Fraksionasi Fosfor Pada Tanah-tanah Sawah di Pulau Jawa

117 

Teks penuh

(1)

FRAKSIONASI FOSFOR

PADA TANAH-TANAH SAWAH DI PULAU JAWA

ADELIA SATWOKO

A14080009

PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA LAHAN

DEPARTEMEN ILMU TANAH DAN SUMBERDAYA LAHAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

RINGKASAN

ADELIA SATWOKO. Fraksionasi Fosfor Pada Tanah-tanah Sawah Di

Pulau Jawa. Di bawah bimbingan ARIEF HARTONO dan SYAIFUL

ANWAR.

Data BPS pada tahun 2008 menunjukkan bahwa Pulau Jawa dengan luas panen 5.74 juta ha mampu menyumbang 55% dari produksi gabah kering giling (GKG) di Indonesia (BPS 2009). Ditinjau dari penyebarannya lebih dari 60% tanah sawah di Indonesia berada di Pulau Jawa (Kawaguchi dan Kyuma 1976; Rayes 2000). Peningkatkan produksi padi merupakan hal yang harus diperhatikan untuk memenuhi kebutuhan gabah kering giling Indonesia. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan produksi padi adalah dengan penggunaan pupuk termasuk pupuk Fosfor (P). Pada umumnya pupuk P yang diaplikasikan ke dalam tanah akan ditransformasikan menjadi bentuk P yang tersedia dan tidak tersedia bagi tanaman. Pengetahuan mengenai fraksionasi bentuk-bentuk P pada tanah-tanah sawah di Pulau Jawa belum banyak dilaporkan. Informasi distribusi fraksi-fraksi P pada tanah sawah di Pulau Jawa dibutuhkan untuk manajemen pemupukan P. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi distribusi fraksi-fraksi P pada tanah-tanah sawah di Pulau Jawa.

Metode yang digunakan dalam Fraksionasi P adalah metode Fraksionasi P berdasarkan metode Tiessen dan Moir (1993). Fraksi P di dalam tanah ditetapkan menggunakan: (1) resin strip jenuh bikarbonat dalam 30 ml aquades kemudian diikuti ekstraksi menggunakan 0.5 mol L-1 HCl. Fraksi ini disebut Resin-Pinorganik (Pi). Fraksi ini merupakan P yang sangat tersedia bagi tanaman, (2) 0.5 mol L-1 NaHCO3 untuk mengekstrak Pi dan Porganik (Po). Fraksi ini disebut NaHCO3-Pi, -Po. Fraksi ini merupakan P Nilai Residual-P didapatkan dari hasil pengurangan total P dengan jumlah Resin-Pi, NaHCO3-Pi, -Po, NaOH-Pi, -Po, HCl-Pi.

(3)

tanah sawah di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur harus dilakukan secara berbeda.

(4)

SUMMARY

Statistical Resource Center data in 2008 showed that Java Island with 5.74 million hectare of harvested area contributed 55% from the total production of milled rice in Indonesia (BPS, 2009). Sixty precent of paddy field in Indonesia at located in Java Island (Kawaguchi dan Kyuma, 1976; Rayes, 2000). The increase of rice production is very important to fullfill the need of milled rice in Indonesia. One way to increase rice production is the use of fertilizers. One of them is Phosphorus (P). In general applied P fertilizers were transformed to be available P and not available P fractions in the forms of inorganic P and organic P as well. Reports about of P fraction distribution on paddy field in Java Island were still relatively few. The information of P fraction distribution in paddy field is needed to have good manajement of P fertilization on paddy field. The objective in this Resin-Pinorganic (Resin-Pi). The fraction is interpreted as readily available to plant, (2) 0.5 mol L-1NaHCO3 pH 8.5. This fraction is called NaHCO3-Pi, -Porganic (NaHCO3-Pi, -Po). The fraction is interpreted as P which is strongly related to uptake by plants and microbes and bound to mineral surface or precipitated Ca-P and Mg forms, (3) 0.1 mol L-1 NaOH. This fraction is called NaOH-Pi and Po. The fractions is interpreted as P which is more strongly held by chemisorptions to Fe and Al components of soil surface, and (4) 1 mol L-1 HCl. This fraction is called HCl-Pi. The fraction is interpreted as Ca-P of low solubility. Residual-P is interpreted as occluded P and recalcitrant organic forms. Residual P is determined by subtracting from total P the sum of Resin-Pi, NaHCO3-Pi, -Po, NaOH-Pi, -Po respectively. In East Java HCl-Pi was dominant farction followed by Residual-P, NaOH-Po, NaOH-Pi, NaHCO3-Pi, Resin-Pi, and NaHCO3-Po respectively. The results suggested that different management P fertilization in West Java, Central Java and East Java should be implemented.

(5)

FRAKSIONASI FOSFOR

PADA TANAH-TANAH SAWAH DI PULAU JAWA

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian

Institut Pertanian Bogor

ADELIA SATWOKO

A14080009

PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA LAHAN

DEPARTEMEN ILMU TANAH DAN SUMBERDAYA LAHAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(6)

LEMBAR PENGESAHAN

JUDUL : Fraksionasi Fosfor Pada Tanah-tanah Sawah di Pulau Jawa

NAMA : ADELIA SATWOKO

NOMOR POKOK : A14080009

Menyetujui,

Pembimbing I

Dr. Ir. Arief Hartono, M.Sc. Agr NIP.19680628 199303 1 012

Pembimbing II

Dr. Ir. Syaiful Anwar, M.Sc NIP.19621113 198703 1 003

Mengetahui

Ketua Departemen

Dr. Ir. Syaiful Anwar, M.Sc NIP.19621113 198703 1 003

(7)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 23 Maret 1990 anak ketiga dari Bapak Satwoko dan Ibu Rusdiani Eka Ningsih. Tahun 1997 penulis memulai studinya di SDN Sukamaju V hingga lulus pada tahun 2003. Penulis melanjutkan pendidikan sekolah menengah pertama di SLTP TARUNA BHAKTI pada tahun 2003-2006. Setelah lulus dari SLTP penulis melanjutkan studi di SMA PLUS PGRI Cibinong pada tahun 2006-2008

(8)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala limpahan berkat dan rahmat-Nya sehingga skripsi berjudul “Fraksionasi Fosfor Pada

Tanah-tanah Sawah Di Pulau Jawa” dapat penulis selesaikan dengan baik. Skripsi ini

disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.

Penulis menyadari bahwa hasil penelitian ini tidak terlepas dari bantuan pihak lain. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan terimakasih kepada Bapak Dr.Ir. Arief Hartono, M.Sc.Agr. dan Bapak Dr.Ir. Syaiful Anwar, M.Sc. sebagai komisi pembimbing yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, saran, dan motivasi dalam menyusun skripsi ini. Penulis menyampaikan terimakasih kepada Ibu Dr. Ir. Sri Djuniwati, M. Sc. yang telah bersedia meluangkan waktu menjadi dosen penguji serta telah memberikan bimbingan, saran dan motivasi dalam menyusun skripsi ini.

Penulis turut mengucapkan terimakasih kepada seluruh laboran laboratorium kimia dan kesuburan tanah, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian IPB atas bantuan yang telah diberikan.

Terimakasih kepada Ayah (Satwoko) dan Ibu (Rusdiani Ekaningsih), kakak (Octavia Anggraini dan Wahyu Santoso) atas dukungan, doa, semangat dan kasih saying yang telah diberikan selama penulis melaksanakan pendidikan. Terimakasih kepada rekan-rekan mahasiswa Manajemen Sumberdaya Lahan angkatan 45 terutama Heni dan Tunggul serta rekan-rekan mahasiswa IPB atas dukungan dan bantuan yang diberikan. Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu per satu atas semua dukungan dan bantuan yang diberikan.

Bogor, Oktober 2012

(9)
(10)

ix

V. KESIMPULAN DAN SARAN………... 38

5.1. Kesimpulan………….………... 38

5.2. Saran………..………... 38

DAFTAR PUSTAKA……….. 39

(11)

x

16. Perbedaan Residual-Ppada Setiap Lokasi………. 34

17. Perbedaan Residual-Ppada Setiap Jenis Tanah………. 35

18. P total pada Tanah Sawah di Pulau Jawa……..………... 36

19. Perbedaan P totalpada Setiap Lokasi………..………... 37

20. Perbedaan P totalpada Setiap Jenis Tanah……… 37

No. Lampiran Halaman 1. Korelasi Analisis Pendahuluan dengan Resin-Pi, NaHCO3-Pi, -Po, NaOH-Pi, -Po, HCl-Pi, Residu-P………... 44

2. Kriteria Penilaian Sifat Kimia Tanah Berdasarkan Balai Penelitian Tanah (2009)……….. 45

3. Titik Koordinat Lokasi Pengambilan Contoh Tanah Sawah di Pulau Jawa………... 46

4. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan Resin-Pi pada Setiap Lokasi.... 47

5. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan NaHCO3-Pi pada Setiap Lokasi……… 47

6. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan NaHCO3-Po pada Setiap Lokasi……… 47

7. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan NaOH-Pi pada Setiap Lokasi.. 47

8. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan NaOH-Po pada Setiap Lokasi.. 47

9. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan HCl-Pi pada Setiap Lokasi….. 48

10. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan Residual-Ppada Setiap Lokasi 48 11. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan P totalpada Setiap Lokasi ….. 48

12. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan Resin-Pi pada Setiap Jenis Tanah………. 48

(12)

xi

14. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan NaHCO3-Po pada Setiap Jenis

Tanah………. 49

15. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan NaOH-Pi pada Setiap Jenis

Tanah………. 49

16. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan NaOH-Po pada Setiap Jenis

Tanah………. 49

17. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan HCl-Pi pada Setiap Jenis

Tanah……… 49 49

18. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan Nilai Residual-P pada Setiap

Jenis Tanah………. 49 19. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan P total pada Setiap Jenis

(13)

xii

DAFTAR GAMBAR

No. Teks Halaman

1. Peta Pengambilan Sampel Tanah di Pulau Jawa……….. 8

2. Diagram Alir Percobaan Fraksionasi P Sampai dengan Penetapan

(14)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Jumlah penduduk Indonesia adalah 237 juta jiwa dimana 57.5% tersebar di pulau Jawa, dan sisanya 42.2% di pulau-pulau lainnya (BPS 2010). Hampir seluruh penduduk Indonesia mengkonsumsi beras, hal tersebut yang menyebabkan Indonesia menjadi negara pengonsumsi beras terbesar di dunia.

Data BPS pada tahun 2008 menunjukkan bahwa Pulau Jawa dengan luas panen 5.74 juta ha mampu menyumbang 55% dari produksi gabah kering giling (GKG) di Indonesia (BPS 2009). Ditinjau dari penyebarannya lebih dari 60% tanah sawah di Indonesia berada di Pulau Jawa, yang secara fisiografis menyebar di dataran banjir (aluvial pantai), dan lereng bawah volkan (Kawaguchi dan Kyuma 1976; Rayes 2000).

Peningkatkan produksi padi merupakan hal yang harus diperhatikan untuk memenuhi kebutuhan gabah kering giling Indonesia. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan produksi padi adalah dengan penggunaan pupuk. Pupuk merupakan salah satu sarana yang sangat penting dalam input pertanian yang berfungsi untuk meningkatkan produksi. Setiap kegiatan pertanian tidak terlepas dari pemberian pemupukan, termasuk pada lahan sawah. Penggunaan pupuk meningkat pesat setelah perencanaan program intensifikasi yang dimulai tahun 1969 (Adiningsih et al. 1989 ; Moersidi et al. 1991).

Salah satu pupuk yang sangat penting untuk tanaman adalah pupuk Fosfor (P) selain pupuk Nitrogen (N) dan Kalium (K). P berperan pada berbagai aktivitas metabolisme tanaman dan merupakan komponen klorofil (Buckman dan Brady 1969) serta sebagai pembentuk adenosindifosfat (ADP) dan adenosintrifosfat (ATP), dua senyawa yang terlibat dalam transformasi energi yang paling signifikan pada tanaman (Brady 1990).

(15)

2

dan Ca-P inorganik akan tetapi sebagian menjadi bentuk-bentuk P organik baik yang bersifat labil ataupun terikat secara kemisorpsi oleh Al dan Fe hidrous oksida (Oberson et al. 2001; Schmidt et al. 1996; Verma et al. 2005; Zheng et al.

2002). Pemupukan P secara terus-menerus diyakini telah menyebabkan ketidakseimbangan hara, menekan ketersediaan hara mikro seperti Cu dan Zn, serta menguras bahan organik tanah yang sangat berperan dalam aktivitas biologi tanah (Adiningsih et al. 1989; Moersidi et al. 1991; Rochayati et al. 1990; Adiningsih 1992; Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat 1992).

Pengetahuan mengenai fraksionasi bentuk-bentuk P pada tanah-tanah sawah di Pulau Jawa belum banyak dilaporkan. Informasi distribusi fraksi-fraksi P pada tanah sawah di Pulau Jawa dibutuhkan untuk manajemen pemupukan P.

1.2. Tujuan

(16)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tanah Sawah

Menurut Supraptohardjo dan Suhardjo (1978), jenis tanah yang banyak digunakan untuk persawahan adalah Aluvial dan Gleisol. Kedua jenis tanah ini berdasarkan Soil Taxonomy masuk kedalam order Entisols atau Inceptisols. Tanah sawah di Indonesia berasal dari jenis-jenis tanah yang beragam antara lain: Entisols, Inceptisols, Vertisols, Alfisols, Ultisols, dan Histosols yang tersebar luas di Jawa, Bali, Lombok, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Aceh dan Sulawesi selatan (Situmorang dan Sudadi 2001).

Tanah sawah adalah tanah yang mengalami proses hidromorfik, baik secara buatan atau alami dan merupakan tanah yang memiliki horizon akumulasi besi-mangan (Kanno 1978; Tan 1982). Perubahan sifat kimia dan elektrokimia yang penting pada tanah sawah adalah: (1) kehilangan oksigen, (2) reduksi atau penurunan potensial redoks (Eh), (3) peningkatan pH tanah masam dan penurunan pH tanah alkalin, (4) peningkatan daya hantar listrik, (5) reduksi dari Fe3+ ke Fe2+ dan Mn4+ ke Mn2+, (6) reduksi dari NO3- dan NO2- ke N2O dan N2, (7) reduksi SO42- ke S2-, (8) peningkatan dan ketersediaan P, Si dan Mo, dan (9) perubahan konsentrasi Zn dan Cu larut dalam air (De Datta 1981).

Menurut Koenigs (1950) tanah tergenang (reduksi) akan memiliki bentuk-bentuk besi (Fe2+) dan mangan (Mn2+) yang lebih tersedia (mobil). Kedua bentuk tersebut dapat bergerak ke bawah dengan mudah bersama-sama dengan air perkolasi. Penelitian Koenigs (1950) menyatakan bahwa pada tanah sawah dijumpai adanya lapisan besi dan mangan. Reduksi Mn terjadi lebih awal dari Fe, sehingga Mn berada dalam larutan lebih awal dari Fe dan tercuci lebih awal.

(17)

4

yang terdapat dalam kisi mineral. Sebaliknya dalam keadaan kering Fe2+ teroksidasi menghasilkan Fe3+ dan ion hidrogen yang menurunkan pH tanah.

2.2. Fosfor (P) dalam Tanaman

P berperan pada berbagai aktivitas metabolisme tanaman dan merupakan komponen klorofil (Buckman dan Brady 1969). Menurut Brady (1990) P adalah komponen pembentuk adenosindifosfat (ADP) dan adenosintrifosfat (ATP), dua senyawa yang terlibat dalam transformasi energi yang paling signifikan pada tanaman. ATP merupakan sintesis dari ADP baik melalui respirasi dan fotosintesis. ATP merupakan sebuah gugus fosfat energi tinggi yang mendorong proses biokimia yang membutuhkan energi. Misalnya, penyerapan beberapa nutrisi dan transportasi hasil di dalam pabrik, serta sintesis molekul baru.

P bersifat mobil di dalam tanaman. Ketika tanaman menua atau masak, sebagian besar unsur P dipindah ke biji dan atau buah. Ketika tanaman mengalami kekahatan, P akan ditranslokasikan dari jaringan tanaman tua ke bagian tanaman yang masih muda dan aktif. Pasokan P pada tanah yang terlalu banyak dapat mengakibatkan kekahatan Zn, Cu dan Fe (Havlin et al. 2005).

2.3. Fosfor (P) dalam Tanah

P di dalam tanah berada dalam bentuk organik dan inorganik. Total P didalam tanah berkisar antara 0.02 sampai 0.15 % atau setara dengan 200 sampai 2000 kg P ha-1, jumlah total P tersebut termasuk P yang berada dalam bahan organik tanah (Williams 1969; Brady 1990). Tisdale dan Nelson (1975) menyatakan bahwa pada umumnya P inorganik yang terdapat pada tanah mineral lebih tinggi dibandingkan P organik.

(18)

5

Menurut Hardjowigeno (1987) P yang terdapat pada tanah masam adalah P yang diikat oleh Al dan Fe melalui pertukaran ligan atau terpresipitasi oleh Al3+ dan Fe3+ (Al-P dan Fe-P). Sedangkan menurut Leiwakabesy (1988) P pada tanah alkalin berada dalam bentuk Ca-P (Ca3(PO4)2).

Pada tanah masam bentuk senyawa dari Fe-P dan Al-P yang tepat belum banyak diketahui, senyawa yang mungkin ada adalah strengite (FePO4.2H2O) dan variscite (AlPO4. 2H2O) (Brady 1990). Brady (1990) menyatakan bahwa beberapa Fe, Al dan Mn larut biasanya ditemukan di tanah mineral sangat asam. Reaksi dengan ion H2PO4- akan segera terjadi, dan menghasilkan pembentukan Fe-P, Al-P dan Mn-Al-P. Al-Presipitasi kimia tersebut dapat direpresentasikan sebagai berikut, dengan menggunakan kation Al sebagai contoh.

Al3+ + H2PO4- + 2H2O ↔ 2H+ + Al(OH)2H2PO4 -(tersedia) (tidak tersedia)

Ion H2PO4- tidak hanya bereaksi dengan Fe, Al dan Mn tetapi bahkan lebih luas dengan hidrous oksida yang tidak larut dari unsur-unsur, seperti gibsite (Al2O3.3H2O) dan goethite (Fe2O3. 3H2O)

Menurut Brady (1990) ketersediaan P dalam tanah alkalin ditentukan sebagian besar oleh kelarutan senyawa kalsium fosfat (Ca-P) yang ditemukan. Penggendapan Ca-P ditentukan oleh tinggi atau rendahnya konsentrasi ion Ca2+ dan tingginya pH tanah (Mengel dan Kirkby 1982).

Tan (1982) melaporkan bahwa tanaman tidak hanya menggambil P dalam bentuk inorganik tetapi juga dalam bentuk organik. O’Halloran (1993) dan Beauchemin, Simard (2000) melaporkan bahwa P organik yang berasal dari sisa-sisa mikroorganisme dapat diikat oleh Al dan Fe hidrous oksida atau oleh tepi lapisan Al mineral liat 1:1 yang rusak.

(19)

6

Sementara itu senyawa P organik lainnya yang berada di dalam tanah tidak diketahui identitas dan jumlahnya.

2.4. Fosfor (P) pada Tanah Sawah

Tanah sawah yang digenangi akan mengalami peningkatan konsentrasi P dalam larutan tanah kemudian menurun untuk semua jenis tanah, tetapi nilai tertinggi dan waktu terjadinya bervariasai tergantung sifat tanah (Yoshida 1981). Menurut Willet (1985) pada tanah sawah P hanya dilepaskan apabila ferifosfat (Fe3+) tereduksi menjadi ferofosfat (Fe2+) yang lebih mudah larut. Willet (1985) menyatakan reduksi ferioksida merupakan sumber yang dominan bagi pelepasan P selama penggenangan. Walaupun sejumlah P yang dilepaskan akan dierap kembali. Pelepasan P yang berasal dari senyawa feri terjadi setelah reduksi Mn oksida

Menurut Willet (1985) peningkatan pH tanah masam akibat penggenangan telah meningkatkan kelarutan strengite (FePO4.2H2O) dan variscite (AlPO4.2H2O) dan selanjutnya terjadi peningkatan ketersediaan P. Sebaliknya ketika pH tanah alkalin menurun dengan adanya penggenangan, stabilitas mineral kalsium fosfat akan menurun, akibatnya senyawa kalsium fosfat larut. Sanchez (1993) mengatakan saat penggenangan tanah sawah akan melepasan occluded P akibat reduksi ferioksida yang menyeliputi P menjadi ferooksida yang lebih larut.

2.5. Metode Fraksionasi P

Metode Fraksionasi P pertama kali dipublikasikan oleh Chang dan Jakson (1957). Metode ini menggunakan NH4Cl untuk mengekstrak “labile” P diikuti dengan NH4F untuk fraksi Al-P. Fraksionasi dilanjutkan menggunakan NaOH untuk mengekstrak Fe-P dan P yang ter-occluded. Serta dilakukan penetapan Ca-P dengan larutan HCl. Penetapan P organik dilakukan melalui pengurangan total P dengan jumlah fraksi-fraksi P yang telah ditetapkan (Saunders dan Williams 1955).

(20)

7

adalah benar berasal dari ikatan Al-P dan Fe-P. Metode Chang dan Jackson (1957) tidak dapat membedakan bentuk P organik (William dan Walker 1969).

Tiessen dan Moir (1993) mempublikasikan metode fraksionasi P yang lebih komprehensif yang merupakan penyempurnaan dari metode Hedley et al. (1982). Metode fraksionasi tersebut meliputi fraksi P yang tersedia secara biologi baik P dalam bentuk inorganik dan organik, dan P yang relatif sukar tersedia bagi tanaman baik bentuk inorganik maupun bentuk organik.

Tiessen dan Moir (1993) mendefinisikan fraksi-fraksi P berdasarkan bentuk-bentuk P yang diekstrak dengan pengekstrak tertentu:

1. Resin-Pinorganik (Pi) adalah fraksi P yang diinterpretasikan sebagai P yang sangat tersedia bagi tanaman.

2. NaHCO3-Pi, -Porganik (Po)adalah fraksi P yang diinterpretasikan sebagai P yang berkorelasi kuat dengan serapan P oleh tanaman dan mikroba dan terikat di permukaan mineral (Mattingly 1975) atau bentuk presipitasi Ca-P dan Mg-Ca-P (Olsen dan Sommers 1982).

3. NaOH-Pi, -Po adalah fraksi P yang diinterpretasikan sebagai P yang terikat lebih kuat secara kemisorpsi oleh Fe dan Al hidrous oksida.

4. HCl-Pi adalah fraksi P yang diinterpretasikan sebagai Ca-P yang mempunyai kelarutan rendah (Schmidt et al. 1996).

5. Residual-P adalah fraksi P yang diinterpretasikan sebagai “occluded” P

dan P organik yang sangat sukar larut.

(21)

III. METODE PENELITIAN

3.1. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan mulai dari bulan Februari 2012 hingga Juni 2012. Pengambilan contoh tanah sebanyak 23 sampel dari 3 Provinsi di Pulau Jawa. Analisis laboratorium dilakukan di Laboratorium Kesuburan Tanah, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

3.2. Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 23 sample tanah sawah yang diambil dari 3 provinsi di Pulau Jawa. Lokasi pengambilan sampel tanah disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Peta Pengambilan Sampel Tanah di Pulau Jawa

(22)

9

adalah aquades, resin strip ukuran 9 x 62 mm, HCl, NaHCO3, NaOH, dan H2SO4. Penetapan P dilakukan dengan metode kolorimetri (pewarnaan). Pewarnaan P dalam larutan menggunakan metode Murphy dan Rilley (MR) (1962). Bahan-bahan yang digunakan dalam metode Murphy dan Rilley adalah (NH4)6Mo7O24 (ammonium molybdat), C6H8O6 (ascorbic acid), C8H4K2O12Sb.3H2O (antimony pottashium tartrat) dan H2SO4.

Alat-alat yang digunakan dalam pengambilan contoh tanah adalah cangkul, karung, tali rafia, dan GPS. Alat-alat yang digunakan untuk analisis laboratorium adalah pipet (5 ml, 10 ml, 15 ml dan 20 ml), erlenmeyer, tabung sentrifuge 50 ml, vacum pump, kertas saring milipore 0.45 µm, vunel porselen, gelas piala, gelas ukur, labu takar 50 ml dan 100 ml, alat ukur spectrophotometer, timbangan, oven, lemari pendingin, autoclave, kertas saring, corong gelas dan pipet tetes.

3.3. Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif atau non eksperimental. Peneliti hanya melakukan analisis pada contoh tanah yang diambil tanpa memberikan perlakuan dan menggambarkannya dalam bentuk data dan tulisan.

3.3.1. Pengambilan Contoh Tanah

(23)

10

Tabel 1. Lokasi Contoh Tanah Sawah yang Digunakan untuk Penetapan Distribusi Hara P pada Tanah Sawah Di Pulau Jawa

Provinsi Lokasi Jenis Tanah (Taksonomi Tanah, 2004)

Jawa Barat Karawang Inceptisols

Contoh tanah yang telah diambil dikeringudarakan dalam ruangan berventilasi. Contoh tanah kemudian di tumbuk dan diayak menggunakan ayakan yang berukuran 2 mm.

3.3.2.1. Analisis Pendahuluan

(24)

11

Kjehdahl, KTK dan Basa-basa yang dapat ditukar diperoleh dari hasil ekstraksi dengan 1 N NH4OAc pH 7, EC yang diukur dengan alat EC meter, dan pH H2O 1:1 yang diukur dengan alat pH meter.

3.3.2.2. Fraksionasi P

Diagram alir metode Fraksionasi P (Hartono et al. 2006) disajikan pada Gambar 2. Resin-Pinorganik (Pi) adalah fraksi P yang diinterpretasikan sebagai P yang sangat tersedia bagi tanaman. NaHCO3-Pi, -Porganik (Po)adalah fraksi P yang diinterpretasikan sebagai P yang berkorelasi kuat dengan serapan P oleh tanaman dan mikroba dan terikat di permukaan mineral (Mattingly 1975) atau bentuk presipitasi Ca-P dan Mg-P (Olsen dan Sommers 1982). NaOH-Pi, -Po adalah fraksi P yang diinterpretasikan sebagai P yang terikat lebih kuat secara kemisorpsi oleh Fe dan Al hidrous oksida. HCl-Pi adalah fraksi P yang diinterpretasikan sebagai Ca-P yang mempunyai kelarutan rendah (Schmidt et al. 1996). Residual-P

adalah fraksi P yang diinterpretasikan sebagai “occluded” P dan P organik yang

sangat sukar larut.

(25)

12

Contoh tanah 0.5 g

Tambahkan 2 strip resin yang telah dijenuhi bikarbonat dan 30 ml aquades kocok selama 16 jam. Tempatkan resin kedalam tabung sentrifus 50 ml dan tambahkan 20 ml 0,5 mol L-1 HCl kocok 16 jam.

Hasil saringan

Resin-Pinorganik (Pi)

Tambahkan 30 ml 0.5 mol L-1 NaHCO3 kocok 16 jam

Ekstrak Bikarbonat Ptotal (Pt) Digest, NaHCO3-Ptotal (Pt)

Endapkan bahan organik dengan asam

NaHCO3-Pi

NaHCO3-Porganik(Po) = [NaHCO3-Pt]-[ NaHCO3-Pi]

Tambahkan30 ml 0.1 mol L-1 NaOHkocok 16 jam

Ekstrak NaOHPtotal (Pt

)

Digest,

NaOH- Ptotal (Pt)

Porganik(Po)=Pt-Pi : NaOH-Po

Endapkan bahan organik dengan asam

NaOH-Pi

NaOH-Porganik(Po) = [NaOH-Pt]-[ NaOH-Pi]

Tambahkan30 ml 1 mol L-1 HCl kocok 16 jam

Ekstrak HCl-Pi HCl-Pi

(26)

13

Penetapan Resin-Pi dilakukan dengan memipet hasil saringan sebanyak 10 ml kedalam labu takar 50 ml. Indikator nitrophenol ditambahkan sebanyak 5 tetes ke dalam labu takar tersebut. pH adjustment dilakukan dengan menambahkan 4 mol L-1 NaOH dan 2.50 mol L-1 H2SO4. Pewarnaan dilakukan dengan menambahkan larutan MR sebanyak 8 ml kemudian ditera hingga 50 ml dengan aquades dan diukur menggunakan spectrophotometer dengan panjang gelombang

712 λ.

Contoh tanah dalam tabung yang berisi air di sentrifus dengan kecepatan 3500 rpm selama 15 menit kemudian air disaring dengan vacum pump, hasil saringan yang berupa air tersebut dibuang. Contoh tanah dalam sentrifus kemudian ditambahkan 30 ml 0.50 mol L-1 NaHCO3 dan dikocok 16 jam. Kemudian tabung sentrifus di sentrifus dengan kecepatan 3500 rpm selama 15 menit kemudian disaring. Hasil saringan digunakan untuk penetapan NaHCO3-Pi dan NaHCO3-Ptotal. Penetapan NaHCO3-Pi dilakukan dengan memipet hasil saringan sebanyak 10 ml kedalam labu takar 50 ml. Bahan organik yang terlarut diendapkan dengan menambahkan 1.60 ml 0.90 M H2SO4 dan dimasukkan kedalam frizeer selama 30 menit kemudian di saring. Indikator nitrophenol ditambahkan sebanyak 5 tetes ke dalam labu takar tersebut. pH adjustment

dilakukan dengan menambahkan 4 mol L-1 NaOH dan 2.50 mol L-1 H2SO4. Pewarnaan dilakukan dengan menambahkan MR sebanyak 8 ml kemudian ditera hingga 50 ml dengan aquades dan diukur menggunakan spectrophotometer

dengan panjang gelombang 712 λ.

(27)

14

dengan panjang gelombang 712 λ. NaHCO3-Po adalah selisih NaHCO3-Pt dengan NaHCO3-Pi.

Contoh tanah dalam tabung ditambahkan 30 ml 0.10 mol L-1 NaOH dan dikocok selama 16 jam. Setelah dikocok tanah di sentrifus dengan kecepatan 3500 rpm selama 15 menit dan ekstrak NaOH disaring. Hasil saringan digunakan untuk penetapan NaOH-Pi dan NaOH-Ptotal. Penetapan NaOH-Pi dilakukan dengan memipet hasil saringan sebanyak 10 ml kedalam labu takar 50 ml. Bahan organik yang terlarut diendapkan dengan menambahkan 1.60 ml 0.90 M H2SO4 dan dimasukkan kedalam frizeer selama 30 menit dan di saring. Indikator nitrophenol ditambahkan sebanyak 5 tetes ke dalam labu takar tersebut. pH adjustment

dilakukan dengan menambahkan 4 mol L-1 NaOH dan 2.50 mol L-1 H2SO4. Pewarnaan dilakukan dengan menambahkan MR sebanyak 8 ml kemudian ditera hingga 50 ml dengan aquades dan diukur menggunakan spectrophotometer

dengan panjang gelombang 712 λ.

Penetapan NaOH-Ptotal dilakukan dengan memipet 5 ml hasil saringan kedalam erlenmeyer 250 ml. Larutan 0.90 mol L-1 H2SO4 sebanyak 10 ml dan 0.60 g ammonium peroxidisulfat ditambahkan ke dalam erlenmeyer. Erlenmeyer tersebut kemudian di autoklaf selama 30 menit. Setelah diautoklaf larutan dipindahkan kedalam labu takar 50 ml, ditambahkan indikator nitrophenol sebanyak 5 tetes kemudian dilakukan pH adjustment dengan 4 mol L-1 NaOH dan 2.50 mol L-1 H2SO4. Kemudian Pewarnaan dilakukan dengan menambahkan MR sebanyak 8 ml kemudian ditera hingga 50 ml dengan aquades dan diukur menggunakan spectrophotometer dengan panjang gelombang 712 λ. NaOH-Po adalah selisih NaOH-Pt dengan NaOH-Pi.

(28)

15

menambahkan MR sebanyak 8 ml kemudian ditera hingga 50 ml dengan aquades dan diukur menggunakan spectrophotometer dengan panjang gelombang 712 λ.

Tahap terakhir dalam penelitian ini adalah menghitung Residual-P. Residual-P adalah selisih Ptotal metode pengabuan basah dengan fraksi Resin-Pi, NaHCO3-Pi, -Po, NaOH-Pi, -Po dan HCl-Pi.

3.3.2.3. Ptotal

Penetapan Ptotal dilakukan dengan menggunakan campuran larutan asam nitrat pekat dengan asam perklorat pekat dengan perbandingan 2:1. Tanah ditimbang sebanyak 0.5 g ke dalam tabung destruksi ditambahkan 10 ml campuran larutan nitrat perklorat. Diamkan selama satu malam dalam tabung destruksi. Setelah itu didestruksi dengan digester hingga tanah berwarna putih. Tambahkan aquades dan disaring di labu takar 100 ml lalu ditera dengan aquades hingga tanda tera.

3.3.3. Pengolahan Data dan Penentuan Distribusi Hara P pada Tanah Sawah

(29)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Analisis Pendahuluan

Hasil analisis pendahuluan disajikan pada Tabel 2. Status sifat kimia tanah dinilai berdasarkan kriteria penilaian Balai Penelitian Tanah (2009) yang disajikan pada Tabel Lampiran 2.

Provinsi Jawa Barat memiliki kisaran pH tanah antara 5.40 hingga 7.30. pH terbesar berada di Palimanan sebesar 7.30 dan terkecil berada di Karawang dan Cicalengka dengan nilai pH 5.40. Provinsi Jawa Barat memiliki rata-rata pH sebesar 6.20 (agak masam). Ntotal pada provinsi ini berkisar antara 0.10 hingga 0.30%. Ntotal terbesar berada di Pamanukan dan Cicalengka yaitu sebesar 0.30% dan terkecil berada di Palimanan sebesar 0.10%. Rata-rata Ntotal pada provinsi ini termasuk rendah yaitu sebesar 0.20%. Cadd pada provinsi Jawa Barat berkisar antara 7.70 hingga 20.0 cmol+ kg-1. Cadd terbesar berada di Pamanukan sebesar 20.0 cmol+ kg-1 dan terkecil berada di Cicalengka sebesar 7.70 cmol+ kg-1. Rata-rata Cadd pada provinsi ini tergolong tinggi yaitu sebesar 16.0 cmol+ kg-1. KTK pada provinsi Jawa Barat berkisar antara 21.0 hingga 40.0 cmol+ kg-1. KTK terbesar berada di Pamanukan sebesar 40.0 cmol+ kg-1 dan terkecil di Cikarawang sebesar 21.0 cmol+kg-1. Rata-rata KTK provinsi ini tergolong tinggi yaitu sebesar 32.2 cmol+kg-1.

(30)

17

Tengah berkisar antara 11.0 hingga 41.2 cmol+ kg-1. KTK terbesar berada di Kendal sebesar 41.2 cmol+ kg-1 dan terkecil di Borobudur sebesar 11.0 cmol+ kg-1. Rata-rata KTK provinsi ini tergolong tinggi yaitu sebesar 29.1 cmol+ kg-1.

(31)

Tabel 2. Analisis Pendahuluan

Nama Lokasi pH(H2O) EC Ctotal Ntotal Nisbah CN Nadd Kdd Cadd Mgdd KTK KB

(dS cm-1) ---(%)--- ---(cmol+ kg-1)--- (%)

Jawa Barat

Karawang 5.40 63.0 2.30 0.20 10.0 0.60 0.30 16.3 5.00 33.3 67.0

Jatisari 5.50 212 2.20 0.20 9.80 0.90 0.30 18.0 8.60 37.3 74.7

Pamanukan 6.80 144 2.70 0.30 10.7 0.80 0.60 20.0 13.0 40.0 106

Indramayu 6.90 97.8 1.70 0.20 8.70 0.70 0.60 19.6 12.6 38.3 87.5

Palimanan 7.30 45.8 0.80 0.10 10.3 0.30 0.20 19.9 8.20 32.7 87.4

Cicalengka 5.40 49.2 2.90 0.30 10.0 0.20 0.10 7.70 3.20 22.8 50.9

Cikarawang 5.90 40.0 2.40 0.20 10.0 0.50 0.08 9.60 2.70 21.0 61.8

Rata-rata 6.20 93.2 2.10 0.20 10.0 0.60 0.35 16.0 7.70 32.2 76.4

Status Hara Agak

masam Sedang Rendah Rendah Sedang Rendah Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi

Jawa Tengah

Brebes 7.60 566 1.30 0.10 9.60 3.40 1.10 32.8 19.6 13.5 423

Suradadi 7.40 94.0 1.60 0.20 9.20 0.40 0.40 21.1 17.6 38.9 102

Batang 5.40 30.0 3.00 0.30 10.0 0.10 0.19 6.60 1.06 22.0 36.2

Kendal 6.50 95.8 2.40 0.20 10.3 0.40 0.84 28.5 8.40 41.2 92.7

Demak 8.30 291 1.60 0.20 10.0 1.07 0.82 41.0 7.60 38.4 131

Jekulo 6.90 56.9 1.50 0.10 10.3 0.20 0.37 13.5 5.50 30.4 64.6

Borobudur 6.10 56.7 1.50 0.20 9.70 0.15 0.18 6.40 1.70 11.0 76.0

Kutoarjo 6.80 63.3 1.90 0.20 10.2 0.60 0.22 27.40 8.90 37.6 99.2

Karanganyar 6.50 60.8 2.00 0.20 10.4 0.30 0.21 31.30 8.30 39.0 102

Buntu 5.70 76.9 2.70 0.30 10.2 0.46 0.38 16.20 5.40 33.3 67.3

(32)

Tabel 2 Lanjutan

Nama Lokasi pH(H2O) EC Ctotal Ntotal Nisbah CN Nadd Kdd Cadd Mgdd KTK KB

(dS cm-1) ---(%)--- ---(cmol+ kg -1

)--- (me 100 g-1) (%)

Jogjakarta 6.90 31.8 0.90 0.10 9.00 0.17 0.20 8.30 3.03 14.3 81.9

Rata-rata 6.80 129 1.80 0.20 10.0 0.70 0.40 21.2 7.90 29.0 116

Status Hara Netral Rendah Rendah Rendah Sedang Sedang Sangat

tinggi Tinggi Tinggi

Sangat Tinggi Jawa Timur

Bojonegoro 7.60 69.2 1.80 0.20 11.5 0.40 0.40 48.8 8.40 60.0 96.7

Tambak Rejo 8.50 138 1.10 0.10 12.6 0.20 0.30 63.6 2.50 55.4 120

Nganjuk 8.08 138 1.50 0.10 11.0 0.40 0.30 30.5 10.2 39.5 105

Jombang 8.06 84.4 1.00 0.10 10.0 0.40 0.20 13.6 4.70 17.2 111

Ponorogo 7.60 150 2.40 0.20 11.0 0.70 0.70 31.05 9.70 37.6 113

Rata-rata 8.00 116 1.60 0.10 11.2 0.40 0.40 37.5 7.00 42.0 109

Status Hara Agak

Alkalin Rendah Rendah Sedang Sedang Sedang

Sangat

Tinggi Tinggi

Sangat Tinggi

Sangat Tinggi

Keterangan : Status hara berdasarkan kriteria penilaian hara Balai Penelitian Tanah (2009)

(33)

20

4.2. Resin-Pi

(34)

21

Provinsi Jawa Tengah memiliki kisaran nilai Resin-Pi antara 8.90 hingga 75.3 mg P kg-1. Kendal memiliki nilai Resin-Pi yaitu sebesar 75.3 mg P kg-1. Demak memiliki nilai Resin-Pi paling rendah yaitu sebesar 8.90 mg P kg-1. Provinsi Jawa Tengah memiliki rata-rata nilai Resin-Pi sebesar 26.2 mg P kg-1.

Provinsi Jawa Timur memiliki kisaran nilai Resin-Pi antara 11.6 hingga Tengah dan Jawa Timur. Provinsi Jawa Timur memiliki nilai rata-rata Resin-Pi terbesar diantara ketiga provinsi.

Penelitian Hartono et al. (2006) menunjukkan bahwa tanah yang memiliki jumlah Fe, Al hidrous oksida yang tinggi akan memiliki nilai Resin-Pi lebih rendah jika dibandingkan dengan tanah yang memiliki jumlah Fe, Al hidrous oksida yang rendah. Berdasarkan hal tersebut rendahnya nilai Resin-Pi dalam tanah diduga disebabkan karena kandungan Fe, Al hidrous oksida dalam tanah yang tinggi dan diduga karena dosis pupuk diantara ketiga provinsi berbeda-beda.

Faktor iklim turut mempengaruhi ketersediaan P. Distribusi tipe iklim di Jawa menunjukkan bahwa bagian Barat Pulau Jawa memiliki bulan basah lebih banyak daripada bagian Timur Pulau Jawa atau semakin ke Timur lebih kering menurut kharakteristik iklim Oldeman (Nurwadjedi 2011). Berdasarkan hal tersebut rendahnya nilai Resin-Pi di Jawa Barat diduga karena curah hujan yang tinggi.

(35)

22

tidak memiliki pola dalam pemberian atau penempatan pupuk P di lahan sawah. Pemberian dan penempatan pupuk di lahan sawah dilakukan para petani hanya berdasarkan kemampuan yang dimiliki petani.

Tabel 4. Perbedaan Nilai Resin-Pi pada Setiap Lokasi

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada satu kolom, tidak berbeda nyata pada Uji Tukey (P < 0.05).

Perbedaan nilai Resin-Pi pada setiap jenis tanah dapat dilihat pada Tabel 5. Hasil analisis statistik menyatakan bahwa pengaruh tanah tidak nyata terhadap nilai Resin-Pi. Tanah Inceptisols memiliki nilai Resin-Pi sebesar 22.3 mg P kg-1. Tanah Ultisols memiliki nilai Resin-Pi sebesar 16.9 mg P kg-1. Tanah Vertisols memiliki nilai Resin-Pi sebesar 27.3 mg P kg-1.

Tabel 5. Perbedaan Nilai Resin-Pi pada Setiap Jenis Tanah

Jenis Tanah Resin-Pi

Rata-rata (mg P kg-1) StDev

Inceptisols 22.3a 16.4

Ultisols 16.9a 9.30

Vertisols 27.3a 14.3

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada satu kolom, tidak berbeda nyata pada Uji Tukey (P < 0.05).

Hasil uji korelasi dapat dilihat pada Tabel Lampiran 1. Hasil analisis menyatakan bahwa nilai Resin-Pi memiliki korelasi tidak nyata dengan beberapa sifat kimia tanah yang telah di analisis.

4.3. NaHCO3-Pi, -Po

Hasil NaHCO3-Pi, -Po disajikan pada Tabel 6. Provinsi Jawa Barat memiliki kisaran nilai NaHCO3-Pi antara 10.8 hingga 71.2 mg P kg-1 sedangkan

Lokasi Resin-Pi

Rata-rata (mg P kg-1) StDev

Jawa Barat 16.0a 6.20

Jawa Tengah 26.3a 18.2

(36)

23

(37)

24 terjadi setelah ikatan NaOH-P namun ikatan ini lebih lemah dibandingkan dengan NaOH-P. NaHCO3-Po berasal dari organik yang terikat lemah dengan Fe dan Al hidrous oksida. Besarnya nilai NaHCO3-Pi, -Po diduga karena tingginya kadar Fe dan Al hidrous oksida di dalam tanah.

(38)

25

terhadap nilai NaHCO3-Pi, -Po. Hasil uji yang tidak nyata diduga karena standar deviasi antar lokasi yang berbeda satu sama lain. Variasi yang timbul dapat disebabkan karena sebaran pemupukkan P yang bervariasi di setiap lokasi. Berdasarkan hasil wawancara pemupukkan P dilahan sawah tidak memiliki pola yang sama di setiap lokasi. Para petani memberikkan pupuk P ke lahan hanya berdasarkan pada kemampuan petani dalam mengaplikasikan pupuk.

Tabel 7. Perbedaan Nilai NaHCO3-Pi, -Po pada Setiap Lokasi

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada satu kolom, tidak berbeda nyata pada Uji Tukey (P < 0.05).

Perbedaan nilai NaHCO3-Pi, -Po pada setiap jenis tanah dapat dilihat pada Tabel 8. Hasil analisis statistik menyatakan bahwa pengaruh tanah tidak nyata terhadap nilai NaHCO3-Pi, sedangkan pengaruh tanah terhadap NaHCO3-Po nyata. Tanah Inceptisols memiliki nilai NaHCO3-Pi sebesar 48.1 mg P kg-1 dan

(39)

26

Uji korelasi sifat-sifat kimia tanah dan fraksi-fraksi P dapat dilihat pada Tabel Lampiran 1. Hasil analisis menyatakan bahwa nilai NaHCO3-Pi dengan beberapa sifat kimia yang telah di analisis memiliki korelasi tidak nyata.

4.4. NaOH-Pi, -Po

Hasil NaOH-Pi, -Po di Pulau Jawa disajikan pada Tabel 9. Provinsi Jawa Barat memiliki kisaran nilai NaOH-Pi antara 45.0 hingga 217 mg P kg-1 sedangkan NaOH-Po memiliki kisaran antara 33.4 hingga 133 mg P kg-1. Cicalengka memiliki nilai NaOH-Pi terbesar yaitu sebesar 217 mg P kg-1, sedangkan nilai terkecil berada di Karawang yaitu sebesar 45 mg P kg-1. Nilai NaOH-Po tertinggi berada di Jatisari sebesar 133 mg P kg-1, sedangkan Palimanan memiliki nilai NaOH-Po terkecil sebesar 33.4 mg P kg-1. Rata-rata nilai NaOH-Pi Provinsi Jawa Barat sebesar 132 mg P kg-1 dan nilai NaOH-Po sebesar 77.3 mg P kg-1.

Provinsi Jawa Tengah memiliki kisaran nilai NaOH-Pi antara 51.4 hingga 245 mg P kg-1 sedangkan NaOH-Po memiliki kisaran antara 30.7 hingga 96.3 mg P kg-1. Kendal memiliki nilai NaOH-Pi terbesar yaitu 245 mg P kg-1, sedangkan nilai terkecil berada di Demak yaitu sebesar 51.4 mg P kg-1. Nilai NaOH-Po tertinggi berada di Batang sebesar 96.3 mg P kg-1, sedangkan Kendal memiliki nilai NaOH-Po terkecil sebesar 30.7 mg P kg-1. Provinsi Jawa Tengah memiliki rata-rata nilai NaOH-Pi sebesar 127 mg P kg-1 dan nilai NaOH-Po sebesar 59.7 mg P kg-1.

(40)

27

(41)

28

Penelitian Hartono et al. (2006) menunjukkan bahwa tanah yang memiliki jumlah Fe, Al hidrous oksida yang tinggi akan memiliki nilai NaOH-Pi, -Po lebih tinggi jika dibandingkan dengan tanah yang memiliki jumlah Fe, Al hidrous oksida yang rendah. Besarnya nilai NaOH-Pi,-Po di Jawa Barat diduga karena nilai Fe dan Al hidrous oksida di Jawa Barat lebih besar dibandingkan Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Perbedaan nilai NaOH-Pi, -Po pada setiap lokasi dapat dilihat pada Tabel 10. Hasil analisis statistik menyatakan bahwa pengaruh lokasi tidak nyata terhadap nilai NaOH-Pi, -Po. Hasil uji yang tidak nyata diduga karena standar deviasi antar lokasi yang berbeda satu sama lain. Variasi yang timbul dapat disebabkan karena sebaran pemupukkan P yang bervariasi di setiap lokasi. Berdasarkan hasil wawancara pemupukkan P yang diberikan ke lahan tidak memiliki pola. Petani memberikkan pupuk P ke lahan hanya berdasarkan kemampuan yang dimiliki. Sehingga nilai NaOH-Pi, -Po beragam di setiap lokasi.

Tabel 10. Perbedaan Nilai NaOH-Pi, -Po pada Setiap Lokasi

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada satu kolom, tidak berbeda nyata pada Uji Tukey (P < 0.05).

(42)

29

Tabel 11. Perbedaan Nilai NaOH-Pi, -Po pada Setiap Jenis Tanah

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada satu kolom, tidak berbeda nyata pada Uji Tukey (P < 0.05).

Uji korelasi sifat-sifat kimia tanah dan fraksi-fraksi P dapat dilihat pada Tabel Lampiran 1. Hasil analisis menyatakan bahwa nilai NaOH-Pi memiliki korelasi dengan pH dan Cadd. NaOH-Pi memiliki korelasi negatif dengan pH dan Cadd. Hal ini berkaitan dengan semakin rendah pH maka kandungan Fe dan Al hidrous oksida didalam tanah semakin meningkat dan keberadaan Fe-P dan Al-P (NaOH-Pi) semakin meningkat. Kandungan Cadd didalam tanah akan rendah jika tanah telah didominassi oleh Fe dan Al oksida.

4.5. HCl-Pi

Fraksi HCl-Pi disajikan pada Tabel 12. Provinsi Jawa Barat memiliki kisaran nilai HCl-Pi antara 35.8 hingga 97.3 mg P kg-1. Jatisari memiliki nilai HCl-Pi terbesar yaitu 97.3 mg P kg-1. Karawang memiliki nilai HCl-Pi terkecil di Provinsi Jawa Barat sebesar 35.8 mg P kg-1. Pamanukan, Indramayu, Palimanan, Cicalengka dan Cikarawang memiliki nilai HCl-Pi berturut-turut adalah 45.9 mg P kg-1; 58.3 mg P kg-1; 43.4 mg P kg-1; 77.5 mg P kg-1 dan 94.2 mg P kg-1. Rata-rata nilai HCl-Pi pada Provinsi Jawa Barat sebesar 64.6 mg P kg-1.

(43)

30

Bojonegoro yaitu sebesar 137 mg P kg-1.Provinsi Jawa Timur memiliki nilai rata-rata HCl-Pi sebesar 265 mg P kg-1.

Tabel 12. HCl-Pi pada Tanah Sawah di Pulau Jawa

(44)

31

Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur memiliki nilai rata-rata Cadd yang sangat tinggi sebesar 21.2 cmol+ kg-1 dan 37.5 cmol+kg-1 pada analisis pendahuluan.

Menurut Brady (1990) ketersediaan P dalam tanah basa ditentukan sebagian besar oleh kelarutan senyawa kalsium fosfat (Ca-P) yang ditemukan. Penggendapan Ca-P ditentukan oleh tinggi atau rendahnya konsentrasi ion Ca2+ dan tingginya pH tanah (Mengel dan Kirkby 1982).

Perbedaan nilai HCl-Pi pada setiap lokasi dapat dilihat pada Tabel 13. Hasil analisis statistik menyatakan bahwa pengaruh lokasi tidak nyata terhadap nilai HCl-Pi, -Po. Hasil uji yang tidak nyata diduga karena standar deviasi antar lokasi yang berbeda satu sama lain. Variasi yang timbul dapat disebabkan karena sebaran pemupukkan P yang bervariasi di setiap lokasi.

Tabel 13. Perbedaan Nilai HCl-Pi pada Setiap Lokasi

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada satu kolom, tidak berbeda nyata pada Uji Tukey (P < 0.05).

Perbedaan nilai HCl-Pi pada setiap jenis tanah dapat dilihat pada Tabel 14. Hasil analisis statistik menyatakan bahwa pengaruh tanah tidak nyata terhadap nilai HCl-Pi. Tanah Inceptisols memiliki nilai HCl-Pi sebesar 188 mg P kg-1. Tanah Ultisols memiliki nilai HCl-Pi sebesar 60.1 mg P kg-1. Tanah Vertisols memiliki nilai HCl-Pi sebesar 395 mg P kg-1.

Lokasi HCl-Pi

Rata-rata

(mg P kg-1)

StDev

Jawa Barat 64.7a 25.1

Jawa Tengah 340a 332

(45)

32

Tabel 14. Perbedaan Nilai HCl-Pi pada Setiap Jenis Tanah

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada satu kolom, tidak berbeda nyata pada Uji Tukey (P < 0.05).

Uji korelasi sifat-sifat kimia tanah dan fraksi-fraksi P dapat dilihat pada Tabel Lampiran 1. Hasil analisis menyatakan bahwa nilai HCl-Pi tidak memiliki korelasi dengan beberapa sifat kimia tanah yang telah dilakukan.

4.6. Residual-P

Residual-P dapat dilihat pada Tabel 15. Provinsi Jawa Barat memiliki kisaran nilai residual P antara 20.9 hingga 233 mg P kg-1. Cicalengka memiliki nilai Residual-P terbesar dengan yaitu 233 mg P kg-1, sedangkan nilai terkecil berada di Karawang dengan nilai Residual-P sebesar 20.9 mg P kg-1. Provinsi Jawa Barat memiliki rata-rata nilai residual-P seebesar 76.4 mg P kg-1.

Provinsi Jawa Tengah memiliki kisaran nilai Residual-P antara 30.7 hingga 546 mg P kg-1. Provinsi Jawa Tengah memiliki nilai Residual-P terbesar di 546 mg P kg-1, sedangkan nilai terkecil berada di Brebes dengan nilai Residual-P sebesar 30.7 mg P kg-1. Rata-rata nilai Residual-P pada provinsi Jawa Tengah sebesar 229 mg P kg-1.

Kisaran nilai Residual-P pada provinsi Jawa Timur berkisar antara 59 hingga 149 mg P kg-1. Provinsi Jawa Timur memiliki nilai Residual-P terbesar di Nganjuk yaitu sebesar 149 mg P kg-1, nilai terkecil berada di Tambak Rejo dengan nilai Residual-P sebesar 59 mg P kg-1. Rata-rata Residual-P Provinsi Jawa Timur adalah 108 mg P kg-1.

Jenis Tanah HCl-Pi

Rata-rata

(mg P kg-1)

StDev

Inceptisols 188a 254

Ultisols 60.1a 48.3

(46)

33

Tabel 15. Residual-P pada Tanah Sawah di Pulau Jawa

Provinsi Lokasi Residual-P besar dibandingkan dengan nilai fraksi lain yaitu daerah Kutoarjo, Karanganyar dan Jogjakarta yang berada pada Propinsi Jawa Tengah dengan nilai Residual-P berturut-turut sebesar 481 mg P kg-1; 413 mg P kg-1 dan 546 mg P kg-1.

Residual-P adalah fraksi P yang diinterpretasikan sebagai “occluded” P

(47)

34

Tengah memiliki nilai Residual-P yang lebih besar dibandingkan dengan Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Jawa Timur. Nilai Residual-P akan terakumulasi dengan seriring berjalannya waktu. Provinsi Jawa Barat memiliki nilai Residual-P terkecil diduga karena adanya penggenangan dalam jangka waktu yang lama sehingga perubahan Fe-P, Al-P dan Ca-P menjadi bentuk “occluded” P terjadi dengan lambat.

Ponamperuma (1976) dan Prasetyo et al. (2004) menyatakan penggenangan pada tanah sawah akan mengakibatkan perubahan perilaku unsur hara seperti penurunan kadar oksigen dalam tanah, penurunan potensial redoks, perubahan pH tanah, reduksi besi dan mangan, peningkatan suplai dan ketersediaan nitrogen, serta peningkatan ketersediaan P.

Perbedaan nilai Residual-P pada Setiap Lokasi dapat dilihat pada Tabel 16. Hasil analisis statistik menyatakan bahwa pengaruh lokasi tidak nyata terhadap nilai Residual-P. Hasil uji yang tidak nyata diduga karena standar deviasi antar lokasi yang berbeda satu sama lain. Variasi yang timbul dapat disebabkan karena sebaran pemupukkan P yang bervariasi di setiap lokasi.

Tabel 16. Perbedaan Nilai Residual-P pada Setiap Lokasi

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada satu kolom, tidak berbeda nyata pada Uji Tukey (P < 0.05).

Perbedaan nilai Residual-P pada setiap jenis tanah dapat dilihat pada Tabel 17. Hasil analisis statistik menyatakan bahwa pengaruh tanah tidak nyata terhadap nilai Residual-P. Tanah Inceptisols memiliki nilai Residual-P sebesar 157 mg P kg-1. Tanah Ultisols memiliki nilai Residu-P sebesar 76.4 mg P kg-1. Tanah Vertisols memiliki nilai Residu-P sebesar 176 mg P kg-1.

(48)

35

Tabel 17. Perbedaan Nilai Residual-P pada Setiap Jenis Tanah

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada satu kolom, tidak berbeda nyata pada Uji Tukey (P < 0.05).

Uji korelasi sifat-sifat kimia tanah dan fraksi-fraksi P dapat dilihat pada Tabel Lampiran 1. Hasil analisis menyatakan bahwa nilai Residual-P tidak memiliki korelasi dengan beberapa sifat-sifat kimia tanah yang telah dilakukan.

4.7. Ptotal

Nilai Ptotal disajikan pada Tabel 18. Provinsi Jawa Barat memiliki kisaran Ptotal antara 173 hingga 793 mg P kg-1. Nilai Ptotal terbesar berada di Cicalengka sebesar 793 mg P kg-1 sedang kan nilai Ptotal terkecil berada di Karawang dengan nilai Ptotal sebesar 173 mg P kg-1. Rata-rata nilai Ptotal pada Provinsi Jawa Barat

(49)

36

Barat pemupukkan yang diberikkan lebih sedikit jika dibandingkan dengan provinsi lain.

Tabel 18. Total-P pada Tanah Sawah di Pulau Jawa

Provinsi Lokasi Ptotal

(50)

37

Tabel 19. Perbedaan Nilai Ptotal pada Setiap Lokasi

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada satu kolom, tidak berbeda nyata pada Uji Tukey (P < 0.05).

Perbedaan nilai Ptotal pada setiap jenis tanah dapat dilihat pada Tabel 20. Hasil analisis statistik menyatakan bahwa pengaruh tanah tidak nyata terhadap nilai Ptotal. Tanah Inceptisols memiliki nilai Ptotal sebesar 615 mg P kg-1. Tanah Ultisols memiliki nilai Ptotal sebesar 516 mg P kg-1. Tanah Vertisols memiliki nilai Ptotal sebesar 789 mg P kg-1.

Tabel 20. Perbedaan Nilai Ptotal pada Setiap Jenis Tanah

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada satu kolom, tidak berbeda nyata pada Uji Tukey (P < 0.05).

Lokasi Ptotal

Rata-rata

(mg P kg-1)

StDev

Jawa Barat 426a 232

Jawa Tengah 856a 462

Jawa Timur 556a 196

Jenis Tanah Ptotal

Rata-rata

(mg P kg-1)

StDev

Inceptisols 615a 389

Ultisols 516a 155

(51)

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Pulau Jawa memiliki fraksi dominan HCl-Pi diikuti dengan fraksi Residual-P, NaOH-Pi, NaOH-Po, NaHCO3-Pi, NaHCO3-Po dan Resin-Pi. Provinsi Jawa Barat memiliki fraksi dominan NaOH-Pi diikuti dengan fraksi NaOH-Po, Residual-P, HCl-Pi, NaHCO3-Pi, NaHCO3-Po dan Resin-P. Provinsi Jawa Tengah memiliki fraksi dominan HCl-Pi diikuti dengan fraksi Residual-P, NaOH-Pi, NaOH-Po, NaHCO3-Pi, NaHCO3-Po dan Resin-P. Provinsi Jawa Timur memiliki fraksi dominan HCl-Pi diikuti dengan fraksi Residual-P, NaOH-Po, NaOH-Pi, NaHCO3-Pi, Resin-P dan NaHCO3-Po. Hasil penelitian ini merekomendasikan bahwa manajemen pemupukan P pada tanah-tanah sawah di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur harus dilakukan secara berbeda.

Lokasi tidak berpengaruh nyata terhadap fraksi Resin-Pi, NaHCO3-Pi, -Po, NaOH-Pi, -Po, HCl-Pi, Residual-P tanah-tanah sawah di Pulau Jawa. Jenis tanah hanya berpengaruh nyata terhadap fraksi NaHCO3-Po. NaOH-Pi memiliki korelasi negatif terhadap pH dan Cadd.

5.2. Saran

(52)

DAFTAR PUSTAKA

Adiningsih JS, Moersidi S, Sudjadi M, dan Fagi AM. 1989. Evaluasi keperluan fosfat pada lahan sawah intensifikasi di Jawa. Prosiding Lokakarya Nasional Efisiensi Penggunaan Pupuk. Cipayung, 21 November 1988. Pusat Penelitian Tanah. Bogor.

Adiningsih JS. 1992. Peranan Efisiensi Penggunaan Pupuk untuk Melestarikan Swasembada Pangan. Orasi Pengukuhan Ahli Peneliti Utama. Badan Litbang Pertanian. Jakarta.

Balai Penelitian Tanah. 2009. Analisis Kimia Tanah, Tanaman, Air, dan Pupuk. Balittan. Bogor.

Beauchemin S dan Simard RR. 2000. Phosphorus status of intensively cropped soils of the St. Lawrence Lowlands. Soil Sci. Soc. Am. J., 64: 659-670.

Buckman HO dan Brady NC. 1969. The Nature and Properties of Soils. 7th edition. The MacMillan Co.Colloier- MacMillan Limited. London.

BPS. 2009. Statistik Indonesia. Biro Pusat Statistik. Jakarta.

___. 2010. Statistik Indonesia. Biro Pusat Statistik. Jakarta.

Brady NC. 1990. The Nature and Properties of Soils 10th ed. Macmillan Publishing Company. New York.

Brinkman R. 1970. Ferrolysic, a hydromorphic soil farming process. Geoderma, 3: 199-206.

De Datta SK. 1981. Principles and Practices of Rice Production. Jhon Wiley and Sons. New York.

De Datta SK, Biswas TK, dan Charoenchamratcheep C. 1990. Phosphorus requirements and management for lowland rice. In: Phosphorus Requirements for Sustainable Agriculture in Asia and Oceania. International Rice Research Inst. Los Banos, Philippines.

Hardjowigeno S. 1987. Ilmu Tanah. AKAPRESS. Jakarta.

(53)

40

Havlin JL, Beaton JD, Nelson SL,Nelson WL. 2005. Soil Fertility and Fertilizers. An Introduction to Nutrient Management. Pearson Pretice Hall. New Jersey.

Hedley MJ, Stewart JWB dan Chauhan BS. 1982. Change in inorganic and organic soil phosphorus fraction induced by cultivation practice and by laboratory incubation. Soil Sci. Soc Am.J., 46:970-976.

Kanno I. 1978. Genesis og rice soil with special reference to profil development. In: Soils and Rice. The International Rice Research Institute. Los Banos, Laguna, Philippines.

Kawaguchi K dan Kyuma K. 1976. Paddy soils in tropical Asia. South East Asian Studies., 14 : 334-364.

Koenigs FFR. 1950. A “Sawah” profile near Bogor. Trans . IV. International

Congr. Soil Sci., 1: 297-300.

Leiwakabessy FM dan Sutandi A. 1988. Kesuburan Tanah. Diktat Kuliah Jurusan Tanah. Fakultas Pertanian Bogor. Institut Pertanian Bogor.

Mattingly GEG. 1975. Labile phosphorus in soils. Soil Sci., 119: 369-375.

Mengel K dan Kirkby EA. 1982. Principles of Plant Nutrition 3rd edition. International Potash Institute Bern. Switzerland.

Moersidi S, Prawirasumantri J, Hartatik W, Pramudia A dan Sudjadi M. 1991. Evaluasi kedua keperluan fosfat pada lahan sawah intensifikasi di Jawa. Prosiding Lokakarya Nasional Efisiensi Penggunaan Pupuk V. Cisarua, 12-13 November 1990. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Bogor.

Nurwadjedi. 2011.Indeks keberlanjutan lahan sawah untuk mendukung penataan ruang : studi kasus pulau Jawa [disertasi]. Bogor : Program Pasca sarjana, Institut Pertanian Bogor.

Oberson A, Friesen DK, Rao IM, Buhler S, Forssard E. 2001. Phosphorus transformation in an Oxisol under contrasting land use system : the role of soil microbial biomass. Plant Soil., 237: 197-210.

Olsen SR dan Sommers LE. 1982. Phosphorus. In Methods of Soil Analyses, Part 2, 2nd ed, Agron. Monogr. 9. Eds AL Page. RH Miller and DR Keeney, ASA and SSSA. Madison.

O’Halloran IP. 1993. Effect of tillage and fertilization on thee inorganic and

organic phosphorus. Can. J. Soil Sci., 73: 359-369.

(54)

41

Prasetyo BH, Adiningsih JS, Subagyono K, Simanungkalit RDM. 2004. Mineralogi, Kimia, Fisika, Biologi Tanah Sawah. Di dalam : Agus F, Adimiharja A, Hardjowigeno S, Fagi AM, Hartatik W, editor. Tanah Sawah dan Teknologi Pengelolaanya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Bdan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor.

Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. 1992. Status Kalium dan Peningkatan Efisiensi Pemupukan KCl pada Tanah Sawah di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Laporan Hasil Penelitian. Pusat Penelitian tanah dan Agroklimat. Bogor. (Tidak dipublikasikan).

Rayes ML. 2000. Karakteristik, genesis dan klasifikasi tanah sawah berasal dari bahan volkan Merapi [disertasi]. Bogor : Program Pasca sarjana, Institut Pertanian Bogor.

Rochayati S, Mulyadi dan Adiningsih JS. 1990. Penelitian efisiensi penggunaan pupuk di lahan sawah. Lokakarya Nasional Efisiensi Penggunaan Pupuk V. Cisarua, 12- 13 November 1990. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.

Sanchez A. 1993. Sifat dan Pengelolaan Tanah Tropika. Jilid 2. Institut Teknologi Bandung.

Sanders WMH dan Williams EG. 1955. Observation on determination of total organic phosphorus from soil. Fertil. Res., 24 :173-180.

Schmidt JP, Buwol SW, Kamprath EJ. 1996 . Soil phosphorus dynamics during seventeen years of continuous cultivations : fraction analyses. Soil Sci. Soc.Am.J., 60: 1168-1172.

Situmorang R dan Sudadi U. 2001. Bahan Kuliah Tanah Sawah. Jurusan tanah, Fakultas Pertanian IPB, Bogor.

Soepraptohardjo M dan Suhardjo H. 1978. Rice of Indonesia. In: Soils and Rice. The International Rice Research Institute. Los Banos, Laguna, Philippines. Soil Survey Staff. 2004. Kunci Taksonomi Tanah. Pusat Penelitian Tanah dan

Agroklimat. Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Tan KH. 1982. Principles of Soil Chemistry. Marcel Dekker Inc. New York. Tiessen H dan Moir JO. 1993. Characterization of Available P Sequential

Extraction in Soil Sampling and Method Analysis.Ed MR Carter. Canadian Society of Soil Science Lewis Publisher. Boca Raton. Florida.

(55)

42

Verma S, Subehia SK, Sharma SP. 2005. Phosphorus fractions in an acid soil continuously fertilized with mineral an organic fertilizers : Biol. Fertil. Soils., 41: 295-300.

Willet IR. 1985. The Reduction dissolution of phosphate ferrihydrite and sterengite. Aust. J. Soils., 23: 237-244.

William JDH, dan Walker TW. 1969. Fractionation of phosphate in a maturity sequence og New Zealand basaltic soil profiles. Soil Sci. 107: 22-30.

Yoshida S. 1981. Foundamentals of Rice Crop Science. The International Rice Research Institute, manila. Philipipine.

(56)

LAMPIRAN

(57)
(58)

45

Tabel Lampiran 2. Kriteria Penilaian Sifat Kimia Tanah Berdasarkan Balai Penelitian Tanah (2009)

Parameter Tanah

Nilai

sangat

rendah rendah sedang tinggi

sangat

tinggi

C-total (%) < 1 1-2 2-3 3-5 > 5

N-total (%) < 0.1 0.1-0.2 0.21-0.5 0.51-0.75 >0.75

Nisbah CN <5 5-10 11-15 16-25 >25

P2O5 HCl 25% (mg 100g -1

) <15 15-20 21-40 41-60 >60

P2O5 Bray (ppm P) <4 5-7 8-10 11-15 >15

P2O5 Olsen (ppm P) <5 5-10 11-15 16-20 >20

KTK (me/100g) < 5 5-16 17-24 25-40 > 40

Ca-dd (cmol kg-1) < 2 2-5 6-10 11-20 > 20

Mg-dd (cmol kg-1) < 0.4 0.4-1 1.1-2.0 2.1-8.0 > 8

K-dd (cmol kg-1) <0.1 0.1-0.3 0.4-0.5 0.6-1.0 >1

Na-dd (cmol kg-1) < 0.1 0.1-0.3 0.4-0.7 0.8-1.0 > 1.0

KB (%) < 20 20-40 41-60 61-80 > 80

sangat

masam masam

agak

masam netral

agak

alkalin alkalin

(59)

46

Tabel Lampiran 3. Titik Koordinat Lokasi Pengambilan Contoh Tanah Sawah di Pulau Jawa

Nama Lokasi Lokasi Elevasi

(m)

S E

Karawang 06°16' 25.0" 107°17' 08.7" 31

Jatisari 06°21' 26.4" 107°32' 36.9" 45

Pamanukan 06°16' 43.4" 107°50' 39.2" 22

Indramayu 06°24' 57.7" 108°16' 33.2" 23

Palimanan 06°40' 52.3" 108°25' 32.6" 28

Cicalengka 07°06' 07.3" 108°06' 09.6" 785

Cikarawang 06°33' 05.1" 106°44' 22.4" 195

Brebes 06°52' 32.5" 109°03' 46.6" 19

Suradadi 06°52' 24.2" 109°15' 02.0" 23

Batang 06°58' 39.3" 109°53' 39.1" 178

Kendal 06°56' 29.5" 110°14' 36.1" 19

Demak 06°55' 46.7" 110°32' 38.7" 16

Jekulo 06°48' 07.8" 110°56' 02.7" 29

Jogjakarta 07°49' 49.3" 110°27' 21.4" 103

Borobudur 07°34' 39.0" 110°15' 01.8" 318

Kutoarjo 07°43' 26.4" 109°52' 20.5" 23

Karanganyar 07°37' 36.1" 109°33' 55.4" 22

Buntu 07°35' 24.2" 109°15' 07.3" 18

Bojonegoro 07°08' 14.3" 111°48' 47.9" 40

Tambak Rejo 07°15' 54.7" 111°35' 10.9" 79

Nganjuk 07°33' 56.7" 111°50' 34.3" 74

Jombang 07°31' 48.1" 112°15' 24.8" 39

(60)

47

Tabel Lampiran 4. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan Resin-Pi pada Setiap Lokasi Sumber

Tabel Lampiran 5. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan NaHCO3-Pi pada Setiap Lokasi Sumber

Tabel Lampiran 6. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan NaHCO3-Po pada Setiap Lokasi Sumber

Tabel Lampiran 7. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan NaOH-Pi pada Setiap Lokasi Sumber

(61)

48

Tabel Lampiran 9. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan HCl-Pi pada Setiap Lokasi Sumber

Tabel Lampiran 10. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan Residu-P pada Setiap Lokasi

Sumber

Tabel Lampiran 11. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan Ptotal pada Setiap Lokasi Sumber

Tabel Lampiran 12. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan Resin-Pi pada Setiap Jenis Tanah Sumber

(62)

49

Tabel Lampiran 14. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan NaHCO3-Po pada Setiap Jenis Tanah Sumber

Tabel Lampiran 15. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan NaOH-Pi pada Setiap Jenis Tanah Sumber

Tabel Lampiran 16. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan NaOH-Po pada Setiap Jenis Tanah Sumber

Tabel Lampiran 17. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan HCl-Pi pada Setiap Jenis Tanah Sumber

Tabel Lampiran 18. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan Residu-P pada Setiap Jenis Tanah

(63)

50

Tabel Lampiran 19. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan Ptotal pada Setiap Jenis Tanah Sumber

Keragaman Derajat Bebas

Jumlah

Kuadrat

Kuadrat

Tengah F Hitung P

Perlakuan 2 185706 92853 0.56 0.577

Galat 20 3289896 164495

Total 22 3475603

Nyata pada taraf α = 0.05

(64)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Jumlah penduduk Indonesia adalah 237 juta jiwa dimana 57.5% tersebar di pulau Jawa, dan sisanya 42.2% di pulau-pulau lainnya (BPS 2010). Hampir seluruh penduduk Indonesia mengkonsumsi beras, hal tersebut yang menyebabkan Indonesia menjadi negara pengonsumsi beras terbesar di dunia.

Data BPS pada tahun 2008 menunjukkan bahwa Pulau Jawa dengan luas panen 5.74 juta ha mampu menyumbang 55% dari produksi gabah kering giling (GKG) di Indonesia (BPS 2009). Ditinjau dari penyebarannya lebih dari 60% tanah sawah di Indonesia berada di Pulau Jawa, yang secara fisiografis menyebar di dataran banjir (aluvial pantai), dan lereng bawah volkan (Kawaguchi dan Kyuma 1976; Rayes 2000).

Peningkatkan produksi padi merupakan hal yang harus diperhatikan untuk memenuhi kebutuhan gabah kering giling Indonesia. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan produksi padi adalah dengan penggunaan pupuk. Pupuk merupakan salah satu sarana yang sangat penting dalam input pertanian yang berfungsi untuk meningkatkan produksi. Setiap kegiatan pertanian tidak terlepas dari pemberian pemupukan, termasuk pada lahan sawah. Penggunaan pupuk meningkat pesat setelah perencanaan program intensifikasi yang dimulai tahun 1969 (Adiningsih et al. 1989 ; Moersidi et al. 1991).

Salah satu pupuk yang sangat penting untuk tanaman adalah pupuk Fosfor (P) selain pupuk Nitrogen (N) dan Kalium (K). P berperan pada berbagai aktivitas metabolisme tanaman dan merupakan komponen klorofil (Buckman dan Brady 1969) serta sebagai pembentuk adenosindifosfat (ADP) dan adenosintrifosfat (ATP), dua senyawa yang terlibat dalam transformasi energi yang paling signifikan pada tanaman (Brady 1990).

(65)

2

dan Ca-P inorganik akan tetapi sebagian menjadi bentuk-bentuk P organik baik yang bersifat labil ataupun terikat secara kemisorpsi oleh Al dan Fe hidrous oksida (Oberson et al. 2001; Schmidt et al. 1996; Verma et al. 2005; Zheng et al.

2002). Pemupukan P secara terus-menerus diyakini telah menyebabkan ketidakseimbangan hara, menekan ketersediaan hara mikro seperti Cu dan Zn, serta menguras bahan organik tanah yang sangat berperan dalam aktivitas biologi tanah (Adiningsih et al. 1989; Moersidi et al. 1991; Rochayati et al. 1990; Adiningsih 1992; Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat 1992).

Pengetahuan mengenai fraksionasi bentuk-bentuk P pada tanah-tanah sawah di Pulau Jawa belum banyak dilaporkan. Informasi distribusi fraksi-fraksi P pada tanah sawah di Pulau Jawa dibutuhkan untuk manajemen pemupukan P.

1.2. Tujuan

(66)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tanah Sawah

Menurut Supraptohardjo dan Suhardjo (1978), jenis tanah yang banyak digunakan untuk persawahan adalah Aluvial dan Gleisol. Kedua jenis tanah ini berdasarkan Soil Taxonomy masuk kedalam order Entisols atau Inceptisols. Tanah sawah di Indonesia berasal dari jenis-jenis tanah yang beragam antara lain: Entisols, Inceptisols, Vertisols, Alfisols, Ultisols, dan Histosols yang tersebar luas di Jawa, Bali, Lombok, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Aceh dan Sulawesi selatan (Situmorang dan Sudadi 2001).

Tanah sawah adalah tanah yang mengalami proses hidromorfik, baik secara buatan atau alami dan merupakan tanah yang memiliki horizon akumulasi besi-mangan (Kanno 1978; Tan 1982). Perubahan sifat kimia dan elektrokimia yang penting pada tanah sawah adalah: (1) kehilangan oksigen, (2) reduksi atau penurunan potensial redoks (Eh), (3) peningkatan pH tanah masam dan penurunan pH tanah alkalin, (4) peningkatan daya hantar listrik, (5) reduksi dari Fe3+ ke Fe2+ dan Mn4+ ke Mn2+, (6) reduksi dari NO3- dan NO2- ke N2O dan N2, (7) reduksi SO42- ke S2-, (8) peningkatan dan ketersediaan P, Si dan Mo, dan (9) perubahan konsentrasi Zn dan Cu larut dalam air (De Datta 1981).

Menurut Koenigs (1950) tanah tergenang (reduksi) akan memiliki bentuk-bentuk besi (Fe2+) dan mangan (Mn2+) yang lebih tersedia (mobil). Kedua bentuk tersebut dapat bergerak ke bawah dengan mudah bersama-sama dengan air perkolasi. Penelitian Koenigs (1950) menyatakan bahwa pada tanah sawah dijumpai adanya lapisan besi dan mangan. Reduksi Mn terjadi lebih awal dari Fe, sehingga Mn berada dalam larutan lebih awal dari Fe dan tercuci lebih awal.

Figur

Tabel 2 Lanjutan
Tabel 2 Lanjutan . View in document p.32
Tabel 3. Resin-Pi  pada Tanah Sawah di Pulau Jawa
Tabel 3 Resin Pi pada Tanah Sawah di Pulau Jawa . View in document p.33
Tabel 6. NaHCO3-Pi dan NaHCO3-Po pada Tanah Sawah di Pulau Jawa
Tabel 6 NaHCO3 Pi dan NaHCO3 Po pada Tanah Sawah di Pulau Jawa . View in document p.37
Tabel 9.  NaOH-Pi dan -Po pada Tanah Sawah di Pulau Jawa
Tabel 9 NaOH Pi dan Po pada Tanah Sawah di Pulau Jawa . View in document p.40
Tabel 12. HCl-Pi pada Tanah Sawah di Pulau Jawa
Tabel 12 HCl Pi pada Tanah Sawah di Pulau Jawa . View in document p.43
Tabel 15. Residual-P pada Tanah Sawah di Pulau Jawa
Tabel 15 Residual P pada Tanah Sawah di Pulau Jawa . View in document p.46
Tabel 18. Total-P pada Tanah Sawah di Pulau Jawa
Tabel 18 Total P pada Tanah Sawah di Pulau Jawa . View in document p.49
Tabel Lampiran 1. Korelasi Analisis Pendahuluan dengan Resin-Pi, NaHCO3-Pi, -Po, NaOH-Pi, -Po, HCl-Pi, Residual-P
Tabel Lampiran 1 Korelasi Analisis Pendahuluan dengan Resin Pi NaHCO3 Pi Po NaOH Pi Po HCl Pi Residual P . View in document p.57
Tabel Lampiran 2.   Kriteria Penilaian Sifat Kimia Tanah Berdasarkan Balai
Tabel Lampiran 2 Kriteria Penilaian Sifat Kimia Tanah Berdasarkan Balai . View in document p.58
Tabel Lampiran 3.  Titik Koordinat Lokasi Pengambilan Contoh Tanah Sawah di Pulau Jawa
Tabel Lampiran 3 Titik Koordinat Lokasi Pengambilan Contoh Tanah Sawah di Pulau Jawa . View in document p.59
Tabel Lampiran 9. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan HCl-Pi pada Setiap Lokasi
Tabel Lampiran 9 Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan HCl Pi pada Setiap Lokasi . View in document p.61
Tabel Lampiran 14.  Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan NaHCO3-Po pada Setiap Jenis Tanah
Tabel Lampiran 14 Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan NaHCO3 Po pada Setiap Jenis Tanah . View in document p.62
Tabel Lampiran 19. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan Ptotal pada Setiap Jenis Tanah
Tabel Lampiran 19 Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan Ptotal pada Setiap Jenis Tanah . View in document p.63
Gambar 1. Peta Pengambilan Sampel Tanah di Pulau Jawa
Gambar 1 Peta Pengambilan Sampel Tanah di Pulau Jawa . View in document p.71
Tabel 1.  Lokasi  Contoh Tanah Sawah yang Digunakan untuk Penetapan Distribusi Hara P pada Tanah Sawah Di Pulau Jawa
Tabel 1 Lokasi Contoh Tanah Sawah yang Digunakan untuk Penetapan Distribusi Hara P pada Tanah Sawah Di Pulau Jawa . View in document p.73
Gambar 2.  Diagram Alir Percobaan Fraksionasi P Sampai dengan Penetapan
Gambar 2 Diagram Alir Percobaan Fraksionasi P Sampai dengan Penetapan . View in document p.75
Tabel 2 Lanjutan
Tabel 2 Lanjutan . View in document p.82
Tabel 3. Resin-Pi  pada Tanah Sawah di Pulau Jawa
Tabel 3 Resin Pi pada Tanah Sawah di Pulau Jawa . View in document p.83
Tabel 6. NaHCO3-Pi dan NaHCO3-Po pada Tanah Sawah di Pulau Jawa
Tabel 6 NaHCO3 Pi dan NaHCO3 Po pada Tanah Sawah di Pulau Jawa . View in document p.87
Tabel 9.  NaOH-Pi dan -Po pada Tanah Sawah di Pulau Jawa
Tabel 9 NaOH Pi dan Po pada Tanah Sawah di Pulau Jawa . View in document p.90
Tabel 12. HCl-Pi pada Tanah Sawah di Pulau Jawa
Tabel 12 HCl Pi pada Tanah Sawah di Pulau Jawa . View in document p.93
Tabel 15. Residual-P pada Tanah Sawah di Pulau Jawa
Tabel 15 Residual P pada Tanah Sawah di Pulau Jawa . View in document p.96
Tabel 17. Perbedaan Nilai Residual-P pada Setiap Jenis Tanah
Tabel 17 Perbedaan Nilai Residual P pada Setiap Jenis Tanah . View in document p.98
Tabel 18. Total-P pada Tanah Sawah di Pulau Jawa
Tabel 18 Total P pada Tanah Sawah di Pulau Jawa . View in document p.99
Tabel Lampiran 1. Korelasi Analisis Pendahuluan dengan Resin-Pi, NaHCO3-Pi, -Po, NaOH-Pi, -Po, HCl-Pi, Residual-P
Tabel Lampiran 1 Korelasi Analisis Pendahuluan dengan Resin Pi NaHCO3 Pi Po NaOH Pi Po HCl Pi Residual P . View in document p.108
Tabel Lampiran 2.   Kriteria Penilaian Sifat Kimia Tanah Berdasarkan Balai
Tabel Lampiran 2 Kriteria Penilaian Sifat Kimia Tanah Berdasarkan Balai . View in document p.109
Tabel Lampiran 3.  Titik Koordinat Lokasi Pengambilan Contoh Tanah Sawah di Pulau Jawa
Tabel Lampiran 3 Titik Koordinat Lokasi Pengambilan Contoh Tanah Sawah di Pulau Jawa . View in document p.110
Tabel Lampiran 9. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan HCl-Pi pada Setiap Lokasi
Tabel Lampiran 9 Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan HCl Pi pada Setiap Lokasi . View in document p.112
Tabel Lampiran 14.  Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan NaHCO3-Po pada Setiap Jenis Tanah
Tabel Lampiran 14 Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan NaHCO3 Po pada Setiap Jenis Tanah . View in document p.113
Tabel Lampiran 19. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan Ptotal pada Setiap Jenis Tanah
Tabel Lampiran 19 Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan Ptotal pada Setiap Jenis Tanah . View in document p.114

Referensi

Memperbarui...