• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Ekuitas Merek Sepatu Kappa (Studi Kasus Pada Toko Sepatu Kappa Di Bandung Indah Plaza)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Ekuitas Merek Sepatu Kappa (Studi Kasus Pada Toko Sepatu Kappa Di Bandung Indah Plaza)"

Copied!
131
0
0

Teks penuh

(1)

“ANALISIS EKUITAS MEREK SEPATU KAPPA

(Studi Kasus Pada Toko Sepatu Kappa Di

(2)

Saat ini sepatu tidak hanya sebagai kebutuhan yang hanya

cukup dilengkapi saja tetapi kebanyakan dari mereka menjadikan

sepatu sebagai koleksi dari gaya hidup mereka, sehingga saat ini

setiap orang memiliki sepatu lebih dari satu pasang. Inilah yang

membuat pada saat ini banyak sekali perusahaan yang

memproduksi sepatu dengan menanamkan merek kedalam benak

konsumen sebagai kekuatan bagi perusahaan tersebut. Saat ini

banyak sekali perusahaan produsen sepatu yang berkembang

dengan sangat pesat dan sektor industri ini jugalah yang

mengalami persaingan yang cukup ketat.

Berdasarkan uraian yang disampaikan di atas, penulis tertarik

untuk melakukan penelitian lebih dalam tentang ekuitas merek.

Untuk itu penulis mengambil judul:

ANALISIS EKUITAS MEREK

(3)

Tidak terlalu kuatnya merek

yang tertanam pada benak

konsumen dapat membuat

konsumen lebih meyakini

merek lain adalah merek yang

lebih baik

Menciptakan Persepsi

Kualitas yang baik dan

sesuai dengan harapan

konsumen, dapat

menjadikan konsumen

menentukkan pilihan

merek yang mereka pilih.

(4)
(5)

Maksud dari

penelitian ini adalah

untuk memperoleh

data dan informasi,

mengumpulkan, serta

menganalisis ekuitas

merek Sepatu

Merek Kappa pada

Toko Sepatu Kappa

di BIP

Untuk mengetahui

tanggapan

responden

mengenai ekuitas

merek Sepatu

Merek Kappa pada

Toko Sepatu

Merek Kappa di

BIP

TUJUAN

(6)

KEGUNAAN PENELITIAN

KEGUNAAN

PENELITIAN

Kegunaan Praktis

Bagi Perusahaan

Bagi Pihak

Terkait

Bagi

Pengembangan

Ilmu Manajemen

Bagi Peneliti Lain

(7)

Pengertian merek menurut Freddy Rangkuti

(2008;2), sebagai berikut :

Merek merupakan janji penjual untuk secara

konsisten memberikan feature, manfaat, dan jasa

tertentu kepada pembeli

Menurut Freddy Rangkuti (2008;39) ekuitas merek,

yaitu :

(8)

KERANGKA PEMIKIRAN

KERANGKA

PEMIKIRAN

Kesadaran Merek

(

Brand Awareness

)

Kesan Kualitas

(

Perceived Quality

)

Asosiasi Merek

(

Brand

Association

)

(9)

OBJEK DAN METODE

PENELITIAN

Objek Penelitian

Untuk mengumpulkan data yang dijadikan bahan dalam

penyusunan Tugas Akhir yang berjudul

“ANALISIS

EKUITAS MEREK SEPATU KAPPA (Studi Kasus Pada

Toko Sepatu Kappa Di Bandung Indah Plaza”.

Metode Penelitian

(10)

TEKNIK PENENTUAN DATA

POPULASI

SAMPEL

Menurut Prof. Dr. Sugiyono (2011:80)

bahwa :

“Populasi adalah wilayah generalisasi

yang terdiri atas objek dan subjek yang

mempunyai kualitas dan karakteristik

tertentu yang ditetapkan oleh peneliti

untuk diteliti dan ditarik kesimpulan”.

Pengambilan sampel yang digunakan

adalah metode

Probability Sampling

dengan teknik pengambilan sampel

Random Sampling.

Menurut Prof. Dr.

Sugiyono (2011:81), cara pengambilan

sampel dengan teknik ini ialah

(11)

SUMBER DATA

Data Primer

(12)

VARIABEL

KONSEP

INDIKATOR

UKURAN

SKALA

EKUITAS

MEREK

(Brand

Equity)

Seperangkat aset dan

liabilitas merek yang

berkaitan dengan

merek, nama dan

simbolnya, yang

menambah atau

mempengaruhi nilai

yang diberikan oleh

sebuah barang atau

jasa kepada

perusahaan atau para

pelanggan

perusahaan.

Freddy Rangkuti

(2008:39)

1. Kesadaran Merek

•Dikenalnya Merek

•Kemudahan mengingat kembali merek

•Paling diingat Merek

2. Kesan Kualitas

•Kesan Kualitas merek dari produk

•Memilih ciri khas model merek

•Tingkat kenyamanan dari suatu produk

3. Asosiasi Merek

•Kesesuaian Kualitas dengan Harga

•Gaya Hidup

•Para Pesaing

4. Loyalitas Merek

•Kesetiaan konsumen terhadap merek

•Konsumen merekomendasikan merek kepada orang lain

•Pembelian ulang

•Tingkat Dikenalnya Merek

•Tingkat kemudahan calon pembeli untuk mengingat kembali suatu merek

•Tingkat paling diingatnya merek

•Tingkat kesan kualitas yang muncul dibenak konsumen dari suatu produk

•Tingkat ciri khas dari suatu suatu merek

•Tingkat kenyamanan setelah penggunaan produk

•Tingkat kesesuaian kualitas dengan harga

•Tingkat Kemewahan saat menggunakan suatu produk

•Tingkat Persaingan dengan produk pesaing

•Tingkat kesetiaan konsumen akan merek

•Tingkat keinginan konsumen untuk

merekomendasikan kepada orang lain

•Tingkat kesediaan konsumen didalam

(13)
(14)

Pengkategorian Skor Jawaban

Interval Tingkat Intensitas Kriteria 20% - <36% Sangat Tidak Baik 36% - <52% Tidak Baik 52% - <68% Cukup Baik

68% - <84% Baik

84% - <100% Sangat Baik

Sumber: Data primer yang telah diolah.

(15)

Pengkategorian Skor Jawaban

Sumber: Data primer yang telah diolah.

Interval Tingkat Intensitas Kriteria 20% - <36% Sangat Tidak Baik 36% - <52% Tidak Baik 52% - <68% Cukup Baik 68% - <84% Baik 84% - <100% Sangat Baik

(16)

Interval Tingkat Intensitas

Kriteria

20% - <36%

Sangat Tidak Baik

36% - <52%

Tidak Baik

52% - <68%

Cukup Baik

68% - <84%

Baik

84% - <100%

Sangat Baik

Pengkategorian Skor Jawaban

Sumber: Data primer yang telah diolah.

(17)

Pengkategorian Skor Jawaban

Interval Tingkat Intensitas

Kriteria

20% - <36%

Sangat Tidak Baik

36% - <52%

Tidak Baik

52% - <68%

Cukup Baik

68% - <84%

Baik

84% - <100%

Sangat Baik

Maka dilihat dari tabel 4.25 di atas pernyataan terhadap loyalitas

merek yang dirasakan konsumen setelah melakukan pemakaian

sepatu merek Kappa dapat dikatakan baik, karena nilai persentase

yang didapat dari keseluruhan jawaban pernyataan adalah sebesar

71.33% dan berada diantara 68%-<84% dengan kriteria baik, yang

menunjukkan tanggapan responden terhadap penilaian loyalitas

merek setelah melakukan pemakaian sepatu merek Kappa, selama ini

dinilai baik.

(18)

No

Indikator

Skor

Persentase ( % )

1

Kesadaran Merek

547

72.93%

2

Kesan Kualitas

506

67.46%

3

Asosiasi Merek

510

68%

4

Loyalitas Merek

535

71.33%

Total

2.098

278.79%

(19)

Skor

Skor Dalam (%)

2.098

2.098 × 100 % =69.93 %

5×12×50

Interval Tingkat Intensitas

Kriteria

20 % - < 36 %

Sangat Baik

36 % - < 52 %

Baik

52 % - < 68 %

Cukup baik

68 % - < 84 %

Baik

84 % - < 100 %

Sangat Baik

Skor Tanggapan Responden Terhadap Ekuitas Merek

Pengkategorian Skor Jawaban

Skor tanggapan responden terhadap ekuitas merek secara

(20)

Maka dilihat dari tabel, didapat nilai total tanggapan responden

secara keseluruhan yaitu sebesar 2.098 atau sebesar 69.93% yang

berada diantara 68%<84% dengan kriteria Baik. Hal ini

menunjukkan bahwa ekuitas merek yang dilakukan Toko Sepatu

Kappa yang berada di Bandung Indah Plaza telah dinilai baik.

(21)

Tanggapan responden terhadap ekuitas merek Sepatu

Kappa yang telah dilaksanakan pada Toko Sepatu Kappa di

Bandung Indah Plaza, pada penilaian kesadaran merek

mendapatkan nilai tertinggi, ini menunjukkan kesadaran

merek terhadap sepatu merek kappa yang tertanam pada

benak konsumen selama ini dinilai baik , dikarenakan

responden menilai bahwa sepatu merek kappa memiliki

tingkat dikenal yang baik dan sepatu merek kappa juga

memilliki tingkat kemudahan untuk diingat kembali. Maka

didapatkan hasil pengukuran kesadaran merek dengan nilai

tertinggi yaitu 547 atau sebesar 72.93%.

Sedangkan tanggapan responden mengenai ekuitas merek

Sepatu Kappa yang telah dilaksanakan pada Toko Sepatu

Kappa di Bandung Indah Plaza yang mendapatkan nilai

tertinggi kedua yaitu tingkat loyalitas merek, dikarenakan

responden memiliki tingkat kesetiaan yang baik terhadap

merek Sepatu Kappa dan kesediaan responden untuk

melakukan pembelian ulang terhadap merek Sepatu Kappa

dinilai baik. Maka didapatkan hasil pengukuran loyalitas

(22)

4541 = 378

12

378 = 94

4

(23)

= 94 (Penjualan/Minggu)

1 + 94 (0.01)

= 94

1 + 0.94

(24)
(25)

Analisis Ekuitas Merek Sepatu Kappa

(Studi Kasus Pada Toko Sepatu Kappa Di Bandung Indah Plaza)

Kappa Shoes Brand Equity Analysis

(Case Study In Stores Shoes Kappa In Bandung Indah Plaza)

TUGAS AKHIR

Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Ahli Madya

Pada Program Studi Manajemen Pemasaran Fakultas Ekonomi Universitas Komputer Indonesia

Oleh :

Nama : Ayu Octavany J

NIM : 21408016

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PEMASARAN

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA

BANDUNG

(26)
(27)
(28)

v

ABSTRAK

Ayu Octavany J/21408016/ Analisis Ekuitas Merek Sepatu Kappa (Studi Kasus Pada Toko Sepatu Kappa Di Bandung Indah Plaza)/ Dibawah Bimbingan Oman Sukirman, SE.,M.M.

Dengan merek yang dimiliki oleh perusahaan akan menjadi kuat bila memiliki ekuitas merek yang juga kuat. Ekuitas merek yang kuat akan menimbulkan rasa nyaman, meningkatkan keyakinan dalam penggunaan, dan akhirnya akan tercipta kepuasan bagi pelanggannya. Dengan ekuitas merek yang kuat juga akan lebih memudahkan didalam mendongkrak produk atau bisnis lain dari perusahaan. Sama halnya dengan ekuitas merek yang dilakukan Toko Sepatu Kappa yang berada di Bandung Indah Plaza telah dinilai baik, hal ini dikarenakan ekuitas merek yang diciptakan telah dinilai baik oleh konsumen. Meskipun telah dinilai baik, tetapi Toko Sepatu Kappa harus dapat terus mempertahankan apa yang telah dinilai baik oleh responden dan terus meningkatkan ekuitas merek yang telah tercipta saat ini sehingga mendapatkan penilaian yang jauh lebih baik lagi dimata konsumen.

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui bagaimana tanggapan konsumen mengenai ekuitas merek sepatu Kappa pada Toko Sepatu Kappa di Bandung Indah Plaza.

Metode yang digunakan didalam penyusunan laporan Tugas Akhir ini adalah dengan menggunakan metode deskriptif yaitu suatu penelitian yang menggambarkan keadaan didalam perusahaan yang sebenarnya. Adapun teknik dari pengambilan sampel yang dilakukan didalam penelitian ini yaitu menggunakan random sampling

dengan menggunakan jumlah sampel sebanyak 50 responden dan teknik pengumpulan data dengan menggunkan studi lapangan (observasi, wawancara, dan kuesioner), dan studi kepustakaan.

Dari analisis dan pembahasan yang didapat mengenai tanggapan responden terhadap ekuitas merek sepatu Kappa pada Toko Sepatu Kappa di Bandung Indah Plaza, menunjukkan hasil bahwa ekuitas merek yang diraih dinilai tinggi, dengan nilai yang diperoleh sebesar 2.098 (69.93%).

(29)

iv

ABSTRACT

Ayu Octavany J / 21408016 / Kappa Shoes Brand Equity Analysis (Case Study In

Stores Shoes Kappa In Bandung Indah Plaza) / Under Guidance Oman

Sukirman,SE.,M.M.

With a brand owned by the company will be stronger if it has strong brand equity as well. Strong brand equity will lead to a sense of comfort, increase confidence in the use of, and ultimately will create satisfaction for its customers. With a strong brand equity will also be easier to boost your product or business in another of the company. Similarly, brand equity conducted Kappa Shoes Shop located in Bandung Indah Plaza was rated as good, this is because the brand equity that was created has been rated well by consumers. Although it has been rated good, but the Kappa Shoes Shop should be able to continue to maintain what has been assessed both by respondents and continues to enhance the brand equity that has been created at this time so get a much better assessment again in the eyes of consumers.

The purpose of this study was to determine how consumer responses on brand equity in Stores Shoes Kappa shoes Kappa in Bandung Indah Plaza.The method used in the preparation of this final project is to use a descriptive method that is a study that describes the circumstances in which actually company. The technique of sampling conducted in this study that is using random sampling with a sample of 50 respondents and data collection techniques by using a field study (observation, interviews, and questionnaires), and literary study.

From the analysis and discussion of the responses obtained against the equity in the brand shoes Kappa, Kappa Shoe Stores in Bandung Indah Plaza, showing the results of that brand equity is achieved by highly rated, with the value obtained for 2098 (69.93%).

(30)

vi

KATA PENGANTAR

Assalammu’alaikum Wr. Wb.

Segala puji bagi Allah SWT, karena Allah adalah sumber dari segala

kebaikan yang patut dipuji. Atas berkat rahmat dan karunia-Nya lah penulis dapat

menyelesaikan laporan Tugas Akhir ini dengan judul “Analisis Ekuitas Merek

Sepatu Kappa (Studi Kasus Pada Toko Sepatu Kappa Di Bandung Indah

Plaza)”.

Adapun tujuan dari laporan Tugas Akhir ini adalah untuk memenuhi salah

satu syarat kelulusan program studi Diploma III dilingkungan Prodi Manajemen

Pemasaran di Fakultas Ekonomi Universitas Komputer Indonesia.

Meskipun dalam menyelesaikan laporan Tugas Akhir ini penulis banyak

menemui kesulitan dan hambatan, tetapi karena adanya dorongan dan motivasi

dari berbagai pihak, maka laporan Tugas Akhir ini dapat selesai dalam waktu

yang sudah ditentukan.

Terlepas dari keterbatasan diatas, penulis berkeyakinan bahwa laporan ini

tidak akan terselesaikan tanpa adanya bantuan dan petunjuk dari berbagai pihak.

Maka dari itu penulis menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya

kepada semua pihak yang telah membantu dan meluangkan waktunya untuk

memberikan bimbingan dalam menyusun laporan Tugas Akhir ini hingga

(31)

vii

1. Bapak Dr. Ir. Eddy Soeryanto Soegoto., selaku Rektor Universitas

Komputer Indonesia.

2. Ibu Prof. Dr. Hj. Umi Narimawati, Dra. SE, M.Si, selaku Dekan Fakultas

Ekonomi Universitas Komputer Indonesia.

3. Ibu Linna Ismawati, SE.,M.Si, selaku Ketua Program Studi Manajemen

Pemasaran Fakultas Ekonomi Universitas Komputer Indonesia.

4. Bapak Oman Sukirman, SE.,M.M. selaku Dosen Pembimbing, terima

kasih banyak atas bimbingan yang telah di berikan kepada penulis.

5. Ibu Isniar Budiarti, SE.,M.Si, selaku Dosen wali kelas MP-1.

6. Alm.Ibu Dra. Tutty S. Martadiredja, M.Si, selaku Dosen wali kelas MP-1

Angkatan 2008.

7. Seluruh Staff dan Karyawan pada Toko Sepatu Kappa di Bandung Indah

Plaza.

8. Mamah, Alm. Papah, Teh Yanti, A Boyke, Uwa Asep, Adik ku Feby,

Adik-adik sepupu ku Ari, Ranu, Nouval, Nafa dan seluruh keluarga besar

terima kasih atas do’a dan dukungan moril maupun materil.

9. Teman-teman seperjuangan MP-1 2008 Ginar, Nela, Putri, Trie, Anjar,

Dwi, Sigit, Saiful, Hari. dan teman seperjuangan baruku MP-1 Tita, yang

selalu saling membantu dan berbagi.

10.Someone spesial, Dhani terima kasih atas doa dan semua dukungan

kepada penulis selama ini. Dan semua pihak yang tidak dapat penulis

sebutkan satu per satu. Semoga semua bantuan yang telah diberikan

(32)

viii

Apabila terdapat kekurangan dan kesalahan dalam penulisan laporan

Tugas Akhir ini, penulis meminta maaf yang sebesar-besarnya karena segala

sesuatu yang benar hanya datang dari Allah SWT, dan yang salah berasal dari diri

penulis sendiri sebagai manusia yang memiliki kelemahan dan kekurangan. Serta

saran dan kritik yang membangun, penulis nantikan dari semua pihak,

mudah-mudahan penulis dapat memperbaiki dikemudian hari.

Akhir kata, mudah-mudahan laporan Tugas Akhir ini dapat bermanfaat

dan berguna bagi kita semua, khususnya penulis.

Wassalamu’alaikum, Wr. Wb.

Bandung, Februari 2012

Penulis

(33)

ix

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN

MOTTO

ABSTRACT ... iv

ABSTRAK ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR GRAFIK ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian... 1

1.2 Identifikasi Masalah dan Rumusan Masalah ... 7

1.2.1 Identifikasi Masalah ... 7

1.2.2 Rumusan Masalah ... 7

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian ... 7

1.3.1 Maksud Penelitian ... 7

1.3.2 Tujuan Penelitian ... 8

1.4 KegunaanPenelitian ... 8

1.4.1 KegunaanAkademis ... 8

(34)

x

1.5 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 9

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

2.1 KAJIAN PUSTAKA ... 11

2.1.1.Manajemen Pemasaran (Management Marketing) ... 11

2.1.1.1Pengertian Manajemen Pemasaran (Management

Marketing) ... 11

2.1.1.2Pengertian Bauran Pemasaran (Marketing Mix) ... 11

2.1.2.Ekuitas Merek (Brand Equity) ... 14

2.1.2.1Pengertian Merek (Brand) ... 14

2.1.2.2Makna dan Tujuan Merek ... 15

2.1.2.3Manfaat merek... 18

2.1.2.4Ekuitas Merek (Brand Equity) ... 21

2.1.2.5Model Ekuitas Merek ... 23

2.1.2.6Unsur-Unsur Ekuitas Merek... 24

2.1.3 Hasil Penelitian Terdahulu ... 38

2.2 Kerangka Pemikiran ... 39

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN

3.1 Objek Penelitian ... 42

3.2 Metode Penelitian ... 42

3.2.1 DesainPenelitian... 43

3.2.2 Operasional Variabel ... 45

(35)

xi

3.2.3.1Sumber Data ... 46

3.2.3.2Teknik Penentuan Data ... 47

3.2.3.2.1 Populasi ... 47

3.2.3.2.2 Sampel ... 48

3.2.4 Teknik Pengumpulan Data ... 49

3.2.5 Rancangan Analisis ... 51

3.2.5.1Analisis Deskriptif / Kualitatif ... 51

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Perusahaan ... 54

4.1.1 Sejarah Perusahaan ... 54

4.1.2 Struktur Organisasi Perusahaan ... 58

4.1.3 Job Description / Deskripsi Jabatan ... 60

4.1.4 Aktifitas Perusahaan ... 64

4.2 Karakteristik Responden ... 65

4.3 Analisis Deskriptif ... 70

4.3.1 Tanggapan Responden Terhadap Ekuitas Merek Pada Toko

Sepatu Kappa di Bandung Indah Plaza ... 70

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan ... 91

5.2 Saran ... 93

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(36)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Dewasa ini kebutuhan manusia semakin komplek. Dari

kebutuhan-kebutuhan yang ada didalam kehidupan manusia salah satu kebutuhan-kebutuhan manusia

yang harus selalu terpenuhi salah satunya yaitu kebutuhan primer. Sepatu

merupakan salah satu kebutuhan primer yang harus dipenuhi manusia.

Sepatu terus mengalami perubahan, seiring berjalannya waktu, manusia

terus menyempurnakan bentuk sepatu. Hal ini bertujuan untuk lebih memberikan

kenyamanan bagi para pemakainya. Sepatu beralaskan sol karet pertama kali

dibuat pada tahun 1800 dan dinamakan plimsolls.

Lalu pada tahun 1892 Goodyear dan perusahaan sepatu karet dari US

Rubber Company, memulai memproduksi sepatu karet dan kanvas yang diberi

nama Keds. Dan pada tahun 1908 Marquis M. Converse mendirikan

perusahaan sepatu Converse.

Saat ini sepatu tidak hanya sebagai kebutuhan yang hanya cukup

dilengkapi saja tetapi kebanyakan dari mereka menjadikan sepatu sebagai koleksi

dari gaya hidup mereka, sehingga saat ini setiap orang memiliki sepatu lebih dari

satu pasang. Inilah yang membuat pada saat ini banyak sekali perusahaan yang

memproduksi sepatu dengan menanamkan merek kedalam benak konsumen

sebagai kekuatan bagi perusahaan tersebut. Saat ini banyak sekali perusahaan

produsen sepatu yang berkembang dengan sangat pesat dan sektor industri ini

(37)

2

Karena seperti yang kita tahu perusahaan yang memproduksi alas kaki di

indonesia memiliki peluang pasar yang terbuka lebar baik didalam negeri ataupun

diluar negeri, Indonesia merupakan negara yang memiliki pasar yang potensial

untuk produk-produk alas kaki.

Menurut kutipan Freddy Rangkuti (2008:14) dengan merek yang dikenal

baik di lingkungan perusahaan ataupun di masyarakat, akan memudahkan

perusahaan untuk menciptakan nilai tersendiri bagi produk yang diciptakan

tersebut. Merek merupakan sebuah nama atau simbol (seperti logo, merek dagang,

desain kemasan, dan sebagainya) yang dibuat untuk membedakan satu produk

dengan produk lainnya. Merek juga dapat dijadikan suatu ciri untuk membedakan

satu produk dari produk pesaing.

Merek produk berkembang merupakan sumber aset dan faktor penting

didalam kegiatan pemasaran suatu perusahaan. Menurut Hermawan Kertajaya

(Brand Operation, 2010, hal. 3) mengungkapkan bahwa merek berperan sebagai

indikator nilai (Value) bagi seluruh stakeholder perusahaan (pelanggan, karyawan,

serta investor). Pelanggan cenderung akan lebih memilih produk dengan merek

yang lebih dikenal.

Persaingan di antara merek yang beroperasi di pasar semakin meningkat,

dan hanya produk yang memiliki ekuitas merek yang kuat akan tetap mampu

bersaing, merebut dan menguasai pasar Durianto, dkk (2001, hal. 3).

Ekuitas Merek menurut Darmadi Durianto,dkk (2001, hal.4), adalah

(38)

3

simbol, yang mampu menambah atau mengurangi nilai yang diberikan oleh

sebuah produk atau jasa baik pada perusahaan maupun pada pelanggan.

Agar aset dan liabilitas mendasari ekuitas merek, maka aset dan liabilitas

merek harus berhubungan dengan nama atau sebuah simbol sehingga jika

dilakukan perubahan terhadap nama dan simbol merek, beberapa atau semua aset

dan liabilitas yang menjadi dasar ekuitas merek akan berubah pula.

Kappa adalah sebuah brand dari perusahaan yang memproduksi sepatu

yang berlisensi dari negara Italia. PT. Abadi Sukadana Jaya Perkasa adalah

perusahaan yang mendapatkan lisensi khusus dari Perusahaan Kappa yang berasal

dari Italy yang berdiri pada tahun 1998, dan sempat mengalami perubahan

menjadi CV.Hartama Pratindo Perkasa pada tahun 2002 sampai dengan saat

sekarang .

Sepatu kappa merupakan produk sepatu keds atau sepatu beralaskan sol

karet, sepatu ini merupakan produk yang berlisensi dari negara Italia. Pembuatan

sepatu Kappa untuk di negara Indonesia sendiri, diproduksi dibeberapa daerah

seperti Bandung, Jakarta, tanggerang dan medan, sedangkan secara keseluruhan

hampir 80% produk Kappa merupakan barang import dari negara Singapura.

Sepatu ini selain modis sepatu ini juga nyaman dipakai. Barang-barang yang

dihasilkan memiliki variasi model tersendiri dan sepatu Kappa dapat digunakan

untuk pria dan wanita dengan harga yang bervariatif dengan kisaran harga dari

Rp. 99.000 – Rp. 359.000.

Pada toko sepatu kappa hanya terdapat tiga macam merek, yang

(39)

4

The Top dan Everlast. Tetapi, pada penelitian ini hanya ekuitas merek dari sepatu

merek Kappa saja yang akan diteliti. Kappa harus dapat terus membangun

kekuatan merek didalam benak konsumennya, karena kekuatan merek kappa

sendiri didalam masyarakat belumlah terbangun dengan sangat kuat terbukti

dengan masih banyaknya orang yang lebih memilih merek lain ketika membeli

sepatu dengan jenis yang sama.

Menurut informasi yang didapat salah satu pesaing terberat merek kappa

sendiri yaitu produk-produk local seperti K-Zoot, Compas dan NB. Masih

banyaknya konsumen yang lebih memilih produk-produk dengan merek lainnya

dibandingkan dengan sepatu merek Kappa dikarenakan masih banyaknya

konsumen yang menganggap dengan menggunakan sepatu merek kappa maka

gaya hidup mereka akan kurang bergengsi. Maka dengan kekuatan merek yang

dapat dibangun dengan baik tentunya akan memberiakn kemudahan bagi

perusahaan untuk meraih keuntungan yang kompetitif yangberkelanjutan

(sustainable competitive advantage).

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Manager toko sepatu Kappa

yang berada di Bandung Indah Plaza dalam setiap bulannya kurang lebih sepatu

yang terjual sebanyak 600 pasang sepatu, dan pada saat liburan sepatu kappa bisa

terjual sampai 1000 pasang sepatu. Tetapi ketika dalam keadaan sepi hanya terjual

kurang lebih sebanyak 500 pasang sepatu dalam sebulannya. Kappa juga tidak

hanya memproduksi sepatu tetapi juga produk lainnya seperti tas dll. Akan tetapi

(40)

5

pada produk-produk sepatu mereka. Disetiap tahunnya penjualan sepatu Kappa,

tidak pernah kurang dari 3500 pasang sepatu. Berikut data penjualan sepatu merek

Kappa selama pada tahun 2010 yang akan disajikan dalam tabel 1.1

[image:40.595.102.523.225.429.2]

berikut ini :

Tabel 1.1

Penjualan Sepatu Kappa Tahun 2010 Bulan Total Penjualan Target

Penjualan/Bulan

Total

Januari 707 1260 707

1260�100% = 56%

Februari 570 1260 570

1260�100% = 45%

Maret 403 1260 403

1260�100% = 32%

April 392 1260 392

1260�100% = 31%

Mei 587 1260 587

1260�100% = 47%

Juni 585 1260 585

1260�100% = 46%

Juli 1297 1260 1297

1260�100% = 102% Sumber : Toko sepatu Kappa Bandung Indah Plaza.

Maka berikut grafik data penjualan sepatu merek Kappa pada tahun 2010

yang akan disajikan dalam grafik berikut :

Grafik 1.1 Penjualan Sepatu Kappa Tahun 2010

[image:40.595.138.482.529.734.2]

Sumber : Toko sepatu Kappa Bandung Indah Plaza. 0% 20% 40% 60% 80% 100% 120%

Grafik Penjualan Sepatu Kappa

Tahun 2010

(41)

6

Dilihat dari data penjualan di atas, maka dapat dipaparkan mengenai

penjualan dari sepatu merek Kappa disetiap bulannya. Pada bulan januari

menunjukkan bahwa jumlah penjualan dapat dikatakan tinggi yaitu sebanyak

56%. Kemudian pada bulan Februari terdapat penurunan penjualan yaitu sebesar

45%. Sedangkan pada bulan Maret terdapat penurunan penjualan kembali yaitu

menjadi sebesar 32%, begitu juga pada bulan April terdapat penurunan penjualan

menjadi sebesar 31%. Pada bulan Mei terdapat peningkatan penjualan yaitu

menjadi sebesar 47%. Pada bulan Juni kembali mengalami penurunan penjualan

yaitu sebesar 46%. Kemudian pada bulan Juli mengalami peningkatan penjualan

yang dapat dikatakan tinggi yaitu sebesar 102%.

Maka dilihat dari tabel penjualan diatas, nilai penjualan yang memiliki

jumlah tertinggi yaitu terdapat pada bulan Juli. Hal ini dikarenakan pada bulan juli

merupakan musim sekolah, yang biasanya terdapat program khusus yang

disediakan oleh Toko Sepatu Kappa di Bandung Indah Plaza, yang dapat

meningkatkan penjualan.

Maka dilihat dari hasil data di atas, maka penulis tertarik mengambil judul :

“Analisis Ekuitas Merek Sepatu Kappa (Studi Kasus Pada Toko Sepatu

(42)

7

1.2 Identifikasi Masalah dan Rumusan Masalah

1.2.1 Identifikasi Masalah

Didalam melakukan penelitian ini, berdasarkan dari uraian latar belakang

yang telah dijelaskan di atas, maka dapat di identifikasikan masalah yang terdapat

di Toko Sepatu Merek Kappa adalah:

Tidak terlalu kuatnya merek yang tertanam pada benak konsumen dapat

membuat konsumen lebih meyakini merek lain adalah merek yang lebih baik

sehingga dengan menciptakan Ekuitas Merek yang kuat, dapat menjadikan

konsumen menentukkan pilihan merek yang mereka pilih.

1.2.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis dapat merumuskan masalah yaitu

sebagai berikut:

1. Bagaimana tanggapan responden mengenai Ekuitas Merek Sepatu Kappa

pada Toko Sepatu Kappa yang berada di Bandung Indah Plaza (BIP).

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian

1.3.1 Maksud Penelitian

Maksud penulis didalam mengadakan penelitian ini yaitu untuk mencari

data dan informasi yang dibutuhkan,serta menganalisis ekuitas merek pada Toko

Sepatu Kappa di Bandung Indah Plaza, guna untuk memperoleh gambaran yang

(43)

8

Kappa di Toko SepatuKappa Bandung Indah Plaza,sehingga data-data, informasi,

dan gambaran dapat memberikan hasil yang diharapkan.

1.3.2 Tujuan Penelitian

Dengan memperhatikan rumusan masalah yang telah ada, maka yang

menjadi tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana tanggapan responden mengenai Ekuitas Merek Sepatu Kappa

pada Toko Sepatu Kappa yang berada di Bandung Indah Plaza (BIP).

1.4 KegunaanPenelitian

1.4.1 KegunaanAkademis

1. Ilmu Manajemen

Bagi pengembangan ilmu manajemen semoga hasil penelitian yang

dilakukan penulis dapat dijadikan bahan masukan pengetahuan khususnya

didalam memecahkan masalah yang berhubungan dengan ekuitas merek.

2. Bagi Peneliti Lain

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran

kepada peneliti lain terutama kepada mereka yang akan melakukan

penelitian yang berhubungan dengan ekuitas merek.

3. Bagi Penulis

Sebagai sarana untuk menambah pengalaman didalam mengembangkan

wawasan yang telah dimiliki serta pemahaman dan perbandingan antara

(44)

9

(didalam lapangan), khususnya mengenai ilmu pemasaran yang

berhubungan dengan ekuitas merek.

1.4.2 Kegunaan Praktis

1. Bagi Perusahan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan

sumbangan pemikiran yang memberikan manfaat bagi perkembangan

usaha Toko Sepatu Kappa khususnya didalam meningkatkan ekuitas

merek.

2. Bagi Pihak Lain

Merupakan sumber informasi dan menjadi bacaan yang diharapkan dapat

membantu didalam menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan ekuitas

merek.

1.5 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian yang dilakukan oleh penulis yaitu di Toko Sepatu Kappa pada

Bandung Indah Plaza CabangBandung, yang beralamat di Jl. Merdeka Bandung.

Waktu pelaksanaan di mulai pada bulan Oktober sampai dengan Januari

(45)
[image:45.595.108.527.159.363.2]

10

Tabel 1.2

Jadwal Pelaksanaan Penelitian

Keterangan Bulan

Oktober November Desember Januari

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 Usulan

Penelitian Pelaksanaan Penelitian Pengumpulan Data

Pengolahan dan Analisis Data

(46)

11

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

2.1 KAJIAN PUSTAKA

2.1.1. Manajemen Pemasaran (Management Marketing)

2.1.1.1. Pengertian Manajemen Pemasaran (Management Marketing)

Merupakan konsep dari manajemen pemasaran adalah proses di dalam

pemenuhan kebutuhan dan keinginan manusia. Dimulai dengan pemenuhan

produk (product), penetapan harga (price), pengiriman barang (place), dan

mempromosikan barang (promotion). Kegiatan pemasaran (marketing)

merupakan bagian dari kehidupan manusia. Dengan sarana pemasaran (marketing)

ini, produk dan jasa yang menciptakan standar kehidupan bagi kegiatan

masyarakat.

Menurut Philip Kotler yang diterjemahkan oleh A.B Susanto (2000:19)

pengertian dari manajemen pemasaran dapat didefinisikan sebagai berikut :

“Manajemen pemasaran adalah proses perencanaan dan pelaksanaan dari perwujudan, pemberian harga, promosi dan distribusi dari barang-barang, jasa dan gagasan untuk menciptakan pertukaran dengan kelompok sasaran

yang memenuhi tujuan pelanggan dan organisasi.”

2.1.1.2Pengertian Bauran Pemasaran (Marketing Mix)

Pemasaran memadukan beberapa kegiatan yang dirancang untuk melayani

dan memenuhi kebutuhan konsumen dalam upaya mencapai tujuan perusahaan.

Sehingga pemasaran dapat dikatakan merupakan hal yang sangat krusial bagi

(47)

12

P, yaitu produk, harga, distribusi, dan promosi, yang merupakan unsur-unsur

kunci bagi program-program pemasaran.

Menurut Philip Kotler(2000:15)definisi dari bauran pemasaran adalah :

“Marketing mix adalah sekumpulan alat pemasaran yang dapat digunakan

oleh perusahaan untuk terus menerus mencapai tujuan pemasarannya

dalam pasar sasaran.”

Adapun unsur-unsur bauran pemasaran sebagai berikut :

1. Produk (Product)

Pengertian produk menurut Philip Kotler dan Armstrong (2000:428)

adalah :

“Produk adalah sesuatu yang dapat ditawarkan produsen untuk diperhatikan, diminta, dicari, dibeli, digunakan atau dikonsumsi pasar sebagai pemenuhan kebutuhan atau keinginan pasar yang bersangkutan. Produk meliputi objek secara fisik, jasa, orang, tempat, organisasi, dan

ide.”

2. Harga (Price)

Menurut Philip Kotler dan Armstrong (2001;349) yang dimaksud harga

adalah :

“Harga adalah sejumlah uang yang dibebankan atas suatu produk atau jasa,

atau jumlah dari nilai yang ditukar konsumen atas manfaat-manfaat karena

memiliki atau menggunakan produk atau jasa tersebut.”

Harga yang ditawarkan kepada konsumen harus sesuai dengan pandangan

konsumen atas nilai dan manfaat yang diperoleh dari produk tersebut. Harga

mempunyai peranan penting bagi perusahaan, karena harga mempunyai pengaruh

(48)

13

3. Tempat (Place)

Distribusi merupakan kegiatan pemasaran yang berusaha memperlancar

dan mempermudah penyampaian barang dan jasa dari produsen kepada

konsumen.

Menurut Philip Kotler dan Armstrong (2001:153) definisi tempat atau

saluran distribusi adalah :

“Saluran distribusi merupakan seperangkat organisasi yang saling

bergantung satu sama lain, yang dilibatkan dalam proses penyediaan suatu produk atau jasa , untuk digunakan atau dikonsumsi oleh konsumen atau

pengguna bisnis.”

Saluran distribusi merupakan hal yang sangat penting, karena dengan

adanya saluran distribusi produk dari produsen akan sampai ke konsumen. Maka,

perusahaan harus menentukan strategi dalam pemilihan jumlah dan bentuk saluran

distribusi yang tepat.

4. Promosi (Promotion)

Promosi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan program

pemasaran. Hal ini dikarenakan sebaik apaun kualitas yang dimiliki suatu produk,

bila konsumen belum pernah mendengarnya dan tidak memiliki keyakinan bahwa

produk tersebut akan berguna bagi mereka, maka mereka tidak akan melakukan

pembelian.

Pengertian promosi menurut Alma (2004:179) adalah :

“Promosi adalah suatu bentuk komunikasi pemasaran, yang merupakan

aktivitas pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi,

mempengaruhi atau membujuk, dan atau mengingatkan pasar sasaran atas perusahaan dan produknya agar bersedia menerima, membeli dan loyal

(49)

14

Dengan demikian maka dapat dilihat dari keempat variabel bauran

pemasaran menunjukkan saling berhubungan dan mempengaruhi antara satu

dengan lainnya, dan tidak bisa dipisahkan antara satu sama lain melainkan setiap

variabel saling melengkapi satu sama lain.

2.1.2. Ekuitas Merek (Brand Equity) 2.1.2.1. Pengertian Merek (Brand)

Dengan merek yang dimiliki oleh perusahaan akan menjadi kuat bila

memiliki ekuitas merek yang juga kuat. Ekuitas merek yang kuat akan

menimbulkan rasa nyaman, meningkatkan keyakinan dalam penggunaaan, dan

akhirnya akan tercipta kepuasan bagi pelanggannya. Dengan ekuitas merek yang

kuat juga akan lebih memudahkan didalm mendongkrak produk atau bisnis lain

dari perusahaan.

Pengertian merek menurut Freddy Rangkuti (2008;2), sebagai berikut :

“Merek merupakan janji penjual untuk secara konsisten memberikan

feature, manfaat, dan jasa tertentu kepada pembeli”

Sedangkan menurut Hermawan Kartajaya (2010;62), mendefinisikan

merek sebagai berikut :

“Merek adalah aset yang menciptakan value bagi pelanggan dengan

meningkatkan kepuasan dan menghargai kepuasan dan menghargai

kualitas.”

Menurut Freddy Rangkuti (2008 ; 2) Merek juga dibagi dalam pengertian

(50)

15

1. Brand name (Nama merek), yang merupakan bagian dari yang dapat

diucapkan misalnya: Pepsodent, BMW, Toyota, dan sebagainya.

2. Brand mark (Tanda merek), yang merupakan sebagian dari merek yang

dapat dikenali namun tidak dapat diucapkan, seperti lambang, disain huruf

atau warna khusus, misalnya: symbol Toyota, gambar tiga berlian

Mitsubisi.

3. Trade mark (Tanda merek dagang), yang merupakan merek atau sebagian

dari merek yang dilindungi hukum karena kemampuannya untuk

menghasilkan sesuatu yang istimewa. Tanda dagang ini melindungi

penjual dengan hak istimewa untuk menggunakan nama merek (tanda

merek).

4. Copyright (Hak cipta), yang merupakan hak istimewa yang dilindungi

undang-undang untuk memproduksi, menerbitkan, dan menjual karya

tulis, karya music atau karya seni.

2.1.2.2. Makna dan Tujuan Merek

Merek merupakan janji penjual untuk secara konsisten memberikan

feature, manfaat, dan jasa tertentu kepada pembeli. Merek terbaik akan

memberikan jaminan kualitas. Namun pemberian nama atau merek pada produk

hendaknya tidak hanya merupakan suatu symbol, karena merek memiliki enam

tingkatan pengertian, Freddy Rangkuti (2008: 3), yaitu:

1. Atribut

Setiap merek memiliki atibut. Atribut ini perlu dikelola dan diciptakan

(51)

16

yang terkandung dalam suatu merek. Contohnya: BMW seri 7 merupakan

merek mobil yang cenderung dengan kualitas tinggi, selalu menjaga

keamanan, bergengsi, harga jual mahal serta dipakai oleh para senior

eksekutif perusahaan multinasional.

2. Manfaat

Selain atribut, merek juga memiliki serangkaian manfaat. Konsumen tidak

membeli atribut, mereka membeli manfaat. Produsen harus

menterjemahkan atribut menjadi manfaat fungsional maupun manfaat

emosional. Atribut “aman” dapat diterjemahkan menjadi manfaat

fungsional yaitu tidak perlu mengganti berbagai fungsi rem serta balon

pelindung baik dari depan maupun samping kiri dan kanan. Manfaat

fungsional ini dapat juga diterjemahkan kedalam manfaat emosional, yaitu

“selama mengendarai BMW seri 7, saya merasa aman dan menenangkan”.

Selain itu atribut-atribut lain juga harus dapat diterjemahkan menjadi

manfaat yang dapat langsung dirasakan oleh konsumen.

3. Nilai

Merek juga menyatakan tentang nilai bagi produsen. Merek yang memiliki

nilai tinggi akan dihargai oleh konsumen sebagai merek yang berkelas,

sehingga dapat mencerminkan siapa pengguna merek tersebut.

4. Budaya

Merek memiliki budaya tertentu. Misalnya Mercedes mewakili budaya

Jerman yang terorganisasi dengan baik, memiliki cara kerja yang efisien,

(52)

17

5. Kepribadian

Merek juga memiliki kepribadian, yaitu kepribadian bagi para

penggunanya. Jadi diharapkan dengan menggunakan merek, kepribadian

pengguna akan tercermin bersamaan dengan merek yang ia gunakan.

6. Pemakai

Merek juga menunjukan konsumen pemakai merek tersebut. Itulah istilah

para pemasar selalu menggunakan analogi orang-orang terkenal untuk

pengguna merek. misalnya: untuk menggambarkan orang yang sukses

selalu menggunakan BMW seri 7.

Apabila suatu perusahaan memperlakukan merek hanya sekedar suatu

nama, maka perusahaan tersebut tidak melihat tujuan merek yang sebenarnya.

Tantangan dalam pemberian merek adalah menggembangkan suatu asset makna

yang mendalam untuk merek tersebut (distinctive values).

Menurut Freddy Rangkuti (2008 ; 2), merek merupakan hal yang sangat

penting, baik bagi konsumen maupun produsen. Dari sisi konsumen, merek

mempermudah pembelian. Bila tidak ada merek, konsumen harus mengevaluasi

semua produk yang tidak memiliki merek setiap kali mereka akan melakukan

pembelian. Merek juga dapat membantu meyakinkan konsumen bahwa mereka

akan mendapatkan kualitas yang konsisten ketika mereka membeli produk

tersebut.

Sedangkan dari sisi produsen, merek dapat dipromosikan. Merek dapat

dengan mudah diketahui ketika diperlihatkan atau ditempatkan dalam suatu

(53)

18

karena merek adalah salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan dalam

membandingkan produk-produk sejenis yang berbeda.

Dari definisi yang telah dijelaskan di atas, sehingga dapat disimpulkan

bahwa brand adalah kelengkapan yang terdapat didalam produk maupun jasa

yang didalamnya terdiri dari : nama, istilah, simbol, tanda gambar/ logo,kemasan

serta kombinasinya yang mempunyai fungsi atau tujuan sebagai identitas dari

suatu produk yang akan memudahkan untuk membedakan suatu produk dengan

produk lainnya dari pesaing, serta memberikan jaminan dari pembuatnya dari

produk yang telah dihasilkan.

2.1.2.3.Manfaat merek

Saat ini merek memiliki peranan yang sangat penting bagi suatu produk

Merek tidak hanya memberikan nilai tetapi juga memberikan manfaat. Merek

dapat memberikan manfaat kepada produsen dan konsumen menurut Darmadi,

dkk, (2005:5), sebagai berikut :

a. Manfaat atau nilai merek bagi konsumen adalah :

1) Aset ekuitas merek membangun konsumen dalam menafsirkan,

memproses, dan menyimpan informasi dalam jumlah besar mengenai

produk dan merek.

2) Ekuitas merek memberi rasa percaya diri kepada konsumen didalam

mengambil keputusan pembelian, baik karena pengalaman masa lalu

dalam karakteristiknya.

3) Persepsi kualitas dan asosiasi merek bisa menguatkan kepuasan

(54)

19

b. Manfaat atau nilai merek bagi penjual adalah :

1) Ekuitas merek bisa menguatkan program memikat para konsumen

baru atau merangkul kembali konsumen lama.

2) Kesadaran merek, persepsi kulitas, asosiasi merek, dan aset-aset

merek lainnya mampu menguatkan loyalitas merek, yaitu bisa

memberikan alasan untuk membeli dan mempengaruhui kepuasan

penggunaan.

3) Ekuitas merek biasanya akan memungkinkan margin yang lebih tinggi

dengan memungkinkan harga optimum (premium pricing) dan

mengurangi ketergantungan pada promosi.

4) Ekuitas merek memberikan landasan untuk pertumbuhan melalui

perluasan merek.

5) Ekuitas merek bisa memberikan dorongan dalam saluran distribusi.

6) Aset-aset ekuits merek memberikan keuntungna yang kompetitif yang

seringkali menghadirkan rintangan nyata terhadap para kompetitor,

Menurut Paul Temporal dan KC Lee dalam bukunya “Hi-Tech Hi- Touch

Branding” (2002: 44), alasan merek merupakan hal penting bagi konsumen

adalah:

a. Merek memberikan pilihan

Manusia menyenangi pilihan dan merek memberi mereka kebebasan untuk

memilih. Sejalan dengan semakin terbagi-baginya pasar, perusahaan

melihat pentingnya memberi pilihan yang berbeda kepada segmen

(55)

20

memungkinkan konsumen untuk membedakan berbagai macam tawaran

perusahaan. Dalam keadaan seperti ini, manusia condong pada merek.

Merek memberi kita pilihan, membuat proses pembuatan keputusan

menjadi jauh lebih mudah.

b. Merek memudahkan keputusan

Merek membuat keputusan untuk membeli menjadi lebih mudah.

Konsumen mungkin tidak tahu banyak mengenai suatu produk yang

membuatnya tertarik, tetapi merek dapat membuatnya lebih mudah untuk

memilih. Dengan makin meningkatnya kesamaan produk, merek

memudahkan konsumen untuk memutuskan produk yang akan dibeli.

Merek yang terkenal lebih menarik banyak perhatian dibanding yang tidak,

umumnya karena merek tersebut dikenal dan bisa dipercaya.

c. Merek memberikan jaminan berkualitas

Para konsumen akan memilih produk dan jasa yang berkualitas dimana

pun dan kapan pun mereka mampu. Sekali mereka mencoba suatu merek,

secara otomatis mereka akan menyamakan pengalaman ini dengan tingkat

kualitas tertentu. Pengalaman yang menyenangkan akan menghasilkan

ingatan yang baik terhadap merek tersebut. Oleh karena itu, konsumen

akan condong terhadap merek yang mereka tahu akan memberikan standar

kualitas yang tinggi. Pengalaman terhadap merek yang berbeda membantu

konsumen untuk membedakan standar kualitas terhadap produkproduk

(56)

21

d. Merek memberikan pencegahan resiko

Sebagian besar konsumen menolak resiko. Mereka tidak akan membeli

suatu produk, jika ragu terhadap hasilnya. Pengalaman terhadap suatu

merek, jika positif, memberi keyakinan serta kenyamanan untuk membeli

sekalipun mahal. Merek membangun kepercayaan, dan merek yang besar

benar-benar dapat dipercaya.

e. Merek memberikan alat untuk mengekspresikan diri

Merek menghasilkan kesempatan pada konsumen untuk mengekspresikan

diri dalam berbagai cara. Merek dapat membantu konsumen untuk

mengekspresikan, diantara kebutuhan sosial psikologi, yaitu:

1) status sosial

2) keberhasilan

3) aspirasi

4) cinta dan persahabatan

5) sifat

Dengan merek dapat memungkinkan konsumen untuk mengekspresikan

diri mereka, didalam hal-hal yang mereka pikirkan, hal-hal yang mereka beri nilai

dan cintai, pola hidup mereka, dan mimpi-mimpi mereka. Merek ada dalam

pikiran manusia, dan kadang kala dapat berbicara lebih dari kata-kata.

2.1.2.4. Ekuitas Merek (Brand Equity)

Pengertian ekuitas merek yang dikutip dalam Durianto, dkk (2007:200),

(57)

22

“Ekuitas merek adalah seperangkat aset dan liabiltas merek yang terkait

dengan suatu merek, nama, simbol, yang mampu menambah atau mengurangi nilai yang diberikan oleh sebuah produk atau jasa kepada

perusahaan maupun kepada pelanggan. “

Agar aset dan liabilitas merek harus berhubungan dengan nama atau

sebuah simbol sehingga jika dilakuan perubahan terhadap nama dan simbol

merek, beberapa atau semua aset dan liabilitas yang menjadi dasar ekuitas merek

akan berubah pula.

Menurut Freddy Rangkuti (2008;39) ekuitas merek, yaitu :

“Ekuitas merek adalah seperangkat aset (dan liabilitas) yang terkait dengan nama merek dan simbol yang dapat menambah atau mengurangi dari nilai yang diberikan oleh produk atau jasa kepada perusahaan atau pelanggan perusahaan.”

Dengan demikian dapat disimpulkan ekuitas merek adalah, kekuatan yang

ada pada suatu merek yang diharapkan dapat memberikan nilai kepada konsumen

atas suatu produk pada kelasnya dan juga dapat meningkatkan penilaian

konsumen terhadap sebuah merek, yang dapat meningkatkan perstige gaya hidup

konsumen sehingga timbulnya loyalitas pelanggan dari nilai yang dihasilkan

tersebut. Menurut Hermawan Kartajaya (2010;63), merek yang dimiliki oleh

perusahaan akan menjadi kuat bila memiliki ekuitas merek yang juga kuat.

Ekuitas merek akan memberikan nilai, baik kepada pelanggan maupun kepada

perusahaan, yaitu sebagai berikut :

1. Nilai bagi pelanggan :

a. Meningkatkan interprestasi atau proses penerimaan informasi

pelanggan.

(58)

23

c. Meningkatkan kepuasan mereka dalam menggunakan produk atau

jasa.

2. Nilai bagi perusahaan :

a. Meningkatkan efisiensi dan efektifitas program pemasaran

perusahaan.

b. Meningkatkan kesetiaan terhadap merek.

c. Meningkatkan harga/margin keuntungan.

d. Meningkatkan pertumbuhan melalui perluasan merek.

e. Ekuitas merek bisa meningkatkan dorongan dalam saluran distribusi.

f. Meningkatkan keunggulan bersaing.

2.1.2.5. Model Ekuitas Merek

Menurut agen periklanan Young and Rubicam (Y & R) mengembangkan

sebuah model ekuitas merek yang disebut penilai aset merek (Brand Aset

Valuator-BAV). Terdapat lima komponen atau pilar kunci dari ekuitas merek,

menurut BAV :

1. Diferensiasi mengukur tingkat sejauh di mana merek dianggap berbeda

dari merek lain.

2. Energi mengukur arti momentum merek.

3. Relevansi mengukur cakupan daya tarik merek.

4. Harga diri mengukur seberapa baik merek dihargai dan dihormati.

5. Pengetahuan mengukur kadar keakraban dan keintiman konsumen dengan

(59)

24

2.1.2.6. Unsur-Unsur Ekuitas Merek

Kesadaran merek membutuhkan jangkauan kontinium (continuum

ranging) dari perasaan yang tidak pasti bahwa merek tertentu telah dikenal

sebelumnya, sehingga konsumen yakin bahwa produk tersebut merupakan

satu-satunya merek dalam suatu kelompok tertentu.

Menurut Darmadi Durianto, dkk yang dikutip dalam David Aeker (2001 ;

4) ekuitas merek memiliki beberapa elemen, yaitu:

1. Kesadaran Merek (Brand Awareness), menunjukkan kesanggupan

seseorang calon pembeli untuk mengenali atau mengingat kembali bahwa

suatu merek merupakan bagian dari kategori produk tertentu.

2. Kesan Kualitas (Perceived Quality), mencerminkan persepsi pelanggan

terhadap keseluruhan kualitas/keunggulan suatu produk atau jasa layanan

berkenaan dengan maksud yang diharapkan, sehingga menciptakan

kepuasan pelanggan.

3. Asosiasi Merek (Brand Association), mencerminkan pencitraan suatu

merek terhadap suatu kesan tertentu dalam kaitannya dengan kebiasaan,

gaya hidup, manfaat, atribut produk, geografis, harga pesaing, selebritis

dan lainlain.

4. Loyalitas Merek (Brand Loyalty), mencerminkan tingkat keterikatan

konsumen dengan suatu merek produk.

5. Aset-aset Merek Lainnya (Other Proprietary Brand Assets). Elemen

ekuitas merek yang kelima ini secara langsung dipengaruhi oleh kualitas

(60)

25

Sedangkan menurut Freddy Rangkuti (2008:39), ekuitas merek tidak akan

terjadi dengan sendirinya tanpa adanya elemen-elemen pembentuk ekuitas merek

yang terdiri dari :

1. Kesadaran Merek (Brand Awareness)

Menurut Freddy Rangkuti (2008 ; 39), kesadaran merek memiliki peran

dalam keseluruhan ekuitas merek yaitu tergantung dari sejauh mana tingkat

kesadaran yang dicapai oleh suatu merek. Kesadaran merek “ adalah kesanggupan

seorang calon pembeli untuk mengenali atau mengingat kembali bahwa suatu

merek merupakan bagian atau kategori produk-produk tertentu.”

Menurut David Aeker yang dikutip dalam buku Hermawan Kartajaya

(2010;64), Kesadaran Merek “adalah sebagai kemampuan dari pelanggan

potensial untuk mengenali atau mengingat bahwa suatu merek termasuk kedalam

kategori produk tertentu.

[image:60.595.150.460.476.698.2]

Piramida Brand Awareness

Gambar 2.1 Piramida Brand Awareness

Sumber: Freddy Rangkuti (2008;40)

Top of Mind

Brand Recall

Brand Recognition

(61)

26

Menurut Freddy Rangkuti (2008;40), tingkatan brand awareness secara

berurutan adalah sebagai berikut:

1. Unware of brand (tidak menyadari merek)

Merupakan tingkat yang paling rendah dalam piramida kesadaran merek,

dimana konsumen tidak menyadari akan adanya suatu merek.

2. Brand Recognition (pengenalan merek)

Tingkat minimal dari kesadaran merek. Hal ini penting pada saat

seseorang pembeli memilih merek pada saat melakukan pembelian.

3. Brand Recall (pengingatan kembali terhadap merek)

Pengingatan kembali terhadap merek didasarkan pada permintaan

seseorang untuk menyebutkan merek tertentu dalam suatu kelas produk.

Hal ini diistilahkan dengan pengingatan kembali tanpa bantuan, karena

berbeda dari tugas pengenalan, responden tidak perlu dibantu untuk

memunculkan merek tersebut.

4. Top of Mind (puncak pikiran)

Apabila seseorang ditanya secara langsung tanpa diberi bantuan

pengigatan dan ia dapat menyebutkan satu nama merek, maka merek yang

paling banyak disebutkan pertama kali merupakan puncak pikiran. Dengan

kata lain, merek tersebut merupakan merek utama dari berbagai merek

yang ada didalam benak konsumen.

Untuk dapat meraih kesadaran merek, baik didalam tingkat pengenalan

(62)

27

untuk memperoleh identitas merek dan berusaha mengkaitkannya dengan

kelas produk tertentu.

Menurut Hermawan Kartajaya (2010;64), kesadaran merek banyak

memberikan nilai, sebagai berikut :

1. Memberikan tempat bagi asosiasi terhadap merek.

2. Memperkenalkan merek.

3. Merupakan sinyal bagi keberadaaan, komitmen, dan substansi

merek.

4. Membantu memilih kelompok merek untuk dipertimbangkan dengan

serius.

2. Kesan Kualitas (Perceived Quality)

Menurut Freddy Rangkuti (2008 ; 41) Kesan Kualitas adalah presepsi

pelanggan terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa

layanan berkaitan dengan maksud yang diharapkan.

Menurut David Aeker yang dikutip dalam buku Hermawan Kartajaya

(2010;73), Kesan Kualitas adalah sebagai persepsi pelanggan terhadap kualitas

atau keunggulan suatu produk atau jasa sehubungan dengan tujuan yang

diinginkannya, dibandingkan dengan altenatif-alternatif lain.

Menurut Freddy Rangkuti (2008;42), kesan kulitas dapat memberikan nilai

keuntungan yaitu :

1. Alasan membeli.

Kesan kualitas sebuah merek memberikan alasan yang penting untuk

(63)

28

dipertimbangkan, dan selanjutnya mempengaruhi merek apa yang akan

dipilih.

2. Diferensiasi

Suatu karakteristik penting dari merek adalah posisinya dalam dimensi

kesan kualitas.

3. Harga optimum

Kesan kualitas memberikan pilihan-pilihan didalam menetapkan harga

optimum (premium price)

4. Meningkatkan minat para distributor

Kesan kualitas memiliki arti penting bagi para distributor,pengecer serta

berbagai saluran distribusi lainnya, karena hal itu sangat membantu

perluasan distribusi.

5. Perluasan Merek (brand extension)

Kesan kualitas dapat dieksploitasi dengan cara mengenalkan berbagi

perluasan merek, yaitu dengan menggunakan merek tertentu untuk masuk

kedalam kategori produk baru.

Menurut Herman Kartajaya, pelanggan mempersepsikan kualitas produk

berdasarkan elemen-elemen sebagai berikut :

1. Serviceability

Serviceability merupakan kemudahan untuk memperbaiki atau

mendapatkan layananterkait dengan produk.

2. Reliability

(64)

29

3. Features

Features merupakan elemen sekunder atau tambahan dari suatu produk.

4. Performance

Performance merupakan karakteristik operasional utama dari suatu

produk.

5. Conformance with Specifications

Conformance with Specifications merupakan keadaan dimana tidak ada

cacat pada produk, dan ada kesesuaian produk dengan standar kualifikasi.

6. Durability

Durability merupakan nilai ekonomis dari suatu produk.

7. Fit and Finish

Fit and Finish merupakan kualitas tampilan akhir dari suatu produk yang

tangible, tetapi berbeda hal dengan produk yang brsifat intangible karena

kualitas tampilannyabersifat abstrak.

3. Asosiasi Merek (Brand Asociation)

Menurut Freddy Rangkuti (2008:3), Asosiasi merek adalah segala hal yang

berkaitan dengan ingatan mengenai merek. Asosiasi merek itu tidak hanya eksis,

namun juga memiliki suatu tingkat kekuatan. Keterkaitan pada suatu merek akan

lebih kuat apabila dilandasi pada banyak pengalaman atau penampakkan untuk

mengkomunikasikannya.

Menurut David Aeker yang dikutip dalam buku Hermawan Kartajaya

(2010:66), Asosiasi merek adalah sebagai segala sesuatu yang terhubung di

(65)

30

Menurut Freddy Rangkuti (2008;43), dengan asosiasi merek dapat

menciptakan nilai bagi perusahaan dan para pelanggannya, karena asosaisi merek

dapat membantu proses penyusuna informasi untuk dapat membedakan merek

yang satu dengna merek yang lainnya. Terdapat lima keuntungan yang didapat

dari asosiasi merek, yaitu :

1. Membantu proses penyusunan informasi

Asosiasi-asosiasi yang terdapat pada suatu merek, akan membantu

mengikhtisarkan sekumpulan fakta dan spesifikasi yang dapat dengan

mudah dikenal oleh pelanggan.

2. Diferensiasi Merek

Suatu asosiasi dapat memberikan landasan yang penting bagi usaha untuk

membedakan dan memisahkan satu merek dengan merek yang lainnya.

Asosiasi-asosiasi merek dapat memainkan peran yang sangt penting dalm

membedakan suatu merek dengan merek yang lainnya.

3. Alasan untuk membeli

Pada umumnya, asosiasi merek sangat membantu konsumen didalam

mengambil keputusan untuk melakukan pembelian produk tersebuat atau

tidaknya.

4. Penciptaan sikap / perasaan positif

Asosiasi merek dapat mernagsang perasaan positif yang pada gilrannya

(66)

31

5. Landasan untuk perluasan

Asosiasi merek dapat menghasilkan landasan bagi suatu perluasan merek,

yaitu dengan cara menciptakan rasa yang sesuai antara suatu merek dan

sebuah produk baru.

Suatu asosiasi bisa menghasilkan suatu landasan bagi suatu perusahaan

dengan menciptakan rasa kesesuaian (sense of fit) antara merek dan sebuah

produk baru atau dengan menghadirkan alasan untuk membeli produk

perluasan tersebut.

Menurut Aeker yang dikutip dalam Humdiana (2005:48), mengemukakan

adanya sebelas tipe asosiasi, sebagai berikut:

1. Atribut produk

Atribut produk yang paling banyak digunakan dalam strategi positioning

adalah mengasosiasikan suatu obyek dengan salah satu atau beberapa

atribut atau karakteristik produk yang bermakna dan saling mendukung,

sehingga asosiasi bisa secara langsung diterjemahkan dalam alasan untuk

pembelian suatu produk.

2. Atribut tak berwujud

Penggunaan atribut tak berwujud, seperti kualitas keseluruhan,

kepemimpinan, teknologi, inovasi, atau kesehatan ada kalanya bisa lebih

bertahan. Tetapi pengembangan asosiasi ini bisa berbahaya dan

memungkinkan mendapatkan suatu tingkat asosiasi produk yang berada

(67)

32

3. Manfaat bagi pelanggan

Biasanya terdapat hubungan antara atribut produk dan manfaat bagi

pelanggan. Terdapat dua manfaat bagi pelanggan, yaitu (a) manfaat

rasional, adalah manfaat yang berkaitan erat dengan suatu atribut dan bisa

menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan yang rasional; (b)

manfaat pskologis seringkali merupakan konsekuensi ekstrim dalam

pembentukan sikap adalah manfaat yang berkaitan dengan perasaan yang

timbul ketika membeli atau menggunakan merek tersebut.

4. Harga relatif

Pada umumnya merek hanya perlu berada di satu harga tertentu agar dapat

memposisikan diri dengan jelas dan berjauhan dengan merek-merek lain

pada tingkat harga yang sama. Untuk menjadi bagian dari segmen utama

(premium sement), sebuah merek harus menawarkan suatu aspek yang

dipercaya unggul dalam kualitas, atau sungguh-sungguh dapat

memberikan jaminan harga optimum.

5. Penggunaan / Aplikasi

Produk dapat mempunyai beberapa strategi positioning, walaupun hal ini

mengundang sejumlah kesulitan. Suatu strategi positioning lewat

penggunaan (positioning by use strategy) mewakili posisi kedua atau

ketiga untuk merek tersebut, suatu posisi yang dengan sengaja berusaha

(68)

33

6. Pengguna / Pelanggan

Strategi posisioning pengguna (user positioning strategy), yaitu

mengasosiasikan sebuah merek dengan sebuah tipe pengguna atau

pelanggan, sangat efektif karena bisa memadukan antara strategi

posisioning dengan strategi segmentasi. Mengidentifikasikan sebuah

merek dengan segmen yang ditargetkan seringkali menjadi cara yang tepat

untuk memikat segmen tersebut. Problem dari asosiasi yang kuat terutama

asosiasi penggunaan dapat membatasi kesanggupan sebuah merek untuk

memperluas pasarnya.

7. Orang terkenal / biasa

Mengaitkan seseorang yang terkenal dengan sebuah merek bisa

mentransferkan asosiasi-asosiasi ini ke merek tersebut. Salah satu

karakteristik penting bagi sebuah merek untuk bisa dikembangkan adalah

kompetensi teknologi, kesanggupan mendesain, dan proses manufaktur

sebuah produk. Dengan mengaitkan antara merek produk dan orang

terkenal yang sesuai dengan produk tersebut akan memudahkan merek

tersebut mendapat kepercayaan dari pelanggan.

8. Gaya hidup / kepribadian

Sebuah merek bisa diilhami oleh para pelanggan dengan aneka

kepribadian dan karakteristik gaya hidup yang hampir sama.

9. Kelas produk

Beberapa produk perlu membuat keputusan positioning yang menentukan

(69)

34

10. Kompetitor

Kompetitor bisa menjadi aspek dominan dalam strategi positioning,

karena:

a. Kompetitor mungkin mempunyai suatu pencitraan yang jelas, sangat

mengkristal, dan telah dikembangkan selama bertahun-tahun sehingga

dapat digunakan sebagai jembatan untuk membantu

mengkomunikasikan pencitraan dalam bentuk lain berdasarkan acuan

tersebut

b. Terkadang tidak penting seberapa bagus pelanggan beranggapan atau

berpikir tentang anda, yang lebih penting adalah mereka percaya

bahwa anda lebih baik atau sama bagusnya dengan seorang

kompetitor tertentu. Positioning dengan mengaitkan para kompetitor

bisa menjadi cara jitu untuk menciptakan suatu posisi yang terkait

pada karakteristik produk tertentu, terutama harga dan kualitas (price

quality). Produk-produk yang sulit dievaluasi cenderung

menggunakan kompetitor yang sudah mapan untuk membantu

menjalankan tugas positioning. Positioning dengan mengaitkan

kompetitor bisa dilakukan melalui iklan komparatif, dimana

kompetitor dengan eksplisit disebutkan dan dibandingkan berkenaan

dengan suatu karakteristik produk atau lebih.

11. Negara / wilayah geografis

Sebuah negara bisa menjadi simbol yang kuat, asalkan negara itu

(70)

35

Asosiasi negara bisa menjadi kompleks dan penting apabila negara

berusaha mengembangkan strategi global.

4. Loyalitas Merek (Brand Loyalty)

Loyalitas merek merupakan suatu ukuran inti dari ekuitas merek. Menurut

David Aeker yang dikutip dalam buku Hermawan Kartajaya (2010;71), Loyalitas

merek sebuah ukuran ketertarikan pelanggan terhadap suatu merek.

Menurut Freddy Rangkuti (2008;60), Loyalitas Merek merupakan satu

ukuran dari kesetiaan konsumen terhadap suatu merek. Loyalitas Merek

merupakan inti dari ekuitas merek yang menjadi gagasan sentral dalam

pemasaran, karena hal ini merupakan suatu ukuran keterkaitan seorang pelanggan

pada sebuah merek. Lima tingkatan loyalitas merek, yaitu:

1. Switcher/price buyer merupakan tingkatan loyalitas yang paling mendasar.

Pada tingkat ini pembeli tidak loyal atau sama sekali tidak tertarik pada

merek-merek apapun yang ditawarkan.Dalam hal ini merek memainkan

peran yang kecil dalam keputusan pembelian. Pada umumnya, jenis

konsumen seperti ini suka berpindah merek atau disebut dengan tipe

konsumen switcher atau price buyer (dimana konsumen lebih

meperhatikan harga didalam melakukan pembelian).

2. Habitual buyer adalah pembeli yang puas dengan produk yang mer

Gambar

Grafik Penjualan  Sepatu Kappa
Tabel 1.2
Gambar 2.1
Tabel 2.1 Hasil Penelitian Terdahulu
+7

Referensi

Dokumen terkait

Selanjutnya Rangkuti (2008:39), mendefinisikan ekuitas merek sebagai sekumpulan asset yang terkait dengan nama, merek atau symbol, sehingga dapat disimpulkan bahwa ekuitas

Bagaimana pengaruh ekuitas merek yang terdiri dari variabel kesadaran merek, asosiasi merek, kesan kualitas dan loyalitas merek secara bersama- sama dan parsial berpengaruh

Bagaimana pengaruh ekuitas merek yang terdiri dari variabel kesadaran merek, asosiasi merek, kesan kualitas dan loyalitas merek secara bersama- sama dan parsial berpengaruh

Dari analisis dan pembahasan mengenai tanggapan responden terhadap Citra Merek (Brand Image) Sepatu Edward Forrer pada Toko Edward Forrer Di Bandung,

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Ekuitas Merek, yang variabelnya terdiri dari Kesadaran Merek, Persepsi Merek, Asosiasi Merek dan Loyalitas Merek terhadap

Bagaimana pengaruh ekuitas merek yang terdiri dari variabel kesadaran merek, asosiasi merek, kesan kualitas dan loyalitas merek secara bersama- sama dan parsial berpengaruh

Bagaimana pengaruh ekuitas merek yang terdiri dari variabel kesadaran merek, asosiasi merek, kesan kualitas dan loyalitas merek secara bersama- sama dan parsial berpengaruh

pengaruh kesadaran merek, persepsi kualitas, asosiasi merek dan loayalitas merek terhadap ekuitas merek (survey pada warga perumahan Joyo Grand konsumen air minum dalam kemasan