• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis diksi pada bab nikah buku terjemahan kitab fat al-qarib

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis diksi pada bab nikah buku terjemahan kitab fat al-qarib"

Copied!
64
0
0

Teks penuh

(1)

Disusun oleh: Novitasari Rahayu

106024000942

JURUSAN TARJAMAH

FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

2

Disusun oleh: Novitasari Rahayu

106024000942

Dibawah Bimbingan

Moch. Syarif Hidayatullah, M. Hum 197912292005011004

JURUSAN TARJAMAH

FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(3)
(4)

4

Nama : Novitasari Rahayu

NIM : 106024000942

Jurusan : Tarjamah

Fakultas : Adab dan Humaniora Dengan ini menyatakan bahwa :

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata satu di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berupa pencabutan gelar.

Jakarta, 03 Nopember 2011 Penulis

(5)

5 Nikah Buku Terjemahan Kitab Fath al-Qarib. Jurusan Tarjamah, Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011.

Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui model terjemahan yang digunakan penerjemah kitab Fath al-Qarib, dan (2) mengetahui ketepatan penerjemah memilih diksi yang sesuai dengan Bahasa Sumbernya. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif dengan mengumpulkan berbagai data dari beberapa literatur yang berhubungan erat dengan masalah yang diteliti. Sedangkan penelitian ini difokuskan hanya pada penggunaan kata bersinonim, penggunaan kata umum dan khusus, penggunaan kata abstrak dan konkrit, analisis ketepatan pilihan kata dan analisis kesesuaian pilihan kata. Penelitian ini juga hanya dibatasi pada bab Nikah saja yaitu pada buku terjemahan kitab Fath al-Qarib karya Imron Abu Amar.

Temuan penelitian sebagai berikut. adanya penggunaan kata yang tidak baku, adanya ketidaktepatan diksi, adanya penggunaan istilah asing, dan adanya kalimat yang tidak lengkap.

(6)

6 semesta alam yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang telah memberikan

segala nikmat iman dan Islam, karena atas kehendak dan kuasanyalah, penulis

dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Diksi Pada Bab Nikah

Buku Terjemahan Kitab Fath al-Qarib”. Shalawat dan salam tidak lupa penulis panjatkan kepada kekasih Allah Nabi Muhammad SAW, suri tauladan dalam

aktivitas kehidupan, serta kepada para keluarga dan sahabatnya.

Dengan penuh kesadaran penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari

kesempurnaan dan tidak akan selesai tanpa dukungan dan bantuan dari berbagai

pihak baik moril maupun materil.

Karena itu, dari lubuk hati yang paling dalam penulis mengucapkan terima

kasih yang tak terhingga untuk segenap pihak yang telah membantu

menyelesaikan skripsi ini. Sebagai rasa syukur penulis mengucapkan terima kasih

sedalam-dalamnya kepada:

1. Prof. Dr. Komarudin Hidayat, M.A selaku Rektor UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta.

2. Dr. H. Abd. Wahid Hasyim, M.Ag selaku Dekan Fakultas Adan dan

Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Bapak Dr. Akhmad Syaehudin selaku Ketua Jurusan Tarjamah Adab dan

(7)

7 sebagai dosen pembimbing yang telah sabar membimbing, memberikan

waktu luang, tenaga dan pikiran untuk memberikan ilmu dan bimbingan

serta pengarahan kepada penulis selama penyusunan skripsi hingga skripsi

ini dapat terselesaikan.

5. Bapak Drs. H. Ikhwan Azizi, M.Ag selaku Penguji skripsi ini, yang telah

banyak memberikan masukan dan saran kepada penulis.

6. Seluruh Dosen Jurusan Tarjamah Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu, yang

telah banyak memberikan ilmu dan pembelajaran kepada penulis.

7. Pimpinan dan seluruh Staf Karyawan Perpustakaan Utama dan

Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta yang telah menyediakan fasilitas berupa sumber-sumber yang

berkaitan dengan skripsi penulis.

8. Ayahku Nimung Miang dan Ibuku Tati Haryati. Terima kasih atas segala

kasih sayang, perhatian, pengertian dan motivasinya baik moril maupun

materil yang sangat berperan dalam hidup, semoga Bapak dan Mama selalu

diberikan kesehatan, kebahagian dan umur panjang sehingga ananda

diberikan kesempatan untuk menunjukkan besarnya cinta ananda kepada

kalian. Kepada adikku, Nurabdillah, Ayah Aang dan Mama Aang, Papa

(8)

8 9. Untuk Bidadari kecilku mutiara Hatiku Syafa Humaira, yang selalu

menghibur Bunda dan memberikan semangat baru dalam menjalani

hari-hari yang paling berat, dan untuk seseorang yang sangat berarti dalam hidup

Penulis My Beh, yang telah membangunkan penulis dari keterpurukan dan

selalu memberikan Motivasi, dukungan, kasih sayang yang tiada habisnya.

10. Teman-teman seangkatan Jurusan Tarjamah tetehku teman terbaikku Suti

Indrawati terima kasih atas segalanya, Melly, Wulan, Iyum, Nubzah, Fufu,

yuyun, dan yang lainnya yang tidak mungkin disebutkan satu persatu.

Terima kasih atas kerjasamanya selama 4 tahun lebih ini kita saling

mengenal, berbagi dan menjalin persahabatan bahkan persauadaraan.

Mengakhiri kata pengantar ini, atas semua bantuan yang telah diberikan,

penulis hanya dapat memanjatkan Do‟a kepada Allah SWT semoga kebaikan

yang telah diberikan dapat bernilai ibadah dan dibalas oleh Allah SWT.

Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat untuk para

pembaca semua, Amin.

Jakarta, 08 Desember 2011

Penulis,

(9)

9 Dalam skripsi ini, sebagian data berbahasa Arab ditransliterasikan ke dalam huruf latin. Transliterasi ini berdasarkan Pedoman Transliterasi Arab-Latin dalam Buku “Pedoman Penulisan Karya Ilmiah” CeQDA UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

1. Padanan Aksara

Huruf Arab Huruf Latin Huruf Arab Huruf Latin

ا T

B ظ Z

T ع „

ث Ts Gh

ج J ف F

H ق Q

خ Kh K

د D ل L

Dz م M

ر R ن N

Z و W

س S ة H

ش Sy ء `

ص S ي Y

ض D

2. Vokal

Vokal dalam bahasa Arab, seperti vokal bahasa Indonesia, terdiri dari vokal tunggal atau monoftong dan vokal rangkap atau diftong.

A. Vokal tunggal

Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan

(10)

10

B. Vokal rangkap

Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan

---ي ai a dan i

---و au a dan u

C. Vokal Panjang

Ketentuan alih aksara vokal panjang (madd), yang dalam bahasa Arab dilambangkan dengan harakat dan huruf, yaitu :

Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan

ي/ا---- â a dengan topi di atas

----ي î i dengan topi di atas

---و û u dengan topi di atas

3. Kata Sandang

Kata sandang, yang dalam sistem aksara Arab dilambangkan dengan huruf, yaitu لا , dialihaksarakan menjadi huruf /l/, baik diikuti huruf

syamsiyyah maupun huruf qamariyyah. Contoh : al-rijâl bukan ar- rijâl, al-dîwân bukan ad- dîwân.

4. Syaddah (Tasydîd)

Syaddah atau Tasydîd yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan sebuah tanda--- dalam alih aksara ini dilambangkan dengan huruf, yaitu dengan menggandakan huruf yang diberi tanda syaddah

itu. Akan tetapi, hal ini tidak berlaku jika huruf yang menerima tanda

syaddah itu terletak setelah kata sandang yang diikuti oleh huruf-huruf

syamsiyyah. Misalnya, kata ةرو لا tidak ditulis ad-darûrah melainkan

(11)

11 huruf tersebut dialihaksarakan menjadi huruf /h/ (contoh no.1). hal yang sama juga berlaku, jika Ta Marbûtah tersebut diikuti oleh (na‟t) atau kata sifat (contoh no.2). namun jika huruf Ta Marbûtah tersebut diikuti kata benda (ism), maka huruf tersebut dialihaksarakan menjadi huruf /t/ (contoh no.3)

No. Kata Arab Alih Aksara

1 ي ط Tarîqah

2 يماسإا م لا al-jâmi’ah al-islâmiyah

3 دوجولا ة حو wihdat al-wujûd

6. Huruf kapital

Mengikuti EYD bahasa Indonesia. Untuk proper name (nama diri, nama tempat, dan sebagainya), seperti al-Kindi bukan Al-Kindi (untuk huruf

(12)

x

LEMBAR PERNYATAAN ... II ABSTRAK ... III KATA PENGANTAR ... IV PEDOMAN TRANSLITERASI ... VII DAFTAR ISI... X

BAB I PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 5

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6

D. Tinjauan Pustaka ... 6

E. Metode Penelitian ... 7

F. Sistematika Penulisan ... 7

BAB II KERANGKA TEORI ... 9

A. Penerjemahan ... 9

1. Definisi Penerjemahan ... 9

2. Syarat dan Etika Penerjemahan ... 10

3. Proses Penerjemahan ... 12

4. Langkah Penerjemahan ... 15

5. Metode Penerjemahan ... 16

a. Penerjemahan Kata Demi Kata ... 16

b. Penerjemahan Harfiyah ... 17

c. Penerjemahan Setia ... 18

d. Penerjemahan Semantis ... 19

e. Penerjemahan Bebas ... 19

f. Penerjemahan Adaftasi ... 20

(13)

xi

1. Definisi Diksi ... 22

2. Masakah Pilihan Kata Dalam Penerjemahan ... 23

3. Piranti Diksi ... 24

a. Penggunaan Kata Bersinonim ... 24

b. Penggunaan Kata Umum dan Khusus ... 25

c. Penggunaan Kata Abstrak dan Konkrit ... 26

4. Ketepatan Pilihan Kata ... 27

a. Persoalan Ketepatan Pilihan Kata ... 27

b. Persyaratan Ketepatan Pilihan Kata ... 28

5. Kesesuaian Pilihan Kata ... 30

a. Persoalan Kesesuaian Pilihan Kata ... 30

b. Persyaratan Kesesuaian Pilihan Kata ... 31

BAB III SEPUTAR FATH AL-QARIB, BIOGRAFI SINGKAT DAN SEJUMLAH KARYA PENULIS DAN PENERJEMAH ... 33

a. Seputar Fath al-Qarib ... 33

b. Biografi Penulis Kitab Taqrib ... 34

c. Biografi Penulis Kitab Fath al-Qarib ... 35

d. Biografi Penerjemah ... 36

BAB IV ANALISIS DIKSI DALAM TERJEMAHAN KITAB FATH AL-QARIB ... 37

A. Analisis Piranti Diksi ... 37

1. Penggunaan Kata Bersinonim ... 37

2. Penggunaan Kata Umum dan Khusus ... 38

3. Penggunaan Kata Abstrak dan Konkrit... 40

B. Analisis Ketepatan Pilihan Kata ... 40

C. Analisis Kesesuaian Pilihan Kata ... 44

BAB V PENUTUP ... 48

A. Kesimpulan ... 48

(14)

1

A. Latar Belakang

Sebagian besar aktivitas penerjemahan terhadap al-qur‟an dan kitab-kitab

berbahasa arab lainnya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, baik

itu di pondok-pondok pesantren, majelis ta‟lim, dan berbagai tempat

pendidikan agama, masih mengutamakan penerjemahan kata perkata.

Aktivitas ini pada umumnya terjadi di pesantren-pesantren salaf, tentunya

yang diterjemahkan adalah kitab-kitab Fiqh, Tasawuf, Tauhid, Tarikh, dan

lain-lain.

Contoh kecilnya seperti meletakan fi‟l dan fa‟l, kebanyakan kata fi‟l diletakan sebagai subjek sedangkan fa‟il sebagai predikat. Sebagaimana kitab

fath al-Qarib yang diterjemahkan oleh Drs. Imron Abu Amar, beliau

menerjemahkan kitab ini bukan dengan cara mengalihkan pesan bahasa

sumber ke dalam bahasa sasaran, tetapi mengalihkan bahasa satu ke bahasa

lain dengan kata perkata, sehingga dengan cara itu menjadikan para santri

melupakan struktur, susunan kata, dan penggunaan kalimat bahasa indonesia

dengan baik.

Pada dasarnya, kitab-kitab klasik atau kitab kuning, banyak mempunyai

ciri khusus, misalnya saja dalam penulisannya. Penulisan kitab kuning tidak

mengenal tanda baca seperti koma, titik, tanda tanya, tanda seru, dan

(15)

formatnya yang terdiri dari 2 bagian yaitu matan dan syarah. Matan selalu

diletakan dibagian pinngir sebelah kanan dan kiri, sedangkan syarah

(penjelasan) selalu diletakan di bagian tengah setiap halaman. Pergeseran sub

topik dalam kitab kuning tidak menggunakan alinea baru, tetapi dengan

pasal-pasal atau kode.

Dewasa ini, kitab-kitab klasik seperti kitab fiqh yang telah diterjemahan

ke dalam bahasa Indonesia telah banyak beredar, dan tidak sedikit dari

kitab-kitab itu yang dicetak ulang beberapa kali, seperti kitab-kitab Fiqh as-Sunah karya

Sayyid Sabiq yang sangat terkenal, hal ini menandakan bahwa karya-karya

terjemahan sangat diminati dan dibutuhkan oleh masyarakat.

Pada proses penerjemahan, kita sering menemui beberapa kesulitan

dalam mengartikan kata dari bahasa sumber (BSu) ke bahasa sasaran (BSa).

Pada dasarnya, penerjemahan adalah proses linguistik yang saripatinya

terangkum dalam upaya mencari padanan kata satu bahasa dengan

kata-kata pada bahasa lain. Usaha menerjemahkan itu pada hakekatnya

mengandung makna mereproduksi amanat atau pesan di dalam bahasa sumber

dengan padanannya yang paling wajar dan paling dekat di dalam bahasa

penerima, baik dari urusan arti maupun dari urusan langgam atau gaya.1

Rochayah Machali dalam bukunya berpendapat bahwa penerjemahan itu

merupakan suatu tindakan komunikasi. Kegiatan tersebut tidak terlepas dari

bahasa. Dengan demikian, penerjemahan merupakan kegiatan yang

melibatkan bahasa, dan dalam pembahasannya tidak dapat mengabaikan

1

(16)

pemahaman tentang konsep-konsep kebahasaan itu sendiri.2

Untuk menajamkan kepekaan dalam menyelami bahasa sumber (BSu)

dan kepiawaian mengalihkannya ke dalam bahasa sasaran (BSa), seorang

penerjemah harus memiliki pengetahuan terkait dengan unsur Linguistik dan

unsur Non-Linguistik dalam penerjemahan. Unsur linguistik berkaitan dengan

aspek kebahasaan dalam penerjemahan, sementara unsur non-lingustik

berkaitan dengan aspek di luar bahasa yang diperlukan pada saat

menerjemahkan. Unsur linguistik dalam penerjemahan di antaranya adalah

makna kamus, makna morfologis, makna sintaksis, dan makna retoris. 3

Permasalahannya adalah ketika penerjemah menemukan teks yang sulit

mencarikan padanan kata yang tepat untuk diterjemahkan. Pemilihan kata

dalam linguistik disebut diksi. Diksi adalah pilihan kata yang tepat dan selaras

untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang

diharapkan).4 Menurut Groys Keraf, ” pilihan kata adalah atau diksi adalah

kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna sesuai dengan

gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk

yang sesuai dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat

pendengar pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh

penguasaan kosa kata bahasa itu.

Diksi bisa diartikan pilihan kata pengarang untuk menggambarkan cerita

mereka. Diksi bukan hanya pilih memilih kata. Istilah diksi bukan hanya

2

Rochayah , Machali, Pedoman Bagi Penerjemah, (Jakarta: Grasindo, 2000), h. 17

3

Moch. Syarif Hidayatullah, Tarjim Al-„An: Cara Mudah Menerjemahkan Arab-Indonesia (Tangerang: Penerbit Dikara, 2009), cet. 3, h. 17

4

(17)

digunakan untuk menyatakan gagasan atau menceritakan peristiwa tetapi juga

meliputi persoalan gaya bahasa. Banyak penerjemah salah memilih diksi

seperti dalam hal memadankan sinonim, kesesuaian makna, bahkan

ketepatannya.

Contohnya seperti pada kalimat berikut:

ا سا ش ا غ

Diartikan:

“Adapun lafadz „Talak‟ menurut arti bahasa ialah „melepaskan tali‟.

Sedangkan menurut pengertian syarak ialah nama bagi suatu pelepasan

pernikahan”.

Terjemahan kata „lafadz‟ tidak tepat, karena terlalu menekankan pada

Bsu, padahal kata „lafadz‟ bisa diganti dengan „kata‟. Kemudian kata „menurut

pengertian syara‟, menurut penulis juga tidak sesuai, dalam kamus

al-Munawwir kata

ش

berarti „peraturan‟, „undang

-

undang‟, dan

„hukum‟.

kemudian kalimat berikutnya:

ا ا ا غ

ا ص ف

. غ

”Talak syarikh yaitu talak yang tidak mengandung selain talak itu

sendiri. Talak kinayah yaitu talak yang mengandung pula kepada selain

talak”.

Bila dilihat dari bahsa sumbernya, terjemahan di atas memang sudah

sesuai, tetapi bila dipahami dengan bahasa sasarannya akan mejadi sulit

(18)

Pilihan kata tidak hanya mempersoalkan ketepatan pemakaian kata,

tetapi juga mempersoalkan apakah kata yang dipilih sudah dapat diterima.

Sebuah kata yang tepat untuk menyatakan suatu maksud tertentu, belum tentu

dapat diterima oleh para publik atau orang yang kita ajak berbicara.

Masyarakat yang diikat oleh berbagai norma, menghendaki pula agar setiap

kata yang digunakan itu cocok atau serasi dengan norma-norma masyarakat

dan sesuai dengan sotuasi yang dihadapi.5

Beranjak dari masalah di atas, penulis merasa perlu mengangkat kajian

di atas sebagai analisis dalam penelitian kali ini. Dengan judul: ”ANALISIS

DIKSI PADA BAB NIKAH BUKU TERJEMAHAN FATH AL-QARIB”

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

Dalam penelitian ini, guna mempermudah proses penelitian, penulis

akan hanya membatasi pada Bab Nikah saja karena mengingat sangat

banyaknya bab dalam kitab Fath al-Qarib. Dengan melihat pembatasan

masalah tersebut, maka penulis merumuskan sebagai berikut:

1. Model terjemahan apa yang digunakan oleh penerjemah kitab Fath

al-Qarib?

2. Apakah pemilihan diksi yang dilakukan penerjemah ini sudah efektif

dalam menyampaikan pesan bahasa sumber?

5

(19)

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Berdasarkan masalah yang penulis kemukakan, maka yang menjadi

tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetaui bagaimana para

penerjemah terdahulu menerjemahkan kitab-kitab klasik.

Tujuan khususnya adalah:

1. Mengetahui model terjemahan yang digunakan penerjemah kitab Fath

al-Qarib.

2. Mengetahui ketepatan penerjemah memilih diksi yang sesuai dengan

Bahasa Sumbernya.

Manfaat dari hasil penelitian ini, bagi penulis untuk menambah

wawasan dan pengalaman khususnya dalam menerjemahkan kitab-kitab klasik

serta teks-teks lain. Sedangkan bagi jurusan Tarjamah, agar penelitian ini

menjadi bahan pertimbangan bagi para peneliti berikutnya.

D. Tinjauan Pustaka

Sejauh yang penulis teliti, ada beberapa skripsi yang sudah meneliti

tentang judul ini di antaranya, pada tahun 2004, oleh Euis Maemunah dengan

judul analisis diksi pada bab zakat buku terjemahan Fath al-Qarib, kemudian

Khairul Fajri (2006), dengan judul Analisis Diksi Pada Bab Haji Buku

Terjemahan Fath al-Qarib. Muhammad Hotib (2006) menganalisis diksi pada

bab Riba terjemahan buku Bulugh al-Maram”versi A. Hasan”, Rachmat Joeni

Akbar (2006) menganalisis diksi terhadap Alquran terjemahan Departemen

(20)

bab puasa buku terjemehan Fath al-Qarib, Ana Saraswati (2008) diksi dalam

terjemahan Studi Kritik Terjemahan Ar-Risalah al-Qusyairiyah Fi Ilmi

Al-Tasawuf, dan Asep Saepullah (2010) Ketepatan diksi dalam terjemahan kitab

Mukhtasar Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali.

E. Metode Penelitian

Dalam penelitian ini, metode yang digunakan penulis adalah metode

kualitatif dan analisis deskriptif, dengan mengumpulkan berbagai data dari

berbagai literatur yang berhubungan erat dengan masalah yang akan diteliti.

Serta berusaha untuk mengungkapkan masalah dan menggambarkan tentang

penerjemahan, serta menganalisisnya dalam kitab Fath al-Qarib.

Dalam penelitian ini penulis juga merujuk pada sumber-sumber sekunder

seperti buku-buku tentang pembentukan kata, tentang penerjemahan,

linguistik, internet, dan lain-lain.

Adapun teknis penulisan yang digunakan dalam penelitian ini,

berpedoman pada buku ‟Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan

Disertasi)‟ yang diterbitkan oleh UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2007.

F. Sistematika Penulisan

Untuk mensistematikan penelitian ini, langkah yang penulis tempuh

adalah sebagai berikut:

Pada bab pertama, pendahuluan yang mencakup; latar belakang masalah

(21)

BAB NIKAH BUKU TERJEMAHAN FATH AL_QARIB, pembatasan dan

perumusan masalah, tujuan penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian dan

teknik penulisan, dan sistematika penulisan.

Pada bab kedua, penulis meletakan kerangka teori yang berisi seputar

terjemahan, definisi terjemahan, proses penerjemahan, langkah penerjemahan,

metode penerjemahan. Serta gambaran umum tentang diksi, definisi diksi,

masalah pilihan kata dalam penerjemahan, piranti diksi, ketepatan dan

kesesuaian pilihan kata yang akan menjadi landasan teori bagi penelitian.

Pada bab ketiga, penulis menguraikan seputar kitab Fath al-Qarib,

biografi penulis dan penerjemah, serta karya-karyanya..

Pada bab empat, penulis menempatkan hasil penelitian yaitu tentang

analisis peranti-peranti diksi, analisis ketepatan pilihan kata, dan analisis

kesuaian pilihan kata pada penerjemahan kitab Fath al-Qarib.

Pada bab kelima, yaitu bab terakhir yang mencakup tentang penutup

(22)

9

A. Penerjemahan

1. Difinisi Penerjemahan

Penerjemahan adalah pengalihan makna dari bahasa sumber (BSu)

ke dalam bahasa sasaran (BSa). Menurut Larson (1984:3), pengalihan ini

dilakukan dari bentuk bahasa pertama ke dalam bentuk bahasa kedua

melalui struktur semantik yang dialihkan dan yang harus dipertahankan

adalah makna, sementara bentuk boleh berubah.

Dalam pengertian yang lebih luas, terjemahan dapat diartikan

semua kegiatan manusia dalam mengalihkan seperangkat informasi atau

pesan (massage) baik verbal maupun non-verbal dari informasi sumber

(source information) ke dalam informasi sasaran (target information).

Seorang teknisi yang sedang memesan instrumen tertentu, seperti apa yang

tertera di dalam skema pemasanganya adalah salah satu contoh kegiatan

atau proses penerjemahan. Seseorang yang sedang merumuskan

gagasan-gagasan yang ada pada benaknya ke dalam bahasa Matematika juga adalah

merupakan contoh penerjemahan. Dengan kata lain makna penerjemahan

dalam arti yang lebih luas dapat diartikan sebagai kegiatan manusia dalam

mengalihkan makna atau pesan, baik verbal maupun non-verbal, dari satu

bentuk ke dalam bentuk yang lain. Sedangkan dalam pengertian dan

cakupan yang lebih sempit, terjemah (translation) biasa diartikan sebagai

(23)

atau bahasa sumber (source laguage) dengan padanannya di dalam bahasa

kedua atau bahasa sasaran (target language)6.4

Usaha menerjemahkan itu pada hakekatnya mengandung makna

mereproduksi amanat atau pesan di dalam bahasa sumber dengan

padanannya yang paling wajar dan paling dekat di dalam bahasa penerima,

baik dari urusan arti maupun dari urusan langgam atau gaya7.

Banyak definisi yang diberikan oleh para ahli terkait penerjemahan.

Secara umum, definisi itu mengerucut pada definisi bahwa penerjemahan

adalah “proses memindahkan makna yang telah diungkapkan dalam

bahasa yang satu (bahasa sumber {Bsu}; source language [SL]; al-lughah

al-mutarjam minha) menjadi ekuivalen yang sedekat-dekatnya dan

sewajar-wajarnya dalam bahasa lain (bahasa sasaran [Bsa]; target

language {TL}; al-lughah al-mutarjam ilaiha).” Jadi, secara singkat dapat

dikatakan bahwa penerjemahan adalah pemindahan pesan teks BSu ke

BSa, bukan pemindahan strutur BSu ke BSa.

2. Syarat dan Etika Penerjemah

Untuk menjadi penerjemah yang baik, menurut Moch. Syarif

Hidayatullah dalam bukunya Diktat Teori dan Permasalahan Terjemah,

seorang penerjemah harus membekali diri dengan syarat-syarat berikut:

a. Penerjemah harus menguasai BSa dan BSu. Penguasaan BSa dan BSu

di mulai dari perbendaharaan kosa kata, pola pembentuk kata, dan

6

Suhendra Yusuf, Teori Terjemah, Pengantar Ke Arah Pendekatan Linguistik dan Sosiolinguistik, (Bandung : mandar maju, 1994), cet-1, h 8

7

(24)

aspek pemaknaan pada masing-masing bahasa.penerjemah yang

mengandalkan kemampuannya dalam BSu, tanpa mendalami BSa,

akan menghasilkan karya terjemahan yang terasa asing.

b. Penerjemah harus memahami dengan baik isi teks yang akan

diterjemahkan.

c. Penerjemah harus mampu mengalihkan idea tau pesan yang terdapat

pada BSu.

d. Penerjemah harus terbiasa teliti dan cermat.

e. Penerjemah harus mempunyai pengalaman dalam menafsirkan sesuatu.

f. Penerjemah harus terbiasa berkomunikasi dengan penasehat ahli.

g. Penerjemah harus benar-benar orang yang menguasai topic yang

hendak diterjemahkan.

h. Penerjemah harus mampu menampilkan teks dalam BSa seperti teks

BSu.

i. Penerjemah harus mengetahui dengan baik karakteristik penulis.8

Selain syarat-syarat di atas, penerjemah juga harus memahami etika

teks tertulis, berikut beberapa etika tersebut:

a. Tidak menerima naskah teks sumber yang tidak dikuasainya.

b. Menginformasikan hal-hal yang mungkin nengundang pro-kontra atau

hal-hal yang tidak secara pasti diketahuinya kepada penyunting.

c. Memiliki pikiran terbuka terhadap pendapat baru yang bertentangan

dengan pendapat umum.

8

(25)

d. Tidak memenangkan pendapatnya sendiri, golongan, atau penulis yang

disenangi.

e. Merahasiakan informasi dalam naskah agar tidak disadap orang.

f. Disiplin dan tepat waktu.

g. Mengelola naskah hingga yang siap disunting oleh penyunting,

minimal dari segi bahasa.

h. Tidak mengatasnamakan hasil terjemahan orang lain sebagai hasil

penerjemah sendiri.

i. Harus bertanggung jawab secara moral dan akademik atas hasil

terjemahannya.

j. Dituntut untuk terus meningkatkan kualitas keilmuan, keahlian, dan

wawasan, sehingga hasil terjemahannya bisa dipertanggungjawabkan.

k. Harus berorientasi terhadap kualitas, bukan kuantitas.

l. Berusaha mendapat izin atas naskah yang akan diterjemahkan dari

penerbit naskah teks sumber.9

3. Proses Penerjemahan

Untuk menghasilkan pesan teks Bsa yang sesuai dengan pesan yang

terdapat pada teks Bsu, seorang penerjemah harus memperhatikan proses

penerjemahan yang dirumuskan dalam bagan berikut :

9

(26)

Bagan 1. Proses penerjemahan10

Proses penerjemahan yang harus dilalui setidaknya ada 11 proses,

mulai dari struktur luar Bsu, sehingga menjadi struktur luar bahasa Bsa,

dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Struktur luar Bsu berarti teks masih berupa teks sumber (Tsu), belum

mengalami proses apa pun.

b. Pemahaman leksikal Tsu mengharuskan penerjemah memiliki

kepekaan leksikal, sehingga seorang penerjemah bisa memahami

makna kosakata yang terlihat pada Tsu.

c. Pemahaman morfologis Tsu mengharuskan penerjemah memahami bentuk morfologis kosakata Tsu, sehingga penerjemah mengerti perubahan bentuk kosakata pada Tsu yang berimbas pada perubahan

makna.

10

(27)

d. Pemahaman sintaksis Tsu mengharuskan penerjemah memahami pola

kalimat dalam Tsu, yang pada gilirannya mengontraskannya dengan

Tsa.

e. Pemahaman semantik Tsu mengharuskan penerjemah memahami

pemaknaan yang berlaku pada Tsu.

f. Pemahaman pragmatis Tsu mengharuskan penerjemahan memahami

pemahaman yang dikaitkan dengan konteks yang berlaku pada Tsu.

g. Pada struktur batin Tsu dan Tsa terjadi trasportasi pada diri penerjemah

untuk kemudian menyelaraskan pemahaman Tsu ke dalam pemadanan

Tsa.

h. Pemadanan leksikal Tsa mengharuskan penerjemah memilih padanan

yang tepat untuk tiap kata yang ditemuinya pada Tsu.

i. Pemadanan morfologis Tsa mengharuskan penerjemah memiliki

pengetahuan soal padanan yang tepat pada suatu kata setelah

mengalami perubahan bentuk.

j. Pemadanan sintaksis Tsa mengharuskan penerjemah memiliki

kepekaan makna pada tiap pola kalimat dalam Tsa, sehingga dapat

memilih padanan yang akurat pada setiap kalimat yang ada

dihadapannya.

k. Pemadanan semantis Tsa berhubungan dengan pemadanan sintaksis

Tsa.

l. Pemadanan pragmatis Tsa merupakan hasil dari pemahaman

(28)

tepat kalimat dalan konteks tertentu, yang tentu saja akan berbeda

maknanya, meskipun bentuknya sama.

m. Ramuan dari pemahaman yang kemudian menghasilkan pemadanan

itulah yang bisa melahirkan struktur luar Tsa yang layak dikonsumsi.

4. Langkah dalam Penerjemahan

Untuk mendapatkan pemahaman, inplikatur, dan pemadanan yang

tepat, penerjemah dapat mengikuti langkah dalam penerjemahan yang

terlihat dalam bagan berikut:

Bagan 2. Langkah dalam penerjemahan

Bagan di atas dapat dijelaskan sebagai berikut

a. Pendalaman adalah menjajaki bahan yang akan diterjemahkan dengan

membacanya secara berulang-ulang, sesuai kebutuhan.

b. Penganalisisan adalah mengurai satuan-satuan kalimat dan unsur-unsur

dalam bagian teks yang lebih besar.

c. Pemahaman adalah memahami isi dan bentuk dalam bentuk bahasa

(29)

d. Pendiksian adalah mencari istilah dan ungkapan dalam Bsa yang tepat,

cermat, dan selaras.

e. Pengolahan adalah menyusun komponen-komponen makna yang

selaras dengan norma-norma dalam bahasa sasaran.

f. Pengecekan adalah memeriksa kesalahan-kesalahan yang mungkin

terjadi kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi pada penulisan kata,

penggunaan tanda baca, dan struktur kalimatnya.

g. Pendiskusian berarti mendiskusikan hasil penerjemahannya,

menyangkut isi maupun menyakut bahasanya, pada ahli Tsu dan

penerjemah senior.

5. Metode Penerjemahan

Dalam penerjemahan terdapat jenis-jenis penerjemahan yang

memiliki perbedaan antara jenis penerjemahan yang satu dengan jenis

penerjemahan yang lain. diantaranya, yaitu :

a. Penerjemahan kata demi kata

Jenis penerjemahan semacam ini merupakan model

penerjemahan yang paling sederhana yang dititikberatkan pada kata

demi kata. Terjemahan ini biasa juga dipergunakan untuk

kepentingan-kepentingan tertentu. Misalnya dalam penerjemahan puisi atau dalam

penerjemahan untuk usaha-usaha mempertunjukan perbedaan bahasa

sumber dengan bahasa sasaran dalam proses belajar bahasa.11

Contohnya:

11

(30)

ثاث

Artinya: Dan di sisiku tiga buku-buku.12

Umumnya terjemahan kata demi kata ini amat bermanfaat dalam

beberapa hal yang pokok antara lain: bahasa aslinya tetap mendapat

perhatian. Karena ragam ini berfungsi mempertahankan kemurnian

produk terjemahan sesuai dengan naskah aslinya, cocok untuk hal-hal

tertentu saja, seperti naskah (Suci) dan sesuai untuk naskah yang

pendek.

Terdapat kelemahan dalam terjemahan jenis ini antara lain

seperti makna yang dilihat dari konteksnya sering tidak tepat, terutama

terhadap naskah kalimat yang lebih panjang dan kompleks. Terkadang

agar hasil terjemahannya dimengerti, biasanya diberi lagi catatan atau

keterangan tambahan.

b. Penerjemahan Harfiah

Penerjemahan harfiah (literal translation) terletak antara

penerjemahan kata demi kata dan penerjemahan bebas. Penerjemahan

harfiah pada awalnya dilakukan seperti penerjemahan kata demi kata,

tetapi penerjemah kemudian menyesuaikan susunan kata dalam

kalimat terjemahannya dengan bahasa sasaran. Savory (1968)

menyebutkan terjemahan harfiah sebagai faithful translation. Hal ini

12

(31)

didasarkan bahwa penerjemah hendaknya berlaku setia kepada naskah

aslinya.13

Kelebihan penerjemahan semacam ini terletak pada bentuk

maupun struktur kalimatnya lebih sesuai dengan aslinya. Sebaliknya

kelemahan penerjemahan semacam ini terletak pada bentuk

penerjemahan yang terlalu dogmatis sehingga menghasilkan produk

terjemah yang kurang luwes ketika dibaca. Penuh kekakuan dan seperti

dipaksakan.

Contoh :

ا

ا

ف

ا

Artinya: Mengunjungi Gubernur kebun binatang.14

c. Penerjemahan Setia

Penerjemahan setia biasanya lebih mereproduksi makna yang

kontekstual namun terkadang masih dibatasi dengan struktur

gramatikal kata tersebut. Kata-kata yang berisikan budaya biasanya

dialihbahasakan tetapi menyimpang dari segi tata bahasa dan diksi.

Metode ini masih berpegangteguh pada maksud dan tujuan teks

sumber, sehingga hasilnyapun terasa agak kaku dan asing. Metode ini

jugatidak mementingkan kaidah teks sasaran pada saat pertama kali

pengalihan.

13

Suhendra Yusuf, h.56-57

14Rofi‟i,

(32)

Contohnya:

ا

Artinya: Dia laki-laki dermawan karena banyak abunya.15

d. Penerjemahan Semantis

Penerjemahan semantik yaitu penerjemahan dengan

memperhatikan kesepadanan makna serta kenetralan redaksi sehingga

tidak tampak seperti terjemah.

Contoh:

اا ف

Artinya: Persatuan puncak kekuatan

Kelebihan penerjemahan semantik terletak pada kebebasan

penerjemah memodifikasi hasil terjemahannya, tetapi tetap tidak

menghilangkan makna aslinya. Sedangkan kelemahannya adalah

penerjemahan jenis ini kadang juga bisa membuat hasil terjemahannya

melenceng jauh dari makna aslinya.

e. Penerjemahan Bebas

Penerjemahan bebas merupakan penerjemahan yang

mengutamakan isi dan mengorbankan bentuk teks dalam Bsu.

Biasanya metode ini berbentuk parafrasa yang dapat lebih panjang atau

lebih pendek dari aslinya. Metode ini biasanya dipakai dikalangan

media massa. Pada umumnya terjemahan semacam ini lebih

berorientasi dan memberikan penekanan pada bahasa sasaran.

15

(33)

Terjemah bebas semacam ini oleh Savory (1968) disebut pula sebagai :

( Idiomatic Translation).16 Kelebihan penerjemahan bebas terletak

pada penerjemahan bebas menyampaikan semua pesan yang ada di

dalam naskah bahasa sumbernya, sehingga segala daya dan

kemampuan serta kreativitas penerjemahan benar-benar teruji,

sedangkan kelemahannya terletak pada pembaca tidak bisa menikmati

gaya penulis aslinya dan biasanya gaya terjemahannya adalah gaya

penerjemahan itu sendiri.

Contoh:

جأ

ا

ا صأ

صأ

ا أ ف

Artinya: Harta sumber malapetaka.17

f. Penerjemahan Adaptasi

Metode penerjemahan adaptasi adalah metode yang paling bebas

dan paling dekat dengan Bsa. Dengan tidak mengorbankan hal-hal

penting dalam Tsu, seperti tema, karakter, atau alur, metode ini sering

dipergunakan untik menerjemahkan drama, puisi, dan film. Dalam

metode ini terjadi proses pengalihan antara budaya teks sumber ke

budaya teks sasaran.

Contohnya:

ش

ا ث

ا

ا

16

Nurachman Hanafi, Teori dan Seni Menerjemahkan. (Ende-Flores-NTT : Nusa Indah, 1986), h.58

17

(34)

Artinya:

“Dia hidup jauh dari jangkauan, di atas gemericik air sungai yang

terdengar jernih”.18

g. Penerjemahan Idiomatis

Metode penerjemahan ini mereproduksi pesan dalam teks Bsu.

Dalam prosesnya sering menggunakan kesan keakraban dan ungkapan

idiomatik yang tidak didapati pada versi aslinya. Banyak terjadi

distorsi nuansa makna sehingga hasilnyapun akan terasa lebih hidup

dan lebih luwes dibaca.

Contohnya:

ا ا

Artinya:

“Berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian.19

h. Penerjemahan Komunikatif

Metode penerjemahan yang terahir ini mereproduksi makna

konstekstual yang sedemikian rupa. Aspek kebahasaan dan aspek isi

langsung dapat dimengerti oleh pembaca. Metode ini memperhatikan

prinsip-prinsip komunikasi, serta dapat memberikan variasi

penerjemahan yang disesuaikan dengan prinsip-prinsip komunikasi.

Contohnya:

غ ث

ث

18

Moch. Syarif Hidayatullah, Diktat Teori dan Permasalahan Penerjemahan, (Tangerang : UIN Syarif Hidayatullah, 2007), h. 4

19

(35)

Artinya:

“Kita tumbuh dari mani, lalu segumpal darah, dan kemudian segumpal

daging (awam).20

B. Diksi

1. Definisi Diksi

Bahasa merupakan system tanda bunyi yang disepakati untuk

dipergunakan oleh para anggota kelompok masyarakat tertentu dalam

bekerjasama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri.21 Bahasa juga

merupakan satu gejala sosial yang digunakan untuk berkomunikasi antar

sesam manusia. Hal itu disebabkan karena manusia yang sejak lahir

berusaha untuk dapat berkomunikasi dengan lingkungannya.

Bahasa terdiri dari beberapa tataran gramatikal, di antaranya kata,

frase, klausa, dan kalimat. Kata merupakan tataran terkecil, sedangkan

kalimat merupakan tataran terbesar. Dalam sebuah tulisan, kata merupakan

kunci utama dalam upaya membentuk tulisan. Oleh karena itu, sejumlah

kata dalam bahasa Indonesia harus dipahami dengan baik, agar pesan yang

akan disampaikan mudah dimengerti. Dalam hal ini, diksilah yang

berperan.

Dalam bahasa Indonesia, kata diksi berasal dari kata dictionary

(bahasa Inggris yang kata dasarnya diction) yang berarti perihal pemilihan

kata. Dalam Websters (Edisi ketiga, 1996) diction diuraikan sebagai choice

20

Ibid

21

(36)

of words esp with regard to correctness, clearness, or effectiveness. Jadi,

diksi itu membahas penggunaan kata, terutama pada soal kebenaran,

kejelasan, dan keefektifan.22

Berbicara tentang diksi berarti berbicara tentang pilihan kata. Gorys

Keraf menyimpulkan sebagai berikut: Pertama, Diksi mencakup

pengertian kata-kata yang akan dipakai untuk menyampaikan suatu ide,

bagaimana membentuk pengelompokan kata-kata yang tepat atau

menggunakan ungkapan-ungkapan yang tepat, dan gaya mana yang paling

baik digunakan dalam suatu situasi. Kedua, diksi adalah kemampuan

membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin

disampaikan dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai

dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat

pendengar. Ketiga, pilihan kata atau diksi yang tepat dan sesuai hanya

dimungkinkan oleh penguasaan sejumlah besar kosa kata atau

perbendaharaan kata bahasa itu, Sedangkan yang dimaksud

perbendaharaan kata atau kosa kata suatu bahasa adalah keseluruhan kata

yang dimiliki oleh sebuah bahasa.23

2. Masalah Pilihan Kata dalam Penerjemahan

Dalam proses penerjemahan, seringkali seorang penerjemah

menemui banyak kesulitan, karena penerjemah harus menyampaikan pesan

yang terdpat dalam bahasa sumber (Bsu) secara tepat dan utuh ke dalam

22

Ida Bagus Putrayasa, Kalimat Efektif (Diksi, Struktur, dan Logika), (Bandung: Refika Aditama, 2007), Cet. Ke 1, h. 75

23

(37)

bahasa sasaran (Bsa), kegiatan ini juga tidak hanya sebatas itu saja,

seorang penerjemah harus menguasai hal-hal yang berkaitan dengan ilmu

kebahasaan.

Menerjemahkan bukan hanya mengalihkan bahasa saja, tetapi yang

terpenting adalah pesan dan amanatnya tersampaikan kepada pembaca.

Diksi atau pilihan kata dalam sebuah penerjemahan adalah suatu langkah

awal bagi seorang penerjemah. Suatu kesalahan besar jika seseorang

menganggap bahwa persoalan kata adalah persoalan yang sederhana,

persoalan yang tidak perlu dibicarakan atau dipelajari, karena akan terjadi

dengan sendirinya secara wajar.24

3. Piranti Diksi

a. Penggunaan Kata Bersinonim

Kata sinonim berasal dari bahasa Yunani Kuno yaitu Onoma

yang berarti „nama‟ dan kata Syn yang berarti „dengan‟, secara

harfiyah dapat diartikan “nama lain untuk benda yang sama”.25

Sinonim adalah dua kata atau lebih yang pada dasarnya mempunyai

makna yang sama, tetapi bentuknya berlainan. Kesinoniman kata

tidaklah mutlak, hanya ada kesamaan atau kemiripan.26

Sinonim adalah bentuk bahasa yang maknanya sama atau hampir

sama dengan bentuk lain. Dalam bahasa rab biasa disebut muradif.

Mungkin tidak ada dua kata dalam perbendaharaan suatu bahasa yang

24

Gorys Keraf, h. 23

25

J.W.M. Verhaar, Pengantar Linguistik, (Yogyakarta: Gajah Mada University, 1995), Cet. Ke-20, h. 132

26

(38)

betul-betul sama maknanya sehingga dalam setiap kalimat mana pun

kedua patah kata bersinonim itu selalu dapat bersubsituasi (saling

menggantikan).27 Kata-kata yang bersinonim ada yang dapat

menggantikan ada pula yang tidak. Karena itu, kita harus memilihnya

secara tepat dan seksama. Misalnya, kata asas bersinonim dengan kata

dasar, pokok, dan prinsip. Dalam penggunaan kalimat, keempat kata

tersebut tidaklah semuanya dapat saling menggantikan satu sama

lain.28

b. Penggunaan Kata Umum dan Khusus

Perbedaan ruang lingkup acuan makna suatu kata terhadap kata

lain, menyebabkan lahirnya istilah kata umum dan khusus. Makin luas

ruang lingkup acuan makna sebuah kata, makin umum sifatnya. Makin

sempit ruang lingkup acuan maknanya, makin khusus sifatnya. Dengan

kata lain, kata umum memberikan gamabaran yang kurang jelas,

sedangkan kata khusus memberikan gambaran yang jelas dan tepat.

Karena itu untuk mengefektifkan penuturan lebih tepat, dipakai kata

khusus dari pada kata-kata umum, misalnya:

Umum Khusus

1) Ikan Mas koki, Lele, Mujair, Arwana,

Bandeng, Patin, dsb.

2) Melihat Memandang (gunung/sawah/laut)

27

J.S. Badudu, Inilah Bahasa Indonesia yang Benar III, (Jakarta: Gramedia,1989), Cet. Ke-2, h. 51

28

(39)

Menonton (Film/Wayang/Drama)

Menengok ( Orang sakit)

Menatap ( Muka/Gambar)

Menyaksikan ( Pertandingan)

Meninjau (Daerah-daerah)

3) Jatuh Roboh ( Rumah/Gedung)

Rebah (Pohon Pisang/badan)

Longsor (Tanah)

4) Bunga Melati, mawar, anggrek, kamboja,

dsb.29

c. Penggunaan Kata Abstrak dan Konkret

Dalam bahasa Indonesia, ada kata yang bersifat abstrak dan

konkret. Kata abstrak adalah kata yang mempunyai referen berupa

konsep, sedangkan kata konkret adalah kata yang mempunyai referen

berupa objek yang dapat diamati. Kata abstrak lebih sulit difahami

daripada kata konkret. Dalam hal menulis, kata-kata yang digunakan

sangat bergantung pada jenis penulisan dan tujuan penulisan. Bila

sebuah tulisan yang akan dideskripsikan adalah suatu fakta, maka yang

lebih banyak digunakan adalah kata-kata konkret. Akan tetapi, jika

yang dikemukakan adalah klasifikasi, maka yang banyak digunakan

adalah kata-kata abstrak. Seringkali, suatu uraian dimulai dengan kata

29

(40)

abstrak (konsep tertentu), kemudian dilanjutkan dengan penjelasan

yang menggunakan kata-kata konkret.

Contoh:

- Keadaan kesehatan anak-anak di desa sangat buruk.

- Banyak yang menderita malaria, radang paru-paru, cacingan, dan

kekurangan gizi.30

4. Ketepatan Pilihan Kata

a. Persoalan Ketepatan Pilihan Kata

Masalah penggunaan kata pada dasarnya berkisar pada dua

persoalan pokok. Pertama, ketepatan memilih kata untuk

mengungkapkan sebuah gagasan, hal atau barang yang akan

diamanatkan. Kedua, kesesuaian atau kecocokan dalam

mempergunakan kata tadi.31 Ketepatan pilihan kata mempersoalkan

kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan yang tepat pada

imajinasi pembaca atau pendengar, seperti apa yang dipikirkan atau

dirasakan oleh penulis atau pembicara.kosa kata yang banyak juga

akan memungkinkan penulis atau pembicara lebih bebas

memilih-milih kata yang dianggapnya paling tepat mewakili pikirannya. Bila

kita medengar seseorang menyebut kata roti, maka tidak ada seorang

pun yang berpikir tentang sesuatu barang yang terdiri dari unsur-unsur:

tepung, air, ragi, dan mentega yang telah dipanggang. Semua orang

30

Ida Bagus Putrayasa, Kalmat Efektif ( Diksi, Struktur, dan Logika), ( Bandung: Refika Aditama, 2007), cet. Ke-1, h. 14-15

31

(41)

berpikir kepada esensinya yang baru, yaitu sejenis makanan, entah itu

disebut roti, bread, brot, brood, pain, pains, atau apa saja istilahnya.

Bunyi yang kita dengar atau bentuk (rangkaian huruf) yang kita baca

akan langsung mengarahkan perhatian kita pada jenis makanan itu.

Oleh karena itu, kata dapat juga dikatakan sebagai sebuah

rangkaian bunyi atau simbol tertulis yang menyebabkan orang berpikir

tentang sesuatu hal: dan makna sebuah kata pada dasarnya diperoleh

karena persetujuan informal antara sekelompok orang untuk

menyatakan hal atau barang tertentu melalui rangkaian bunyi tertentu.

Dengan kata lain, kata adalah persetujuan atau konvensi umum tentang

interrelasi antara sebuah kata dengan referensinya (barang atau hal

yang diwakilinya).32

b. Persyaratan Ketepatan Kata

Ketepatan adalah kemampuan sebuah kata untuk menimbulkan

gagasanyang sama pada imajinasi pembaca atau pendengar seperti apa

yang dipikirkan atau dirasakan oleh penulis atau pembicara. oleh

karena itu, setiap penulis atau pembicara harus berusaha sebaik

mungkin memilih kata-kata untuk mencapai maksud tersebut.

Gorys Keraf memberikan beberapa butir persoalan tentang

ketepatan pilihan kata:

1) Membedakan secara cermat denotasi dan konotasi. Dari dua kata

yang mempunyai makna yang mirip satu sama lain ia harus

32

(42)

menetapkan mana makna yang akan dipergunakan untuk mencapai

maksudnya. Kalau hanya pengertian dasar yang diinginkannya, ia

harus memilih kata yang denotative, kalau ia menghendaki

reaksiemosional tertentu, is harus memilih kata konotatif sesuai

dengan sasaran yang akan dicapainya itu.

2) Membedakan dengan cermat kata-kata yang hampir bersinonim.

Seperti telah diuraikan di atas, kata-kata yang bersinonim tidak

selalu memiliki distribusi yang saling melengkapi. Karena itu,

penulis atau pembicara harus berhati-hati memilih kata dari sekian

sinonim yang ada untuk menyampaikan apa yang diinginkannya,

sehingga tidak timbul interpretasi yang berlainan.

3) Membedakan kata-kata yang mirip dalam ejaannya. Bila penulis

sendiri tidak mampu membedakan kata-kata yang mirip ejaannya

itu, maka akan membawa akibat yang tidak diinginkan, yaitu salah

paham. Kata-kata yang mirip dalam tulisannya itu misalnya: bahwa

– bawah – bawa, karton – kartun, preposisi – propisisi, dan

sebagainya.

4) Hindarilah kata-kata ciptaan sendiri. Bahasa selain tumbuh dan

berkembang sesuai dengan perkembangan dalam masyarakat.

Perkembangan bahasa pertama-tama tampak dari pertambahan

jumlah kata baru. Namun hal itu tidak berarti bahwa setiap orang

(43)

5) Waspadalah terhadap penggunaan akhiran asing, terutama kata

asing yang mengandung akhiran asing tersebut. Progress –

progresif, kultur – cultural, dan sebagainya.

6) Kata kerja yang menggunakan kata depan harus digunakan secara

idiomatis, seperti: ingat akan bukan ingat terhadap, berharap,

berharap akan, mengharapkan bukan mengharap akan,

berbahaya, berbahaya bagi, membahayakan sesuatu bukan

membahayakan bagi susuatu.

7) Untuk menjamin ketepatan diksi, penulis atau pembicara harus

membedakan kata umum dan khusus. Kata khusus lebih tepat

menggambarkan sesuatu daripada kata umum.

8) Memperhatikan perubahan makna yang terjadi pada kata-kata yang

sudah dikenal.

9) Memperlihatkan kelangsungan pilihan kata.33

5. Kesesuaian Pilihan Kata

a. Persoalan Kesesuaian Pilihan Kata

Persoalan kedua dalam pendayagunaan kata-kata adalah

kecocokan atau kesesuaian. Perbedaan antara ketepatan dan kecocokan

pertama-tama mencakup soal kata mana yang akan digunakan dalam

kesempatan tetentu, walaupun kadang-kadang masih ada perbedaan

tambahan berupa perbedaan tata bahasa, pola kalimat, panjang atau

kompleksnya sebuah alinea, dan beberapa segi lain. Perbedaan antara

33

(44)

ketepatan dan kesesuaian adalah: dalam persoalan ketepatan kata, kita

bertanya apakah pilihan kata yang dipakai sudah setepat-tepatnya,

sehingga tidak akan menimbulkan interpretasi yang berlainan antara

pembicara dan pendengar, atau antara penulis dan pembaca.

Sedangkan dalam persoalan kecocokan atatu kesesuaian kata, kita

mempersoalkan apakah pilihan kata dan gaya bahasa yang

dipergunakan tidak merusak suasana atau menyimpang perasaan orang

yang hadir.34

b. Persyaratan Kesesuaian Pilihan Kata

Sesuai dengan berkembangnya zaman, maka bahasapun ikut pula

berkembang. Perubahan bahasa menjadi suatu masalah yang akan

terjadi di semua bahasa yang ada di dunia. Di antaranya disebabkan

karena penyerapan teknologi baruyangbelum dimiliki, tingkat kontak

dengan bangsa-bansa lan di dunia, kekayaan budaya asli yang dimiliki

penutur bahasanya dan lain-lain.

Beberapa hal yang perlu diketahui setiap penulis atau pembicara

dalam menyesuaikan pilihan kata, diantaranya adalah:

1) Menghindarkan bahasa atau unsur substandard dalam suatu situasi

yang formal.

2) Menggunakan kata-kata ilmiah dalam situasi yang khusus saja.

Dalam situasi yang umum, sebaiknyapenulis mempergunakan

kata-kata popular.

34

(45)

3) Menghindarkan penggunaan jargon dalam tulisan untuk pembaca

umum. Istilah jargon memiliki beberapa pengertian, di antaranya

kata-kata teknis yang digunakan secara terbatas dalam bidang ilmu,

profesi, atatu kelompok tertentu. Kata-kata ini seringkali

merupakan kata sandi/kode rahasia untuk kalangan tertentu

(dokter, militer, perkumpulan rahasia). Contohnya: sikon (situasi

dan kondisi), prokon (pro dan kontra), dan lain-lain.35

4) Menghindarkan pemakaian kata-kata slang. Pada waktu-waktu

tertentu, banyak terdengar slang, yaitu kata-kata tidak baku yang

dibentuk secara khas sebagai cetusan keinginan terhadap sesuatu

yang baru. Kata-kata ini bersifat sementara, bila sudah usang,

hilang, atau menjadi kata-kata biasa seperti: asoy, mana tahan,

bahenol, dan sebagainya. Mungkin hanya dikenal di daerah-daerah

tertentu saja.36

5) Tidak mempergunakan kata percakapan.

6) Menghindarkan ungkapan-ungkapan yang sudah usang (idiom

yang mati)

7) Menjauhkan kata-kata atau bahasa yang artificial.

35

Ida Bagus Putrayasa, Kalmat Efektif ( Diksi, Struktur, dan Logika), ( Bandung: Refika Aditama, 2007), cet. Ke-1, h. 16

36

(46)

33

PENERJEMAH

A. Seputar Fath al-Qarib

Kitab Fath al-Qarib ditulis sebagai penjelasan dari isi sebuah kitab yang

bernama Taqrib dengan tujuan agar dapat berguna bagi orang yang

mempelajari cabang dari syariat Islam dan ingin mendapatkan wasilah.

Sebenarnya sebutan nama kitab ini ada dua macam, yaitu: Taqrib dan

Ghayatul Ikhtisar. Fath al-Qarib adalah syarakh dari kitab Taqrib, sedangkan

al-Qaulul Mukhtar adalah syarakh dari kitab Ghayatul Ikhtisar. Kitab ini

merupakan kitab fiqh yang ringkas, dan padat isinya, hukum-hukum Islam

lengkap diterangkan di dalamnya yang cukup untuk bekal hidup bagi seorang

muslim, baik mengenai ibadah, muamalat, munakahat, dan lain-lain.

Dibandingkan dengan kitab yang lain, seperti kitab Fathul Muin,

Sulamut Taufik, dan lainnya, kitab ini lebih ringkas dalam pembahasan serta

tidak bertele-tele dalam mengelompokan suatu kasus. Memang suatu karangan

tidak terlepas dari kekurangan dan kelebihan. Kekurangan kitab ini adalah

penjelsannya kurang konkret. Sedangkan kelebihannya adalah isisnya nudah

(47)

B. Biografi Penulis kitab Taqrib

Pengarang kitab Taqrib bernama Abu Syuza. Nama lengkapnya adalah

Abu Syuja‟ Ahmad bin Husain bin Ahmad al-Ashfihani. beliau lahir pada

tahun 433 H jauh sebelum eranya Imam Nawawi maupun Rofi‟i bahkan

sebelum imam Ghozali. Beliau mendapat karunia umur panjang hingga 160

tahun, namun demikian tak satu anggota badanpnun yang mengalami

gangguan. Ketika beliau ditanyai karunia yang demikian beliau menjawab:

“Aku selalu berusaha menjaga anggota badanku sejak kecil tidak pernah aku

gunakan dalam kemaksiatan. Karenanya Allah menjaganya pada saat aku

memasuki usia senja.”

Pada tahun 447 menjabat sebagai qodhi di kota Ashfihan. Dengan

jabatanya beliau menebarkan keadilan dan kebenaran ke seluruh pelosok

negeri hingga dikenal luas. Kesibukan dan tugasnya sebagai Qodhi tidak

melupakan semangat taqorrub dan ibadahnya pada Allah SWT. Setiap hari

sebelum keluar dari rumah beliau melakukan sholat dan membaca Alqur‟an.

Begitupun dalam melaksanakan tugas dengan teguh berpegang pada

kebenaran tanpa khawatir akan celaan dan cercaan orang, tiada mengenal

kompromi ketika harus menegakkan kebenaran sekalipun itu harus dibayar

dengan mahal dan taruhan jabatan.

Keteguhan hati beliau dalam membela kebenaran didukung oleh

kelapangan sisi ekonomi. Tentang kekayaan beliau ini ada riwayat yang

menyebutkan bahwa beliau memiliki sepuluh orang karyawan yang husus

(48)

mustahiqqin, dimana masing-masing membagikan seribu dua puluh lima

dinar. Orang-orang sholeh dan para cendikia mendapat prioritas sehingga

mereka merasakan betul kemurahan Abi Syuja‟.

Kekayaannya yang demikian tidak menjadikanya lalai dan hanyut dalam

kenikmatan. Dan di akhir usianya, ia memilih hidup dalam kezuhudan

(melepaskan diri dari urusan dunia dan mengabdikan diri semata-mata karena

Allah. Seluruh hartanya dilepaskan, lalu ia pergi ke Madinah. Di Kota Nabi

ini, kendati pernah menjabat sebagai menteri, Abu Syuja' tak malu melakukan

kebiasaan orang-orang kecil. Ia menyapu dan menghamparkan tikar serta

menyalakan lampu Masjid Nabawi. Kegiatan ini rutin dilakukannya setiap

hari. Tugas ini dilakukannya, setelah salah seorang petugas Masjid Nabawi

meninggal dunia. Rutinitasnya ini ia lakukan sampai ajal menjemputnya pada

593 Hijriah.37

C. Biografi Penulis Kitab Fath al-Qarib

Penulis kitab Fahtul Qarib adalah Ibnu Qasim Alghazi. Nama lengkap

beliau adalah Assyaikh Al Imam Abi Abdillah Muhammad bin Qasim

Alghazi. Lahir pada tahun 859 H di kota Ghuzah yang menjadi bagian wilayah

Syam. Beliau mengembara menuntut ilmu di Kairo Mesir tapatnya di Jami‟ah

Al-Azhar. Kemudian mengembangkan ilmu dan mengajar di Al-Azhar hingga

bermukim di sana dan melahirkan karya-karya seperti syarakh Fathul Qarib.

Beliau wafat di Kairo pada tahun 918 H.38

37

www. Biografi-ulama-pengarang-kitab-kitab.html /diakses pada Tanggal 10-03-2011

38

(49)

D. Biografi Penerjemah

Drs. H. Imron Abu Amar lahir di kota Kudus, pada tanggal 12 Juni

1949, setelah menyelesaikan pendidikan di Madrasah Aliyah Kudus,

kemudian beliau melanjutkan studinya di IAIN Walisongo Semarang dan

lulus pada tahun 1977.

Beliau pernah menimba ilmu agama di pondok pesantren Tahzibul

Akhlak yang diasuh oleh ayahnya sendiri yaitu K.H. Abu Amar. Sekaligus

juga bersekolah di Madrasah Qudsiyah dan kemudian melanjutkan di

Madrasah Aliyah Kudus. Dalam kurun waktu tersebut beliau sempat

mempelajari berbagai kitab salafi termasuk kitab Fath al-Qarib. Bahkan

beberapa kali hatam mempelajarinya.39

Ada beberapa buku yang merupakan hasil terjemahannya, sampai saat

ini ada 15 buku tang telah beredar dimasyarakat yang merupakan buku

terjemahan kitab kuning dan yang bukan terjemahan dari sebuah kitab.

diantaranya adalah:

1. Sejarah Ringkasan Kerajaan Demak

2. Kifayatul Akhyar

3. Sunan Gunung Jati

4. Fathul Qarib Jilid I

5. Fathul Qarib Jilid II

39

(50)

37

A. Analisis Peranti-peranti Diksi 1. Penggunaan Kata Bersinonim

ش

ا

إ

ا

ا

ا

ءا

ا

40

غ ا ا

“Adapun syarat terjadinya pemaksaan adalah adanya kemampuan pemaksa untuk mewujudkan ancamannya kepada orang yang dipaksa dengan menggunakan tangan kekuasaan atau sebab kemenangannya”.41

Terjemahan kata bersinonim di atas terlihat tidak sesuai dengan

kamus. Kata

ا

dalam kamus al-Ashriberarti „kelayakan, kekuasaan',42

sedangkan kata غ dalam kamus al-Ashri berarti „penaklukan,

penguasaan‟.43 Dalam arti kedua kata tersebut, tidak ditemukan arti „sebab

kemenangan‟ seperti yang diterjemahkan oleh penerjemah. Menurut

penulis, kata

غ ا ا

lebih tepat diterjemahkan “kekuasaan” saja.

Maka terjemahannya menjadi sebagai berikut:

“ Syarat terjadinya pemaksaan adalah adanya kemampuan pemaksa untuk

mewujudkan ancamannya kepada orang yang dipaksa dengan

menggunakan kekuasaan”.

40

Imron Abu Amar, Terjemahan Fat-hul Qarib, (Kudus: Menara Kudus,1983), h. 65

41

Ibid, h. 65

42

Atabik Ali, Kamus Kontemporer Arab-Indonesia, (Yogyakarta: Multi Karya Grafika, 1996), h.2038

43

(51)

ف ص ا

ا ف

ا

ا

ا س

ا ا اس

ا ا ض

“Mushannif menyebutkan keterangan tentang urutan pembayaran kafarat dhihar di dalam perkataannya, bahwa kafarat adalah membebaskan budak yang mukmin meskipun mengikuti islamnya salah satu dari ibu bapaknya, dan yang selamat dari beberapa cacat yang dapat membahayakan, mengganggu daya kerja, dan usahanya dengan bahaya yang tampak sekali”.44

Terjemahan kata bersinonim di atas kurang sesuai. Dalam kamus

al-Ashri, kata berarti „pekerjaan‟, „perbuatan‟.45 Kata dalam kamus

al-Ashri berarti „memperoleh‟, „mendapat‟, „mengerjakan‟, „berbuat‟.46

Dalam arti kedua kata tersebut tidak ditemukan arti usaha seperti yang

diterjemahkan oleh penerjemah. Menurut penulis, kata dan

diterjemahkan „pekerjaan‟, sehingga terjemahannya menjadi:

“Dan selamat dari beberapa yang dapat membahayakan dan mengganggu

pekerjaannya dengan bahaya yang tampak sekali”.

2. Penggunaan Kata Umum dan Khusus

ش

ش

ا ء ا

ا

غ

ا

أ

ا

ش ا

47

44

Imron Abu Amar, Terjemahan Fat-hul Qarib, (Kudus: Menara Kudus,1983), h. 74

45

Atabik, h. 1322

46

Atabik, h. 1505

47

(52)

“…Kata nikah diucapkan menurut makna bahasanya yaitu kumpul, wati‟ atau jimak, dan akad. Dan diucapkan menurut pengertian syarak, yaitu suatu akad yang mengandung beberapa rukun dan syarat”.48

Kata

ا

diterjemahkan „kumpul‟. Kata „kumpul‟ mengandung kata

umum. Dalam KBBI, berarti „1. Bersama-sama; 2. Berhimpun; 3.

Berkerumun.49 Menurut penulis, kata

ا

lebih baik diterjemahkan

„bersatu‟ karena kata bersatu mengandung kata khusus.

Kata

ش

diterjemahkan „mengandung‟. Kata mengandung itu

mengandung kata umum. Dalam KBBI berarti „ 1. Membawa sesuatu, 2.

Tercantum di dalamnya, 3. Hamil.50 Menurut penulis, kata

ش

itu lebih

baik diterjemahkan “terdapat”, sehingga terjemahannya menjadi:

“ Kata nikah menurut bahasa adalah bersatu, berhubungan seksual, dan

akad. Sedangkan menurut istilah adalah suatu akad yang di dalamnya

terdapat beberapa rukun dan syarat”.

ا أ

ء

ا

“Sudah sampai masa iddah sang perempuan dari suami yang

mentalaknya”51

Kata

ء

ا

diterjemahkan 'sampai'. Kata sampai mengandung

makna umum. Dalam KBBI berarti 1. Datang, 2. Berbatas, 3. Terlaksana,

48

Ibid

49

Alwi Hasan,dkk., Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), h. 475

50

Alwi, Hasan, dkk., h. 385

51

(53)

4. Cukup, 5. Hingga, 6. Mencapai tujuan.52 Menurut penulis kata

ء

ا

lebih baik diterjemahkan „selesai‟. Seperti pada kalimat:

“Sudah selesai masa iddah perempuan dari suami yang

mentalaknya”.

3. Penggunaan Kata Abstrak dan Konkret

53

جا ا

ا ءا ا

ا

ش

“Arti nusyuz ialah sikap tinggi diri orang perempuan(istri) tidak bersedia mendatangi (mengerjakan) kebenaran yang wajib baginya.54

diri sendiri”.

B. Analisis Ketepatan Pilihan Kata

ا

ا

ء

ا

ا

أا ف ف

Nikah itu hukumnya sunah bagi orang yang sudah hajat(butuh) kepadanya sebab keinginan nafsunya kuat untuk jimak dan sudah tersedia biayanya, seperti untuk membayar mahar(maskawin), dan memberi nafkah apabila sunyi dari perongkosan, maka tidak disunahkan”.55

Kata

ف

di atas diterjemahkan „sunyi‟. Dalam kamus al-Ashri berarti

„hilang‟.56

Dalam kamus al-Munawir berarti „kehilangan‟.57 Kata „sunyi‟

biasanya digunakan untuk mengungkapkan suasana bukan keadaan seseorang.

52

Atabik, h. 777

53

Ibid, h. 49

54

Ibid

55

Ibid, h. 22

56

Atabik, h. 1401

57

(54)

Menurut penulis, kata tersebut lebih tepat diterjemahkan „tidak memiliki‟.

Sehingga terjemahannya menjadi sebagai berikut:

“ Nikah itu hukumnya sunah untuk orang yang sudah membutuhkan

karena hawa nafsunya kuat untuk untuk hubungan seksual dan sudah

memiliki biaya seperti untuk membayar mas kawin dan memberi nafkah.

Apabila tidak memiliki perongkosan, maka tidak disunahkan”.

ا

ء

ا

ا

ا

أا ف ف

Nikah itu hukumnya sunah bagi orang yang sudah hajat(butuh) kepadanya sebab keinginan nafsunya kuat untuk jimak dan sudah tersedia biayanya, seperti untuk membayar mahar(maskawin), dan memberi nafkah apabila sunyi dari perongkosan, maka tidak disunahkan”.

Kata

اا

di atas diterjemahkan „perongkosan‟, dalam kamus al-Ashri

berarti „persiapan‟,58

sedangkan dalam kamus al-Munawwir berarti

„persediaan‟,persiapan‟.59

Menurut penulis kata tersebut lebih tepat

diterjemahkan „persiapan‟. Sehingga terjemahannya menjadi:

“Nikah itu hukumnya sunah untuk orang yang membutuhkan karena

hawa nafsunya kuat untuk berhubungan seksual dan sudah memiliki

biaya seperti untuk membayar maskawin dan memberikan nafkah.

Apabila tidak memiliki persiapan, maka tidak disunahkan”.

58

Atabik, h. 269

59

(55)

خأ ط ش ف ص ا

Artinya:

“Tetapi mushonif meninggalkan 2 syarat lainya”.

Terjemahan di atas kurang tepat, yaitu pemilihan kata „mushanif‟,

menurut penulis lebih baik diterjemahkan „penulis‟. Karena pembaca yang

awam akan lebih mengerti dengan maksud penerjemah. Di bandingkan dengan

kata mushanif yang hanya dimengerti oleh beberapa pembaca yang memang

mengetahui maksudnya dan faham dengan bahasa arab.

Maka terjemahannya menjadi sebagai berikut:

“Tetapi penulis meninggalkan 2 syarat lainnya”.

غ

أ ط أ ف

سا أ

ا

إا

Artinya:

“Dan menahan diri dari wangi-wangian dalam arti memakainya di badan, pakaian, makanan, atau bercelak yang tidak diharamkan.60

Kata diterjemahkan bercelak, mwskipun tidak ada masalah dalam

penerjemahan di atas, namun menurut penulis lebih baik diterjemahkan

memghiasi mata. Maka terjemahannya menjadi sebagai berikut:

“Dan menahan diri dari wangi-wangian dalam arti memakainya di badan,

pakaian, makanan, atau menghias mata yang tidak diharamkan.

60

(56)

ش

ش

ا ء ا

ا

غ

ا

ش ا

اأ

61

“…Kata nikah diucapkan menurut makna bahasanya yaitu kumpul, wati‟ atau jimak, dan akad. Dan diucapkan menurut pengertian s

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kesan-kesan pada terjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa Indonesia Mushaf Syaamil Al- Qur’an pada kata-kata Lazim Terpilih dalam Surah

Di dalam penelitian ini terdapat tiga tujuan (1) mendeskripsikan bentuk pemakaian disfemia pada terjemahan Alquran surah Al-Baqarah, (2) mendeskripsikan nilai rasa

Tujuan penelitian ini, yaitu (1) mendeskripsikan struktur fungsi yang menduduki pola pada terjemahan Al Qur’an surat Ar Rahman, (2) mendeskripsikan bentuk kategori

adalah tentang kajian frasa nomina pada teks terjemahan Al Quran.. Al Quran merupakan kitab suci umat Islam yang

Obyek penelitian skripsi ini adalah nilai-nilai pendidikan karakter yang tercermin pada peri kehidupan Nabi Muhammad saw dalam kitab Sirah Nabawiyah terjemahan Kathur Suhardi

Kedua, pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang

Secara khusus penelitian ini memiliki tujuan yang ingin dicapai yaitu : Untuk mengetahui proses i‟lal bil qalbi yang terdapat dalam untaian kata dari kitab al -hikam

Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk mengetahui metode, pendekatan dan teknik interpretasi syarah Ibnu Hajar dalam kitab Fath al-Bari dalam memahami hadis tentang