PENGEMBANGAN KIT EKSPERIMEN MEKANISME KONTRAKSI OTOT PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI
KELAS XI IPA
Oleh
SADINA
Tesis
Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar MAGISTER PENDIDIKAN
Pada
Program Studi S2 Teknologi Pendidikan
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRAK
PENGEMBANGAN KIT EKSPERIMEN MEKANISME KONTRAKSI OTOT PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI
KELAS XI IPA
Oleh
SADINA
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah kit eksperimen biologi khususnya untuk meningkatkan efektivitas, dan daya tarik pembelajaran biologi pada materi mekanisme kontraksi otot.
Penelitian dan pengembangan kit eksperimen ini mengacu pada model R & D Borg and Gall, yang dilakukan melalui dua tahap penelitian (7 langkah) di SMAN 1 Kotagajah. Penelitian tahap 1 dilakukan sampai menghasilkan produk awal, dan penelitian tahap 2 dilakukan untuk menguji efektivitas dan daya tarik produk awal yang dirancang dengan desain eksperimen post test-only control design.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kit eksperimen hasil pengembangan yang dilengkapi LKS memiliki kategori sangat menarik dengan perolehan skor 3,62 dari skor maksimal 4,0 atau sebesar 90%, sedangkan dari hasil uji efektivitas antara kelas kontrol dengan kelas eksperimen (pengguna kit eksperimen) sebesar 7,5 .
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR TABEL ... v
DAFTAR GAMBAR ... vi
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Identifikasi Masalah ... 5
1.3 Pembatasan Masalah ... 5
1.4 Perumusan Masalah ... 6
1.5 Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 6
1.6 Manfaat Penelitian ... 7
II. KAJIAN PUSTAKA 2.1.Media Pembelajaran ... 9
2.2.Pembelajaran Biologi ... 20
2.3.Desain Pesan dan Model Pengembangan Pembelajaran ... 29
2.4.Teori Belajar dan Pembelajaran ... 37
2.5.Kajian Penelitian yang Relevan ... 42
2.6.Kerangka Pikir ... 44
III. METODE PENELITIAN 3.1.Model Penelitian ... 46
3.2.Tempat dan Subjek Penelitian ... 47
3.3.Langkah-langkah Penelitian... 48
3.4.Metode Penelitian Tahap 1 ... 50
3.4.1.Populasi dan Sampel... 50
3.4.2.Tehnik Pengumpulan Data ... 52
3.4.3.Kisi-Kisi dan Instrumen Penelitian ... 52
3.5.Metode Penelitian Tahap II ... 56
3.5.1.Model Rancangan Eksperimen ... 56
3.5.2.Populasi dan sampel ... 57
3.5.3.Tehnik pengumpulan data ... 57
3.5.4.Kisi – kisi dan instrumen penelitian ... 58
3.5.5.Tehnik analisa data ... 58
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1.Hasil Penelitan ... 61
4.1.1.Potensi dan Kondisi Kit Eksperimen ... 61
4.1.2.Desain Kit Eksperimen MKO ... 64
4.1.3.Efektivitas Kit Eksperimen MKO ... 73
4.1.4.Kemenarikan Kit Eksperimen MKO ... 76
4.2.Pembahasan ... 80
4.2.1 Potensi dan Kondisi Kit Eksperimen ... 80
4.2.2 Desain Kit Eksperimen MKO ... 82
4.2.3 Efektivitas Kit Eksperimen MKO ... 84
4.2.4 Kemenarikan Kit Eksperimen MKO ... 86
V. SIMPULAN DAN SARAN 5.1.Simpulan ... 90
5.2.Saran ... 92
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Perbaikan sistem pendidikan nasional menuntut adanya penyempurnaan
kurikulum.Penyempurnaan kurikulum pendidikan tahun 2004 pada tahun 2006 yang telah dikembangkan menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), mengacu pada Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah yang terkait, menuntut pembelajaran yang mandiri, aktif, Interaktif, kreatif dan menyenangkan (joy full learning) serta tuntas (mastery learning). Diharapkan pendidik tidak lagi berperan dominan di kelas, tetapi harus mampu menciptakan pembelajaran yang aktif, Interaktif, kreatif dan inovatif serta menyenangkan yang berpusat pada peserta didik (Student
centered learning). KarenanyaPendekatan yang digunakan dalam pembelajaran biologi berorientasi pada siswa. Peran guru bergeser dari menentukan“apa yang akan dipelajari”ke bagaimana menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar siswa”. Pengalaman belajar diperoleh melalui serangkaian kegiatan untuk
2 Kegiatan pembelajaran di laboratorium (praktikum) merupakan bagian integral dari pembelajaran biologi. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peranan kegiatan laboratorium untuk mencapai tujuan pembelajaran biologi.
Tujuan pembelajaran biologi yang ada pada standar isi diantaranya;1) memupuk sikap ilmiah yaitu jujur, objektif, terbuka, ulet, kritis dan dapat bekerjasama dengan orang lain. 2) mengembangkan pengalaman untuk dapat mengajukan dan menguji hipotesis melalui percobaan, serta mengomunikasikan hasil percobaan secara lisan dan tertulis. 3) mengembangkan kemampuan berpikir analitis, induktif, dan deduktif dengan menggunakan konsep dan prinsip biologi
Woolnough & Allsop dalam Nuryani Y. Rustaman (2005: 136), mengemukakan empat alasan mengenai pentingnya kegiatan praktikum sains sebagai berikut, 1) praktikum membangkitkan motivasi belajar sains, 2) kegiatan praktikum mengembangkan keterampilan dasar melakukan eksperimen, 3) praktikum menjadi wahana belajar pendekatan ilmiah,
4) praktikum menunjang materi pelajaran. Kegiatan praktikum memberi
kesempatan bagi siswa untuk menemukan teori, dan membuktikan teori. Melalui praktikum juga dapat menunjang pemahaman siswa terhadap materi pelajaran.
Berdasarkan hasil observasi di SMAN 1 Kotagajah, kegiatan praktikum
khususnya untuk materi mekanisme kontraksi otot dilakukan menggunakan alat bantu yang sederhana yang penggunaannya menyulitkan siswa sehingga
3 perakitannya memerlukan waktu relatif lama. Siswa juga mendapatkan kesulitan ketika harus memberikan rangsangan melalui penyetruman otot betis katak dengan selang waktu tertentu secara akurat yang sesuai dengan perosedur dalam LKS. Kesulitan dan ketidak menarikan pembelajaran mekanisme kontraksi otot menggunakan kit eksperimen yang ada, berimplikasi pada hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari penelitian pendahuluan melalui analisis hasil belajar pada materi sistem gerak otot siswa kelas XI IPA di SMAN 1 kotagajah, baru 60% yang memperoleh nilai≥ 60(KKM yang ditetapkan pada indikator pencapaian materi mekanisme kontraksi otot). Hasil observasi di sekolah lain sebagai pembanding, guru lebih suka membelajarkan materi mekanisme kontraksi otot dengan cara melalui penjelasan tanpa menggunakan media pembelajaran pendukung yang memadai sehingga sangat berpengaruh terhadap minat belajar siswa. Salah satu penyebabnya adalah masih terbatasnya/ belum tersedianya alat bantu percobaan mekanisme kontraksi otot di laboratorium biologi.
4 dari skor maksimal 1776 (kategori sangat diperlukan), yang berarti sangat perlu dikembangkan kit eksperimen pada pembelajaran materi mekanisme kontraksi otot, sehingga siswa dapat lebih mudah memahami konsep mekanisme kontraksi otot.
Media/ alat bantu pembelajaran pada dasarnya dibuat untuk memudahkan guru maupun siswa dalam proses belajar mengajar. Akan tetapi media/ alat bantu pembelajaran yang mampu membangkitkan minat dan motivasi bagi siswa untuk membuktikan konsep-konsep yang telah dipelajari tidak selalu tersedia di sekolah. Salah satunya adalah alat bantu eksperimen biologi yang berupa kit eksperimen yang biasa digunakan untuk membuktikan otot sebagai alat gerak aktif. Percobaan menggunakan otot betis katak yang diberikan rangsangan dengan selang waktu tertentu pelaksanaannya masih menyulitkan siswa maupun guru, terutama dalam hal pemberian rangsangan yang memerlukan interval waktu tertentu dengan tingkat akurasi yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh alat bantu eksperimen yang tersedia di Laboratorium biologi bukan alat yang dirancang/ didesain khusus untuk eksperimen mekanisme gerak otot, tetapi merupakan seperangkat alat yang harus dirakit/ dipasang dan cukup menyita waktu sehingga pembelajaran menjadi kurang efektif dan efisien.
5
1.2 Identifikasi Masalah.
Berdasarkan latar belakang, terdapat beberapa masalah yang dapat diidentifikasi diantaranya yaitu:
1.2.1 Terbatasnya jumlah kit eksperimen biologi yang ada di sekolah 1.2.2 Pembelajaran mekanisme kontraksi otot belum efektif (pembelajaran
belum memudahkan siswa belajar).
1.2.3 Pembelajaran mekanisme kontraksi otot belum efisien (pembelajaran belum menghemat waktu dan biaya).
1.2.4 Minat siswa terhadap pembelajaran/ eksperimen mekanisme kontraksi otot masih rendah.
1.2.5 Pembelajaran mekanisme kontraksi otot dengan menggunakan alat bantu eksperimen yang ada tidak menarik sehingga tujuan pembelajaran belum tercapai.
1.2.6 Perlu dikembangkan kit eksperimen mekanisme kontraksi otot dengan menggunakan rangkaian elektronik pengatur interval waktu agar
memungkinkan pembelajaran biologi lebih menarik minat dan motivasi siswa.
1.3 Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah tersebut di atas, maka peneliti membatasi pada masalah-masalah yang dianggap dapat dicari pemecahannya melalui penelitian ini yaitu sebagai berikut;
6 1.3.2 Pembelajaran mekanisme kontraksi otot kurang efisien yaitu pembelajaran
belum menghemat waktu dan biaya.
1.3.3 Perlu dikembangkan kit eksperimen mekanisme kontraksi otot dengan menggunakan rangkaian elektronik pengatur interval waktu agar memungkinkan pembelajaran biologi lebih menarik bagi siswa.
1.4 Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.4.1 Bagaimana potensi dan kondisi media pembelajaran biologi di SMAN 1 kotagajah?
1.4.2 Bagaimana desain kit eksperimen mekanisme kontraksi otot pada
pembelajaran biologi kelas XI IPA SMA yang efektif, murah, dan mudah dioperasikan siswa?
1.4.3 Bagaimana efektivitas kit eksperimen meknisme kontraksi otot hasil pengembangan pada pembelajaran biologi?
1.4.4 Bagaimana kemenarikan kit eksperimen mekanisme kontraksi otot hasil pengembangan pada pembelajaran biologi?
1.5 Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah tersebut di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
7 1.5.2 Mendeskripsikan desain kit eksperimen mekanisme kontraksi otot yang
menggunakan kit elektronik pengatur interval waktu yang efektif, murah, dan mudah digunakan pada pembelajaran biologi SMA Kelas XI IPA. 1.5.3 Mendeskripsikan kit eksperimen mekanisme kontraksi otot yang lebih
efektif pada pembelajaran biologi.
1.5.4 Mendeskripsikan kit eksperimen mekanisme kontraksi otot yang lebih menarik pada pembelajaran biologi.
1.6. Manfaat penelitian
1.6.1 Manfaat Teoritis
Secara teoritis penelitian ini bermanfaat sebagai pengembangan keilmuan terutama di bidang teknologi pendidikan kawasan pengembangan, khususnya pengembangan Kit Eksperimen mata pelajaran biologi.
1.6.2 Manfaat Praktis
1) Bagi siswa, tersedianya kit eksperimen mekanisme kontraksi otot, yang memudahkan siswa belajar/ melakukan pengamatan kontraksi otot pada pembelajaran biologi SMA.
II. KAJIAN PUSTAKA
2.1 Media Pembelajaran
Kata media secara etimologis berasal dari bahasa Latinmedium yang secara harfiah berarti tengah, perantara atau pengantar menyatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi atau kejadian yang
membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap. Istilah perantara atau pengantar ini, menurut Bovee dalam Asyhar (2011: 4), digunakan karena fungsi media sebagai pengantar atau perantara suatu pesan dari pengirim (sender) kepada penerima (receiver) pesan. Sedangkan menurut Gagne, bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar.National Education Association/NEA memberikan definisi media sebagai bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audio-visual dan peralatannya, dengan demikian, media dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, atau dibaca. Dari pengertian/ definisi dan pendapat tersebut, berkembang berbagai definisi terminologi mengenai media menurut pendapat para ahli media dan pendidikan. Berikut ini beberapa definisi mengenai media dalam Asyhar (2011: 4) :
10
2) Menurut Suparman, media merupakan alat yang digunakan untuk menyalurkan pesan dan informasi dari pengirim pesan kepada penerima pesan.
3) Mc Luhan memaknai media sebagai saluran informasi.
Dari beberapa pengertian tentang media di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran ialah segala sesuatu/ semua yang dapat didengar, dilihat atau diraba dengan pancaindera maupun kandungan isi yang ingin disampaikan yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan/informasi dari sumber ke penerima dan dapat digunakan dalam proses pembelajaran.
Pada awal sejarah pembelajaran, pemanfaatan media hanyalah berupa alat bantu yang digunakan oleh guru untuk menerangkan materi pelajaran. Mula-mula yang digunakan berupa alat bantu visual yang dapat memberikan pengalaman visual kepada siswa untuk mendorong motivasi belajar, memeperjelas dan
mempermudah pemahaman konsep yang abstrak, serta mempertinggi daya serap belajar. Dalam upaya memanfaatkan media sebagai alat bantu belajar, Edgar Dale dalam Susilana dan Riyana (2007:7) mengadakan klasifikasi menurut tingkatan dari yang paling konkrit ke yang paling abstrak, yang dikenal dengan nama kerucut pengalamanEdgar Dale.
11
Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Oleh karena itu, belajar dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Salah satu pertanda bahwa seseorang itu telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada diri orang itu yang mungkin disebabkan oleh terjadinya perubahan pada tingkat pengetahuan, keterampilan, atau sikapnya.
Di dalam sistem pembelajaran, kedudukan komponen media pembelajaran
memiliki fungsi yang sangat penting, sebab tidak semua pengalaman belajar dapat diperoleh secara langsung. Dalam kondisi seperti ini, media pembelajaran dapat digunakan untuk memperoleh pengetahuan yang lebih konkret dan mudah dipahami. Schramm dalam Asyhar (2011:7) berpendapat bahwa media
pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran, sedangkan menurut Gerlach & Elly, media pembelajaran memiliki cakupan yang sangat luas, yaitu termasuk manusia, materi atau kajian yang membangun suatu kondisi yang membuat peserta didik mampu memperoleh pengetahuan, ketrampilan dan sikap.
12
Selanjutnya menurut Sudirjo dan Siregar dalam Prawiradilaga dan Siregar (2007: 8-12), sejalan dengan perkembangan, selain berfungsi sebagaiaudiovisual aids atauteaching aids, media memiliki fungsi komunikasi yang diantaranya memiliki kegunaan; 1) Memberikan pengetahuan tentang tujuan belajar, 2) Memotivasi siswa, 3) Menyajikan informasi, 4) Merangsang diskusi, 5) Mengarahkankan kegiatan siswa, 6) Melaksanakan latihan dan ulangan, 7) Menguatkan belajar, dan 8) Memberikan pengalaman simulasi.
Dari beberapa pengertian dan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran ialah segala sesuatu baik ituhardware(semua yang dapat didengar, dilihat atau diraba dengan pancaindera) maupunsoftware(kandungan isi yang ingin disampaikan) yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan/informasi dari sumber ke penerima dan dapat digunakan secara masal, kelompok besar/ kecil ataupun perorangan dalam proses pembelajaran.
Sementara strategi adalah cara atau usaha yang dilakukan untuk mencapai sesuatu. Menurut Dick and Carrey dalam Suparman (2001: 165) strategi pembelajaran adalah komponen-komponen umum dari suatu set materi dan prosedur
pembelajaran yang akan dipergunakan bersama-sama materi tersebut.
13
Kesembilan urutan kegiatan itu tidak semuanya diperlukan dalam proses pembelajaran, akan tetapi hal itu tergantung pada karakteristik siswa dan jenis perilaku apa yang ingin dicapai dalam pembelajaran.
Sejalan dengan pendapat tersebut yang telah dipaparkan sebelumnya, Suparman (2001: 167) menyatakan strategi pembelajaran terdiri dari empat komponen urutan yaitu 1) Urutan kegiatan, 2) Metode pembelajaran, 3) Media pembelajaran,
4) Waktu. Sedangkan Dick and Carrey (1985) mengemukakan lima komponen utama dari suatu strategi pembelajaran yaitu; 1) kegiatan pra-pembelajaran, 2) presentasi informasi, 3) partisipasi siswa, 4) pengujian, dan 5) kegiatan lanjutan.
Dari definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pada hakekatnya strategi pembelajaran adalah satu ketrampilan yang harus dimiliki guru. Strategi
pembelajaran mempunyai kaitan yang erat dengan media dan merupakan bagian dari sistem pembelajaran yang menjelaskan komponen umum dari suatu set bahan pembelajaran dan prosedur yang digunakan bersama bahan tersebut untuk
menghasilkan hasil belajar siswa.
2.1.1. Alasan teoritis Pemilihan Media Pembelajaran
Pentingnya pemilihan media dengan melihat kedudukan media dalam
Menentukan
Gambar 2.2. Sistem Pembelajaran Gerlach dan Elly
Didasari atas konsep pembelajaran sebagai sebuah sistem dalam mencapai suatu tujuan, pengembangan suatu desain instruksional selalu diawali dengan
15
2.1.2 Alasan Praktis Pemilihan Media Pembelajaran
Terdapat beberapa alasan mengapa guru memilih media yang sesuai dengan tujuan dan strategi pembelajaran. Alasan pemilihan media pembelajaran sangat berkaitan dengan pertimbangan-pertimbangan pengguna media. Semua dilakukan atas dasar desain instruksional yang telah dirancang oleh seorang guru. Arif Sadiman dalam Susilana dan Riyana (2007: 63-65) menjelaskan sebagai berikut:
a) Demontration. Digunakan sebagai alat untuk mendemonstrasikan sebuah konsep, alat, obyek, kegunaan, cara mengoperasikan dan lain-lain. Di sini media berfungsi sebagai alat peraga pembelajaran.
b) Familiarity.Pengguna memiliki alasan tersendiri mengapa ia menggunakan media yang dipilih, yaitu karena sudah terbiasa menggunakan media
tersebut, sudah menguasai media tersebut, jika menggunakan media lain harus mempelajari terlebih dahulu sehingga memebutuhkan waktu, tenaga, dan biaya.
c) Clarity.Pemilihan media ini digunakan untuk memperjelas pesan pembelajaran agar lebih konkret.
d) Active learning.Media dapat berbuat lebih dari yang biasa dilakukan oleh guru. Salah satu aspek yang harus diupayakan oleh guru dalam
pembelajaran adalah siswa harus berperan secara aktif baik secara fisik, mental, dan emosi
Media pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi beberapa klasifikasi tergantung dari sudut mana kita memandangnya.
1) Dilihat dari sifatnya, media dapat dibagi ke dalam:
a) Media auditif, yaitu media yang hanya dapat didengar saja, media yang hanya memiliki unsur suara, seperti radio dan rekaman suara.
b) Media visual, yaitu media yang hanya dapat dilihat saja, tidak mengandung unsur suara. Yang termasuk ke dalam media ini adalahfilm slide, foto,
16
c) Media audiovisual, yaitu jenis media yag selain mengandung unsur suara juga mengandung unsur gambar yang bisa dilihat, misalnya rekaman video,
berbagai ukuran film,slidesuara, dan lain sebagainya. Kemampuan media ini dianggap lebih baik dan lebih menarik, sebab mengandung kedua unsur jenis media yang pertama dan kedua.
2) Dilihat dari kemampuan jangkauannya, media dapat dibagi pula ke dalam: a) Media yang memiliki daya liput yang luas dan serentak seperti radio dan
televisi. Melalui media ini siswa dapat mempelajari hal-hal atau kejadian-kejadian yang aktual secara serentak tanpa harus menggunakan ruangan khusus.
b) Media yang memiliki daya liput yang terbatas oleh ruang dan waktu seperti film slide, film, video, dan lain sebagainya.
3) Dilihat dari cara atau teknik pemakaiannya, media dapat dibagi ke dalam: a) Media yang diproyeksikan seperti film,slide,film strip, transparansi, dan
lain sebagainya. Jenis media yang demikian memerlukan alat proyeksi khusus seperti film projektor untuk meproyeksikan film,slide projector untuk memproyeksikanfilm slide,overhead projector(OHP) untuk memproyeksikan transpsransi. Tanpa dukungan alat semacam ini, maka media semacam ini tidak berfungsi apa-apa.
b) Media yang tidak diproyeksikan seperti gambar, foto, lukisan, radio dan lain sebagainya.
Penggunaan media yang tepat dan mudah dipahami bertujuan agar pesan yang akan disampaikan media dapat diterima oleh siswa, sehingga siswa dapat
17
adalah proses mental yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga menyebabkan munculnya perubahan perilaku. Aktivitas mental itu terjadi karena adanya interaksi individu dengan lingkungan yang disadari.
2.1.3 Evaluasi Media Pembelajaran
Kekuatan dan kelemahan dari media pembelajaran yang telah dibuat oleh guru biasanya dapat diketahui dengan jelas setelah program tersebut dilaksanakan di kelas dan dievaluasi dengan seksama. Hasil yang diperoleh dari evaluasi akan memberi petunjuk kepada guru tentang bagian-bagian mana dari media
pembelajaran tersebut yang sudah baik dan mana pula yang belum baik sehingga belum dapat mencapai tujuan dari pengembangan media pembelajaran yang diharapkan. Dalam hal ini terkait dengan pencapaian tujuan pembelajaran yang telah disusun. Atas dasar evaluasi tersebut dapat dilakukan perbaikan-perbaikan yang diperlukan, baik pada media tersebut sedang digunakan maupun setelah media tersebut digunakan. Perbaikan yang dilakukan setelah media ini selesai digunakan akan berguna untuk keperluan penyempurnaan media pada kegiatan pembelajaran selanjutnya.
Terkait dengan uraian tersebut, evaluasi media yang dilaksanakan pada dasarnya difokuskan kepada beberapa tujuan, yaitu:
1) Memilih media pendidikan yang akan dipergunakan untuk kelas, 2) Untuk melihat prosedur/mekanisasi penggunaan suatu alat,
3) Untuk memeriksa apakah tujuan penggunaan alat tersebut telah tercapai, 4) Menilai kemampuan guru menggunakan media pendidikan,
18
6) Untuk memperbaiki alat media itu sendiri.
Media pendidikan yang dapat digunakan dalam pembelajaran sangat beragam bentuknya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan sekolah untuk memenuhinya atau jika guru yang membuatnya maka akan sangat tergantung pula pada
kemampuan dan keahlian guru dalam pembuatannnya. Keragaman tersebut akan berimplikasi pada berbagai jenis evaluasi untuk menentukan efisiensi dan
efektifitas media pembelajaran dalam mendukung terselenggaranya pembelajaran yang bermutu. Apabila dikaitkan dengan tujuan evaluasi sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, maka ada berbagai jenis evaluasi terhadap media
pembelajaran. Berdasarkan objek yang dievaluasi, maka evaluasi media pembelajaran akan terkait dengan evaluasi fungsi media, evaluasi penggunaan media oleh guru, dan evaluasi pengelolaan/administrasi media.
Berdasarkan prosesnya, evaluasi media ini terdiri atas evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Evaluasi formatif adalah proses yang dimaksudkan untuk mengumpulkan data tentang efektivitas dan efesiensi bahan-bahan pembelajaran (termasuk kedalamnya media) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Data-data tersebut dimaksudkan untuk memperbaiki dan menyempurnakan media yang bersangkutan agar lebih efektif dan efesien.
Tahapan evaluasi media pembelajaran adalah sebagai berikut:
1) Evaluasi Satu Lawan Satu
19
mereka secara individual. Kalau media itu anda desain untuk belajar mandiri, biarkan mereka mempelajarinya kemudian anda mengamatinya. Kedua orang yang anda pilih tersebut hendaknya satu orang dari populasi target yang
kemampuan umumnya sedikit di bawah rata dan satu orang lain di atas rata-rata.
Jumlah dua orang untuk kegiatan ini adalah jumlah minimal. Setelah selesai, anda bisa mencobakannya kepada beberapa orang siswa yang lain dengan prosedur yang sama. Anda dapat juga mencobakannya kepada ahli bidang studi (context expert). Mereka seringkali memberikan umpan balik yang bermanfaat. Atas dasar data dan informasi dari kegiatan-kegiatan tersebut di atas akhirnya revisi
dilakukan sebelum media dicobakan ke kelompok kecil.
2) Evaluasi Kelompok Kecil
Pada tahap ini media perlu dicobakan kepada 10-20 orang siswa yang dapat mewakili populasi target. Siswa yang dipilih dalam kegiatan ini hendaknya mencerminkan karakteristik populasi. Langkah evaluasi media”evaluasi kelompok kecil”sama dengan langkah evaluasi media tahap satu lawan satu.
3) Evaluasi Lapangan
20
Pilih sekitar 30 siswa dengan berbagai karakteristik (tingkat kepandaian,kelas, latar belakang, jenis kelamin, usia, kemajuan belajar dan sebagainya) sesuai dengan karakteristik populasi sasaran. Demikianlah, dengan ketiga tahap evaluasi tersebut dapatlah dipastikan kebenaran efektifitas dan efesiensi media yang kita kembangkan.
2.2 Pembelajaran Biologi
21
Agar proses pembelajaran dapat berjalan secara optimal, maka seorang guru perlu membuat strategi pembelajaran.“Strategi pembelajaran (teaching strategy) merupakan pola kegiatan pembelajaran yang berurutan yang diterapkan dari waktu ke waktu dan diarahkan untuk mencapai suatu hasil belajar siswa yang diinginkan”(Costa, 1985)
Setiap pembelajaran suatu materi pembelajaran seorang guru harus mampu memilih dan menetapkan bentuk pengalaman belajar yang harus dilakukan siswa. Dalam hal ini guru akan menetapkan metode pembelajarannya, media yang akan digunakan, situasi kelasnya, dan segala sesuatu yang mendukung keberhasilan proses pembelajaran. Dengan kata lain setiap kali melakukan pembelajaran untuk materi pembelajaran yang berbeda, guru harus mampu menentukan strategi pembelajaran yang sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
2.2.1 Mekanisme Kontraksi Otot
2.2.1.1 Otot Sebagai Alat Gerak Aktif
Otot merupakan alat gerak aktif karena kemampuannya berkontraksi. Otot memendek jika sedang berkontraksi dan kembali ke ukuran semula jika sedang relaksasi. Kontraksi otot terjadi jika sedang melakukan kegiatan. Relaksasi otot terjadi jika otot sedang beristirahat. Otot memiliki 3 karakter, yaitu ;
1) Kontraktibilitas, yaitu kemampuan otot untuk memendek, otot menjadi lebih pendek dari ukuran semula jika otot sedang melakukan kegiatan.
22
panjang dari ukuran semula. 3) Elastisitas, yaitu kemampuan otot untuk kembali pada ukuran semula.
Otot tersusun atas dua macam filamen dasar yaitu filamen aktin dan filamen miosin. Filamen aktin tipis dan filamen miosin tebal. Kedua filamen ini menyusun miofibril, miofibril meyususun serabut otot, dan serabut otot menyusun satu otot. Berdasarkan bentuknya, sistem kerja dan lokasinya dalam tubuh otot dibedakan menjadi tiga, yaitu otot lurik, otot polos dan otot jantung.
2.2.1.2 Mekanisme kontraksi Otot
Dari hasil penelitian dan pengamatan dengan menggunakan mikroskop elektron dan difraksi sinar X, Hansen dan Huxly (1995) mengemukakan teori kontraksi otot yang disebut model sliding filamen. Model ini menyatakan bahwa kontraksi otot terjadi berdasarkan adanya dua set filamen di dalam sel otot kontraktil yang berupa filamen aktin dan miosin. Otot dapat berkontraksi bila adanya rangsang. Umumnya otot berkontraksi bukan karena satu rangsangan, melainkan karena suatu rangkaian rangsangan yang berurutan. Rangsangan kedua memperkuat rangsangan pertama dan rangsangan ketiga memperkuat rangsangan yang kedua. Dengan demikian terjadilah ketegangan atau tonus yang maksimum. Tonus yang maksimum terus menerus disebut tetanus.
23
adalah pitaA(pita gelap), sedangkan pitaI(pita terang) dan zonaHbertambah pendek waktu kontraksi.
Ujung miosin dapat mengikat ATP dan menghidrolisisnya menjadi ADP. Beberapa energi dilepaskan dengan cara memotong pemindahan ATP ke miosin yang berubah bentuk ke konfigurasi energi tinggi. Miosin yang berenergi tinggi ini kemudian mengikatka diri dengan kedudukan khusus pada aktin membentuk jembatan silang. Kemudian simpanan energi miosin dilepaskan, dan ujung miosin lalu beristirahat dengan energi rendah. Pada saat inilah terjadi relaksasi. Relaksasi ini mengubah sudut perlekatan ujung miosin menjadi miosin ekor. Ikatan antara miosin energi rendah dan aktin terpecah ketika molekul baru ATP bergabung dengan ujung miosin. Kemudian siklus tadi berulang.
Mekanisme kontraksi otot berlangsung dengan urutan sebagai berikut.
a) Pusat motorik di otak mengirimkan impuls/rangsang menuju otot
melalui saraf motorik (saraf kranial dan saraf spinal), b) Sesampainya di ujung
akson saraf motorik, rangsang dilanjutkan oleh neurohumor (hormon saraf)
berupa asetilkolin atau epinefrin (adrenalin) menuju ke otot (reseptor pada otot)
yang mempunyai aktin, c) Setelah rangsang sampai di reseptor, energi dilepaskan,
maka aktin akan bergeser, zona H mengecil bahkan menghilang dan sarkomer
memendek. Garis saling mendekat dan otot berkontraksi (berkerut).
Jarak antara garis Z satu dan garis Z yang lainnya disebut sarkomer. Setelah
kontraksi, ujung saraf motorik mengeluarkan suatu zat yang dapat
menetralisasi/menghambat kerja neurohumor yang dihasilkan sebelumnya, serta
kolinesterasi untuk menghambat asetil kolin dan Mono Amina Oksida (MAO)
kreatin
Fosfokinase
24
miosin (miofilamen tebal) merenggang, zona H terbuka, garis Z satu dan garis Z
yang lainnya saling menjauh, otot kembali relaksasi.
2.3.1.3 Sumber Enegi Untuk Gerak Otot
Adenosin Tri Phospat (ATP) merupakan sumber energi utama untuk kontraksi otot. ATP berasal dari oksidasi karbohidrat dan lemak. Kontraksi otot merupakan interaksi antara aktin dan miosin yang memerlukan ATP.
ATP ADP+P
Aktin + Miosin Aktomiosin
ATP ase
Fosfokreatin merupakan persenyawaan fosfat berenergi tinggi yang terdapat dalam konsentrasi tinggi pada otot. Fosfokreatin tidak dapat dipakai langsung sebagai sumber energi, tetapi fosfokreatin dapat memberikan energinya kepada ADP dan mengubahnya menjadi ATP.
Fosfokreatin keratin + ATP
Pada otot lurik, jumlah fosfokreatin lebih dari lima kali jumlah ATP. Pemecahan ATP dan Fosfokreatin untuk menghasilkan energy untuk kontraksi tidak
memerlukan oksigen bebas. Oleh sebab itu, fase kontraksi disebut fase anaerob.
25
Sumber lain untuk memperoleh energi ialah dengan mengubah glikogen (gula otot) menjadi glukosa. Glikogen merupakan senyawa yang tidak larut dalam air, untuk itu glikogen dilarutkan lebih dulu menjadi laktasidogen. Selanjutnya laktasidogen akan diubah menjadi glukosa. Gluksa akan dioksidasi untuk menghasilkan energi dan CO2, H2O. Energi yang dibebaskan digunakan untuk pembentkan ATP dan Fosfokreatin. Proses ini berlangsung pada saat otot
relaksasi dan membutuhkan banyak oksigen bebas. Oleh sebab itu fase relaksasi disebut fase aerob.
2.2.2 Pembelajaran Biologi Di Laboratorium (Praktikum)
2.2.2.1. Alasan Pentingnya Pembelajaran/ praktikum Biologi
Kegiatan pembelajaran di laboratorium (praktikum) merupakan bagian integral dari kegiatan belajar-mengajar/pembelajaran biologi. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peranan kegiatan laboratorium untuk mencapai tujuan pembelajaran biologi.
Woolnough & Allsop dalam Nuryani Y. Rustaman (2005: 136) mengemukakan empat alasan mengenai pentingnya kegiatan praktikum sains sebagai berikut; 1) praktikum membangkitkan motivasi belajar sains. Proses belajar siswa
dipengaruhi oleh motivasi, siswa yang termotivasi untuk belajar akan bersungguh-sungguh dalam mempelajari sesuatu. Melalui kegiatan praktikum di laboratorium, siswa diberi kesempatan untuk memenuhi dorongan rasa ingin tahu dan ingin bisa. Prinsip ini akan menunjang kegiatan praktikum dimana siswa menemukan
26
eksperimen merupakan kegiatan yang banyak dilakukan oleh para ilmuan. Untuk melakukan eksperimen ini diperlukan beberapa keterampilan dasar seperti mengamati, mengestimasi, mengukur, dan memanipulasi peralatan biologi. Dengan kegiatan praktikum, siswa dilatih untuk mengembangkan kemampuan bereksperimen dengan melatih kemampuan mereka dalam mengobservasi dengan cermat, mengukur secara akurat dengan alat ukur yang sederhana ataupun yang lebih canggih, menggunakan dan menangani alat secara aman, merancang, melakukan dan mnenginterpretasikan eksperimen. 3) praktikum menjadi wahana belajar pendekatan ilmiah. Banyak pakar pendidikan meyakini bahwa cara yang terbaik untuk belajar pendekatan ilmiah adalah dengan menjadikan siswa sebagai scientist.
Beberapa pakar pendidikan mempunyai pandangan yang berbeda terhadap kegiatan praktikum, sehingga melahirkan model dan metode praktikum, seperti misalnya: model praktikum induktif, model praktikum verifikasi, dan metode inkuiri. Model praktikum induktif dikembangkan oleh penganut faham Francis Bacon yang berpendapat bahwa pekerjaanscientistadalah mengumpulkan pola hubungan antar data dan selanjutnya menemukan teori untuk merasionalisasi semua itu. Atau dengan kata lain dari fakta menuju generalisasi. Model praktikum verifikasi dikembangkan oleh penganut faham Popper yang memandangscientist mengawali penyelidikannya dengan suatu hipotesis yang diturunkan dari kawinan antara pengalaman dan kreativitasnya. Lebih lanjut scientistmenguji kesalahan atau kebenaran hipotesisnya melalui observasi dan eksperimen. Kegiatan
27
heuristik yang memandangscientistsebagai penemu (discoverer). Di dalam kegiatan praktikum menurut pandangan ini, siswa bagaikan seorangscientist yang sedang melakukan eksperimen, mereka dituntut untuk merumuskan masalah, merancang eksperimen, merakit alat, melakukan pengukuran secara cermat, menginterpretasi data perolehan, serta mengkomunikasikannya melalui laporan yang harus dibuatnya. 4) praktikum menunjang materi pelajaran. Kegiatan praktikum member kesempatan bagi siswa untuk menemukan teori, dan membuktikan teori. Selain itu praktikum dalam pelajaran biologi dapat membentuk ilustrasi bagi konsep dan prinsip biologi. Dari kegiatan-kegiatan tersebut dapat disimpulkan bahwa praktikum dapat menunjang pemahaman siswa terhadap materi pelajaran.
2.2.2.2. Tiga Macam Bentuk Praktikum
Woolnough dalam Nuryani Y. Rustaman (2005: 137) mengemukakan bahwa bentuk praktikum bisa berupa latihan, investigasi (penyelidikan) atau bersifat pengalaman. Bentuk praktikum yang dipilih hendaknya disesuaikan dengan aspek tujuan dari praktikum yang diinginkan.
Bentuk praktikum latihan digunakan untuk mendukung aspek tujuan mengembangkan keterampilan dasar. Keterampilan dikembangkan melalui latihan-latihan menggunakan alat, mengobservasi, mengukur dan kegiatan
lainnya. Contoh kegiatan praktikum biologi yang bersifat latihan misalnya adalah : menggunakan mata, kaca pembesar, mikroskop untuk mempelajari struktur jaringan, serat, sel epidermis bawang, mengamati, menggambar dan
28
jumlah daun suatu pohon, memanaskan cairan di dalam tabung reaksi, bekerja secara aman dengan organisme tertentu (vertebrata, invertebrata, mikroba), menggunakan peralatan secara akurat, melaksanakan secara benar uji baku (uji amilum, uji glukosa, uji protein), merakit dengan benar (misalnya: mengontrol eksperimen pertumbuhan dan perkembangan).
Bentuk praktikum bersifat investigasi (penyelidikan) digunakan untuk aspek tujuan kemampuan memecahkan masalah. Dalam bentuk ini, kemampuan bekerja siswa dikembangkan seperti seorangscientist.Melalui kegiatan praktikum siswa memperoleh pengalaman mengidentifikasi masalah nyata yang dirasakannya, merumuskan masalah tersebut secara operasional, merancang cara terbaik untuk memecahkan masalahnya, dan mengimplementasikannya dalam laboratorium serta menganalisis dan mengevaluasi hasilnya. Bentuk praktikum investigasi ini memberi kesempatan kepada siswa untuk belajardivergent thinkingdan memberi pengalaman merekayasa suatu proses yang diperlukan dalam pengembangan teknologi. Contoh-contoh praktikum biologi berbentuk investigasi diantaranya adalah : bagaimana mendapatkan kecambah dari biji sirsak, faktor-faktor apa yang mempengaruhi penguapan air pada tumbuhan.
Bentuk praktikum bersifat memberi pengalaman digunakan untuk aspek tujuan peningkatan pemahaman materi pelajaran. Kontribusi praktikum dalam
29
fakta-fakta yang diamati menjadi landasan pembentukan konsep atau prinsip dalam fikirannya. Apabila kegiatan praktikum bersifat verifikasi, fakta-fakta yang diamati menjadi bukti konkret kebenaran konsep atau prinsip yang dipelajarinya, sehingga pemahaman siswa lebih mendalam (Nuryani Rustaman, 2001: 138). Contoh-contoh praktikum biologi yang bersifat pengalaman diantaranya adalah : mempelajari dan menyayat bagian tumbuhan, mengamati kontraksi otot betis katak yang diberi rangsang listrik, memperhatikan gerakan organism sederhana (misalnya Amoeba), eksplorasi respons fisiologis untuk latihan, menumbuhkan dan memelihara tanaman tertentu.
Dalam melaksanakan kegiatan praktikum, tentu saja diperlukan sarana penunjang yang akan menjadikan kegiatan praktikum berjalan dengan baik. Sarana yang dimaksud adalah selain ruangan laboratorium yang memadai, juga perangkat eksperimen/alat bantu praktikum yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
2.3 Desain Pesan dan Model Pengembangan Pembelajaran
2.3.1 Desain Pesan Pembelajaran
Desain adalah proses untuk menentukan kondisi belajar. Tujuan desain ialah untuk menciptakan strategi dan produk pada tingkat makro, seperti program dan kurikulum, dan pada tingkat mikro, seperti pelajaran dan modul.
30
bentuk fisik pesan. Menyampaikan pesan pembelajaran merupakan kegiatan penyaluran pesan kepada peserta didik oleh narasumber dengan menggunakan bahan, alat teknik, dan lungkungan tertentu. Ada beberapa prinsip dalam mendesain pesan pembelajaran agar penyampaian pesan efektif. Gafur dalam Prawiradilaga dan siregar (2004: 18) menyatakan ada lima prinsip dalam mendesain pesan pembelajaran:
1) kesiapan dan motivasi siswa, jika dalam menyampaikan pesan pembelajaran siswa siap dan mempunyai motivasi tinggi, hasilnya akan baik;
2) penggunaan alat pemusat perhatian, jika penyampaian pesan menggunakan alat pemusat perhatian, hasil belajar akan meningkat;
3) partisipasi aktif siswa, jika dalam kegiatan pembelajaran siswa aktif berpartisipasi dan interaktif, hasil belajar akan meningkat;
4) Perulangan, jika penyampaian pesan diulang-ulang, hasil belajar akan lebih baik;
5) Umpan balik, jika dalam penyampaian pesan, siswa diberi umpan balik, hasil belajar akan meningkat.
Salah satu prinsip untuk mendesain pesan pembelajaran di atas adalah
31
Kit eksperimen/ alat bantu paraktikum, adalah salah satu media pembelajaran yang dapat memberi efek untuk menarik perhatian siswa untuk belajar. Mendesain kit eksperimen/ alat bantu praktikum yang mampu memudahkan dan menarik siswa untuk belajar, sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif memerlukan pertimbangan yang matang. Adanya lembar kerja siswa, petunjuk penggunaan kit, dan kemudahan mendapatkan alat dan bahan serta kemudahan
mengoperasikannya adalah beberapa hal yang menjadi pertimbangan.
2.3.2 Model Pengembangan Pembelajaran
Istilah model diartikan oleh Prawiradilaga (2007: 33) sebagai tampilan grafis, prosedur kerja yang sistematis atau teratur, serta mengandung pemikiran bersifat uraian atau penjelasan. Pengembangan didefinisikan sebagai proses
penterjemahan spesifikasi desain ke dalam bentuk fisik. Menurut Suparman (2005: 31) pengertian pengembangan pembelajaran merupakan suatu proses yang sistematis dalam mengidentifikasi masalah, mengembangkan bahan, dan atau strategi pembelajaran, serta mengevaluasi efektivitas serta efisiensinya dalam mencapai tujuan pembelajaran. Berdasarkan ketiga definisi tersebut di atas, maka pengertian model pengembangan pembelajaran adalah suatu prosedur kerja yang sistematis yang bertujuan untuk mengembangkan bahan dan atau strategi
pembelajaran, serta mengevaluasi efektivitas dan efisiensinya dalam mencapai tujuan pembelajaran.
32
(product-oriented models). Dari ketiga kelompok model tersebut, berikut ini akan diuraikan model berbasis kelas, dan model berbasis produk.
1) Model Pengembangan berbasis kelas ASSURE
Model ASSURE merupakan suatu model berupa sebuah formulasi untuk pembelajaran atau disebut juga model berorientasi kelas. Menurut Heinich et al (2005) model ini terdiri atas enam langkah kegiatan yaitu:
Analyze Learners States Objectives
Select Methods, Media, and Material Utilize Media and materials
Require Learner Participation Evaluate and Revise
a. Analisis Siswa (Analyze Learners)
Pada disain pembelajaran, siswa adalah hal terpenting. Apapun bentuk produk, model disain pembelajaran maka semua upaya diwujudkan demi kelancaran pembelajaran. Dalam melakukan analisis siswa ada beberapa hal yang perlu dilakukan misalnya karakteristik umum siswa, kompetensi awal yang menjadi modal dasarnya, gaya belajar dari siswa, aspek psikologis dari siswa dan banyak lagi sesuai dengan kebutuhan.
33
b. Merumuskan Tujuan (States Objectives)
Merumuskan tujuan adalah tahapan menentukan tujuan pembelajaran baik berdasarkan buku atau kurikulum. Tujuan pembelajaran akan menginformasikan apakah yang sudah dipelajari siswa dari pembelajaran yang dilakukan.
Merumuskan tujuan harus difokuskan kepada pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang baru untuk dipelajari. Menurut Smaldino, dkk “An objective is a statement of what will be achieved, not how it will be achieved”. Jadi merumuskan tujuan pembelajaran dapat menggunakan rumusan tujuan dengan model ABCD , yang berarti :
A =audience, siswa dengan segala karakteristiknya; B =behavior, kata kerja yang menjabarkan kemampuan yang harus dikuasai; C =conditions, situasi kondisi yang memungkinkan bagi pebelajar dapat belajar dengan baik; dan D = degree, persyaratan khusus yang dirumuskan sebagai standar baku pencapaian tujuan pembelajaran.
c. Pemilihan Metode, media dan bahan (Select Methods, Media, and Material)
Ada tiga tahapan penting untuk huruf S kedua dari ASSURE ini. Ketiganya adalah :
(1). menentukan metode yang tepat untuk pembelajaran tertentu, kemudian (2). memilih format media yang disesuaikan dengan metode yang diterapkan; dan (3). memilih, merancang, memodifikasi, atau memproduksi bahan ajar.
34
d. Penggunaan Media dan bahan Ajar (Utilize Media and materials)
Pemanfaatan media dan bahan ajar pada model ASSURE ini ditujukan kepada Widyaiswara dan peserta belajar. Smalldino, dkk mengajukan rumus 5 P untuk pemanfaatan media dan material pembelajaran ini. Kelima P tersebut ialah : 1)Preview the Materials(Kaji bahan ajar), 2)Prepare the Materials(Siapkan bahan ajar), 3)Prepare Environment(Siapkan lingkungan), 4)Prepare the Learners(Siapkan peserta didik), 5)Provide the Learning Experience(Tentukan pengalaman belajar)
e. Partisipasi Siswa di dalam kelas (Require Learner Participation)
Mengembangkan peran serta siswa, tujuan utama pembelajaran adalah agar siswa belajar. Oleh karena itu melibatkan siswa untuk belajar adalah aktivitas yang harus dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran.
f. Penilaian dan Revisi (Evaluate and Revise)
35
2) Model Pengembangan Pembelajaran Berbasis Produk.
Model pengembangan berbasis produk yang dikelompokkan oleh Gustafson dan Branch (2002: 30-44) diantaranya adalah Model Bergman and moore (1990), Model de Hoog, de jong and de Vries (1994), Model Bates (1995), Model Nieveen (1997), dan Model seels and Glasgow (1998). Selain model-model pengembangan berbasis produk tersebut, terdapat model pengembangan berbasis produk yang lain yaitu model pengembangan produk Borg and Gall (1993). Berikut ini diperbandingkan 3 (tiga) dari beberapa model pengembangan berbasis produk yang ada untuk menganalisis langkah komponen ketiga model
pengembangan produk.
Tabel 2.1 Perbandingan komponen tiga model pengembangan
Model Seels and Glasgow
Model Bergman and Moore
Model Borg and Gall
Analysis (analysis audio scripts, shot list, art and graphic)
36
Validate (evaluation and
revision) Main field testing Operational field testing Operational product revision
Final product revision Dissemination and implementation
Ketiga model pengembangan pada tabel 2.1, memiliki kesamaan langkah dalam mengembangkan produk dengan istilah yang berbeda, yaitu ketiganya diawali dengan analisis\penelitian awal\analisis kebutuhan, desain\perencanaan,
pengembangan, dan evaluasi\tes\validasi\. Model Seels and glasgow merupakan model pengembangan produk untuk level organisasi/ perusahaan; Model Bergman and Moore merupakan model pengembangan produk untuk level organisasi/ perusahaan/ rumah produksi; sedangkan model pengembanga Borg and Gall merupakan model pengembangan untuk level kelas/ kursus.
Ketiga model tersebut sesuai dengan pendapat Prawiradilaga (2007: 44) yang menyatakan bahwa pengembangan produk memiliki karakteristik yaitu adanya pekerjaan untuk menghasilkan produk (prototype). Pengembangan untuk
37
2.4 Teori belajar dan Pembelajaran
2.4.1 Teori Reigeluth
Reigeluth dalam Miarso (2004: 244) menyatakan kerangka teori pembelajaran meliputi tiga variabel, yaitu kondisi pembelajaran, perlakuan pembelajaran, dan hasil pembelajaran. Ketiga teori ini digambarkan sebagai berikut:
Kondisi
Efektivitas, efisiensi, dan daya tarik pembelajaran
Gambar 2.3 Kerangka Teori Pembelajaran Reigeluth dalam Miarso (2004:
Berdasarkan kerangka teori di atas, pembelajaran biologi pada konsep mekanisme kontraksi belum menarik karena belum adanya kit eksperimen (kondisi
pembelajaran), sehingga dilakukan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan kit eksperimen hasil pengembangan (perlakuan pembelajaran) agar pembelajaran menjadi menarik, lebih mudah dan lebih efektif ( hasil pembelajaran).
38
didik melalui prosedur yang tepat. Sedangkan menurut Wotruba and Wright dalam Miarso (2004: 546) pembelajaran yang efektif memiliki beberapa indikator:
1) Pengorganisasian pembelajaran yang baik, 2) komunikasi secara efektif, 3) penguasaan dan antusiasme dalam pembelajaran, 4) sikap yang positif
terhadap peserta didik, 5) pemberian tes dan nilai yang adil, keluwesan dalam pendekatan pembelajaran, dan 7) hasil belajar peserta didik yang baik.
Efisiensi menurut Miarso (2004: 258) meliputi penghematan waktu, tenaga, dan biaya. Sedangkan daya tarik menurut Miarso (2004: 257) adalah kemudahan memperoleh, mencerna, ketepatsasaran pesan, dan keterandalan yang tinggi.
2.4.2 Teori Belajar Konstruktivisme
Menurut pandangan konstruktivisme keberhasilan belajar bergantung bukan hanya pada lingkungan atau kondisi belajar, tetapi juga pada pengetahuan awal siswa. Menurut West dan Pines (1985) dalam Nuryani (2005: 171) belajar melibatkan pembentukan“makna”oleh siswa dari apa yang mereka lakukan, lihat, dan dengar. Menurut Fensham (1994) dalam Nuryani (2005: 171) penganut konstruktivis memiliki pandangan tentang belajar bahwa orang membangun makna tentang tentang hal-hal yang dialami atau diceritakan secara aktif oleh diri mereka sendiri. Makna yang dibangun bergantung pada pengetahuan sudah ada pada diri seseorang.
39
Berarti di sini peran guru berubah dari sumber dan pemberi informasi menjadi pendiagnosa dan fasilitator belajar siswa.
Lebih lanjut dikemukakan bahwa pembelajaran dan perspektif konstruktivisme mengandung empat kegiatan inti. Pertama, pembelajaran konstruktivisme berkaitan dengan pengetahuan awal (prior knowledge) siswa. Kedua, pembelajaran konstruktivisme mengandung kegiatan pengalaman nyata
(experience). Ketiga, dalam pembelajaran konstruktivisme terjadi interaksi sosial (social interaction). Keempat, pembelajaran konstruktivisme membentuk
kepekaan siswa terhadap lingkungan (sense making).
Berdasarkan uraian di atas, implikasi pandangan konstruktivisme untuk pembelajaran dapat disimpulkan kebaikan pembelajaran berdasarkan konstruktivisme; 1) pembelajaran konstruktivisme memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan secara eksplisit dengan
menggunakan bahasanya sendiri, 2) pembelajaran konstruktivis memberikan pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa, 3) pembelajaran konstruktivisme memberikan kesempatan siswa untuk berfikir tentang pengalamannya agar siswa berfikir kreatif, imajinatif, mendorong refleksis tentang teori dan model, mengenalkan gagasan-gagasan sains pada saat yang tepat, 4) pembelajaran konstruktivisme memberi kesempatan siswa untuk mencoba gagasan baru agar siswa terdorong untuk memperoleh kepercayaan diri dengan menggunakan berbagai konteks baik yang telah dikenal maupun yang baru dan akhirnya memotivasi siswa untuk menggunakan strategi belajar,
40
gagasan mereka setelah menyadari kemajuan mereka, 6) pembelajaran konstruktivisme memberikan lingkungan belajar yang mendukung siswa mengungkapkan gagasan, saling menyimak, dan menghindari kesan selalu ada “satu jawaban yang benar”.
Jadi dalam perspektif konstruktivisme belajar itu suatu proses perubahan konsepsi. Hal senada dinyatakan oleh Budiningsih (2004: 58) bahwa belajar bukanlah cara individu memperoleh informasi yang berlangsung searah dari luar ke dalam diri siswa, melainkan sebagai pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada struktur kognitifnya. Pendapat yang sama dikemukakan oleh Bruner
(http://planet.time.net.my/klcc/azm01/teori/teori_pembelajaran_konstruktivisme.h tml) bahwa pembelajaran merupakan satu proses di mana siswa menemukan side baru atau konsep berdasarkan pada pengetahuan yang telah mereka miliki. Siswa memilih dan menginterpretasikan pengetahuan, menyuasun hipotesis, membuat keputusan yang melibatkan pemikiran mental (struktur kognitif) yang
memberikan makna dan pembentukan pengalaman dan dapat memberikan pengetahuan yang lebih dari yang telah ia miliki.
41
2.4.3 Teori Kognitivisme
Kognitivisme membagi tipe-tipe pembelajar, yaitu: 1) Pembelajar tipe
pengalaman-konkret lebih menyukai contoh khusus dimana mereka bisa terlibat dan mereka berhubungan dengan teman-temannya, dan bukan dengan orang-orang dalam otoritas itu; 2) Pembelajar tipe observasi reflektif suka mengobservasi dengan teliti sebelum melakukan tindakan; 3) Pembelajar tipe konsepsualisasi abstrak lebih suka bekerja dengan sesuatu dan symbol-simbol dari pada dengan manusia. Mereka suka bekerja dengan teori dan melakukan analisis sistematis. 4) Pembelajar tipe eksperimentasi aktif lebih suka belajar dengan melakukan paktek proyek dan melalui kelompok diskusi. Mereka menyukai metode belajar aktif dan berinteraksi dengan teman untuk memperoleh umpan balik dan
informasi. Implementasi prinsip ini dalam mendesain suatu media pembelajaran adalah sebagai berikut:
a) Materi pembelajaran harus memasukan aktivitas gaya belajar yang berbeda, sehingga siswa dapat memilih aktivitas yang tepat berdasarkan kecenderungan gaya berlajarnya.
b) Sebagai tambahan aktivitas, dukungan secukupnya harus diberikan kepada siswa dengan perbedaan gaya belajar. Siswa dengan perbedaan gaya belajar memiliki perbedaan pilihan terhadap dukungan, sebagai contoh, assimilator lebih suka kehadiran instruktur yang tinggi. Sementara akomodator lebih suka kehadiran instruktur yang rendah.
42
d) Pembelajar harus dimotivasi untuk belajar, tanpa memperdulikan sebagaimana efektif materi, jika pembelajar tidak dimotivasi mereka tidak akan belajar. e) Pada saat belajar, pembelajar harus diberi kesempatan untuk merefleksi apa
yang mereka pelajari. Bekerja sama dengan pembelajar lain, dan mengecek kemajuan mereka.
f) Psikologi kognitif menyarankan bahwa pembelajar menerima dan memproses informasi untuk ditransfer ke long term memory untuk disimpan.
2.5 Kajian Penelitian yang Relevan
Beberapa penelitian yang relevan antara lain:
1) B. Hartati, (2010) menyatakan: pertama, efektifitas alat peraga pengembangan gaya gesek dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis dapat dilihat dari hasil observasi berpikir kritis sebelum dan sesudah menggunakan alat peraga pengembangan tersebut yang dilakukan oleh dua observer guru fisika. Sebelum menggunakan alat peraga pengembangan gaya gesek diperoleh rata-rata
sebesar 62,03 selanjutnya setelah diterapkannya alat peraga gaya gesek
pengembangan mengalami kenaikan menjadi 63,62. Peningkatan keterampilan berpikir kritis tersebut diuji kebermaknaanya menggunakan uji t dan diperoleh thitung= 5,389 dengan taraf signifikansi (p value) = 0,000 < 0,05 yang berarti ada peningkatanketerampilan berpikir kritis yang signifikan melalui kegiatan praktikum menggunakan alat peraga gaya gesek pengembangan.
43
Kedua, sebelum menggunakan alat peraga pengembangan sebanyak 68,8% peserta didik memiliki kemampuan berpikir kritis cukup, sebanyak 19,8% dalam kategori tinggi. Berbeda situasinya setelah mengikuti kegiatan praktikum, peserta didik yang memiliki kemampuan berpikir kritis ke arah yang lebih baik. Sebanyak 27,1% peserta didik mampu memiliki keterapilan berpikir tinggi, selebihnya 60,4% cukup. Hal ini menunjukkan bahwa alat peraga gaya gesek yang dikembangkan relefan dengan teori-teori berpikir kritis, yaitu menganalisa, mensitesa, menguji data dan sebagainya, dibuktikan dengan hasil peningkatan berpikir kritis yang signifikan.
2) Rosalina Indah Pramesty, Prabowo (2013), menyatakan: Pertama, alat peraga kit fluida statis yang dikembangkan memiliki persentase kelayakan sebesar 77% dengan kategori baik;
Kedua, hasil belajar siswa setelah mengikuti pembembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran berupa alat peraga kit fluida statis
mengalami peningkatan sehingga ketuntasan hasil belajar siswa secara klasikal mencapai 85,80% dan skor perkembangan (gain score) mencapai 0,8 dengan kriteria tinggi.
Ketiga, respons siswa terhadap pembelajaran dengan menggunakan alat peraga kit fluida statis mencapai persentase 92,5% dengan kriteria sangat kuat.
44
mekanisme kontraksi otot pada pembelajaran biologi kelas XI dapat
mengkondisikan pembelajaran yang mudah dan menarik, yang berimplikasi pada hasil belajar yang efektif dan efisien.
2.6 Kerangka Pikir
Penguasaan siswa terhadap konsep mekanisme kontraksi otot sangatlah penting pada pembelajaran Biologi sistem gerak vertebrata. Penguatan terhadap
pemahaman konsep kontraksi otot diperoleh melalui pengamatan langsung pada kegiatan praktikum di laboratorium. Konsep yang ingin dibangun pada siswa adalah bahwa otot memiliki kemampuan khusus yaitu kontraksi, relaksasi, dan ekstensi. Ketika kontraksi terjadi, otot memerlukan energi berupa ATP. ATP yang digunakan untuk kontraksi ketersediaannya dalam sel-sel otot terbatas, dan harus dibentuk kembali bila aktivitas otot masih berlangsung. ATP ini dibentuk kembali pada saat otot relaksasi. Selang waktu antar saat otot kontraksi dan kesempatan otot membentuk ATP kembali saat relaksasi sangat penting pengaruhnya terhadap ketersediaan ATP yang diperlukan saat kontraksi berikutnya, dan begitu
seterusnya. Oleh karena itu mekanisme ini perlu dibuktikan melalui kegiatan pengamatan langsung. Kegiatan ini memerlukan alat bantu eksperimen yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Untuk menghasilkan kit eksperimen mekanisme kontraksi otot tersebut, dilakukan langkah-langkah kegiatan yang merupakan langkah model penelitian dan
45
interval waktu otomatis. Sedangkan pengembangan dilakukan untuk menghasilkan produk berupa kit eksperimen mekanisme kontraksi otot menggunakan kit elektronik pengatur interval waktu otomatis.
III. METODE PENELITIAN
3.1 Model Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian dan pengembangan (Research and Develop-ment), dan penelitian ini mengacu pada model penelitian dan pengembangan Borg and Gall.
Menurut Borg and Gall (2003), penelitian dan pengembangan pendidikan adalah suatu strategi untuk mengembangkan produk pendidikan yang efektif yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah belajar.
Penelitian ini merupakan penelitian dan pengembangan berupa pembuatan kit eksperimen konsep otot sebagai alat gerak aktif (SK 3, KD 3.1. Biologi kelas XI) materi Mekanisme kontraksi otot yang dilengkapi dengan Lembar Kerja Siswa (LKS). Kit yang dikembangkan dapat digunakan untuk mengamati mekanisme kontraksi otot dengan metode eksperimen atau demonstrasi.
Model penelitian dan pengembangan pendidikan ini dengan langkah-langkah utama secara singkat sebagai berikut.
1. Penelitian dan pengumpulan informasi, 2. Merencanakan,
47
4. Uji lapangan produk awal,
5. Revisi produk awal untuk menghasilkan produk utama, 6. Uji lapangan produk utama,
7. Revisi produk utama untuk menghasilkan produk operasional,
Oleh karena pertimbangan keterbatasan waktu, dana, dan tenaga.langkah 8, 9, dan 10 tidak dilakukan.
Prosedur pengembangan kit eksperimen ini meliputi:
a)Langkah 1: menganalisis kebutuhan dan karakteristik siswa
b)Langkah 2: merumuskan tujuan pembelajaran, merumuskan butir-butir materi, menyusun instrumen evaluasi, menulis naskah media. c)Langkah 3: produk awal, validasi ahli,
d)Langkah 4: uji coba lapangan produk awal (uji satu lawan satu) e)Langkah 5: revisi produk awal untuk menghasilkan produk utama f)Langkah 6: uji coba lapangan (uji coba terbatas kelas eksperimen)
g)Langkah 7: revisi produk utama untuk menghasilkan produk operasional
3.2 Tempat dan Subyek Penelitian
48
percobaan mekanisme kontraksi otot. Yang menjadi subyek dalam penelitian ini adalah para ahli yang melakukan validasi produk yang terdiri dari Pakar Biologi dan 2 orang guru inti Biologi di Lampung Tengah, serta 17 orang guru Biologi (4 orang guru Biologi SMAN 1 Kotagajah, dan 13 orang guru Biologi anggota MGMP Biologi SMA di Lampung Tengah) dan siswa kelas XI IPA1sebagai pengguna yang menilai tingkat kemenarikan, kemudahan dan kemanfaatan kit eksperimen hasil pengembangan.
3.3 Langkah-langkah Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian dan pengembangan berdasarkan model R & D yang disesuakan dengan tahapan pengembangan media pembelajaran sesuai dengan tujuan dan kondisi penelitian yang sebenarnya. Selanjutnya penerapan penelitian dan pengembangan yang dilakukan terdiri dari tiga tahapan dan tujuh langkah yaitu sebagai berikut:
3.3.1 Tahap pra-pengembangan model,terdiri dari dua langkah.
a. Langkah pertama :Penelitian pendahuluan dan pengumpulan informasi. Penelitian pendahuluan dilakukan untuk mengetahui kebutuhan belajar terkait dengan rencana pengembangan kit eksperimen biologi. Sedangkan
pengumpulan informasi adalah menggali informasi-informasi mengenai potensi baik dari segi siswa, guru, dan sarana dan prasarana yang memungkinkan untuk menerapkan produk hasil pengembangan. Hasil dari langkah ini diuraikan pada latar belakang penelitian ini.
49
eksperimen yang mencakup: 1) merumuskan tujuan pembelajaran,
2) merumuskan butir-butir materi, 3) menyusun instrumen evaluasi, 4) menulis naskah media.
3.3.2 Tahap pengembangan model, terdiri dari tiga langkah (dimulai dari langkah ke 3 sampai dengan langkah ke 5).
c. Langkah ketiga: Mengembangkan produk awal kit eksperimen
kontraksi otot sesuai dengan skenario pengembangan produk (Lampiran 4) d. Langkah keempat: Uji lapangan produk awal.
Uji lapangan produk awal adalah evaluasi/validasi terhadap produk awal kit eksperimen yang berhasil dikembangkan pada langkah ketiga. Pada uji lapangan produk awal kit eksperimen ini terdiri yaitu evaluasi/validasi oleh ahli materi dan ahli media, dan uji coba perseorangan (uji coba satu-satu) yang terdiri dari 8 orang siswa, uji kelompok kecil yang terdiri 20 orang siswa yang ada pada populasi.
e. Langkah kelima: Revisi produk awal untuk menghasilkan produk utama. Berdasarkan hasil pada langkah keempat, dilakukan revisi produk awal kit eksperimen sesuai dengan saran/masukan baik dari evaluator ahli maupun 8 dan 20 orang siswa.
3.3.3 Tahap penerapan model,terdiri dari dua langkah (langkah 6 dan 7). f. Langkah keenam: Uji lapangan produk utama.
h.
Pembelajaran Media/Prototipe
Produk Awal
Validasi Ahli Produk Akhir
Uji Coba Lapangan
Sumber: Asyhar (2011: 94)
Gambar 3.1. Prosedur Pengembangan Media Pembelajaran
50
g. Langkah ketujuh: Revisi produk utama untuk menghasilkan produk operasional. Pada gambar 3.1 merupakan ringkasan langkah-langkah pengembangan kit eksperimen mekanisme kontraksi otot
Perumusan Butir Materi
Menganalisis Kebutuhan dan Karakteristik siswa
Penyusunan
Instrumen Evaluasi
Revisi
Perumusan Tujuan Menulis Naskah
3.4 Metode Penelitian Tahap 1
Metode penelitian tahap 1 adalah pelaksanaan tahap pra-pengembangan dan tahap pengembangan model yang terdiri dari langkah 1 sampai langkah 5 dari tujuh langkah-langkah penelitian
3.4.1 Populasi dan Sampel
51
Kotagajah serta guru biologi anggota MGMP biologi SMA Lampung tengah. Sampel terdiri dari 62 siswa dari kelas XI IPA1dan XI IPA2SMAN 1 Kotagajah dan 49 siswa kelas XI IPA3dan IPA4SMAN 1Seputih Banyak, serta 4 orang guru biologi SMAN 1 Kotagajah dan 10 guru biologi anggota MGMP Biologi SMA se Lampung Tengah.
Pada tahap pengembangan model, langkah keempat adalah uji lapangan produk awal, subyek penelitian adalah sebagai berikut: 1) bertindak sebagai ahli materi dalam pengembangan kit eksperimen mekanisme kontraksi otot adala Candra Puasati, S.Pd. M.Pd seorang guru inti di MGMP Biologi Lampung Tengah dan seorang guru biologi SMAN 1 Kotagajah yaitu Edi Purwanto, M.Si. Keduanya sebagai subyek pada uji LKS pelengkap kit eksperimen mekanisme kontraksi otot. Ahli materi memberikan komentar dan saran-saran terhadap LKS penuntun
praktikum mekanisme kontraksi otot. 2) sedangkan yang bertindak sebagai uji ahli media yang dikembangkan adalah 2 orang yaitu Candra Puasati, M.Pd dan
Drs. Kanedi, M.Si seorang dosen biologi di FMIPA Universitas Lampung. Pertimbangan pemilihan ahli materi maupun media yang dikembangkan
52
3.4.2 Teknik Pengumpulan Data
Data mengenai kebutuhan pada penelitian pendahuluan diperoleh melalui instrumen angket (lampiran 1) dan refleksi bersama guru biologi kelas XI IPA, dan data mengenai rendahnya pencapaian KKM yang ditetapkan sekolah diperoleh melalui dokumentasi guru kelas XI IPA SMAN 1 Kotagajah . Data pada langkah penelitian pendahuluan dan pengumpulan informasi sudah diuraikan pada latar belakang.
3.4.3 Kisi-Kisi Dan Instrumen Penelitian
Kisi-kisi instrumen yang digunakan pada penelitian pendahuluan (langkah 1) seperti pada tabel 3.1. Sedangkan kisi-kisi instrumen pada uji lapangan produk awal (langkah 4) terdiri dari kisi-kisi instrumen ahli materi, ahli media, dan uji perseorangan (uji satu-satu) yang diadaptasi dari Nurharini (2006) yaitu sebagai berikut seperti pada tabel 3.2, tabel 3.3, dan tabel 3.4.
Tabel.3.1. Kisi-Kisi InstrumenNeed Assessment No Aspek yang
1.2. Ketersediaan kit eksperimen
1.3. Kemudahan menggunakan kit eksperimen yang tersedia
2 Kebutuhan kit eksperimen yang sesuai kebutuhan
2.1. Dibutuhkannya kit eksperimen yang sesuai dengan kebutuhan.
53
Tabel.3.2. Kisi-Kisi Instrumen Uji Ahli
No Aspek yang dinilai Indikator Prediktor
1 Penopang Otot betis katak
1. Kesesuaian penopang otot betis katak sebagai pengganti statif dan
Kemenarikan 3.1. Bentuk kit
eksperimen cukup sederhana
3.2. Ukuran kit eksperimen lebih efisien
54
Tabel.3.3. Kisi-kisi Angket Uji Ahli
No Aspek yang dinilai Prediktor 1 Ketepatan dengan
tujuan
pembelajaran
Kit eksperimen dikembangkan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan
2 Dukungan terhadap materi pelajaran
Kit eksperimen hasil pengembangan
diperlukan untuk membantu siswa memahami materi pelajaran yang sifatnya fakta, prinsip, konsep dan generalisasi.
3
kemenarikan Kit eksperimen hasil pengembangan dapat memelihara minat siswa terhadap materi pembelajaran
4 Kemudahan
penggunaan
Kit eksperimen hasil pengembangan mudah digunakan oleh guru dan siswa dalam proses pembelajaran
55
Tabel.3.4. Kisi-kisi Angket Uji coba Perseorangan (siswa) NO Aspek yang
dinilai
Indikator Prediktor
1. Kemenarikan 1. Memotivasi siswa untuk
belajar/melakukan praktikum di
Laboratorium Biologi
2. Membuat siswa tertarik untuk yang terdapat di dalam LKS
5. Kit eksperimen mudah digunakan
6. Kit ini memudahkan siswa mengamati 7. Kit ini dapat
56
3.4.4 Teknik Analisa Data
Data mengenai kebutuhan belajar pada penelitian pendahuluan, tanggapan ahli materi, ahli media, dan 8 siswa pada uji perseorangan yang diperoleh pada langkah keempat penelitian ini termasuk dalam data kuantitatif yaitu berupa tanggapan dan sikap, dituangkan dalam bentuk perhitungan.
Agar data kuantitatif memiliki makna, digunakan statistika deskriptif dan penyajian data berbentuk daftar tabel.
3.5 Metode Penelitian Tahap II
Penelitian pada tahap ini merupakan pelaksanaan tahap penerapan model/ produk yang terdiri dari langkah ke-6 dan langkah ke-7 penelitian pengembangan Borg and Gall, yaitu langkah ke-6 : uji lapangan produk utama dan langkah ke-7 ; revisi produk utama untuk menghasilkan produk akhir setelah uji lapangan produk utama.
3.5.1 Model rancangan Eksperimen
57
Uji lapangan ini dirancang dengan desain eksperimen Posttest-only Control design (Sugiono, 2008) sebagai berikut:
Kelas Perlakuan Posttest
Eksperimen Pembelajaran menggunakan kit eksperimen Mekanisme kontraksi otot hasil Pengembangan
X1
Kontrol Pembelajaran menggunakan kit eksperimen Mekanisme kontraksi otot konvensional
X2
3.5.2 Populasi dan sampel
Populasi dalam penelitian ini terkait dengan langkah ke-6 : Uji lapangan produk utama adalah seluruh siswa kelas XI SMAN 1 Kotagajah TP. 2012/2013. Sampel diambil dengan teknikcluster random samplingyaitu diambil 2 kelas dari 6 kelas yang ada dengan cara diundi. Dari 2 kelas yang terpilih kemudian diundi lagi untuk menentukan kelas kontrol dan kelas eksperimen. Kelas eksperimen adalah kelas yang pembelajarannya menggunakan kit eksperimen mekanisme kontraksi otot hasil pengembangan , sedangkan kelas kontrol pembelajarannya tidak menggunakan kit eksperimen hasil pengembangan. Setelah diundi terpilih kelas XI IPA1 sebagai kelas eksperimen dan kelas IPA4 sebagai kelas kontrol.
3.5.3 Teknik Pengumpulan Data
Data mengenai efektivitas diperoleh dari tes kognitif yaitu soal tes formatif berupa soal pilihan ganda yang diberikan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol dan validasi soal ini dilakukan melalui uji coba tes pada 32 siswa dan hasilnya
58
daya pembeda soal (hasil analisis butir soal lampiran 7b.) Baik kelas eksperimen maupun kelas kontrol menggunakan soal tes formatif yang sama. Sedangkan untuk data kemenarikan, kemudahan, dan kemanfaatan produk diperoleh dengan teknik angket. Validasi angket dilakukan oleh guru biologi kelas XI SMAN 1 kotagajah (Edi Purwanto, S.Pd. M.Si) untuk mengetahui apakah angket dapat digunakan untuk mengumpulkan data kemenarikan, kemudahan, dan kemanfaatan LKS dan kit hasil pengembangan. Angket dibagikan kepada siswa kelompok eksperimen setelah menggunakan kit eksperimen mekanisme kontraksi otot pada pembelajarannya.
3.5.4 Kisi-Kisi dan Instrumen Penelitian
Kisi-Kisi dan Instrumen yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian langkah keenam dapat dilihat pada lampiran 9.
3.5.5 Teknik analisa data
59
Ho :1≤2: Rata-rata hasil tes formatif pada siswa yang pembelajarannya menggunakan Kit Eksperimen MKO lebih kecil atau sama dengan rata-rata hasil tes formatif pada siswa yang
pembelajarannya tidak menggunakan Kit Eksperimen MKO. H1 :1>2: Rata-rata hasil tes formatif pada siswa yang pembelajarannya menggunakan kit Eksperimen MKO lebih besar dibandingkan dengan rata-rata hasil tes formatif pada siswa yang
pembelajarannya tidak menggunakan Kit eksperimen MKO.
Dengan 1 = rata-rata hasil tes formatif pada kelas eksperimen. 2 = rata-rata hasil tes formatif pada kelas kontrol.
Nilai thitungyang diperoleh dari pengolahan dengan SPSS dibandingkan dengan t yang terdapat dalam tabel distribusi t. Kriteria pengujian hipotesis yang
diperlukan adalah diterima Ho jika: thitung< ttabel pada taraf signifikan 0,05 dengan dk = n1+ n2–2. Tolak Ho untuk harga lainnya.
Data mengenai daya tarik termasuk dalam data kuantitatif yaitu berupa tanggapan yang termasuk dalam skala sikap, dituangkan dalam bentuk perhitungan. Agar data kuantitatif memiliki makna atau meaningful, digunakan statistika deskriptif, penyajian data berbentuk daftar tabel.
Tabel 3.5. Skor Penilaian Uji Coba Lapangan terhadap Pilihan Jawaban Pilihan Jawaban Pilihan Jawaban Pilihan Jawaban Skor
Sangat menarik Sangat Mudah Sangat membantu 4
Menarik Mudah Membantu 3
Kurang menarik Sulit Kurang membantu 2
60
Instrumen yang digunakan memiliki 4 pilihan jawaban, sehingga skor penilaian total dapat dicari dengan menggunakan rumus:
Skor penilaian = Jumlah skor pada instrumen X 4 Jumlah nilai skor tertinggi
Hasil dari skor penilaian tersebut kemudian dicari rata-ratanya dari sejumlah subyek sampel uji coba dan dikonversikan ke pernyataan penilaian untuk
menentukan kemenarikan, kemudahan, dan kemanfaatan produk yang dihasilkan berdasarkan pendapat pengguna. Hasil konversi ini diperoleh dengan melakukan analisis secara deskriptif terhadap skor penilaian yang diperoleh. Pengonversian skor menjadi pernyataan penilaian ini dapat dilihat dalam Tabel 3.6.
Tabel 3.6. Konversi Skor Penilaian Menjadi Pernyataan Nilai Kualitas Dalam Suyanto (2009: 227)
Skor Penilaian Rerata Skor Klasifikasi
4 3,26 - 4,00 Sangat baik
3 2,51 - 3,25 Baik
2 1,76 - 2,50 Kurang Baik