Pengaruh Penambahan Kitosan dan Plasticizer Sorbitol terhadap Sifat Fisiko-Kimia Bioplastik dari Pati Biji Durian (Durio zibethinus)

136  22  Download (0)

Teks penuh

(1)

LAMPIRAN A

DATA PENELITIAN

A.1 DATA HASIL KARAKTERISASI PATI BIJI DURIAN

Tabel A.1 Data Hasil Analisis Pati Biji durian Parameter Pati Biji durian

Kadar Air 12,73%

Kadar Abu 0,51%

Kadar Pati 76,6530%

Kadar Amilosa 22,3365%

Kadar Amilopektin 54,3165%

Kadar Lemak 0,61%

Kadar Protein 11,61%

Pasting Temperatur 75,21 °C

Peak Viscosity 2701 cP

Hold Viscosity 1704,5 cP

Final Viscosity 2522,5 cP

Breakdown 996,5 cP

(2)

A.2 DATA HASIL ANALISIS GUGUS FUNGSI MENGGUNAKAN

FT-IR

Tabel A.2 Data Hasil Analisis Gugus Fungsi Menggunakan FT-IR

Sampel Frekuensi(cm

3200-3650 3352,28 Ikatan hidrogen O-H

Kitosan

1760-1810 1774,51 Anhidrat C=O

2800-3000 2819,93 Alkana C-H

2800-3000 2877,79 Alkana C-H

3200-3650 3452,58 Ikatan hidrogen O-H

Bioplasik

1475-1600 1554,63 Aromatik C=C

1600-1680 1670,35 Alkena C=C

2800-3000 2870,08 Alkana C-H

2800-3000 2981,95 Alkana C-H

3200-3650 3610,74 Ikatan hidrogen O-H

(3)

Kitosan

3200-3650 3653,18 Ikatan hidrogen O-H

A.3 DATA HASIL UJI KEKUATAN TA,RIK (TENSILE STRENGTH)

BIOPLASTIK

(4)

27 90 30 40 0,35 0,35 0,37 0,3554 3,4852

A.4 DATA HASIL UJI PERPANJANGAN PADA SAAT PUTUS

(ELONGATION AT BREAK) BIOPLASTIK

Tabel A.4 Data Hasil Uji Perpanjangan Pada Saat Putus (Elongation at Break) Bioplastik

(5)

27 90 30 40 34,69 35,88 36,056 35,542

A.5 DATA HASIL UJI MODULUS YOUNG

(6)

A.6 DATA HASIL UJI PENYERAPAN AIR (WATER ABSORPTION)

BIOPLASTIK

Tabel A.6 Data Hasil Uji Penyerapan Air (Water Absorption) Bioplastik

(7)

A.7 DATA HASIL UJI DENSITAS (DENSITY) BIOPLASTIK

(8)

LAMPIRAN B

CONTOH PERHITUNGAN

B.1 PERHITUNGAN ASAM ASETAT 1%

Berikut persamaan untuk menghitung pengenceran :

Untuk perhitungan pembuatan asam asetat 1% : Asam Asetat 1 % volume 1.000 ml

Asam Asetat yang digunakan Asam Asetat Glasial dengan kadar 100 %, sehingga :

Jadi, untuk membawa asam asetat 1% sebanyak 1000 ml dengan cara mencampurkan 10 ml asam asetat glasial dengan kadar 100 % dan aquadest sebanyak 990 ml dalam beaker glass 1 L.

B.2 PERHITUNGAN KADAR ABU PATI BIJI DURIAN

Berikut persamaan untuk menghitung kadar abu pati biji durian :

Untuk perhitungan kadar abu sampel : Massa awal pati biji durian = 5,00 gram Massa cawan kosong = 45,34 gram

Massa awal pati biji durian + massa cawan kosong = 50,34 gram

(9)

B.3 PERHITUNGAN PENYERAPAN AIR BIOPLASTIK

Berikut persamaan untuk menghitung ketahanan terhadap air : Penyerapan air

Untuk perhitungan ketahanan terhadap air : Massa awal bioplastik = 0,119 gram

Massa akhir bioplastik = 0,310 gram

Penyerapan air

Penyerapan air

Penyerapan air

Perhitungan diatas dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali untuk setiap sampel produk bioplastik dan nilai yang digunakan adalah rata-rata dari ketiga nilai tersebut.

B.4 PERHITUNGAN DENSITAS BIOPLASTIK

Berikut persamaan untuk menghitung densitas :

Untuk perhitungan densitas : Massa bioplastik = 0,70 gram Panjang bioplastik = 5,00 cm Lebar bioplastik = 5,00 cm Tebal bioplastik = 0,20 cm

(10)

LAMPIRAN C

DOKUMENTASI PENELITIAN

C.1 PATI BIJI DURIAN

Gambar C.1 Pati Biji Durian

(11)

Gambar C.2 Kitosan

C.3 SORBITOL

Gambar C.3 Sorbitol

(12)

Gambar C.5 Asam Asetat 1%

(13)

Gambar C.5 Proses Pembuatan Bioplastik

(14)

Gambar C.6 Proses Pencetakan Bioplastik

C.7 PRODUK BIOPLASTIK

Run Gambar Bioplastik Run Gambar Bioplastik Run Gambar Bioplastik

1 7 13

2 8 14

(15)

4 10 16

5 11 17

6 12 18

Run Gambar Bioplastik Run Gambar Bioplastik Run Gambar Bioplastik

19 22 25

(16)

21 24 27

Gambar C.7 Produk Bioplastik

C.8 ALAT UNIVERSAL TESTING MACHINE (UTM) GOTECH

(17)

Gambar C.8 Alat UTM Gotech Al-7000M Grid Tensile

C.9 ALAT UJI FT-IR (FOURIER TRANSFORM INFRA-RED)

Gambar C.9 Alat Uji FT-IR (Fourier Transform Infra Red)

(18)

Gambar C.10 Alat Uji SEM (Scanning Electron Microscopy)

(19)

HASIL PENGUJIAN LAB ANALISIS DAN

INSTRUMEN

D.1 HASIL FTIR PATI BIJI DURIAN

Gambar D.1 Hasil FTIR Pati Biji Durian

D.2 HASIL FTIR KITOSAN

(20)

D.3 HASIL FTIR BIOPLASTIK DARI PATI BIJI DURIAN TANPA

PENGISI KITOSAN DAN PLASTICIZER SORBITOL

Gambar D.3 Hasil FTIR Bioplastik dari Pati Biji Durian tanpa Pengisi Kitosan dan Plasticizer Sorbitol

D.4 HASIL FTIR PRODUK BIOPLASTIK DENGAN PENGISI

KITOSAN DAN PLASTICIZER SORBITOL

Gambar D.4 Hasil FTIR Produk Bioplastik dengan Penambahan Kitosan dan

(21)

D.5 HASIL ANALISA SEM (SCANNING ELECTRON MICROSCOPY)

PATI BIJI DURIAN

Gambar D.5 Hasil Analisa SEM (Scanning Electron Microscopy) Pati Biji Durian dengan Perbesaran 5000 kali

D.6 HASIL ANALISA SEM (SCANNING ELECTRON MICROSCOPY)

BIOPLASTIK TANPA PENGISI KITOSAN DAN PLASTICIZER

SORBITOL

(22)

D.7 HASIL ANALISA SEM (SCANNING ELECTRON MICROSCOPY)

BIOPLASTIK DENGAN PENGISI KITOSAN DAN PLASTICIZER

SORBITOL

(23)

D.8 HASIL UJI KADAR AIR, PROTEIN, LEMAK, RVA PATI BIJI

DURIAN DAN RVA LARUTAN BIOPLASTIK DARI PATI BIJI

DURIAN DENGAN PENGISI KITOSAN DAN PLASTICIZER

SORBITOL

Gambar D.8 Hasil Uji Kadar Air, Protein, Lemak, RVA Pati Biji Durian dan RVA Larutan Bioplastik dari Pati Biji Durian dengan Pengisi Kitosan dan Plasticizer

(24)

D.9 HASIL UJI KADAR PATI, KADAR AMILOSA DAN KADAR

AMILOPEKTIN PATI BIJI DURIAN

(25)

DAFTAR PUSTAKA

[1] Narissara Kaewphan dan Shabbir H. Gheewala, “Greenhouse Gas Evaluation and Market Opportunity of Bioplastic Bags from Cassava in Thailand”, Journal of Sustainable Energy & Environment, 4, 2013 :

hal.15-19.

[2] Terer Erick Kipngetich dan Magut Hillary, “A Blend of Green Algae and Sweet Potato Starch as a Potential Source of Bioplastic Production and Its Significance to the Polymer Industry”, International Journal of Green and Herbal Chemistry. 2 (1) 2013 : hal.15-19.

[3] M. P. Cereda, “Characterization of Edible Films of Cassava Strach by Electron Microscopy”, Journal of Food Technology, 2000 : hal. 91-95. [4] Siswono, Jejaring Informasi pangan dan Gizi, Vol. XIV. Jakarta: Ditjen

Bina Gizi Masyarakat. 2008.

[5] R. Laxmana Reddy, V. Sanjeevani Reddy, G. Anusha Gupta, “Study of Bio-plastics As Green & Sustainable Alternative to Plastics” International Journal of Emerging Technology and Advanced Engineering, 3 (5) 2013 :

hal. 82-89.

[6] Senny Widyaningsih, Dwi Kartika, Yuni Tri Nurhayati, “Pengaruh Penambahan Sorbitol dan Kalsium Karbonat terhadap Karakteristik dan

Sifat Biodegradasi”, 7 (1) 2012 : hal. 69 – 81.

[7] Luc. Averous, “Biodegradable Multiphase System Based on Plasticized Starch : A Review”, Journal of Macromolecular Science. 44 (3) 2004 : hal. 231–274.

[8] Yuli Darni, Sri Ismiyati D, Tigor Marbun, “Influence Concentration Of Plasticizer and Formulation of Banana Starch - Chitosan to Mechanical Property and Water uptake of Bioplastic”, International Journal of Engineering and Science, 1 (4) 2010 : hal. 97-104.

[9] Amnuay Wattanakornsiri, Katavut Pachana, Supranee Kaewpirom, Pichan Sawangwong, Claudio Migliaresi, “Green Composites of Thermoplastic Corn Starch and Recycled Paper Cellulose Fibers”, Journal of Science and Technology. 33 (4) 2011 : hal. 461-467.

[10] A. Zuraida, Y. Yusliza, H. Anuar, Mohd Khairul Muhaimin, R., “The effect of water and citric acid on sago starch bio-plastics”, International Food Research Journal, 19 (2) 2012 : hal. 715-719.

(26)

[12] Michael J. Brown, Durio - A Bibliographic Review. (R.K. Arora, V. Ramanatha Rao and A.N. Rao, Editors), New Delhi : International Plant Genetic Resources Institute office for South Asia. 1997.

[13] W . Ban, “Influence of Natural Biomaterials on The Elastic Properties of Starch-Derived Films: An Pptimization Study”, Journal of Applied Polymer

Science, 15, 2006 : hal. 30-38.

[14] Nathalie Gontard, Stephane Guilbert, Jean Louis Cuq, “Water and Glycerol as Plasticizer effect mechanical and Water Vapor Barrier Properties of an Edible Wheat Gluten Film”, Journal of Food Science, 58 (1) 1993 : hal. 206-211. 1993.

[15] Gilang Pandu Lazuardi dan Sari Edi Cahyaningrum, “Preparation and Characterization Based Bioplastic Chitosan and Cassava Starch with Glycerol Plazticizer”, Journal of Chemistry, 2 (3) 2013 : hal. 161-166.

[16] Eldo Sularto Marbun, “Sintesis Bioplastik dari Pati Ubi Jalar Menggunakan Penguat Logam ZnO dan Penguat Alami Selulosa”, Skripsi, Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. 2012.

[17] Harby M. S. Mostafa, “Studies On Bioplastic For Developing And Evaluating Of Drip Irrigation”, Dissertation, Faculty Of Agricultural

Sciences, Nutritional Sciences And Environmental Management, Justus Liebig University Giessen, 2010, Hal. 57.

[18] Mukerjee T.K.N., Pla Based Biopolymer Reinforced With Natural Fibre: A Review, Di Dalam : Alexander Jones, Mark Ashton Zeller, Suraj Sharma, Thermal, Mechanical, And Moisture Absorption Properties Of Egg White Protein Bioplastics With Natural Rubber And Glycerol, Progress In

Biomaterials, 2 (12) 2013 : Hal. 1.

[19] D. R. Lu, C. M. Xiao, S. J. Xu, “Starch-based completely biodegradable polymer materials” 3 (6) 2009 : 366–375.

[20] Andreas Detzel, Benedikt Kauertz, Cassandra Derreza-Greeven, “Study of the Environmental Impacts of Packagings Made of Biodegradable Plastics”, Institut für Energie, 2013, hal. 4.

[21] Valentina Siracusa, Pietro Rocculi, Santina Romani, Marco Dalla Rosa, “Biodegradable Polymers for Food Packaging: A Review”, Trends in Food Science & Technology. 19, 2008 : 634-643.

(27)

dari Biji Nangka dengan dengan Additif Karaginan”, Jurnal Teknologi Kimia dan Industri, 2 (3) 2012 : hal. 138-142.

[23] C. Frederiksberg, Biobased Packaging Materials for The Food Industri, Di dalam: Bunga Chrismaya, Fransisca Selvy, Diah S. Retnowati, “Biofilm dari Biji Nangka dengan dengan Additif Karaginan”, Jurnal Teknologi Kimia dan Industri, 2 (3) 2012 : hal. 138-142.

[24] Nathiqoh Al Ummah, Uji Ketahanan Biodegradable Plastic Berbasis Tepung Biji Durian (Durio Zibethinus Murr) Terhadap Air Dan Pengukuran Densitasnya, Skripsi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang, 2013, hal. 17.

[25] Feris Firdaus dan Chairil Anwar, “Potensi Limbah Padat-cair Industri Tepung Tapioka sebagai Bahan Baku Film Plastik Biodegradabel”, Logika,

1 (2) 2004 : hal. 38-44.

[26] Ahmad Erfan, “Sintesis Bioplastik Dari Pati Ubi Jalar Menggunakan Penguat Logam ZnO Dan Penguat Alami Kitosan”, Skripsi, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, 2011, hal. 15.

[27] Yuli Darni dan Herti Utami, ”Studi Pembuatan dan Karakteristik Sifat Mekanik dan Hidrofobisitas Bioplastik dari Pati Sorgum”, Jurnal Rekayasa Kimia dan Lingkungan, 7 (4) 2010 : hal. 88-93.

[28] Jacobs, Heidi. dan J.A. Delcour, “Hydrothermal Modifications of Granular Starch with Retention of The Granular Structure: Review”, Journal of

Agricurtural and Food Chemical, 46 (8) 1998: 2895−2905.

[29] J.F. Robyt, R.J. Ackerman, “Isolation, Purification, and Characterization of a Maltotetraose-Producing Amylase from Pseudomonas stuzeri”, Arch.

Biochem. Biophys. 145 (1) 1971 : hal. 105-14.

[30] Maarel Marc J.E.C. van der, Bart van der Veen, Joost C.M. Uitdehaag, Hans Leemhuis, L. Dijkhuizen, “Properties and Applications of Starch Converting Enzymes of The α-Amylase Family”, Journal of Biotechnology. 94, 2002 :

137–155.

[31] Primarini Dyah dan Ohta Yoshiyuki, “Some Enzyme Properties of Raw Starch Digesting Amylases from Streptomyces sp.”, 52 (4) 2000 : hal. 28– 32.

(28)

[33] W.A. Atwell, L.F. Hood, D. R. Lineback, “The Terminology and

Methodology Associated with Basic Starch Phenomena,” Cereal Food

World, 1988 : hal. 33-306.

[34] A. M. Hermansson dan Karin Svegmark, “Developments in the understanding of starch functionality”, Trends Food Science and

Technology. 7, 1996 : hal.345-353.

[35] J. E. Hodge dan W.M. Osman. Carbohydrates. In: Fanema, C. R, Editor.

Principle of food science. New York: Marcel Decker Inc. 1976, hal. 41

138.

[36] Nurbani Kalsum dan Surfiana, “Karakteristik Dekstrin dari Pati Ubi Kayu yang Diproduksi dengan Metode Pragelatinisasi Parsial”, Jurnal Penelitian Pertanian Terapan, 13 (1) 2013 : hal. 13-23.

[37] Mailhot WC dan Patton JC, “Criteria of flour quality”, Di dalam : Pomeranz Y, ed, “Wheat Chemistry and Technology”, 3rd edition. St Paul, Minnesota: American Association of Cereal Chemists. 1988 : hal. 69-90. 1988.

[38] Boesro Soebagio, Sriwidodo, Adhika Aditya S, “Pengujian Sifat Fisikokimia Pati Biji Durian (Durio Zibethinus Murr) Alami Dan Modifikasi Secara Hidrolisis Asam”, Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran, 2009, Hal. 2-7.

[39] M. Gudmundsson, “Retrogradation of starch and the role of its components”, Thermochimica Acta, 246, 1994 : hal. 329-341.

[40] Winarno G. G., Kimia Pangan, Di dalam: Adie Muhammad Rahman, “Mempelajari Karakteristik Kimia Dan Fisik Tepung Tapioka Dan Mocal (Modified Cassava Flour) Sebagai Penyalut Kacang Pada Produk Kacang Salut”, Skripsi, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, 2007, hal. 61.

[41] Siti Narsito Wulan, Ella Saparianti, Simon B.Widjanarko, Nina Kurnaeni, “Modifikasi Pati Sederhana dengan Metode Fisik, Kimia, dan Kombinasi Fisik-Kimia Untuk Menghasilkan Tepung Pra-Masak Tinggi Pati Resisten yang Dibuat dari Jagung, Kentang, Dan Ubi Kayu”, Jurnal Teknologi Pertanian, 7 (1), 2006: hal. 1-9.

[42] R.E Kirk dan D.F. Othmer Encyclopedia of Chemical Technology. Vol.5. Interscience Encyclopedia Inc : New York. 1983.

(29)

[44] Endang Mastuti dan Dwi Ardiana Setyawadhani, “Pengaruh Variasi Temperatur dan Konsentrasi Katalis pada Reaksi Hidrolisis Tepung Kulit

Ketela Pohon”, 9 (1) 2010 : hal. 23-27.

[45] Moh. Djaeni dan Aji Prasetyaningrum, “Kelayakan Biji Durian sebagai

Bahan Pangan Alternatif : Aspek Nutrisi dan Tekno Ekonomi”, 4 (11) 2010

: hal. 37 – 45.

[46] Aji Prasetyaningrum, “Mekanisasi Proses Olahan Biji Durian Menjadi

Produk Pangan yang Kompetitif.” 4 (11) 2010 : hal. 47 – 52.

[47] L.O.A.N. Ramadhan, L. Radiman, D.Wahyuningrum, “Deasetilasi Kitin secara Bertahap dan Pengaruhnya terhadap Derajat Deasetilasi serta Massa molekul Kitosan”, Jurnal Kimia Indonesia, 5 (1) 2010 : hal. 17-21.

[48] Kandasamy Nadarajah, “Development and Characterization of

Antimicrobial Edible Film from Crawfish Chitosan” University of

Peradeniya. 2005.

[49] Balley, James E., dan Ollis, David .F. Ollis, Biochemical Engineering Fundamental, Mc. Graw Hill Kogakusha, ltd.: Tokyo, 1977.

[50] Ariyanti Suhita Dewi dan Fawzya, Yusro Nuri, “Studi Pendahuluan: Penggunaan Berulang Larutan Natrium Hidroksida dalam Pembuatan Kitosan”, Prosiding Seminar Naional Himpunan Kimia Indonesia, Bogor : Departemen FMIPA Institut Pertanian Bogor, 2006.

[51] Joseph C. Swapna, K. V. Harish Prashanth, N. K. Rastogi, A. R. Indiramma, S. Yella Reddy, K. S. M. S. Raghavarao, “Optimum Blend of Chitosan and Poly-(ε- caprolactone) for Fabrication of Films for Food Packaging Aplications”, Journal of Food Bioprocess Technology, 4(7) 2011

: hal. 1179-1185.

[52] I Gede Sanjaya M.H dan Tyas Puspita, “Pengaruh Penambahan Khitosan Dan Plasticizer Gliserol Pada Karakteristik Plastik Biodegradable Dari Pati Limbah Kulit Singkong”, Jurusan Teknik Kimia, Fakutas Teknik Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, 2011, hal. 1-6.

[53] Wini Setiani, Tety Sudiarti1, Lena Rahmidar, “Preparasi Dan Karakterisasi

Edible Film Dari Poliblend Pati Sukun-Kitosan”, Valensi, 3 (2) 2013 : hal.

100-109.

(30)

[55] Kanzil L.B. dan Santoso R., “Efek peningkatan pH plak dan potensial remineralisasi dari beberapa pemanis dalam permen karet sesudah makan karbohidrat”, Edisi khusus Forum Ilmiah, 6, 1999 : hal. 47–50.

[56] Goldberg I. Functional foods. New York: Chapmann Hall. 1994. hal.21–37. [57] Garrow JS, James WPT. Human nutrition and dietetics. 9th ed. Singapore:

Longman Singapore. 40–1, 340–1, 570–7. 1993.

[58] Linder MC. Nutritional biochemistry and metabolism. 2nd ed. Connectitut. Appleton and Lange. p. 35–40. 1991.

[59] Sandra Widyo Astuti, “Aplikasi Edible Coating Berbahan Dasar Derifat

Selulosa terhadap Kualitas Keripik Kentang”, Skripsi, Fakultas Pertanian,

Universitas Jenderal Soedirman, 2010.

[60] Sang Kompiang Wirawan, Agus Prasetya, Ernie, “Pengaruh Plasticizer pada

Karakteristik Edible Film dari Pektin”, 14 (1) 2012 : hal. 61-67.

[61] N.N. Potter, Food Science, Di dalam : Andy Chandra, Hie Maria Inggrid,

Verawati, “Pengaruh pH dan Jenis Pelarut pada Perolehan dan Karakterisasi

Pati dari Biji Alpukat”, 2013, Universitas Katolik Parahyangan.

[62] Wida Rahmawati, Yovita Asih Kusumastuti, Nita Aryanti, “Karakterisasi Pati Talas (Colocasia esculenta (L.) Schott) sebagai Alternatif Sumber Pati

Industri di Indonesia” Jurnal Teknologi Kimia dan Industri, 1 (1) 2012 : hal.

347-351.

[63] Asgar, A., Rahayu, M. Kusmana, dan E. Sofiari, “Uji Kualitas Umbi Beberapa Klon Kentang untuk Keripik”, Jurnal Hortikultura, 21 (1) 2011 :

51-59.

[64] Dimas Damar Adi Krisna, “Pengaruh Regelatinasi Dan Modifikasi Hidrotermal Terhadap Sifat Fisik Pada Pembuatan Edible Film Dari Pati Kacang Merah (Vigna angularis sp.)” Tesis, Program Studi Magister Teknik Kimia, Universitas Diponegoro, 2011, hal. 17.

[65] Melanie Cornelia, Rizal Syarief, Hefni Effendi, Budi Nurtama,

“Pemanfaatan Pati Biji Durian (Durio zibethius Murr.) dan Pati Sagu

(Metroxylon sp.) dalam Pembuatan Bioplastik”, Jurnal Kimia Kemasan, 35

(1) 2013 : hal. 20-29.

[66] S. Fardiaz, S. Budijanto, D. Fardiaz, S. Yasni dan N. L. Palupi.1989. Analisa Pangan. Institut Pertanian Bogor.

(31)

Kaporit Yang Digunakan)”, Jurnal Teknologi Pertanian, 10 (2), 2009 : hal.

97-105.

[68] S. Soebito, Analisa Farmasi, Di dalam : Andy Chandra, Hie Maria Inggrid,

Verawati, “Pengaruh pH dan Jenis Pelarut pada Perolehan dan Karakterisasi

Pati dari Biji Alpukat”, 2013, Universitas Katolik Parahyangan.

[69] D.J. Thomas dan W.A. Atwell, Starches, Di dalam : Siti Narsito Wulan, Ella Saparianti, Simon B.Widjanarko, Nina Kurnaeni, “Modifikasi Pati Sederhana dengan Metode Fisik, Kimia, dan Kombinasi Fisik-Kimia Untuk Menghasilkan Tepung Pra-Masak Tinggi Pati Resisten yang Dibuat dari Jagung, Kentang, Dan Ubi Kayu”, Jurnal Teknologi Pertanian, 7 (1), 2006:

hal. 1-9.

[70] R. Collison, Swelling and Gelation of Starch, Di dalam: Nur Richana dan

Titi Chandra Sunarti, “Karakterisasi Sifat Fisikokimiatepung Umbi Dan

Tepung Pati Dari Umbi Ganyong, Suweg, Ubikelapa Dan Gembili”, Jurnal Pascapanen, 1(1) 2004: 29-37.

[71] Andy Chandra, Hie Maria Inggrid, Verawati, “Pengaruh pH dan Jenis Pelarut pada Perolehan dan Karakterisasi Pati dari Biji Alpukat”, 2013, Universitas Katolik Parahyangan.

[72] Leach, Gelatinization of Starch, Di dalam : Nur Richana dan Titi Chandra

Sunarti, “Karakterisasi Sifat Fisikokimiatepung Umbi Dan Tepung Pati Dari

Umbi Ganyong, Suweg, Ubikelapa Dan Gembili”, Jurnal Pascapanen, 1(1)

2004: 29-37.

[73] Glickmans, Gum Technology in Food Industry, Di dalam: Nur Richana dan

Titi Chandra Sunarti, “Karakterisasi Sifat Fisikokimiatepung Umbi Dan

Tepung Pati Dari Umbi Ganyong, Suweg, Ubikelapa Dan Gembili”, Jurnal Pascapanen, 1(1) 2004: 29-37.

[74] H.M. Lai, Padua G.W. dan L.S. Wei, “Properties and Microsrucure of Zein Sheets Plastisized With Palmitic And Stearic Acids”, Cereal Chem. 74 (1) 1997 : 83-90.

[75] Yuli Darni, “Penentuan Kondisi Optimum Ukuran Partikel dan Bilangan Reynold Pada Sintesis Bioplastik Berbasis Sorgum”, Jurnal Rekayasa Kimia dan Lingkungan, 8 (2) 2011 : hal.95-103.

[76] Liu, Z. dan J.H., Han, Film Forming Characteristics of Starches, Di dalam : Zhang, V., & J.H., Han. Plastikization of Pes Starch Film With Monosaccharide and Polyols. Jurnal Food ist. Vol. 71(6): 253-260. 2006. [77] Arief Wahyu Utomo, Bambang Dwi Argo, Mochamad Bagus Hermanto,

(32)

Fisikokimiawi Plastik Biodegradable dari Komposit Pati Lidah Buaya (Aloe Vera) – Kitosan”, Jurnal Bioproses Komoditas Tropis, 1(1) 2013 : 73-79.

[78] R. C. Wilemse, A. P. de Boer, J. Van Dan, dan A. D. Gotsis, “Co-continous Morphologies in Polymer Blends: A New Model. Polymer”, 39 (24) 1998 : hal. 5879 – 5887.

[79] Thermo, N. C. Introduction of Fourier Transform Infrared Spectrometry, Madison : Author. 2001.

[80] Didah Nur Faridah, Dedi Fardiaz, Nuri Andarwulan, Titi Candra Sunarti, “Karakteristik Sifat Fisikokimia Pati Garut (Maranta Arundinaceae)”,

Jurnal Agrikultur dan Teknologi, 32 (1) 2014 : hal. 14-21.

[81] E. Syamsir, P. Hariyadi, D. Fardiat, N. Andarwulan, F. Kusnandar, “Karakterisasi Tapioka Dari Lima Varietas Ubi Kayu (Manihot Utilisima

Crantz) Asal Lampung”, 5 (1) 2011 : hal. 93- 105.

[82] Feri Kusnandar, Kimia Pangan Komponen Makro. Cetakan Pertama, Di dalam : Pepita Haryanti, Retno Setyawati, Rumpoko Wicaksono, “Pengaruh Suhu Dan Lama Pemanasan Suspensi Pati Serta Konsentrasi Butanol Terhadap Karakteristik Fisikokimia Pati Tinggi Amilosa Dari Tapioka”,

Agritech, 34 (3) 2014 : hal. 308-315.

[83] Nazhrah, Elisa Julianti, Linda Masniary L, “Pengaruh Proses Modifikasi Fisik Terhadap Karakteristik Pati Dan Produksi Pati Resisten Dari Empat Varietas Ubi Kayu (Manihot Esculenta)”, Jurnal Rekayasa Pangan, 2 (2)

2014 : Hal. 1-9.

[84] [DSN] Dewan Standardisasi Nasional. 2011. Penentuan Kadar Pati (SNI 01-3194-1992). Jakarta: Dewan Standardisasi Nasional.

[85] [DSN] Dewan Standardisasi Nasional. 2011. Cara Uji Makanan dan Minuman (SNI-01-2891-1992). Jakarta: Dewan Standardisasi Nasional. [86] [DSN] Dewan Standardisasi Nasional. 2011. Tepung Tapioka (SNI

01-3451-1994). Jakarta: Dewan Standardisasi Nasional.

[87] Annual Book of ASTM, ASTM D638-02a, 2002, Standard Test Method for

Tensile Properties of Plastics.

[88] Annual Book of ASTM, ASTM D570-98, 2005, Standard Test Method for

Water Absorption of Plastics.

[89] Annual Book of ASTM, ASTM D792-91, 1991, Standard Test Method for

(33)

[90] Rahmi Yulianti dan Erliana Ginting, “Perbedaan Karakteristik Fisik Edible

Film dari Umbi umbian yang dibuat dengan Penambahan Plasticizer”,

Penelitian Pertanian Tanaman Pangan, 31 (2) 2012: hal.131-136.

[91] Mahdi Jufri, Rosmala Dewi, Akhmad Ridwan Firli, “Studi Kemampuan Pati Biji Durian sebagai Bahan Pengikat dalam Tablet Ketoprofen Secara Granulasi Basah”, Majalah Ilmu Kefarmasian, 3 (2) 2006 : hal.78-86.

[92] S. Widowati, M.G. Waha, B.A.S. Santosa, “Ekstraksi dan Karakterisasi Sifat Fisikokimia dan Fungsional Pati Beberapa Varietas Talas (Colocassia

Esculenta L. Schott)”, Prosiding Seminar Teknologi Pangan, 1997 :

181-195.

[93] Shanti Fitriani, Evi Sribudiani, Rahmayuni, “Karakteristik Mutu Pati Sagu dari Provinsi Riau dengan Perlakuan Heat Moisture Treatment (HMT)”, 9 (1) 2010 : hal.38-44.

[94] Nur Richana dan Titi Chandra Sunarti, “Karakterisasi Sifat Fisikokimiatepung Umbi Dan Tepung Pati Dari Umbi Ganyong, Suweg, Ubikelapa Dan Gembili”, Jurnal Pascapanen, 1(1) 2004: 29-37.

[95] Khaswar Syamsu,, Chilwan Pandji, Eva Rosalina Lumbanraja,”Pengaruh Penambahan Polioksietilen-(20)-Sorbitan Monolaurat Pada Karakteristik Bioplastik Poli-Hidroksialkanoat (Pha) Yang Dihasilkan Ralstonia

Eutropha Pada Substrat Hidrolisat Pati Sagu”, Jurnal Teknologi Industri Pertanian, 18 (1) 2008 : hal. 41-46.

[96] Abdul Halim dan Eko Santoso, “Analisis Termal Gravimetri Untuk Film Paduan Gelatin Kulit Ikan Pari (Himanturra Gerrardi) Dan Kitosan Cangkang Udang Windu (Peneaeus monodon)”, Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, 2011, hal. 7.

[97] Muhammad Asrullah, Ayu Hardiyanti Mathar, Citrakesumasari Nurhaedar Jafar1, St Fatimah, “Denaturasi Dan Daya Cerna Protein Pada Proses Pengolahan Lawa Bale (Makanan Tradisional Sulawesi Selatan)”, Media Gizi Masyarakat Indonesia, 1 (2), 2012 : hal. 84-90.

[98] Purwani E.Y, Widaningrum, Thahrir R, Muslich, “Effect of Moisture Treatment of Sago Starch on Its Noodle Quality”, Indonesian J Agr Sci , 7, 2006 : hal. 8-14.

[99] R. Afni Shafwati, “Pengaruh Lama Pengukusan Dan Cara Penanakan Beras Pratanak Terhadap Mutu Nasi Pratanak”, Skripsi, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, 2012, hal. 25-27.

(34)

Hariyadi, Dedi Fardiaz, Nuri Andarwulan, Feri Kusnadar, “Pengaruh Proses Heat-Moisture Treatment (HMT) terhadap Karakteristik Fisikokimia Pati”,

Jurnal Teknologi dan Industri Pangan, 23 (1) 2012 : hal. 100-106.

[101] Vico Delvia, “Kajian Pengaruh Penambahan Dietilen Glikol Sebagai Pemlastis Pada Karakteristik Bioplastik Dari Poli-Β-Hidroksialkanoat (Pha) Yang Dihasilkan Ralstronia Eutropha Pada Substrat Hidrolisat Pati Sagu”, Skripsi, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, 2006, Hal. 60.

[102] Mimi Nurminah, “Penelitian Sifat Berbagai Bahan Kemasan Plastik dan Kertas serta Pengaruhnya terhadap Bahan yang dikemas”, Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, 2002, hal. 12.

[103] Pamilia Coniwanti, Linda Laila, Mardiyah Rizka Alfira, “Pembuatan Film Plastik Biodegredabel Dari Pati Jagung Dengan Penambahan Kitosan Dan Pemplastis Gliserol”, Jurnal Teknik Kimia, 4 (20) 2014 : hal. 22-30.

[104] M. Rodriguez, J. Oses, K. Ziani, J. Mate, Combined Effect Of Plasticizer And Surfactants On The Physical Properties Of Starch Based Edible Films, Di dalam : Wini Setiani, Tety Sudiarti1, Lena Rahmidar, “Preparasi Dan Karakterisasi Edible Film Dari Poliblend Pati Sukun-Kitosan”, Valensi, 3

(2) 2013 : hal. 100-109.

[105] Pepita Haryanti, Retno Setyawati, Rumpoko Wicaksono, “Pengaruh Suhu Dan Lama Pemanasan Suspensi Pati Serta Konsentrasi Butanol Terhadap Karakteristik Fisikokimia Pati Tinggi Amilosa Dari Tapioka”, Agritech, 34

(3) 2014 : hal. 308-315.

[106] Muhammed L. Sanyang, Salit M. Sapuan, Mohammad Jawaid, Mohamad R. Ishak, Japar Sahari, “Effect of Plasticizer Type and Concentration on Tensile, Thermal and Barrier Properties of Biodegradable Films Based on Sugar Palm (Arenga pinnata) Starch”, Polymers, 7, 2005 : hal. 1106-1123.

[107] Rucitra Widasari, “Kajian Penambahan Onggok Termoplastis terhadap Karakteristik Plastik Komposit Polietilen”, Tesis, Sekolah PascaSarjana, Institut Pertanian Bogor, 2010, hal. 27.

[108] R. C. Hoseney, Principles of Cereal Science and Technology, Di dalam : Abadi Jading, Eduard Tethool, Paulus Payung, Sarman Gultom, “Karakteristik Fisikokimia Pati Sagu Hasil Pengeringan Secara Fluidisasi Menggunakan Alat Pengering Cross Flow Fluidized Bed Bertenaga Surya Dan Biomassa”, Reaktor, 13 (3) 2011 : hal. 155-164.

(35)

[110] Donald L. Pavia, Gary M. Lampman, George S. Kriz, Introduction to

Spectroscopy, (United Stated of America : Thomson Learning, 2001), hal

(36)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN

Penelitian ini akan dilaksanakan di Laboratorium Operasi Teknik Kimia, Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara, Medan. Penelitian ini dilakukan selama lebih kurang 6 bulan, yaitu dari bulan Oktober 2014 hingga April 2015.

3.2 BAHAN DAN PERALATAN

3.2.1 Bahan

Pada penelitian ini bahan yang digunakan antara lain:

1. Biji buah durian (Durio zibethinus), diperoleh dari pedagang durian di Jl. KH Wahid Hasyim, Medan.

2. Aquadest (H2O), diperoleh dari toko bahan kimia Rudang, Medan. 3. Sorbitol (C6H14O6), diperoleh dari toko bahan kimia Rudang, Medan. 4. Kitosan ((C6H11NO4)n), diperoleh dari toko bahan kimia Rudang, Medan. 5. Asam Asetat (CH3COOH), diperoleh dari toko bahan kimia Rudang,

Medan.

6. Air Kapur (Ca(OH)2), diperoleh dari pedagang di Pasar Pringgan Jl. Iskandar Muda, Medan.

3.2.2 Peralatan

1. Saringan 2. Pipet tetes 3. Gelas ukur 4. Beaker glass

5. Magnetic stirrer

6. Desikator 7. Cawan porselin 8. Oven listrik 9. Furnace

(37)

11. Neraca Digital 12. Jangka sorong 13. Termometer 14. Ayakan 100 mesh 15. Blender

16. Pisau 17. Talenan

18. Cetakan plexiglass ukuran 20x20 cm

3.3 PROSEDUR PENELITIAN

Prosedur penelitian dapat dijelaskan sebagai berikut: 3.3.1 Ekstraksi Pati

Pengambilan kandungan pati dari biji durian dilakukan dengan :

1. Biji durian dikupas bagian selubung luar dan kulit arinya sampai bersih. 2. Biji durian dipotong tipis-tipis dengan ketebalan ± 2 mm. Setiap 1 kg

potongan biji durian direndam dalam air kapur (Ca(OH)2 1 %) selama 15 menit. Air kapur digunakan untuk mengikat dan mengendapkan getah pada biji durian.

3. Biji durian kemudian dibilas berulang-ulang dengan air sampai bersih. 4. Biji durian yang sudah bersih dijemur di bawah matahari selama 6 jam

untuk mengurangi getah yang masih ada pada biji.

5. Setelah kering biji durian dihancurkan menggunakan blender dengan menambahkan air, dimana perbandingan biji durian dengan air adalah 1 : 5 (m/m).

6. Biji durian yang telah halus dikeluarkan dari blender dan disaring menggunakan saringan, diperoleh ampas dan cairan filtrat (suspensi pati). 7. Suspensi yang dihasilkan kemudian dimasukkan dalam kulkas dan

diendapkan selama 24-48 jam hingga pati mengendap sempurna.

8. Cairan bening pada bagian atas dibuang hingga menyisakan endapan putih yang kaya pati.

(38)

10. Jika pati masih bersifat basa maka pati dicuci dengan aquades dan diendapkan lagi hingga diperoleh endapan pati dengan pH netral.

11. Pati basah kemudian dikeringkan menggunakan oven pada suhu 50oC selama ±24 jam hingga kering.

12. Pati kering yang berbentuk gumpalan rapuh dihancurkan dengan menggunakan tumbukan hingga menghasilkan serbuk pati yang halus. 13. Serbuk pati selanjutnya diayak dengan ayakan 100 mesh.

3.3.2 Pembuatan Bioplastik

Pembuatan bioplastik dilakukan dengan:

1. Ditimbang pati dan kitosan dengan variasi perbandingan 7 : 3, 8 : 2 dan 9 : 1 dari total massa pati - kitosan yaitu 10 gram.

2. Dicampurkan pati dengan aquades pada beaker glass 500 ml.

3. Dibuat larutan kitosan dengan melarutkan kitosan yang telah ditimbang ke dalam larutan asam asetat 1 % dimana perbandingan kitosan : asam asetat 1% adalah 3 : 130 (m/v).

4. Ditimbang massa sorbitol dengan variasi massa 2 gram, 3 gram dan 4 gram. 5. Beaker glass 500 ml yang berisi larutan pati diletakkan di atas magnetic

stirrer hot plate sambil dipanaskan.

6. Larutan kitosan ditambahkan ke dalamnya kemudian diaduk.

7. Setelah 20 menit ditambahkan sorbitol ke dalam larutan, lalu diaduk hingga temperatur larutan mencapai variasi temperatur yang telah ditentukan (T = 70 oC, 80 oC dan 90 oC).

8. Setelah temperatur tercapai dimana larutan sudah mengental dan berwarna kecoklatan, magnetic stirrer dimatikan.

9. Beaker glass berisi larutan kemudian didinginkan sebelum dicetak.

10. Larutan dituangkan merata ke dalam cetakan akrilik dengan volume cetakan adalah (20 x 20 x 0,3) cm3, kemudian dikeringkan dalam oven pada temperatur T = 45 oC selama 24 jam.

11. Setelah dikeringkan, diangkat dan dimasukkan ke dalam desikator selama 24 jam.

(39)

3.4 PROSEDUR KARAKTERISASI PATI

3.4.1 Prosedur Analisis Kadar Pati [84]

Analisis kadar pati (amilum) dari pati biji durian dilakukan di Laboratorium Uji Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Universitas Gadjah Mada.

1. Timbang 2-5 g sampel berupa bahan padat yang telah dihaluskan atau bahan cair dalam gelas piala 250 ml, tambahkan 50 ml aquades dan diaduk selama 1 jam. Suspensi disaring dengan kertas saring whatman 42 dan dicuci dengan aquades sampai volume filtrat 250 ml. Filtrat mengandung karbohidrat yang terlarut dan dibuang.

2. Bahan yang mengandung lemak, maka pati yang terdapat sebagai residu pada kertas saring dicuci 5 kali dengan 10 ml ether, biarkan ether menguap dari residu, kemudian cuci lagi dengan 150 ml alkohol 10% untuk membebaskan lebih lanjut karbohidrat yang terlarut.

3. Residu dipindahkan secara kualitatif dari kertas saring ke dalam erlenmeyer dengan pencucian 200 ml aquades dan tambahkan 20 ml HCl 25% (BJ 1,125), tutup dengan pendingin balik dan panaskna di atas penangas air mendidih selama 2,5 jam.

4. Setelah dingin netralkan dengan larutan NaOH 45% dan encerkan sampai volume 500 ml, kemudian saring dengan kertas saring whatman 42, tentukan kadar gula yang dinyatakan sebagai glukosa dari filtrat yang diperoleh. Penentuan glukosa seperti pada penentuan gula reduksi. berat glukosa dikalikan 0,9 merupakan berat pati.

3.4.2 Prosedur Analisis Kadar Amilosa [84]

Analisis kadar amilosa dari pati biji durian dilakukan di Laboratorium Uji Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Universitas Gadjah Mada.

I. Pembuatan Kurva Standar

1. Timbang 40 mg amilosa murni, masukkan ke dalam tabung reaksi. Tambahkan 1 ml etanol 95% dan 9 ml NaOH 1 N.

(40)

3. Pindahkan seluruh campuran ke dalam labu takar 100 ml. Tepatkan sampai tanda tera dengan air.

4. Pipet masing 1, 2, 3, 4 dan 5 ml larutan diatas masukkan masing-masing ke dalam labu takar 100 ml.

5. Ke dalam masing-masing labu takar tersebut, tambahkan asam asetat 1 Masing-masing 0,2; 0,4; 0,6; 0,8 dan 1 ml, lalu tambahkan masing-masing 2 ml larutan iod.

6. Tepatkan masing-masing campuran dalam labu takar sampai tanda tera dengan air. Biarkan selama 20 menit.

7. Intensitas warna biru yang terbentuk diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 625 nm.

8. Buat kurva standar, konsentrasi amilosa vs absorbans. II. Pengukuran Sampel

1. Tiimbang 100 mg sampel dalam bentuk tepung (sampel sebagian besar terdiri dari pati, jika banyak mengandung komponen lainnya, ekstrak dulu patinya baru analisis kadar amilosanya), masukkan ke dalam tabung reaksi. Tambahkan 1 ml etanol 95% dan 9 ml NaOH 1 N.

2. Panaskan dalam air mendidih selama kurang lebih 10 menit sampai terbentuk gel.

3. pindahkan seluruh gel ke dalam labu takar 100 ml. Tepatkan sampai tanda tera dengan air.

4. pipet 5 ml larutan tersebut, masukkan ke dalam labu takar 100 ml. Tambahkan 1 ml asam asetat 1 N dan 2 ml larutan Iod.

5. Tepatkan sampai tanda tera dengan air, kocok, diamkan selama 20 menit. 6. Ukur intensitas warna yang terbentuk dengan spektrofotometer pada

panjang gelombang 625 nm.

7. Hitung kadar amilosa dalam sampel.

3.4.3 Prosedur Analisis Kadar Amilopektin

Analisis kadar amilopektin dari pati biji durian dilakukan di Laboratorium Uji Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Universitas Gadjah Mada.

(41)

2. Dihitung kadar amilosa sampel pati biji durian berdasarkan prosedur.

3. Ditentukan kadar amilopektin berdasarkan nilai kadar pati dan kadar amilosa sampel pati biji durian yang telah dihitung.

Perhitungan:

% Amilopektin = % pati - % amilosa

3.4.4 Prosedur Analisis Kadar Air [85]

Analisis kadar air dari pati biji durian dilakukan di Laboratorium Jasa Uji Fakultas Teknologi Industri Pertanian, Universitas Padjadjaran.

1. Timbang dengan seksama 1-2 gram sampel pada sebuah botol timbang bertutup yang sudah diketahui bobotnya. untuk contoh berupa cairan, botol timbang dilengkapi dengan pengaduk dan pasir kwarsa/kertas saring berlipat.

2. Keringkan pada oven suhu 105 0C selama 3 jam. 3. Dinginkan dalam desikator.

4. Timbang, ulangi pekerjaan ini hingga diperoleh bobot tetap. 5. Catat data pengamatan dalam loogbook analisis

6. Perhitungan :

Kadar air = ( W1 / W ) x 100% Dimana :

W = berat sampel sebelum dikeringkan ( g) W1 = kehilangan berat setelah dikeringkan ( g)

3.4.5 Prosedur Analisis Kadar Abu [86]

Analisis kadar abu dari pati biji durian dilakukan di Laboratorium Proses Industri Kimia, Departemen Teknik Kimia, Universitas Sumatera Utara.

1. Sampel ditimbang sebanyak 2 gram dimasukkan ke dalam cawan porselin . 2. Cawan yang berisi sampel dipijarkan diatas nyala api pembakar bunsen

hingga tidak berasap lagi .

(42)

4. Cawan yang berisi sampel didinginkan dalam desikator selama 30 menit lalu ditimbang hingga beratnya tetap.

Perhitungan :

3.4.6 Prosedur Analisis Kadar Lemak [85]

Analisis kadar lemak dari pati biji durian dilakukan di Laboratorium Jasa Uji Fakultas Teknologi Industri Pertanian, Universitas Padjadjaran.

1. Timbang dengan teliti 1 - 2 gram sampel dalam selongsong kertas yang dialasi dengan kapas, kemudian sumbat selongsong yang berisi sampel dengan kapas.

2. Keringkan dalam oven pada suhu tidk lebih 80oC selama ± 1 jam.

3. Masukkan selongsong dalam alat soxhlet yang telah dihubungkan dengan labu lemak berisi batu didih yang telah dikeringkan dan telah diketahui bobotnya.

4. Ekstrak dengan heksana atau pelarut lemak lainnya selama ± 6 jam.

5. Sulingkan heksana dan keringkan ekstrak lemak dalam oven pada suhu 105oC

6. Dinginkan dan timbang

7. Ulangi pengeringan hingga tercapai bobot tetap 8. Catat data pengamatan dalam logbook

9. Perhitungan :

% Lemak = (

) x 100%

Dimana :

W = berat sampel

W1 = berat lemak sebelum ekstraksi W2 = berat labu lemak sesudah ekstraksi

3.4.7 Prosedur Analisis Kadar Protein [85]

Analisis kadar protein dari pati biji durian dilakukan di Laboratorium Jasa Uji Fakultas Teknologi Industri Pertanian, Universitas Padjadjaran.

(43)

2. Tambahkan 2 gram selenium 5 dan 25 ml H2SO4 pekat

3. Panaskan diatas kompor listrik atau api pembakar sampai mendidih dan larutan berubah menjadi warna jernih kehijauan ( sekitar 2 jam)

4. Biarkan dingin, kemudian encerkan dan masukan ke dalam labu ukur 100 ml, tepatkan sampai tanda batas.

5. Untuk menampung destilat, pipet 10 ml asam borat 2 % masukkan kedalam Erlenmeyer 250 ml, tambahkan 5 tetes indicator campuran.

6. Pipet 5 ml larutan hasil dekstruksi ke dalam alat destilasi protein tambahkan 5 ml NaOH 42.8% dan akuades untuk membilas.

7. Destilasi selama kurang lebih 15 menit sampai destilat yang tertampung tidak bersifat basa. ( uji dengan menggunakan kertas lakmus)

8. Bilas ujung kondensor dengan air akuades. 9. Titrasi destilat dengan HCl 0.01 N

10. Kerjakan penetapan blanko.

11. Catat data pengamatan dalam logbook. 12. Perhitungan :

Kadar protein : – Dimana :

W = berat sampel

V1 = volume HCl 0.01 N yang dipergunakan titrasi sampel V2 = volume HCl 0.01 N yang dipergunakan titrasi blanko N = Normalitas HCl

Fk = factor konversi protein

3.4.8 Prosedur Analisis Gugus Fungsi Pati Biji Durian dan Kitosan FT-IR

(Fourier Transform Infrared) [27]

Analisis gugus fungsi dengan FT-IR dilakukan di Laboratorium Fakultas Farmasi, Universitas Sumatera Utara.

1. Sampel serbuk pati ditempatkan ke dalam set holder, kemudian dicari spektrum yang sesuai.

(44)

3. Spektrum FTIR di rekam menggunakan spektrometer pada suhu ruang. 4. Diulangi prosedur untuk sampel Kitosan

3.4.9 Prosedur Analisis Morfologi Permukaan Pati Biji Durian dengan

SEM (Scanning Electron Microscope) [53]

Analisis dengan SEM ini dilakukan di Laboratorium Terpadu USU. 1. Sampel serbuk pati ditempelkan pada set holder dengan perekat ganda. 2. Sampel dilapisi dengan logam tembaga dalam keadaan vakum.

3. Sampel dimasukkan pada tempatnya di dalam Scanning Electron

Microscope (SEM).

4. Gambar topografi diamati dan dilakukan perbesaran 5000 kali dan 10000 kali.

3.4.10 Prosedur Analisis Profil Gelatinisasi Pati Biji Durian dengan RVA

(Rapid Visco Analyzer)

Analisis profil gelatinisasi dari pati biji durian dengan RVA dilakukan di Laboratorium Jasa Uji Fakultas Teknologi Industri Pertanian, Universitas Padjadjaran.

1. Isi bak pendingin dengan akuades sampai tanda pada display muncul tanda bahwa air sudah cukup terisi.

2. Pasang kabel pada stop kontak, nyalakan alat dengan menekan tombol yang berada di bagian belakang alat, nyalakan juga air pendingin.

3. Atur temperature, time, pump, refrigerate.

4. Jika semua parameter pengaturan sudah sesuai, tekan tombol ON sampai semua pengaturan posisi on ( perhatikan tanda di display)

5. Pilih menu STD 1 pada menu utama 6. Pasang flashdisk pada alat RVA.

7. Timbang sampel sebanyak 3,5-4 gram (sesuaikan dengan kandungan air sampel) dan masukan ke canister

(45)

9. Simpan canister pada alat dan mulai pengukuran dengan menekan tombol √, lalu tower sampel pada alat.

10. Alat akan memutar sampel dengan pemanasan pada 50 – 95 0C selama ± 23 menit.

11. Jika sudah selesai, grafik pengukuran bisa di lihat pada display, lalu pilih option save.

12. Saving data pada flashdisk.

3.5 PROSEDUR ANALISIS BIOPLASTIK

3.5.1 Prosedur Uji Kekuatan Tarik [87]

Uji kekuatan tarik dari bioplastik dilakukan di Laboratorium Polimer, Departemen Teknik Kimia, Universitas Sumatera Utara.

1. Sampel dipotong dengan ukuran 13 mm x 57 mm dengan tebal ≤ 7 mm. 2. Pengujian dilakukan dengan cara menempatkan spesimen pada genggaman

mesin uji.

3. Indikator ekstensi (extensomer) dipasang. 4. Alat pengukur regangan melintang dipasang. 5. Dilakukan pengukuran beban dan tegangan.

6. Kecepatan pengujian diatur sesuai dengan laju yang diperlukan. 7. Kurva tegangan-beban dicatat.

8. Selain itu dicatat pula nilai tegangan dan beban serta nilai tegangan dan beban pada saat putus.

9. Kekuatan tarik dihitung dengan menggunakan rumus berikut : Perhitungan : Kekuatan tarik (kgf/mm2) =

3.5.2 Prosedur Uji Perpanjangan pada saat Putus [87]

Uji perpanjangan pada saat putus dari bioplastik dilakukan di Laboratorium Polimer, Departemen Teknik Kimia, Universitas Sumatera Utara. 1. Sampel dipotong dengan ukuran 13 mm x 57 mm dengan tebal ≤ 7 mm. 2. Pengujian dilakukan dengan cara menempatkan spesimen pada genggaman

mesin uji.

(46)

4. Alat pengukur regangan melintang dipasang. 5. Dilakukan pengukuran beban dan tegangan.

6. Kecepatan pengujian diatur sesuai dengan laju yang diperlukan. 7. Kurva tegangan-beban dicatat.

8. Dicatat persen perpanjangan pada saat putus pada grafik dikali dengan 100.

3.5.3 Prosedur Uji Modulus Young

Uji Modulus Young didasarkan pada hasil uji kekuatan tarik dan uji perpanjangan pada saat putus.

1. Diperoleh data nilai kekuatan tarik dari hasil pengujian.

2. Diperoleh data nilai perpanjangan pada saat putus dari hasil pengujian. 3. Ditentukan nilai Modulus Young berdasarkan nilai kekuatan tarik dan

perpanjangan pada saat putus dari data yang diperoleh. Perhitungan :

Modulus Young (MPa) =

3.5.4 Prosedur Uji Penyerapan Air [88]

Uji penyerapan air dari bioplastik dilakukan di Laboratorium Operasi Teknik Kimia, Departemen Teknik Kimia, Universitas Sumatera Utara.

1. Dipotong plastik dengan diameter 50,8 mm dan tebal ± 0,18 mm dan ditimbang berat sampel.

2. Masukkan sampel plastik ke dalam wadah berisi air distilat dengan temperatur 23±1 oC selama 24 jam.

3. Setelah 24 jam, sampel diambil dan dibersihkan dengan menggunakan kain kering. Penyerapan air dihitung dengan rumus :

Perhitungan :

Penyerapan air

(47)

3.5.5 Prosedur Uji Densitas [89]

Uji densitas dari bioplastik dilakukan di Laboratorium Operasi Teknik Kimia, Departemen Teknik Kimia, Universitas Sumatera Utara.

1. Film dipotong dengan ukuran 5 cm x 5 cm dengan tebal tertentu, kemudian dihitung volumenya.

2. Potongan film ditimbang dan rapat massa film ditentukan dengan membagi massa dengan volumenya (g/cm3).

Perhitungan : = Dimana :

ρ = densitas (g/cm3) m = massa (g) v = volume (cm3)

3.5.6 Prosedur Analisis Gugus Fungsi Bioplastik dengan FT-IR (Fourier

Transform Infrared)

Analisis gugus fungsi dengan FT-IR dilakukan di Laboratorium Fakultas Farmasi, Universitas Sumatera Utara.

1. Sampel film plastik ditempatkan ke dalam set holder, kemudian dicari spektrum yang sesuai.

2. Hasil yang di dapat berupa difraktogram hubungan antara bilangan gelombang dengan intensitas.

3. Spektrum FTIR di rekam menggunakan spektrometer pada suhu ruang.

3.5.7 Prosedur Analisis Morfologi Permukaan Bioplastik dengan SEM

(Scanning Electron Microscope)

Analisis dengan SEM ini dilakukan di Laboratorium Terpadu USU.

1. Sampel yang diambil dari patahan bioplastik setelah uji kekuatan tarik ditempelkan pada set holder dengan perekat ganda.

2. Sampel dilapisi dengan logam tembaga dalam keadaan vakum. 3. Sampel dimasukkan pada tempatnya di dalam SEM

(48)

3.5.8 Prosedur Analisis Profil Gelatinisasi Larutan Pati, Asam Asetat,

Kitosan dan Sorbitol dengan RVA (Rapid Visco Analyzer)

Profil gelatinisasi dari larutan pati, asam asetat, kitosan dan sorbitol, dianalisis dengan RVA yang dilakukan di Laboratorium Jasa Uji Fakultas Teknologi Industri Pertanian, Universitas Padjadjaran.

1. Isi bak pendingin dengan akuades sampai tanda pada display muncul tanda bahwa air sudah cukup terisi.

2. Pasang kabel pada stop kontak, nyalakan alat dengan menekan tombol yang berada di bagian belakang alat, nyalakan juga air pendingin.

3. Atur temperature, time, pump, refrigerate.

4. Jika semua parameter pengaturan sudah sesuai, tekan tombol ON sampai semua pengaturan posisi on ( perhatikan tanda di display)

5. Pilih menu STD 1 pada menu utama 6. Pasang flashdisk pada alat RVA.

7. Timbang sampel sebanyak 3,5-4 gram (sesuaikan dengan kandungan air sampel) dan masukan ke canister

8. Tambahkan akuades atau buffer sebanyak 25 gram ( sesuaikan dengan penimbangan sampel.

9. Simpan canister pada alat dan mulai pengukuran dengan menekan tombol √, lalu tower sampel pada alat.

10. Alat akan memutar sampel dengan pemanasan pada 50 – 95 0C selama ± 23 menit.

11. Jika sudah selesai, grafik pengukuran bisa di lihat pada display, lalu pilih option save.

(49)

3.6 FLOWCHART PENELITIAN

3.6.1 Flowchart Ekstraksi Pati

Gambar 3.1 Flowchart Ekstraksi Pati Mulai

Biji durian dikupas bagian selubung luar dan kulit arinya kemudian dicuci

Biji durian dipotong tipis-tipis dan direndam air kapur (larutan CaCO3 1% selama 15 menit

Biji durian dibilas dengan air sampai bersih

Biji durian yang sudah bersih dijemur di bawah matahari selama ±6 jam

Biji durian dihancurkan dengan blender dengan bantuan air

Biji durian yang telah halus dikeluarkan dari blender dan disaring menggunakan saringan plastik

Selesai

Filtrat (suspensi pati) yang dihasilkan kemudian dimasukkan dalam kulkas dan diendapkan selama 24-48 jam

Cairan bening pada bagian atas dibuang hingga menyisakan endapan putih yang kaya pati

Pati basah yang dihasilkan diuji dengan lakmus merah, jika pati masih bersifat basa maka pati dicuci dengan aquades dan

diendapkan lagi hingga diperoleh endapan pati dengan pH netral

Pati basah kemudian dikeringkan menggunakan oven pada suhu 50oC selama ± 24 jam hingga kering

(50)

3.6.2 Flowchart Pembuatan Bioplastik

Larutan dalam cetakan dikeringkan dalam oven pada temperatur T = 45 oC selama 24 jam

Mulai

Dicampurkan pati dengan aquades pada beaker glass 500 ml

Beaker glass 500 ml yang berisi larutan pati diletakkan di atas magnetic stirrer hot plate

Ditimbang massa pati – kitosan dengan perbandingan 7 : 3, 8:2 dan 9:1 dari total massa pati - kitosan yaitu 10 gram.

Ditambahkan larutan kitosan kemudian diaduk

Ditambahkan sorbitol ke dalam

Ditimbang massa sorbitol dengan variasi konsentrasi 2 gram, 3 gram dan 4 gram

A

Dibuat larutan kitosan dengan melarutkan kitosan yang telah ditimbang ke dalam larutan asam asetat 1% dimana perbandingan kitosan :

asam asetat 1% adalah 3 : 130 (m/v).

Setelah temperatur tercapai dimana larutan sudah mengental dan berwarna kecoklatan, magnetic stirrer dimatikan

(51)

Gambar 3.2 Flowchart Pembuatan Bioplastik

3.6.3 Flowchart Uji Kadar Abu Pati

Gambar 3.3 Flowchart Uji Kadar Abu Pati Selesai

Setelah dikeringkan, diangkat dan dimasukkan ke dalam desikator selama 24 jam.

Kemudian plastik dilepas dari cetakannya. Plastik siap untuk dianalisis

Sampel ditimbang seberat 2 gram dan dimasukkan ke dalam cawan porselin yang telah dikeringkan

Lalu diabukan dalam furnace pada suhu 650 oC ± 12 jam

Selesai Mulai

Setelah dingin dimasukkan ke dalam desikator selama 30 menit dan ditimbang kemudian dihitung dengan rumus perhitungan kadar air.

(52)

3.6.4 Flowchart Uji Penyerapan Air Bioplastik

Gambar 3.4 Flowchart Uji Penyerapan Air Bioplastik

3.6.5 Flowchart Uji Densitas Bioplastik

Gambar 3.5 Flowchart Uji Densitas Bioplastik Mulai

Ditimbang film yang sudah dipotong kemudian dihitung nilai densitasnya

Dipotong film dengan ukuran (5 x 5) cm2

Dihitung volumenya

Selesai Mulai

Setelah 24 jam, sampel diambil dan dibersihkan dengan menggunakan kain kering Dipotong plastik dengan diameter 50,8 mm dan tebal ±

0,18 mm dan ditimbang berat sampel.

Masukkan sampel plastik ke dalam wadah berisi air distilat denngan temperatur 23±1 oC selama 24 jam.

Selesai

Setelah 24 jam, sampel diambil dan dibersihkan dengan menggunakan kain kering dan ditimbang

(53)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL KARAKTERISASI PATI DARI BIJI DURIAN

Dari hasil ekstraksi pati dari biji durian diperoleh rendemen pati adalah sebesar 20,58%, dimana dari 100 gram biji durian dihasilkan pati kering sebanyak 20,58 gram. Jumlah rendemen pati dapat dipengaruhi oleh adanya granula pati yang berukuran kecil yang jumlahnya sekitar 5% dari jumlah total pati, dimana ketika dilakukan proses ekstraksi dan pencucian maka granula berukuran kecil ini akan mudah membentuk koloid dan akan ikut terbuang bersama air pengekstrak [90], sehingga dapat mengurangi jumlah pati yang diperoleh. Pati biji durian yang dihasilkan berwarna putih, dengan ukuran partikel ±100 mesh. Berdasarkan penelitian Jufri dkk., (2006), pati biji durian berwarna putih disebabkan oleh bahan yang diekstrak yaitu kotiledon dari biji durian berwarna putih. Selain itu kualitas air yang digunakan dalam proses pembuatan pati juga menentukan warna dari pati, dimana air yang bersih akan memberikan hasil pati yang lebih putih dan kualitas yang lebih baik [91]. Gambar 4.1 berikut merupakan Gambar biji durian dan pati hasil ekstraksi dari biji durian.

(a) (b)

(54)

Karakterisasi pati dari biji durian bertujuan untuk menetapkan komposisi kimia yang terkandung di dalam pati, yang terdiri dari kadar pati (amilum), kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein, kadar amilosa dan kadar amilopektin sehingga diketahui kualitas pati yang diperoleh. Hasil keseluruhan karakterisasi ini disajikan dalam Tabel 4.1 berikut ini.

Tabel 4.1 Komposisi Kimia Pati Biji Durian

Komponen Pati Biji Durian Kadar (%) *Standar Industri Indonesia (%) ekstraksi dari biji durian. Karakterisasi pati dilakukan dengan menggunakan sampel pati sebanyak 5 gram, dan diperoleh nilai kadar pati adalah sebesar 76,6530 %. Jumlah ini telah memenuhi standar pati berdasarkan Standar Industri Indonesia (SII) yaitu minimal 75 % pati. Kadar pati yang diperoleh dari penelitian ini lebih tinggi dari kadar pati pada penelitian Soebagio dkk., (2006) dengan metode yang sama, yaitu sebesar 68,22 %, namun lebih rendah jika dibandingkan dengan hasil penelitian Cornelia dkk., (2013), yaitu sebesar 83,92%. Perbedaan kadar pati yang diperoleh ini dapat dipengaruhi oleh tingkat kemurnian pada saat proses ekstraksi pati, dimana semakin banyak campuran dalam serbuk pati yang diperoleh, seperti serat, pasir/kotoran yang terikut, maka semakin rendah kadar patinya per satuan massa [63].

4.1.2 Kadar Amilosa dan Amilopektin

(55)

mekanik film yang dihasilkan. Dari pengujian dengan menggunakan sampel pati biji durian sebanyak 100 mg diperoleh hasil kadar amilosa dan amilopektin adalah sebesar 22,3365% dan 54,3165%. Nilai amilosa ini mendekati kadar amilosa pati biji durian yang dihasilkan oleh penelitian Jufri dkk., (2006) dengan menggunakan metode yang sama, yaitu sebesar 26,607%. Dibandingkan amilopektin, amilosa adalah fraksi yang lebih berperan dalam pembentukan gel serta dapat menghasilkan lapisan tipis (film) yang lebih kompak [64]. Namun dengan meningkatnya kekompakan dari struktur plastik maka dapat menyebabkan sifat elongation plastik menurun. Menurut hasil penelitian Yulianti dan Erliani (2012), dari beberapa jenis sumber pati yaitu ubi kayu, ganyong, ubi jalar dan garut, nilai kadar amilosa tertinggi terdapat pada pati ganyong, yaitu 42,7% berat kering, dimana edible film yang dihasilkan dari pati ganyong tersebut menunjukkan nilai pemanjangan yang lebih rendah.

Rasio amilosa : amilopektin pada biji durian sudah hampir sama dengan pati sukun sebagai bahan baku pembuatan bioplastik pada penelitian Setiani dkk., (2013) yaitu 26,76 : 73,24, dimana pada formula pati-kitosan 6 : 4 dapat menghasilkan bioplastik dengan kekuatan tarik terbesar 16,34 MPa yang memenuhi nilai kekuatan tarik standar plastik biodegradable sebesar 10-100 MPa. Maka pati biji durian sudah sesuai untuk dijadikan bahan baku pembuatan bioplastik.

4.1.3 Kadar Air

(56)

pangan [93]. Makin tinggi kadar air suatu bahan maka makin besar pula kemungkinan bahan tersebut rusak atau tidak tahan lama. Proses pengeringan sangat berpengaruh terhadap kadar air yang dihasilkan. Pengeringan pada pati mempunyai tujuan untuk mengurangi kadar air sehingga pertumbuhan mikroba dan aktivitas enzim penyebab kerusakan pada pati dapat dihambat (Batas kadar air minimum dimana mikroba masih dapat tumbuh adalah 14 – 15 % [66].

4.1.4 Kadar Abu

Kadar abu menunjukan kandungan mineral suatu bahan pangan. Tujuan dari analisis kadar abu adalah untuk menetapkan persentase kandungan abu yang terdapat per satuan massa serbuk pati yang diperoleh dari hasil ekstraksi biji durian. Dari pengujian dengan menggunakan sampel pati biji durian sebanyak 20% diperoleh hasil kadar abu sebesar 0,51%, nilai ini dua kali lipat lebih besar dari kadar abu pati biji durian berdasarkan hasil penelitian Cornelia dkk., (2013) dengan menggunakan metode yang sama, yaitu sebesar 0,25%. Berdasarkan standar mutu pati menurut standar industri Indonesia, kadar abu yang diizinkan adalah maksimal 1,5%. Abu didefinisikan sebagai residu yang tertinggal setelah suatu bahan pangan dibakar hingga bebas karbon. Semakin besar kadar abu suatu bahan pangan menunjukan semakin tinggi kandungan mineral bahan pangan tersebut [71]. Jika dibandingkan dengan kadar abu pati menurut standar industri Indonesia, kadar abu pati biji durian telah memenuhi standar.

4.1.5 Kadar Lemak

(57)

granula sehingga berbentuk lapisan lemak yang bersifat hidrofobik di sekeliling granula. Lapisan lemak tersebut akan menghambat pengikatan air oleh granula pati. Hal ini menyebabkan kekentalan dan kelekatan pati berkurang akibat jumlah air berkurang untuk terjadinya pengembangan granula pati [70].

4.1.6 Kadar Protein

Analisis kadar protein dapat menunjukkan kadar nitrogen yang terdapat pada pati (Chandra, dkk., 2013). Tujuan dari analisis kadar protein adalah untuk menetapkan persentase kandungan protein yang terdapat per satuan massa serbuk pati yang diperoleh dari hasil ekstraksi biji durian. Dari pengujian dengan menggunakan sampel pati biji durian sebanyak 0,510% diperoleh hasil kadar protein sebesar 11,61%. Kadar protein pada pati biji durian cukup besar, hal ini dapat menyebabkan viskositas pati menurun, dimana hal ini kurang diharapkan dalam penggunaan pati sebagai thickening agents [94]. Dalam pembuatan bioplastik, berdasarkan penelitian Cornelia dkk., (2013), kadar protein pati biji durian sebesar 4,76% dapat menyebabkan terjadinya reaksi pencoklatan sehingga bioplastik yang terbuat dari pati biji durian berwarna tidak jernih.

4.2 HASIL ANALISIS FT-IR (FOURIER TRANSFORM INFRA RED)

Analisis gugus fungsi dari pati biji durian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui gugus-gugus penyusun struktur molekul dari pati biji durian yang diperoleh dari hasil penelitian. Analisis gugus fungsi ini dilakukan dengan menggunakan FT-IR. FT-IR adalah salah satu teknik indentifikasi struktur baik untuk senyawa organik maupun senyawa anorganik. Analisis ini merupakan metoda semi empirik dimana kombinasi pita serapan yang khas dapat diperoleh untuk menentukan struktur senyawa yang terdapat dalam suatu bahan [95].

4.2.1Hasil Analisis FT-IR Pati Biji Durian

(58)

Gambar 4.2 Hasil Analisis FT-IR Pati Biji Durian

(59)

Gambar 4.3 Struktur Molekul Pati

Selanjutnya dari hasil pengamatan FT-IR pati biji durian terdapat adanya gugus amina C-N yang mengindikasi adanya senyawa protein. Protein merupakan polimer dari monomer asam amino. Gambar 4.4 merupakan rumus struktur dari asam amino [78], dapat dilihat pada struktur asam amino tersebut terdapat gugus amina C-N, dimana dari hasil FT-IR gugus amina C-N terindikasi dengan adanya puncak serapan pada bilangan gelombang 1242,16 cm-1 dan 1338,60 cm-1.

Gambar 4.4 Struktur Molekul Asam Amino

Dari analisis FT-IR pati biji durian juga terdapat serapan yang menunjukkan adanya gugus C-O ester. Gugus ester dapat berasal dari senyawa lemak. Hidrolisis lemak menghasilkan asam lemak, dimana asam lemak merupakan senyawa asam karboksilat. Gambar 4.5 merupakan rumus struktur lemak dan asam lemak [92], dimana dapat dilihat lemak merupakan senyawa ester yang mengandung gugus C-O ester, dimana dari hasil FT-IR gugus C-C-O ester terindikasi dengan adanya puncak serapan pada bilangan gelombang 1080,14 cm-1 dan 1149,57 cm-1.

Gambar 4.5 Struktur Molekul Lemak CH2 OH

H

H

N C R H

C O

(60)

4.2.2Hasil Analisis FT-IR Pati Biji Durian, Kitosan, Bioplastik tanpa

Kitosan dan Sorbitol, dan Bioplastik dengan Kitosan dan Sorbitol

Gambar 4.6 berikut ini merupakan hasil FT-IR pati biji durian, kitosan, bioplastik tanpa kitosan dan sorbitol, serta bioplastik dengan kitosan dan sorbitol.

Gambar 4.6 Hasil Analisis FT-IR Pati Biji Durian, Kitosan, Bioplastik tanpa Kitosan dan Sorbitol serta Bioplastik dengan Kitosan dan Sorbitol Senyawa kitosan ditandai dengan adanya gugus fungsional yaitu gugus amino dan terdapat juga gugus hidroksil primer dan sekunder [96]. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil FT-IR kitosan pada Gambar 4.6, dimana keberadaan gugus amino C-N dan N-H terbaca pada bilangan gelombang 1311,59 cm-1 dan 1570,06 cm-1, serta adanya gugus hidroksil O-H pada puncak bilangan serapan 3452,58 cm-1. Dari hasil FT-IR bioplastik dari pati biji durian tanpa kitosan dan sorbitol serta bioplastik dari pati biji durian dengan kitosan dan sorbitol dapat dilihat bahwa gugus-gugus yang terkandung di dalam kedua biolastik tersebut merupakan gugus-gugus yang berasal dari komponen penyusunnya dan tidak terdapat gugus baru yang terbentuk. Gugus-gugus tersebut meliputi gugus C-H aromatik, C-O ester, C=C alkena, C-H alkana dan O-H ikatan hidrogen yang berasal dari gugus pati dan kitosan. Seiring dengan bioplastik tanpa kitosan dan sorbitol, pada bioplastik dengan kitosan dan sorbitol juga tidak terdapat gugus C-N yang ada pada pati dan kitosan, hal ini dikarenakan gugus C-C-N yang diindikasi

0

(61)

berasal dari molekul protein mengalami pemutusan ikatan akibat denaturasi protein yang terjadi pada temperatur 55-75oC [97]. Namun berbeda dengan bioplastik tanpa kitosan dan sorbitol, pada bioplastik dengan kitosan dan sorbitol terdapat gugus N-H, hal ini dikarenakan gugus N-H berasal dari kitosan. Terjadi peningkatan bilangan gelombang gugus O-H dari pati ke bioplastik yaitu dari 3352,28 cm-1 menjadi 3653,18 cm-1, dan adanya peningkatan bilangan gelombang gugus N-H dari kitosan ke bioplastik yaitu dari 1570,06 cm-1 1589,34 cm-1. Peningkatan nilai bilangan gelombang gugus O-H dan N-H adalah akibat semakin banyaknya ikatan hidrogen yang terbentuk ketika komponen pati dan kitosan dicampurkan pada proses pembuatan bioplastik, dimana ikatan hidrogen tersebut terdiri dari ikatan di antara rantai amilosa-amilosa, amilosa-amilopektin, kitosan-kitosan serta amilosa-kitosan-kitosan-amilopektin.

4.3 HASIL ANALISIS RVA (RAPID VISCO ANALYZER)

Tujuan analisis RVA (Rapid Visco Analyzer) adalah untuk mengetahui profil gelatinisasi dari pati. Karakterisasi ini berkaitan dengan pengukuran viskositas pati dengan konsentrasi tertentu selama pemanasan dan pengadukan. Berikut ini ditampilkan hasil analisis RVA dari beberapa bahan, yaitu RVA pati biji durian, RVA bioplastik dengan penambahan asam aetat, pengisi kitosan dan

plasticizer sorbitol.

4.3.1 Hasil Analisis RVA Pati Biji Durian

(62)

Gambar 4.7 Profil Gelatinisasi Pati Biji Durian yang diukur dengan RVA Data-data hasil analisis profil gelatinisasi pati biji durian dari kurva RVA pada Gambar 4.7 di atas disajikan dalam tabel 4.2 di bawah ini, yaitu mencakup nilai pasting temperature, peak viscosity, hold viscosity, final viscosity,

breakdown, dan setback 1.

Tabel 4.2 Data Profil Gelatinisasi Pati Biji Durian

Parameter Hasil Analisis

Pasting temperature (oC) 75,21

Peak viscosity (cP) 2701

Hold viscosity (cP) 1704,5

Final viscosity (cP) 2522,5

Breakdown (cP) 996,5

Setback 1 (cP) 818

Pasting temperature adalah temperatur awal terjadinya gelatinisasi. Peak

viskosity adalah viskositas puncak pada saat pati tergelatinisasi [81]. Hold

viscosity adalah viskositas pada saat temperatur pemanasan larutan bioplastik

dipertahankan selama beberapa menit. Final viscosity atau viskositas akhir merupakan nilai viskositas pasta pati setelah tahap pendinginan. Breakdown adalah nilai yang diperoleh pada tahap holding yaitu suhu pemanasan dipertahankan untuk mengetahui tingkat kestabilan pasta pati pada saat proses pemanasan. Viskositas breakdown adalah selisih antara nilai peak viscosity dengan hold viscosity [83]. Viskositas setback 1 adalah perubahan nilai viskositas selama proses pendinginan yaitu selisih antara hold viscosity dengan final

Figur

Gambar 3.1 Flowchart Ekstraksi Pati

Gambar 3.1

Flowchart Ekstraksi Pati p.49
Gambar 3.2 Flowchart Pembuatan Bioplastik

Gambar 3.2

Flowchart Pembuatan Bioplastik p.51
Gambar 3.3 Flowchart Uji Kadar Abu Pati

Gambar 3.3

Flowchart Uji Kadar Abu Pati p.51
Gambar 3.5 Flowchart Uji Densitas Bioplastik

Gambar 3.5

Flowchart Uji Densitas Bioplastik p.52
Gambar 3.4 Flowchart Uji Penyerapan Air Bioplastik

Gambar 3.4

Flowchart Uji Penyerapan Air Bioplastik p.52
Gambar 4.1 (a) Biji Durian (b) Pati Biji Durian dengan Ukuran ±100 mesh

Gambar 4.1

(a) Biji Durian (b) Pati Biji Durian dengan Ukuran ±100 mesh p.53
Tabel 4.1 Komposisi Kimia Pati Biji Durian  *Standar Industri

Tabel 4.1

Komposisi Kimia Pati Biji Durian *Standar Industri p.54
Gambar 4.2 Hasil Analisis FT-IR Pati Biji Durian

Gambar 4.2

Hasil Analisis FT-IR Pati Biji Durian p.58
Gambar 4.3 Struktur Molekul Pati

Gambar 4.3

Struktur Molekul Pati p.59
Gambar 4.6 berikut ini merupakan hasil FT-IR pati biji durian, kitosan,

Gambar 4.6

berikut ini merupakan hasil FT-IR pati biji durian, kitosan, p.60
Tabel 4.2 Data Profil Gelatinisasi Pati Biji Durian

Tabel 4.2

Data Profil Gelatinisasi Pati Biji Durian p.62
Gambar 4.7 Profil Gelatinisasi Pati Biji Durian yang diukur dengan RVA

Gambar 4.7

Profil Gelatinisasi Pati Biji Durian yang diukur dengan RVA p.62
Gambar 4.8 Profil Gelatinisasi Larutan Bioplastik dari Pati Biji Durian dengan Penambahan  Asam Asetat, Pengisi Kitosan dan Plasticizer Sorbitol yang diukur dengan RVA

Gambar 4.8

Profil Gelatinisasi Larutan Bioplastik dari Pati Biji Durian dengan Penambahan Asam Asetat, Pengisi Kitosan dan Plasticizer Sorbitol yang diukur dengan RVA p.65
Tabel 4.3 Data Profil Gelatinisasi Larutan Bioplastik dari Pati Biji Durian dengan Penambahan  Asam Asetat, Pengisi Kitosan dan Plasticizer Parameter Hasil Analisis

Tabel 4.3

Data Profil Gelatinisasi Larutan Bioplastik dari Pati Biji Durian dengan Penambahan Asam Asetat, Pengisi Kitosan dan Plasticizer Parameter Hasil Analisis p.65
Gambar 4.9 Pengaruh Penambahan Kitosan dan Sorbitol terhadap Densitas Bioplastik  pada Temperatur Pemanasan Larutan Bioplastik (a) 70°C (b) 80°C (c) 90°C

Gambar 4.9

Pengaruh Penambahan Kitosan dan Sorbitol terhadap Densitas Bioplastik pada Temperatur Pemanasan Larutan Bioplastik (a) 70°C (b) 80°C (c) 90°C p.67
Gambar 4.10 Pengaruh Penambahan Kitosan dan Sorbitol terhadap Penyerapan Air Bioplastik  pada Temperatur Pemanasan Larutan Bioplastik (a) 70°C (b) 80°C (c) 90°C

Gambar 4.10

Pengaruh Penambahan Kitosan dan Sorbitol terhadap Penyerapan Air Bioplastik pada Temperatur Pemanasan Larutan Bioplastik (a) 70°C (b) 80°C (c) 90°C p.69
Gambar 4.11 Pengaruh Penambahan Kitosan dan Sorbitol terhadap Kekuatan Tarik Bioplastik  pada Temperatur Pemanasan Larutan Bioplastik (a) 70°C (b) 80°C (c) 90°C

Gambar 4.11

Pengaruh Penambahan Kitosan dan Sorbitol terhadap Kekuatan Tarik Bioplastik pada Temperatur Pemanasan Larutan Bioplastik (a) 70°C (b) 80°C (c) 90°C p.71
Gambar 4.12  Usulan Interaksi Hidrogen pada Molekul-Molekul Amilosa, Amilopektin, Kitosan dan Sorbitol dalam Bioplastik

Gambar 4.12

Usulan Interaksi Hidrogen pada Molekul-Molekul Amilosa, Amilopektin, Kitosan dan Sorbitol dalam Bioplastik p.73
Gambar 4.13 Pengaruh Penambahan Kitosan dan Sorbitol Terhadap Pemanjangan pada saat Putus Bioplastik  pada Temperatur Pemanasan (a) 70°C  (b) 80°C  (d) 90°C

Gambar 4.13

Pengaruh Penambahan Kitosan dan Sorbitol Terhadap Pemanjangan pada saat Putus Bioplastik pada Temperatur Pemanasan (a) 70°C (b) 80°C (d) 90°C p.75
Gambar 4.14 (a), (b) dan (c) berikut ini merupakan grafik pengaruh

Gambar 4.14

(a), (b) dan (c) berikut ini merupakan grafik pengaruh p.78
Gambar  4.21 Hasil SEM Pati Biji Durian dengan Perbesaran 10.000 kali

Gambar 4.21

Hasil SEM Pati Biji Durian dengan Perbesaran 10.000 kali p.80
Gambar  4.22 Analisis SEM Sampel Patahan Bioplastik dari Pati Biji Durian (a)  Bioplastik tanpa Pengisi Kitosan dan Plasticizer Sorbitol dengan

Gambar 4.22

Analisis SEM Sampel Patahan Bioplastik dari Pati Biji Durian (a) Bioplastik tanpa Pengisi Kitosan dan Plasticizer Sorbitol dengan p.81
Gambar 2.1 Struktur Molekul Amilosa dan Amilopektin [19]

Gambar 2.1

Struktur Molekul Amilosa dan Amilopektin [19] p.91
Tabel 2.1 Kandungan Nutrisi Biji Durian [12]

Tabel 2.1

Kandungan Nutrisi Biji Durian [12] p.96
Gambar 2.2 Reaksi Deasetilasi Kitin Dengan Basa Kuat Menjadi Kitosan [50]

Gambar 2.2

Reaksi Deasetilasi Kitin Dengan Basa Kuat Menjadi Kitosan [50] p.97
Gambar 2.3 Struktur Molekul Sorbitol [58]

Gambar 2.3

Struktur Molekul Sorbitol [58] p.99
Gambar 2.1 Struktur Molekul Amilosa dan Amilopektin

Gambar 2.1

Struktur Molekul Amilosa dan Amilopektin p.130
Gambar 4.10

Gambar 4.10

p.131
Gambar C.1 Pati Biji Durian

Gambar C.1

Pati Biji Durian p.132
Tabel 2.1 Kandungan Nutrisi Biji Durian

Tabel 2.1

Kandungan Nutrisi Biji Durian p.133

Referensi

Memperbarui...

Lainnya : Pengaruh Penambahan Kitosan dan Plasticizer Sorbitol terhadap Sifat Fisiko-Kimia Bioplastik dari Pati Biji Durian (Durio zibethinus) Ekstraksi Pati Pembuatan Bioplastik Prosedur Analisis Kadar Pati [84] Prosedur Analisis Kadar Amilosa [84] Prosedur Analisis Kadar Amilopektin Prosedur Analisis Kadar Air [85] Prosedur Analisis Kadar Abu [86] Prosedur Analisis Kadar Lemak [85] Prosedur Analisis Kadar Protein [85] Prosedur Uji Kekuatan Tarik [87] Prosedur Uji Perpanjangan pada saat Putus [87] Prosedur Uji Modulus Young Prosedur Uji Penyerapan Air [88] Prosedur Uji Densitas [89] Prosedur Analisis Gugus Fungsi Bioplastik dengan FT-IR Fourier Transform Infrared Flowchart Pembuatan Bioplastik Flowchart Uji Kadar Abu Pati Flowchart Uji Penyerapan Air Bioplastik Flowchart Uji Densitas Bioplastik Kadar Pati Kadar Amilosa dan Amilopektin Kadar Air Kadar Abu Kadar Lemak Kadar Protein Hasil Analisis FT-IR Pati Biji Durian Hasil Analisis RVA Pati Biji Durian LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN BAHAN DAN PERALATAN .1 Bahan PENGARUH PENAMBAHAN PENGARUH PENAMBAHAN Pengaruh Penambahan Kitosan dan Plasticizer Sorbitol terhadap Sifat Fisiko-Kimia Bioplastik dari Pati Biji Durian (Durio zibethinus) HASIL ANALISIS MORFOLOGI PERMUKAAN DENGAN SEM KESIMPULAN Pengaruh Penambahan Kitosan dan Plasticizer Sorbitol terhadap Sifat Fisiko-Kimia Bioplastik dari Pati Biji Durian (Durio zibethinus) Biofilm Film Bioplastik BIOPLASTIK SARAN BIJI DURIAN Pengaruh Penambahan Kitosan dan Plasticizer Sorbitol terhadap Sifat Fisiko-Kimia Bioplastik dari Pati Biji Durian (Durio zibethinus) KITOSAN Pengaruh Penambahan Kitosan dan Plasticizer Sorbitol terhadap Sifat Fisiko-Kimia Bioplastik dari Pati Biji Durian (Durio zibethinus) SORBITOL Pengaruh Penambahan Kitosan dan Plasticizer Sorbitol terhadap Sifat Fisiko-Kimia Bioplastik dari Pati Biji Durian (Durio zibethinus) Analisis Kadar Pati Analisis Kadar Air Analisis Kadar Abu Analisis Kadar Lemak Uji Kekuatan Tarik Uji Pemanjangan pada saat Putus Uji Modulus Young Uji PenyerapanAir Uji Densitas Analisis FT-IR Fourier Transform Infrared Analisis SEM Scanning Electron Microscopy Analisis RVA Rapid Visco Analyzer LATAR BELAKANG Pengaruh Penambahan Kitosan dan Plasticizer Sorbitol terhadap Sifat Fisiko-Kimia Bioplastik dari Pati Biji Durian (Durio zibethinus) PERUMUSAN MASALAH TUJUAN PENELITIAN MANFAAT PENELITIAN