak dengan satu entitas A.
Gambar 2.3 Simbol Relasi One to One 2. One to many dan many to one relationship
Jika sebuah entitas A berhubungan dengan lebih dari satu entitas B dan sebuah entitas B berhubungan dengan paling banyak satu entitas A, atau sebaliknya.
Gambar 2.4 Simbol Relasi One to Many dan Many to One 3. Many to many relationship
Jika sebuah entitas A berhubungan dengan lebih dari satu entitas B dan sebuah entitas B berhubungan dengan lebih dari satu entitas A.
Gambar 2.5 Simbol Relasi Many to Many
2.2. Metadata
Metadata merupakan istilah baru dan bukan merupakan konsep baru di
manajemen pangkalan data” (Haynes 2004). Dalam pengertiannya, metadata
sering disebut data tentang data atau informasi tentang suatu informasi.
Perpustakaan sudah lama menciptakan metadata dalam bentuk pengatalogan koleksi yang bertujuan untuk memudahkan pendeskripsian sumber informasi dari objek data. Metadata merupakan pilar atau dasar dalam membangun database pada perpustakaan digital, dimana metadata bukan hanya sekedar data melainkan data yang berisikan data ataupun informasi data dan data informasi. Informasi kecil yang cukup representatif dalam suatu metadata akan memberikan kemudahan dalam pencarian informasi yang dibutuhkan.
Menurut National Information Standards Organization (NISO 2004, 1)
“Metadata is key to ensuring that resources will survive and continue to be accessible into the future”. (Metadata adalah kunci untuk memastikan bahwa
sumberdaya akan bertahan dan dapat terus diakses di masa depan).
Dalam hal ini, metadata memberikan kesempatan bagi pustakawan untuk membuat suatu kerangka metadata yang efektif dan cocok untuk penggunaan jangka panjang sehingga memungkinkan untuk kemudahan penelusuran (access) dalam melayankan berbagai jenis sumber informasi kepada pengguna perpustakaan.
Munculnya perpustakaan digital dan perkembangan informasi di Intenet dan WWW (World Wide Web) semakin memperbesar rasa urgensi untuk membuat standar atau skema metadata (metadata scheme) yang tidak saja cocok untuk description dan discovery sumber-sumber digital (digital resources) tetapi juga untuk keperluan lain seperti pengelolaan, pelestarian, dan penilaian (Aditirto 2006, 2).
Menurut Caplan (2003, 3) dari bagian pengenalan tentang metadata
memberikan definisi bahwa “Metadata is here used to mean structured information about an information resources of any media type of format”.
Senada dengan pernyataan di atas, National Information Standards
Organization (NISO 2004, 1) melengkapi bahwa “Metadata is structured information that describes, explains, locates, or otherwise makes it easier to
Dari kedua definisi yang dipaparkan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa metadata adalah bentuk pengidentifikasian, penjelasan suatu data, atau diartikan sebagai struktur dari sebuah data yang fungsinya untuk mengelola sumberdaya elektronik serta memudahkan dalam penemuan informasi yang relevan.
Lebih lanjut, NISO mengemukakan tiga jenis metadata yang dikutip oleh Rachmat, yaitu:
1. Metadata deskriptif
Yaitu metadata yang menjelaskan suatu record data dengan tujuan untuk identifikasi atau pencarian data. Beberapa elemen yang bisa masuk dalam metadata ini adalah judul (title), penulis (author), abstraksi (abstract), dan kata kunci (keywords).
2. Metadata struktural
Yaitu metadata yang memberikan informasi tambahan terhadap suatu obyek lain. Contohnya: halaman pada buku yang membentuk suatu bab buku.
3. Metadata administratif
Yaitu metadata yang memberikan informasi tambahan terhadap suatu data dengan tujuan untuk pengelolaan record data. Contohnya: kapan dan bagaimana data itu diciptakan, tipe/jenis file, serta informasi mengenai pengguna yang diizinkan untuk mengakses. Jadi, tipe metadata ini tidak langsung berkaitan dengan informasi datanya, melainkan ke pengelolaan. Ada dua tipe metadata administratif, yaitu rights management metadata dan preservation metadata (NISO 2004, 1; dalam Rachmat 2014, 2-3).
Telah dijelaskan oleh NISO lebih detail bahwa jenis-jenis metadata terbagi atas deskriptif, struktural, dan administratif. Metadata deskriptif digunakan untuk identifikasi atau pencarian data, metadata struktural digunakan untuk informasi tambahan berupa metode pendukung untuk pencarian data, dan yang terakhir metadata administratif digunakan untuk informasi lengkap yang digunakan dalam pengelolaan record data.
2.2.1. Fungsi Penggunaan Metadata
digital (mirip dengan digital signature), serta membantu dalam pengarsipan (archiving) dan pelestarian (preservation) (NISO 2004).
Haynes mengemukakan beberapa fungsi metadata seperti yang dikutip oleh Prasetya sebagai berikut:
1. Sumber informasi (resources description)
Ini merupakan fungsi yang paling fundamental dari sebuah metadata. Karena sebuah data dapat diidentifikasi sebagai satu kesatuan berbeda dari data lainnya sehingga dapat ditemukan dengan menggunakan suatu pendekatan unik yang ada dalam metadata tersebut.
2. Temu kembali informasi (information retrieval)
Metadata digunakan untuk memasukkan suatu istilah pada semacam konteks semantik, memberitahukan mesin pencari atau aplikasi lain bagaimana memperlakukan suatu unsur metadata sehingga suatu sumber informasi dapat ditemukan dengan istilah tersebut.
3. Pengelolaan informasi (management of information)
Dengan adanya metadata, dapat ditentukan bagaimana melakukan pengelolaan informasi mengenai penyimpanan dan penemuan kembali sumberdaya informasi.
4. Manajemen hak cipta, kepemilikan dan otentisitas (right management, ownership and authenticity)
Mendorong perkembangan metadata dalam dunia penerbitan khususnya media tercetak dan elektronik, menjadi suatu kebutuhan untuk mengelola hak intelektual tersebut dengan baik. Fungsi ini merupakan salah satu fungsi yang menjadi fokus utama untuk menghindari plagiarisme dan melindungi hak cipta atas suatu sumber informasi.
5. Interoperabilitas (interoperability)
Merupakan kemampuan pertukaran data dalam berbagai sistem menggunakan perangkat lunak dan perangkat keras, serta struktur data. Dengan menggunakan metadata, sebuah sistem dapat mengidentifikasi informasi terstruktur yang kemudian sumber informasi tersebut menampilkan informasi sesuai dengan ketentuan tertentu (Haynes 2004; dalam Prasetya 2010, 10-12).
2.2.2. Standar Metadata di Perpustakaan
Seperti yang telah diketahui pada pembahasan sebelumnya, metadata memiliki standar yang digunakan untuk pengumpulan data.
Beragam standar metadata yang digunakan akan menjadi masalah pada saat integrasi dilakukan. Pada implementasinya, harus digunakan satu jenis metadata yang dapat menyatukan seluruh metadata yang akan digunakan sebagai format standar untuk pengumpulan data. Pemetaan metadata dapat digunakan untuk transformasi elemen yang terdapat pada satu jenis metadata ke jenis metadata lainnya (Gunawan 2011, 8).
Standar metadata yang umum digunakan di perpustakaan adalah MARC (Machine Readable Cataloging), METS (Metadata Encoding and Transmission Standard), MODS (Metadata Object Description Standard), dan Dublin Core. Sesuai dengan ruang lingkup penelitian, pembahasan standar metadata dalam penelitian ini dibatasi pada Dublin Core dan MARC yang merupakan standar dari struktur (konten) OPAC dan IR Perpustakaan USU.
2.2.2.1. Standar Metadata MARC dan IndoMARC
MARC merupakan salah satu hasil dan juga sebagai salah satu standar untuk penulisan katalog koleksi bahan perpustakaan, contohnya pada penerapan struktur data OPAC. Dalam penerapannya, MARC memiliki standar metadata yang memiliki elemen lengkap dibandingkan standar metadata lainnya. “Dengan menggunakan metadata MARC, sebuah dokumen dapat direpresentasikan secara
mendetail” (Gunawan 2011, 9).
Dalam situs Library of Congress (LC) dinyatakan bahwa standar metadata katalog perpustakaan ini dikembangkan pertama kali oleh mereka pada pertengahan tahun 1960 dan diprakarsai oleh Henriette Avram yang juga seorang anggota dari LC. Format LC MARC diketahui sangat besar manfaatnya bagi penyebaran data katalogisasi bahan pustaka ke berbagai perpustakaan di Amerika Serikat. Keberhasilan ini membuat negara lain turut mengembangkan format MARC bagi kepentingan nasionalnya masing-masing.
pendidikan dan pekerjaan di bidang perpustakaan, sehingga MARC dianggap mampu mewakili kebutuhan dunia perpustakaan terhadap sebuah standar metadata. Bahasa yang digunakan MARC terdiri atas angka, huruf, dan karakter sehingga MARC terkadang hanya dimengerti oleh orang-orang yang berada dalam lingkup dunia perpustakaan (Primadesi 2012, 7-11).
Menurut Library of Congress (LC 2008, 1) “A MARC record is composed of three elements: the record structure, the content designation, and the data
content of the record”. (Rekod MARC terdiri dari 3 unsur, yaitu: struktur rekod, penunjukan konten, dan konten data dari rekod).
Lebih lanjut, LC (2008, 1) menjelaskan lebih detail ketiga unsur yang merupakan bagian dari rekod MARC diantaranya:
1. Struktur rekod
Merupakan implementasi dari standar internasional Format for Information Exchange (ISO 2709) dari Amerika, dan Bibliographic Information Interchange (ANSI/NISO Z39.2).
2. Penunjukan konten
Kode dan konvensi yang ditetapkan secara eksplisit untuk mengidentifikasi dan mencirikan elemen data dalam catatan dan untuk mendukung manipulasi data yang didefinisikan oleh masing-masing format MARC.
3. Konten data atau isi
Isi dari elemen data yang terbentuk dari rekod MARC biasanya diartikan oleh sebuah standar tertentu. Contohnya adalah International Standard Bibliographic Description (ISBD), Anglo-American Cataloguing Rules (AACR), Library of Congress Subject Headings (LCSH), Tesaurus Subjek, atau peraturan katalogisasi lainnya.
Masing-masing negara mengembangkan format MARC sendiri sesuai dengan kebutuhan spesifik dari negara tersebut, sebagai contoh: Indonesia mengembangkan IndoMARC, Inggris mengembangkan UKMARC, Rusia mengembangkan RUSMARC, dan Malaysia mengembangkan MALMARC.
Menurut Taylor (2004), format MARC menjadi berbeda penerapannya di beberapa negara karena beberapa hal diantaranya:
1. MARC merupakan pengembangan sistem katalogisasi, 2. Adanya perbedaan subject control dan sistem klasifikasi, 3. Perbedaan bahasa resmi yang digunakan,
5. Perbedaan set karakter dan kode, dan
6. Beberapa perbedaan teknik yang pada umumnya disesuaikan dengan kebutuhan pengembang konsep MARC tersebut.
IndoMARC merupakan implementasi dari International Standard Organization (ISO) 2709 untuk Indonesia, yang merupakan format untuk tukar-menukar informasi bibliografi melalui format digital atau media terbacakan mesin (machine-readable). Informasi bibliografi biasanya mencakup pengarang, judul, subjek, catatan, data penerbitan dan deskripsi fisik (Suharyanto 2012, 2).
IndoMARC menguraikan format cantuman bibliografi yang sangat lengkap terdiri dari 700 elemen dan dapat mendeskripsikan dengan baik objek fisik sumber pengetahuan, seperti monograf (BK); manuskrip (AM); dan terbitan berseri (SE) termasuk buku pamflet, lembar tercetak, atlas, skripsi, tesis dan disertasi (baik diterbitkan ataupun tidak), dan jurnal buku langka (LC 2008, 2).
Lebih lanjut, LC (2008) mengemukakan metadata MARC yang terdiri atas beberapa ruas dan elemen dengan dilengkapi kode tengara, sebagai berikut:
Tabel 2.1 Unsur Metadata MARC
No Ruas dan Kode
Tengara (tag) Keterangan
1. Ruas nomor dan kode
015 Nomor bibliografi nasional
020 Nomor untuk ISBN
022 Nomor untuk serial ISSN 040 Sumber pengatalogan
041 Kode bahasa
043 Kode wilayah
2. Notasi klasifikasi dan/atau nomor panggil
082 Nomor DDC (Dewey Decimal Classification) 084 Nomor klasifikasi lainnya.
Biasanya diisi dengan nomor panggil buku. 3. Ruas entri utama
100 Entri utama – nama orang
110 Entri utama – nama badan korporasi 111 Entri utama – nama pertemuan 130 Entri utama – judul seragam 4. Ruas judul dan yang berhubungan dengan judul
240 Judul seragam
judul, judul paralel, pernyataan tanggung jawab 246 Bentuk variasi judul/judul lain
5. Ruas edisi, impresium, dan sebagainya 250 Pernyataan edisi
255 Data matematik bahan kartografi 256 Karakteristik berkas komputer
260 Publikasi, distribusi, dan sebagainya (tempat, penerbit, dan tahun)
6. Ruas deskripsi fisik
300 Deskripsi fisik
306 Waktu putar (rekaman suara, film, rekaman radio) 310 Frekuensi publikasi mutakhir
362 Tanggal publikasi dan/atau rancangan urutan 7. Ruas pernyataan seri
440 Pernyataan seri/entri tambahan judul 490 Pernyataan seri (tanpa entri tambahan) 8. Ruas catatan
521 Catatan kelompok pembaca 538 Catatan rincian sistem 9. Ruas akses subjek
600 Entri tambahan subjek – nama orang
610 Entri tambahan subjek – nama badan korporasi 611 Entri tambahan subjek – nama pertemuan 630 Entri tambahan subjek – judul seragam 650 Entri tambahan subjek – topik
651 Entri tambahan subjek – wilayah 10. Ruas entri tambahan
700 Entri tambahan – nama orang
710 Entri tambahan – nama badan korporasi 711 Entri tambahan – nama pertemuan
740 Entri tambahan – judul analitik atau judul lain 11. Ruas entri tambahan seri
800 Entri tambahan seri – nama orang
810 Entri tambahan seri – nama badan korporasi 811 Entri tambahan seri – nama pertemuan 830 Entri tambahan seri – judul seragam 14. Ruas kepemilikan, lokasi, dan sebagainya
Contoh metadata MARC seperti yang dipaparkan oleh Hagen adalah sebagai berikut:
Gambar 2.6 Contoh Metadata MARC Sumber: Hagen 2013, 9
2.2.2.2. Standar Metadata Dublin Core
Dublin Core Metadata Element Set (DCMES) atau yang biasa disebut sebagai Dublin Core merupakan standar metadata yang sangat terkenal dan dipakai secara luas di berbagai bidang ilmu termasuk salah satunya perpustakaan, yaitu pada USU-IR. “Standar metadata Dublin Core memiliki elemen yang
sederhana, namun efektif untuk merepresentasikan berbagai sumber daya”
(Gunawan 2011, 6).
008 050621s2005 wvu bm s000 0 eng d 035__ |a (OCoLC)ocm60695171 040__ |a WVU |c WVU
043__ |a n-us-wv
099__ |a Electronic |a Thesis |a 2005 |a Burns, S. 1001_ |a Burns, Shirley Stewart.
24510 |a Bringing down the mountains |h [electronic resource] : |b the impact of mountaintop removal surface coal mining on
southern West Virginia communities, 1970-2004 / |c Shirley L. Stewart Burns.
24630 |a Impact of mountaintop removal surface coal mining on southern West Virginia communities, 1970-2004
260__ |a Morgantown, W. Va. : |b [West Virginia University Libraries], |c c2005.
500__ |a Title from document title page.
500__ |a Document formatted into pages; contains x, 232 p. : ill. (some col.), maps.
500__ |a Includes abstract.
502__ |a Thesis (Ph. D.)--West Virginia University, 2005. 504__ |a Includes bibliographical references (p. 210-225). 530__ |a WVU users: Also available in print for a fee.
538__ |a System requirements: World Wide Web browser and PDF reader. 650_0 |a Mountaintop removal mining |z West Virginia.
650_0 |a Strip mining |z West Virginia. 650_0 |a Coal trade |z West Virginia.
7102_ |a West Virginia University. |t Theses. History.
National Information Standards Organization (NISO 2004, 3) menyatakan bahwa Dublin Core muncul sejak tahun 1995 tepatnya di kota Dublin, Ohio. Dengan dukungan dari Online Computer Library Center (OCLC) dan National Center for Supercomputing Applications (NCSA), metadata Dublin Core dibangun berdasarkan 15 unsur yang bertujuan untuk mendeskripsikan kumpulan elemen yang dibuat oleh suatu mesin pengendali informasi berbasis web.
Lebih lanjut, NISO mengemukakan metadata Dublin Core yang terdiri atas 15 unsur tersebut, yaitu sebagai berikut:
Tabel 2.2 Unsur Metadata Dublin Core
No Elemen Keterangan
1. Title Judul dari sumber informasi 2. Creator Pencipta sumber informasi
3. Subject Pokok bahasan sumber informasi, biasanya dinyatakan dalam bentuk kata kunci atau nomor klasifikasi
4. Description Keterangan suatu isi dari sumber informasi, misalnya berupa abstrak, daftar isi atau uraian
5. Publisher Orang atau badan yang mempublikasikan sumber informasi
6. Contributor Orang atau badan yang ikut menciptakan sumber informasi
7. Date Tanggal penciptaan sumber informasi
8. Type Jenis sumber informasi, novel, laporan, peta dan sebagainya
9. Format Bentuk fisik sumber informasi, format, ukuran, durasi, sumber informasi
10. Identifier Nomor atau serangkaian angka dan huruf yang mengidentifikasikan sumber informasi. Contoh: URI atau alamat situs
11. Source Rujukan ke sumber asal atau suatu sumber informasi 12. Language Bahasa yang intelektual yang digunakan sumber
informasi
13. Relation Hubungan antara satu sumber informasi dengan sumber informasi lainnya
14. Coverage Cakupan isi ditinjau dari segi geografis atau periode waktu
Dublin Core merupakan salah satu skema metadata yang digunakan untuk web resource description and discovery. Lima belas elemen Dublin Core yang telah dijelaskan dalam standar ini adalah bagian dari metadata kosakata dan spesifikasi teknis yang dikelola oleh Dublin Core Metadata Initiative (DCMI).
Seperti yang dikemukakan oleh Ajie (2011, 3) metadata Dublin Core memiliki beberapa kekhususan sebagai berikut:
1. Memiliki deskripsi yang sangat sederhana,
2. Semantic atau arti kata yang mudah dikenali secara umum, dan
3. Bersifat expandable yang memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut.
Contoh metadata Dublin Core seperti yang dipaparkan oleh Greenberg, yaitu:
Gambar 2.7 Contoh Metadata Dublin Core Sumber: Greenberg 2010, 8
2.3. Database Bibliografis Perpustakaan Perguruan Tinggi 2.3.1. Pengertian dan Konsep Katalog Perpustakaan
Katalog perpustakaan lahir dari konsep sistem temu balik informasi yang merupakan salah satu unsur vital dalam kegiatan penelusuran di perpustakaan. Dalam perkembangannya katalog perpustakaan telah mengalami perubahan dari segi fisik, pemanfaatan, serta kemudahan akses yang dilakukan oleh pengguna dalam pencarian sumberdaya informasi di perpustakaan.
Zahiruddin dan Ahmed (2007, 4) dalam artikelnya mengatakan bahwa pengembangan Web OPAC sebagai katalog generasi keempat pada pertengahan tahun 1990 memberikan kenyamanan kepada pengguna, karena dilengkapi dengan
kemampuan untuk menelusur katalog secara online melalui desain antar muka (interface) yang menarik dan mudah digunakan.
Menurut Supriyanto dan Muhsin (2008, 134) “OPAC (Online Public Access Catalog) adalah sebuah fitur yang digunakan untuk memfasilitasi pengunjung untuk mencari katalog koleksi perpustakaan yang dapat diakses oleh
umum”.
Tedd seperti yang dikutip oleh Hasugian (2009, 154) menyatakan hal yang sama namun lebih mendetail bahwa OPAC adalah
Sistem katalog terpasang yang dapat diakses secara umum, dan dapat dipakai pengguna untuk menelusur pangkalan data katalog, untuk memastikan apakah perpustakaan menyimpan karya tertentu, untuk mendapatkan informasi tentang lokasinya, dan jika sistem katalog dihubungkan dengan sistem sirkulasi, maka pengguna dapat mengetahui apakah bahan pustaka yang sedang dicari sedang tersedia di perpustakaan atau sedang dipinjam.
Dari definisi di atas dapat diketahui bahwa OPAC atau disebut juga sebagai katalog perpustakaan (library catalog) merupakan sebuah databaseonline berupa cantuman bibliografi yang dibangun oleh suatu perpustakaan yang ditujukan untuk pengguna perpustakaan dalam menelusur pangkalan data sumberdaya informasi (koleksi) yang dimiliki perpustakaan.
“Kebutuhan pengguna berkomunikasi dengan sistem komputer dalam rangka memecahkan suatu pertanyaan atau permintaan (query), merupakan aspek
paling penting pada OPAC” (Hasugian 2003, 4).
Menurut Archives Library Information Center (ALIC) pada website kelembagaan National Archives and Records Administration (NARA 2014), disebutkan bahwa OPAC memungkinkan pencarian dengan kombinasi penulis (author), judul (title), subjek/kata kunci (subject/keyword), tanggal publikasi (publication date), serta format fisik (physical format).
Penggunaan OPAC di suatu perpustakaan tentunya memiliki suatu tujuan tertentu bagi pengguna. Menurut Kusmayadi dan Andriaty (2006, 53) beberapa tujuan yang ingin dicapai dalam pemanfaatan OPAC adalah:
2. Mengurangi beban biaya dan waktu yang diperlukan dan yang harus dikeluarkan oleh pengguna dalam mencari informasi.
3. Mengurangi beban pekerjaan dalam pengelolaan pangkalan data sehingga dapat meningkatkan efisiensi tenaga kerja.
4. Mempercepat pencarian informasi.
5. Dapat melayani kebutuhan informasi masyarakat dalam jangkauan yang luas.
Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan bahwa tujuan utama dari pemanfaatan OPAC di perpustakaan adalah untuk membantu pengguna dalam kemudahan penelusuran sumber informasi yang tersedia di perpustakaan. Salah satu tujuan lainnya dari penggunaan OPAC ini yaitu sebagai sarana temu kembali informasi yang biasa digunakan oleh sejumlah perpustakaan agar dapat saling bertukar data bibliografis.
2.3.2. Pengertian dan Konsep Repositori Institusi Perguruan Tinggi
Repositori Institusi atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Institusional Repository (disingkat IR) merupakan sebuah media penyimpanan data-data digital hasil penelitian akademik dalam suatu lingkungan perguruan tinggi. Keberadaan IR telah menjadi suatu infrastruktur penting bagi perguruan tinggi dengan menyediakan akses penuh dan terbuka untuk hasil-hasil penelitian civitas akademikanya.
Dalam sejarahnya, keberadaan IR tidak terlepas dari fenomena Open Archives Initiative (OAI) yang berkembang di tahun 1990-an.
Pada mulanya hasil karya intelektual di lembaga disimpan secara lokal dan hanya melibatkan ilmuwan di satu jurusan saja. Namun, setelah OAI muncul dan memperkenalkan protokol untuk harvesting, maka mulai ada kesempatan untuk saling bertukar koleksi antar departemen/jurusan yang kemudian meluas hingga ke seluruh institusi. Dari sinilah lahir konsep dan praktik simpanan kelembagaan untuk hasil karya intelektual institusi (Pendit 2008, 139).
pengguna (user). Kebutuhan akan pemrosesan data yang cepat dan akurat, secara tidak langsung menuntut perpustakaan untuk melakukan pengembangan dalam bidang teknologi guna mendukung proses operasional di dalam perpustakaan.
Dalam pandangan inilah, akhirnya repositori digital muncul dan mulai berkembang sejak tahun 2003 pada saat Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan Hewlett Packard Corporation bekerjasama mengembangkan DSpace yang menjadi program aplikasi dalam pembangunan dan pengelolaan IR (Lynch 2003, 1).
Dikutip dalam jurnal Association of Research Library (ARL), Lynch
(2003, 2) mengemukakan bahwa IR diartikan sebagai “a set of services that a university offers to the members of its community for the management and
dissemination of digital materials created by the institution and its community
members”.
Dari definisi di atas, dapat dikatakan bahwa IR merupakan serangkaian pelayanan yang disediakan oleh perguruan tinggi kepada pengguna atau civitas akademika sebagai media pengelolaan dan penyebaran bahan digital yang dihasilkan oleh lembaga maupun civitas akademika itu sendiri.
Hal selaras juga dikemukakan Suprayitno yang dikutip dalam Hasan (2012, 3) disebutkan bahwa “Repositori Institusional merupakan sebuah konsep untuk mengumpulkan, mengelola, menyebarkan dan melestarikan karya-karya ilmiah civitas perguruan tinggi yang hasil karya tersebut dikelola dalam bentuk digital untuk dimanfaatkan kembali dalam menunjang kegiatan akademik”.
Pada umumnya kegiatan hasil penelitian dinilai akan terus mengalami perkembangan dan meningkat setiap tahunnya, sehingga mengharuskan perpustakaan untuk beralih menggunakan alternatif lain dalam mengolah dan menyajikan koleksi karya ilmiah (tercetak) ke dalam bentuk/media digital yang bertujuan untuk pelestarian jangka panjang sehingga tidak terbatas ruang dan waktu dalam hal kemudahan akses dan lokasi penyimpanan.
Dalam segi bentuk dan pemanfaatannya, Ware (2004, 3) mendefinisikan IR sebagai berikut
sehingga dapat mengumpulkan, menyimpan, dan menyebarkan luaskan yang merupakan bagian dari proses komunikasi ilmiah.
Lain halnya dengan Bailey (2005), yang berfokus pada keragaman bahan digital IR yang mencakup
A variety of materials produced by scholars from many units, such as e-prints, technical reports, theses and dissertations, data sets, and teaching materials. Some institutional repositories are also being used as electronic presses, publishing e-books and e-journals.
Dari berbagai definisi mengenai IR yang telah dikembangkan berdasarkan konsep dan maknanya seperti yang terangkum dalam beberapa definisi di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa IR merupakan media penyimpanan data-data digital akademik (hasil penelitian) seperti disertasi, tesis, skripsi, kertas karya, dan karya ilmiah lainnya yang dihasilkan oleh suatu civitas akademika (mahasiswa, dosen, peneliti) dalam sebuah lingkungan perguruan tinggi yang kemudian disebarkan serta dipelihara dalam sistem elektronik (database berbasis website).
Adanya IR dalam lingkungan perguruan tinggi memudahkan pengguna terutama civitas akademika dalam menelusur informasi ilmiah agar dapat dengan mudah ditemukan (information retrieval) sekaligus juga sebagai sarana promosi untuk perguruan tinggi dalam hal penyampaian hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh civitas akademika perguruan tinggi tersebut.
2.4. Integrasi Online Public Access Catalog Perpustakaan dengan
Institusional Repository
Telah diketahui bahwa OPAC dan IR sama-sama memegang peranan penting dalam sistem temu kembali (information retrieval system) yang menjadi unsur penting dalam kegiatan penelusuran informasi di perpustakaan. Dewasa ini terlihat bahwa pengguna memiliki keterbatasan waktu dalam melakukan pencarian dan penelusuran informasi yang tersebar di situs web Perpustakaan (OPAC dan IR) dalam bentuk publikasi elektronik (digital publishing) maupun sumber informasi bibliografis bahan tercetak (printed materials). Hal ini terjadi karena para pengguna harus melakukan penelusuran dengan database yang berbeda untuk mengakses sumber informasi yang dibutuhkan, sehingga akan dapat menyulitkan beberapa pengguna yang memiliki keterbatasan waktu dalam menelusur dan memanfaatkan informasi. Jika ditinjau lebih jauh lagi, hal ini secara perlahan akan mengakibatkan penurunan efisiensi serta kinerja dari layanan organisasi perpustakaan.
Mannino (2007) menyebutkan bahwa database itu bersifat interrelated yang artinya saling berhubungan, data yang awalnya disimpan sebagai unit terpisah dapat dikoneksikan satu sama lain sesuai dengan hubungan (relationship) yang dibangun. Pernyataan ini didukung oleh Fathansyah (2007) yang menyatakan bahwa sistem database dapat mengintegrasikan sekumpulan data yang saling berhubungan satu dengan lainnya dan membuatnya ke dalam beberapa aplikasi yang diterapkan dalam suatu organisasi.
Layanan OPAC dan IR di perpustakaan sudah menjadi kebutuhan dalam penelusuran informasi bagi penggunanya, sehingga menuntut perpustakaan untuk mengolah seluruh koleksi dan aset yang dimilikinya dalam hal pemanfaatan serta kemudahan akses yang dilakukan oleh pengguna (user). Kebutuhan akan pemrosesan data yang cepat dan akurat, secara tidak langsung menuntut perpustakaan untuk melakukan pengembangan dalam bidang teknologi guna mendukung proses operasional di dalam perpustakaan.
Diperlukan suatu sistem yang terintegrasi antar database perpustakaan seperti integrasi OPAC dengan IR agar dapat mempermudah pengguna dalam melakukan penelusuran informasi.
Seperti yang diungkapkan oleh Lenzirini (2002) dalam Aisa (2012)
bahwa “Integrasi database merupakan suatu proses menggabungkan atau menyatukan data yang berasal dari sumber berbeda agar dapat membantu
pengguna untuk melihat kesatuan data”. Dengan demikian, tujuan integrasi kedua database bibliografis tersebut diketahui sangat besar manfaatnya pada pelayanan sebuah perpustakaan yang bertujuan untuk efektivitas dan efisiensi pengguna dalam menelusur sumber informasi atau koleksi yang dimiliki perpustakaan agar tidak lagi berpindah database dalam mencari sumber informasi yang sama.
Adapun manfaat integrasi database adalah untuk efisiensi pengguna, beberapa diantaranya yaitu:
1. Pengguna tidak perlu lagi berpindah antara satu situs ke situs lainnya saat menelusur informasi.
2. Pengguna tidak perlu mengetikan query yang sama sebanyak dua kali dalam penelusuran di situs/database yang dituju.
3. Pengguna dapat melihat dan memperoleh hasil pencarian sekaligus dalam satu interface.
4. Menghemat waktu dalam menelusur informasi terkait sehingga penelusuran informasi yang relevan tidak memakan waktu yang lama. 5. Meningkatkan kepuasan pengguna dalam memanfaatkan layanan
informasi perpustakaan.
Tse (2004) menyebutkan bahwa setidaknya terdapat 3 model dalam integrasi, yaitu:
1. Integrasi presentasi
Gambar 2.8 Integrasi Presentasi
Keuntungan dari model integrasi presentasi adalah resiko dan biaya rendah, teknologi yang tersedia relatif stabil, mudah untuk dilakukan, cepat untuk diimplementasikan, dan tidak perlu merubah data sumber. Sedangkan kelemahan ada pada performan, persepsi, dan tidak adanya interkoneksi antara aplikasi dan data.
2. Integrasi data
Merupakan suatu model integrasi data yang dilakukan langsung pada database atau struktur data dari aplikasi dengan mengabaikan presentasi dan bisnis logic ketika membuat integrasi. Model integrasi data dapat dilihat pada gambar berikut ini.
Gambar 2.9 Integrasi Data
Keunggulan dari model integrasi data ada pada fleksibilitas yang lebih baik dari model presentasi dan memungkinkan data dapat digunakan oleh aplikasi lain. Namun jika ada perubahan model data, maka integrasi tidak dapat berfungsi lagi.
Data Data
Common Presentation
Presentation
Package Aplication Presentation
Legacy Aplication
User Interface
integras
Data Data
User Interface
3. Integrasi fungsional
Merupakan suatu model yang melakukan integrasi pada level business logic dengan memanfaatkan distributed processing middleware. Model integrasi fungsional dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 2.10 Integrasi Fungsional
Keunggulan dari integrasi fungsional ada pada kemampuan integrasi yang kuat diantara model integrasi yang lain. Selain itu, model integrasi fungsional menggunakan true code reuse infrastructure untuk beberapa aplikasi pada enterprise.
Penelitian ini menggunakan model integrasi presentasi sesuai dengan tema penelitian yaitu membahas tentang perancangan struktur metadata (konten) dan user interface untuk integrasi OPAC dan USU-IR. Namun kendala yang sering terjadi adalah format metadata pada interface penelusuran yang tidak seragam sehingga dapat menyulitkan penelusur untuk mengakses informasi pada database tersebut. Diperlukan adanya keseragaman antara OPAC dan USU-IR yang memungkinkan pengguna untuk mengakses informasi secara cepat walaupun berbeda format metadata sehingga perlu ditinjau kembali bagaimana sistem terintegrasi agar tidak ada lagi database yang terpisah dan penelusuran informasi yang relevan juga tidak memakan waktu yang lama.
Middleware
Package Aplication
Data Data
Presentation
Package Aplication Aplication
2.4.1. Pengalaman Perpustakaan dalam Integrasi OPAC Perpustakaan dengan Repository
Pengalaman perpustakaan atau rangkuman penelitian terdahulu yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya sangat penting untuk dipelajari dan dipahami sebagai bahan acuan dan referensi bagi penulis dalam melakukan penelitian ini.
“Seorang peneliti harus belajar dari peneliti lain, untuk menghindari duplikasi dan pengulangan penelitian atau kesalahan yang sama seperti yang dibuat oleh peneliti
sebelumnya” (Masyhuri dan Zainuddin 2008, 100).
Adapun pengalaman peneliti sebelumnya yang telah melakukan dan menerapkan pengintegrasian kedua database bibliografis perpustakaan perguruan tinggi (katalog koleksi dengan repository/konten lokal) akan dijelaskan melalui tabel di bawah ini.
Tabel 2.3 Informasi Penelitian Terdahulu
Tahun Nama Peneliti Judul Penelitian Hasil Penelitian 2007 Mutsikiwa
Dari hasil penelitian, terbukti bahwa ETD dapat terintegrasi dengan web OPAC dalam satu tampilan antar muka (interface). Penelusuran terintegrasi diterapkan pada situs web OPAC Perpustakaan UZ untuk mengakses data fulltext publikasi elektronik yang terdapat dalam UZ ETD.
Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa Admire (2007) melakukan