• Tidak ada hasil yang ditemukan

bahasa indonesia.docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "bahasa indonesia.docx"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Apresiasi Sastra Anak-Anak Secara

Produktif

Mei 3, 2016 kepompong.xyz Tinggalkan sebuah komentar

Apresiasi Sastra Anak-Anak Secara Produktif

Abd. Halik

Anda telah memahami dan mengapresiasi sastra secara reseptif. Menyenangkan, bukan?

Sekarang, bagaimana dengan apresiasi sastra anak-anak secara produktif? Pemahaman dan

penguasaan tentang apresiasi sastra produktif sangat fungsional dan menunjang pelaksanaan

tugas dan tanggungjawab Anda dalam menyukseskan amanah Kurikulum tentang

apresiasi sastra. Tentu kita sepaham bahwa kualitas apresiasi sastra anak di SD antara lain

ditentukan oleh taraf pemahaman dan pengalaman apresiasi sastra yang Anda miliki sebagai guru

kelas. Oleh karena itu, perlu Anda kaji dan berlatih tentang pendekatan yang dapat diterapkan

dalam mengapresiasi sastra anakanak secara produktif. Untuk memperoleh pemahaman dan

pengalaman bermakna tentang berbagai pendekatan tersebut, silakan baca dengan

sungguhsungguh uraian berikut.

Pendekatan Parafrastis

Parafrase merupakan salah keterampilan yang dapat meningkatkan apresiasi sastra siswa.

Melalui parafrase, siswa berlatih mengubah bentuk karya sastra tertentu menjadi bentuk karya

sastra yang lain tanpa mengubah tema atau gagasan pokoknya, misalnya prosa menjadi puisi,

puisi menjadi prosa , prosa menjadi drama atau seba-liknya. Dengan melalui pengubahan bentuk

tersebut, siswa dapat semakin memahami isi karya sastra tersebut. Aminuddin

(2004) menjelaskan bahwa parafrase adalah strategi pemahaman makna suatu bentuk karya

sastra dengan cara mengungkapkan kembali karya pengarang tertentu dengan menggu-nakan

kata-kata yang berbeda dengan kata-kata yang digunakan pengarang.

Mengapa pendekatan parafrastis perlu dipahami dan dialami oleh siswa?

Sebagaimana yang Anda ketahui bahwa para pengarang sering menggunakan kata yang

konotatif, kias, elipsis atau menghilangkan sebagian unsur, dan kurang menaati tatabahasa karena

adanya hak licentia poetica pengarang Kesemuanya itu dapat menyulitkan pembaca untuk

memahami karya sastra tertentu. Melalui parafrase, pembaca dapat semakin memahami karya

sastra tertentu.

(2)

yang berbeda, misalnya puisi ke prosa, (c) simbol yang konotatif (mengandung ketaksaan makna

atau abstrak) dapat diganti dengan kata yang lebih konkret dan mudah dipahami, (d)

pengungkapan yang eliptis dapat ditambah sehingga semakin lengkap dan mudah dimengerti.

I.G.P. Antara (1985) mengemukakan bahwa teknik memparafrasekan puisi menjadi prosa dapat

dilakukan dengan berbagai cara, yakni sebagai berikut.

(a) Teknik larik yakni perubahan bentuk puisi ke dalam bentuk prosa dengan mendasarkan

kepada kalimat demi kalimat yang terdapat dalam puisi tersebut.

(b) Teknik bait yakni perubahan bentuk puisi menjadi prosa didasarkan kepada susunan bait demi

bait yang menyusun puisi yang diparafrasekan.

(c) Teknik global yakni perubahan bentuk puisi menjadi prosa yang didasarkan kepada

keseluruhan unsur yang membentuk puisi itu. Makna yang tercermin dalam puisi itu dituangkan

ke dalam bentuk prosa.

Berikut disajikan contoh parafrase puisi ke prosa.

HARI LIBUR

Hatiku gembira

Ujian usai sudah

Rapor ku terima

Aku rangking pertama

Esok amulai libur

Liburan kuhabiskan di rumah nenek

Liburan sambil melepas rindu

Kunikmati damainya desa

Tiap hari

Kutelusuri pematang sawah

Bernyanyi riang

Menyambut kicau burung

(3)

Hari libur habis

Aku harus pulang

Selamat tinggal

Selamat tinggal nenek

Puisi yang berjudul “Hari Libur” di atas dapat diubah menjadi sebuah

cerita seperti berikut.

HARI LIBUR

Selain hari minggu, saya selalu menyelesaikan tugas PR selama 1- 2 jam sesudah bangun tidur

siang hari. Setelah itu, baru pergi main bersama teman-teman. Setelah salat magrib secara

berjamaah dengan Bapak, Ibu dan Kakek, Nenek, dan Kakak, saya belajar selama satu

jam untuk mengulangi pelajaran yang telah dipelajari di sekolah, kemudian pergi menonton dan

tidur. Dengan demikian, pada waktu ujian cawu, seluruh pertanyaan dapat saya jawab dengan

baik dan tepat. Dengan ketekunan dan kedisiplinan belajar tersebut, pada waktu menerima

rapor, di , lalu saya buka, di dalamnya tertulis sebagai peringkat I . langsung

saya mengucapkan Alhamdulillah, betapa senangnya dan puasnya saya saat itu. Begitu pun,

mama ,bapak, dan nenek di rumah.

Sesaat setelah pembagian rapor, ada siswa bertanya, “Kapan mulai libur cawu , Bu?,” tanya

Imran.

“Libur cawu mulai besok,” jawab Bu Guru.

Ady sambung bertanya, “Berapa lama libur, Bu?”

Jawab bu Guru, “Sembilan hari. Jadi kita mulai sekolah pada hari Rabu”

Pada malam harinya, bapak bertanya, “Berapa lama kau libur, Nak?” “Sembilan hari , Pak!”

Jawabku singkat. “Lalu di mana akan berlibur?” tanya bapak Lagi.“ “Saya mau berlibur ke

rumah nenek di desa sambil melepas rindu, sekaligus menikmati damai dan indahnya

panorama desa.“ Jawabku dengan wajah yang ceria.“ Itu ide yang bagus. Insya Allah nanti

bapak-ibu antar besok sekalian melepas rindu juga dengan nenek dan kelu-arga lainnya di desa

kelahiran bapak.

(4)

Selama di rumah nenek, setiap hari aku berjalan bersama nenek, mene-lusuri pematang sawah

sambil menyanyi dengan riang gembira. Utamanya pada pagi hari setelah shalat subuh, kami

berjalan-jalan bersama nenek mengelilingi desa sambil mendengarkan kicauan

berbagai macam burung yang begitu mengasyikkan. Alangkah indahnya berlibur di rumah

nenek.

Pada malam Selasa, saya menyampikan kepada nenek bahwa besok saya akan pulang karena

sudah beberapa hari di sini . “Mengapa cepat sekali pulang cucuku? Rindu nenek masih…” ”

Lusa hari sekolah sudah mulai, Nek!” sambungku cepat. “Kalau begitu, nenek tidak

bisa menahanmu, nanti bapakmu marah.” Nek, bisa antar saya besok sekalian jalan-jalan ke

kota. Sudah lama juga nenek tidak ke kota. Nanti kita jalanjalan menikmati ramai dan hiruk

pikuknya kendaraan dan megahnya bangunan di kota Makassar .“ “Nenek sudah tua, dan ada

sepupumu akan dinikahkan minggu depan” Jawabnya.

Keesokan harinya, Bapak dan Ibu menjemputku. Sekiat 20 meter dari rumah nek, Saya

melambaikan tangan kepada nenek sambil mengucapkan dalam hati “Selamat tinggal panorama

desaku yang indah dan permai, sela-mat tinggal nenek tersayang , sampai jumpa nek di

libur cawu mendatang.”

Bagaimana? Anda telah memahami uraian materi subunit 2 di atas?

Jika ya, kerjakan latihan berikut untuk meningkatkan pemahamannya tentang parafrase puisi.

Parafrasekan puisi berikut ini menjadi prosa!

MENYESAL

Ali Hasymi

Pagiku hilang melayang

Hari mudaku sudah pergi

Sekarang petang datang membayang

Batang usiaku sudah tinggi

Aku lalai di hari pagi

Beta lengah di hari pagi

Kini hidup meracuni hati

Miskin ilmu miskin harta

(5)

Menyesal tua tiada berguna

Hanya menambah luka sukma

Kepada yang muda kuharapkan

Atur barisan di pagi hari

Menuju ke arah padang bakti

Rambu-rambu penyelesaian latihan.

Untuk mengerjakan latihan di atas, Anda perlu membaca puisi tersebut secara berulang-ulang

lalu mencermati kata-kata yang konotatif pada setiap larik/bait, kemudian memahami makna

inti atau tema puisi tersebut, terakhir mencermati alur cerita yang akan dibuat berdasarkan

puisi tersebut.

Pendekatan Analitis

Pendekatan analitis telah dibahas teori dan penerapannya pada unit subunit 1 yang tujuannya

untuk meningkatkan taraf apresiasi sastra anak SD secara reseptif. Oleh karena itu, pendekatan

analitis pada subunit 2 ini akan diarahkan pembahasan dan penerapannya untuk meningkatkan

taraf apresiasi sastra anak SD secara produktif.

Sebagaimana yang telah diuraikan pada subunit 1 bahwa pendekatan analitis merupakan

pendekatan yang mengarahkan pembaca untuk memahami unsur-unsur instrinsik yang menangun

suatu karya sastra tertentu dan hubungan antarunsur yang satu dengan lainnya sebagai suatu

kesatuan yang utuh (Aminuddin, 2004). Diharapkan dengan pemahaman tersebut pembaca

menulis karya sastra tertntu dengan baik. Untuk itu, sebelum siswa ditugasi menulis puisi

misalnya lebih dahulu dibelajarkan tentang unsur-unsur instrinsik puisi.

Menurut I.A Richard (dalam Situmorang,1980) ada dua hal pokok yang membangun puisi, yaitu

hakikat puisi dan metode puisi. Hakikat puisi meliputi tema, rasa, nada, dan amanat, sedang

metode puisi meliputi diksi, gaya bahasa, kata konkret, imagery, ritme dan rima. Hubungan

keduanya erat, oleh Tarigan (1989) seperti hubungan jiwa dan tubuh.sehingga hakikat puisi dapat

disebut sebagai unsur batiniah dan metode puisi dapat disebut sebagai unsur lahiriah puisi.

1.

Unsur lahiriah (metode puisi)

(1) Diksi. Diksi merupakan kemampuan memilih kata demi kata secara tepat menurut tempatnya

yang sesuai dalam suatu jalinan kata yang harmonis dan artistik sehingga sejalan dengan maksud

puisinya, baik secara denotatif maupun secara konotatif. Misalnya:

Sekali berarti (bukan: bermakna, berguna, bermanfaat)

(6)

………

(2) Gaya bahasa. Gaya bahasa ialah cara atau gaya tertentu yang digunakan penyair untuk

menciptakan kesan tertentu, daya bayang, dan nilai keindahan, seperti:

– gaya personifikasi : “Kerling danau di pagi hari” (Situr Situmorang)

– Gaya simbolisme : Ah, rumput, akarmu jangan turut mengering (Waluyati)

(3) Kata konkret. Kata konkret ialah pemakaian kata-kata yang dapat mewakili suatu pengertian

secara konkret dengan memilih kata yang khusus; bukan yang umum, misal:

– Anak itu bersimpuh di kaki ibundanya. (kata khusus)

– Aak itu duduk lalu memeluk kaki ibundanya (kata umum)

(4) Daya bayang (imagery). Daya bayang (imagery) ialah kemampuan penyair mendeskripsikan

atau melukiskan suatu benda atau peristiwa sehingga seolah-olah pembaca menyaksikan benda

atau mengalami peristiwa seperti yang disaksikan atau dialami penyair tersebut. Daya bayang

terwujud sebagai manifestasi dari pemakaian kata konkret, diksi, dan gaya bahasa yang tepat.

Misalnya:

Sajak Kecil Buat Penggalang

Dengan gagah perkasa

Engkau berdiri siap siaga

Bersenjata tongkat dibalut kain selempang

Berhias tanda-tanda kecakapan

Tali merah tali sempritan

Tersandang di lengan tangan kiri

Kepala dibalut baret

Lengkap lencana tunas kelapa

Tali melingkar bergantung dipinggang

Sangkur menambah indah dipandang

(7)

(5) Irama dan rima.

(a) Irama adalah berkaitan dengan keras lembutnya suara (tekanan), panjang pendeknya suara

(tempo), dan tinggi rendahnya suara (nada), perhentian sejenak (jeda) dan lainnya. Misalnya

sebagai berikut.

KASIH IBU

Siti Atika

Penuh kasih engkau nina bobokkan aku

Penuh cinta engkau suapi aku

Tangisku, rintihanku dan rengekanku

Tetap membuatmu tersenyum

Kasihmu seluas samudra

Cintamu sedalam lautan

Sayangmu setinggi gunung

Dengan apa aku harus membalasnya

Ibu….

Di dunia ini tiada banding kasihmu

Dalam deritamu

Engkau tetap tabah mengasuh dan mendidik aku

Ibu…..

Engkau adalah matahariku

Engkau adalah rembulanku

Doaku bersamamu selalu

Semoga rahmat Ilahi atasmu

(8)

Caya bulan di ombak menitik

Embun berdikit turun menitik (J.E.Tatengkeng)

Segala menebal, segala mengental

Segala tak kukenal

Selamat tinggal…… (Chairil Anwar)

1.

Unsur batiniah puisi (hakikat puisi)

(1) Tema ialah pokok persoalan yang mendasari dan menjiwai setiap larik puisi. Misalnya, Ayip

Rosidi menuangkan tema “Ketidakpuasan “ dalam puisi “Di Akuarium”:

Di Akuarium

Ayip Rosidi

Kulihat ikan-ikan berenangan, alangkah nyaman

dan tenang hidup tanpa persoalan. Betapa ingin

aku menjadi ikan.

Dari balik kaca, matanya cemburu memandang

Barangkali ingin menjadi manusia, menjadi aku

Yang pergi memancing di hari minggu.

(2) Rasa (feeling) ialah sikap pandang (pendapat) penyair terhadap pokok persoalan/tema

tertentu. Ada penyair yang bersikap simpati-antipati, setuju-tidak setuju, dll. Misalnya Chairil

Anwar dalam masih bersikap menerima terhadap gadis yang telah mengecewakannya

dengan persyaratan tertentu. Sebaliknya Armyn Pane bersikap menolak terhadap gadis yang telah

mengecewakannya. Hal itu terungkap dalam puisinya masing-masing sebagai berikut.

PENERIMAAN

Chairil Anwar

KEMBANG SETENGAH JALAN

Armyn Pane

(9)

Dengan sepenuh hati

Aku masih tetapi sendiri

Kutahu kau yang bukan dulu lagi

Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tantang Aku

dengan berani

APRESIASI SASTRA ANAK SECARA RESEPTIF 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Istilah apresiasi berasal dari bahasa Inggris "apresiation" yang berarti penghargaan, penilaian, pengertian. Bentuk itu berasal dari kata kerja "ti appreciate" yang berarti menghargai, menilai, mengerti dalam bahasa Indonesia menjadi mengapresiasi. Dengan demikian, yang dimaksud dengan apresiasi sastra adalah penghargaan, penilaian, dan pengertian terhadap karya sastra, baik yang berbentuk puisi maupun prosa atau suatu kegiatan menggauli sastra dengan sungguh-sungguh hingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra.

Di sekolah dasar, pembelajaran sastra dimaksudkan untuk meningkatkan

kemampuan siswa mengapresiasikan karya sastra. Menurut Huck (1987 : 630-623) bahwa pembelajaran sastra di SD harus memberi pengalaman pada siswa yang akan berkontribusi pada 4 tujuan, yakni pencarian kesenangan pada buku,

menginterprestasikan bacaan sastra, mengembangkan kesadaran bersastra, dan mengembangkan apresiasi.

(10)

utama benda mati, sastra anak yang mengetengahkan tokoh utamanya makhluk hidup selain manusia,dan sastra anak yang menghadirkan tokoh utama yang berasal dari manusia itu sendiri.

Seperti pada jenis karya sastra umumnya, sastra anak juga berfungsi sebagai media pendidikan dan hiburan, membentuk kepribadian anak, serta menuntun kecerdasan emosi anak. Pendidikan dalam sastra anak memuat amanat tentang moral, pembentukan kepribadian anak, mengembangkan imajinasi dan kreativitas, serta memberi pengetahuan keterampilan praktis bagi anak. Fungsi hiburan dalam sastra anak dapat membuat anak merasa bahagia atau senang membaca, senang dan gembira mendengarkan cerita ketika dibacakan atau dideklamasikan, dan mendapatkan kenikmatan atau kepuasan batin sehingga menuntun kecerdasan emosinya.

1.2 Rumusan Masalah

(1) Apakah definisi apresiasi sastra?

(2) Apakah tujuan dan manfaat apresiasi sastra?

(3) Apakah yang dimaksud dengan apresiasi sastra anak-anak secara reseptif? 1.3 Tujuan

(1) Menjelaskan definisi apresiasi sastra

(2) Menjelaskan tujuan dan manfaat apresiasi sastra

(3) Menjelaskan maksud apresiasi sastra anak-anak secara reseptif

2. PEMBAHASAN

2.1 Definisi Apresiasi Sastra

Istilah apresiasi berasal dari bahasa Inggris "apresiation" yang berarti penghargaan,penilaian,pengertian. Bentuk itu berasal dari kata kerja " ti

appreciate" yang berarti menghargai, menilai,mengerti dalam bahasa indonesia menjadi mengapresiasi. Dengan demikian, yang dimaksud dengan apresiasi sastra adalah penghargaan, penilaian, dan pengertian terhadap karya sastra, baik yang berbentuk puisi maupun prosa, atau suatu kegiatan menggauli sastra dengan sungguh-sungguh hingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra.

Untuk pengertian sastra anak, yaitu :

1. Sastra anak-anak adalah sastra yang ditulis oleh pengarang yang usianya remaja atau dewasa, isi dan bahasanya mencerminkan corak kehidupan dan kepribadian anak.

2. Sastra anak-anak adalah sastra yang ditulis oleh pengarang yang usianya masih tergolong anak-anak, yang isi dan bahasanya mencerminkan corak kehidupan dan kepribadian anak.

(11)

bentuk drama.

Pengertian apresiasi sastra anak-anak merupakan serangkaian kegiatan bermain dengan sastra anak-anak sehingga muncul pengertian, ketepatan dan ketelitian pemahaman, kepekaan perasaan dan penghargaan yang baik dalam diri anak terhadap sastra anak-anak.

2.2 Tujuan dan Manfaat Apresiasi Sastra Manfaat apresiasi sastra, diantaranya :

(1) Melatih keempat keterampilan berbahasa, yakni mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.

(2) Menambah pengetahuan tentang pengalaman hidup manusia seperti adat istiadat, agama, kebudayaan, dsb.

(3) Membantu mengembangkan pribadi (4) Membantu pembentukan watak (5) Memberi kenyamanan

(6) Meluaskan dimensi kehidupan dengan pengalaman baru (Wardani 1981)

Selain itu, manfaat lain dari apresiasi sastra, diantaranya : (1) Nilai personal

Memberi kesenangan, mengembangkan imajinasi, memberi pengalaman yang dapat terhayati, mengembangkan pandangan ke arah persoalan kemanusiaan, menyajikan pengalaman yang bersifat emosional.

(2) Nilai pendidikan

Membantu perkembangan bahasa, meningkatkan kelancaran-kemahiran membaca, meningkatkan keterampilan menulis, mengembangkan kepekaan terhadap sastra (Huck 1987).

2.3 Apresiasi Sastra Anak Secara Reseptif

Apresiasi sastra anak secara reseptif adalah penghargaan, penilaian, dan

pengertian terhadap karya sastra anak-anak, baik yang berbentuk puisi maupun prosa yang dapat dilakukan dengan cara membaca, mendengarkan dan

menyaksikan pementasan drama.

Ada beberapa pendekatan yang dapat diterapkan dalam mengapresiasi sastra anak-anak secara reseptif, diantaranya sebagai berikut:

(1) Pendekatan Emotif

(12)

menarik.

(2) Pendekatan Didaktis

Pendekatan didaktis mengantar pembaca untuk memperoleh berbagai amanat, petuah, nasihat, pandangan keagamaan yang sarat dengan nilai-nilai yang dapat memperkaya kehidupan rohaniah pembaca. Aminuddin (2004: 47) mengemukakan bahwa pendekatan didaktis adalah suatu pendekatan yang berusaha menemukan dan memahami gagasan, tanggapan, evaluatif maupun sikap itu dalam hal ini akan mampu terwujud dalam suatu pandangan etis, filosofis, maupun agamis sehingga akan mampu memperkaya kehidupan rohaniah pembaca.

(3) Pendekatan Analitis

Aminuddin (2004: 44) mengemukakan bahwa pendekatan analitis merupakan pendekatan yang berupaya membantu pembaca memahami gagasan, cara

pengarang menampilkan gagasan, sikap pengarang, unsur intrinsik dan hubungan antara elemen itu sehingga dapat membentuk keselarasan dan kesatuan dalam rangka terbentuknya totalitas bentuk dan maknanya. Namun demikian, penerapan pendekatan analitis dalam pembelajaran sastra di SD tidaklah berarti harus

selengkap seperti yang dipaparkan diatas. Dianggap telah memadai, jika telah dapat mengungkapakan unsur-unsur yang membangun karya sastra yang dibaca, dan dapat menunjukkan hubungan antarunsur yang saling mendukung atau saling bertentangan, serta mampu memaparkan pesan-pesan yang dapat memperkaya pengalaman rohaniah.

Aminudin (2004) mengemukakan bahwa unsur dalam prosa atau cerita fiksi adalah tema, latar, alur, penokohan dan titik pandang, dan gaya.

3. PENUTUP 3.1 Kesimpulan

Apresiasi sastra anak-anak merupakan serangkaian kegiatan bermain dengan sastra anak-anak sehingga muncul pengertian, ketepatan dan ketelitian pemahaman, kepekaan perasaan dan penghargaan yang baik dalam diri anak terhadap sastra anak-anak. Apresiasi sastra anak mempunyai manfaat diantaranya : melatih keterampilan berbahasa, menambah pengetahuan tentang pengalaman hidup manusia, membantu mengembangkan pribadi membentuk watak, memberi kenyamanan meluaskan dimensi kehidupan dengan pengalaman baru (Wardani 1981). Apresiasi sastra anak-anak secara reseptif dapat dilakukan dengan

memberikan penghargaan, penilaian, dan pengertian terhadap karya sastra anak-anak, baik yang berbentuk puisi maupun prosa yang dapat dilakukan dengan cara membaca, mendengarkan dan menyaksikan pementasan drama. Pendekatan yang dapat diterapkan dalam mengapresiasi sastra anak-anak secara reseptif

diantaranya adalah pendekatan Emotif, pendekatan Didaktis, dan pendekatan Analitis.

3.2 Saran

(13)

tentang sastra sesuai dengan porsinya dan lebih meningkatkan daya imajinasi dan kreativitas anak dalam dunia sastra.

DAFTAR RUJUKAN

Zuchdi, D. dan Budiasih. 1999. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Semarang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Haryadi dan Zamzami. 1997. Peningkatan Keterampilan Berbahasa Indonesia. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Menurut Effendi (dalam Yusi Rosdiana, 2008:9.2), apresiasi sastra merupakan kegiatan menggauli karya sastra secara sungguh-sungguh hingga tumbuh pengertian, penghargaan,

Dalam kegiatan pembelajaran, rekayasa teks sastra dapat diterapkan, misalnya merekayasa puisi menjadi prosa atau drama, merekayasa drama menjadi prosa atau puisi,

Prosa ialah karya sastra yang berbentuk cerita yang bebas, tidak terikat oleh rima (bunyi yang berselang/berulang di dalam/akhir larik), irama , dan kemerduan bunyi

Memahami buku kumpulan puisi kontemporer dan karya sastra yang dianggap penting pada tiap periode Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Indikator

Dari komunitas sastra Indonesia yang ada di Jawa Timur telah lahir ratusan, bahkan mungkin ribuan karya sastra, baik berupa puisi, prosa, drama maupun esai sastra-budaya,

Pengkajian sastra Jawa Pesisiran meliputi sejarah perkembangannya, ciri- ciri, baik prosa maupun puisi (tembang dan singir) dan pembahasan beberapa karya

Inilah ciri struktur estetik dari karya sastra puisi dan prosa Angkatan 45, yang membuat karya sastra Angkatan 45 menjadi karya sastra yang fenomenal dalam sejarah sastra

UNSUR INTRINSIK PROSA Sebuah karya sastra berbentuk prosa dapat berupa novel, roman, novelet, cerpen dan bebrapa istilah lain, yang pasti adalah sebuah cerita tentang kehidupan,