PENGARUH
LOCUS OF CONTROL,
PENGALAMAN AUDITOR,
KOMITMEN PROFESIONAL DAN ETIKA PROFESIONAL
TERHADAP PERILAKU AUDITOR DALAM SITUASI
KONFLIK AUDIT
(Studi Empiris pada Kantor Akuntan Publik di Jakarta Selatan)
Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Guna Meraih Gelar Sarjana Ekonomi
Anggun Pribadi Prasetyo
206082003968
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
i
PENGARUH LOCUS OF CONTROL, PENGALAMAN AUDITOR,
KOMITMEN PROFESIONAL DAN ETIKA PROFESIONAL TERHADAP
PERILAKU AUDITOR DALAM SITUASI KONFLIK AUDIT
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi Dan Bisnis
Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Guna Meraih Gelar Sarjana Ekonomi
Oleh:
Anggun Pribadi Prasetyo
206082003968
Di Bawah Bimbingan
Pembimbing I
Pembimbing II
Prof. Dr. Ahmad Rodoni
Yulianti, SE., M.Si
NIP.196902032001121003
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
ii
Hari ini Kamis Tanggal 29 April Tahun Dua Ribu Sepuluh telah dilakukan Ujian
Komprehensif atas nama Anggun Pribadi Prasetyo NIM: 206082003968 dengan judul
Skripsi “
PENGARUH
LOCUS OF CONTROL,
PENGALAMAN AUDITOR,
KOMITMEN PROFESIONAL DAN ETIKA PROFESIONAL TERHADAP
PERILAKU AUDITOR DALAM SITUASI KONFLIK AUDIT”.
Memperhatikan
penampilan mahasiswa tersebut selama ujian berlangsung, maka skripsi ini sudah
dapat diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi
pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 29 April 2010
Tim Penguji Ujian Komprehensif
Rini, SE., Ak., M.Si Rahmawati, SE., MM
Ketua
Sekretaris
iii
Hari ini Jumat Tanggal 3 Desember Tahun Dua Ribu Sepuluh telah dilakukan Ujian
Skirpsi atas nama Anggun Pribadi Prasetyo NIM: 206082003968 dengan judul
Skripsi “
PENGARUH
LOCUS OF CONTROL,
PENGALAMAN AUDITOR,
KOMITMEN PROFESIONAL DAN ETIKA PROFESIONAL TERHADAP
PERILAKU AUDITOR DALAM SITUASI KONFLIK AUDIT”.
Memperhatikan
penampilan mahasiswa tersebut selama ujian berlangsung, maka skripsi ini sudah
dapat diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi
pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 3 Desember 2010
Tim Penguji Sidang Skripsi
Prof. Dr. Ahmad Rodoni Yulianti, SE., M.Si
Ketua Sekretaris
iv
I. DAFTAR RIWAYAT HIDUP
1.
Nama
: Anggun Pribadi Prasetyo
2.
Jenis Kelamin
: Laki-laki
3.
Tempat/Tgl Lahir
: Jakarta, 5 November 1988
4.
Agama
: Islam
5.
Alamat : Jalan. Suka Mandiri Rt.03/01 No.30 Sarua
Indah, Ciputat, Tangerang Selatan
6.
Telepon
: 085697181991
7.
:
II. PENDIDIKAN FORMAL
1.
SDN Cilandak Barat 08 Pagi Tahun 1994-2000
2.
SLTP Negeri 85 Jakarta Tahun 2000-2003
3.
SMA Negeri 1 Ciputat Tahun 2003-2006
4.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2006
III. PENGALAMAN ORGANISASI
1.
Anggota Pemuda Pancasila 2008-sekarang
2.
Ketua Remaja Darusolihin 2005-2007
3.
Anggota Karang Taruna Bitari Sarua Indah 2005-2008
IV. LATAR BELAKANG KELUARGA
Ayah
: Saimin, S.Pd
v
THE INFLUENCE OF LOCUS OF CONTROL, AUDIT EXPERIENCE,
PROFESSIONAL COMMITMENT AND PROFESSIONAL ETHICAL TO
AUDIT BEHAVIOUR IN AN AUDIT CONFLICT SITUATION
ABSTRACT
This research aimed to analyze and to test the influence locus of control, audit
experience, professional commitment, professional ethical to audit behavior in an
audit conflict situation. The research has been done in Jakarta with auditor
respondent working for public accountant company. Retrieval of sample has been
using convenience sampling. Number of questionnaires propagated was 65 copies but
only 55 copies question returned. The data were analysis for hypothesis tester was
done with multiple regression. The result of research the variabel locus of control,
professional commitment and professional ethics have significantly influence to audit
behavior in an audit conflict situation. Other result of research the variabel audit
experience have not significantly influence to audit behavior in an audit conflict
situation.
vi
PENGARUH LOCUS OF CONTROL, PENGALAMAN AUDITOR,
KOMITMEN PROFESIONAL DAN ETIKA PROFESIONAL TERHADAP
PERILAKU AUDITOR DALAM SITUASI KONFLIK AUDIT
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh
locus of control,
pengalaman auditor, komitmen profesional dan etika profesional terhadap perilaku
auditor dalam situasi konflik audit. Penelitian ini dilakukan di Jakarta dengan auditor
sebagai responden yang bekerja pada kantor akuntan publik. Penentuan sampel
dilakukan dengan menggunakan metode
convenience sampling
. Kuesioner yang
disebarkan berjumlah 65 tetapi kembali hanya 55. Penganalisisan data untuk
pengujian hipotesis dilakukan dengan regresi berganda. Hasil dari penelitian ini
variable
locus of control,
komitmen profesional dan etika profesional mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap perilaku auditor dalam situasi konflik audit. Hasil
penelitian ini juga ditemukan variable pengalaman auditor tidak mempunyai
pengaruh signifikan terhadap perilaku auditor dalam situasi konflik audit.
vii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan
segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Shalawat serta salam tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa
kita menuju jalan yang diridhoi oleh Allah SWT.
Skripsi ini berjudul “Pengaruh
Locus of Control,
Pengalaman Auditor,
Komitmen Profesional dan Etika Profesional Terhadap Pengaruh Auditor dalam
Situasi Konflik Audit”. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi syarat untuk
meraih gelar Sarjana Ekonomi di Universitas Islam Negeri Syarif Hidatatullah
Jakarta.
Penulisan skripsi akan semakin tertunda dan tidak selesai tanpa bantuan
semua pihak. Dengan segala kerendahan hati, pada kesempatan ini penulis
mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada:
1.
Kedua orang tua Bapak dan Ibu yang telah memberikan semangat dan doa yang
tiada hentinya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulis tidak
dapat membalas segala kebaikan mu.
2.
Seluruh keluarga besarku, Adikku, Kakek, Nenek, Pakde, Bude, Pakle, Bulek,
Kakak-kakak sepupuku, Adik-adik sepupuku, terima kasih atas doa kalian,
semua dapat berjalan dengan baik.
3.
Bapak Prof. Dr. Ahmad Rodoni selaku Pembimbing Skripsi I yang telah dengan
sabar dan meluangkan waktu serta memberikan ilmunya sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini.
viii
5.
Bapak Prof. Dr. Abdul Hamid, MS selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
6.
Bapak Suhendra,MM dan Ibu Rahmawati SE, MM selaku Kordinator Teknis dan
Sekretaris Program Non Reguler Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
7.
Seluruh Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
yang telah memberikan ilmunya.
8.
Seluruh Staf dan Karyawan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
9.
Seluruh Kantor Akuntan Publik (KAP) yang telah bersedia menjadi tempat
penyebaran kuesioner saya dan memberikan banyak informasi.
10.
Special people,
pacarku, inspirasi dan penyemagat hidupku Meitinsari Boruregar,
terima kasih atas waktu, semangat dan doa yang kamu berikan untukku selama
ini.
You’re the best.
Selangkah lagi impian kita terwujud.
11.
Sahabat-sahabtku Akil, Asep, Pandu, Abi, Ucup, Fahry, Aya, Ipeh, Dina, Mas
Dedwi, Wahyu, Berly, Tio dan seluruh anak
the end touch..
akhrinya lulus
juga....terima kasih kawan. Kuliah jadi lebih berkesan. Kapan kita ngebolang
lagi??
12.
Teman-teman anak Akuntansi A dan B angkatan 2006. Terima kasih telah
membuat saya lebih betah dikampus.
13.
Exos Community Heri, Febri, Aldo, Galih, Opa, Iif, Ojan, Gori, Didik, Gitoy,
Bacul, Cimol. Kita tetep maen futsal trus ya...
ix
15.
Semua pihak yang telah membantu sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi
ini dan tidak saya sebutkan satu per satu tanpa mengurangi rasa terima kasih dan
hormat saya. Terima kasih buat dukungan dan doa kalian.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan skripsi ini masih
jauh dari kata sempurna dikarenakan keterbatasan dari penulis. Oleh karena itu,
penulis mengharpakan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak. Penulis
berharap semoga hasil penulisan ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua.
Jakarta, 3 Desember 2010
x
DAFTAR ISI
Lembar Pengesahan Skripsi
……….………….………
i
Lembar Pengesahan Uji Komprehensif
………….…….……….
ii
Lembar Pengesahan Uji Skripsi
...
iii
Daftar Riwayat Hidup
……….………….
iv
Abstract
……….……….…….…...
v
Abstrak
……….…..…
vi
Kata Pengantar
……….………
vii
Daftar Isi
……….………..………
x
Daftar Tabel
………..………
xiv
Daftar Gambar
………..………
xvi
Daftar Lampiran
………...
xvii
BAB I
PENDAHULUAN
….………
1
A. Latar Belakang ………..
1
B. Perumusan Masalah ….………..
10
xi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
……….
13
A.
Locus of Control
……….…
13
B. Pengalaman Auditor ………...
17
C. Komitmen Profesional……….. .…….
19
D. Etika Profesional……..….………..
23
E. Perilaku Auditor Dalam Situasi Konflik Audit...
26
F. Keterkaitan Antara Variabel………
29
1.
Locus of Control
Dengan Perilaku Auditor
Dalam Situasi Konflik………..
29
2. Pengalama Auditor Dengan Perilaku Auditor
Dalam Situasi Konflik………
30
3. Komitmen Profesional Dengan Perilaku Auditor
Dalam Situasi Konflik………..
31
4. Etika Profesional Dengan Perilaku Auditor
Dalam Situasi Konflik……….
32
xii
H. Kerangka Penelitian………..
37
I. Perumusan Hipotesis………..
38
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
……….…… 39
A. Ruang Lingkup Penelitian ..……….. 39
B. Metode Penentuan Sampel ……… 39
C. Metode Pengumpulan Data ……….….. 40
D. Metode Analisis Data ………..……….. 40
1. Uji Kualitas Data ……… 40
2. Uji Asumsi Klasik……….
41
3. Uji Hipotesis ……….. 43
E. Operasionalisasi Variabel ……….. 46
1.
Locus Of Control
………. 46
2. Pengalaman Auditor……… 46
2. Komitmen Profesional..……….. 47
4. Etika Profesional……… 47
xiii
BAB IV
PENEMUAN DAN PEMBAHASAN
...
51
A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian……… 51
1. Tempat dan Waktu Penelitian………. 51
2. Karakteristik Responden………. 53
B. Hasil Uji Instrumen Penelitian……… 55
1. Uji Kualitas Data……… 55
2. Uji Asumsi Klasik……… 61
3. Uji Hipotesis……… 65
4. Pembahasan……… 71
BAB V
PENUTUP
...
75
A. Kesimpulan……… 75
B. Implikasi………
76
C. Saran……….
76
Daftar Pustaka ………..
78
xiv
Daftar Tabel
Tabel 3.1
Tabel Operasionalisasi Variabel ..……….. 49
Tabel 4.1
Data Distribusi Sampel Penelitian ………. 51
Tabel 4.2
Tabel Jumlah Kuesioner ………. 52
Tabel 4.3
Hasil Pengembalian Kuesioner….…….………….…….
53
Tabel 4.4
Hasil Uji i Responden Berdasarkan
Jenis Kelamin ………..……....
53
Tabel 4.5
Hasil Uji Responden
Berdasarkan Jabatan Responden ………
54
Tabel 4.6
Hasil Uji Responden Berdasarkan
Pendidikan Terakhir ………….……….... 54
Tabel 4.7
Hasil Uji Deskripsi Responden Berdasarkan
Pengalaman Kerja……….… 55
Tabel 4.8
Hasil Uji Validitas
Locus of Control……
……… 56
Tabel 4.9
Hasil Uji Validitas Variabel Pengalaman Auditor………... 57
Tabel 4.10
Hasil Uji Validitas Komitmen Profesional….….………….. 57
Tabel 4.11
Hasil Uji Validitas Etika Profesional
.………..………….. 58
Tabel 4.12
Hasil Uji Validitas Perilaku Auditor Dalam Situasi
Konflik Audit….….…….………. 58
Tabel 4.13
Hasil Uji Reliabilitas Variabel
Locus of Control
….….…... 59
xv
Tabel 4.15
Hasil Uji Reliabilitas Variabel Komitmen Profesional..… 60
Tabel 4.16
Hasil Uji Reliabilitas Variabel Etika Profesional
………… 60
Tabel 4.17
Hasil Uji Reliabilitas Variabel Perilaku Auditor
Dalam Situasi Konflik Audit……….
61
Tabel 4.18
Hasil Uji
Multikolonieritas
……….… 62
Tabel 4.19
Hasil Uji Koefisien Determinasi….…..……….….... 66
Tabel 4.20
Hasil Uji Secara Parsial (Uji Statistik t).……..…………
70
Tabel 4.21
Hasil Uji Secara Simultan (Uji Statistik F)………. 72
xvi
[image:17.612.110.502.129.557.2]Daftar Gambar
Gambar 2.1
Model Pengaruh Variabel Independen Dengan
Variabel Dependen
.………..………. 37
Gambar 4.1
Hasil Uji Normalitas Menggunakan Grafik P-Plot
…….… 63
Gambar 4.2
Hasil Uji Normalitas Menggunakan Grafik
Histogram
……… 63
xvii
Daftar Lampiran
Lampiran 1 Kuesioner Penelitian……… 81
Lampiran 2
Daftar Jawaban Responden………. 87
Lampiran 3
Hasil Uji Data SPSS………. 92
Lampiran 4
Surat Penelitian Skripsi……… 106
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dewasa ini perkembangan dunia usaha yang semakin pesat
mengakibatkan persaingan antar perusahaan semakin meningkat dan masalah
yang dihadapi semakin kompleks. Hal tersebut membuat informasi akuntansi
sangat dibutuhkan, khususnya akuntan publik, sebelumnya ada pernyataan
pendapat profesional dari akuntan publik mengenai tingkat kelayakan dan
keandalan informasi atau laporan keuangan yang dibuat oleh akuntan (akuntan
pemeriksa). Auditor merupakan suatu profesi yang sangat penting untuk dikaji,
karena diantara tugas-tugas dan tanggung jawab profesi akuntan, tugas yang
paling sentral adalah melakukan atestasi (pengujian).
Selama proses pemeriksaan yang dilakukan oleh Auditor terdapat
masalah atau konflik yang muncul, salah satunya adalah adanya
ketidaksepakatan antara auditor dan klien terhadap aspek fungsi dan tujuan
pemeriksaan. Dalam hal ini klien akan mempengaruhi proses pemeriksaan
yang dilakukan auditor sehingga klien dapat menekan auditor untuk
mengambil tindakan yang melanggar standar pemeriksaan. Oleh karena secara
umum auditor dianggap termotivasi oleh etika profesi dan standar pemeriksaan,
2
Dalam melaksanakan tugasnya, para auditor harus memperhatikan
kepentingan pihak-pihak yang mempunyai kepentingan terhadap laporan
keuangan klien. Pada hal ini pihak ketiga yaitu masyarakat sebagai pengguna
laporan keuangan. Oleh sebab itu seorang auditor dapat menjadi penengah
diantara kepentingan para pengguna laporan keuangan. Seorang auditor
dituntut memiliki sikap yang objektif dalam menilai serta harus selalu menjaga
sikap independensinya.
Akuntan publik dalam menjalankan profesi diatur oleh suatu kode
etik akuntan publik yang merupakan tatanan etika dan prinsip moral yang
memberikan pedoman untuk berhubungan dengan klien, sesama anggota
profesi dan dengan masyarakat. Dengan berpegang pada kode etik, akuntan
publik dapat memberikan keyakinan kepada klien, pemakai laporan keuangan
atau masyarakat tentang kualitas jasa yang diberikan karena melalui
serangkaian pertimbangan etika sebagaimana diatur dalam kode etik. Namun
demikian, dalam menjalankan profesinya akuntan publik sering kali mengalami
dilema etis, karena harus memahami keinginan klien yang membayar fee untuk
pekerjaan profesional yang telah diberikan dan menghadapi tuntutan
masyarakat untuk memberikan laporan yang dapat diandalkan. Adanya dilema
etis ini menyebabkan terjadiya situasi konflik audit (Intiyas, dkk 2007).
Kemudian setelah terbongkarnya kasus Enron Corp pada sepuluh
tahun yang lalu para akuntan publik mendapat sorotan yang tajam oleh
masyarakat dunia. Hal ini dikarenakan Enron merupakan salah satu perusahaan
3
laporan keuangan secara bertahun-tahun. Sejak terbongkarnya kasus Enron
tersebut, profesi akuntan publik mendapat sorotan dan mengakibatkan
kepercayaan terhadap independensi akuntan publik menurun. Akuntan publik
yang seharusnya menjadi penghubung kepentingan antara klien dengan
masyarakat dinilai tidak dapat bersikap objektif. Sehingga merugikan salah
satu pihak pengguna laporan keuangan.
Tsui dan Gul (1996) dalam Intiyas, dkk (2007) meneliti mengenai
perilaku auditor dalam situasi konflik audit dangan melihat pengaruh locus of
control dan kesadaran etis, yang menyatakan bahwa locus of control dapat
berinteraksi dengan kesadaran etis untuk mempengaruhi perilaku auditor dalam
dilema etis. Sedangkan Muawanah dan Indriantoro (2001) menyimpulkan
bahwa interaksi locus of control dan kesadaran etis mempengaruhi perilaku
auditor dalam konflik audit, pengaruh locus of control terhadap respon auditor
dalam situasi konflik audit adalah nonmonotonic sepanjang kisaran kesadaran
etis dan ada simetris yang diharapkan.
Rotter (1966) dalam Asih (2006) mengatakan bahwa manusia pada
dasarnya memiliki dua locus of control, yaitu internal dan external locus of
control. Perbedaan antara locus of control internal dan locus of control
eksternal adalah pada pengendalian diri meraka masing-masing. Sebagai
contoh seorang auditor yang memiliki locus of control external lebih
cenderung akan menerima tekanan dari klien dibandingkan dengan auditor
yang memiliki locus of control internal. Semakin tinggi tingkat kesadaran etis
4
sehingga perilakunya akan semakin etis, sedangkan semakin rendah tingkat
kesadaran etis yang dimiliki oleh auditor maka locus of control yang dimiliki
semakin eksternal sehingga perilakunya kurang etis (Wati, 2009).
Dalam penugasan yang dilakukan atas klien, akuntan publik seringkali
dihadapkan pada dilema etis yang menyebabkan terjadinya konflik audit. Locus
of control membantu akuntan publik untuk menghadapi lingkungan kerja dan
menyelesaikan suatu pekerjaan (Millet, 2005) dalam Intiyas, dkk (2007).
Dalam literatur akuntansi, locus of control adalah cara pandang seseorang
terhadap suatuperistiwa apakah dia dapat atau tidak dapat mengendalikan
(control) peristiwa yang terjadi pada dirinya Rotter (1966) dalam Muawanah
dan Indriantoro (2001).
Dalam literatur psikologi dan auditing menunjukkan bahwa efek dilusi
dalam auditing bisa berkurang oleh auditor yang berpengalaman karena
struktur pengetahuan yang baik dari auditor yang berpengalaman menyebabkan
mereka mengabaikan informasi yang tidak relevan Sandra (1999) dalam
Herliansyah dan Ilyas (2006). Dengan kata lain kompleksitas tugas yang
dihadapi sebelumnya oleh seorang auditor akan menambah pengalaman serta
pengetahuannya. Pendapat ini didukung oleh Abdolmohammadi dan Wright
(1987) dalam Herliansyah dan Ilyas (2006) yang menunjukkan bahwa auditor
yang tidak berpengalaman mempunyai tingkat kesalahan yang lebih signifikan
dibandingkan dengan auditor yang lebih berpengalaman.
Pengalaman yang lebih akan menghasilkan pengetahuan yang lebih.
5
akan memberikan hasil yang lebih baik daripada mereka yang tidak
mempunyai pengetahuan yang cukup dalam tugasnya. Auditor yang
berpengalaman akan membuat judgement yang relatif lebih baik dalam
tugas-tugas profesionalnya, daripada auditor yang kurang berpengalaman (Gusti dan
Syahril (2008). Auditor yang berpengalaman akan cenderung lebih berhati-hati
dalam mengambil keputusan sehingga keputusan tersebut tidak membuahkan
hasil yang keliru. Pengalaman langsung masa lalu akan menentukan dan
mengarahkan seseorang dalam tiap perilakunya.
Boner dan Walker (1994) dalam Herliansyah dan Ilyas (2006),
mengatakan bahwa peningkatan pengetahuan yang muncul dari pelatihan
formal sama bagusnya dengan yang didapat dari pengalaman khusus.
Pengalaman akuntan publik akan membantu akuntan publik dalam menghadapi
masalah yang ada. Oleh karena itu pengalaman kerja telah dipandang sebagai
suatu faktor penting dalam memprediksi kinerja akuntan publik, sehingga
pengalaman dimasukkan sebagai salah satu persyaratan dalam memperoleh ijin
menjadi akuntan publik.
Komitmen profesional digunakan sebagai panduan pemahaman
nilai-nilai dan norma untuk mengevaluasi sikap akuntan publik dalam menghadapi
suatu pekerjaan. Pengalaman audit membantu akuntan publik dalam menyadari
kejadian-kejadian yang tidak sesuai dengan bukti-bukti yang ada. Kesadaran
etis membantu akuntan publik untuk bertanggung jawab dan memihak pada
kepentingan masyarakat. Faktor-faktor tersebut membantu akuntan publik
6
Profesi akuntan publik bisa dikatakan merupakan salah satu profesi
kunci di era globalisasi untuk mewujudkan era tranpanrasi bisnis yang fair,
oleh karena itu kesiapan yang menyangkut profesionalisme mutlak diperlukan.
Profesionalisme mensyaratkan tiga hal utama yang harus dipunyai oleh setiap
anggota profesi, yaitu keahlian, berpengetahuan dan berkarakter. Karakter
menunjukkan personality seorang profesional yang diantaranya diwujudkan
dalam sikap dan tindakan etisnya. Sikap dan tindakan etis akuntan publik, akan
sangat menentukan posisinya di masyarakat pemakai jasa profesionalnya.
Profesionalisme juga menjadi syarat utama bagi seseorang yang ingin
menjadi seorang auditor eksternal. Sebab dengan profesionalisme yang tinggi
kebebasan auditor akan semakin terjamin. Untuk menjalankan perannya yang
menuntut tanggung jawab yang semakin luas, auditor eksternal harus memiliki
wawasan yang luas tentang kompleksitas organisasi modern. Komitmen
profesional yang tinggi pada diri seorang auditor dalam melaksanakan
tugasnya, maka dapat mendorong adanya iklim kerja yang mendukung auditor
untuk mencapai prestasi yang nantinya dapat menciptakan kepuasan kerja
auditor itu sendiri (Wijayanti 2007).
Menurut Intiyas, dkk (2007) untuk mengetahui perilaku akuntan
publik dalam menghadapi situasi konflik audit, perlu pemahaman beberapa
faktor diantaranya locus of control, komitmen profesional dan kesadaran etis.
Interaksi antara locus of control, komitmen profesional dan kesadaran etis akan
menunjukkan pengaruhnya terhadap akuntan publik dalam situasi konflik
7
Salah satu hal penting dalam mewujudkan profesionalisme adalah
kepribadian. Penelitian ini didesain untuk memahami hubungan kepribadian
dengan respon auditor terhadap dilema etika. Ponemon dan Gabhart (1990)
dalam Purnamasari (2006) menemukan bahwa proses kognitif etika auditor
akan mempengaruhi independensi auditor. Independensi merupakan isu yang
menarik karena dalam menghadapi konflik independensi auditor perlu untuk
mempertimbangkan aturan yang eksplisit, standar audit dan kode etik
profesional. Literatur psikologi memberikan pemahaman cara seorang individu
memproses aturan-aturan tersebut dalam membuat judgement.
Richmond (2003) dalam Purnamasari (2006) menemukan bukti bahwa
kepribadian individu mempengaruhi perilaku etis. Richmond mengivestigasi
hubungan paham Machiavellianisme yang membentuk suatu tipe kepribadian
yang disebut sifat Machiavellian serta pertimbangan etis dengan
kecenderungan perilaku individu dalam menghadapi dilema-dilema etika
(perilaku etis). Hasil penelitian ini, pertama menunjukkan bahwa semakin
tinggi kecenderungan sifat Machiavellian seseorang maka semakin mungkin
untuk berperilaku tidak etis. Kedua, semakin tinggi level pertimbangan etis
seseorang, maka dia akan semakin berperilaku etis.
Pertimbangan etis dan sifat Machiavellian ini juga diindikasikan
berpengaruh secara langsung terhadap independensi auditor. Individu dengan
sifat Machiavellian tinggi cenderung memanfaatkan situasi untuk mendapatkan
keuntungan pribadi dan lebih memiliki keinginan untuk tidak taat pada aturan
8
pada aturan etika yang mengharuskannya bersikap independen, maka ketika
seorang auditor memiliki kecenderungan sifat Machiavellian tinggi semakin
mungkin untuk bertindak tidak independen. Level pertimbangan etis juga
berpengaruh terhadap independensi.
Beberapa peneliti telah menemukan bahwa perilaku etis dipengaruhi
oleh pihak lain yang dihadapi oleh seorang individu dalam lingkungan
profesinya tanpa memperhatikan kesesuaian perilakunya dengan kode etik
profesinya. Tingkat pengaruh itu mungkin disebabkan oleh jauh dekatnya
hubungan antara organisasi dan pihak lain yang berkaitan serta pihak yang
berkuasa baik dari dalam maupun dari luar organisasi. Misalnya pemerintah,
kantor akuntan lain, dan sebagainya.
Forsyth (1980) dalam Aziza dan Andi (2008) berpendapat bahwa
orientasi etika digerakkan oleh dua karakteristik yaitu idealisme dan
relativisme. Idealisme berhubungan dengan tingkat dimana individual percaya
bahwa konsekuensi yang diinginkan (konsekuensi positif) tanpa melanggar
kaidah moral. Sikap idealis juga diartikan sebagai sikap tidak memihak dan
terhindar dari berbagai kepentingan. Seorang akuntan yang tidak bersikap
idealis hanya mementingkan dirinya sendiri agar mendapat fee yang tinggi
dengan meninggalkan sikap independensi.
Dalam menjalankan profesinya sebagai auditor, seorang akuntan diatur
oleh suatu Kode Etik Akuntan (IAPI, 2010). Dimana dalam pasal 1 ayat (2)
Kode Etik Akuntan Indonesia mengamanatkan bahwa setiap anggota harus
9
Mempertahankan integritas, ia akan bertindak jujur, tegas, dan tanpa pretensi,
sedangkan dengan mempertahankan obyektivitas, ia akan bertindak adil tanpa
dipengaruhi tekanan atau permintaan pihak tertentu atau kepentingan
pribadinya. Dengan mempertahankan integritas dan obyektivitas, ia akan
bertindak adil, tanpa dipengaruhi oleh tekanan atau permintaan pihak tertentu
atau kepentingan pribadinya. Sehingga dengan adanya kode etik, masyarakat
akan dapat menilai sejauh mana seorang auditor telah bekerja sesuai dengan
standar-standar etika yang telah ditetapkan oleh profesinya.
Penelitian ini merupakan perkembangan dari hasil penelitian yang
dilakukan oleh Intiyas, dkk (2007). Perbedaan antara penelitian ini dengan
penelitian terdahulu adalah terdapat pada variabel independent. Penelitian saat
ini menambahkan variabel etika profesional dengan objeknya adalah kantor
akuntan publik yang berada di Jakarta.
Oleh karena itu, peneliti termotivasi untuk melakukan penelitian ini
karena cukup penting untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang
mempengaruhi perilaku auditor dalam situasi konflik audit. Selain itu juga,
peneliti ingin mengetahui seberapa besar pengaruh variabel independen
mempengaruhi variabel dependen. Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti
melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Locus of Control,
Pengalaman Auditor, Komitmen Profesional dan Etika Profesional
10 B. Perumusan Masalah
Masalah yang akan di bahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah locus of control berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku
auditor dalam situasi konflik audit?
2. Apakah pengalaman auditor berpengaruh secara signifikan terhadap
perilaku auditor pada situasi konflik audit?
3. Apakah komitmen profesional berpengaruh secara signifikan terhadap
perilaku auditor dalam situasi konflik audit?
4. Apakah etika profesional berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku
auditor dalam situasi konflik audit?
5. Apakah locus of control, pengalaman, komitmen profesional dan etika
profesional berpengaruh secara simultan dan signifikan terhadap perilaku
auditor dalam situasi konflik audit?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian ini untuk menemukan bukti empiris atas hal-hal
sebagai berikut:
1. Untuk menganalisis pengaruh locus of control terhadap perilaku auditor
dalam situasi konflik audit.
2. Untuk menganalisis pengaruh pengalaman terhadap perilaku auditor dalam
situasi konflik audit.
3. Untuk menganalisis pengaruh komitmen profesional terhadap perilaku
11
4. Untuk menganalisis pengaruh etika profesional terhadap perilaku auditor
dalam situasi konflik audit.
5. Untuk menganalisis pengaruh locus of control, pengalaman, komitmen
profesional dan etika profesional secara simultan terhadap perilaku
auditor dalam situasi konflik audit.
Berdasarkan tujuan penelitian diatas, maka penelitian ini diharapkan
dapat memberikan manfaat bagi:
1. Auditor dan Kantor Akuntan Publik (KAP), sebagai pertimbangan bagi
auditor eksternal untuk dapat bersikap dan menjadi referensi auditor dalam
mengambil keputusan pada saat situasi konflik audit.
2. Akademisi, diharapkan sebagai acuan dalam pembentukan calon akuntan
dalam situasi konflik audit, pengendalian diri, serta etika professional yang
kelak akan dihadapi di masa yang akan datang.
3. Pengguna jasa audit, agar dapat memahami perilaku profesional dan etika
berprofesi auditor, terutama yang akan berkaitan dengan proses
pengambilan keputusan dalam situasi konflik audit, serta dapat
mengetahui komitmen dan etika profesional dalam menghadapi situasi
konflik audit.
4. Masyarakat, sebagai sarana informasi tentang perilaku auditor eksternal
serta dapat menambah wawasan pada bidang akuntansi khususnya
12
5. Peneliti, yaitu guna memperluas wawasan dan menambah ilmu serta
referensi mengenai auditor serta memperoleh dan menjalankan ilmu yang
13 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Locus of Control
Konsep locus of control pertama kali ditemukan oleh rotter (1966),
seorang ahli teori pembelajaran sosial. Locus of control didefinisikan
MacDonald dalam Intyas, dkk (2007) sejauh mana seseorang merasakan
hubungan kontijensi antara tindakan dan hasil yang mereka peroleh. Konsep
locus of control terutama didasarkan pada teori pembelajaran sosial (social
learning theory) (Reiss dan Mitra, 1998) dalam Intiyas, dkk (2007), teori
tersebut menyatakan bahwa pilihan dibuat oleh individu dari berbagai macam
perilaku potensial yang tersedia untuk mereka. Rotter, (1996) dalam Intiyas,
dkk (2007) menyatakan perilaku auditor dalam situasi konflik akan
dipengaruhi oleh karakter locus of control-nya.
Locus of control menurut Hjele dan Ziegler, 1981; Baron dan Byrne,
(1994) dalam Wati (2009) diartikan sebagai persepsi seseorang tentang
sebab-sebab keberhasilan atau kegagalan dalam melaksanakan pekerjaannya.
Seseorang yang percaya bahwa mereka memiliki pengendalian atas takdir
mereka disebut internal yang percaya bahwa pengendalian terletak dalam diri
mereka sendiri. Menurut Rotter (1966) dalam Wati (2009) locus of control
merupakan suatu keyakinan dalam diri individu yang merupakan pusat kendali
dan pusat pengarahan dari semua perilaku dalam semua dimensinya yang
14
Perilaku auditor sangat dipengaruhi oleh karakteristik locus of
controlnya. Menurut Wati (2009) locus of control merupakan suatu kontinum,
karena itu kontrol terletak pada suatu titik sepanjang kontinum itu. Oleh karena
itu, maka seseorang hanya dapat dikatakan cenderung internal atau eksternal.
Seseorang yang cenderung internal tetap memiliki eksternal, hanya saja
kecenderungan internalnya lebih besar dari pada kecenderungan eksternal
begitu pula sebaliknya. Dalam literature akuntansi, locus of control adalah cara
pandang seseorang terhadap suatu peristiwa apakah dia dapat atau tidak dapat
mengendalikan (control) peristiwa yang terjadi pada dirinya. Rotter (1966)
dalam Muawanah dan Indriantoro (2001).
Locus of control adalah sesuatu yang ada pada diri manusia yang
dapat dikendalikan oleh manusia untuk menentukan segala keputusan dan
pemikiran. Jadi locus of control merupakan bagian psikologis dari manusia
yang tumbuh dan berkembang menumbuhkan pemikiran sejauh apa yang
mereka kerjakan dan mereka peroleh hasilnya.
Reiss dan Mitra (1998) dalam Intiyas, dkk (2007) membagi locus of
control menjadi dua, yaitu internal locus of control adalah cara pandang bahwa
segala hasil yang didapat, baik atau buruk adalah karena tindakan, kapasitas
dan faktor-faktor dari dalam diri mereka sendiri serta external locus of control
adalah cara pandang dimana segala hasil yang didapat, baik atau buruk berada
diluar kontrol diri mereka tetapi karena faktor luar seperti keberuntungan,
kesempatan, dan takdir. Manusia dalam melaksanakan berbagai kegiatan dalam
15
eksternal yang ada di dalam diri dan di lingkungan sekitar manusia (Sarita dan
Agustia 2009). Dari pembagian locus of control di atas seorang auditor yang
memliki internal locus of control dapat merespon segala kejadian dengan baik
sehingga lebih dapat mengendalikan diri dalam situasi konflik audit.
Pada Muawanah dan Indriantoro (2001) individu dengan internal
locus of control akan lebih mungkin berperilaku etis dalam situasi konflik audit
dibandingkan dengan individu dengan eksternal locus of control. Individu
dengan eksternal locus of control merasa kurang puas dengan jabatan mereka,
sebaliknya individu dengan internal locus of control menganggap hasil-hasil
organisasi berasal dari tindakan mereka sendiri. Dalam Intiyas, dkk (2007)
perasaan tidak puas individu dengan externallocus of control dapat disebabkan
karena menganggap dirinya memiliki sedikit control atas hasil-hasil organisasi
daripada individu internal, dedangkan individu internal locus of control
menganggap hasil-hasil organisasi berasal dari tindakannya, karena merasa
aktif mencari informasi sebelum mengambil keputusan lebih termotivasi dalam
berprestasi dan melakukan usaha lebih besar dalam mengendalikan lingkungan
mereka. Kustini dan Fendy (2004) orang-orang yang mempunyai dan termasuk
dalam internal locus of control mempunyai persepsi bahwa apa yang terjadi
pada diri mereka bergantung pada apa yang telah dilakukan oleh diri mereka
sendiri.
Zaroh (2000) dalam Wati (2009) Seseorang yang memiliki internal
locus of control memiliki sifat mandiri, tekun, kuat serta punya daya yang kuat
16
mempunyai sifat mudah cemas, depresi dan neurosis, besar kemungkinannya
mengalami frustasi karena mudah tertekan dan kurang berhasil. Teori locus of
control menggolongkan individu apakah termasuk dalam locus internal atau
eksternal. Rotter (1990) dalam ( Kartika dan Provita , 2007) menyatakan
bahwa locus of control baik internal maupun eksternal merupakan tingkatan
dimana seorang individu berharap bahwa reinfocement atau hasil dari perilaku
mereka tergantung pada perilaku mereka sendiri atau karakteristik personal
mereka. Mereka yang yakin dapat mengendalikan tujuan mereka dikatakan
memiliki internal locus of control, sedangkan yang memandang hidup mereka
dikendalikan oleh kekuatan pihak luar disebut memiliki external locus of
control (Robbins, 1996) dalam (Kartika dan Provita, 2007).
Aktivitas individu sebagai respon terhadap faktor-faktor internal dan
eksternal tersebut dikontrol oleh faktor locus of control. Locus of control baik
internal maupun eksternal bukanlah merupakan suatu konsep tipologi,
melainkan merupakan pengaruh atau sumbangan berbagai faktor lingkungan.
Artinya locus of control bukan berasal sejak lahir melainkan timbul dalam
proses pembentukannya yang berhubungan dengan faktor-faktor lingkungan,
sehingga tidak ada orang yang hanya memiliki kontrol internal saja ataupun
kontrol eksternal saja (Sarita, Agustia 2009).
Menurut Yuke, dkk (2005) dalam konteks audit, manipulasi atau
ketidakjujuran pada akhirnya akan menimbulkan penyimpangan perilaku dalan
audit. Hasil dari perilaku ini adalah penurunan kualitas audit yang dapat dilihat
17
lingkungan kerja audit. Hal ini menghasilkan dugaan bahwa makin tinggi lokus
kendali eksternal individu, semakin mungkin mereka menerima penyimpangan
perilaku dalam audit.
Locus of control berperan dalam motivasi, locus of control yang
berbeda bias mencerminkan motivasi yang berbeda dan kinerja yang berbeda.
Internal akan cenderung lebih sukses dalam karier dari pada eksternal, mereka
cenderung mempunyai level kerja yang lebih tinggi, promosi yang lebih cepat
dan mendapatkan uang yang lebih. Sebagai tambahan, internal dilaporkan
memiliki kepuasan yang lebih tinggi dengan pekerjaan mereka dan terlihat
lebih mampu menahan stres daripada eksternal (Baron & Greenberg, 1990
dalam Kartika dan Provita, 2007).
B. Pengalaman Auditor
Proporsi tentang pertimbangan profesional dalam akuntansi
menunjukkan bahwa pengalaman memunculkan suatu struktur pengetahuan
yang sistematik dan abstrak, yang diperoleh dalam memori lama. Struktur
pengetahuan memberikan suatu petunjuk bagi proses pertimbangan dan respon
terhadap situasi yang timbul dalam proses audit. Tsul dan Gul (1996) dalam
Intiyas, dkk (2007) dengan pengalaman kerja dalam kurun waktu empat tahun,
maka akuntan publik dianggap telah berpengalaman untuk menghadapi konflik
audit.
Libby dan Frederick (1990) dalam Intiyas, dkk (2007) menemukan
18
menghasilkan berbagai macam dugaan dalam menjelaskan temuan audit.
Dalam hal pengalaman, penelitian di bidang psikologis yang telah dikutip oleh
Jeffrey dan Weatherholt (1996) dalam Intiyas,dkk (2007) memperlihatkan
bahwa seseorang yang banyak pengalaman dalam suatu bidang substantif
memiliki lebih banyak hal yang tersimpan dalam ingatannya dan dapat
mengembankan suatu pemahaman yang baik mengenai peristiwa-peristiwa
tersebut. Pengalaman langsung dari pengalaman masa lalu akan menentukan
dan mengarahkan seseorang dalam setiap perilakunya.
Pengalaman merupakan suatu hal yang diperoleh dari sebuah kejadian
yang sudah dilalui. Bagi seorang auditor pengalaman adalah banyaknya tugas
dan jam kerja yang sudah dijalani sebagai seorang auditor. Pengalaman bagi
seorang auditor sangat mendukung dalam membantu mengatasi persoalan dan
membuat keputusan.
Pengalaman sebagai salah satu variabel yang banyak digunakan dalam
berbagai penelitian. Herliansyah dan Ilyas (2006) menyatakan bahwa secara
spesifik pengalaman dapat diukur dengan rentang waktu yang telah digunakan
terhadap suatu pekerjaan atau tugas (job). Penggunaan pengalaman didasarkan
pada asumsi bahwa tugas yang dilakukan secara berulang-ulang memberikan
peluang untuk belajar melakukannya dengan yang terbaik. Lebih jauh dalam
risetnya menunjukkan bagaimana pengalaman dapat digunakan untuk
meningkatkan kinerja pengambilan keputusan. Namun dilain pihak beberapa
19
(1991) dalam Herliansyah danb Ilyas (2006) sering sekali dalam keputusan
akuntansi dan audit memiliki sedikit waktu untuk dapat belajar.
Selain itu, beberapa badan menghubungkan antara pengalaman dan
profesionalitas sebagai hal yang sangat penting didalam menjalankan profesi
akuntan publik. AICPA AU section 100-110 mengkaitkan professional dan
pengalaman dalam kinerja auditor :
“The professional qualifications required of the independend auditor are those of person with the education and experience to practice as such. They do not include those of person trained for qualified to engage in another profession or accupation”.
Menurut Butts dalam Herliansyah dan Ilyas (2006) mengungkapkan
bahwa akuntan pemeriksa yang berpengalaman membuat judgment lebih baik
dalam tugas-tugas profesional ketimbang akuntan pemeriksa yang belum
berpengalaman. Hal ini dipertegas oleh Haynes et al (1998) dalam Herliansyah
dan Ilyas (2006) yang menemukan bahwa pengalaman audit yang dipunyai
auditor ikut berperan dalam menentukan pertimbangan yang diambil.
C. Komitmen Profesional
Komitmen dalam hubungan antara penyedia jasa dan klien telah
didefinisikan sebagai ikatan, baik secara implisit maupun eksplisit, atas
keberlangsungan hubungan antara pasangan dalam pertukaran, yang
berimplikasi pada keinginan masing-masing untuk menciptakan manfaat
jangka panjang (Dwyer et al., 1987) dalam (Ratmono dan Hendro 2006).
Demikian pula dengan Moorman et al. (1999) dalam Ratmono dan Hendro
20
mempertahankan hubungan nilai yang ada. Sedangkan, Anderson & Weitz
(1992) dalam Ratmono dan Hendro (2006) menjelaskan komitmen sebagai
keinginan untuk mengembangkan hubungan yang stabil dan keinginan untuk
memberikan pengorbanan jangka pendek dalam rangka memelihara hubungan
dan percaya pada stabilitas hubungan.
Komitmen profesional dapat diartikan sebagai intensitas identifikasi
dan keterlibatan individu dengan profesi tertentu. Identifikasi ini membutuhkan
beberapa tingkat kesepakatan dengan tujuan dan nilai profesi termasuk nilai
moral dan etika Modway et al., (1979) dalam Intiyas, dkk (2007) . Aranya et
al. (1981) dalam Intiyas, dkk (2007) mendefinisikan komitmen sebagai suatu
keyakinan dan penerimaan tujuan dan nilai organisasi atau profesi, kemauan
untuk memainkan upaya tertentu atas nama organisasi atau profesi, dan gairah
untuk mempertahankan keanggotaan pada organisasi atau profesi.
Komitmen profesional adalah tingkat loyalitas individu pada
profesinya seperti yang dipersepsikan oleh individu tersebut Larkin (1990),
Wibowo (1996) dalam Aziza dan Andi (2008), mengungkapkan bahwa tidak
ada hubungan antara pengalaman internal auditor dengan komitmen
profesionalisme, lama bekerja hanya mempengaruhi pandangan
profesionalisme, hubungan dengan sesama profesi, keyakinan terhadap
peraturan profesi dan pengabdian pada profesi. Hal ini disebabkan bahwa
semenjak awal tenaga profesional telah dididik untuk menjalankan tugas-tugas
yang kompleks secara independen dan memecahkan permasalahan yang timbul
21
mereka secara profesional. Sebagai suatu profesi, ciri utama auditor internal
adalah kesediaan menerima tanggung jawab terhadap kepentingan masyarakat
dan pihak-pihak yang dilayani. Agar dapat mengemban tanggung jawab ini
secara efektif, auditor perlu memelihara standar perilaku yang tinggi dan
memiliki standar praktik pelaksanaan pekerjaan yang handal.
Komitmen profesional merupakan suatu tanggung jawab, ikatan,
loyalitas, pengorbanan, keterlibatan seorang individu dalam organisasinya.
Komitmen juga menjadi acuan dalam menjalankan pekerjaan, hal ini
dikarenakan jika kita memiliki komitmen yang kuat dengan organisasi kita,
maka kita akan menjaga sikap dalam mengambil tindakan.
Komitmen profesional pada dasarnya dapat dijadikan gagasan yang
mendorong motivasi seseorang dalam bekerja. Gibson et. al (1993 : 94) dalam
Wijayanti (2008) mengutarakan bahwa motivasi adalah suatu konsep yang kita
gunakan jika kita menguraikan kekuatan-kekuatan yang bekerja terhadap atau
di dalam diri individu untuk memulai dan mengarahkan perilaku. Motivasi
juga dapat diartikan sebagai dorongan yang timbul pada diri seseorang secara
sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu
atau usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu
tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang
dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya. Meskipun
bukan satu-satunya determinan tetapi motivasi dapat dikatakan sebagai
determinan yang penting bagi prestasi seorang individu. Komitmen
22
Seorang profesional yang secara konsisten dapat bekerja secara profesional dan
dari upayanya tersebut mendapatkan penghargaan yang sesuai, tentunya akan
mendapatkan kepuasan kerja dalam dirinya. Oleh karena itu, motivasi tidak
dapat dipisahkan dengan kepuasan kerja yang seringkali merupakan harapan
seseorang (Trisnaningsih, 2004) dalam (Wijayanti 2007).
Komitmen profesional dapat diartikan sebagai identitas identifikasi
dan keterlibatan individu dengan profesi tertentu. Identifikasi ini membutuhkan
beberapa tingkat kesepakatan dengan tujuan dan nilai profesi termasuk nilai
moral dan etika (Modway et al, 1979) dalam Intiyas dan Yefta (2007).
Komitmen profesional digambarkan sebagai suatu format fokus karir pada
komitmen pekerjaan yang menekankan pentingnya suatu profesi di masa hidup
seseorang. Komitmen profesional mengacu pada kekuatan identifikasi
individual dengan profesi. Individual dengan komitmen profesional yang tinggi
dikarakterkan memiliki kepercayaan dan penerimaan yang tinggi dalam tujuan
profesi, keinginan untuk berusaha sekuatnya atas nama profesi, dan keinginan
yang kuat untuk mempertahankan keanggotaannya dalam profesi (Mowday
dkk,1979) dalam (Faisal, 2007). Secara khusus, komitmen profesi yang tinggi
seharusnya mendorong auditor ke perilaku yang sesuai dengan kepentingan
publik dan menjauh dari perilaku yang membahayakan profesi.
Menurut Lord dan DeZoort (2001) dalam Faisal (2007) auditor
dengan komitmen profesi yang tinggi akan berperilaku selaras dengan
kepentingan publik dan tidak akan merusak profesionalismenya. Sebaliknya
23
berperilaku disfungsional (misalnya mengutamakan kepentingan klien).
Dengan demikian dalam penelitian ini diprediksikan bahwa auditor dengan
komitmen profesi yang tinggi akan mempertahankan perilaku yang
menyimpang dibandingkan dengan auditor dengan komitmen profesi yang
rendah. Auditor dengan strong beliefs dan taat pada standar profesi akan
menghindari perilaku yang tidak etis seperti menghapus salah saji dari laporan
keuangan.
D. Etika Profesional
Etika secara garis besar dapat didefinisikan sebagai serangkaian
prinsip atau nilai-nilai moral (Arens, Loebbecke 2003:71). Setiap orang
memiliki rangkaian nilai tersebut, walaupun kita memperhatikan atau tidak
memperhatikannya secara eksplisit. Rasa terhadap etika mengarahkan individu
untuk menilai lebih dari kepentingan diri sendiri dan untuk mengakui maupun
menghormati kepentingan orang lain. Kode etik akuntan dapat diartikan
sebagai suatu sistem prinsip moral dan pelaksanaan aturan yang memberikan
pedoman kepada akuntan dalam berhubungan dengan klien, masyarakat dan
rekan seprofesi dan sebagai alat untuk memberikan keyakinan pada para
pengguna jasa akuntan tentang kualitas jasa yang diberikan Wati (2009).
Moralitas berfokus pada perilaku manusiawi “benar” dan “salah”.
Etika secara umum didefinisikan sebagai perangkat moral dan nilai. Dari
definisi tersebut dapat dikatakan bahwa etika berkaitan erat dengan moral dan
24
untuk berlaku jujur, adil dan tidak memihak serta mengungkapkan laporan
keuangan sesuai dengan kondisi sebenarnya. .
Etika sebagai sebuah refleksi moralitas dapat dicermati dari berbagai
dimensi, tergantung persoalan moral apa yang akan dikritisi. Terlepas dari itu
keberadaan etika dimaksudkan terutama untuk menjaga keselarasan hubungan
antar manusia (Ludigdo 2006). Akuntan publik harus menjunjung etika
profesionalnya sehingga memberikan kepercayaan publik dan mendorong
kesadaran akan tanggung jawab akuntan publik pada transparansi pelaporan.
Tanggung jawab ini tergantung pada integritas, dan integritas tergantung pada
perilaku dan kepercayaan etis ( Intiyas, dkk 2007).
Etika merupakan suatu nilai-nilai yang moral yang harus kita patuhi
bersama. Sebagai seorang auditor hendaknya kita menjaga etika kita. Sebagai
seorang yang profesional kita hendaknya mengarahkan tindakan kita pada
hal-hal yang tidak menyimpang dari etika profesional kita.
Masyarakat secara luas telah mengenal istilah kata profesional.
Seorang profesional diharapkan dapat mengarahkan dirinya pada suatu tingkat
tindakan di atas tingkat tindakan yang dilakukan oleh sebagian besar anggota
masyarakat lainnya. Seorang profesional menunjukkan tanggung jawab untuk
bertindak melebihi kepuasan yang dicapai si profesional itu sendiri atas
pelaksanaan tanggung jawab yang diembannya maupun melebihi ketentuan
yang disyaratkan oleh hukum dan peraturan yang berlaku dalam masyarakat.
Seorang akuntan publik, sebagai profesional memahami adanya tanggung
25
perilaku yang terpuji, walaupun hal tersebut dapat berarti pengorbanan diri
(Arens, et. all 2003:118)
American Institute Of Certified Public Accountants (AIPCA) menjadi
standar umum perilaku yang ideal dan menjadi peraturan khusus tentang
perilaku yang harus dilakukan kode etik ini terdiri dari empat bagian:
prinsip-prinsip, peraturan etika, interpretasi atas peraturan etika, dan kaidah etika
(Arens,et. all 2003:120).
Untuk kalangan profesional, di mana pengaturan etika dibuat untuk
menghasilkan kinerja etis yang memadai maka kemudian asosiasi profesi
merumuskan suatu kode etik. Kode etik profesi merupakan kaidah-kaidah yang
menjadi landasan bagi eksistensi profesi dan sebagai dasar terbentuknya
kepercayaan masyarakat karena dengan mematuhi kode etik, akuntan
diharapkan dapat menghasilkan kualitas kinerja yang paling baik bagi
masyarakat (Ludigo, 2006). Seorang akuntan harus dapat mematuhi standar
etika yang berlaku dalam profesinya. Apabila seorang auditor melakukan
tindakan-tindakan yang tidak etis, maka hal tersebut akan merusak kepercayaan
masyarakat terhadap profesi auditor.
Para auditor, akuntan, serta pelaku bisnis lainnya menghadapi banyak
dilema atau konflik dalam karir mereka. Dilema etika merupakan situasi yang
dihadapi oleh seorang di mana ia harus membuat keputusan tentang perilaku
seperti apa yang tepat untuk dilakukannya (Arens 2003:112). Dengan kata lain
dilema etika adalah merupakan situasi di mana kita harus mengambil
26
dalam hal ini manajemen tersebut, sehingga keputusan tersebut dapat
dipertanggung jawabkan dan tidak merugikan salah satu pihak.
E. Perilaku Auditor Dalam Situasi Konflik Audit
Trevino (1998) dalam Intiyas, dkk (2007) menyatakan bahwa tahapan
pengembangan kesadaran moral individual menentukan bagaimana seseorang
berpikir tentang dilema etis, menentukan apa yang benar dan salah. Kesadaran
atas benar dan salah tidak cukup memprediksi perilaku pengambilan keputusan
etis. Tsui dan Gul (1996) dalam Intiyas, dkk (2007) menyatakan bahwa perlu
variabel situasional dan individual lain yang dapat berinteraksi dengan
komponen kognitif (kesadaran moral) sehingga dapat menentukan bagaimana
individu akan berperilaku dalam merespon dilema etis dalam situasi konflik
audit. Akuntan publik diharuskan menjunjung etika profesional sehingga
memberikan kepercayaan publik dan mendorong kesadaran akan tanggung
jawab akuntan publik pada ketransparanan pelaporan. Tanggung jawab ini
tergantung pada integritas dan integritas tergantung pada perilaku dan
kepercayaan etis. Perilaku etis ini dipengaruhi oleh pihak lain sebagai seorang
individu dalam lingkungan profesinya tanpa memperhatikan perilaku tersebut
sesuai kode etik atau tidak, sehingga kesadaran etis tergantung dari individu.
Auditor independen adalah profesi yang rawan akan konflik
kepentingan. Baik itu kepentingan klien ataupun kepentingan pengguna jasa
keuangan lainnya. Dalam hal konflik kepentingan ini, seorang auditor
27
perilakunya sesuai dengan aturan yang ada. Klien dalam hal ini manajemen
akan mempertahankan segala sesuatunya agar dapat bertahan dalam segala
kondisi dan akan cenderung untuk menekan auditor dalam keadaan tertentu,
sedangkan para pengguna laporan keuangan lainnya ingin mendapatkan
laporan dari auditor independen yang benar dan terbebas dari manipulasi yang
dapat merugikan mereka. Perbedaan kepentingan dapat menimbulkan konflik
antara manajemen sebagai pembuat dan penyaji laporan keuangan dengan para
pemakai laporan keuangan dimana auditor menjadi pihak penengah.
Manajemen mempunyai kepentingan untuk mempertahankan jabatannya. Para
pemakai laporan keuangan mengharapkan kepastian dari auditor independen
bahwa laporan keuangan bebas dari pengaruh konflik kepentingan terutama
kepentingan manajemen (Abdul Halim, 2001:48).
Menurut Robin (1994) dalam Hariri dan Maslichah (2006) konflik
adalah perilaku organisasi yang dicurahkan untuk beroposisi terhadap anggota
lain. Situasi konflik adalah situasi yang terjadi apabila kepentingan kita sebagai
auditor terbentur dengan keinginan klien atau pihak lain yang membutuhkan
hasil pekerjaan kita. Sebagai seoorang auditor sering kali mendapat tekanan
dari berbagai pihak. Hal ini berawal dari salah satu pihak yang berkepentingan
merasa dirugikan dan ada pihak lain yang mengambil keuntungan dari kerugian
salah satu pihak.
Konflik kepentingan merupakan situasi yang dapat merusak
pertimbangan akuntan publik. Konflik kepentingan terbagi menjadi 2 jenis
28
a. Real Conflict, adalah konflik yang mempunyai pengaruh pada
judgementproblem yang ada.
b. Potential Conflict, adalah konflik yang mempengaruhi judgement
dimasa mendatang.
Auditor dihadapkan oleh potensial konflik peran maupun
ketidakjelasan peran dalam melaksanakan tugasnya. Konflik peran muncul
karena adanya ketidaksesuaian antara pengharapan yang disampaikan pada
individual di dalam organisasi dengan orang lain di dalam dan di luar
organisasi (Tsai dan Shis, 2005) dalam (Zaenal, dkk 2007), sedangkan
ketidakjelasan peran muncul karena tidak cukupnya informasi yang diperlukan
untuk menyelesaikan tugas-tugas atau pekerjaan yang diberikan dengan cara
yang memuaskan (Peterson dan Smith, 1995) dalam (Zaenal dkk 2007).
Kondisi ini terjadi karena kadangkala klien juga meminta layanan lain yang
dimaksudkan untuk meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. Di sini timbul
konflik antara tugas yang diemban oleh KAP dan permintaan yang
disampaikan klien sehingga mempengaruhi kinerja auditor. Penelitian pada
auditor Korea menunjukkan bahwa tekanan ekonomi membuat auditor tidak
terlalu memperhatikan konflik peran agar dapat memperoleh klien dan
kadang-kadang mereka mengorbankan etika profesional sehingga dalam bekerja
29 F. Keterkaitan Antara Variabel
1. Locus of Control dengan Perilaku Auditor dalam Situasi Konflik
Locus of control merupakan salah satu variabel individu yang
diduga dapat digunakan untuk memprediksi perilaku atau tindakan yang
dilakukan seorang individu. Tsui dan Gul (1996) melakukan penelitian
bahwa locus of control dapat berinteraksi dengan kesadaran etis untuk
mempengaruhi perilaku dalam konflik audit, dan hasilnya signifikan bahwa
interaksi antara kesadaran etis dan locus of control sebagai variabel
independen mempengaruhi auditor dalam situsi konflik audit dengan
perbandingan terbalik. Muawanah dan Indriantoro (2001) meneliti interaksi
locus of control dan kesadaran etis terhadap perilaku auditor dalam konflik
audit, dan hasilnya menunjukkan bahwa locus of control terhadap respon
auditor dalam konflik audit tergantung pada tingkat kesadaran etis.
Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Intiyas,
dkk (2007) yang menyatakan bahwa locus of control mempengaruhi
perilaku akuntan publik pada situasi konflik audit. Locus of control
berpengaruh terhadap respon akuntan publik dalam situasi konflik audit.
Jadi, semakin tinggi nilai locus of control pada diri akuntan publik
menyebabkan respon yang tinggi dalam menghadapi situasi konflik audit.
Sehingga auditor cenderung menerima tekanan dari klien.
Seorang auditor yang memiliki locus of control internal akan lebih
bisa bersifat independen daripada auditor yang memiliki locus of control
30
menjelaskan bahwa orang yang memiliki locus of control internal akan
merasa bertanggung jawab atas apa saja yang sudah dilakukannya dan
terjadi dalam hidupnya. Keberhasilan dan kesuksesan ditentukan oleh usaha
dan kemampuannya sendiri.
2. Pengalaman Auditor dengan Perilaku Auditor dalam Situasi Konflik
Intiyas, dkk (2007) memaparkan bahwa pengalaman berdasarkan
kurun waktu empat tahun kerja, karena dalam kurun waktu tersebut auditor
dianggap telah berpengalaman dalam situasi konflik audit. Herliansyah dan
Ilyas (2006) menyatakan dalam risetnya bahwa pengalaman dapat
digunakan untuk meningkatkan kinerja dalam pengambilan keputusan.
Tubbs (1992) dalam Suartana (2008) menunjukkan bahwa ketika
auditor menjadi lebih berpengalaman, maka: (1) auditor menjadi sadar
terhadap kekeliruan, (2) auditor memiliki salah pengertian yang lebih sedikit
tentang kekeliruan, dan (3) auditor menjadi sadar mengenai kekeliruan
yang tidak lazim. Davis (1996) dalam Suartana (2008) menyatakan bahwa
auditor yang berpengalaman juga memperlihatkan tingkat selektif yang
lebih tinggi terhadap bukti yang relevan. Auditor yang berpengalaman
mempunyai kemampuan untuk menentukan apakah kekeliruan-kekeliruan
tertentu terjadi dalam siklus tertentu. Menurut hasil penelitian Intiyas, dkk
(2007) pengalaman tidak mempunyai pengaruh terhadap perilaku auditor
dalam menghadapi situasi konflik audit. Karena dalam penelitian mereka
31 3. Komitmen Profesional dengan Perilaku Auditor dalam Situasi Konflik
Muwanah dan Indriantoro (2001) menelaah empiris pengambilan
keputusan etis dengan pernyataan bahwa salah satu determinan penting
perilaku pengambilan keputusan etis adalak faktor-faktor yang unik yang
berhubungan dengan individu pembuat keputusan. Faktor-faktor tersebut
meliputi variabel-variabel yang merupakan ciri pembawaan lahir dan
variabel yang merupakan hasil dari proses sosialisasi dan pengembangan
manusia. Komitmen profesional ini dapat digunakan sebagai faktor yang
mempengaruhi perilaku akuntan publik.
Jeffrey dan Weatherholt (1996) dalam Intyas, dkk (2007) menguji
hubungan antara komitmen profesi, pemahaman etika, dan sikap ketaatan
pada peraturan. Hasilnya menunjukkan bahwa akuntan publik dengan
komitmen profesional yang kuat perilakunya lebih mengarah pada aturan
dibanding dengan akuntan publik yang komitmennya rendah.
Muawanah dan Indriantoro (2001) menguji hubungan antara
komitmen profesi terhadap respon dalam konflik audit. Hasilnya,
menunjukkan bahwa interaksi komitmen profesi adalah signifikan. Berarti
komitmen profesi dapat mempengaruhi perilaku akuntan publik dalam
menghadapi situasi konflik audit. Akuntan publik juga harus memiliki
perasaan terikat dan kepercayaan yang kuat dengan tujuan profesi yang
mereka jalankan. Dengan demikian akan memiliki komitmen profesional
32 4. Etika Profesional dengan Perilaku Auditor dalam Situasi Konflik
Bertens (2000) dalam Hariri dan Maslichah (2006) mengatakan
bahwa etika sebagai refleksi pemikiran moral, kita harus berfikir tentang apa
yang dilakukan dan khususnya tentang apa yang harus dilakukan atau tidak
boleh dilakukan. Masalah etika sering dihadapi dalam profesi akuntansi. Hal
ini dikarenakan terdapat dua pihak sekaligus yang harus terlayani dengan
baik. Yaitu, klien kita dan masyarakat pengguna laporan keuangan.
Penelitian yang dilakukan oleh Muawanah dan Indriantoro (2001)
etika berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku auditor eksternal
dalam situasi konflik audit. Kemampuan individu ubtuk mengevaluasi dan
menganalisis nilai-nilai etika semakin tinggi semakin tinggi pula kesadaran
etisnya maka perilaku auditor eksternal dalam situasi konflik audit dalam
menerima tekanan dari klien semakin rendah.
Ketika dihadapkan pada situasi konflik, auditor diharapkan tetap
bisa menjaga independensinya yang merupakan salah satu etika profesional
mereka. Muawanah (2002) menguji tentang pengaruh kesadaran etis yang
diinteraksikan dengan komitmen profesional terhadap independensi akuntan
publik dan hasinya adalah signifikan. Hal ini didukung oleh penelitian yang
dilakukan oleh Anwar (2005) yang menyatakan bahwa semakin tinggi
tingkat kesadaran etis auditor memahami etika profesionalnya maka
semakin rendah pula respon auditor dalam menerima tekanan klien sehingga
auditor menjadi lebih independen. Begitu pula sebaliknya semakin rendah
33
tinggi tingkat respon auditor dalam menerima tekanan klien sehingga
auditor cenderung tidak bersikap independen.
G. Penelitian Terdahulu
No Judul Variabel Analisa Hasil
1. Analisis
Pengaruh
Locus of Control, Orientasi Tujuan Pembelajaran dan Lingkungan Kerja Terhadap
Self Efficacy
Transfer Pelatihan
Kustini, Fendy Suharyadi (2004)
Locus of control (X1), Orientasi Tujuan Pembelajaran (X2) Karakteristik Lingkungan Kerja (X3)
Self Efficacy
(Z intervening) Transfer Pelatihan (Y)
Regresi Berganda
Bahwa locus of control,
Orientasi Tujuan
pembelajaran, karakteistik
lingkungan kerja
memberikan pengaruh
yang signifikan terhadap transfer pelatihan apabila
individu memiliki self
efficacy yang tinggi.
2. Locus of control dan Penerimaan perilaku disfungsional audit BPKP di
Jawa Tengah
dan DIY
Indri Kartika
dan Provita
Wijayanti (2007)
Locus of control (variabel eksogen) Kinerja pegawai (variabel Endogen) Partial Least Square (PLS)
Locus of control
berpengaruh positif
terhadap penerimaan
perilaku disfungsinal.
Locus of control
berhubungan negative
terhadap kinerja pegawai.
Locus of control sebagai
anteseden hubungan
kinerja pegawai
penerimaan disfungsional audit.
34
Penelitian Terdahulu (lanjutan)
Bersambung halaman selanjutnya
No Judul Variabel Analisa Hasil
3. Situasi Konfil
Audit Akuntan Publik
Pendekatan
Dari Aspek
Keprilakuan
Intiyas Utami,