• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembuatan Abon Ikan Gulamah (Johnuis spp.) Dan Daya Terimanya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pembuatan Abon Ikan Gulamah (Johnuis spp.) Dan Daya Terimanya"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBUATAN ABON IKAN GULAMAH (Johnuis spp)

DAN DAYA TERIMANYA

SKRIPSI

Oleh :

NIM. 081000279 NUR LATIFAH LUBIS

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi Dengan Judu l :

PEMBUATAN ABON IKAN GULAMAH (Johnuis spp.)

DAN DAYA TERIMANYA

Yang dipersiapkan dan dipertahankan oleh:

NIM.081000279 NUR LATIFAH LUBIS

Telah Diuji dan Dipertahankan Dihadapan Tim Penguji Skripsi Pada Tanggal 28 Juni 2010

Dinyatakan Telah Memenuhi Syarat Untuk Diterima

TIM PENGUJI

Ketua Penguji Penguji I

Dra. Jumirah, Apt. MKes Dr. Ir. Evawany Y Aritonang, MSi NIP. 195803151988112001 NIP. 196806161993032003

Penguji II Penguji III

Ernawati Nasution, SKM, MKes

NIP. 197002121995012001 NIP. 198207292008122002 Fitri Ardiani, SKM, MPH

Medan, Juli 2010

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara

Dekan,

(3)

ABSTRAK

Ikan Gulamah memiliki nilai ekonomis yang rendah karena memiliki kelemahan berduri dan bersisik banyak biasanya diolah dengan cara diasinkan berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian membuat abon ikan Gulamah. Abon ikan Gulamah terbuat dari ikan Gulamah segar yang dimasak dengan bumbu, rempah-rempah dan santan lalu digoreng dan minyak ditiriskan hingga kering.

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen pembuatan abon ikan Gulamah dengan penambahan gula pasir yang berbeda (50 gr, 100 gr, 200 gr). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui uji daya terima berdasarkan sifat organoleptik yang meliputi warna, aroma, rasa, dan tekstur yang diuji melalui uji hedonik.

Hasil penelitian menunjukkan pada umumnya ketiga abon ikan Gulamah yang dibuat dengan variasi konsentrasi gula pasir disukai oleh panelis. Berdasarkan uji organoleptik warna, aroma, rasa dan tekstur abon ikan Gulamah yang paling disukai menurut panelis adalah abon ikan Gulamah dengan penambahan gula pasir 50 gr. Berdasarkan analisa sidik ragam penambahan konsentrasi gula pasir yang berbeda pada pembuatan abon ikan Gulamah, memberi pengaruh yang berbeda terhadap warna, aroma dan rasa. Penambahan konsentrasi gula pasir yang berbeda pada pembuatan abon ikan Gulamah, tidak memberi pengaruh yang berbeda terhadap tekstur abon ikan Gulamah.

Saran bagi peneliti lain yaitu perlu penelitian lebih lanjut untuk melihat komposisi zat gizi pada abon ikan Gulamah. Untuk mendapatkan warna dan rasa yang lebih baik penambahan gula pasir tidak melebihi 15%.

(4)

ABSTRACT

Gulamah (a silver white fish) had low economical value because of its many thorns and scales; therefore, this kind of fish was usually processed to be salty fish. Based on the explanation above, the researcher was interested in doing the research about gulamah abon. Abon (a dish of fried fish reduced to fibers) of gulamah was of gulamah which was cooked with spices, flavor, and coconut milk, and then the oil was drained.

This research was an experimental study on processing abon from gulamah by adding different measured amount of sugar (50 grams, 100 grams, and 200 grams). The aim of the research was to know the test of the acceptance capacity, based on organoleptic nature which comprised the color, flavor, taste, and texture which were tested by hedonic test.

The result of the research showed that in general the three types of gulamah abon made of the variation of sugar concentration were favored by the panelists. The color, flavor, taste, and texture of gulamah abon,, most favored by the panelists was gulamah abon with 50 grams of sugar. The addition of different sugar concentration in gulamah abon influenced varietly the color, flavor, and taste. The addition of different sugar concentration in processing the gulamah abon did not have significant influence on the texture of the gulamah abon.

It was recommended that the other researchers should keep on their researches in order to see the nutrient composition in the gulamah abon, and to get better color and taste not more than 15 % of sugar addition.

(5)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Nur Latifah Lubis

Tempat/Tanggal Lahir : Bogor/14 September 1986

Agama : Islam

Status Perkawinan : Belum Menikah

Jumlah Bersaudara : 6 (enam) Bersaudara

Alamat : Jalan Menteng Gg. Mambo Rt 02/Rw 04 No. 20

Bogor Barat

Riwayat Pendidikan

Tahun 1992 – 1998 : SDN Dr. Semeru IV Bogor

Tahun 1998 – 2001 : SLTP Negeri 2 Bogor

Tahun 2001 – 2004 : SMU Negeri 6 Bogor

Tahun 2004 – 2007 : D3 Manajemen Usaha Boga Institut Pertanian Bogor

(6)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan

ridho-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi

ini yang berjudul “Pembuatan Abon Ikan Gulamah (Johnuis spp) dan Daya

Terimanya”. Skripsi ini adalah salah satu syarat yang ditetapkan untuk memperoleh

gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas

Sumatera Utara.

Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada Ibu

Dra. Jumirah, Apt, MKes selaku dosen pembimbing I dan Ibu Dr. Ir. Evawany

Yunita Aritonang, MSi selaku selaku dosen pembimbing II yang telah banyak

memberikan pengarahan dan bimbingan dalam penulisan skripsi ini. Selanjutnya

penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. Ibu dr. Ria Masniari Lubis, MSi selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara,

2. Ibu Dra. Jumirah, Apt, MKes selaku ketua Departemen Gizi Kesehatan

Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara,

3. Bapak Dr. Drs. Surya Utama, MS selaku dosen penasehat akademik,

4. Ibu Ernawati Nasution, SKM, MKes dan ibu Fitri Ardiani, SKM, MPH selaku

penguji terimakasih atas masukan dan sarannya atas kesempurnaan skripsi ini,

5. Seluruh dosen dan staff serta seluruh civitas akademika FKM USU yang telah

(7)

6. Papa M. Syuhdi Lubis dan Mama Sahara Nasution yang telah banyak berkorban

materi dan moril serta membesarkan dan mendidik penulis,

7. Kakanda Nurmalasari Lubis, Ernawati Lubis, Zulkarnaen Lubis dan Adinda

Shaleh Idris Lubis, Chaerani Lubis yang telah banyak memberikan movitasi dan

doa kepada penulis untuk menyelesaikan pendidikan,

8. Keluargaku di Medan Hj. Hartini Lubis, Suharni Lubis, SH, Panusunan Nasution

dan Rosanah Lubis, SPd yang telah banyak membantu baik moril maupun

materil,

9. Abangku M. Iswan Nasution yang telah banyak membantu penulis dalam

memberikan motivasi untuk menyelesaikan skripsi ini,

10.Sahabat-sahabat terbaikku Kak Narty, Muna, Fitri, Bang Ashri, Bang Adli, Bang

Halu, Bang Abdul, Kak Renova, Kak Hanum, Bang Martinus yang telah banyak

memberikan dukungan dan bantuan serta kritikan yang menambah semangat

penulis dan teman-teman yang namanya tidak dapat disebutkan satu-persatu,

penulis mengucapkan terima kasih.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih belum sempurna. Untuk

itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari semua

pihak demi kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita

semua.

Medan, Juni 2010

Penulis

(8)

DAFTAR ISI Tempat dan Waktu Eksperimen ... 20

(9)

3.2.3. Peralatan

4.3. Analisa Organoleptik Warna Abon Ikan Gulamah dengan Berbagai Konsentrasi Gula Pasir ... 32

4.4. Analisa Organoleptik Aroma Abon Ikan Gulamah dengan Berbagai Konsentrasi Gula Pasir ... 33

4.5. Analisa Organoleptik Rasa Abon Ikan Gulamah dengan Berbagai Konsentrasi Gula Pasir ... 34

4.6. Analisa Organoleptik Tekstur Abon Ikan Gulamah dengan Berbagai Konsentrasi Gula Pasir ... 36

4.7. Analisa Penerimaan Panelis Terhadap Abon Ikan Gulamah dengan Berbagai Konsentrasi Gula Pasir ... 37

4.8. Analisa Kandungan Protein Abon Ikan Gulamah ... 37

BAB V PEMBAHASAN ... 39

5.1. Analisa Organoleptik Warna Abon Ikan Gulamah dengan Berbagai Konsentrasi Gula Pasir ... 39

5.2. Analisa Organoleptik Aroma Abon Ikan Gulamah dengan Berbagai Konsentrasi Gula Pasir ... 41

5.3. Analisa Organoleptik Rasa Abon Ikan Gulamah dengan Berbagai Konsentrasi Gula Pasir ... 42

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Standar Industri Indonesia untuk Abon No 0368-80,0368-85.. 8

Tabel 3.1. Jenis dan Ukuran Bahan dalam Eksperimen ... 21

Tabel 3.2. Tingkat Penerimaan Konsumen ... 26

Tabel 3.3. Daftar Penilaian Terhadap Uji Organoleptik ... 28

Tabel 3.4. Analisa Sidik Ragam ... 28

Tabel 4.1. Berat Bahan Mentah dan Bahan Masak Abon Ikan Gulamah . 31 Tabel 4.2. Karakteristik Abon Ikan Gulamah yang Dihasilkan ... 31

Tabel 4.3. Hasil Analisa Organoleptik Warna Abon Ikan Gulamah dengan Berbagai Konsentrasi Gula Pasir ... 32

Tabel 4.4. Analisa Sidik Ragam Terhadap Warna... 33

Tabel 4.5. Hasil Analisa Organoleptik Aroma Abon Ikan Gulamah dengan Berbagai Konsentrasi Gula Pasir ... 33

Tabel 4.6. Analisa Sidik Ragam Terhadap Aroma ... 34

Tabel 4.7. Hasil Analisa Organoleptik Rasa Abon Ikan Gulamah dengan Berbagai Konsentrasi Gula Pasir ... 35

Tabel 4.8. Analisa Sidik Ragam Terhadap Rasa ... 35

Tabel 4.9. Hasil Analisa Organoleptik Tekstur Abon Ikan Gulamah dengan Berbagai Konsentrasi Gula Pasir ... 36

Tabel 4.10. Analisa Sidik Ragam Terhadap Tekstur ... 36

Tabel 4.11. Perbandingan Penerimaan Panelis Terhadap Abon Ikan Gulamah dengan Berbagai Konsentrasi Gula Pasir ... 37

(11)

DAFTAR GAMBAR

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Formulir Uji Hedonik

Lampiran 2. Rekapitulasi Data Skor Hasil Penilaian Organoleptik Panelis Terhadap Warna Abon Ikan Gulamah

Lampiran 3. Analisa Sidik Ragam Skor Hasil Uji Organoleptik Panelis Terhadap Warna Abon Ikan Gulamah

Lampiran 4. Rekapitulasi Data Skor Hasil Penilaian Organoleptik Panelis Terhadap Aroma Abon Ikan Gulamah

Lampiran 5. Analisa Sidik Ragam Skor Hasil Uji Organoleptik Panelis Terhadap Aroma Abon Ikan Gulamah

Lampiran 6. Rekapitulasi Data Skor Hasil Penilaian Organoleptik Panelis Terhadap Rasa Abon Ikan Gulamah

Lampiran 7. Analisa Sidik Ragam Skor Hasil Uji Organoleptik Panelis Terhadap Rasa Abon Ikan Gulamah

Lampiran 8. Rekapitulasi Data Skor Hasil Penilaian Organoleptik Panelis Terhadap Tekstur Abon Ikan Gulamah

Lampiran 9. Analisa Sidik Ragam Skor Hasil Uji Organoleptik Panelis Terhadap Tekstur Abon Ikan Gulamah

(13)

ABSTRAK

Ikan Gulamah memiliki nilai ekonomis yang rendah karena memiliki kelemahan berduri dan bersisik banyak biasanya diolah dengan cara diasinkan berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian membuat abon ikan Gulamah. Abon ikan Gulamah terbuat dari ikan Gulamah segar yang dimasak dengan bumbu, rempah-rempah dan santan lalu digoreng dan minyak ditiriskan hingga kering.

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen pembuatan abon ikan Gulamah dengan penambahan gula pasir yang berbeda (50 gr, 100 gr, 200 gr). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui uji daya terima berdasarkan sifat organoleptik yang meliputi warna, aroma, rasa, dan tekstur yang diuji melalui uji hedonik.

Hasil penelitian menunjukkan pada umumnya ketiga abon ikan Gulamah yang dibuat dengan variasi konsentrasi gula pasir disukai oleh panelis. Berdasarkan uji organoleptik warna, aroma, rasa dan tekstur abon ikan Gulamah yang paling disukai menurut panelis adalah abon ikan Gulamah dengan penambahan gula pasir 50 gr. Berdasarkan analisa sidik ragam penambahan konsentrasi gula pasir yang berbeda pada pembuatan abon ikan Gulamah, memberi pengaruh yang berbeda terhadap warna, aroma dan rasa. Penambahan konsentrasi gula pasir yang berbeda pada pembuatan abon ikan Gulamah, tidak memberi pengaruh yang berbeda terhadap tekstur abon ikan Gulamah.

Saran bagi peneliti lain yaitu perlu penelitian lebih lanjut untuk melihat komposisi zat gizi pada abon ikan Gulamah. Untuk mendapatkan warna dan rasa yang lebih baik penambahan gula pasir tidak melebihi 15%.

(14)

ABSTRACT

Gulamah (a silver white fish) had low economical value because of its many thorns and scales; therefore, this kind of fish was usually processed to be salty fish. Based on the explanation above, the researcher was interested in doing the research about gulamah abon. Abon (a dish of fried fish reduced to fibers) of gulamah was of gulamah which was cooked with spices, flavor, and coconut milk, and then the oil was drained.

This research was an experimental study on processing abon from gulamah by adding different measured amount of sugar (50 grams, 100 grams, and 200 grams). The aim of the research was to know the test of the acceptance capacity, based on organoleptic nature which comprised the color, flavor, taste, and texture which were tested by hedonic test.

The result of the research showed that in general the three types of gulamah abon made of the variation of sugar concentration were favored by the panelists. The color, flavor, taste, and texture of gulamah abon,, most favored by the panelists was gulamah abon with 50 grams of sugar. The addition of different sugar concentration in gulamah abon influenced varietly the color, flavor, and taste. The addition of different sugar concentration in processing the gulamah abon did not have significant influence on the texture of the gulamah abon.

It was recommended that the other researchers should keep on their researches in order to see the nutrient composition in the gulamah abon, and to get better color and taste not more than 15 % of sugar addition.

(15)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia (archipelagic state).

Tiga perempat dari luas wilayah Indonesia atau sekitar 5.8 juta km² berupa laut. Garis

pantai Indonesia 81.000 km atau terbesar kedua di dunia. Potensi lestari atau

maximum sustainable yield ikan laut seluruhnya 6.4 juta ton pertahun atau sekitar 7%

dari total potensi lestari ikan laut di dunia, namun baru sekitar 58.5% yang

dimanfaatkan, hasil perikanan laut Indonesia pada tahun 2003 mencapai 4.1 juta ton

(63% dari potensi lestari), sedangkan pada tahun 2005, produksi ikan secara nasional

mencapai 4.970.010 ton. Bidang kelautan dan perikanan menyumbang 65% dari

kebutuhan protein masyarakat, 60% diantaranya adalah hewan tangkapan (Numberi,

2008).

Perikanan merupakan subsektor yang sangat potensial untuk dikembangkan

dalam pembangunan di Indonesia. Ikan sebagai komoditi utama disubsektor

perikanan merupakan salah satu bahan pangan yang kaya protein. Manusia sangat

(16)

hampir sama dengan pola asam amino yang terdapat dalam tubuh manusia (Afrianto

dan Liviawaty, 1989).

Ikan pada umumnya dan ikan laut pada khususnya merupakan bahan pangan

yang kaya akan yodium. Zat ini diperlukan oleh tubuh untuk dapat membentuk

hormon tiroksin. Kandungan yodium yang terkandung dalam ikan mencapai 83

mikrogram/100 gram ikan. Sementara daging hanya mengandung 5 mikrogram/100

gram, dengan demikan konsumsi ikan laut yang tinggi dapat mencegah penyakit

gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY). Selain mengandung protein, ikan

kaya akan mineral seperti kalsium, fosfor yang diperlukan untuk pembentukan tulang,

serta zat besi yang diperlukan untuk pembentukan hemoglobin darah.

Ikan merupakan sumber protein hewani utama dalam menu diseluruh

Indonesia, terutama bagi penduduk yang kurang mampu. Protein mempunyai fungsi

yang unik bagi tubuh seperti menyediakan bahan-bahan yang penting peranannya

untuk pertumbuhan dan memelihara jaringan tubuh, bekerja sebagai pengatur

kelangsungan proses dalam tubuh, memelihara tenaga jika keperluannya tidak dapat

dipenuhi oleh karbohidrat dan lemak. Protein juga merupakan zat penting bagi semua

jaringan tubuh yang fungsi umumnya sebagai zat pembangun atau pertumbuhan

jaringan-jaringan tubuh, sehingga apabila seseorang kekurangan protein akan

mengakibatkan proses metabolisme tidak normal (Soediaoetama, 1991).

Seperti yang dikemukakan oleh Karyadi (1991), bahwa ikan sebagai salah

satu sumber daya laut mempunyai protein cukup tinggi dan mutu cerna susunan asam

(17)

anak, mengandung vitamin A dan B, juga asam lemak jenuh omega 3, selain itu ikan

juga mudah dicerna sehingga cukup baik untuk dikonsumsi oleh manusia.

Banyaknya manfaat ikan tidak dibarengi dengan konsumsi ikan, menurut

penelitian yang telah dilakukan pada keluarga nelayan, frekuensi konsumsi ikan

kurang dari 2 kali dalam sehari, Numberi (2008) menyatakan tingkat konsumsi ikan

di Indonesia masih rendah berdasarkan data Ditjen Pengawasan dan Pengendalian

Kelautan dan Perikanan (P2KP) DKP, saat ini tingkat konsumsi ikan bagi orang

Indonesia mencapai 26 kilogram perkapita dalam setiap tahunnya, hal ini termasuk

rendah karena dibawah standar FAO (30 Kg/thn).

Ikan merupakan komoditi yang cepat mengalami pembusukan (perishable

food). Pembusukan disebabkan oleh enzim, baik dari ikan itu sendiri maupun

mikroba dan proses ketengikan (rancidity). Kadar air ikan segar yang tinggi

mempercepat proses perkembangbiakan mikroorganisme pembusuk yang terdapat di

dalamnya. Selain itu lemak ikan banyak mengandung asam lemak tidak jenuh yang

sifatnya sangat mudah teroksidasi sehingga menimbulkan bau tengik.

Daya tahan ikan segar yang tidak lama, menjadi kendala dalam usaha

perluasan pemasaran hasil perikanan. Bahkan sering menimbulkan kerugian besar

pada saat produksi ikan melimpah. Oleh karena itu, sejak lama masyarakat berusaha

melakukan berbagai macam proses pengolahan pascapanen ikan guna meminimalkan

kendala tersebut.

Pada dasarnya proses pengolahan pascapanen ikan bertujuan untuk

mengurangi kadar air dalam daging ikan. Penurunan kadar air ini bisa menghambat

(18)

akan memiliki daya tahan lebih lama dibandingkan daging ikan segarnya. Terdapat

bermacam-macam cara pengolahan pascapanen ikan, mulai dari cara tradisional

sampai modern. Untuk mendapatkan hasil pengawetan yang bermutu tinggi,

diperlukan perlakuan yang baik selama proses pengawetan. Salah satu cara

pengawetan ikan adalah dengan mengolahnya menjadi abon ikan.

Menurut Dewan Standarisasi Nasional (1995) yang dikutip oleh Wijaya

(2007) mendefinisikan abon sebagai suatu jenis makanan kering berbentuk khas yang

terbuat dari daging yang direbus, disayat-sayat, dibumbui, digoreng dan dipres.

Pembuatan abon menjadi alternative pengolahan ikan dalam rangka

penganekaragaman produk perikanan.

Menurut Suryani (2007) abon ikan merupakan jenis makanan olahan ikan

yang diberi bumbu, diolah dengan cara perebusan dan penggorengan. Produk yang

dihasilkan mempunyai bentuk lembut, rasa enak, bau khas, dan mempunyai daya

simpan yang relatif lama. Sementara menurut Karyono dan Wachid (1982), abon ikan

adalah produk olahan hasil perikanan yang dibuat dari daging ikan, melalui

kombinasi dari proses penggilingan, penggorengan, pengeringan dengan cara

menggoreng, serta penambahan bahan pembantu dan bahan penyedap terhadap

daging ikan.

Menurut penelitian yang telah dilakukan Wijaya (2007) pembuatan abon dari

ikan mempunyai keuntungan ganda yaitu penganekaragaman suatu produk ikan dan

sekaligus memperpanjang daya simpan dari abon tersebut, jenis ikan yang biasa

(19)

Setelah dilakukan survei di beberapa Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di daerah

Belawan, Medan dan di pasar (pasar Simpang Limun, pasar Brayan) ikan Gulamah

dimasyarakat lebih dikenal dengan ikan kepala batu (Sciaeria spp./Johnuis spp)

merupakan ikan laut yang sangat berlimpah dan memiliki nilai ekonomis yang rendah

Rp 5000/kg namun ikan Gulamah kurang diminati untuk dikonsumsi oleh masyarakat

karena berukuran kecil, berduri banyak, dan ikan Gulamah biasanya diolah dengan

cara diasinkan. Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk mengadakan

penelitian membuat abon ikan Gulamah dan melakukan uji daya terimanya.

1.2. Perumusan Masalah

Rumusan masalah penelitian ini adalah, ”Bagaimana Pembuatan Abon Ikan

Gulamah dan Daya Terimanya”.

1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk membuat abon ikan Gulamah

dengan berbagai konsentrasi gula pasir dan untuk mengetahui uji daya terimanya.

1.3.2. Tujuan Khusus

1. Mengetahui daya terima terhadap warna, aroma, rasa, tekstur abon ikan

Gulamah dengan berbagai konsentrasi gula pasir.

2. Mengetahui adanya perbedaan daya terima abon ikan Gulamah yang dibuat

dengan berbagai konsentrasi gula pasir.

(20)

1.4. Manfaat Penelitian

1. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi masyarakat

dalam usahanya mengawetkan komoditi perikanan, dan mengolah komoditi

perikanan menjadi produk yang cukup bergizi dengan harga yang murah.

2. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang penganekaragaman suatu

produk dari ikan dengan bahan dasar ikan Gulamah.

(21)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Abon

2.1.1. Pengertian Abon

Abon merupakan salah satu jenis makanan awetan berasal dari daging (sapi,

kerbau, ikan laut) yang disuwir-suwir dengan berbentuk serabut atau dipisahkan dari

seratnya. Kemudian ditambahkan dengan bumbu-bumbu selanjutnya digoreng.

Dalam SNI 01-3707-1995 disebutkan abon adalah suatu jenis makanan kering

berbentuk khas, dibuat dari daging, direbus disayat-sayat, dibumbui, digoreng dan

dipres.

Abon sebenarnya merupakan produk daging awet yang sudah lama dikenal

masyarakat. Data BPS (1993) dalam Sianturi (2000) menunjukan bahwa abon

merupakan produk nomor empat terbanyak diproduksi. Abon termasuk makanan

ringan atau lauk yang siap saji. Produk tersebut sudah dikenal oleh masyarakat umum

sejak dulu. Abon dibuat dari daging yang diolah sedemikian rupa sehingga memiliki

karakteristik kering, renyah dan gurih. Pada umumnya daging yang digunakan dalam

pembuatan abon yaitu daging sapi atau kerbau (Suryani et al, 2007).

2.1.2. Abon Ikan

Abon ikan adalah jenis makanan awetan yang terbuat dari ikan laut yang

diberi bumbu, diolah dengan cara perebusan dan penggorengan. Produk yang

(22)

simpan yang relatif lama. Menurut Suryani (2007) Abon ikan merupakan jenis

makanan olahan ikan yang diberi bumbu, diolah dengan cara perebusan dan

penggorengan. Produk yang dihasilkan mempunyai bentuk lembut, rasa enak, bau

khas, dan mempunyai daya simpan yang relatif lama. Karyono dan Wachid (1982)

menyatakan, abon ikan adalah produk olahan hasil perikanan yang dibuat dari daging

ikan, melalui kombinasi dari proses penggilingan, penggorengan, pengeringan

dengan cara menggoreng, serta penambahan bahan pembantu dan bahan penyedap

terhadap daging ikan. Seperti halnya produk abon yang terbuat dari daging ternak,

abon ikan cocok dikonsumsi sebagai pelengkap makan roti ataupun sebagai

lauk-pauk.

2.1.3. Standar Mutu Abon

Abon sebagai salah satu produk industri pangan yang memiliki standar mutu

yang telah ditetapkan oleh Departemen Perindustrian. Penetapan standar mutu

merupakan acuan bahwa suatu produk tersebut memiliki kualitas yang baik dan aman

bagi konsumen. Para produsen abon disarankan membuat produk abon dengan

memenuhi Standar Industri Indonesia (SII). Standar SII dapat dilihat pada tabel 2.1

Faktor-faktor yang mempengaruhi standar mutu abon antara lain :

1. Kadar air – berpengaruh terhadap daya simpan dan keawetan abon.

2. Kadar abu – menurunkan derajat penerimaan dari konsumen.

3. Kadar protein – sebagai petunjuk beberapa jumlah daging/ikan yang digunakan

(23)

4. Kadar lemak – berhubungan dengan bahan baku yang digunakan, ada tidaknya

menggunakan minyak goreng dalam penggorengan.

Tabel 2.1 Standar Industri Indonesia untuk Abon No 0368-80,0368-85

Komponen Nilai

Lemak (maksimum) 30%

Gula (maksimum) 30%

Protein 20%

Air (maksimum) 10%

Abu (maksimum) 9%

Aroma, warna dan rasa Khas

Logam berbahaya (Cu, Pb, Mg, Zn dan As) Negatif

Jumlah bakteri (maksimum) 3000/g

Bakteri bentuk koli Negatif

Jamur

Negatif

Sumber : Standar Industri Indonesia

Menurut Wisena (1998) yang dikutip oleh Sianturi (2000), semakin tinggi

harga abon, kualitas abon semakin baik, dimana bahan tambahan yang digunakan

sebagai pencampur semakin sedikit atau tidak ada sama sekali.

2.1.4. Bahan Pembuatan Abon

Beberapa bumbu tambahan yang sering digunakan dalam pembuatan abon

ikan adalah santan kelapa, rempah-rempah (bumbu), gula, garam, minyak goreng.

a. Santan kelapa

Santan kelapa merupakan emulsi lemak dalam air yang terkandung dalam kelapa

(24)

kelapa yang diperoleh tergantung pada tua atau muda kelapa yang akan digunakan

dan jumlah dalam pembuatan air yang ditambahkan.

Penambahan santan kelapa akan menambah cita rasa dan nilai gizi suatu produk

yang akan dihasilkan oleh abon. Santan akan menambah rasa gurih karena

kandungan lemaknya yang tinggi. Berdasarkan hasil penelitian abon yang

dimasak dengan menggunakan santan kelapa akan lebih gurih rasanya

dibandingkan abon yang dimasak tidak menggunakan santan kelapa.

b. Rempah-rempah

Rempah-rempah (bumbu) yang ditambahkan pada pembuatan abon bertujuan

memberikan rasa dan aroma yang dapat membangkitkan selera makan. Jenis

rempah-rempah yang digunakan dalam pembuatan abon adalah bawang merah,

bawang putih, kemiri, sereh dan daun salam. Manfaat lain penggunaan

rempah-rempah adalah sebagai pengawet dikarenakan beberapa rempah-rempah-rempah-rempah dapat

membunuh bakteri.

c. Gula dan garam

Penggunaan gula dan garam dalam pembuatan abon bertujuan menambah cita

rasa dan memperbaiki tekstur suatu produk abon. Pada pembuatan abon, gula

mengalami reaksi millard. Sehingga menimbulkan warna kecoklatan yang dapat

menambah daya tarik suatu produk abon dan memberikan rasa manis.

Garam dapur (NaCl) merupakan bahan tambahan yang hampir selalu digunakan

untuk membuat suatu masakan. Rasa asin yang ditimbulkan oleh garam dapur

(25)

pengawet karena berbagai mikroba pembusuk, khususnya yang bersifat proteolitik

sangat peka terhadap kadar garam.

d. Minyak goreng

Fungsi minyak goreng dalam pembuatan abon adalah sebagai pengantar panas,

penambah rasa gurih dan penambah nilai gizi, khususnya kalori yang ada dalam

bahan pangan.

Menurut Suryani (2007) bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan abon ikan

tuna dimana menghasilkan abon sebanyak 60 kg adalah :

- Daging ikan tuna tanpa tulang 100 kg

- Bawang merah 7,5 kg (2,5 kg dijadikan bawang goreng)

- Bawang putih 1,5 kg

- Bubuk ketumbar 2,5 kg

- Lengkuas 10 kg

- Daun salam 0,5 kg

- Sereh 2 kg

- Gula pasir 20 kg

- Garam 1-1,5 kg

- Penyedap rasa 1 kg

- Santan kental 20 liter (25 butir kelapa)

- Minyak goreng 15 liter

Cara pembuatannya adalah :

1. Bersihkan daging dari sisa tulang, kemudian cuci hingga bersih.

2. Potong kecil daging dengan ukuran 5 cm x 5 cm x 5 cm atau bisa juga lebih besar.

3. Panaskan air dalam panci lalu masukan garam, sereh dan daun salam.

4. Masukan daging lalu rebus selama 30-60 menit hingga matang dan empuk.

(26)

6. Tumbuk perlahan daging yang sudah kering, kemudian cabik-cabik dengan garpu.

7. Campurkan bubuk ketumbar, garam, gula pasir dan penyedap rasa dalam daging

yang sudah dicabik-cabik, lalu aduk hingga rata.

8. Giling bawang merah, bawang putih dan lengkuas hingga halus, lalu campurkan

ke dalam daging.

9. Aduk campuran daging dengan bumbu hingga rata.

10.Tuangkan santan kental ke dalam campuran daging, kemudian aduk hingga rata.

11.Panaskan minyak goreng dalam wajan, kemudian masukan daging yang sudah

dibumbui.

12.Goreng abon dengan api kecil sambil diaduk hingga matang. Ciri abon yang

sudah matang yaitu timbul suara gemeresik jika diremas

13.Tiriskan abon.

14.Masukkan abon yang sudah matang ke dalam alat press. Caranya putar batang

pengepres hingga sisa minyak terpisahkan dari abon.

15.Pisahkan abon yang menggumpal dengan garpu.

16.Campur abon dengan bawang goreng.

2.2. Ikan Gulamah

Ikan Gulamah tersebar hampir di seluruh perairan Indonesia meliputi

Sumatera, Jawa dan Nusa Tenggara, seluruh perairan Kalimantan dan Sulawesi

kecuali daerah laut dalam sekitar Masalembo dan Banda, serta Maluku dan Irian Jaya

(Anonim, 2009).

Ikan Gulamah termasuk ikan demersal, ikan “demersal” adalah ikan yang

umumnya hidup di daerah dekat dasar perairan, ikan demersal umumnya berenang

tidak berkelompok (soliter). Sumberdaya ikan demersal terbagi dua berdasarkan

(27)

(Grouper), kakap (Snaper), ikan demersal kecil seperti kelompok Siganid (Baronang)

Upenid (Upeneus spp), Gulamah (Johnuis spp).

Menurut Pusat Informasi Pelabuhan Perikanan (PIPP), ikan Gulamah

termasuk kedalam Ordo : Percomorphi. Sub ordo : Percoidea. Divisi : Perciformes.

Famili : Scienidae, genus : Argyrosomus. Menurut Weber et al, 1993 dalam Anonim

(2010) ciri ikan Gulamah adalah bermulut lebar, gigi-gigi besar dan kecil pada

rahangnya. Gigi besar pada bagian ujung rahang atas, tanpa gigi taring. Bentuknya

lonjong atau lebih mirip wortel yang dilengkapi dengan tonjolan seperti akar pohon

yang berjumlah 22-29. Panjang gurat sisi dapat mencapai 3 cm namun umumnya

25-30 cm. Sirip punggung berjari-jari keras 10, diikuti dengan 1 jari-jari keras yang

bersambungan dengan 25-28 jari-jari lemah. Sirip dubur berjari-jari keras 2 dan 7

jari-jari lemah. Warna dasar yang dimiliki ikan ini adalah putih keabuan dengan

adanya strip-strip yang bergelombang. Terdapat di bagian atas badan suatu ban

kuning pucat memanjang di atas garis rusuk. Totol hitam pada pangkal sirip dada,

juga pada penutup insang. Sirip-sirip sebagin kuning sebagian gelap. Ukuran : dapat

mencapai panjang 38 cm, umumnya 25-30 cm. Gambar ikan Gulamah dapat dilihat

pada gambar dibawah ini.

(28)

2.3. Daya Terima Makanan

Daya terima makanan adalah kesanggupan seseorang untuk menghabiskan

makanan yang disajikan (Rudatin, 1997). Daya terima atau preferensi makanan dapat

didefinisikan sebagai tingkat kesukaan atau ketidaksukaan individu terhadap suatu

jenis makanan. Diduga tingkat kesukaan ini sangat beragam pada setiap individu.

Sehingga akan berpengaruh terhadap konsumsi pangan (Suhardjo, 1989).

Segi sosial budaya pangan berhubungan dengan konsumsi pangan dalam

menerima atau menolak bentuk atau jenis pangan tertentu, perilaku ini berakar dari

kebiasaan kelompok penduduk, selanjutnya dijelaskan pula bahwa pada umumnya

kebiasaan pangan seseorang tidak didasarkan atas keperluan fisik akan zat-zat gizi

yang terkandung dalam pangan. Kebiasaan makan berasal dari pola pangan yang

diterima budaya kelompok dan diajarkan kepada seluruh anggota keluarga (Suhardjo,

1989). Menurut Wirakusumah (1990) yang dikutip oleh Mulyaningrum (2007)

Kesukaan terhadap makanan didasari oleh sensorik, sosial, psikologi, agama, emosi,

budaya, kesehatan, ekonomi, cara persiapan dan pemasakan makanan, serta

faktor-faktor terkait lainnya. Penilaian seseorang terhadap kualitas makanan berbeda-beda

tergantung selera dan kesenangannya. Perbedaan suku, pengalaman, umur dan tingkat

ekonomi seseorang mempunyai penilaian tertentu terhadap jenis makanan, sehingga

standar kulitas makanan sulit untuk ditetapkan. Walaupun demikian ada beberapa

aspek yang dapat dinilai yaitu persepsi terhadap cita rasa makanan, nilai gizi dan

(29)

1. Penampilan dan cita rasa makanan

Menurut Moehyi (1992) cita rasa makanan mencakup 2 aspek utama yaitu

penampilan makanan sewaktu dihidangkan dan rasa makanan pada saat dimakan

kedua aspek tersebut sama pentingnya untuk diperhatikan agar betul-betul dapat

menghasilkan makanan yang memuaskan. Daya penerimaan terhadap suatu makanan

ditentukan oleh rangsangan yang ditimbulkan oleh makanan melalui indera

penglihatan, penciuman serta perasa atau pencecap bahkan mungkin pendengar.

Walaupun demikian faktor utama yang akhirnya mempengaruhi daya penerimaan

terhadap makanan yaitu rangsangan cita rasa yang ditimbulkan oleh makanan itu.

Oleh karenanya penting sekali dilakukan penilain cita rasa untuk mengetahui daya

penerimaan konsumen.

Menurut Winarno (1997) rasa suatu makanan merupakan faktor yang turut

menentukan daya terima konsumen. Rasa dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu

senyawa kimia, suhu, konsentrasi dan interaksi dengan komponen rasa yang lain.

Rasa makanan merupakan faktor kedua yang menentukan cita rasa makanan

setelah penampilan makanan itu sendiri. Apabila penampilan makanan yang disajikan

merangsang saraf melalui indera penglihatan sehingga mampu membangkitkan selera

untuk mencicipi makanan itu, maka pada tahap selanjutnya rasa makanan itu akan

ditentukan oleh rangsangan terhadap indera penciuman dan indera perasa.

Aroma yang disebarkan oleh makanan merupakan daya tarik yang sangat kuat

dan mampu merangsang indera penciuman sehingga membangkitkan selera.

(30)

menguap itu dapat sebagai akibat atau reaksi karena pekerjaan enzim atau dapat juga

terbentuk tanpa bantuan reaksi enzim.

Warna makanan memegang peranan utama dalam penampilan makanan

karena merupakan rangsangan pertama pada indera mata. Warna makanan yang

menarik dan tampak alamiah dapat meningkatkan cita rasa.

2. Konsistensi atau tekstur makanan

Konsistensi atau tekstur makanan juga merupakan komponen yang turut

menentukan cita rasa makanan karena sensitifitas indera cita rasa dipengaruhi oleh

konsistensi makanan. Makanan yang berkonsistensi padat atau kental akan

memberikan rangsangan lebih lambat terhadap indera kita.

2.4. Uji Organoleptik

Penilaian organoleptik yang disebut juga penilaian indera atau penilaian

sensorik merupakan suatu cara penilaian yang sudah sangat lama dikenal dan masih

sangat umum digunakan. Metode penilaian ini banyak digunakan karena dapat

dilaksanakan dengan cepat dan langsung. Dalam beberapa hal penilaian dengan

indera bahkan memeliki ketelitian yang lebih baik dibandingkan dengan alat ukur

yang paling sensitif. Penerapan penilaian organoleptik pada prakteknya disebut uji

organoleptik yang dilakukan dengan prosedur tertentu. Uji ini akan menghasikan

data yang penganalisisan selanjunya menggunakan metode statistika (Soekarto,

2002).

(31)

dalam penelitian dan pengembangan produk, dalam hal ini prosedur penilaian

memerlukan pembakuan yang baik dalam cara penginderaan maupun dalam

melakukan analisis data (Rahayu, 1998).

Indera yang berperan dalam uji organoleptik adalah indera penglihatan,

penciuman, pencicipan, peraba dan pendengaran. Panel diperlukan untuk

melaksanakan penilaian organoleptik dalam penilaian mutu atau sifat-sifat sensorik

suatu komoditi, panel bertindak sebagi instrumen atau alat. Panel ini terdiri atas orang

atau kelompok yang bertugas menilai sifat dari suatu komoditi, orang yang menjadi

anggota panel disebut panelis.

Uji hedonik atau uji kesukaan merupakan salah satu jenis uji penerimaan.

Dalam uji ini panelis diminta mengungkapkan tanggapan pribadinya tentang

kesukaan atau sebaliknya ketidaksukaan, disamping itu mereka juga mengemukakan

tingkat kesukaan/ketidaksukaan. Tingkat-tingkat kesukaan ini disebut orang skala

hedonik, misalnya amat sangat suka, sangat suka, suka, agak suka, netral, agak tidak

suka, tidak suka, sangat tidak suka dan amat sangat tidak suka (Rahayu, 1998).

Pada uji hedonik panelis diminta untuk menggungkapkan tanggapan

pribadinya tentang kesukaan atau ketidaksukaan terhadap suatu produk. Skala

hedonik dapat direntangkan atau diciutkan sesuai yang diinginkan peneliti (Rahayu,

1998).

2.5. Panelis

Dalam penilaian organoleptik dikenal tujuh macam panel, yaitu panel

(32)

panel anak-anak. Perbedaan ketujuh panel tersebut didasarkan pada keahlian dalam

melakukan penilaian organoleptik.

1. Panel Perseorangan

Penel perseorangan adalah orang yang sangat ahli dengan kepekaan spesifik yang

sangat tinggi yang diperoleh karena bakat atau latihan-latihan yang sangat intensif.

Panel perseorangan sangat mengenal sifat, peranan dan cara pengolahan bahan

yang akan dinilai dan menguasai metode-metode analisis organoleptik dengan

sangat baik. Keuntungan menggunakan panelis ini adalah kepekaan tinggi, bias

dapat dihindari, penilaian efisien.

2. Panel Terbatas

Panel terbatas terdiri dari 3-5 orang yang mempunyai kepekaan tinggi sehingga

bias lebih dapat dihindari. Panelis ini mengenal dengan baik faktor-faktor dalam

penilaian organoleptik dan mengetahui cara pengolahan dan pengaruh bahan baku

terhadap hasil akhir.

3. Panel Terlatih

Panel terlatih terdiri dari 15-25 orang yang mempunyai kepekaan cukup baik.

Untuk menjadi panelis terlatih perlu didahului dengan seleksi dan latihan-latihan.

Panelis ini dapat menilai beberapa rangsangan sehingga tidak terlampau spesifik.

4. Panel Agak Terlatih

Panel agak terlatih terdiri dari 15-25 orang yang sebelumya dilatih untuk

(33)

5. Panel Tidak Terlatih

Panel tidak terlatih terdiri dari 25 orang awam yang dapat dipilih berdasarkan jenis

suku-suku bangsa, tingkat sosial dan pendidikan. Panel tidak terlatih hanya

diperbolehkan menilai sifat-sifat organoleptik yang sederhana seperti sifat

kesukaan, tetapi tidak boleh digunakan dalam uji pembedaan.

6. Panel Konsumen

Panel konsumen terdiri dari 30 hingga 100 orang yang tergantung pada target

pemasaran komoditi. Panel ini mempunyai sifat yang sangat umum dan dapat

ditentukan berdasarkan perorangan atau kelompok tertentu.

7. Panel Anak-anak

Panel yang khas adalah panel yang menggunakan anak-anak berusia 3-10 tahun.

Biasanya anak-anak digunakan sebagai panelis dalam penilaian produk-produk

pangan yang disukai anak-anak seperti permen, es krim dan sebagainya.

2.6. Kerangka Pikir Penelitian

Gambar 2.2. Kerangka Pikir Penelitian Ikan Gulamah

Konsentrasi gula pasir (50 gr, 100 gr, 200 gr)

Abon ikan Gulamah

(34)

Keterangan :

1. Ikan Gulamah yang segar dibersihkan dari bagian kepala, ekor, sisik dan isi

perutnya kemudian dicuci sampai bersih.

2. Pembuatan abon ikan Gulamah dengan konsentrasi gula pasir (50 gr, 100 gr,

200 gr).

3. Dilihat daya terima konsumen terhadap warna, aroma, rasa dan tekstur abon

ikan Gulamah.

2.7. Hipotesis Penelitian

Ho : Tidak ada perbedaan daya terima terhadap warna, aroma, rasa, dan tekstur

abon ikan Gulamah dengan konsentrasi gula pasir yang berbeda.

Ha : Ada perbedaan daya terima terhadap warna, aroma, rasa, dan tekstur abon

(35)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini bersifat eksperimen, dalam penelitian ini dilakukan pembuatan

abon ikan, dengan bahan dasar ikan Gulamah dengan konsentrasi gula 50 gr, 100 gr

dan 200 gr.

3.2. Prosedur Pelaksanaan Eksperimen

Prosedur pelaksanaan eksperimen merupakan langkah-langkah yang telah

ditentukan dalam melaksanakan percobaan pembuatan abon ikan Gulamah dengan

berbagai konsentrasi gula pasir. Adapun prosedur pelaksanaan eksperimen meliputi

tempat dan waktu eksperimen, bahan dan alat serta tahap-tahap eksperimen.

3.2.1. Tempat dan Waktu Eksprimen

Eksperimen ini dilakukan di Laboratorium Gizi, Fakultas Kesehatan

Masyarakat Universitas Sumatera Utara (FKM-USU) Medan. Penelitian dilakukan

pada bulan Januari sampai dengan bulan Mei 2010.

3.2.2. Bahan Eksperimen

Bahan yang digunakan dalam eksperimen terdiri dari dua jenis yaitu bahan

utama dan bahan tambahan. Bahan utamanya adalah ikan Gulamah, sedangkan bahan

tambahan terdiri dari bumbu-bumbu seperti bawang merah, bawang putih, ketumbar,

(36)

Untuk menghasilkan abon ikan Gulamah yang berkualitas perlu perbandingan

ukuran bahan-bahan. Adapun perbandingan ukuran bahan yang digunakan didalam

eksperimen ini dapat dilihat pada tabel 3.1.

Tabel 3.1. Jenis dan Ukuran Bahan dalam Eksperimen

Bahan Konsentrasi Gula Pasir (gr)

50 100 200

Ikan Gulamah

Santan kental (2 butir kelapa +50 ml air) Gula pasir

3.2.3. Peralatan yang Digunakan

Peralatan yang digunakan didalam pelaksanaan eksperimen ini dipilih yang

kondisinya masih baik dan higienis. Peralatan yang digunakan dalam eksperimen

(37)

3.2.4. Tahap-tahap Eksperimen

Eksperimen dalam pembuatan abon ikan dengan berbagai konsentrasi gula ini

melalui beberapa tahap yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap

penyelesaian.

1). Tahap persiapan

− Menyiapkan semua alat, bahan utama dan bahan tambahan yang diperlukan dalam

pembuatan abon ikan.

− Menimbang bahan-bahan yang diperlukan dalam pembuatan abon ikan (bahan

seperti pada tabel 3.1).

2). Tahap pelaksanaan

Tahap pelaksanaan dalam pembuatan abon ikan Gulamah meliputi tahap

perebusan, tahap pemisahan dari tulang, tahap pencampuran, tahap penggorengan.

a) Perebusan

− Daging ikan (3000 gr) yang sudah dibersihkan (dari bagian sisik dan kepala)

direbus selama 30 menit. Air perebusan menggunakan daun salam dan sereh.

b) Pencabikan (memisahkan dari tulang)

− Pemisahan dari tulang dilakukan agar daging ikan terpisah menjadi serat-serat

yang halus. Pemisahan daging ikan dilakukan secara manual.

− Setelah dilakukan pemisahan dengan tulang didapat berat bersih sebesar 1200 gr,

(38)

c) Pencampuran

− Bagian pertama : daging ikan 400 gr+50 gr gula dicampurkan dengan bawang

merah, bawang putih, kemiri, ketumbar, garam, santan kental.

− Bagian kedua : daging ikan 400 gr+100 gr gula dicampurkan dengan bawang

merah, bawang putih, kemiri, ketumbar, garam, santan kental.

− Bagian ketiga : daging ikan 400 gr+200 gr gula dicampurkan dengan bawang

merah, bawang putih, kemiri, ketumbar, garam, santan kental.

− Setelah dicampurkan dengan bumbu didiamkan 30 menit agar bumbu meresap.

d) Penggorengan

− Daging ikan yang sudah diberi bumbu digoreng selama 40 menit sampai matang.

e) Pengangkatan dan pendinginan

− Abon ikan yang sudah matang kemudian diangkat dan ditiriskan kemudian

didinginkan.

f) Pengepresan/Pemisahan dari minyak

− Pengepresan bertujuan untuk mengeluarkan minyak yang ada di dalam bahan.

3). Tahap penyelesaian

− Setelah dilakukan pengepresan dicampur dengan bawang goreng sebanyak 30 gr.

− Dikemas dengan menggunakan plastik atau wadah tertutup sesuai dengan

kelompoknya.

(39)

(A1 : 50 gr, A2 : 100 gr, A3 : 200 gr)

Gambar 3.1. Diagram Alir Proses Pembuatan Abon

Daging ikan bersih

Perebusan (30 menit)

Pemisahan dari tulang

Pecampuran Gula Pasir

Didiamkan (30 menit)

Penggorengan (40 menit )

Pengepresan

Abon Ikan Gulamah

pencampuran

Pengemasan

penyimpanan Bawang goreng

Plastik Dipanaskan

Minyak goreng Air

Dipanskan

Santan dan aneka bumbu

Sisa minyak goreng Ikan Gulamah

(40)

3.3. Definisi Operasional

1. Ikan Gulamah adalah ikan laut yang memiliki kulit berwarna putih

keabu-abuan dan mengkilap, berukuran kecil dan diperoleh dari pasar simpang

limun.

2. Abon adalah sejenis makanan kering yang terbuat dari bahan ikan

Gulamah dengan berbagai konsentrasi gula pasir.

3. Organoleptik (sifat inderawi) adalah sifat-sifat yang melekat pada suatu

bahan pangan yang dapat diinderakan/dikarakterisasi oleh alat inderawi

seperti indera perasa, pencium dan penglihatan.

4. Uji daya terima atau uji hedonik adalah pengujian yang dilakukan untuk

mengetahui tingkat daya terima konsumen dengan mempergunakan skala

hedonik empat titik sebagai acuan.

5. Uji daya terima terhadap warna adalah pengujian yang dilakukan untuk

mengetahui tingkat daya terima konsumen terhadap corak rupa yang

ditimbulkan oleh abon ikan Gulamah.

6. Uji daya terima terhadap aroma adalah pengujian yang dilakukan untuk

mengetahui tingkat daya terima konsumen terhadap bau khas abon ikan.

7. Uji daya terima terhadap rasa adalah pengujian yang dilakukan untuk

mengetahui tingkat daya terima konsumen terhadap rasa.

8. Uji daya terima terhadap tekstur adalah pengujian yang dilakukan untuk

(41)

3.4. Uji Daya Terima

Untuk mengetahui hasil percobaan perlu dilaksanakan penilaian kepada

masyarakat melalui uji organoleptik. Menurut Rahayu (1998) uji hedonik adalah

pengujian yang dilakukan untuk mengetahui tingkat daya terima konsumen dengan

mempergunakan skala hedonik 9 tingkatan sebagai acuan, namun untuk

mempermudah panelis dan peneliti skala ini diciutkan menjadi 4 tingkatan dengan

skor yang paling rendah adalah 1 dan skor yang paling tinggi adalah 4. Berdasarkan

tingkatannya, tingkat penerimaan konsumen dapat diketahui sesuai dengan tabel

berikut.

Tabel 3.2. Tingkat Penerimaan Konsumen

Organoleptik Skala Hedonik Skala Numerik Total Skor

Warna Sangat suka Aroma Sangat suka

Suka Tekstur Sangat suka

(42)

Untuk penilaian kesukaan/analisa sifat sensoris suatu komoditi diperlukan alat

instrumen, alat yang digunakan terdiri dari orang/kelompok orang yang disebut panel,

orang yang bertugas sebagai panel disebut panelis.

Jenis panelis yang digunakan adalah panelis tidak terlatih dengan jumlah 30

orang (Rahayu, 1998). Panelis adalah mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara.

1). Pelaksanaan penilaian

a. Waktu dan tempat

Penilaian daya terima terhadap abon ikan Gulamah hasil percobaan dilaksanakan

di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, 18 Mei 2010.

b. Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan adalah abon ikan Gulamah dengan konsentrasi gula (50 gr,

100 gr, 200 gr), sedangkan alat yang digunakan adalah formulir penilaian, alat

tulis dan air minum dalam kemasan.

2). Langkah-langkah pada uji daya terima

a. Mempersilahkan panelis untuk duduk di ruangan yang telah disediakan.

b. Membagikan sampel dengan kode sesuai variasi, air minum dalam kemasan,

formulir penilaian dan alat tulis.

c. Memberikan penjelasan singkat kepada panelis tentang cara memulai dan cara

pengisian formulir.

d. Memberikan kesempatan kepada panelis untuk memulai dan menuliskan

(43)

f. Setelah formulir penilaian dikumpulkan kemudian dianalisis.

3.5. Metode Analisis Data

Data yang diperoleh dari uji organoleptik disajikan dalam bentuk tabel untuk

dihitung nilai rata-rata penerimaan. Hasil nilai rata-rata dianalisis dengan

menggunakan analisis sidik ragam. Data yang telah dikumpulkan diolah secara

manual yang menggunakan daftar penilaian sebagai berikut :

Tabel 3.3. Daftar Penilaian Terhadap Uji Organoleptik

Panelis Konsentrasi Gula Pasir (gr) Total

50 100 200

- X : rata-rata nilai yang diberikan panelis pada masing-masing perlakuan - ΣX : jumlah nilai yang diberikan panelis pada masing-masing perlakuan

Kemudian dilakukan uji keragaman dengan analisa sidik ragam dengan

menggunakan tabel anova seperti dibawah ini.

Tabel 3.4. Analisa Sidik Ragam Sumber

KTP/KTG F.Tabel

Total (t x r) - 1 JKT Keterangan :

(44)

F : uji-F

c. db jumlah = (jumlah perlakuan x jumlah unit percobaan) – 1

2. Faktor koreksi (FK)

faktor koreksi =

2

3. Jumlah kuadrat (JK)

a. jumlah kuadrat total = ΣYij2FK

b. jumlah kuadrat perlakuan =

(45)

5. F- Hitung

F-hitung =

galat KT

perlakuan KT

Bandingkan F-hitung dengan F-tabel

Lihat tabel anova, dimana :

Pembilang = db perlakuan

Penyebut = db galat

Bila : F-hitung < Ftabel = tidak berbeda nyata

(46)

BAB IV

HASIL PENELITIAN

4.1. Karakteristik Abon Ikan Gulamah

Dari ketiga perlakuan yang berbeda terhadap abon ikan Gulamah maka

dihasilkan abon ikan Gulamah yang berbeda, perbedaan ketiga abon ikan Gulamah

yang dihasilkan dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 4.1. Berat Bahan Mentah dan Bahan Masak Abon Ikan Gulamah

Jenis Abon

50 100 200

Berat bahan mentah 650 gr 750 gr 800 gr

Bahan masak 315 gr 400 gr 440 gr

Setelah di pres 180 gr 230 gr 275 gr

Minyak yang digunakan pada pembuatan abon dengan konsentrasi gula pasir

50 gr sebanyak 500 gr, sisa minyak setelah penggorengan 340 gr dan setelah dipres

sisa minyaknya 135 gr. Minyak yang digunakan pada pembuatan abon dengan

konsentrasi gula pasir 100 gr sebanyak 500 gr, sisa minyak setelah penggorengan 310

gr dan setelah dipres sisa minyaknya 170 gr. Minyak yang digunakan pada

pembuatan abon dengan konsentrasi gula pasir 200 gr sebanyak 500 gr, sisa minyak

setelah penggorengan 300 gr dan setelah dipres sisa minyaknya 165 gr.

Tabel 4.2. Karakteristik Abon Ikan Gulamah yang Dihasilkan Karakteristik Konsentrasi Gula Pasir (gr)

50 100 200

Warna kecokelatan cokelat Cokelat tua

Aroma Khas Abon Khas Abon Khas Abon

Rasa Sedikit manis Manis Sangat Manis

(47)

4.2. Deskriptif Panelis

Panelis adalah 30 orang mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM)

Universitas Sumatera Utara (USU) yang masih aktif kuliah. Panelis terdiri dari 8

orang laki-laki dan 22 orang perempuan. Umur panelis berkisar antara 19-30 tahun,

pada saat diminta tanggapan/penilaiannya, secara visual panelis tidak dalam keadaan

sakit, karena jika dalam keadaan sakit umumnya kemampuan indera perasa pada

panelis berkurang.

4.3. Analisa Organoleptik Warna Abon Ikan Gulamah dengan Berbagai Konsentrasi Gula Pasir

Hasil analisa organoleptik warna abon ikan Gulamah dengan skala hedonik

dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.3. Hasil Analisa Organoleptik Warna Abon Ikan Gulamah dengan Berbagai Konsentrasi Gula Pasir

Skala Konsentrasi Gula Pasir (gr)

Hedonik

Berdasarkan tabel di atas, didapati hasil analisa organoleptik warna abon ikan

Gulamah yaitu skor untuk konsentrasi gula pasir 100 gr dan konsentrasi gula pasir

200 gr adalah suka dan skor konsentrasi gula pasir 50 gr adalah sangat suka. Dilihat

(48)

tertinggi, sedangkan total skor terendah adalah konsentrasi gula pasir 200 gr, hal ini

menunjukkan bahwa sebagian besar panelis menyukai warna abon ikan Gulamah

yang dibuat dengan konsentrasi gula pasir 50 gr.

Tabel 4.4. Analisa Sidik Ragam Terhadap Warna Sumber

Dari tabel analisa sidik ragam di atas, dapat dilihat bahwa F-hitung (9,61) >

F-tabel (F0,05 = 3,31 dan F0,01 = 4,86), hal ini bermakna bahwa konsentrasi gula pasir

memberi pengaruh yang berbeda nyata terhadap warna abon ikan Gulamah yang

dihasilkan.

4.4. Analisa Organoleptik Aroma Abon Ikan Gulamah dengan Berbagai Konsentrasi Gula Pasir

Hasil analisa organoleptik aroma abon ikan Gulamah dengan skala hedonik

dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.5. Hasil Analisa Organoleptik Aroma Abon Ikan Gulamah dengan Berbagai Konsentrasi Gula Pasir

Skala Konsentrasi Gula Pasir (gr)

(49)

Berdasarkan tabel di atas, didapati hasil analisa organoleptik aroma abon ikan

Gulamah untuk konsentrasi gula pasir 100 gr dan 200 gr yaitu disukai, sedangkan

untuk konsentrasi gula pasir 50 gr sangat disukai. Dilihat dari total skor ketiga

perlakuan, konsentrasi gula pasir 50 gr memiliki total skor tertinggi. Hal ini

menunjukan bahwa sebagian besar panelis sangat menyukai aroma abon ikan

Gulamah yang dibuat dengan konsentrasi gula pasir 50 gr. Untuk konsentrasi 100 gr

dan 200 gr, walaupun ada perbedaan total skor, namun tidak menunjukan adanya

perbedaan tingkat penerimaan, yaitu sama-sama pada tingkat disukai.

Tabel 4.6. Analisa Sidik Ragam Terhadap Aroma Sumber

Berdasarkan tabel analisa sidik ragam di atas, dapat dilihat bahwa F-hitung

(7,22) > F-tabel (F0,05 = 3,31 dan F0,01 = 4,86), hal ini bermakna bahwa konsentrasi

gula pasir memberi pengaruh yang berbeda nyata terhadap abon ikan Gulamah yang

dihasilkan.

4.5. Analisa Organoleptik Rasa Abon Ikan Gulamah dengan Berbagai Konsentrasi Gula Pasir

Hasil analisa organoleptik rasa abon ikan Gulamah dengan skala hedonik

(50)

Tabel 4.7. Hasil Analisa Organoleptik Rasa Abon Ikan Gulamah dengan Berbagai Konsentrasi Gula Pasir

Skala Konsentrasi Gula Pasir (gr)

Hedonik

Berdasarkan tabel di atas, didapati hasil analisa organoleptik rasa abon ikan

Gulamah untuk konsentrasi gula pasir 50 gr, 100 gr dan 200 gr yaitu disukai. Dilihat

dari total skor ketiga perlakuan, konsentrasi gula pasir 50 gr memiliki total skor

tertinggi. Hal ini menunjukan bahwa sebagian besar panelis sangat menyukai rasa

abon ikan Gulamah yang dibuat dengan konsentrasi gula pasir 50 gr, karena memiliki

rasa yang pas.

Tabel 4.8. Analisa Sidik Ragam Terhadap Rasa Sumber

Dari tabel analisa sidik ragam di atas, dapat dilihat bahwa F-hitung (8,68) >

F-tabel (F0,05 = 3,31 dan F0,01 = 4,86), hal ini bermakna bahwa konsentrasi gula pasir

(51)

4.6. Analisa Organoleptik Tekstur Abon Ikan Gulamah dengan Berbagai Konsentrasi Gula Pasir

Hasil analisa organoleptik tekstur abon ikan Gulamah dengan skala hedonik

dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.9. Hasil Analisa Organoleptik Tekstur Abon Ikan Gulamah dengan Berbagai Konsentrasi Gula Pasir

Skala Konsentrasi Gula Pasir (gr)

Hedonik

Berdasarkan tabel di atas, didapati hasil analisa organoleptik tekstur abon ikan

Gulamah untuk konsentrasi gula pasir 50 gr, 100 gr dan 200 gr yaitu disukai. Dilihat

dari total skor ketiga perlakuan, konsentrasi gula pasir 50 gr memiliki total skor

tertinggi. Hal ini menunjukan bahwa panelis sangat menyukai tekstur abon ikan

Gulamah yang dibuat dengan konsentrasi gula pasir 50 gr.

(52)

Dari tabel analisa sidik ragam di atas, dapat dilihat bahwa F-hitung (0,14) <

F-tabel (F0,05 = 3,31 dan F0,01 = 4,86) sehingga dapat disimpulkan tidak ada perbedaan

tekstur yang dihasilkan pada setiap perlakuan.

4.7. Analisa Penerimaan Panelis Terhadap Abon Ikan Gulamah dengan Berbagai Konsentrasi Gula Pasir

Perbandingan penerimaan konsumen terhadap ketiga abon ikan Gulamah

dapat dilihat seperti tabel dibawah ini.

Tabel 4.11. Perbandingan Penerimaan Panelis Terhadap Abon Ikan Gulamah dengan Berbagai Konsentrasi Gula Pasir

Indikator yang Dinilai Konsentrasi Gula Pasir (gr)

50 100 200

Warna 98 84 80

Aroma 99 78 71

Rasa 88 66 65

Tekstur 71 69 68

Total 356 279 284

Rata-rata 89 74,25 71

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa abon ikan Gulamah yang

paling disukai adalah abon ikan Gulamah dengan penambahan gula 50 gr dengan skor

rata-rata 89, dari ketiga rata-rata total skor diketahui abon ikan Gulamah disukai oleh

panelis.

4.8. Analisa Kandungan Protein Abon Ikan Gulamah

Analisa kandungan protein abon ikan Gulamah didasarkan pada komposisi

(53)

Tabel 4.12. Analisa Kandungan Protein Abon Ikan Gulamah Per 100 gr

Jumlah Protein 81,730

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa ketiga abon ikan Gulamah

memiliki kandungan protein yang sama yaitu sebesar 81,730 gr, ketiga abon memiliki

kandungan protein yang sama dikarenakan konsentrasi gula pasir yang berbeda tidak

mempengaruhi protein abon ikan Gulamah.

Perhitungan berapa banyak abon yang dikonsumsi perharinya untuk

mencukupi kebutuhan protein pada anak adalah :

Contoh : Berat Jadi Abon A1 = 180 gram

(54)

BAB V PEMBAHASAN

Karakteristik abon ikan Gulamah dengan penambahan gula pasir 50 gr

berwarna kecoklatan, aroma khas abon, rasanya sedikit manis dan teksturnya kering.

Abon dengan penambahan gula pasir 100 gr berwarna coklat, aroma khas abon,

rasanya manis dan teksturnya kering. Abon dengan penambahan gula pasir 200 gr

berwarna coklat tua, aroma khas abon, rasanya sangat manis dan teksturnya kering.

Karakteristik abon ikan Gulamah yang dihasilkan jika dibandingkan dengan abon

daging sapi memiliki perbedaan dari segi tekstur dimana abon daging sapi memiliki

tekstur yang berserabut sedangkan abon ikan Gulamah memiliki tekstur yang halus.

Menurut Suryani (2007) tekstur daging yang kompak menjadikan abon yang dibuat

dari daging sapi memiliki bentuk yang lebih seragam, selain itu warna daging yang

cerah dapat meningkatkan penampilan abon sehingga lebih menarik.

5.1. Analisa Organoleptik Warna Abon Ikan Gulamah dengan Berbagai Konsentrasi Gula Pasir

Penampakan warna suatu bahan pangan, merupakan faktor pertama yang

dinilai sebelum sebelum pertimbangan lain seperti rasa, nilai gizi. Menurut Moehyi

(1992), warna makanan memegang peranan utama dalam penampilan makanan

karena merupakan rangsangan pertama pada indera mata. Warna makanan yang

menarik dan tampak alamiah dapat meningkatkan cita rasa.

Pengujian organoleptik terhadap warna oleh panelis, menunjukan bahwa

(55)

berwarna cokelat sedangkan warna pada abon dengan penambahan gula pasir

sebanyak 200 gr cokelat tua. Menurut para panelis semakin banyak gula yang

ditambahkan maka warna abon akan semakin tidak menarik. Penambahan gula yang

semakin banyak akan menyababkan warna pada abon ikan semakin coklat, hal ini

disebabkan karena adanya reaksi maillard. Menurut Winarno (1997), reaksi maillard

merupakan reaksi antara karbohidrat, khususnya gula pereduksi dengan NH2 dari

protein yang menghasilkan senyawa hidroksimetilfurfural yang kemudian berlanjut

menjadi furfural. Furfural yang terbentuk kemudian berpolimer membentuk senyawa

melanoidin yang berwarna cokelat.

Berdasarkan hasil analisa sidik ragam terhadap warna ketiga abon ikan

Gulamah yang dihasilkan ((F-hitung (9,61) > F-tabel ( F0,05 = 3,31 dan F0,01 = 4,86)),

bermakna bahwa penambahan konsentrasi gula pasir memberi pengaruh yang berbeda

nyata terhadap warna abon ikan Gulamah yang dihasilkan.

Fungsi dari warna pada suatu makanan sangatlah penting, karena dapat

membangkitkan selera makan. Warna dalam suatu makanan yang dijual di pasaran

belum tentu aman, tidak baik untuk dikonsumsi terlalu sering karena adanya residu

logam berat pada zat pewarna tersebut sehingga berbahaya bagi kesehatan (Winarno,

1997). Warna makanan yang menarik dapat mempengaruhi selera konsumen dan

membangkitkan selera makan, bahkan warna dapat menjadi petunjuk bagi kualitas

makanan yang dihasilkan.

Warna merupakan suatu sifat bahan yang dianggap berasal dari penyebaran

spektrum sinar, begitu juga dengan kilap dari bahan yang dipengaruhi oleh sinar

(56)

dari seberkas energi radiasi yang jatuh ke indera penglihatan atau mata (Kartika,

1988). Warna mempunyai peran dan arti yang sangat penting pada komoditas pangan,

karena mempengaruhi konsumen terhadap komoditas tersebut.

5.2. Analisa Organoleptik Aroma Abon Ikan Gulamah dengan Berbagai Konsentrasi Gula Pasir

Pengujian organoleptik terhadap aroma oleh panelis menunjukan bahwa

panelis sangat menyukai aroma abon ikan gulamah yang dibuat dengan konsentrasai

gula pasir 50 g, sedangkan untuk konsentrasi gula pasir 100 gr dan 200 gr disukai.

Aroma yang didapat dari konsentrasi gula pasir 50 gr adalah aroma khas abon

dimana aroma ikannya masih tercium, aroma untuk konsentrasi gula pasir 100 gr

aroma ikannya sedikit tercium, dan untuk penambahan gula pasir 200 gr aroma gula

pasir yang mengalami karamelisasi yang tercium. Salah satu proses untuk

meningkatkan aroma yaitu proses penggorengan, menurut Suryani (2007)

penggorengan merupakan salah satu metode pengeringan untuk menghilangkan

sebagian air dengan menggunakan energi panas dari minyak. Penetrasi minyak ke

dalam bahan yang digoreng terjadi dengan cara air bebas yang terdapat dalam bahan

diuapkan sehingga produk menjadi kering dan renyah.

Berdasarkan hasil analisa sidik ragam terhadap aroma abon ikan Gulamah

yang dihasilkan ((F-hitung (7,22) > F-tabel ( F0,05 = 3,31 dan F0,01 = 4,86)), bermakna

bahwa penambahan konsentrasi gula pasir memberi pengaruh perbedaan yang nyata

penerimaan konsumen terhadap aroma abon ikan Gulamah yang dihasilkan.

(57)

pendapat disebabkan setiap orang memiliki perbedaan penciuman, meskipun mereka

dapat membedakan aroma namun setiap orang mempunyai kesukaan yang berlainan.

Menurut Muchtadi (1992), sebagian besar dari aroma bahan makanan

biasanya mengalami perubahan yang secara konstanta berkurang selama penanganan

dan penyimpanan. Selain itu zat organik sangat sensitif terhadap panas dan terhadap

interaksi satu dengan yang lain.

5.3. Analisa Organoleptik Rasa Abon Ikan Gulamah dengan Berbagai Konsentrasi Gula Pasir

Rasa pada abon ikan Gulamah merupakan kombinasi citarasa dan aroma yang

diciptakan untuk memenuhi selera panelis. Pada umumnya rasa dan aroma

merupakan satu kesatuan yang menunjang.

Pengujian organoleptik terhadap rasa oleh para panelis menunjukan bahwa

panelis menyukai rasa abon ikan Gulamah dengan tingkat konsentrasi gula pasir 50

gr, menurut para panelis rasanya lebih enak dan sedikit manis dibandingkan dengan

abon ikan dengan tingkat penambahan gula pasir 100 gr dan 200 gr.

Berdasarkan hasil analisa sidik ragam terhadap rasa abon ikan Gulamah yang

dihasilkan ((F-hitung (8,68) > F-tabel (F0,05 = 3,31 dan F0,01 = 4,86)), bermakna

bahwa penambahan konsentrasi gula pasir memberi pengaruh perbedaan yang nyata

penerimaan konsumen terhadap rasa abon ikan Gulamah yang dihasilkan.

Rasa suatu bahan makanan dipengaruhi oleh senyawa kimia, suhu,

konsentrasi dan interaksi dengan komponen rasa yang lain, hal ini juga yang

(58)

penambahan berbagai konsentrasi gula pasir memberi perbedaan rasa abon ikan

Gulamah.

Rasa pada abon ikan Gulamah dipengaruhi oleh penambahan santan kelapa,

Penambahan santan kelapa akan menambah cita rasa yang akan dihasilkan oleh abon.

Menurut Suryani (2007) santan akan menambah rasa gurih karena kandungan

lemaknya yang tinggi. Berdasarkan hasil penelitian abon yang dimasak dengan

menggunakan santan kelapa akan lebih gurih rasanya dibandingkan abon yang

dimasak tidak menggunakan santan kelapa.

Rasa lebih banyak melibatkan panca indera yaitu lidah, agar suatu senyawa

dapat dikenali rasanya, senyawa tersebut harus dapat mengadakan hubungan dengan

mikrovilus dan impuls yang terbentuk yang dikirim melalui syaraf ke pusat susunan

syaraf (Winarno, 1997). Menurut Moehyi (1992) rasa makanan merupakan faktor

kedua yang menentukan cita rasa makanan setelah penampilan makanan itu sendiri.

Apabila penampilan makanan yang disajikan merangsang saraf melalui indera

penglihatan sehingga mampu membangkitkan selera untuk mencicipi makanan itu,

maka pada tahap selanjutnya rasa makanan itu akan ditentukan oleh rangsangan

terhadap indera penciuman dan indera perasa.

5.4. Analisa Organoleptik Tekstur Abon Ikan Gulamah dengan Berbagai Konsentrasi Gula Pasir

Abon ikan Gulamah dengan penambahan gula pasir 50 gr bertekstur kering,

penambahan gula pasir 100 gr bertekstur kering dan menggumpal, dan penambahan

(59)

menyatakan bahwa panelis menyukai tekstur ketiga abon ikan dengan berbagai

konsentrasi gula pasir.

Berdasarkan tabel analisa sidik ragam terhadap tekstur abon ikan Gulamah

yang dihasilkan, dapat dilihat bahwa F-hitung ((0,14) < F-tabel (F0,05 = 3,31 dan F0,01

= 4,86)) sehingga dapat disimpulkan tidak ada perbedaan tekstur yang dihasilkan

pada setiap perlakuan.

Menurut Winarno (1997), tekstur dan konsisten suatu bahan akan

mempengaruhi cita rasa yang ditimbulkan bahan tersebut karena dapat mempengaruhi

kecepatan timbulnya ransangan terhadap kelenjar air liur.

Tekstur dalah atribut suatu bahan pangan yang dihasilkan dari kombinasi

sifat-sifat fisik dan diterima oleh indra peraba yang meliputi kinestetis dan mouthfeel,

penglihatan dan pendengaran. Tekstur abon ikan Gulamah dipengaruhi oleh proses

penggorengan dan pengepresan.

Pengepresan dilakukan dengan menggunakan alat press santan di pasar

Simpang limun, agar minyak pada abon keluar dengan maximal maka dilakukan 5x

pengepresan. Sebelum dilakukan pengepresan, abon ikan Gulamah yang telah matang

dimasukan ke dalam kain perasaan kelapa yang masih baru dan bersih. Pengepresan

dilakukan dengan cara memutar batang pengepres hingga sisa minyak terpisahkan

dari abon.

Menurut Suryani (2007) penggorengan merupakan salah satu metode

pengeringan untuk menghilangkan sebagian air dengan menggunakan energi panas

(60)

bebas yang terdapat dalam bahan diuapkan sehingga produk menjadi kering dan

renyah.

Penggorengan dapat mempengaruhi tekstur selain itu menurut Wijaya (2007)

Minyak goreng yang digunakan dapat pula menjadi salah satu faktor yang

mempengaruhi umur simpan abon. Minyak goreng yang digunakan harus yang

berkualitas baik, belum tengik dan memiliki titik asap yang tinggi. Titik asap adalah

suhu pemanasan minyak sampai terbentuk akrolin yang dapat menimbulkan rasa gatal

pada tenggorokan. Minyak baru memiliki titik asap yang tinggi, sedangkan minyak

yang telah digunakan (minyak bekas) titik asapnya akan turun.

Abon ikan gulamah dengan tiga perlakuan yang berbeda memiliki kandungan

protein yang sama yaitu sebesar 81,730 gr, ketiga abon memiliki kandungan protein

yang sama dikarenakan penambahan gula tidak menyumbang protein terhadap abon

ikan.

Manfaat dari penelitian ini adalah untuk menanggulangi permasalahan gizi

pada balita. Salah satu permasalahan gizi pada balita adalah kekurangan protein.

Diharapkan pembuatan abon ikan Gulamah dapat memenuhi kebutuhan protein anak.

Angka kecukupan protein anak menurut WNKPG 2004 adalah 39 gr/hari, untuk

memenuhi kebutuhan protein anak perhari diharapkan anak memakan abon ikan

Gulamah ± 20 g pada waktu makan (frekuensi makan 4x makan), selain itu untuk

memenuhi protein anak sebaiknya abon ikan Gulamah dijadikan makanan tambahan

Gambar

Gambar 2.1. Ikan Gulamah
Gambar 2.2. Kerangka Pikir Penelitian
Tabel 3.1. Jenis dan Ukuran Bahan dalam Eksperimen Konsentrasi Gula Pasir (gr)
Gambar 3.1. Diagram Alir Proses Pembuatan Abon
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan analisa sidik ragam, penambahan tepung daun ubi dengan konsentrasi yang berbeda pada pembuatan kue klepon memberi pengaruh yang berbeda terhadap warna dan rasa,

Hasil uji daya terima panelis terhadap mi basah ubi jalar orange berdasarkan indikator rasa, aroma, warna, dan tekstur yang paling disukai panelis adalah mi basah dengan

Sidik ragam warna roti tawar pada penelitian... Sidik ragam aroma roti tawar

Pengujian hipotesis yang dilakukan dari hasil penelitian menunjukkan “ tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada kualitas warna, aroma, rasa dan tekstur antara abon

Dari hasil penelitian ini didapatkan hasil uji or- ganoleptik terhadap Abon ikan nila dengan penamba- han jerami nangka dari penilaian 25 panelis terhadap warna, rasa, aroma

Dalam rangka mengetahui tingkat penerimaan konsumen, dilakukan uji tingkat kesukaan (uji hedonik) yang meliputi tingkat kesukaan warna, aroma, rasa, dan tekstur abon

Dari hasil sidik ragam (Lampiran 7) dapat dilihat bahwa interaksi antara perbandingan gula putih dengan gula merah dan penambahan santan memberikan pengaruh berbeda tidak

Hasil dari penelitian daya terima dari 30 panelis terhadap warna, aroma, rasa, tekstur dan keseluruhan abon jamur tiram yang menggunakan penggorengan deep frying