• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan antara citra tubuh dengan keterlibatan konsumen wanita terhadap obat pelangsing

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Hubungan antara citra tubuh dengan keterlibatan konsumen wanita terhadap obat pelangsing"

Copied!
125
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN ANTARA CITRA TUBUH

DENGAN KETERLIBATAN KONSUMEN

WANITA TERHADAP OBAT PELANGSING

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Psikologi untuk Memenuhi Persyaratan

memperoleh

gelar Sarjana Psikologi

•••

111

ijitcrin.

• 1::ri . ⦅LNNLセセMN@

t GGGOヲBBセBGBGB@ I

l

. gl, ;

1.::i.. ..

セ@

..

v.:b:·;."'i)'iA"''"'''''""

'0. Inuuk ,

.R.l0 _

I' ... :J. ...

t-··

Oleh , ,

LLᄋセゥ@ . • ...

,,k,;,, ..

f\,.L.Q

セ@

-· t;h.1 {:is1 :

...

,...-DIAN EKA PRATIWI

105070002275

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

HUBUNGAN ANT ARA CITRA TUBUH DENGAN

KETERLIBATAN KONSUMEN WANITA TERHADAP

OBAT PELANGSING

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

untuk memenuhi persyaratan

memperoleh gelar Sarjana Psikologi

Pembimbing I

Oleh:

DIAN EKA PRATIWI

NIM. 105070002275

Di Bawah Bimbingan

o ..

セセmNウ[@

NIP. 1956 1223 1983 032001

FAKUL TAS PSIKOLOGI

Pembimbing II

UNIVERSITAS !SLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(3)

PENGESAHAN PANITIA UJIAN

Skripsi yang berjudul HUBUNGAN ANTARA CITRA TUBUH DENGAN

KETERLIBATAN KONSUMEN WANITA TERHADAP OBAT PELANGSING

telah diujikan dalarn sidang rnunaqasyah Fakultas Psikologi Universitas Islam

Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 3 Desernber 2009. Skripsi ini

telah diterirna sebagai salah satu syarat untuk rnernperoleh gelar Sarjana

Psikologi.

Jakarta, 3 Desernber 2009

Sidang Munaqasyah,

Dekan/

Ketua Merangkap Anggota,

Jahja Umar, Ph.D

NIP. 130 885 522

Penguji I

Drs. Rahmat Mulvono, M.Si

NIP. 150 293 240

Pembimbing I

Anggota

dイ。N「セmNsゥ@

NIP. 1956 1223 1983 032001

Pembantu Dekanf

Sekretaris Merangkap Anggota,

Ora. adhilah Sura aga, M.Si

NIP. 1956 1223 1983 032001

Penguji II

dイ。NャセmNsゥ@

NIP. 195612231983 032001

Pembimbing II

Lセカvllセ@

(4)

kNオーヲャヲウ・ュ「ァィャZセイッ@

kttYg

ウ・、エャヲ「エョセァ@

i:r.>i

tmtuk

'Mmt1

Jgo 'Pgpg

エヲャヲウァケァッセ@

ケァッセ@

tewh meoeurtJhktJo

ウ・セキ@

hsfh

sgytJD'jpyg

yエjイjセ@

t;gk;

「エャヲッェエュセ@

ptJdtJku.. tJdfk-gJfkku,

temt10-temt1oku

Jgo

・^ヲエAdセMッヲヲdセ@

ttlfdekt1tku

yエjdセ@

tewh merJjgJi

ー・dセオイ@

Ji

(5)

dengan reliabilitas alpha cronbach pada penelitian sebelumnya sebesar 0,842 dan 0,942. Sedangkan untuk skala keterlibatan konsumen menggunakan skala yang telah diadaptasi dari Persona/ Involvement Inventory (Pll). Skala ini berbentuk beda semantik (semantic differential)

yang dikembangkan oleh Zaichkowsky (1987) terdiri dari 10 item yang mempunyai tujuh penilaian dari dua kutub kata sifat yang berlainan atau juga disebut skala bipolar. Pada penelitian sebelumnya didapatkan nilai reliabilitas sebesar 0,898.

Untuk menguji hipotesa peneliti menggunakan teknik statistik korelasi Pearson, hasil penelitian menunjukkan: Bahwa nilai r hitung lebih kecil dari nilai r tabel yang berarti Ho diterima yaitu sebesar 0,025 < 0,329.

Diterimanya Ho ini berarti tidak terdapat Hubungan Antara Citra Tubuh Dengan Keterlibatan Konsumen Wanita Terhadap Obat Pelangsing. Keterbatasan penelitian ini adalah jumlah responden yang terbatas dan kecilnya ruang lingkup penelitian serta alat tes Pll yang berbentuk

semantic differential yang kurang familiar sehingga responden sulit menginterpretasikan instrumen ini. Mungkin ketidakcocokan ini bisa disebabkan karena adanya perbedaan budaya antara Timur dan Barat. Saran yang diajukan dalam penelitian ini adalah jumlah responden yang nantinya dapat lebih banyak dan untuk populasi yang lebih luas sehingga penyebaran dari analisa jawaban setiap pernyataan bisa lebih baik. Dan untuk penelitian selanjutnya sebaiknya tidak menggunakan skala yang berbentuk semantic differential, karena dikhawatirkan responden salah menginterpretasikan setiap item-item pernyataannya.

(6)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang pemlfik jiwa dan raga ini, yang senantiasa mencurahkan Rahmat dan Kasih SayangNya serta hidayahNya yang tak terhingga nilainya, karena Dia-lah penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Sholawat serta salam tidak lupa penulis sampaikan kepada Rasulullah SAW, keluarganya, para sahabat dan pengikutnya

Dengan selesainya penulisan skripsi ini penulis menyadari bahwa banyak pihak yang telah membantu dalarn penulisan skripsi ini. Dengan penuh rasa hormat maka penulis ingin menyarnpaikan ucapan terirnakasih yang tak terhingga kepada:

1. Jahja Umar, Ph.D., Dekan Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta beserta jajarannya.

2. Ora. Fadhilah Suralaga, M.Si dan Mulia Sari Dewi, M.Psi sebagai dosen pembimbing skripsi, yang dengan tutus ikhlas dan kesabarannya telah memberikan bimbingan, arahan dan saran kepada penulis.

3. Kedua orangtuaku Kolonel Inf. H.Toto Sugardo dan Hj. Cut Asnani Afriyani yang tidak pernah lelah memberikan sernangat, baik moril, spirituil dan materiil. Adik-adikku Nurul dan Wira yang selalu menghibur penulis di kala pen at.

4. Seluruh dosen Fakultas Psikologi yang tidak dapat disebutkan satu persatu, terimakasih tak terhingga untuk ilrnu pengetahuan yang telah diberikan.

5. Seluruh staff akademik, dan petugas perpustakaan, Bu Syariah, Bu Sri, Bu Faujah, Bu Nur, Mas Ayung, Pak Baidowi, Pak Haidiri serta bapak-bapak dan ibu-ibu yang tidak dapat disebutkan satu persatu, sernoga Allah SWT membalas segala kebaikan bapak dan ibu.

6. Seluruh anggota senam aerobik dan fitness yang rnenjadi responden dalam penelitian ini, dan juga kepada seluruh karyawan (baik resepsionis, instruktur senam aerobik mba Anika dan mba Rani, instruktur yoga mba Vivi) yang bekerja di Club Ade Rai dan Vitaliano Fitness Center. Terutama

mba Vivi yang telah menceritakan hal-hal yang dapat membangkitkan motivasi dalam menempuh hidup yang lebih baik dan sabar lagi.

(7)

8. Teman-temanku dari kelas B (lndah, Lia, Arsy, Tania, Eka,Ria, Lela, Nala, Hana, Widad, Fifa, Putri, lcha, Kiki,Rizal, Krisna,Lutft, Latif dll), dan seluruh anak psikologi kelas B yang tidak dapat kusebutkan satu persatu. Terima kasih atas kerja sama dan kekompakannya selama ini, senang tel ah mengenal kalian ..

9. Teman seperjuanganku dalam pembuatan skripsi, Risti Anggraeni. Dan Mutia (terima kasih atas

"sharing"

nya tentang citra tubuh), serta Arini (Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN '05). Terima kasih atas bantuan dan saran-saran yang diberikan, dan keceriaan serta pencerahan yang diberikan pada saat-saat stres menghadapi skripsi ..

10. Teman-teman KKL-ku, Lina, Wahyu, Nisa dan Rahmi. Terima kasih atas kekompakannya selama masa KKL. Serta pembimbing KKL Pak Seta dan Mas Taufik, yang telah sabar membimbing kami selama masa KKL. 11. Dan terakhir, untuk

"someone who special"

yaitu Adam Rahmadan,ST.

Terima kasih atas perhatian, kesabaran yang luar biasa, kasih sayang dan "lawakan" nya yang selalu memberikan motivasi dan semangat di saat penulis mulai jenuh mengerjakan skripsi.

Semoga Allah memberikan pahala yang tak henti-hentinya, sebagai balasan atas segala kebaikan dan bantuan yang diberikan.

Harapan penulis, semoga skripsi ini memberi manfaat, khususnya bagi penulis dan umumnya bagi seluruh pihak yang terkait.

Jakarta, 18 November 2009

(8)

DAFTAR ISi

HALAMAN JUDUL ... .

HALAMAN PERSETUJUAN ... ... ... ... ... ... ii

MOTTO ... iii

ABSTRAKSI .. . .. . . ... ... ... . . . .. .... ... .. .. . .. . . . .. . . .. ... .. .. . .. .. ... . .. . . . ... . ... ... ... .. iv

KATA PENGANTAR ... vii

DAFT AR ISi ... viii

DAFT AR LAMPIRAN ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang .. . .. .. . .. . .. ... .. . . . ... . .. . ... .. ... .. . .. .. . ... ... .. . ... 1

1.2.

ldentifikasi Masai ah ... 15

1.3.

Batasan dan Rumusan Masalah ... 16

1.4.

Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 17

1.5.

Sistematika Penulisan ... 18

BAB II KAJIAN TEORI ...

19

2.1

Wanita Dewasa Awai ... 19

2.1.1

Pengertian Wanita Dewasa Awai ... 19

2.1.2

Tugas-tugas Perkembangan Pada Masa Dewasa

Awai ... 20

2.1.3

Perkembangan Fisik Dewasa Awai ... 21

2.2

Citra Tubuh ... 23

2.2.1

Pengertian Citra Tubuh ... 23

2.2.2

Komponen-komponen Citra Tubuh ... 25

2.2.3

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Citra Tubuh ... 26

(9)

2.2.4 Pengukuran Citra Tubuh ... 31

2.3 Keterlibatan Konsumen Terhadap Obat Pelangsing ... 33

2.3.1 Obat Pelangsing Tubuh ... 33

2.3.1.1 Pengertian Obat Pelangsing ... 33

2.3.1.2 Jenis-jenis Obat Pelangsing ... 33

2.3.1.3 Dampak Jangka Panjang Dari Ob at Pelangsing ... 35

2.3.2 Keterlibatan Konsumen ... 36

2.3.2.1 Pengertian Keterlibatan Konsumen ... 36

2.3.2.2 Jenis-jenis Keterlibatan Konsumen ... 38

2.3.2.3 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Keterlibatan Konsumen ... 43

2.3.2.4 Keterlibatan Konsumen dan Pembuatan Konsumen ... 46

2.3.2.5 Pengukuran Keterlibatan Konsumen ... 49

2.4 Kerangka Berfikir ... 51

2.5 Hipotesis ... 54

BAB Ill. MET ODE PENELITIAN ... 55

3.1 Jen is Penelitian ... 55

3.1.1 Pendekatan Penelitian ... 55

3.1.2 Metode Penelitian ... 56

3.1.3 Definisi Variabel dan Operasional Variabel ... 56

3.1.3.1 Definisi Variabel ... 56

3.1.3.2 Definisi Operasional Variabel ... 57

3.2 Pengambilan Sampel ... 58

3.2.1 Populasi ... 58

(10)

DAFTAR LAMPIRAN

lampiran 1 : Skala Penelitian (MBSRQ

&

Pll}

lampiran 2 : Validitas dan Reliabilitas Item Skala Citra

Tubuh dan Keterlibatan Konsumen

lampiran 3 : Data Mentah Skafa Citra Tubuh dan Keterlibatan

Konsumen

lampiran 4 : Data Responden

(11)
[image:11.521.25.418.155.509.2]

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1

Skema hubungan antar variabel

Gambar 4.1

Scatterplot Skala Citra Tubuh

(12)

BABI

PENDAHULUAN

1.1 LA TAR BELAKANG

Tuntutan dan kesadaran untuk berpenampilan fisik menarik di zaman

sekarang sudah semakin meluas bagi setiap orang. Karena berpenampilan

merupakan suatu hal yang penting dalam kehidupan seseorang. Penampilan

fisik merupakan salah satu dimensi dimana seseorang dinilai menarik atau

tidak bagi orang lain. Penilaian terhadap kecantikan dan ketampanan

seseorang dipengaruhi oleh ukuran, berat dan bentuk tubuh individu tersebut.

Pandangan dan pendapat mengenai kecantikan dan penampilan fisik yang

menarik diidentifikasikan dengan bentuk tubuh yang ideal.

Apabila berbicara mengenai penampilan, wanita dapat dikatakan lebih jeli

memperhatikan penampilannya. Karena penampilan merupakan bentuk

kontrol sosial yang memengaruhi bagaimana wanita melihat dirinya dan

bagaimana ia dilihat oleh orang lain. Patzer berpendapat bahwa daya tarik

(13)

Matsumoto, 2004). Daya tarik fisik wanita menjadi hal utama untuk mengukur

kebanggaan dalam hal memperoleh teman kencan, teman perkumpulan,

pekerjaan dan pujian. Maka ketika wanita berpenampilan fisik menarik, hal ini

juga merupakan usaha untuk menampilkan diri, agar di mata orang lain

mendapatkan kesan bahwa dirinya memang pantas menikmati berbagai

macam situasi yang menguntungkan dalam pergaulan.

Dalam perjalanan tumbuh kembang, setiap wanita memiliki tugas

perkembangan tersendiri yang harus dialaminya. Begitupun bagi wanita

dewasa awal. Pada usia ini, tugas perkembangan wanita adalah

menyelesaikan pendidikannya dan masuk ke dunia kerja. Kemudian wanita

akan menikah dan menjadi orang tua. Tugas perkembangan lainnya adalah

wanita akan melakukan klarifikasi nilai yang dipercayainya, membuat

keputusan-keputusan penting dalam hidup, merencanakan bagaimana hidup

akan dijalani dan bagaimana cara wanita itu mengevaluasi diri. Pada saat

yang bersamaan, wanita juga mengembangkan kemampuan untuk mengerti

siapa dirinya dan siapa individu lain juga kelebihan dan kekurangan setiap

individu. Wanita mampu membuat impian-impian yang akan diraihnya dan

akan bertanggung jawab atas segala pilihan dan konsekuensi yang mungkin

(14)

Menurut Hurlock (1991). minat untuk meningkatkan penampilan mulai

berkurang menjelang umur tiga puluhan, ketika ketegangan dalam pekerjaan

dan rumah tangga terasa kuat. Namun minat akan penampilan muncul lagi

jika mulai ada tanda-tanda ketuaan. Selain bertambah gemuk, tanda-tanda

ketuaan lainnya adalah mengendornya dagu, beruban dan perut membesar.

Bagi sebagian orang, perubahan dalam penampilan ini menimbulkan

keresahan. Namun banyak pula yang menerima tanda-tanda tersebut

sebagaimana adanya, tanpa berusaha untuk menutupi atau memperbaikinya.

Papalia dkk (2001) menyatakan wanita usia dewasa muda memiliki sifat dan

tipe kepribadian relatif stabil tetapi sifat dan tipe kepribadian ini bisa berubah

karena dipengaruhi kejadian dalam kehidupan. Mereka memiliki kemampuan

untuk mendapatkan informasi yang diperoleh dari lingkungan dengan

kapasitas hampir mencapai maksimal, sehingga mereka juga memiliki

kemampuan mengevaluasi apa yang benar dan wajar. Dan pada usia ini,

wanita rentan terhadap masalah citra tubuh.

Pernyataan diatas dapat menjelaskan mengapa wanita yang mengalami

berat badan yang berlebih pada usia dewasa awal seperti berlomba-lomba

(15)

menguruskan badan, dimulai dari suntik untuk menghilangkan lemak,

pembungkusan tubuh dengan pakaian tertentu untuk menghilangkan lapisan

lemak yang dipadukan dengan mandi uap sampai meminum obat-obatan

untuk menguruskan badan agar dirinya sesuai dengan citra kesempurnaan

yang ada dalam masyarakat.

Saat sekarang ini, menurut Melliana (2006) tubuh ideal yang biasanya

ditampilkan dalam media massa adalah yang menggambarkan sosok wanita

ideal sebagai figur wanita yang langsing, berkaki indah, paha, pinggang dan

pinggul ramping, payudara cukup besar, dan kulit putih mulus. Wanita yang

merasa tidak memiliki kriteria ideal tersebut, akan mengalami ketidakpuasan

terhadap tubuhnya. Pengaruh media massa dalam hal ini pun menjadi sangat

berperan penting. Terkadang, apa yang orang lihat dan dengar akan diikuti

oleh banyak orang. Masyarakat tidak bisa betul-betul bebas dari intervensi

media massa. Selama orang menonton TV, membaca koran, mendengarkan

radio, lewatjalan raya,

surfing

di internet, selama itu pula orang akan

mengalami realitas langsung atau tidak langsung yang dibentuk oleh media

(16)

Media massa merupakan alat komunikasi yang menyampaikan pesan atau

informasi kepada masyarakat luas. Media mempermudah masyarakat

memperoleh pengetahuan dan informasi apapun. Beberapa informasi yang

terkesan terlalu "hiperbola" dalam mengiklankan produknya, sehingga orang

yang melihat menjadi tertarik dan adanya keinginan untuk mencoba produk

tersebut. Namun, konsumen harus jeli dalam menyeleksinya, karena tidak

semua yang disuguhkan media bersifat positif (Aprilia, 2005).

Bahkan menurut Paul Lazarfeld dan Robert K. Merton, media juga

mempunyai fungsi

narcosisting dysfunction

(racun pembius). Meskipun istilah

ini sangat ekstrim, tetapi tidak bisa dipungkiri media massa yang tidak

dikelola secara bijak atau bahkan hanya mengejar keuntungan materi bisa

menjadi "racun" bagi masyarakat (Nuruddin, 2005).

Sebagai contoh penelitian di Amerika mengenai efek negatif dari media

massa yang berpengaruh pada citra tubuh, bahwa pada umumnya sewaktu

seorang gadis Amerika lulus SMA telah menonton TV selama lebih dari dari

22.000 jam, dan selama sebagian besar dari waktu tersebut, ia dihujani

dengan gambar-gambar tentang wanita glamour yang bertubuh "sempurna",

(17)

tubuh yang ideal itu dengan prestise, kebahagiaan, cinta, dan keberhasilan.

47 % gadis yang disurvey merasa harus menurunkan berat badan, meski

hanya 29

%

yang dianggap terlalu gemuk (Nicolash, 2005).

Menurut Rice (dalam Sukamto, 2005), citra wanila yang digambarkan oleh

media memberikan pengaruh yang membahayakan bagi remaja dan wanita

dewasa muda yang menginlernalisasi pesan-pesan mengenai pentingnya

penampilan terhadap idenlilas dan harga diri wanila serta sering bertindak

sesuai dengan pesan-pesan tersebut. Selanjutnya ia menambahkan, bahwa

wanila yang telah melihat model-model bertubuh kurus akan merasa lebih

depresi, sires, bersalah, malu, tidak aman dan tidak puas.

Melihat fenomena di atas, dapat disimpulkan bahwa wanita lebih mudah

terpengaruh dengan "doktrin" yang dilelapkan oleh media, dan wanita harus

mempunyai krileria ideal lersebut. Kriteria ideal ini dikaitkan dengan citra

tubuh. Apabila ditinjau lagi, citra lubuh adalah gambaran mental seseorang

terhadap benluk dan ukuran tubuhnya, bagaimana seseorang mempersepsi

dan memberikan penilaian alas apa yang dia pikirkan dan rasakan lerhadap

ukuran dan benluk tubuhnya, dan atas bagaimana kira-kira penilaian orang

(18)

tentu benar-benar merepresentasikan keadaan yang aktual, namun lebih

merupakan hasil penilaian diri yang subyektif (Atwater, 1999).

Menurut Melliana (2006), citra tubuh terbagi dalam dua macam, yaitu citra

[image:18.519.17.419.166.486.2]

tubuh positif dan negatif. Citra tubuh positif tergambar ketika wanita memiliki

gambaran mental yang akurat dan benar tentang tubuhnya, beserta

perasaan, pengukuran, dan hubungan dengan tubuh kita sendiri secara

positif, percaya diri, dan peduli pada tubuhnya, mungkin memiliki citra tubuh

yang sehat dan konsep diri yang positif. Sedangkan citra tubuh negatif

diindikasikan karena adanya ketidakpuasan terhadap sosok tubuh (body

dissatisfaction) dan distorsi citra tubuh. Ketidakpuasan berarti ketidaksukaan

individu terhadap tubuhnya atau bagian-bagian tubuh tertentu.

Para psikolog dan konselor menyetujui bahwa citra tubuh negatif terkait

langsung dengan self esteem. Semakin negatif persepsi wanita tentang

tubuhnya, maka semakin negatif perasaan wanita tersebut tentang dirinya.

Citra tubuh memengaruhi perilaku, self esteem, dan keadaan psikologis. Jika

wanita yang terus menerus berusaha memperbaiki bentuk tubuhnya, maka

perasaan terhadap dirinya pun kurang sehat, karena hilangnya rasa percaya

(19)

Ketika seorang wanita merasa citra tubuhnya negatif, dan adanya dukungan

dari iklan di media massa dan pengaruh orang-orang terdekat mengenai

produk pelangsing yang dapat menurunkan berat badan, lalu mereka

mencoba untuk membeli dan mengkonsumsi obat pelangsing yang

merupakan altematif prioritas. Bentuk dari produk pelangsing ini pun

bervariasi, ada pil, kapsul, serbuk nutrisi dan gel. Karena cara

penggunaannya yang instan, dan dalam iklan dijanjikan dapat menghasilkan

bentuk tubuh yang memuaskan dalam waktu yang relatif singkat. Oleh karena

itu, banyak para wanita yang mengambil keputusan untuk mengkonsumsi

obat pelangsing saja dibandingkan dengan diet pola makan sehat ataupun

berolahraga (Marius, 2009).

Namun perlu diingat, bahwa sebenamya penggunaan produk pelangsing

tubuh merupakan langkah terakhir apabila usaha lain menemukan jalan buntu

dan harus adanya pengawasan dari dokter. Penyeleksian terhadap produk

yang legal dan mendapat ijin dari BPOM pun diprioritaskan. Karena, apabila

tidak, bisa jadi akan membahayakan kesehatan.

Beberapa pakar seperti Mccann M.D, dari lnstitut Nasional Kesehatan

(20)

Sekolah Kedokteran Universitas Johns Hopkins telah meneliti mengenai efek

penggunaan obat pelangsing yang ilegaL Hasil penelitiannya menyebutkan

bahwa obat pelangsing dapat mengurangi selera makan dengan cara

memperpanjang masa kerja serotonin (yaitu memberikan efek penenang dan

penekan selera makan) melalui dua cara yaitu meningkatkan jumlah

serotonin yang meninggalkan tempat penyimpanannya (dengan kata lain

meningkatkan pelepasan serotonin) dan menjaga agar serotonin tidak terlalu

cepat kembali ke dalam sel tempat serotonin disimpan. Efek itu berupa

kerusakan saraf otak (brain serotonin neuron damage), kenaikan tekanan

darah paru (hipertensi pulmonalis), dan kerusakan katup jantung (Hartono,

2000).

Sebagai contoh dari penggunaan obat pelangsing yang ilegal seorang warga

Jepang berusia 30 tahun meninggal akibat serangan jantung, seorang warga

Singapura meninggal dunia dan 13 pasien yang dirawat di rumah sakit

dengan kasus sama yaitu menderita kerusakan fungsi hati. Pria malang

tersebut diperkirakan menelan pil pelangsing tubuh yang mengandung

fenfluramine,

zat yang telah ditarik dari pasaran Amerika Serikat sejak tahun

1997. Pil yang mengandung

fenfluramine

ditengarai mengakibatkan

kerusakan pada katup jantung ketika dikonsumsi dengan produk peramping

(21)

melihat bahwa produk yang memiliki konsekuensi relevan secara pribadi

dikatakan terlibat dengan produk dan memiliki hubungan dengan produk

tersebut. Jika keterlibatan terhadap suatu produk tinggi, seseorang akan

mengalami tanggapan pengaruh yang lebih kuat seperti emosi atau perasaan

yang kuat (Peter&Olson, 1999).

Menurut Zaichkowsky (1985), keterlibatan merupakan suatu kondisi yang

ditentukan oleh derajat dimana seseorang mempersepsikan bahwa suatu

produk atau peristiwa memiliki arti yang bermakna secara pribadi bagi dirinya.

Jadi keterlibatan konsumen terhadap suatu produk, didasarkan pada

seberapa besar konsumen tersebut memiliki anggapan bahwa produk

tersebut memiliki makna secara pribadi bagi dirinya, yang bisa berkaitan

dengan fungsi produk itu sendiri, konsep diri atau penerimaan sosial.

Mowen dan Minor (2001} berpendapat terdapat beberapa faktor penting yang

mempengaruhi tingkat keterlibatan adalah: (1) jenis produk yang menjadi

pertimbangan, (2) karakteristik komunikasi yang diterima konsumen, karena

terkadang dapat meningkatkan keterlibatan seiring seiring dengan naiknya

emosi konsumen, (3) karakteristik situasi dimana konsumen beroperasi,

(22)

konsumen wanita yang tubuhnya gemuk, maka keterlibatan konsumen dalam

pembelian otomatis meningkat, (4) kepribadian konsumen, menentukan

keterlibatan dalam beberapa hal, yaitu mengapa konsumen yang berbeda

dapat memiliki reaksi yang berlainan terhadap produk, situasi dan

komunikasi yang sama.

Engel dkk (1994) membagi teori keterlibatan ini terbagi dalam dua tingkatan,

yaitu keterlibatan tingkat tinggi (high involvement) dan keterlibatan tingkat

rendah (/ow involvement). Dengan semakin meningkatnya keterlibatan,

konsumen memiliki motivasi yang lebih besar untuk memperhatikan,

memahami dan mengelaborasi informasi tentang pembelian. Apabila

keterlibatan konsumen terhadap pembelian suatu barang tinggi, terjadi suatu

pencarian dan pengolahan informasi yang bersifat aktif dan lebih mendalam.

Sehingga, kenaikan pemrosesan informasi ini umumnya juga akan

meningkatkan tingkat rangsangan. Konsumen mungkin akan lebih berpikir

keras tentang keputusan yang dilakukan pada situasi keterlibatan tinggi

dimana proses keputusan dilakukan secara ekstensif dan bergerak melalui

(23)

konsep diri dan mengurangi kecemasan, serta depresi dan meningkatkan

percaya diri (King, dalam Santrock 1998).

Dengan adanya standar tubuh kurus yang dibuat oleh masyarakat dan media,

maka banyak cara yang dilakukan konsumen untuk menutupi citra tubuh

negatif yang ada dalam dirinya, yaitu salah satunya adalah keputusan

membeli obat pelangsing. Karena, ketika seseorang sudah membuat

keputusan untuk membeli sesuatu maka akan timbul motivasi dalam diri dan

adanya keterlibatan secara emosional untuk membeli produk tersebut. Kadar

dan bentuk keterlibatan ini bisa dikategorikan dalam tingkat keterlibatan tinggi

dan rendah (Engel, 1994). Sehingga, menarik untuk diteliti apakah citra tubuh

berhubungan dengan keterlibatan konsumen terhadap obat pelangsing. Maka

penulis tertarik membuat penelitiannya dengan judul:

"Hubungan antara Citra Tubuh dengan Keterlibatan Konsumen Wanita

(24)

1.2 IDENTIFIKASI MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, untuk lebih mengarahkan

pembahasan serta pemecahan masalah, maka penulis

mengidentifikasikannya sebagai berikut:

1. Apakah ada hubungan antara citra tubuh dengan keterlibatan

konsumen wanita terhadap obat pelangsing?

2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi keterlibatan konsumen?

3. Apakah citra tubuh yang negatif berhubungan dengan keterlibatan

rendah?

4. Apakah citra tubuh yang positif berhubungan dengan keterlibatan

tinggi?

5. Seberapa besar pengaruh media massa terhadap citra tubuh dan

(25)

1.3 BATASAN DAN RUMUSAN MASALAH

1.3.1 Batasan Masalah

1 . Keterlibatan konsumen

Yang dimaksud dengan keterlibatan konsumen dalam penelitian ini

adalah derajat/tingkat motivasi konsumen terhadap perolehan,

konsumsi, dan pembelian obat pelangsing.

2. Citra tubuh

Penilaiannya dilihat dari derajat kepuasan/ketidakpuasan individu

karena kesesuaian terhadap karakteristik atau bagian-bagian dari

tubuhnya

3. Wanita

Wanita yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah wanita

dewasa awal dengan rentang usia 20- 40 tahun yang menjadi anggota

senam aerobik dan fitness di beberapa tempat Fitness Center di

wilayah Cibubur, Jakarta Timur.

1.3.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan, maka

(26)

"Apakah ada hubungan yang signifikan antara citra tubuh dengan keterlibatan

konsumen wanita terhadap obat pelangsing?"

1.4 TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

1.4.1 Tujuan Penelitian

Dari permasalahan yang diajukan di atas, tujuan yang ingin peneliti capai

dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauhmana signifikansi

hubungan antara kepuasan atau ketidakpuasan terhadap citra tubuh dengan

keterlibatan konsumen wanita terhadap obat pelangsing

1.4.2 Manfaat Penelitian

1. Dengan menemukan jawaban dari permasalahan yang diajukan,

diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi informasi yang berarti

bagi para wanita khususnya, dan masyarakat pada umumnya, serta

sebagai sumbangan bagi penelitian mengenai citra tubuh dan

konsep-konsep yang terkait di dalamnya.

2. Melalui penulisan skripsi ini, para wanita yang memandang negatif

terhadap citra tubuhnya diharapkan dapat melakukan penanganan

(27)

1.5

SISTEMATIKA PENULISAN

Dalam sistematika penulisan laporan penelitian ini, penulis menggunakan

metode penulisan APA style (American Psychology Association). Dan untuk

mempermudah pembahasan skripsi ini, penulis membagi dalam lima bab,

yaitu:

BAB I Pendahuluan. Bab ini berisi latar belakang, pembatasan dan

perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian dan

sistematika penulisan.

BAB II Kajian pustaka. Bab ini membahas teori-teori yang berhubungan

dengan penelitian ini yakni teori tentang wanita dewasa awal, citra

tubuh, keterlibatan konsumen, kerangka berpikir, dan hipotesis

penelitian

BAB Ill Metodologi penelitian. Bab ini mengurai tentang metodofogi

penelitian, populasi dan sampel penelitian, teknik pengumpulan

data dan teknik analisa data

[image:27.521.22.421.162.500.2]

BAB IV Presentasi dan analisis data. Bab ini menguraikan tentang

gambaran umum responden penelitian, presentasi data dan hasil

penelitian

(28)

BAB II

KAJIAN TEORI

2.1

WANITA DEWASA AWAL

2.1.1

Pengertian Wanita Dewasa Awai

Menurut Hurlock (1991), Orang dewasa adalah individu yang telah

menyelesaikan pertumbuhannya dan siap menerima kedudukan dalam

masyarakat bersama dengan orang dewasa lainnya. Masa dewasa awal

merupakan masa reproduktif, yakni suatu masa yang penuh dengan masalah

dan ketegangan emosional, periode komitmen dan masa ketergantungan,

perubahan nilai-nilai, penyesuaian diri pada pola hidup yang baru dan juga

sebagai periode isolasi sosil. Di samping berbagai hal tersebut di atas, pada

masa ini juga sebagai masa dimana individu mempunyai kesempatan untuk

memilih sendiri jalan hidupnya. Sehingga dalam pengambilan keputusan tidak

hanya berpengaruh pada kehidupannnya sekarang, tapi juga pada tahap

(29)

Ada berbagai pendapat yang berbeda tentang rentang usia saat seseorang

dikatakan berada dalam kelompok usia dewasa muda. Menurut Hurlock

(1991), masa usia dewasa muda adalah antara 18-40 tahun. Menurut Papalia

dkk (2002), rentang usia dewasa muda adalah usia 20-40 tahun. Dari

berbagai rentang yang dipaparkan tersebut, peneliti memutuskan untuk

menggunakan batasan dari Papalia (2002), yaitu 20-40 tahun. .

2.1.2 Tugas-tugas perkembangan pada masa dewasa awal

Tugas-tugas perkembangan pada masa dewasa awal (Havigust dalam

Hurlock, 1991) tugas-tugas ini dipusatkan pada harapan-harapan

masyarakat, yakni mencakup:

1. Mulai bekerja

2. Memilih seorang teman hidup

3. Belajar hidup bersama dengan suami atau istri

4. Membentuk suatu keluarga

5. Mengasuh dan membesarkan anak-anak

6. Mengelola rumah tangga

7. Menerima tanggung jawab sebagai warga negara

(30)

Sebagian besar orang pada masa dewasa awal memiliki perhatian yang

besar pada penampilan. Namun demikian, banyak di antara mereka yang

kegemukan. Resiko tertinggi untuk mengalami kegemukan - yang tidak

hanya mempengaruhi penampilan tetapi juga kesehatan, berada pada

rentang usia 25-34 tahun {Williamson, Kahn, Remington

&

Anda, dalam

Papalia 2001 ).

Minat untuk meningkatkan penampilan mulai berkurang menjelang umur tiga

puluhan, ketika ketegangan dalam pekerjaan dan rumah tangga terasa kuat.

Namun minat akan penampilan muncul lagi jika mulai ada tanda-tanda

ketuaan {Hurlock, 1991). Selain bertambah gemuk, tanda-tanda ketuaan

lainnya adalah mengendornya dagu, beruban dan perut membesar. Bagi

sebagian orang, perubahan dalam penampilan ini menimbulkan keresahan.

Namun banyak pula yang menerima tanda-tanda tersebut sebagaimana

adanya, tanpa berusaha untuk menutupi atau memperbaikinya. Meskipun

demikian, sebagian besar orang muda ini menyadari bahwa penampilan

memegang peran penting dalam dunia usaha, pergaulan sosial, profesional

dan kehidupan keluarga, dan mereka sering kali mengatasi masalah ini

dengan diet atau dengan pakaian dan alat-alat kecantikan untuk menutupi

tanda-tanda ketuaan tersebut (Hurlock, 1991). Hal ini menunjukkan adanya

(31)

dapat terkait dengan citra tubuh, yang akan dijelaskan dalam bahasan di

bawah ini.

2.2

CITRA

TUBUH

2.2.1

Pengertian Citra tubuh

Ketika kebanyakan orang berpikir tentang citra tubuh, mereka berpikir tentang

aspek-aspek penampilan fisik, daya tarik fisik dan kecantikan. Tetapi definisi

citra tubuh lebih dalam daripada itu, merefleksikan lebih dari sekadar

perhatian atau kepedulian tentang ukuran dan bentuk tubuh.

Menurut Rice (dalam Melliana 2006), citra tubuh adalah pengalaman

individual tentang tubuhnya, suatu gambaran mental seseorang yang

mencakup pikiran, persepsi, perasaan, emosi, imajinasi, penilaian, sensasi

fisik, kesadaran dan perilaku mengenai penampilan dan bentuk tubuhnya

yang dipengaruhi oleh idealisasi pencitraan tubuh di masyarakat, dan hal ini

terbentuk dari interaksi sosial seseorang sepanjang waktu dalam

lingkungannya, yang berubah sepanjang rentang kehidupan dalam

(32)

Dalam sudut pandang yang tidak jauh berbeda, Hurlock (dalam Melliana,

2006) pun mengungkapkan bahwa citra tubuh merupakan cara seseorang

mempersepsikan tubuhnya dengan konsep ideal yang dimilikinya pada pola

kehidupan setempat dan dalam hubungannya dengan cara orang lain menilai

tubuhnya.

Demikian juga, dalam ilmu sosial dikatakan bahwa citra tubuh timbul melalui

interaksi sosial. Seseorang memperoleh konsep mengenai tubuhnya melalui

interpretasi status diri menurut pandangan orang lain. Oleh karena itu,

penilaian tergantung pada hal-hal misalnya relasinya dengan orang lain,

penerimaannya dalam lingkungan dengan peran yang baru, pemenuhan

terhadap kebutuhan diri, rasa aman atau pun frustasi.

Hasil suatu penelitian menyatakan bahwa citra tubuh menyatakan bahwa

citra tubuh merupakan produk dari pengalaman yang nyata ataupun yang

berupa fantasi yang sebagian berasal dari perkembangan fisik, dari atribut

yang telah dipakai di kalangan teman sebaya, dan kesadaran akan harapan

budaya setempat. Gambaran tentang tubuh tersebut memainkan peran

penting dalam cara seseorang mengevaluasi dirinya sendiri, di mana citra

(33)

sendiri. Citra tubuh merupakan suatu pengalaman psikologis yang difokuskan

pada sikap dan perasaan individu terhadap keadaan tubuhnya, dan citra

tubuh ini tidak selalu sama dengan keadaan tubuh yang sebenarnya atau

yang nyata (Melliana, 2006).

2.2.2

Komponen-komponen Citra Tubuh

Menurut Thompson, Penner dan Altabe (1996), citra tubuh berkaitan dengan

tiga komponen, yaitu:

a. Komponen persepsi

Merupakan ketetapan individu dalam memperkirakan ukuran tubuhnya.

Dalam hal ini berkaitan dengan kepuasan tubuh

(body satisfaction)

yaitu

kepuasan terhadap aspek·aspek pada tubuh seseorang seperti dada,

perut, pinggang, paha, lengan

b. Komponen sikap

Komponen ini berhubungan dengan kepuasan individu terhadap

tubuhnya, perhatian individu, kognisi, evaluasi dan kecemasan individu

terhadap penampilan tubuhnya

(appearance satisfaction)

c. Komponen tingkah laku

Lebih memfokuskan kepada bagaimana individu enghindari situasi yang

menyebabkan individu mengalami ketidaknyamanan yang berhubungan

(34)

badan (weight satisfaction) yang merupakan kesenjangan antara berat

badan yang dimiliki dengan berat badan yang tidak dimiliki.

Citra tubuh merupakan pengalaman multidimensional yang selalu

melibatkan komponen-kompnen di atas, karena terdiri dari berbgai

dimensi yang saling mendukung satu sama lain. Oleh karena itu, dalam

melakukan pembahasan tentang citra tubuh diperlukan pemah jaman

yang menyelurtuh terhadap komponen-komponennya (Thompson, 1996).

2.2.3

Faktor-faktor yang mempengaruhi citra tubuh

Menurut Melliana (2006), citra tubuh merupakan bagian dari konsep diri yang

berkaitan dengan sifat fisik dibentuk oleh banyak faktor, antara lain:

a. Penilaian atau komentar orang lain

Reaksi atau pandangan dari orang lain yang memiliki arti bagi individu

(significant othet') misalnya orang tua, teman, dan lain-lain , akan

memengaruhi citra tubuh yang dimiliki individu tersebut. Dalam hal ini,

misalnya pandangan teman-teman terhadap individu sebagai seseorang

(35)

b. Pembandingan dengan orang lain

Citra tubuh yang terbentuk sangat tergantung pada bagaimana cara

individu membandingkan dirinya dengan orang lain, biasanya pada

orang-orang yang hampir serupa dengan dirinya. Misalnya, individu yang

sering kali membandingkan dirinya dengan saudaranya yang lebih

menarik penampilannya secara terus menerus akan mengalami suatu

kondisi, dimana ia menganggap dirinya tidak memiliki daya tarik fisik

c. Peran seseorang

Setiap orang memainkan peran yang berbeda-beda. Di dalam setiap

peran tersebut, individu diharapkan akan bertindak sesuai dengan

tuntutan dari perannya masing-masing. lndividu yang berprofesi sebagai

fotomodel atau guru akan memiliki tuntutan yang berbeda dalam hal

penampilan. Akibatnya, jika terjadi gangguan pada kondisi fisik, akan

timbul efek yang berbeda terhadap citra tubuh yang dimiliki individu.

Misalnya, kenaikan berat badan akan terasa lebih mengganggu citra

tubuh separng fotomodel daripada seorang guru. Jadi, tampak bahwa

harapan dan pengalaman yang berkaitan dengan perannya akan

memengaruhi citra tubuh yang dimilikinya.

d. ldentifikasi terhadap orang lain

lndividu yang mengagumi satu tokoh yang dianggapnya ideal sering kali

(36)

PERPUST A KAAN UT AMA UIN SYAHID JAKARTA

dan lain-lain. Dengan bertindak demikian, ia merasa telah memiliki

beberapa ciri dari tokoh yang dikaguminya.

e. Pelecehan rasial dan seksual

f. Stigmatisasi

g. Nilai-nilai sosial yang paling berlaku

h. Perubahan fisik dalam tubuh wanita selama masa pubertas, kehamilan

dan menopause.

i. Sosialisasi

j. Cara individu merasakan dirinya

k. Kekerasan verbal, fisikal atau penyiksaan seksual

I.

Kondisi aktual tubuh seperti penyakit atau kecacatan. m. lnternalisasi mitos kecantikan

Kebanyakan petunjuk mengenai bagaimana seharusnya penampilan kita

berasal dari media, orang tua, dan teman-teman sepergaulan. Bagaimana

kita mempersepsi dan menginternalisasi pesan-pesan tersebut tentang tubuh

kita semasa masa kanak-kanak, menentukan kemampuan kita untuk

membangun penghargaan terhadap diri sendiri (self esteem) dan

kepercayaan diri kita tentang penampilan kita. Karena citra tubuh lebih

(37)

citra tubuh yang merupakan cara pandang mempunyai dua komponen cara

berpikir, yaitu cara berpikir positif dan cara berpikir negatif.

Melliana (2006), mengungkapkan citra tubuh terbagi dalam dua macam,

yaitu:

1.

Citra tubuh positif

Ketika wanita memiliki gambaran mental yang akurat dan benar tentang

tubuh kita, beserta perasaan, pengukuran, dan hubungan kita dengan tubuh

kita sendiri secara positif, percaya diri, dan peduli pada tubuh kita, kita

mungkin memiliki citra tubuh yang sehat dan konsep diri yang positif. Self

esteem dibentuk oleh banyak faktor, termasuk bagaimana seseorang dinilai

oleh orang lain, dan citra tub uh yang sehat telah menjadi kunci self esteem

yang positif, terutama bagi wanita. Sebab, kita hidup dalam budaya yang

memberikan penekanan lebih pada penampilan dan bentuk tubuh wanita.

Citra tubuh yang sehat lebih dari sekedar ketiadaan perlawanan atau

pergumulan dengan makanan, berat tubuh atau penampilan fisik.

2.

Citra tubuh negatif

Dari berbagai permasalahan citra tubuh, yang paling umum adalah masalah

(38)

2.2.4

Pengukuran Citra Tubuh

Pengukuran citra tubuh pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan

kuesioner, yaitu dengan

Multi-Dimensional Body-Self Relations Questionnaire

{MBSRQ) yang dikembangkan oleh Thomas F. Cash pada tahun 1989, terdiri

dari 69 item. Kuesioner ini telah diadaptasi dari Jihan Kemala (2000), dan

diadaptasi kembali oleh Titi Sari (2007). MBSRQ ini merupakan alat ukur

mengenai sikap terhadap citra tubuh yang paling menyeluruh, sebab meliputi

elemen kognitif, afektif, dan tingkah laku

Ala! ini mempunyai 10 subskala yang terdiri dari:

1. Evaluasi Penampilan Fisik

(Appearance Evaluation):

Subskala yang

mengukur perasaan menarik atau tidaknya, kepuasan atau

ketidakpuasan terhadap penampilan individu.

2. Orientasi Penampilan Fisik

(Appearance Orientation):

Mengukur derajat

perhatian individu terhadap penampilannya.

3. Evaluasi Kebugaran Fisik

(Fitness Evaluation):

Mengukur derajat

kebugaran yang dirasakan individu terhadap tubuhnya.

4. Orientasi Kebugaran Fisik

(Fitness Orientation):

Subskala ini mengukur
(39)

2.3

KETERLIBA TAN KONSUMEN TERHADAP

OBA T PELANGSING

2.3.1

Obat Pelangsing Tubuh

2.3.1.1 Pengertian Obat Pelangsing

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2000), pelangsing didefinisikan

sebagai obat untuk membuat langsing (ramping badannya) .

2.3.1.2 Jenis Obat Pelangsing

1. Obat tradisional (herbal)

2. Obat modern adalah obat-obatan kimiawi yang bekerja pada susunan

syaraf pusal Contohnya adalah obat golongan Anorexan, golongan ini

adalah amphetamine, dektroamphetamine, metamphetamine,

detilpropion, mazindol dan benzfetamine. Obat lainya yang banyak dijual

adalah deksenfenflutamin (www.sweetadvice02.blogspot.com/mei/2009).

Dalam alamat website www.sayanginanda.com (2009), obat pelangsing

dikelompokkan ke dalam em pat jenis, yaitu :

1. Obat digitalis, sebenarnya adalah obat untuk jantung, tetapi memang bisa

menurunkan berat badan karena dapat menekan nafsu makan, namun

(40)

samping paling berat terhadap jantung. Lama kelamaan pemakai bisa

menderita anoreksia.

2. Obat antispasmodik, membuat perut kembung seakan kenyang dan

malas makan. Membuat tubuh lemas dan tidak berenergi sehingga

membuat malas beraktivitas.

3. Obat diuretik adalah obat yang menimbulkan keinginan seseorang untuk

sering buang air kecil. Berat badan memang turun sesuai keinginan.

Namun cairan tubuh yang keluar berlebih. Ancamannya, tak hanya

dehidrasi, elektrolit tubuh juga akan hilang sehingga mengakibatkan kerja

ginjal dan jantung terganggu.

4. Obat pencahar yang bersifat laksatif atau menguras perut yang membuat

orang ingin membuang air besar dan kerap digunakan untuk menurunkan

berat badan. Perut menjadi bersih, lemak berkurang, otomatis berat

badan menjadi turun. Akan tetapi, jika digunakan tidak tepat dan terus

menerus akan berbahaya karena dapat mengakibatkan infeksi

pencernaan karena merangsang kerja usus besar sehingga menimbulkan

(41)

2.3.1.3

Dampakjangka panjang dari obat pelangsing

Dalam alamat website sayanginanda.com (2009), disebutkan beberapa

dampak negatif jangka panjang dari penggunaan obat pelangsing, yaitu:

a. Sebagian besar obat pelangsing dapat menimbulkan dampak yang

negatif, seperti; gangguan emosi, hiperaktivitas, sulit tidur, perut kembung

atau perih, keletihan terus-menerus, depresi, ketagihan, mual, muntah,

dan tubuh gemetar. Ada juga yang mengganggu kesuburan dan sirkulasi

menstruasi.

b. Menggunakan obat pelangsing yang bersifat pencahar atau laksatif dapat

menyebabkan usus bereaksi lebih aktif menyerap makanan. Sehingga

membuat makanan yang dikonsumsi cepat dibuang sebelum diserap.

Akibatnya, bila konsumsi obat itu dihentikan, tubuh makin bertambah

gemuk karena usus jadi lebih efisien dalam menyerap makanan.

c. Obat yang bersifat diuretik menyebabkan tubuh mengalami kekurangan

cairan. Bila berlangsung lama, akan menyebabkan gangguan ginjal.

d. Obat-obatan yang bersifat memacu pembakaran kalori dapat

merangsang jantung. Detak jantung terpacu cepat sehingga

(42)

2.3.2

Keterlibatan Konsumen

Motivasi untuk memproses informasi dikonseptualisasikan oleh kebanyakan

para ahli perilaku konsumen dengan istilah keterlibatan

(involvement)

konsumen dengan stimulus yang bersifat informasi, seperti atribut dari

produk. Keterlibatan secara umum dikenal sebagai

"personal relevance"

dan

dianggap sebagai suatu variabel dasar yang sangat penting dalam

menentukan bagaimana seorang konsumen dalam mengolah informasi

(Zaichkowsky, 1985). Artinya, tingkatan dari keterlibatan konsumen dengan

suatu objek, situasi atau tindakan ditentukan oleh derajat dimana seseorang

mempersepsikan bahwa suatu produk atau peristiwa memiliki arti yang

bermakna secara pribadi bagi dirinya.

2.3.2.1

Pengertian keterlibatan konsumen

Mowen dan Minor (2001) mengungkapkan bahwa keterlibatan konsumen

(consumer involvement)

adalah pribadi yang dirasakan penting dan minat

konsumen terhadap perolehan, konsumsi dan disposisi barang, jasa, atau

ide. Pengertian dalam pandangan yang sama pun diungkapkan oleh Engel

dkk (1995) mengenai keterlibatan

(involvement)

yaitu tingkat kepentingan

pribadi yang dirasakan dan /atau minat yang dibangkitkan oleh stimulus di

(43)

disimpulkan bahwa aspek-aspek dari manusia, produk dan situasi,

keseluruhannya saling berkombinasi dalam menentukan motivasi seorang

konsumen untuk memproses informasi-informasi yang berkaitan dengan

produk yang diberikan dalam satu waktu.

Zaichkowsky's (1985) pun mendefinisikan keterlibatan sebagai:

"a

person's perceived relevance of the object based on inherent needs, values and interests''.

( penerimaan seseorang yang relevan terhadap suatu obyek, berdasarkan

kebutuhan bawaannya, nilai-nilai dan minatnya).

Keterlibatan individu terhadap suatu objek didorong oleh adanya penerimaan

secara relevan dari individu terhadap objek yang didasarkan pada kebutuhan,

r1ilai serta minat pada dirinya untuk mencapai objek tersebut. Sehingga

motivasi merupakan langkah pertama yang mendorong timbulnya keterlibatan

pada diri konsumen untuk mengetahui, memahami dan menilai

informasi/pesan yang sesuai.

Dengan demikian, definisi keterlibatan konsumen adalah suatu kondisi yang

(44)

produk atau peristiwa rnerniliki arti yang berrnakna secara pribadi bagi dirinya.

Jadi, keterlibatan konsumen terhadap suatu produk, didasarkan pada

seberapa besar konsumen tersebut rnerniliki anggapan bahwa produk yang

digunakan tersebut rnerniliki rnakna secara pribadi bagi dirinya, yang bisa

berkaitan dengan konsep diri, fungsi produk atau penerirnaan sosial.

2.3.2.2

Jenis-jenis keterlibatan

Mowen dan Minor (2001), telah rnengidentifikasi beberapa jenis keterlibatan

yang berbeda. Disini perbedaan yang penting adalah antara keterlibatan

situasional dan abadi.

1. Keterlibatan situasional (situasional involvement), terjadi selarna periode

waktu yang pendek dan diasosiasikan dengan situasi yang spesifik,

seperti kebutuhan untuk rnengganti sebuah produk yang telah rusak

(rnisalnya, kendaraan berrnotor)

2. Keterlibatan tahan lama (enduring involvement), terjadi ketika konsurnen

menunjukkan rninat yang tinggi dan konsisten terhadap sebuah produk

dan seringkali menghabiskan waktunya untuk memikirkan tentang produk

(45)

Selain tipe keterlibatan abadi (enduring involvemenf) dan keterlibatan

situasional (situasional involvemenf), menurut Engel (1994) ada dua proses

pilihan konsumen yang digolongkan dalam keterlibatan tinggi dan rendah

(yang menjadi fokus tingkatan keterlibatan konsumen) yaitu :

a.

Keterlibatan tinggi

(high involvement)

Menurut kondisi keterlibatan tinggi, konsumen bertindak seolah-olah

menggunakan model kompensatori. Menurut model kompensatori pilihan

(compensatory models of choice), orang menganalisis setiap alternatif

dengan cara evaluatif yang luas sehingga penilaian yang tinggi atas salah

satu atribut dapat mengkompensasi penilaian atribut lainnya. Dalam jenis

proses evaluatif ini, semua informasi mengenai atribut suatu merek digabung

ke dalam penilaian merek secara keseluruhan. Prosesnya akan diulang untuk

setiap alternatif merek, dan merek yang mempunyai preferensi keseluruhan

tertinggi dipilih (Engel dkk, 1994).

Konsumen dimotivasi untuk mencari informasi yang relevan dan

mengolahnya secara lebih tuntas dan lebih mungkin dipengaruhi oleh

kekuatan argumentasi (adanya daya tarik yang diekspresikan dan

divisualisasikan). Konsumen juga dapat menjadi terlibat dengan produk (atau

merek). Konsumen lebih mungkin melihat perbedaan dalam sifat yang

(46)

loyalitas yang lebih besar ketika preferensi di dasarkan atas keterlibatan yang

dirasakan tinggi.

Proses pengumpulan informasi pada keterlibatan tinggi berasal dari

sumber-sumber eksternal individu. Pencarian informasi merupakan bagian yang

paling penting karena individu mempunyai motivasi yang tinggi untuk

mendapatkan kebutuhan tersebut. Pengolahan informasi pun bersifat aktif.

tnformasi diproses dan disimpan dalam ingatan. Sewaktu-waktu informasi

yang telah disimpan tersebut dapat digunakan lembali guna mengevaluasi

produk di masa yang akan datang.

Menurut Solomon (2004), apabila keterlibatan seorang konsumen tinggi

terhadap produk bisa terjadi bila produk dipersepsikan sebagai sesuatu yang

merefleksikan self-image (gambaran diri). Keterlibatan tersebut bisa tinggi

bila alternatif produk yang dipertimbangkan berkaitan dengan 'harga'

(pengeluaran) dan resiko yang dipersepsikan tinggi oleh konsumen jika

terjadi pengambilan keputusan yang salah. Keterlibatan yang tinggi juga bisa

disebabkan bila adanya tekanan sosial untuk bertingkah laku dengan cara

(47)

b. Keterlibatan rendah (low involvement)

Menurut keterlibatan rendah konsumen umumnya bertindak seolah-olah

mereka menggunakan model pilihan nonkompensatori (noncompensatory

models of choice). Menurut model ini, penilaian yang tinggi atas beberapa

atribut tidak perlu mengkompensasi penilaian yang rendah atas atribut

lainnya. Apabila konsumen dalam situasi keterlibatan rendah, mereka tidak

mau terlibat dengan sejumlah besar pemrosesan informasi yang dibutuhkan

oleh model nonkompensatori (Engel dkk, 1994).

Loudon

&

Della Bitta (1993) mengatakan bahwa pada konsumen dengan

tingkat keterlibatan rendah cenderung bertindak pasif pada saat mengolah

informasi-informasi dalam proses berfikirnya. Smith (dalam Yunita, 2002}

pun menambahkan bahwa informasi-informasi yang berasal dari luar diadopsi

secara pasif karena individu lebih mempercayai informasi yang bersumber

dari sumber internal, yaitu pengetahuan yang dimilikinya tentang kebutuhan

tersebut. Apabila kebutuhan terhadap produk yang diinginkan ini mendesak,

maka konsumen pun akan memenuhinya untuk menutupi rasa kebutuhan ini.

Pengetahuan individu sangat dominan daripada informasi yang datang dari

luar sehingga respondentifitas individu sangat dominan dalam memberikan

(48)

dirasakan sangat berkurang, maka konsumen akan mencoba produk yang

baru.

Untuk memperkenalkan produk-produk baru sejenis dengan yang sudah

digunakan perlu dilakukan pengulangan-pengulangan dengan tujuan

menumbuhkan motivasi dan membentuk persepsi konsumen. Pengulangan

pesan merupakan suatu cara yang penting karena individu mempunyai

motivasi yang rendah untuk menerima informasi tersebut bukan sesuatu yang

penting. Jangka waktu penggunaan yang lama dapat dijadikan sebagai tolak

ukur dalam melihat keberhasilan penyampaian pesan, kualitas produk dan

tingkat loyalitas konsumen terhadap produk.

Menurut Solomon (2004), derajat dari keterlibatan bisa disusun sebagai suatu

garis 'continum' rentangnya mulai dari kekurangan absolut akan ketertarikan

terhadap stimulus-stimulus pemasaran pada satu sisi dan obsesi terhadap

produk pada sisi lainnya. Konsumsi pada keterlibatan yang rendah

dikarakteristikkan sebagai 'inersia', dimana keputusan dibuat berdasarkan

(49)

Dalam penelitian ini, jenis keterlibatan yang dihubungkan dengan variabel

citra tubuh adalah tingkatan keterlibatan tinggi dan keterlibatan rendah.

Keterlibatan konsumen tergolong tinggi, apabila terjadi suatu pencarian dan

pengolahan informasi yang bersifat aktif. Begitupun sebaliknya, ketika

keterlibatan rendah, tahap pencarian dan pengolahan informasi pun bersifat

pasif. lnformasi yang masuk ini kemudian diproses dan disimpan dalam

ingatan. Sewaktu-waktu informasi yang telah disimpan tersebut dapat

digunakan kembali guna mengevaluasi produk dimasa yang akan datang.

2.3.2.3

Faktor-faktor yang mempengaruhi keterlibatan

konsumen

Engel (1994) mengatakan, bahwa penelitian mengenai faktor-faktor yang

menghasilkan keterlibatan bersifat ekstensif. Oleh karena itu, Engel dkk

hanya menyoroti beberapa pokok, Engel dkk (1994) dengan penjelasan

sebagai berikut :

1) Faktor-faktor pribadi.

Menurut Engel (1994) tanpa adanya pengaktifan kebutuhan dan dorongan,

maka tidak akan ada keterlibatan, dan ini paling kuat bila produk atau jasa

(50)

2)

Faktor-faktor Produk

Produk tidak menimbulkan keterlibatan dalam dan dari diri sendiri.

Sepertinya, cara konsumen berespon terhadap produk itulah yang akan

menentukan tingkat keterlibatan mereka. Meskipun begitu, karakteristik

produk dapat membentuk keterlibatan konsumen. Secara umum, keterlibatan

lebih besar untuk produk yang memenuhi kebutuhan dan nilai yang penting.

Selain itu, keterlibatan dapat meningkat karena alternatif pilhan dipandang

secara lebih dibedakan di dalam penyajian mereka.

Prociuk atau merek juga dapat menimbulkan keterlibatan bila ada semacam

resiko yang dirasakan dalam pembelian dan pemakaian. Raymond Bauer

(dalam Engel, 1994) mengatakan perilaku konsumen melibatkan resiko

dalam pengertian bahwa setiap tindakan konsumen akan menimbulkan akibat

yang tidak dapat ia antisipasikan dengan apa saja yang mendekati kepastian,

dan sebagian mungkin tidak menyenangkan.

Banyak jenis risiko yang disadari telah diidentifikasikan, termasuk risiko fisik

{risiko yang membahayakan tubuh), psikologis {khususnya efek negatif pada

citra diri/tubuh), unjuk kerja {takut bahwa produk tidak akan bekerja

sebagaimana yang diharapkan), dan keuangan {risiko bahwa hasil akan

(51)

Apabila dipikirkan secara logis, semakin besar risiko yang disadari, semakin

besar kemungkinan keterlibatan yang tinggi. Bila risiko yang disadari menjadi

sangat tinggi, ada motivasi entah untuk menghindari pembelian dan

pemakaian sama sekali atau meminimumkan risiko melalui pencarian dan

tahap evaluasi alternatif di dalam pemecahan masalah yang diperluas.

Sehingga, nilai hedonik/pengalaman (respondentiflemosionaf) dari produk

juga merupakan faktor yang menentukan, yaitu, daya tarik emosionalnya dan

kemampuannya yang disadari untuk memberikan kesenangan yang sangat

terlepaskan dart manfaat objektifnya. Hingga tingkat dimana pertimbangan

respondent ini penting, keterlibatan akan meningkat.

3) Faktor Situasi.

Walaupun keterlibatan yang tahan lama (enduring involvemenf) dapat

dianggap sebagai ciri keterlibatan yang stabil, keterlibatan situasi (situational

involvemenf) berubah sepanjang waktu. Keterlibatan situasional bersifat

operasional atas dasar temperer dan memudar segera sesudah hasil

pembelian didapatkan. Sebagai contoh, pada mode busana seperti busana

yang trendy dimana keterlibatan tinggi pada awalnya, tetapi dengan cepat

(52)

terlibat atau tidak terhadap suatu produk ditentukan oleh apakah dia merasa

penting atau tidak dalam pengambilan keputusan pembelian produk.

Assael (dalam Simamora, 2003) mengidentifikasi kapan konsumen

mempunyai keterlibatan tinggi terhadap suatu produk, sebagai berikut:

a. Apakah produk itu penting bagi konsumen?

b. Apakah produk itu secara terus menerus menarik bagi konsumen?

c. Apakah produk itu membawa atau menimbulkan resiko?

d. Apakah produk itu mempunyai daya tarik emosional?

Loudon dan Bitta (1993) menjelaskan dalam setiap pengambilan keputusan

membeli, setiap individu memiliki peranan seperti:

1. Initiator

Pihak pencetus ide yang pertama kali atau pemberi inisiatif untuk

menggunakan atau membeli barang

2. Influencer

Pihak yang mempengaruhi pengambilan keputusan melalui sikap ataupun

(53)

3. Buyer

Pihak yang mengeluarkan uang untuk membeli suatu produk, bisa untuk

dirinya ataupun orang lain.

4. User

Pihak yang terlibat langsung dalam mengkonsumsi atau menggunakan

barang yang dibeli.

Dalam hal ini, konsumen wanita yang berperan adalah sebagai user dan

buyer yang menggunakan dan membeli produk pelangsing. Berdasarkan

penjelasan di atas bahwa tingkat keterlibatan konsumen dalam suatu

pembelian dipengaruhi oleh kepentingan primer yang dilandaskan atas

kebutuhan masing-masing individu. Dengan perkataan lain, apakah

seseorang merasa terlibat atau tidak terhadap suatu produk maka ditentukan

oleh apakah dia merasa penting atau tidak dalam pengambilan keputusan

pembelian produk. Dalam keputusan membeli produk pada mulanya

konsumen terbiasa pada pengalaman suatu produk yang digunakan

sebelumnya sebagai bahan perbandingan dalam menentukan pembelian

(54)
[image:54.521.25.458.119.464.2]

Tabel 1. Skala Pll

Bagi saya (objek yang akan dinilai), itu:

1. Penting

-

-

-

-

- - -

tidak penting*

2. Membosankan

- - - -

-

menarik

3.

Relevan

-

- -

-

- - -

tidak relevan*

4.

Menyenangkan

-

-

- - - - -

tidak menyenangkan*

5.

Tidak berarti sama sekali

- -

-

-

-

- -

sangat berarti bagi saya

6. Punya daya tarik

-

- -

- -

-

-

tidak punya daya tarik*

7.

Mengesankan -

- -

.

-

-

-

-

tidak mengesankan*

8. Tidak berharga

-

-

-

-

- -

-

berharga

9.

Melibatkan saya

-

.

-

.

-

.

- - -

. .

.

-

tidak melibatkan saya* 10. Tidak diperlukan

- - - -

-

diperlukan

CATATAN: Jumlahkan 10 item ini dengan memberikan skor dari yang

terendah 10 hingga yang tertinggi 70.

*menunjukkan butir diberi skor kebalikan. Sebagai contoh, skor pada level

ke-7

pada nomor

1

(penting/tidak penting) akan dibalik menjadi skor pada level
(55)

2.4

Kerangka Berpikir

Dalarn perjalanan turnbuh kernbang, setiap wanita rnerniliki tugas

perkernbangan tersendiri yang harus dialarninya. Wanita usia dewasa rnuda

rnerniliki sifat dan tipe kepribadian relatif stabil tetapi sifat dan tipe kepribadian

ini bisa berubah karena dipengaruhi kejadian dalam kehidupan. Pernyataan

ini dapat rnenjelaskan rnengapa wanita yang rnengalami berat badan yang

berlebih dan rnernandang negatif terhadap tubuhnya di usia dewasa awal ini,

seperti berlornba-lornba untuk rnenjadi kurus. Keinginan untuk menjadi lebih

kurus ini, dapat menimbulkan citra tubuh yang negatif terhadap dirinya.

Ketika wanita merasa citra tubuhnya negatif, maka ia berusaha keras untuk

mendapatkan bentuk tubuh ideal walaupun dengan berbagai macam cara.

Ditarnbah dengan usaha media rnassa dalam menstandarkan wanita cantik

adalah yang mempunyai proporsi tubuh yang langsing, maka para wanita

menjadi terpengaruh dengan produk pelangsing yang ditawarkan. Dengan

iming-iming hasil tubuh yang menjanjikan akan berkurang dalam relatif

singkat, dan ditambah dengan pemilihan model dari kalangan selebritis atau

wanita yang bertubuh langsing, hal ini akan semakin memperkuat keinginan

(56)

Apabila keinginan membeli obat pelangsing tersebut muncul, wanita sebagai

konsumen berada dalam proses keterlibatan atau yang lebih dikenal dengan

"keterlibatan konsumen". Tingkat keterlibatan ini terbagi dua jenis yaitu level

tinggi dan rendah. Dalam tingkat keterlibatan tinggi, pandangan konsumen

tentang obat pelangsing dan keputusan membeli didasarkan atas proses

pencarian informasi yang bersifat aktif, karena konsumen dapat

mengarahkan semua energinya untuk membuat suatu evaluasi dan membuat

keputusan akhir pada saat menentukan atau mengevaluasi produk yang akan

dibeli. Sumbernya pun dari eksternal,dan adanya resiko-resiko yang

kompleks seperti resiko keuangan, resiko sosial dan psikologis yang tinggi.

Sehingga dalam proses pembelian suatu produk dilakukan dengan

membandingkan antara kebutuhannya dan alternatif-alternatif yang dapat

dipilih.

Sedangkan dalam keterlibatan rendah, proses pencarian informasi bersifat

internal, yaitu pengetahuan yang dimilikinya tentang kebutuhan tersebut.

Ketika adanya kebutuhan yang mendesak untuk dibeli, dan karena faktor

pengaruh orang-orang sekitar, maka pembelian pun kerap terjadi. Pada

individu dengan keterlibatan yang rendah cenderung bertindak pasif pada

(57)

[

---·

PERPUSTl\f\AAN UTAMA

--·1

UIN SYAHID JAKARTA

digolongkan sebagai

inerlia,

dimana keputusan dibuat berdasarkan

kebiasaan karena konsumer kurang motivasi untuk memikirkan alternatif lain.

Pada umumnya, seorang wanita dapat membeli obat pelangsing ini dengan

usaha mencari informasi lebih banyak bila ia tidak terlalu merasa mendesak

kebutuhannya, dalam hal ini orang yang memiliki citra tubuh positif.

Sebaliknya, bila citra tubuhnya negatif, seorang wanita akan merasakan

kebutuhan mendesak dan akhirnya membeli kemudian menggunakan obat

pelangsing sehingga keterlibatannya rendah.

Dengan demikian, diduga bahwa semakin positif citra tubuh semakin tinggi

keterlibatan pembeliannya. Sebaliknya, semakin negatif citra tubuhnya maka

semakin rendah keterlibatannya dafam pembelian dan penggunaan terhadap

(58)

Kerangka berfikir ini dapat dilihat dalam bagan sebagai berikut:

Citra Tubuh Positif

I

Tinggi

I

^セMセ@

/

Citra Tubuh Wanita mempengaruhi Keterlibatan Konsumen DewasaAwal

fc:========::::::::>

Terhadap Obat Pelangsing

\ Citra T"b"h Negatil \===:::;:,.. _ I

⦅r⦅・⦅ョ⦅、M。ィMセQO@

2.5 HIPOTESIS

Dalam penelitlan ini. hipotesis yang penulis ajukan adalah:

Ha Ada hubungan positifyang signifikan antara citra tubuh dengan

keterlibatan konsumen wanita terhadap obat pelangsing

Ho Tidak Ada hubungan positif yang signifikan antara citra tubuh

dengan keterlibatan konsumen wanita terhadap obat

(59)

BAB Ill

METODOLOGI PENELITIAN

3.1

JENIS PENELITIAN

3.1.1 Pendekatan penelitian

Pendekatan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan

kuantitatif. Menurut Azwar (2005), penelitian dengan pendekatan kuantitatif

menekankan analisisnya pada data-data numerikal atau angka yang diolah

dengan metode statistika. Dengan pendekatan kuantitatif akan diperoleh

signifikansi perbedaan kelompok/signifikansi hubungan antar variabel yang

diteliti. Data penelitian hanya akan diinterpretasikan dengan lebih objektif

apabila diperoleh lewat suatu pengukuran yang lebih reliabel.

Dengan pendekatan kuantitatif akan diperoleh signifikansi hubungan antar

variabel yang diteliti. Dalam penelitian ini, peneliti berusaha mencari

hubungan antara citra tubuh dengan keterlibatan konsumen wanita terhadap

(60)

3.1.2

Metode penelitian

Dalam penelitian ini peneliti ingin melihat hubungan antara dua variabel maka

metode penelitian yang digunakan adalah metode korelasional. Menurut Fox

dalam Sevilla (1993) penelitian korelasional adalah penelitian yang dirancang

untuk menentukan tingkat hubungan antara variabel-variabel yang berbeda

dalam suatu populasi. Pengukuran ini digunakan untuk menentukan besarnya

arah hubungan antara satu variabel dengan variabel lain (Sevilla, 1993).

Makin tinggi korelasi antar dua variabel, maka makin akurat prediksi

berdasarkan hubungan kedua variabel tersebut (Sutarlinah, 2000).

3.1.3

Definisi Variabel dan Operasional Variabel

3.1.3.1

Definisi Variabel

Variabel adalah konsep yang mempunyai bermacam-macam nilai. Menurut

Kerlinger (2000), variabel adalah simbol atau lambang yang padanya

dilekatkan bilangan atau nilai. Pada penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu:

a. Independent variabel (IV) atau variabel bebas, yaitu citra tubuh

b. Dependent variabel (DV) atau variabel terikat, yaitu keterlibatan

(61)

3.1.3.2

Definisi Operasional Variabel

Kerlinger (dafam Sevilla, 1993), mendefinisikan operasional variabel adalah

melekatkan arti pada konstruk atau variabel dengan cara menetapkan

kegiatan-kegiatan atau tindakan-tindakan yang perlu untuk mengukur pada

variabel tersebut Adapun definisi operasional masing-masing variabel pada

penelitian ini adalah:

a. Citra tubuh adalah derajat kepuasan/ketidakpuasan individu karena

kesesuaian terhadap karakteristik atau bagian-bagian dari tubuhnya, baik

berupa ukuran tubuh, berat badan, maupun bagian tubuh yang fainnya

yang diukur dengan evaluasi penampilan fisik, orientasi penampilan fisik,

evaluasi kebugaran fisik, orientasi kebugaran fisik, evaluasi kesehatan ,

orientasi kesehatan, orientasi tentang penyakit, kepuasan area tubuh ,

pengkategorian ukuran tubuh, dan kecemasan menjadi gemuk.

fndikator-indikator tersebut diperoleh dari skala Multidimensional Body Self

Relations Questionnaire (MBSRQ) yang dikembangkan oleh Thomas F.

Cash (1987).

b. Keterlibatan konsumen dinilai dari variabel derajat/tingkat keterlibatan

terhadap produk yang didapat dari perhitungan pada variabel produk yang

menggunakan Skala Personal Involvement Inventory (Pll) yang

(62)

Adapun fitness center yang dijadikan populasi penelitian antara lain Ade Rai

Club Fitness Center dan Vita/iano Fitness Center,Aerobik&Body Language

yang semuanya terletak di wilayah Cibubur, Jakarta Timur.

3.2.2

Sampel

Menurut Ferguson (dalam Sevilla, 1993), sampel adalah beberapa bagian

kecil atau cuplikan yang ditarik dari populasi, atau porsi dari populasi.

Kegunaan memilih sampel adalah mendapatkan informasi mengenai populasi

(Sutarlinah, 2000).

Sampel yang digunakan sebagai responden penelitian adalah anggota

senam aerobik dan fitness yang berjumlah 36 orang. Hal ini karena

diasumsikan bahwa anggota senam aerobik dan fitness memiliki karakteristik

sebagai responden penelitian ini. Sarnpel yang digunakan sebagai objek

penelitian berada di wilayah Cibubur karena pertimbangan jarak, waktu dan

(63)

3.2.3

Teknik Pengambilan Sampel

Pengarnbilan sarnpel yang dilakukan dalarn penelitian ini yaitu

non probability

sampling,

dirnana tidak sernua anggota populasi rnendapatkan kesernpatan

yang sarna rnenjadi sarnpel penelitian. Secara spesifik, teknik yan

Gambar

Gambar 2.1 Skema hubungan antar variabel
gambaran mental yang akurat dan benar tentang tubuhnya, beserta
gambaran umum responden penelitian, presentasi data dan hasil
Tabel 1. Skala Pll
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara citra tubuh dengan harga diri pada Komunitas gym di azkar gym Masaran Sragen , peranan citra tubuh terhadap

Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa hipotesis dalam penelitian ini tidak dapat diterima, yaitu tidak terdapat korelasi antara citra tubuh dan konsep diri

Skripsi ini yang berjudul HUBUNGAN ANT ARA PERSEPSI TERHADAP GAYA KEPEMIMPINAN TRANSAKSIONAL DENGAl'J KETERLIBATAN KERJA KARYAWAN telah diujikan dalam sidang

Skripsi yang berjudul &#34;HUBUNGAN ANTARA LOCUS OF CONTROL DENGAN PERILAKU INOVATIF PADA USAHA KEGIL&#34; telah diujikan dalam sidang munaqosah Fakultas Psikologi

Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada hubungan negatif antara citra tubuh dengan perilaku konsumtif pada wanita dewasa awal yang sudah bekerja dan belum

Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa hipotesis dalam penelitian ini tidak dapat diterima, yaitu tidak terdapat korelasi antara citra tubuh dan konsep diri

Citra tubuh adalah pendapat subjektif seseorang tentang penampilan fisiknya sendiri terlepas dari bagaimana penampilan mereka sebenarnya. 19 Citra tubuh dapat berupa citra

Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa hipotesis dalam penelitian ini tidak dapat diterima, yaitu tidak terdapat korelasi antara citra tubuh dan konsep diri dengan