• Tidak ada hasil yang ditemukan

Stres Kerja pada Karyawan PT. X yang Mengalami Decline Stage

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Stres Kerja pada Karyawan PT. X yang Mengalami Decline Stage"

Copied!
192
0
0

Teks penuh

(1)

STRES KERJA PADA KARYAWAN PT. X YANG MENGALAMI

DECLINE STAGE

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi persyaratan

Ujian Sarjana Psikologi

Oleh :

ANNISA HAZRINA

101301030

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

SKRIPSI

STRES KERJA PADA KARYAWAN PT. X YANG MENGALAMI

DECLINE STAGE

Dipersiapkan dan disusun oleh :

ANNISA HAZRINA

101301030

Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji

pada tanggal 11 April 2014

Mengesahkan,

Dekan Fakultas Psikologi

Prof. Dr. Irmawati, psikolog

NIP. 195301311980032001

Tim Penguji

1. Gustiarti Leila, M.Psi., M.Kes., Psikolog Penguji I/

NIP. 195301311980032001 Pembimbing ______________

2. Eka Danta Jaya Ginting, MA., Psikolog Penguji II ______________ NIP. 197308192001121001

2. Siti Zahreni, M.Psi., Psikolog Penguji III ______________

(3)

LEMBAR PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya

bahwa skripsi saya yang berjudul:

Stres Kerja pada Karyawan PT. X yang Mengalami Decline Stage

adalah hasil karya saya sendiri dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar

kesarjanaan di suatu perguruan tinggi manapun.

Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan skripsi ini saya kutip dari

hasil karya orang lain yang telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan

norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.

Apabila di kemudian hari ditemukan adanya kecurangan di dalam skripsi ini,

saya bersedia menerima sanksi dari Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara

sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Medan, April 2014

Annisa Hazrina

(4)

Stres Kerja pada Karyawan PT. X yang Mengalami Decline Stage

Hazrina dan Leila

ABSTRAK

PT. X yang merupakan sebuah perusahaan BUMN yang bergerak di bidang pengolahan gas bumi saat ini sedang mengalami masa penurunan (decline stage). Penurunan ini terjadi akibat kehabisan sumber daya dan menyebabkan PT. X akan ditutup pada tahun 2014. Selama masa penurunan terjadi, terdapat perubahan pada sistem, iklim organisasi, fasilitas serta ketidakjelasan nasib yang dapat menyebabkan stres kerja pada karyawan PT. X. Penelitian ini menggunakan metode penelitian mix design approach (MAD) dan bertujuan memberikan gambaran stres kerja karyawan yang menghadapi masa penurunan di PT. X Pengambilan data pada 161 subjek penelitian dilakukan secara kuantitatif yakni menggunakan skala stres kerja yang disusun berdasarkan 3 simtom stres kerja yakni prilaku, psikologis dan fisik. Selanjutnya didukung dengan data kualitatif yakni hasil wawancara dengan subjek dan pihak perusahaan untuk mendukung hasil temuan kuantitatif. Hasil penelitian yakni stres kerja secara umum menunjukkan sebanyak 35,4% subjek mengalami stres kerja kategori rendah, 48,4% subjek mengalami stres kerja kategori sedang dan 16,1% subjek mengalami stres kerja kategori tinggi dalam menghadapi masa penurunan pada PT. X.

(5)

Job Stress Among PT. X’s Employees by The Decline Stage

Hazrina and Leila

PT. X is one of BUMN company where the natural gas being processed and now already at the decline stage. The decline stage is caused by the non-renewable resources and the company will be closed soon at 2014. While the company is declining, there are many changes happens on the system, organizational climate, facilities and the uncertatinty employment that may cause the jobstress among PT. X employees. This research is using mix design approach (MAD) and aim to describe the employees’ jobstress whom deal with the declining stage at PT. X. The data of 161 subjects were collected by quantitative method which is using the jobstress scale based on 3 symptoms of the jobstress; behavioral, psychological and physical symptoms. Moreover, interview is done by researcher as qualitative method due to supporting the quantitative data. In general, the result of this research are 35,4% subjects experienced low level of jobstress, 48,4% subjects experienced moderate level of jobstress and 16,1% experienced high level of jobstress regarding the decline stage of PT. X.

(6)

KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang merupakan

sumber kekuatan dalam proses penyelesaian skripsi yang berjudul “Stres Kerja pada

Karyawan PT. X yang Mengalami Decline Stage” ini. Adapun skripsi ini diajukan

untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.

Proses penyelesaian skripsi ini memerlukan kerja keras, doa, bantuan dan

dukungan dari banyak pihak. Peneliti mempersembahkan skripsi ini untuk keluarga

tersayang; papa Hasbi M Hasan, mama Mega Isyabani, kakak dr. Kartika Agustina

Hasbi, adik M. Rifqy Auffar Hasbi dan nenek Maimunah Hasan. Peneliti

mengucapkan terima kasih atas segala dukungan, kasih sayang dan doa yang telah

dipanjatkan untuk membantu peneliti dalam penyelesaian skripsi ini. Peneliti juga

berterimakasih dan sangat menghargai setiap bantuan yang telah diberikan oleh

berbagai pihak. Dalam kesempatan ini dengan tulus peneliti mengucapkan :

1. Terima kasih kepada Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sumatera

Utara, Prof. Dr. Irmawati, Psikolog, yang telah sangat mendukung dalam

proses penyelesaian studi, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi

ini.

2. Terima kasih kepada Ibu Gustiarti Leila, M.Psi., M.Kes., Psikolog, selaku

dosen pembimbing yang telah membagi ilmu dan waktunya yang sangat

berharga dan membimbing peneliti sehingga skripsi ini dapat diselesaikan

(7)

3. Terimakasih kepada Ibu Dr. Wiwik Sulistyaningsih, S.Psi.,

M.Si.,Psikolog selaku dosen pembimbing akademik yang telah

membimbing perjalanan studi peneliti dari awal hingga akhir.

4. Terima kasih kepada Bapak Eka Danta Jaya Ginting, S.Psi., M.A.,

Psikolog, Kak Dina Nazriani, M.A., Kak Cherly Keumala Ulfa, S.Psi,

M.Psi., Kak Siti Zahreni, S. Psi., M.Psi., Ibu Etty Rachmawati, serta Kak

Rahma Yurliani, S.Psi, M.Psi yang telah bersedia membagikan ilmunya

kepada peneliti.

5. Terima kasih kepada Ibu Filia Dina Anggaraeni, M.Pd yang mendukung

dan memberi nasehat selama penyelesaian skripsi ini.

6. Terima kasih untuk seluruh dosen pengajar Fakultas Psikologi Universitas

Sumatera Utara atas ilmu, arahan, dan nasehat yang diberikan. Semoga

apa yang telah peneliti pelajari dapat diterapkan dengan baik.

7. Terimakasih kepada Om Ardiansyah Lubis, Om Roni Rohendi dan Om T.

Kamal Mahruzar, dari pihak Relation & Legal PT. X yang telah sangat

banyak membantu peneliti selama berada di lapangan dan tidak pernah

sungkan untuk memberi kritik dan saran serta dukungan yang luar biasa

dalam penyelesaian skripsi ini.

8. Terima kasih untuk keluarga Tante Elvi Andriani, atas curahan kasih

sayang dan dukungannya, mulai dari awal hingga akhir masa studi,

(8)

9. Terima kasih untuk Charolina Margaretha, Aya Marissa, Nurul Sukma,

Prilsa Nadhirah dan Syarifah Nadiratuzzahra atas dukungan dan perhatian

yang luar biasa yang dicurahkan kepada peneliti.

10. Terimakasih kepada Reyhana Gathari, Annisa Vanya Pulungan, Fithra

Runisya, Tisha Lazuana, Febri Jayanti, Fitri Khairani Ginting, Caroline

Utama, Nanda Lukita Audi dan Fauzi Rozi Nasution yang tidak bosannya

mendengar curahan hati peneliti. Terimakasih telah menjadi sahabat yang

berharga.

11. Terima kasih untuk Cut Nanda Fitri dan Ajrina Busri, kedua sahabat

peneliti yang meskipun jauh tapi terus mendukung.

12. Terimakasih untuk Virza Azannur yang sering memberi motivasi dan

masukan kepada peneliti.

13. Terimakasih untuk gadis-gadis 18++, terimakasih untuk tawa, pelukan

dan dukungan yang kalian berikan.

14. Terima kasih untuk Kak Kinanti Mayangsari, Olga Septania, Kak Holy

Glora, Kak Rahmi Handayani, Tengku Rizky, Kak Sarah Fadilla dan Kak

Rahmi Zuraida yang telah sangat banyak membantu peneliti dalam

penyelesaian skripsi ini.

15. Terima kasih adik-adikku; Ola, Miana, Fania, Nyunyun, Jen, Winda,

Rajip, Bagus dan Okto atas dukungannya.

16. Terima kasih untuk teman-teman seperjuangan di Fakultas Psikologi

(9)

masa studi ini. Terimakasih juga kepada adik, kakak dan abang keluarga

besar Fakultas Psikologi USU.

17. Terima kasih kepada para narasumber wawancara penelitian, serta seluruh

subjek penelitian yakni karyawan PT. X atas segala informasi dan

bantuan terkait penelitian ini.

Peneliti menyadari bahwa dalam penelitian ini masih banyak terdapat

kekurangan sehingga dengan kerendahan hati peneliti mengharapkan saran dan kritik

yang dapat membantu menyempurnakan penelitian ini. Semoga penelitian ini dapat

bermanfaat bagi banyak pihak.

Medan, April 2014

Peneliti

(10)

DAFTAR ISI

E. Sistematika Penelitian ... 12

BAB II LANDASAN TEORI A Stres Kerja ... 14

1. Definisi Stres Kerja ... 14

2. Simtom Stres Kerja ... 18

3. Dampak Stres Kerja ... 21

4. Faktor Penyebab Stres Kerja ... 23

(11)

D. Metode Pengambilan Data ... 41

E. Validitas dan Reliabilitas Skala ... 45

1. Validitas Skala Penelitian ... 45

2. Reliabilitas Skala Penelitian ... 46

3. Uji Daya Beda Aitem ... 47

F. Prosedur Pelaksanaan Penelitian... 48

1. Tahap Persiapan ... 48

2. Tahap Pelaksanaan ... 50

3. Tahap Pengolahan Data... 50

G. Metode Analisa Data ... 51

BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN A Gambaran Umum Subjek Penelitian ... 54

1. Gambaran Umum Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin . 54 2. Gambaran Umum Subjek Penelitian Berdasarkan Usia ... 55

3. Gambaran Umum Subjek Penelitian Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 56

4. Gambaran Umum Subjek Penelitian Berdasarkan Divisi Pekerjaan ... 57

5. Gambaran Umum Subjek Penelitian Berdasarkan Masa Kerja ... 58

6. Gambaran Umum Subjek Penelitian Berdasarkan Golongan Gaji.. 59

B . Hasil Penelitian ... 60

1. Gambaran Umum Stres Kerja pada Karyawan PT. X yang Mengalami Decline Stage ... 61

2. Gambaran Umum Stres Kerja pada Karyawan PT. X yang Mengalami Decline Stage Berdasarkan Simtom Stres Kerja ... 63

a. Gambaran Stres Kerja Berdasarkan Simtom Prilaku ... 63

b. Gambaran Stres Kerja Berdasarkan Simtom Psikologis ... 65

(12)

3. Gambaran Umum Stres Kerja pada Karyawan PT. X yang

Mengalami Decline Stage Berdasarkan Faktor Demografis Stres

Kerja ... 69

a. Gambaran Umum Stres Kerja pada Karyawan PT. X

yang Mengalami Decline Stage Berdasarkan Jenis Kelamin ... 69 b. Gambaran Umum Stres Kerja pada Karyawan PT. X

yang Mengalami Decline Stage Berdasarkan Usia ... 71

c. Gambaran Umum Stres Kerja pada Karyawan PT. X

yang Mengalami Decline Stage Berdasarkan Tingkat

Pendidikan ... 74

d. Gambaran Umum Stres Kerja pada Karyawan PT. X

yang Mengalami Decline Stage Berdasarkan Divisi

Pekerjaan ... 77

e. Gambaran Umum Stres Kerja pada Karyawan PT. X

yang Mengalami Decline Stage Berdasarkan Masa Kerja ... 82

f. Gambaran Umum Stres Kerja pada Karyawan PT. X

yang Mengalami Decline Stage Berdasarkan Golongan

Gaji ... 86

4. Hasil Penelitian Tambahan : Gambaran Umum Stres Kerja pada

Karyawan PT. X yang Mengalami Decline Stage Berdasarkan

Irisan Faktor Demografis Stres Kerja ... 90

a. Gambaran Umum Stres Kerja pada Karyawan PT. X

yang Mengalami Decline Stage Berdasarkan Irisan Jenis

Kelamin dan Usia ... 90

b. Gambaran Umum Stres Kerja pada Karyawan PT. X

yang Mengalami Decline Stage Berdasarkan Irisan Usia

dan Golongan Gaji ... 92

(13)

yang Mengalami Decline Stage Berdasarkan Irisan Masa

Kerja dan Golongan Gaji ... 95

d. Gambaran Umum Stres Kerja pada Karyawan PT. X yang Mengalami Decline Stage Berdasarkan Irisan Usia dan Masa Kerja ... 99

e. Gambaran Umum Stres Kerja pada Karyawan PT. X yang Mengalami Decline Stage Berdasarkan Irisan Usia dan Divisi Pekerjaan ... 102

C. Pembahasan ... 106

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A.Kesimpulan... 121

B . Saran ... 123

1. Saran Metodologis ... 123

2. Saran Praktis ... 123

(14)

DAFTARTABEL

Halaman

Tabel 1. Jumlah Karyawan dan Kargo PT. X ... 5

Tabel 2. Cara Penilaian Gambaran Stres Kerja pada Karyawan PT. X

yang Mengalami Decline Stage ... 43

Tabel 3. Blue Print Distribusi Aitem Skala Gambaran Stres Kerja

pada Karyawan PT. X yang Mengalami Decline Stage ... 44

Tabel 4. Penyebaran Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin pada

Karyawan PT. X ... 55

Tabel 5. Penyebaran Subjek Berdasarkan Usia pada Karyawan PT. X ... 55

Tabel 6. Penyebaran Subjek Berdasarkan Tingkat Pendidikan pada

Karyawan PT. X ... 56

Tabel 7. Penyebaran Subjek Berdasarkan Divisi Pekerjaan pada

Karyawan PT. X ... 57

Tabel 8. Penyebaran Subjek Berdasarkan Masa Kerja Karyawan PT. X ... 58

Tabel 9. Penyebaran Subjek Berdasarkan Golongan Gaji pada

Karyawan PT. X ... 59

Tabel 10. Kategorisasi Stres Kerja pada Karyawan PT. X yang Mengalami

Decline Stage ... 61

Tabel 11. Skor Empirik dan Skor Hipotetik Stres Kerja Karyawan PT. X

yang Mengalami Decline Stage ... 61

Tabel 12. Kriteria Kategorisasi Stres Kerja pada Karyawan PT. X yang

(15)

Tabel 13. Skor Empirik dan Skor Hipotetik Simtom Prilaku Stres Kerja ... 63

Tabel 14. Kriteria Kategorisasi Simtom Prilaku Stres Kerja pada

Karyawan PT. X yang Mengalami Decline Stage ... 64

Tabel 15. Skor Empirik dan Skor Hipotetik Simtom Psikologis Stres Kerja ... 65

Tabel 16. Kriteria Kategorisasi Simtom Psikologis Stres Kerja pada

Karyawan PT. X yangMengalami Decline Stage ... 66

Tabel 17. Skor Empirik dan Skor Hipotetik Simtom Fisik Stres Kerja ... 67

Tabel 18. Kriteria Kategorisasi Simtom Fisik Stres Kerja pada

Karyawan PT. X yangMengalami Decline Stage ... 68

Tabel 19. Gambaran Umum Stres Kerja pada Karyawan PT. X yang

Mengalami Decline Stage Berdasarkan Jenis Kelamin ... 69

Tabel 20. Gambaran Umum Stres Kerja pada Karyawan PT. X yang

Mengalami Decline Stage Berdasarkan Usia ... 72

Tabel 21. Gambaran Umum Stres Kerja pada Karyawan PT. X yang

Mengalami Decline Stage Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 74

Tabel 22. Gambaran Umum Stres Kerja pada Karyawan PT. X yang

Mengalami Decline Stage Berdasarkan Divisi Pekerjaan ... 78

Tabel 23. Gambaran Umum Stres Kerja pada Karyawan PT. X yang

Mengalami Decline Stage Berdasarkan Masa Kerja ... 82

Tabel 24. Gambaran Umum Stres Kerja pada Karyawan PT. X yang

(16)

Tabel 25. Gambaran Umum Stres Kerja pada Karyawan PT. X yang

Mengalami Decline Stage Berdasarkan Irisan Jenis Kelamin

dan Usia ... 90

Tabel 26. Gambaran Umum Stres Kerja pada Karyawan PT. X yang

Mengalami Decline Stage Berdasarkan Irisan Usia dan

Golongan Gaji ... 92

Tabel 27. Gambaran Umum Stres Kerja pada Karyawan PT. X yang

Mengalami Decline Stage Berdasarkan Irisan Masa Kerja dan

Golongan Gaji ... 95

Tabel 28. Gambaran Umum Stres Kerja pada Karyawan PT. X yang

Mengalami Decline Stage Berdasarkan Irisan Usia dan Masa Kerja . 100

Tabel 29. Gambaran Umum Stres Kerja pada Karyawan PT. X yang

Mengalami Decline Stage Berdasarkan Irisan Usia dan

(17)

DAFTAR GRAFIK

Grafik 1. Urutan Stres Kerja pada Karyawan PT. X yang Mengalami

Decline Stage Berdasarkan Jenis Kelamin ... 71

Grafik 2. Urutan Stres Kerja pada Karyawan PT. X yang Mengalami

Decline Stage Berdasarkan Usia ... 73

Grafik 3. Urutan Stres Kerja pada Karyawan PT. X yang Mengalami

Decline Stage Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 77

Grafik 4. Urutan Stres Kerja pada Karyawan PT. X yang Mengalami

Decline Stage Berdasarkan Jenis Divisi Pekerjaan ... 81

Grafik 5. Urutan Stres Kerja pada Karyawan PT. X yang Mengalami

Decline Stage Berdasarkan Masa Kerja ... 85

Grafik 6. Urutan Stres Kerja pada Karyawan PT. X yang Mengalami

(18)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A. Surat Izin Melakukan Penelitian di PT. X

Lampiran B. Reliabilitas, Daya Beda Item dan Uji Normalitas Skala Stres Kerja

pada Karyawan PT. X yang Mengalami Decline Stage

Lampiran C. Hasil Analisis Deskriptif Stres Kerja Berdasarkan Faktor Demografis

Dan Simtom Stres Kerja pada Karyawan PT. X yang Mengalami

Decline Stage

Lampiran D. Hasil Penelitian Tambahan : Analisis Deskriptif Stres Kerja

Berdasarkan Irisan Faktor Demografis pada Karyawan PT. X yang

Mengalami Decline Stage

Lampiran E. Data Demografis Subjek Penelitian

Lampiran F. Data Skala Subjek Penelitian

Lampiran F. Skala Stres Kerja pada Karyawan PT. X yang Mengalami

(19)

Stres Kerja pada Karyawan PT. X yang Mengalami Decline Stage

Hazrina dan Leila

ABSTRAK

PT. X yang merupakan sebuah perusahaan BUMN yang bergerak di bidang pengolahan gas bumi saat ini sedang mengalami masa penurunan (decline stage). Penurunan ini terjadi akibat kehabisan sumber daya dan menyebabkan PT. X akan ditutup pada tahun 2014. Selama masa penurunan terjadi, terdapat perubahan pada sistem, iklim organisasi, fasilitas serta ketidakjelasan nasib yang dapat menyebabkan stres kerja pada karyawan PT. X. Penelitian ini menggunakan metode penelitian mix design approach (MAD) dan bertujuan memberikan gambaran stres kerja karyawan yang menghadapi masa penurunan di PT. X Pengambilan data pada 161 subjek penelitian dilakukan secara kuantitatif yakni menggunakan skala stres kerja yang disusun berdasarkan 3 simtom stres kerja yakni prilaku, psikologis dan fisik. Selanjutnya didukung dengan data kualitatif yakni hasil wawancara dengan subjek dan pihak perusahaan untuk mendukung hasil temuan kuantitatif. Hasil penelitian yakni stres kerja secara umum menunjukkan sebanyak 35,4% subjek mengalami stres kerja kategori rendah, 48,4% subjek mengalami stres kerja kategori sedang dan 16,1% subjek mengalami stres kerja kategori tinggi dalam menghadapi masa penurunan pada PT. X.

(20)

Job Stress Among PT. X’s Employees by The Decline Stage

Hazrina and Leila

PT. X is one of BUMN company where the natural gas being processed and now already at the decline stage. The decline stage is caused by the non-renewable resources and the company will be closed soon at 2014. While the company is declining, there are many changes happens on the system, organizational climate, facilities and the uncertatinty employment that may cause the jobstress among PT. X employees. This research is using mix design approach (MAD) and aim to describe the employees’ jobstress whom deal with the declining stage at PT. X. The data of 161 subjects were collected by quantitative method which is using the jobstress scale based on 3 symptoms of the jobstress; behavioral, psychological and physical symptoms. Moreover, interview is done by researcher as qualitative method due to supporting the quantitative data. In general, the result of this research are 35,4% subjects experienced low level of jobstress, 48,4% subjects experienced moderate level of jobstress and 16,1% experienced high level of jobstress regarding the decline stage of PT. X.

(21)

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Berawal dari pendeteksian oleh sebuah perusahaan minyak, sebuah desa di

Aceh diincar oleh 2 perusahaan minyak dan gas bumi besar di Indonesia. Perusahaan

tersebut adalah Mobil Oil dan Pertamina, yang keduanya kemudian melakukan

pengeboran dan pencarian kedua sumber daya alam yakni gas dan minyak alam

secara lepas pantai. Pada tanggal 24 Oktober 1971, di sebuah desa bernama Desa X,

Kecamatan Syamtalira, Aceh Utara, gas alam akhirnya ditemukan. Di bawah desa X

diperkirakan terkandung cadangan gas alam mencapai 17,1 trilyun kaki kubik. Hari

itu merupakan hari ke-73 sejak uji eksplorasi yang dipimpin Bob Graves, pimpinan

eksplorasi Mobil Oil di Aceh dimulai. Selanjutnya Mobil Oil dan Pertamina

bersama-sama membangun sebuah unit operasi berupa pabrik dan kapal-kapal, kemudian

mulai membangun perumahan dan jalanan, merekrut karyawan dan melakukan

penjualan gas secara impor maupun ekspor yang kemudian bernaung dibawah sebuah

perusahaan bernama PT. X sejak tahun 1973 (Sugiyono, 1997).

PT. X adalah sebuah perusahaan yang bergerak dibidang pengolahan gas bumi

yang terdapat disekitar daerah Aceh. Perusahaan ini bersifat BUMN. Tidak hanya

(22)

Korea dan Jepang dan menjalin kerjasama dengan banyak perusahaan baik dalam

negeri maupun luar negeri (Sugiono, 1997). PT.X kini telah berusia 38 tahun

semenjak pengolahan pertama dilakukan. Selama 39 tahun perusahaan ini telah

memberikan banyak kontribusi bagi perkembangan ekonomi dan sosial di Aceh.

Pembangunan fasilitas umum seperti jalan raya, pembangunan rumah, pengadaan

pendidikan juga tidak luput dari tujuan perusahaan sendiri. Hal tersebut juga

dirasakan para karyawan, tidak hanya berupa gaji yang besar, namun tunjangan hidup

yang bersifat sangat penting seperti biaya kesehatan, biaya pendidikan anak, tempat

tinggal, hingga sembako juga sudah dipenuhi oleh PT. X. Hal ini diungkapkan oleh

salah seorang karyawan yang telah bekerja selama kurang lebih 20 tahun :

“Di sini hidup itu kayak surga, all free. Kamu mau apa? Sekolah? Yaudah sekolah la nak. Sakit? Berobat la nak. Parah kali rupanya sakit sampe harus dibawa ke luar negeri, jangan khawatir ada tanggungan perusahaan. Mau apa juga ada disini. Sehingga kadang hal-hal kekgini la ya dek yang buat kami ini loyal sama perusahaan. Dimana lagi la coba mau kita cari perusahaan kayak gini, udahla gaji bapak bagus, keluarga sampe mertua pun dijamin. Saya masuk kesini itu memang surga lah dek. Sampe gatau harus gimana lagi saya bersyukur untuk semua kemudahan yang dikasih…” (Komunikasi Personal, 14 Maret 2013)

Selain itu, selama ini PT. X juga menyediakan kebutuhan skills bagi para

karyawan, seperti pengadaan training di dalam perusahaan sendiri maupun

mengirimkan karyawan keluar daerah untuk belajar lebih banyak dan berperan aktif

dalam pengembangan perusahaan seperti berikut :

(23)

apa ke Jakarta atau bandung untuk ikut course seminggu. Kadang ada yang keluar negeri dek dan semuanya ditanggung perusahaan, kita bawa diri aja asal siap nerima pelatihan dan pelajaran.” (Komunikasi Personal, 14 Maret 2013)

Namun dalam pengolahan gas yang sudah berjalan selama 39 tahun, tentunya

sumber daya alam yang tidak terbaharui seperti gas yang diolah juga memiliki batas

penggunaan maksimum. Hal ini tentu saja berpengaruh pada perusahaan yang

mengolah sumber daya tersebut. Sebuah perusahaan akan hidup, jaya dan mengalami

penurunan. Bahkan menurut Robbins (1990) semua organisasi memiliki siklus yang

dinyatakannya sebagai suatu pola yang telah baku dan konsisten, serta memiliki

urutan tertentu. Sehingga transisi atau perubahan dari satu tahapan ke tahapan lain

dapat diramalkan.

Lippitt dan Schmidt (1967) berpendapat bahwa semua organisasi atau

perusahaan pada dasarnya memiliki siklus yang sama seperti manusia dan tumbuhan.

Organisasi akan tumbuh dan produktif di kala muda dan kemudian akan terus

bertambah tua, beberapa organisasi atau perusahaan dapat bertahan beberapa dekade,

bahkan bisa berabad-abad. Genap di usianya yang ke 40, diperkirakan perusahaan ini

akan berhenti memproduksi gas alam. Hal ini dikarenakan gas alam merupakan

sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, sehingga memiliki batas maksimum

penggunaan. Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh salah seorang

karyawan divisi HRD (Human Resources Development) :

(24)

diperkirakan dari awal. Jadi pas dibangun memang sudah diramalkan dengan gas seberapa banyak, kapan kira-kira gas ini habis. Artinya udah dikira-kira kapan X ini habis.” (Komunikasi personal, 3 April 2013)

Mendekati periode yang ditentukan, tentu terjadi banyak perubahan dan

penurunan yang tidak hanya mengurangi jumlah kargo (kapal penjualan gas) namun

juga mengurangi jumlah karyawan, seperti yang terkutip pada komunikasi personal

dengan salah seorang staf HRD berikut :

“Jauh dek, dulu karyawan ada sekitar seribu orang, itu belum outsourcing. Kalo mau ditambah outsourcing, mmm… ada sekitar empat ribuan karyawan yang dinaungi PT. X. Ini 2013 om dapat data hanya sekitar tiga ratusan karyawan, dengan tujuh ratusan orang outsourcing. Kalo ibarat perempuan, ini udah diet ketat dek. Udah kurus tinggal bahan-bahan utama aja yang tersisa” (Komunikasi Personal, 4 April 2013)

Sementara itu, karyawan lainnya menceritakan tentang perubahan fasilitas

yang mengalami perubahan. Fasilitas lengkap yang mencakup segala aspek

kebutuhan tersebut kini perlahan-lahan mulai ditiadakan, seperti berikut :

(25)

Selain itu, pada kunjungan peneliti ke lapangan, ternyata data yang didapat

dengan jelas menunjukkan adanya penurunan pada empat tahun terakhir. Penurunan

ini dilihat dari jumlah karyawan dan kargo yang terus mengalami penurunan terhitung

hingga 15 Maret 2013, sesuai dengan data lapangan yang dipaparkan oleh seorang

staf HRD berikut:

Tabel 1. Jumlah Karyawan dan Kargo PT. X

Hal ini diperkuat dengan penjelasan staf yang bersangkutan mengenai paparan

Tabel 1 diatas mengenai pengurangan jumlah kargo dan karyawan :

“Sempat agak stabil di 2011 dan 2012, tapi kenapa karyawan tetap berkurang? Satu ya karena pensiun. Kedua ya karena kita sudah perkirakan, tahun ke depannya lagi akan terjadi pengurangan kargo yang cukup signifikan, dan memang berkurang sekitar 11 kargo kan? Nah pengurangan karyawan juga tidak jauh terjadi dalam jumlah yang sama, kali ini memang lebih banyak pensiunnya. Karena juga kita tetap butuh karyawan yang mencukupi, kargo boleh sedikit, tapi kan pabrik masih cukup luas untuk diurus” (Komunikasi Personal, 15 Maret 2013)

Merujuk pada teori Organization Life Cycle menurut Robbins (1990),

perusahaan ini sedang berada pada tahap penurunan (decline stage) karena memenuhi Tahun Kargo Jumlah Karyawan

2010 35 445 orang

2011 31 413 orang

2012 22 385 orang

2013 21 356 orang

(26)

karakteristik seperti penurunan terhadap produk, mencari berbagai jalan untuk tetap

memegang pasar dan mencari kesempatan baru. Fase decline adalah fase dimana

terjadinya penurunan terus menerus dalam seluruh kegiatan di dalam sebuah

organisasi (Robbins dan Barnwell, 2002). Kini hal ini juga dapat dilihat dari Tabel 1,

bahwa tidak hanya produksi yakni berupa kargo yang menurun, namun jumlah

karyawan juga ikut menurun disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.

Decline stage pada PT. X terjadi dalam kurun waktu yang sudah cukup lama.

Penelitian ini diadakan tepat 1 tahun sebelum PT. X akan ditutup sesuai dengan

rencana awal yakni pada Desember 2014. Namun sebelumnya, PT. X juga sudah

mengambil langkah misalnya pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar-besaran

di tahun 2000. Prediksi mengenai akhir dari nasib PT. X sendiri sudah berubah

beberapa kali. Awalnya tahun 2010 diprediksi sebagai akhir dari decline stage yang

sudah dialami selama 10 tahun mulai dari tahun 2000, nemun kemudian bergeser

pada tahun 2012 dan akhirnya 2014. Keadaan di dalam perusahaan sendiri sangat

fluktuatif dan tidak stabil. Selama masa penurunan terjadi, baik karyawan maupun

perusahaan mengusahakan kepastian dan kesepakatan terbaik yang bisa dicapai

sebagai solusi. Namun selama itupula, keadaan perusahaan terus berubah dan

perubahan didalam organisasi atau PT. X terus terjadi.

Banyak perubahan yang terjadi selama PT. X memasuki masa decline stage.

Perubahan sistem, lingkungan kerja dan iklim organisasi dapat memicu terjadinya

(27)

secara rutin akan menjadi kebiasaan dalam diri manusia, sehingga perubahan dalam

dunia pekerjaan juga dapat mengubah hidup seseorang. Perubahan ini kemudian

disebut dengan life change events. Life change events merupakan salah satu stresor

kerja yang cukup signifikan pada seorang karyawan (Rice, 1987). Hal ini diperkuat

dengan adanya keluhan dari karyawan PT. X mengenai perubahan suasana yang

diakuinya sebagai salah satu tekanan yang tidak menyenangkan:

Salah satu karyawan yang bekerja di dalam divisi operation yakni

pengelolaan pabrik menyatakan adanya perubahan situasi dan ketidakpastian masa

depan yang terkutip pada wawancara berikut :

“Sepinya deek ya ampun, kalo dulu ya di kantor itu rame, sekarang sepi. Pulang ke rumah pun jalanan sepi. Semakin hari rasanya semakin sepi dan kadang membuat ga bersemangat ke kantor. Selain itu kita kan ga seperti PT. X yang dulu. Sekarang mau habis kan? Gatau juga om, apakah nanti akan tetap dipekerjakan atau tidak Yah kalo ditanya sanggup, om masih sanggup kerja, tapi apakah setelah ini akan dipake lagi kan gatau. Pasrah aja sama Allah..” (Komunikasi Personal, 14 Maret 2013)

Tekanan yang dihadapi oleh karyawan tidak hanya mengenai perubahan

lingkungan kerja, namun mencakup hal lainnya yang berkaitan dengan keluarga dan

masa depan, yang mana stres kerja mempengharuhi interaksi pekerja dengan keluarga

(Colligan & Higgins, 2005). Hal ini diungkapkan oleh salah seorang karyawan :

“Mikirin anak masih kecil, walau udah tau 2014 abis dan tetap diberi pesangon, saya gabisa bohong kalo kecemasan itu ada. Resah dan gundah itu suka muncul aja sendiri” (Komunikasi personal, 26 April 2013)

Kegundahan yang dirasakan ini kemudian dapat menyebabkan stres pada

(28)

sebuah kondisi yang muncul akibat interaksi antara individu dengan pekerjaan

mereka, dimana terdapat ketidakpastian dan ketidaksesuaian karakteristik dan

perubahan – perubahan yang terjadi di dalam perusahaan atau organisasi . Selain itu

stress kerja juga dinyatakan sebagai suatu kondisi yang dinamis saat

seorang individu dihadapkan pada peluang, tuntutan, atau sumber daya yang terkait

dengan apa yang dihasratkan oleh individu yang hasilnya dipandang penting namun

tidak pasti dalam pekerjaannya (Schuller, 2002).

Banyak faktor di dalam organisasi yang dapat menyebabkan stres (Frew,

1987). Selain oleh desain struktur dan organisasi, ketidakpastian lingkungan juga

mempengaruhi tingkat stres kerja para karyawan di dalam sebuah organisasi.

Ketidakpastian yang dialami oleh karyawan berhubungan dengan pemutusan

hubungan pekerjaan, waktu pemberian pesangon dan nasib karyawan jika ternyata

PT. X akan dijadikan sebuah lahan bisnis baru. Perubahan dan siklus bisnis

menciptakan ketidakpastian ekonomi misalnya, ketika kelangsungan karyawanan

terancam maka seseorang mulai khawatir ekonomi akan memburuk (Cavanaugh,

2000). Hal ini yang terjadi pada karyawan yang masih secara aktif memberikan

kontribusinya kepada PT. X yang diperkirakan akan tutup di tahun 2014 dan saat ini

berada dalam masa penurunan. Hingga saat akhir penurunan inipun karyawan merasa

nasibnya masih belum jelas, apakah decline stage ini akan berakhir dengan manis

ataukah akan ada lahan bisnis baru yang sedang dipersiapkan untuk kedepannya dan

(29)

hasrat yang dirasa penting bagi karyawan ini kemudian berpotensi memunculkan

stres kerja pada karyawan dalam menghadapi decline stage.

Rollinson (2005) memaparkan beberapa tanda dari stres seperti adanya

kecemasan, depresi yang ditandai dengan beberapa gejala seperti gangguan tidur,

kehilangan nafsu makan, penurunan hasrat seksual, cepat merasa lelah, kehilangan

konsentrasi, kesulitan mengambil keputusan, menjauhkan diri dari lingkungan hingga

merasa terjebak dan tidak tertolong. Seperti yang dinyatakan oleh beberapa karyawan

berikut:

“Kalau memikirkan nasib kedepan yang belum jelas, apalagi anak masih kecil, jangan bayangin dikantor dek. Nanti meledak mesin semuanya gara-gara gak konsentrasi” (Komunikasi personal,19 Juni 2013)

“Saya agak susah tidur kalo udah kebayang masalah perusahaan. Bukan masalah takut ga dibayar, tapi apa yang sebaiknya saya lakukan? Tetap bekerja atau coba mulai cari tempat baru”(Komunikasi Personal, 14 Maret 2013)

“Paling kesal kalo kawan udah payah connect. Kita perlu cepat, dia lelep lelep lama gak ngerti-ngerti kalo udah dikasitau. Banyak kali bengongnya apalagi kalo dah mulai ada bunyi-bunyi phk. Maka kadang kalo belom pasti gausah ada suara suara lah, kita ini jantungan nanti kerjapun gak tenang, yang ada palak-palak sendiri. Panas kantor gara-gara isu” (Komunikasi personal, 19 Juni 2013)

Keluhan dan gejala yang dirasakan karyawan tidak hanya berpengaruh pada

dirinya sendiri, namun juga pada lingkunganya. Stres ini bisa disebabkan oleh

tingginya tuntutan pekerjaan, kebosanan, rasa keharusan untuk bekerja serta tanggung

(30)

kecilnya kesempatan seseorang untuk memiliki skill dan pengetahuan baru, hubungan

interpersonal yang kurang baik, merasa diperlakukan tidak adil dan adanya

kecemasan akan kehilangan pekerjaan (Quick dalam Sarafino, 2011).

Dari fenomena yang terjadi pada karyawan PT. X di tengah-tengah decline

stage ini, peneliti menemukan beberapa kondisi yang dapat dikategorikan sebagai

stres kerja yang membutuhkan tindak lanjut dari perusahaan. Namun dibutuhkan data

yang akurat untuk menggambarkan bagaimana stres kerja yang sebenarnya saat ini

sedang terjadi pada karyawan PT. X dalam menghadapi decline stage perusahaannya.

Oleh sebab itu, peneliti ingin melakukan penelitian mengenai gambaran stres kerja

yang dialami karyawan PT. X dalam menghadapi decline stage yang terjadi di PT. X.

B. MASALAH PENELITIAN

Pada keadaan perusahaan yang terus menurun dan perubahan yang terjadi,

bagaimana gambaran stres kerja karyawan PT. X dalam menghadapi decline stage di

(31)

C. TUJUAN PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan untuk melihat secara konkrit, yakni stres kerja dilihat

secara umum, dilihat melalui simtom dan faktor demografis mengenai gambaran stres

kerja karyawan PT. X dalam menghadapi decline stage di perusahaannya.

D. MANFAAT PENELITIAN

1. Manfaat Teoritis

Data hasil penelitian lapangan yang masih baru dapat dijadikan

landasan penelitian lanjutan untuk penelitian berikutnya

2. Manfaat Praktis

- Hasil penelitian dapat dipergunakan oleh PT. X untuk mendapatkan

data yang akurat mengenai tingkat stres kerja pada karyawan saat

perusahaannya mengalami decline stage.

- Sebagai salah satu bahan pertimbangan untuk melakukan program

selanjutnya (assessment) terkait dengan stres kerja yang dialami

(32)

E. SISTEMATIKA PENULISAN

Proposal ini terdiri dari beberapa bab dengan sistematika penulisan yang

digunakan sebagai berikut :

BAB I mengenai pendahuluan. Pada bab ini berisi penjelasan mengenai latar

belakang, permasalahan penelitian, manfaat penelitian, tujuan penelitian dan

sistematika penulisan.

BAB II mengenai landasan teori. Pada bagian ini dibahas beberapa teori yang

relevan dan digunakan sebagai acuan dalam penjelasan data penelitian. Teori yang

digunakan adalah mengenai stres kerja dan teori decline stage terkait dengan kondisi

perusahaan.

BAB III mengenai metodologi penelitian. Pada bagian ini berisi uraian

mengenai identifikasi variabel, definisi operasional mengenai stres kerja, subjek

penelitian serta metode yang akan digunakan untuk mengukur gambaran stres kerja

karyawan PT. X dalam menghadapi decline stage di perusahaannya.

BAB IV mengenai analisa dan interpretasi data. Pada bab ini dijelaskan

pengolahan dan pengorganisasian data penelitian, serta membahas data-data

penelitian dengan teori yang relevan dengan stres kerja yang dialami karyawan pada

(33)

BAB V mengenai kesimpulan dan saran. Bagian ini berisi kesimpulan dari

penjelasan teori dan data lapangan yang ditemukan oleh peneliti terkait dengan

gambaran stres kerja yang dialami oleh karyawan PT. X dalam menghadapi decline

stage di perusahaannya. Kemudian bab ini juga membahas hal-hal baru yang

ditemukan dan saran yang dapat diberikan oleh peneliti berdasarkan hasil penelitian

(34)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. STRES KERJA

1. Definisi Stres Kerja

Beer dan Nowman (dalam Luthans, 1998) menyatakan stres kerja sebagai

sebuah kondisi yang muncul akibat interaksi antara individu dengan pekerjaan

mereka, dimana terdapat ketidakpastian dan ketidaksesuaian karakteristik dan

perubahan – perubahan yang terjadi di dalam perusahaan atau organisasi . Selain itu

stres kerja juga dinyatakan sebagai suatu kondisi yang dinamis saat

seorang individu dihadapkan pada peluang, tuntutan, atau sumber daya yang terkait

dengan apa yang dihasratkan oleh individu yang hasilnya dipandang penting namun

tidak pasti (Schuller, 2002). Artinya walaupun potensi dan kesempatan ada,

seseorang juga bisa menghadapi stres akibat ketidakpastian perubahan lingkungan

pekerjaan yang harus dihadapinya.

Menurut Beehr dan Franz (1987) stres kerja adalah suatu proses yang

menyebabkan orang merasa sakit, tidak nyaman atau tegang karena pekerjaannya,

tempat kerja atau situasi kerja tertentu. Hampir semua orang mengalami stres pada

pekerjaan mereka, dimana hal ini banyak dianggap pekerja sebagai hal yang biasa

terjadi, namun ternyata stres yang dirasakan akan semakin kuat dan lama (Sarafino,

(35)

Sementara itu, definisi stres sendiri adalah ketegangan yang berpengaruh pada

emosi, jalan pikiran dan kondisi fisik seseorang (Siagian, 2003). Lebih spesifik lagi,

menurut Taylor (2009) stres adalah pengalaman emosional negatif yang disertai

dengan perubahan biokimia, fisiologi, kognitif dan prilaku yang diperkirakan

seseorang untuk dapat merubah suatu kejadian yang dihadapinya ataupun

mengakomodir efek dari stres tersebut.

Rice (1987) mendefinisikan stres kerja sebagai permintaan dalam pekerjaan

yang melampaui batas kemampuan dari karyawan itu sendiri. Menurutnya stress

dapat dibedakan atas 3 cara yakni :

- Pertama, segala stimulus atau kejadian dari luar yang menyebabkan

seseorang merasa tertekan atau terangsang, yang berarti stres berada di

luar orang tersebut (eksternal).

- Kedua, stress juga dinyatakan sebagai respon subjektif terhadap apa

yang terjadi, dalam hal ini ini stress berarti internal mental state dari

tekanan tersebut.

- Ketiga, stress dilihat sebagai reaksi fisik oleh tubuh untuk menandakan

adanya kerusakan yang kemudian menjadi pertahanan tubuh terhadap

tekanan tersebut.

Stres sebagai reaksi fisik yakni pertahanan tubuh merupakan reaksi yang

dilakukan oleh tubuh untuk berhadapan dengan situasi stres tersebut. Reaksi tersebut

(36)

merespon stres dalam keadaan yang tidak spesifik untuk mengantisipasi kerusakan

imun yang diakibatkan oleh lamanya stres yang menetap dalam diri individu. General

Adaptation Syndrome atau GAS memiliki 3 tahapan reaksi yakni alarm reaction,

stage of resistance dan stage of exhausted.

Gambar 1. Fase pada General Adaptation Syndrome ( Selye, 1974)

Fase pertama yakni alarm reaction terjadi ketika tubuh menyadari ada stresor

yang hadir dan harus dihadapi. Semakin lama tubuh berjuang untuk bertahan,

resistensi tubuh akan terus berkurang yang selanjutnya akan membawanya pada

tahapan kedua. Pada tahapan kedua yakni stage of resistance, tubuh akan berada

dalam keadaan konstan untuk bertahan dalam jangka waktu yang lebih lama. Tubuh

mencoba terus beradaptasi dan menerima paparan stres yang berkelanjutan.

Kemudian tahap terakhir yakni stage of exhaustion dimana kemampuan tubuh untuk

berhadapan dengan stres akan berkurang. Hal ini disebabkan oleh lamanya paparan

stres yang terjadi, sehingga tingkat resistensi yang tadinya meningkat dari normal,

(37)

dibawah itu. Sehingga tahapan stage of exhaustion yang berkepanjangan dan berulang

berpotensi mengembangkan penyakit yang dipicu oleh gangguan psikologis (Brannon

& Feist, 2007).

Demikianlah cara tubuh menyesuaikan diri dan berhadapan dengan stres yang

terjadi. Hal ini terjadi pada semua jenis stres yang dialami individu. Demikian pula

pada stres kerja yang dipicu oleh pekerjaan seseorang. Pemicunya dapat beragam

seperti persaingan di kantor, relasi dengan rekan kerja, pekerjaan yang terlalu banyak

dan lain sebagainya (Rice, 1999).

Pada dasarnya stres tidak selalu berdampak negatif pada tubuh. Ada stres

yang bersifat positif dan konstruktif yang disebut dengan eustress. Sebuah pekerjaan

juga membutuhkan kekuatan stres untuk meningkatkan performansinya. Sementara

sebaliknya ada stres yang sifatnya negatif yakni mengarah pada destruktif. Pada

umumnya gejala stres kerja yang sering ditampilkan lebih mengarah pada stres yang

merugikan karyawan maupun perusahaannya. Stres yang memberi dampak buruk dan

destruktif ini kemudian disebut sebagai distress (Selye dalam Rice, 1992). Distress

yang kemudian akan menjadi fokus penelitian ini mengenai stres kerja yang dialami

(38)

2. Simtom Stres Kerja

Rice (1987) mengelompokkan simtom stres kerja ke dalam 2 bagian

besar, yakni simtom psikologis dan fisik. Namun ada satu pembagian lagi

oleh Schuler (1980) yakni simtom perilaku berhubungan dengan dampak

organisasional pada karyawan. Sehingga terdapat 3 simtom stres kerja yakni

simtom psikologis, fisik dan prilaku.

a. Simtom psikologis

Berikut beberapa simtom psikologis yang sering ditemukan pada

orang yang mengalami stres kerja :

- Cemas, tertekan, kebingungan dan mudah tersinggung, hal ini dapat

terjadi di ruang lingkup pekerjaan atau saat sudah berada di tengah

keluarga.

- Merasa frustasi dan marah akan pekerjaan yang dihadapi maupun

teman kerja.

- Sangat sensitif secara emosional dan merasa tertekan.

- Efektifitas komunikasi karyawan berkurang dari kemampuannya yang

biasa.

- Merasa ditolak oleh lingkungan sekitar, dalam hal ini seorang

karyawan akan merasa tidak diterima di lingkungan kerja atau bahkan

oleh keluarganya sendiri yang kemudian akan membuatnya merasa

terasing dan terpisahkan.

(39)

- Kemampuan intelektual secara umum menurun. Kesulitan untuk

berkomunikasi, memahami perintah maupun pertanyaan serta

kecepatan kerja yang menurun bisa menjadi indikasi simtom

intelektual ini

- Kurang konsentrasi, kreatifitas dan spontanitas dalam bekerja

- Kurangnya motivasi dan kepercayaan diri dalam penyelesaian tugas.

- Adanya gejala depresi seperti gangguan tidur, gangguan makan,

kelelahan, tidak mampu menyelesaikan tugas, merasa terjebak dalam

pekerjaan hingga menurunnya hasrat seksual (Rollinson, 2005).

b. Simtom fisik

Beberapa simtom fisik dibawah ini sering dirasakan oleh seseorang

yang mengalami stres. Kelelehan secara fisik, cedera, gangguan tidur dan

gangguan pencernaan adalah beberapa hal yang paling sering terjadi (Adams

dalam Rice, 1987). Berikut simtom fisik lainnya yang dapat dialami seseorang

ketika berada dalam keadaan stres

- Meningkatnya detak jantung dan tekanan darah. Hal ini berbanding

lurus dengan meningkatnya kecemasan. Semakin cemas seseorang,

maka semakin meningkat pula sekresi adrenalin yang meningkatkan

detak jantung . Peningkatan detak jantung akan berakibat pada

(40)

- Berpotensi mengalami gejala sakit fisik seperti maag atau dyspepsia

serta sesak napas atau sakit kepala.

- Mual, sakit leher, bibir kering, pusing dan bersendawa.

- Kelelahan fisik dan ketegangan otot yang dapat diakibatkan karena

gangguan tidur yang terjadi akibat stres kerja.

c. Simtom prilaku

Pada karyawan, stres kerja sangat berpengaruh terhadap prilakunya di

organisasi di tempat ia bernaung (Rice, 1987). Organisasi dan karyawannya

akan terus saling berhubungan dan mempengaruhi satu sama lain. Schuller

(1980) mengemukakan beberapa prilaku pada karyawan yang mengalami stres

kerja :

- Rendahnya performansi kerja secara kuantitatif dan kualitatif

- Rendahnya keterlibatan dalam pekerjaan, karyawan sering menolak

untuk diberi tanggung jawab.

- Menunjukkan ketidakpuasan maupun keluhan terhadap banyak tugas

yang dikerjakan dirinya sendiri maupun orang lain (Miner, 1992).

- Kurang perhatian terhadap keadaan perusahaan dan kolega. Hal ini

dapat dilihat sebagai kurangnya komitmen karyawan oleh perusahaan.

- Absensi yang tinggi diakibatkan rendahnya motivasi bekerja serta

(41)

dengan rekan kerjanya. Hal ini juga bisa terjadi karena rasa muak yang

dimiliki karyawan terhadap lingkungan kerjanya.

- Menyebabkan kecelakaan, ini disebabkan karena kurangnya

konsentrasi serta spontanitas karyawan pada saat bekerja.

- Hiperaktif, mencari-cari kegiatan dan melakukan hal yang tidak

bermanfaat

- Meningkatnya konsumsi obat-obatan, misalnya obat tidur atau obat

penenang.

- Suka menggerutu dan mengeluh tentang banyak hal, khususnya hal

yang berkaitan dengan pekerjaan, tugas maupun hubungannya dengan

teman kerja (Burke dalam Rollinson, 2005).

- Meninggalkan pekerjaan baik itu melakukan penundaan atau memang

tidak ingin menyelesaikan pekerjaan tersebut.

- Menyebabkan konflik bagi karyawan yang lain (Venniga & Spradley,

1981)

3. Dampak Stres Kerja

Stres kerja memberikan banyak dampak yang terlihat secara fisik

maupun prilaku seseorang. Berikut beberapa dampak yang dapat terlihat pada

seseorang yang mengalami stres kerja :

- Emosi yang naik dan turun dan sulit dikontrol. Emosi di lingkungan

(42)

mempersepsikan masalah dan tipe kepribadian yang dimiliki (Papalia,

2007).

- Memaksimalkan potensi burnout. Burnout adalah fenomena yang

terjadi pada seorang karyawan yang merasa memiliki perasaan, motif

dan pengalaman yang sangat buruk dengan pekerjaan mereka.

Karyawan yang mengalami burnout merasa tidak lagi dapat

mentoleransi batas kemampuan mereka untuk menghadapi masalah

sehingga merasakan kelelahan yang luar biasa baik secara fisik

maupun psikologis. Karyawan akan menunjukkan cirri-ciri seperti

hilangnya kepercayaan pada perusahaan, kehilangan minat hingga

tidak lagi ingin bekerja (Miner, 1992)

- Konsentrasi yang mudah terganggu dalam melakukan tugas yang telah

diperintahkan, atau sering salah memberi instruksi dan melakukan

kesalahan dalam pekerjaan (Rice, 1999).

- Selera makan yang berubah, bisa kehilangan nafsu makan maupun

terlalu banyak makan yang dapat mengakibatkan obesitas (Flach

dalam Rollinson, 2005).

- Lebih hiperaktif dari biasanya. Terkadang diikuti dengan agresifitas

yang meningkat, baik itu secara verbal misalnya membentak, sarkasme

ataupun memaki, ataupun secara nonverbal misalnya memukul tangan

(43)

- Karyawan akan lebih sering jatuh sakit. Stres kerja yang bersifat

distress sangat berhubungan erat dengan lemahnya kekuatan fisik dan

mental. Hal ini terjadi karena sistem saraf manusia terutama otak,

berhubungan dengan semua sistem biologis dan psikologis yang

berpengaruh kepada fungsi sistem imun (Ray, 2004).

- Kesulitan untuk tidur bahkan insomnia juga menjadi salah satu

dampak dari stres kerja akibat adanya perubahan suasana kerja (The

Association for Behavioral and Cognitive Therapies, 2010).

- Mudah lelah secara fisik maupun psikologis, menurunnya hasrat

seksual, menghindar dari kontak sosial dan kesulitan untuk menikmati

aktifitas pada seorang individu sebagai dampak dari stres kerja yang

dialami karyawan tersebut (Rollinson, 2005)

4. Faktor Penyebab Stres Kerja

Stres kerja adalah tekanan yang berasal dari karakter individual, pekerjaan dan

lingkungan (Greenberg, 2002). Artinya stres dapat berasal dari salah satu ataupun

gabungan antara faktor karakter individual, pekerjaan maupun lingkungan. Rollinson

(2005) menyebutkan banyak sekali faktor penyebab stres kerja yang digolongkannya

kedalam 4 faktor utama yakni lingkungan, faktor organisasi, faktor hubungan sosial

(44)

a. Faktor lingkungan

Faktor lingkungan memiliki tekanan yang berasal di luar karyawan

atau organisasi yang kemudian dapat berpotensi mengganggu karyawan

tersebut atau organisasinya. Faktor lingkungan ini mencakup faktor ekonomi

dan stabilitasnya, faktor sosial dan politik yang dapat berupa pemerintahan

yang baru, iklim politik di sebuah daerah, dan bagaimana orang-orang

disekitar kita berinteraksi. Faktor sosial dan politik disini berkaitan dengan

adanya perubahan perubahan yang membawa nasib seorang karyawan dalam

ketidakpastian. Selain itu perubahan lingkup sosial juga akan menyebabkan

adanya rasa takut dan insecurity pada karyawan. Sehingga berpotensial

menyebabkan stres. Selain faktor ekonomi dan sosial-politik, ada faktor

teknologi serta faktor pekerjaan dan keluarga. Faktor teknologi dapat

disebabkan karena cepatnya perkembangan teknologi sehingga menyebabkan

kesulitan beradaptasi bagi beberapa orang dan dapat menjadi salah satu

penyebab stres. Pada faktor pekerjaan dan keluarga, diyakini bahwa adanya

masalah pekerjaan yang dibawa ke dalam rumah, baik oleh individu itu

sendiri maupun orang lain di dalam keluarganya, dapat memicu stres bagi

anggota keluarga yang lain (Jones & Fletcher dalam Rollinson, 2005). Selain

itu adanya ambiguitas kewajiban berperan dengan tuntutan yang berbeda pada

saat berada di tengah keluarga dan rekan kerja juga dapat menjadi salah satu

(45)

b. Faktor organisasi

Stres juga dapat berasal dari organisasi, dimana seluruh aspek dari

organisasi berpotensial membangkitkan stres pada karyawan. Adanya

kebingungan peran mengenai pekerjaan, batasan kekuasaan dan

ketidakpastian dalam pekerjaan dapat menjadi penyebabnya. Selain itu pada

sebuah perusahaan yang strukturnya bersifat kaku juga dapat menyebabkan

kecemasan dan stres, karena karyawan merasa kesempatannya untuk

berkembang atau mendapatkan promosi sangat sedikit. Iklim dan budaya

organisasi yang tidak nyaman serta politik organisasi yang tidak kooperatif

juga dapat menjadi tekanan bagi seorang karyawan. Pada sebuah organisasi

seperti perusahaan, saling bergantung dan kecendrungan untuk bekerjasama

sangat dibutuhkan. Namun tidak semua karyawan mau bersikap kooperatif

dengan karyawan lainnya. Artinya timbul iklim persaingan disini. Hal ini juga

menimbulkan stres pada karyawan dalam menghadapi tuntutan perusahaan

dan lingkungan kerjanya yang tidak kooperatif karena adanya kepentingan

politik masing-masing.

c. Faktor sosial dalam konteks organisasi

Hubungan sosial memiliki peran penting di dalam kehidupan manusia.

Bagi seorang karyawan, hal ini bisa dilihat dari hubungannya dengan atasan,

(46)

didalam kelompok tersebut. Stres bisa terjadi dari hasil hubungan seorang

karyawan dengan atasannya. Adanya instruksi yang kurang jelas, kurangnya

dukungan secara fisik maupun emosional dan kurangnya penghargaan dari

atasan dapat membuat karyawan merasa bekerja di bawah tekanan. Selain itu

kurangnya pengarahan yang adekuat mengenai apa yang boleh dan tidak

boleh dikerjakan serta apa yang mau dilakukan selanjutnya juga membuat

karyawan merasa berada di dalam ketidakpastian yang dapat

menyebabkannya berada dalam keadaan stres (Schuller, 2002).

Lebih spesifik lagi, Greenberg (2002) menyatakan bahwa stres juga

meningkat ketika seseorang merasa ada ketidakjelasan di dalam pekerjaannya.

Misalnya terlalu banyak atau terlalu sedikitnya pekerjaan, ambiguitas peran

dan ketidakjelasan tuntutan dalam pekerjaan (Schaufeli & Peeters, 2000).

Mengenai hubungan sosialnya dengan anggota kelompok pada sebuah

organisasi atau perusahaan, Argyris dalam Rollinson (2005) menyebutkan

bahwa konflik dengan teman kerja dapat menjadi faktor stres pada karyawan.

Kurangnya rasa saling percaya, kurangnya rasa saling menghargai dan tidak

bersimpati satu sama lain dapat berkembang menjadi lingkungan sosial yang

memberi distress bagi performa karyawan.

d. Faktor individu dalam konteks organisasi

Pada faktor individu, ada beberapa faktor yang berpengaruh pada stres

(47)

mempengaruhi bagaimana tubuh merespon. Tubuh yang sakit secara fisik

akan menyebabkan tekanan secara biologis maupun psikologis sehingga

seseorang berada dalam keadaan stres. Selain itu, konflik yang terjadi di

dalam individu sendiri juga dapat menjadi faktor stres karena individu

dihadapkan pada pilihan untuk menjauh dan mendekat (approaching dan

avoiding) dari sumber stres (Sarafino, 2011). Dalam hal ini individu harus

memutuskan untuk memilih salah satu atau menyeimbangkan keduanya, yang

mana hal ini dapat menimbulkan stres dan kecemasan (Sarafino, 2011). Rice

(1987) juga mengemukakan bahwa stres banyak disebabkan oleh bagaimana

cara seseorang berpikir dan menginterpretasi kejadian yang ada di sekitarnya

Faktor kedua, job design yang berkaitan dengan jadwal karyawan,

setting pekerjaan dan shift pekerjaan. Pada karyawan dengan shift malam,

tekanan yang dihasilkan akan lebih tinggi karena mereka harus melawan

kebutuhan biologis untuk beristirahat di malam hari. Sementara itu, pada

karyawan dengan pekerjaan yang memerlukan konsentrasi sangat tinggi, juga

rentan mengalami kecemasan akibat tanggung jawab yang dipikul yang

kemudian dapat menjadikannya stres. Berbeda lagi dengan karyawan yang

memiliki pekerjaan rutin, yang lama kelamaan menjadi terbiasa dan tidak

merasakan adanya tantangan. Hal ini akan membawa mereka pada kebosanan

dan kecemasan yang mengakibatkan stres hingga depresi (Makin et al dalam

(48)

Faktor keempat adalah kompleksitas, konflik dan adanya ambiguitas

peran. Sebuah peran akan dinyatakan kompleks dan berkonflik ketika

karyawan sendiri sudah merasa tidak percaya diri dengan posisinya serta tidak

lagi berkomitmen akan perusahaan tersebut (Kahn et al. dalam Rollinson,

2005). Ambiguitas peran terjadi ketika tugas dan ekspektasi terhadap

performansi individu tidak didefinisikan dengan jelas (Aamodt, 2007, Berry

1998; Rice 1992). Ketika kebingungan ini terus terjadi, seorang karyawan

mengalami stres yang membuatnya tidak bersemangat dalam bekerja, tidak

percaya diri dalam bertindak, tidak merasa puas akan pekerjaannya hingga

depresi (French dan Caplan,1973).

Struktur perusahaan juga dapat menimbulkan stres kerja pada seorang

karyawan. Stres kerja dapat terjadi disini karena seseorang akan merasa

bekerja dibawah tekanan yang berat ketika ia bertanggung jawab akan

pekerjaan orang lain (Sarafino, 2011). Stres yang dialami seorang manajer

dalam menghadapi ketidakpastian perubahan perusahaan tidak hanya

mengenai dirinya sendiri, namun juga menyangkut ketidakpastian karyawan

yang berada dibawahnya (French & Caplan, 1973).

Faktor Internal seperti jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan dan

masa kerja juga menjadi faktor penting dalam stres kerja. Ketika seorang

karyawan telah bekerja dalam jangka waktu yang cukup lama, perubahan

yang timbul dalam perusahaan tersebut menimbulkan ketakutan pada

(49)

Pada jenis kelamin, Fink (2007) menyatakan bahwa wanita mengalami

banyak stres karena menghadapi stressor tertentu (role conflict) lebih sering

daripada pria, dan wanita dan pria mungkin bereaksi berbeda terhadap stres.

Pada faktor usia lebih menekankan pada adanya penurunan kesehatan fisik

pada usia yang semakin tua sehingga rentan menjadi pemicu stres (Fink,

2007).

Selain faktor- faktor di atas, Sarafino (1998) juga mengemukakan life

change events sebagai sebuah keadaan yang menyebabkan seseorang merasa

stres. Life-change events yang dimaksud adalah peristiwa yang melibatkan

perubahan di dalam kehidupan seseorang, sehingga membutuhkan

penyesuaian atau adaptasi dalam menghadapinya. Ibarra (2003) menyatakan

perubahan yang terjadi dalam dunia pekerjaan akan menuntut seorang

karyawan untuk mengadaptasikan peran, sikap, nilai dan prilakunya terhadap

norma atau aturan baru yang dikehendaki perusahaan dan hal ini tentu tidak

mudah. Terutama pada pekerja dengan usia yang menengah (midlife), yang

terkategori masih produktif untuk bekerja, namun tidak untuk memulai sebuah

pekerjaan baru dengan lahan yang baru. Sementara menurut Skirbek (2003),

produktifitas pekerja akan mengalami penurunan mulai dari usia 50 tahun

keatas. Perubahan pada pekerjaan dengan rentang usia ini dapat menimbulkan

(50)

B. DECLINE STAGE

Decline stage adalah sebuah tingkatan atau fase terjadinya penurunan

terus menerus dalam seluruh kegiatan di dalam sebuah organisasi (Robbins

dan Barnwell, 2002). Sebuah organisasi akan mengalami beberapa fase pada

perkembangannya. Fase ini kemudian dikenal sebagai Organisational Life

Cycle atau OLC (Robbins, 1990). OLC membantu sebuah organisasi, dalam

hal ini perusahaan untuk memprediksi keadaannya dan membantu untuk

mempersiapkan diri menuju langkah berikutnya (Dark, 2005).

Organisational Life Cycle atau OLC adalah tahapan yang dilalui

perusahaan mulai dari pembukaan hingga penutupannya (Daft & Murphy,

2010). Menurut Robbins (2008), OLC memiliki 5 tahapan yang terus

mengalami proses selama sebuah organisasi terbentuk. Kelima tahapan

tersebut adalah : start-up stage, growth stage, maturity stage, revival stage

dan berakhir di decline stage.

1. Start up stage

Start-up stage atau stase awal melibatkan banyak sekali uji

coba. Pada fase ini, organisasi atau sebuah perusahaan baru saja

dibentuk. Penstrukturan organisasi masih sederhana dan terpusat

(centralized). Artinya semua keputusan dan tindakan akan

diinstruksikan dari pihak pemilik perusahaan ataupun direksi yang

berkuasa. Tujuan perusahaan saat berada pada tahap ini adalah

(51)

menempatkan produk di pasaran. Selain itu, intensitas pemasaran dan

produksi terus meningkat, beriringan dengan pengembangan brand

image atas perusahaan itu sendiri.

Masalah yang biasa terjadi pada tahap ini biasa berupa masalah

administrasi. Hal ini terjadi karena perusahaan yang baru berdiri

tentunya masih harus mengurus banyak administrasi untuk melakukan

persiapan pemasaran produk, pembelian mesin, perekrutan karyawan

dan lainnya. Pada tahapan start-up stage perusahaan membutuhkan

karyawan yang kreatif, tangguh dan berani untuk bertransisi untuk

membantu perusahaan bergerak maju dan mendapatkan tempat di

pasaran. Ketika perusahaan telah mendapat tempat di pasaran dengan

penjualan yang cukup sesuai target, maka tahap start-up stage akan

berpindah ke tahapan berikutnya.

2. Growth stage

Pada tahapan ini penjualan perusahaan terus tumbuh. Produk

diterima di pasaran sehingga tidak begitu membutuhkan inovasi untuk

pengembangan produk. Struktur di dalam perusahaan juga telah lebih

matang dengan menggunakan sistem hirarki. Artinya, saat ini

keputusan tidak lagi diambil oleh pemilik perusahaan, namun sudah

(52)

permasalahan-permasalahan yang rutin terjadi, atau bukan merupakan

kasus khusus.

Masalah yang terjadi pada growth-stage adalah krisis otonomi.

Krisis otonomi disini disebabkan oleh kuangnya inovasi yang

dibutuhkan dan menyebarnya kekuasaan, sehingga sensitivitas

perusahaan mengenai persaingan pasar secara progresif berkurang.

3. Maturity stage

Pada tahapan ini, perusahaan berada dalam kedaan prima dan

kompetitif di pasaran. Selain itu pengembangan teknologi terus

dimaksimalikan sehingga produk yang dihasilkan juga semakin

membaik dan membawa profit yang tinggi untuk perusahaan.

Strukturisasi perusahaan pada tahap ini mengalami sedikit

perubahan karena kestabilan pemasaran dan efektifitas perusahaan

yang baik. Tidak terlalu banyak delegasi kekuasaan pada maturity

stage, hanya ada beberapa manajer yang menjadi kunci pengoprasian

perusahaan. Namun pada tahapan ini, pengambilan keputusan menjadi

kurang inovatif, kurang proaktif dan lebih beresiko daripada tahapan

lainnya. Hal ini dipengaruhi oleh banyak hal seperti sistem birokrasi,

proses perencanaan secara formal (formal planning process), teknik

(53)

Masalah yang sering terjadi pada tahapan ini adalah perhatian

perusahaan yang terpusat pada kompetisi. Pada dasarnya kompetisi

adalah hal yang baik untuk memajukan perusahaan, namun yang

terjadi pada tahapan ini adalah perusahaan yang fokus pada kompetisi

promosi, bukan kompetisi inovasi produk. Sehingga perusahaan tidak

melakukan banyak inovasi seperti yang dilakukannya pada tahap

sebelumnya. Selain itu, dana perusahaan telah diatur sedemikian rupa

untuk dikeluarkan sesuai dengan produk saja (product-based

company). Hal ini menyebabkan perusahaan akan lebih

memprioritaskan pengeluaran dana untuk hal-hal yang sifatnya lebih

kepada kebiasaan perusahaan daripada proyek berpotensial tinggi

misalnya pengembangan teknologi.

Pada akhirnya, keadaan perusahaan yang stabil dan kekurangan

inovasi inilah yang kemudian perlahan akan membawanya pada tahap

penurunan (decline stage). Selama penurunan terjadi secara perlahan,

perusahaan, manajer dan karyawan juga akan ikut terjebak oleh

kemampuan melakukan inovasi dan daya saing yang terus melemah.

4. Revival stage

Revival stage merupakan tahapan yang sifatnya opsional yang

terjadi diantara maturity stage dan decline stage. Artinya tahapan ini

(54)

sebuah perusahaan mengalami tahapan ini, maka manajer ataupun

karyawan telah menyadari adanya penurunan yang terjadi secara

perlahan maupun drastis pada perusahaan.

Tahapan ini melibatkan perkembangan yang luar biasa pada

perusahaan. Inovasi yang melonjak, pengambilan keputusan yang

cepat dan beresiko tinggi tidak dapat terelakkan. Untuk mengantisipasi

kesalahan yang mungkin akan memperburuk keadaan perusahaan,

maka akan dibentuk sebuah tim proyek (project team) yang bertugas

menganalisa masalah yang terjadi pada perusahaan. Project team juga

dibentuk untuk menciptakan inovasi baru dan melakukan analisa

secara scientific mengenai rencana langkah yang akan diambil

berikutnya. Project team terdiri dari beberapa karyawan dan manajer

yang ahli untuk masing-masing bidang yang dibutuhkan.

Masalah pada tahapan ini adalah kesalahan yang terjadi pada

tahapan sebelumnya telah membuat perusahaan rapuh. Sehingga pada

tahapan ini biasanya perusahaan seperti mengulang birth stage, namun

lebih kompleks karena harus menyelesaikan masalah yang sudah ada

terlebih dulu. Akhir dari revival stage ini hanya memiliki 2 pilihan.

Pilihan pertama adalah usaha untuk meperbaiki keadaan perusahaan

tidak berhasil, sehingga perusahaan akan memasuki tahap berikutnya

yakni decline stage, atau pilihan kedua yakni tahapan ini berhasil

Gambar

Gambar 1. Fase pada General Adaptation Syndrome ( Selye, 1974)
Tabel 2. Cara Penilaian Gambaran Stres Kerja pada Karyawan PT. X yang
Tabel 3. Blue Print Distribusi Aitem Skala Gambaran Stres Kerja pada
Tabel 5. Penyebaran Subjek berdasarkan Usia pada Karyawan PT. X
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil: Hasil penelitian menunjukkan perawat mengalami stres kerja dalam kategori sedang 66.9% dan kepuasan kerja dalam kategori cukup 76.3% dan terdapat pengaruh

3) Dari total 15 subdimensi, 14 subdimensi berada pada kategori taraf stres kerja tinggi, dan 1 subdimensi berada pada taraf stres kerja moderat. Subdimensi yang memiliki

Data tersebut menunjukkan bahwa beberapa operator sewing mengalami stres kerja kategori sedang dan tinggi serta beban kerja fisik dan beban kerja mental

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa karyawan memiliki beban kerja pada kategori berat dengan tingkat stres pada kategori sedang. Indikator yang menjadi potensi

Hal ini berdasarkan pada jumlah subjek yang memiliki kelelahan kerja didominasi dengan kategori rendah yaitu karyawan bagian jalan protokol dan taman sebanyak 59 orang dari 73

X < 30 Rendah 1 2.0% Total 49 100% Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa subjek dengan presentase skala stres kerja memiliki tingkat stres kerja yang sedang dengan hasil yang

2 Jenis Kelamin Tabel 3.9 Hubungan Jenis Kelamin Dengan Stres Kerja Pada Karyawan di Sekolah Swasta Samarinda Jenis Kelamin Kategori Stres Kerja Total Normal Sedang Berat

Hasil ini diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Zulkifli dkk yang dimana 18 dari 25 respondennya dengan beban kerja yang tinggi mengalami stres kerja dan karyawan yang