Tingkat Pengetahuan dan Sikap Dokter Gigi Terhadap Pasien Kegawatdaruratan Medis di Praktek Dokter Gigi Kota Medan

74  93  Download (3)

Teks penuh

(1)

TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP DOKTER

GIGI TERHADAP PASIEN KEGAWATDARURATAN

MEDIS DI PRAKTEK DOKTER GIGI

KOTA MEDAN

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat

memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi

Oleh :

CHINTYA PRATIWI PUTRI 100600027

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

Fakultas Kedokteran Gigi

Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial

Tahun 2014

Chintya Pratiwi Putri

Tingkat pengetahuan dan sikap dokter gigi terhadap pasien

kegawatdaruratan medis di praktek dokter gigi Kota Medan.

xi + 45 halaman

Kegawatdaruratan medis adalah keadaan tiba-tiba yang terjadi dan

membutuhkan perawatan segera untuk menyelamatkan nyawa atau mencegah

kecacatan atau rasa sakit pada pasien. Kegawatdaruratan medis merupakan

keadaan yang jarang terjadi di praktek dokter gigi, tetapi bisa saja terjadi pada

setiap waktu atau pada saat yang tidak terduga. Penelitian ini bertujuan untuk

mengetahui kategori pengetahuan dan sikap dokter gigi terhadap pasien

kegawatdaruratan medis.

Jenis penelitian ini adalah survei deskriptif dengan populasi seluruh dokter

gigi yang praktek di Kecamatan Medan Johor, Amplas dan Denai, yaitu sebanyak

92 orang. Penentuan sampel penelitian menggunakan teknik total sampling, dimana seluruh populasi dijadikan sampel, yaitu sebanyak 92 orang. Data

dikumpul dengan cara penyebaran kuesioner yang diberikan langsung kepada

responden dan diisi langsung oleh responden. Data yang diperoleh dalam

penelitian ini diolah secara komputerisasi dan dihitung dalam bentuk persentase.

Hasil penelitian menunjukkan persentase kategori pengetahuan tertinggi

(3)

responden masih kurang dalam hal melakukan finger sweep (57,6%), kompresi pijat jantung (48,9%) dan definisi penanganan kegawatdaruratan medis (27,2%).

Dari segi sikap, hanya 34% responden yang melakukan pijat jantung pada pasien

sinkope. Maka dapat disimpulkan pengetahuan dan sikap dokter gigi terhadap

pasien kegawatdaruratan medis di praktek dokter gigi Kota Medan sudah

termasuk baik.

(4)

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan tim penguji skripsi

Medan, 26 Mei 2014

Pembimbing : Tanda Tangan

(5)

TIM PENGUJI SKRIPSI

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan tim penguji Pada tanggal 26 Mei 2014

TIM PENGUJI

KETUA : Indra Basar Siregar, drg., Sp. BM ANGGOTA : 1. Abdullah, drg

(6)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT karena berkat rahmat dan karunia-Nya, sehingga skripsi ini telah selesai disusun sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran Gigi pada Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

Dalam penulisan skripsi ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada kedua orang tua tercinta, Ayahanda Yusri Sudarma dan Ibunda Delfi Andriani, Amd atas segala pengorbanan, doa, dukungan dan kasih sayang kepada penulis. Terima kasih kepada adik-adikku Annida Widya Lestari dan Rashya Bey Sudarma yang selalu mendoakan dan memberikan semangat kepada penulis.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis banyak mendapat bimbingan, pengarahan dan saran dari berbagi pihak. Untuk itu, dengan segala kerendahan hati, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Nazruddin, drg., C.Ort., Ph.D, Sp.Ort selaku Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

2. Eddy A.Kataren, drg., Sp.BM selaku Ketua Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial Fakultas Kedokterna Gigi Universitas Sumatera Utara, atas segala saran, dukungan dan bantuan sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

3. Olivia Avriyanti Hanafiah, drg., Sp.BM selaku dosen pembimbing utama yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan pengarahan, bimbingan, penjelasan dan motivasi selama proses penyusunan skripsi sampai dengan selesai.

4. Gema Nazri Yanti, drg., M.Kes selaku dosen yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan pengarahan, bimbingan dan penjelasan selama proses penyusunan skripsi.

(7)

6. Orang-orang tersayang Dedi Arman, drg, Nanda Fadillah Daulay dan seluruh keluarga atas doa, dukungan, kebaikan dan kasih sayang untuk kebahagiaan penulis.

7. Sahabat-sahabat terbaik penulis, Nirwana Dewi, Venti Trinanda, Jannah Keman, Mayrida Vita, S.KG, Siti Amaliyah, S.KG, Irma Harfianty, S.KG, Asmaul Husna, S.KG, Novi Dara, S.KG, Fitri Ratna Sari, Fadhillah Amanda, S.K, Febri Pratamar, Surya Darma, Mimi EL dan Ahmadul Khoiri.

8. Teman-teman seperjuangan skripsi di Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial, Amalina Razin, Rizki Puspita, Ghina Addina dan seluruh teman-teman angkatan 2010 yang banyak membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari kelemahan dan keterbatasan ilmu yang penulis miliki menjadikan skripsi ini masih perlu perbaikan, saran dan kritik untuk membangun skripsi ini nantinya menjadi lebih baik. Akhir kata penulis mengharapkan semoga hasil karya atau skripsi ini dapat memberikan sumbangan pikiran yang berguna bagi fakultas dan pengembangan ilmu.

Medan, Mei 2014

Penulis

(8)

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN JUDUL ...

HALAMAN PERSETUJUAN ... HALAMAN TIM PENGUJI ...

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 3

1.3 Tujuan Penelitian ... 4

1.4 Manfaat Penelitian ... 4

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengetahuan ... 5

2.2 Sikap ... 6

2.3 Kegawatdaruratan Medis ... 7

2.3.1 Perdarahan ... 7

2.3.1.1 Etiologi ... 8

2.3.1.2 Patofisiologi ... 8

2.3.1.3 Gambaran Klinis ... 9

2.3.1.4 Penanganan ... 9

2.3.2 Fraktur Dentoalveolar ... 10

2.3.2.1 Etiologi ... 10

2.3.2.2 Gambaran Klinis ... 10

2.3.2.3 Penanganan ... 11

2.3.3 Syok ... 11

2.3.3.1 Syok Neurogenik ... 13

2.3.3.2 Syok Hipovolemik ... 15

2.3.3.3 Syok Anafilaktik ... 15

2.3.3.4 Syok Kardiogenik ... 16

2.4 Upaya Pencegahan Kegawatdaruratan Medis ... 23

2.4.1 Pemeriksaan Tanda Vital ... 24

(9)

2.4.1.2 Denyut Nadi ... 25

2.4.1.3 Pernafasan ... 26

2.4.1.4 Suhu ... 27

2.5 Kerangka Konsep ... 29

BAB 3 METODELOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 30

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 30

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian ... 30

3.4 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 31

3.5 Pengumpulan Data ... 34

3.6 Pengolahan dan Analisis Data ... 34

3.7 Pengukuran Data ... 34

BAB 4 HASIL PENELITIAN 4.1 Gambaran Responden ... 36

4.2 Pengetahuan Responden Tentang Kegawatdaruratan Medis 36 4.3 Sikap Responden Tentang Kegawatdaruratan Medis ... 38

BAB 5 PEMBAHASAN ... 40

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan ... 43

6.2 Saran ... 43

DAFTAR PUSTAKA ... 45

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Klasifikasi gangguan perdarahan ... 8

2. Klasifikasi syok ... 13

3. Variabel dan definisi operasional ... 31

4. Kategori nilai pengetahuan ... 35

5. Kategori nilai sikap ... 35

6. Gambaran karakteristik responden dokter gigi (n= 92) ... 36

7. Distribusi frekuensi pengetahuan responden tentang kegawatdaruratan medis (n= 92) ... 37

8. Kategori pengetahuan responden tentang kegawatdaruratan medis (n=92) ... 37

9. Distribusi frekuensi sikap responden tentang kegawatdaruratan medis (n= 92) ... 38

(11)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Penjahitan pada soket ... 9

2. Gambaran klinis fraktur dentoalveolar ... 11

3. Penanganan fraktur dentoalveolar ... 12

4. Posisi syok (shock position) dan Posisi Trendelenburg dan Anti- Trendelenburg ... 15

5. A. Simple BLS untuk dewasa. B. BLS berdasarkan pelayanan kesehatan 18 6. Head tilt, chin lift dan jaw thrust ... 19

7. Tindakan finger sweep ... 19

8. Look, listen and feel ... 20

9. Pemberian nafas buatan, (a) mulut ke mulut, (b) mulut ke hidung dan (c) mulut ke stoma ... 20

10. Penggunaan Ambu bag ... 21

11. Pemeriksaan nadi karotis ... 21

12. Kompresi dada pada dewasa, bayi dan anak usia sampai 8 Tahun 22

13. Cara mengukur tekanan darah ... 25

14. Cara memeriksa denyut nadi ... 26

15. Teknik palpasi dan teknik auskultasi ... 27

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

1. Daftar riwayat hidup 2. Kuesioner

(13)

Fakultas Kedokteran Gigi

Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial

Tahun 2014

Chintya Pratiwi Putri

Tingkat pengetahuan dan sikap dokter gigi terhadap pasien

kegawatdaruratan medis di praktek dokter gigi Kota Medan.

xi + 45 halaman

Kegawatdaruratan medis adalah keadaan tiba-tiba yang terjadi dan

membutuhkan perawatan segera untuk menyelamatkan nyawa atau mencegah

kecacatan atau rasa sakit pada pasien. Kegawatdaruratan medis merupakan

keadaan yang jarang terjadi di praktek dokter gigi, tetapi bisa saja terjadi pada

setiap waktu atau pada saat yang tidak terduga. Penelitian ini bertujuan untuk

mengetahui kategori pengetahuan dan sikap dokter gigi terhadap pasien

kegawatdaruratan medis.

Jenis penelitian ini adalah survei deskriptif dengan populasi seluruh dokter

gigi yang praktek di Kecamatan Medan Johor, Amplas dan Denai, yaitu sebanyak

92 orang. Penentuan sampel penelitian menggunakan teknik total sampling, dimana seluruh populasi dijadikan sampel, yaitu sebanyak 92 orang. Data

dikumpul dengan cara penyebaran kuesioner yang diberikan langsung kepada

responden dan diisi langsung oleh responden. Data yang diperoleh dalam

penelitian ini diolah secara komputerisasi dan dihitung dalam bentuk persentase.

Hasil penelitian menunjukkan persentase kategori pengetahuan tertinggi

(14)

responden masih kurang dalam hal melakukan finger sweep (57,6%), kompresi pijat jantung (48,9%) dan definisi penanganan kegawatdaruratan medis (27,2%).

Dari segi sikap, hanya 34% responden yang melakukan pijat jantung pada pasien

sinkope. Maka dapat disimpulkan pengetahuan dan sikap dokter gigi terhadap

pasien kegawatdaruratan medis di praktek dokter gigi Kota Medan sudah

termasuk baik.

(15)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Gawat darurat berasal dari bahasa Latin yaitu “Mergere” yang diartikan sebagai mencelupkan, terjun, membanjiri, menguasai atau mengubur.1 Menurut Miles dari Medical Council New Zealand, kegawatdaruratan medis adalah keadaan tiba-tiba yang terjadi dan membutuhkan perawatan segera untuk menyelamatkan nyawa atau mencegah kecacatan atau rasa sakit pada pasien. Kegawatdaruratan medis merupakan keadaan yang jarang terjadi di praktek dokter gigi, tetapi bisa saja terjadi pada setiap waktu atau pada saat yang tidak terduga. Beberapa kasus kegawatdaruratan terjadi pada pasien dewasa, namun ternyata dapat pula terjadi pada pasien anak-anak.2-5

Penelitian yang dilakukan di Jepang oleh Committe for the Prevention of Systematic Complications During Dental Treatment of The Japanese Dental Society pada tahun 2005, menunjukkan bahwa 19-44% dokter gigi mendapatkan kasus kegawatdaruratan setiap tahun. Sekitar 90% merupakan kasus ringan yaitu sinkope dan sekitar 8% merupakan kasus yang cukup berat yaitu syok anafilaktik atau alergi obat. Penelitian yang dilakukan di Kanada menunjukkan bahwa sekitar 50% kasus yang sering ditemukan oleh dokter gigi adalah pingsan atau sinkope.6 Selain pingsan, kegawatdaruratan yang juga dapat terjadi adalah syok, fraktur dentoalveolar, cardiac arrest, asma, tertelan benda asing, angina, kejang serta epilepsi. Tindakan perawatan gigi lain yang juga sering menimbulkan kegawatdaruratan adalah perdarahan dan rasa sakit akibat penyuntikan dan pencabutan gigi. Prosedur perawatan gigi sering menyebabkan pasien mengalami stres psikis terutama pada individu yang belum pernah ke dokter gigi atau pasien yang mempunyai pengalaman tidak menyenangkan dengan perawatan gigi sebelumnya.3,6,7

(16)

berbahaya dan terkadang dapat berlanjut ke arah hukum, karena keadaan kedaruratan yang terjadi di praktek dokter gigi merupakan tanggung jawab seorang dokter gigi, maka seorang dokter gigi perlu untuk mengetahui pengelolaan kasus kegawatdaruratan medis dan prinsip-prinsip dasar kegawatdaruratan.8

Melakukan basic life support (BLS) merupakan tindakan paling penting dari dokter gigi karena dapat menentukan prognosa perawatan yang akan diberikan untuk keadaan kedaruratan medis. Tujuan BLS adalah mencegah sirkulasi yang tidak adekuat atau masalah pada pernafasan (airway) dan juga membantu sirkulasi dan respirasi pasien melalui CPR (cardiopulmonary resuscitation). Pelatihan BLS sudah diajarkan di tingkat sarjana kedokteran gigi. Pelatihan dalam menangani kedaruratan medis dianggap sebagai bagian dasar pada kurikulum pendidikan kedokteran gigi, dengan mengajukan CPR sebagai pelatihan pertolongan pertama. Walaupun kegawatdaruratan medis telah diajarkan di sebagian besar pendidikan kedokteran gigi Eropa dan Amerika, hanya sedikit yang yakin bahwa mereka dapat menangani kedaruratan medis dengan menggunakan BLS atau CPR.8,9

Pada saat pendidikan, hanya 30% dari dokter gigi di Inggris dapat menangani kegawatdaruratan dengan baik. Lebih dari setengah dokter gigi di New Zealand merasa tidak puas dalam pelatihan kedaruratan medis yang mereka terima pada saat masih pendidikan. Sejumlah studi telah menemukan bahwa sekitar setengah dokter gigi dari seluruh dunia tidak mampu melakukan CPR dengan benar, sehingga pengelolaan kegawatdaruratan medis lebih ditingkatkan lagi bagi mahasiswa kedokteran gigi untuk dapat menerima pelatihan lebih awal.8

(17)

Berdasarkan penelitian Jonathan dan Thomson pada tahun 2001, dari 314 dokter gigi di New Zealand yang dikirimkan angket hanya 63,4% yang menjawab pertanyaan mereka tentang kesiapan dokter gigi dalam menangani kasus kegawatdaruratan. Lebih dari setengah dokter gigi mengatakan tidak puas dengan pelatihan yang mereka terima pada saat pendidikan kedokteran gigi dan 14,1% merasa tidak siap menangani pasien kedaruratan medis di praktek mereka. Namun dari tingkat respon dokter gigi, dikatakan seluruh dokter gigi akan memberikan obat penenang atau sedasi untuk pasien mereka.12

Menurut hasil penelitian Atherton dkk pada tahun 2000 berdasarkan pengalaman staff yang bekerja di rumah sakit gigi dan mulut, dikatakan bahwa peristiwa kegawatdaruratan medis yang paling sering terjadi adalah pingsan atau sinkope, yang dilaporkan sebanyak 296 kasus selama 12 bulan. Selain itu, ada 2 survei yang dilakukan di Amerika, dilaporkan 15.407 kasus pasien yang mengalami sinkope telah dialami oleh 4.309 dokter gigi selama 10 tahun. Rata-rata hampir 0,4 % kasus pasien sinkope yang pernah dialami per dokter gigi selama 1 tahun.13

Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian mengenai tingkat pengetahuan dan sikap dokter gigi terhadap pasien kegawatdaruratan medis di praktek dokter gigi kota Medan. Alasan peneliti memilih praktek dokter gigi adalah karena belum pernah dilakukan penelitian terkait kegawatdaruratan medis.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana pengetahuan dokter gigi terhadap keadaan pasien kedaruratan medis di praktek dokter gigi Kota Medan.

(18)

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Mengetahui pengetahuan dokter gigi terhadap keadaan pasien kegawatdaruratan medis di praktek dokter gigi kota Medan.

2. Mengetahui sikap dokter gigi terhadap keadaan pasien kegawatdaruratan medis di praktek dokter gigi kota Medan.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian diharapkan dapat :

1. Meningkatkan pengetahuan dokter gigi terhadap kegawatdaruratan medis yang terjadi di praktek dokter gigi.

2. Memperbaiki sikap dokter gigi terhadap kegawatdaruratan medis yang terjadi di praktek dokter gigi.

3. Sebagai tambahan referensi dan masukan di Departemen Bedah Mulut FKG USU.

4. Sebagai tambahan pengetahuan bagi peneliti dan sebagai bahan

(19)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1Pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil ‘tahu’, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan bisa diperoleh secara alamiah maupun secara terencana yaitu melalui proses pendidikan. Dan dari pengetahuan dapat terbentuk suatu tindakan. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh dari mata dan telinga.14-16

Ada enam tingkatan pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif, yaitu :14,15

a. Tahu (Know), merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Dapat diartikan sebagai mengingat atau mengingat kembali suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.

b. Memahami (Comprehension), merupakan suatu kemampuan yang dapat menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.

c. Aplikasi (Application), merupakan kemampuan untuk dapat menggunakan materi yang telah dipelajari pada kondisi atau situasi sebenarnya.

d. Analisis (Analysis), merupakan suatu kemampuan yang dapat menjabarkan materi ke dalam komponen-komponen tetapi masih didalam suatu struktur organisasi dan masih ada kaitannya antara satu dengan yang lain.

e. Sintesis (Synthesis), merupakan suatu kemampuan yang dapat menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk yang baru. Dengan kata lain sintesis merupakan kemampuan untuk menyusun suatu formulasi baru dari formulasi yang ada.

f. Evaluasi (Evaluation), merupakan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau objek tertentu.

(20)

dari responden. Kedalaman pengetahuan dapat kita ketahui atau kita ukur sesuai dengan tingkat-tingkat pengetahuan.14,16

2.2Sikap

Sikap adalah respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek dan bersifat merespon hal positif atau hal negatif dari suatu benda, orang, atau peristiwa. Dan sikap merupakan keyakinan dan perasaan yang dapat mempengaruhi reaksi didalam diri seseorang. Definisi lain menyatakan bahwa sikap merupakan kecenderungan psikologis yang diekspresikan dengan mengevaluasi kesungguhan tertentu dengan beberapa tingkat menguntungkan atau merugikan. Sikap dibedakan dari konsep lain yang juga mengacu pada kecenderungan tersirat seseorang atau kecenderungan sikap yang disimpulkan hanya pada saat rangsangan yang menunjukkan suatu objek sikap yang diamati untuk memperoleh respon dalam mengekspresikan tingkat yang diberikan dari evaluasi.14-19

Menurut salah seorang ahli yaitu Newcomb, menyatakan bahwa sikap

merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksana motif tertentu. Sikap dapat pula dinyatakan sebagai hasil belajar, karenanya sikap dapat mengalami perubahan. Sebagai hasil dari belajar sikap tidaklah terbentuk dengan sendirinya karena pembentukan sikap akan berlangsung dalam interaksi manusia. Ada empat tingkatan sikap, yaitu :14-16,20

a. Menerima, diartikan bahwa seseorang (subjek) mau memperhatikan stimulus yang diberikan (objek).

b. Merespon, kemampuan untuk memberikan jawaban bila ditanya dan mengerjakan tugas yang telah diberikan.

c. Menghargai, merupakan kemampuan untuk mengajak orang lain mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah.

d. Bertanggung jawab, merupakan kemampuan untuk bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilih dengan segala konsekuensi.

(21)

disebut Summated Agreement.Ada perbedaan antar skala sikap dari Thurstone dan Likert, yaitu pada skala Thurstone menggunakan katagori yang terdiri dari dua alternatif jawaban, sedangkan Likert dihadapkan atas lima alternatif jawaban, yaitu jawaban dari yang sangat setuju sampai sangat tidak setuju.15

2.3Kegawatdaruratan medis

Menurut Webster, kegawatdaruratan medis (Medical Emergency) adalah keadaan tiba-tiba atau tidak terduga yang membutuhkan bantuan segera. Keadaan yang dimaksud seperti perdarahan, fraktur dentoalveolar dan syok.1,21

2.3.1 Perdarahan

Perdarahan adalah keadaan yang disebabkan oleh dinding vaskular yang pecah atau kelainan mekanisme hemostatik. Perdarahan merupakan komplikasi yang paling ditakuti, karena dianggap dapat mengancam kehidupan oleh dokter dan pasien. Perdarahan dapat terjadi setelah anastesi lokal dilakukan dan setelah pencabutan. Hal ini dapat terjadi pada pasien dengan gangguan pembekuan darah,

pasien yang menerima terapi antikoagulan atau yang mengkonsumsi obat seperti golongan NSAID dan warfarin yang dapat memperpanjang waktu perdarahan, pasien yang mempunyai hipertensi yang tidak terkontrol, liver dan defisiensi vitamin K.22,23

(22)

2.3.1.1 Etiologi

Klasifikasi gangguan perdarahan dapat dikelompokkan berdasarkan jumlah platelet normal (nontrombositopeni purpura), penurunan jumlah platelet (trombositopeni purpura) dan gangguan koagulasi.24

Tabel 1. Klasifikasi gangguan perdarahan

Nontrombositopeni Purpura - Perubahan pada dinding pembuluh darah akibat sumbatan, infeksi dan alergi

- Penyebab lain : gangguan fungsi platelet akibat defek genetik, obat-obatan seperti aspirin dan golongan NSAID, dan penyakit autoimun.

Trombositopeni Purpura - Faktor kimia, fisik (radiasi), penyakit sistemik, obat-obatan (obat diuretik dan alkohol, infeksi virus dan bakteri.

Gangguan koagulasi - Bersifat diturunkan, seperti hemofilia A dan hemofilia B.

2.3.1.2 Patofisiologi

Proses perdarahan terjadi melalui 3 tahap yaitu pembuluh darah (vascular), trombosit (platelet) dan koagulasi (coagulation). Pembuluh darah dan platelet

(23)
(24)

Pada pasien yang mengalami fraktur jaringan keras (fraktur rahang), maka jaringan keras yang mengalami fraktur harus difiksasi dahulu kemudian menutup jaringan lunak diluarnya, yaitu dengan menjahit secara bertahap lapis demi lapis dari bagian dalam ke luar. Hal ini dilakukan agar darah tidak lagi keluar. Pada trauma jaringan lunak dengan kehilangan jaringan lunak, dapat dilakukan rekonstruksi primer dengan menggunakan flap.22,25

2.3.2 Fraktur dentoalveolar

Fraktur dentoalveolar adalah kerusakan atau putusnya kontinuitas jaringan keras pada stuktur gigi dan alveolusnya yang disebabkan oleh trauma. Trauma pada gigi dapat terjadi pada semua usia.25

2.3.2.1 Etiologi

Penyebab fraktur bermacam-macam seperti kecelakaan lalu lintas, kecelakaan pada olah raga, dan trauma langsung pada gigi akibat benda keras seperti botol. Fraktur tidak hanya pada struktur gigi (email, dentin, dan pulpa gigi)

tetapi bisa juga terjadi pada jaringan periodontal dan tulang rahang.25

Fraktur dapat terjadi pada akar gigi, gigi tetangga atau gigi antagonis, restorasi, prosesus alveolaris dan mandibula. Fraktur tulang alveolar dapat terjadi karena berhubungan dengan terjepitnya tulang alveolar pada saat melakukan pencabutan. Hal ini dapat terjadi karena bentuk dari tulang alveolar atau adanya perubahan patologis dalam tulang.22

2.3.2.2 Gambaran klinis

(25)

mengakibatkan gigi masuk kedalam soket dan ekstrusi adalah trauma yang mengakibatkan sebagian gigi keluar dari soket.25

Gambar 2. Gambaran Klinis Fraktur Dentoalveolar.

2.3.2.3 Penanganan

Pemeriksaan fraktur dentoalveolar dapat dilakukan dengan radiografi intra-oral dan ekstra-intra-oral seperti panoramik. Biasanya perawatan dasarnya adalah secara konservatif, misalnya dengan splint, immobilisasi gigi geligi yang goyang dan fiksasi. Splint merupakan alat yang ditunjukkan untuk imobilisasi atau membantu imobilisasi segmen-segmen fraktur. Splint biasanya merupakan logam tuang (cor) atau terbuat dari akrilik. Apabila terjadi fraktur yang menyebabkan gigi bergeser maka perlu dilakukan pembedahan. Salah satunya adalah

penggunaan arch bar dapat membantu menstabilisasikan segmen yang terjadi fraktur dan memberikan daerah perlekatan untuk fiksasi maksilomandibular.

(26)

Gambar 3. Penanganan fraktur dentoalveolar anterior mandibula dengan meng-gunakan arch bar.

2.3.3 Syok

Syok merupakan suatu keadaan patofisiologis yang terjadi bila oxygen delivery (DO2) ke mitokondria sel di seluruh tubuh manusia tidak mampu memenuhi kebutuhan oxygen consumption (VO2). Sebagai respon terhadap pasokan oksigen yang tidak cukup ini, metabolisme energi sel menjadi anaerobik. Menurut John Collins Warren, syok merupakan berhentinya keadaan sesaat dari kematian. Secara patofisiologis, syok merupakan gangguan sirkulasi akibat kurangnya oksigen kedalam jaringan. Syok dapat terjadi oleh berbagai macam sebab dan melalui berbagai proses. Penurunan volume plasma intravaskular merupakan faktor utama yang menyebabkan terjadinya syok. Terjadinya penurunan volume intravaskular menyebabkan darah yang balik ke jantung

berkurang sehingga curah jantung menurun. Dan menyebabkan oksigen di paru juga menurun dan asupan oksigen ke jaringan tidak terpenuhi. 26-28

Ada beberapa tingkatan kesadaran pada pasien syok. Tingkat kesadaran merupakan indikator utama adanya perubahan status neurologi pasien, karena berhubungan dengan fungsi hemisfer serebral dan reticular activating system. Tingkatan kesadaran terdiri dari :29

a. Compos mentis, yaitu keadaan pasien yang sadar akan dirinya dan lingkungan serta dapat menjawab pertanyaan dengan benar.

b. Apatis, yaitu keadaan pasien yang berkurang dengan keadaan sekitar dan sikap acuh tak acuh.

(27)

d. Delirium, yaitu penurunan kesadaran serta pasien terlihat gelisah dan meronta-ronta.

e. Somnolen, yaitu keadaan kesadaran pasien yang selalu ingin tidur dan dapat dibangunkan ketika ada rangsangan.

f. Stupor atau sopor, yaitu keadaan pasien yang seperti koma, seperti tertidur lelap dan tidak dapat dibangunkan kecuali dengan rangsangan nyeri.

g. Koma, yaitu keadaan kesadaran yang hilang sama sekali dengan rangsangan apapun tidak akan timbul.

Berdasarkan a textbook in cardiovascular medicine pada tahun 1984, klasifikasi syok yaitu : a) syok kardiogenik, b) syok obstruktif, c) syok oligemik atau syok hipovolemik, dan d) syok distributif. Pembagian syok diperkecil lagi menjadi 4 tipe, yaitu syok neurogenik, syok hipovolemik, syok anafilaktik dan syok kardiogenik.30,31

Tabel 2. Klasifikasi Syok28

2.3.3.1 Syok neurogenik

Syok neurogenik disebut juga sinkope. Syok neurogenik terjadi karena penurunan atau kehilangan kesadaran secara tiba-tiba akibat tidak adekuatnya aliran darah ke otak. Hal ini disebabkan karena terjadinya vasodilatasi dan

SYOK KARDIOGENIK SYOK DISTRIBUTIF

A. Disebabkan oleh Disritmia A. Septikemia

B. Disebabkan oleh Mekanis Jantung B. Metabolik atau toksik

C. Miopati C. Endokrinologik

D. Mikrosirkulasi

SYOK OBSTRUKTIF E. Neurogenik

A. Tamponade perikardium F. Anafilaktik B. Koarktasio aorta

C. Emboli paru

D. Hipertensi pulmonalis primer

SYOK OLIGEMIK A. Perdarahan

(28)

bradikardi secara mendadak sehingga menimbulkan hipotensi. Terjadinya hipotensi akan merangsang refleks simpatis berupa takikardi dan vasokonstriksi perifer yang secara klinis dideteksi sebagai peningkatan denyut nadi dan keringat dingin pada ekstremitas atas. Kemudian terjadi juga penurunan dalam efektifitas sirkulasi volume plasma yang sering terjadi dari penurunan venous tone, penggumpalan darah di pembuluh darah vena dan kehilangan volume cairan intravaskular karena peningkatan permeabilitas kapiler. Akhirnya, terjadi disfungsi miokard primer yang bermanifestasi sebagai dilatasi ventrikel. Pada keadaan ini akan terdapat peningkatan aliran vaskuler yang mengakibatkan berkurangnya cairan dalam sirkulasi sehingga perfusi ke otak berkurang dan menyebabkan pasien mengalami syok.5,26,31-33

Syok neurogenik atau sinkope merupakan gejala umum yang sering dijumpai di praktek dokter gigi. Keadaan ini disebabkan oleh suhu lingkungan yang panas, keadaan takut, terkejut atau rasa nyeri. Kurang lebih 2% pasien mengalami sinkope sebelum, selama bahkan setelah perawatan gigi. Sinkope umumnya, terjadi pada wanita muda, lelaki tua atau dengan riwayat penyakit

jantung. Sedangkan syok neurogenik pada pasien trauma terjadi karena hilangnya

sympathetic tone, misalnya pada cedera tulang belakang atau yang sangat jarang yaitu cedera pada batang otak. Denyut nadi pasien menjadi lambat sehingga pasien akan merasa pusing dan pingsan. Umumnya keadaan ini akan membaik setelah pasien dibaringkan, kecuali cedera karena jatuh.5,26,31-33

(29)

Gambar 4. A. Posisi syok (shock position) dan B. Posisi Trendelenburg dan Anti-Trendelenburg.8

2.3.3.2 Syok hipovolemik

Syok hipovolemik adalah syok yang terjadi akibat berkurangnya volume plasma di intravaskular atau kehilangan cairan tubuh. Syok hipovolemik dapat terjadi akibat perdarahan (hemoragik) dan dehidrasi berat oleh berbagai sebab seperti luka bakar yang luas dan diare berat. Kasus-kasus syok hipovolemik yang sering terjadi adalah akibat perdarahan sehingga syok hipovolemik dikenal juga dengan syok hemoragik. 26-28

Penanganan syok hipovolemik, hal utama yang dilakukan yaitu mengganti cairan tubuh atau darah yang hilang, kemudian berikan oksigen sebanyak 5-10 L/menit untuk jalan nafas dan respirasi pasien. Lalu berikan infus dengan cairan koloid. Tujuan utama terapi adalah memulihkan curah jantung dan perfusi jaringan secepat mungkin.27

2.3.3.3 Syok anafilaktik

Syok anafilaktik adalah kegagalan perfusi jaringan yang disebabkan reaksi alergi yang luar biasa atau berlebihan pada suatu organisme terhadap protein asing. Anafilaktik syok dapat terjadi dalam beberapa menit dan dapat mengancam nyawa. Faktor penyebabnya adalah karena alergi terhadap obat-obatan, terutama

yang diberikan secara intravena seperti antibiotik (contoh : penisilin). Selain itu penyebab lainnya adalah karena pelepasan histamin sebagai konsekuensi dari suatu tipe I reaksi alergi. Tanda-tanda klinis pasien yang mengalami syok anafilaktik yaitu pasien susah bernafas, wajah kemerahan, gatal pada mata dan mulut, pusing, lemas, sakit perut, bronkospasme dan edema epiglotis sehingga

(30)

pasien terasa tercekik. Gejala akan timbul pada 2-11 menit setelah dilakukan suntikan dan reaksi puncak akan terjadi pada 5-60 menit. 5,26,31,33

Penanganan pada pasien syok anafilaktik adalah dengan mempertahankan jalan nafas dan mempertahankan sirkulasi dengan memberikan oksigen 6-8 liter/menit lalu berikan 0,3-0,5 ml epineprine (adrenalin 1:1000) secara intramuscular dengan kecepatan 1 ml/menit dan ulangi setiap 5 atau 10 menit sampai pasien terlihat membaik.5,26,31,33

2.3.3.4 Syok kardiogenik

Syok kardiogenik adalah syok yang terjadi akibat tidak berfungsinya jantung untuk mengalirkan darah ke jaringan yang mengakibatkan curah jantung menjadi kecil atau berhenti. Tanda-tanda klinis dari syok kardiogenik meliputi hipotensi, takikardia, oliguria dan bagian ekstermitas dingin.28

Dalam menangani pasien syok kardiogenik hal pertama yang dilakukan

adalah memberikan bantuan hidup dasar (BLS). Menurut AHA 2010 (American Heart Association) BLS merupakan dasar untuk menyelamatkan

(31)
(32)

Gambar 5 on depth at leas m)

(33)
(34)

b. Breathing (pernafasan)

Breathing merupakan teknik untuk memenuhi kebutuhan oksigen pada pasien sadar atau pasien yang tidak sadar. Seorang dokter yang menangani pasien kegawatdaruratan dental harus mendekatkan pipi 1 inci ke mulut dan hidung pasien untuk melihat (look), mendengar (listen) dan merasakan (feel) tanda-tanda yang ada pada pernafasan pasien. Melihat yaitu melihat apakah ada pergerakan di dada atau abdomen pasien, mendengar yaitu mendengar apakah ada atau tidaknya suara nafas tambahan yang dikeluarkan oleh pasien, dan merasakan yaitu merasakan apakah ada hembusan nafas atau aliran udara yang keluar dari mulut atau hidung pasien. Dan bila pernafasan pasien tidak terasa diperlukan nafas buatan. Untuk pemberian nafas buatan dapat dilakukan dari mulut ke mulut, mulut ke hidung atau mulut ke stoma. Dan juga dapat dilakukan dengan menggunakan

Ambu bag untuk memberikan suplai oksigen 90%.5,31

Gambar 8. Look, listen and feel.31

Gambar 9. Pemberian nafas buatan, (a) mulut ke mulut, (b) mulut ke hidung dan (c) mulut ke stoma.31

A

(35)

Gambar 10. Penggunaan Ambubag.32

c. Circulation (sirkulasi)

Circulation merupakan monitoring dua tanda vital yang sangat penting, yaitu tekanan darah dan denyut jantung yang memberikan informasi tentang fungsi sistem cardiovascular. Tidak terabanya nadi karotis pada dewasa merupakan tanda utama terjadinya cardiac arrest atau henti jantung. Pemberian ventilasi buatan dan kompresi pijat jantung diperlukan pada keadaan kegawatdaruratan ini.5,31

Gambar 11. Pemeriksaan nadi karotis.29,31

(36)

Gambar 12. Kompresi dada pada dewasa, bayi dan anak usia sampai 8 tahun.31,32

Menurut American Heart Association 2010, ada perubahan kunci terhadap panduan Basic Life Support (BLS) pada tahun 2005 untuk pasien cardiac arrest, yaitu :34

(37)

b. Menghilangkan Look, Listen dan Feel dari algoritma BLS.

c. Melakukan CPR menggunakan tangan (hanya kompresi pijat jantung) untuk penolong/petugas yang tidak mengikuti pelatihan khusus.

d. Urutan perubahan dalam melakukan kompresi pijat jantung sebelum membebaskan jalan nafas (melakukan CAB dari pada ABC).

e. Penyediaan perawatan kesehatan yang efektif dalam melakukan kompresi pijat jantung atau CPR sampai kembalinya sirkulasi secara spontan.

f. Meningkatkan metode untuk melakukan CPR dengan kualitas tinggi (misalnya, kedalaman pada saat melakukan penekanan kompresi pijat jantung harus adekuat). g. Selanjutnya melakukan pemeriksaan nadi bagi pelayanan kesehatan.

h. Algoritma BLS untuk dewasa yang sederhana diperkenalkan dengan memperbaiki algoritma tradisional.

2.4 Upaya pencegahan kegawatdaruratan medis

Setiap dokter gigi berkewajiban untuk melakukan tindakan yang diperlukan untuk menghindari komplikasi dan untuk mencegah timbulnya kegawatdaruratan

medis. Anamnesa merupakan salah satu bagian terpenting dalam pemeriksaan pasien karena mendapatkan keterangan mengenai kondisi pasien. Walaupun keadaan kedaruratan tidak dapat dihindari dalam praktek dokter gigi, namun sebaiknya keadaan kedaruratan dapat dikurangi atau dihindari dengan melakukan perawatan dengan cermat, terampil dan trauma minimal.31

(38)

Keadaan pingsan yang sering terjadi di praktek dokter gigi, mungkin dikarenakan ruang praktek memiliki temperatur dan kelembaban yang tinggi. Oleh karena itu, sebaiknya ruang praktek haruslah berhawa dingin dan mempunyai ventilasi yang baik. Ruang tunggu harus terang dan sejuk serta untuk mencegah pasien lama menunggu sebaiknya dilakukan penjadwalan kunjungan yang efisien. Dokter gigi harus menggunakan dental unit yang desainnya memungkinkan pasien segera dibaringkan lurus dengan posisi kaki lebih tinggi dari kepala (posisi Trendelenburg 100) pada saat terjadi kondisi kegawatdaruratan.36

Selain memperhatikan kondisi ruang praktek, sebaiknya juga dapat dilakukan pemeriksaan awal. Walaupun tidak semua perawatan dental memerlukan pemeriksaan awal, tetapi dalam menangani pasien yang ingin melakukan bedah minor seperti pencabutan dan odontektomi, pemeriksaan awal perlu dilakukan. Adapun pemeriksaan awal yang dimaksud adalah pemeriksaan tanda-tanda vital.

2.4.1 Pemeriksaan tanda vital

Tanda vital termasuk penilaian dalam pemeriksaan rutin yang dilakukan oleh tenaga medis. Tanda-tanda vital dapat menghasilkan perubahan yang bertahap dari waktu ke waktu. Yang termasuk tanda-tanda vital adalah tekanan darah, denyut nadi, pernafasan dan suhu.37-39

2.4.1.1 Tekanan darah

(39)

Cara untuk mengukur tekanan darah yaitu dengan memasangkan manset melingkari lengan atas pasien, dengan batas bawah lebih kurang 3 cm dari siku. Lakukan pemompaan sampai denyut nadi arteri radialis tidak teraba dan gunakan stetoskop untuk mendengarkan arteri brakialis (di fosa kubiti). Kemudian kosongkan manometer perlahan-lahan dengan kecepatan 2-3 mm tiap detik.39

Tekanan sistolik adalah saat terdengar bunyi pada saat Korotkoof I yaitu bunyi pertama yang didengar berupa bunyi detak yang perlahan. Sedangkan tekanan diastolik adalah saat terdengar bunyi Korotkoof IV yaitu bunyi yang tiba-tiba melemah. Dan nilai normal tekanan sistolik adalah <120mmHg dan untuk tekanan diastolik adalah <80mmHg.38,39

Gambar 13. Cara mengukur tekanan darah.39

2.4.1.2 Denyut nadi

Nadi merupakan refleksi perifer dari kerja jantung dan penjalaran gelombang dari proksimal (pangkal aorta) ke distal. Gelombang nadi tidak bersamaan dengan aliran darah tetapi menjalar lebih cepat. Nadi dapat dirasakan selama midsistole, saat konstraksi jantung dan saat ejeksi darah intrakardia sedang

berlangsung. Kecepatan penjalaran nadi dapat menurun pada beberapa penyakit jantung, darah atau pembuluh darah, tetapi dapat meningkat pada kondisi lain.

Intensitas nadi dapat berhubungan dengan karakteristik pembuluh darah dan tekanan nadi. Kecepatan denyut nadi normal pada dewasa yang sehat berkisar dari 50-100 denyut/menit dan anak berusia dibawah 10 tahun berkisar 60-90 denyut/menit.38,39

(40)
(41)

Gambar 15. Teknik palpasi dan Teknik auskultasi.37

2.4.1.4 Suhu

Suhu tubuh merupakan perbedaan antara jumlah panas yang dihasilkan oleh

proses tubuh dan jumlah panas yang hilang karena lingkungan luar. Cara pengukuran suhu adalah dengan menggunakan thermometer. Sebelum menggunakan thermometer, pada permukaan air raksa harus diturunkan sampai dibawah 350C dengan mengibas-ngibaskan thermometer.37,39

(42)
(43)

2.5 Kerangka Konsep Penelitian

Pengetahuan

1. Definisi Kegawatdaruratan medis 2. Prinsip Dasar Kegawatdaruratan Medis

3. Penanganan Kegawatdaruratan Medis

4. Pencegahan Kegawatdaruratan Medis

Pengetahuan dan Sikap Dokter Gigi Terhadap Kegawatdaruratan Medis

Sikap

1. Prinsip Dasar Kegawatdaruratan Medis

2. Penanganan Kegawatdaruratan Medis

(44)

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian adalah survei deskriptif untuk menggambarkan pengetahuan dan sikap dokter gigi terhadap pasien kegawatdaruratan medis di praktek dokter gigi Kota Medan.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

3.2.1 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini adalah di Praktek Dokter Gigi Kota Medan yaitu Kecamatan Medan Johor, Kecamatan Medan Amplas, dan Kecamatan Medan Denai.

3.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret 2014.

3.3 Populasi dan Sampel

(45)

3.4 Variabel dan Definisi Operasional

Tabel 3. Variabel dan Definisi Operasional

No. Variabel Definisi Operasional

1. Pengetahuan

a. Definisi

Kegawatdaruratan Medis

b. Prinsip Dasar Kegawatdaruratan Medis

c. Penanganan Kegawatdaruratan Medis

- Pasien Sinkope

- Pasien Syok Anafilaktik

Pengetahuan responden tentang kegawatdaruratan medis meliputi definisi kegawatdaruratan medis, prinsip dasar

kegawatdaruratan medis, penanganan kegawatdaruratan medis dan pencegahan terjadinya kegawatdaruratan medis.

Keadaan tiba-tiba yang terjadi dan membutuhkan perawatan segera untuk menyelamatkan nyawa atau mencegah kecacatan atau rasa sakit pada pasien.

Dilakukan untuk membantu pasien yang mengalami penurunan kesadaran, dikenal dengan tindakan ABC atau Airway,

Breathing, dan Circulation.

Tindakan dari dokter gigi untuk menentukan prognosa perawatan yang diberikan untuk keadaan kegawatdaruratan medis.

Melakukan perawatan dengan memposisikan pasien dalam posisi kepala sejajar atau sedikit dibawah jantung (posisi trendelenburg), berikan oksigen 6-8 liter per menit.

(46)

- Pasien Perdarahan

- Pasien Kompresi

- Teknik Finger Sweep

d. Pencegahan Kegawatdaruratan Medis

- Pemeriksaan Tanda Vital

ml/menit dan diulangi setiap 5 menit sampai pasien terlihat membaik.

Melakukan perawatan dengan mengontrol perdarahan yang terjadi pada pasien dan membersihkan daerah luka dengan H2O2 dari jaringan nekrotik. Pada pasien fraktur jaringan keras (fraktur rahang), maka harus difiksasi kemudian menutup jaringan lunak dengan menjahit secara bertahap lapis demi lapis dari bagian dalam ke luar.

Perawatan terhadap pasien kegawatdaruratan medis dengan melakukan pijat jantung yang dilakukan 30 kali dengan selingan 2 kali nafas buatan dalam 2 menit.

Teknik yang dilakukan terhadap pasien yang mengalami sumbatan jalan nafas dikarenakan cairan didalam rongga mulut seperti darah dan muntahan pasien.

Upaya untuk melakukan perawatan dengan melakukan anamnesa sebelum perawatan dan melakukan perawatan dengan cermat, terampil, dan trauma minimal.

(47)

2. Sikap

a. Penanganan Kegawatdaruratan Medis

- Pasien Sinkope

- Pasien Perdarahan

- Pasien Kompresi

- Perawatan Cermat

dan Trampil

- Teknik Finger Sweep

b.Pencegahan Kegawatdaruratan

Respon dokter gigi yang ditentukan dari pendapat dokter gigi tentang kegawatdaruratan medis meliputi prinsip dasar kegawatdaruratan medis, penanganan kegawatdaruratan medis dan pencegahan terjadinya kegawatdaruratan medis.

Sikap dokter gigi untuk memberikan perawatan terhadap pasien kegawatdaruratan medis.

Tindakan yang dilakukan kepada pasien dengan memberikan oksigen 6-8 liter per menit.

Tindakan utama yang dilakukan kepada pasien dengan mengontrol perdarahan pasien.

Tindakan yang dilakukan kepada pasien yang mengalami henti jantung.

Tindakan dari seorang dokter gigi dalam

melakukan perawatan kepada pasien.

Tindakan yang dilakukan kepada pasien yang mengalami sumbatan jalan nafas, seperti darah dan muntahan dengan cara membalut jari tangan dengan kain kasa kemudian menyapu cairan tersebut.

(48)

Medis

- Pasien Pencabutan Upaya yang dilakukan oleh dokter terhadap pasien dengan melakukan pemeriksaan tanda vital dan melakukan perawatan yang trampil untuk mengurangi risiko terjadinya kegawat-daruratan medis.

3.5 Metode Pengumpulan Data

Data dikumpul dengan cara penyebaran kuesioner, dimana kuesioner diberikan secara langsung kepada dokter gigi dan diisi langsung oleh dokter gigi. Kuesioner yang diberikan terdiri dari dua bagian yaitu pertanyaan berhubungan dengan pengetahuan dokter gigi terhadap pasien kegawatdaruratan medis dan pertanyaan berhubungan dengan sikap dokter gigi terhadap pasien kegawatdaruratan medis.

3.6 Pengolahan dan Analisis Data

Data yang diperoleh dalam penelitian ini diolah secara komputerisasi dan dihitung dalam bentuk persentase.

3.7 Pengukuran Data

a. Tingkat pengetahuan

Untuk mengetahui pengetahuan dokter gigi mengenai kegawatdaruratan medis diukur melalui 10 pertanyaan. Pertanyaan dengan jawaban yang benar, nilainya 1 dan pertanyaan dengan jawaban yang salah, nilainya 0. Sehingga nilai tertinggi dari 10 pertanyaan yang diberikan adalah 10. Kemudian nilai selanjutnya dikategorikan dengan pengetahuan baik, cukup dan kurang. Katagori baik apabila mendapatkan nilai benar 76%-100%, kategori cukup apabila mendapatkan nilai

(49)

Tabel 4. Kategori Nilai Pengetahuan

Alat Ukur Hasil Ukur Katagori Penilaian Skor Kuesioner

Baik : jawaban benar 76%-100% dari seluruh pertanyaan.

8-10

Cukup : jawaban benar 56%-75% dari seluruh pertanyaan.

5-7

Kurang : jawaban benar 0%-55% dari seluruh pertanyaan.

<5

b. Sikap dokter gigi

Untuk mengetahui sikap dokter gigi terhadap pasien kegawatdaruratan medis diukur melalui 8 pertanyaan. Pertanyaan dengan jawaban setuju, nilainya 3; pertanyaan dengan jawaban kurang setuju, nilainya 2; dan pertanyaan dengan jawaban tidak setuju, nilainya 1. Sehingga nilai tertinggi dari 8 pertanyaan adalah 24.41

Tabel 5. Kategori Nilai Sikap

Alat Ukur Hasil Ukur Katagori penilaian Skor

Kuesioner (8 pertanyaan)

Setuju = 3 Kurang setuju = 2

Tidak setuju = 1

Baik : jawaban benar 76%-100% dari seluruh pertanyaan.

19-24

Cukup : jawaban benar 56%-75% dari seluruh pertanyaan.

13-18

Kurang : jawaban benar 0%-55% dari seluruh pertanyaan.

(50)

BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1 Gambaran responden

Dari 92 dokter gigi pada penelitian ini, sejumlah besar responden adalah perempuan yaitu sebanyak 82,6% dan laki-laki sebanyak 17,4%, sedangkan berdasarkan usia responden lebih banyak pada usia 30-39 tahun yaitu 33,7% (Tabel 6).

Tabel 6. Gambaran karakteristik responden dokter gigi (n= 92)

Karakteristik responden Jumlah Persentase

Jenis kelamin

4.2 Pengetahuan responden tentang kegawatdaruratan medis

(51)

Tabel 7. Distribusi frekuensi pengetahuan responden tentang kegawatdaruratan medis (n= 92)

Pengetahuan responden Tahu Tidak Tahu

Jumlah % Jumlah %

Prinsip dasar kegawatdaruratan medis Penanganan pasien syok anafilaktik Upaya pencegahan kegawatdaruratan medis

Pemeriksaan tanda vital Penanganan pasien sinkope Penanganan pasien perdarahan

Definisi kegawatdaruratan

Teknik finger sweep untuk sumbatan jalan nafas

Kompresi pijat jantung

Definisi penanganan kegawatdaruratan medis

Hasil penelitian tentang pengetahuan kegawatdaruratan medis didapat persentase tertinggi pada kategori berpengetahuan baik yaitu 55,4%, sedangkan 38,1% responden termasuk kategori berpengetahuan cukup dan 6,5% responden termasuk kategori berpengetahuan kurang (Tabel 8).

Tabel 8. Kategori pengetahuan responden tentang kegawatdaruratan medis (n=92)

(52)

4.3 Sikap responden tentang kegawatdaruratan medis

Sikap responden tentang kegawatdaruratan medis termasuk kategori baik (76-100%) dalam hal memberikan perawatan dengan cermat dan terampil, melakukan anamnesa dan pemeriksaan tanda vital sebelum pencabutan, melakukan anamnesa untuk mengurangi kegawatdaruratan medis, penanganan kegawatdaruratan medis, mengontrol perdarahan dan pemberian oksigen pada pasien sinkope. Sikap responden termasuk kategori cukup (56-75%) dalam hal melakukan teknik finger sweep. Sedangkan sikap responden termasuk kategori kurang (0-55%) dalam hal melakukan pijat jantung pada pasien sinkope (Tabel 9).

Tabel 9. Distribusi frekuensi sikap responden tentang kegawatdaruratan medis (n= 92)

Memberikan perawatan dengan cermat dan trampil

Melakukan anamnesa dan pemeriksaan tanda vital sebelum pencabutan

Melakukan anamnesa untuk mengurangi kegawatdaruratan

Penanganan kegawatdaruratan medis Hal utama pada pasien perdarahan adalah mengontrol perdarahan

Pemberian oksigen pada pasien sinkope

Melakukan finger sweep dengan membalut jari tangan menggunakan kain kasa

Melakukan pijat jantung pada pasien sinkope

(53)

Tabel 10. Kategori sikap responden tentang kegawatdaruratan medis (n= 92)

Kategori Jumlah Persentase

Baik Cukup Kurang

92 0 0

100 0 0

(54)

BAB 5

PEMBAHASAN

Hasil pengetahuan responden yang baik dalam hal prinsip dasar kegawatdaruratan medis, penanganan pasien syok anafilaktik, upaya pencegahan kegawatdaruratan medis, pemeriksaan tanda vital, penanganan pasien sinkope, penanganan pasien perdarahan dan definisi kegawatdaruratan medis (Tabel 7). Pengetahuan tentang kegawatdaruratan medis menunjukkan 95,7% responden mengetahui bahwa prinsip dasar kegawatdaruratan medis merupakan tindakan yang dilakukan untuk membantu pasien yang mengalami penurunan kesadaran yang dikenal dengan ABC atau Airway, Breathing dan Circulation. Sebanyak 92,4% responden mengetahui penanganan pasien syok anafilaktik. Hal ini mungkin disebabkan, karena responden sudah mengetahui penanganan pasien syok anafilaktik. Penanganan pasien syok anafilaktik yaitu melakukan perawatan dengan memberikan 0,3-0,5 ml epineprine (adrenalin 1:1000) secara

intramuskular dengan kecepatan 1 ml/menit dan dapat diulangi setiap 5 menit sampai pasien terlihat membaik.

(55)

rahang adalah dengan melakukan fiksasi dahulu kemudian menutup jaringan luka dengan menjahit lapis demi lapis.

Dari keseluruhan responden, sebanyak 77,2% responden mengetahui definisi kegawatdaruratan medis. Persentase pengetahuan responden mengenai teknik finger sweep untuk sumbatan jalan nafas sudah tergolong cukup, yaitu 57,6%. Hal ini mungkin disebabkan karena responden cukup mengetahui teknik

finger sweep. Finger sweep merupakan teknik untuk membebaskan jalan nafas dari sumbatan benda asing seperti darah dan cairan muntah, yaitu menggunakan 2 jari tangan untuk menyapukan cairan yang ada didalam rongga mulut pasien. Hasil penelitian menunjukkan 48,9% responden mengetahui kompresi pijat jantung terhadap pasien kegawatdaruratan medis dan 27,2% mengetahui definisi penanganan kegawatdaruratan medis. Rendahnya persentase tersebut disebabkan oleh kurangnya pengetahuan responden mengenai kompresi pijat jantung dan definisi penanganan kegawatdaruratan medis serta tidak adanya pelatihan khusus mengenai hal tersebut.

Persentase kategori pengetahuan menunjukkan bahwa 55,4% responden

termasuk kedalam kategori pengetahuan baik, sebanyak 38,1% responden termasuk kategori pengetahuan cukup dan sebanyak 6,5% responden termasuk kategori pengetahuan kurang (Tabel 8). Hasil yang hampir sama juga didapat dari penelitian Choaghmagh dkk, mengenai pengetahuan tentang kegawatdaruratan medis di praktek dokter gigi di Iran, terhadap 48 dokter gigi spesialis didapat hasil 54,2% responden tergolong kategori pengetahuan baik, sebanyak 31,2% responden tergolong kategori pengetahuan cukup dan sebanyak 14,6% responden tergolong kategori pengetahuan kurang.42 Terdapat perbedaan hasil penelitian mengenai kategori pengetahuan baik, cukup dan kurang. Perbedaan hasil tersebut dimungkinkan karena perbedaan sampel penelitian. Penelitian oleh Chaghmagh dkk, dilakukan pada dokter gigi spesialis, sedangkan penelitian ini dilakukan pada dokter gigi umum.

(56)

responden sudah baik dalam hal memberikan perawatan dengan cermat dan terampil dan juga harus melakukan anamnesa serta pemeriksaan tanda vital sebelum melakukan pencabutan. Sebanyak 98,9% responden setuju bahwa dengan melakukan anamnesa dapat mengurangi kegawatdaruratan medis. Hasil yang tidak jauh berbeda didapat dari sikap responden yang setuju, bahwa seorang dokter gigi harus mengetahui penanganan kegawatdaruratan medis, yaitu 97,8%. Hasil penelitian juga menunjukkan sebanyak 95,7% responden setuju dalam penanganan pasien perdarahan hal utama yang dikontrol adalah perdarahannya. Hal ini mungkin disebabkan, karena sikap dokter gigi yang sudah tergolong kategori baik mengenai hal tersebut.

Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan, sebanyak 90,2% responden setuju untuk memberikan oksigen terhadap pasien sinkope. Sebanyak 75% responden setuju untuk membalut jari tangan dengan kain kasa ketika melakukan teknik finger sweep. Tingginya persentase tersebut, mungkin disebabkan karena sikap responden mengenai pemberian oksigen terhadap pasien sinkope dan finger sweep sudah tergolong kategori baik. Hasil penelitian juga menunjukkan, sebanyak 37% responden setuju untuk melakukan pijat jantung pada pasien sinkope. Hal ini mungkin disebabkan, karena sikap responden tentang kompresi pijat jantung masih kurang.

Persentase kategori sikap menunjukkan bahwa 100% responden termasuk kedalam kategori pengetahuan baik dan tidak ada responden yang termasuk kedalam kategori pengetahuan cukup dan kurang (Tabel 10). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Mollashahi dan Honarmand tentang sikap dokter gigi terhadap kegawatdaruratan medis di Iran, terhadap 64 dokter gigi didapat hasil bahwa 61% responden termasuk kategori sikap baik.43

Kegawatdaruratan medis merupakan suatu keadaan yang sangat luas, sehingga keterbatasan penelitian ini adalah hanya membahas 3 jenis kegawatdaruratan medis saja dan hanya dokter gigi yang praktek di 3 Kecamatan Kota Medan. Sebaiknya pada penelitian selanjutnya dapat menambah jenis kegawatdaruratan medis dan melakukan penelitian di praktek dokter gigi lain di Kecamatan Kota Medan atau dokter gigi yang ada di Rumah Sakit.

(57)

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

1. Pengetahuan responden tentang kegawatdaruratan medis termasuk kategori baik (76-100%) dalam hal prinsip dasar kegawatdaruratan medis, penanganan pasien syok anafilaktik, upaya pencegahan kegawatdaruratan medis, pemeriksaan tanda vital dan penanganan pasien sinkope. Pengetahuan responden termasuk kategori cukup (56-75%) dalam hal penanganan pasien perdarahan dan definisi kegawatdaruratan medis. Sedangkan pengetahuan responden termasuk kategori kurang (0-55%) dalam hal melakukan teknik finger sweep, kompresi pijat jantung dan definisi penanganan terhadap kegawatdaruratan medis.

2. Sikap responden tentang kegawatdaruratan medis termasuk kategori baik (76-100%) dalam hal memberikan perawatan dengan cermat dan terampil, melakukan anamnesa dan pemeriksaan tanda vital sebelum pencabutan,

melakukan anamnesa untuk mengurangi kegawatdaruratan medis, penanganan kegawatdaruratan medis, mengontrol perdarahan dan pemberian oksigen pada pasien sinkope. Sikap responden termasuk kategori cukup (56-75%) dalam hal melakukan teknik finger sweep. Sedangkan sikap responden termasuk kategori kurang (0-55%) dalam hal melakukan pijat jantung pada pasien sinkope.

3. Pengetahuan responden paling banyak terdapat pada kategori baik sebesar 55,4%, diikuti kategori cukup sebesar 38,1% dan kategori kurang sebesar 6,5%.

4. Sikap responden keseluruhan terdapat pada kategori baik yaitu sebesar 100%.

6.2 Saran

1. Diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan di bidang kedokteran gigi dan perlu dilakukan penelitian lanjut untuk melihat tindakan dokter gigi terhadap kegawatdaruratan medis.

(58)
(59)

DAFTAR PUSTAKA

1. Malamed SF. Medical emergencies in the dental office. Ed 6. Missouri: Mosby Elsevier, 2007: 110.

2. Anonymous. A doctor’s duty to help in a medical emergency. <http://www.mcnz.org.nz/assets/News-and-Publications/Statements/A-doctors-duty-to-help-in-a-medical-emergency.pdf >. (19 Oktober 2013)

3. Greenwood M. Medical emergencies in dental practice. Dent Update 2009 Mei: 202-211.

4. Atherton GJ, McCaul JA, Williams SA. Medical emergencies in general dental practice in Great Britian part 1. J British Dent 1999; 186: 72-9.

5. Verawati. Penanggulangan beberapa keadaan gawat darurat di praktik dokter gigi. JITEKGI 2005; 2(2): 33-7.

6. Haas DA. Management of medical emergencies in the dental office. <http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1586863/>. (15 September 2013).

7. Kamadjaja DB. Vasodepressor syncope di tempat praktek dokter gigi. PDGI J 2010; 59: 8-13.

8. Carvalho RM, Costa LR, Marcelo VC. Brazilian dental student’s perceptions about medical emergencies. J Dent Education 2008: 1343-49.

9. Atherton GJ, McCaul JA, Williams SA. Medical emergencies in general dental practice in Great Britian part 3. J British Dent 1999; 186: 234-7.

10. Nasution C. Tingkat pengetahuan mahasiswa fakultas kedokteran USU tahun masuk 2009 mengenai penelaksanaan awal kegawatdaruratan. <http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/37618>. (15 September 2013). 11. Felayati D. Gambaran pengetahuan mahasiswa fakultas kesehatan masyarakat

angkatan 2008 tentang bantuan hidup dasar di Universitas Sumatera Utara. <http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/31633>. (15 September 2013) 12. Broadbent JM, Thomson WM. The readiness of New Zealand general dental

(60)

13. Atherton GJ, Pemberton MN, Thornhill MH. Medical emergencies: the experience of staff of a UK dental teaching hospital. J British Dent 2000; 188: 320-4.

14. Notoatmodjo S. Kesehatan masyarakat ilmu dan seni. Jakarta: Rineka Cipta, 2007: 143-9.

15. Budiharto. Pengantar ilmu perilaku kesehatan dan pendidikan kesehatan gigi. Jakarta: EGC, 2010: 12-23.

16. Notoatmodjo S. Ilmu kesehatan masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta, 2003: 127-132.

17. Myers DG. Exploring social psychology. Ed 5. New York: Mc Graw Hill, 2009: 89-90.

18. Ajzen I. Attitudes, personality, and behavior. Ed 2. New York: Mc Graw Hill, 2005: 3.

19. Eagly AH, Chaiken S. The psychology of attitudes. Amerika: HBJ, 1993: 1. 20. Dayakisni T, Hudaniah. Psikologi sosial. Malang: UMM, 2003: 98.

21. Howe GL. Pencabutan gigi geligi. Ed 2. Jakarta: EGC, 1999: 82-92.

22. Pedersen GW. Buku ajar praktis bedah mulut. Alih bahasa: Purwanto, Basoeseno. Jakarta: EGC, 1996: 83-94.

23. Le BT, Woo I. Management of complications of dental extractions. The academy of dental therapeutic and stomatology: 2-4.

24. Little JW, Falace DA, Miller CS, Rhodus NL. Dental management of the medically compromised patient. Ed 7. Missouri: Mosby Elsevier, 2008: 396-432.

25. Budihardja AS, Rahmat M. Trauma oral dan maksilofasial. Jakarta: EGC, 2011: 67-9.

26. Sjamsuhidajat R, Jong WD. Buku ajar ilmu bedah. Ed 2. Jakarta: EGC, 2004: 118-21.

27. Hardisman. Memahami patofisiologi dan aspek klinis syok hipovolemik. J Kesehatan Andalas 2013; 2(3): 178-182.

(61)

29. Tarwoto, Wartonah, Suryati ES. Keperawatan Medical Bedah Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta: SS, 2007: 23-5.

30. Hartanto H, ed. Patofisiologi. Ed 6. Jakarta: EGC, 2005: 641-6.

31. Muhiman M, Thaib MR, Sunatrio S, Dahlan R eds. Anestesiologi. Jakarta: FKUI, 2004: 157-185.

32. Coulthard P, Horner K, Sloan P, Theaker ED. Oral and maxillofacial surgery, radiology, pathology and oral medicine. USA: Churchill Livingstone, 2003: 21-9.

33. Scully C, Cawson RA. Medical problems in dentistry. Ed 5. India: Churchill Livingstone, 2005: 563-70.

34. Berg RA, Hemphill R, Abella BS, Aufderheide TP, Cave DM, Hazinski MF et al. Adult Basic Life Support. AHA J 2010; 122: 685-98.

35. Anonymous. Pendidikan pelatihan profesional kedokteran gigi berkelanjutan. <http://www.pdgi.or.id/p3kgb/info/pedoman>. (28 April 2014).

36. Howe GL, Whitehead FIH. Anastesi lokal. Ahli Bahasa. Yuwono L. Jakarta: Hipokrates, 2012: 120-8.

37. Perry AG, Potter PA. Clinical nursing skills and techniques. Ed 6. Missouri: Elsevier Mosby, 2006: 488-521.

38. Willms JL, Schneiderman H, Algranati PS. Diagnosis fisik. Jakarta: EGC, 2003: 30-43.

39. Matondang CS, Wahidiyat I, Sastroasmoro S. Diagnosis fisis pada anak. Ed 2. Jakarta: Sagung Seto, 2003: 26-32, 173-7, 205.

40. Anonymous. Pengukuran tanda-tanda vital suhu tubuh.

<http://smkmedikapekalongan.wordpress.com/sarana/agus-firdaus-s-kep-guru-mapel-keperawatan/modul-vital-sign/>. (18 Agustus 2013).

41. Machfoedz I. Metodologi penelitian. Yogyakarta: Fitramaya, 2009: 125-6. 42. Chaghmagh MA, Sarabadani J, Delavarian Z, Ali AM. The evaluation of

knowledge among dental specialists about common medical emergencies in dental offices in Mashhad. J Mash Dent Sch 2011; 34(4): 263-70.

(62)

LAMPIRAN 1

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama Lengkap : Chintya Pratiwi Putri

Tempat/ Tanggal Lahir : Medan/ 23 Juli 1992

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Alamat : Jl Dame No.59 SM Raja Km 10 Medan-Amplas

Orang Tua

Ayah : Yusri Sudarma

Ibu : Delfi Andriani, Amd

Riwayat Pendidikan

1. 1996-1998 : TK Panglima Angkasturi, Medan

2. 1998-2004 : SD Negeri 060924, Medan

3. 2004-2007 : SMP Negeri 15, Medan

4. 2007-2010 : SMA Swasta Angkasa 2 Lanud, Medan

5. 2010-2014 : S1-Fakultas Kedokteran Gigi USU, Medan

(63)

LAMPIRAN 2

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

DEPARTEMEN BEDAH MULUT DAN MAKSILOFASIAL

Nomor : Tanggal :

TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP DOKTER GIGI

TERHADAP PASIEN KEGAWATDARURATAN

MEDIS DI PRAKTEK DOKTER GIGI

KOTA MEDAN

Nama :

Umur :

Jenis Kelamin : P / W *)

Ket : *) Coret yang tidak perlu

PETUNJUK PENGISIAN :

1. Pengisian kuesioner dilakukan oleh dokter gigi.

2. Jawablah setiap pertanyaan yang tersedia dengan melingkari jawaban yang dianggap benar.

3. Semua pertanyaan harus dijawab.

4. Setiap pertanyaan diisi dengan satu jawaban.

(64)

LINGKARI JAWABAN PADA PILIHAN JAWABAN YANG TERSEDIA

A. Pengetahuan

1) Menurut dokter, apakah yang dimaksud dengan kegawatdaru-

ratanmedis? A1 1. Keadaan atau kondisi yang mendadak yang memerlukan

tindakan segera.

2. Keadaan atau kondisi yang terjadi dengan tiba-tiba saat dilakukan perawatan gigi dan membutuhkan pemeriksaan serta tindakan yang cepat.

3. Keadaan tiba-tiba yang terjadi dan membutuhkan perawatan segera untuk menyelamatkan nyawa atau mencegah kecacatan atau rasa sakit pada pasien.

2) Menurut dokter, apa yang dimaksud dengan prinsip dasar ke-

Gawat daruratan medis? A2 1. Dilakukan untuk membantu pasien yang mengalami

penurunan kesadaran, dikenal dengan tindakan ABC atau Airway,

Breathing, dan Circulation.

2. Tindakan yang hanya dilakukan jika pasien membutuhkannya.

3. Tindakan menjaga jalan nafas pasien.

3) Menurut dokter, apa yang dimaksud dengan melakukan pena-

nganan kegawatdaruratan medis? A3 1. Tindakan dari dokter gigi untuk menentukan prognosa

perawatan yang diberikan untuk keadaan kegawatdaruratan medis. 2. Memberikan bantuan hidup terhadap pasien kegawatdaruratan medis.

(65)

4) Menurut dokter, bagaimana cara melakukan penanganan pada

pasien sinkope ? A4 1. Memposisikan pasien di lantai kemudian memberikan bau

yang merangsang.

2. Melakukan perawatan dengan memposisikan pasien dalam posisi kepala sejajar atau sedikit dibawah jantung (posisi trendelenburg) dan berikan oksigen 6-8 liter per menit.

3. Melakukan pemeriksaan tanda vital.

5) Menurut dokter, bagaimana cara melakukan penanganan pada

pasien syok anafilaktik ? A5 1. Melakukan perawatan dengan memberikan 0,3-0,5 ml

epineprine (adrenalin 1:1000) secara intramuscular dengan kecepatan 1 ml/menit dan diulangi setiap 5 menit sampai pasien terlihat membaik.

2. Melakukan perawatan dengan memposisikan pasien dalam

posisi kepala sejajar atau sedikit dibawah jantung (posisi trendelenburg), berikan oksigen 6-8 liter per menit.

3. Melakukan perawatan dengan melakukan pemeriksaan tanda vital dan memberikan bau yang merangsang seperti alkohol.

6) Menurut dokter, bagaimana cara melakukan penanganan pada

pasien perdarahan akibat fraktur rahang ? A6

1. Melakukan penekanan dengan menggunakan tampon pada daerah luka.

2. Melakukan penjahitan pada jaringan lunak.

3. Melakukan fiksasi dahulu kemudian menutup jaringan lunak dengan menjahit secara bertahap lapis demi lapis dari bagian dalam ke luar.

7) Menurut dokter, upaya apa yang dapat mencegah terjadinya

(66)

2. Melakukan perawatan dengan cermat, terampil dan trauma yang minimal.

3. Melakukan perawatan dengan anamnesa sebelum perawatan dan melakukan perawatan dengan cermat, terampil, dan trauma minimal.

8) Menurut dokter, apa yang dimaksud dengan pemeriksaan tan-

da vital ? A8 1. Pemeriksaan yang dilakukan pada pasien kegawatdaruratan

medis yang terdiri dari tekanan darah, denyut nadi dan suhu

2. Pemeriksaan yang dilakukan untuk melihat perubahan tanda vital yang terjadi pada pasien kegawatdaruratan medis yang terdiri dari tekanan darah, denyut nadi, pernafasan dan suhu. 3. Pemeriksaan untuk melihat kondisi pasien kegawat-daruratan medis yang terdiri dari tekanan darah, suhu dan pernafasan.

9) Berapa banyak yang dapat dilakukan untuk pijat jantung ter-

hadap pasien kegawatdaruratan medis? A9 1. 30 kali dengan selingan 2 kali nafas buatan dalam 2 menit

2. 20 kali dengan selingan 2 kali nafas buatan dalam 2 menit 3. 15 kali dengan selingan 2 kali nafas buatan dalam 2 menit

10) Menurut dokter, jika seorang pasien mengalami sumbatan

jalan nafas dikarenakan cairan didalam rongga mulut, maka dapat A10 menggunakan teknik?

1. Head tilt

2. Finger sweep

(67)

B. Sikap

1) Apakah dokter setuju, seorang dokter gigi harus mengetahui

penanganan kegawatdaruratan medis? B1 1. Setuju

2. Kurang setuju 3. Tidak setuju

2) Apakah dokter setuju, dalam menangani pasien sinkope pem-

berian oksigen perlu dilakukan? B2 1. Setuju

2. Kurang setuju 3. Tidak setuju

3) Apakah dokter setuju, dalam menangani pasien perdarahan

hal utama yang dilakukan adalah mengontrol perdarahan? B3 1. Setuju

2. Kurang setuju 3. Tidak setuju

4) Apakah dokter setuju, setiap dokter wajib memberikan pe-

rawatan yang cermat dan trampil ? B4 1. Setuju

2. Kurang setuju 3. Tidak setuju

5) Apakah dokter setuju, pijat jantung dapat dilakukan terhadap

pasien sinkope ? B5 1. Setuju

(68)

6) Apakah dokter setuju, teknik finger sweep dilakukan dengan

jari tangan yang dibalut kain kasa ? B6 1. Setuju

2. Kurang setuju 3. Tidak setuju

7) Apakah dokter setuju, sebelum melakukan pencabutan ter-

hadap pasien sebaiknya melakukan anamnesa dan pemeriksaan B7 tanda vital?

1. Setuju

2. Kurang setuju 3. Tidak setuju

8) Apakah dokter setuju, pemeriksaan tanda vital sebelum di-

lakukan perawatan seperti pencabutan gigi dapat mengurangi kegawat B8 daruratan medis ?

1. Setuju

(69)

LAMPIRAN 3

Frequency Table

Jenis kelamin

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Laki-laki 16 17.4 17.4 17.4

Perempuan 76 82.6 82.6 100.0

Total 92 100.0 100.0

P1

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid tidak tahu 21 22.8 22.8 22.8

Tahu 71 77.2 77.2 100.0

Total 92 100.0 100.0

P2

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid tidak tahu 4 4.3 4.3 4.3

Tahu 88 95.7 95.7 100.0

Total 92 100.0 100.0

P3

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid tidak tahu 67 72.8 72.8 72.8

Tahu 25 27.2 27.2 100.0

(70)

P4

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid tidak tahu 13 14.1 14.1 14.1

Tahu 79 85.9 85.9 100.0

Total 92 100.0 100.0

P5

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid tidak tahu 7 7.6 7.6 7.6

Tahu 85 92.4 92.4 100.0

Total 92 100.0 100.0

P6

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid tidak tahu 18 19.6 19.6 19.6

tahu 74 80.4 80.4 100.0

Total 92 100.0 100.0

P7

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid tidak tahu 10 10.9 10.9 10.9

tahu 82 89.1 89.1 100.0

Figur

Gambar
Gambar p.11
Tabel 1. Klasifikasi gangguan perdarahan

Tabel 1.

Klasifikasi gangguan perdarahan p.22
Gambar 2. Gambaran Klinis Fraktur

Gambar 2.

Gambaran Klinis Fraktur p.25
Gambar 3. Penanganan fraktur dentoalveolar anterior

Gambar 3.

Penanganan fraktur dentoalveolar anterior p.26
Tabel 2. Klasifikasi Syok28

Tabel 2.

Klasifikasi Syok28 p.27
Gambar 4. A. Posisi syok ( shock position) dan B. Posisi Trendelenburg

Gambar 4.

A. Posisi syok ( shock position) dan B. Posisi Trendelenburg p.29
Gambar 55. A. Simpple BLS uuntuk dewaasa. B. BLLS berdasaarkan pelayyanan

Gambar 55.

A. Simpple BLS uuntuk dewaasa. B. BLLS berdasaarkan pelayyanan p.32
Gambar 66. Head tilt, chin lift daan jaw thrusst.31

Gambar 66.

Head tilt, chin lift daan jaw thrusst.31 p.33
Gambar 8. Look, listen and feel.31

Gambar 8.

Look, listen and feel.31 p.34
Gambar 11. Pemeriksaan nadi karotis.29,31

Gambar 11.

Pemeriksaan nadi karotis.29,31 p.35
Gambar 10. Penggunaan Ambubag.32

Gambar 10.

Penggunaan Ambubag.32 p.35
Gambar 12. Kompresi dada pada dewasa, bayi dan anak

Gambar 12.

Kompresi dada pada dewasa, bayi dan anak p.36
Gambar 13. Cara mengukur tekanan

Gambar 13.

Cara mengukur tekanan p.39
Gambarr 14. Carra memerikksa

Gambarr 14.

Carra memerikksa p.40
Gambar 15. Teknik palpasi dan Teknik auskultasi.37

Gambar 15.

Teknik palpasi dan Teknik auskultasi.37 p.41
Tabel 3. Variabel dan Definisi Operasional

Tabel 3.

Variabel dan Definisi Operasional p.45
Tabel 4. Kategori Nilai Pengetahuan

Tabel 4.

Kategori Nilai Pengetahuan p.49
Tabel 5. Kategori Nilai Sikap

Tabel 5.

Kategori Nilai Sikap p.49
Tabel 6. Gambaran karakteristik responden dokter gigi (n= 92)

Tabel 6.

Gambaran karakteristik responden dokter gigi (n= 92) p.50
Tabel 7. Distribusi frekuensi pengetahuan responden tentang kegawatdaruratan

Tabel 7.

Distribusi frekuensi pengetahuan responden tentang kegawatdaruratan p.51
Tabel 8. Kategori pengetahuan responden tentang kegawatdaruratan medis (n=92)

Tabel 8.

Kategori pengetahuan responden tentang kegawatdaruratan medis (n=92) p.51
Tabel 9. Distribusi frekuensi sikap responden tentang kegawatdaruratan medis (n= 92)

Tabel 9.

Distribusi frekuensi sikap responden tentang kegawatdaruratan medis (n= 92) p.52
Tabel 10. Kategori sikap responden tentang kegawatdaruratan medis (n= 92)

Tabel 10.

Kategori sikap responden tentang kegawatdaruratan medis (n= 92) p.53

Referensi

Memperbarui...