proposal rosita

17  195  Download (4)

Teks penuh

(1)

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pada hakikatnya pembelajaran bahasa adalah belajar berkomunikasi dalam upaya meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi secara lisan dan tertulis serta untuk mengembangkan kemampuan menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana berpikir. Guru tidak perlu lagi mengajarkan siswa dengan materi belajar memakai buku teks. Guru harus lebih kreatif untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan di dalam maupun di luar kelas.

Dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia seharusnya sejak siswa SD diberikan agar terjadi perubahan ke arah yang lebih baik. Guru dan siswa harus memiliki sikap yang sama, sama-sama bekerja dan belajar untuk melakukan perubahan yang bisa membuat kompetensi dapat dicapai sehingga penggunaan bahasa pun dapat berubah menjadi lebih baik. Anggapan siswa bahasa Indonesia mudah untuk dipelajari karena siswa telah terbiasa menggunakan bahasa Indonesia sehari-hari tidaklah benar.

Bercerita merupakan salah satu komponen dalam keterampilan berbahasa yang sangat penting. Secara teoretis, bercerita merupakan suatu proses penyampaian informasi, ide, atau gagasan dari pembicara kepada pendengar. Informasi yang disampaikan secara lisan dapat diterima oleh pendengar apabila pembicara mampu menyampaikannya dengan baik dan benar (Manalu, 2013). Dengan demikian, kemampuan bercerita merupakan faktor yang sangat mempengaruhi kemahiran seseorang dalam penyampaian informasi secara lisan.

Bercerita merupakan salah satu komponen kemampuan bercerita yang sepertinya kurang mendapat perhatian. Di mana dalam system pendidikan pada sekolah dasar lebih menekankan pengembangan kemampuan akademik seperti

(2)

membaca dan berhitung. Sistem kegiatan belajar mengajar di kelas kurang memberikan kesempatan dan pelatihan untuk mengembangkan kreativitas anak dalam bercerita. Disisi lain, kemampuan menceritakan kembali isi cerita (retelling story) kepada pasangannya yang diperdengarkan atau dibaca merupakan suatu cara yang paling efektif untuk menunjukkan sejauh mana tingkat penguasaan anak terhadap suatu materi simakan atau bacaan.

Disisi lain, pembelajaran bercerita akan memberikan lahan bagi peserta didik untuk mengembangkan kreativitas dan apresiasinya. Hal ini penting sekali mengingat kemampuan menyampaikan informasi dengan baik merupakan salah satu indikator kemampuan anak-anak dalam berkomunikasi sebagai landasan pembelajaran bahasa yang telah disebutkan dalam kurikulum (Anita, 2010:56).

Diketahui Fenomena siswa di kelas VI SD Negeri 14 Silih Nara yang semakin malas belajar bahasa Indonesia dan sikap memandang remeh serta acuh terhadap bahasa Indonesia menyelimuti sebagian besar siswa. Gejalanya, siswa sering ngantuk, tidak bergairah, kurang percaya diri saat mengikuti pelajaran bahasa Indonesia di kelas. Siswa tidak memiliki kesadaran dan pemahaman yang cukup tentang pentingnya keterampilan berbahasa dan tata bahasa praktis bahasa Indonesia.

Dalam pembelajaran yang akan dilaksanakan sebaiknya materi yang diajarkan oleh guru jangan terlalu meluas. Guru seharusnya membawakan materi untuk satu topik pembahasan dan melibatkan kreativitas peserta didik. Dalam pembelajaran peserta didik harus diberi saluran bereksplorasi dalam bercerita. Bereksplorasi bermakna menggali, menemukan, dan mendeteksi cara bercerita melalui pemahaman isi cerita secara berpasangan. Upaya ini membuat peserta didik lebih nyaman bercerita di depan kelas sebab mampu mengembangkan ekspresi dan kreativitasnya bersama pasangannya.

(3)

benar. Tetapi isi pembicaraan yang disampaikan oleh siswa tersebut kurang jelas. Siswa kelas VI SD Negeri Silih Nara dalam bercerita mereka tersendat-sendat sehingga isi cerita menjadi tidak jelas. Ada pula di antara siswa yang tidak mau bercerita di depan kelas, Selain itu, pada saat guru meminta siswa untuk maju kedepan kelas untuk menceritakan sebuah cerita, siswa ada yang tidak mau maju kedepan kelas karena takut salah dalam berceritanya.

Pada kondisi ini para siswa belum menunjukkan keberanian untuk bercerita. Siswa takut salah didepan teman-temannya apalagi jika siswa berdiri sendiri didepan kelas untuk bercerita Oleh sebab itu, diperlukan suatu cara untuk meningkatkan kemampuan bercerita di SDN Silih Nara ini. Cara untuk meningkatkan kemampuan ini hendaknya menyenangkan dan mudah dipahami oleh siswa. Salah satu caranya ialah meminta anak- anak untuk bercerita dengan bahasanya sendiri secara berpasangan. Dengan jalan ini, anak-anak berkesempatan mengembangkan kreativitasnya mengolah bahasanya, menentukan sendiri ekspresi yang akan dipilihnya, dan memainkan mimik sesuai kemampuan yang dimilikinya.

Dalam pembelajaran yang akan dilaksanakan, peserta didik harus diberi saluran bereksplorasi dalam bercerita. Bereksplorasi bermakna menggali, menemukan, dan mendeteksi cara bercerita melalui pemahaman isi cerita secara berpasangan. Upaya ini membuat peserta didik lebih nyaman bercerita di depan kelas sebab mampu mengembangkan ekspresi dan kreativitasnya bersama pasangannya. Proses pembelajaran merupakan bagian terpenting dalam proses pendidikan yang didalamnya terdapat guru sebagai pengajar dan siswa yang sedang belajar. Ahmad Susanto (2013: 19) mengatakan “Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar terjadi proses pemerolehan ilmu pengetahuan, penguasaan, kemahiran, serta pembentukan sikap dan keyakinan pada peserta didik”.

(4)

Untuk menciptakan pembelajaran yang kreatif, dapat digunakan berbagai model pembelajaran, salah satunya pembelajaran Paired Story Telling. Lie (2009:12) menyatakan bahwa, ”Pembelajaran kooperatif merupakan sistem pembelajaran yang memberikan kesempatan pada anak untuk bekerja sama dengan tugas- tugas terstruktur”. Melalui pembelajaran ini siswa bersama kelompok secara gotong royong maksudnya setiap anggota kelompok saling membantu antara teman yang satu dengan teman yang lain dalam kelompok tersebut sehingga di dalam kerja sama tersebut yang cepat harus membantu yang lemah, oleh karena itu setiap anggota kelompok penilaian akhir ditentukan oleh keberhasilan kelompok.

Melalui model pembelajaran kooperatif teknik bercerita berpasangan (Paired Story Telling) siswa dapat menuliskan kembali yang terjadi baik sebelum maupun sesudah berdasarkan hasil bacaan yang telah didapat sebelumnya dan daftar kata kunci yang diterima dari hasil bacaan temannya. Kemudian siswa akan mengemukakan pendapatnya berdasarkan apa yang telah didiskusi baik antara siswa dengan siswa maupun antara siswa dan guru. Model pembelajaran kooperatif teknik bercerita berpasangan (Paired Story Telling) diharapkan dapat meningkatkan kreatifitas siswa di kelas selama proses pembelajaran berlangsung sehingga pemikiran siswa dapat dikembangkan dengan baik dan memperoleh hasil yang baik pula.

Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul ”Meningkatkan Kreativitas Bercerita Siswa Melalui Model Pembelajaran Paired Story Telling Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di kelas VI SDN Silih Nara”.

1.2 Rumusan Masalah

(5)

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kreativitas bercerita siswa melalui model pembelajaran paired story telling pada mata pelajaran bahasa Indonesia di kelas VI SDN Silih Nara.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Bagi Siswa. Meningkatkan kreatifitas siswa dalam bercerita dalam pembelajaran bahasa Indonesia.

2. Bagi Guru. Meningkatkan kemampuan guru dalam berkreasi dan berinovasi pada model pembelajaran sehingga lebih efektif dan efisien dalam peranannya sebagai fasilitator dan mediator

3. Bagi Sekolah. Meningkatkan profesionalisme guru bahasa Indonesia di SD dengan menulis penelitian ilmiah yang memberikan solusi bagi permasalahan pembelajaran bahasa Indonesia.

1.5 Definisi Operasional

Untuk membatasi permasalahan, maka penulis membuat definisi beberapa istilah yang digunakan yaitu:

1.

Kreativitas adalah suatu proses upaya manusia atau bangsa untuk membangun dirinya dalam

berbagai aspek kehidupannya. Tujuan pembangunan diri itu ialah untuk menikmati kualitas kehidupan yang semakin baik (Alvian, 2013:3).

2.

Bercerita merupakan bagian dari keterampilan berbicara dalam pembelajaran Bahasa Indonesia

keterampilan berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa lisan.Bercerita adalah aktifitas yang menarik dan digunakan pada semua aktivitas pembelajaran (Anting, 2008:45). 3. Paired Story Telling merupakan pengembangan dari metode struktural. Jadi teknik bercerita

(6)

BAB II

LANDASAN TEORETIS

A.Pengertian Teknik bercerita berpasangan ( Paired Storytelling )

(7)

Menurut Sugiyanto (2008: 47-51) teknik bercerita berpasangan merupakan pengembangan dari metode struktural. Jadi teknik bercerita berpasangan dalam pendekatan kooperatif masuk dalam

metode struktural.

Teknik mengajar Bercerita Berpasangan (Paired Storylelling) dikembangkan sebagai pendekatan interaktif antara siswa, pengajar, dan bahan pelajaran (Lie, 2012:70). Teknik ini bisa digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan, ataupun bercerita. Teknik ini menggabungkan kegiatan membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara. Bahan pelajaran yang paling cocok digunakan dalam teknik ini adalah bahan yang bersifat naratif dan deskriptif. Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan dipakainya bahan-bahan yang lainnya.

Teknik bercerita berpasangan merupakan salah satu model atau teknik dalam pembelajaran kooperatif. Dalam kegiatan bercerita berpasangan ini siswa dirangsang untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan berimajinatif (Sugiyanto, 2008:49). Teknik mengajar bercerita berpasangan di kembangkan sebagai pendekatan interaktif antara siswa, pengajar, dan bahkan pelajaran menurut pendapat Lie yang dikutip dari (Sugiyanto, 2008:49). Bahan mata pelajaran yang paling cocok digunakan dengan metode ini adalah bahan yang bersifat naratif atau deskriptif. Bercerita berpasangan cocok untuk tingkat usia semua anak didik.

Berdasarkan pengertian di atas, maka model pembelajaran kooperatif teknik bercerita berpasangan adalah salah satu model pembelajaran kooperatif yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran dengan cara memasangkan siswa dan kemudian mereka menceritakan apa yang telah mereka dapat.

2.2 Langkah-Langkah Teknik Bercerita Berpasangan (Paired Storytelling)

Adapun langkah-langkah teknik bercerita berpasangan (Paired Storytelling) sebagai berikut: 1. Pengajar membagi bahan pelajaran yang akan diberikan menjadi dua bagian. Sebelumnya,

pengajar memberikan pengenalan mengenai topik yang akan dibahas. Kemudian siswa dipasangkan

(8)

2. Bagian bahan pertama diberikan kepada siswa yang pertama. Sedangkan siswa yang kedua menerima bagian bahan yang kedua. Dan siswa membaca bagian mereka masing-masing

3. Sambil membaca siswa ditugaskan untuk mencatat beberapa kata kunci berdasarkan hasil bacaaan mereka masing-masing

4. Setelah selesai membaca, siswa saling menukar daftar kata kunci dengan pasangannya

5. Berdasarkan kata kunci dari pasangannya.Siswa yang telah membaca bagian pertama berusaha untuk menuliskan apa yang terjadi selanjutnya.

6. Beberapa siswa diberikan kesempatan untuk membacakan hasil karangan mereka.

7. Kemudian, guru membagikan bagian cerita yang belum terbaca kepada masing-masing siswa, dan siswa membaca bagian tersebut

8. Kegiatan ini bisa diakhiri dengan diskusi mengenai topik dalam bahan pelajaran hari itu. Diskusi bisa dilakukan antara pasangan atau dengan seluruh siswa dikelas (Lie, 2012:70).

Dalam menerapkan model pembelajaran ini, peneliti akan membagi kelas yang dijadikan sampel menjadi dua, yaitu sebagian dijadikan kelompok eksperimen (di sini peneliti akan langsung menerapkan model pembelajaran kooperatif teknik bercerita berpasangan (Paired Storytelling) menjadi kelompok kontrol (tidak menerapkan model pembelajaran kooperatif teknik bercerita berpasangan (Paired Storytelling).

2.3 Kelebihan dan kekurangan teknik bercerita berpasangan (Paired Storytelling)

Kelebihan model pembelajaran model pembelajaran kooperatif teknik bercerita berpasangan (Paired Story telling) antara lain:

1. Dapat meningkatkan partisipasi siswa terhadap materi yang akan dipelajari selama proses pembelajaran berlangsung.

2. Cocok untuk tugas-tugas yang sederhana.

3. Lebih banyak mendapatkan kesempatan untuk memberikan atau mendapatkan masukan pada masing-masing anggota kelompok.

4. Interaksi yang terjalin lebih mudah, baik antar sesama anggota kelompok satu dengan kelompok lain maupun antara anggota kelompok dengan guru

5. Lebih mudah dan cepat dalam membentuk kelompok sehingga tidak membuang banyak waktu (Lie, 2012:70).

Kekurangan model pembelajaran model pembelajaran kooperatif teknik bercerita berpasangan (Paired Storytelling) antara lain :

(9)

2. Lebih sedikit ide yang muncul karena satu kelompok hanya terdiri dari 2 orang jadi tiap kelompok hanya dapat berinteraksi dan berdiskusi dengan satu anggota kelompok yang lain sebelum akhirnya diadakan diskusi atau kelompok.

3. Jika ada perselisihan antara anggota kelompok, maka tidak akan ada penengah. (Lie, 2012:70).

2.4 Konsep Bercerita

Bercerita merupakan bagian dari keterampilan berbicara dalam pembelajaran Bahasa Indonesia keterampilan berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa lisan.Bercerita adalah aktifitas yang menarik dan digunakan pada semua aktivitas pembelajaran (Jingtis, 2008:56). Bercerita adalah membicarakan kembali sesuatu yang telah didengar atau sesuatu yang telah dilihat (Rahayu, 2009:45)

Dari dua pendapat diatas dapatlah kita simpulkan bahwa bercerita merupakan suatu aktivitas mengulas kembali apa yg telah dilihat,dialami atau dibaca, yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari atau dalam aktivitas pembelajaran. Dengan bercerita siswa dapat meningkatkan pemahamannya terhadap suatu hal dan dapat merangsang untuk melahirkan sebuah ide atau pendapat serta dapat menjadikan pembelajaran sebagai suatu pengalaman yang menyenangkan bagi mereka.

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian

(10)

bagi guru untuk meningkatkan layanan pendidikan melalui penyempurnaan praktik pembelajaran di kelas”. PTK ini menggunakan model kolaborasi yang mengutamakan kerjasama antara kepala sekolah, guru dan peneliti.

PTK ini merupakan upaya untuk mengkaji apa yang terjadi dan telah dihasilkan atau belum tuntas pada langkah upaya sebelumnya. Hasil refleksi digunakan untuk mengambil langkah lebih lanjut dalam upaya mencapai tujuan penelitian. Dengan kata lain refleksi merupakan pengkajian terhadap keberhasilan atau kegagalan terhadap pencapaian tujuan tindakan pembelajaran.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini bertempat di kelas VI SDN Silih Nara Kecamatan Silih Nara Kabupaten Aceh Tengah. Sedangkan waktu penelitian dapat dilihat pada tabel dibawa ini

(11)

Final

3.3 Subyek Penelitian

Sebagai subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VI SDN Silih Nara Kecamatan Silih Nara Kabupaten Aceh Tengah dengan jumlah siswa 27 orang terdiri dari 15 orang siswa perempuan dan 12 orang siswa laki-laki. Situasi kelas yang dijadikan subjek penelitian cukup memadai.

3.4 Prosedur Penelitian

Menurut Muhlis (2003:5) PTK adalah suatu bentuk kajian yang bersifat sistematis reflektif oleh pelaku tindakan untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang dilakukan.

Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih, yaitu penelitian tindakan, maka penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart (dalam Sugiarti, 2007:6), yaitu berbentuk spiral dari sklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana), action (tindakan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Langkah pada siklus berikutnya adalah perncanaan yang sudah direvisi, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus 1 dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi permasalahan.

Siklus spiral dari tahap-tahap penelitian tindakan kelas dapat dilihat pada gambar berikut:

Perencanaan

(12)

Observasi

Refleksi

Proposal Penelitian ini akan dilaksanakan dalam 2 (dua) siklus, dengan masing-masing siklus mempergunakan langkah-langkah:

1. Siklus I

a. Rencana Tindakan

Guru membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang akan dilaksanakan, kemudian menyiapkan karangan-karangan yang akan digunakan dalam pembelajaran. Selain itu juga dipersiapkan lembaran kerja siswa yang akan memandu siswa dalam kegiatan (kerja). Sistem penilaian, persiapan buku pegangan siswa, persiapan soal evaluasi, lembaran observasinya. b. Pelaksanaan Tindakan

Guru membagi bahan pelajaran yang akan diberikan menjadi dua bagian. Sebelumnya, guru memberikan pengenalan mengenai topik yang akan dibahas. Kemudian siswa dipasangkan, selanjutnya bagian bahan pertama diberikan kepada siswa yang pertama. Sedangkan siswa yang kedua menerima bagian bahan yang kedua. Dan siswa membaca bagian mereka masing-masing kemudian sambil membaca siswa ditugaskan untuk mencatat beberapa kata kunci berdasarkan hasil bacaaan mereka masing-masing. Setelah selesai membaca, siswa saling menukar daftar kata kunci dengan pasangannya. Berdasarkan kata kunci dari pasangannya.Siswa yang telah membaca bagian pertama berusaha untuk menuliskan apa yang terjadi selanjutnya. Beberapa siswa diberikan kesempatan untuk membacakan hasil karangan mereka. Kemudian, guru membagikan bagian cerita yang belum terbaca kepada masing-masing siswa, dan siswa membaca bagian tersebut Kegiatan ini bisa diakhiri dengan diskusi mengenai topik dalam bahan pelajaran hari itu. Diskusi bisa dilakukan antara pasangan atau dengan seluruh siswa dikelas.

(13)

Observasi dilakukan oleh observer dan juga peneliti.Semua hal-hal ditemukan ditulis dan direkam oleh peneliti dan observer (Ibu Nurhasanah, S.Pd)

d. Refleksi

Untuk mengoreksi kegiatan yang telah dilakukan diadakan refleksi terhadap hasil yang sudah diperoleh berdasarkan catatan pengamatan atau rekamannya.

2. Siklus II

a. Rencana Tindakan

Berdasarkan hasil refleksi dibuat rencana pembelajaran untuk siklus II (kedua) guna melanjutkan kegiatan siklus I (pertama), dengan menyempurnakan tindakan-tindakan sesuai koreksi.

b. Pelaksanaan Tindakan

Pada siklus II Guru membagi bahan pelajaran yang akan diberikan menjadi dua bagian. Sebelumnya, guru memberikan pengenalan mengenai topik yang akan dibahas. Kemudian siswa dipasangkan, selanjutnya bagian bahan pertama diberikan kepada siswa yang pertama. Sedangkan siswa yang kedua menerima bagian bahan yang kedua. Dan siswa membaca

bagian mereka masing-masing kemudian sambil membaca siswa ditugaskan untuk mencatat beberapa kata kunci berdasarkan hasil bacaaan mereka masing-masing. Setelah selesai membaca, siswa saling menukar daftar kata kunci dengan pasangannya. Berdasarkan kata kunci dari pasangannya.Siswa yang telah membaca bagian pertama berusaha untuk menuliskan apa yang terjadi selanjutnya. Beberapa siswa diberikan kesempatan untuk membacakan hasil karangan mereka. Kemudian, guru membagikan bagian cerita yang belum terbaca kepada masing-masing siswa, dan siswa membaca bagian tersebut Kegiatan ini bisa diakhiri dengan diskusi mengenai topik dalam bahan pelajaran hari itu. Diskusi bisa dilakukan antara pasangan atau dengan seluruh siswa dikelas.

c. Observasi

Observasi dlakukan oleh pengamat dan peneliti, semua temuan dicatat dan direkam sebagai bahan kajian dalam refliksi nantinya (Ibu Nurhasanah, S.Pd).

(14)

Setelah melakukan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran (Paired Storytelling), dilanjutkan dengan melaksanakan refleksi terhadap kegiatan siklus II berdasarkan catatan-catatan pengamat.

3.5 Kriteria Keberhasilan Tindakan

Kriteria keberhasilan tindakan dalam penelitian dapat dilihat dari pencapaian hasil belajar siswa sesuai dengan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) untuk pelajaran bahasa Indonesia yaitu apabila siswa telah mencapai nilai 70 dan kelas disebut tuntas belajar bila di kelas tersebut terdapat 75%.

3.6 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:

3.6.1 Observasi

Oservasi ini sangat diperlukan untuk mengamati proses pembelajaran yang sedang berlangsung berupa aktivitas siswa dalam mengikuti proses pembelajaran dan aktifitas guru selama proses pembelajaran

3.6.2 Tes

Tes ini digunakan untuk memperoleh data tentang tingkat kemampuan penguasaan bercerita siswa dan sesudah proses pembelajaran dilaksanakan. Pada setiap siklus guru memberikan tes tertulis buatan guru untuk menjajagi kompetensi siswa terhadap materi yang akan dibahas pada akhir setiap siklus ara secindividual untuk mengetahui perubahan yang nampak setelah pemakaian tindakan.

(15)

Teknik Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan reduksi data, menyajikan data, pemaknaan data dan penyimpulan. Pada tahap reduksi data peneliti mendeteksi, menyederhanakan, kemudian memformulasikan data untuk siap disajikan secara utuh. Kegiatan penyajian data adalah mengorganisasikan data hasil reduksi. Hal ini dilakukan untuk menghasilkan sajian data yang lengkap, utuh, dan tertata. Kegiatan pemaknaan dan penyimpulan dilakukan setelah kegiatan reduksi dan penyajian data.

Dalam penelitian ini teknik penelitian menggunakan dua teknik yaitu pengamatan dan pembahasan dengan teman sejawat (Peneliti). Data hasil penelitian, hasil observasi didiskusikan setelah selesai kegiatan pembelajaran.

Adapun kriteria hasil pembelajaran adalah sebagai berikut:

1. Apabila rata-rata hasil ulangan harian siswa dan nilai tes formatif lebih dari 70 (70 %) pembelajaran dapat dikatakan berhasil.

2. Apabila rata-rata hasil ulangan harian kurang dari 70 (70 %), pembelajaran belum berhasil sehingga perlu dilanjutkan kesiklus 2.

3. Nilai rata-rata adalah jumlah nilai seluruhnya dibagi banyaknya siswa yang diteliti.

(16)

DAFTAR PUSTAKA

Alvian. 2013. Menumbuhkan Kepercayaan Diri Melalui Kegiatan Bercerita. Jakarta: Indeks.

Ahmad, Susanto. 2013. Penelitian Tindakan Kelas untuk Guru SD, SLB dan TK.Bandung:Yrama Widya.

Anita, Yuni. 2010. Paired Storytelling Sebagai Alternatif Model Pembelajaran Bercerita (online), (http://Paired Storytelling Sebagai Alternatif Model Pembelajaran Bercerita _Agupena Jawa Tengah.htm, di akses tanggal 6 Mei 2013.

Anting, 2008. Perkembangan dan Belajar Peserta Didik.Jakarta: Depdikbud.

Depdiknas. 2012. Kurikulum SD/MI Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdiknas

Jingtis, 2008. Perkembanga dan Pengembangan Kreativitas.Yogyakarta: Aswaja Pressindo. Lie, Anita.2012.Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas.Jakarta: Grasindo. Manalu. 2013. Perkembangan Peserta didik.Jakarta: Rajawali Pers.

Muhlis, Endyah.2003.Penelitian dan Bimbingan Anak Kreatif. Yogyakarta: Pedagogia.

Rahayu, Afrianti. 2009. Menumbuhkan Kepercayaan Diri Melalui Kegiatan Bercerita. Jakarta: Indeks.

Sugiarti. 2007. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya

(17)

17 17

.

Figur

Tabel 3.1 Jadwal Penelitian

Tabel 3.1

Jadwal Penelitian p.10

Referensi

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di