LAPORAN TUGAS AKHIR
PRAKTIK KERJA LAPANGAN MANDIRI
TATA CARA PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN (SPT)
TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN (PPh) ORANG PRIBADI PADA KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA MEDAN TIMUR
O L E H
NAMA : ALI ZAMZAMI NIM : 102600005
Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Menyelesaikan Studi Pada Program Studi Diploma III Administrasi Perpajakan
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim,
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, yang telah
memberikan berkat dan karunia-NYA sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas
akhir ini.
Laporan tugas akhir disusun untuk memenuhi salah satu syarat guna
menyelesaikan Program Studi DIII Administrasi Perpajakan Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Poltik Universitas Sumatera Utara.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada Ayahanda dan
Ibunda tersayang yang telah membimbing, dengan penuh cinta dan kasih saying,
memotivasi dan memperhatikan penulis sejak kecil serta selalu mencukupi keperluan
baik secara moril maupun materil hingga akhirnya penulis mampu menyelesaikan
laporan tugas akhir ini.
Dalam proses penyusunanya laporan tugas akhir ini, penulis telah banyak
menerima bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, maka dalam kesempatan ini
1. Bapak Prof. Dr. Bhadaruddin, M.Si sebagai Dekan Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik.
2. Bapak Drs. Alwi Hashim Batubara, M.Si sebagai ketua Program Studi
Diploma III Administrasi Perpajakan.
3. Ibu Tetty Marlina Tarigan, SH. M.Kn selaku dosen pembimbing yang
banyak memberikan masukan dan arahan bagi penulis dalam
menyelesaikan laporan tugas akhir ini.
4. Bapak Hendri selaku supervisor penulis di KPP Medan Timur yang telah
memberikan arahan dan data-data yang berhubungan dengan laporan tugas
akhir penulis.
5. Seluruh Dosen dan Staff Program Diploma III Administarsi Perpajakan
FISIP USU.
6. Seluruh Pegawai Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur yang
telah banyak membantu dalam menyelesaikan laporan tugas akhir ini.
7. Buat teman-teman angkatan 2010 yang telah menjadi keluarga serta
sahabat penulis selama kuliah. Kalian teman yang baik yang tak akan
pernah penulis lupakan.
8. Dan kepada semua pihak yang telah banyak membantu penulis dalam
Penulis menyadari masih banyak kekurangan di dalam laporan tugas
akhir ini karena kesilapan atau karena keterbatsan bobot pengetahuan
penulis. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya
menbangun demi kesempurnaan laporan ini.
Medan,
Penulis,
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang PKLM ... 1
B. Tujuan Dan Manfaat PKLM ... 4
C. Ruang Lingkup PKLM ... 7
D. Metode PKLM ... 7
E. Pengumpulan Data ... 9
F. Sistematika Penulisan Laporan ... 9
BAB II GAMBARAN UMUM KPP PRATAMA MEDAN TIMUR A. Sejarah Singkat KPP Pratama Medan Timur ... 12
B. Gambaran Umum Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur ... 14
C. Struktur Organisasi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur ... 16
D. Tugas Dan Wewenang Masing-Masing Seksi ... 19
BAB III GAMBARAN DATA PKLM
A. Arti Pajak ... 26
B. Fungsi Pajak ... 28
C. Kewajiban Menyampaikan SPT Tahunan Bagi WP OP ... 29
D. Arti Dan Fungsi SPT Tahunan WP OP ... 30
E. Jenis-Jenis Formulir SPT Tahunan WP OP ... 31
F. Jenis SPT ... 31
G. Yang Wajib Menyampaikan SPT Tahunan WP OP ... 32
H. Ketentuan Tentang Penyampaian SPT Tahunan WP OP ... 33
I. Yang Dikecualikan Menyampaikan SPT Tahunan WP OP ... 35
J. Batas Waktu Penyampaian SPT Tahunan WP OP ... 35
K. Pengertian Pajak Penghasilan ... 36
BAB IV ANALISIS DAN EVALUASI A. Cara Penyampaian SPT Tahunan WP OP ... 40
B. Langkah-Langkah Untuk Menyampaikan SPT Tahunan WP OP ... 43
C. Lampiran-Lampiran SPT Tahunan WP OP ... 45
D. Kelengkapan SPT Tahunan WP OP ... 47
E. Sanksi-Sanksi Yang Behubungan Dengan SPT Tahunan WP OP ... 49
G. Peranan Konsultan Pajak Dalam Penyampaian SPT
Tahunan WP OP ... 53
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ... 55
B. Saran ... 56
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri
Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi membawa dampak yang luas
dan kompleks. Kemajuan tersebut tentunya membutuhkan kesiapsediaan semua pihak
Perguruan Tinggi sebagai sebuah wadah pendidikan tertinggi dalam suatu jenjang
pendidikan formal. Mahasiswa sebagai salah satu elemen Perguruan Tinggi dituntut
untuk mampu berpikir kritis, tegas, dan kreatif khususnya dibidang yang mereka
pilih. Hal ini sangat penting karena sebagai generasi muda, mahasiswa diharapkan
dapat meneruskan pembangunan bangsa ini.
Guna memenuhi tuntutan dunia kerja dibutuhkan lulusan perguruan tinggi
yang berkualitas, mahasiswa tidak hanya dituntut untuk lulus dari program
pendidikannya tetapi juga harus mampu mengembangkan dan menambah ilmu
pengetahuan dari ilmu yang diperolehnya, untuk itu maka mahasiswa diwajibkan
mengikuti Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM).
Dalam melaksanakan PKLM ini, maka mahasiswa memerlukan sebuah wadah
atau tempat untuk mengaplikasikan teori yang diperoleh selama perkuliahannya
tersebut. Pembahasan yang diambil tentu saja yang berhubungan dengan perpajakan.
2
Belanja Negara (APBN) terbesar setelah penerimaan dari sektor Migas.
Dimana penerimaan negara dari sektor pajak setiap tahun terus mengalami
peningkatan. Hal ini dapat dilihat dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(APBN) dimana rencana pendapatan negara dari sektor pajak terus mengalami
peningkatan. Pendapatan negara dari sektor pajak inilah yang digunakan untuk
membiayai pelaksanaan pembangunan baik di daerah maupun di pusat.
Pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak sebagai aparat perpajakan,
mempunyai tugas yang cukup berat dalam memenuhi pendapatan negara yang telah
ditetapkan dalam APBN.
Sehingga aparat pajak harus aktif dalam melakukan pembinaan, dan
pengawasan terhadap pelaksanaan perpajakan dari wajib pajak agar wajib pajak
mematuhi peraturan yang telah ditentukan dalam undang-undang perpajakan. Untuk
meningkatkan penerimaan pajak pemerintah telah berulangkali melakukan
pembaharuan undang-undang perpajakan. Sebelum adanya tax reform, Indonesia
menganut sistem Official Assessment lalu diadakan Tax Reform dimana sistem
Official Assesment diganti menjadi Self Assessment.
Dalam sistem Self Assessment wajib pajak diberi kepercayaan dan tanggung
jawab untuk menghitung, membayar, dan melaporkan sendiri besarnya pajak yang
Minimnya pengetahuan wajib pajak tentang perpajakan khususnya Pajak
Penghasilan (PPh) orang pribadi menyebabkan banyak kesulitan dalam hal
pelaksanaan kewajiban perpajakannya. selain itu juga kecerobohan wajib pajak dalam
hal pembayaran pajak sangat mengkhawatirkan. Akibatnya, banyak para wajib pajak
yang tidak mengetahui berapa besarnya pajak yang harus dibayarkan oleh wajib
pajak.
Dari hal-hal tersebut maka kebanyakan wajib pajak yang kesulitan dalam
melakukan kewajibannya untuk membayar pajaknya. Wajib pajak tidak mengetahui
prosedur ataupun mekanisme pembayaran pajak. Namun banyak Wajib Pajak yang
tetap tidak mau tahu akan kewajibannya di bidang perpajakan sehingga:
1. Banyak wajib pajak yang tidak mengetahui tata cara Penyampaian Surat
Pemberitahuan (SPT) Pajak Penghasilan (PPh) orang pribadi.
2. Banyak wajib pajak yang tidak mengetahui mekanisme pelaporan Pajak
Penghasilan (PPh) orang pribadi.
Berdasarkan kenyataan-kenyataan tersebut, maka penulis mencoba meneliti
dan membahas untuk menuangkan dan mengangkatnya menjadi sebuah karya ilmiah
4
B.Tujuan dan Manfaat Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM)
1. Tujuan Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM)
Secara teoritis Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM) merupakan
kegiatan intrakurikuler yang dilakukan mahasiswa secara mandiri dengan cara
praktis di lapangan yang langsung berhubungan dengan teori-teori keahlian
yang diterima dari para dosen Program Studi Diploma III Administrasi
Perpajakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam melaksanakan Praktik Kerja
Lapangan Mandiri ini adalah :
1.1. Untuk mengetahui Tata Cara Penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT)
Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) orang pribadi di Kantor Pelayanan Pajak
Pratama Medan Timur.
1.2. Untuk mengetahui berapa besar tingkat kepatuhan wajib pajak dalam
menyampaikan SPT Tahunan pajak penghasilan orang pribadi.
1.3. Untuk mengetahui mengapa masih banyak wajib pajak yang menggunakan
jasa konsultan pajak untuk menyampaikan SPT Tahunan wajib pajak orang
1.4. Untuk mengetahui penyebab Wajib Pajak Orang Pribadi tidak
menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan di Kantor Pelayanan
Pajak Pratama Medan Timur.
2. Manfaat Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM)
2.1 Bagi Mahasiswa
a. Mengimplementasikan Tata Cara Penyampaian Surat Pemberitahuan
(SPT) Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) orang pribadi.
b. Mengetahui lebih dalam tentang Pajak Penghasilan (PPh) orang pribadi.
c. Meningkatkan interaksi baik dengan petugas ataupun pegawai pajak
maupun dengan Wajib Pajak mengenai Pajak Penghasilan (PPh) orang
pribadi.
d. Menambah ilmu dan wawasan dalam hal Pajak Penghasilan (PPh) orang
pribadi.
e. Sebagai motivasi untuk lebih meningkatkan keterampilan dalam hal
perpajakan khususnya pajak penghasilan (PPh).
f. Sebagai wadah untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja
dengan dibekali keahlian keterampilan dan pengalaman yang diperoleh
6
2.2 Bagi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur
a. Sebagai sarana untuk mempererat hubungan yang positif antara Kantor
Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Timur dengan Program Studi
Diploma III Administrasi Perpajakan Fisip USU.
b. Dengan dilaksanakannya Praktik Kerja Lapangan Mandiri ini, mahasiswa
dituntut memberikan sumbangsihnya baik berupa saran maupun kritik
yang bersifat membangun yang menjadi sumber masukan untuk
meningkatkan kinerja pada Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama
Medan Timur.
2.3 Bagi Program Diploma III Administrasi Perpajakan Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
a. Meningkatkan hubungan kerja sama Universitas Sumatera Utara dengan
Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur.
b. Membuka interaksi antar mahasiswa, dosen dan instansi pemerintah di
bangku perkuliahan.
c. Rasa ikut serta masyarakat membangun Negara.
d. Guna meningkatkan profesionalisme, memperluas wawasan serta
menetapkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dalam
e. Membangun pencitraan yang baik terhadap sumber daya manusia yang
dihasilkan dari lembaga pendidikan nasional, khususnya Universitas
Sumatera Utara.
C. Ruang Lingkup Praktek Kerja Lapangan Mandiri (PKLM)
Melalui Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM), Penulis ingin mengetahui
beberapa masalah berikut :
1. Tata Cara Penyampaian SPT Pajak Penghasilan (PPh) orang pribadi.
2. Perkembangan jumlah wajib pajak yang menyampaikan Surat Pemberitahuan
(SPT) Tahunan pajak penghasilan orang pribadin setiap tahunya.
3. Factor-faktor yang menyebabkan banyaknya wajib pajak tidak menyampaikan
SPT Tahunan pajak penghasilan orang pribadi.
4. Sanksi Tidak Menyampaikan SPT Tahuan Pajak Pajak Penghasilan (PPh)
orang pribadi.
D.Metode Praktik Kerja Lapangan Mandiri.
Untuk mendapatkan dan mengumpulkan data sesuai dengan metode yang
digunakan adalah sebagai berikut:
1. Tahapan persiapan
Pada tahapan ini penulis melakukan berbagai persiapan mulai dari
penentuan judul, penentuan tempat PKLM, mencari bahan untuk pembuatan
8
2. Studi Literatur
Dalam hal ini penulis mengumpulkan alat-alat dan bahan yang
dibutuhkan seperti Undang-undang dan buku-buku yang berhubungan dengan
Pajak Penghasilan (PPh) orang pribadi.
3. Observasi Lapangan
Melakukan peninjauan dan pengamatan yang sesuai dengan data-data
yang ada pada instansi bersangkutan mengenai judul dari PKLM ini.
4. Pengumpulan Data
Dalam hal ini penulis mencari dan mengumpulkan data mengenai
prosedur penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan
(PPh) orang pribadi.
4.1 Data Primer yaitu data-data yang diperoleh dari pihak-pihak yang
mengetahui dan memahami tentang tata cara penyampaian Surat
Pemberitahuan (SPT) Pajak Penghasilan (PPh) orang pribadi.
4.2 Data Sekunder yaitu data-data yang diperoleh dari referensi ilmiah yang
mendukung laporan Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM).
5. Analisis dan Evaluasi Data
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam menganalisa dan mengevaluasi
E. Metode Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data mengenai Praktik Kerja Lapangan Mandiri, penulis
mengumpulkan data dan informasi dengan mengunakan metode sebagai berikut :
1. Daftar Observasi
Yaitu dengan melakukan pengamatan langsung atas kegiatan yang akan dilakukan
dalam pencatatan terhadap fenomena yang menjadi objek penelitian.
2. Wawancara
Yaitu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada narasumber
yang berkompeten di bidang SPT dan informasi tentang pelaksanaan penyampaian
Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan orang pribadi.
3. Dokumentasi
Yaitu dengan mengumpulkan dokumen-dokumen yang berhubungan dengan
pendataan penyampaian SPT Tahunan orang pribadi dan meminta berbagai dokumen
yang berkaitan dengan Laporan Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM) penulis.
F. Sistematika Penulisan Laporan Praktek Kerja Lapangan Mandiri
Untuk mempermudah pemahaman dalam pembahasan laporan PKLM ini,
10
BAB I : PENDAHULUAN
Pada bab ini diberikan gambaran mengenai keseluruhan isi laporan
ini. Bab ini terdiri dari latar belakang PKLM, tujuan dan manfaat
PKLM, ruang lingkup PKLM, metode PKLM, Penumpulan data,
metode pengumpulan data dan sistematika penulisan laporan
PKLM.
BAB II: GAMBARAN UMUM KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA MEDAN TIMUR
Pada bab ini penulis akan menjelaskan sejarah singkat lokasi
dimana Praktik Kerja Lapangan Mandiri dilakukan. Dalam hal ini
sejarah singkat lokasi yang akan diuraikan penulis adalah Kantor
Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur, Struktur Organisasi, tugas
dan fungsi pegawai di instansi tersebut serta gambaran lain jika
dibutuhkan.
BAB III: PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA ATAS TATA CARA PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN (SPT)
TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN (PPh) ORANG
PRIBADI PADA KANTOR PELAYANAN PAJAK
Pada bab ini penulis akan membahas tentang bagaimana prosedur
dan tata cara penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak
Penghasilan Orang Pribadi pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Medan Timur.
BABIV: ANALISIS DAN EVALUASI
Dalam bab ini Penulis akan menganalisa data yang diperoleh,
kemudian mengadakan evaluasi serta memberikan interpretasi
untuk menjawab perumusan masalah yang diajukan.
BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini merupakan kesimpulan dari uraian-uraian dalam bab-bab
sebelumnya serta saran-saran dari penulis yang merupakan
sumbangan pemikiran yang diharapkan dapat memberikan manfaat
pada pihak-pihak yang memerlukan.
DAFTAR PUSTAKA
BAB II
GAMBARAN UMUM LOKASI PRAKTIK KERJA LAPANGAN MANDIRI (PKLM)
A.Sejarah Singkat Berdirinya Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur
Kantor Pelayanan Pajak dimulai pada masa penjajahan Belanda, Kantor
Pelayanan Pajak pada masa itu bernama Belasting, yang kemudian setelah
kemerdekaan Republik Indonesia berubah nama menjadi Kantor Inspeksi Keuangan.
Kemudian berubah lagi menjadi Kantor Inspeksi Pajak (KIP) dengan induk
organisasinya adalah Direktorat Jenderal Pajak. Di Sumatera Utara pada tahun 1976
berdiri tiga kantor inspeksi pajak, yaitu :
1. Kantor Inspeksi Pajak Medan Selatan
2. Kantor Inspeksi Pajak Medan Utara
3. Kantor Inspeksi Pajak Pematang Siantar
Pada tahun 1978 Kantor Inspeksi Pajak Medan Selatan dipecah menjadi dua,
yaitu Kantor Inspeksi Pajak Medan Selatan dan Kantor Inspeksi Pajak Kisaran.
Untuk memudahkan dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada
masyarakat, dan dengan pertumbuhan ekonomi yang semakin cepat, maka
didirikanlah Kantor Inspeksi Pajak Medan Timur.
Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan pajak kepada masyarakat,
berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor
267/KMK.01/1989. Hal itu mencakup reorganisasi Kantor Inspeksi Pajak yang
diganti nama menjadi Kantor Pelayanan Pajak (KPP), sekaligus mendirikan Kantor
Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan.
Berdasarkan pada Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia
Nomor758/KMK.01/1993 tertanggal 3 Agustus 1993, maka pada tanggal 1 April
1994 didirikanlah Kantor Pelayanan Pajak Medan Timur. Kantor Pelayanan Pajak
Medan Timur merupakan pecahan dari tiga Kantor Pelayanan Pajak, yaitu:
1. Kantor Pelayanan Pajak Medan Selatan
2. Kantor Pelayanan Pajak Medan Barat
3. Kantor Pelayanan Pajak Medan Utara
Terhitung mulai tanggal 1 April 1994, Kantor Pelayanan Pajak di kota Medan
berubah menjadi empat wilayah kerja, yaitu:
1. Kantor Pelayanan Pajak Medan Timur
2. Kantor Pelayanan Pajak Medan Barat
3. Kantor Pelayanan Pajak Medan Utara
4. Kantor Pelayanan Pajak Binjai
Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 443/KMK.01/2001 tentang “Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak”, maka Kantor Pelayanan Pajak di kota Medan menjadi enam wilayah
14
1. Kantor Pelayanan Pajak Medan Timur
2. Kantor Pelayanan Pajak Medan Barat
3. Kantor Pelayanan Pajak Medan Kota
4. Kantor Pelayanan Pajak Medan Polonia
5. Kantor Pelayanan Pajak Medan Belawan
6. Kantor Pelayanan Pajak Medan Petisah
Setelah adanya modernisasi perpajakan tahun 2008, struktur organisasi Kantor
Pelayanan Pajak sebelumnya, yaitu berdasarkan jenis pajak berubah menjadi Kantor
Pelayanan Pajak Pratama yang struktur organisasinya berdasarkan fungsi jabatan.
Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur mulai beroperasi pada tanggal 27 Mei
2008, berdasarkan Keputusan Direktorat Jenderal Pajak Nomor 95/PJ.01/2008
tanggal 19 Mei 2008.
B.Gambaran Umum Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur
Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur beralamat di Jalan Pangeran
Diponegoro Nomor 30A Gedung Keuangan Negara Lantai II Medan dan sekarang
berpindah alamat di Jalan Suka Mulya Nomor 17A Medan. Kantor Pelayanan Pajak
Pratama Medan Timur didirikan pada tanggal 1 April 1994 berdasarkan keputusan
Menteri Keuangan Repuplik Indonesia Nomor 758/KMK.01/1993 tanggal 3 Agustus
1. Kecamatan Medan Tembung
Kecamatan Medan Tembung adalah daerah pintu gerbang kota Medan
di sebelah Timur yang merupakan pintu masuk dari Kabupaten Deli Serdang
atau daerah lainnya melalui transportasi darat. Di Kecamatan Medan
Tembung ini banyak terdapat jenis usaha industri kecil seperti kerajinan rotan.
Disamping itu banyak pula yang bergerak di bidang usaha industri rumah
tangga seperti pembuatan sepatu.
2. Kecamatan Medan Timur
Di Kecamatan Medan Timur ini terdapat Stasiun Kereta Api Medan
yang dikenal dengan “Stasiun Besar” sebagai salah satu sarana transportasi
darat antar kota dan antar daerah dari dan ke Kota Medan. Walaupun bukan
sebagai daerah pusat industri, di Kecamatan Medan Timur ini juga banyak
terdapat usaha industri kecil seperti bengkel kenderaan bermotor, bengkel
bubut, showroom serta usaha perdagangan dan jasa.
3. Kecamatan Medan Perjuangan
Kecamatan Medan Perjuangan adalah salah satu daerah padat
pemukiman di kota Medan. Kecamatan Medan Perjuangan pada umumnya
bergerak di sektor perdagangan baik itu perdagangan besar, menengah
maupun kecil. Di Kecamatan Medan Perjuangan terdapat industri-industri
kecil seperti perabot rumah tangga, pengolahan kopi, sulaman border, roti/
16
C.Struktur Organisasi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur
Struktur organisasi adalah bagan yang menggambarkan sistematis mengenai
penetapan tugas-tugas, fungsi dan wewenang serta tanggung jawab masing-masing
dengan tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Tujuan struktur tersebut juga untuk
membina keharmonisan kerja agar dapat dilaksanakan dengan teratur dan baik untuk
mencapai tujuan secara maksimal.
Adapun struktur organisasi yang digunakan Kantor Pelayanan Pajak (KPP)
Pratama Medan Timur adalah struktur organisasi linier dan staf yang berada di
bawah seseorang koordinasi Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jendral Pajak
Sumatera Utara I, dimana seluruh pegawainya adalah Pegawai Negri Sipil di bawah
naungan Kementeri Keungan Republik Indonesia.
Kantor Pelayan Pajak dapat digolongkan menjadi dua tipe, yaitu tipe A dan
tipe B. Kantor Pelayanan Pajak tipe A merupakan Kantor Pelayanan Pajak yang
tergolong dalam skala besar dan biasanyaa berada di ibukota provinsi sedangkan
Kantor Pelayanan Pajak tipe B merupakan Kantor Pelayanan Pajak yang wilayah
kerjanya tidak melebihi dari wilayah kerja Kantor Pelayanan Pajak tipe A dan
biasanya berada di kotamadya dan kabupaten. Sehingga, berdasarkan penggolongan
tersebut maka KPP Pratama Medan Timur dapat digolongkan sebagai KPP tipe A
Namun, berdasarkan SK Menteri Keuangan Republik Indonesia No.
162/KMK.01/1997 tanggal 10 April 1997 tentang peningkatan KPP tipe B menjadi
tipe A. Sehingga, adanya surat keputusan tersebut maka KPP tipe B tidak ada di
Kantor Wilayah Direktorat Jendral Sumatera Utara I.
Berdasarkan SK Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 94/KMK.01/1994
tanggal 29 Maret 1994 tentang susunan organisasi Departemen Keuangan, maka tipe
A terdiri dari Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur membawahi satu
sub bagian, delapan seksi, satu kantor penyuluhan ditambah kelompok tenaga
fungsional (yang berada diluar struktur organisasi Kantor Pelayanan Pajak) yakni
terdiri dari :
1. Sub Bagian Tata Usaha (TU);
2. Seksi Tata Usaha dan Perpajakan (TUP);
3. Seksi Pengolahan Data dan Informasi (PDI);
4. Seksi Pajak Penghasilan Orang Pribadi;
5. Seksi Pajak Penghasilan Badan;
6. Seksi Pemotongan dan Pemungutan Pajak Penghasilan;
7. Seksi Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Tidak Langsung Lainnya;
8. Seksi Penagihan;
9. Seksi Penerimaan dan Keberatan;
18
Namun, setelah adanya modernisasi perpajakan pada tahun 2006, KPP
Pratama yang berdasarkan Peraturan Menteri Keungan Republik Indonesia No.
132/PMK.01/2006 tentang Organisasi dan Tata Cara Kerja Instansi Vertikal
Direktorat Jendral Pajak, maka KPP Pratama terbagi menjadi beberapa seksi, antara
lain :
1. Sub Bagian Umum
2. Seksi pengolahan Data dan Informasi
3. Seksi Pelayanan
4. Seksi Penagihan
5. Seksi Pemeriksaan dan Kepatuhan Internal
6. Seksi Ekstensifikasi Perpajakan
7. Seksi Pengawasan dan Konsultasi I s.d IV
8. Seksi Jabatan Fungsioanal
Wilayah kerja masing-masing seksi pengawasan dan konsultasi (WASKON)
di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur adalah sebagai berikut :
a. Seksi Pengawasan dan Konsultasi I, meliputi Kelurahan Pulo Brayan Darat
I dan II, Kelurahan Sidodadi, dan Kelurahan Perintis.
b. Seksi Pengawasan dan Konsultasi II, meliputi Kelurahan Sei Kera Hilir I
dan II, Kelurahan Sidorame Barat I dan II, Sidorame Timur, Kelurahan
Pahlawan, Kelurahan Sei Kera Hulu, Kelurahan Pandau Hilir dan
c. Seksi Pengawasan dan Konsultasi III, meliputi Kelurahan Bandar Selamat,
Kelurahan Bantan, Kelurahan Bantan Timur, Kelurahan Indrakasih,
Kelurahan Sudirejo, Kelurahan Sudirejo Hilir, Kelurahan Tembung.
d. Seksi Pengawasan dan Konsultasi IV, meliputi Kelurahan Durian,
Kelurahan Gaharu, Kelurahan Glugur Darat I dan II, Kelurahan Gang
Buntu, Kelurahan Pulo Brayan Bengkel, dan Kelurahan Pulo Brayan
Bengkel Baru.
D.Tugas dan Wewenang Masing-Masing Seksi
Pembagian tugas dan wewenang masing-masing seksi dalam struktur
organisasi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur adalah :
1. Sub Bagian Tata Usaha / Umum, mempunyai tugas :
a. Pelaksanaan Tata Usaha dan Kepegawaian yang bertugas membantu
menangani urusan Tata Usaha dan Kepegawaian.
b. Pelaksanaan Keuangan yang bertugas menangani urusan keuangan.
c. Pelaksanan Rumah Tangga yang bertugas menangani urusan dan
perlengkapan Rumah Tangga.
2. Seksi Pengolahan Data dan Informasi, mempunyai tugas :
a. Melakukan pengumpulan, pencarian, dan pengolahan data, penyajian
informasi perpajakan.
20
c. Merekam SSP lembar ke-3.
d. Merekam SPT Masa PPN 1111 atau 1111 DM.
e. Merekam SPT Masa PPh Pasal 21.
f. Merekam SPT Masa PPh Pasal 23/26.
g. Merekam SPT Masa PPh Final Pasal 4 ayat 2.
h. Melakukan urusan tata usaha penerimaan perpajakan.
i. Memberi pelayanan dukungan teknis komputer.
j. Pemantauan aplikasi e-SPT dan e-Filing.
k. Menyiapkan laporan kinerja.
3. Seksi Pengawasan dan Konsultasi, mempunyai tugas :
a. Melakukan pengawasan kepatuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak.
b. Membimbing/menghimbau kepada wajib pajak dan konsultasi teknis
perpajakan.
c. Melakukan penyusunan profil wajib pajak.
d. Menganalisis kinerja wajib pajak.
e. Memberikan konsultasi kepada wajib pajak tentang ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan.
f. Melakukan rekonsiliasi data Wajib Pajak dalam rangka melakukan
intensifikasi.
g. Melakukan evaluasi banding.
a. Melakukan urusan penatausahaan piutang pajak.
b. Penundaan dan angsuran tunggakan pajak.
c. Penagihan aktif.
d. Memberikan usulan penghapusan piutang pajak.
e. Penyimpanan dokumen-dokumen penagihan.
5. Seksi Ekstensifikasi, mempunyai tugas :
a. Melakukan pengamatan potensi perpajakan.
b. Pendataan objek dan subjek pajak.
c. Pembentukan dan pemuktahiran basis data nilai objek pajak dalam
menunjang ekstensifikasi.
6. Seksi Pemeriksaan dan kepatuhan internal, mempunyai tugas :
a. Melakukan penyusunan rencana pemerikasaan.
b. Pengawasan pelaksanaan aturan pemerikasaan.
c. Penerbitan dan penyaluran Surat Perintah Pemeriksaan Pajak serta
administrasi pemeriksaan perpajakan lainnya.
7. Seksi Pelayanan, mempunyai tugas :
a. Melakukan penetapan dan penerbitan produk hukum perpajakan.
b. Menerima dan meneliti, serta merekam surat permohonan Wajib Pajak
dan surat-surat lainnya.
c. Melakukan penerimaan dan pengolahan Surat Pemberitahuan Wajib
22
d. Melakukan penatausahaan pendaftaran, pemindahan data, dan
pencabutan identitas Wajib Pajak.
e. Melakukan urusan kearsipan wajib pajak.
Saat ini di KPP Pratama Medan Timur tercacat ada sekitar 83 orang pegawai yang
terdaftar. Di bawah ini terdapat rincian mengenai jumlah pegawai di setiap unit pada
[image:29.612.115.526.384.698.2]KPP Pratama Medan Timur.
Tabel II. 1
Jumlah Pegawai KPP Pratama Medan Timur
No. Unit
Jumlah Pegawai
(orang)
1 Kepala Kantor 1
2 Sub Bagian Umum 6
3 Seksi Pengolahan Data dan Informasi (PDI) 9
4 Seksi Pelayanan 16
5 Seksi Pemeriksaan dan Kepatuhan Internal 4
7 Seksi Ekstensifikasi 4
8 Seksi Pengawasan dan Konsultasi I 8
9 Seksi Pengawasasn dan Konsultasi II 6
10 Seksi Pengawasan dan Konsultasi III 7
11 Seksi Pengawasan dan Konsultasi IV 7
12 Kelompok Fungsional Pemeriksa Pajak 11
Jumlah 83 orang
24
Gambar II.1
STRUKTUR ORGANISASI
KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA MEDAN TIMUR
Sumber : Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur 2013
KEPALA KANTOR
KASUBBAG UMUM
SEKSI
PENAGIHAN
SEKSI PEMERIKSAAN DAN
KEPATUHAN INTERNAL SEKSI
PELAYANAN SEKSI PDI
SEKSI
EKSTENSIFIKASI
PERPAJAKAN SEKSI PENGAWASAN
DAN KONSULTASI
KELOMPOK JABATAN
E. Visi dan Misi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur
Keberhasilan program modernisasi di lingkungan DJP, tidak hanya dapat
membawa perubahan paradigma dan perubahan perilaku pegawai DJP.Tetapi lebih
jauh juga dapat memberikan dampak positif terhadap percepatan penerapan
praktik-praktik “good governance” pada instiusi pemerintah secara keseluruhan.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Direktorat Jenderal Pajak telah
mencanangkan visi dan misi sebagai pedoman dalam melakukan setiap
kegiatan.Adapun visi dan misi tersebut adalah sebagai berikut :
a. Visi : menjadi instansi pemerintah yang menyelenggarakan sistem
administrasi perpajakan modern yang efektif, efisien, dan dipercaya
masyarakat dengan integritas dan profesionalisme yang tinggi.
b. Misi : menghimpun penerimaan dalam negeri dari sektor pajak yang mampu
menunjang kemandirian pembiayaan pemerintah berdasarkan undang-undang
26
BAB III
GAMBARAN DATA PRAKTIK KERJA LAPANGAN MANDIRI
A. ARTI PAJAK
Ditinjau dari sejarahnya masalah pajak ini sudah ada sejak dulu kala walaupun
pada saat itu belum dinamakan pajak namun masih merupakan pemberian sukarela
dari rakyat kepada pemerintah. Perkembangan selanjutnya pemberian itu berupa upeti
yang pemberianya bersifat dipaksa dalam arti bahwa pemberian itu bersifat wajib dan
ditetapkan secara sepihak oleh Negara. Dengan kata lain pajak yang semula berupa
pemberian berubah menjadi pungutan. Hal ini wajar karena Negara membutuhkan
dana yang cukup besar untuk membiayai pengeluaran rutin Negara dan dana
pembangunan nasional demi meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia.
Pajak merupakan penerimaan Negara yang penting. Membayar pajak adalah
kewajiban setiap warga Negara. Besarnya pajak ditetapkan undang-undang atau di
dalam UUD 1945 Pasal 23 Ayat (2) yang mengatakan bahwa segala penerimaan
pajak berdasarkan Undang-Undang.
Secara umum, pajak adalah Kontribusi wajib kepada Negara yang terutang
oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang,
dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk
Undang-Undang KUP Nomor 28 Tahun 2007 Pasal 1 Ayat (1)
Definisi pajak bermacam-macam namun memiliki arti serta tujuan yang sama antara
lain:
1. Menurut Prof. Dr. Rahmat Soemitro,SH
Pajak adalah iuran rakyat kepada kas Negara berdasarkan Undang-Undang (yang
dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal balik (kontraprestasi) yang
langsung dapat diyunjukan, dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran
umum.
Definisi tersebut kemudian disempurnakan menjadi:
Pajak adalah peralihan kekayaan dari pihak rakyat kepada kas Negara untuk
membiayai rutin dan “surplus” nya digunakan untuk Public Saving yang merupakan
sumber utama untuk membiayai Public Invesment.
2. Menurut S.I Djajadiningrat
Pajak sebagai suatu kewajiban memyerahkan sebagian kekayaan kepada kas Negara
yang disebabkan suatu keadaan, kejadian, dan perbuatan yang memberikan
kedudukan tertentu tetapi bukan sebagai hukuman, menurut peraturan yang
ditetapkan pemerintah serta dapat dipaksaka, tetapi tidak ada jasa timbal balik dari
28
3. Pengertian Pajak Penghasilan (PPh) menuruut Undang-Undang PPh
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana
diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1994 dengan beberapa kali
dilakukan perubahan terakhir pada tahun 2008 digunakan sebagai Dasar Hukum
Pemungutan Pajak Penghasilan merupakan perpaduan dari beberapa ketentuan yang
sebelumnya diatur secara terpisah. Ditinjau dari pengelompokanya, Pajak
Penghasilan dikategorikan sebagai pajak
B. FUNGSI PAJAK
Dalam kedudukanya pajak mempunyai dua fungsi, yaitu sebagai berikut:
1. Fungsi Budgeter
Pajak mempunyai fungsi budgeter, artinya pajak merupakan salah satu sumber
penerimaan pemerintah untuk membiayai pengeluaran, baik rutin maupun
pembangunan. Sebagai sumber keuangan Negara, pemerintah berupaya
memasukan uang sebanyak-banyaknya ke kas Negara.
2. Fungsi Reguler
Pajak mempunyai fungsi regular, artinya pajak sebagai alat untuk mengatur atau
melaksanakan kebijakan pemerintah dalam bidang social dan ekonomi, serta
C. KEWAIBAN MENYAMPAIKAN SURAT PEMBERITAHUAN (SPT) PAJAK TAHUNAN BAGI WAJB PAJAK (WP) ORANG PRIBADI
Setiap warga Negara yang mempunyai penghassilan lebih dari penghasilan
tidak kena pajak, wjib membayar pajak penghasilan (PPh). Sebagai pembayar
pajak yang baik, tentunya harus memiliki identitas sebagai wajib pajak yaitu
Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Bagi setiap orang pribadi yang sudah
memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) maka orang tersebut mempunyai
kewajiban menyampaikan SPT Tahunan. Kewajiban ini adalah bagiab dari
kepedulian masyarakat terhadap bangsa dan negaranya. Bagi Wajib Pajak Orang
Pribadi yang terdaftar pada bulan januari 2008 sampai dengan maret 2009 dan
memyampaikan SPT Tahunan 2008 melebihi batas waktu 31 maret 2009,
dibebaskan dari pengenaan sanksi keterlambatan pelaporan SPT tersebut. Dan
mulai tahun ini Wajib Pajak dapat menyampaikan SPT Tahunan di seluruh
Kantor Pelayanan Pajak (KPP) di wilayah Indonesia. Kantor pajak yang
menerima SPT Tahunan Wajib Pajak yang terdaftar pada kantor pajak lain
nantinya akan langsung mengirimnya ke kantor pajak tempat Wajib Pajak
terdaftar. Ketentuan ini sudah mulai diberlakukan sejak tahun lalu sebagai salah
30
D. ARTI DAN FUNGSI SPT TAHUNAN PPh ORNAG PIBADI
Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan PPh orang pribadi adalah surat
yang digunakan oleh wajib pajak orang pribadi untuk melaporkan identitas diri, harta,
kewajiban/utang, penghasilan dan perhitungan serta pembayaran pajak setiap tahun.
Fungsi SPT Tahunan PPh orang pribadi adalah sebagai sarana wajib pajak untuk
menetapkan sendiri besarnya pajak yang terutang, dengan cara:
1. Melaporkan dan mempertanggung jawabkan perhitungan jumlah pajak yang
sebenarnya.
2. Melaporkan pembayaran pajak yang telah dilaksanakan sendiri dalam satu tahun
pajak/bagian tahun pajak.
3. Melaporkan pemotongan/pemungutan pajak yang dilakukan oleh pihak lain dalam
satu tahun pajak.
4. Melaporkan penghasilan yang merupakan objek pajak dan atau bukan objek
pajak.
E. JENIS FORMULIR SPT TAHUNAN PPh WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI.
SPT Tahunan Wajib Pajak Orang Pribadi terdiri dari:
1. FORMULIR SPT TAHUNAN 1770 diisi oleh orang pribadi yang memiliki
sumber penghasilan dari usaha dan/atau pekerjaan bebas.
2. FORMULIR SPT TAHUNAN 1770S diisi oleh orang pribadi yang memiliki
sumber penghasilan dari satu pemberi kerja (sebagai karyawan) atau lebih
dan/atau penghasilan lainya yang bukan dari usaha atau pekerja bebas.
3. FOMULIR SPT TAHUNAN 1770SS diisi oleh orang pribadi yang memiliki
sumber penghasilan hanya dari satu pemberi kerja yang jumlah bruto penghasilan
setahun tidak melebihi Rp. 60.000.000 dan tidak mempunyai penghasilan lainya
kecuali dari bunga bank dan bunga koperasi.
Pasal 3 Ayat (6) UU KUP.
F. JENIS SPT
Berdasarkan saat pelaporanya, SPT dibedakan menjadi 2 yaitu:
1. SPT Tahunan adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk
melaporkan perhitungan dan pembayaran pajak yang terutang dalam suatu
32
2. SPT Masa adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melaporkan
perhitungan dan/atau pembayaran pajak yang terutang dalam suatu Masa
Pajak atau pada suatu saat.
G. YANG WAJIB MENYAMPAIKAN SPT TAHUNAN PPh WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI.
Yang wajib mengisi dan menyampaikan SPT Tahunan PPh orang
pribadi adalah wajib pajak dalam negeri dan warisan yang belum dibagi sebagai satu
kesatuan menggantikan yang berhak.
1. Wajib pajak orang pribadi yang menerima atau memperoleh penghasilan dari
kegiatan usaha dan atau pekerjaan bebas.
2. Wajib pajak yang menerima atau memperoleh penghasilan dari modal dan
lain-lain.
3. Pegawai yang menerima atau memperoleh lain dari luar pengasilan sehubungan
dengan pekerjaan, jasa atau kegiatan, dan atau memperoleh penghasilan
sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan dari satu pemberi kerja.
4. Kuasa warisan yang belum dibagi.
5. Pejabat Negara, Pegawai Negeri Sipil (PNS), anggota ABRI dan pegawai
BUMN/BUMD sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 1996.
6. Warga Indonesia yang bekerja pada perwakilan Negara asinag dan perwakilan
7. Orang asing yang berada di Indonesia lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12
bulan atau orang yang dalam satu tahun pajak berada di Indonesia dan
mempunyai niat bertempat tinggal di Indonesia.
8. Masing-masing suami istri yang dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) secara
terpisah dalam hal suami istri telah hidup berpisah.
9. Dikehendaki secara tertulis oleh suami/istri berdasarkan perjanjian pemisahan
harta dan penghasilan.
Dengan demikian suami maupun istri wajib memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak
(NPWP) sendiri dikecualikan dari kewajiban untuk menyampaikan SPT Tahunan
PPh adalah wajib pajak orang pribadi yang belum memiliki NPWP, yang
penghasilan nettonya tidak melebihi jumlah penghasilan tidak kena pajak.
H. KETENTUAN TENTANG PENYAMPAIAN SPT TAHUNAN PPh ORANG PRIBADI.
Dalam hal penyampaian SPT Tahuanan PPh Orang Pribadi dapat
dilakukan dengan 2 cara, yaitu:
1. Secara manual.
Penyampaian SPT secara manual oleh WP dapat dilakukan:
- Secara langsung dating ke KPP/KP2KP atau tempat lain yang
ditentukan (Drop Box, Pojok Pajak, Mobil Pajak Keliling);
34
- Dengan cara lain yaitu melalui perusahaan jasa ekspedisi atau jasa
kurir dengan bukti pengiriman surat atau e-Filing melalui penyedia
jasa atau ASP (Application Service Provider).
2. Secara Elektronik (e-SPT).
Wajib Pajak dapat menyampaikan Surat Pemberitahuan secara
elektronik (e-Filing) melalui perusahaan ASP yang ditunjuk oleh Direktorat
Jenderal Pajak. Wajib Pajak yang telah menyampaikan Surat Pemberitahuan
secara elektronk (e-Filing), wajib menyampaikan induk Surat Pemberitahuan
yang memuat tanda tangan basah dan surat setoran pajak (bila ada) serta
bukti penerimaan secara elektronik kepada Kantor Pelayanan Pajak tempat
wajib pajak terdaftar melalui kantor pos secara tercatat atau disampaikan
langsung, paling lam 14 (empat belas) hari sejak tanggal penyampaian Surat
Pemberitahuan.
Penyampaian Surat Pemberitahuan secara elektronik dapat dilakukan selama
24 (dua puluh empat) jam dan 7 (tujuh) hari seminggu. Surat Pemberitahuan
secara elektronik pada akhir batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan
I. YANG DIKECUALIKAN DARI KEWAJIBAN MENYAMPAIKAN SPT TAHUNAN PPh ORANG PRIBADI
Walaupun setiap Wajib Pajak wajib mengisi, menandatangani, dan
menyampaikan SPT, tetapi terdapat wajib pajak yang dikecualikan dari kewajiban
menyampaikan SPT yaitu wajib pajak penghasilan tertentu yang memenuhi
kriteria dan pengecualianya yaitu sebagai berikut:
1. Wajib Pajak Orang Pribadi yang dalam satu Tahun Pajak menerima atau
memperoleh penghasilan neto tidak melebihi Penghasilan Tidak Kena Pajak
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 Undang-Undang PPh. Wajib Pajak ini
dikecualikan dari kewajiban menyampaikan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi.
2. Wajib Pajak Orang Pribadi yang tidak menjalankan kegiatan usaha atau tidak
melakukan pekerjaan bebas. Wajib Pajak ini dikecualikan dari kewajiban
menyampaikan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi.
J. BATAS WAKTU PENYAMPAIAN SPT TAHUNAN PPh WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI.
SPT Tahunan yang telah diisi dengan benar, lengkap, jelas dan
ditandatangani harus disampaikan paling lambat 3 (tiga) bulan stelah berahkirnya
36
sama dengan tahun takwim, SPT Tahunan harus disampaikan paling lambat 3 (tiga)
bulan setelah tahun buku berakhir.
Pasal 3 ayat (3) UU KUP Nomor 28 Tahun 2007.
K. PENGERTIAN PAJAK PENGHASILAN
Penghasilan adalah setiap tambahan ekonomis yang diterima atau
diperoleh wajib pajak baik yang berada di Indonesia maupun diluar Indonesia yang
dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan wajib pajak dengan
nama dan dalam bentuk apapun.
Pasal 4 ayat (1) UU PPh.
Pajak Penghasilan (PPh) adalah suatu pungutan resmi menurut Undang-Undang yang
ditujukan kepada masyarakat yang berpenghasilan atau atas penghasilan yang
diterima atau diperoleh dalam tahun pajak, dan digunakan untuk kepentingan Negara
bagi masyarakat dalam hidup berbangsa dan bernegara sebagai suatu kewajiban yang
harus dilaksanakan dan diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 dan diubah
lagi menjadi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2002 dan terakhir Undang-Undang
SUBJEK PAJAK PENGHASILAN
Subjek Pajak Penghasilan (PPh) adalah orang pribadi, warisan yang belum terbagi
sebagai satu kesatuan, menggantikan yang berhak, badan, dan Bentuk Usaha Tetap
(BUT).
OBJEK PAJAK PENGHASILAN
Objek Pajak Penghasilan (PPh) adalah penghasilan yaitu setiap tambahan
kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajub Pajak (WP), baik yang
berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk
konsumsi atau menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan dengan nama
dan dalam bentuk apapun termasuk:
1. Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima
atau diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus,
gratifikasi, uang pension atau imbalan dalam bentuk lainya kecuali ditentukan lain
dalam Undang-Undang Pajak Penghasilan;
2. Hdiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan dan penghargaan;
3. Laba usaha;
4. Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta termasuk:
- Keuntungan karena pengalihan harta kepada perseroan, persekutuan, dan badan
38
- Keuntungan yang diperoleh perseroan, persekutuan, dan badan lainya karena
pengalihan harta kepada pemegang saham, sekutu atau anggota;
- Keuntungan karean likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan
atau pengembalian usaha;
- Keuntungan karena pengalihan berupa hibah, bantuan atau sunbangan, kecuali
yang diberikan kepada keluarga sedarah atau dalam garis keturunan lurus satu
derajat, dan badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan social atau
pengusaha kecil termasuk koperasi yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan,
sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan atau
penguasan antara pihak-pihak yang bersangkutan;
5. Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya;
6. Bunga termasuk premium, diskonto dan imbalan karena jminan pengembalian
utang;
7. Dividen dengan naman dan dalam bentuk apapun, termasuk dividen dari
perusahaan asuransi kepada pemegang polis dan pembagian sisa hasil usaha
koperasi;
8. Royalty;
9. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta;
10.Keuntungan karena pembebasan utang, kecuali swmpai dengan jumlah tertentu
yang ditetapakan dengan Peraturan Pemerintah;;
12.Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva;
13.Premi asuransi;
14.Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari
Wajib Pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas;
15.Tambahan kekayaan neto yang berasal sari penghasilan yang belum dikenakan
40
BAB IV
ANALISIS DAN EVALUASI
A. CARA PENYAMPAIAN SPT TAHUNAN PPh ORANG PRIBADI
Surat Pemberitahuan adalah surat yang digunakan sebagai alat
komunikasi wajib pajak dalam bidang perpajakan pada Kantor Pelayanan Pajak
(KPP) dimana Wajib Pajak terdaftar. Seorang Wajib Pajak yang bijak dan taat
akan pajak akan memenuhi kewajiaban perpajkanya dan mengambil serta
melaporkan SPT Tahunanya dimana Wajib Pajak tersebut terdaftar atau tempat
lain yang telah ditentukan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Dalam penyampaian
SPT Tahunan ini, terhadap SPT yang telah diisi selanjutnya Wajib Pajak
menyampaikan SPT tersebut ke Kantor Pelayanan Pajak atau tempat lain yang
ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pajak.
Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang
Ketentuan Umum Tata Cara Perpajakan sebagaimanan telah diubah dengan
Undang Nomor 16 Tahun 2000, yang kemudian diubah dengan
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007, dan terakhir diubah dengan Undang-Undang-Undang-Undang
Nomor 16 Tahun 2009 (UU KUP), hal-hal yang perlu diperhatikan oleh Wajib
Pajak Orang Pribadi dalam menyampaikan SPT Tahuan, yaitu sebagai berikut:
1. Setiap Wajib Pajak wajib mengisi, dan kemudian menyampaikan SPT Tahuan
2. SPT Tahuan ditandatangani oleh Wajib Pajak orang pribadi atau orang yang
diberi kuasa menandatangani sepanjang dilampiri dengan surat kuasa khusus.
3. SPT Tahunan dianggap tidak disampaikan apabila tidak ditandatangani atau
tidak sepenuhnya dilampiri keternagan dan/atau dokumen sebagaimana telah
ditetapkan dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 534/KMK.04/2000
tentang bentuk dan isi Surat Pemberitahuan serta tata cara pengambilan,
pengisian, dan penandatangan dan penyampaian Surat Pemberitahuan dan
Keputusan Direktorat Jenderal Pajak Nomor KEP-214/PJ./2001 tentang
keterangan dan/atau dokumen yang harus dilampirkan dalam Surat
Pemberitahuan.
4. Wajib Pajak harus mengambil sendiri formulir Surat Pemberitahuan ke
Kantor Pelayanan Pajak (KPP), Kantor Pelayanan Penyuluhan dan
Konsultasi Perpajakan (KP2KP) atau dengan cara mengunduh (Download)
melalui Websit
(tiga) bulan setelah akhir tahun pajak berakhir.
5. Penyampaian SPT Tahunan dapat disampaikan secara langsung ke Kantor
Pelayanan Pajak (KPP) tempat wajib pajak terdaftar atau dikukuhkan atau
tempat lain yang ditetapka oleh Direktorat Jenderal Pajak meliputi pojok
pajak, mobil pajak, dan tempat khusus penerimaan Surat Pemberitahuan
(Drop Box) atau dapat dikirimkan melalui pos dengan peraturan Menteri
42
pemberitahuan, serta tata cara pengambilan, penandatanganan dan
penyampaian Surat Pemberitahuan.
6. Kekurangan pembayaran pajak yang terutang berdasarkan SPT Tahuan harus
dibayar lunas sebelum Surat Pemberitahuan Pajak Penghasilan disampaikan.
Apabila pembayaran dilakukan setelah tanggal jatuh tempo, atau penyetoran
pajak dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen)
per bulan yang dihitung dari tanggal jatuh tempo pembayaran sampai dengan
tanggal pembayaran dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.
7. Wajib Pajak wajib membayar atau menyetor pajak yang terutang ke kas
Negara melalui kantor pos atau bank persepsi yang ditunjuk oleh Menteri
Keuangan untuk menerima pembayaran pajak.
8. Direktur Jenderal Pajak atas permohonan wajib pajak dapat memberikan
persetujuan untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak termasuk
kekurangan pembayaran pajak yang terutang pada SPT Tahunan (PPh Pasal
29), paling lama 12 (dua belas) bulan. Berdasarkan Peraturan Direktur
Jenderal Pajak Nomor PER-38/PJ.2008 Tentang tata cara pengangsuran atau
penundaan pembayaran pajak, permohonan harus diajukan secara tertulis
kepada kepala KPP tempat wajib pajak terdaftar paling lama 9 (Sembilan)
hari kerja sebelum jatuh tempo pembayaran, dengan menggunakan formulir
tertentu sebagaimana ditetapkan dalam lampiran I Peraturan Direktorat
9. Wajib pajak dapat memperpanjang jangka waktu penyampaian SPT Tahunan
palinag lama 2 (dua) bulan. Pemberitahuan harus disertai penghitungan
sementara pajak terutang dalam 1 (satu) tahun pajak dan Surat Setoran Pajak
sebagai bukti pelunasan kekurangan pembayaran pajak yang terutang apabila
SPT Tahunan tidak disampaikan dalam jangka waktu yang ditetapkan atau
dalam bats waktu perpanjangan penyampaian SPT Tahuan Wajib Pajak,
dikenakan sanksi administrasi berupa denda sebesar Rp.100.000 (seratus ribu
rupiah).
B. LANGKAH-LANGKAH YANG HARUS DILAKUKAN UNTUK MENYAMPAIKAN SPT TAHUNAN PPh ORNAG PRIBDI
Sebelum wajib pajak menyampaikan SPT Tahuan PPh ornag pribadi
ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP)/Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi
Perpajakan (KP2KP),, maka wajib pajak terlebih dahulu harus mengambil sendiri
formulir SPT Tahuan ke tempat yang telah ditunjuk oleh Menteri Keuangan, yaitu:
1. Kantor Pelayanan Pajak (KPP)
2. Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsutasi Perpajakn (KP2KP)
3. Dengan cara mengunduh (Download) melalui Website
44
Setelah SPT Tahunan diambil sendiri dan diisi dengan benar, lengkap, jelas, serta
ditandatangani oleh Wajib Pajak, maka kewajiban wajib pajak adalah menyampaikan
SPT nya ke tempat yang ditunjuk oleh Direktorat Jenderal Pajak seperti Kantor
Pelayanan Pajak (KPP), atau dikirim melalui pos tercata, Drop Box atau tempat lain
yang ditentukan dimana cara penyampaianya tediri dari:
1. SPT Tahuna PPh orang pribadi disampaikan langsung ke kantor pelayanan
pajak/kantor pelayanan penyuluhan dan konsultasi perpajakan atas penyampaian
SPT Tahunan tersebut, wajib pajak/pemotong pajak menerima tanda bukti
penerimaan.
2. SPT Tahuann PPh orang pribadi disampaikan melalui kantor posn dan giro
denagn tanda bukti pengiriman surat atau dengan cara lain yang diatur atau
berdasarkan peraturan Menteri Keuangan.
3. SPT Tahuan PPh orang pribadi juga dapat disampaikan ke Drop Box, pojok
pajak dan mobil pajak yang berada di wilayah tempat tinggal wajib pajak. Untuk
wilayah KPP Medan Timur.
4. Tanda bukti dan tanggal pengiriman surat untuk penyampaian SPT dianggap
sebagai tanda bukti dan tanggal penerimaan sepanjang SPT tersebut telah
Pasal 6 UU Nomor 28 Tahun 2007 tentang KUP
Jika penyampain SPT Tahunan secara langsung ke kantor pajak/mobil pajak/pojok
pajak terdekat, maka penyampaian SPT dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. SPT Tahunan dimasukan ke dalam amplop tutup
2. Di bagian luar amplop dituliskan nama, NPWP, tahun pajak, status SPT
(kurang bayar, lebih bayar, atau nihil), dan nomor telepon yang bias
dihubungi.
Setelah diserahkan kepada petugas penerimaan SPT Tahunan, wajib pajak akan
diberikan tanda terima yang berisi nomor tanda terima, tanggal penerimaan, nama
petugas penerima SPT Tahunan dan stempel kantor penerimaan SPT Tahunan. Tanda
terima ini sebaiknya disimpan dan jangan sampai hilang karena merupakan bukti
bahwa wajib pajak telah menyampaikan SPT Tahunan pada suatu tanggal tertentu.
C. LAMPIRAN-LAMPIRAN SPT TAHUNAN PPh ORANG PRIBADI
SPT Tahunan orang pribadi terdiri dari SPT induk beserta
lampiran-lampiranya. SPT induk pajak penghasilan wajib pajak orang pribadi adalah formulir
46
a. Induk SPT (Formulir 1770)
Berupa SPT Tahunan PPh wajib pajak orang pribadi yang mempunyai
penghasilan:
• Dari usaha/pekerjaan bebas yang menyelenggarakan pembukuan norma
penghitungan penghasilan neto
• Dari satu atau lebih pemberi kerja
• Yang dikenakan PPh final/atau bersifat final
• Dari penghasilan lain
b. Lampiran I (Formulir 1770-I)
Berisi penghasilan neto dalam negeri dalam usaha, pekerjaan bebas dan dari
luar usaha bagi wajib pajak menggunakan norma penghitungan neto.
c. Lampiran II (Fornulir 1770-II)
Berisi daftar pemotongan/pemungutan PPh oleh pihak lain, PPh yang
ditanggung oleh pemerintah, penghasilan neto dan pajak atas penghasilan
yang dibayar/dipotong di luar negeri.
d. Lampiran III (Formulir 1770-III)
• Penghasilan yang dikenakan pajak final dan/atau bersifat final
• Penghasilan yang ttidak termasuk objek pajak
• Penghasilan isteri yang dikenakan pajak secara terpisa
e. Lampiran IV (Formulir 1770-IV)
Berisi:
• Harta pada ahkir tahun
• Kewajiban/utang pada akhir tahun
• Daftar susunan anggota keluarga
D. KELENGKAPAN SPT TAHUNAN PPh WAJIB PAJAK ORANG
PRIBADI
SPT Tahuan PPh wajib pajak orang pribadi (formulir 1770-I) yang
disampaikan di Kantor Pelayanan Pajak (KPP)/Kantor Penyuluhan Pelayanan dan
Konsultasi Pajak (KP2KP) dinyatakan lengkap apabila telah dilampiri denagn:
a. Seluruh formulir yang telah dibukukan yaitu formulir 1770 I sampai dengan 1770
IV (baik yang diisi maupun yang tidak diisi)
b. Surat kuasa khusus jika SPT Tahunan ini ditandatangani bukan oleh wajib pajak
48
c. Surat setoran pajak PPh pasal 29 tahun pajak yang bersangkutan, yaitu pelunasan
PPh yang kurang dibayar pada angka 19 (Pasal 29 UU KUP).
d. Neraca dan laporan laba rugi tahun pajak yang bersangkutan bagi wajib pajak
yang menyelenggarakan pembukuan atau rekapitulasi bulanan
peredaran/penerimaan bruto dan biaya bagi wajib pajak yang memilih
menggunakan norma penghitungan penghasilan netto (Pasal 28 UU KUP).
e. Penghitungan kompensasi kerugian bagi wajib pajak yang melaporkan adanya
kompensasi kerugian.
f. Bukti pemotongan/pemungutan oleh pihak lain/ditanggung pemerintah dan yang
dibayar/dipotong di luar negeri.
g. Foto kopi:
• Formulir 1721-AI (Formulir penghasilan dan penghitungan PPh pasal 21 pegawai
tetap atau penerima pension atau THT dan/atau:
• Formulir 1721-A2 (Formulir penghasilan dan penghitungan PPh pasal 21 pegawai
negeri sipil, anggota TNI/POLRI, pejabat Negara, dan pensiunanya.
h. Perhitungan angsuran PPh pasal 25 tahun berikutnya.
i. Fotokopi tanda bukti pembayaran fiscal luar negeri (TBLFN)
j. Penghitungan PPh terutang bagi wajib pajak kawin pisah harta dan/atau
k. Daftar jumlah penghasilan dan pembayran PPh pasal 25 wajib dilampirkan oleh
orang pribadi pengusaha tertentu.
l. Lampiran-lampiran berupa bukti pendukung atau untuk menjelaskan perhitungan
besarnya penghasilan yang dibuat sendiri oleh wajib pajak, misalnya:
• Fotokopi bukti setoran zakat dan sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib
bagi pemeluk agama.
• Fotokopi izin tenaga kerja asing (IKTA) yang masih berlaku untuk WP Orang
asing.
• Fotokopi surat keterangan penghasilan (Cerifikate Of Income) dari perusahaan
induk untuk WP Orang asing.
E. SANKSI-SANKSI KARENA TIDAK MENYAMPAIKAN SPT
TAHUNAN PPh ORANG PRIBADI
Sesuai dengan system Self Assesment, wajib pajak harus mengisi SPT
Tahunan tersebut dengan benar, len gkap, jelas serta tepat waktu dalam pembayaran
dan pelaporanya. Apabila wajib pajak melakukan kelalaian ataupun dengan sengaja
melakukan tindakan yang merugikan Negara, maka wajib pajak tersebut dikenakan
sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan. Sanksi-sanksi
50
1. Ditegur secara tertulis yang ditujukan kepada wajib pajak. Apabila wajib pajak
tidak memberikan tanggapan maka akan dikenakan sanksi sebagai berikut:
a) Sanksi denda administrasi
Apabila SPT Tahunan PPh orang pribadi tidak disampaikan atau disampaikan
melampaui batas waktu penyampaian SPT Tahunan akan dikenakan sanksi
administrasi berupa denda sebesar Rp. 100.000,00 (seratus ribu rupiah)
Pasal 7 UU KUP Nomor.28 Tahun 2007
b) Sanksi bunga
Dalam hal wajib pajak membetulkan SPT Tahunan yang mengakibatkan
utang pajak semakin besar, kepada wajib pajak tersebut dikenakan sanksi
administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan atas jumlah
pajak yang kurang bayar, dihitung sejak saat penyampaian SPT berakhir
sampai dengan tanggal pembayaran, dan bagian dari bulan dihitung 1 (satu)
bulan.
c) Sanksi kenaikann
Wajib pajak karena kealpaanya tidak menyampaikan SPT atau menyampaikan
SPT tetapi isinya tidak benar, lengkap dan jelas sehingga dapt menimbulkan
kerugian pada pendapatan Negara, apabila kealpaan tersebuat pertama kali
dilakukan oleh wajib pajak dan wajib pajak tersebut wajib melunasi
kekurangan jumlah pajak yang tertang beserta sanksi administrasi berupa
kenaikan sebesar 200% (dua ratus persen) dari jumlah pajak yang kurang
dibayar yang diterbitkan melalui Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
(SKPKB).
Pasal 13 A UU KUP Nomor 28 Tahun 2007
d) Setiap wajib pajak karena kealpaanya tidak menyampaikan SPT atau
menyampikan SPT tetapi isinya tidak benar, tidak lengkap atau tidak jelas
atau melampirakan keterangan yang isinya tidak benar sehingga dapat
menimbulkan kerugian pada pendapatan Negara, maka akan didenda paling
sedikit 1 (satu) kali jumlah pajak yang terutang yang tidak atau kurang
dibayar, atau dipidana kurungan peling singkat 3 (tiga) bulan atau paling lama
1 (satu) tahu.
Pasal 38 UU KUP Nomor 28 Tahun 2007.
52
F. FAKTOR-FAKTOR WAJIB PAJAK TIDAK MENYMAPIKAN SPT
TAHUNAN PPh ORANG PRIBADI
Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama (KPP) Medan timur, berdasarkan
data yang diperoleh dari seksi pelayanan:
• Jumlah wajib pajak yang terdaftar/ yang aktif terutama wajib pajak orang
pribadi sampai dengan tanggal 31 mei
• Jumlah wajib pajak yang melaporkan SPT Tahunan WP OP sebanyak
• Jumlah wajib pajak yang menyampaikan SPT Tahunan WP OP sebanyak
Berdasarkan data yang diperoleh oleh penulis dari Kantor Pelayanan Pajak (KPP)
Pratama Medan timur, wajib pajak yang tidak menyampaikan SPT Tahunan WP OP
rata-rata disebabkan karena:
1. Wajib pajak tersebut tidak melakukan kegiatan usaha atau dengan kata lain
wajib pajak tersebut mengalami dan menutup kegiatan usahanya tetapi wajib
pajak tersebut tidak melaporkan bahwa wajib pajak tersebut telah menutup
kegiatan usahanya atau usahanya mengalami kebangkrutan.
2. Wajib pajak pindah alamat dan terdaftar pada KPP lain dan wajib pajak
tersebut tidak memberitahukan kepada KPP lama bahwa dia telah pindah
3. Wajib pajak yang bersangkutan telah meninggal dunia, tetapi keluarga wajib
pajak yang ditinggalkan tidak mengajukan permohonan penghapusan Nomor
Pokok Wajib Pajak (NPWP).
4. Karena kurangnya pengetahuan wajib pajak dan kesadaran wajib pajak
dalam mengisi SPT Tahunan PPh OP.
G. PERANAN KONSULTAN PAJAK DALAM PENYAMPAIAN SPT
TAHUNAN PPh WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI
Konsultan pajak adalah orang yang ahli dalam perpajakan. Keberadaan
konsultasi perpajakan di Indonesia secara yuridis telah diatur secara yuridis telah
diatur secara khusus dengan keputusan Menteri Keuangan yaitu KMK
Nomor.408/KMK.01/1995 Tanggal 31 Agustus 1995 tentang konsultasi pajak.
Profesi konsultasi pajak ini sangat membantu bagi wajib pajak dalam
tata cara menyampaikan SPT Tahunan wajib pajak orang pribadi sehingga wajib
pajak dengan mudah menyampaikan SPT tahunanya sesuai dengan waktu yang
telah ditetapkan dengan benar sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Disinilah profesi konsultan pajak sangat bermanfaat dan memiliki
54
menyampaikan SPT Tahunanya dengan benar, lengkapdan jelas serta tepat waktu
atas bantuan konsultan, bukan karena kemampuan mereka.
Padahal menurut sistem Self Assessment yang berlaku di lingkungan
Direktorat Jenderal Pajak, wajib pajak telah diberikan kewajiban untuk menghitung,
memperhitungkan, membayar, melaporkan dan mempertanggungjawabkan sendiri
pajak terutangnya, namun pada kenyataanya yang terjadi, para wajib pajak orang
pribadi masih banyak menggunakan jasa konsultan pajak untuk menghitung serta
melaporkan pajak terutang mereka ke kantor pelayanan pajak atau tempat lain yang
ditunjuk oleh Menteri Keuangan.
Oleh karena itu, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa konsultan pajak
berperan besar dalam bidang perpajakan. Semakin banyak wajib pajak yang
menggunakan jasa konsultan pajak dalam penyampaian SPT, maka semakin besar
peranan konsultan pajak dalam bidang perpajakan baik bagi wajib pajak itu sendiri
maupun bagi pemerintah. Konsultan pajak hadir untuk memberikan jalan keluar
dengan menyodorkan peran sebagai penghubung antara Wajib Pajak dan
Pemerintah dalam hal petugas pajak. Kehadiran konsultan pajak akan dapat
membuat pelaku bisnis tetap dapat focus dan tennang dengan bisnis masing-masing
sementara disisi lain pemenuhan kewajiban perpajakan tetap dapat dilaksanakan
secara efisien. Sedangkan bagi pemerintah keberadaan konsultan pajak dapat
55
BAB V PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan-pembahasan yang telah diuraikan dalam ban-bab terdahulu,
baik dilihat secara teoritis maupun secara praktik, maka dapt ditarik kesimpulan,
antara lain:
1. SPT Tahunan wajib pajak orang pribadi adalah surat yang digunakan oleh wajib
pajak orang pribadi untuk melaporkan identitas diri, harta, kewajiban/utang,
pengasilan dan perhitungan serta pembayaran pajak setiap tahun.
2. Setiap akhir tahun pajak, wajib pajak diwajibkan menyampaikan SPT Tahuan
dengan benar, lengkap, jelas serta ditandatangani oleh wajib pajak atau
kuasanya ke Kantor Pelayanan Pajak tempat wajib pajak terdaftar. SPT
Tahunan wajib pajak orang pribadi paling lambat disampaikan 3 (tiga) bulan
sejak berakhirnya tahun pajak atau pada tanggal 31 maret.
Bagi wajib pajak yang telah melaporkan pajaknya dengan benar sesuai
peraturan perundang-undangan perppajakn yang berlaku, besarnya pajak
terutang yang diberitahukan oleh wajib pajak dalam surat pemberitahuan
menjadi pasti apabila dalam jangka waktu 5 (lima) tahun setelah saat
terutangnya pajak atau berakhirnya masa pajak, bagian tahun pajak, atau tahun
pajak tidak diterbitkan Surat Ketetapan Pajak (SKP). Pasal 13 ayat (4) UU
56
B. SARAN
1. Setelah penulis melakukan Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM) di
Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Timur, penulis menemukan
msakah yang terjadi dalam tingkat kesadaran wajib pajak dalm hal
menyampaikan SPT Tahunan wajib pajak orang pribadi yaitu masih
banyak wajib pajak yang tidak nenyampaikan SPT Tahuan yang
mengakibatkan berkurangnya penerimaan Negara. Untuk itu, penulis
menyarankan agar pihak Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan
Timur mentelenggarakan sosialisasi tentang pentingnya menyampaikan
Surat Pemberitahuan (SPT) kepada seluruh masyarakat khususnya di
lingkungan kerja KPP Medan Timur.
2. Hendaknya wajib pajak khususnya wajib pajak orang pribadi agar
membaca terlebih dahulu buku pedoman tentang penyampaian SPT
Tahunan yang telah diberikan pihak Kantor Pelayanan Pajak (KPP)
Pratama Medan Timur.
3. Hendaknya wajib pajak khusunya wajib pajak orang pribadi agar
berkonsultasi terlebih dahulu kepada Account Representative (AR) di
Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama sebelum sebelum melapor, agar
DAFTAR PUSTAKA
Bilgas dan waluyo, 2000, Perpajakan Indonesia, Jakarta, Salemba Empat.
Buku kita. Com, 2009, Perpajakan, Yogyakarta, Andi Yogyakarta.
Buku Petunjuk Penyampaian SPT, Edisi 2009, Jakarta.
Mardiasmo, 2004, Perpajakan, Yogyakarta, Andi Yogyakarta.
Resmi, Siti, 2007, Perpajakan Teori dan Kasus. Edisi III, Jakarta, Salemba Empat.
Swandy, Erly, 2008, Perpajakan, Edisi II, Jakarta, Salemba Empat.
Peranan Pajak Sebagai Penerimaan Negara”
“Pajak.go.id”
SPT Tahunan OP Tahun 2009/SPT Pajak”