PENGARUH MIGRASI SIRKULER TERHADAP KONDISI
SOSIAL RUMAH TANGGA PETANI
MUHAMMAD INDRA
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Pengaruh Migrasi Sirkuler Terhadap Kondisi Sosial Rumah Tangga Petani adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
ABSTRAK
MUHAMMAD INDRA. Pengaruh Migrasi Sirkuler Terhadap Kondisi Sosial Rumah Tangga Petani. Di bawah bimbingan EKAWATI SRI WAHYUNI.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor pendorong dan penarik yang mempengaruhi keputusan rumah tangga petani melakukan migrasi sirkuler, serta menganalisis pengaruh yang ditimbulkan dari migrasi sirkuler terhadap perubahan tingkat pendidikan anak, peranan sosial, pola jam kerja petani, dan pembagian kerja dalam rumah tangga petani. Penelitian dilakukan di Desa Pamanukan Hilir, Kecamatan Pamanukan, Kabupaten Subang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif yang didukung data kualitatif dengan metode penelitian survei. Dalam penelitian ditemukan bahwa migrasi sirkuler berpengaruh terhadap kondisi sosial rumah tangga petani, di antaranya: 1) Faktor utama petani melakukan migrasi sirkuler karena kurangnya kepememiliki lahan yang mempengaruhi tingkat pendapatan (ekonomi); (2) Petani yang melakukan migrasi sirkuler menyesuaikan pembagian kerja dalam rumah tangganya; (3) Rumah tangga petani migran memiliki motivasi lebih untuk mencapai pendidikan anak yang tinggi; (4) Petani menggunakan masa tenggang untuk bekerja di luar sektor pertanian yang berpengaruh terhadap berkurangnya jam kerja dalam bertani; dan (5) Sebagian peranan sosial suami digantikan oleh istri saat suami sedang melakukan migrasi.
Kata kunci: migrasi sirkuler, tingkat pendidikan anak, perubahan jam kerja, pembagian kerja, peranan sosial
ABSTRACT
MUHAMMAD INDRA. Effect of Circular Migration to Social Conditions of Farmer Households. Supervised by EKAWATI SRI WAHYUNI.
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
pada
Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
PENGARUH MIGRASI SIRKULER TERHADAP KONDISI
SOSIAL RUMAH TANGGA PETANI
MUHAMMAD INDRA
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
Judul Skripsi : Pengaruh Migrasi Sirkuler Terhadap Kondisi Sosial Rumah Tangga Petani
Nama : Muhammad Indra
NIM : I34100075
Disetujui oleh
Dr Ir Ekawati Sri Wahyuni, MS Pembimbing
Diketahui oleh
Dr Ir Siti Amanah, MSc Ketua Departemen
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas segala karunia-Nya, sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Maret 2014 sampai Juli 2014 ini adalah urbanisasi, transmigrasi dan migrasi internal dengan judul Pengaruh Migrasi Sirkuler Terhadap Kondisi Sosial Rumah Tangga Petani.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Ibu Dr. Ir. Ekawati Sri Wahyuni, MS selaku dosen pembimbing yang selalu memberikan pengarahan dan bimbingan kepada penulis. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Rina Mardiana, MSi selaku dosen akademik yang telah membimbing saya dan memberi masukan dalam hal akademik. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Bapak Engkur Kurnadi Adiwijaya selaku Kepala Desa Pamanukan Hilir dan Bapak Oman selaku perangkat desa yang setia menemani penulis dalam proses pengumpulan data. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada Kakek dan Nenek yang juga telah banyak membantu penulis dalam memberikan informasi-informasi berharga terkait penelitian dan responden serta memberikan tempat tinggal selama penulis melakukan penelitian di Desa Pamanukan Hilir. Tak lupa penulis sampaikan juga terima kasih kepada Mama dan Papa serta seluruh keluarga, atas segala doa dan kasih sayangnya. Penulis juga mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya terhadap teman sebimbingan, yaitu Anjas, Anggi, Baiq dan Astri. Penulis juga berterima kasih kepada Rezaninda, Saefihim, Ardian serta teman-teman SKPM angkatan 47 yang telah memberikan semangat dan nasihat yang berharga. Terakhir terima kasih diucapkan kepada para responden di Desa Pamanukan Hilir yang telah bersedia diwawancarai.
Akhir kata penulis berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis dan pembaca dalam memahami lebih jauh tentang pengaruh migrasi sirkuler terhadap kondisi sosial rumah tangga petani.
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL xiii
DAFTAR GAMBAR xv
DAFTAR LAMPIRAN xvii
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Masalah Penelitian 3
Tujuan Penelitian 4
Kegunaan Penelitian 4
PENDEKATAN TEORITIS 5
Tinjauan Pustaka 5
Kerangka Pemikiran 14
Hipotesis Penelitian 15
Definisi Konseptual 15
Definisi Operasional 15
PENDEKATAN LAPANGAN 17
Lokasi dan Waktu Penelitian 17
Metode Penelitian 17
Teknik Penentuan Responden dan Informan 17
Teknik Pengumpulan Data 19
Teknik Pengolahan dan Analisis Data 19
PROFIL DESA PAMANUKAN HILIR 21
Kondisi Geografi 21
Sarana dan Prasarana 21
Struktur Kependudukan 23
Kondisi Ekonomi Desa Pamanukan Hilir 25
Kondisi Sosial Budaya Desa Pamanukan Hilir 28
Sejarah Migrasi Desa Pamanukan Hilir 29
FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN MIGRASI SIRKULER 31
Faktor Pendorong 32
Faktor Penarik 38
PENGARUH MIGRASI SIRKULER TERHADAP POLA JAM KERJA PETANI
DAN TINGKAT PENDIDIKAN ANAK 43
Pola Jam Kerja Petani 43
Tingkat Pendidikan Anak 44
PENGARUH MIGRASI SIRKULER TERHADAP PERUBAHAN PERANAN SOSIAL DAN PEMBAGIAN KERJA DALAM RUMAH TANGGA PETANI 48
Peranan Sosial 49
SIMPULAN DAN SARAN 57
Simpulan 57
Saran 58
DAFTAR PUSTAKA 59
LAMPIRAN 62
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Curahan kerja anggota keluarga per ART yang bekerja menurut menurut status rumah tangga (petani vs buruh tani) di lima Kabupaten (% jam kerja)
13
Tabel 2 Jumlah dan presentase penduduk desa pamanukan hilir, kecamatan pamanukan berdasarkan golongan umur
23 Tabel 3 Jumlah dan presentase penduduk desa pamanukan hilir,
kecamatan pamanukan berdasarkan tingkat pendidikan
24 Tabel 4 Rata-rata pendapatan petani menurut jenis pekerjaan, Desa
Pamanukan Hilir, 2014
26 Tabel 5 Alasan kepala keluarga dalam rumah tangga petani melakukan
migrasi sirkuler, Desa Pamanukan Hilir, 2014
32 Tabel 6 Rumah tangga petani migran sirkuler dan non migran sirkuler
menurut luas penguasaan lahan, Desa Pamanukan Hilir, 2014
33 Tabel 7 Rumah tangga petani migran sirkuler dan non migran sirkuler
menurut tingkat pendapatan, Desa Pamanukan Hilir, 2014
34 Tabel 8 Kepala keluarga pada rumah tangga petani migran sirkuler dan
non migran sirkuler menurut jenis pekerjaan, Desa Pamanukan Hilir, 2014
37
Tabel 9 Kepala keluarga pada rumah tangga petani migran sirkuler dan non migran sirkuler menurut jenis sektor pekerjaan, Desa Pamanukan Hilir, 2014
37
Tabel 10 Alasan kepala keluarga dalam rumah tangga petani bermigrasi sirkuler ke tempat tujuan, Desa Pamanukan Hilir, 2014
39 Tabel 11 Responden migran sirkuler menurut cara memperoleh informasi
mengenai tempat tujuan, Desa Pamanukan Hilir, 2014
39 Tabel 12 Responden migran sirkuler berdasarkan daerah tujuan migrasi,
Desa Pamanukan Hilir, 2014
40 Tabel 13 Responden migran sirkuler berdasarkan pendapatan per bulan
sebelum dan sesudah melakukan migrasi, Desa Pamanukan Hilir, 2014
Tabel 15 Perbedaan kemampuan mencapai tingkat pendidikan anak saat ini antara rumah tangga petani migran dan non migran, Desa Pamanukan Hilir, 2014
46
Tabel 16 Perbedaan kemampuan mencapai tingkat pendidikan anak masa mendatang antara rumah tangga petani migran dan non migran, Desa Pamanukan Hilir, 2014
46
Tabel 17 Perbandingan peranan sosial antara anggota rumah tangga petani migran dan non migran di dalam masyarakat
Tabel 18 Independent Samples Test peranan sosial antara anggota rumah tangga petani migran dan non migran di dalam masyarakat
51 Tabel 19 Perbandingan pembagian kerja domestik antara anggota rumah
tangga petani migran dan non migran
52 Tabel 20 Independent Samples Test pembagian kerja domestik anggota
rumah tangga antara rumah tangga petani migran dan non migran 53 Tabel 21 Perbandingan pembagian kerja dalam usaha tani antara anggota
rumah tangga petani migran dan non migran
54 Tabel 22 Independent Samples Test pembagian kerja dalam usaha tani
anggota rumah tangga antara rumah tangga petani migran dan non migran
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Faktor-faktor yang terdapat pada daerah asal, daerah tujuan, dan rintangn antara (Everett S Lee 1980)
7
Gambar 2 Kerangka pemikiran 14
Gambar 3 Kerangka penentuan responden dan kontrol 19 Gambar 4 Peta Desa Pamanukan Hilir Kecamatan Pamanukan Kabupaten
Subang
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Peta Desa Pamanukan Hilir Kecamatan Pamanukan Kabupaten Subang
Lampiran 2 Panduan pertanyaan mendalam
Lampiran 3 Kerangka sampling responden migran dan non migran
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dewasa ini problematika kependudukan pada negara-negara sedang berkembang terutama di Indonesia menjadi hal yang sangat kompleks bagi pembangunan. Dinamika kependudukan akan selalu berkembang mengikuti perkembangan angka kelahiran, kematian, dan perpindahan penduduk (migrasi) serta terjadi perubahan dalam berbagai aspeknya, baik aspek jumlah, komposisi menurut jenis kelamin dan umur, pertumbuhan dan persebarannya. Sejalan dengan hal tersebut, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010 penduduk Indonesia terus bertambah dari waktu ke waktu. Ketika sensus pertama pada tahun 1961 dilakukan, jumlah penduduk Indonesia masih sekitar 97,1 juta jiwa, namun setelah hampir setengah abad, jumlah populasi penduduk Indonesia meningkat drastis dan telah mencapai 237,6 juta jiwa pada saat sensus 2010 dilakukan.
Peningkatan jumlah penduduk ternyata sejalan dengan meningkatnya angka pertumbuhan angkatan kerja yang semakin lama semakin bertambah banyak namun tidak sejalan dengan penciptaan lapangan kerja yang memadai. Dengan demikian terdapat suatu ketimpangan antara lapangan pekerjaan yang tersedia dengan banyaknya jumlah tenaga kerja yang ada. Mau tidak mau dengan kondisi tersebut menyebabkan banyak calon tenaga kerja baru sulit mendapatkan pekerjaan baik di sektor formal maupun di sektor informal karena persaingan yang sangat banyak. Hal yang serupa terjadi di sektor pertanian, ketersediaan lahan pertanian yang semakin menurun dan dilain sisi penduduk meningkat cukup pesat mengakibatkan luas lahan garapan juga akan semakin sempit. Luas lahan garapan yang sempit mengindikasikan pendapatan rumah tangga petani yang rendah, selain itu juga menyebabkan berkurangnya hasil-hasil pertanian yang tidak mampu menjamin kebutuhan penduduk yang hidupnya bergantung pada sektor pertanian dan tidak jarang mereka banyak yang bekerja sebagai buruh tani di desanya maupun di desa lain yang berdekatan demi keberlanjutan roda ekonomi rumah tangga mereka.
Fakta menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Indonesia tidak cukup mendapatkan akses pada tanah karena lahan-lahan pertanian telah dikuasai oleh para pemilik lahan yang sejumlah 0,2% atau kurang lebih 460 ribu orang dari total penduduk Indonesia pada tahun 2011 yang menguasai 56% aset nasional. Di dalam konsentrasi 56% aset ini, tidak kurang dari 62–87% dalam bentuk tanah (Winoto 2011). Hal-hal tersebut mendorong mereka untuk melakukan mobilisasi di kalangan penduduk dari satu wilayah ke wilayah lain atau yang disebut dengan gerak penduduk (Shryllock dan Siegel 1973 dalam Rusli 2012). Keterkaitan antara migrasi dengan lahan pertanian adalah makin terbatasnya lahan pertanian dilihat dari kepadatan penduduk petani yang tinggi di suatu daerah (proporsi petani berlahan sempit) dan rendahnya kesempatan kerja di sektor pertanian telah mendorong orang untuk meninggalkan daerah mereka dalam mencari pekerjaan ke daerah lain (Alatas 1995).
gerak penduduk telah membentuk suatu pola perpindahan penduduk di Indonesia yang akhir-akhir ini menurut banyak penelitian banyak terjadi migrasi desa-kota. Fenomena migrasi desa-kota di negara sedang berkembang terutama di Indonesia dicirikan oleh migrasi non permanen, dalam bentuk sirkuler dan komuter, karena di kota terdapat fasilitas komunikasi dan transportasi yang lebih maju (Wahyuni 2000) serta kekuatan ekonomi masih terpusat di daerah perkotaan saja. Migrasi desa-kota dengan cara sirkulasi memungkinkan penduduk desa khususnya petani masih dapat mengerjakan pekerjaan pertanian sehingga pendapatan rumah tangga akan lebih baik.
Faktor-faktor yang berperan untuk mempengaruhi orang dalam melakukan migrasi sangat beragam dan kompleks karena migrasi merupakan proses yang secara selektif mempengaruhi setiap individu dengan ciri-ciri ekonomi, sosial, pendidikan dan demografi tertentu (Todaro 1998). Akibatnya mereka yang melakukan migrasi pada umumnya adalah para tenaga kerja yang mempunyai tingkat pendidikan tertentu dan berasal dari lokasi yang memiliki kelebihan tenaga kerja juga berpenghasilan rendah menuju lokasi yang kekurangan tenaga kerja dan atau yang mampu memberikan upah lebih tinggi dengan harapan dapat membuat mereka hidup lebih layak dari daerah asalnya (Waridin 2002). Beberapa penelitian sebelumnya mengenai migrasi menyebutkan bahwa alasan utama orang melakukan migrasi karena alasan ekonomi. Pergeseran dalam strategi ekonomi masyarakat pedesaan yang semula hanya mengandalkan pertanian subsisten bergeser secara pasti menjadi ekonomi pasar yang selama ini dicirikan di perkotaan (sektor informal) melalui remittances migran sirkuler. Tentunya dengan tidak mengabaikan faktor sosial, budaya dan norma-norma masyarakat perdesaan setempat.
Masalah Penelitian
Adanya perbedaan yang berarti antara perkotaan dengan perdesaan dari karakteristik sosial, ekonomi, dan budaya akan menyebabkan mobilisasi penduduk tertutama di sektor pertanian. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa keputusan bermigrasi cenderung disebabkan faktor ekonomi, demikian juga mobilitas sirkuler di banyak negara Asia, pada umumnya disebabkan kemiskinan di daerah perdesaan merupakan faktor penting yang menjadi pendorong para migran meninggalkan desanya menuju daerah-daerah yang memiliki lebih banyak kesempatan ekonomi seperti perkotaan (Oberai 1985). Selain faktor ekonomi yang menjadi alasan utama, terdapat faktor sosial yang ikut berperan dalam fenomena migrasi. Faktor tersebut disebabkan oleh adanya dorongan dari individu untuk memperbaiki kondisi sosial yang kurang berkembang apabila tetap berada di desa asal. Faktor sosial dalam hal ini yaitu ingin memperbaiki tingkat pendidikan anggota rumah tangga, memperbaiki kualitas hidup, dan ingin memiliki fasilitas yang lebih baik yang akan didapat jika berada di perkotaan. Faktor sosial ini juga termasuk keinginan para migran untuk melepaskan dari kendala-kendala tradisional yang terkandung dalam organisasi-organisasi sosial yang sebelumnya mengekang mereka (Todaro 1998).
Menurut Mantra (1985) seorang migran mengambil keputusan melakukan mobilias non permanen disebabkan oleh adanya dua kekuatan yang mengikat dan mendorong seorang migran terhadap daerah asalnya. Seseorang akan tetap tinggal di daerah asal, melakukan ulang alik atau bermigrasi ditentukan oleh bertemu atau tidaknya antara kebutuhan individu dan kondisi suatu daerah (Mantra 1985). Selain ditentukan oleh faktor-faktor pribadi, keputusan seseorang untuk bermobilisasi juga ditentukan oleh kondisi suatu daerah asal dan tujuan (Lee 1980). Sesuai dengan teori dorong tarik atau Push Pull Theory yang dikemukakan oleh Lee (1980) terdapat faktor–faktor yang mempengaruhi masyarakat dalam melakukan migrasi. Lebih lanjut Lee menguraikan teori tersebut menjadi faktor pendorong yang terdapat di daerah asal dan faktor penarik yang terdapat di tempat tujuan. Oleh karena itu, penting untuk mengidentifikasi apa saja faktor pendorong dan penarik yang menyebabkan rumah tangga petani dalam melakukan migrasi sirkuler?.
rumah tangga akan lebih baik (Hermawan 2002). Oleh karena itu, penting untuk menganalisis sejauhmana pengaruh migrasi sirkuler terhadap perubahan pendidikan anak, peranan sosial, pola jam kerja petani, dan pembagian kerja dalam rumah tangga petani?.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah penelitian, maka secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh migrasi sirkuler terhadap kondisi sosial rumah tangga petani. Secara khusus, tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi faktor pendorong dan penarik yang menyebabkan rumah tangga petani melakukan migrasi sirkuler.
2. Menganalisis pengaruh yang ditimbulkan dari migrasi sirkuler terhadap perubahan tingkat pendidikan anak, peranan sosial, pola jam kerja petani, dan pembagian kerja dalam rumah tangga petani.
Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kegunaan bagi akademisi, pembuat kebijakan dan masyarakat pada umumya mengenai kajian migrasi bagi sektor pertanian di suatu wilayah. Secara spesifik dan terperinci manfaat yang didapatkan oleh berbagai pihak di antaranya sebagai berikut:
1. Bagi akademisi:
Bagi akademisi, penelitian ini menjadi proses pembelajaran dalam memahami fenomena sosial di lapangan. Selain itu, diharapkan hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi dari perkembangan fenomena sosial mengenai pengaruh migrasi sirkuler terhadap kondisi sosial rumah tangga petani. Selain itu, penelitian ini dapat menjadi literatur bagi akademisi yang ingin mengkaji lebih jauh.
2. Bagi pembuat kebijakan:
Bagi pembuat kebijakan, penelitian ini diharapkan dapat menambah rujukan dalam menganalisis bagaimana seharusnya migrasi dijadikan suatu cara untuk memajukan dan membangun daerah-daerah yang tertinggal dari pembangunan.
3. Bagi masyarakat:
PENDEKATAN TEORITIS
Bab ini terdiri atas beberapa sub bab. Sub bab pertama membahas tinjauan pustaka. Dalam sub bab tinjauan pustaka dijelaskan mengenai teori dan konsep yang dipakai dalam penelitian. Pada sub bab selanjutnya adalah kerangka pemikiran. Dilanjutkan dengan sub bab hipotesis, dan definisi operasional.
Tinjauan Pustaka
Definisi Migrasi
Migrasi merupakan bagian dari mobilitas penduduk atau gerak penduduk. Migrasi juga merupakan salah satu bentuk dari tipologi gerak penduduk yang cenderung bersifat permanen. Gerak penduduk mempunyai makna dalam ilmu demografi yaitu perpindahan penduduk (population mobility) atau secara khusus perpindahan wilayah (teritorial mobility) dari suatu tempat ke tempat lainnya yang mengandung makna gerak spasial, fisik, dan geografis (Rusli 2012). Lebih lanjut Rusli (2012) menyatakan bahwa seseorang dapat dikatakan melakukan migrasi apabila ia melakukan pindah tempat tinggal secara permanen dan relatif permanen (untuk jangka waktu minimal tertentu) dengan menempuh jarak minimal tertentu atau pindah dari satu unit geografis ke unit geografis lainnya. Unit geografis berarti unit administratif pemerintah baik berupa negara maupun bagian-bagian dari negara. Menurut Mantra (1985) mobilitas penduduk horizontal atau geografis meliputi semua gerakan penduduk yang melintasi batas wilayah tertentu dalam periode waktu tertentu. Batas wilayah yang dimaksud lebih kepada batas administrasi yang ditetapkan oleh negara. Menurut BPS (2012) menyatakan bahwa migrasi sebagai proses berpindahnya penduduk dari suatu tempat ke tempat lain melewati batas wilayah tertentu yang dilalui dalam perpindahan tersebut. Sunarto (1985) mengemukakan migrasi juga mengandung pengertian bahwa perpindahan seseorang melalui batas provinsi ke provinsi lain yang dalam prosesnya memerlukan jangka waktu enam bulan atau lebih, tetapi seseorang dikategorikan sebagai migran biarpun perpindahan kurang dari enam bulan atau sebelumnya telah berniat menuju ke tempat tujuan. Berbeda dengan definisi lain, Lee (1980) menyatakan perubahan tempat tinggal secara permanen atau semi permanen dapat terjadi jika tidak ada pembatasan dan sifat tindakan tersebut dilakukan secara sukarela atau terpaksa.
seseorang untuk berdiam diri atau menetap di tempat tujuan perpindahan (Rusli 2012). Mobilitas permanen dan non permanen pada dasarnya terletak pada ada tidaknya niat bertempat tinggal untuk menetap di daerah tujuan (Mantra 1985). Gould (1993) juga mengemukakan bahwa migrasi merupakan fenomena yang bervariasi terdiri dari empat macam, yaitu migrasi desa ke desa, desa ke kota, kota ke desa, dan kota ke kota. Orang atau pelaku yang melakukan migrasi disebut sebagai migran. Berdasarkan beberapa pengertian dari para ahli dapat disimpulkan bahwa migrasi adalah segala bentuk gerak penduduk yang terkait dengan perpindahan tempat tinggal dari satu tempat ke tempat yang lain selama periode waktu tertentu (permanen dan non permanen).
Orang atau pelaku yang melakukan migrasi disebut sebagai migran. Lebih spesifik Rusli (2012) menjelaskan bahwa seseorang dapat disebut sebagai migran jika telah melakukan migrasi lebih dari satu kali. Menurut Alatas (1995) secara umum menyebutkan beberapa jenis migran, migran kembali, migran semasa hidup (life time migran), migran total dan migran risen. Migran semasa hidup ialah orang-orang yang pada saat pencacahan tidak bertempat tinggal di tanah atau tempat kelahirannya. Migran kembali adalah orang yang kembali ketempat kelahirannya setelah sebelumnya pernah berpindah ketempat lain atau dengan kata lain bisa disebut dengan migran sirkuler. Migran total ialah orang yang pernah bertempat tinggal ditempat lain (selain tempat kelahirannya), sehingga migran total meliputi migran semasa hidup dan migran kembali. Jumlah migran total dikurangi migran kembali merupakan migran semasa hidup. Migran risen atau mutakhir adalah orang-orang yang akhir ini melakukan perpindahan, akhir-akhir ini dapat diartikan dalam waktu satu tahun terakhir-akhir ini atau lima tahun terakhir ini dan seterusnya. Dalam kemungkinan bila lima tahun terakhir, maka migran risen adalah orang-orang yang pada saat pencacahan provinsi tempat tinggal sekarang berbeda dengan provinsi tempat tinggal lima tahun yang lalu.
Migrasi Sirkuler
Migrasi sirkuler merupakan salah satu bentuk gerak penduduk non permanen yang secara umum bercirikan jangka pendek, repetitif atau siklikal; ketiga ciri tersebut mempunyai kesamaan dalam hal tidak nampaknya niat yang jelas untuk mengubah tempat tinggal secara permanen (Zelinsky 1971). Menurut (Zulham et al. 1992) gerak penduduk non permanen ini didasarkan pada pemanfaatan waktu migran sirkuler dan komuter antara desa dan kota. Berdasarkan konsep gerak penduduk yang diungkapkan Rusli (2012) gerak penduduk non permanen dapat dibagi menjadi sirkulasi dan komutasi. Menurut Rusli (2012) migrasi sirkuler didefinisikan sebagai gerak berselang antara tempat tinggal dan tempat tujuan baik untuk bekerja maupun untuk lain-lain tujuan seperti sekolah. Migrasi sirkuler menurut Mantra (1985) adalah gerak penduduk dari suatu wilayah menuju ke wilayah lain dengan tidak ada niatan menetap di daerah tujuan. Pengertian lain dari migrasi sirkuler menurut Alatas (1995) ialah jenis mobilitas penduduk yang dipilih seseorang atau kelompok dengan maksud untuk tidak menetap di daerah tujuan dan pada waktu tertentu tetap kembali ke daerah asal.
dengan komutasi yang semata-mata merupakan gerak penduduk harian. Dengan demikian dapat disimpulkan pengertian migrasi sirkuler adalah perpindahan penduduk antara tempat asal dengan tempat tujuan yang bersifat non permanen artinya migran tidak mempunyai maksud atau niatan untuk menetap selamanya.
Faktor-faktor Penyebab Migrasi
Pada dasarnya orang melakukan migrasi selalu di latar belakangi oleh berbagai faktor baik dari individu itu sendiri maupun dari faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Faktor lingkungan ini berasal dari daerah asal dan daerah tujuan. Menurut Lee (1980) Lee (1980) bila melukiskan daerah asal dan daerah tujuan terdapat faktor-faktor positif dan negatif serta meliputi faktor netral. Faktor positif adalah faktor yang memberi nilai yang menguntungkan kalau bertempat tinggal di daerah tersebut, misalnya di daerah tersebut terdapat sekolah, kesempatan kerja, dan iklim yang baik. Selanjutnya faktor negatif adalah faktor yang memberi nilai negatif pada daerah yang bersangkutan sehingga seseorang ingin pindah dari tempat tersebut. Perbedaan nilai kumulatif antara kedua tempat cenderung menimbulkan arus migrasi penduduk. Selanjutnya Lee (1980) menambahkan bahwa besar kecilnya arus migrasi juga dipengaruhi rintangan yang tak terduga dan menurutnya terdapat empat faktor yang perlu diperhatikan dalam memahami penyebab para migran melakukan gerak penduduk, di antaranya: (1) Faktor-faktor yang terdapat di daerah asal, (2) Faktor-faktor yang terdapat di tempat tujuan, (3) Rintangan antara daerah asal dan daerah tujuan, (4) Faktor pribadi.
Gambar 1 Faktor-faktor yang terdapat pada daerah asal, daerah tujuan, dan rintangan antara (Everett S Lee 1980)
individual-individual dengan karakteristik ekonomi, sosial, pendidikan dan dan demografi tertentu.
Munir (1981), mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi migrasi ada dua faktor, yaitu faktor pendorong dan faktor penarik. Dilihat dari faktor pendorong dan penariknya, yang tergolong menjadi faktor pendorong antara lain: (1) Makin berkurang sumber-sumber alam; (2) Menyempitnya lahan pekerjaan di tempat asal; (3) Adanya tekanan-tekanan dan diskriminasi politik, agama, dan suku di daerah asal; (4) Tidak cocok lagi dengan budaya atau adaptasi daerah asal; (5) Alasan pekerjaan atau perkawinan yang menyebabkan tidak berkembangnya karir pribadi; dan (6) Bencana alam. Sementara itu, yang tergolong menjadi faktor pernarik antara lain: (1) Adanya rasa superior di tempat yang baru atau kesempatan untuk memasuki lapangan pekerjaan yang cocok; (2) Kesempatan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik; (3) Kesempatan mendapatkan pendidikan lebih tinggi; (4) Keadaan lingkungan dan keadaaan hidup yang menyenangkan; (5) Tarikan dari orang yang diharapkan sebagai tempat berlindung; dan (6) Adanya aktivitas kota besar, tempat-tempat hiburan, pusat kebudayaan. BPS (2012) juga menyatakan bahwa banyaknya orang yang masuk ke suatu provinsi dipengaruhi besarnya faktor penarik provinsi tersebut bagi pendatang berupa industrialisasi, perdagangan, pendidikan, perumahan, dan lingkungan hidup. Selain itu karena ada faktor pendorong seperti kesempatan kerja yang terbatas jumlah dan jenisnya, sarana dan prasarana, pendidikan, fasilitas, dan kondisi lingkungan.
Uraian tersebut menunjukkan bahwa faktor pendorong dari daerah asal identik dengan faktor negatif yang dimiliki daerah asal, sedangkan faktor yang menarik dari daerah tujuan identik dengan faktor positif yang dimiliki daerah tujuan. Akan tetapi tidak selamanya daerah asal identik dengan faktor negatif saja, karena terdapat faktor positif yang membuat penduduk memilih tidak meninggalkan daerah asalnya. Menurut Mantra (1985) faktor positif tersebut berkaitan dengan: (1) Jalinan persaudaraan dan kekeluargaan diantara warga desa sangat erat, (2) Sistem gotong royong yang erat pada masyarakat, (3) Penduduk sangat terikat pada tanah pertanian, dan (4) Penduduk sangat terikat pada daerah (desa) tempat mereka dilahirkan. Lee (1980) dalam teori migrasinya mengatakan bahwa yang mendorong orang untuk pindah bukan hanya ditentukan oleh faktor-faktor nyata yang terdapat di daerah asal dan tujuan saja, tetapi lebih dari itu terutama ditentukan oleh persepsi orang terhadap faktor-faktor tersebut. Setiap orang memiliki pengetahuan, ketrampilan serta pengalaman dan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda. Faktor pribadi inilah yang juga ikut mempengaruhi seseorang untuk memutuskan melakukan migrasi di luar faktor-faktor di daerah asal maupun di daerah tujuan.
Dampak Migrasi Terhadap Pertanian
2,74 juta jiwa, tetapi di sektor pertanian berkurang sebanyak 2,52 juta jiwa tenaga kerja dalam dua tahun. Data ini jelas membuktikan terjadinya migrasi tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor non pertanian. Gejala penurunan jumlah tenaga kerja petani dari waktu ke waktu ini diduga karena rendahnya minat masyarakat untuk menjadi petani terutama kaum muda. Hasil sensus pertanian tahun 2013 yang menunjukkan bahwa sekitar 60% petani negeri ini berumur di atas 45 tahun dan sekitar sepertiganya bahkan telah berumur di atas 55 tahun. Hal yang mempengaruhi keinginan para pemuda tidak mau terjun ke sektor pertanian karena pendidikan mereka lebih tinggi dibandingkan dengan orang tua mereka yang bekerja di sawah dan pendapatan yang rendah dari hasil pertanian dibandingkan di luar pertanian (Hermawan 2002).
Penyebab utama perubahan dalam sektor pertanian ialah pembangunan atau globalisasi. Perubahan yang disebabkan globalisasi pada sektor pertanian, yaitu ditinggalkannya sektor pertanian dan beralih ke sektor non pertanian. Di tempat tujuan migrasi nantinya, sebagian dari mereka mempunyai kegiatan di sektor informal, seperti dibidang perdagangan, industri, pengolahan, transportasi, konstruksi, dan jasa (Suharso 1986). Menurut Herdiana (1995) pelaku mobilitas menjadi penyebab lain berkurangnya kesempatan kerja di desa karena mereka memperkenalkan teknologi baru pada bidang pertanian di desa. Keluarga petani yang semula bekerja sama menumbuk pada berubah menjadi komersil, karena harus mengatur biaya penumbukan padi secara modern. Menurut Zulham et al. (1992) mobilitas penduduk yang tidak tergantung lagi pada sekor pertanian lebih bersifat permanen. Migran ini pada umumnya melepas kegiatan di sektor pertanian karena pendapatan di luar sektor pertanian lebih besar.
Kajian yang dilakukan oleh Sudaryanto dan Sumaryanto (1989) di Provinsi Jawa Tengah bahwa pola migran ternyata dipengaruhi oleh permintaan tenaga kerja dalam desa. Pada saat permintaan tenaga kerja di dalam desa cukup tinggi seperti pada saat musim tanam dan panen maka arus migrasi ke luar desa lebih kecil dibangdingkan masa lainnya. Pada saat musim paceklik, petani lebih memilih bermigrasi keluar desa dengan menjadi buruh di kota-kota besar, seperti Jakarta dan Bekasi (Rohmadiani 2011). Hal tersebut dikarenakan jumlah pemilik lahan pertanian lebih kecil dibandingkan jumlah buruh tani yang ada sehingga tenaga kerja buruh tani berlebih. Itu menyebabkan semakin banyak buruh tani yang membutuhkan pekerjaan tambahan, namun tidak tersedianya lahan pertanian yang cukup untuk diolah. Jika hal tersebut terus menerus terjadi, dikhawatirkan akan merubah mata pencaharian petani yang didorong dengan meningkatnya kesempatan kerja di sektor non pertanian. Pada akhirnya para petani lebih memilih bekerja di sektor non pertanian dengan keahlian dan pendidikan yang terbatas.
tertentu untuk dapat bekerja di sektor pertanian. Hasil analisis Sensus Pertanian tahun 2003 menunjukkan bahwa semakin meningkatnya tingkat pendidikan pekerja pertanian dalam kurun waktu 20 tahun terakhir. Gambaran di tingkat rumah tangga pertanian, menunjukkan bahwa pada tahun 2003 sebagian besar anggota rumah tangga yang bekerja di sektor pertanian hanya berpendidikan sampai tingkat sekolah dasar 46,19%. Secara umum jumlah petani tidak berpendidikan formal sama sekali 8,08%, tidak/belum lulus SD 13,39%, lulusan SLTP 10,67%, lulusan SLTA 8,95%, dan Diploma/Perguruan tinggi 1,73%. Peningkatan ini dapat terjadi karena meningkatnya akses pendidikan pada rumah tangga petani. Meningkatnya akses terhadap pendidikan sejalan dengan meningkatnya pendapatan yang didapat oleh para petani yang melakukan migrasi.
Dengan melakukan migrasi diharapkan dapat menggantikan kekurangan yang dialami selama ada di desa. Kekurangan yang ada di desa, seperti: daya jual pertanian yang rendah, rendahnya teknologi dan informasi di pedesaan serta peluang pekerjaan yang sempit, sehingga seseorang melakukan migrasi di dorong oleh kondisi kemiskinan di pedesaan. Kondisi kemiskinan tersebut amat dipengaruhi oleh sempitnya kepemilikan tanah, tingginya modal produksi pertanian, serta daya jual hasil pertanian yang rendah. Kemiskinan ini turut memicu rendahnya tingkat pendidikan masyarakat pedesaan. Selain itu, masyarakat pedesaan juga mengutamakan prestise dan menghindari rasa sungkan jika bekerja di sektor informal yang artinya mereka lebih memilih bekerja di luar sektor pertanian.
Peranan Sosial Dalam Masyarakat
Peranan merupakan aspek dinamis dari suatu status (kedudukan). Menurut Soekanto (1989) apabila seseorang melaksanakan hak-hak dan kewajibannya sesuai dengan status yang dimilikinya, maka ia telah menjalankan peranannya. Peranan yang dimiliki seseorang berfungsi sebagai pengatur perilaku dirinya dan orang lain. Seseorang dapat memainkan beberapa peranan sekaligus pada saat yang sama. Peranan yang melekat pada diri seseorang harus dibedakan dengan posisi dalam pergaulan kemasyarakatan. Posisi seseorang dalam masyarakat (social-position) merupakan unsur statis yang menunjukkan tempat individu pada organisasi masyarakat. Peranan lebih banyak merujuk pada fungsi, penyesuaian diri, dan sebagai suatu proses. Jadi, seseorang menduduki suatu posisi dalam masyarakat serta menjalankan suatu peranan yang ditetapkan oleh dirinya.
Pembagian Kerja Dalam Rumah Tangga Petani
Dalam studi sosiologis dan antropologis diasumsikan bahwa diferensiasi peranan dalam keluarga berdasarkan jenis kelamin dan alokasi ekonomi mengarah pada peranan yang lebih besar pada perempuan dalam pekerjaan domestik dan peranan laki-laki pada pekerjaan produktif (Sajogyo 1985). Pembagian kerja secara seksual tersebut merupakan lembaga kemasyarakatan yang paling tua dan kuat, sehingga kaum perempuan sendiri menganggap hal tersebut secara alamiah, bahkan menerima peran yang diberikan kepada mereka sebagai sesuatu yang mulia (Budiman 1982).
Pembagian kerja berdasarkan gender merupakan pola pembagian peran antara anggota keluarga (suami-istri) berdasarkan peran domestik yang disebut peran reproduktif dan peran publik yang disebut peran produktif (Sajogyo 1985). Pekerjaan reproduktif merupakan kegiatan yang tidak menghasilkan uang namun tetap harus dilaksanakan karena untuk keberlangsungan kehidupan rumah tangga. Pekerjaan reproduktif ini biasanya dilakukan oleh kaum perempuan. Pekerjaan produktif merupakan kegiatan yang menghasilkan uang untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Pekerjaan produktif ini biasanya hanya dilakukan oleh kaum laki-laki namun tidak menutup kemungkinan bahwa kaum perempuan juga turut andil dalam pekerjaan produktif ini.
Pergeseran pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan membawa perubahan pada peranan laki-laki dan perempuan dalam keluarga dan rumah tangga. Menurut Sajogyo (1985) peranan perempuan dapat dianalisis dalam dua cara, yaitu: Pertama, dalam status atau kedudukannya sebagai ibu rumah tangga, perempuan melakukan pekerjaan rumah tangga sebagai bagian dari proses reproduksi yaitu suatu pekerjaan yang tidak langsung menghasilkan pendapatan tetapi memungkinkan anggota rumah tangga yang lain untuk melakukan pekerjaan mencari nafkah. Kedua, pada posisi sebagai pencari nafkah (tambahan atau pokok), perempuan melakukan pekerjaan produktif yang langsung menghasilkan pendapatan. Pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mengasuh anak, membersihkan rumah, dan mengambil air sebaiknya diperhitungkan sebagai
kegiatan “pekerja” dalam arti kata yang produktif. Pekerjaan ini, meski pun bukan
berarti “penghasilan”, tetapi mempunyai fungsi memberi dukungan bagi anggota rumah tangga lain “pencari nafkah” untuk memanfaatkan peluang kerja.
Laki-laki dan perempuan juga memiliki peluang yang sama dalam menikmati benefit usaha tani yang dijalankan oleh keluarga.
Pola Jam Kerja Petani
Sumaryanto (1988) mengemukakan bahwa curahan waktu kerja dari rumah tangga petani dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan non ekonomi. Faktor-faktor yang berpengaruh nyata dalam penawaran tenaga kerja ke usaha tani padi dipengaruhi oleh luas lahan garapan, tingkat upah riil, pendapatan luar usaha tani, status garapan, faktor kelembagaan hubungan kerja dan kondisi agroekosistem. Menurut Guhardja et al. (1992) lahan pertanian merupakan salah satu faktor produksi utama yang sangat berpengaruh terhadap produktivitas, maka luas lahan yang dikuasai dan digarap akan berpengaruh pada pendapatan yang diterima. Sementara itu, curahan waktu kerja rumah tangga ke luar sektor pertanian dipengaruhi oleh tingkat upah pada kegiatan non pertanian dan pendapatan bersih dari pertanian. Menurut Supriyati (1990) ada indikasi pola penawaran tenaga kerja yang berbeda antara rumah tangga buruh tani dan petani. Pada rumah tangga buruh tani, sumber daya yang dikuasai adalah tenaga kerja maka curahan waktu kerja merupakan salah satu alternatif sumber pendapatan. Sementara pada rumah tangga petani, masih ada pilihan antara bekerja di lahan sendiri atau bekerja di luar usaha tani.
Bekerja tidak penuh dalam usaha tani sulit dihindari walaupun lahan pertanian cukup luas, hal ini dikarenakan usaha tani bersifat musiman dan selalu ada waktu luang untuk menunggu pekerjaan berikutnya. Namun, dalam usaha tani yang berlahan sempit, terjadinya bekerja tidak penuh bukan saja karena menunggu pekerjaan yang diakibatkan oleh sifat musiman usaha tani saja, melainkan juga karena pengaruh luas lahan yang digarap dan pekerjaan lain di luar bidang pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari yang tidak bisa diandalkan dari usaha tani berlahan sempit saja. Usaha tani dengan lahan sempit, akan membatasi petani mencurahkan jam kerjanya dan memperoleh pendapatan.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Supriyati et al. (2008) yang melihat dinamika ketenagakerjaan dan penyerapan tenaga kerja di pedesaan Jawa, mengemukakan bahwa secara umum curahan waktu kerja di sektor pertanian masih dominan dibandingkan dengan curahan kerja non pertanian. Untuk lebih jelas melihat perbandingan curahan waktu yang dialokasikan oleh anggota rumah tangga (ART) petani di pedesaan Jawa dalam berbagai kegiatan ekonomi baik di bidang pertanian maupun luar pertanian akan disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1 Curahan kerja anggota keluarga per art yang bekerja menurut status rumah tangga (petani dan buruh tani) di lima kabupaten (% jam kerja) Uraian
Indramayu Majalengka Klaten Kediri Ngawi Rataan
Kerangka Pemikiran
Gerak atau mobilitas penduduk non permanen meliputi gerak secara sirkulasi dan komutasi, namun yang menjadi fokus penelitian adalah migrasi sirkulasi. Migrasi sirkulasi dalam hal ini adalah migrasi desa ke kota yang menyebabkan penduduk desa terpengaruhi untuk melaksanakan mobilitas ke kota. Dalam setiap gerak penduduk tersebut pasti dilatarbelakangi oleh faktor-faktor penyebab mengapa para penduduk tersebut bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Faktor utama yang menyebabkan para migran melakukan mobilitas adalah faktor ekonomi. Namun, selain itu faktor-faktor lain yang mendukung terjadinya mobilitas, seperti faktor penarik dan faktor pendorong atau lebih dikenal dengan teori push and pull factors. Fakor pendorong yang berupa rendahnya pendapatan dan upah di sektor pertanian, kurangnya kepemilikan lahan pertanian, dan kurangnya kesempatan kerja di desa. Selain faktor pendorong, terdapat faktor penarik berupa mudahnya informasi yang didapat mengenai daerah tujuan, pendapatan di daerah tujuan yang tinggi, dan peluang kesempatan kerja yang ditawarkan lebih luas. Migrasi sirkuler juga dapat mempengaruhi para masyarakat desa khususnya para petani untuk berlomba-lomba meningkatkan tingkat pendidikan rumah tangganya baik itu keterampilan maupun pengetahuan formal yang mereka miliki sebelum mereka melakukan migrasi ke kota.
Dampak yang dihasilkan dari kegiatan gerak penduduk masyarakat secara sirkuler dapat berpengaruh terhadap perubahan kondisi sosial rumah tangga petani migran. Kondisi sosial ini berhubungan dengan tingkat pendidikan anak, pola jam kerja petani, peranan sosial di masyarakat dan pembagian kerja dalam rumah tangga petani. Secara umum kerangka penelitian ini ingin menjelaskan bahwa kondisi sosial rumah tangga petani dipengaruhi oleh dampak dari migrasi sirkuler dan pengaruh dari faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya migrasi sirkuler. Hal tersebut tergambar dengan ringkas pada Gambar 2 berikut:
Hipotesis Penelitian
Untuk membantu penelitian ini dalam menganalisis pengaruh migrasi sirkuler terhadap kondisi sosial rumah tangga petani digunakan suatu hipotesa penguji sebagai berikut:
1. Diduga faktor yang mendorong petani melakukan migrasi sirkuler karena terbatasnya akses terhadap lahan pertanian.
2. Diduga mudahnya informasi tentang pekerjaan yang ada di kota menarik perhatian petani untuk bermigrasi sirkuler ke kota.
3. Diduga terjadi perubahan pola jam kerja petani yang melakukan migrasi sirkuler karena jumlah curahan waktu yang diperlukan untuk kegiatan usaha tani berkurang.
4. Diduga terjadi peningkatan dalam tingkat pendidikan anak pada rumah tangga petani yang melakukan migrasi sirkuler.
5. Diduga terjadi penyesuaian pembagian kerja pada rumah tangga petani yang melakukan migrasi sirkuler karena suami melakukan pekerjaan lain.
6. Diduga terjadi peningkatan peran sosial istri dalam aktivitas kemasyarakatan karena menggantikan peran sosial kepala keluarga saat melakukan migrasi sirkuler.
Definisi Konseptual
Penelitian ini menggunakan suatu definisi konseptual untuk membantu dalam menggali data kualitatif, yaitu:
Pengaruh Migrasi Sirkuler
: Efek yang ditimbulkan dari adanya kegiatan migrasi sirkuler terhadap migran (petani) dan juga menyebabkan perubahan kondisi sosial yang dialami oleh petani yang masyarakat, tingkat pendidikan anak, pola jam kerja petani, dan pembagian kerja dalam rumah tangga petani.
Definisi Operasional
Tingkat Pendapatan
: Penerimaan materi yang diperoleh oleh rumah tangga dari hasil pekerjaan pokok (usaha tani), remitan yang dibawa kepala keluarga, dan pekerjaan sampingan dari anggota rumah tangga lain per bulan dalam satuan rupiah.
Rendah : < Rp.1.750.000 petani. Kepemilikan lahan garapan dapat dibagi menjadi: milik sendiri, sewa, gadai, dan bagi hasil.
Informasi Tempat Tujuan
: Kabar dan gambaran umum yang didapatkan oleh calon migran mengenai tempat yang akan dijadikan sebagai tujuan dalam melakukan migrasi sirkuler. Informasi kota ini digolongkan berdasarkan sumber informasi yang didapat oleh migran: dari keluarga, teman, dan tetangga atau orang lain.
Peranan Sosial : Keterlibatan peran suami dan istri pada rumah tangga petani dalam aktivitas sosial kemasyarakatan di lingkup Desa, seperti gotong royong pengajian, arisan, sambatan, selamatan, dan kegiatan koperasi. Peranan sosial diukur melalui perbandingan peranan antara suami dan istri pada keluarga petani migran sirkuler dan non migran sirkuler. Pembagian Kerja
dalam Rumah Tangga
: Pola pembagian tugas dalam rumah tangga yang didasarkan pada status individu yang ada dalam keluarga. Pembagian kerja dibagi menjadi 2 bagian, yaitu pekerjaan domestik dan pekerjaan dalam usaha tani. Pembagian kerja tersebut diukur melalui perbandingan tugas yang dilakukan antara suami dan istri dalam rumah tangga petani diukur pada rumah tangga petani yang melakukan migrasi sirkuler berdasarkan perbandingan curahan waktu kerja antara perbandingan curahan waktu yang digunakan oleh petani dalam melakukan usaha tani dengan curahan waktu yang digunakan untuk bekerja di tempat tujuan migrasi.
Tingkat
Pendidikan Anak
PENDEKATAN LAPANGAN
Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di Desa Pamaunukan Hilir, Kecamatan Pamanukan, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Pemilihan lokasi tersebut dilakukan dengan pertimbangan bahwa terdapat beberapa petani yang melakukan sirkulasi di desa ini dan menurut penelitian Rohmadiani (2011) migrasi keluar di kecamatan pamanukan lebih besar dibanding dengan migrasi masuk pada tahun 2007. Desa Pamanukan Hilir merupakan desa yang mayoritas penduduknya bermata-pencaharian sebagai petani dan diantara banyak petani terdapat beberapa petani yang melakukan migrasi sirkuler ketika musim tanam padi telah selesai dan sebelum musim panen berlangsung untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Desa Pamanukan Hilir berdekatan dengan Jalur Pantura yang membuat akses ke kota menjadi lebih mudah, sehingga banyak petani yang mencoba peruntungannya ke kota. Penelitian lapangan dilaksanakan pada tanggal 5–20 April 2014. Sementara itu kegiatan prapenelitian dan pascapenelitian, seperti penyusunan proposal penelitian, kolokium untuk memaparkan proposal penelitian, studi lapangan, penyusunan dan penulisan laporan, ujian skripsi, dan perbaikan laporan penelitian dilakukan dari bulan Maret sampai Oktober 2014.
Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian survei. Singarimbun dan Effendi (2006) menjelaskan bahwa penelitian survei merupakan jenis penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data yang pokok. Penelitian yang dilakukan adalah jenis penelitian penjelasan (explanatory research), yakni penelitian yang digunakan untuk menguji hipotesa. Penelitian pengujian hipotesa merupakan penelitian yang menjelaskan hubungan kausal antara variabel-variabel melalui pengujian hipotesa.
Teknik Penentuan Responden dan Informan
Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat Desa Pamanukan Hilir Kecamatan Pamanukan Kabupaten Subang. Peneliti melakukan teknik sensus langsung untuk mengambil data penduduk dari semua RT yang berjumlah sebanyak 20 RT di Desa Pamanukan Hilir, karena tidak ada data spesifik yang menjelaskan mengenai berapa dan siapa saja petani yang melakukan migrasi sirkuler di pemerintahan Desa Pamanukan Hilir. Kemudian secara stratified random sampling dibedakan menjadi petani migran dan petani bukan migran. Populasi sampel dalam penelitian ini adalah rumah tangga petani yang kepala keluarganya pernah melakukan migrasi sirkuler serta memiliki anak yang sedang dan atau akan bersekolah di Desa Pamanukan Hilir.
Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti mendata semua rumah tangga petani yang melakukan migrasi sirkuler dan kemudian didapatkan sebanyak 44 responden yang sesuai dengan kriteria peneliti. Akan tetapi, 14 responden tidak bisa ditemui baik dari kepala keluarga maupun anggota keluarga lain karena tidak ada kepastian mengenai jadwal pulang dan keberadaan dari responden tersebut. Pada akhirnya peneliti menentukan 30 responden yang dapat mewakili rumah tangga petani migran sirkuler. Unit analisis adalah rumah tangga petani dari populasi sampel yang melakukan migrasi sirkuler. Rumah tangga petani migran sirkuler tidak menyebar secara merata di semua dusun yang ada. Salah satu dari lima dusun yang ada, Dusun Poponcol memiliki jumlah petani yang melakukan migrasi sirkuler terbanyak dibanding dengan dusun lainnya. Responden dalam penelitian ini merupakan kepala keluarga yang pernah atau sedang melakukan migrasi sirkuler dengan lama bermigrasi minimal sudah 1 tahun lamanya dan jangka waktu dalam melakukan migrasi sirkuler minimal 1 bulan lamanya sebelum kembali lagi ke desa serta mempunyai anak yang sedang dan atau akan bersekolah di Desa Pamanukan Hilir. Namun, jika kepala keluarga tidak berada di rumah maka diganti dengan istri dalam rumah tangga tersebut.
Penelitian ini kemudian membuat perbandingan dengan responden kontrol untuk lebih mengetahui mengenai pengaruh migrasi sirkuler. Responden kontrol merupakan seluruh rumah tangga petani yang kepala keluarganya tidak pernah melakukan migrasi sirkuler sama sekali serta mempunyai anak yang sedang dan atau akan bersekolah di Desa Pamanukan Hilir serta tinggal satu daerah dengan rumah tangga petani yang pernah melakukan migrasi sirkuler. Data yang digunakan saat pengacakan adalah data sensus yang sebelumnya telah diolah oleh peneliti. Untuk mengimbangi responden yang melakukan migrasi sirkuler, maka jumlah responden kontrol yang akan diteliti adalah 30 responden dengan ciri-ciri yang sama seperti responden namun tidak pernah melakukan migrasi sirkuler.
Gambar 3 Kerangka penentuan responden dan kontrol
Keterangan:
Responden utama merupakan rumah tangga petani yang kepala keluarga pernah melakukan migrasi sirkuler (minimal 1 tahun) dan di dalam rumah tangga tersebut masih ada anak yang sedang dan atau akan bersekolah.
Responden kontrol merupakan rumah tangga petani yang kepala keluarga tidak pernah melakukan migrasi sirkuler tetapi di dalam rumah tangga tersebut masih ada anak yang sedang dan atau akan bersekolah.
Teknik Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil pengambilan data langsung di lapangan melalui instrumen berupa kuesioner dan wawancara mendalam kepada responden dan informan. Data sekunder berupa data yang berkaitan dengan lokasi penelitian, yaitu Profil Desa Pamanukan Hilir 2010, data geografi dan demografi Desa Pamanukan Hilir, dan data dari Badan Pusat Statistik mengenai potensi desa dan sesus penduduk tahun 2010, serta studi literatur-literatur bahan pustaka yang terkait dengan topik penelitian juga dilakukan untuk memperkuat hasil analisis penelitian. Wawancara mendalam diberikan kepada responden dan informan berdasarkan panduan pertanyaan yang telah disiapkan dan diikuti dengan pemikiran responden yang berhubungan dengan pertanyaan. Wawancara mendalam dilakukan untuk tujuan mencari informasi-informasi tambahan yang dianggap penting dan relevan oleh penulis untuk menyempurnakan data penelitian. Hasil dari pengamatan dan wawancara dilapangan dituangkan dalam catatan harian dengan bentuk uraian rinci dan kutipan langsung untuk memperkuat data kualitatif.
Teknik Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan data akan diolah secara statistik deskriptif dan diinterpretasikan dengan menggunakan perangkat lunak Microsoft Excel 2013 dan SPSS for Windows versi 20. Pengolahan data dilakukan dengan beberapa langkah, yaitu data yang telah diperoleh melalui kuesiner terlebih dahulu dilakukan pengkodean
Warga Desa Pamanukan Hilir
Sensus Desa dan Data
Stratified Random Sampling
30 Responden Kontrol Rumah tangga Petani yang
Kepala Keluarga Melakukan Migrasi Sirkuler
Rumah tangga Petani yang Kepala Keluarga Tidak Melakukan Migrasi Sirkuler
kemudian memasukan data ke dalam buku kode atau lembaran kode menggunakan perangkat lunak Microsoft Excel 2013 sebelum dimasukan ke perangkat lunak SPSS for Windows versi 20 untuk mempermudah pengolahan data. Kemudian data yang didapatkan dianalisis dengan beberapa uji analisis melalui perangkat lunak SPSS for Windows versi 20. Analisis data yang diperoleh disajikan secara kuantitatif dan kualitatif.
Analisa data antara lain dilakukan dengan membedakan antara petani migran sirkuler dengan petani bukan migran sirkuler dalam hal tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, jenis pekerjaan, luas kepemilikan lahan, dan pengetahuan informasi. Kemudian variabel tersebut dijelaskan secara deskripsi. Uji Chisquare dilakukan pada variabel tingkat pendidikan masyarakat desa, tingkat pendapatan petani, dan tingkat pendidikan anak. Analisis perbandingan juga dilakukan untuk melihat apakah ada perbedaan nyata yang dapat mempengaruhi terjadinya migrasi. Analisis tersebut dilakukan dengan menggunakan analisis uji beda (T-Independent Samples) dalam hal peranan sosial, pembagian kerja rumah tangga yang dibedakan berdasarkan pekerjaan domestik dan usaha tani. Analisis uji beda ini digunakan untuk mengetahui perbedaan rata-rata antara dua kelompok sampel yang tidak berhubungan. Dalam uji beda ini akan diuji antara petani migran sirkuler dengan petani bukan migran sirkuler. Pada uji beda ini sebelumnya jawaban dari kuesioner distandarisasi agar mempermudah dalam pengujian.
Kaidah pengambilan keputusan tentang perbedaan antar dua kelompok sampel dalam uji beda (T-Independent Samples) dan uji Chisquare adalah melalui nilai signifikansi atau probabilitas atau α yang digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan antar dua kelompok sampel yang diteliti. Apabila terdapat suatu pengujian hipotesis secara statistik ternyata H0 ditolak, maka Ha
atau H1 tidak ditolak. Keputusan apakah H0 ditolak atau tidak ditolak, adalah
berdasarkan pada hasil perhitungan dengan menggunakan tes statistik tertentu. Apabila hasil perhitungan statistik itu berada di daerah penolakan (daerah kritik) pada distribusi sampling penelitian yang bersangkutan, maka hipotesis nol (H0)
ditolak, demikian pula sebaliknya. Luasnya daerah penolakan (H0) dinyatakan
dalam α yang ditetapkan oleh peneliti sebesar 0,05. Artinya hasil penelitian mempunyai kesempatan untuk benar atau tingkat kepercayaan sebesar 95% dan tingkat kesalahan sebesar 5%.
Sebelum dilakukan uji t test sebelumnya dilakukan uji kesamaan varian (homogenitas) dengan F test (Levene,s Test), artinya jika varian sama maka uji t menggunakan Equal Variance Assumed (diasumsikan varian sama) dan jika varian berbeda menggunakan Equal Variance Not Assumed (diasumsikan varian berbeda). Setelah melakukan uji kesamaan varian, dilanjutkan dengan pengujian independent sample test dengan kriteria pengujian H0 ditolak jika t hitung > t tabel
dan H0 diterima jika t hitung < t tabel, berdasarkan pada probabilitas maka
pengambilan keputusan pada penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
a. Jika angka signifikansi hasil penelitian < 0,05 maka H0 ditolak. Jadi kedua
kelompok sampel ada perbedaan nyata.
b. Jika angka signifikansi hasil penelitian > 0,05 maka H0 diterima. Jadi tidak
PROFIL DESA PAMANUKAN HILIR
Pada bab ini diuraikan mengenai profil lengkap lokasi penelitian yang terbagi ke dalam beberapa sub bab, seperti kondisi geografis desa yang memberikan gambaran umum letak lokasi penelitian, sarana dan prasarana desa yang memberikan informasi mengenai gambaran tingkat kesejahteraan desa, struktur kependudukan desa yang memberikan informasi mengenai gambaran peluang lapangan kerja dan tingkat kesejahteraan penduduk, serta alur sejarah migrasi penduduk setempat.
Kondisi Geografi
Desa Pamanukan Hilir merupakan salah satu desa dari kedelapan desa yang terdapat pada Kecamatan Pamanukan, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Kedelapan desa tersebut ialah Desa Bongas, Desa Lengkongjaya, Desa Mulyasari, Desa Pamanukan, Desa Pamanukan Hilir, Desa Pamanukan Sebrang, Desa Rancahilir, dan Desa Rancasari. Desa Pamanukan Hilir berbatasan langsung dengan beberapa desa di dalam satu kecamatan dan dengan beberapa kecamatan lain. Sebelah utara berbatasan dengan Desa Lengkongjaya, sebelah timur berbatasan dengan Desa Mulyasari, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Pamanukan, dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Legonkulon dan Kecamatan Sukasari. Jarak yang ditempuh dari Desa Pamanukan Hilir menuju Ibukota Kecamatan berkisar 3 km, dari Ibukota Kabupaten berkisar 33 km, dari Ibukota Provinsi Jawa Barat berkisar 97 km, dan dari Ibukota Negara berkisar 120 km. Desa ini berada disebelah utara jalan pantura yang menjadi salah satu titik strategis dalam lalu lintas perdagangan antar kota.
Desa Pamanukan Hilir memiliki luas wilayah sebesar 9,14 km2 atau 272 ha dengan ketinggian berkisar antara 6 sampai 10 m dpl (di atas permukaan laut). Desa ini memiliki penduduk yang cukup padat dengan kepadatan penduduk mencapai 652,84 jiwa per km2 mengingat kondisi luas wilayah yang tidak begitu luas. Desa ini terbagi menjadi beberapa dusun dan setiap dusun memiliki kepala dusunnya masing-masing Dusun-dusun yang terdapat pada Desa Pamanukan Hilir meliputi Dusun Pilang Hilir, Dusun Kaum Tua, Dusun Cimanggu, Dusun Sarwijan, dan Dusun Poponcol. Lahan yang terdapat pada Desa Pamanukan Hilir sebagian besar dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, terutama untuk lahan persawahan karena komoditi utama di Desa Pamanukan Hilir ialah Padi. Lahan pertanian yang berada di Desa Pamanukan Hilir mencapai 249 ha atau sekitar 92% dari total lahan yang ada, sedangkan sisa lahan tersebut lebih banyak dipakai untuk membangun perumahan penduduk dan membangun sarana serta prasarana desa.
Sarana dan Prasarana
desa merupakan jalan yang telah di aspal sehingga dapat digunakan sebagai akses masuk ke wilayah Desa Pamanukan Hilir. Jalan beraspal ini merupakan jalan yang menghubungkan antar dusun di dalam desa dan juga menghubungkan antara Desa Pamanukan Hilir dengan desa dan kecamatan lainnya. Kondisi jalan beraspal pada jalan utama desa sangat baik, namun jalan yang menghubungkan antar dusun kini sudah mulai rusak dan membutuhkan perbaikan yang cukup besar. Kerusakan yang terjadi disebabkan sering masuknya truk-truk besar pengangkut beras pada saat musim panen padi berlangsung sehingga jalan sering mengalami erosi dan berlubang-lubang akibat aktivitas tersebut. Sarana transportasi darat yang tersedia di Desa Pamanukan Hilir lebih banyak memakai becak dan ojek karena tidak terdapat angkutan kota (angkot) yang melewati desa ini. Pada umumnya warga desa memakai kendaran pribadi, seperti sepeda dan sepeda motor untuk mengantarkan mereka keluar masuk desa. Pangkalan ojek yang terdapat di Desa Pamanukan Hilir terbagi menjadi dua unit. Unit pertama terletak di dekat Kantor Kepala Desa dan unit kedua terletak di pertigaan jalan utama antara Desa Desa Mulyasari dan Desa Pamanukan Hilir.
Sarana kesehatan yang terdapat di Desa Pamanukan Hilir cukup minim dengan kondisi sarana kesehatan yang juga terpusat di Kecamatan Pamanukan. Jumlah sarana kesehatan yang terdapat di desa ini terdiri dari 1 unit Polindes Pamanukan Hilir dan beberapa UKBM yang terdiri dari 5 kelompok Jimpitan dan 2 kelompok Dasolin dengan jumlah kader kesehatan sebanyak 40 orang tenaga. Setiap unit kesehatan tersebut masih aktif dan memiliki kader yang cukup terlatih. Sarana pendidikan yang terdapat di Desa Pamanukan Hilir hanya terdapat PAUD dan SD saja. Jumlah PAUD yang terdapat di desa ini terdiri dari 3 PAUD, sedangkan jumlah sekolah dasar yang terdapat di desa ini terdiri dari 4 SD, yakni SD Budi Utama, SD Karya Utama, SD Taman Siswa, dan SDN 2 Pamanukan. Untuk sarana pendidikan SMP dan SMA tidak terdapat di Desa Pamanukan Hilir karena sarana tersebut terpusat di Kecamatan Pamanukan, sehingga banyak siswa yang ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi harus pergi mencari sekolah ke luar desa. jumlah toko/kios/warung yang cukup banyak yakni mencapai 48 unit. Lembaga koperasi yang terdapat di Desa Pamanukan Hilir hanya ada satu unit saja, namun keberadaan koperasi di desa ini kurang begitu diminati oleh para penduduk desa karena ketidakpercayaan mereka akan kinerja koperasi.
dalam mengikuti Pemilihan Umum (Pemilu) DPR dan DPRD tahun 2014 yang berjalan lancar dan terkendali. Dalam hal ini, penduduk desa berharap aspirasi dan pilihannya dapat tersalurkan dengan tepat seiring dengan bergulirnya informasi dan banyaknya partai politik yang berkembang pada saat ini.
Kegiatan paguyuban yang dilakukan oleh masyarakat desa lebih kepada kegiatan PNPM Mandiri, seperti perbaikan jalan, jembatan dan irigasi, pembuatan MCK, kematian serta pengajian. Untuk sarana dan prasarana olahraga di desa ini dinilai kurang memadai karena hanya terdapat 1 GOR, 1 unit tenis meja, dan lapangan badminton yang keadaannya tidak terurus. Sarana komunikasi dan informasi dapat terlihat dari menara pemancar sinyal yang terdapat di dekat Masjid sebanyak satu unit dan beberapa warung internet (warnet) serta telepon umum sebanyak tiga unit yang terletak di Kantor Kepala Desa.
Struktur Kependudukan
Kependudukan di Desa Pamanukan Hilir tergolong cukup padat penduduk. Berdasarkan data dari Profil Desa jumlah penduduk di Desa Pamanukan Hilir pada tahun 2013 tercatat sebanyak 6.239 jiwa, dengan jumlah kepala keluarga 1.899 KK. Jika dibagi berdasarkan jenis kelamin, jumlah penduduk laki-laki sebesar 3.080 jiwa dan penduduk perempuan sebesar 3.159 jiwa. Berdasarkan penggolongan umur yang terdapat di Desa Pamanukan Hilir, dapat dilihat bahwa jumlah penduduk terbanyak berumur 16–56 tahun atau sekitar 54% dari jumlah penduduk keseluruhan. Penduduk yang berumur lebih dari 56 tahun keatas jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan umur 0–15 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah angkatan kerja dan penduduk usia produktif lebih banyak terdapat di Desa Pamanukan Hilir. Jumlah penduduk berdasarkan golongan usia dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2 Jumlah dan presentase penduduk Desa Pamanukan Hilir, Kecamatan Pamanukan berdasarkan golongan umur
Golongan Umur Jumlah Presentase (%)
0 – 1 tahun 120 2
2 – 6 tahun 933 15
7 – 15 tahun 816 13
16 – 56 tahun 3356 54
> 56 tahun 1014 16
Jumlah 6239 100
Sumber: Profil Desa Pamanukan Hilir 2013 (diolah)
tani lebih besar jumlahnya karena sebagian besar lahan pertanian yang berada di desa ini telah dikuasai oleh para petani pemilik. Selain menjadi petani, tedapat juga penduduk desa yang bekerja di luar sektor pertanian, seperti PNS, karyawan, pedagang, pertukangan, jasa, dan buruh bangunan yang jumlahnya tidak banyak.
Di samping ada penduduk yang bekerja di dalam desa, terdapat juga penduduk Desa Pamanukan Hilir yang bekerja di luar desa, seperti bekerja di Jakarta, Bekasi, Bandung, Bogor dan Tanggerang. Mereka adalah para petani khususnya buruh tani yang melakukan migrasi sirkuler ke kota dengan bekerja menjadi pedagang, buruh bangunan, buruh pabrik, dan pengumpul barang bekas di luar sektor pertanian yang selama ini mereka kerjakan. Kecilnya tingkat penguasaan lahan pertanian oleh petani bahkan banyak petani tidak memiliki lahan pertanian memaksa para petani untuk bekerja keluar desa mencari pekerjaan lain. Hal tersebut merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh sebagian petani untuk mempertahankan kehidupannya, pada kondisi pendapatan petani yang semakin berkurang dari hasil pertanian. Penguasaan lahan pertanian di Desa Pamanukan Hilir masih dimiliki oleh penduduk asli desa yang lebih banyak dikuasai oleh petani kaya, jarang sekali penduduk yang menjual lahan pertaniannya kepada orang lain di luar desa. Lahan pertanian turun temurun diwariskan para orang tua kepada anak dan keturunannya, sehingga tingkat penguasaan lahan pertanian semakin kecil karena telah dibagi-bagi. Apabila lahan pertanian tersebut tidak digarap maka penduduk desa lebih suka menyewakannya kepada petani lain dan berusaha untuk tidak menjualnya. Namun, jika kondisi perekonomian rumah tangga mereka sedang mengkhawatirkan tak jarang banyak penduduk yang menjual lahan pertaniannya demi mencukupi kebutuhan hidup rumah tangganya.
Penduduk Desa Pamanukan Hilir saat ini sudah mendapatkan sarana pendidikan yang memadai sehingga secara statistik tingkat pendidikan penduduk desa sudah menjadi lebih baik jika dibandingkan dengan data agregat penduduk usia 10 tahun ke atas menurut pendidikan yang ditamatkan di Kabupaten Subang tahun 2007 sampai 2009. Kondisi masyarakat Desa Pamanukan Hilir berdasarkan tingkat pendidikan yang ditamatkannya dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3 Jumlah dan presentase penduduk Desa Pamanukan Hilir, Kecamatan Pamanukan berdasarkan tingkat pendidikan
Tingkat Pendidikan Jumlah Presentase (%)
Tidak Tamat SD/sederajat 805 12,9
Tamat SD/sederajat 1217 19,5
Tamat SLTP/sederajat 1135 18,2
Tamat SLTA/sederajat 882 14,1
Tamat Akademi (D1, D2, D3) 351 5,6
Tamat Perguruan Tinggi/S1 61 1,0
Tamat Perguruan Tinggi/S2 4 0,1
Tidak Bersekolah 1784 28,6
Jumlah 6239 100
Berdasarkan tingkat pendidikan yang ditamatkannya, penduduk desa memiliki tingkat pendidikan yang berbeda-beda. Mayoritas penduduk desa merupakan lulusan SD/sederajat yaitu sebanyak 1217 jiwa. Hal ini tidak mengejutkan karena mengingat pada tahun 1950–1980-an masyarakat desa hanya mengandalkan Sekolah Rakyat (SR) dan SD Inpres (Instruksi Presiden) saja sebagai tempat belajar di dalam desa. Selanjutnya sebanyak 1135 jiwa hanya lulus SLTP/sederajat. Pada tingkat SLTA/sederajat hanya ada 882 jiwa saja. Sebanyak 805 jiwa bahkan tidak tamat SD. Pada tingkat pendidikan tinggi seperti tamat akademi (D1, D2, D3) serta tamat perguruan tinggi untuk S1 dan S2 jumlah presentasenya tidak lebih dari dua persen dari total jumlah presentase tingkat pendidikan yang ditamatkan oleh penduduk desa.
Kondisi Ekonomi Desa Pamanukan Hilir
Tingkat pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan pembangunan suatu wilayah. Tingkat pertumbuhan ekonomi suatu wilayah terutama di tingkat desa atau kelurahan dapat diketahui berdasarkan dari Pendapatan Domestik Desa/Kelurahan Bruto (PDDKB). PDDKB adalah sumber pendapatan domestik desa/kelurahan yang berasal dari semua sektor perekonomian yang didapat dalam suatu wilayah perdesaan. Sebagai salah satu desa penghasil padi terbesar di Kecamatan Pamanukan, desa ini memiliki sumber PDDKB yang paling besar berasal dari hasil produksi pertanian, yakni sebesar Rp.1,3 miliar per tahunnya. Hasil-hasil produksi lainnya, seperti peternakan Rp.512 juta per tahun, perikanan Rp.140 juta per tahun, perdagangan Rp.832 juta per tahun, dan jasa Rp.630 juta per tahun, serta mata pencaharian lainnya juga memegang peranan dalam membantu menambah jumlah pendapatan daerah walaupun jumlah hasil produksi dari setiap sektor tidak sebesar di sektor pertanian. Hal ini mengingat bahwa 92% (249 Ha) lahan yang ada di Desa Pamanukan Hilir digunakan sebagai lahan pertanian terutama lahan persawahan untuk menanam padi. Tak heran mayoritas penduduk desa berprofesi sebagai petani, baik petani pemilik, petani bukan pemilik, maupun buruh tani. Meskipun keadaan lahan pertanian di desa ini sangat luas, hal tersebut tidak sejalan dengan tingkat kepemilikan lahan yang dimiliki oleh penduduk desa khususnya petani. Banyak petani yang tidak memiliki lahan pertanian lagi karena lahan pertanian mereka sudah dijual kepada petani kaya yang berada pada satu desa, sehingga lahan-lahan pertanian sekarang hanya dikuasai oleh para petani yang mempunyai modal besar.