PENAMBAHAN MINYAK BIJI BUNGA MATAHARI
TERHADAP PROFIL DARAH DOMBA GARUT
BETINA PADA STATUS FAAL BERBEDA
ANY ANGGRAENY
DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul Penambahan Minyak Biji Bunga Matahari Terhadap Profil Darah Domba Garut Betina pada Status Faal Berbeda adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari kaya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, September 2013
ABSTRAK
ANY ANGGRAENY. Penambahan Minyak Biji Bunga Matahari Terhadap Profil Darah Domba Garut Betina pada Status Faal Berbeda. Dibimbing oleh DEWI APRI ASTUTI dan LILIS KHOTIJAH.
Minyak biji bunga matahari salah satu lemak yang dapat digunakan sebagai sumber energi. Penelitian dilakukan untuk melihat pengaruh pemberian minyak biji bunga matahari pada 8 domba garut betina calon induk dengan bobot badan 22.12±1.69 kg saat prakawin, bunting, dan laktasi dengan rancangan acak lengkap pola tersarang (nested design). Status faal (prakawin, bunting, dan laktasi) tersarang pada 2 perlakuan, tanpa minyak biji bunga matahari dan dengan penambahan 4% minyak biji bunga matahari pada ransum dengan 4 ulangan. Parameter yang diamati yaitu konsumsi bahan kering, protein kasar, lemak kasar, dan profil darah (hemoglobin, hematokrit, eritrosit, leukosit, Mean corpuscular volume (MCV), Mean corpuscular hemoglobin concentration (MCHC), dan deferensiasi leukosit). Penambahan minyak biji bunga matahari 4% dalam ransum tidak mempengaruhi profil darah, pada status bunting dan laktasi jumlah eritrosit dan persentase basofil cendrung meningkat. Konsumsi bahan kering, protein kasar, dan lemak kasar domba bunting dan laktasi sangat nyata lebih tinggi dari domba prakawin. Konsumsi lemak kasar pada domba yang diberikan 4% minyak biji bunga matahari lebih nyata lebih tinggi dari kontrol. Kesimpulan dari penelitian ini penambahan minyak biji bunga matahari 4% dalam ransum tidak mengganggu hematologi domba induk saat prakawin, bunting, dan laktasi.
Kata kunci: domba betina, minyak biji bunga matahari, profil darah, status faal ABSTRACT
ANY ANGGRAENY. Addition of Sunflower Seed Oil To Garut Ewe Blood Profile In Different Physiological Status. Supervised by DEWI APRI ASTUTI and LILIS KHOTIJAH.
Sunflower seed oil is one of fat that can be used as an energy sources. The study was conducted to evaluate the effect of sunflower seed oil in premating, pregnant and lactation in eight Garut ewes with body weight 22.12±1.69 kg used in completely randomized nested design. The status of physiology (premating, pregnant, and lactation) nested in two treatment, control (without sunflower seed oil) and 4% sunflower oil addition in the ration with four replications. The parameters observed were dry matter, crude protein, crude fat intake, and blood profiles (haemoglobin, hematocrit, erythrocytes, leukocytes, MCV, MCHC, and leukocyte differentiation). Result showed that the addition of 4% sunflower seed oil was not affected to blood hematology, but the status of pregnant and lactation tends to increase erythrocytes and percentage of basophils. Dry matter, crude protein, and crude fat intake in pregnant and lactating ewes were higher than premating. Crude fat intake in 4% sunflower seed oil treatment was higher than control. It was concluded that the addition of 4% sunflower seed oil was not interfere blood hematology in premating, pregnant, and lactation ewes.
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan
pada
Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan
PENAMBAHAN MINYAK BIJI BUNGA MATAHARI
TERHADAP PROFIL DARAH DOMBA GARUT
BETINA PADA STATUS FAAL BERBEDA
ANY ANGGRAENY
DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
Judul Skripsi : Penambahan Minyak Biji Bunga Matahari Terhadap Profil Darah Domba Garut Betina pada Status Faal Berbeda
Nama : Any Anggraeny NIM : D24090017
Disetujui oleh
Prof Dr Ir Dewi Apri Astuti, MS Pembimbing I
Ir Lilis Khotijah, MSi Pembimbing II
Diketahui oleh
Dr Ir Idat Galih Permana, MScAgr Ketua Departemen
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga skripsi ini berhasil diselesaikan. Salawat dan salam semoga selalu dilimpahkan kepada junjungan Muhammad SAW dan kepada seluruh kaum muslimin dan muslimat.
Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Mei 2012 sampai Januari 2013 yang dilakukan dikandang nutrisi ternak daging dan kerja ini adalah profil darah, dengan judul Penambahan Minyak Biji Bunga Matahari Terhadap Profil Darah Domba Garut Betina pada Status Faal Berbeda. Penelitian ini dibawah bimbingan Prof Dr Ir Dewi Apri Astuti MS dan Ir Lilis Khotijah MSi. Hasil penelitian ini disusun dalam bentuk skripsi yang merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan studi pada Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Semoga tulisan ini bermanfaat.
DAFTAR ISI
Lokasi dan waktu penelitian 3
Prosedur 3
Konsumsi nutrien 3
Pengambilan sampel darah 3
Perhitungan jumlah eritrosit dan leukosit 4
DAFTAR TABEL
1 Komposisi zat makanan ransum perlakuan berdasarkan bahan kering 2 2 Kandungan zat makanan ransum perlakuan berdasarkan bahan kering 3 3 Rataan konsumsi bahan kering (g ekor-1 hari-1) domba garut betina
prakawin, bunting, dan laktasi 7
4 Rataan konsumsi protein kasar (g ekor-1 hari-1) domba garut betina
prakawin, bunting, dan laktasi 8
5 Rataan konsumsi lemak kasar (g ekor-1 hari-1) domba garut betina
prakawin, bunting, dan laktasi 9
6 Kadar eritrosit domba garut betina prakawin, bunting, dan laktasi 12 7 Kadar MCV dan MCHC domba garut betina prakawin, bunting, dan
laktasi 13
8 Jumlah leukosit dan deferensiasinya domba garut betina prakawin,
bunting, dan laktasi 13
DAFTAR GAMBAR
1 Kamar hitung counting chamber (dilihat di bawah mikoskop) 4 2 Grafik kadar hemoglobin domba prakawin, bunting, dan laktasi 10 3 Grafik kadar hematokrit domba prakawin, bunting, dan laktasi 11 4 Grafik jumlah eritrosit domba prakawin, bunting, dan laktasi 12
5 Limfosit perbesaran mikroskop 100x10 14
6 Neutrofil perbesaran mikroskop 100x10 15
7 Eosinofil perbesaran mikroskop 100x10 15
8 Basofil perbesaran mikroskop 100x10 16
9 Monosit perbesaran mikroskop 100x10 16
DAFTAR LAMPIRAN
10 Anova persentase monosit 20
11 Anova persentase neutrofil 21
12 Anova konsumsi bahan kering 21
13 Anova konsumsi protein kasar 21
PENDAHULUAN
Ternak domba merupakan ternak yang dapat menghasilkan banyak anak atau prolifik (Mansjoer et al. 2007) sehingga sangat menguntungkan bagi peternak. Pakan menjadi salah satu hal penting yang berperan memelihara tubuh, baik untuk kebutuhan pokok hidup, reproduksi, dan produksi. Kondisi induk domba juga merupakan salah satu yang perlu diperhatikan untuk menghasilkan anak domba yang sehat. Ternak memiliki 4 fase kritis reproduksi yaitu sebelum kawin, pada awal kebuntingan, pada sepertiga akhir kebuntingan, dan awal laktasi. Kondisi ternak selama masa kebuntingan merupakan kondisi yang cukup kritis dan pengelolaan selama masa kebuntingan ini sangat mempengaruhi performa reproduksi ternak tersebut. Pada periode kebuntingan, keadaan fisiologis dan metabolisme induk bunting akan berubah arah dalam menyimpan cadangan zat-zat makanan dalam tubuh sebagai persediaan dimobilisasi pada saat menyusui ketika kebutuhan untuk sintesa air susu jauh melebihi kemampuan induk untuk makan, selain itu Tillman et al. (1989) mengatakan bahwa kebutuhan zat makanan domba yang sedang laktasi dipengaruhi oleh komposisi air susu. Oleh karena itu, domba induk bunting dan laktasi membutuhkan energi dalam jumlah yang banyak karena saat melahirkan juga menyusui banyak energi yang hilang.
Energi juga merupakan unsur nutrien utama selain protein yang diperhitungkan dalam formulasi ransum (Parakkasi 1999). Lemak diketahui mengandung energi yang lebih tinggi daripada karbohidrat atau protein, tetapi bila lemak diberikan dalam jumlah berlebih (di atas 5%) kepada ternak ruminansia dapat mengganggu populasi mikroba di dalam rumen dan mengurangi kemampuan ruminansia untuk mencerna hijauan (Preston and Leng 1987; Bunting et al. 1996). Minyak biji bunga matahari merupakan salah satu lemak yang dapat digunakan sebagai sumber energi, selain itu berpotensi untuk memperbaiki reproduksi pada ternak. Minyak biji bunga matahari memiliki asam lemak tak jenuh yaitu asam lemak linoleat, menurut NRC (2001) minyak biji bunga matahari memiliki kandungan asam linoleat yang cukup tinggi yaitu sebesar 75%. Asam linoleat menghasilkan asam arachidonat yang merupakan prekursor terbentuknya prostaglandin yang berfungsi dalam perkembangan uterus dan ovulasi. Wathes et al. (2007) menyatakan bahwa pemberian pakan yang mengandung asam linoleat akan meningkatkan produksi hormon prostaglandin pada domba. Produksi hormon yang baik juga akan mempengaruhi kesiapan calon induk untuk bereproduksi.
2
Belum banyak kajian tentang profil darah domba betina dengan status faal berbeda (prakawin, bunting, dan laktasi) yang diberi perlakuan minyak biji bunga matahari dalam ransum, oleh karena itu penelitian ini perlu dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi gambaran darah domba garut betina calon induk pada kondisi prakawin, bunting, dan laktasi dengan pemberian ransum mengandung 4% minyak biji bunga matahari.
METODE PENELITIAN
Bahan
Ternak yang digunakan pada penelitian ini adalah domba Garut betina umur kurang dari 1 tahun dengan bobot badan 22.12±1.69 kg sebanyak 8 ekor yang dikandangkan dalam kandang individu. Domba Garut betina yang digunakan diikuti perkembangannya dan pengkuran parameternya mulai sebelum dikawinkan, saat bunting hingga masa laktasi. Bahan pakan yang akan digunakan adalah rumput Brachiaria humidicola dan konsentrat dalam bentuk tepung yang terdiri dari onggok, bungkil kedelai, bungkil kelapa, premix, CaCO3, garam, dan minyak
biji bunga matahari. Bahan kimia yang digunakan dalam penelitian ini yaitu alkohol 70%, HCl 0.1 N, aquadestilata, zat warna Giemsa, minyak emersi, larutan Turk dan Hayem.
Ransum perlakuan
Ransum perlakuan disusun dengan tingkat kandungan protein yang sama dan dengan TDN >70%. Rasio pemberian rumput 30% dan konsentrat 70%. Domba percobaan dipelihara dan diberikan pakan konsentrat sebanyak dua kali sehari (pukul 09.30 dan 12.00 WIB), rumput Brachiaria humidicola diberikan tiga kali sehari (pukul 08.00, 12.30 dan 15.00 WIB) dan air minum diberikan ad libitum.
Penelitian ini menggunakan 2 perlakuan dengan 4 ulangan. Perlakuan pakan sebagai berikut:
P0 = tanpa minyak biji bunga matahari (kontrol)
PM = dengan penambahan 4 % minyak biji bunga matahari dalam ransum
\
Tabel 1 Komposisi zat makanan ransum perlakuan berdasarkan bahan kering
Pakan Perlakuan
P0 PM
--- % ---
Onggok 34.30 30.30
Bungkil kelapa 57.10 57.10
Bungkil kedelai 6.40 6.40
Minyak biji bunga matahari 0.00 5.70
CaCO3 0.70 0.70
Garam 0.70 0.70
Premix 0.70 0.70
3
Konsumsi BK = konsumsi pakan (g) x % BK pakan Konsumsi PK = konsumsi bahan kering (g) x % PK pakan Konsumsi LK = konsumsi bahan kering (g) x % LK pakan BK: bahan kering, PK: protein kasar, LK: lemak kasar
Alat
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kandang yang dilengkapi tempat pakan dan minum, timbangan kapasitas 5 kg dan 150 kg, tabung EDTA, haemometer, tabung hematokrit, microsentrifuge, hematocrit reader, pipet eritrosit, larutan Hayem, pipet leukosit, larutan Turk, mikroskop, dan counting chamber.
Lokasi dan waktu penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kandang dan laboratorium Nutrisi Ternak Daging dan Kerja, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, IPB mulai dari bulan Mei 2012 sampai bulan Februari 2013.
Prosedur
Konsumsi pakan
Konsumsi pakan (g ekor-1 hari-1) diperoleh dari pemberian pakan dikurangi sisa pakan.
Pengambilan sampel darah
Pengambilan sampel darah dilakukan pada tiga waktu yang berbeda yaitu sebelum domba dilakukan sinkronisasi estrus, saat umur 2 bulan kebuntingan, dan saat laktasi. Darah diambil dari vena jugularis domba sebanyak 3 ml dengan menggunakan syring dan spoit steril lalu dimasukkan ke dalam tabung EDTA, selanjutnya dibawa ke laboratorium untuk dianalisis.
Tabel 2 Kandungan zat makanan ransum perlakuan berdasarkan bahan kering
Kandungan Konsentrat Rumput
4
Penghitungan jumlah eritrosit dan leukosit
Penghitungan jumlah eritrosit dan leukosit dengan menggunakan metode menurutSastradiprajadja et al.(1989). Sampel darah dihisap dengan menggunakan pipet eritrosit untuk butir darah merah dan pipet leukosit untuk butir darah putih hingga tanda tera 0.5 dengan aspirator, lalu larutan pengencer Hayem dihisap hingga tanda 101 untuk eritrosit dan larutan pengencer Turk hingga tanda 11 untuk leukosit. Larutan dan darah dihomogenkan, setelah homogen diteteskan ke dalam counting chamber yang sudah ditutup dengan cover glass dan dilihat di bawah mikroskop dengan perbesaran 45x10.
Eritrosit dihitung dalam counting chamber, digunakan kotak yang berjumlah 25 buah dengan mengambil satu kotak pojok kanan atas, pojok kiri atas, di tengah, pojok kanan bawah, pojok kiri bawah seperti pada Gambar 1. Jumlah eritrosit yang dihitung dibawah mikroskop dikalikan 104. Leukosit dihitung dalam counting chamber yang berjumlah 16 kotak kecil, digunakan 4 kotak pada pojok kanan atas, pojok kiri atas, pojok kanan bawah dan pojok kiri bawah seperti pada Gambar 1. Jumlah leukosit yang dihitung dibawah mikroskop dikalikan 50.
Gambar 1 Kamar hitung counting chamber (dilihat di bawah mikoskop), R untuk eritrosit dan W untuk leukosit
Kadar hemoglobin (metode sahli)
5
haemometer. Nilai hemoglobin dilihat di kolom gram % yang tertera pada tabung hemoglobin.
Nilai hematokrit
Penentuan hematokrit dilakukan dengan cara pipet mikrohematokrit diisi dengan darah yang mengandung antikoagulan sebanyak 4/5 bagian pipet dan ujung masuknya darah ditutup dengan sumbat berupa malam atau sabun. Pipet diputar menggunakan centrifuge dengan kecepatan 10 000 rpm selama 5 menit, kemudian terbentuk lapisan eritrosit, buffy coat, dan plasma, nilai hematokrit (%) dibaca dengan microhematocrit reader.
Perhitungan MCV dan MCHC
Nilai Mean corpuscular volume (MCV) dan Mean corpuscular hemoglobin concentration (MCHC) dapat dihitungan dari kadar hematokrit, hemoglobin, dan eritrosit yang didapat. MCV adalah rata-rata dari ukuran sel darah merah. MCV dihitung dengan rumus:
MCHC adalah konsentrasi hemoglobin dalam sel darah merah atau terhadap ukuran sel darah merah. MCHC dihitung dengan rumus:
Deferensiasi leukosit
Perhitungan deferensiasi dengan membaca preparat ulas di bawah mikroskop dengan pembesaran 100x10. Preparat ulas di buat dengan gelas objek sebanyak 2 buah. Darah domba diteteskan pada gelas objek pertama dengan posisi mendatar. Gelas objek kedua ditempatkan pada bagian yang berlawanan dengan letak tetes darah membentuk sudut 30°, lalu digeserkan sehingga darah menyebar sepanjang garis kontak antara kedua gelas objek. Ulasan darah tersebut dikeringkan di udara kemudian difiksasi dalam larutan methanol selama 5 menit lalu dimasukkan dalam pewarna Giemsa selama 30 menit. Preparat dibilas dengan air mengalir kemudian dikeringkan di udara.
6
Parameter yang diamati
Parameter yang diamati pada penelitian ini yaitu konsumsi bahan kering, protein kasar, lemak kasar, dan hematologi darah yang terdiri dari hemoglobin, hematokrit, jumlah benda darah merah (eritrosit), MCV, MCHC, jumlah benda darah putih (leukosit), dan deferensiasi leukosit.
Rancangan percobaan
Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) pola tersarang (nested design), status faal domba betina (prakawin, bunting, dan laktasi) tersarang pada perlakuan pakan (P0 dan PM) dengan 4 ulangan. Model matematik dari rancangan yang digunakan (Montgomery 2001):
Yijk = µ + Ai + Bj(i) + єijk Keterangan:
Yijk : pengamatan Faktor A taraf ke-i . Faktor B taraf ke-j dan ulangan ke-k µ : rataan umum
Ai : pengaruh perlakuan pakan (P0 dan P1) pada taraf ke-i
Bj(i) : pengaruh status faal (prakawin, bunting, dan laktasi) pada taraf ke- j pada Ai
єijk : Pengaruh galat dari pengaruh status faal ke-j tersarang pada perlakuan pakan ke-i ulangan ke-k
Analisis data
Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analysis of variance (ANOVA) dan untuk melihat perbedaan diantara perlakuan dilakukan uji Duncan (Montgomery 2001).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Konsumsi Bahan Kering
7 Tabel 3 Rataan konsumsi bahan kering (g ekor-1 hari-1) domba garut betina
prakawin, bunting, dan laktasi
Domba bunting dengan ransum P0 dan PM memiliki konsumsi pakan sebesar 800.09 g ekor-1 hari-1 dan 803.65 g ekor-1 hari-1, menunjukan bahwa kebutuhan domba selama bunting lebih tinggi dari domba prakawin. Menurut Ross (1989) kebutuhan akan nutrien dari domba induk yang sedang bunting lebih banyak daripada domba induk yang tidak dalam keadaan bunting. Paulina (2004) menyatakan pada domba bunting, kebutuhan nutrisi dibutuhkan untuk perkembangan embrio dan pertumbuhan fetus melalui perbaikan kondisi uterus sebagai tempat tinggal embrio dan plasenta sebagai saluran yang menghubungkan aliran nutrisi dari induk ke anak.
Domba laktasi memiliki konsumsi bahan kering tertinggi dari domba prakawin dan bunting. Menurut Ross (1989) kebutuhan akan nutrien dari domba induk yang sedang laktasi lebih banyak daripada domba induk yang tidak dalam keadaan laktasi. Domba laktasi dengan ransum P0 dan PM memiliki konsumsi pakan sebesar 884.69 g ekor-1 hari-1 dan 911.50 g ekor-1 hari-1. Pada fase ini kebutuhan gizi dari siklus reproduksi mencapai tahap tertinggi (Tomaszewska et al. 1993). Nutrien pada fase laktasi diperlukan selain untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok domba induk, nutrien dalam jumlah yang cukup diperlukan untuk menghasilkan susu juga energi cadangan tubuh domba induk untuk persiapan kondisi menghadapi musim kawin berikutnya (Sejrsen 1987).
Konsumsi Protein Kasar
Hasil perhitungan statistik menunjukkan, penambahan minyak biji bunga matahari tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap konsumsi protein kasar, tetapi status faal (prakawin, bunting, dan laktasi) terdapat perbedaan yang sangat nyata (P<0.01). Data konsumsi protein kasar ditampilkan pada Tabel 4. Protein merupakan salah satu komponen penting dari plasma dan serum darah (Ganong 2003). Tabel 4 memperlihatkan bahwa konsumsi protein kasar terendah pada domba prakawin dengan penambahan atau tanpa penambahan minyak biji bunga bunga matahari yaitu 98.68 g ekor-1 hari-1 dan 108.06 g ekor-1 hari-1. Data ini menunjukkan bahwa konsumsi protein kasar pada domba prakawin terendah,
Perlakuan Status Faal Rataan
Prakawin Bunting Laktasi
8
tetapi kebutuhan akan protein kasarnya sudah terpenuhi yaitu 69 g ekor-1 hari-1 (NRC 2007).
Menurut Ross (1989) kebutuhan akan protein dari domba induk bunting lebih banyak daripada domba induk yang tidak bunting. Berdasarkan data penelitian konsumsi protein kasar pada domba bunting tanpa penambahan minyak biji bunga bunga matahari yaitu 148.98 g ekor-1 hari-1 dan dengan penambahan 4% minyak biji bunga matahari yaitu 139.51 g ekor-1 hari-1. Data ini menunjukkan bahwa kebutuhan domba bunting sudah terpenuhi berdasarkan kebutuhan protein kasar domba bunting menurut NRC (2007) yaitu 100 g ekor-1 hari-1.
Konsumsi protein kasar pada domba laktasi tanpa penambahan minyak biji bunga bunga matahari yaitu 164.73 g ekor-1 hari-1 dan dengan penambahan 4% minyak biji bunga matahari yaitu 158.24 g ekor-1 hari-1. Konsumsi protein kasar domba laktasi sudah memenuhi kebutuhannya berdasarkan kebutuhan protein kasar domba laktasi menurut NRC (2007) yaitu 156 g ekor-1 hari-1. Domba laktasi memiliki konsumsi protein kasar lebih tinggi dari domba prakawin dan bunting, karena menurut Ross (1989) kebutuhan akan protein dari domba induk yang sedang laktasi lebih banyak daripada domba induk yang tidak laktasi. Selain itu, menurut NRC (2006) ternak pada fase laktasi memerlukan protein yang lebih tinggi dibandingkan bunting dan pertumbuhan, terutama puncak laktasi. Protein pada fase laktasi selain untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok domba induk, nutrien dalam jumlah yang cukup diperlukan untuk menghasilkan susu (Sejrsen 1987; Cowan et al. 1981; Orr et al. 1983).
Konsumsi Lemak Kasar
Berdasarkan hasil analisis statistik penambahan minyak biji bunga matahari memberikan pengaruh nyata (P<0.05) terhadap konsumsi lemak kasar domba. Konsumsi lemak kasar domba pada status faal berbeda (prakawin, bunting, laktasi) dengan penambahan perlakuan juga terdapat perbedaan sangat nyata (P<0.01). Data konsumsi lemak kasar ditampilkan pada Tabel 5.
Tabel 4 Rataan konsumsi protein kasar (g ekor-1 hari-1) domba garut betina prakawin, bunting, dan laktasi
Perlakuan Status Faal Rataan
Prakawin Bunting Laktasi
9
Tabel 5 menunjukkan konsumsi lemak kasar domba dengan pemberian minyak biji bunga matahari 4% lebih tinggi dari domba yang diberi perlakuan kontrol. Minyak bunga matahari seperti minyak nabati umumnya, terutama terdiri dari trigliserida (98-99 %), penambahan minyak dalam pakan akan turut meningkatkan kandungan lemak pakan (Grompone 2005). Lemak merupakan sumber energi penting bagi berbagai jaringan tubuh, beberapa jaringan bahkan lebih cenderung memakai lemak daripada glukosa untuk memenuhi kebutuhan energinya (Parakkasi 1999).
Konsumsi lemak kasar mulai dari prakawin, bunting hingga laktasi terjadi peningkatan, pada domba dengan pemberian minyak biji bunga matahari 4% dalam ransum juga lebih tinggi dari domba yang diberi perlakuan kontrol. Menurut NRC (1985) kebutuhan lemak induk domba, baik yang bunting maupun yang sedang laktasi sangat tinggi. Pada saat bunting, induk domba membutuhkan lemak yang cukup selain untuk kebutuhan pokoknya tetapi juga untuk perkembangan janin.
Hematologi Darah
Hasil data statistik didapatkan bahwa penambahan 4% minyak biji bunga matahari pada ransum tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kadar hemoglobin, persentase hematokrit, jumlah eritrosit, MCV, dan MCHC, tetapi pada status faal berbeda terdapat kecendrungan peningkatan jumlah erirosit (P<0.06) seperti yang ditampilkan pada Tabel 6 dan Tabel 8.
Hemoglobin
Kadar hemoglobin domba prakawin dan bunting dengan ransum PM terjadi perbaikan dari domba prakawin dan bunting dengan ransum P0 seperti pada Gambar 2, yaitu 8.30 g dl-1 pada domba prakawin P0 dan 8.05 g dl-1 untuk domba bunting P0, sedangakan 9 g dl-1 pada domba prakawin PM dan 8.68 g dl-1 untuk domba bunting PM. Penambahan minyak biji bunga matahari dapat
Tabel 5 Rataan konsumsi lemak kasar (g ekor-1 hari-1) domba garut betina prakawin, bunting, dan laktasi
Perlakuan Status Faal Rataan
Prakawin Bunting Laktasi
10
memperbaiki kadar hemoglobin. Pemberian minyak biji bunga matahari meningkatkan kecukupan Fe, berdasarkan penelitian Özcan (2006) minyak biji bunga matahari memiliki kandungan Fe 49.66 mg kg-1, karena menurut Ganong (2003) Fe merupakan salah satu mineral penting pembentuk hemoglobin. Protein juga merupakan komponen penting dalam pembentukan hemoglobin, karena hemoglobin merupakan pigmen eritrosit yang terdiri atas protein kompleks terkonjugasi yang mengandung besi (Guyton 1993).
Kadar hemoglobin terjadi penurunan saat bunting, awal partus juga awal laktasi. Pembentukan hemogobin salah satu nya ditentukan oleh Fe atau zat besi. Menurut Riswan (2003) zat besi banyak dialihkan ke fetus pada saat bunting. Pada fase laktasi pada perlakuan P0 dan PM berada pada kisaran normal, kadar hemoglobin domba sudah kembali normal setelah melewati partus dan awal laktasi. Berdasarkan data kadar hemoglobin domba laktasi yaitu 9.45 g dl-1 pada perlakuan P0 dan 9.43 g dl-1 untuk perlakuan PM. Menurut Smith dan Mangkoewidjojo (1998) bahwa hemoglobin normal pada darah domba adalah 9 - 15 g dl-1.
Hematokrit
Berdasarkan hasil penelitian, kadar hematokrit domba prakawin dan bunting lebih rendah dari domba laktasi seperti pada Gambar 3. Hal ini sejalan dengan data hemoglobin dan eritrosit. Pada hewan normal, hematokrit sebanding dengan jumlah eritrosit dan kadar hemoglobin (Widjajakusuma dan Sikar 1986). Pada masing-masing perlakuan domba prakawin memiliki kadar hematokrit yaitu 30.63% dan 28.88%, domba bunting memiliki kadar hematokrit yaitu 31.38% dan 31.75%, domba laktasi memiliki kadar hematokrit yaitu 33.38% dan 35.50%. Menurut Smith dan Mangkoewidjojo (1998) bahwa hematokrit normal pada domba adalah 32%-37%. Menurut Duncan (1997) nilai hematokrit akan menurun pada keadaan bunting, kelebihan cairan, dan anemia.
Gambar 2 Kadar hemoglobin(g dl-1) domba prakawin, bunting, dan laktasi. ( )P0 dan ( )PM; *Smith dan Mangkoewidjojo (1998).
11
Eritrosit
Jumlah normal eritrosit pada domba adalah 9-15 juta (Smith dan Mangkoewidjojo 1998). Konsumsi protein domba pada penelitian ini sudah memenuhi kebutuhan pada masing-masing status faal karena menurut Erniasih et al. (2006) protein merupakan unsur nutrien penting dalam eritropoiesis (pembentukan eritrosit) dan sintesis hemoglobin. Berdasarkan hasil penelitian, penambahan minyak biji bunga matahari tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap jumlah eritrosit pada masing-masing perlakuan, tetapi status faal (prakawin, bunting, dan laktasi) dengan penambahan minyak biji bunga matahari 4% memberikan perbedaan yang nyata (P<0.06) terhadap jumlah eritrosit.
Domba prakawin, bunting, dan laktasi dengan ransum P0 jumlah eritrosit mengalami penurunan yaitu 8.15x106, 7.53x106, dan 7.09x106. Hal ini dapat terjadi pada kondisi kebuntingan dan menyusui, karena pada kondisi tersebut zat besi banyak dialihkan ke fetus maupun ke anak pada saat proses menyusui (Riswan 2003). Pada penelitian ini dengan penambahan 4% minyak biji bunga matahari jumlah eritrosit saat bunting dan laktasi mengalami peningkatan, hal ini juga disebabkan karena terjadi sedikit peningkatan konsumsi bahan kering, protein kasar dan lemak kasar.
Menurut Fritsche et al. (1992) jumlah eritrosit dipengaruhi oleh komposisi pakan diantaranya yaitu lemak. Lemak merupakan nutrien yang digunakan tubuh untuk menyusun jaringan, terutama asam-asam lemak esensial yang merupakan asam lemak penyusun jaringan limfoid sebagai penyangga utama fungsi sel imun dengan membentuk prostaglandin. Pemberian minyak biji bunga matahari dapat meningkatkan prostaglandin, untuk membentuk dan membawa hormon tersebut dibutuhkan darah sehingga jumlah darah akan meningkat. Prostaglandin memiliki fungsi memperbaiki membran sel salah satunya membran sel darah merah. Selain itu, Arab (2003) menyatakan bahwa komposisi asam lemak membran eritrosit merupakan indikator yang baik dari asupan asam lemak jangka panjang. Menurut Gambar 3 Grafik kadar hematokrit (%) domba prakawin, bunting, dan laktasi.
12
Thewke et al. (2000) komposisi asam lemak dalam benda darah merah dikontrol oleh komposisi lipid membran sel.
Selain itu, minyak biji bunga matahari memiliki kandungan mineral Fe sebesar 49.66 mg kg-1 (Özcan 2006). McDonald (1988) melaporkan bahwa domba secara genetik merupakan hewan yang paling sensitif pada kondisi kekurangan Fe. Oleh karena itu pemberian 4% minyak biji bunga matahari dapat meningkatkan kecukupan Fe juga meningkatkan status eritrosit.
Pada induk domba yang sama, setelah masuk status bunting dan laktasi cendrung meningkatkan jumlah eritrosit (P<0.06) seperti pada gambar 3, hal ini menunjukkan bahwa saat bunting dan laktasi diperlukan proses metabolisme yang lebih tinggi dan membutuhkan jumlah oksigen yang lebih banyak. Menurut Guyton (1995) eritrosit atau sel darah merah merupakan salah satu komponen sel yang terdapat dalam darah, fungsi utamanya adalah sebagai pengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan.
MCV dan MCHC
Nilai MCV dan MCHC dapat digunakan untuk mendiagnosa anemia. Anemia adalah keadaan abnormal dari rendahnya nilai hematokrit dan hemoglobin (Guyton 1996).
Gambar 4 Grafik jumlah eritrosit (juta) domba prakawin, bunting, dan laktasi.
—◊—P0, —□—PM. 2
4 6 8 10 12
Prakawin Bunting Laktasi
Tabel 6 Kadar eritrosit (juta) domba prakawin, bunting, dan laktasi
Perlakuan Prakawin Bunting Laktasi Normal*
P0 8.15 ±0.37b 7.53 ±1.50b 7.09 ±1.56b
9- 15 PM 7.40 ±1.16b 9.85 ±1.53a 10.11 ±1.40a
13
Menurut Jain (1993) kadar MCV normal domba 28-40 fl dan menurut Banks (1993) kadar MCHC normal 27-38 g dl-1. Nilai MCV pada domba bunting dan laktasi terjadi perbaikan nilai MCV P0 dan dari nilai yang melebihi nilai normal menjadi normal dengan pemberian 4% minyak biji bunga matahari. Hal ini disebabkan karena pada domba bunting dan laktasi terjadi perbaikan jumlah eritrosit, kadar MCV ditentukan oleh hematokrit dan eitrosit. Kadar MCHC domba prakawin, bunting, dan laktasi yang diberi ransum P0 dan PM berada dalam kisaran normal.
Deferensiasi Leukosit
Leukosit
Leukosit secara umum dibagi granulosit dan agranulosit. Leukosit granulosit mempunyai granula di sitoplasmanya terdiri atas basofil, eosinofil, dan netrofil, sedangkan leukosit agranulosit tidak memiliki granula disitoplasmanya terdiri atas limfosit dan monosit (Tizard 1988; Guyton dan Hall 1997).
Tabel 7 kadar MCV dan MCHC domba prakawin, bunting, dan laktasi
Perlakuan Parameter Status Faal Normal
Prakawin Bunting Laktasi
P0 MCV(fl) 37.70±7.52 43.62±13.13 48.52±9.92 28-40
a minyak biji bunga matahari; MCV: Mean corpuscular volume; MCHC: Mean corpuscular haemoglobin consentration; a: menurut Jain (1993); b: menurut Banks (1993).
Tabel 8 Jumlah leukosit dan deferensiasinya domba prakawin. bunting dan laktasi
Perlakuan Parameter Status Faal Normal
Prakawin Bunting Laktasi
P0
Leukosit(10³) 10.56 ±3.51 8.33 ±1.17 9.64±1.94 7-12c Limfosit(%) 54.72±9.37 63.39±9.22 56.31±10.26 40-75d Neutrofil(%) 38.02±10.14 26.15±3.70 34.18±9.14 10-50d Eosinofil(%) 2.05±1.26 3.72±2.41 3.49 ±1.92 1-4e Basofil(%) 2.25±1.32b 1.62±0.95b 4.20 ±2.13a <5f Monosit(%) 3.20 ±2.71 5.12±6.36 1.83 ±0.19 3-8e
PM
14
Hasil penelitian didapatkan bahwa penambahan minyak biji bunga matahari pada ransum tidak memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah leukosit dan deferensiasinya, tetapi pemberian minyak biji bunga matahari 4% dalam ransum pada status faal domba yang berbeda memberikan perbedaan yang nyata pada parameter basofil (P<0.05).
Sel darah putih (leukosit) merupakan unit aktif dalam sistem pertahanan tubuh (Kristiana 2008). Pengangkutan sel-sel darah putih oleh darah menuju berbagai bagian tubuh dilakukan setelah proses pembentukannya selesai. Pada perlakuan P0 dan PM pada status faal berbeda jumlah leukosit memiliki rata-rata antara 7.85x10³ mm-³ - 10.95x10³ mm-³, nilai tersebut terdapat pada kisaran normal. Menurut Smith dan Mangkoewidjojo (1998) jumlah leukosit dalam tubuh domba adalah 7 ribu mm-³ - 10 ribu mm-³ dan menurut Schalm (1965) jumlah leukosit yang normal pada domba berkisat 8 ribu mm-³ - 12 ribu mm-³.
Limfosit
Persentase limfosit pada P0 dan PM pada domba bunting dan laktasi berada pada kisaran normal yaitu pada kisaran 56.31% - 67.95%. Domba prakawin memiliki persentase limfosit berada pada kisaran normal yaitu 50.32% -54.72%. Menurut Jain (1993) bahwa jumlah limfosit normal pada domba adalah 40% - 75%. Menurut Guyton (1993) limfosit berperan dalam sistem kekebalan.
Gambar 5 Limfosit perbesaran mikroskop 100x10 (dokumen penelitian)
Neutrofil
15
Gambar 6 Neutrofil perbesaran mikroskop 100x10 (dokumen penelitian)
Eosinofil
Eosinofil mengandung profibrinolisin, diduga berperan mempertahankan darah dari pembekuan, khususnya bila keadaan cairnya diubah oleh proses-proses patologi (Zukesti 2003). Peningkatan eosinofil di atas 400 per μl harus dilihat sebagai indikasi parasitosis, alergi, dan kondisi lainnya (Theml 2004). Jumlah eosinofil hanya 1-4% leukosit darah (Zukesti 2003). Persentase eosinofil domba prakawin, bunting, dan laktasi pada masing-masing perlakuan berada pada kisaran normal yaitu antara 1.97% - 4.63%.
Gambar 7 Eosinofil perbesaran mikroskop 100x10 (dokumen penelitian)
Basofil
Basofil muncul dengan segera pada reaksi hipersensitivitas dan berkaitan dengan imunoglobulin E (Kern 2002). Basofil masuk ke jaringan saat terjadi respon imun atau peradangan. Basofil merupakan leukosit granulosit dengan jumlah yang paling sedikit pada mamalia domestik, yaitu kurang dari 5% dari total leukosit dalam kondisi sehat (Pohlman 2010). Berdasarkan hasil penelitian didapatkan pemberian ransum PM pada domba sebelum kawin, bunting, dan laktasi memiliki persentase basofil meningkat. Pada perlakuan P0 pada prakawin persentase basofil 2.25%, P0 saat bunting 1.62% dan P0 saat laktasi 4.2%. Pada perlakuan PM mengalami kenaikan pada prakawin persentase basofil 2.45%. PM saat bunting 3.12% dan PM saat laktasi 4.64%.
16
substansi seperti heparin dan aryl sulfatase. Kira-kira separuh dari histamin darah akan dipengaruhi oleh granul basofil (Brown 1980). Peningkatan persentase basofil dalam darah akan melancarkan peredaran darah dan mencegah dari penyakit yang disebabkan oleh penyumbatan darah. Menurut Guyton (1995) heparin merupakan suatu bahan yang dapat mencegah koagulasi darah dan dapat juga mempercepat perpindahan partikel darah.
Gambar 8 Basofil perbesaran mikroskop 100x10 (dokumen penelitian)
Monosit
Hasil penelitian didapatkan domba prakawin dan bunting dengan perlakuan P0 dan PM memiliki persentase monosit dalam kisaran normal yaitu 2.51%- 5.12%. Menurut Zukesti (2003) monosit merupakan leukosit yang besar dengan jumlah antara 3-8% dari jumlah leukosit normal. Pada domba laktasi persentase monosit rendah yaitu 1.58% pada perlakuan P0 dan 1.83% pada perlakuan P2, rendahnya monosit dapat terjadi dikarenakan monosit memiliki masa edar singkat dalam sirkulasi darah. Menurut Ganong (2001) Monosit akan masuk ke dalam jaringan menjadi makrofag, sehingga jarang dijumpai dalam jumlah besar di dalam sirkulasi darah normal. Menurut Kern (2002) monosit ditemukan dalam darah, 8 jam sampai 14 jam kemudian monosit masuk ke jaringan dan menjadi makrofag.
17
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Penambahan minyak biji bunga matahari 4% dalam ransum tidak menggangu kadar hemoglobin, nilai hematokrit, jumlah eritrosit, kadar MCV dan MCHC, jumlah leukosit, serta deferensiasi leukosit. Status bunting dan laktasi dengan pemberian minyak biji bunga matahari 4% cenderung meningkatkan jumlah eritrosit darah dan persentase basofil.
Saran
Perlu pengaruh penambahan minyak biji bunga matahari diatas 4% terhadap status hematologi darah.
DAFTAR PUSTAKA
Aengwanich W, Chinrasri O. 2002. Effect of heat stress on body temperature and hematological parameters in male layers. Thai J Physiol Sci. 15:27-33. Arab L . 2003. Biomarkers of fat and fatty acid intake. J Nutr. 133:925-932.
Banks WJ. 1993. Applied Veterinery Histology. Texas (US): Mosby. Hlm 142-154. Bunting LD, Fernandez JM, Fornea RJ, White TW, Froetschel MA, Stone JD,
Ingawa K. 1996. Seasonal effects of supplemental fat or undegradable protein on the growth and metabolism of Holstein calves. J Dairy Sci. 79:1611-1620.
Duncan JR, Prase KW. 1977. G'eterinarv Lahoratan, Medicine. Clinical Patholoy . Ames (US): Iowa State Univ Pr.
Erniasih I. 2006. Penambahan limbah padat kunyit (Curcuma domestica) pada ransum ayam dan pengaruhnya terhadap status darah dan hepar ayam (Gallus sp). Bul Anatomi Fisiologi. 15:1-5.
Fritsche KL, Cassity NA, Huang SC. 1992. Dietary (n-3) fatty acid and vitamin E interactions in rats: Effect on vitamin E status, immune cell prostaglandin E production and primary antibody response. J Nutr. 122:1009-1018.
Ganong WF. 2001. Textbook of Medical Physology. 20th Ed. Philadelphia (US): Saunders .
Ganong WF. 2003. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran (Riview of Medical Physiology). Ed ke-14. Andrianto P, penerjemah. Jakarta (ID): EGC. Guyton AC. 1993. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Ed ke-7. Tengadi KA,
penerjemah. Jakarta (ID): EGC.
Guyton AC, Hall. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Ed ke-9. Irawati, penerjemah. Jakarta (ID): EGC.
18
Harper HA, Rodwel VW, Mayer PA. 1980. Review of Physiologycal Chemistry. Martin M, penerjemah. Jakarta (ID): EGC.
Jain NC.1993. Essential of Veterinary Hematology. Philadelphia (US): Lea and Febiger.
Kelly WR. 1984. Veterinary Clinical Diagnosis. London (GB): Bailliere Tindall. Kern MD. 2002. PDQ Hematology. New York (US): Pmph USA.
Mansjoer SS, Kertanugraha T, Sumantri C. 2007. Estimasi jarak genetik antar domba Garut tipe tangkas dan tipe pedaging. Media Petern. 30(2):129-138. McDonald P, Edwards RA, Greenhalgh JFD. 1988. Animal Nutrition. John Willey
and Sons Inc. New York.
Montgomery DC. 2001. Design and Analysis of Experiment. 5th Ed. Washington (US): Prentice Hall.
NRC. 1985. Nutrient Requirement of Sheep. Washington (US): Natl Acad Pr. Orr RJ, Newton JE, Jackson CA. 1983. The intake and performance of ewes
offered concentrate and grass silage in late pregnancy. Anim Prod. 36:21-27. Orskov ER, Ryle M. 1990. Energy Nutrition in Ruminants. London (GB):
Elsevier Sci. 149 p.
Özcan MM. 2006. Determination of the mineral compositions of some selected oil-bearing seeds and kernels using Inductively Coupled Plasma Atomic Emission Spectrometry (ICP-AES). Grasas Y Aceites. 57(2):211-218. Parakkasi A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminansia. Jakarta (ID):
UI Pr.
Paulina G. 2004. Dairy Sheep Nutrition. CABPI Publishing, Wallingford.
Pohlman LM. 2010. Basophils, mast cells, and their disorders. Di dalam: Veterinary Hematology 6th Ed. Weiss DJ, Wardrop KJ, editor. Iowa (US): Blackwell. Hlm 290-297. swasta dalam kota madya medan [tesis]. Medan (ID): Universitas Sumatera Utara.
Robinson JJ. 1986. Formulation of feeding strategies for sheep. In. Livingstone, R.M. (Ed). Proc. Evaluation Modern Aspects-Problem-Future Trends. Feed Publication. 81:76-92.
Ross CV. 1989. Sheep Production and Management. New Jersey (US): Prentice Hall. 481 p.
19 Sejrsen K., Huber IT, Tucker HA, And Akers RM. 1987 . Influenc e of nutrition on summar development in pre- and postpubertal heifers. J. DairySci., 65 : 793-800.
Smith JB, Mangkuwidjodjo S. 1998. Pemeliharaan, Pembiakan dan Penggunaan Hewan Percobaan di daerah Tropis. Ed ke-1. Jakarta (ID): UI Pr.
Stopler T. 2004. Medical nutrition therapy for anemia. Di dalam: Kathleen L Mahan dan Sylvia Escott-Stump, editor. Krause’s Food, Nutrition, and Diet Therapy. Ed ke-11. Philadelphia: Saunders Pr. hlm. 838 -856.
Theml H, Diem H, Haferlach T. 2004. Color atlas of hematology, Practical Microscopic and Clinical Diagnosis. Stuttgart (US): Thieme.
Thewke D, Kramer M, Sinensky MS. 2000. Transcriptional homeostatic control of membrane lipid composition. Biochem Biophys Res Commun. 273:1-4. Wathes DC, Abayasekara DRE, Aitken RJ. 2007. Polyunsaturated Fatty Acids in
Male and Female Reproduction. Bio Reprod J. 77:190-201.
Widjajakusuma R, Sikar H. 1986. Fisiologi Hewan Laboratorium. Fisologi dan Farmakologi. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
20
Lampiran 1 Anova kadar eritrosit
Lampiran 2 Anova kadar hemoglobin
Lampiran 3 Anova nilai hematokrit
Lampiran 4 Anova kadar MCV
Lampiran 5 Anova kadar MCHC
SK: selang kepercayaan, db: drajat bebas, JK: jumlah kuadrat, KT: kuadrat tengah, ts: tidak signifikan, *signifikan
21 Lampiran 6 Anova jumlah leukosit
Lampiran 7 Anova persentase limfosit
Lampiran 8 Anova persentase eosinofil
Lampiran 9 Anova persentase basofil
22
Lampiran 11 Anova persentase neutrofil
SK db JK KT Fhit F0.05 F0.01
Total 23 2308.93 100.39 1.08 2.16 3.02
A 1 0.68 0.68 0.00 7.71 21.20 ts
B*A 4 627.83 156.96 1.68 2.93 4.58 ts
Error 18 1680.43 93.36
SK: selang kepercayaan, db: drajat bebas, JK: jumlah kuadrat, KT: kuadrat tengah, ts: tidak signifikan.
Lampiran 12 Anova konsumsi bahan kering
SK db JK KT Fhit F0,05 F0,01
total 23 591025.92 25696.78 3.14 5.27 3.02
A 1 226.93 226.93 0.00 7.71 21.20 ts
B*A 4 443626.05 110906.51 13.56 2.93 4.58 ** Error 18 147172.95 8176.27
SK: selang kepercayaan, db: drajat bebas, JK: jumlah kuadrat, KT: kuadrat tengah, ts: tidak Signifikan, ** sangat signifikan
Lampiran 13 Anova konsumsi protein kasar
SK db JK KT Fhit F0.05 F0.01
total 23 19423.24 844.49 3.26 5.27 3.02
A 1 418.00 418.00 0.12 7.71 21.20 ts
B*A 4 14342.29 3585.57 13.84 2.93 4.58 **
Error 18 4662.95 259.05
SK: selang kepercayaan, db: drajat bebas, JK: jumlah kuadrat, KT: kuadrat tengah, ts: tidak signifikan, ** sangat signifikan
Lampiran 14 Anova konsumsi lemak kasar
SK db JK KT Fhit F0.05 F0.01
total 23 5859.08 254.74 9.75 5.27 3.02
A 1 3965.60 3965.60 11.15 7.71 21.20 *
B*A 4 1423.08 355.77 13.61 2.93 4.58 **
Error 18 470.40 26.13
23
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 15 Februari 1992 sebagai anak pertama pasangan A.R Supriatna dan Siti Saidah. Pendidikan yang telah ditempuh penulis yaitu Madrasah Tsanawiyah Darunnajah Ulujami Jakarta pada tahun 2003-2006 dan Sekolah Menengah Atas Darunnajah Ulujami Jakarta pada tahun 2006-2009. Penulis diterima sebagai mahasiswa Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor pada tahun 2009. Beasiswa yang diperoleh penulis yaitu beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA).
Selama mengikuti program sarjana, penulis menjadi anggota himpunan mahasiswa nutrisi ternak, menjadi bendahara Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Peternakan IPB. Penulis menjuarai lomba solo vokal IPB Art Contest tahun 2011 dan juara 3 lomba menyanyi arab tingkat nasional di Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. Penulis juga terpilih sebagai mahasiswa berprestasi dibidang seni Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan IPB. Penulis pernah mengikuti Program Kreatifitas Mahasiswa Bidang Penelitian yang didanai DIKTI yang berjudul Performa dan Profil darah Kambing Kacang yang Digembalakan Di Tempat Pembuangan Akhir Sampah BantarGebang.