• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Biaya Sdm Sebagai Alat Perencanaan Dan Pengawasan Pada PT Pertamina (PERSERO) Pemasaran Region I Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Analisis Biaya Sdm Sebagai Alat Perencanaan Dan Pengawasan Pada PT Pertamina (PERSERO) Pemasaran Region I Medan"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI

PROGRAM S-1 EKSTENSI M E D A N

SKRIPSI

ANALISIS BIAYA SDM SEBAGAI ALAT PERENCANAAN DAN PENGAWASAN PADA PT PERTAMINA (PERSERO) PEMASARAN

REGION I MEDAN

Diajukan Oleh :

NAMA : FITHRIANI

NIM : 050522137

DEPARTEMEN : AKUNTANSI

Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Universitas Sumatera Utara

(2)

BAB I PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Analisis Biaya SDM

Sebagai Alat Perencanaan dan Pengawasan Pada PT Pertamina (Persero)

Pemasaran Region I Medan “ Adalah benar hasil karya saya sendiri dan judul

dimaksud belum pernah dibuat, dipublikasi atau diteliti oleh mahasiswa lain

dalam konteks penulisan skripsi level Program Strata 1 Ekstensi Departemen

Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara

Semua sumber data dan informasi yang diperoleh telah dinyatakan dengan jelas,

benar apa adanya dan apabila di kemudian hari pernyataan ini tidak benar, saya

bersedia menerima sanksi yang ditetapkan oleh Universitas Sumatera Utara

Medan, Juli 2009

Yang Membuat Pernyataan

FITHRIANI

(3)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Segala Puji dan Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas

rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang

berjudul “Analisis Biaya SDM sebagai alat perencanaan dan pengawasan pada

PT. Pertamina Pemasaran Region I”. Tak lupa pula shalawat beriring salam

kepada nabi besar Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan umatnya.

Adapun tujuan penyusunan skripsi ini adalah guna memenuhi salah satu

syarat untuk memperoleh gelar sarjana ekonomi pada Fakultas Ekonomi

Universitas Sumatera Utara.

Dengan penuh kerendahan hati penulis menyadari bahwa skripsi ini

masih jauh dari kesempurnaan, Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan

saran yang bersifat konstruktif dari semua pihak demi kesempurnaan skripsi ini.

Dalam penulisan skripsi ini penulis banyak mendapat dukungan dan

bimbingan dari berbagai pihak. Dengan rasa hormat penulis mengucapkan

terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Drs. Jhon Tafbu Ritonga, M.Ec selaku Dekan Fakultas Ekonomi

Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Drs. Rustam, Ak, Msi selaku dosen pembimbing yang telah

banyak memberikan bimbingan dan arahan sehingga skripsi ini dapat

(4)

3. Bapak Drs. M. Utama Nasution, MM, selaku dosen pembanding I dan

Ibu Dra. Naleni Indra, MSi, Ak selaku dosen pembanding II yang telah

memberikan masukan dan saran kepada penulis dalam penyelesaian

skripsi ini.

4. Para Pimpinan, Staff dan Pegawai PT Pertamina (Persero) Pemasaran

Region I Medan yang telah bersedia membantu penulis selama masa

penyelesaian skripsi ini.

5. Penulis persembahkan skripsi ini kepada keluarga tercinta, Ayahanda

Abdullah Sani, dan Ibunda Rosmawati yang telah membesarkan,

mendidik, dan memberikan dukungan moril maupun materil serta

mengajarkan nilai-nilai dalam kehidupan, juga kepada Ir. Mohd. Nasir,

dan teruntuk seluruh teman-teman penulis, di Pertamina Pemasaran

Region I maupun di Fakultas Ekonomi USU yang tidak dapat disebutkan

satu-persatu.

Demikian skripsi ini penulis perbuat dan semoga kiranya dapat

bermanfaat bagi Penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya..

Akhirnya dengan segala kerendahan hati penulis mohon maaf kepada semua

pihak atas segala kekurangan dan kesalahan yang mungkin pernah perbuat.

Semoga Allah SWT selalu memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada kita

semua . Amin.

(5)

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah Biaya SDM pada PT. Pertamina (Persero) Region I sudah digunakan sebagai alat perencanaan dan pengawasan sehingga dapat tercapai efektifitas dan efisiensi, juga mengetahui apa saja jenis biaya yang dikeluarkan untuk SDM / Tenaga kerja oleh Perusahaan. Dan juga dapat mengetahui tindakan perbaikan apa yang akan diambil perusahaan apabila terjadi perbedaan antara anggaran dan realisasinya.

Penelitian yang dilakukan adalah dalam bentuk deskriptif, dengan pengumpulan data primer dan data sekunder. Untuk memperoleh data yang diperlukan penulis menggunakan teknik pengumpulan data berupa wawancara dan dokumentasi.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa perencanaan biaya SDM pada PT. Pertamina (Persero) Region I sudah digunakan sebagai alat pengawasan, tetapi belum mencapai efektifitas dan efisiensi jika dilihat dari beberapa komposisi biaya yang realisasinya melebihi anggaran. Oleh karena itu menurut penulis perusahaan hendaknya lebih mengkoordinasikan secara baik, berhati-hati dalam melakukan perencanaan dan pengawasan, meneliti dan memperhatikan biaya-biaya yang tidak menguntungkan yang terjadi dimasa lalu agar pengendalian manajemen biaya SDM dapat menguntungkan bagi perusahaan yang lebih besar.

(6)

ABSTRACT

The goals of the research are to find out whether the human resources cost planning has been done by PT. Pertamina (Persero) Region I and used as a management controlling both getting effectiveness and efficiency. It finds out what kind of human resources cost in the company. And also to find out the action plan to handle if there are the differences between human resources cost either the realization.

Research method which used was descriptive method which primary and secondary data collection. To get the data the writer was used collecting technical data as interview and documentation.

From the research result can be concluded that PT. Pertamina (Persero) Region I, human resources cost planning has been used as controlling, but still not successfully in effectiveness and efficiency if it looked from the several cost which is over budget. Because of that according to the writer, the company should be coordinated as well, much be carefully doing the planning and controlling, investigate and be careful in controlling the unnecessary cost in the past so the management cost controlling can make the big advantage to the company.

(7)

DAFTAR ISI

Halaman

PERNYATAAN...i

KATA PENGANTAR... ii

ABSTRAK... iv

ABSTRACT... v

DAFTAR ISI... vi

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Perumusan Masalah... 3

C. Tujuan Penelitian... 3

D. Manfaat Penelitian……… 4

E. Kerangka Konseptual………5

BAB II :TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian dan Penggolongan Biaya……… 6

B. Konsep Anggaran Perusahaan……… 15

C. Pengertian Gaji dan Upah...22

D. Anggaran Biaya SDM sebagai alat Perencanaan…………. 25

E. Anggaran Biaya SDM sebagai alat Pengawasan…………... 30

(8)

B. Jenis Data……….. 31

C. Teknik Pengumpulan Data……… 31

D. Metode Analisis Data……… 32

BAB IV :ANALISIS HASIL PENELITIAN A. Data Penelitian 1. Gambaran Umum Perusahaan……… 33

2. Kondisi Kinerja Perusahaan……… 39

3. Struktur Organisasi Perusahaan……….. 43

4. Klasifikasi Biaya SDM……… 50

5. Penyusunan Anggaran Biaya SDM………..52

B. Analisis Hasil Penelitian 1. Anggaran dan Realisasi Biaya SDM... 54

2. Penyimpangan Biaya SDM……… ..57

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan………... 62

B. Saran………....62

(9)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Tujuan dari suatu Perusahaan atau entity bisnis adalah untuk

menghasilkan laba, mempertahankan kesinambungan perusahaan dan mencapai

pertumbuhan yang terus menerus. Untuk mencapai tujuan-tujuan dimaksud

maka diperlukan suatu alat yang disebut Rencana Kerja dan Anggaran

Perusahaan (RKAP) yang berfungsi sebagai pedoman atau sasaran perusahaan

dalam melaksanakan aktivitas kerjanya selama setahun kedepan, dan dituangkan

dalam satuan angka / moneter.

Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan merupakan alat perencanaan

dan pengawasan terkait dengan laba dan biaya. Anggaran laba dituangkan

dalam suatu perencanaan output yang ingin dihasilkan sehingga mencapai suatu

target laba yang diproyeksikan pada tahun mendatang. Anggaran ini disusun

oleh Pusat-pusat laba atau pendapatan pada Perusahaan. Selain Anggaran Laba,

perusahaan juga perlu membuat suatu perencanaan penggunaan biaya (cost

saving) selama setahun mendatang. Tentunya hal ini juga berkait dengan laba

yang diproyeksikan untuk tahun mendatang, karena biaya adalah komponen

pengurang untuk menghasilkan laba. Sehingga semakin tepat perusahaan dalam

mengelola dan merencanakan biaya, maka semakin sensitive bagi bisnis untuk

bisa mencapai laba yang diproyeksikan.

Pusat-pusat biaya pada perusahaan ada banyak, salah satunya adalah

(10)

Biaya tenaga kerja langsung ( Direct Labour Cost) dan Biaya tenaga kerja tidak

langsung (Indirect Labour cost). Hal yang sangat sensitive bahwa ternyata

anggaran biaya untuk SDM adalah anggaran biaya yang paling besar

nominalnya dibanding anggaran biaya lain pada RKAP perusahaan.

PT PERTAMINA (PERSERO) UPms I merupakan Badan Usaha Milik

Negara (BUMN) yang bergerak dalam bidang Minyak & Gas Bumi. Perubahan

Undang-Undang No.8 tahun 1971 tentang perubahan pertamina menjadi

Undang-Undang No.22 tahun 2001 tentang proses bisnis Pertamina dan

akhirnya terbitlah Undang-Undang No.19 tahun 2003, tanggal 17 September

2003 tentang BUMN dan perubahan Badan Hukum Pertamina menjadi

Perseroan, berdampak terhadap hal-hal mendasar dalam pengelolaan

perusahaan, antara lain perubahan bentuk usaha, pola usaha, dan pola

pengelolaan.

Perubahan pola pengelolaan Perusahaan tersebut dilatari oleh perubahan

lingkungan usaha, seperti Undang-Undang, persaingan bisnis, tuntutan kinerja

perusahaan dalam bentuk usaha yang baru.

Perubahan tersebut mengharuskan perusahaan melakukan perubahan

dalam system korporasi agar tetap survive, termasuk didalamnya system

pengelolaan Sumber Daya Manusia.

Pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM) dilakukan secara terarah,

terencana dan terkendali sehingga menghasilkan pekerja yang handal, memiliki

(11)

Kenyataan tersebut, membuat perusahaan harus meneliti kembali,

apakah biaya-biaya SDM yang dikeluarkan, masih bisa dilakukan efisiensi,

ataukah perlu dikaji kembali kebijakannya serta bagaimana realisasi

penggunaannya. Selain itu, Struktur Organisasi perusahaan tentunya sangat erat

kaitannya dengan sistem pelaporan dan pengawasan dari pusat-pusat biaya

Perusahaan. Perubahan Struktur Organisasi akan berdampak pada hal ini, dan

mungkin saja dapat merubah pola dan justifikasi dalam penyusunan

perencanaan biaya dan pengawasan penggunaan biaya SDM pada perusahaan,

karena SDM tersebut melekat pada Struktur Organisasi Perusahaan.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan judul dan latar belakang masalah diatas maka diidentifikasi

masalah yang diajukan penulis adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana Klasifikasi Biaya SDM pada PT Pertamina (Persero)

Pemasaran Region I ?

2. Apakah Biaya SDM yang terjadi sudah sesuai dengan Anggaran PT

Pertamina (Persero) Pemasaran Region I ?

3. Apakah Anggaran dapat dijadikan sebagai alat perencanaan dan

pengawasan Biaya SDM pada PT Pertamina (Persero) Pemasaran

Region I?

C. Tujuan Penelitian

(12)

1. Untuk mengetahui Klasifikasi Biaya SDM pada PT Pertamina (Persero)

Pemasaran Pemasaran Region I

2. Untuk mengetahui bagaimana perencanaan Biaya SDM pada PT

PERTAMINA (PERSERO) Pemasaran Pemasaran Region I

3. Untuk mengetahui kendala yang dihadapi perusahaan dalam pengawasan

biaya SDM pada PT PERTAMINA (PERSERO) Pemasaran Region I

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Penulis, untuk menambah wawasan pada bidang Biaya SDM

Perusahaan, serta Perencanaan dan Pengawasan Anggaran

Perusahaan.

2. Perusahaan, memberi masukan bagi pihak manajemen tentang

perencanaan dan pengawasan biaya SDM serta peranan Anggaran

4. Peneliti lain selanjutnya pada bidang yang sama, menambah

(13)

E. Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual yang penulis pakai pada penulisan skripsi ini adalah

dengan melihat permasalahan yang ada pada objek penelitian, kemudian

melihat teori-teori yang relevan untuk digunakan. Setelah itu kemudian

penulis akan meneliti dan akan menjabarkan hasil penelitian tersebut. Hal

ini tampak pada gambar dibawah ini:

Konsep dan Fungsi Anggaran

Realisasi Biaya SDM VS

Anggaran Biaya SDM

Elemen Biaya SDM

Penyusunan Anggaran Biaya SDM

Anggaran Biaya SDM

Sebagai alat perencanaan dan pengawasan Definisi Biaya

Analisis Biaya SDM sebagai alat perencanaan dan pengawasan pada PT Pertamina (Persero) Pemasaran Region I

(14)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian dan Penggolongan Biaya a. Pengertian Biaya

Istilah biaya dan beban yang dikenal dalam akuntansi Indonesia identik

dengan istilah cost dalam literature akuntansi berbahasa Inggris. Dan sering

ditemukan istilah biaya dan beban digunakan saling bergantian dengan

pengertian yang sama. Namun sebenarnya keduanya mengandung arti yang

berbeda.

Menurut Hansen, dan Mowen (2006:36) “Biaya (cost) adalah kas atau nilai

ekuivalen kas yang dikorbankan untuk mendapatkan barang dan jasa yang

diharapkan memberikan manfaat saat ini atau masa yang akan datang bagi

organisasi “.

Sedangkan pengertian beban menurut Simamora (2006:47) adalah

“Beban (expense) adalah biaya yang sudah terpakai (expired cost)”. Biaya

diukur dengan satuan moneter yang musti dibayar untuk barang dan jasa dan

dikeluarkan untuk menghasilkan manfaat dimasa depan.”

Dalam perusahaan penghasil laba, manfaat dimasa depan berarti

pendapatan. Karena biaya digunakan untuk memproduksi pendapatan maka

(15)

Biaya berkaitan dengan semua tipe organisasi bisnis, non bisnis,

manufaktur, eceran dan jasa. Umumnya macam biaya terjadi dan cara

klasifikasinya tergantung pada tipe organisasi. Hal ini diperjelas dalam Standar

Akuntansi Keuangan No.1 (2004:15) :

Perusahaan menyajikan di laporan laba rugi atau catatan atas laporan keuangan, rincian beban dengan menggunakan klasifikasi yang didasarkan pada sifat atau fungsi beban didalam perusahaan. Pos-pos beban di subklasifikasikan lebih lanjut dalam rangka menonjolkan cakupan komponen-komponen kinerja keuangan yang berbeda dalam hal stabilitas, potensi menghasilkan laba atau rugi dan prediksi .

Dalam penelitian skripsi ini, penulis memfokuskan pada perusahaan yang

bergerak di bidang Jasa Pemasaran BBM. Perusahaan jasa pada umumnya

menggunakan data biaya dengan cara yang sama dengan Perusahaan

Manufaktur. Perusahaan jasa menggunakan biaya untuk menentukan tingkat

keuntungan, kelayakan perkenalan produk, dan untuk menelusuri biaya-biaya

yang terjadi untuk memastikan bahwa mereka memberikan jasa dengan biaya

yang efisien, khususnya untuk biaya Tenaga kerja (SDM).

Biaya tenaga kerja dapat digolongkan dalam biaya Salary dan Wages dan

Sundries (lain-lain), yang telah di susun berdasarkan standar Perusahaan.

Anggaran Salary dan Wages tersebut disebut juga Direct Labour Cost (Yang

terkait langsung dengan Upah/ Take Home Pay pekerja dan Indirect Labour cost

(bersifat Variable / dan merupakan Benefit diluar Upah). Dalam hal ini penulis

sangat antusias dalam membahas masalah Biaya SDM yang merupakan

(16)

diperoleh berdasarkan data realisasi biaya, hal tersebut sangat memberikan

dampak yang berarti bagi Anggaran Perusahaan.

b. Penggolongan Biaya

Perusahaan-perusahaan jasa, seperti kantor pengacara, kantor akuntan

publik, bank dan lembaga keuangan lainnya menghasilkan jasa ketimbang

produk, dalam perusahaan jasa tidak ada persediaan output.

Output jasa tidak dapat diproduksi sebelum diperlukan dengan demikian

output jasa hanya ada jika terdapat pelanggan.

Jasa diberikan oleh manusia, akibatnya sebagian besar organisasi jasa

adalah padat tenaga kerja (padat karya) dan sebagian besar biayanya adalah gaji

dan upah yang terkait dengan pengeluaran. Sebagian besar biaya dalam

organisai adalah biaya tetap.

Besarnya biaya tenaga kerja adalah untuk pegawai profesional yang

dibayar bulanan. Biaya overhead terdiri dari biaya yang berkaitan dengan

fasilitas dan peralatan dengan jumlah tetap untuk masing-masing periode waktu.

Simamora (2000:43) menyatakan elemen-elemen biaya sebagai berikut :

“Dalam perusahaan jasa, biaya produk (lebih lazim disebut biaya jasa), meliputi

tenaga kerja, keperluan kantor, dan biaya lainnya yang berkaitan langsung

dengan penyerahan jasa kepada pelanggan dan klien”.

Dalam industri-industri jasa tidak terdapat persediaan produk (jasa) dan

(17)

berfaedah bagi perusahaan jasa. Dalam perusahaan jasa biaya-biaya pada

umumnya dibagi menjadi biaya langsung dan biaya tidak langsung.

Biaya tersebut dapat meliputi :

a. Biaya Berdasarkan Fungsi Pokok dari kegiatan atau aktivitas perusahaan (cost classified according to the function of bussines activity).

b. Biaya sesuai dengan periode akuntansi dimana biaya akan dibebankan. c. Biaya sesuai dengan tendensi perubahannya terhadap aktivitas atau

kegiatan atau volume.

d. Biaya sesuai dengan objek atau pusat biaya yang dibiayai. e. Biaya untuk tujuan pengendalian biaya.

f. Biaya sesuai dengan tujuan pengambilan keputusan.

a. Biaya Berdasarkan Fungsi Pokok

Sesuai dengan fungsi pokok aktivitas perusahaan biaya

digolongkan dalam :

1. Biaya Produksi , yaitu semua biaya yang berhubungan dengan

fungsi produksi atau yang berhubungan dengan kegiatan

pengolahan bahan baku sampai menjadi produk selesai. Biaya

produksi dapat digolongkan dalam tiga jenis, yaitu :

- Biaya bahan baku langsung (direct material), yaitu biaya dari

harga perolehan semua bahan yang akan diolah menjadi

barang jadi dan dapat dimasukkan dalam perhitungan biaya

produk

- .Biaya tenaga kerja langsung (direct labour), yaitu balas jasa

(18)

bahan baku menjadi bahan jadi yang manfaatnya dapat

didefinisikan pada produk yang dihasilkan tersebut.

- Biaya overhead pabrik (Factory overhead cost), yaitu semua

biaya produksi selain biaya bahan & biaya tenaga kerja

langsung. Biaya ini terdiri dari :

- Biaya bahan tidak langsung, yaitu harga perolehan

bahan yang diolah menjadi bagian produk selesai tetapi

manfaatnya tidak dapat didefinisikan atau dinilai relatif

kecil.

- Biaya tenaga kerja tidak langsung, yaitu biaya balas

jasa yang diberikan kepada buruh tetapi manfaatnya

pada produk yang dihasilkan.

- Biaya tidak langsung lainnya, misalnya penyusutan atau

amortisasi aktiva tetap pabrik, reparasi, dan

pemeliharaan aktiva pabrik, listrik, air.

2. Biaya Pemasaran, yaitu biaya dalam rangka penjualan selesai

sampai dengan pengumpulan piutang menjadi kas.

3. Biaya Admistrasi dan Umum, yaitu semua biaya yang

berhubungan dengan fungsi administrasi dan umum, misalnya gaji

, lembur, shift (regu bergilir) dan sebagainya.

4. Biaya keuangan, yaitu semua biaya yang terjadi dalam

(19)

b. Biaya Berdasarkan Periode Akuntansi dimana biaya dibebankan.

Penggolongan biaya sesuai dengan periode akuntansi dimana biaya

akan dibebankan, terdiri dari :

A. Pengeluaran modal (capital expenditure)

Pengeluaran modal adalah pengeluaran yang dapat memberikan

manfaat pada beberapa periode akuntansi yang akan datang.

Pada saat terjadinya pengeluaran ini dikapitalisasi ke dalam

harga perolehan aktiva, dan diperlukan sebagai biaya pada

periode akuntansi yang menikmati manfaatnya. Misalnya

pembelian mesin dalam jumlah relatif besar yang manfaatnya

dipakai dalam beberapa periode akuntansi.

2. Pengeluaran Penghasilan (revenue expenditure).

Pengeluaran penghasilan adalah pengeluaran yang memberikan

manfaat hanya pada periode akuntansi dimana pengeluaran

terjadi. Misalnya biaya asuransi.

c. Biaya Berdasarkan tendensi perubahannya terhadap volume

Penggolongan biaya ini terutama untuk tujuan perencanaan dan

pengendalian biaya serta pengambilan keputusan yang dapat dibagi

(20)

1. Biaya tetap (fixed cost), yaitu biaya yang konstan dan tidak

dipengaruhi oleh volume kegiatan sampai tingkat tertentu.

Misalnya biaya penyusutan aktiva tetap.

2. Biaya variable (variable cost), yaitu jumlahnya berubah

sebanding dengan perubahan volume kegiatan, berarti semakin

besar volume kegiatan maka semakin tinggi pula biaya variable

dan begitu sebaliknya.

3. Biaya semi variable (semi variable cost), yaitu jumlah totalnya

akan berubah sesuai dengan perubahan volume kegiatan akan

tetapi sifat perubahannya tidak sebanding. Misalnya Listrik, Air,

telepon dn biaya reparasi aktiva tetap.

d. Biaya Berdasarkan objek biaya

Penggolongan biaya berdasarkan objek atau pusat biaya terbagi dua

yaitu :

1. Biaya langsung (direct cost), yaitu biaya yang terjadi atau

manfaatnya dapat didefinisikan kepada objek atau pusat biaya

tertentu. Biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung

merupakan biaya langsung terhadap produk.

2. Biaya tidak langsung (indirect cost), yaitu biaya yang terjadinya

atau manfaatnya tidak dapat didefinisikan kepada objek atau

pusat biaya tertentu, atau biaya yang manfaatnya dinikmati oleh

(21)

tenaga kerja tidak langsung , biaya bahan baku tidak langsung

dll.

e. Biaya Berdasarkan tujuan pengendalian biaya

Penggolongan biaya untuk informasi pengendalian biaya yaitu :

1. Biaya terkendali (controrable cost), yaitu biaya yang secara

langsung dapat dipengaruhi oleh seseorang pimpinan dalam

jangka waktu tertentu.

2. Biaya tidak terkendali (uncontrorable cost), yaitu biaya yang

tidak dapat dipengaruhi oleh seseorang pimpinan/pejabat tertentu

berdasarkan wewenang yang dimiliki. Misalnya biaya

penyusutan merupakan biaya tidak terkendali menurut bagian

operasional. Tetapi merupakan biaya terkendali menurut

Manajemen puncak yang mempunyai wewenang dalam

pembelian/penggantian aktiva.

f. Biaya berdasarkan tujuan pengambilan keputusan

Pengelompokan untuk tujuan pengambilan keputusan manajemen

terdiri dari :

1. Biaya relevan (relevant cost), yaitu biaya-biaya yang akan

mempengaruhi pengambilan keputusan, sehingga biaya ini harus

dipertimbangkan di dalam pengambilan keputusan. Pengambilan

(22)

2. Biaya tidak relevan (irrelevant cost), yaitu biaya yang tidak

mempengaruhi pengambilan keputusan, oleh karena itu biaya ini

tidak perlu dipertimbangkan atau diperhitungkan dalam

pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan dalam biaya ini,

misalnya membeli atau membuat produk, menerima atau

menolak pesanan khusus.

Penggolongan biaya yang dilakukan suatu perusahaan mungkin akan

berbeda dengan perusahaan lain. Perbedaan ini disebabkan adanya perbedaan

kebutuhan informasi masing-masing manajemen dalam perusahaan. Kebutuhan

masing-masing manajemen ditentukan oleh berbagai faktor, misalnya jenis

usaha, besar perusahaan, letak perusahaan, dan gaya perusahaan.

Dari penjelasan diatas, maka elemen-elemen biaya operasional dalam

perusahaan jasa adalah setiap biaya yang dikeluarkan berkaitan dengan usaha

pokok perusahaan yang berkaitan dengan periode waktu dimana biaya dipakai

dan berkaitan langsung dengan pernyerahan jasa meliputi :

a. Biaya tenaga kerja langsung

Merupakan biaya yang dikeluarkan untuk pegawai profesional yang

dibayar bulanan, seperti gaji .

b. Keperluan kantor/administrasi.

Biaya yang terjadi dan hubungannya dengan penentuan kebijakan,

(23)

secara keseluruhan agar dapat berhasil guna (efektif) dan berdaya guna

(efisien), yang meliputi :

- Biaya Gaji / Upah pegawai kantor, yang terdiri dari , Upah tetap,

biaya lembur, biaya shift (regu bergilir), dll.

- Insentif atau bonus.

- Pengobatan karyawan.

- Biaya penyusutan peralatan kantor.

- Biaya cetak, alat tulis, dan supplies kantor.

- Biaya rapat dan pertemuan.

c. Biaya lainnya yang berkaitan langsung dengan penyerahan jasa kepada

pelanggan.

Elemen biaya ini tergantung dan sesuai dengan jenis organisasinya, sebab

karakteristik perusahaan berbeda-beda. Dengan demikian keragaman output

juga berbeda sehingga biaya yang terjadi selama periode berjalan juga

tergantung bisnis masing-masing.

B. Konsep Anggaran Perusahaan 1. Pengertian Anggaran

Dalam melaksanakan kegiatan utamanya, setiap perusahaan selalu

dihadapkan pada masa depan yang penuh ketidakpastian. Hal ini akan

menimbulkan permasalahan dalam pemilihan berbagai alternatif yang akan

(24)

telah diambil tersebut memerlukan adanya sebuah alat untuk

mengkoordinasikan semua kegiatan agar dapat berjalan dengan baik. Anggaran

adalah salah satu sarana manajemen yang digunakan untuk mengkoordinasikan

kegiatan atau dengan kata lain anggaran sangat bermanfaat untuk mensinergikan

seluruh sumber dana dan daya yang ada dalam sebuah perusahaan untuk

mencapai tujuan.

Anggaran menurut Hopkins (2001:5) adalah “ Bagian dari kontrol bagi

para manager, perbandingan hasil aktual dengan rencana anggaran berarti

penyimpangan dari bagian tersebut dapat segera diketahui, diperbaiki, dan

disesuaikan “.

Nafarin (2006:12) mendefinisikan anggaran sebagai berikut “Anggaran adalah sebuah rencana keuangan periodik yang disusun berdasarkan program yang telah disahkan. Anggaran (budget) merupakan rencana tertulis mengenai kegiatan suatu organisasi yang dinyatakan secara kuantitatif dan umumnya dinyatakan dalam satuan uang untuk jangka waktu tertentu “.

Anggaran merupakan alat manajemen dalam mencapai tujuan, jadi

anggaran bukan tujuan dan tidak dapat menggantikan manajemen.

Dalam penyusunan anggaran perlu dipertimbangkan faktor-faktor

sebagai berikut :

a. Pengetahuan tentang tujuan dan kebijaksanaan umum perusahaan.

b. Data waktu yang lalu.

c. Pengetahuan tentang fisik, strategi pesaing, dan gerak-gerik pesaing.

d. Penilaian untuk pengembangan perusahaan.

(25)

perusahaan, yang dinyatakan dalam unit (satuan) moneter dan berlaku untuk

jangka waktu (periode) tertentu yang akan datang “.

Pengertian-pengertian anggaran diatas menunjukkan bahwa suatu anggaran

mempunyai empat unsur, yaitu :

a. Rencana

Rencana adalah sebuah penentuan terlebih dahulu tentang aktivitas

atau kegiatan yang dilakukan diwaktu yang akan datang.

b. Meliputi seluruh kegiatan organisasi

Anggaran mencakup semua aktifitas yang akan dilakukan oleh

semua bagian-bagian yang ada dalam perusahaan. Secara garis besar

kegiatan-kegiatan perusahaan adalah kegiatan pemasaran, produksi,

pembelanjaan, administrasi, dan personalia (SDM).

c. Dinyatakan dalam unit moneter.

Anggaran dinyatakan dalam unit atau satuan yang dapat diterapkan

pada berbagai kegiatan perusahaan yang beraneka ragam. Adapun

unit moneter yang berlaku di Indonesia adalah Rupiah.

d. Jangka waktu tertentu yang akan datang.

Hal ini menunjukkan bahwa anggaran berlaku untuk masa yang akan

datang, dengan demikian apa yang dimuat dalam anggaran adalah

taksiran-taksiran tentang apa yang akan terjadi serta apa yang akan

(26)

2. Fungsi Anggaran

Anggaran hanyalah sebagai suatu alat dan bagaimanapun baiknya suatu

anggaran tidak akan berfungsi dengan baik apabila manusia yang menggunakan

anggaran tersebut tidak dapat menggunakannya dengan baik.

Nafarin (2006:12) mengemukakan “ Anggaran sebagai alat manajemen

dalam melaksanakan fungsinya memiliki fungsi yang sama dengan manajemen

meliputi fungsi perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan “.

Fungsi anggaran tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Fungsi Perencanaan.

Anggaran merupakan alat perencanaan tertulis menurut pemikiran

yang diteliti dan akan memberikan gambaran yang lebih jelas/nyata

dalam unit dan uang. Misalnya Laba tahun 2008 direncanakan

setinggi-tingginya. Rencana yang dirumuskan dengan kata

“tingginya” tidak jelas maksudnya, karena laba yang

setinggi-tingginya bagi perusahaan yang satu tidak sama dengan yang lain.

Dalam anggaran rencana laba harus terukur (Measurable) yaitu

direncanakan Laba tahun 2008 sebesar Rp.2.5 Milyar.

b. Fungsi Pelaksanaan

Anggaran merupakan pedoman dalam pelaksanaan pekerjaan,

sehingga pekerjaan dapat dilaksanakan secara selaras dalam

mencapai tujuan (laba). Jadi anggaran penting untuk menyelaraskan

(27)

c. Fungsi Pengawasan.

Anggaran merupakan alat pengawasan (controlling), pengawasan

berarti mengevaluasi (menilai) terhadap pelaksanaan pekerjaan,

dengan cara :

1. Membandingkan realisasi dengan rencana anggaran (Planning)

2. Melakukan tindakan perbaikan apabila dipandang perlu (apabila

terdapat penyimpangan yang merugikan).

3. Hubungan Anggaran dan Akuntansi

Secara sederhana, akuntansi diartikan sebagai suatu cara yang sistematis

untuk melakukan pencatatan, penggolongan, peringkasan, penganalisaan serta

melakukan interprestasi terhadap peristiwa-peristiwa finansial yang terjadi dan

yang akan dilakukan oleh Perusahaan.

Dari pengeritan tersebut jelas bahwa akuntansi menyajikan data-data

historis, menyajikan peristiwa-peristiwa finansial yang terjadi dari hari ke hari

secara teratur dan sistematis. Sedangkan anggaran menyajikan data

taksiran-taksiran untuk jangka waktu tertentu yang akan datang.

Jika dihubungkan, maka terlihat bahwa antara anggaran dan akuntansi memiliki

hubungan / kaitan yang erat, yaitu :

a. Akuntansi menyajikan data historis yang sangat bermanfaat untuk

mengadakan taksiran-taksiran yang akan dituangkan dalam anggaran, yang

(28)

b. Akuntansi juga melakukan pencatatan secara sistematis dan teratur tentang

pelaksanaan anggaran itu nantinya. Dengan demikian akuntansi menyajikan

data realisasi pelaksanaan anggaran secara lengkap. Data realisasi

pelaksanaan anggaran yang nantinya dibandingkan dengan apa yang

tercantum dalam taksiran anggaran itu sendiri untuk mengadakan penilaian

kinerja perusahaan.

Oleh karena itu data akuntansi sangat diperlukan untuk menyusun anggaran dan

sangat diperlukan untuk membandingkan dengan anggaran dalam rangka

melaksanakan fungsi pengawasan kerja, maka semua teknik pencatatan dan

semua sistematikan yang dipakai dalam akuntansi sama dan sejalan dengan

sistematika yang dipakai dalam anggaran.

4. Jenis – jenis Anggaran

Nafarin (2006:20-25) menyatakan anggaran dapat dikelompokkan dari

berbagai sudut pandang, sebagai berikut :

A. Menurut dasar penyusunan, anggaran terdiri dari :

a. Anggaran Variable yaitu anggaran yang disusun berdasarkan interval kapasitas (aktivitas) tertentu dan pada intinya merupakan suatu seni anggaran yang dapat disesuiakan pada tingkat-tingkat aktivitas (kegiatan) yang berbeda. Anggaran Variable disebut juga dengan anggaran fleksibel.

b. Anggaran tetap yaitu anggaran yang disusun berdasarkan suatu tingkat kapasitas tertetu, Anggaran tetap disebut juga dengan anggaran statis.

B. Menurut cara penyusunan, anggaran terdiri dari :

(29)

b. Anggaran Kontiniu, yaitu anggaran yang dibuat untuk memperbaiki anggaran yang telah dibuat , misalnya tiap bulan diadakan perbaikan, sehingga anggaran yang dibuat dalam setahun mengalami perubahan.

C. Menurut jangka waktu, anggaran terdiri dari :

a. Anggaran Jangka pendek adalah anggaran yang dibuat dengan jangka waktu paling lama sampai satu tahun. Anggaran untuk keperluan modal kerja merupakan anggaran jangka pendek.

b. Anggaran jangka panjang adalah anggaran yang dibuat untuk jangka waktu lebih dari satu tahun, anggaran ini untuk keperluan investasi barang modal. Anggaran jangka panjang ini diperlukan sebagai dasar penyusunan anggaran jangka pendek.

D. Menurut bidangnya, anggaran terdiri dari anggaran operasional dan anggaran keuangan. Kedua anggaran ini bila dipadukan disebut anggaran induk. Anggaran induk merupakan konsolidasi rencana keseluruhan perusahaan untuk jangka pendek, biasanya disusun atas dasar tahun. Anggaran tahunan dipecah lagi menjadi anggaran triwulan. Anggaran triwulan kemudian dipecah lagi menjadi anggaran bulanan.

a. Anggaran operasional adalah anggaran untuk menyusun anggaran laporan laba-rugi. Anggaran operasional antara lain terdiri dari :

1. Anggaran penjulan.

2. Anggaran biaya pabrik yang terdiri dari anggaran biaya bahan baku, anggaran biaya tenaga kerja langsung, dan anggaran overhead pabrik.

3. Anggaran beban usaha. 4. Anggaran laporan laba-rugi.

b. Anggaran keuangan adalah anggaran untuk menyusun anggaran neraca. Yang terdiri dari :

1. Anggaran kas 2. Anggaran piutang 3. Anggaran persediaan 4. Anggaran utang 5. Anggaran neraca

E. Menurut kemampuannya, terdiri dari :

a. Anggaran komprehensip, yaitu rangkaian dari berbagai macam anggaran yang disusun secara lengkap, anggaran komprehensip merupakan perpaduan dari anggaran operasional dan anggaran keuangan yang disusun secara lengkap.

(30)

tertentu saja. Misalnya karena keterbatasan kemampuan maka yang dapat dususun hanya anggaran operasional. F. Menurut fungsinya, terdiri dari :

a. Anggaran apropriasi adalah angaran yang dibentuk bagi tujuan tertentu dan tidak boleh digunakan untuk tujuan lain.

b. Anggaran kinerja adalah anggaran yang disusun berdasarkan fungsi kegiatan yang dilakukan dalam organisasi (perusahaan).

Anggaran dapat dibedakan dari sudut pandang pihak yang

menggunakannya. Jenis-jenis anggaran ini dapat digunakan perusahaan lebih

dari satu jenis tergantung kepada kebutuhan perusahaan dalam mencapai tujuan.

C. Pengertian Gaji dan Upah

Sebelum membahas mengenai analisis biaya SDM sebagai alat

perencanaan dan pengawasan perusahaan ada baiknya perlu kita pahami

terlebih dahulu mengenai pengertian gaji/upah dan anggaran itu sendiri.

Menurut Dessler (1995:85) Gaji/Upah adalah uang atau sesuatu yang

berkaitan dengan uang yang diberikan kepada pegawai yang dibagi menurut

pembayaran berdasarkan waktu kerja.

Menurut Dewan Pengupahan Nasional Husnan (1990:138)

mendefinisikan bahwa upah adalah penerimaan sebagai suatu imbalan dari pemberi kerja kepada penerima kerja untuk pekerja / jasa yang telah dan akan dilakukan, berfungsi sebagai alat jaminan kelangsungan kehidupan yang layak bagi kemanusiaan yang ditetapkan menurut persetujuan, undang-undang dan peraturan antara pemberi kerja dan penerima kerja.

(31)

termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan yang dilakukan.

Ciri Ciri Pengupahan yang ideal, Menurut Dessler (1995:87)

a. Internally Equitable ( Adil)

Artinya seseorang pegawai dibagian tetentu dibayar relative sama

dengan pegawai departemen lainnya jika mereka melakukan pekerjaan

yang setara meskipun latar belakang profesi yang berbeda.

b. Externally Competitive ( Bersaing)

Sistem pengupahan suatu perusahaan seyogyanya juga memperhatikan

perusahaan-perusahaan lainnya terutama saingannya agar tidak

ketinggalan.

c. Administrative Efficient ( Sederhana)

Suatu sistem pengupahan seyogyanya bersifat sederhana, sehingga

mudah dilaksanakan oleh pihak-pihak yang mengelola pengupahan.

d. Afordable (Terjangkau)

Perusahaan dalam menyusun sistem pengupahan haruslah

mempertimbangkan kemampuannya, suatu sistem pengupahan yang baik

tetapi tidak terjangkau oleh Perusahaan akan menjadi bumerang bagi

perusahaan tersebut.

e. Defensible ( Sesuai dengan Undang-Undang Pemerintahan). f. Explainable ( Dimengerti oleh karyawan)

Suatu sistem pengupahan yang baik haruslah mudah dijelaskan agar bisa

(32)

Selain gaji dan upah, karyawan juga menerima jenis kompensasi

lainnya. Misalnya Tunjangan-tunjangan. Beberapa jenis tunjangan yang penting

adalah :

a. Libur. Setiap tahun, untuk hari-hari libur tertentu bagi kebanyakan

perusahaan membayar karyawan yang berlibur dimana mereka

mendapat upah sebagaiman pada hari kerja biasa.

b. Cuti. Hampir semua perusahaan memberikan kepada karyawan, dan

selama cuti mereka tetap mendapat gaji. Lamanya cuti dikaitkan

dengan masa dinas. Misalnya Cuti dua minggu per tahun untuk

karyawan yang masa dinasnya sampai lima tahun. Jika diatas lima

tahun, cuti yang diberikan selama tiga minggu.

c. Bonus. Biasanya bonus dihitung pada akhir tahun. Besarnya bonus

tergantung kesepakatan antara majikan dan karyawan dan bisa

didasarkan pada seberapa jauh laba perusahaan, divisi, atau pabrik

melampaui target yang telah ditentukan.

d. Asuransi. Banyak perusahaan membayar semua atau sebagaian

premi asuransi karyawan untuk kesehatan, perawatan gigi atau

asuransi jiwa.

e. Pensiun. Ini merupakan tunjangan yang disediakan hampir semua

perusahaan, akan tetapi karyawan biasanya baru akan menikmatinya

dalam waktu lama setelah hal itu dihasilkan. Program ini sangat

(33)

f. Premi Lembur (Variable Pay). Merupakan tambahan tarif per jam

apabila karyawan bekerja melampaui jam kerja normal.

Dengan kata lain Kerja lembur adalah melakukan pekerjaan yang waktunya

melebihi jam kerja normal yang sifatnya mendesak dan tidak dapat ditunda,

diluar waktu kerja atas perintah atasan yang berwenang.

Yang dimaksud mendesak adalah apabila memenuhi ketentuan dibawah

ini :

a. Bilamana terdapat pekerjaan yang membahayakan kesehatan atau

keselamatan masyarakat jika tidak segera diselesaikan.

b. Menyelesaikan pekerjaan yang penting artinya bagi pembangunan

Negara, sesuai dengan perintah atau petunjuk pemerintah.

c. Dalam menyelesaikan pekerjaan yang dapat mengakibatkan kerugian

besar bagi Perusahaan/Negara ataupun masyarakat jika tidak dikerjakan.

d. Dalam keadaan darurat seperti kebakaran , peledakan , kebanjiran.

e. Pekerjaan yang menurut kepentingan perusahaan tidak dapat ditunda dan

harus diselesaikan pada hari itu juga.

Dengan adanya kerja lembur pekerja, maka secara otomatis upah lembur

akan dibayarkan kepada pekerja tersebut. Untuk dasar perhitungannya adalah

1/173 x Upah tetap

D. Anggaran Biaya SDM sebagai Alat Perencanaan

Dalam kegiatannya anggaran sangat berguna bagi perusahaan dalam

(34)

dapat meningkatkan komunikasi dan koordinasi. Proses penyusunan

mengharuskan manajemen/manajer untuk mempertimbangkan secara cermat

tujuan-tujuan serta sasaran-sasaran mereka dan menetapkan alat untuk

mencapainya.

Anggaran yang disusun perusahaan bertujuan untuk lebih mempermudah

perusahaan dalam melakukan kegiatan operasionalnya, dengan menetapkan

standar yang ingin dicapai, perusahaan dapat lebih mengetahui langkah-langkah

yang akan diambil dalam mencapai targetnya. Dimana anggaran menjadi

patokan dan pedoman bagi karyawannya untuk bekerja.

Anggaran biaya variable merupakan spesifikasi atau breakdown dari

anggaran Gaji & Upah, Anggaran variable yang terdiri dari :

1. Anggaran Upah lembur.

2. Anggaran Shift (regu bergilir).

3. Anggaran Tunjangan Jabatan.

4. dll.

Contoh dari anggaran variable diatas tentunya tidak sama dengan anggaran

variable yang ada diperusahaan lain, hal tersebut tergantung dengan pola bisnis

perusahaan maupun kebijakan/peraturan perusahaan yang berlaku.

Semakin baik perencanaan anggaran khususnya anggaran variable, maka

secara signifikan akan memberikan dampak yang positif bagi perusahaan,

tentunya tingkat efektifitas pekerja dapat dilihat dan penekanan terhadap cost

(35)

Semakin tinggi tingkat pengawasan perusahaan terhadap upah lembur,

maka semakin baik pula sistem manajemen kinerja perusahaan.

Dengan kata lain perencanaan anggaran variabel – anggaran upah

lembur dapat dijadikan alat pengendali untuk karyawan dan manajemen dalam

mengevaluasi hasil kinerjanya. Sebagai bahan pertimbangan untuk bekerja lebih

baik di masa yang akan datang.

1. Prosedur Penyusunan Anggaran Biaya SDM

Pada dasarnya yang berwenang dan bertanggung jawab atau menyusun

anggaran serta melaksanakan kegiatan anggaran lainnya, ada ditangan pimpinan

tertinggi perusahaan.

Namun demikian tugas menyiapkan dan menyusun anggaran dapat

didelegasikan kepada bagian-bagian lain dalam perusahaan dan hal ini

tergantung pada struktur organisasi masing-masing perusahaan. Akan tetapi

menurut Munandar (2001:17) pada garis besarnya tugas mempersiapkan dan

menyusun anggaran ini dapat didelegasikan kepada :

a. Bagian Administrasi (bagian perusahaan kecil)

Hal ini disebabkan karena dalam perusahaan kecil kegiatan-kegiatan tidak terlalu kompleks, sederhana, ruang lingkup terbatas sehingga tugas penyusunan anggaran diserahkan kepada salah satu bagian saja dan tidak perlu melibatkan seluruh bagian yang ada di perusahaan. Penunjukkan ini didasarkan atas pertimbangan bahwa bagian administrasi terkumpul seluruh kegiatan perusahaan, kegiatan produksi, pembelanjaan dan kegiatan personalia.

(36)

duduk dalam panitia anggaran. Panitia anggaran ini biasanya diketuai oleh salah seorang pemimpin perusahaan dan anggota-anggotanya mewakili bagaian pemasaran, bagian produksi, bagian pembelanjaan, dan bagian personalia.

Anggota komite anggaran adalah tindakan langsung dibebankan suatu anggaran atas sebuah departemen tertentu. Alih-alih mereka bekerjasama dengan setiap departemen untuk menyusun rencana-rencana realistik yang konsisten dengan keseluruhan tujuan perusahaan.

Dalam menyusun anggaran, terdapat dua pendekatan yang berbeda yaitu

pendekatan atas-bawah (top down approach) dan pendekatan bawah-atas

(buttom-up approach). Dalam pendekatan atas-bawah, anggaran disusun pada

jenjang organisasi yang lebih tinggi tanpa adanya masukan yang berarti dari

manajer-manajer jajaran yang lebih rendah. Dalam pendekatan bawah-atas

manajer-manajer jajaran rendah merupakan sumber pokok informasi yang

dipakai dalam penyusunan anggaran.

Anggaran yang disusun oleh bagian administrasi maupun komisi

anggaran, hanya merupakan Rancangan Anggaran. Rancangan ini akan

diserahkan kepada pimpinan tertinggi perusahaan untuk disahkan sebagai

anggaran yang definitif. Sebelum disahkan, masih dimungkinkan untuk

diadakan perubahan-perubahan dan pembahasan terhadap rancangan tersebut.

Setelah disahkan maka anggaran tersebut dijadikan sebagai pedoman kerja,

sebagai alat pengkoordinasian kerja dan sebagai alat pengawasan kerja.

Ditinjau dari pihak-pihak yang dapat terlibat dalam proses penyusunan

anggaran, maka terdapat tiga metode yang dikemukakan oleh Hopkins

(37)

a. Authoritative Budgeting

Authoritative budgeting merupakan pendekatan dari atas ke bawah dalam penyusunan anggaran. Dalam metode ini, bawahan tidak diminta keikutsertaannya dalam penyusunan anggaran perusahaan. Kebaikan metode ini adalah proses penyusunan anggaran dalam perusahaan akan berjalan dengan baik tetap sasaran dan lebih efisien, serta memungkinkan adanya koordinasi unit-unit dalam perusahaan. Sedangkan kelemahan dari metode ini adalah adanya kemungkinan atasan tidak mengetahui secara pasti target yang sesuai dengan suatu unit perusahaan serta kurangnya motivasi dan komitmen tujuan yang disebabkan ketiadaan partisipasi karyawan dalam penentuan anggaran.

b. Participative Budgeting

Participative Budgeting merupakan metode penyusunan anggaran dimana atasan dan bawahan secara bersama-sama menetapkan anggaran perusahaan melalui proses pengambilan keputusan bersama (joint decision-making proces).

c. Consultative Budgeting

Consultative Budgeting merupakan metode penyusunan anggaran dimana bawahan diminta untuk mendiskusikan pendapat mereka mengenai anggaran, tetapi tidak terjadi proses pengambilan keputusan bersama. Atasan hanya meminta pendapat dari bawahan tetapi tetap menetapkan anggaran secara sendiri dengan atau tanpa mempertimbangkan masukan dari bawahan.

2. Anggaran Biaya Variable

Dalam perusahaan jasa, biaya produk (lebih lazim disebut biaya jasa)

meliputi biaya tenaga kerja, keperluan kantor dan biaya lainnya yang berkaitan

langsung dengan penyerahan jasa kepada pelanggan atau klien.

Dalam proses kegiatannya perusahaan harus dapat mengoptimalkan

efisiensi anggaran guna peningkatan laba yang merupakan tujuan perusahaan.

Biaya langsung adalah biaya yang dapat ditelusuri secara fisik ke jasa

tertentu. Biaya ini mirip dengan harga pokok penjualan pada perusahaan

(38)

kepada seseorang atau pelanggan. Biaya langsung untuk pelaksanaan jasa

tertentu dikaitkan dengan pendapatan yang dihasilkannya.

Keberhasilan perusahaan jasa sangatlah tergantung pada mutu jasa yang

dilakukan sehingga kecakapan dan talenta orang-orang yang terlibat didalamnya

sangatlah vital. Dalam industri-industri jasa tidak terdapat persediaan produk

dan semua biaya berkaitan dengan periode waktu dimana biaya tersebut dipakai.

Dengan demikian perbedaan antara biaya produk dan biaya periode tidaklah

berfaedah bagi perusahaaan-perusahaan jasa. Dalam perusahaan jasa,

biaya-biaya pada umumnya dibagi menjadi biaya-biaya langsung dan biaya-biaya tidak langsung.

E. Anggaran Biaya SDM sebagai alat pengawasan

Salah satu tujuan perusahaaan adalah kelangsungan usaha. Dengan

demikian perusahaan didirikan untuk jangka waktu yang lama. Agar tujuan ini

dapat tercapai maka perusahaan harus dapat beroperasi secara sehat.

Untuk menjadi Perusahaan yang sehat, efisiensi usaha perusahaan

menjadi salah satu fokus sentral, disamping biaya operasional, biaya variable

juga merupakan pengeluaran-pengeluaran perusahaan yang harus direncanakan

dan diawasi dengan sebaik-baiknya.

Menurut Collins (2000:89) “ Efisiensi menyangkut hubungan antara

faktor input yang langka dengan output barang dan jasa. Hubungan ini dapat

diukur secara fisik atau secara biaya. Konsep efisiensi digunakan sebagai

(39)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Tempat Penelitian

Objek penelitian ini adalah PT Pertamina (Persero) Pemasaran Region I

Medan yang beralamat di JL.K.L Yos Sudarso No.8-10 Medan 20114.

B. Jenis Data

1. Data Primer

Data primer merupakan data yang secara langusung didapat dari sumber

pertama, dalam hal ini adalah PT Pertamina (Persero) Pemasaran Region

I Medan, yang mana data tersebut masih perlu diolah peneliti. Data ini

diperoleh dari teknik wawancara, yaitu berupa daftar hasil wawancara

yang kemudian akan diolah oleh peneliti untuk dijadikan bahan

informasi dalam penulisan skripsi ini.

2. Data Sekunder yaitu data-data berupa uraian teoritis yang didapat dari

bahan-bahan bacaan dan kepustakaan lain yang merupakan data

pendukung terhadap data primer. Data ini didapat penulis melalui

buku-buku bacaan dan tulisan, jurnal, artikel, majalah, dan informasi serta

data-data lain yang mempunyai hubungan dengan skripsi ini dan yang

digunakan sebagai acuan dalam analisis dan evaluasi.

C. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini

(40)

1. Pengamatan Langsung ( Observasi )

Mengamati langsung objek yang berkaitan dengan biaya SDM dan

system penyusunan anggarannya pada PT Pertamina (Persero)

Pemasaran RegionI

2. Wawancara (Interview)

Melakukan tanya jawab secara langsung dengan Manajer HR, dan Staf

HR yang menyusun anggaran biaya SDM pada PT Pertamina (Persero)

Pemasaran Region I.

3. Kepustakaan (Literatur)

Melakukan peninjauan terhadap buku-buku pedoman dan peraturan

SDM pada PT Pertamina (Persero) Pemasaran Region I, serta buku-buku

bacaan, tulisan, jurnal, artikel, dan majalah yang berhubungan serta

pengetahuan dari website-website yang berkaitan.

D. Metode Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan pada skripsi ini adalah metode analisa

deskriptif yaitu suatu metode analisis dengan cara mengumpulkan,

menyusun, mengklasifikasikan, dan menginterpretasikan data yang

diperoleh sehingga memberikan gambaran yang menyeluruh mengenai

masalah yang dihadapi oleh perusahaan dan kemudian mencarikan

(41)

BAB IV

ANALISIS HASIL PENELITIAN

E. Data Penelitian

1. Gambaran Umum Perusahaan

Pada awalnya produksi minyak di Indonesia dimulai dari daerah

Langkat, Sumatera Utara ketika Aeilko Janszoon Zijlker berhasil menemukan

sumur minyak pada tanggal 15 Juni 1885 dilapangan telaga said yang terletak

tidak jauh dari pantai Sumatera Utara dengan produksi besar yang mencapai

kedalaman 1212 Meter. Sumur ini sangat produktif dan terus menghasilkan

minyak selama lebih dari 15 tahun. Pada tahun 1885 – 1890 terdapat beberapa

penemuan minyak di daerah-daerah lain di Indonesia.

Dengan adanya penemuan-penemuan minyak di Indonesia telah

mengundang datangnya perusahaan-perusahaan asing. Pada tahun 1892

dibangun penyulingan minyak pertama di Pangkalan Berandan dan pada tahun

1898 berhasil dibangun pelabuhan minyak di Indonesia yaitu Pangkalan Susu.

Produksi pengolahan dan pemasaran minyak bumi dilaksanakan oleh Koninlijke

Nederlansche Petroleum Company. Kemudian pada tahun 1907 perusahaan

tersebut melakukan merjer dengan Shell Transport & Traiding dan berubah

nama menjadi The Koninlijke Shell Group atau lebih dikenal dengan nama

Shell. Menjelang perang dunia ke II, kegiatan perminyakan di Indonesia

(42)

sampai Papua, sedangkan Stanvac hanya di Sumatera Tengah dan Sumatera

Selatan.

Sejak Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945,

perusahaan minyak dan gas bumi berlandaskan pada pasal 33 UUD 1945.

Setelah bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya para pejuang

kemerdekaan berhasil merebut lapangan, kilang maupun fasilitas perminyakan

yang ada penjajahan Jepang. Pada bulan September 1945 dilakukan serah terima

seluruh tambang minyak yang berada di Pangkalan Berandan maupun di

Rantau, Kuala Simpang, Aceh Timur. Dan dalam suasana yang belum stabil

berdirilah PERMIRI (Persatuan Minyak Republik Indonesia), PTMNRI

(Persatuan Tambang Minyak Negara Republik Indonesia), PTMN (Perusahaan

Tambang Minyak Negara).

Berdasarkan konfrensi Meja Bundar, dinyatakan bahwa

lapangan-lapangan minyak serta kekayaan yang semua milik Shell harus diserahkan

kembali, sementara Pemerintah tidak bersedia menyerahkannya. Hal ini

menimbulkan pertentangan-pertentangan antara Pemerintah dengan partai-partai

politik yang ada pada saat itu.

Pada tanggal 22 Juli 1957, Pemerintah memutuskan untuk menyerahkan

Lapangan Minyak Sumatera Utara kepada Kepala Staff Angkatan Darat

(KASAD), yang pengusahaannya diserahkan kepada PT Ekploitasi Tambang

Minyak Sumatera Utara (PT. ETMSU) dan pada tanggal 15 Oktober 1957

(43)

Sutowo. Pada tanggal 10 Desember 1957 PT.ETMSU berubah nama menjadi

PN PERMINA (Perusahaan Minyak Nasional). Tanggal ini kemudian

ditetapkan menjadi hari lahirnya Perusahaan Minyak Nasional yang setiap tahun

diperingati oleh Pertamina. Pada bulan maret 1966 Menteri Migas menetapkan

enam unit daerah eksploitasi dan produksi PN. PERMINA, yaitu :

a. Unit I meliputi Sumatera Utara dan Aceh dengan Kantor Pusat di

Pangkalan Berandan.

b. Unit II meliputi Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan dan Jambi.

c. Unit III meliputi Jawa & Madura, dengan Kantor Pusat di Jakarta.

d. Unit IV meliputi Kalimantan termasuk tarakan dan Bunyu,

e. Unit V meliputi Irian Jaya, Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara.

f. Unit VI meliputi Sumatera Tengah.

Setelah 15 tahun mengalami zaman kemerdekaan, barulah pada tahun

1960 dikeluarkan UU No.19 sebagai UU Pelaksana dari Pasal 33 UUD 1945,

yang intinya adalah Pemerintah dapat mendirikan suatu perusahaan yang

dinamakan Perusahaan Negara.

Tidak lama setelah itu, pemerintah mengeluarkan UU No.14 tahun 1960

yang mengatur pertambangan minyak dan gas bumi, yang pada hakekatnya

menggantikan Indische Mijnwet 1899 (UU Pertambangan Kolonial Belanda

tahun 1899) yang berisikan bahwa pola pengusahaan adalah “Konsensi” dimana

hasil tambang dan penggunaannya adalah merupakan hal perusahaan milik

(44)

Berdasarkan UU No.19 tahun 1960 dan UU No.44 tahun 1960, pada

tahun 1961 dibentuklah tiga Perusahaan Negara yang bergerak dalam bidang

Minyak dan Gas Bumi, yaitu :

1. PN.PERTAMIN, berdasarkan PP No.3 tahun 1961

2. PN PERMINA, berdasarkan PP No.198 tahun 1961

3. PN PERMIGAN, berdasarkan PP No.199 tahun 1961

Ketiga Perusahaan tersebut meliputi eksplorasi, eksploitasi, pemurnian,

pengolahan, pengangkutan dan penjualan, yang kemudian berdasarkan Kontrak

Karya tahun 1963, ditetapkan status pemegang hak Konsesi beralih menjadi

status Kontraktor. Pada saati itu ditetapkanlah :

1. PT Caltex Pasific Indonesia menjadi Kontraktor PN PERTAMIN.

2. PT Stanvac menjadi Kontraktor PN PERMINA.

3. PT Shell Indonesia menjadi Kontraktor PN PERMIGAN.

Setelah pemberontakan PKI yang gagal, maka PN PERMIGAN

kemudian dibubarkan dengan Surat Keputusan Menteri Minyak dan Gas Bumi

No.6 tahun 1966, sehingga pada saat itu tinggal dua perusahaan negara yang

bergerak dibidang Minyak dan Gas Bumi. Selanjutnya dengan tujuan untuk

mempertegas sturuktur dan prosedur kerja dalam rangka untuk meningkatkan

produksi minyak dan gas bumi maka PN PERMINA dan PN PERTAMIN

dilebur dalam suatu wadah Perusahaan dengan PP No.27 tahun 1968 dalam

suatu Perusahaan Negara yang baru dikenal dengan nama PN PERTAMINA.

(45)

kemudian mengklasifikasikan semua Perusahaan Negara dalam tiga bentuk,

yaitu :

1. PERJAN

2. PERUM

3. PERSERO

PN PERTAMINA merupakan suatu jenis Perusahaan Negara yang mempunyai

ciri khas tersendiri, sehingga tidak dapat dimasukkan kedalam salah satu bentuk

klasifikasi Perusahaan Negara tersebut diatas. Pada tahun 1971 dikeluarkan UU

mengenai status dan pendirian PERTAMINA. Secara yuridis dan formal sejak

itu PN PERTAMINA tidak disebut lagi sebagai PN PERTAMINA melainkan

PERTAMINA saja. Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), sekaligus

PERTAMINA dinyatakan sebagai pengelola tunggal dibidang pengusahaan

minyak dan gas bumi di Indonesia. Dalam melaksanakan kegiatannya selaku

pengelola tunggal dibidang pengusahaan minyak dan gas bumi di Indonesia.

UPMS I juga mengalami beberapa kali perubahan nama. Pada tahun

1995, melalui Surat Keputusan Direktur Utama Pertamina

No.KptsP-1598/C00000/1995-S0 tanggal 28 Desember 1995, Pemasaran untuk wilayah

Propinsi NAD, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Riau dilaksanakan oleh

Unit Pembekalan dan Pemasaran Dalam Negeri I (UPPDN I).yang

berkedudukan di Medan. Dan melalui Surat Keputusan Direksi

No.KptsP-076/C0000/2001-S0, tanggal 25 juni 2001 sebutan UPPDN I di Ubah menjadi

(46)

Pada tahun 2003 tepatnya tanggal 17 September 2003 Pertamina

berubah status menjadi Perusahaan Terbatas Perseroan sesuai dengan terbitnya

Undang-Undang No. 19 tahun 2003 . Dengan berubahnya status Perusahaan

maka akan mempengaruhi perubahan Tata Nilai dan Visi maupun Misi

PERTAMINA. Sehingga saat ini nama PERTAMINA menjadi PT

PERTAMINA (PERSERO).

PT PERTAMINA (PERSERO) memiliki Unit Pengolahan (UP), serta

Unit Pemasaran (UPMS) yang tersebar diseluruh Wilayah Indonesia, disamping

itu ada juga perwakilan-perwakilan di Luar Negeri, yaitu :

1. Perwakilan Amerika berkedudukan di Los Angeles

2. Perwakilan Eropa berkedudukan di London.

3. Perwakilan Asia Timur berkedudukan di Tokyo.

4. Perwakilan Asia Pasifik Selatan berkedudukan di Singapura.

PT Pertamina (Persero) memiliki delapan Unit Pemasaran yang

memiliki wilayah kerja yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia, yaitu:

1. UPMS I , berkantor pusat di Medan dan meliputi wilayah NAD,

Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau Daratan & Riau Kepulauan.

2. UPMS II , berkantor pusat di Palembang dan meliputi wilayah

Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu dan Jambi.

3. UPMS III, berkantor pusat di Jakarta dan meliputi wilayah DKI Jaya

dan Jabar.

(47)

5. UPMS V, berkantor pusat di Surabaya dan meliputi wilayah Jawa

Timur, Bali , NTB & NTT.

6. UPMS VI, berkantor pusat di Balikpapan dan meliputi wilayah

Kalimantan.

7. UPMS VII, berkantor pusat di Makasar dan meliputi wilayah

Sulawesi

8. UPMS VI, berkantor pusat di Jayapura dan melipuit wilayah Irian

Jaya dan Maluku.

Pada tanggal 11 November 2007 , PT Pertamina (Persero) mengalami

reorganisasi tahap I untuk Fungsi Pemasaran & Niaga, tahap kedua untuk

Fungsi Supply & Distribusi, tahap ketiga untuk Fungsi SDM & Umum,

sehingga nama UPMS I berubah menjadi Pemasaran BBM Retail Region I

Medan.

Tempat dimana penulis mengadakan penulisan dalam rangka

penyusunan skripsi adalah di Ex.UPMS I – Pemasaran BBM Retail Region I

Medan, yang merupakan salah satu dari delapan Unit Pemasaran PT. Pertamina

(Persero) yang ada saat ini.

2. Kondisi Kinerja Perusahaan

Dengan Perubahan Pola Bisnis Perusahaan yang ditetapkan pada tahun

2001, dari BUMN menjadi Perusahaan Perseroan secara signifikan memberikan

dampak perubahan pola kegiatan perusahaan dan pola pembinaan terhadap

(48)

dalam sistem koorporasi agar tetap survive, termasuk di dalamnya sistem

pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM).

Dalam perkembangannya suatu perencanaan yang strategis harus

memikirkan bagaimana pengelolaan perusahaan dan pengelolaan Sumber Daya

Manusia, karena asset yang paling penting dalam kegiatan koorporasi

perusahaan adalah tenaga kerja. Dengan demikian perusahaan juga harus

memandang bagaimana mengelola dan meningkatkan kompetensi pekerja yang

dapat dilakukan dengan melakukan berbagai pelatihan maupun pembinaan yang

berbasis kompetensi.

Kegiatan Bisnis utama PT Pertamina (Persero) adalah Suplai BBM dan

Non BBM skala Nasional , PT Pertamina (Persero) juga dituntut untuk

melakukan perubahan dari seluruh lini kegiatan (Core Bussines) utamanya.

Untuk itu di bentuklah suatu Unit Bisnis yang pada masa sebelumnya

merupakan satu kesatuan Fungsi / Bagian dari Penjualan. Yaitu : Bisnis Unit

BBM Retail , Bisnis Unit BBM Industri & Marine, Bisnis Unit Pelumas, Bisnis

Unit Aviasi dan Bisnis Unit Gas Domestik.

Perkembangan tingkat permintaan Bahan Bakar Minyak di Indonesia

khususnya wilayah Sumatera Utara terus mengalami tingkat pertumbuhan dan

perkembangan yang begitu pesat, hal ini ditandai dengan semakin

bertambahnya jumlah pemakaian kendaraan pribadi maupun kendaraan umum.

(49)

(Persero) giat dalam melakukan BTP (Breakthrought Project) yang bertujuan

untuk menganalisa pasar maupun produk, sehingga menimbulkan komitmen

bersama dalam mempertahankan kualitas pelayanan dan produk, hal itu terbukti

dengan di tetapkannya slogan PERTAMINA PASTI PAS.

Dengan perubahan pola bisnis perusahaan maka tata nilai maupun Visi

dan Misi Pertamina juga mengalami perubahan, yang sebelumnya Pertamina

sebagai Regulator dan Penyedia kebutuhan BBM dan NBBM dalam negeri,

tetapi Pertamina saat ini dituntut untuk menjadi Perusahaan Go Profit yang

dapat menguasai pangsa pasar baik berskala Nasional maupun skala

International.

Untuk menjadi perusahaan yang berskala Nasional maupun

International, maka perusahaan harus siap dari segi kompetensi pekerja,

Komitmen ,Anggaran serta kebijakan pemerintah yang mendukung.

Dalam menuju perkembangan tersebut PT Pertamina (Persero) aktif

dalam mengevaluasi maupun menganalisa Rencana kerja yang berbasis pada

rencana anggaran Perusahaan, yang dikenal dengan RJPP (Rencana Kerja

Jangka Panjang Perusahaan), Penyusunan Rencana Kerja dan Rencana

Anggaran dilakukan berdasarakan taksiran-taksiran (Forecasting) berdasarkan

logika, infofilasi, dan faktor-faktor yang controrable maupun uncontorable.

Pada dasarnya perencanaan anggaran yang dilakukan oleh PT

Pertamina (Persero) Region I Medan digolongkan menjadi dua bagian yaitu

(50)

Anggaran Bisnis Investasi merupakan perencanaan yang meliputi

investasi yang akan dilakukan oleh perusahaan selama satu periode yang akan

datang dan masa manfaatnya lebih dari satu tahun. Sedangkan Anggaran Bisnis

Operasi adalah semua pengeluaran untuk operasi yakni pengeluaran yang masa

manfaatnya tidak lebih dari satu tahun atau pengeluaran yang dapat dikaitkan

secara langsung dengan pendapatan suatu periode tertentu.

Angaran Biaya SDM merupakan salah satu komponen dari Anggaran

Bisnis Operasi. Anggaran Biaya SDM ini terdiri dari anggaran biaya Direct

Labour Cost dan Indirect Labour Cost yang disusun dalam suatu perencanaan

anggaran.

Anggaran Biaya SDM disusun berdasarkan :

1. Realisasi biaya SDM tahun sebelumnya

2. Jumlah pekerja Biasa yang masih aktif

3. Perubahan peraturan perusahaan

Pedoman Rencana Kerja (PRK) Operasi merupakan format pekerjaan

yang dibuat oleh masing-masing Fungsi / Bagian / Depot / Instalasi / Terminal

Teransit. Perencanaan ini dimaksudkan agar setiap pekerjaan yang dilakukan

tepat guna dan tepat sasaran. Perencanaan yang dibuat serealistis mungkin,

berdasarkan data statistik, informasi dilapangan, atau estimasi, sehingga pada

pelaksanaannya nanti tidak menyusahkan bagian operasional itu sendiri dan

(51)

3. Struktur Organisasi Perusahaan

PT Pertamina (Persero) BBM Retail Region I Medan wilayah kerjanya

meliputi lima propinsi, yaitu :

1. Propinsi NAD

2. Propinsi SUMUT

3. Propinsi SUMBAR

4. Porpinsi Riau

5. Propinsi Kep.Riau / Batam

Kelima wilayah kerja tersebut diatas di kelola/dipimpin oleh SAM

(Sales Area Manager) BBM Retail dan BBM Industri & Marine yang

bertanggung jawab kepada General Manager BBM Retail Region I selaku

Ambassador.

Adapun Fungsi dari Manajer tersebut adalah untuk Pengkoordinasian

penyelenggaraan kegiatan pembekalan dan pemasaran BBM dan Gas bumi, di

wilayah kerja pertamina Region I. General Manajer BBM Retail Region I

selaku Ambassador membawahi delapan bagian dan lima ex.Kepala Cabang.

Masing-masing Bagian dipimpin oleh Kepala/Manajer Bagian, dan Cabang

dipimpin oleh Sales Area Manajer. Agar lebih jelasnya, Fungsi dari

masing-masing bagian akan diuraikan sebagai berikut :

1. General Manager BBM Retail Reg I Medan

Bagian ini berfungsi mengelola seluruh kegiatan usaha pemasaran atas

semua kebijakan/persetujuan/ketetapan Direksi dan atau Direktorat Hilir

(52)

Bumi dan kegiatan penunjangnya di wilayah kerja Pertamina BBM

Retail Region I Medan. Sehingga kebutuhan masyarakat/konsumen

terpenuhi dengan tepat kuantitas, kualitas, waktu, dan tempat secara

optimal dan efisien serta memelihara dan menigkatkan kepedulian

perusahaan terhadap lingkungan.

2. Bagian Penjualan

Bagian Penjualan ini terdiri dari Sub/bagian Penjualan yaitu :

1. SAM BBM Retail Sumut, membawahi SR (Sales Represantatif)

dengan wilayah kerja dari Sibolga, Kisaran, Rantau Perapat, Gunung

Sitoli, Langkat.

2. SAM BBM Industri & Marine Sumut & NAD, membawahi SR

Industri dan Marine untuk wilayah kerja Sumut hingga NAD

3. SAM BBM Retail Sumbar, membawahi SR (Sales Represantatif)

dengan wilayah kerja Seluruh propinsi Padang.

4. SAM BBM Industri & Marine Riau & Sumbar membawahi SR

Industri dan Marine untuk wilayah kerja Riau daratan (Pekanbaru)

hingga Padang.

5. SAM BBM Retail Riau, membawahi SR (Sales Represantatif)

dengan wilayah kerja Pekanbaru.

6. SAM BBM Industri & Marine Batam & Kepri membawahi SR

Industri dan Marine untuk wilayah kerja Batam hingga Kepulauan

(53)

7. SAM BBM Retail NAD, membawahi SR (Sales Represantatif)

dengan wilayah kerja NAD.

Bagian ini berfungsi merencanakan, mengkoordinasikan dan

mengevaluasi kegiatan pemasaran BBM dan Non BBM, mutu produk dan

pelayanan lembaga penyalur, Administrasi BBM dan Non BBM yang ada

diwilayah kerja Region I Medan untuk memenuhi permintaan pelanggan BBM

dan Non BBM agar kebutuhan Pelanggan BBM dan Non BBM dapat terpenuhi,

tepat waktu, tepat jumlah dan tepat mutu.

3. Bagian Suplai dan Distribusi

Dengan adanya Reorganisai tahun 2008, maka Wilayah kerja Suplai

& Distrbusi mencakup Wilayah Sumbagut hingga Sumbagsel.

Bagian ini berfungsi menyelenggarakan kegiatan pengadaan,

penimbunan, pengendalian mutu dan penyaluran BBM maupun Non

BBM sesuai dengan rencana, tepat waktu dan tersedia pada waktu

yang dibutuhkan

Dengan adanya Reorganisasi Pemasaran & Niaga tahap I, maka

Fungsi Marine di gabung ke dalam Fungsi Suplai dan Distribusi

sehingga tugas dan tanggung jawab Ka.Marine merupakan cascading

dari tugas dan tanggung jawab Manajer Suplai dan Distribusi yang

dituangkan dalam KPI (Key Performance Indicator) atau UKT

(Ukuran Kinerja Terpadu) yang disepakati oleh Manajer S & D

bersama Vice President Distribusi. Adapun tugas dari Ka.Marine

(54)

tankers untuk kelancaran operasi marine, kebandaran di bidang

transportasi laut dan pelabuhan aman dan lancar.

4. Bagian Layanan Jasa Teknik

Dengan adanya Reorganisasi Pms & Niaga tahap II pada bulan

Maret 2008, maka Bagian Layanan Jasa Teknik diperluas menjadi

LJT Region I yang memiliki wilayah kerja di area Sumbagut, dan

Fungsi ini di bagi lagi menjadi Fungsi Teknik Area Manajer

Region I (TAM Reg.I Medan). Yang meliputi pengawasan terhadap

sarfas dan maintenance di wilayah Region I Sumbagut yang

berfungsi mengkoordinasikan dan mengendalikan kegiatan Layanan

Jasa Teknik meliputi perencanaan dan anggaran, pemeliharaan dan

konstruksi, inspeksi serta pengadaan material untuk kebutuhan

operasi pemasaran sesuai dengan rencana, tepat waktu dan tersedia

pada waktu yang dibutuhkan.

5. Manajer Keuangan

Bagian ini berfungsi mengkoordinasikan dan mengendalikan

pelaksanaan kegiatan keuangan meliputi anggaran, perbendaharaan

dan akuntansi di Unit Region I agar segala kegiatan di Unit

Pemasaran Reg I dapat dibiayai dan laporan pertanggung jawaban

dapat dilaksanakan secara accountable dan auditable. Untuk Fungsi

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Indriana, dkk (2016) dalam judul F aktor-faktor yang B erhubungan dengan Perilaku Hidup B ersih dan S ehat

Dengan model penelitian Kuantitatif dengan alat analisis regresi berganda, dalam skripsinya Analisis Pengaruh Kualitas Layanan dan Kualitas Produk Terhadap Kepuasan

Sudah setahun lebih RUU tentang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) dilakukan pembahasannya oleh Komisi II DPR RI bersama Pemerintah. Namun hingga awal tahun 2014 ini belum

yaitu tanah andosol, lempung liat berpasir, aluvial serta tanah yang mengandung hara organik. Budidaya ubi cilembu cocok dilakukan di daerah tropis yang panas dan lembab. Suhu

Melalui pengamatan video tentang bahaya polusi udara, bahaya asap rokok, dan berbagai penyakit yang menyerang organ pernafasan, siswa dapat mengemukakan pentingnya

Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkah dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan Skripsi dengan judul EVALUASI PELAKSANAAN TRAINING

Untuk menentukan subgrup- subgrup dari grup siklik hingga n dapat dilakukan melalui grup bilangan bulat modulo n dengan operasi penjumlahan Zn. hal ini disebabkan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka diketahui bahwa dari 8 variabel yang diteliti terdapat 3 variabel yang berhubungan dengan kejadian kapasitas vital paru