KORELASI KULTUR PESANTREN TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER SANTRI. Di Pondok Pesantren al-Amanah al-Gontory

106  13 

Teks penuh

(1)

Di Pondok Pesantren al-Amanah al-Gontory

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Untuk Memenuhi Persyaratan Mencapai Gelar

Sarjana Pendidikan Islam (S. Pd. I)

Oleh

Pramono Hadi Saputro

NIM: 109011000241

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

PESANTREN AL-AMANAH AL-GONTORY

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Untuk Memenuhi Persyaratan Mencapai Gelar

Sarjana Pendidikan Islam (S. Pd. I)

Oleh

PRAMONO HADI SAPUTRO NIM: 109011000241 Di Bawah Bimbingan Dosen Pembimbing Skripsi

Drs. Zaimudin M.Ag NIP. 19590705 199103 1 002

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(3)
(4)
(5)

i

ABSTRAK

KORELASI KULTUR PESANTREN TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER SANTRI DI PONDOK PESANTREN AMANAH AL-GONTORY

Kata Kunci : Kultur Pesantren, Karakter, Pondok Pesantren, Amanah al-Gontory.

Penelitian ini memfokuskan pada korelasi antara kultur pesantren al-Amanah al-Gontory terhadap pembentukan karakter para santri dan santriwatinya. Kemudian juga mencari, adakah keterkaitan kultur pesantren dengan pola pembentukan karakter santri dan santriwatinya karena kultur adalah budaya pesantren yang mempengaruhi pola kehidupan, pola fikir, mental, serta karakter para santri, dipesantren mengunakan system pendidikan asrama dimana para santrinya didik secara paripurna, yaitu pendidikan 24 jam dalam pengawasan para guru. Diharapkan bisa membentuk pribadi-pribadi yang unggul yaitu pribadi yang bukan hanya pintar tetapi juga beriman. Yaitu pendidikan yang mengabungkan antara akal dan hati.

Jenis penelitian yang dipergunakan dalam penyusunan penelitian ini adalah penelitian termasuk dalam jenis penelitian kuantitatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode deskriptif analisis, dan korelasional dan juga menggunakan metode dokumentasi baik di perpustakaan (library research) ataupun di luar perpustakaan dalam pengumpulan data. Adapun analisis data yang digunakan adalah analisis isi (content analysis).

Hasil penelitian inipenulis dapat membatasi masalah yaitu kultur pesantren dan karakter santri. Berdasarkan hasil penelitian, hubungan antara kultur pesantren dengan pembinaan karakter santri di Pondok Pesantren Al-Amanah al-Gontory secara keseluruhan dapat dikatakan sudah sangat berhubungan. Hal ini dapat dilihat dari hasil korelasi antara variabel X (Kultur pesantren) dan variabel Y (Karakter santri). Jadi dapat disimpulkan bahwa kultur pesantren dapat membina karakter santri, dapat pula membentuk mental, kebiasaan, konsepsi diri dan sikap, semoga bisa membawa dampak baik bagi santri, baik terhadap Allah, diri sendiri dan akhlak terhadap sesama.

(6)
(7)

ii

KATA PENGANTAR

ِمْيِح َرلا ِنََْْرلا ِها ِمْسِب

Maha suci Allah atas segala karunianya, seraya berserah diri kepada-Nya, Dzat yang telah mengerakan hati dan fikiran penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “KORELASI KULTUR PESANTREN TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER SANTRI” dapat disimpulkan.

“Apalah arti diriku tanpamu, Apalah arti ilmuku tanpa ridhomu, dan engkaulah yang mengajariku dengan perantara guru-guruku. Wahai Dzat Yang satu-satunya tempat hamba bersandar, berikan aku jalan keselamatan.”

Shalawat serta salam tak lupa penulis haturkan kepada cahaya diatas cahaya, yaitu Nabi besar Muhammad SAW. Melalui beliaulah semua umat Islam mendapatkan cahaya iman, sehingga benar-benar memahami Iman, Islam dan Ihsan. Tidak lupa kepada para kolega beliau dari Anbiyaa dan Mursaliin, juga Auliyaa Allah yang sama-sama menegakan kalimat laa ilaaha illa Allah. Begitu

juga kepada keluarganya, sahabatnya, tabi’in tabi’at, ulama mu’tabarah, hujjaj

kiyai, guru, santri juga para cendikiawan muslim dan para pelajar yang selalu siaga untuk menebar rahmat, melanjutkan perjuangan Rasulullah SAW dalam menegakkan panji-panji Islam. Semoga penulis dan pembaca termasuk ke dalam golongan tersebut. Amiin

Penulis sangat menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini tidak sedikit hambatan dan perjuangan, berkat doa dan semangat yang kalian berikanlah penulisan ini dapat terselesaikan pada waktu yang tepat insya allah.

(8)

iii

1. Nurlena Rifa’i, M. A. Ph. D. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang telah memberi kesan tersendiri bagi penulis, atas semangat dan ilmunya.

2. Bahrissalim, MA, Ketua Jurusan PAI dan Sapiudin Sidiq, M.Ag Sekretaris Jurusan PAI Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, yang sangat sabar dan profesional dalam mengabdikan dirinya di jurusan pendidikan agama Islam. penulis ucapkan terima kasih.

3. Dr. Zaimudin, MA, Dosen Pembimbing Skripsi yang begitu sabar telah menyediakan waktu, pikiran dan tenaganya dalam memberikan bimbingan, pengarahan dan petunjuknya kepada penulis dalam menyusun skripsi ini. Penulis ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

4. Drs, H. Masan AF, M. Pd, Dosen Penasehat Akademik yang penuh perhatian telah memberi bimbingan, arahan dan motivasi serta ilmu pengetahuan kepada penulis selama masa perkuliahan.

5. Pimpinan dan karyawan/karyawati Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan yang telah memberikan pelayanan dan pinjaman buku-buku yang sangat penulis butuhkan dalam penyusunan skripsi ini.

6. Selanjutnya ucapan terima kasih untuk orang terkasih yang kasihnya tetap menyinari sampai saat ini, kepasa kedua orag tuaku ayahanda tercinta Sutaryono dan Ibundaku Wiji lestari yang tiada kata lelah memberikan support yang tak ternilai harganya, doa kalian yang memberikan penulis kekuatan tuk menyelesaikan tugas ahir ini, semoga bisa mengangkat harkat derajat keluarga, juga adik adiku tersayang semoga bisa cepat segera meyusul untuk menyelesaikan tugas ahirnya adinda ajeng jiwa pangestu dan si bungsu bimo satrio wibowo semoga kita bisa membanggakan kedua orang tua kita.

(9)

iv

8. Dan juga kepada teman-teman seperjuangan di KAHFI MOTIVATOR SCHOOL khususnya untuk guru fikir kami, om Bagus dan keluarga yang banyak memberikan motivasi dari lubuk hati yang terdalam saya ucapkan trima kasih banyak.

9. Teman-teman seperjuangan Pendidikan Agama Islam kelas f angkatan 2009, kenangan indah dan kebersamaan kita tidak akan terlupakan, terima kasih buat kalian yang menemani hari-hari penulis selama kuliah.

10.Tak lupa juga teman-teman HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dan BMF Fakultas Tarbiyah serta DEMA ( Dewan Eksekutif Mahasiswa ), LAPENMI ( Lembaga pendidikan mahasiswa islam ) yang selalu ada dalam sumbangsih arahan dan pemikirannya, demi kelancaran skripsi ini dan telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk belajar banyak tentang organisasi.

11.Segenap pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu namanya, terima kasih atas segala bantuan, perhatian dan semangat yang diberikan kepada penulis. Khususnya kepada teman yang memberikan inspirasi dalam penelitian saudari robiatul adawiyah saya ucapkan trima kasih.

12.Dan teman-teman KABISAT ( Komunitas Besar Mahasiswa Islam ) teman teman perjuangan di kota ini, Bagus harianto, Asep eka, Masruri dan yang tak bisa dituliskan disini satu persatu, penulis ucapkan trima kasih, sukses untuk kita semua.

Penulis bermunajat kepada Allah SWT agar melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada semua yang telah membantu penulis, sebagai imbalan jasa yang telah dilakukan.

Hanya kepada Allah SWT sajalah penulis berharap semoga apa yang penulis kerjakan mendapat keridhaan dan kecintaan-Nya. Akhirnya, semoga skripsi ini mampu memberikan manfaat khususnya bagi penulis juga bagi pembaca umumnya. Amin.

Jakarta, 07 Maret 2014

(10)

v LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI

LEMBAR PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI DAFTAR RIWAYAT HIDUP

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... vi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ……… 1

B. Identifikasi Masalah ... 3

C. Pembatasan dan Rumusan Masalah ... 5

D. Tujuan Penelitian ... 5

E. Manfaat Penelitian ………... 6

BAB II KAJIAN TEORI A. Tinjauan Tentang Pondok Pesantren ... 7

1. Pengertian Pondok Pesantren ... 7

2. Model-Model Pondok Pesantren ... 8

3. Asal-Usul Pesantren ... 23

4. Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren ... 15

5. Tujuan Pondok Pesantren ... 21

6. Pengertian Kultur Pesantren ... 15

7. Fungsi Kultur Pesantren ... 21

8. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kultur Pesantren ... 15

9. Tujuan Pendidikan Islam ... 21

B. Pengertian Karakter Dan Unsur-Unsurnya ... 15

(11)

vi

E. Pengajuan Hipotesis ... 27

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 28

B. Metodologi Penelitian ... 28

C. Variabel Penelitian………. ... 40

D. Populasi dan Sampel………... ... 35

E. Teknik Pengumpulan Data……….. ... 35

F. Teknik Pengolahan dan Analisa Data ... 40

a. Teknik Pengolahan Data ... 40

b Teknik Analisis Data ... 41

1. Uji Validitas ... 41

2. Uji Reliabilitas ... 42

3. Uji Normalitas ... 42

4. Uji Homogenitas ... 43

5. Uji Heteroskedatisitas ... 43

6. Uji Korelasi ... 44

7. Perhitungan Koefisian Determinasi ... 44

G. Hipotesis Statistik ... 45

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data ... 46

1. Gambaran Umum Pesantren al-Amanah al-Gontory ... 46

2. Karakteristik Responden ... 49

B. Karakteristik Variabel………... ... 50

1. Pembagian Kelas Interval ... 50

2. Uji Validitas ……... ... 55

(12)

vii

3. Uji Heteroskedastisitas ... 62

D. Uji Hipotesis ... 63

E. Pembahasan Hasil Penelitian ... 66

F. Keterbatasan Penelitian ... 73

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 75

B.Implikasi ... 76

C. Saran ... 76

(13)

1

A.

Latar Belakang Masalah

Sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, pesantren tetap akan menarik untuk dikaji dan ditelaah kembali. Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang mempunyai kekhasan tersendiri serta berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya, juga mengandung makna keaslian kultur di Indonesia ( indigenous )1. Ditinjau dari segi historisnya, pesantren merupakan bentuk lembaga pribumi tertua di Indonesia bahkan lebih tua lagi dari Republik ini. Pesantren sudah dikenal jauh sebelum Indonesia merdeka.

Azra memberikan pertanyaan dan jawaban terkait mengapa pesantren tetap mampu bertahan di antara derasnya arus modernisasi, karena menurutnya pesantren tidak tergesa-gesa men-trasformasikan kelembagaan pesantren menjadi lembaga pendidikan Islam modern sepenuhnya, tetapi melakukan penyesuaian sesuai kebutuhan dan mendukung kontinuitas pesantren itu sendiri, seperti sistem perjenjangan, kurikulum yang jelas dan sistem yang baik.2

Yang paling tampak dari peran pesantren di masa lalu adalah dalam hal menggerakkan, memimpin, dan melakukan perjuangan mengusir penjajah. Pada masa-masa mendatang agaknya peran pesantren amat besar. Misalnya, arus globalisasi dan industrialisasi telah menimbulkan depresi dan bimbanganya pemikiran serta suramnya prespektif masa depan. Maka, pesantren amat dibutuhkan untuk menyeimbangkan akal dan hati3.

Fenomena tersebut disebabkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Di tengah kemajuan ilmu dan teknologi yang menjadi

1 Nurcholis Madjid, Bilik-bilik Pesantren, ( Jakarta : Paramadina, 1997 ), hal. 3

(14)

motor bergeraknya modernisasi, dewasa ini banyak pihak merasa ragu terhadap eksistensi lembaga pendidikan pesantren. Keraguan itu dilatarbelakangi oleh kecenderungan dari pesantren yang bersikap menutup diri terhadap perubahan di sekelilingnya dan sikap kolot dalam merespon upaya modernisasi. Menurut Azyumardi Azra, kekolotan pesantren dalam mentransfer hal-hal yang berbau modern itu merupakan sisa-sisa dari respon pesantren terhadap kolonial Belanda.4

Akan tetapi pondok pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan yang berada pada lingkungan masyarakat Indonesia dengan model pembinaan yang sarat dengan pendidikan nilai, baik nilai agama maupun nilai-nilai luhur bangsa. Sehingga pesantren menjadi sebuah lembaga yang sangat efektif dalam pengembangan pendidikan karakter (akhlak) peserta didik. Seperti ungkapan Sauri yang menyatakan bahwa “pendidikan karakter di pesantren lebih efektif dibandingkan dengan pendidikan

karakter di persekolahan”. Di Pesantren, model pembinaan pembelajaran yang dilaksanakan bersifat kholistik, tidak hanya mengembangkan kemampuan kognitif, akan tetapi aspek afektif dan psikomotorik siswa terasah dengan optimal.5

Melalui bidang pendidikan pesantren, Pondok Pesantren al-Amanah al-Gontory sebagai lembaga pendidikan melakukan tranformasi sosial budaya. Untuk itu Pondok Pesantren al-Amanah al-Gontory menyelenggarakan beberapa lembaga pendidikan. Baik lembaga pendidikan sekolah maupun lembaga pendidikan luar sekolah, yang dibentuk dalam bentuk kultur pesantren yang baik.

Pendidikan yang dilaksakan di Pondok Pesantren Amanah al-Gontory di kemas dalam pembinaan yang integratif antara pendidikan asrama dan lembaga formal. Artinya terjadi proses saling mendukung dan

4Hanun Asrohah, Op.Cit ,hal 186

(15)

melengkapi antara pendidikan yang dilaksanakan di asrama santri dengan pendidikan dan pembinaan di lembaga formal. Pendidikan dan pembinaan yang dilakukan di sekolah diperdalam di asrama santri yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan di lembaga formal. Sehinggga pendidikan formal dan non formal tercipta budaya yang saling mendukung.

Hal inilah yang mendorong peneliti untuk meneliti kultur budaya bina santri Pendidikan Pesantren al-Amanah al-Gontory, karena kultur merupakan suatu yang penting dalam menjalankan aktifitas pesantren sebagai roda dalam mewujudkan tujuan ideal yang di cita-citakan sesuai dengan kebutuhan yang kemudian diperlakukan di Pondok Pesantren tersebut. Jika diamati kultur budaya mempunyai peranan penting dalam kehidupan dan perkembangan manusia karena kultur budaya merupakan wahana dimana anak-anak manusia untuk pertama kali dan seterusnya mengalami proses pembelajaran menjadi manusia melalui interaksinya dengan sesamanya, alam yang maha tinggi dalam kehidupan sehari-hari yang kongkret dan apa adanya. Itulah sebabnya kebudayan disebut sebagai (life world). Pun juga budaya mempunyai peranan penting dalam proses membentuk nilai-nilai karakter santri. Apalagi dalam linkungan pondok pesantren. Dengan paparan latar belakang diatas peneliti ingin mengetahui secara jelas tentang ”Korelasi Kultur Pesantren Terhadap Pembentukan

Karakter Santri ” Studi Kasus Di Pondok Al-Amanah al-Gontory.

B.

Identifikasi Masalah

Dari uraian singkat di atas, penulis mengidentifikasi beberapa permasalahan yang terkait dengan penelitian ini, diantaranya adalah:

1. Kultur Pesantren .

(16)

2. Proses pendidikan dalam pesantren

Pendidikan pesantren merupakan pendidikan paripurna ,dimana santri dididik selama 24 jam. Apa yang santri lihat, dengar, dan rasakan didalamnya merupakan sebuah pendidikan. Dan pendidikan pesantren membentuk akal dan hati, dipersiapkan untuk bekal menjadi orang yang pintar dan benar.

3. Tujuan Pesantren.

Tujuan pendidikan yang hakiki adalah mencapai akhlak yang sempurna. Hal ini sejalan dengan cita-cita para ulama dalam mendirikan pondok pesantren, yaitu terbentuknya insan kamil.

4. Lingkungan Pesantren.

Selain sistem pesantren dan disiplin yang membentuk karakter dan bentuk pendidikan pesantren, lingkungan pesantren merupakan salah satu yang bisa dikatakan berhasil atau tidaknya sistem yang diterapkan di pesantren bisa terlihat dari baik atau tidaknya penciptaan yang baik lingkungan pesantren tersebut.

5. Sejarah pesantren

Jas Merah, Jangan lupakan Sejarah” Soekarno pernah mengatakan .Bangsa yang besar yang tidak melupakan akan sejarahnya. Begitu pula dengan pesantren, setiap pesantren pasti memiliki sejarah. Dan kita akan membahas bagaimana sejarah pesantren di nusantara.

6. Pengertian Karakter

Hasil ahir dari pendidikan pesantren adalah pembentukan karakter para santri, sebaik apapun sistem pendidikan pesantren tetapi jika tidak menjadikan santri yang memiliki karakter yang baik maka sistemnya diragukan.

7. Unsur-Unsur Karakter.

Dilihat dari asal katanya, “karakter” merupakan sebuah konsep yang

(17)

membentuk sebuah pesantren adalah : sikap, emosi, kepercayaan, dan kebiasaan.

C.

Pembatasan Masalah

Dari latar belakang masalah yang diuraikan di atas dapat diketahui bahwa pada masa modern ini, dunia pendidikan Islam masih dihadapkan kepada beberapa problem pendidikan. Agar masalah yang diteliti lebih terarah dan tidak keluar dari jalur pembahasan, maka penulis memberi batasan masalahnya sebagai berikut:

1. Kultur pondok modern Al-Amanah al-Gontory.

2. Korelasi antara kultur pesantren dengan pembinaan karakter santri . 3. Objek yang diteliti adalah santri dan pengajar Al-Amanah alGontory.

D.

Perumusan Masalah

Berdasarkan judul di atas, maka pokok masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Adakah korelasi yang positif dan signifikan antara kultur Pesantren al-Amanah al-Gontory.terhadap terbinanya karakter santri ?

E.

Tujuan Penelitian

Dalam penulisan penelitian ini, penulis bertujuan untuk menemukan jawaban kuantitatif terhadap pertanyaan-pertanyaan utama yang tersimpul dalam rumusan masalah. Lebih rinci tujuan penelitian ini pada garis besarnya ada dua, yaitu :

1. Menguji korelasi antara variabel x tentang kultur pesantren dengan variabel y karakter santri.

(18)

F.

Manfaat Penelitian

(19)

7

KAJIAN TEORITIK

A.

Tinjauan Tentang Pondok Pesantren

1. Pengertian Pondok Pesantren

Pondok pesantren merupakan dua istilah yang menunjukkan satu pengertian. Pesantren menurut pengertian dasarnya adalah tempat belajar para santri, sedangkan pondok berarti rumah atau tempat tinggal sederhana terbuat dari bambu. Di samping itu, kata pondok mungkin berasal dari Bahasa Arab Funduq yang berarti asrama atau hotel. Di Jawa termasuk Sunda dan Madura umumnya digunakan istilah pondok dan pesantren, sedang di Aceh dikenal dengan Istilah dayah atau rangkang atau meunasah, sedangkan di Minangkabau disebut surau.1

Sedangkan istilah pesantren secara etimologis berarti pe-santrian yang berarti tempat santri, Pondok pesantren adalah suatu lembaga keagamaan yang memberikan pendidikan dan pengajaran serta mengembangkan dan menyebarkan ilmu agama Islam. Pesantren berarti tempat para santri.2 Poerwadarminta mengartikan pesantren sebagai asrama dan tempat murid-murid belajar mengaji.3 Louis Ma'lûf mendefinisikan kata pondok sebagai "khôn" yaitu "setiap tempat singgah besar yang disediakan untuk menginap para turis dan orang-orang yang berekreasi."4 Pondok juga bermakna "rumah sementara waktu seperti yang didirikan di ladang, di hutan dan sebagainya."5

1

Nurcholis Madjid, Bilik-Bilik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan, (Jakarta: Paramadina, 1997), hal.5

2

Zamakhsyari Dhafier, Tradisi Pesantren, (Jakarta: LP3ES, 1982 ), h. 18. 3

WJS. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1982), h. 764.

4

Louis Ma'lûf, Kamus Munjid, ( Beirut: Dâr al-Mishria ), 1986, h. 597.

(20)

Imam Zarkasyi mendefinisikan pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan agama islam yang wajib mengunakan system asrama atau pondok, dimana kyai sebagai figur sentralnya, masjid sebagai pusat kegiatan yang menjiwainya karena semua kegiatan tersentral didalamnya, serta pengajaran agama islam yang diikuti santri sebagai kegiatan utamanya.6 Menurut Manfred Ziemek, biasanya pesantren didirikan oleh para pemrakarsa kelompok belajar, yang mengadakan perhitungan dan memperkirakan kemungkinan kehidupan bersama bagi para santri dan ustad. Maka berdirilah sebuah pondok, tempat untuk hidup bersama bagi masyarakat belajar. Dengan kata "pondok" orang membayangkan "gubuk" atau "saung bambu", suatu lambang yang baik tentang kesederhanaan sebagai dasar perkiraan kelompok. Di sini guru dan murid tiap hari bertemu dan berkumpul dalam waktu yang lama bersama-sama menempuh kehidupan di pondok.7 Lebih lanjut Ziemek menilai pesantren sebagai lembaga "wiraswasta" dalam sektor pendidikan keagamaan, karena ciri-cirinya yang dipengaruhi dan ditentukan oleh pribadi para pendiri dan pimpinanannya dan cenderung mengikuti suatu pola tertentu.8

2. Model-Model Pondok Pesantren

Dalam bukunya (Pesantren Dalam Perubahan Sosial), Manfred Ziemek merinci model-model pondok pesantren menjadi lima jenis (A, B, C, D, dan E). Model A adalah model paling sederhana, di mana masjid digunakan sebagai tempat ibadah sekaligus sebagai tempat pengajaran agama. Model ini khas dengan kaum sufi (pesantren tarekat) dengan pengajaran-pengajaran yang teratur di dalam masjid dengan pengajaran pribadi oleh anggota kaum, tetapi kaum santri tidak tinggal dalam pesantren. Jenis ini adalah tingkat awal dalam mendirikan sebuah

6

Abdullah Syukri Zarkasyi, Gontor & Pembaharuan Pendidikan Pesantren, ( Jakarta : Raja Grafindo Persada,2005), Cet.ke 25, h.4

7

Manfred Ziemek, Pesantren dalam Perubahan Sosial, (Jakarta: P3M, 1986), h. 18. 8

(21)

pesantren. Di sini diterima beberapa santri untuk tinggal di rumah pendirinya (kyai).9

Model B. Bentuk dasar model ini dilengkapi dengan suatu pondok yang terpisah, yaitu asrama tempat tinggal bagi para santri yang sekaligus menjadi ruangan belajar sederhana. Pondok terdiri dari rumah-rumah kayu/bambu. Model ini memiliki semua komponen pondok pesantren "klasik" (kyai, santri, pondok dan masjid).

Model C terdiri dari komponen klasik diperluas dengan suatu madrasah, menunjukkan dorongan modernisasi. Madrasah dengan sistem kelas memberikan juga pelajaran umum. Kurikulumnya berorientasi kepada sekolah-sekolah pemerintah yang resmi. Anak-anak yang tinggal di sekitar pondok pesantren maupun para santri mukim belajar di madrasah sebagai alternatif terhadap sekolah pemerintah atau bahkan sekaligus mereka belajar di keduanya (sekolah umum/madrasah).10

Model D. Disamping perluasan komponen pesantren klasik dengan sekolah formal (madrasah) banyak pula pesantren yang memiliki program tambahan seperti keterampilan dan terapan bagi para santri dari desa-desa sekitar. Dalam sektor pertanian mereka memiliki keterampilan mengolah lahan, empang, kebun, peternakan,. Juga ada kursus-kursus seperti elektronik, perbengkelan, pertukangan kayu, dan lain-lain.11

(22)

Komunikasi intensif dan program pendidikan bersama mengaitkan podok pesantren "modern" dengan pesantren yang lebih kecil, yang didirikan dan dipimpin oleh para lulusan "pesantren-pesantren induk".12

3. Asal - Usul Pesantren

Mengenai asal-usul pesantren, para ilmuwan berbeda pendapat namun dapat dikelompokan menjadi dua; Pendapat pertama, pesantren merupakan model dari system pendidikan islam yang kesamaan system pendidikan Hindu-Budha dengan system asramanya,Pigeud berpendapat yang dikutib oleh Syukri Zarkasi dalam bukunya gontor dan pembaharuan pendidikan pesantren, bahwa pesantren adalah komunitas independent yang menyendiri di tempat yang jauh dari kehidupan masyarakat dan banyak brmukim dipegunungan dan berasal dari lembaga sejenis zaman pra-islam semacam mandala dan asrama.

Pendapat kedua mengenai asal-usul pesantren,menyatakan bahwa pesantren diadopsi dari lembaga pendidikan islam Timur Tengah.13

4. Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren

Sejarah mencatat bahwa kehadiran pesantren di Indonesia seiring dengan proses penyebaran agama Islam yang dipelopori oleh para wali .Awalnya, pesantren merupakan pusat-pusat penyebaran islam oleh para wali sambungan system zawiyah, yang menurut Imam Bawani adalah system pembelajaran atau transmisi keilmuan yang mula-mula diselengarakan di dalam secara berkelompok berdasarkan diversifikasikan aliran sehingga pada tatanan selanjutnya mengkristal menjadi aliran pemikiran agama ( school of thought ).14 Menurut riwayat yang mula-mula mendirikan pesantren adalah Maulana Malik Ibrahim. Dipondok pesantren itulah beliau mendidik guru-guru agama serta mubalig-mubalig Islam yang menyiarkan agama Islam ke seluruh pulau

12

Manfred Ziemek, Op.Cit, h.106 13

Abdullah Syukri Zarkasyi, Opcit , Cet.ke 25, h.63-64 14

(23)

Jawa.15 Diperkuat oleh S.M.N Al-Attas yang dikutib oleh Mujamil Qamar bahwa Maulana Malik Ibrahim adalah penyebar Islam pertama Islam di Jawa yang mengislamkan wilayah-wilayah pesisir utara Jawa, bahkan berkali-kali mencoba menyadarkan raja Hindu-Budha Majapahit. Vikramavardhana ( berkuasa 788-833/1386-1429) agar masuk Islam. Sementara diidentifikasikan bahwa pesantren mulai eksis sejak munculnya masyarakat Islam di Nusantara. Tetapi pesantren yang dirintis oleh Maulana Malik Ibrahim belum jelas sistemnya, maka keberadaanya pesantrenya masih dianggap spekulatif dan masih diragukan.16

Sedangkan menurut Ahmad Janan dalam artikelnya memperkuat argument sebelumnya bahwa pesantren pertama kali berdiri adalah dimasa walisongo syeikh Malik Ibrahim atau Syeikh Maulana Maghribi diangap pendiri pertama pesantren di pulau Jawa.Pada masa sebelumnya sudah ada perguruan Hindu dan Buddha dengan system biara dan asrama sebagai pendidikan Islam. Isinya dirubah dari ajaran Hindu dan Buddha menjadi ajaran Islam, dan namanya pun berganti menjadi pondok pesantren.17

Pondok pesantren yang merupakan bapak dari pendidikan Islam di Indonesia, (pesantren adalah satu-satunya lembaga pendidikan formal di Indonesia, sebelum pemerintahan kolonial Belanda memperkenalkan system pendidikan baratnya) didirikan karena adanya tuntutan zaman, hal ini dapat dilihat dari perjalanan historisnya, bahwa pesantren dilahirkan atas kesadaran kewajiban dakwah Islamiyah, yakni menyebarkan dan mengembangkan ajaran Islam, sekaligus mencetak kader-kader ulama

dan da’i.

Tentang kehadiran pesantren secara pasti di Indonesia pertama kalinya, dimana dan siapa pendirinya, tidak dapat diperoleh keterangan

15

Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia, ( Jakarta : Hidakarya Agung,1982),Cet 1, h 231

16

Mujamil Qomar, Pesantren Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi, ( Jakarta : Erlanga,2002 ), hal 8.

17

(24)

secara pasti. Berdasarkan hasil pendataan yang dilakasanakan oleh Departemen Agama Pada tahun 1984-1985 diperoleh keterangan bahwa pesantren tertua didirikan pada tahun 1062 di Pamekasan Madura dengan nama pesantren Jan Tampes II. Akan tetapi hal ini juga diragukan, karena tentunya ada pesantren Jan Tampes I yang lebih tua. Kendatipun demikian, pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang peran sertanya tidak di ragukan lagi adalah sangat besar bagi perkembangan Islam di Nusantara.18

Awal mulanya kehadiran pesantren itu, orang-orang yang masuk Islam ingin mengetahui lebih lanjut tentang ajaran agama Islam, orang ingin bisa mengerjakan sembahyang, bisa berdo’a, bisa membaca al -Quran. Dari sinilah tumbuh pendidikan agama Islam, pada mulanya mereka belajar di rumah-rumah, di langgar, di masjid dan kemudian berkembang menjadi pondok pesantren.

Kesan bahwa ajaran Islam di Jawa pada abad XVII dan XIX berada di bawah bayang-bayang Walisongo bukanlah hal yang berlebih-lebihan, bahkan selama hampir lima abad setelah periode Walisongo pengaruh mereka tetap terlihat jelas sampai sekarang. Pengaruh kuat Walisongo sepanjang abad-abad itu tampaknya bisa dipahami karena kesuksesan luar biasa dalam meng-Islamkan Jawa secara damai dan rekonsiliasinya dengan nilai dan kebiasaan lokal.

Pendekatan Walisongo secara berkesinambungan dilanjutkan dakwahnya melalui institusionalisasi pesantren, kesalehan sebagai jalan hidup santri, pemahaman yang jelas terhadap budaya asli. Salah seorang anak Jaka Tingkir, pangeran Benawa yang di perkirakan hidup pada awal abad XVII di Kudus Jawa tengah menghabiskan seluruh hidupnya dengan menjadi guru Tarekat.

Meskipun memiliki trah ningrat, dia lebih menyukai kehidupan religius dari pada terlibat dalam kehidupan keluarganya. Pilihannya tinggal di kota religius, Kudus, dan spesialisasinya dalam bidang tarekat

18

(25)

benar-benar mirip dengan keadaan pendiri kota itu, sunan kudus, yang memiliki pengetahuan tantang Islam sangat mendalam sehingga disebut Wali al-„Alim (guru ilmu).19

Seabad setelah periode Walisongo pada abad XVI, pengaruh Walisongo dikuatkan oleh Sultan Agung yang memerintah kerajaan Mataram Yogyakarta, Jawa tengah, dari tahun 1613 hingga 1645.20 Sultan Agung seorang pengusaha terbesar di Jawa setelah periode Majapahit dan Demak, dikenal juga sebagai Sultan Abdurrahman dan Khalifatullah Sayyidin Panotogomo ing Tanah Jawi, yang berarti Khalifatullah atau pemelihara danpembimbing agama di Pulau Jawa. Dia meresmikan tahun muslim Jawa baru yang di dasarkan pada peredaran rembulan pada skala 1555 (dimulai pada bulan Maret 1633 M). Oleh karena itu tahun ini menjadi tahun pertama dari sistem penanggalan muslim Jawa baru, tahun Islam 1043 H di mulai pada tanggal 8 juli 1633M, dan konsekuensinya tahun muslim Jawa baru dimulai pada hari yang sama.21

Walisongo dalam dimensi sosio-religius selalu mengembangkan kwalitas ibadah dalam masyarakat, kemasyhuran mereka sebagaimana para pemimpin keagamaan yang berpengaruh dilanjutkan dengan keutamaan ulama di mata para santri Jawa selama berabad-abad, sejak Islam menjadi agama utama di Jawa kyai benar-benar memiliki status sosio-religius yang tinggi, setidaknya ada dua macam ulama setelah periode walisongo. Pertama memegang posisi strategis dalam pemerintahan, yakni mereka yang hidup di bawah kedaulatan Sultan Agung yang berperan sebagai orang Alim di sebuah pondok pesantren. Posisi ini baik diperoleh melalui pernikahan antar keluarga raja atau melalui posisi yang ditawarkan kepada ulama yang diakui kualitasnya namun kebanyakan ulama adalah mereka yang betul-betul independen

19Abdurrahman Mas’ud,

Dari Haramain ke Nusantara, Jejak Intelektual ArsitekturPesantren, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006), hal 70.

20

Abdurrahman Mas’ud, Op.Cit, hal, 75. 21

Fahruddin, “Peran Pesantren Dalam Menjaga Keluhuran Akhlaq Remaja Di Era Modern

(26)

dari penguasa dan tinggal di pedesaan. Di Jawa, Abad XVIII dapat disaksikan sebuah kesinambungan yang sama tentang pendekatan dan

misi Walisongo Da’i tangan ulama itu, bahkan di Madura pada awal abad

XIX juga terlihat sama akan signifikansi Walisongo dalam kehidupan social muslim.

Dilaporkan bahwa sebelum kelahiran bayi Khalil Bangkalan (1891- 1925 M) ayahnya H. Abd. Latif, seorang kyai di Bangkalan yang mempunyai lembaga pondok pesantren, memohon kepada Allah supaya kelak bayinya menjadi wali terkenal seperti Sunan Gunung Jati, salah seorang walisongo di Jawa Barat. Menurut pemikiran para santri, doa tampak selalu merupakan bagian yang esensial dalam kehidupan keagamaan mereka.22 Mereka percaya bahwa berdoa selalu memiliki manfaat, karena Al-Quran memuat banyak ajaran tentang doa. Ketika penguasa muslim Jawa cendrung menjadi pendukung ilmu pengetahuan Islam, tradisi akademik dalam masyarakat sangat tampak. Pada abad XVII dan XVIII, tradisi orang Jawa melakukan perjalanan dalam rangka belajar di pondok pesantren terus tumbuh subur dengan munculnya kelompok sarjana-sarjana muslim baru dan para sufi yang tersebar di seluruh Jawa, khusunya di daerah pesisir utara. Para santri pengelana pergi dari satu pesantren ke pesantren lainnya dalam rangka menuntut ilmu pengetahuan dari seorang guru yang lebih terkenal. Bahwa tradisi ini tumbuh subur mungkin dari fertilisasi cross-cultural (proses perkawinan antar budaya) dengan tradisi Islam dimana thalab al-ilmu (mencari ilmu) merupakan sebuah ciri khas utama dari sistem pendidikan klasik dan banyak memberikan sumbangan terhadap persatuan Islam. Patut diperhatikan bahwa tradisi menuntut ilmu pengetahuan di Jawa pada abad XVII hingga XIX di tunjukan secara jelas dengan adanya sebuah catatan lokal yang ditulis pada seperempat pertama abad XIX yaitu kitab Tjentini. 23

22Abdurrahman Mas’ud

, Op.Cit , h.183 23Abdurrahman Mas’ud.

(27)

Pada masa penjajahan kolonial Belanda, yaitu sekitar abad ke-XVII-an nama peske-XVII-antren sebagai lembaga pendidikke-XVII-an rakyat terasa ske-XVII-angat berbobot terutama dalam bidang penyiaran agama Islam. Kelahiran pesantren baru selalu diawali dengan cerita perang nilai antara pesantren yang akan berdiri dengan masyarakat sekitarnya, dan diakhiri dengan kemenangan pihak pesantren sehingga pesantren dapat di terima untuk hidup di sebuah masyarakat, dan kemudian menjadi panutan bagi masyarakat sekitarnya dalam bidang kehidupan moral.

Pesantren berhasil menjadikan dirinya sebagai pusat pergerakan pengembangan Islam, hal ini seperti yang diakui oleh Dr. Soebardi dan Prof.Johns, yang di kutip oleh Zamakhsyari Dhofier dalam bukunya ”tradisi pesantren”.

“Lembaga-lembaga pesantren itulah yang paling menentukan watak

ke Islaman dari kerajaan-kerajaan Islam, dan yang memegang peranan paling penting bagi penyabaran Islam sampai ke pelosokpelosok. Dari lembaga-lembaga pesantren itulah asal usul sejumlah manuskrip tentang pengajaran Islam di Asia Tenggara yang tersedia secara terbatas, yang di kumpulkan oleh pengembara-pengembara pertama dari perusahaan-perusahaan dagang Belanda dan Inggris sejak akhir abad ke 16. untuk dapat betul-betul memahami sejarah Islamisasi di wilayah ini, kita harus mulai memperlajari lembagalembaga pesantren tersebut, karena lembaga inilah yang menjadi anak panah penyebaran Islam di wilayah ini’’24 Walaupun pada masa penjajahan, pondok pesantren mendapat tekanan dari pemerintah kolonial Belanda, pondok pesantren masih bertahan terus dan tetap tegak berdiri, walaupun sebagian besar berada di pedesaan, Peranan pendidik dalam mencerdaskan kehidupan bangsa tetap diembannya. Telah banyak tokoh pejuang dan pahlawan-pahlawan kemerdekaan yang berasal dari pesantren. Dalam sejarah perjuangan mengusir penjajahan di Indonesia, pondok pesantren banyak memberi

24

(28)

andil dalam bidang pendidikan untuk memajukan dan mencerdaskan rakyat Indonesia. Perjuangan ini dimulai oleh Pangeran Sabrang Lor (Patih Unus), Trenggono, Fatahillah (jaman kerajaan Demak) yang berjuang mengusir Portugis (abad ke 15), diteruskan masa Cik Ditiro, Imam Bonjol, Hasanuddin, Pangeran Antasari, Pangeran Diponegoro, dan lain-lain sampai pada masa revolusi fisik tahun 1945.25

Dalam perkembangannya, pondok pesantren sangat pesat, pada zaman Belanda saja jumlah pesantren di Indonesia besar kecil tercatat sebanyak 20.000 buah.26 Perkembangan selanjutnya mengalami pasang surut, ada daerah tertentu yang membuka pesantren baru, ada pula pesantren di daerah lain yang bubar karena tidak begitu terawat lagi.

5. Tujuan Pondok Pesantren

Masing-masing pondok pesantren memiliki tujuan pendidikan yang berbeda, sering kali sesuai dengan falsafah dan karakter pendirinya. Sekalipun begitu setiap pondok pesantren mengemban misi yang sama yakni dalam rangka mengembangkan dakwah Islam, selain itu di karenakan pondok pesantren berada dalam lingkungan Indonesia, setiap pondok pesantren juga berkewajiban untuk mengembangkan cita-cita dan tujuan kehidupan berbangsa sebagaimana tertuang dalam falsafah negara; Pancasila dan UUD 1945. Menurut Manfred Ziemek yang dikutib oleh Mujamil Qamar dalam bukunya pesantren dari trasformasi metodologi menuju demokratisasi institusi tujuan pesantren adalah membentuk kepribadian memantapkan akhlak dan melengkapinya dengan pengetahuan.27

Menurut Mastuhu yang dikutib oleh M,Dian Nafi dkk tujuan utama pendidikan pesantren adalah mencapai hikmah atau wisdom ( kebijaksanaan) berdasarkan pokok ajaran islam yaitu memahami dan

25

Nawawi, Sejarah Dan Perkembangan Pesantren”, Jurnal Study Islam Dan Budaya, 2006. 26

Hasbullah. Op.Cit, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada) hal,43. 27

(29)

meningkatkan tentang arti kehidupan serta merealisasikan semua peran-peran dan tangung jawab social.28

Secara umum tujuan pendidikan pondok pesantren adalah membimbing anak didik untuk menjadi manusia yang berkepribadian Islam yang sanggup dengan ilmu agamanya menjadi Muballigh Islam dalam masyarakat sekitar melalui ilmu dan amalnya.

Sedangkan secara khusus tujuan pondok pesantren adalah

mempersiapkan para santri untuk menjadi orang yang „alim dalam ilmu

agama yang diajarkan oleh kyai yang bersangkutan serta mengamalkan dalam masyarakat sebagaimana yang telah dikembangkan dalam pondok pesantren Modern.

Tujuan pendidikan pondok pesantren di atas senada dengan tujuan pondok pesantren yang di paparkan oleh M. Arifin yang dikutip oleh Hasbullah dalam bukunya ”Kapita Selekta Pendidikan” (Khusus dan Umum)29 Bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang berusaha menciptakan kader-kader Muballigh yang diharapkan dapat meneruskan misinya dalam hal dakwah Islam disamping itu juga di harapkan bahwa mereka yang berstudi di pesantren menguasai betul ilmu-ilmu ke-Islaman yang diajarkan oleh para kyai.

Adapun tujuan pendidikan pondok pesantren, tidak boleh lepas dari tujuan pendidikan nasional menurut Undang-Undang No.2 tahun 1989

adalah untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan

28 M.Dian Nafi’ dkk

, Praktis Pembelajaran Pesantren, (Yogjakarta:Lkis Pelangi Aksaran,2007),cet 1, h, 49.

29

(30)

6. Pengertian Kultur Pesantren

Kamus Sosiologi Modern menyatakan bahwa kultur adalah totalitas dalam sebuah organisasi, way of life, termasuk nilai-nilai, norma-norma dan karya-karya yang diwariskan antar generasi. Kultur merupakan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh individu dan kelompok yang dapat ditunjukkan oleh perilaku organisasi yang bersangkutan.30

Secara sederhana, Deal (1985: 605) mendefinisikan kultur sekolah sebagai satuan pendidikan dengan “cara kita berbuat di sini.’ Jika ditransformasi ke pesantren, maka definisi ini dapat kita kemukakan

menjadi „cara kita berprilaku di dalam atau sekitar pesantren.31 Vygotsky menyatakan bahwa kemampuan kognitif seseorang berasal dari hubungan sosial dan kultur. Baik itu kultur individual maupun hubungan pendidikan dengan perkembangan berperan penting dalam perkembangan kognitif karena memberi dasar untuk menyimpulkan asumsi dasar tentang pembelajaran. Menurut Vygotsky, kultur bukan hanya memberi latar untuk pengembangan kognitif individual. Kultur juga memberi simbol-simbol kultural (perangkat psikologis) dan anak belajar berpikir dengan bentuk penalaran ini.32

Menurut Antropolog Clifford Geertz, salah satu ilmuwan Yang memberikan sumbangan penting dalam mendeskripsikan tentang pengertian kultur Pesantren Mengemukakan bahwa kultur pesantren dapat dideskripsikan sebagai pola nilai-nilai, ritual, mitos dan kebiasaan-kebiasaan yang dibentuk dalam perjalanan panjang pesantren,33 atau suatu perilaku, nilai- nilai, sikap hidup, dan cara hidup untuk melakukan

30

Rika Rachmita Sujatma, “Pengembangan Kultur Sekolah”, Jurnal Pendidika, Jakarta, h 55, 2008.

31

H.M.Sulton Masyhud dan Moh.Khusnurdilo, .Manajement Pondok Pesantren, (Diva Pustaka Jakarta ,2005 ) h, 26.

32

Zuhrati, Pengalaman Mengenai Peran Kultur, 2013, ( www..Zuhrati 10069.Blogspot.com), 33

(31)

penyesuaian dengan lingkungan dan sekaligus cara untuk me mandang persoalan dan memecahkannya.

Dan dari uraian diatas akhirnya dapat diambil kesimpulan bahwa kultur pesantren itu mengandung nilai-nilai, perilaku, pembiasaan, yang dengan sengaja dibentuk atau diciptakan oleh pengasuh pesantren dalam pembinaan dan pendidikan pesantren untuk mencapai tujuan yang diinginkan oleh lembaga pendidikan dalam pesantren tersebut.

7. Fungsi Kultur Pesantren

Berdasarkan definisi yang telah dikemukakan di atas, maka fungsi kultur pesantren adalah:34

1) Sebagai identitas dan citra suatu lembaga pendidikan yang membedakan antara pesantren yang satu dengan pesantren yang lain. Identitas ini terbentuk oleh berbagai faktor, seperti sejarah, kondisi, dan system nilai dilembaga tersebut.

2) Sebagai sumber, Kultur pesantren merupakan sumber inspirasi, kebanggaan dan sumber daya yang dapat dijadikan arah kebijakan (strategi) lembaga pendidikan tersebut.

3) Sebagai pola perilaku , dimana kultur pesantren menentukan batasbatas perilaku yang telah disepakati oleh seluruh warga pesantren.

4) Sebagai mekanisme adaptasi terhadap perubahan lingkungan.Dalam dunia yang berubah dengan amat pesat, kunci keberhasilan suatu organisasi umum maupun lembaga pendidikan dalam meningkatkan efektivitasnya terletak pada fleksibilitas dan kemampuan inovatifnya. Oleh karena itu lembaga pendidikan mau tidak mau harus berani melakukan perubahan guna peningkatan mutu lembaga tersebut. Dan salah satu jalan untuk melaksanakan strategi perubahan tersebut adalah dengan merubah kultur dilembaga pendidikan itu.

34

(32)

5) Sebagai tata nilai. Kultur pesantren merupakan gambaran perilaku yang diharapkan dari warga pesantren dalam mewujudkan tujuan institusi pendidikan tersebut. Tata nilai yang dimaksud disini adalah aktualisasi dari keyakinan seseorang sebagai pemberian makna terhadap pekerjaan dan sebagai pengabdian kepada Tuhan YME, karena perilaku yang luhur diajarkan menurut ajaran ketuhanan yang diwujudkan melalui suatu pekerjaan.

8. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kultur Pesantren

Adapun yang faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan kultur pesantren adalah sebagai berikut:

1) Faktor internal. a. Pendiri organisasi

Sumber kultur pesantren yang utama adalah para pendiri lembaga pendidikan itu. Dimana pembentukan institusi pendidikan oleh pendirinya didasarkan pada visi dan misi para pendiri itu. Para pendiri institusi memandang dunia disekitarnya menurut nilai yang termuat didalam hidupnya, latar belakang sosial,lingkungan dimana ia dibesarkan serta jenis dan tingkat pendidikan formal yang pernah ditempuhnya.35

b. Aspek- aspek lembaga pendidikan

Adapun yang dimaksud aspek-aspek pendidikan disini adalah tenaga pengajar, administrasi, manajerial, dan lingkungan dalam lembaga itu. Apabila suatu perubahan atau pengembangan lembaga pendidikan perlu dilaksanakan dengan menerapkan beberapa kebijakan yang baru, maka strategi untuk implementasi kebijakan tersebut adalah dengan cara merubah kultur dilembaga itu. Akan tetapi berhasil tidaknya perubahan kultur itu tergantung pada tepat tidaknya strategi lembaga pendidikan tersebut dalam mengatur seluruh aspek lembaga pendidikan, seperti bentuk dan jenis kegiatan apa yang perlu dilakukan serta apa kegiatan

35

(33)

pendukung yang perlu dilakukan. Kesemuanya itu harus tercakup dalam strategi lembaga pendidikan yang bersangkutan.36

2) Faktor eksternal

Kiranya masih relevan untuk menekankan bahwa pesatnya perkembagan IPTEK yang perkembangannya melalu pergeseran paradigma sehingga hal ini berdampak sangat kuat terhadap berbagai bidang kehidupan, termasuk pada dunia pendidikan. Dengan demikian, dunia pendidikan dituntut oleh masyarakat agar dapat menyesuaikan dengan perubahan itu dan hal tersebut akhirnya berpengaruh pada kebijakan pesantren yang diimplementasikan melalui kultur pesantren.

B. Pengertian Karakter Dan Unsur-Unsurnya

1. Pengertian Karakter

Dilihat dari asal katanya, “karakter” merupakan sebuah konsep yang berasal dari kata Yunani “charassein”, yang berarti mengukir sehingga terbentuk sebuah pola. Memiliki suatu karakter yang baik, tidak dapat diturunkan begitu ia dilahirkan, tetapi memerlukan proses panjang melalui pengasuhan dan

pendidikan. Dalam bahasa Arab karakter dikenal dengan istilah “akhlaq”, yang

merupakan jama’ dari kata “khuluqun” yang secara linguistik diartikan dengan budi pekeri, perangai, tingkah laku atau tabiat, tatakrama, sopan santun, adab dan tindakan (Saebani dan Hamid, 2010:13). Ibn Miskawai (W. 421H/1030 M) sebagai pakar akhlaq terkemuka menyatkaan bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.37 Sedangkan karakter menurut Simon Philips yang dikutib oleh Fathul Mu’in dalam bukunya Pendidikan

36

Taliziduhu Ndraha, Op.cit., hlm 51 37

(34)

Karakter adalah kumpulan tata nilai menuju suatu system, yang melandasi pemikiran, sikap, dan prilaku yang ditampilan.38

2. Unsur-Unsur Karakter

Ada beberapa unsur dimensi manusia secara psikologis dan sosiologis yang mempengaruhi unsur-unsur terbentuknya karakter pada manusia.Unsur-unsur ini kadang juga menunjukan bagaimana karakter seseorang .Unsur-manusia.Unsur-unsur tersebut antara lain, sikap, emosi, kepercayaan dan kebiasaan.

1.Sikap

Sikap seseorang biasanya adalah merupakan bagian dari karakternya bahkan diangap sebagai cerminan karakter seseorang tersebut. Tentu tidak selamanya benar, tetapi dalam hal tertentu sikap seseorang terhadap sesuatu yang ada dihadapanya, biasanya menunjukan bagaimana karakternya.

2.Emosi

Kata emosi berasal dari kata emovere dalam bahasa latin yang berarti (berarti luar dan movere artinya bergerak). Emosi adalah bumbu kehidupan sebab tanpa emosi ,kehidupan manusia akan terasa hambar.Manusia selalu hidup dengan berfikir dan merasa, oleh karena itu emosi merupakan salah satu bagian dari karakter.

3.Kepercayaan

Kepercayaan merupakan komponen kognitif manusia dari factor' sosiopsikologis. Kepercayaan bahwa sesuatu itu “benar”atau “ salah” atas dasar bukti, sugesti otoritas, pengalaman, dan intuisi sangatlah penting untuk membangun watak dan karakter manusia.

4.Kebiasaan dan Kemauan

38Fathul Mu’in ,

(35)

Kebiasaan adalah komponen konotatif dari factor sosiopsikologis. Kebiasaan adalah aspek perilaku manusia yang menetap, berlangsung secara otomatis, tidak direncanakan. Ia merupakan hasil pelaziman yang berlangsung pada waktu yang lama atau sebagai reaksi khas yang diulangi berkali-kali. Setiap orang mempunyai kebiasaan yang berbeda dalam menangapi stimulus tertentu. Kebiasaan memberikan pola perilaku yang dapat diramalkan. Sementara kemauan merupakan kondisi yang sangat mencerminkan karakter seseorang ,jadi kebiasaan dan kemauan adalah bagian dari unsur-unsur karakter.

5.Konsepsi Diri

Hal penting lainya yang berkaitan dengan ( pembangunan ) karakter adalah konsepsi diri. Konsepsi diri penting karena biasanya tidak semua orang acuh pada dirinya. Orang yang sukses biasanya adalah orang yang sadar bagaimana membentuk watak dan karakternya.39

C. Penelitian Terdahulu Yang Relevan

Adapun peneliti mendapatkan inspirasi dari penelitian terdahulu yang relevan adalah: Kultur pesantren dalam membentuk sumber daya manusia studi kasus di Pondok pesantren Nurul jadid Paiton Probolinggo,yang di tulis oleh saudara Zainuddin dari Uin Malang 2009. Skripsi menjelaskan tentang kultur budaya pesantren yang membentuk sumber daya manusia yang ada di dalam pesantren, bisa sumber daya santri, ustad maupun kyai sendiri.skripsi ini menekankan pengaruh kultur pesantren terhadap etos kerja dari sumber daya manusia adapun perbedaan dari skripsi penulis adalah ,penulis menekankan pembentukan karakter santri dari kultur pesantren. Dan penulis mendapatkan inspirasi penulisan kultur pesantren dari skripsi ini.

Budaya Pesantren: Persimpangan antara Keindonesaan dan Keislaman,Jurnal Pesantren ditulis oleh Saidi .Sumber kompas. Didalam jurnal ini, pesantren dalam prakteknya, pesantren memiliki wilayah intern, dan ekstern yang keduanya tak bisa dipisahkan. Karena memuat semangat keislaman, dan

39Fathul Mu’in

(36)

keindonesiaa (Nasionalisme), dan perbedaan dari jurnal dan skripsi penulis adalah didalam jurnal ini menekankan tentang kultur pesantren dari sisi perjuangan nasionalisme Indonesia ,dan penulis kultur pesantren untuk pembentukan karakter santri.

Pengalaman Mengenai Peran Kultur Terhadap Proses Belajar-Teori Vygotsky, Jurnal pendidikan ,penulis Zuhrati,Spd. Didalam jurnal ini, Vygotsky menyatakan bahwa kemampuan kognitif seseorang berasal dari hubungan sosial dan kultur. Baik itu kultur individual maupun hubungan pendidikan dengan perkembangan berperan penting dalam perkembangan kognitif karena memberi dasar untuk menyimpulkan asumsi dasar tentang pembelajaran. Menurut Vygotsky, kultur bukan hanya memberi latar untuk pengembangan kognitif individual. Kultur juga memberi simbol-simbol kultural (perangkat psikologis) dan anak belajar berpikir dengan bentuk penalaran ini. Penulis mendapatkan inspirasi dalam penulisan definisi kultur pesantren. Perbedaan antara jurnal ini dengan skripsi penulis adalah jurnal ini membahas secara utuh tentang makna dan definisi kultur saja, sedangkan penulis menuliskan kultur pesantren dan fungsinya.

Skripsi Korelasi Pendidikan Pondok Pesantren Dengan Prestasi Belajar Santri Di Mts An-nur .Khusaini UIN Malang 2006. Didalam skripsi ini dijelaskan tentang sejarah pesantren, dan pola pendidikan pesantren yang dapat meningkatkan prestasi dari hasil belajar santri. Dan penulis mendapatkan inspirasi tentang definisi pesantren dan sejarah pesantren, perbedaan antara skripsi ini dengan karya tulis penulis adalah skripsi ini lebih membahas tentang system pendidikan pesantren sedangkan penulis lebih menekankan kepada kultur pesantren.

(37)

secara umum tentang makna dan definisi pesantren sedangkan penelitian penulis dikhususkan di Pondok pesantren al-Amanah-al-Gontory.

Dari buku pendidikan karakter Konstruksi Teoritik dan Praktik, yang ditulis oleh Fatchul Mu’in. Didalam buku ini tertuliskan tentang pendidikan karakter dan urgensi pendidikan progresif dan revitalisasi peran guru dan orang tua,dan penulis mendapatkan inspirasi dalam menuliskan definisi pesantren, dan perbedaan yang terdapat dalam buku dan dan skripsi penulis adalah jika didalam buku masih dijelaskan secara umum tentang makna karakter sedangkan didalam skripsi penulis dikhususkan tentang karakter santri.

Dari buku Tradisi Pesantren yang ditulis oleh Zamakhsyari Dhofier. Didalam buku ini tertuliskan tentang studi pandangan hidup kyai dan visinya mengenai masa depan Indonesia dengan tradisi pesantren, di buku ini juga dituliskan akar dan sejarah awal pesantren dengan segala macam kultur budaya pesantren didalamnya, perbedaan antara buku ini dengan tulisan penulis adalah jika didalam buku ini masih bersifat umum dalam menjelaskan tentang sejarah dan kultur pesantren sedang penulis mengkhususkan dengan penelitian tentang pesantren di pondok pesantren Al-amanah alGontory.

Tesis, Peningkatan Mutu Prndidikan Pesantren,( Studi Komparatif atas

Pondok Ma’hadut Tholabah dan Pondok Modern Daruu Ulil Albab di

Kabupatan Tegal ) UIN jakarta penulis Ahmad Ta’rifin. Didalam tesis ini penulis menuliskan tentang bagaimana meningkatkan mutu pesantren,bagaimana meningkatkan manajerial di dalam kultur pesantren,dan peningkatan professional guru atau ustad.Penulis dalam skripsi ini mendapatkan inspirasi tentang pondok pesantren dari tesis ini, dan perbedaan tesis ini dengan tulisan penulis adalah jika didalam tesis ini dijabarkan tentang bagaimana cara meningkatkan mutu pesantren sedangkan penulis menuliskan bagaimanakah korelasi dari kultur pesantren terhadap pembinaan karakter santri.

(38)

pesantren berdasarkan undang-undang, penulis mendapatkan inspirasi tentang tujuan pesantren dan macam-macam pesantren, dan perbedaanya dengan skripsi penulis, skripsi penulis lebih menekankan pada pesantren dan kulturnya, sedangkan skripsi ini menekankan pada pesantren dan system pendidikanya. Jurnal Pesantren, Nu Online,Dengan Judul Antara Kultur Pesantren dan Kaum Intelektual Modern, penulis W.S. Abdul Aziz. Didalam jurnal ini menurut penulis. Gusdur walau dilahirkan dari ranah tradisional NU, namun pemikirannya membusur kepada arah modernis, baik dalam prespektif politik maupun wacana keagamaan. Dia mengharapkan walaupun berasal dari kultur pesantren tradisional tetap bisa berproses d kancah politik dan bisa bersaing dengan kaum modernis. Dan perbedaanya dengan skripsi penulis adalah jurnal ini lebih berbicara peran santri yang berasal dari kultur pesantren salafi terhadap perkembangan bangsa, sedang penulis menuliskan tentang kultur pesantren terhadap terbinanya karakter santri.

Journal Pendidikan,Model Pendidikan Karakter Di Perguruan Tinggi .Penulis Dasmin Budimansyah,dkk. Didalam jurnal ini dituliskan tentang bagaimana pengertian karakter,dan bagaimana menanamkan pendidikan karakter terhadap mahasiswa, penulis mendapatkan inspirasi tentang makna dan definisi karakter, dan perbedaanya dengan skripsi penulis adalah jika jurnal ini karakter mahasiswa sedangkan penulis adalah karakter santri.

D. Kerangka Berfikir

Sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, pesantren tetap saja menarik untuk dikaji dan ditelaah kembali. Pesantren adalah salah satu lembaga pendidikan Islam yang mempunyai kekhasan tersendiri serta berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya tapi juga mengandung makna keaslian kultur di Indonesia.

(39)

jam, dan apa yang mereka lihat,mereka dengar dan mereka rasakan adalah suatu pendidikan.Khususnya untuk mendidik mental dan karakter santri menjadi pribadi yang kuat iman dan kaya amal.

Karena membentuk karakter seseorang bukanlah dengan waktu yang cepat, pembentukan karakter membutuhkan proses yang panjang, serta adanya ketauladanan di lingkungan pesantren. Dengan demikian semua yang ada didalam pesantren bersunguh-sunguh menciptakan kultur pesantren yang positif dimaksudkan agar menjadi salah satu faktor yang membentuk kepribadian serta karakter santri.

Dengan kata lain kultur pesantren sangat mempengaruhi karakter santri, karena kultur merupakan identitas utama suatu lembaga atau organisasi ,dapat juga dikatakan bahwa kultur merupakan ruh yang dapat membawa kemajuan atau kemunduran suatu lembaga. Begitu pula kultur yang ada dipesantren maka dapat dikaitkan keberhasilan pembentukan karakter pesantren dipengaruhi bagaimana pembentukan kultur pesantren yang telah dipetakan oleh para pendirinya.

E. Pengajuan Hipotesis

Hipotesis pada dasarnya merupakan suatu preposisi atau anggapan yang mungkin benar dan sering digunakan untuk dasar pembuatan keputusan dan penelitian lebih lanjut. Dalam penelitian ini penulis mengajukan hipotesis sebagai berikut: “Semakin tinggi kualitas kultur pesantren maka akan semakin tinggi pula pembinaan karakter santri”. Berdasarkan hipotesis tersebut maka hipotesis alternatif (Ha) dan hipotesis nol (Ho) dapat dirumuskan. Adapun rumusan kedua hipotesis tersebut adalah sebagai berikut:

Ha: Terdapat hubungan yang signifikan antara kultur pesantren dengan terbinanya karakter santri.

(40)

28

METODOLOGI PENELITIAN

A.

Tempat Dan Waktu Penelitian

Dalam penelitian ini penulis mengambil tempat di Pondok Pesantren al-amanah al-Gontory. Penelitian dilakukan selama satu bulan , terhitung pada tanggal 26 November 2013 sampai dengan selesai.

B.

Metode Penelitian

Untuk memperoleh data, fakta dan informasi yang akan menggambarkan dan menjelaskan permasalahan tentang hubungan antara pembelajaran pendidikan agama Islam dengan akhlak siswa, maka penulis menggunakan penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif-analisis. Menurut Margono dalam bukunya Metodologi Penelitian Pendidikan

menyatakan bahwa ”Penelitian kuantitatif adalah suatu proses menemukan

pengetahuan yang menggunakan data berupa angka sebagai alat

menemukan keterangan mengenai apa yang ingin kita ketahui”.1

Di dalam metode deskriptif-analisis terdapat upaya untuk menggambarkan dan menginterpretasi objek sesuai dengan apa adanya. Dengan tujuan utama yaitu menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek atau subjek yang diteliti secara tepat.2 Metode deskriptif tidak hanya berhenti pada menggambarkan kondisi objek penelitian, tetapi juga menganalisanya berdasarkan metode, teori dan kemampuan peneliti.3

1 S. Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan: Komponen MKDK, (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), Cet. 6, h. 105.

2 Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan: Kompetensi dan Praktiknya, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), Cet. 7, h. 157.

(41)

C.

Variabel Penelitian

Dalam setiap penelitian, istilah variabel tidak pernah ketinggalan. Menurut Y.W.Best yang disebut variabel penelitian adalah kondisi-kondisi atau serentiristik-serentiristik yang oleh peneliti dimanipulasikan,dikontrol atau diobservasikan dalam suatu penelitian.4

Dalam penelitian ini penulis mencari korelasi antara sistem pesantren al-Amanah al-Gontory dengan suasana belajar santri .Ini berarti ada variabel yaitu :

1. Definisi Teoritis Kultur Pesantren sebagai variabel bebas ( independent Variabel). Dalam penelitian ini kultur pesantren ibarat kendali situasi terkondisinya suasana belajar yang kondusif.

2. Definisi Oprasional Karakter santri sebagai variabel terikat ( Dependent Variabel ). Maka karakter santri menjadi salah satu dampak hasil pendidikan pesantren termasuk dari kultur budaya pesantren .

(42)

Tabel 1

Variabel Penelitian

NO VARIABEL DIMENSI INDIKATOR

(43)
(44)
(45)
(46)
(47)

D.

POPULASI DAN SAMPEL.

1. POPULASI

Adalah keseluruhan subyek penelitian.5 Populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas satu Mts Ponpes Amanah al-Gontory berjumlah 405 .

2. SAMPEL

Adalah bagian dari populasi yang dianggap dapat mewakili populasi yang diteliti.6 Sampel yang akan diambil adalah 20 % dari populasi yaitu 50 orang siswa. Menurut Suharsimi Arikunto di dalam bukunya “ Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan praktek” dijelaskan bahwa apabila subjeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10%-15% atau 20%-25% atau lebih. Tekhnik yang digunakan dalam mengambil sampel adalah sampel random atau acak.Penulis mengambil jumlah 15% dari jumlah keseluruhan yaitu 60 orang santri.

E.

Teknik Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data, penulis mengunakan beberapa teknik yaitu : 1. Observasi

Observasi yaitu suatu alat pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diselidiki.7 Dalam hal ini penulis mengambil dari observasi tentang bagaimana budaya

5 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2010), Cet. 14, hal. 173

6 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2010), Cet. 14, hal. 174

(48)

kultur pesantren dari segi disipilin pesantren, kultur organisasi, sikap santri-santrinya dan segala bentuk yang mengacu pada kultur dan karakter pesantren. 2. Interview

Wawancara adalah proses tanya jawab penelitian yang berlangsung secara lisan dua orang atau lebih bertatap muka mendengarkan secara langsung informasi-informasi atau keterangan-keterangan.8 Adapun pihak yang diwawancarai adalah Kepala sekolah. Mengenai adakah korelasi antara kultur pesantren dengan pembentukan karakter santri.

3. Dokumentasi

Metode dokumentasi ini digunakan sebagai usaha penulis untuk mendapatkan data-data mengenai keberadaan sekolah yang sedang diteliti dan data jadwal kegiatan santri dengan tujuan untuk melengkapi penelitian tersebut sehingga terdapatlah data yang signifikan. Adapun data-data ini diperoleh dari bagian data di pondok tersebut.

4. Angket (Questionnaire)

Metode angket adalah suatu daftar yag berisikan rangkaian pertanyaan mengenai sesuatu masalah atau bidang yang akan diteliti untuk memperoleh data, angket ini disasarkan kepada responden (santri kelas I).9 Dengan menggunakan teknik angket, pengumpulan data sebagai data penelitian jauh lebih praktis, menghemat waktu dan tenaga, tidak memerlukan kehadiran peneliti, dapat dibagikan secara serempak kepada semua responden. Dan untuk mendapatkan data tentang korelasi kultur pesantren terhadap karakter santri.

8 Ibid, h. 83

(49)
(50)
(51)
(52)

F.

Teknik Pengolahan dan Analisa Data

a. Teknik Pengolahan Data

Setelah data terkumpul dengan lengkap,tahap selanjutnya data yang terkumpul kemudian diolah dan dianalisis untuk menjawab masalah dan hipotesa penelitian. Dalam hal ini penulis melakukan pengolahan data dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Editing Data

Mengedit adalah memeriksa daftar pertanyaan yang telah diserahkan oleh para pengumpul data.Dimana tujuanya adalah untuk mengurangi kesalahan atau kekurangan yang ada di dalam daftar pertanyaan yang sudah diselesaikan sampai sejauh mungkin.10

2. Kooding

Kooding adalah mengklasifikasikan jawaban-jawaban dari para responden kedalam karegori-kategori .Biasanya klasifikasi dilakukan dengan cara memberi tanda/kode berbentuk angka pada masing-masing jawaban.11 Untuk lebih memudahkan dalam menyimpulkan hasil penelitian dari setiap variabel,maka dari jawaban angket yang hanya berupa angka dideskripsikan dengan kata-kata, yaitu :

10

Ibid,h.153

11

(53)

Tabel 3

Uji validitas untuk mengetahui tingkat kevalidan suatu instrumen yang diperoleh dari angket (kuesioner) untuk mendapatkan data tentang variabel kultur pesantren dan karakter santri. Pengujian validitas dilakukan menggunakan program SPSS 20 dengan metode Korelasi Product Moment dari Pearson, dengan melihat angka koefisien korelasi (r) yang menyatakan hubungan antara skor per item dengan skor total. Dengan rumus sebagai berikut:12

√ |

Keterangan:

rxy : Angka Indeks Korelasi “r” product Moment N : Number of Cases

∑XY : Jumlah hasil perkalian skor X dan Y

∑X : Jumlah seluruh skor X

∑Y : Jumlah seluruh skor Y

(54)

2. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas berfungsi untuk meyakinkan apakah instrumen yang dipakai dapat dipercaya untuk menggali data atau tidak. Pengujian reliabilitas dilakukan menggunakan program SPSS 20 dengan koefisien Cronbach‟s Alpha dan corrected item total correlation dengan rumusnya yaitu:13

[ ] [

Dimana, rumus Varians:

r = Realibilitas instrumen/koefisien alfa k = Banyaknya butir soal

= Jumlah varians butir = Total varians

N = Jumlah responden 3. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data yang dimiliki peneliti berdistribusi normal atau tidak normal. Uji normalitas yang digunakan dalam perhitungan data penelitian ini menggunakan program SPSS 20 dengan ujiLiliefors dengan rumus:14

Keterangan:

Lh = Nilai Liliefors hitung F(z) = Peluang angka baku S(z) = Proporsi angka baku

Untuk mengetahui apakah sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak, maka nilai Lh dibandingkan dengan nilai kritis L (Ltabel/ Lt)

13 Syofian Siregar, Op. Cit, cet. 1, h. 117. 14 Syofian Siregar, Op. Cit, cet. 1, h. 163.

Figur

TABEL 2 Kisi-kisi soal Angket
TABEL 2 Kisi kisi soal Angket . View in document p.49
Tabel 3      Pengukuran Secara Deskripsi
Tabel 3 Pengukuran Secara Deskripsi . View in document p.53
Besarnya “r” Product Moment Tabel 3.3 Interpretasi
Besarnya r Product Moment Tabel 3 3 Interpretasi . View in document p.57
Tabel 4,4 Penggolongan Kultur Pesantren
Tabel 4 4 Penggolongan Kultur Pesantren . View in document p.63
Tabel 4,5
Tabel 4 5 . View in document p.64
Tabel 4.7 Nilai
Tabel 4 7 Nilai . View in document p.65
Tabel 4.8 Penggolongan Kultur Pesantren
Tabel 4 8 Penggolongan Kultur Pesantren . View in document p.66
Tabel 4.10
Tabel 4 10 . View in document p.67
Tabel 4.11
Tabel 4 11 . View in document p.69
Tabel 4.12
Tabel 4 12 . View in document p.71
Tabel 4.15
Tabel 4 15 . View in document p.72
Tabel 4.14
Tabel 4 14 . View in document p.72
Tabel 4.18
Tabel 4 18 . View in document p.75
Tabel 4.19
Tabel 4 19 . View in document p.76

Referensi

Memperbarui...

Lainnya : KORELASI KULTUR PESANTREN TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER SANTRI. Di Pondok Pesantren al-Amanah al-Gontory Latar Belakang Masalah KORELASI KULTUR PESANTREN TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER SANTRI. Di Pondok Pesantren al-Amanah al-Gontory Identifikasi Masalah KORELASI KULTUR PESANTREN TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER SANTRI. Di Pondok Pesantren al-Amanah al-Gontory Tujuan Penelitian KORELASI KULTUR PESANTREN TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER SANTRI. Di Pondok Pesantren al-Amanah al-Gontory KAJIAN TEORITIK Manfaat Penelitian Tinjauan Tentang Pondok Pesantren Pengertian Karakter Dan Unsur-Unsurnya Penelitian Terdahulu Yang Relevan Tempat Dan Waktu Penelitian Metode Penelitian Variabel Penelitian POPULASI DAN SAMPEL Teknik Pengumpulan Data Deskripsi Data KORELASI KULTUR PESANTREN TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER SANTRI. Di Pondok Pesantren al-Amanah al-Gontory Karakteristik Variabel. KORELASI KULTUR PESANTREN TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER SANTRI. Di Pondok Pesantren al-Amanah al-Gontory Kum KORELASI KULTUR PESANTREN TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER SANTRI. Di Pondok Pesantren al-Amanah al-Gontory Pengujian Persyaratan Analisis Data. Uji Hipotesis. KORELASI KULTUR PESANTREN TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER SANTRI. Di Pondok Pesantren al-Amanah al-Gontory Pembahasan Hasil Penelitian . KORELASI KULTUR PESANTREN TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER SANTRI. Di Pondok Pesantren al-Amanah al-Gontory Kesimpulan KORELASI KULTUR PESANTREN TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER SANTRI. Di Pondok Pesantren al-Amanah al-Gontory