• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kajian Optimasi Untuk Meningkatkan Profitabilitas Pada PT. Pismatex, Pekalongan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kajian Optimasi Untuk Meningkatkan Profitabilitas Pada PT. Pismatex, Pekalongan"

Copied!
117
0
0

Teks penuh

(1)

Disusun Oleh :

FARIS ANDINOVA YULIAWAN

H24051223

DEPARTEMEN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

Profitabilitas Pada PT. Pismatex, Pekalongan. Di bawah bimbingan H. Musa Hubeis.

Dalam proses produksi, PT. Pismatex menggunakan sumber daya yang dimiliki untuk menghasilkan produk. Sumber daya ini sifatnya terbatas, untuk itu perusahaan harus mengalokasikan penggunaannya secara efisien agar tidak terjadi pemborosan. Dalam hal ini perusahaan perlu melakukan optimasi untuk mencapai tujuannya, yaitu mencapai keuntungan maksimum. Optimasi yang mungkin dilakukan adalah dengan memaksimalkan produksi atau dengan minimisasi biaya.

Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui jumlah produk yang dihasilkan agar mencapai keuntungan optimal, (2) Mengidentifikasi keterbatasan yang dihadapi PT. Pismatex dalam proses produksinya dan (3) Mengkaji perubahan keuntungan yang mungkin terjadi setelah dilakukan optimasi pada perusahaan PT. Pismatex.

Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, studi literatur, dan dokumentasi perusahaan. Data yang digunakan meliputi data penjualan aktual tahun 2008, tingkat produksi tahun 2008 dan jumlah tenaga kerja tahun 2009. Data yang diperoleh diformulasikan ke dalam model Linear Programming dan diolah dengan bantuansoftwareLINDO.

PT. Pismatex memproduksi busana muslim, akan tetapi produk yang diteliti hanya sebatas produk sarung, karena produk ini merupakan produk unggulan perusahaan. Selain itu, produk yang lain baru diproduksi beberapa tahun belakangan, maka masih bersifat pengembangan. Sarung yang diproduksi PT. Pismatex terdiri dari 28 jenis. Dalam penelitian ini, produk sarung dikategorikan menjadi lima kelompok berdasarkan kesamaan jenis benang yang digunakan dan kemiripan harga jualnya. Tujuan pengelompokkan produk adalah memudahkan formulasi model.

Formulasi model terdiri dari fungsi tujuan, yaitu memaksimalkan keuntungan perusahaan dan fungsi kendala, yaitu kendala bahan baku (kebutuhan benang), kendala jam tenaga kerja langsung, kendala jam mesin dan kendala permintaan. Berdasarkan hasil optimasi pada model, PT. Pismatex dapat mencapai keuntungan Rp 47.701.230.000. Angka ini melebihi keuntungan yang dicapai perusahaan pada kondisi aktualnya (Rp 42.946.352.240).

(3)

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA EKONOMI

Pada Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen

Institut Pertanian Bogor

Oleh:

FARIS ANDINOVA YULIAWAN H24051223

DEPARTEMEN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(4)

DEPARTEMEN MANAJEMEN

KAJIAN OPTIMASI UNTUK MENINGKATKAN PROFITABILITAS PADA PT. PISMATEX, PEKALONGAN

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA EKONOMI

Pada Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen

Institut Pertanian Bogor

Oleh:

Faris Andinova Yuliawan H24051223

Menyetujui, September 2009

Prof. Dr. Ir. H. Musa Hubeis, MS, Dipl.Ing, DEA Dosen Pembimbing

Mengetahui,

Dr. Ir. Jono Mintarto Munandar, M. Sc Ketua Departemen

(5)

iii

Penulis dilahirkan di Pekalongan pada tanggal 18 Juli 1987. Penulis merupakan anak kedua dari empat bersaudara pasangan Mu’Anas Budi Setyono,SH dan Noviyanti.

Penulis menyelesaikan pendidikan di Sekolah Dasar Muhammadyah III Pekajangan pada tahun 1999, kemudian melanjutkan pendidikan menengah pertama di SLTP Muhammadyah Pekajangan. Pada tahun 2002, Penulis kembali melanjutkan pendidikannya di SMA Negeri 2 Pekalongan. Selanjutnya pada tahun 2005, Penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk Institut Pertanian Bogor (USMI) dengan sistem Mayor Minor dan diterima di Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM), IPB.

(6)

iv

Alhamdulillaahi Rabbil’aalamiin, segala puji dan syukur hanya milik Allah SWT, karena atas segala rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi berjudul “Kajian Optimasi Untuk Meningkatkan Profitabilitas Pada PT. Pismatex, Pekalongan” sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.

Dalam penyusunan skripsi ini penulis dibantu oleh banyak pihak baik secara moril maupun materil dan secara langsung maupun tidak langsung. Oleh sebab itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Bapak Prof. Dr. Ir. H. Musa Hubeis, MS, Dipl.Ing, DEA sebagai dosen

pembimbing yang telah meluangkan waktu, memberikan arahan, petunjuk, saran, motivasi dan kemudahan kepada penulis.

2. Bapak Dr. Ir. Ma’mun Sarma, MS, M.Ec dan Ibu Farida Ratnadewi, SE, MM selaku dosen penguji yang telah banyak memberi masukan dalam penyusunan skripsi ini.

3. Papa dan Mamaku tercinta yang telah dengan tulus ikhlas mendidik dan merawatku hingga aku mampu berdiri sendiri.

4. Mas Alen dan Adek-adekku tersayang (Nopan dan Ita) yang telah memberikan indahnya rasa persaudaraan serta kasih sayangnya.

5. Maulisa Dwi Haryaning yang seringkali menemani dan membantuku dalam penyusunan skripsi.

6. Bapak Ricsa yang telah mengijinkan dilakukannya penelitian di PT. Pismatex, Pak Bambang, Bu Ijah, Mas Slamet dan Mas Lukman yang telah membantu dalam proses pengambilan data.

7. Seluruh staf pengajar dan karyawan/wati di Departemen Manejemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, IPB.

8. Levi, Feri, Heni, Try, Rara, Riri, Anggi, Tawang, Dewi (The Crew). 9. Fandy, Momon, Galih, Iqbal, Wibi, Eko, Sandi (Pobsi).

(7)

v

12. Teman-Teman seperjuangan Manajemen 41, 43 dan 44.

13. Semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga Allah SWT memberikan balasan atas kebaikan teman-teman semua.

Penulis sangat menyadari masih terdapat kekurangan-kekurangan dalam skripsi ini, maka penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan di masa mendatang, agar bermanfaat bagi pembaca.

Bogor, 31 Agustus 2009

(8)

vi 1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Perumusan Masalah... 2

1.3. Tujuan Penelitian ... 4

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sarung... 5

2.2. Industri Manufaktur... 7

2.3. Sistem Produksi ... 7

2.4. Faktor Produksi Perusahaan ... 9

2.5. Profitabilitas Perusahaan ... 13

2.6. Optimasi Produksi... 15

2.7. Model Optimasi ... 16

2.8. Linear Programming ... 17

2.9. Analisis Sensitivitas ... 21

2.10. Lindo ... 21

2.11. Penelitian Terdahulu yang Relevan ... 22

III.METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran... 23

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 24

3.3. Pengumpulan Data ... 25

3.4. Pengolahan dan Analisis Data ... 26

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Perusahaan ... 32

4.2 Perumusan Model Linear Programming ... 42

4.3 Hasil Optimasi Fungsi Tujuan ... 54

4.4 Hasil Optimasi Penggunaan Sumber Daya... 58

4.5 Analisis Sensitivitas ... 62

(9)

vii

(10)

viii

No. Halaman

1. Data penjualan produk sarung pada tahun 2008... 3

2. Tenaga kerja PT. Pismatex ... 40

3. Jam kerja pihak manajemen PT. Pismatex, Pekalongan ... 40

4. Sistemshiftingkaryawan unit produksi PT. Pismatex, Pekalongan... 41

5. Peubah keputusan ... 43

6. Kontribusi keuntungan kelompok produk... 44

7. Pemakaian bahan baku... 46

8. Pembagian jumlah tenaga kerja pershift... 48

9. Ketersediaan jam tenaga kerja langsung ... 48

10. Koefisien kebutuhan jam tenaga kerja langsung ... 49

11. Ketersediaan jam mesin ... 51

12. Tingkat produksi sarung dalam kondisi aktual dan optimal di PT. Pismatex pada tahun 2008 ... 54

13. Keuntungan penjualan aktual sarung pada tahun 2008... 57

14. Hasil optimasi penggunaan benang ... 59

15. Hasil optimasi penggunaan jam tenaga kerja langsung ... 59

16. Hasil optimasi penggunaan jam mesin... 60

17. Hasil optimasi penggunaan jumlah permintaan... 61

18. Analisis sensitivitas nilai koefisien fungsi tujuan... 63

19. Selang kepekaan ketersediaan bahan baku... 65

20. Selang kepekaan ketersediaan jam TKL ... 66

21. Selang kepekaan ketersediaan jam mesin ... 66

(11)

Disusun Oleh :

FARIS ANDINOVA YULIAWAN

H24051223

DEPARTEMEN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(12)

Profitabilitas Pada PT. Pismatex, Pekalongan. Di bawah bimbingan H. Musa Hubeis.

Dalam proses produksi, PT. Pismatex menggunakan sumber daya yang dimiliki untuk menghasilkan produk. Sumber daya ini sifatnya terbatas, untuk itu perusahaan harus mengalokasikan penggunaannya secara efisien agar tidak terjadi pemborosan. Dalam hal ini perusahaan perlu melakukan optimasi untuk mencapai tujuannya, yaitu mencapai keuntungan maksimum. Optimasi yang mungkin dilakukan adalah dengan memaksimalkan produksi atau dengan minimisasi biaya.

Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui jumlah produk yang dihasilkan agar mencapai keuntungan optimal, (2) Mengidentifikasi keterbatasan yang dihadapi PT. Pismatex dalam proses produksinya dan (3) Mengkaji perubahan keuntungan yang mungkin terjadi setelah dilakukan optimasi pada perusahaan PT. Pismatex.

Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, studi literatur, dan dokumentasi perusahaan. Data yang digunakan meliputi data penjualan aktual tahun 2008, tingkat produksi tahun 2008 dan jumlah tenaga kerja tahun 2009. Data yang diperoleh diformulasikan ke dalam model Linear Programming dan diolah dengan bantuansoftwareLINDO.

PT. Pismatex memproduksi busana muslim, akan tetapi produk yang diteliti hanya sebatas produk sarung, karena produk ini merupakan produk unggulan perusahaan. Selain itu, produk yang lain baru diproduksi beberapa tahun belakangan, maka masih bersifat pengembangan. Sarung yang diproduksi PT. Pismatex terdiri dari 28 jenis. Dalam penelitian ini, produk sarung dikategorikan menjadi lima kelompok berdasarkan kesamaan jenis benang yang digunakan dan kemiripan harga jualnya. Tujuan pengelompokkan produk adalah memudahkan formulasi model.

Formulasi model terdiri dari fungsi tujuan, yaitu memaksimalkan keuntungan perusahaan dan fungsi kendala, yaitu kendala bahan baku (kebutuhan benang), kendala jam tenaga kerja langsung, kendala jam mesin dan kendala permintaan. Berdasarkan hasil optimasi pada model, PT. Pismatex dapat mencapai keuntungan Rp 47.701.230.000. Angka ini melebihi keuntungan yang dicapai perusahaan pada kondisi aktualnya (Rp 42.946.352.240).

(13)

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA EKONOMI

Pada Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen

Institut Pertanian Bogor

Oleh:

FARIS ANDINOVA YULIAWAN H24051223

DEPARTEMEN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(14)

DEPARTEMEN MANAJEMEN

KAJIAN OPTIMASI UNTUK MENINGKATKAN PROFITABILITAS PADA PT. PISMATEX, PEKALONGAN

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA EKONOMI

Pada Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen

Institut Pertanian Bogor

Oleh:

Faris Andinova Yuliawan H24051223

Menyetujui, September 2009

Prof. Dr. Ir. H. Musa Hubeis, MS, Dipl.Ing, DEA Dosen Pembimbing

Mengetahui,

Dr. Ir. Jono Mintarto Munandar, M. Sc Ketua Departemen

(15)

iii

Penulis dilahirkan di Pekalongan pada tanggal 18 Juli 1987. Penulis merupakan anak kedua dari empat bersaudara pasangan Mu’Anas Budi Setyono,SH dan Noviyanti.

Penulis menyelesaikan pendidikan di Sekolah Dasar Muhammadyah III Pekajangan pada tahun 1999, kemudian melanjutkan pendidikan menengah pertama di SLTP Muhammadyah Pekajangan. Pada tahun 2002, Penulis kembali melanjutkan pendidikannya di SMA Negeri 2 Pekalongan. Selanjutnya pada tahun 2005, Penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk Institut Pertanian Bogor (USMI) dengan sistem Mayor Minor dan diterima di Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM), IPB.

(16)

iv

Alhamdulillaahi Rabbil’aalamiin, segala puji dan syukur hanya milik Allah SWT, karena atas segala rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi berjudul “Kajian Optimasi Untuk Meningkatkan Profitabilitas Pada PT. Pismatex, Pekalongan” sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.

Dalam penyusunan skripsi ini penulis dibantu oleh banyak pihak baik secara moril maupun materil dan secara langsung maupun tidak langsung. Oleh sebab itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Bapak Prof. Dr. Ir. H. Musa Hubeis, MS, Dipl.Ing, DEA sebagai dosen

pembimbing yang telah meluangkan waktu, memberikan arahan, petunjuk, saran, motivasi dan kemudahan kepada penulis.

2. Bapak Dr. Ir. Ma’mun Sarma, MS, M.Ec dan Ibu Farida Ratnadewi, SE, MM selaku dosen penguji yang telah banyak memberi masukan dalam penyusunan skripsi ini.

3. Papa dan Mamaku tercinta yang telah dengan tulus ikhlas mendidik dan merawatku hingga aku mampu berdiri sendiri.

4. Mas Alen dan Adek-adekku tersayang (Nopan dan Ita) yang telah memberikan indahnya rasa persaudaraan serta kasih sayangnya.

5. Maulisa Dwi Haryaning yang seringkali menemani dan membantuku dalam penyusunan skripsi.

6. Bapak Ricsa yang telah mengijinkan dilakukannya penelitian di PT. Pismatex, Pak Bambang, Bu Ijah, Mas Slamet dan Mas Lukman yang telah membantu dalam proses pengambilan data.

7. Seluruh staf pengajar dan karyawan/wati di Departemen Manejemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, IPB.

8. Levi, Feri, Heni, Try, Rara, Riri, Anggi, Tawang, Dewi (The Crew). 9. Fandy, Momon, Galih, Iqbal, Wibi, Eko, Sandi (Pobsi).

(17)

v

12. Teman-Teman seperjuangan Manajemen 41, 43 dan 44.

13. Semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga Allah SWT memberikan balasan atas kebaikan teman-teman semua.

Penulis sangat menyadari masih terdapat kekurangan-kekurangan dalam skripsi ini, maka penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan di masa mendatang, agar bermanfaat bagi pembaca.

Bogor, 31 Agustus 2009

(18)

vi 1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Perumusan Masalah... 2

1.3. Tujuan Penelitian ... 4

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sarung... 5

2.2. Industri Manufaktur... 7

2.3. Sistem Produksi ... 7

2.4. Faktor Produksi Perusahaan ... 9

2.5. Profitabilitas Perusahaan ... 13

2.6. Optimasi Produksi... 15

2.7. Model Optimasi ... 16

2.8. Linear Programming ... 17

2.9. Analisis Sensitivitas ... 21

2.10. Lindo ... 21

2.11. Penelitian Terdahulu yang Relevan ... 22

III.METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran... 23

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 24

3.3. Pengumpulan Data ... 25

3.4. Pengolahan dan Analisis Data ... 26

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Perusahaan ... 32

4.2 Perumusan Model Linear Programming ... 42

4.3 Hasil Optimasi Fungsi Tujuan ... 54

4.4 Hasil Optimasi Penggunaan Sumber Daya... 58

4.5 Analisis Sensitivitas ... 62

(19)

vii

(20)

viii

No. Halaman

1. Data penjualan produk sarung pada tahun 2008... 3

2. Tenaga kerja PT. Pismatex ... 40

3. Jam kerja pihak manajemen PT. Pismatex, Pekalongan ... 40

4. Sistemshiftingkaryawan unit produksi PT. Pismatex, Pekalongan... 41

5. Peubah keputusan ... 43

6. Kontribusi keuntungan kelompok produk... 44

7. Pemakaian bahan baku... 46

8. Pembagian jumlah tenaga kerja pershift... 48

9. Ketersediaan jam tenaga kerja langsung ... 48

10. Koefisien kebutuhan jam tenaga kerja langsung ... 49

11. Ketersediaan jam mesin ... 51

12. Tingkat produksi sarung dalam kondisi aktual dan optimal di PT. Pismatex pada tahun 2008 ... 54

13. Keuntungan penjualan aktual sarung pada tahun 2008... 57

14. Hasil optimasi penggunaan benang ... 59

15. Hasil optimasi penggunaan jam tenaga kerja langsung ... 59

16. Hasil optimasi penggunaan jam mesin... 60

17. Hasil optimasi penggunaan jumlah permintaan... 61

18. Analisis sensitivitas nilai koefisien fungsi tujuan... 63

19. Selang kepekaan ketersediaan bahan baku... 65

20. Selang kepekaan ketersediaan jam TKL ... 66

21. Selang kepekaan ketersediaan jam mesin ... 66

(21)

ix

No. Halaman

1. Manufaktur sebagai prosesinput-output... 7

2. Kurva kemungkinan produksi ... 11

3. Kurvaisorevenue... 11

4. Kurva penerimaan maksimum... 12

(22)

x

No. Halaman

(23)

1.1. Latar Belakang

Saat ini permasalahan yang menjadi perhatian banyak perusahaan adalah masalah optimasi, karena perusahaan kecil maupun perusahaan yang sudah memiliki nama di mata masyarakat sekalipun memiliki permasalahan yang sama, yaitu masalah pengalokasian sumber daya. Optimasi bertujuan untuk mencapai suatu kondisi terbaik dari berbagai alternatif-alternatif yang mengandung kendala-kendala. Kondisi yang diharapkan perusahaan adalah tercapainya keuntungan maksimum, sedangkan kendalanya adalah keterbatasan sumber daya yang dimilikinya (Soekartawi, 1992).

Salah satu cara untuk mempertahankan kelangsungan perusahaan adalah semakin efisien dalam menggunakan sumber daya, tetapi menghasilkan keuntungan yang sama besar atau lebih besar. Banyak keputusan manajemen perusahaan berkaitan dengan usaha untuk menggunakan ketersediaan sumber daya dengan cara yang paling efektif. Sumber daya yang dibutuhkan perusahaan tersebut biasanya meliputi bahan baku, mesin-mesin, tenaga kerja, modal usaha dan waktu. Penggunaan sumber daya secara tepat dan efisien dapat meningkatkan keuntungan perusahaan, karena selain meminimumkan pemborosan dalam arti meminimumkan biaya produksi, perusahaan juga dapat memaksimalkan jumlah produk yang dapat dihasilkan.

(24)

Perusahaan tekstil ini memiliki keuntungan lokasi, yaitu dekat dengan sumber bahan baku, tersedianya pasar tenaga kerja murah, dan pasar konsumen. Perusahaan ini berlokasi di Jl. Raya Buaran, Pekalongan, di mana lokasi tersebut merupakan lokasi yang ditetapkan pemerintah untuk digunakan sebagai kawasan industri. Namun demikian, penggunaan sumber daya yang dimiliki perusahaan harus direncanakan secara tepat, agar perusahaan dapat mencapai tujuannya. Keterbatasan jumlah sumber daya ini membuat perusahaan perlu melakukan optimasi, yaitu mengefisienkan sumber daya untuk menghasilkan produknya dalam jumlah lebih banyak.

PT. Pismatex telah menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia, diantaranya adalah Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Sumatera, Riau dan Bengkulu. Selain itu PT. Pismatex telah memperluas jangkauan pasarnya ke luar negeri, yaitu Malaysia, Brunai, Pilipina, Singapura dan Timur Tengah (PT. Pismatex, 2006). Sejauh ini perusahaan mampu memenuhi permintaan konsumen tanpa banyak kendala. Namun demikian, dengan digunakannya metode optimasi, tentunya perusahaan akan lebih baik dalam menjalankan operasional perusahaan dan tentunya tingkat keuntungan perusahaan akan semakin meningkat.

1.2. Perumusan Masalah

Setiap perusahaan tentunya memiliki tujuan yang sama, yaitu mendapatkan keuntungan yang sebanyak-banyaknya dengan biaya seminimal mungkin. Namun dalam mencapai hal tersebut, tentunya keterbatasan-keterbatasan akan muncul sebagai kendala yang menghadang tujuan dari perusahaan. Umumnya perusahaan yang berproduksi lebih dari satu jenis produk akan kesulitan dengan ketersediaan sumber daya yang terbatas, dengan terbatasnya sumber daya menuntut adanya alokasi sumber daya yang cermat dan seefisien mungkin untuk dapat menghasilkan tingkat produksi tertentu. Untuk itu diperlukan optimasi agar sumber daya yang tersedia dapat digunakan secara optimal, agar diperoleh tingkat produksi optimal dan biaya produksi yang dikeluarkan dapat ditekan.

(25)

dan busana wanita. Namun dalam penelitian ini dititikberatkan pada produk sarungnya, karena merupakan produk unggulan (jumlah produksi dan volume penjualan paling besar diantara produk yang lain) perusahaan. Selain itu, produk baju koko dan busana muslim masih bersifat pengembangan.

Hasil akhir dari suatu proses produksi adalah produk atau output. Dalam proses produksi, langkah awal yang dilakukan adalah perencanaan produksi yang sesuai dengan permintaan pasar dan sumber daya tersedia. Namun dalam pelaksanaannya cukup sulit dengan adanya biaya-biaya produksi yang selalu meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah produksi.

Perbedaan tingkat produksi berperan terhadap penggunaan sumber daya tiap bulannya, terutama untuk penggunaan sumber daya yang relatif konstan seperti tenaga kerja dan tenaga mesin. Produksi meningkat biasanya terjadi menjelang hari-hari besar, sedangkan produksi normal biasanya terjadi selain hari-hari besar. Untuk lebih memperjelas keadaan, pada Tabel 1 disajikan data penjualan PT. Pismatex pada tahun 2008.

Tabel 1. Data penjualan produk sarung pada tahun 2008

Bulan Jumlah Penjualan Produk (Unit)

Januari 598.866

Sumber : PT. Pismatex Pekalongan, 2008.

(26)

tenaga kerja yang berlebih ke divisi yang lain dan menghadapi kondisi produksi meningkat, perusahaan mengambil keputusan menambah tenaga kerja dengan sistem kontrak.

Dampak yang diakibatkan oleh pasar fluktuatif akan mempengaruhi penggunaan sumber daya. Perusahaan mengharapkan adanya kesesuaian antara sumber daya terpakai dan tersedia, agar tercapai kondisi optimal, sehingga tujuan perusahaan dalam meningkatkan keuntungannya dapat terwujud. Pencapaian kondisi optimal perusahaan dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu memaksimalkan jumlah produksi atau meminimalkan biayanya.

Permasalahan di atas dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Seberapa banyak produksi yang harus dilakukan PT. Pismatex untuk mencapai keuntungan optimal ?

2. Kendala apakah yang harus diperhatikan dalam optimasi produksi PT. Pismatex ?

3. Apakah keuntungan perusahaan masih dapat ditingkatkan setelah dilakukan proses optimasi ?

1.3. Tujuan Penelitian

1. Mengetahui jumlah produk yang dihasilkan untuk mencapai keuntungan optimal.

2. Mengidentifikasi keterbatasan yang dihadapi PT. Pismatex dalam proses produksinya.

(27)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sarung

Sarong atau sarung adalah lembaran kain yang besar, seringkali dibelitkan pada pinggang dan dipakai sebagai rok oleh pria dan wanita di hampir seluruh negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara, semenanjung Afrika dan kepulauan Pasifik. Kain ini seringkali berwarna mencolok atau dicetak dengan pola yang rumit, seringkali menggambarkan binatang atau tumbuhan, pola petak-petak persegi atau geometris, atau menyerupai hasil dari celupan ikat. Sarung juga dipakai sebagai hiasan tembok dan bentuk-bentuk lain dari pakaian, seperti syal, gendongan bayi, baju lengkap atau busana untuk badan bagian atas.

Sarung merupakan bagian busana yang penting di Indonesia, dan dipakai oleh pria, wanita dan anak-anak. Sarung merupakan pakaian yang sederhana dan nyaman dipakai pada saat cuaca sedang panas dan lembab. Sebagai aturan umum, sarung pelekat katun, dengan desain kotak-kotak persegi, merupakan pilihan para pria, sementara para wanita seringkali memakai katun yang dicetak mesin dengan desain batik (batik adalah istilah umum untuk merujuk pada teknik pencelupan kain ke dalam lilin; tulis adalah nama batik bermutu tinggi yang dikerjakan dengan tangan, dimana pengerjaannya menggunakan kuas lilin panas yang dikenal sebagai “canting”.

Desain dengan blok tangan disebut cap dan merupakan kain batik yang umum dan diproduksi secara massal). Pengerjaan sarung tulis yang terbaik dapat memakan waktu sembilan bulan atau lebih dan ini menunjukkan kekayaan, derajat sosial dan gaya.

Bergerak ke utara, seluruh pantai utara Jawa dikenal sebagai pasisir, sebuah istilah dalam Bahasa Indonesia yang berarti “area pesisir”. Perniagaan

(28)

membangun pelabuhan perdagangan yang lebih permanen. Seperti halnya Selat Malaka di dekatnya, pantai utara Jawa secara ideal diposisikan untuk mengambil bagian dalam perdagangan rempah-rempah yang menghubungkan kepulauan Indonesia dengan Timur Tengah , India, China dan Eropa.

Dimulai pada awal tahun 1500, perdagangan rempah-rempah menarik perhatian Portugis, Belanda dan belakangan, British East India Company. Ada tujuh pelabuhan perdagangan pesisir utama : Cirebon, Pekalongan, Semarang, Demak (tempat kelahiran Islam di Jawa pada akhir abad 15), Lasem, Gresik, dan Surabaya. Pada pasar-pasar ini, sarung batik terbaik dari Jawa Tengah sebagaimana sarung pelekat, biasanya diimpor dari India, ditukar dengan cengkeh, pala dan bumbu-bumbu lain dari Maluku. Sarung pelekat sangat terkenal dan segera dipakai sebagai pakaian sehari-hari oleh pelaut pedagang pada masa itu. Berdasarkan Hobson Jobson : The Anglo-Indian Dictionary, sarung pelekat mendapatkan namanya dari Pulicat, kepemilikan Belanda pertama di pantai Coromandel di India Selatan, di sebelah utara Madras, dari mana pabrik katun Belanda mengekspor sarung kotak-kotak dan persegi ke pesisir dan tempat-tempat lain di Asia Tenggara pada awal tahun 1611.

(29)

Perencanaan dan Pengendalian Produksi

Proses Operasi Manufaktur

Keluaran Produk Jadi Masukan

Bahan Baku

2.2. Industri Manufaktur

Manufaktur berasal dari kata manufacture yang berarti membuat dengan tangan (manual) atau dengan mesin, sehingga menghasilkan sesuatu barang (Prawirosentono, 2007). Secara umum, manufaktur menurut Prawirosentono (2007) adalah kegiatan memproses suatu barang atau beberapa bahan menjadi barang lain yang mempunyai nilai tambah yang lebih besar atau kegiatan-kegiatan memproses pengolahan input menjadi

output. Contoh industri manufaktur adalah industri tekstil, industri obat, industri semen, industri alat-alat rumah tangga, industri perkayuan dan industrian makan.

Proses manufaktur dapat dijabarkan dalam kerangka masukan-keluaran seperti terlihat pada Gambar 1. Masukannya berupa bahan baku; selanjutnya bahan baku dikonversi (dengan bantuan peralatan, waktu, keahlian, uang, manajemen, dan sebagainya) menjadi keluaran yang disebut sebagai produk akhir. Pengendalian produksi berkepentingan dengan peramalan atau perkiraan keluaran, penentuan input yang dibutuhkan, perencanaan dan pengolahan bahan baku berdasarkan urutan produksi atau konversi yang dibutuhkan.

Gambar 1. Manufaktur sebagai proses input-output (Biegel dalam Kusuma, 2004)

2.3. Sistem Produksi

(30)

bentuk, waktu dan tempat atas faktor-faktor produksi, sehingga lebih bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan manusia.

Sistem produksi menurut Baroto (2002) adalah :

1. Suatu sistem yang membuat produk (merubah bahan baku menjadi barang) yang melibatkan fungsi manajemen (bersifat abstrak) untuk merencanakan dan mengendalikan proses pembuatan tersebut.

2. Suatu teknik untuk merencanakan dan mengendalikan produksi (bersifat abstrak) dan tidak membahas proses pembuatan produk.

Menurut Assauri (2004), proses produksi dapat diartikan sebagai cara, metode dan teknik untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang dan jasa dengan menggunakan sumber-sumber (tenaga kerja, mesin, bahan-bahan dan dana). Komponen atau unsur struktural yang membentuk sistem produksi terdiri dari : bahan (material), mesin dan peralatan, tenaga kerja, modal, energi, informasi dan tanah. Sedangkan komponen atau elemen fungsional terdiri dari supervise, perencanaan, pengendalian, koordinasi dan kepemimpinan yang semuanya berkaitan dengan manajemen dan organisasi.

Proses produksi terdiri dari beberapa sub proses produksi, misalkan proses pengolahan bahan baku menjadi komponen, perakitan komponen menjadi sub assembly dan proses perakitan sub assembly menjadi produk jadi.

Beberapa tipe proses produksi menurut Handoko (2000) adalah : 1. Aliran Garis

Proses produksi dari bahan mentah sampai menjadi produk akhir dan urutan-urutan operasi yang digunakan untuk menghasilkan produk atau jasa selalu tetap. Terdiri dari produksi massa (mass production) dan produksi terus menerus (continuous production). Produksi massa kumpulan produk dalam jumlah besar dengan mengikuti serangkaian operasi yang sama dengan kumpulan produk sebelumnya.

2. AliranIntermitten(job shop)

(31)

Operasiintermitten dapat diterapkan dalam produksi barang-barang yang tidak distandarisasi atau volume produksinya rendah.

3. Proyek

Proses produksi digunakan untuk memproduksi produk-produk khusus atau unik, seperti kapal, pesawat terbang, peluru, jembatan, gedung, pekerjaan seni, peralatan-peralatan khusus, dan sebagainya.

4. Proses produksi untuk pesanan

Memproduksi barang dan jasa-jasa atas dasar permintaan atau pesanan tertentu langganan akan suatu produk.

5. Produksi untuk persediaan

Produksi digunakan untuk persediaan barang dan untuk memenuhi permintaan yang tidak pasti dan merencanakan kebutuhan kapasitas.

2.4. Faktor Produksi Perusahaan

Perusahaan merupakan suatu organisasi yang membeli dan merekrut sumber daya (input/faktor produksi) dan menjualnya sebagai barang dan jasa. Bagi setiap perusahaan, tujuan utama dalam seluruh kegiatannya adalah menjaga kontinuitas usaha sekaligus memaksimalkan keuntungan serta menghindari kerugian.

Produksi merupakan serangkaian kegiatan menggunakan sumber daya (input) guna menghasilkan barang atau jasa. Proses produksi dimulai dengan adanya permintaan barang atau jasa, penyediaan input yang mendukung, proses transformasi dan terciptanya hasil produksi berupa barang dan jasa.

Dalam pelaksanaanya diperlukan suatu wadah untuk menyatukan semua aktivitas di atas, sehingga menghasilkan output, atau dikenal dengan istilah manajemen produksi dan operasi. Menurut Handoko (2000) yang dimaksud dengan manajemen produksi dan operasi adalah usaha-usaha pengelolaan secara optimal penggunaan faktor-faktor produksi, tenaga kerja, mesin-mesin, peralatan, bahan mentah dan sebagainya dalam proses transformasi bahan mentah dan tenaga kerja menjadi berbagai produk atau jasa.

(32)

Rumusan yang dimaksud adalah fungsi produksi dimana di dalamnya terdapat hubungan antara jumlahoutputyang dihasilkan dengan jumlahinput

yang digunakan. Maksudnya seberapa banyak input yang akan digunakan untuk menghasilkan satu-satuanoutput.

Menurut Teken dan Asnawi (1997), yang dimaksud dengan fungsi produksi adalah hubungan fisik atau hubungan teknik antara faktor-faktor produksi yang dipakai dengan jumlah produksi yang dihasilkan per satuan waktu tanpa memperhatikan harga-harga, baik harga faktor produksi yang dipakai maupun harga produksi yang dihasilkan. Banyaknya produksi yang dihasilkan tergantung pada faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi bersangkutan. Besarnya produksi yang dicapai dan tingkat harga

outputyang berlaku akan mempengaruhi pula pendapatan yang diperoleh. Dari pendapat-pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan fungsi produksi adalah kombinasi terbaik dari penggunaan

input untuk menghasilkan output, guna memaksimalkan keuntungan perusahaan. Menurut Nicholson (1995), penentuan kombinasi produksi yang optimum dapat dijelaskan melalui kurva kemungkinan produksi (KKP) dimana kurva ini menunjukkan semua kombinasi keluaran (output) yang dapat dihasilkan oleh satuan ekonomi tertentu dengan menggunakan sumber daya tertentu.

(33)

Y

P1: Kurva penerimaan pada titik 1

P2: Kurva penerimaan pada titik 2

P3: Kurva penerimaan pada titik 3 Gambar 2.Kurva kemungkinan produksi(Sudarsono, 1989)

Di mana titik potong sumbu Y menggambarkan kuantitas maksimal produk yang dapat dihasilkan oleh perusahaan seandainya faktor produksi (misal, modal dan tenaga kerja) digunakan untuk memproduksi produk Y. Sebaliknya dengan titik potong kurva kemungkinan produksi dengan sumbu X yang merupakan pencerminan keadaan seandainya semua tenaga kerja dan modal yang dimiliki perusahaan digunakan untuk memproduksi produk X saja (Sudarsono, 1989). Untuk mengetahui berapa kombinasi produk yang dapat dijual produsen untuk memberikan penerimaan tertentu ditunjukkan oleh kurvaiso-revenue.

(34)

Berdasarkan Gambar 3, titik Y adalah penerimaan yang dapat diperoleh seandainya hanya memproduksi barang Y. Titik X adalah penerimaan yang diperoleh seandainya hanya memproduksi barang X sedangkan P adalah penerimaan yang tidak berubah jumlahnya. Dari kedua kurva, kurva kemungkinan produksi dan kurva isorevenue, diperoleh titik persinggungan yang merupakan titik optimal pendapatan produsen (Gambar 4).

Gambar 4.Kurva penerimaan maksimum(Sudarsono, 1989)

Berdasarkan Gambar 4, diasumsikan perusahaan memproduksi dua jenis barang, yaitu X dan Y dengan sumber daya yang ada. Kurva kemungkinan produksi antara X dan Y, serta batas kemungkinan produksi yang dapat dicapai dan yang tidak dapat dicapai dibatasi oleh kurva UV. Batas kemungkinan produksi yang dapat dicapai tanpa menghabiskan sumber daya yang tersedia terletak di sebelah kiri bawah kurva. Sedangkan batas kemungkinan produksi yang tidak dapat dicapai terletak di sebelah kana atas kurva.

Diasumsikan terjadi perubahan harga dari P1 ke P2. Dari gambar tersebut diperoleh dua titikekuilibriumpada titik persinggungan antara kurva

isorevenue dan kurva kemungkinan produksi. Pada titik E1 perusahaan memproduksi barang X1 dan Y1, akibat dari adanya perubahan harga, maka titik ekuilibrium bergeser ke titik E2. Produksi produk X akan mengalami pergeseran dari X1ke X2atau mengalami penurunan produksi tetapi produksi produk Y mengalami peningkatan dari Y1ke Y2. Bentuk kurva kemungkinan

Keterangan :

X1 : Jumlah Produk X pada titik 1

X2 : Jumlah Produk X pada titik 2

Y1 : Jumlah Produk Y pada titik 1

Y2 : Jumlah Produk Y pada titik 2

UV : Kurva kemungkinan produksi P1 : Kurvaisorevenuepada titik 1

P2 : Kurvaisorevenuepada titik 2

E1 : Titik equilibrium pada titik 1

E2 : Titik equilibrium pada titik 1

(35)

produksi yang cembung menggambarkan biaya peluang (opportunity cost), yaitu nilai yang hilang apabila memilih alternatif produksi lain.

Dalam kurva kemungkinan produksi, terdapat batas-batas kemungkinan perusahaan dapat berproduksi karena adanya keterbatasan sumber daya yang ada yang ditunjukkan oleh batas lereng miring ke bawah.

Menurut Lipsey (1994), batas kemungkinan produksi mengutarakan tiga konsep :

1. Kelangkaan (scarcity) merupakan kombinasi yang tidak dapat dicapai melebihi batas.

2. Pilihan (choice) berdasarkan kebutuhan memilih dari sejumlah titik-titik alternatif yang bisa dicapai sepanjang batas.

3. Biaya peluang berdasarkan kemiringan batas tersebut ke kanan bawah. Menurut tiga konsep di atas dapat disimpulkan bahwa keterbatasan sumber daya, mengakibatkan adanya kelangkaan, dimana pada saat ini tingkat produksi yang diharapkan tidak melebihi keterbatasan sumber daya yang ada. Selanjutnya perusahaan yang mengalami kelangkaan ini akan melakukan pemilihan atas pilihan-pilihan alternatif yang ada dan dapat dicapai sepanjang batas kemungkinan produksi. Adanya pemilihan ini menimbulkan biaya peluang yang berarti seberapa besar biaya yang dikorbankan atas pemilihan salah satu alternatif yang mungkin dibandingkan alternatif lainnya.

Menurut Sudarsono (1989), yang dimaksud dengan biaya peluang adalah biaya altenatif, dimana nilainya sama dengan besar nilai produk lain yang tidak jadi diproduksi, karena sumber ekonominya digunakan untuk memproduksi barang tertentu tersebut.

2.5. Profitabilitas Perusahaan

(36)

profitabilitas yang diperoleh perusahaan dari penggunaan modal manusia sesuai kebutuhan perusahaan.

Menurut Komaruddin (1994), pengertian dari profitabilitas perusahaan adalah perhitungan mengenai kemungkinan memperoleh laba dari perusahaan dalam jangka waktu tertentu di masa mendatang. Komaruddin juga mendefinisikan profitabilitas sebagai perhitungan kemungkinan mendapatkan laba dari modal yang ditanamkan dalam jangka waktu tertentu di waktu mendatang.

Profitabilitas merupakan hasil bersih dari serangkaian kebijakan dan keputusan (Brigham dan Houston, 2001). Rasio profitabilitas menunjukkan pengaruh gabungan dari likuiditas, manajemen aktiva dan utang terhadap hasil operasi.

Optimasi profitabilitas (keuntungan) perusahaan dapat dicapai dari dua pendekatan, yaitu peningkatan penjualan dan penurunan biaya total produksi. a. Penjualan

Definisi penjualan adalah kegiatan yang bertujuan untuk mencari atau mengusahakan agar ada pembeli atau ada permintaan pasar yang cukup baik atau banyak terhadap barang dan jasa yang dipasarkan pada tingkat harga menguntungkan. Dilihat dari sisi fungsi pemasaran, penjualan merupakan salah satu fungsi pemasaran yang sangat penting dan menentukan, karena merupakan sumber pendapatan yang diperlukan untuk menutupi biaya. Ada tidaknya fungsi pemasaran yang lain seperti pembelian, pengangkutan, penyimpanan, standarisasi dan grading, serta penanggungan risiko sangat bergantung dari pelaksanaan penjualan (Manulang, 1991).

b. Biaya

(37)

Suatu konsep biaya secara khas akan menghitung biaya dalam dua tahap dasar (Horngren dan Datar, 2005), yaitu akumulasi yang kemudian dilanjutkan dengan pembebanan. Akumulasi biaya adalah kumpulan data biaya yang diorganisir dengan sejumlah cara menggunakan sarana berupa sistem akuntansi. Setelah mengakumulasi biaya, manajer membebankan biaya pada suatu obyek biaya yang telah dirancang untuk membantu pengambilan keputusan.

Manajemen membebankan biaya pada obyek biaya untuk berbagai tujuan. Biaya yang dibebankan pada suatu departemen membantu keputusan tentang tingkat efisiensi departemen. Biaya yang dibebankan pada produk membantu keputusan penetapan harga-harga untuk menganalisis bagaimana tingkat profitabilitas produk yang berbeda. Biaya yang dibebankan pada konsumen membantu manajer untuk memahami laba yang dihasilkan dari setiap konsumen dan untuk membuat keputusan bagaimana cara mengalokasi sumber daya konsumen yang berbeda. Pembebanan biaya adalah istilah umum yang terdiri atas menelusuri akumulasi biaya yang mempunyai hubungan langsung dengan objek biaya dan mengalokasikan akumulasi biaya yang mempunyai hubungan tidak langsung dengan obyek biaya.

Sistem penelusuran biaya mencatat biaya dari sumber daya yang digunakan serta menelusuri bagaimana sumber daya tersebut digunakan. Biaya variabel secara total berubah proporsional mengikuti perubahan tingkat aktivitas/volume terkait. Biaya tetap tidak akan berubah secara total untuk jangka waktu tertentu, sekalipun terjadi perubahan yang besar atas tingkat aktivitas/volume terkait. Biaya dikatakan tetap/variabel jika dikaitkan dengan suatu obyek biaya/jangka waktu tertentu.

2.6. Optimasi Produksi

(38)

ataupun meminimumkan biaya produksi dapat tercapai melalui perencanaan optimasi produksi.

Optimasi merupakan pencapaian suatu keadaan yang terbaik, yaitu pencapaian suatu solusi masalah yang diarahkan pada batas maksimum dan minimum (Soekartawi, 1992). Persoalan optimasi meliputi optimasi tanpa kendala dan optimasi dengan kendala. Dalam optimasi tanpa kendala, faktor-faktor yang menjadi kendala terhadap suatu fungsi tujuan diabaikan sehingga dalam menentukan nilai maksimum atau minimum tidak terdapat batasan untuk berbagai pilihan peubah yang tersedia. Pada optimasi dengan kendala, faktor-faktor yang menjadi kendala pada fungsi tujuan diperhatikan dan ikut menentukan titik maksimum dan minimum fungsi tujuan (Nicholson,1995).

Supranto (1988) menyatakan bahwa optimasi dengan kendala pada dasarnya merupakan persoalan dalam menentukan nilai peubah-peubah suatu fungsi menjadi maksimum atau minimum dengan memperhatikan keterbatasan-keterbatasan yang ada. Keterbatasan tersebut meliputi semua faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi seperti lahan, tenaga kerja dan modal.

Salah satu dari teknik optimasi yang dapat dipakai untuk menyelesaikan masalah optimasi berkendala adalah teknik Linear Programming (LP) yang dapat diselesaikan dengan komputer untuk menghasilkan solusi cepat dan akurat yang bermanfaat bagi manajemen perusahaan. Pada teknik optimasi harus dibentuk suatu formulasi model yang mampu menjelaskan kompleksitas dan ketidakpastian pengambilan keputusan. Model yang dibentuk akan membantu dalam menganalisa pengambilan keputusan menuju arah kerangka yang logik secara menyeluruh.

2.7. Model Optimasi

(39)

Optimasi memiliki tiga unsur dasar :

1. Fungsi obyektif yang akan dimaksimumkan atau minimumkan. Sebagai contoh dalam proses produksi dapat dimaksimalkan keuntungan atau meminimalkan biaya.

2. Peubah yang akan mempengaruhi nilai dari fungsi obyektif. Dalam permasalahan produksi, peubah yang mungkin muncul ialah jumlah dari berbagai jenis sumber daya yang digunakan atau waktu yang dihabiskan untuk setiap aktifitas.

3. Kendala yang memungkinkan peubah untuk mendapat nilai tertentu, namun mengecualikan yang lain. Dalam proses produksi, dapat dibatasi jumlah jenis sumber daya yang digunakan, membatasi modal yang tersedia, atau membatasi penggunaan lahan.

Teknik optimasi digunakan untuk fungsi yang berkendala dan tidak berkendala. Penyelesaian permasalahan dapat berbentuk persamaan dan ketidaksamaan. Unsur penting dalam masalah optimasi adalah fungsi tujuan, yang sangat bergantung pada sejumlah berhingga peubah masukan. Peubah-peubah ini dapat tidak saling bergantung atau saling bergantung melalui satu atau lebih kendala (Bronson dalam Luthfiyanti, 2003).

2.8. Linear Programming

LP merupakan suatu teknik riset operasi yang penggunaannya sangat luas. Penemu LP adalah George B. Dantzig. Penerapan awal LP terutama di bidang militer (logistik dan transportasi), setelah itu berkembang pada permasalahan pemerintah dan bisnis.

(40)

guna menemukan beberapa kombinasi alternatif pemecahan masalah untuk kemudian memilih alternatif terbaik.

Subagyo, dkk (2000) mendefinisikan LP sebagai suatu model umum yang dapat digunakan dalam pemecahan masalah pengalokasian sumber-sumber yang terbatas secara optimal. Masalah tersebut timbul apabila seseorang diharuskan untuk memilih atau menentukan tingkat setiap kegiatan yang akan dilakukannya, dimana masing-masing kegiatan membutuhkan sumber daya yang sama, sedangkan jumlahnya terbatas. LP mencakup perencanaan kegiatan-kegiatan untuk mencapai suatu hasil yang optimal, yaitu suatu hasil yang mencerminkan tercapainya sasaran tertentu yang paling baik (menurut model matematis) di antara alternatif-alternatif yang mungkin, dengan menggunakan fungsi linear.

Model LP adalah bentuk matematik dari perumusan masalah umum pengalokasian sumber daya untuk berbagai kegiatan. Model LP ini menyajikan bentuk dan susunan dari masalah-masalah yang akan dipecahkan dengan teknik LP. Fungsi dalam model LP meliputi dua macam fungsi, yaitu fungsi tujuan dan fungsi kendala. Fungsi tujuan adalah fungsi yang menggambarkan tujuan/sasaran di dalam permasalahan LP yang berkaitan dengan pengaturan secara optimal sumber daya, untuk memperoleh keuntungan maksimal atau biaya minimal. Umumnya nilai yang akan dioptimalkan dinyatakan sebagai Z, sedangkan fungsi kendala merupakan bentuk penyajian secara matematik batasan ketersediaan kapasitas yang akan dialokasikan secara optimal ke berbagai kegiatan.

Asumsi dasar yang melandasi model matematik dari LP (Subagyo, dkk, 2000) adalah :

1. Proporsionalitas

Apabila peubah pengambil keputusan berubah, maka dampak peubahnya akan menyebar dalam proporsi tertentu terhadap fungsi tujuan dan fungsi kendala.

2. Aditivitas

(41)

3. Divisibilitas

Peubah pengambil keputusan dapat dibagi ke dalam pecahan-pecahan apabila diperlukan. Maksudnya peubah pengambil keputusan tidak harus berupa bilangan integer (0 dan 1), atau bulat.

4. Deterministik

Semua parameter yang terdapat dalam model LP adalah tetap, diketahui dan dapat diperkirakan dengan pasti.

5. Linearitas

Perbandingan antara input yang satu dengan input lainnya, atau untuk suatu input dengan output besarnya tetap dan tidak bergantung pada tingkat produksi.

Taha (1996) menyatakan bahwa program linear dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Fungsi tujuan... : Maks / Min Z = C1X1+ C2X2+ … +CjXj...(1) 2. Fungsi kendala : a11X1+ a12X2+ a13X3+ … + a1jXj≤

bj

. . .

ai1X1+ ai2X2+ ai3X3+ … + aijXj≤ bj

X1≥ 0, X2≥ 0, …, Xj≥ 0... (2) Dimana :

Z : Nilai yang dioptimalkan (maksimum atau minimum). Cj : Koefisien fungsi tujuan tiap kegiatan ke-j.

Xj : Aktivitas ke-j yang dilaksanakan.

aij : Banyaknya sumber daya i yang diperlukan untuk menghasilkan setiap unit keluaran ke-j.

(42)

Nasendi dan Anwar (1985) menyatakan bahwa menyusun dan merumuskan suatu permasalahan yang dihadapi ke dalam model LP, diperlukan lima syarat yang harus dipenuhi. Kelima syarat tersebut adalah : 1. Tujuan

Tujuan adalah permasalahan yang ingin dipecahkan dan dicari jalan keluarnya. Fungsi tujuan dapat berupa dampak positif seperti keuntungan yang ingin dimaksimalkan, atau dampak negatif seperti risiko-risiko dan biaya-biaya yang ingin diminimumkan.

2. Adanya alternatif

Harus ada alternatif yang ingin diperbandingkan, misalnya kombinasi antara waktu tercepat dan biaya tertinggi dengan waktu terlambat dan biaya rendah.

3. Sumber daya

Sumber daya yang dianalisis berada dalam keadaan terbatas, misalnya keterbatasan waktu, biaya, bahan, lahan, dan lain-lain. Keterbatasan dalam sumber daya dinamakan kendala.

4. Keterkaitan Peubah

Peubah yang membentuk fungsi tujuan dan fungsi kendala harus memiliki hubungan fungsional atau hubungan keterkaitan. Hubungan keterkaitan dapat diartikan hubungan yang saling mempengaruhi, hubungan interaksi, interpedensi, timbal-balik dan saling menunjang.

5. Perumusan Kuantitatif

Fungsi tujuan dan fungsi kendala harus dapat dirumuskan secara kuantitatif dalam model matematik.

Menurut Soekarwati (1992), LP memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan LP adalah :

1. Mudah dilaksanakan, terutama jika menggunakan alat bantu komputer. 2. Dapat menggunakan banyak peubah, sehingga berbagai kemungkinan

untuk memperoleh pemanfaatan sumber daya yang optimal tercapai. 3. Fungsi tujuan dapat difleksibelkan sesuai tujuan penelitian atau data yang

(43)

Kekurangannya adalah untuk pemecahan persoalan dengan banyak peubah harus menggunakan komputer karena hampir tidak mungkin dikerjakan secara manual. Untuk persoalan dengan sedikit peubah, program linear dapat dikerjakan dengan bantuan metode simpleks.

2.9. Analisis Sensitivitas

LP merupakan teknik perkiraan sementara, dengan kata lain dalam batas-batas tertentu, yaitu batas maksimum dan minimum yang diperbolehkan dari koefisien fungsi tujuan maupun kapasitas sumber daya yang tersedia, maka nilai fungsi tujuan yang telah diperoleh tidak akan berubah. Tetapi dengan berubahnya waktu, kondisi dan fluktuasi kendala-kendala yang ada maka alokasi dari solusi optimal yang telah diperoleh tidak sesuai lagi. Untuk menjawab hal-hal seperti itu, maka digunakan analisis sensitivitas.

Menurut Supranto (1988), analisis sensitivitas adalah suatu cara untuk memperbaiki solusi optimal yang telah dicapai sebagai akibat berfluktuasinya faktor-faktor kendala yang ada tanpa harus memformulasikan kembali masalah tersebut dari awal. Tujuannya adalah menghindari ulang bila terjadi perubahan satu atau beberapa koefisien model pada saat penyelesaian optimal telah tercapai.

Analisis sensitivitas menunjukkan selang kepekaan nilai-nilai koefisien fungsi tujuan yang dapat mempertahankan kondisi optimal. Selang kepekaan ditunjukkan oleh batas maksimum yang menggambarkan batas kenaikan nilai aktivitas atau kendala yang tidak merubah fungsi tujuan dan ditunjukkan oleh batas minimum nilai koefisien fungsi tujuan yang menggambarkan batas penurunan nilai aktivitas atau kendala yang tidak merubah fungsi tujuan. Selain itu, selang kepekaan juga ditunjukkan oleh nilai ruas kanan yang menggambarkan seberapa besar perubahan ketersediaan sumber daya dapat ditolerir sehingga nilai dual tidak berubah (Soekartawi, dkk, 1986).

2.10. Lindo

(44)

digunakan untuk mengoptimalkan suatu tujuan dengan berbagai kendala yang ada. LP merupakan bagian dari management science atau penelitian operasional. Program Lindo ini diciptakan oleh Profesor Linus Scrage dari

Graduate School of Business, Chicago.

Dari sudut pandang teori sistem, program ini menghendaki masukan model matematik LP dengan format standar. Masukan tersebut akan diolah dengan proses tertentu, agar menghasilkan keluaran. Hasil olahan program sebagai keluaran sistem, dapat ditampilkan dalam dua format, yaitu format lindo dan format simpleks. Format simpleks di lain pihak, merupakan hasil olahan program yang masih mentah dan masih merupakan keluaran langsung dari program yang perlu dikembangkan lagi agar lebih bermanfaat dalam proses pembuatan keputusan manajerial. Selama peubah-peubah dalam program sasaran linear juga mengikuti sifat linear, maka Lindo dapat digunakan (Siswanto dalam Luthfiyanti, 2003)

2.11. Penelitian Terdahulu yang Relevan

Penelitian optimasi produk pasta pada PT Indofood (Doloksaribu, 2004) dengan Lindo sebagai alat pengolahan datanya, diperoleh hasil dengan memaksimumkan fungsi tujuan yang dihadapkan pada kendala bahan baku, mesin dan peralatan produksi, jam tenaga kerja produksi, kapasitas gudang hasil produksi, kapasitas gudang penyimpanan bahan baku dan permintaan pasar diperoleh kondisi optimal perusahaan dengan memproduksi 16 dari 20 jenis pasta yang ada.

Pada kondisi optimal keuntungan yang diperoleh lebih besar dibandingkan kondisi aktualnya. Hasil optimal dalam penelitian ini memperlihatkan bahwa sebagian sumber daya yang digunakan masih belum optimal karena masih terdapat nilaislack. Sumber daya tersebut adalah bahan baku, jam mesin pasta dan kapasitas gudang penyimpanan bahan baku. Perubahan keuntungan yang diperoleh pada selang tertentu yang masih diijinkan perlu mempertahankan harga pokok produk dari masing-masing pasta, sedangkan perubahan ketersediaan sumber daya pada selang tertentu yang masih diijinkan adalah yang memperhatikan nilai dual price pada

(45)

III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian

Banyak perusahaan yang ingin mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Akan tetapi dalam proses produksinya tentu saja perusahaan-perusahaan tersebut dihadapkan pada sejumlah kendala. Kendala yang paling utama adalah terbatasnya sumber daya yang dimiliki perusahaan. Perusahaan harus cermat dalam menggunakan sumber daya yang terbatas, agar dapat berproduksi secara efisien, sehingga keuntungan optimal dapat tercapai.

Merencanakan penggunaan sumber daya dipengaruhi oleh dua hal, yaitu dari segi permintaan produk dan ketersediaan sumber daya. Permintaan produk didasarkan atas pesanan, dimana nilai permintaan tiap bulannya tidak tetap atau fluktuatif. Dari segi ketersediaan sumber daya, PT. Pismatex menetapkan dalam memproduksi produk diperlukan beberapa sumber daya, diantaranya adalah benang dan zat pewarna. Disini perusahaan dihadapkan pada persoalan-persoalan pemenuhan sumber daya yang optimal dan ekonomis.

(46)

Gambar 5.Kerangka pemikiran penelitian

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di PT. Pismatex yang beralamat di Jl. Raya Buaran, Pekalongan selama bulan Mei sampai Juli 2009. Pemilihan lokasi penelitian ini dilakukan secara sengaja (purposif), yaitu memperhatikan perusahaan di bidang manufaktur yang membutuhkan sumber daya alam sebagai bahan baku produksinya.

Permintaan Produk Sarung Ketersediaan Sumber daya

Penggunaan Sumber daya (Input)

Optimasi Proses Poduksi

Hasil Produksi Optimal (Output)

Keuntungan Optimal PT. Pismatex

Linear Programming:

 Fungsi Tujuan : Maksimasi Keuntungan  Fungsi Kendala :

(47)

3.3. Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. Data primer yang digunakan berupa hasil wawancara dengan pihak perusahaan, terutama yang terkait dengan bagian produksi dan akuntansi. Data sekunder merupakan data pelengkap yang didapatkan dari pihak-pihak terkait dengan penelitian ini, diantaranya adalah dokumen-dokumen perusahaan yang relevan untuk penelitian ini.

Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah :

a. Data gambaran umum perusahaan meliputi sejarah, lokasi, visi dan misi perusahaan, struktur organisasi, pemasaran dan proses produksi.

b. Data historis pemasaran, yaitu harga jual, jumlah permintaan dan volume penjualan.

c. Data historis produksi perusahaan, yaitu kebutuhan bahan baku, jam kerja langsung, jam kerja mesin, kapasitas mesin dan jam kerja mesin produksi. Pengumpulan data berupa kegiatan survai lapangan, wawancara, dokumentasi dan penelitian pustaka. Pengumpulan data dilakukan sebagai berikut :

a. Studi Literatur

Data yang diperlukan dan dikumpulkan dengan cara membaca dan mempelajari buku literatur, serta sumber-sumber yang sesuai dengan permasalahan.

b. Wawancara

Wawancara merupakan pengumpulan data dengan cara tanya jawab langsung dengan pihak bersangkutan, diantaranya dengan pihak produksi, akuntansi, dan pemasaran.

c. Dokumentasi

(48)

3.4. Pengolahan dan Analisis Data

Pengolahan data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Pengolahan secara kualitatif dilakukan secara deskriptif, meliputi gambaran dan kondisi perusahaan. Pengolahan data secara kuantitatif dilakukan untuk mencari tingkat produksi optimal. Data kuantitatif berupa harga jual tiap produk, jumlah penerimaan penjualan tiap produk, biaya produksi, laba, jumlah permintaan dan ketersediaan sumber daya perusahaan.

Data diolah dengan software LINDO yang merupakan salah satu program komputer untuk aplikasi LP, yaitu suatu pemodelan matematik yang digunakan untuk mengoptimalkan suatu tujuan dengan berbagai kendala yang ada. LINDO terdiri atas inputberupa fungsi tujuan dan fungsi kendala, serta

outputberupa penyelesaian optimal.

Langkah-langkah pengolahan data adalah : a. Merumuskan masalah dalam kerangka LP

Untuk merumuskan masalah dengan kerangka LP, maka perlu diketahui beberapa hal berikut :

1) Peubah keputusan

Peubah keputusan adalah peubah yang menguraikan secara lengkap keputusan-keputusan yang akan dibuat.

2) Fungsi tujuan

Fungsi tujuan merupakan fungsi persamaan linear yang mencakup peubah keputusan yang akan dimaksimumkan (pendapatan atau keuntungan) atau diminimumkan (biaya atau sumber daya).

3) Pembatas/kendala

Kendala yang dimaksud adalah segala keterbatasan yang dimiliki atau situasi yang kurang mendukung operasional perusahaan.

b. Menuliskan dalam persamaan matematik LP

(49)

tujuan. Kendala-kendala juga harus ditransformasi dalam persamaan matematik atau disebut fungsi kendala.

Berdasarkan langkah ini, LP dapat dirumuskan ke dalam dua fungsi, yaitu :

1) Fungsi Tujuan

Fungsi yang menggambarkan sasaran atau tujuan dalam permasalahan LP yang berkaitan dengan penggunaan secara optimal sumber-sumber untuk memperoleh keuntungan maksimal atau biaya minimal.

2) Fungsi Kendala

Bentuk penyajian secara matematik kendala-kendala keputusan yang terbatas untuk dialokasikan secara optimal ke berbagai tujuan.

Secara umum, model LP dalam penelitian ini dapat diformulasikan sebagai berikut :

1) Fungsi tujuan... :

Keterangan :

Z = Nilai fungsi tujuan / keuntungan optimal (Rp) Cij = Kontribusi keuntungan produk ke-i pada bulan ke-j Xij = Jumlah produk ke-i yang dihasilkan pada bulan ke-j i = Kelompok Produk

j = Periode produksi dalam satu tahun (12 bulan)

2) Fungsi kendala :

i. Kendala bahan baku

Keterangan :

Bij = Koefisien penggunaan bahan baku untuk produk ke-i pada bulan ke-j

(50)

ii. Kendala jam TKL

Keterangan :

Tij = Koefisien kebutuhan jam tenaga kerja langsung untuk produk ke-i pada bulan ke-j

tij = Ketersediaan jam tenaga kerja langsung untuk produk ke-i pada bulan ke-j

iii. Kendala jam mesin

Keterangan :

Mij = Koefisien kebutuhan jam mesin untuk menghasilkan produk ke-i pada bulan ke-j

mij = Ketersediaan jam mesin untuk memproduksi produk ke-i pada bulan ke-j

iv. Kendala permintaan

Keterangan :

pij = Jumlah permintaan untuk produk ke-i pada bulan ke-j c. Menuliskan rumusan ke dalam LINDO

Setelah rumusan LP terbentuk, penulisan rumusannya harus sesuai dengan perintah yang ada pada LINDO. Untuk itu perlu diketahui beberapa perintah yang ada, yaitu :

MAX : Perintah ini dituliskan di awal fungsi tujuan untuk menunjukkan fungsi maksimasi dalam fungsi tujuan.

(51)

ST : Perintah ini dituliskan setelah penulisan fungsi tujuan, dengan maksud untuk mengawali penulisan fungsi kendala. ST dapat ditulis lengkap sebagai SUBJECT TO.

END : Digunakan untuk mengakhiri penulisan rumusan (setelah penulisan kendala berakhir).

d. Interpretasi keluaran LINDO

Setelah keluar hasilnya, maka langkah selanjutnya menginterpretasikan keluaran. Beberapa hasil keluaran yang dapat diinterpretasikan adalah :

1) Objective Function Value

Objective function value adalah nilai fungsi tujuan optimal yang dihasilkan. Misalkan, fungsi tujuannya memaksimumkan keuntungan, maka itulah nilai keuntungan maksimal yang dihasilkan. Demikian halnya, jika fungsi tujuannya meminimumkan biaya, maka itulah biaya mimimal yang dihasilkan.

2) Variable

Variableadalah peubah keputusan (sesuai dengan simbol yang dibuat dengan huruf-huruf tertentu).

3) Value

Valueadalah nilai optimal untuk masing-masing peubah keputusan.

4) Reduced Cost

Reduced cost menunjukkan besarnya penurunan koefisien fungsi tujuan, agar apabila peubah bernilai nol (berarti tidak masuk dalam solusi) dipaksa untuk positif (berarti masuk dalam solusi). Jika nilai peubah bernilai positif, maka nilai reduced cost pasti akan sama dengan nol. Akan tetapi, jika nilai peubah bernilai nol, maka nilai

reduced cost baru akan positif. Jadi nilai reduced cost yang sama dengan nol, berarti peubah tersebut sudah dalam solusi.

5) Slack or Surplus

(52)

slack, sedangkan pada kendala lebih besar dari (≥) disebut surplus.

Jika kendala memenuhi kaidah persamaan (nilai sebelah kiri sama dengan nilai sebelah kanan), maka nilai slack or surplus adalah nol. Ini berarti seluruh kapasitas habis terpakai. Kendala dengan nilai

slack or surplussama dengan nol disebut kendala aktif.

Slack or surplus juga dapat bernilai negatif, jika terdapat infeasible solution(solusi tidak layak).

6) Dual Price

Dual price yang ada dalam setiap kendala menunjukkan besarnya kenaikan fungsi tujuan akibat kenaikan satu unit kapasitas kendala.

Dual price sering kali disebut juga sebagai shadow price, karena menunjukkan harga penambahan satu unit sumber daya.

Dari keluaran komputer ini dapat diperoleh beberapa analisis, yaitu analisis primal, analisis dual, analisis sensitivitas dan analisis post optimalitas.

1) Analisis Primal

Analisis primal bertujuan untuk mengetahui kombinasi produk terbaik yang dapat memaksimalkan keuntungan dengan sumber daya terbatas. Dalam analisis primal akan diketahui aktivitas mana yang termasuk dalam skema optimal dan aktivitas mana yang tidak termasuk dalam skema optimal atau menilai reduced cost. Untuk mengetahui apakah aktivitas perusahaan telah optimal atau belum, hasil analisis berupa kombinasi aktivitas terbaik ini akan dibandingkan dengan aktivitas aktual perusahaan.

2) Analisis Dual

Analisisdualdilakukan untuk mengetahui penilaian terhadap sumber daya yang ada dan menilai keputusan sumber daya mana yang masih memungkinkan perusahaan untuk melakukan pembelian. Nilai dual

menunjukkan perubahan yang akan terjadi pada fungsi tujuan, apabila sumber daya berubah sebesar satu satuan.

Sumber daya yang berlebih dan kurang dapat dilihat berdasarkan nilai

(53)

berlebih dan apabila nilai slack/surplus = 0, maka sumber daya bersifat langka. Apabila sumber daya dengan nilai dual > 0, maka sumber daya bersifat langka atau aktif, sedangkan apabila nilaidual

0 maka sumber daya bersifat berlebih atau tidak aktif. Nilai dual

dapat dilihat berdasarkan harga bayangan (shadow price), yaitu batas harga tertinggi suatu sumber daya dimana perusahaan masih dapat melakukan pembelian.

3) Analisis Sensitivitas

Analisis sensitivitas diperlukan untuk mengetahui sejauhmana jawaban optimal dapat diterapkan, apabila terjadi perubahan parameter yang membangun model. Perubahan dapat terjadi, karena perubahan koefisien fungsi tujuan, perubahan koefisien fungsi kendala, perubahan nilai sebelah kanan model, serta adanya tambahan peubah keputusan. Analisis ini bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai pemecahan optimum baru yang memungkinkan sesuai dengan parameter perhitungan tambahan minimal.

(54)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Perusahaan 1. Sejarah Perkembangan Perusahaan

PT. Pismatex Pekalongan merupakan sebuah perusahaan berbentuk PT tertutup yang bergerak dalam bidang industri tekstil kain sarung pelekat, dimana saham atau modal yang dimiliki adalah milik keluarga. PT Pismatex didirikan pada tahun 1971 oleh H. Ghozi Salim sebagai pemilik perusahaan dan pada tahun 1972 mulai memproduksi kain sarung pelekat merek Gajah Duduk. Sejalan dengan perkembangan penggunaan teknologi dalam industri tekstil, maka sarung Gajah Duduk diproduksi dengan berbagai tingkatan mutu, antara lain mutu 4.000 benang, 5.000 benang dan 7.000 benang.

Pada awal didirikannya, PT Pismatex menggunakan proses produksi kain sarung dengan alat tenun bukan mesin (ATBM). Penggunaan teknologi yang semakin berkembang dalam industri tekstil menuntut perusahaan mengadopsi perkembangan teknologi dalam proses produksinya. Oleh karena itu, pada tahun 1973 perusahaan melakukan pembaharuan teknologinya dengan mengganti penggunaan ATBM menjadi alat tenun mesin (ATM). Penggantian penggunaan mesin dalam proses produksi kain sarung atas pertimbangan perusahaan berikut : meningkatnya daya beli masyarakat, tingkat produktivitas yang tinggi dan mutu kain sarung yang lebih baik.

(55)

pertenunan (weaving), unit penyempurnaan (finishing) dan unit jahit sarung (sewing).

2. Lokasi Perusahaan

Penentuan lokasi perusahaan yang strategik dapat ditinjau dari beberapa faktor, yaitu bahan baku, tenaga kerja, transportasi, pasar potensial, dukungan pemerintah, persediaan air yang cukup, keadaan iklim dan fasilitas bank.

Pada awalnya, perusahaan tekstil PT Pismatex didirikan di desa Klego Pekalongan. Kemudian, mengingat lokasi perusahaan yang kurang memadai untuk perkembangan perusahaan, sedangkan penggunaan teknologi tekstil makin berkembang, maka pabrik di desa Klego dipindah ke desa Sapugarut Buaran Pekalongan, dengan luas lahan 2.073 m2. Pemilihan lokasi ini oleh Pemimpin Perusahaan didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :

a. Tanah yang tersedia cukup luas untuk pengembangan usaha.

b. Lokasi tidak di tengah-tengah kota seperti yang dianjurkan oleh pemerintah, agar tidak tercampur dengan pemukiman penduduk. c. Harga tanah di daerah ini pada waktu itu cukup murah dibandingkan

dengan harga di daerah perkotaan.

d. Mudah mendapatkan tenaga kerja, karena di desa tersebut banyak

home industrybidang tekstil.

e. Arus transportasi ke pabrik cukup mudah.

Sejalan dengan perkembangan perusahaan dari awal didirikannya PT Pismatex sampai sekarang ini memiliki dua kantor cabang, yaitu di Jakarta dan Surabaya, serta kantor pusat perusahaan terletak di jalan Teratai No.2 Kelurahan Klego Pekalongan.

3. Visi, Misi dan Tujuan Perusahaan

PT Pismatex Pekalongan mempunyai visi, yaitu membantu pemerintah di dalam penyerapan tenaga kerja di Pekalongan. Misi perusahaan adalah :

(56)

b. Meningkatkan industri kerajinan, khususnya kerajinan kain sarung. c. Mencari keuntungan.

PT Pismatex mempunyai tujuan dalam mengembangkan perusahaannya. Tujuan yang hendak dicapai oleh perusahaan adalah : a. Ditinjau dari segi ekonomi, yaitu mencari laba.

b. Ditinjau dari segi sosial ekonomi, yaitu memberikan kesempatan kerja.

c. Ditinjau dari segi pembangunan, yaitu membantu pemerintah dalam memenuhi kebutuhan sandang dan meningkatkan industri kerajinan, khususnya kerajinan kain sarung.

Peranan perusahaan dalam mensukseskan pembangunan ekonomi, baik regional maupun nasional, antara lain menyerap tenaga kerja sebanyak mungkin dari daerah sekitar sesuai kebutuhan dan menggunakan suku cadang buatan dalam negeri, serta ikut menambah pemasukan devisa bagi negara.

Selain itu, PT Pismatex juga berpartisipasi dalam bidang pendidikan, diantaranya :

a. Dengan adanya sistem ganda (dual system), perusahaan memberikan kesempatan bagi para pelajar untuk magang di perusahaan.

b. Memberikan kesempatan bagi para pelajar dan mahasiswa untuk mengadakan penelitian di perusahaan.

4. Struktur Organisasi

Struktur organisasi (Lampiran 1) yang diterapkan PT. Pismatex adalah struktur organisasi garis, dimana kekuasaan dan tanggungjawab berjalan dari puncak pimpinan tertinggi yang dipegang oleh Direksi. Pimpinan tertinggi perusahan adalah Direksi yang dibantu oleh seorang

General Manager dalam melaksanakan kebijakan perusahaan. Untuk lebih jelasnya dapat diuraikan sebagai berikut :

(57)

b. General Manager membawahi empat manajer, antara lain Manajer Produksi, Manajer Pemasaran, Manajer Keuangan, Manajer SDM dan Umum.

c. Manajer Produksi membawahi delapan Kepala Bagian (KB) unit produksi, antara lain KB Pencelupan, KB Persiapan, KB Pertenunan I, IV & V, KB Pertenunan II & III, KBSpare Part, KB Finishing, KB Teknik dan KB PPC.

d. Manajer Pemasaran membawahi empat Kepala Bagian (KB) Pemasaran, yaitu : KB Penjualan dan Distribusi, KB Promosi, KB Jahit atau Kemas dan KB Desaigner yang membawahi dan mengawasi staff gudang warna.

e. Manajer Keuangan membawahi Kepala Bagian (KB)Accounting, KB Pembelian dan Kasir.

f. Manajer SDM dan Umum membawahi Kepala Bagian (KB) Personalia, KB Umum, dan KB MIS.

Berdasarkan struktur organisasi PT. Pismatex, maka tugas dan tanggungjawab dari masing-masing bagian atau jabatan sebagai berikut : a. Direksi bertugas memimpin semua kegiatan baik di dalam maupun di

luar perusahaan secara keseluruhan dan membawahi seorang General Managersecara langsung.

b. General Manager bertugas untuk membantu direksi dalam mengkoordinir kegiatan-kegiatan perusahaan sesuai dengan bidangnya masing-masing.

c. Manajer Pemasaran bertugas untuk mengkoordinir kegiatan pemasaran barang dan jasa, serta melakukan kegiatan penagihan terhadap piutang perusahaan.

d. Manajer Keuangan bertugas untuk mengkoordinir penyelenggaraan administrasi dan keuangan perusahaan, serta mengkoordinasi pemasukan dan pengeluaran perusahaan.

Gambar

Tabel 1. Data penjualan produk sarung pada tahun 2008
Gambar 1. Manufaktur sebagai proses input-output (Biegel dalam Kusuma,
Gambar 3. Kurva isorevenue (Sudarsono, 1989)
Gambar 4. Kurva penerimaan maksimum (Sudarsono, 1989)
+7

Referensi

Dokumen terkait