Pengaruh Komponen Laporan Arus Kas Dan Dividen Payout Ratio Terhadap Return Saham Dengan Earning Per Share Sebagai Variabel Moderating Pada Perusahaan Manufaktur Di Bursa Efek Indonesia

114  Download (0)

Teks penuh

(1)

PENGARUH KOMPONEN LAPORAN ARUS KAS DAN

DIVIDEN

PAYOUT RATIO

TERHADAP RETURN SAHAM DENGAN

EARNING PER SHARE

SEBAGAI VARIABEL

MODERATING PADA PERUSAHAAN

MANUFAKTUR DI BURSA EFEK

INDONESIA

TESIS

OLEH ARMA YULIZA

097017046/Akt

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

PENGARUH KOMPONEN LAPORAN ARUS KAS DAN

DIVIDEN

PAYOUT RATIO

TERHADAP RETURN SAHAM DENGAN

EARNING PER SHARE

SEBAGAI VARIABEL

MODERATING PADA PERUSAHAAN

MANUFAKTUR DIBURSA EFEK

INDONESIA

TESIS

Untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Ilmu Akuntansi pada Sekolah Pascasarjana

Universitas Sumatera Utara

Oleh

ARMA YULIZA 097017046/Akt

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

Judul Penelitian : PENGARUH KOMPONEN LAPORAN ARUS KAS

DAN DIVIDEN PAYOUT RATIO TERHADAP

RETURN SAHAM DENGAN EARNING PER SHARE

SEBAGAI VARIABEL MODERATING PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BURSA EFEK INDONESIA

Nama Mahasiswa : Arma Yuliza Nomor Induk Mahasiswa : 097017046 Program Studi : Akuntansi

Menyetujui Komisi pembimbing,

(Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS, MBA, Ak)

Ketua Anggota

(Dra. Sri Mulyani, MBA, Ak)

Ketua Program Studi, Direktur,

(Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS, MBA,Ak) (Prof.Dr.Ir.A.Rahim Matondang,MSIE)

(4)

Telah Diuji Pada Tanggal : 13 Mei 2011

PANITIA PENGUJI TESIS :

Ketua : Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS, MBA, Ak. Anggota : 1. Dra. Sri Mulyani, MBA, AK.

2. Drs. Rasdianto, MA, Ak.

(5)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan Tesis yang berjudul :

“PENGARUH KOMPONEN LAPORAN ARUS KAS DAN DIVIDEN PAYOUT RATIO

TERHADAP RETURN SAHAM DENGAN EARNING PER SHARE SEBAGAI

VARIABEL MODERATING PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BURSA

EFEK INDONESIA”.

Adalah benar hasil kerja saya sendiri dan belum dipublikasikan oleh siapapun

sebelumnya. Sumber-sumber data dan informasi yang digunakan telah dinyatakan secara

benar dan jelas.

Medan, 13 Mei 2011

Yang Membuat Pernyataan

(6)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis pengaruh komponen laporan arus kas dan dividen payout ratio secara simultan dan parsial terhadap return saham dengan earnings per share sebagai variabel moderating pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2006 sampai tahun 2009. Sampel penelitian diambil secara purposive sampling sehingga menghasilkan 112 perusahaan manufaktur. Metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda.

Hasil pengujian hipotesis pertama secara simultan menunjukkan semua variabel tidak berpengaruh terhadap return saham dengan nilai signifikansi 0.112. Sedangkan hasil pengujian secara parsial menunjukkan variabel arus kas investasi dan arus kas pendanaan memberikan pengaruh negatif dan signifikan terhadap return saham ditunjukkan dengan nilai signifikansi 0,021 dan 0.036. Arus kas operasi, dan dividen payout ratio tidak berpengaruh terhadap return saham. Pengujian hipotesis kedua diperoleh hasil bahwa earnings per share bukan merupakan variabel moderating.

(7)

ABSTRACT

This Research aim to know and obtain; get empirical evidence by simultan and parsial about cash flow statement influence, and dividen payout ratio to return with earnings per share as moderating variable in company of manufacture at Indonesian Stock Exchange.

Population in this research is all company of manufacture which listed at Indonesian Stock Exchange. Sampel Research taken by purposive sampling so that yield 112 company of manufacture. Used by Analysis method is multiple linear regression analysis.

Result of examination first hypotesis by simultan show all variable do not have an effect on to return with significantly value 0.112. While result of examination by parsial show investment cash flow and financing cash flow give influence negative and sigficant to return shown with t significantly value calculate each 0,021 and 0.036. Variable operation cash flow and dividen payout ratio do not give influence to return. Result examination of hypotesis two show variable earning per share is not variable moderating.

.

(8)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillaahirobil’alamin, puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah

SWT Yang Maha Kuasa, Pengasih dan Penyayang karena atas limpahan rahmat dan

karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini.

Penulis sangat menyadari bahwa penyusunan tesis ini tidak terlepas dari

pengorbanan dan bantuan dari banyak pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penulis

dengan tulus menyampaikan penghargaan dan ucapan terimakasih kepada:

1. Prof. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H., M.Sc (CTM), Sp.A(K), selaku Rektor

Universitas Sumatera Utara beserta seluruh stafnya.

2. Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE., selaku Direktur Sekolah Pascasarjana

Universitas Sumatera Utara beserta seluruh stafnya.

3. Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS, MBA, Ak, selaku Ketua Program Studi Ilmu

Akuntansi sekaligus sebagai dosen pembimbing utama tesis, yang telah banyak

meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk mengarahkan dan membimbing serta

memberikan saran-saran kepada penulis dalam menyelesaikan tesis ini.

4. Dra. Sri Mulyani, MBA, Ak, selaku dosen pembimbing tesis yang telah bersedia

meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk membimbing, mengarahkan serta

memberikan saran-saran kepada penulis sehingga tesis ini dapat diselesaikan.

5. Drs. Rasdianto, MA, Ak, selaku dosen pembanding yang telah banyak memberikan

(9)

6. Dr. Rina Br. Bukit, SE, M.Si, Ak, selaku dosen pembanding yang telah banyak

memberikan saran-saran kepada penulis dalam penyelesaian tesis ini.

7. Dra. Tapi Anda Sari, M.Si, Ak, selaku dosen pembanding yang telah banyak

memberikan saran-saran kepada penulis dalam penyelesaian tesis ini.

8. Seluruh dosen dan staf administrasi Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera

Utara.

9. Kedua Orang Tua dan Suami tercinta Kamal Syahron serta seluruh keluarga yang

telah memberikan dukungan dan motivasi dengan penuh kasih sayang baik moril

maupun materil kepada penulis.

10. Rekan-rekan mahasiswa Ilmu Akuntansi khusunya angkatan XVII yang telah

mendukung dan memberikan saran yang membangun kepada penulis.

11. Pihak-pihak lain yang tidak disebutkan yang telah banyak memberikan dukungan

dan motivasi kepada penulis.

Penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari sempurna, sehingga masih

diperlukan masukan dan saran yang membangun guna perbaikan dan kesempurnaan, dan

akhirnya harapan penulis semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Medan, April 2011

(10)

RIWAYAT HIDUP

Nama : Arma Yuliza

Tempat Tanggal Lahir : Kota Tengah, 30 Juli 1984

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Alamat : Kota Tengah, Kab. Rokan Hulu - Riau

Pendidikan

1. SD Negeri 001 Kota Tengah (1996)

2. MTs PP Darul Ulum Kota Tengah (1999)

3. SMA Negeri 1 Kota Tengah (2002)

(11)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

RIWAYAT HIDUP ... v

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 6

1.3 Tujuan Penelitian ... 6

1.4 Manfaat Penelitian ... 7

1.5 Originalitas Tesis ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9

2.1 Landasan Teori ... 9

2.1.1 Return Saham ... 9

2.1.2 Laporan Arus Kas ... 12

2.1.2.1 Pengertian dan Tujuan Arus Kas ... 12

(12)

2.1.2.3 Pelaporan Arus Kas ... 24

2.1.3 Dividen Payout Ratio (DPR) ... 26

2.1.4 Earning Per Share (EPS)... 28

2.2 Tinjauan Peneliti Terdahulu ... 29

BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS ... 32

3.1 Kerangka Konsep ... 32

3.2 Hipotesis Penelitian ... 36

BAB IV METODE PENELITIAN ... 37

4.1 Jenis Penelitian ... 37

4.2 Lokasi Penelitian ... 37

4.3 Populasi dan Sampel ... 37

4.4 Metode Pengumpulan Data ... 39

4.5 Defenisi Operasional Variabel Penelitian ... 39

4.6 Metode Analisis Data ... 43

4.6.1 Outlier Data ... 43

4.6.2 Uji Normalitas Data ... 43

4.6.3 Uji Multikolinearitas ... 44

4.6.4 Uji Heteroskedastisitas ... 44

4.6.5 Uji Autokorelasi ... 45

4.6.6 Pengujian Hipotesis ... 46

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ... 53

(13)

5.2 Deskriptif Statistik ... 54

5.3 Hasil Pengujian Normalitas Model Pertama ... 56

5.4 Hasil Uji Multikolinearitas Model Pertama ... 58

5.5 Hasil Uji Heteroskedastisitas Model Pertama ... 59

5.6 Hasil Uji Autokorelasi Model Pertama ... 60

5.7 Hasil Pengujian Hipotesis Pertama ... 61

5.8 Hasil Pengujian Hipotesis Kedua ... 63

5.8 Pembahasan ... 65

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 70

6.1 Kesimpulan ... 70

6.2 Keterbatasan Penelitian ... 71

6.3 Saran ... 72

(14)

DAFTAR TABEL

Halaman

2.1. Tinjauan Peneliti Terdahulu ... 31

4.1. Ringkasan Proses Pengambilan Sampel ... 39

4.2. Defenisi Operasional Variabel Penelitian ... 42

5.1. Deskriptif Statistik ... 54

5.2. Hasil Pengujian Normalitas Model Pertama dengan Uji One-Sample Kolmogorov-Smirnov ... 57

5.3. Matriks Korelasi antara Variabel Bebas ... 58

5.4. Variance Inflation Factor ... 59

5.5. Pengujian Autokorelasi ... 61

5.6. Hasil Analisis Pengaruh AKO, AKI, AKP, dan DPR terhadap Return Saham Secara Simultan ... 61

5.7. Hasil Analisis Pengaruh AKO, AKI, AKP, dan DPR terhadap Return Saham Secara Parsial ... 62

5.8. Hasil Pengujian Pengaruh AKO, AKI, AKP, dan DPR terhadap Earning Per Share ... 64

(15)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

3.1 Kerangka Konsep ... 32

3.2 Daerah Pengambilan Keputusan tes Durbin-Watson ... 46

5.1 Normal PP PlotResidual Model Pertama ... 57

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 Daftar Populasi ... 76

Lampiran 2 Daftar Sampel ... 81

Lampiran 3 Data Masing-Masing Variabel ... 82

Lampiran 4 Hasil Uji Data Outlier ... 88

Lampiran 5 Hasil Uji Deskriptif Statistik ... 91

Lampiran 6 Hasil Uji Asumsi Klasik dan Hipotesis I ... 92

(17)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis pengaruh komponen laporan arus kas dan dividen payout ratio secara simultan dan parsial terhadap return saham dengan earnings per share sebagai variabel moderating pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2006 sampai tahun 2009. Sampel penelitian diambil secara purposive sampling sehingga menghasilkan 112 perusahaan manufaktur. Metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda.

Hasil pengujian hipotesis pertama secara simultan menunjukkan semua variabel tidak berpengaruh terhadap return saham dengan nilai signifikansi 0.112. Sedangkan hasil pengujian secara parsial menunjukkan variabel arus kas investasi dan arus kas pendanaan memberikan pengaruh negatif dan signifikan terhadap return saham ditunjukkan dengan nilai signifikansi 0,021 dan 0.036. Arus kas operasi, dan dividen payout ratio tidak berpengaruh terhadap return saham. Pengujian hipotesis kedua diperoleh hasil bahwa earnings per share bukan merupakan variabel moderating.

(18)

ABSTRACT

This Research aim to know and obtain; get empirical evidence by simultan and parsial about cash flow statement influence, and dividen payout ratio to return with earnings per share as moderating variable in company of manufacture at Indonesian Stock Exchange.

Population in this research is all company of manufacture which listed at Indonesian Stock Exchange. Sampel Research taken by purposive sampling so that yield 112 company of manufacture. Used by Analysis method is multiple linear regression analysis.

Result of examination first hypotesis by simultan show all variable do not have an effect on to return with significantly value 0.112. While result of examination by parsial show investment cash flow and financing cash flow give influence negative and sigficant to return shown with t significantly value calculate each 0,021 and 0.036. Variable operation cash flow and dividen payout ratio do not give influence to return. Result examination of hypotesis two show variable earning per share is not variable moderating.

.

(19)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pasar modal memiliki peranan penting dalam kegiatan perekonomian. Pasar

modal menjadi sumber kemajuan ekonomi suatu negara. Hal ini ditandai dengan

mampunya pasar modal menjadi sumber dana alternatif bagi perusahaan-perusahaan.

Untuk memperoleh dana dari pasar modal, perusahaan harus memiliki prospek yang baik

untuk masa yang akan datang. Jika memiliki prospek yang baik maka saham perusahaan

yang bersangkutan akan banyak diminati oleh investor. Sebagai imbalannya perusahaan

akan membayarkan dividen kepada investor sesuai dengan jumlah lembar saham yang

dimiliki oleh investor tersebut. Semakin banyak lembar saham yang dimiliki investor

maka akan semakin banyak jumlah dividen yang diterimanya. Dividen bisa diberikan

dalam bentuk cash dividen dan stock dividen.

Pasar modal Indonesia mengalami kemajuan yang pesat dari tahun ke tahun. Hal

ini ditunjukkan dengan jumlah perusahaan tercatat di pasar modal Indonesia yang selalu

menunjukkan angka yang relatif meningkat. Sampai tahun 2010 jumlah perusahaan yang

tercatat di pasar modal Indonesia mencapai 419 perusahaan yang terdiri dari berbagai

jenis perusahaan. Peningkatan jumlah perusahaan yang secara terus menerus akan

menyebabkan semakin banyak alternatif pilihan bagi investor untuk melakukan investasi.

Investor bisa memilih perusahaan yang diminatinya yang akan memberikan keuntungan

(20)

Pasar modal sebagai sarana untuk memobilisasi dana yang bersumber dari

masyarakat ke berbagai sektor yang akan melakukan investasi. Syarat utama yang

diinginkan oleh para investor untuk bersedia menyalurkan dananya melalui pasar modal

adalah perasaan aman akan investasinya dan tingkat return yang akan diperoleh dari

investasi tersebut yang terdiri dari dividen dan capital gain. Di pasar modal, laporan

keuangan perusahaan yang go publik sangat penting sebagai dasar penilaian kinerja

perusahaan. Perusahaan go publik merupakan perusahaan yang dimiliki oleh masyarakat

luas. Oleh karena itu, operasi perusahaan yang efisien akan sangat mempengaruhi kinerja

perusahaan dan akhirnya akan mempengaruhi apresiasi masyarakat pada perusahaan

publik. Perasaan aman untuk investasi bagi investor bisa diperoleh apabila investor

memiliki informasi yang jelas, wajar dan tepat waktu sebagai dasar dalam pengambilan

keputusan investasinya.

Banyak faktor yang mempengaruhi harga saham dan return saham. Faktor yang

mempengaruhi tersebut tidak hanya berasal dari faktor internal perusahaan tetapi juga

faktor eksternal perusahaan. Berbagai informasi di luar perusahaan seperti informasi

ekonomi makro, gejolak politik dalam negeri, keamanan, nilai tukar rupiah terhadap

dollar, sektor industri dan kondisi pasar seringkali mempengaruhi harga saham dan

return saham, namun demikian seringkali pula faktor internal masih berpengaruh

dominan terhadap harga saham dan return saham. Faktor internal yang dimaksud adalah

faktor yang berasal dari dalam perusahaan, misalnya kinerja keuangan perusahaan yang

(21)

Laporan keuangan merupakan salah satu sumber informasi yang dapat

dipergunakan investor dalam mengambil keputusan investasi. Oleh karena itu analisis

terhadap laporan keuangan dianggap penting dilakukan untuk memahami informasi yang

terkandung dalam laporan keuangan tersebut. Ukuran yang digunakan dalam analisis

kinerja keuangan melalui laporan keuangan ini beranekaragam dan berbeda setiap

industri. Salah satu alat analisis yang digunakan oleh investor maupun pihak manajemen

adalah analisis terhadap laporan arus kas (Statement of Cash Flow Analysis).

Penelitian mengenai return saham telah dilakukan oleh beberpa peneliti

diantaranya dilakukan oleh Livnat dan Zarowin (1990) menguji hubungan antara arus kas

dan laba akrual dengan return saham, pengujian dengan analisis regresi berganda

berhasil membuktikan bahwa komponen aliran kas mempunyai hubungan positif lebih

kuat dengan return saham dibandingkan dengan aliran kas total atau laba akrual dengan

return saham.

Triyono dan Jogiyanto (2000) menguji hubungan kandungan informasi arus kas,

komponen arus kas, dan laba akuntansi dengan harga dan return saham memperoleh

kesimpulan bahwa pembedaan komponen aliran kas (operasi, investasi, dan pendanaan)

seperti yang disyaratkan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.2

mempunyai pengaruh yang berbeda-beda terhadap return saham.

Rosdiana (2008) dengan judul penelitian pengaruh komponen laporan arus kas

dan earning per share (EPS) terhadap return saham perusahaan barang-barang konsumsi

di Bursa Efek Indonesia. Dari penelitiannya diperoleh hasil yang menyatakan bahwa arus

(22)

return saham. Sedangkan arus kas investasi dan arus kas pendanaan tidak memberikan

pengaruh terhadap return saham.

Ariadi (2009) telah melakukan penelitian tentang analisis pengaruh laba

akuntansi, arus kas operasi, arus kas pendanaan, Debt to Equity Ratio (DER), Current

Ratio, dan koefisien variasi teradap return saham. Dari penelitian tersebut disimpulkan

bahwa laba akuntansi berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap return saham.

Arus kas operasi, arus kas pendanaan, Current Ratio berpengaruh positif dan signifikan

terhadap return sahama. DPR berpengaruh negatif dan signifikan, sedangkan koefisien

variasi berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap return saham.

Saat melakukan investasi, investor akan selalu mensyaratkan dan mengharapkan

tingkat return tertentu yang akan diperoleh dari investasinya tersebut. Tingkat return

yang disyaratkan ini tentunya didasarkan dari informasi yang disajikan oleh perusahaan

yang menggambarkan prospek perusahaan dimasa yang akan datang. Untuk itu investor

perlu menganalisis kondisi keuangan perusahaan untuk mengetahui kemampuan

perusahaan dalam membagikan dividen dengan cara menghitung rasio keuangan

perusahaan tersebut. Salah satu bentuk analisis rasio tersebut adalah Dividen Payout

Ratio (DPR).

Dividen Payout Ratio merupakan keputusan mengenai kebijakan dividen apakah

earning dibagikan dalam bentuk dividen atau sebagian diinvestasikan kembali sebagai

penambahan modal operasional perusahaan. DPR menunjukkan besarnya laba yang akan

dibayarkan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen. Jumlah pembayaran dividen

(23)

investor. Perubahan pembayaran dividen mempengaruhi pengharapan investor terhadap

prospek dan resiko perusahaan yang pada gilirannya mempengaruhi harga saham

perusahaan. Penelitian Herlambang (2003) mejelaskan bahwa DPR berpengaruh secara

signifikan terhadap return saham. Sehingga dengan demikian DPR dapat digunakan

untuk menentukan nilai perusahaan.

Dengan mengacu pada hasil-hasil penelitian terdahulu dan temuan-temuan fakta

baru diatas, pada penelitian ini akan dilakukan kajian ulang mengenai “pengaruh

komponen laporan arus kas (arus kas operasi, arus kas investasi, dan arus kas pendanaan)

dan Dividen Payout Ratio perusahaan terhadap tingkat return saham dengan EarningPer

Share sebagai variabel moderating pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek

Indeonesia”.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas, maka dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut:

1. Apakah komponen laporan arus kas (yang terdiri dari arus kas dari aktifitas operasi,

arus kas dari aktifitas investasi, dan arus kas dari aktifitas pendanaan) dan dividen

payout ratio berpengaruh terhadap return saham secara simultan maupun secara

parsial?

2. Apakah komponen laporan arus kas (yang terdiri dari arus kas dari aktifitas operasi,

(24)

payout ratio berpengaruh terhadap return saham secara simultan maupun secara

parsial dengan earning per share sebagai variabel moderating?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Menguji dan menganalisis pengaruh komponen laporan arus kas (yang terdiri dari

arus kas dari aktifitas operasi, arus kas dari aktifitas investasi, dan arus kas dari

aktifitas pendanaan) dan dividen payout ratio secara simultan dan parsial terhadap

return saham pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia.

2. Menguji dan menganalisis pengaruh komponen laporan arus kas (yang terdiri dari

arus kas dari aktifitas operasi, arus kas dari aktifitas investasi, dan arus kas dari

aktifitas pendanaan) dan dividen payout ratio secara simultan dan parsial terhadap

return saham dengan earning per share sebagai variabel moderating pada

perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia

1.4. Manfaat Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian yang telah dikemukakan,

penelitian ini akan memberikan manfaat sebagai berikut :

1. Bagi peneliti, dapat memberikan kontribusi keilmuan bagi penulis terutama dalam

mengimplementasikan teori-teori dan literatur-literatur yang diperoleh semasa kuliah

dengan realita yang ada dilapangan.

2. Sedangkan bagi investor pasar modal, penelitian ini bermanfaat untuk memberikan

alternatif bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan berinvestasi dengan

(25)

dari aktifitas investasi, dan arus kas dari aktifitas pendanaan) dividen payout ratio,

dan earning per share.

3. Bagi peneliti selanjutnya dan akademisi, penelitian ini diharapkan akan melengkapi

temuan-temuan empiris yang telah ada dibidang akuntansi untuk kemajuan dan

pengembangan ilmiah dimasa yang akan datang.

1.5. Originalitas Tesis

Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian Rosdiana (2008) dengan judul

pengaruh arus kas dan earnings per share terhadap return saham. Beda penelitian ini

dengan penelitian Rosdiana adalah:

1. Variabel independen penelitian ini adalah arus kas operasi, arus kas investasi, arus

kas pendanaan dan dividen payout ratio. Variabel independen dalam penelitian

Rosdiana adalah arus kas operasi, arus kas investasi, arus kas pendanaan dan

earnings per share. Dalam penelitian ini earning per share digunakan sebagai

variabel moderating.

2. Periode penelitian ini adalah 2006, 2007, 2008, dan 2009, sedangkan periode

penelitian Rosdiana adalah tahun 2004, 2005, dan 2006.

3. Objek dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa

Efek Indonesia. Objek penelitian Rosdiana adalah perusahaan barang konsumsi yang

(26)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori 2.1.1. Return Saham

Return merupakan imbalan yang diperoleh dari investasi (Halim, 2005). Return

dibedakan menjadi dua yaitu return yang telah terjadi (actual return) yang dihitung

berdasarkan data historis, dan return yang diharapkan (expected return) akan diperoleh

investor dimasa depan. Dua kompenen return yaitu untung/rugi modal (capital gain/loss)

dan imbal hasil (yield). Capital gain/loss merupakan keuntungan (kerugian) bagi investor

yang diperoleh dari kelebihan harga jual (harga beli) di atas harga beli (harg jual) yang

keduanya terjadi dipasar sekunder. Imbal hasil (yield) merupakan pendapatan atau aliran

kas yang diterima investor secara periodik, misalnya berupa dividen atau bunga. Yield

dinyatakan dalam bentuk persentase. Dari kedua komponen return tersebut dapat

dihitung total return dengan cara menjumlahkannya.

Harga saham cenderung mengikuti naik turunnya besar dividen yang dibayarkan,

(Halim, 2005). Ada kecenderungan harga saham akan naik jika ada pengumuman

kenaikan dividen, dan harga saham akan turun jika ada pengumuman penurunan dividen.

Dividen itu sendiri tidak menyebabkan kenaikan (penurunan) harga saham secara

langsung, tetapi memberikan pengaruh terhadap prospek perusahaan, yang ditunjukkan

oleh meningkatnya (menurunnya) dividen yang dibayarkan, yang menyebabkan

(27)

dividen. Menurut teori ini, dividen mempunyai kandungan informasi, yaitu prospek

perusahaan di masa mendatang (Manurung dkk, 2008). Prinsip signaling menjelaskan

bahwa tindakan suatu perusahaan menaikkan pembayaran dividen per lembar saham

dapat dipandang oleh investor sebagai perusahaan memiliki keyakinan yang tinggi pada

kondisi keuangan perusahaan dimasa mendatang (Atmadja, 2008).

Berdasarkan definisi di atas maka return atas suatu saham terdiri dari capital gain

(loss) dan dividen yield. Dividen Yield merupakan pembagian laba bersih badan usaha

kepada pemegang saham yang diputuskan melalui rapat umum pemegang saham.

Perusahaan tidak diharuskan oleh hukum untuk selalu membayar dividen kepada

pemegang saham biasa. Besarnya dividen yang dibagikan tergantung dari besar kecilnya

laba yang diperoleh perusahaan dan kebijakan pembagian dividen. Dalam menetapkan

besarnya dividen yang dibagikan kepada pemegang saham, perusahaan menetapkan

kebijakan berupa Dividen Payout Ratio (DPR), yang merupakan penetapan persentase

laba bersih yang dibagikan. Dividen yang diberikan oleh badan usaha dapat berupa

dividen kas maupun dividen saham yang pembayarannya diberikan secara periodik

sebesar Dt rupiah perlembar, dapat dirumuskan sebagai berikut:

������������= Dt

P�−1… … … . (Jogiyanto, 2009)

Dimana : Dt = Dividen kas yang dibayarkan

Pt-1 = Harga saham pada periode t-1

Capital Gain (Loss) merupakan selisih antara nilai pembelian saham dengan nilai

(28)

saham lebih besar daripada harga belinya. Capital Gain terjadi jika harga pasar yang

dinilai sekarang lebih tinggi dari harga perolehannya. Sedangkan Capital Loss

merupakan kerugian pemegang saham karena yang dimilikinya dijual pada harga yang

lebih rendah dari harga belinya.

Capital Gain (Loss) =Pt−Pt−1

Pt−1 … … … (Jogiyanto, 2009)

Dimana : Pt = Harga saham pada peride t

Pt-1 = Harga saham pada periode t-1

Berdasarkan persamaan-persamaan di atas maka return saham dapat dirumuskan

sebagai berikut:

Return Total = Capital gain (loss) + yield ...(Jogiyanto, 2009)

= Pt –Pt−1 P�−1 +

Dt Pt−1 =

(P−P�−1) + D P�−1

Dimana: Pt = Harga saham pada periode t

Pt-1 = Harga saham pada periode t-1

Dt = Dividen kas yang dibayarkan

2.1.2. Laporan Arus Kas

(29)

Laporan arus kas disusun untuk menunjukkan perubahan kas selama satu periode

dan memberikan alasan mengenai perubahan kas tersebut dengan menunjukkan dari

mana sumber-sumber penerimaan kas dan penggunaannya. Laporan arus kas

menggambarkan aliran atau gerakan kas yaitu sumber penerimaan dan pengeluaran kas

dalam periode yang bersangkutan (Munawir, 2002). Laporan arus kas berisikan

ringkasan transaksi-transaksi keuangan yang berhubungan dengan kas tanpa

memperhatikan hubungannya dengan penghasilan yang diperoleh maupun biaya yang

terjadi. Subyek laporan arus kas adalah sumber penerimaan dan penggunaan kas.

Laporan arus kas dapat digunakan sebagai dasar dalam menaksir kebutuhan kas dimasa

mendatang dan kemungkinan sumber-sumber yang ada. Selain itu laporan arus kas dapat

juga digunakan sebagai dasar perencanaan dan peramalan kebutuhan kas dimasa yang

akan datang. Sedangkan bagi para investor dengan laporan arus kas akan dapat menilai

kemampuan perusahaan dalam membayar bunga atau mengembalikan pinjaman.

PSAK No.2 paragraf 1 menyatakan bahwa “Perusahaan harus menyusun laporan

arus kas sesuai dengan persyaratan dalam pernyataan ini menyajikan laporan tersebut

sebagai bagian yang tidak terpisahkan (integral) dari laporan keuangan untuk setiap

periode penyajian laporan keuangan”. Standar ini mengharuskan perusahaan menyajikan

laporan arus kas yang merupakan suatu kesatuan dengan laporan keuangan lainnya,

sehingga setiap laporan keuangan saling melengkapi.

Menurut PSAK No 2 dalam laporan arus kas, kas didefenisikan sebagai uang

tunai dalam perusahaan, uang di rekening bank dan ditambah dengan ekuivalen atau

(30)

menjadi kas dan memiliki waktu jatuh tempo yang pendek tanpa menghadapi resiko

perubahan nilai yang signifikan. Perusahaan menyiapkan kas dan setara kas untuk

memenuhi seluruh aktifitas perusahaan. Pada saat menyusun laporan arus kas, kas dan

ekuivalen kas dijumlahkan dan diperlakukan sebagai bagian dari keseluruhan manajemen

kas. Dalam pembicaraan mengenai arus kas akuntan umumnya menggunakan istilah kas

daripada kas dan ekuivalen kas. Manajemen kas dilakukan secara integral karena

penggunaan kas untuk suatu bagian tertentu tentunya akan mempengaruhi penggunaaan

kas pada bagian lainnya.

Penyajian laporan arus kas mempunyai tujuan utama yaitu menyediakan

informasi yang relevan tentang penerimaan dan pengeluaran kas suatu perusahaan selama

suatu periode. Sebagaimana informasi keuangan lainnya di dalam laporan keuangan,

informasi yang disajikan dibutuhkan oleh investor dan calon investor dalam membuat

keputusan menyangkut investasi mereka. Secara umum laporan arus kas seperti yang

disajikan diatas memberikan informasi penerimaan dan pengeluaran kas. Munawir

(2002) menyatakan Sumber penerimaan kas berasa dari:

1. Penjualan investasi jangka panjang, aktiva tetap dan emisi saham.

2. Pengeluaran wesel, hutang obligasi, hipotek atau hutang jangka panjang lainnya dan

bertambahnya hutang yang diimbangi dengan penerimaan kas.

3. Penurunan aktiva lancar selain kas yang diimbangi penerimaan kas.

4. Penerimaan sewa, bunga atau dividen, sumbangan, hadiah dan pengembalian

kelebihan pajak pada periode sebelumnya.

(31)

1. Pembelian saham, investasi jangka pendek dan jangka panjang, barang dagang secara

tunai.

2. Pembayaran biaya operasi, dividen, pajak, denda, hutang jangka pendek dan hutang

jangka panjang.

3. Penarikan kembali saham dan pengambilan kas perusahaan oleh pemilik.

Manager keuangan harus bertanggung jawab terhadap penggunaan kas dan

mengantisipasi penggunaan kas serta dapat mendistribusikan kas tersebut pada hal-hal

yang terbaik untuk perusahaan. Penggunaan kas harus meminimalkan biaya dana serta

memaksimalkan return yang diberikan penggunaan tersebut. Pengertian ini memberikan

pemahaman tentang arti penting informasi laporan arus kas dalam keputusan investasi.

Laporan arus kas dimaksudkan untuk memberikan ikhtisar arus masuk dan arus

keluar untuk suatu periode. Sumber-sumber kas meliputi arus masuk dari aktifitas operasi

inti (utama) sebuah perusahaan, dari aktifitas sampingan seperti investasi sekuritas, dari

aktifitas yang tidak biasa dan dari pembiayaan melalui hutang dan ekuitas. Penggunaan

kas mencakup arus keluar guna mempertahankan aktifitas inti, untuk melakukan investasi

dan untuk memenuhi kewajiban terhadap pembiayaan melalui hutang dan ekuitas, (Smith

dan Skousen 1994).

PSAK No.2 menyatakan bahwa tujuan laporan arus kas adalah memberikan

informasi historis mengenai perubahan kas dan setara kas dari suatu perusahaan melalui

laporan arus kas yang mengklasifikasikan arus kas berdasarkan aktifitas dari operasi,

(32)

menjadi tiga komponen dalam PSAK No.2 sama dengan yang diisyaratkan pada

Statement of Financial Accounting Standart (SFAS) No.95.

Informasi tentang arus kas suatu perusahaan berguna bagi para pemakai laporan

keuangan sebagai dasar untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas

dan setara kas dan menilai kebutuhan perusahaan untuk menggunakan kas tersebut.

Dalam proses pengambilan keputusan ekonomi, para pemakai perlu melakukan

evaluasi-evaluasi terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan las dan setara kas serta

kepastian perolehannya.

Dalam PSAK No.2 disebutkan tujuan laporan arus kas adalah sebagai sumber

informasi yang berhubungan dengan kas dan satara kas. Informasi yang terkandung

dalam laporan arus kas berguna bagi para pemakai laporan keuangan. Laporan arus kas

merupakan dasar untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan

setara kas. Selain itu laporan arus kas juga berguna untuk menilai kebutuhan perusahaan

untuk menggunakan arus kas tersebut. Dengan kata lain informasi laporan arus kas

berguna untuk mengetahui sumber-sumber kas dan untuk apa kas tersebut dikeluarkan

atau digunakan. Dalam proses pengambilan keputusan ekonomi, para pemakai laporan

perlu melakukan evaluasi terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan

sumber perolehan kas tersebut.

Dalam rangka mencapai tujuan tersebut diatas maka laporan arus kas harus

melaporkan pengaruh kas selama suatu periode usaha perusahaan, transaksi investasi dan

(33)

dampak transaksi investasi dan pendanaan yang mempengaruhi posisi keuangan

perusahaan, tetapi tidak secara langsung mempengaruhi arus kas selama periode tersebut.

PSAK No. 2 menyatakan bahwa jika digunakan dalam kaitannya dengan laporan

keuangan lain, laporan arus kas dapat memberikan informasi yang memungkinkan para

pemakai untuk mengvaluasi perubahan dalam aktiva bersih, struktur keuangan (termasuk

likuiditas dan solvabilitas) dan kemampuan untuk mempengaruhi jumlah serta waktu

arus kas dalam rangka adaptasi dengan perubahan keadaan dan peluang.

Berdasarkan uraian diatas, informasi yang terdapat dalam laporan arus kas harus

disertai dengan pengungkapan dan informasi yang berkaitan dengan laporan keuangan

lain sehingga dapat membantu para investor, kreditor dan pihak lainnya untuk:

a. Menetapkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan arus kas bersih yang

positif di masa depan. Dalam banyak kasus, sumber dan penggunaan kas tidak

berubah secara derastis dari tahun ke tahun. Oleh karena itu penerimaan dan

pembayaran kas yang lalu adalah alat peramal yang baik untuk penerimaan dan

pembayaran kas masa depan.

b. Menentukan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya, seperti

membayar dividen dan kebutuhan pembelanjaan ekstern. Para pemegang saham

tertarik dalam penerimaan dividen atas investasi mereka dalam

perusahaan-perusahaan. Kreditor ingin menerima bunga dan pokok pinjaman tepat waktunya.

Laporan arus kas membantu investor dan kreditor meramalkan apakah perusahaan

(34)

c. Menetapkan alasan perbedaan antara laba bersih dan penerimaan/pembayaran kas.

Biasanya kas dan laba bersih berjalan bersama, namun ada kalanya saldo kas

perusahaan dapat menurun ketika laba bersih meningkat dan kas dapat meningkat

pada saat laba bersih menurun.

d. Menentukan pengaruh terhadap posisi keuangan perusahaan, baik transaksi kas

maupun transaksi investasi non kas dan transaksi pendanaan salama periode tertentu.

e. Kebutuhan perusahaan akan pendanaan ekstern (External financing).

f. Untuk mengetahui keputusan manajemen. Jika manajer membuat keputusan

investasi yang bijaksana maka bisnis mereka menjadi makmur, begitu juga

sebaliknya jika manajer membuat keputusan yang tidak bijaksana maka bisnis

mereka akan mengalami kegonjangan.

2.1.2.2. Komponen Laporan Arus Kas

Laporan arus kas melaporkan arus kas (penerimaan dan pengeluaran kas) dalam

tiga bagian yaitu kegiatan operasi, kegiatan investasi, dan kegiatan keuangan atau

pendanaan (Niswonger, 1999). Arus kas dari bagian operasi mencakup transaksi yang

termasuk dalam penentuan laba bersih, namun umumnya berbeda dari jumlah laba bersih

periode bersangkutan. Arus kas dari bagian kegiatan investasi melaporkan transaksi

transaksi kas untuk akuisisi (perolehan) dan penjualan dari aktiva jangka panjang atau

bertipe permanen. Arus kas dari bagian pendanaan melaporkan transaksi kas yang

mengaitkan investasi kas oleh pemillik, dan peminjaman serta penarikan oleh pemilik.

Laporan arus kas mengklasifikasikan penerimaan dan pengeluaran kas dalam tiga

(35)

arus kas dari aktifitas pendanaan. PSAK No.2 paragraf 10 (IAI:2002) menjelaskan bahwa

dalam laporan arus kas perusahaan disajikan dengan beberapa komponen yang meliputi

arus dari aktifitas operasi, arus kas dari aktifitas investasi, dan arus kas dari aktifitas

pendanaan dengan cara yang paling sesuai dengan bisnis perusahaan. Klasifikasi menurut

aktifitas memberikan informasi yang memungkinkan para pemakai laporan untuk menilai

pengaruh aktifitas tersebut terhadap posisi keuangan perusahaan serta terhadap jumlah

kas dan setara kas. Selain itu informasi arus kas juga dapat digunakan untuk

mengevaluasi hubungan diantara ketiga jenis aktifitas tersebut.

Berdasarkan pernyataan di atas maka laporan arus kas terdiri dari tiga komponen

utama yang terdiri dari:

1. Arus Kas dari Aktifitas Operasi

2. Arus Kas dari Aktifitas Investasi

3. Arus Kas dari Aktifitas Pendanaan

Adapun penjelasan dari masing-masing komponen laporan arus kas tersebut

adalah sebagai berikut:

1. Arus Kas dari Aktifitas Operasi (AKO)

Dalam PSAK N0. 2 paragraf 12 dijelaskan bahwa jumlah arus kas yang berasal

dari aktifitas operasi merupakan indikator yang menentukan apakah dari operasinya

perusahaan dapat menghasilkan arus kas yang cukup untuk melunasi pinjaman,

memelihara kemampuan operasi perusahaan, membayar dividen, dan melakukan

investasi baru tanpa mengandalkan pada sumber pendanaan dari luar. Arus kas dari

(36)

perusahaan. Oleh karena itu arus kas tersebut pada umumnya berasal dari transaksi

peristiwa lain yang mempengaruhi penetapan laba atau rugi bersih.

Dalam PSAK No.2 paragraf 13 dijelaskan bahwa sumber penerimaan arus kas

dari aktifitas operasi meliputi penjualan barang dan jasa, royalti, fee, komisi dan

pendapatan lain, penerimaan asuransi (premi, klaim, anuitas dan manfaat asuransi

lainnya), penerimaan kembali (restitusi) pajak penghasilan, dan penerimaan dari kontrak

yang diadakan untuk tujuan transaksi usaha dan perdagangan. Pengeluaran untuk arus

kas dari aktifitas operasi adalah pembayaran kepada pemasok barang dan jasa, kepada

karyawan, pembayaran asuransi (premi, klaim, anuitas dan manfaat asuransi lainnya),

pembayaran pajak penghasilan, dan pembayaran kontrak yang diadakan untuk tujuan

transaksi usaha dan perdagangan.

Arus kas operasi pada suatu perusahaan dapat bernilai positif (surplus) ataupun

negatif (defisit). Suatu perusahaan memiliki arus kas operasi yang positif atau surplus

jika arus kas masuk dari aktifitas operasi lebih besar daripada arus kas keluarnya.

Sebaliknya perusahaan akan memiliki arus kas operasi yang negatif atau defisit jika arus

kas masuk dari aktifitas operasi lebih kecil daripada arus kas keluarnya.

Arus kas operasi oleh perusahaan diharapkan bernilai positif atau surplus dari

tahun ke tahun. Hal ini karena arus kas dari aktifitas operasi yang surplus dapat

menambah dana bagi perusahaan dan menunjukkan bahwa perusahaan berupaya

meningkatkan operasi dalam usahanya. Surplus arus kas dari aktifitas operasi ini dapat

menyebabkan kinerja perusahaan menjadi lebih baik karena adanya kemungkinan

(37)

sehingga akhirnya akan meningkatkan harga saham perusahaan di lantai bursa,

Manurung (1998).

Sementara itu arus kas dari aktifitas operasi yang defisit menunjukkan semakin

berkurangnya laba perusahaan sehingga ada kemungkinan perusahaan akan membagikan

dividen semakin kecil. Selain itu perusahaan tidak akan dapat meningkatkan kas dari

sumber lain dalam waktu yang tidak terbatas. Jika kondisi ini terus berlangsung maka

kemungkinan saham perusahaan tidak akan diminati oleh investor sehingga pada

akhirnya perusahaan akan mengalami kesulitan keuangan dan kemungkinan terburuk

perusahaan akan bangkrut.

2. Arus Kas dari Aktifitas Investasi (AKI)

Arus kas dari aktifitas investasi mencerminkan penerimaan dan pengeluaran kas

sehubungan dari sumber daya yang bertujuan untuk menghasilkan pendapatan dan arus

kas di masa depan, mencakup transaksi-transaksi atau kejadian-kejadian pembelian dan

penjualan saham (securities), tanah, bangunan, peralatan dan aktiva-aktiva lain yang pada

umumnya tidak untuk dijual kembali dan pembelian serta pengumpulan hutang-hutang

yang diklasifikasikan sebagai aktifitas investasi. Aktifitas investasi ini terjadi secara

regular serta mempengaruhi penerimaan dan pengeluaran kas. Aktifitas-aktifitas ini tidak

dimasukkan dalam aktifitas operasi karena bukan merupakan aktifitas pokok perusahaan.

Dalam PSAK No.2 paragraf 15 dijelaskan bahwa penerimaan arus kas dari

aktifitas investasi meliputi penjualan tanah, bangunan dan peralatan, aktiva tetap tidak

berwujud, dan aktiva jangka panjang lainnya. Pengeluaran arus kas dari aktifitas investasi

(38)

panjang lainnya termasuk biaya pengembangan yang dikapitalisasi dan aktiva tetap yang

dibangun sendiri. Transaksi lain yang termasuk dalam arus kas investasi adalah

perolehan saham atau instrumen keuangan perusahaan lain, uang muka dan pinjaman

yang diberikan kepada pihak lain dan pelunasannya, dan pembiayaan kas sehubungan

dengan future contracts, forward contracts, option contract, dan debt swap contracts

kecuali apabila kontrak tersebut dilakukan untuk tujuan perdagangan.

Arus kas investasi pada suatu perusahaan dapat benilai positif (surplus) ataupun

negatif (defisit). Suatu perusahaan memiliki arus kas investasi yang negatif menunjukkan

adanya peningkatan investasi. Peningkatan investasi ini mencerminkan perusahaan

banyak menggunakan investasi, seperti membeli aktiva tetap jangka panjang, surat-surat

berharga atau memberikan pinjaman kepada perusahaan lain, yang hasilnya diharapkan

akan menghasilkan keuntungan dimasa yang akan datang. Selain itu arus kas investasi

yang defisit menunjukkan bahwa perusahaan masih memiliki peluang melakukan

investasi, memiliki kesempatan tumbuh, dan prospek yang baik dimasa yang akan datang

sehingga diharapkan akan meningkatkan kinerja perusahaan. Arus kas investasi yang

positif (surplus) menunjukkan bahwa perusahaan banyak melakukan pelepasan investasi

jangka panjangnya, menjual surat berharganya ataupun menerima tagihan dari pinjaman

yang diberikannya.

3. Arus Kas dari Aktifitas Pendanaan (AKP)

Pengungkapan terpisah arus kas yang timbul dari aktifitas pendanaan perlu

(39)

pemasok modal perusahaan. Aktifitas pendanaan adalah aktifitas yang mengakibatkan

perubahan dalam jumlah serta komposisi modal dan pinjaman perusahaan.

Aktifitas pendanaan meliputi semua transaksi atau kejadian, dengan jalan mana

kas yang diperoleh dari pembayaran kembali kepada para pemilik (equity financing) dan

kreditor (debt financing), misalnya penerimaan kas yang berasal dari pengeluaran atau

penjualan saham, pengembalian pokok pinjaman atau pembayaran untuk saham dalam

perbendaharaan (treasury stock) dan pembayaran dividen.

Dalam PSAK No.2 paragraf 16 dijelaskan bahwa transaksi-transaksi yang

termasuk dalam penerimaan arus kas dari aktifitas pendanaan, yaitu penerimaan kas dari

emisi saham atau instrumen modal lainnya, dan Penerimaan kas dari emisi obligasi,

pinjaman, wesel, hipotek dan pinjaman lainnya. Sedangkan pengeluaran arus kas dari

aktifitas pendanaan meliputi pembayaran kas kepada para pemegang saham untuk

menarik atau menebus saham perusahaan pembayaran kas oleh penyewa guna usaha

(lease) untuk mengurangi saldo kewajiban yang berkaitan dengan sewa guna pembiayaan

(finance lease). Transaksi lain yang termasuk dalam arus kas dari aktifitas pendanaan

adalah pelunasan pinjaman.

Arus kas pendanaan pada suatu perusahaan dapat bernilai positif (surplus)

ataupun negatif (defisit). Suatu perusahaan memiliki arus kas pendanaan yang positif atau

surplus jika arus kas masuk dari aktifitas pendanaan lebih besar daripada arus kas

keluarnya. Sebaliknya perusahaan akan memiliki arus kas pendanaan yang negatif atau

defisit jika arus kas masuk dari aktifitas pendanaan lebih kecil daripada arus kas

(40)

Arus kas pendanaan yang defisit menggambarkan bahwa perusahaan cenderung

mengembalikan hutang jangka panjangnya atau menarik kembali saham yang beredar.

Kondisi ini sangat disenangi oleh investor karena perusahaan mampu membayarkan

kewajibannya dan mengembalikan keuntungan atas investasi yang ditanamkan oleh

investor, sehingga diharapkan harga saham perusahaan dapat meningkat. Jika perusahaan

menghasilkan arus kas pendanaan positif atau surplus menunjukkan bahwa perusahaan

lebih banyak meminjam uang daripada melunasi kewajibannya. Jika kondisi diatas terus

berlangsung tanpa diimbangi oleh kelancaran operasi perusahaan, maka kemungkinan

perusahaan akan kesulitan untuk membayar kewajiban dan akhirnya perusahaan akan

pailit.

2.1.2.3. Pelaporan Arus Kas

Setiap perusahaan diminta untuk mencantumkan laporan arus kas dalam setiap

laporan keuangannya sesuai dengan pedoman yang berlaku yaitu PSAK No.2. Menurut

PSAK No.2 paragraf 17, metode yang digunakan perusahaan untuk melaporkan arus kas

dari aktifitas operasi adalah metode langsung (yaitu dengan metode ini kelompok utama

dari penerimaan kas bruto dan pengeluaran kas bruto diungkapkan) dan metode tidak

langsung (dengan metode ini laba atau rugi bersih disesuaikan dengan mengoreksi

pengaruh dari transaksi bukan kas, penangguhan (deferral) atau akrual dari penerimaan

atau pembayaran kas untuk operasi di masa lalu dan masa depan, dan unsur penghasil

atau beban yang berkaitan dengan arus kas investasi atau pendanaan).

Namun dalam PSAK No.2 paragraf 18 menjelaskan bahwa perusahaan harus

(41)

Sedangkan untuk pelaporan arus kas dari aktifitas investasi dan pendanaan, PSAK No.2

paragraf 20 mengharuskan perusahaan melaporkan secara terpisah kelompok utama

penerimaan kas bruto dan pengeluaran kas bruto yang berasal dari aktifitas investasi dan

pendanaan, kecuali sebagaimana dijelaskan pada paragraph 21 dan 23, arus kas

dilaporkan atas dasar arus kas bersih.

Perusahaan yang listing di BEI dianjurkan untuk melaporkan arus kas dari

aktifitas operasi, arus kas dari aktifitas investasi dan arus kas dari aktifitas pendanaan

dengan menggunakan metode langsung. Dengan metode langsung ini akan menghasilkan

informasi yang berguna dalam mengestimasi arus kas masa depan yang tidak dapat

dihasilkan dengan metode tidak langsung, dan metode langsung juga informasi mengenai

kelompok utama penerimaan kas bruto dan pengeluaran kas bruto dapat diperoleh baik

dari catatan akuntansi perusahaan atau dengan menyesuaikan penjualan dan pos-pos lain

dalam laporan laba rugi untuk:

a. Perubahan persediaan, piutang usaha dan hutang usaha selama periode berjalan

b. Pos bukan kas lainnya

c. Pos lain yang berkaitan dengan arus kas investasi dan pendanaan.

Dalam metode tidak langsung, arus kas bersih dari aktifitas operasi ditentukan

dengan menyesuaikan laba atau rugi bersih dari pengaruh:

a. Perubahan persediaan dan piutang usaha serta hutang usaha selama periode berjalan

b. Pos bukan kas seperti penyusutan, penyisihan, pajak ditangguhkan, keuntungan dan

kerugiaan valuta asing yang belum direalisasikan, laba perusahaan asosiasi yang

(42)

Pelaporan arus kas juga memiliki keterbatasan, (Wild dkk, 2005) meliputi:

1. Tidak diharuskannya pengungkapan terpisah untuk arus kas yang terkait dengan pos

luar biasa atau operasi dalam penghentian.

2. Bunga dan dividen yang diterima serta bunga yang dibayarkan dikelompokkan

sebagai arus kas operasi. Banyak pengguna laporan menganggap bunga yang dibayar

sebagai arus kas operasi.

3. Pajak dikelompokkan sebagai arus kas operasi.

4. Pemindahan laba atau rugi penjualan aktiva tetap atau investasi sebelum pajak

(bukannya setelah pajak) dari aktifitas operasi mendistorsi analisis atas aktifitas

operasi dan aktifitas investasi.

2.1.3. Dividen Payout Ratio (DPR)

Manajemen mempunyai dua alternatif perlakuan terhadap penghasilan bersih atau

laba perusahaan yaitu yang pertama dibagikan kepada para pemegang saham dalam

bentuk dividen. Kedua adalah diinvestasikan kembali sebagai laba ditahan. Pada

umumnya sebagian laba perusahaan dibagikan dalam bentuk dividen kepada pemegang

saham dan sebagiannya lagi diinvestasikan kembali ke perusahaan sebagai penambahan

modal dalam bentuk laba ditahan.

Dividen Payout Ratio (DPR) merupakan persentase tertentu dari laba perusahaan

yang dibayarkan sebagai dividen kas kepada pemegang saham (Darmadji, 2001). Dividen

Payout ratio merupakan keputusan mengenai kebijakan dividen apakah earning

(43)

Ratio menunjukkan besarnya laba yang akan dibayarkan kepada pemegang saham dalam

bentuk dividen. Untuk menghitung Dividen Payout Ratio dapat menggunakan rumus:

DPR = �����������ℎ��� �����������ℎ��� Atau

DPR =Dividen yang dibagikan ���������������

Dividen merupakan sebagian dari laba yang dibagikan kepada pemegang saham.

Bagi investor jumlah rupiah yang diterima dari pembayaran dividen risikonya lebih kecil

dari capital gain, selain itu dividen lebih dapat diperkirakan sebelumnya. Sedangkan

capital gain lebih sulit diperkirakan, sehingga pembayaran dividen yang tinggi dapat

berarti bahwa perusahaan mempunyai prospek tingkat keuntungan yang baik. Pengaruh

penurunan besarnya dividen yang dibayarkan dapat menjadi informasi yang kurang baik

bagi perusahaan karena dividen merupakan tanda tersedianya laba perusahaan. Besarnya

dividen yang dibayarkan juga dapat menjadi informasi tingkat pertumbuhan laba saat ini

dan masa mendatang.

2.1.4. Earnings Per Share (EPS)

Earning per share (EPS) merupakan rasio yang menunjukkan berapa besar

keuntungan (return) yang diperoleh investor atau pemegang saham per saham. Semakin

tinggi nilai EPS semakin besar laba yang disediakan untuk pemegang saham (Darmadji,

2001). Bagi investor EPS merupakan informasi mendasar dan berguna karena bisa

(44)

Komponen penting pertama yang harus diperhatikan dalam analisis perusahaan

adalah laba per lembar saham yang dikenal dengan earnings per share (EPS), Tandelilin

(2001). Earnings per share dipandang sebagai angka yang menunjukkan performa

perusahaan yang menjual sahamnya kepada masyarakat, karena earnings per share

menunjukkan rupiah yang diperoleh emiten. Earnings per share digunakan untuk

mengukur perolehan pemegang saham dari tiap unit investasi pada laba bersih yang

dihasilkan perusahaan. Besarnya earnings per share suatu perusahaan bisa diketahui dari

informasi laporan keuangan perusahaan yang mana besarnya pendapatan dari earnings

per share tergantung pada laba bersih yang diperoleh perusahaan dan jumlah lembar

saham yang beredar dan besarnya earnings per share berdampak pada return.

Secara matematis, perhitungan earning per share suatu perusahaan adalah

sebagai berikut:

�����������ℎ��� (���) =Laba Bersih setelah pajak

Jumlah lembar saham … … … (Halim, 2005)

Pada kondisi nilai EPS tinggi berarti bahwa ketersediaan laba yang dibagikan

kepada pemegang saham juga tinggi. Dengan demikian jumlah kas yang tersedia untuk

membayarkan dividen kepada pemegang saham juga tinggi. Pada saat EPS, arus kas dan

DPR tinggi, kondisi ini tentunya akan semakin meningkatkan nilai return saham.

2.2. Tinjauan Peneliti Terdahulu

Penelitian yang berkaitan dengan return saham telah banyak dilakukan oleh

sejumlah peneliti. Rosdiana (2008) dengan judul penelitian pengaruh komponen laporan

(45)

konsumsi di Bursa Efek Indonesia. Dari penelitiannya diperoleh hasil yang menyatakan

bahwa arus kas operasi berpengaruh positif terhadap return saham. Earning Per Share

juga berpengaruh terhadap return saham. Arus kas investasi dan arus kas pendanaan

tidak memberikan pengaruh terhadap return saham.

Herlambang (2003) meneliti pengaruh earning power, return on equity, dividen

payout ratio, dan tingkat bunga deposito terhadap return saham. Dari pengujian tersebut

diperoleh hasil yang menjelaskan bahwa earning power, return on equity, dividen payout

ratio berpengaruh secara signifikan terhadap return saham. Tingkat bunga deposito

berpengaruh negatif terhadap return saham.

Triyono dan Jogiyanto (2000) menguji hubungan kandungan informasi arus kas,

komponen arus kas, dan laba akuntansi dengan harga dan return saham. Penelitian

tersebut memperoleh kesimpulan bahwa arus kas operasi dan arus kas pendanaan

mempunyai hubungan yang signifikan dengan harga saham tetapi tidak terhadap return

saham. Sedangkan arus kas investasi mempengaruhi harga saham dan return saham.

Livnat dan Zarowin (1990) dengan judul penelitian The Incremental Content of

Cash Flow dengan menggunakan medel regresi berganda menghasilkan arus kas operasi

mempengaruhi harga saham dan return saham sedangkan arus kas investasinya tidak

mempengaruhi return saham.

Ariadi (2009) telah melakukan penelitian tentang analisis pengaruh laba

akuntansi, arus kas operasi, arus kas pendanaan, Debt to Equity Ratio, Current Ratio, dan

koefisien variasi terhadap return saham. Dari penelitian tersebut disimpulkan bahwa laba

(46)

operasi, arus kas pendanaan, Current Ratio berpengaruh positif dan signifikan terhadap

return sahama. Debt to Equity Ratio berpengaruh negatif dan signifikan, sedangkan

koefisien variasi berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap return saham.

Beberapa perbedaan tersebut terjadi antara peneliti satu dengan lainnya, yang

secara jelas dapat dilihat pada tabel 2.1 berikut:

Tabel 2.1. Tabel Tinjuauan Peneliti Terdahulu No Peneliti Judul

Penelitian Variabel Penelitian Hasil Penelitian

1 Rosdiana, terhadap return saham

2

(47)

Variabel bebas:

Arus kas operasi, arus kas investasi, harga

Harga saham dan Return saham

Variabel bebas:

(48)

Komponen Arus Kas:

BAB III

KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS

3.1. Kerangka Konsep

Kerangka konseptual dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 3.1.

1.

Gambar 3.1. Kerangka Konsep

Dari kerangka pemikiran pada gambar 3.1. dapat dijelaskan bahwa arus kas dari

aktifitas operasi, arus kas dari aktifitas investasi, arus kas dari aktifitas pendanaan dan

Dividen Payout Ratio (DPR) dengan Earning Per Share (EPS) sebagai variabel

moderating berpengaruh terhadap Return saham.

Informasi merupakan kebutuhan yang mendasar bagi para investor dan calon

(49)

tepat waktu memungkinkan investor untuk melakukan pengambilan keputusan secara

rasional sehingga hasil yang diperoleh sesuai dengan yang diharapkan. Informasi yang

memberikan gambaran bahwa sebuah perusahaan berada dalam kondisi yang baik akan

meningkatkan permintaan atas saham perusahaan tersebut sehingga harganya akan

mengalami peningkatan. Informasi dalam laporan keuangan meruapakan sumber bagi

investor yang mengandalkan analisa fundamental dalam investasi mereka.

Laporan keuangan terdiri dari beberapa laporan yaitu laporan laba rugi, laporan

neraca, laporan arus kas, laporan perubahan modal dan catatan atas laporan keuangan

yang merupakan bagian terintegrasi dari laporan keuangan tersebut. Hal paling pokok

dalam laporan keuangan adalah laba (net income), dimana banyak investor menjadikan

hal ini sebagai alat analisa utama kelayakan sebuah harga saham. Dalam laporan

keuangan banyak variabel yang menggambarkan laba seperti Return On Asset (ROA),

Return On Equity (ROE), dan variabel lainnya. Dividen Payout Ratio (DPR) dan Earning

per share (EPS) sebagai salah satu turunan dari laba menjadi satu variabel yang secara

teoritis akan sangat mempengaruhi harga saham.

Informasi lain di dalam laporan keuangan yang semakin mendapat porsi yang

signifikan dalam pembuatan keputusan investasi adalah laporan arus kas. Penggunaan

laporan arus kas semakin meningkat seiring dengan kebutuhan investor mengenai

informasi penggunaan uang tunai di dalam perusahaan. Investor tidak mau mengalami

dilusi informasi hanya dengan memperhatikan tingkat laba sebuah perusahaan tanpa

melihat apakah laba tersebut nyata atau tidak, investor ingin laba tersebut tercermin di

(50)

Pembagian laporan arus kas menajadi tiga bagian yaitu operasi, investasi, dan

pendanaan akan memberikan informasi yang lebih baik bagi perusahaan. Investor akan

memperhatikan setiap bagian dengan memberikan analisa yang berbeda dibandingkan

bagian lainnya. Arus kas operasi diharapkan akan positif dalam artian operasi utama

perusahaan memberikan kontribusi penambahan uang tunai bagi perusahaan. Arus kas

investasi dapat meberikan arus kas positif dan negatif dengan pengaruh yang tidak dapat

dipolakan dengan tegas terhadap harga saham. Arus kas bagian pendanaan diharapkan

memiliki posisi negatif sebagai representasi dari pembayaran kewajiban serta penarikan

kembali saham yang beredar.

Informasi arus kas membantu kita dalam menilai kemampuan perusahaan untuk

memenuhi kewajibannya, membayar dividen, meningkatkan kapasitas, dan mendapatkan

pendanaan. Arus kas dari aktifitas operasi mempunyai pengaruh positif terhadap return

saham (Cahyani, 1999). Kelebihan arus kas dari aktifitas operasi akan mampu membiayai

aktifitas investasi dan aktifitas pendanaan perusahaan. Aktifitas operasi mencerminkan

pelaksanaan rencana bisnis yang terdapat dalam aktifitas pendanaan dan aktifitas

investasi.

Kenaikan investasi memungkinkan timbulnya arus kas masa depan yang lebih

tinggi apabila kinerja perusahaan baik. Namun apabila kinerja perusahaan rendah

kenaikan investasi menyebabkan kenaikan resiko investasi yang berakibat pada

penurunan arus kas masa depan. Hal ini memberikan konsekwensi adanya hubungan

positif atau negatif antara arus kas investasi dengan return saham pada saat pengumuman

(51)

Dalam PSAK No. 2 dijelaskan bahwa pengeluaran arus kas pendanaan meliputi

pembayaran kas kepada para pemegang saham untuk menarik atau menebus saham

perusahaan. Pembayaran dividen juga dimasukkan sebagai pengeluaran untuk aktifitas

pendanaan. Jika arus kas pendanaan negatif akan membuat para investor menjadi senang

karena perusahaan mampu membayar dividen yang merupakan keuntungan bagi investor.

Hal ini mampu memacu kenaikan harga saham perusahaan yang tentunya akan

meningkatkan capital gain saham tersebut. Dividen dan capital gain merupakan return

(keuntungan) yang diterima oleh investor.

Prinsip signaling menjelaskan bahwa tindakan suatu perusahaan menaikkan

pembayaran dividen per lembar saham dapat dipandang oleh investor sebagai perusahaan

memiliki keyakinan yang tinggi pada kondisi keuangan perusahaan dimasa mendatang.

Dividen Payout Ratio menjelaskan besarnya persentase dari laba yang dibagikan dalam

bentuk dividen. DPR diharapkan memberikan kenaikan return saham, semakin besar

DPR maka return saham yang diterima oleh pemegang saham akan semakin besar.

Earning Per Share sebagai variael moderating diharapkan akan memperkuat pengaruh

variabel independen terhadap return saham. EPS yang besar menjelaskan jumlah laba per

saham yang semakin besar.

3.2. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka konseptual diatas, maka hipotesis penelitian yang dapat

dirumuskan adalah sebagai berikut :

1. Komponen laporan arus kas (arus kas dari aktifitas operasi, arus kas dari aktifitas

(52)

berpengaruh secara simultan dan parsial terhadap return saham perusahaan

manufaktur yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.

2. Komponen laporan arus kas (arus kas dari aktifitas operasi, arus kas dari aktifitas

investasi, dan arus kas dari aktifitas pendanaan) dan dividen payout ratio dengan

Earning Per Share sebagai variabel moderating berpengaruh secara simultan dan

parsial terhadap return saham perusahaan manufaktur yang tercatat di Bursa Efek

(53)

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hubungan

kausal yang merupakan penelitian dengan karakteristik masalah berupa hubungan sebab

akibat antara dua variabel atau lebih. Menurut Sugiyono (2006), hubungan kausal adalah

hubungan sebab akibat. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah komponen

laporan arus kas (arus kas operasi, arus kas pendanaan dan arus kas investasi) dan dividen

payout ratio sebagai variabel independen (X) dan variabel dependen (Y) adalah return

saham, sedangkan Earning Per Share merupakan variabel moderating (M). Variabel

independen yaitu arus kas dan dividen payout ratio dengan earning per share sebagai

variabel moderating diduga mempengaruhi variabel dependen yaitu return saham.

4.2.Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek

Indonesia tahun 2006, tahun 2007, tahun 2008 dan tahun 2009. Data diperoleh dengan

mendownload laporan tahunan perusahaan yang dibutuhkan untuk tahun 2006, 2007,

2008, dan tahun 2009.

4.3. Populasi dan Sampel

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek maupun subyek yang

mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk

(54)

digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa

Efek Indonesia (BEI) untuk tahun 2006, 2007, 2008, dan tahun 2009. Daftar populasi

dapat dilihat pada lampiran 1.

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakterisitik yang dimiliki oleh populasi

(Sugiyono, 2006). Pengambilan sampel dalam penelitian dilakukan secara purposive

sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan atau kriteria tertentu.

Kriteria yang digunakan untuk memilih sample adalah sebagai berikut:

1. Perusahaan termasuk kategori industri manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek

Indonesia periode 2006, 2007, 2008, dan 2009.

2. Perusahaan memiliki data keuangan yang lengkap untuk diteliti.

3. Perusahaan memperoleh laba selama periode penelitian mulai tahun 2006, 2007,

2008, dan 2009.

4. Perusahaan membagi dividen secara berturut-turut mulai tahun 2006, 2007, 2008,

dan 2009.

Dari proses pengambilan sampel, populasi yang memenuhi kriteria untuk menjadi

sampel hanya berjumlah sebanyak 28 perusahaan (dapat dilihat pada lampiran 2)

dikalikan dengan 4 periode amatan sehingga sampel menjadi 112. Adapun ringkasan

proses pengambilan sampel (dapat dilihat pada lampiran 1) dijelaskan dalam tabel

berikut:

Tabel 4.1. Ringkasan Proses Pengambilan Sampel

(55)

Jumlah populasi 155

Jumlah populasi yang tidak memenuhi kriteria sampel 1 (35)

Sisa 120

Jumlah populasi yang tidak memenuhi kriteria sampel 2 (31)

Sisa 89

Jumlah populasi yang tidak memenuhi kriteria sampel 3 (32)

Sisa 57

Jumlah populasi yang tidak memenuhi kriteria sampel 4 (29)

Jumlah sampel terpilih 28

Total Sampel penelitian 28 perusahaan X 4 periode amatan = 112 amatan

4.4.Metode Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berupa

laporan tahunan dari perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

tahun 2006, 2007, 2008, dan tahun 2009.

4.5.Defenisi Operasional Variabel Penelitian a. Variabel Dependen

Variabel dependen (variabel terikat) adalah variabel yang dipengaruhi oleh

variabel independen. Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah

return saham pada laporan tahunan perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun

2006, 2007, 2008, dan tahun 2009. Return saham adalah hasil yang diperoleh investor

dari jumlah dana yang diinvestasikan. Return saham terdiri dari capital gain (loss) dan

dividen yang diperoleh untuk tiap lembar saham yang dimiliki oleh investor.

(56)

Return saham adalah jumlah uang yang menyatakan nilai suatu saham. Return

saham dan terdiri dari capital gain (loss) dan dividen yield, dinyatakan dalam rupiah.

������ Saham =(Pt−Pt−1) + Dt Pt−1

b. Variabel Independen

Variabel independen (bebas) adalah variabel yang menjelaskan atau

mempengaruhi variabel lain. Variabel independen yang digunakan yaitu arus kas operasi,

arus kas investasi, arus kas pendanaan dan dividen payout ratio.

1. Arus Kas Operasi (AKO) - X1

Informasi yang ditujukan untuk melaporkan penerimaan dan pengeluaran kas

selama satu periode yang berasal dari aktifitas operasi. Variabel ini akan dihitung sebagai

nilai arus kas operasi yang dihasilkan perusahaan pada periode amatan yaitu selisih arus

kas masuk dan arus kas keluar aktifitas operasi dan dinyatakan dalam milyaran rupiah.

2. Arus Kas Investasi (AKI) - X2

Informasi yang ditujukan untuk melaporkan penerimaan dan pengeluaran kas

selama satu periode yang berasal dari aktifitas investasi. Variabel ini akan dihitung

sebagai nilai arus kas investasi yang dihasilkan perusahaan pada periode amatan yaitu

selisih arus kas masuk dan arus kas keluar aktifitas investasi dan dinyatakan dalam

milyaran rupiah.

3. Arus Kas Pendanaan (AKP) - X3

Informasi yang ditujukan untuk melaporkan penerimaan dan pengeluaran kas

Figur

Tabel 2.1. Tabel Tinjuauan Peneliti Terdahulu

Tabel 2.1.

Tabel Tinjuauan Peneliti Terdahulu p.46
Gambar 3.1. Kerangka Konsep

Gambar 3.1.

Kerangka Konsep p.48
Tabel 4.2. Defenisi Operasional Variabel

Tabel 4.2.

Defenisi Operasional Variabel p.58
Gambar 3.2. Daerah pengambilan keputusan tes Durbin-Watson

Gambar 3.2.

Daerah pengambilan keputusan tes Durbin-Watson p.62
Tabel 5.1. Deskriptif Statistik

Tabel 5.1.

Deskriptif Statistik p.70
Tabel 5.2. Hasil Pengujian Normalitas Model Pertama dengan

Tabel 5.2.

Hasil Pengujian Normalitas Model Pertama dengan p.73
Gambar 5.1. Normal PP Plot Residual Model Pertama

Gambar 5.1.

Normal PP Plot Residual Model Pertama p.73
Tabel 5.3. Matriks Korelasi antar Variabel Bebas

Tabel 5.3.

Matriks Korelasi antar Variabel Bebas p.74
Tabel 5.4. Tabel Variance Inflation Factor (VIF)

Tabel 5.4.

Tabel Variance Inflation Factor (VIF) p.75
Gambar 5.2. Scatterplot Uji Heteroskedastisitas Model Pertama

Gambar 5.2.

Scatterplot Uji Heteroskedastisitas Model Pertama p.76
Tabel 5.6. menunjukkan secara serempak arus kas operasi, arus kas investasi, arus

Tabel 5.6.

menunjukkan secara serempak arus kas operasi, arus kas investasi, arus p.77
Tabel 5.6. Hasil Analisis Pengaruh AKO, AKI, AKP, dan DPR terhadap Return

Tabel 5.6.

Hasil Analisis Pengaruh AKO, AKI, AKP, dan DPR terhadap Return p.77
Tabel 5.7. Hasil Analisis Pengaruh AKO, AKI, AKP, dan DPR terhadap Return Saham Secara Parsial

Tabel 5.7.

Hasil Analisis Pengaruh AKO, AKI, AKP, dan DPR terhadap Return Saham Secara Parsial p.78
Tabel 5.9. Hasil Pengujian Variabel Moderating a

Tabel 5.9.

Hasil Pengujian Variabel Moderating a p.81

Referensi

Memperbarui...