PENETAPAN KADAR AIR PADA SEDIAAN JAMU PIL
SECARA DESTILASI AZEOTROP
TUGAS AKHIR
OLEH:
DESY DAMAYANTI DAMANIK NIM 122410025
PROGRAM STUDI DIPLOMA III
ANALIS FARMASI DAN MAKANAN
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
PENETAPAN KADAR AIR PADA SEDIAAN JAMU PIL
SECARA DESTILASI AZEOTROP
TUGAS AKHIR
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya Pada Program Studi Diploma III Analis Farmasi dan Makanan
Fakultas FarmasiUniversitas Sumatera Utara
OLEH:
DESY DAMAYANTI DAMANIK NIM 122410025
PROGRAM STUDI DIPLOMA III
ANALIS FARMASI DAN MAKANAN
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobbil’alamin, puji dan syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberi rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan perkuliahan yang diakhiri dengan penulisan tugas akhir dengan judul Penetapan Kadar Air pada Sediaan Jamu Pil secara Destilasi Azeotrop.
Penulisan tugas akhir ini merupakan salah satu persyaratan untuk menyelesaikan pendidikan Program Studi Diploma III Analis Farmasi dan Makanan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. Tugas akhir ini disusun berdasarkan apa yang penulis lakukan pada Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Medan.
Selama menyusun tugas akhir ini, penulis banyak mendapat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Ibu Prof. Dr. Julia Reveny, M.Si., Apt., selaku Wakil Dekan I Fakultas Farmasi USU.
2. Bapak Prof. Jansen Silalahi, M.App.Sc., Apt., selaku Ketua Program Studi Diploma III Analis Farmasi dan Makanan Fakultas Farmasi USU.
3. Ibu T. Ismanelly Hanum, S.Si., M.Si., Apt., selaku dosen pembimbing yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam penyusunan tugas akhir.
5. Ibu Lambok Oktavia SR, S.Si., M.Kes., Apt., selaku Manajer Mutu di Balai Besar POM di Medan, yang memberikan izin tempat pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan.
6. Ibu Lucy Rahmadesi, S.Farm., Apt., selaku Koordinator Pembimbing Praktek Kerja Lapangan (PKL) beserta seluruh staf laboratorium Balai Besar POM di Medan.
7. Bapak dan Ibu dosen beserta seluruh staf di Fakultas Farmasi USU. 8. Teman-teman mahasiswa dan mahasiswi Program Studi Diploma III
Analis Farmasi dan Makanan angkatan 2012, yang telah banyak memberikan bantuan dan dukungan dalam penulisan Tugas Akhir ini. Ucapan terimakasih juga penulis ucapkan kepada Ayahanda dan Ibunda, abang dan adik penulis serta seluruh keluarga yang telah memberikan doa restu, motivasi dan dorongan baik moril maupun materil sehingga tugas akhir ini dapat diselesaikan.
Penulis menyadari bahwa tulisan ini tidak luput dari kekurangan. Sangat diharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun kesempurnaan tulisan ini. Akhirnya penulis berharap semoga tugas akhir ini bermanfaat bagi kita semua dan semoga Allah SWT memberikan rahmat dan berkah-Nya atas bantuan yang telah diberikan kepada penulis. Amin.
Medan, Mei 2015 Penulis,
PENETAPAN KADAR AIR PADA SEDIAAN JAMU PIL SECARA DESTILASI AZEOTROP
ABSTRAK
Sediaan jamu sangat dipengaruhi oleh jumlah kadar airnya. Kandungan air yang berlebihan pada bahan/ sediaan obat tradisional akan mempercepat pertumbuhan mikroba dan juga dapat mempermudah terjadinya hidrolisa terhadap kandungan kimianya sehingga dapat mengakibatkan penurunan mutu dari obat tradisional.Sediaan jamu pil adalah sediaan padat obat tradisional berupa massa bulat, terbuat dari serbuk Simplisia dan/ atau Ekstrak. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui apakah sediaan jamu pil tersebut telah memenuhi persyaratan kadar air yang ditetapkan dalam Materia Medika Jilid VI tahun 1995.
Penetapan kadar air pada sediaan jamu pil dilakukandengan metode destilasi azeotrop,prinsip penentuan kadar air dengan destilasi adalah menguapkan air dengan pembawa cairan kimia yang mempunyai titik didih lebih tinggi dari pada air dan tidak dapat dicampur dengan air serta mempunyai berat jenis lebih rendah daripada air.
Dari hasil percobaan diperoleh hasil kadar air pada beberapa sampel jamu yaitu 3,95 %, 4,88%, 9,11%, 4,46%. Sampel jamu tradisional yang diuji memenuhi persyaratan kadar air sesuai dengan Materia Medika Jilid VI tahun 1995, yaitu tidak lebih dari 10%.
DAFTAR ISI
Halaman
JUDUL ... i
LEMBARPENGESAHAN ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
2.2.2 Obat Herbal Terstandar (Standarized Based Herbal Medicine) ... 6
2.2.3 Fitofarmaka (Clinical Based Herbal Medicine) ... 7
2.3Bentuk Sediaan Obat Tradisional ... 7
2.3.1Pil ... 7
2.3.3 Persyaratan Pil ... 10
2.7.1Destilasi (Termovolumetri) ... 15
2.7.1.1 Destilasi Azeotrop ... 16
3.6Interpretasi Hasil ... 20
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1.Keterangan Sampel ... 25
Lampiran 2.Data dan Perhitungan... 30
Lampiran 3.GambarSampel ... 31
PENETAPAN KADAR AIR PADA SEDIAAN JAMU PIL SECARA DESTILASI AZEOTROP
ABSTRAK
Sediaan jamu sangat dipengaruhi oleh jumlah kadar airnya. Kandungan air yang berlebihan pada bahan/ sediaan obat tradisional akan mempercepat pertumbuhan mikroba dan juga dapat mempermudah terjadinya hidrolisa terhadap kandungan kimianya sehingga dapat mengakibatkan penurunan mutu dari obat tradisional.Sediaan jamu pil adalah sediaan padat obat tradisional berupa massa bulat, terbuat dari serbuk Simplisia dan/ atau Ekstrak. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui apakah sediaan jamu pil tersebut telah memenuhi persyaratan kadar air yang ditetapkan dalam Materia Medika Jilid VI tahun 1995.
Penetapan kadar air pada sediaan jamu pil dilakukandengan metode destilasi azeotrop,prinsip penentuan kadar air dengan destilasi adalah menguapkan air dengan pembawa cairan kimia yang mempunyai titik didih lebih tinggi dari pada air dan tidak dapat dicampur dengan air serta mempunyai berat jenis lebih rendah daripada air.
Dari hasil percobaan diperoleh hasil kadar air pada beberapa sampel jamu yaitu 3,95 %, 4,88%, 9,11%, 4,46%. Sampel jamu tradisional yang diuji memenuhi persyaratan kadar air sesuai dengan Materia Medika Jilid VI tahun 1995, yaitu tidak lebih dari 10%.
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Obat tradisional adalah bahanatau ramuan bahan berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (gelenik), atau campuran dari bahan-bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman (Lestari, 2006).
Obat tradisional telah dikenal dan banyak digunakan secara turun-temurun oleh masyarakat. Umumnya pemanfaatan obat tradisional telah diutamakan sebagai upaya preventif untuk menjaga kesehatan. Selain itu, ada pula yang menggunakannya untuk pengobatan suatu penyakit (Lestari, 2006).
Pada awalnya, bahan tumbuh-tumbuhan tersebut dikonsumsi langsung dalam bentuk segar, rebusan, atau racikan namun pada perkembangannya, obat tradisional dikonsumsi lebih praktis dalambentuk pil, kapsul, sirup, tablet, sehingga memudahkan konsumen dalam penggunaanya (Anief, 2000).
Pengukuran kandungan air yang berada dalam bahan ataupun sediaan yang dilakukan dengan cara yang tepat diantaranya cara titrasi, destilasi, atau gravimetri yang bertujuan memberikan batasan minimal atau rentang tentang besarnya kandungan air dalam bahan, dimana nilai maksimal atau rentang yang diperbolehkan terkait dengan kemurnian dan kontaminasi (Dirjen POM, 2000).
erat dengan pertumbuhan mikroba dan proses metabolisme dalam tumbuhan. Agar pertumbuhan mikroba dapat ditahan, diperlukan pengurangan kadar air dari suatu bahan maupun ramuan (Mursito, 2008).
Berdasarkan hal tersebut diatas maka penulis tertarik untuk menguji kadar air pada sediaaan jamu pil.Adapun pengujian dilakukan selama penulis melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Medan.Analisis penetapan kadar air padasediaan jamu pil dilakukan dengan metode destilasi azeotrop, karena dapat menghasilkan produk yang benar-benar murni serta dapat memisahkan zat dengan perbedaan titik didih yang tinggi. 1.2 Tujuan
Untuk mengetahui apakah kadar air yang terdapat padasediaan jamu pilmemenuhi persyaratan kadar air yang telah ditetapkan dalamMateria Medika Jilid VI tahun 1995.
1.3 Manfaat
Manfaat yang diperoleh dari penetapan kadar air padasediaan jamu pil adalah untuk memberikan informasi kepada masyarakat apakah jamu sediaan pil yang beredar di pasaran memenuhi persyaratan Materia Medika Jilid VI tahun 1995 sehingga produk tersebut layak untuk dikonsumsi.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Obat Tradisional
Defenisi obat tradisional menurut Undang-undang no.23 tahun 1992adalah bahanatau ramuan bahan berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (gelenik), atau campuran dari bahan-bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Obat tradisional telah dikenal dan banyak digunakan secara turun-temurun oleh masyarakat. Umumnya pemanfaatan obat tradisional telah diutamakan sebagai upaya preventif untuk menjaga kesehatan. Selain itu, ada pula yang menggunakannya untuk pengobatan suatu penyakit (Lestari, 2006).
Untuk meningkatkan mutu suatu obat tradisional, maka pembuatan obat tradisional haruslah dilakukan dengan sebaik-baiknya mengikuti pengawasan menyeluruh yang bertujuan untuk menyediakan obat tradisional yang senantiasa memenuhi persyaratan yang berlaku (Dirjen POM, 1994).
Bahan-bahan ramuan obat tradisional seperti bahan tumbuh-tumbuhan, bahan hewan, sediaan sarian atau gelenik yang memiliki fungsi, pengaruh serta khasiat sebagai obat, dalam pengertian umum kafarmasian bahan yang digunakan sebagai obat disebut simplisia. Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain berupa bahan yang telah dikeringkan (Dirjen RI, 1995).
a. Simplisia Hewan
Simplisia hewan adalah simplisia yang berupa hewan atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia murni.
b. Simplisia Nabati
Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman utuh, bagian tanaman atau eksudat tanaman. Eksudat tanaman ialah isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman atau isi sel yang dengan cara tertentu dipisahkan dari tanamannya dan belum berupa zat kimia murni.
c. Simplisia Pelikan (mineral)
Simplisia pelikan adalah simplisia yang berupa bahan-bahan pelikan (mineral) yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa zat kimia murni.
2.2 Jenis Obat Tradisional
Berdasarkan keputusan Kepala Badan POM RI No. HK.00.05.4.2411 tentang ketentuan pokok pengelompokan dan penandaan obat bahan alam Indonesia, obat tradisional dikelompokkan menjadi tiga, yaitu jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka.
2.2.1 Jamu(Empirical Based Herbal Medicine)
Saat ini jamu semakin marak di pasaran, seiring dengan pengembangan produksi yang semakin baik dan penerimaan oleh masyarakat. Sebagian masyarakat memilih jamu karena jamu dipandang lebih aman dan kadang khasiatnya dirasakan lebih baik (Widodo, 2004).
Jamu dapat dikelompokkan menjadi jamu yang tidak bermerek dan jamu bermerek. Jamu tidak bermerek antara lain berupa jamu gendong yang biasanya dijual ke rumah-rumah dengan digendong atau jamu yang dijual di satu tempat tertentu dengan nama asli kandungannya (misalnya jahe, temulawak, kunir, bawang putih). Sedangkan jamu bermerek umumnya dibuat dengan peralatan yang lebih canggih dalam jumlah yang cukup banyak dan memiliki izin dari Departemen Kesehatan (Widodo, 2004).
Jamu disajikan secara tradisional dalam bentuk serbuk seduhan, pil, atau cairan. Umumnya, obat tradisional ini dibuat dengan mengacu pada resep peninggalan leluhur. Satu jenis jamu disusun dari berbagai tanaman obat yang jumlahnya antara 5-10 macam, bahkan bisa lebih. Jamu tidak memerlukan pembuktiaan ilmiah sampai uji klinis, tetapi cukup dengan bukti empiris. Disamping klaim khasiat yang dibuktikan secara empiris, jamu juga harus memenuhi persyaratan keamanan dan standar mutu. Jamu yang telah digunakan secara turun-temurun selama berpuluh-puluh tahun bahkan ratusan tahun telah membuktikan keamanan dan manfaat secara langsung untuk tujuan kesehatan tertentu (Lestari, 2006).
Tabel 2.1 Perbedaan secara umum antara jamu dan obat modern
Jenis sifat Jamu Obat Modern
Dosis Kurang tinggi Lebih tinggi
Keamanan Lebih aman Lebih berbahaya
Sasaran Untuk mencegah,
meningkatkan vitalitas,
Syarat-syarat produk Lebih longgar Lebih ketat
Bahan Natural/alami Kimia
Harga Biasanya lebih murah Umumnya lebih mahal (Widodo, 2004).
2.2.2 Obat Herbal Terstandar (Standarized Based Herbal Medicine)
Merupakan obat tradisional yang disajikan dari hasil ekstraksi atau penyarian bahan alam, baik tanaman obat, hewan, maupun mineral. Dalam proses pembuatannya, dibutuhkan peralatan yang tidak sederhana dan lebih mahal daripada jamu. Tenaga kerjanya pun harus didukung oleh pengetahuan dan keterampilan membuat ekstrak. Obat herbal ini umumnya ditunjang oleh pembuktian ilmiah berupa penelitian praklinis. Penelitian ini meliputi standardisasi kandungan senyawa berkhasiat dalam bahan penyusun, standardisasi pembuat ekstrak yang higienis, serta uji toksisitas akut maupun kronis (Lestari, 2006).
Kelompok obat ekstrak alam dalam kemasannya terdapat logo jari-jari daun yang melambangkan produk telah melalui serangkaian uji, laboratorium yang meliputi uji toksisitas dan uji praklinis (Mursito, 2008).
b. Klaim khasiat dibuktikan secara ilmiah atau praklinik c. Bahan baku yang digunakan telah terstandar
d. Memenuhi persyaratan mutu (Lestari, 2006). 2.2.3 Fitofarmaka (Clinical Based Herbal Medicine)
Merupakan obat tradisional yang dapat disejajarkan dengan obat modern. Proses pembuatannya telah terstandar dan ditunjang oleh bukti ilmiah sampai uji klinis pada manusia. Karena itu, dalam pembuatannya diperlukan peralatan berteknologi modern, tenaga ahli, dan biaya yang tidak sedikit (Lestari, 2006).
Pada kemasan produk fitofarmaka terdapat logo yang melambangkan serangkaian proses, uji laboratorium, yang lengkap meliputi toksisitas, uji praklinis, dan uji klinis (Mursito, 2008).
2.3 Bentuk Sediaan Obat Tradisional
Pada awalnya, bahan tumbuh-tumbuhan dikonsumsi langsung dalam bentuk segar, rebusan, atau racikan namun pada perkembangannya, obat tradisional dikonsumsi lebih praktis dalambentuk pil, kapsul, sirup, tablet, sehingga memudahkan konsumen dalam penggunaanya (Anief, 2000).
2.3.1 Pil
Disamping bahan berkhasiat ada bahan tambahan berupa zat pengisi, zat pengikat, zat pembasah, zat penabur dan zat penyalut yang sesuai/ cocok. Pil juga dapat disalut enterik (enteric coated) seperti halnya tablet. Syarat waktu hancur pil sama dengan syarat waktu hancur tablet (Joenoes, 1990).
Keuntungan dan kerugian memberikan obat bentuk sediaan pil Keuntungan:
a. Rasa obat yang tidak enak dapat tertutupi b. Mudah ditelan
Kerugian:
Kalau disimpan lama sering menjadi keras dan tidak lagi memenuhi syarat waktu hancur, sehingga absorpsi bahan obat tidak sempurna. Bahan tambahan pil umumnya berupa serbuk asal nabati, ada kemungkinan ditumbuhi jamur (Joenoes, 1990).
2.3.2 Komponen Pil
Komponen, penggunaan, dan contoh pil yaitu: 1. Zat utama
Berupa bahan obat yang harus memenuhi persyaratan Farmakope misalnya KMnO4, asetosal, digitalis folia, garam ferro, dan lain-lain.
2. Zat tambahan yang terdiri dari: a. Zat pengisi
baik untuk bahan-bahan minyak atsiri (Metode Blomberg). Terlebih kalau ditambahkan succus liq. Hal ini karena radix liq mengandung glisirizin yang bersifat mengemulsi minyak.
b. Zat pengikat
Fungsinya untuk memperbesar daya kohesi maupun daya adhesi massa pil agar massa pil dapat saling melekat menjadi massa yang kompak. Contoh: sari akar manis (Succus liquiritiae), gom akasia, tragakan, campuran bahan tersebut (PGS) atau bahan lain yang cocok (glukosa, mel, sirop, musilago, kanji, adeps, glycerinum cum tragacanth, extr. gentian, extr. Aloe, dan lain-lain).
c. Bahan atau zat penabur
Fungsinya untuk mempekecil gaya gesekan antara molekul yang sejenis maupun tidak sejenis, sehingga massa pil menjadi tidak lengket satu sama lain, lengket pada alat pembuat pil, atau lengket satu pil dengan pil lainnya. Contoh: lycopodium, talcum.
d. Bahan atau zat pembasah
Fungsinya untuk memperkecil sudut kontak (<90º) antar molekul sehingga massa menjadi basah dan lembek serta mudah dibentuk. Contoh: air, air-gliserin (aqua gliserinata), gliserin, sirop, madu, atau bahan lain yang cocok (Syamsuni, 2006).
2.3.3 Persyaratan Pil
1. Pada penyimpanan bentuknya tidak boleh berubah, tidak begitu keras sehingga dapat hancur dalam saluran pencernaan, dan pil salut enterik tidak hancur dalam lambung tetapi hancur dalam usus halus.
2. Memenuhi keseragaman bobot. Timbang 20 pil satu persatu, hitung bobot rata-rata, penyimpangan terbesar terhadap bobot rata-rata, adalah:
Tabel 2.2 Penyimpangan terbesar terhadap bobot rata-rata Untuk bobot rata-rata
3. Memenuhi waktu hancur seperti tertera pada compressi yaitu dalam air 360 - 380 selama 15 menit untuk pil tidak bersalut dan 60 menit untuk pil yang bersalut. Sedang untuk pil bersalut enterik, direndam dulu dalam larutan HCl 0,06 N selama 3 jam, lalu dipindahkan dalam larutan dapar pH 6,8 suhu 360 - 380, maka dalam 60 menit pengujian pil sudah hancur (Anief, 1995).
2.4 Jamu Pelangsing
Karena perhatian sekarang banyak diarahkan pada penampilan dan kesehatan jasmani, banyak orang yang kegemukan mengalihkan perhatian kepada obat pelangsing untuk membantu mereka mengurangi berat badan, atau dalam kasus tertentu, sejumlah bobot yang cukup banyak. Dengan mengekang selera, obat pelangsing ini berfungsi sebagai penolong sementara karena orang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengembangkan kebiasaan makan yang baik. Obat yang lazim digunakan pada pil pelangsing adalah amfetamindan non amfetamin, yang kedua-duanya hanya bisa diperoleh dengan resep dokter. Penggunaan amfetamin tidak begitu dianjurkan karena besar sekali kemungkinan disalahgunakan. Obat bebas yang juga digunakan sebagai pil pelangsing mengandung fenilpropanolamin (pelega hidung yang banyak digunakan untuk flu dan batuk) karena efek sampingnya juga menekan selera makan (Harkness, 1989). Penekan selera makan adalah stimulan susunan saraf pusat. Rangsangan yang berlebihan dapat terjadi apabila penekan selera diberikan bersama-sama dengan stimulan susunan saraf pusat yang lain. Akibatnya gelisah, agitasi, tremor jantung berdebar, demam, hilang koordinasi otot, napas cepat dan pendek, insomnia. Pada kasus berat ada resiko kenaikan tekanan darah yang gejalanya berupa sakit kepala, gangguan penglihatan, atau kebingungan (Harkness, 1989).
nafsu makan. Hal ini sangat dimungkinkan mengingat kandungan bahan pada setiap jenis tanaman sangat banyak dan beragam. Akibatnya, sangat besar kemungkinannya untuk saling membantu dalam efek kemanfaatan dan dapat saling meniadakan ataupun mengurangi efek samping dan setiap bahan tunggal. Mengingat keadaan ini maka saat ini penggunaan bahan alam nabati semakin dikenal dan semakin disenangi berbagai lapisan masyarakat (Mursito, 2008).
Ramuan tradisional pelangsing tubuh merupakan ramuan dari berbagai simplisia kering maupun segar yang dapat dimanfaatkan dalam upaya membentuk tubuh ramping. Pemanfaatan ramuan tidak dapat dirasakan khasiatnya dalam waktu singkat. Ini disebabkan upaya membentuk tubuh ramping terkait dengan proses normalisasi metabolisme tubuh dan bahan-bahan alam tidak dapat bekerja secepat bahan sintetis. Namun keamanan penggunaan bahan alam dapat lebih dijamin dibanding dengan penggunaan bahan kimia sintetis (Mursito, 2008). 2.5 Jamu Keputihan
faktor patologis. Karena disebabkan oleh serangan bakteri atau jamur, lendir yang keluar berwarna kekuningan bahkan kecokelatan dan terkadang bercampur darah. Selain jamur dan bakteri, keputihan patologis juga bisa dipicu oleh pemakaian oleh anti alergi atau obat anti kanker pada alat kelamin (Sugiarto, 2008).
Pengobatan dengan menggunakan ramuan tradisional hasilnya memang tidak secepat dengan obat-obatan pabrik. Waktu penyembuhan dengan ramuan tradisional lebih lama jika dibandingkan dengan waktu penyembuhan dengan pengobatan secara modern, karena sifat pengobatan dengan ramuan tradisonal adalah konstruktif. Artinya, pengobatan dilakukan untuk memperbaiki bagian yang terserang secara perlahan tetapi menyeluruh (Sugiarto, 2008).
2.6 Kadar Air dalam Jamu
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No.661/IMENKES/SK/VII/1994 kadar air obat tradisional adalah banyaknya air
yang terdapat di dalam obat tradisional. Air tersebut berasal dari kandungan simplisia, penyerapan pada saat produksi atau penyerapan uap air dari udara pada saat berada dalam peredaran.
Pemerintah sudah menetapkan persyaratan dari berbagai macam bentuk sediaan ramuan dalam bentuk simplisia. Syarat dalam bentuk rajangan adalahsebagai berikut:
1. Kadar air tidak lebih dari 10%
2. Angka lempeng total tidak lebih dari 107 3. Angka kapang dan khamir tidak lebih dari 104
5. Aflatoksin tidak lebih dari 30 bagian per sejuta (bpj).
Persyaratan tersebut dapat digunakan sebagai pedoman untuk menilai tingkat kualitas ramuan ditinjau dari segi keamanan dan kebersihan (Mursito, 2008).
Persyaratan kadar air dalam suatu ramuan merupakan parameter penting untuk menilai keadaan ramuan tersebut. Kandungan air dalam tanaman berkaitan erat dengan pertumbuhan mikroba dan proses metabolisme dalam tumbuhan. Agar pertumbuhan mikroba dapat ditahan, diperlukan pengurangan kadar air dari suatu bahan maupun ramuan. Berdasarkan data percobaan persyaratan berbagai macam simplisia berkisar 6-10% (Mursito, 2008).
Penetapan kadar air dengan gravimetri tidak dianjurkan karena susut pengeringan tersebut bukan hanya diakibatkan menguapnya kandungan air tetapi juga diakibatkan minyak atsiri dan zat lain yang mudah menguap. Kadar air harus tetap memenuhi persyaratan, selama di industri maupun di peredaran. Upaya menekan kadar air serendah mungkin perlu mendapat pertimbangan terutama bila kandungan obat tradisional tergolong minyak atsiri atau bahan lain yang mudah menguap (Kepmenkes RI, 1994).
2.7 Penetapan Kadar Air
Destilasi berarti memisahkan komponen-komponen yang mudah menguap dari suatu campuran cair dengan cara menguapkannya, yang diikuti dengan kondensasi uap yang terbentuk dan menampung kondensasi yang dihasilkan. Uap yang dikeluarkan dari campuran disebut sebagai uap bebas, kondensat yang jatuh sebagai destilat dan bagian cairan yang tidak menguap sebagai residu (Handoyo, 1995).
Prinsip penentuan kadar air dengan destilasi adalah menguapkan air dengan pembawa cairan kimia yang mempunyai titik didih lebih tinggi daripada air dan tidak dapat bercampur dengan air serta mempunyai berat jenis lebih rendah daripada air. Zat kimia yang dapat digunakan antara lain adalah toluena, xylena, benzena, tetrakhlorethilen dan xylol. Cara destilasi ini baik untuk menentukan kadar air dalam zat yang kandungan airnya kecil yang sulit ditentukan dengan cara termogravimetri. Penentuan kadar air cara ini hanya memerlukan waktu ± 1 jam (Sudarmadji, 1989).
Peristiwa yang terjadi pada destilasi sederhana adalah:
a. Penguapan komponen yang mudah menguap dari campuran (yang diisikan secara kontinue) dalam alat penguap
b. Pengeluaran uap yang terbentuk melalui sebuah pipa uap yang lebar dan kosong, tanpa perpindahan panas dan perpindahan massa yang disengaja atau dipaksakan, yang dapat menyebabkan kondensasi mengalir kembali ke alat penguap
d. Kondensasi uap dalam sebuah kondensor
e. Pendingin lanjut dari destilat panas dalam sebuah alat pendingin f. Penampungan destilat dalam sebuah bejana (penampung) g. Pengeluaran residu (secara kontinue) dari alat penguap h. Pendinginan lanjut dari residu yang dikeluarkan
i. Penampung residu dalam sebuuah bejana (Handoyo, 1995).
Penyulingan atau destilasi umumnya merupakan proses pemisahan satu tahap. Proses ini dapat dilakukan secara tak kontinue atau kontinue, pada tekanan normal atau vakum. Pada destilasi sederhana, yang paling sering dilakukan adalah operasi tak kontinue. Dalam hal ini campuran yang akan dipisahkan dimasukkan ke dalam alat penguap (umumnya alat penguap labu) dan dididihkan (Handoyo, 1995).
2.7.1.1Destilasi Azeotrop
memberikan komposisi titik didih maksimum atau minimum (Wilcox & Wilcox, 1995).
Titik didih dalam zat cair, molekul-molekul bergerak secara konstan dan mempunyai kecenderungan untuk keluar dari permukaannya dan berubah menjadi molekul-molekul gas, bahkan ketika temperatur masih jauh di bawah titik didihnya. Titik didih suatu zat cair didefenisikan sebagai temperatur dimana besarnya tekanan uap zat cair tersebut sama dengan tekanan atmosfer, sehingga terjadi perubahan fase dari fase cair menjadi fase gas. Titik didih suatu zat cair pada tekanan 1 atm disebut sebagai titik didih normal (Wilcox & Willcox, 1995).
3.1 Tempat dan Waktu Pengujian
Pengujian penetapan kadar air pada sediaan jamu pil dilakukan di Laboratorium Obat Tradisional, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Medan yang berada di Jalan Williem Iskandar, Pasar V Barat I No. 2 Medan pada tanggal 26 Februari 2015.
3.2 Alat
Alat yang digunakan adalah beaker glass, blender, corong pisah, erlenmeyer, gelas ukur, labu alas bulat, lemari pengering, peralatan destilasi azeotrop, spatula, timbangan digital.
3.3 Bahan
Bahan yang digunakan adalah toluen dan akuades. 3.4 Sampel
Sampel yang digunakan adalah sediaan jamu pil, yaitu jamu srikaton, jamu tresnasih, jamu galian delima putih dan jamu galian singset yang diproduksi oleh PT. Njonja Meneer.
3.5 Prosedur
Ditimbang masing-masing sampel sebanyak 10 gram, lalu diblender sampai halus.
3.5.2 Penjenuhan Toluen
Dicampur toluen dan air dengan perbandingan yang sama (1:1) lalu digojok kuat dalam corong pisah, biarkan memisah. Diambil lapisan toluen.
3.5.3 Penetapan Kadar Air Sampel
Prosedur yang digunakan adalah sesuai dengan yang diterapkan di Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Medan dengan acuan metode berdasarkan Materia Medika Jilid VI tahun 1995.
1. Kedalam labu yang kering masukkan bahan sejumlah ±10 gr.
2. Masukkan lebih kurang 200 ml toluen ke dalam labu, pasang rangkaian alat.
3. Tuang toluen ke dalam tabung penerima melalui alat pendingin sampai leher alat penampung dan tambahkan batu didih secukupnya.
4. Panaskan labu hati-hati selama 15 menit.
5. Lanjutkan proses destilasi ±2 jam hingga semua air tersuling. 6. Biarkan tabung penerima mendingin hingga suhu kamar.
7. Jika ada tetes air yang melekat pada pendingin dan tabung penerima, gosok dengan karet yang diikat pada sebuah kawat tembaga dan basahi dengan toluen jenuh air hingga tetesan air turun.
8. Setelah air dan toluen memisah sempurna, baca volume air. 9. Hitung kadar air dalam %.
Kadar air dalam sampel dapat dihitung dengan rumus: Kadar air = �
�x 100% Keterangan:
V = Volume air yang dibaca pada tabung penerima G = Berat cuplikan yang ditimbang
3.7 Persyaratan
Persyaratan kadar air maksimal pada sediaan jamu pil yang digunakan pada pengujian ini berdasarkan Materia Medika Jilid VI tahun 1995 yaitu tidak lebih dari10%.
BAB IV
4.1 Hasil
Berdasarkan pengujian yang dilakukan yaitu penetapan kadar air pada sediaan jamu pil dengan metode destilasi azeotrop, diperoleh hasil kadar air yaitu:
No. Sampel Kadar Air (%)
1. Jamu Srikaton 3,95%
2. Jamu Tresnasih 4,88%
3. Jamu Galian Delima Putih 9,11%
4. Jamu Galian Singset 4,46%
Data dan perhitungan hasil pengujian dapat dilihat pada lampiran 2. 4.2 Pembahasan
Berdasarkan syarat yang dicantumkan pada Materia Medika Jilid VI tahun 1995 bahwa kadar air pada sediaan jamu pil adalah tidak lebih dari 10%, sedangkan kadar air yang diperolehpada jamu srikaton 3,95%, jamu tresnasih 4,88%, jamu galian delima putih 9,11%, dan jamu galian singset 4,46%, maka jamu tersebut telah memenuhi syarat karena kadar air yang diperoleh lebih rendah daripada standar yang telah ditetapkan.
Untuk meningkatkan mutu suatu obat tradisional, maka pembuatan obat tradisional haruslah dilakukan dengan sebaik-baiknya mengikuti pengawasan menyeluruh yang bertujuan untuk menyediakan obat tradisional yang senantiasa memenuhi persyaratan yang berlaku (Dirjen POM, 1994).
pertumbuhan mikroba dapat ditahan, diperlukan pengurangan kadar air dari suatu bahan maupun ramuan. Berdasarkan data percobaan persyaratan berbagai macam simplisia berkisar 6-10% (Mursito, 2008).
BAB V
5.1 Kesimpulan
Kadar air pada sediaan jamu pil dengan metode destilasi azeotrop adalah jamu srikaton 3,95%, jamu tresnasih 4,88%, jamu galian delima putih 9,11%, dan jamu galian singset 4,46%, maka dapat disimpulkan bahwa sampel sediaan jamu pil tersebut memenuhi persyaratan kadar air yang ditetapkan pada Materia Medika Jilid VI tahun 1995 yaitu tidak lebih dari 10%.
5.2 Saran
Disarankan kepada penguji selanjutnya untuk melakukan uji parameter lainnya terhadap sediaan jamu pil seperti uji keseragaman bobot, uji waktu hancur, uji mikrobiologi Hal tersebut sangat dibutuhkan untuk mengetahui layak atau tidaknya suatu produk untuk dikonsumsi bagi masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Anief. (2000). Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktik. Cetakan ke 9. Yogyakarta: Penerbit Gadjah Mada University Press.
Depkes RI. (1995). Materia Medika Indonesia Jilid IV. Jakarta: Departemen Kesehatan RI
Dirjen POM. (1994). Petunjuk Pelaksanaan Cara Pembuatan Obat Tradisional Yang Baik (CPOTB. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Dirjen POM. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat.
Jakarta:Departemen Kesehatan RI.
Handoyo, M. (1995). Teknologi Kimia. Bagian 2. Jakarta: Penerbit PT Pradnya Paramita. Hal 157-159.
Harkness, R. (1989). Interaksi Obat. Bandung: Penerbit ITB. Hal 244-245.
Joenoes. (1990).Ars Prescribendi Resep yang Rasional. Surabaya: Penerbit Airlangga University Press. Hal 147.
Lestari, H. (2006). Cara Benar Meracik Obat Tradisional. Jakarta: Penerbit Agromedia Pustaka. Hal 1-5.
Mursito, B. (2008). Ramuan Tradisional untuk Pelangsing Tubuh. Cetakan Keenam. Jakarta: Penerbit Penebar Swadaya. Hal 28-39.
Sudarmadji, S. (1989). Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Yogyakarta: Penerbit Liberty.
Sugiarto, A. (2008). Ramuan Tradisional Untuk Mengatasi Aneka Penyakit.
Jakarta: Penerbit AgroMedia Pustaka. Hal 162-163.
Syamsuni, H.A. (2006). Ilmu Resep. Jakarta: Penerbit EGC. Hal 146-147.
Widodo, R. (2004). Panduan Keluarga Memilih dan Menggunakan Obat.
Yogyakarta: Penerbit Kreasi Wacana. Hal 139-140.
Wilcox, C.F., Wilcox, M.F. (1995). Experimental Organic Chemistry; a Small Scale Approach 2ndedition. Prentice Hall: New Jersey. Page 44.
Lampiran 1. Keterangan Sampel
Penetapan Kadar Air pada Sediaan Jamu Pil dengan Metode Destilasi Azeotrop
Nomor Kode Contoh : 75
Pabrik : PT. NJONJA MENEER
Waktu Daluarsa : Januari 2017
Nomor Registrasi : POM TR. 102418751
Khasiat dan Kegunaan : Membantu memelihara kesehatan wanita dan membantu mengurangi lendir yang berlebihan pada organ kewanitaan.
Anjuran : Untuk menambah kecerahan wajah dan memelihara agar tetap berseri-seri, dianjurkan untuk minum Pil Jamu Dewi Kecantikan.
2. Nama Sampel :Tresnasih
Nomor Kode Contoh : 86
Pabrik : PT. NJONJA MENEER
Waktu Daluarsa : Januari 2017
Nomor Registrasi : POM TR. 082497821
tidak sedap pada organ kewanitaan. Membantu mengurangi berat badan.
Cara Pemakaian : Minum 2-3 kali seminggu. Sekali minum 10 pil dengan air hangat (matang). Penggunaan produk ini harus disertai dengan olahraga teratur dan diet rendah kalori dan lemak.
Perhatian : Wanita yang sedang hamil dilarang minum jamu ini.
3. Nama Sampel :Galian Delima Putih Nomor Kode Contoh : 52
Pabrik : PT. NJONJA MENEER
Curcumae domesticae Rhizoma 40 mg
Khasiat dan Kegunaan : Untuk membantu mengurangi lemak dalam tubuh.
Cara Pemakaian : Sekali minum 10 pil diminum dengan air matang, minum tiap malam, dan boleh minum selama dikehendaki.
Perhatian : Selama minum Pil Jamu Galian Delima
Putih, jangan minum air terlalu banyak. Dan jangan pula makan pisang hijau atau nangka.
4. Nama Sampel :Galian Singset
Nomor Kode Contoh : 18
Pabrik : PT. NJONJA MENEER
Waktu Daluarsa : Januari 2017
Nomor Registrasi : POM TR. 082497841
Nomor Bets : 1721a15
Komposisi : Guazumae Folium 10 mg
Curcumae aeruginosae Rhizoma 40 mg Zingiberis aromaticae Rhizoma 40 mg
Alyxiae Cortex 40 mg
Curcumae domesticae Rhizoma 50 mg Wadah/Kemasan : Kotak/100 pil
Pemerian :Bentuk : Pil
Rasa :
Warna : Coklat
Bau : Khas
Khasiat dan kegunaan : Pil Jamu Galian Singset ini untuk membantu mengurangi berat badan.
Cara Pemakaian : Minum tiap pagi dan malam sebelum makan. Sekali minum 10 pil. Penggunaan produk ini harus disertai olahraga teratur, diet rendah lemak dan rendah kalori.
Anjuran : Dilarang minum terlalu banyak air limun atau air soda.
Lampiran 2. Data dan Perhitungan
1. Jamu srikaton = 0,6 ml ; Berat cuplikan = 15,158 gr 2. Jamu tresnasih = 0,7 ml ; Berat cuplikan = 14,3299 gr
3. Jamu galian delima putih = 1,2 ml ; Berat cuplikan = 13,165 gr 4. Jamu galian singset = 0,6 ml ; Berat cuplikan = 13,4271 gr Kadar air dalam sampel dapat dihitung dengan rumus:
Kadar air = �
�x 100%
Kadar air dalam jamu yang diperoleh adalah: 1. Jamu srikaton
3. Jamu galian delima putih �
�x 100% =
1,2
13,165x 100% = 9,11%
4. Jamu galian singset �
� x 100% =
0,6
13,4271x 100% = 4,46
Gambar Jamu Srikaton Gambar Jamu Tresnasih
Gambar Seperangkat Alat Destilasi