• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBIJAKAN HUKUM PIDANA DALAM PEMBERANTASAN TERORISME

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "KEBIJAKAN HUKUM PIDANA DALAM PEMBERANTASAN TERORISME"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

1

KEBIJAKAN HUKUM PIDANA

DALAM PEMBERANTASAN TERORISME

Oleh: Dr. M. Arief Amrullah, S.H., M.Hum. 1

A. PENDAHULUAN

Terjadinya peristiwa peledakan di Bali pada tanggal 12 Oktober 2002 yang

menewaskan raturan manusia tak berdosa, telah mengingatkan kembali pada

peristiwa 11 September 2001 di Amerika Serikat dengan korban jauh lebih besar

daripada yang terjadi di Bali.

Suatu hal yang perlu dicatat dari kedua peristiwa itu bahwa beberapa saat

setelah terjadinya serangan terhadap Amerika Serikat, maka reaksi bermunculan

yang mengutuk tindakan itu sebagai biadab dan tidak berperikemanusiaan. Langkah

berikutnya adalah keluarnya Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 1373 tanggal 28

September 2001 yang menyerukan bahwa untuk memerangi kegiatan terorisme

internasional, setiap negara anggota diminta untuk melaporkan langkah-langkah yang

dilakukan dalam rangka melaksanakan resolusi tersebut, termasuk kepada

Indonesia. Di samping itu, IMF menyampaikan surat tanggal 26 September 2001

kepada Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan mengenai perintah

pembekuan aset-aset yang berkaitan dengan terorisme internasional.

Dalam kerangka itu, wajar jika Indonesia ketika merumuskan Undang-undang

tentang Tindak Pencucian Uang telah memasukan unsur terorisme ke dalam salah

satu pasalnya, terutama dalam pengawasan penggunaan keuangan untuk kegiatan

terorisme.

Sekarang bagaimana dengan Indonesia dalam merespon pasca pemboman di

Bali, ternyata beberapa pejabat tinggi ada berbeda pendapat menanggapinya. Ada

yang mengatakan, bahwa apa yang terjadi di Bali membuktikan di Indonesia ada

teorisme, sedangkan yang lainnya menyangkal. Terlepas dari perbedaan pendapat

atau persepsi itu, tapi yang jelas Pemerintah Megawati ada keseriusan dalam

menghadapi masalah terorisme, hal terbukti di mana keesokan-harinya setelah

pemboman, yaitu pada hari Minggu tanggal 13 Oktober Presiden Megawati

(2)

2 mengadakan rapat mendadak dengan beberapa menteri terkait dan setelah itu

berangkat ke Bali.

Keseriusan pemerintah dalam memerangi nampaknya tidak hanya sekedar

rapat dan mengeluarkan pernyataan, tapi juga ditindak-lanjuti dengan mengeluarkan

suatu kebijakan berupa Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perpu)

tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, yang saat tulisan ini disusun

masih dalam bentuk Rancangan, tentunya hal itu akan segera disahkan menjadi

Perpu. Adanya Rancangan Perpu tersebut menunjukkan, bahwa masalah terorisme

bukan hal biasa tapi sudah luar biasa, karenanya yang sebelumnya Indonesia sudah

mempunyai RUU tentang Pemberantasan Terorisme telah dipersingkat lagi menjadi

Perpu.

Pertanyaannya, bagaimanakah substansi dari kebijakan pemberantasan

terorisme dengan menggunakan hukum pidana, apakah tidak mengabaikan

perlindungan hukum terhadap hak asasi manusia, khususnya tersangka atau

terdakwa?

B. LAHIRNYA PERPU NOMOR 1 TAHUN 2002

Dalam Penjelasan Umum Perpu ini dinyatakan Terorisme merupakan

kejahatan terhadap kemanusiaan dan peradaban serta merupakan salah satu

ancaman serius terhadap kedaulatan setiap negara karena terorisme sudah

merupakan kejahatan yang bersifat internasional yang menimbulkan bahaya

terhadap keamanan, perdamaian dunia serta merugikan kesejahteraan masyarakat

sehingga perlu dilakukan pemberantasan secara berencana dan

berkesinambungan sehingga hak asasi orang banyak dapat dilindungi dan dijunjung

tinggi.

Upaya penanggulangan tersebut adalah sejalan dengan Pembukaan

Undang-Undang Dasar 1945, maka Negara Republik Indonesia adalah negara

kesatuan yang berlandaskan hukum dan memiliki tugas dan tanggung jawab

untuk memelihara kehidupan yang aman, damai, dan sejahtera serta ikut serta

Referensi

Dokumen terkait

(Perdagangan orang adalah suatu perkumpulan gelap oleh beberapa orang lintas nasional dan perbatasan internasional, sebagian besar berasal dari negara – negara berkembang dengan

Namun, Tragedi 11 September 2001 telah memunculkan paradigma baru tentang aksi terorisme internasional, terutama dengan Amerika Serikat ( AS ) yang menetapkan kelompok Al-Qaeda di

15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan tindak Pidana Terorisme memberikan pengertian tindak pidana terorisme adalah setiap tindakan dari seseorang yang dengan sengaja

Setiap Anggota harus segera menanggapi semua permintaan oleh Anggota lain untuk informasi spesifik pada setiap langkah penerapannya umum atau perjanjian internasional

Densus 88 sebagai satuan khusus Kepolisian Negara Republik Indonesia yang khusus bergerak di bidang pemberantasan tindak pidana terorisme memiliki wewenang yang sama dengan

Ini dibuktkan dengan banyaknya lembaga-lembaga internasional yang turut menegaskan komitmennya untuk bersama-sama memerangi korupsi Salah satu penghambat kesejahteraan

(5) Ayat (1) dan (4) dalam pasal ini tidak boleh menyimpang dari hasil perjanjian internasional yang dilakukan oleh negara- negara anggota Komunitas Eropa dengan satu

Dalam pasal 12 B ayat 1 Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, mengatakan bahwa setiap