• Tidak ada hasil yang ditemukan

Regionalisme Arsitektur Melayu pada Kantor DPRD Langkat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Regionalisme Arsitektur Melayu pada Kantor DPRD Langkat"

Copied!
118
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

REGIONALISME ARSITEKTUR MELAYU PADA KANTOR DPRD LANGKAT

SKRIPSI

Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik

Dalam Departemen Arsitektur

Pada Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

OLEH

RAHMA WARDANI SIREGAR 110406017

DEPARTEMEN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2015

(3)

PERNYATAAN

REGIOANALISME ARSITEKTUR MELAYU

PADA KANTOR DPRD LANGKAT

SKRIPSI

Dengan ini penulis menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat

karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu

perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan penulis juga tidak terdapat karya

atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang

secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, Juli 2015

Penulis,

(Rahma Wardani Siregar)

(4)

Judul Skripsi : Regionalisme Arsitektur Melayu Pada Kantor DPRD

Langkat

Nama Mahasiswa : Rahma Wardani Siregar

Nomor Pokok : 110406017

Departemen : Arsitektur

Menyetujui

Dosen Pembimbing

(Dr. Ir. Nelson M. Siahaan, Dipl. T.P., M.Arch.)

Koordinator Skripsi,

(Dr. Ir. Dwira N. Aulia, M.Sc)

Ketua Program Studi,

(Ir. N. Vinky Rahman, MT)

Tanggal Lulus : 08 Juli 2015

(5)

Telah diuji pada

Tanggal : 08 Juli 2015

Panitia Penguji Skripsi

Ketua Komisi Penguji : Dr. Ir. Nelson M. Siahaan, Dipl. T.P., M.Arch.

Anggota Komisi Penguji : 1. Salmina Wati Ginting, S.T., M.T.

2. Hajar Suwantoro, S.T., M.T.

(6)

i KATA PENGANTAR

Alhmdulillah puji dan syukur, saya panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat

rahmat dan karunia-Nya dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu

syarat untuk menyelesaikan Program Studi Strata Satu (S1) Departemen

Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.

Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan skripsi ini tidak terlepas

dari dukungan dan bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin

menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak yang

berperan penting yaitu:

1. Bapak Dr. Ir. Nelson M. Siahaan, Dipl. T.P., M. Arch. selaku Dosen

Pembimbing, yang telah banyak memberikan bimbingan, masukan,

dukungan serta meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam membantu

penulis menyelesaikan skripsi ini.

2. Ibu Salmina Wati Ginting, S.T., M.T. dan Bapak Hajar Suwantoro, S.T.,

M.T. selaku Dosen Penguji, atas saran dan masukan yang diberikan

kepada penulis terhadap skripsi ini.

3. Bapak Ir. N. Vinky Rahman, MT selaku Ketua Departemen Arsitektur

dan Bapak Ir. Rudolf Sitorus, MLA selaku Sekretaris Departemen

Arsitektur.

4. Bapak/Ibu staff pengajar Departemen Arsitektur Fakultas Teknik

Universitas Sumatera Utara.

5. Orang tua saya yang tercinta Ibu Hj.Siti Eslan Pohan, S.pd dan Bapak

Drs. Muin Siregar. Abang dan kakak saya, Nurhasanah Siregar, Amkeb,

(7)

ii

Riyani Siregar SE, dan Suherman Nasution S.H. Terima kasih atas doa

dan dukungannya selama ini.

6. Sahabat spesial saya, yang membantu dalam proses pengerjaan skripsi ini,

Risna Nailan Aziz Amd , Rizky anjelina SE, dan Rizky Ramadhan

Batubara ST.

Medan, April 2015 Penulis

Rahma Wardani Siregar 110406017

(8)

iii ABSTRAK

Saat ini di Sumatera Utara banyak bangunan yang menerapkan regionalisme arsitektur. Penerapan regionalisme arsitekur banyak dijumpai pada gedung perkantoran guna menampilkan kembali ciri khas arsitektur lokalnya. Salah satunya adalah kantor DPRD Langkat. Studi terhadap regionalisme arsitektur melayu pada kantor DPRD Langkat untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kantor DPRD Langkat sebagai regionalisme arsitektur melayu. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan ilustrasi deskriptif-interpretatif yaitu dengan melihat secara langsung kantor DPRD Langkat. Hasil analisa menyatakan bahwa kantor DPRD Langkat di pengaruhi oleh tiga arsitektur melayu yaitu, melayu Langkat, melayu Deli, dan melayu Serdang. Faktor-faktor yang mempengaruhi kantor DPRD Langkat sebagai regionalisme arsitektur melayu yaitu, adanya tempelan arsitektur masa lampau pada Kantor DPRD Langkat, menyatunya elemen arsitektur masa lampau pada kantor DPRD Langkat, adanya wujud arsitektur masa lampau yang mentrasformasi ke dalam kantor DPRD Langkat, adanya ekspresi wujud arsitektur masa lampau pada kantor DPRD Langkat.

Kata Kunci : Regionalisme Arsitektur, Melayu, Kantor

ABSTRACT

Currently in North Sumatra many buildings that implement architectural regionalism. Application of architectural regionalism often found in office buildings in order to redisplay the hallmark of the local architecture. One is the Langkat Parliament's office. Studies of regionalism architecture wither on Langkat Parliament's office to determine the factors that influence Langkat Parliament's office as malay architecture regionalism. The method used in this study is a qualitative descriptive-interpretative approach is illustrated by looking directly Langkat Parliament's office. Results of the analysis states that the Parliament's office langkat influenced by three Malay architecture, namely, Malay Langkat, Deli Malay and Malay Serdang. Factors that affect Langkat Parliament's office as regionalism, namely Malay architecture, the architecture of the past patches on langkat Parliament Office, the merging of architectural elements of the past on Parliament's office langkat, the architecture of the past form that transform into langkat Parliament's office, their form of expression architectural past the Langkat Parliament's office.

Key Word :Regionalism Arcitecture, Malay, Office

(9)

iv DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

ABSTRAK ... iii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1.Latar Belakang ... 1

1.2.Perumusan Masalah ... 2

1.3.Tujuan Penelitian ... 2

1.4.Manfaat Penelitian ... 3

1.5.Kerangka Berfikir ... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 5

2.1. Regionalisme... 5

2.2. Regionalisme Dalam Arsitektur ... 6

2.3. Jenis Regionalisme Dalam Arsitekur ... 7

2.4. Taksonomi Regionalisme Arsitektur ... 10

2.5. Penerapan Regionalisme Dalam Desain Arsitktur ... 11

2.6. Arsitektur Melayu di Sumatera Utara ... 16

2.7. Karakteristik Arsitektur Melayu Sumatera Utara ... 16

(10)

v

2.8. Arsitektur Melayu Langkat ... 17

2.9. Arsitektur Melayu Deli ... 30

2.10. Arsitektur Melayu Serdang ... 44

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 61

3.1. Jenis Penelitian ... 61

3.2. Variabel Penelitian ... 61

3.3. Metode Pengumpulan Data ... 62

3.4. Kawasan Penelitian ... 63

3.5. Metode Analisa Data ... 65

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 66

4.1. Sejarah Kawasan Penelitian ... 66

4.2. Gambaran Umum Kawasan Penelitian ... 67

4.3. Regionalisme Arsitektur Pada Kantor DPRD Langkat ... 73

4.3.1. Jenis Penerapan Regionalisme Pada Kantir DPRD Langkat ... 73

4.3.2. Taksonomi Regionalisme Pada Kantor DPRD Langkat ... 74

4.4. Elemen Arsitektur Pada Kantor DPRD Langkat ... 76

4.5. Bentuk Kantor DPRD Langkat ... 90

4.6. Komposisi Arsitektur Kantor DPRD Langkat ... 91

BAB V KESIMPULAN ... 96

DAFTAR PUSTAKA ... 98

(11)

vi DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Elemen Arsitektur Melayu Langkat, Deli, dan Serdang ... 53

Tabel 3.1. Variabel Penelitian... 61

Tabel 3.2. Metode Pengumpulan Data ... 62

tabel 4.1. Warna Pada Istana Melayu Langkat, Melayu Deli, dan

Melayu Serdang ... 94

(12)

vii DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Alung ... 7

Gambar 2.2. Sketsa bangunan hotel Lombok Intan Laguna ... 8

Gambar 2.3. Kyoto Confrence Hall ... 9

Gambar 2.4. Chigi ... 9

Gambar 2.5. Bentuk trapezoidal ... 10

Gambar 2.6. Contoh bangunan tempelan elemen AML pada AMK ... 12

Gambar 2.7. Rancangan Awal Mesjid Ganting, Padang ... 13

Gambar 2.8. Mesjid Ganting, Padang (2015) ... 13

Gambar 2.9. Rumah Tradisional Padang (AML) ... 13

Gambar 2.10. Bank Nagara, Padang (AMK) ... 14

Gambar 2.11. Rumah Padang (AML) ... 14

Gambar 2.12. Bank Indonesia Padang (AML) ... 15

Gambar 2.13. Peta Negeri-negeri di Sumatera Timur (1863) ... 16

Gambar 2.14. Arsitektur Melayu ... 17

Gambar 2.15. Istana Darul Aman ... 18

Gambar 2.16. Mesjid Azizi, Tanjung Pura ... 18

Gambar 2.17. Kantor Kerapatan Langkat pada tahun 1933 ... 19

Gambar 2.18. Museum Kabupaten Langkat tahun 2014 ... 19

Gambar 2.19. Istana Darul Aman terkena Banjir pada tahun 1921 ... 20

Gambar 2.20. Istana Darussalam, Tanjung Pura ... 20

Gambar 2.21. Papan Tebukan Istana Darussalam, Tanjung Pura ... 21

(13)

viii

Gambar 2.22. Replika Istana Langkat, Stabat ... 21

Gambar 2.23. Denah Replika Istana Langkat ... 21

Gambar 2.24. Atap Arsitektur Melayu Langkat ... 22

Gambar 2.25. Teban layar Melayu Langkat ... 22

Gambar 2.26. Plafond Arsitektur Melayu Langkat ... 23

Gambar 2.27. Detail ornament Bunga Pecah Lima ... 23

Gambar 2.28. Lebah Bergantung pada Atap ... 23

Gambar 2.29. Detail Lebah Bergantung ... 24

Gambar 2.30. Kolom Arsitektur Melayu Langkat ... 24

Gambar 2.31. Ornamen Pucuk Rebung pada Kolom ... 25

Gambar 2.32. Pintu arsitektur Melayu Langkat ... 25

Gambar 2.33. Detail Ornamen Sebuk Layar ... 26

Gambar 2.34. Jendela Arsitektur Melayu Langkat ... 26

Gambar 2.35. Detail Ornamen Bunga Hutan ... 26

Gambar 2.36. Lantai Arsitektur Melayu Langkat ... 27

Gambar 2.37. Ornamen Pucuk Rebung didinding ... 27

Gambar 2.38. Ornamen Pokok Kolom didinding ... 28

Gambar 2.39. Tangga Utama ... 28

Gambar 2.40. Tangga Samping ... 29

Gambar 2.41. Papan Tebukan ... 29

Gambar 2.42. Detail Kolom pada Papan Tebukan Tangga ... 29

Gambar 2.43. Panca Persada ... 30

Gambar 2.44. Labuhan, Pusat Pemerintahn Kesultanan Deli yang Pertama .. 30

(14)

ix

Gambar 2.45. Mesjid Al-Osmani tahun 1854 ... 31

Gambar 2.46. Istana Kota Batu, Labuhan Deli 1870 ... 31

Gambar 2.47. Istana Maimun 1925 ... 32

Gambar 2.48. Kantor Pusat Deli di Medan ... 32

Gambar 2.49. Kantor Kerapatan Deli di Medan ... 33

Gambar 2.50. Derikhan Park (Taman Sri Deli) 1905 ... 33

Gambar 2.51. Istana Puri Kota Maksum ... 34

Gambar 2.52. Istana Tengku Besar Deli ... 34

Gambar 2.53. Istana Maimun 2014 ... 35

Gambar 2.54. Denah Istana Maimun 2014 ... 35

Gambar 2.55. Atap Kuba Istana Deli ... 35

Gambar 2.56. Atap Kuba dan Atap Lima ... 36

Gambar 2.57. Lebah Bergantung ... 36

Gambar 2.58. Lebah Bergantung ... 36

Gambar 2.59. Lebah Bergantung ... 37

Gambar 2.60. Plafond pada Tangga Utama ... 37

Gambar 2.61. Plafond pada Ruang Utama ... 38

Gambar 2.62. Kolom Melayu Deli dipengaruhi Arsitektur Belanda ... 38

Gambar 2.63. Kolom Melayu Deli ... 39

Gambar 2.64. Pintu Samping Istana Deli ... 39

Gambar 2.65. Pintu Dapur Bersih ... 40

Gambar 2.66. Jendela Tingakp Pada Kamar Putri ... 40

Gambar 2.67. Jendela Kwari Pada Kamar Sultan ... 41

(15)

x

Gambar 2.68. Dinding Papan Istana Deli ... 41

Gambar 2.69. Ornamen Dinding Papan Istana Deli ... 41

Gambar 2.70. Lantai Istana Deli ... 42

Gambar 2.71. Tangga Utama Istana Deli ... 42

Gambar 2.72. Papan Tebukan Pada Tangga Istana Deli ... 43

Gambar 2.73. Papan Tebukan Pada Serambi Istana Deli ... 43

Gambar 2.74. Papan Tebuakan Pada Tangga Istana Deli ... 43

Gambar 2.75. Istana Bogok Sultan Serdang, Rantau Panjang, pantai Labu, Deli Serdang 1728-1896 ... 44

Gambar 2.76. Istana Darul Arif, Kota galuh, Perbaungan (1896-194) ... 44

Gambar 2.77. Gerbang Istan Darul Arif, Kota Galuh, Perbaungan ... 45

Gambar 2.78. Mesjid Raya Sulaimaniyah ... 45

Gambar 2.79. Replika Istana Serdang ... 46

Gambar 2.80. Prespektif Istana Serdang ... 46

Gambar 2.81. Denah Replika Istana Serdang ... 46

Gambar 2.82. Atap Lima Istana Serdang ... 47

Gambar 2.83. Lebah Bergantung ... 47

Gambar 2.84. Tiang Istana Serdang ... 48

Gambar 2.85. Tiang Beton Istana Serdang ... 48

Gambar 2.86. Pintu Istana Serdang ... 49

Gambar 2.87. Jendela Istana Serdang ... 49

Gambar 2.88. Ornamen Pada Dinding ... 50

Gambar 2.89. Lantai Istana Serdang ... 50

(16)

xi

Gambar 2.90. Tangga Utama Berorientasi Pada Samping Jalan ... 50

Gambar 2.91. Tangga Berorientasi Pada Depan Jalan ... 51

Gambar 2.92. Papan Tebukan Tangga ... 51

Gambar 2.93. Maligai ... 52

Gambar 3.1. Peta Kabupaten Langkat ... 64

Gambar 3.2. Skematik Jarak Kawasan Penelitian ... 64

Gambar 4.1. Peta Kabupaten Langkat ... 67

Gambar 4.2 Peta Stabat ... 68

Gambar 4.3 Peta Kawasan Eksisting kantor DPRD Langkat ... 69

Gambar 4.4. Master Plan Kantor DPRD Langkat ... 70

Gambar 4.5. Denah kantor DPRD Langkat ... 71

Gambar 4.6. Tampak Depan Kantor DPRD Langkat ... 72

Gambar 4.7. Kantor DPRD Langkat ... 72

Gambar 4.8. Persfektif Kantor DPRD Langkat ... 72

Gambar 4.9. Elemen Atap Kantor DPRD Langkat ... 73

Gambar 4.10. Elemen Pada Kantor DPRD Langkat ... 74

Gambar 4.11. Bentuk denah kantor DPRD Langkat (kiri), bangunan melayu Deli ( kanan)... 75

Gambar 4.12. Elemen yang paling menonjol pada kantor DPRD Langkat .... 75

Gambar 4.13. Bentuk Atap Kantor DPRD Langkat ... 77

Gambar 4.14. Teban Layar Kantor DPRD Langkat ... 78

Gambar 4.15. Motif Teban Layar Kantor DPRD Langkat ... 78

Gambar 4.16. Bentuk pucuk rebung lebah bergantung kantor DPRD Langkat

(17)

xii

... 79

Gambar 4.17. Plafond Pada Kantor DPRD Langkat ... 80

Gambar 4.18. Denah Tiang Pada Tangga Utama Kantor DPRD Langkat .... 81

Gambar 4.19. Tiang pada Kantor DPRD Langkat (kiri), Tiang Pada Istana Deli (kanan) ... 81

Gambar 4.20. Ornamen Pucuk Rebung Kantor DPRD Langkat (kiri), Istana Langkat (kanan) ... 82

Gambar 4.21. Ornamen Kuntum Tak Jadi Pada Tiang ... 82

Gambar 4.22. Tiang PadaCourt YardKantor DPRD Langkat ... 83

Gambar 4.23. Ornamen Pada Dinding Kantor DPRD Langkat ... 84

Gambar 4.24. Pintu Pada Kantor DPRD Langkat ... 85

Gambar 4.25. Jendela Pada Kantor DPRD Langkat ... 85

Gambar 4.26. Lantai Parkit Pada Hall Kantor DPRD Langkat ... 86

Gambar 4.27. Lantai Keramik Pada Tangg Kantor DPRD Langkat ... 86

Gambar 4.28. Lantai Keramik Pada Ruang Fraksi dan kepegawaian ... 87

Gambar 4.29. Orientasi Tangga Kantor DPRD Langkat ... 88

Gambar 4.30. Tangga Utama Kantor DPRD Langkat ... 88

Gambar 4.31. Tangga Belakang Kantor DPRD Langkat ... 89

Gambar 4.32. Papan Tebukan Utama (kiri), bBelakang (kanan) ... 89

Gambar 4.33. Denah Kantor DPRD Langkat ... 90

Gambar 4.34. Denah Zona Kantor DPRD Langkat ... 90

Gambar 4.35. Denah Istana Melayu Deli ... 91

Gambar 4.36. Denah Simetris Istana Kantor DPRD Langkat (kiri), Istana

(18)

xiii

Deli (kanan) ... 92

Gambar 4.37. Kesenadaan Atau Irama Pada Tampak Kantor DPRD

Langkat (atas), Istana Melayu Deli (bawah) ... 92

Gambar 4.38. Warna Pada Arsitektur Melayu ... 93

Gambar 4.39. Warna Pada Kantor DPRD Langkat ... 94

(19)

iii ABSTRAK

Saat ini di Sumatera Utara banyak bangunan yang menerapkan regionalisme arsitektur. Penerapan regionalisme arsitekur banyak dijumpai pada gedung perkantoran guna menampilkan kembali ciri khas arsitektur lokalnya. Salah satunya adalah kantor DPRD Langkat. Studi terhadap regionalisme arsitektur melayu pada kantor DPRD Langkat untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kantor DPRD Langkat sebagai regionalisme arsitektur melayu. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan ilustrasi deskriptif-interpretatif yaitu dengan melihat secara langsung kantor DPRD Langkat. Hasil analisa menyatakan bahwa kantor DPRD Langkat di pengaruhi oleh tiga arsitektur melayu yaitu, melayu Langkat, melayu Deli, dan melayu Serdang. Faktor-faktor yang mempengaruhi kantor DPRD Langkat sebagai regionalisme arsitektur melayu yaitu, adanya tempelan arsitektur masa lampau pada Kantor DPRD Langkat, menyatunya elemen arsitektur masa lampau pada kantor DPRD Langkat, adanya wujud arsitektur masa lampau yang mentrasformasi ke dalam kantor DPRD Langkat, adanya ekspresi wujud arsitektur masa lampau pada kantor DPRD Langkat.

Kata Kunci : Regionalisme Arsitektur, Melayu, Kantor

ABSTRACT

Currently in North Sumatra many buildings that implement architectural regionalism. Application of architectural regionalism often found in office buildings in order to redisplay the hallmark of the local architecture. One is the Langkat Parliament's office. Studies of regionalism architecture wither on Langkat Parliament's office to determine the factors that influence Langkat Parliament's office as malay architecture regionalism. The method used in this study is a qualitative descriptive-interpretative approach is illustrated by looking directly Langkat Parliament's office. Results of the analysis states that the Parliament's office langkat influenced by three Malay architecture, namely, Malay Langkat, Deli Malay and Malay Serdang. Factors that affect Langkat Parliament's office as regionalism, namely Malay architecture, the architecture of the past patches on langkat Parliament Office, the merging of architectural elements of the past on Parliament's office langkat, the architecture of the past form that transform into langkat Parliament's office, their form of expression architectural past the Langkat Parliament's office.

Key Word :Regionalism Arcitecture, Malay, Office

(20)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Sejarah perkembangan arsitektur Indonesia erat kaitannya dengan sejarah

bangsa Indonesia. Perkembangan ini dibagi atas tiga periode besar sejarah budaya

di Indonesia yaitu, periode Hindu-budha, periode Islamisasi dan periode Modern.

Dalam hubunganya dengan perkembangan arsitektur Indonesia periode ini dapat

diurutkan sebagai berikut, arsitektur klasik atau candi, arsitektur peradaban atau

kebudayaan islam, arsitektur kolonial, dan arsitektur modern (Musridin, 2014).

Dalam periode arsitektur modern munculah regionalisme sebagai upaya

melahirkan kembali arsitektur lokal ke dalam arsitektur masa kini (Frampton,

1982).

Sumatera Utara salah satu provinsi multietnis. Salah satunya suku Melayu

sebagai penduduk asli. Penyebaran suku Melayu berada di pesisir Timur, terutama

di Kabupaten Deli Serdang, Serdang Bedagai, dan Langkat (BPS kabupaten/kota

Sumatera Utara, 2011). Saat ini di Sumatera Utara banyak dijumpai bangunan

yang memadukan desain modern dan tradisional. Guna menampilkan kembali

identitas atau simbolik (Buchanan, 1983). Kebanyakan bangunan yang dibangun

ingin menunjukkan ciri arsitektur kedaerahannya terutama pada bangunan

pemerintahan, salah satunya kabupaten Langkat.

Langkat merupakan kabupaten yang memiliki beberapa bangunan

regionalisme. Sesuai persyaratan pemerintah daerah Langkat arsitektur bangunan

(21)

2

meliputi tata ruang dalam, keseimbangan, keserasian, dan keselarasan. Bangunan

dengan lingkungannya serta mempertimbangkan adanya keseimbangan antara

nilai-nilai tradisional sosial budaya setempat terhadap penerapan berbagai

perkembangan arsitektur dan rekayasa (PU, Langkat). Salah satu bangunan

regionalisme di kabupaten Langkat adalah Kantor DPRD Langkat yang

menerapkan regionalisme arsitektur melayu.

Penerapan regionalisme arsitektur melayu terlihat pada elemen-elemen

arsitektur melayu pada bangunan tersebut. Penggunaan elemen-elemen melayu

pada kantor DPRD Langkat untuk menampilkan kembali ciri khas melayu

Langkat.

Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan di atas, penelitian ini

menarik untuk diteliti dengan mengkaji bagaimana kantor DPRD menerapkan

regionalisme arsitektur melayu yang berada di kabupaten Langkat yang memiliki

ciri khas arsitektur lokal tersendiri..

1.2.Perumusan Masalah

1. Bagaimanakah kantor DPRD Langkat menerapkan regionalisme arsitektur

melayu ?

2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kantor DPRD Langkat sebagai

bangunan regionalisme arsitektur melayu ?

1.3.Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang akan dicapai pada penelitian ini adalah :

(22)

3

1. Mengidentifikasi Regionalisme arsitektur melayu pada kantor DPRD Langkat.

2. Mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi kantor DPRD Langkat

sebagai regionalisme arsitektur melayu.

1.4.Manfaat Penelitian

1. Bagi akademis, penelitian ini untuk pengembangan ilmu pengetahuan tentang

penerapan regionalisme dalam arsitektur pada bangunan.

2. Bagi praktis, memberikan informasi berupa regionalisme arsitektur sehingga

diharapkan kepada pemerintah kota dalam perancangan bangunan gedung

pemerintahan agar diterapkan regionalisme sebagai upaya menampilkan

kembali arsitektur lokalnya.

(23)

4 1.5.Kerangka Berfikir

LATAR BELAKANG

•Regionalisme dalam arsitektur muncul pada periode arsitektur modern sebagai upaya menampilkan kembali arsitektur lokal ke dalam arsitektur masa kini (Frampton, 1982).

•Salah satu bangunan regionalisme arsitektur pada sumatera utara adalah kantor DPRD Langkat yang menerapka regionalisme arsitektur melayu.

•Penerapan regionalisme tersebut merupakan upaya untuk menampilkan kembali ciri khas arsitektur melayu Langkat

RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana kantor DPRD Langkat menerapkan regionalisme arsitektur melayu ? 2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kantor DPRD Langkat sebagai bangunan

regionaisme arsitektur melayu ?

TUJUAN PENELITIAN

1. Mengidentifikasi regionalisme arsitektur melayu pada kantor DPRD Langkat.

2. Mendeskripsikan faktor-faktor Yang mempengaruhi kantor DPRD Langkat sebagai

regionalisme arsitektur melayu.

MANFAAT PENELITIAN

1. Bagi akademis, penelitian ini untuk pengembangan ilmu pengetahuan tentang penerapan regionalisme dalam arsitektur pada bangunan.

2. Bagi praktis, memberikan informasi berupa regionalisme arsitektur sebagai upaya menampilkan kembali arsitektur lokalnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Menjelaskan regionalisme arsitektur melayu pada kantor DPRD Langkat.

2. Mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi kantor DPRD Langkat sebagai regionalisme arsitektur melayu.

(24)

5 BAB II

TINJAUAN PUSAKA

2.1. Regionalisme

Regionalisme muncul di era sebelum perang dingin sekitar tahun 1947.

Sejarah munculnya regionalisme adanya kesadaran regional dan keinginan

negara-negara untuk melakukan sesuatu yang terbaik di lingkungan regional

mereka. Munculnya regionalisme dapat dilihat dari dua tolak ukur. Pertama,

dengan adanya kesadaran regional, identitas bersama, serta adanya rasa saling

memiliki di antara negara yang secara geografis berdekatan yang menjadikan

negara-negara untuk melakukan kerjasama regional. Kedua, terwujudnya

kerjasama yang berujung pada pembentukan institusi regional sebagai wujud dari

kerjasama regional (Fawcett dan Hurrel, 2002).

Awalnya regionalisme dilakukan untuk alasan ekonomi sebagai rancangan

dan implementasi serangkaian kebijakan khusus antar pemerintah negara-negara

di dalam sebuah kawasan. Tujuannya untuk meningkatkan pertukaran barang

maupun faktor produksi antar negara anggota, namun pada akhirnya politik juga

ikut berbicara. Dalam beberapa kasus integrasi ekonomi regional juga dipicu

karena untuk peningkatan keamanan (Ravenhill, 2007).

Menurut Fawcett dan Hurrel (2002) regionalisme merupakan suatu

kebijakan negara dalam bentuk kerjasama negara untuk tujuan

mengkoordinasikan strategi demi mencapai kepentingan suatu kawasan.

Regionalisme bertujuan untuk mempromosikan dan mengupayakan tujuan-tujuan

bersama dalam satu isu atau lebih.

(25)

6

Latar belakang regionalisme lebih bersifat politis, karena pasca perang

dunia ke-2, negara-negara di dunia memandang security sebagai salah satu yang

sangat penting. Collective security menjamin kemanan mereka. Pada era perang dingin, regionalisme terbentuk akibat adanya dua blok yang saling berseteru yaitu

blok barat dan blok timur.

Pada era sesudah perang dingin, muncullah new regionalism atau suatu bentuk regionalisme baru. Fenomena ini disebabkan oleh beberapa empat faktor

yaitu, berakhirnya perang dingin yang juga mengakhiri blok-blok pada era

tersebut, perubahan yang terjadi dalam aspek perekonomian dunia, berakhirnya

paham tentang istilah‘Dunia Ketiga’,demokraisi (Fawcett dan Hurrel, 2002).

2.2. Regionalisme Dalam Arsitektur

Menurut Jenks (1977) regionalisme diperkirakan berkembang sekitar

tahun 1960. Timbulnya usaha untuk memperkuat antara arsitektur tradisional dan

arsitektur yang baru diakibatkan munculnya gaya arsitektur modern yang biasa

disebut international style yang berusaha meninggalkan masa lampaunya dan meninggalkan ciri serta sifat-sifatnya. Salah satu aliran tersebut adalah

regionalisme (Dharma, 2006).

Regionalisme merupakan suatu kesadaran untuk membuka kekhasan

tradisi dalam merespon terhadap tempat dan iklim, kemudian melahirkan kembali

identitas formal dan simbolik ke dalam bentuk kretaif yang baru (Beng, 1994).

Curtis (1985) mengatakan bahwa regionalisme diharapkan dapat

menghasilkan bangunan yang bersifat abadi, menyatu antara yang lama dan yang

(26)

7

Gambar 2.1. Alung

Sumber : Abarchitecs.blogspot.com

(27)

8

Gambar 2.2. Sketsa bangunan hotel Lombok Intan Laguna

Sumber : Abarchitecs.blogspot.com

(28)

9

Gambar 2.3. Kyoto Confrence Hall

Sumber : Abarchitecs.blogspot.com

Gambar 2.4. Chigi

Sumber : Abarchitecs.blogspot.com

(29)

10

2.4. Taksonomi Regional

Regionalisme

bagian, yaitu :

1. Pola Derivatif

Meniru atau m

fungsi bangunan bar

kecendrungan

• Tipologis, men

membangun sa

• Interpretif atau

membangunny

• Konservasi, m

menyesuaikann

10

suai dengan tuntutan bentuk auditorium, bagian

ak orang dituntuk ruang lebih besar, sedangka

k sejajar baik bagi akustik.

ra struktural dengan adanya bentuk tersbut,

susunan letak lantai, melebar ke bawah atau menyem

onalisme Arsitektur

e menurut Budiharjo (1997) dikelompokka

u memelihara bentuk arsitektur tradisi atau ve

baru atau modern. Dalam hal ini kita dapt

engelompokkan bangunan vernakular, kemudi

un salah satu tipe yang dianggap baik untuk kepe

tau interpretasi, menafsirkan bangunan verna

unnya untuk kepentingan baru.

, mempertahankan bangunan lama yang masih

kannya dengan kepentingan baru.

Gambar 2.5. Bentuk trapezoidal

Sumber : En.wikipedia.org

10

ian bawah dimana

gkan dinding yang

sbut, dapat mengatur

yempit ke atas.

pokkan menjadi 2

u vernakular, untuk

dapt melihat tiga

udian memilih dan

pentingan baru.

nakular kemudian

sih ada, kemudian

(30)

11

2. Pola transformatif

Gagasan arsitektur regional yang bersifat transformatif, tidak lagi

sekedar meniru bangunan lama. Tetapi berusaha mencari bentuk-bentuk baru,

dengan titik tolak ekspresi bangunan lama baik yang visual maupun abstrak.

Gagasan arsitekur yang bersifat visual dapat dilihat dari usaha

pengambilan elemen-elemen bangunan lama yang yang dianggap baik, menonjol

atau ekspresif untuk di ungkapkan kepada bangunan baru. Pemilihan elemen yang

dianggap baik ini disebut eklektik. Kemudian pastiche, atau mencampur-baurkan

beberapa elemen bangunan baik modern maupun tradisional, beberapa diantara

desain bangunan seperti ini juga dapat menimbulkan kesan ketidakserasian.

Sedangkan reinterpretatif, adalah menafsirkan kembali bangunan lokal itu dalam

versi baru.

2.5. Penerapan Regionalisme dalam Desain Arsitektur

Menurut Wondoamiseno (1991) penerapan regionalisme dalam desain

arsitektur sebagai berikut, yaitu pengkaitan Arsitektur Masa Lampau (AML) dan

Arsitektur Masa Kini (AMK) menjadi satu kesatuan adalah :

a. Tempelan elemen AML pada AMK

Satu bangunan yang di rancang sebagai bangunan modern kemudian diberi

elemen budaya lokalnya disebut tempelan elemen AML pada AMK.

Contohnya kantor Gubernur Padang, Sumatera Barat. Kantor Gubernur

dibangun tahun 1968 dengan desain arsitektur modern, kemudian beberapa

tahun kemudian ditempel atap gonjong untuk menampilkan kembali ciri

khas kedaerahan.

(31)

12

Rancangan awal kantor Gubernur Padang (bangunan modern), 1968

Gambar 2.6. Contoh bangunan tempelan elemen AML pada AMK

Sumber : Couto (2008)

Atap gonjong tradisional Padang

Kantor Gubernur Padang dengan tambahan atap gonjong Menempelkan

Kantor Gubernur Padang , 2015

(32)

13

c. Wujud AML m

Suatu bangun

AMK. Contohn

tampak samping Gamba

Gam

Gam

13

ML mendominasi AMK

unan mencoba mentransformasikan bentuk-be

ontohnya Bank Nagara Padang mentransformasika

ping bentuk badan rumah tradisonal Padang. bar 2.7. Rancangan awal Mesjid Ganting, Pada

Sumber : Couto (2008)

Atap Limas ciri khas mesjid lama kota Padang

Penambahan 2 menara ciri khas mesjid lama kota Padang

ambar 2.8. Mesjid Ganting, Padang (2015)

Sumber : Couto (2008)

ambar 2.9. Rumah tradisional Padang (AML)

Sumber : Couto (2008)

13

-bentuk AML ke

sikam kemiringan adang

)

(33)

14

Gambar 2.10. Bank Nagara, Padang (AMK)

Sumber : Couto (2008)

Gambar 2.11. Rumah Padang (AML)

Sumber : Couto (2008)

(34)

15

Gambar 2.12. Bank Indonesia Padang (AMK)

Sumber : Couto (2008)

(35)

16 2.6. Arsitektur Melayu

Suku bangsa

penyebaran suku mela

Utara yaitu Langkat,

Kota Pinang. Pada a

yang berada di pesisi

kesultanan Aru, kesul

2.7. Karakteristik Ar

Karakterist

tiang-tiang tinggi seki Gambar 2.13.

16 elayu di Sumatera Utara

sa Melayu di Sumatera utara berasal dari M

elayu di Sumatera Timur yang sekarang dinam

kat, Deli, Serdang, Lima Puluh, Asahan, Kuala

awalnya Sumatera Timur memiliki kesultana

sisir. Kemudian muncullah kesultanan Deli da

sultanan Serdang, kesultanan Langkat, dan kesul

Arsitektur Melayu di Sumatera Utara

ristik arsitektur melayu adalah rumah panggun

sekitar 2 - 2,5M. Hal ini sesuai dengan iklim 2.13. Peta negeri-negri di Sumatera Timur (1863)

Sumber : Basarshah II (2003)

16

i Malaka. Terjadi

namakan Sumatera

ualah, Bilah, Panai,

sultanan Aru (Haru)

li dari cikal bakal

sultanan Asahan.

ung, dan memiliki

klim setempat serta 1863)

(36)

17

kebiasaan yang suda

pengaruh syariat Isl

pemisahan ruang lela

rumah melayu domina

suluran dan menghinda

2.8. Arsitektur Melayu

Leluhur kesult

si pintar ukum. Masa

Syahdan turun ke Del

Tahun 1884

Sultan Musa akibat m

Istana di Darul Aman (

17

sudah turun-temurun (Mudra, 2004). Menurut

Islam yang mempengaruhi pada arsitektur

lelaki dengan ruang perempuan. Ukiran-ukira

inan menggunakan motif bentuk bunga, daun,

hindari motif manusia maupun hewan (Husny, 1976

elayu Langkat

sultanan Langkat adalah Dewa Syahdan denga

sa kekuasannya tahun 1500 -1580. Tidak lama ke

eli tua, kemudian pindah ke Guri atau Buluh C

1884 Kesultanan Langkat mengalami kemakmur

t melakukan kontra dengan Belanda. Sultan Musa

an (Gambar 2.15).

Gambar 2.14. Arsitektur Melayu

Sumber : Omtatok (2012)

17

nurut Sinar (1993)

ur melayu berupa

ukiran pada elemen

daun, buah,

sulur-, 1976).

gan gelar Sibayak

a kemudian Dewa

uh Cina.

uran pada masa

n Musa mendirikan

(37)

18

Gambar 2.15. Istana Darul Aman

Sumber : Tembakaudeli.blogspot.com

Gambar 2.16. Mesjid Azizi, Tanjung Pura

Sumber : Tembakaudeli.blogspot.com

(38)

19

Pada tanggal

bergelar Sultan Mahm

Aman. Sultan Mahm

membangun balai K

Kerapatan menjadi use

Gambar 2.

Gambar

19

al 24 Oktober 1927 Sultan Aziz digantikan

Mahmud AbdulAziz Abdul Jalil Rahmadsyah

Mahmud melanjutkan pemerintahan Sultan

Kerapatan Langkat (Gambar 2.17), dan se

useum Kabupaten Langkat (Gambar 2.18).

r 2.17. Kantor Kerapatan Langkat pada tahun 1933

Sumber : Tembakaudeli.blogspot.com

bar 2.18. Museum Kabupaten Langkat tahun 2014

Sumber : Kualikata (2014)

19

kan oleh anaknya

h di Istana Darul

an Aziz dengan

n sekarang kantor

un 1933

2014

(39)

20

Akibat sering

membangun Istana ba

Istana Darussa

sudah dipengaruhi ol

dapat dilihat pada pap Gambar 2.19. Ist

Sum

Gamba

Sum

20

g terkena banjir Sultan Mahmud pindah ke Ta

baru yaitu istana Darussalam di Tanjung Pura.

ussalam di bangun oleh arsitek Belanda. Gaya a

oleh arsitektur Kolonial Belanda. Pengaruh

papan tebukan Istana.

19. Istana Darul Aman terkena Banjir pada tahun 1921

Sumber : Tembakaudeli.blogspot.com

bar 2.20. Istana Darussalam, Tanjung Pura

Sumber : Tembakaudeli.blogspot.com

20

Tanjung Pura dan

a.

a arsitektur Istana

ruh gaya tersebut hun 1921

(40)

21

Akibat revol

dan di bangunlah repl

istana langkat ini diba

Gam

Sum

Gambar 2.21. P

Sum

Gam

21

revolusi bangunan Istana Darussalam di hancur

replika istana Langkat yang letaknya di kota

dibangun tahun 2001. (Juhdi, 2015)

ambar 2.22. Replika istana Langkat, Stabat

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

21. Papan tebukan Istana Darussalam, Tanjung P

Sumber : Tembakaudeli.blogspot.com

ambar 2.23. Denah replika Istana Langkat

Sumber : diolah dari

21

ncurkan oleh rakyat

kota Stabat. Replika Pura

(41)

22

Bangunan me

bertingkat dan mengg

terdapat teban layar

pada bangunan melay

layar tersebut sudah di

Bentuk plafond

disebut daun sayap y

Ornamen pada daun s

Gambar 2.24. A

Sumbe

Gamba

Sum

22

melayu Langkat menggunakan bentuk atap

nggunakan bahan atap genteng (Gambar 2.24

ar yang berfungsi sebagai ventilasi atap. Bent

elayu Langkat berbentuk bulat dan terbuat da

h dipengaruhi oleh arsitektur Belanda (Gambar 2.25

fond melengkung seperti bentuk kuba. Ujung

p yang harus ditutupi dengan ornamen agar

un sayap ialah bunga pecah lima (gambar 2.27). bar 2.24. Atap arsitektur melayu Langkat

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

bar 2.25. Teban layar melayu Langkat

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

22

p bubungan lima

2.24). Pada atap

entuk teban layar

dari beton, teban

bar 2.25).

ung-ujung plafond

ar tidak kelihatan.

).

(42)

23

Terdapat lebah

lisplang. Lebah berg

memiliki makna sebaga Gambar 2.26. P

Sum

Gambar Sum

Gamba

Sum

23

bah bergantung pada atap. Lebah bergantung

ergantung terbuat dari kayu yang diukir. Le

bagai kehidupan makmur.

bar 2.26. Plafond arsitektur melayu Langkat

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

bar 2.27. Detail ornemen bunga pecah lima Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

mbar 2.28. Lebah begantung pada atap

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

23

g diletakkan pada

Lebah bergantung

(43)

24

Kolom pada

ornamen pucuk rebun

batangnya kuat namun

melayu Langkat rama

Gamba

Sum

Ga

Sum

24

da arsitektur melayu Langkat berbentuk bul

ebung. Pucuk rebung menggambarkan pohon

un ranting dan daunnya merunduk yang bera

mah tamah ketika menyambut tamu.

bar 2.30. Kolom arsitektur Melayu Langkat

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

Gambar 2.29. Detail lebah begantung

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

24

bulat dan diberi

pohon bambu yang

rarti bahwa orang

(44)

25

Pintu pada m

(gambar 2.32). Pada a

Langkat. Fungsi tebok

pintu ialah serbuk laya

Gamba

Sum

Gambar 2.31. O

Sum

25

melayu Langkat berbentuk persegi yang ter

da atas pintu dibuat tebok yang diukir dengan or

bok sebagai ventilasi. Ornamen tebok yang di

ayar (gambar 2.33).

mbar 2.32. Pintu arsitektur melayu Langkat

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

r 2.31. Ornamen pucuk rebung pada kolom

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

25

terbuat dari kayu

n ornamen melayu

g digunakan pada

(45)

26

Jenis jendela

seperti bentuk pintu.

jendela dibuat tebok

jendela ialah bunga hut Gam

Sum

Gambar

Sum

Gam

Sum

26

la pada melayu Langkat ialah kuari. Bentuk

u. Bahan jendela terbuat dari kayu. Sama sepe

bok yang berfungsi sebagai ventilasi. Ornam

hutan (gambar 2.35).

ambar 2.33. Detail ornamen sebuk layar

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

bar 2.34. Jendela arsitektur melayu Langkat

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

ambar 2.35. Detail ornemen bunga hutan

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

26

ntuk jendela sama

eperti pintu, diatas

namen tebok pada

(46)

27

Lantai pada r

ornamen yang mirip de

Dinding pada banguna

Ornamen yang terda

rebung dan pokok kol Gam

Gam

27

da replika istana Langkat ialah keramik. Pada

p dengan bintang-bintang (gambar 2.36).

unan melayu Langkat biasanya di beri ornam

dapat pada dinding bangunan Istana Langka

n pokok kolan.

ambar 2.36. Lantai arsitektur melayu Langkat

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

ambar 2.37. Ornamen pucuk rebung didinding

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

27

ada lantai diberi

namen atau hiasan.

kat adalah pucuk at

ng

(47)

28

Terdapat 4 bua

berlawanan, tangga y

Jumlah anak tangga

tebukan atau pegangan t

Sum

Gam

28

buah tangga, tangga utama diletakkan dari ara

a yang ketiga dan keempat berorientasi lang

a pada setiap tangga 22 buah. Pada tangga

gan tangga.

Gambar 2.39. Tangga utama

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

ambar 2.38. Ornamen pokok kolan di dinding

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

28

arah orintasi yang

angsung ke jalan.

gga terdapat papan ng

(48)

29

Gamba

Sum

29

bar 2.42. Detail kolom pada papan tebukan tangg

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

Gambar 2.40. Tangga samping

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

Gambar 2.41. Papan tebukan

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

29

angga

(49)

30

Arsitektur me

panca persada (gamba

sebagai tempat menun

Sultan. Fungsi yang

menikah. Bentuk ata

Menurut sejarah kesul

Malaka.

2.9. Arsitektur Melayu

Tahun 1632 be

Pahlawan (raja Deli

Labuhan.

Gambar 2.44. Labuha

Sum

30

melayu Langkat memilki ciri khas tersendiri

mbar 2.29). Panca persada memilki 2 fungsi

enunggu untuk orang-orang ketika ingin be

ng kedua adalah sebagai tempat siraman put

atap panca persada dipengaruhi oleh gaya

kesultanan Langkat, timbulnya melayu Langka

elayu Deli

1632 berdirilah kesultanan Deli dengan Raja P

li I). Pusat pemerintahan kesultanan Deli pe

buhan, pusat pemerintahan kesultanan Deli yan

Sumber : Basarshah II (2003)

Gambar 2.43. Panca persada

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

30

ndiri yaitu memiliki

gsi, yang pertama

berjumpa dengan

putri raja setelah

a arsitektur Cina.

gkat berawal dari

Panglima Gocah

petama berada di

ang pertama

(50)

31

Pada tahun

Alam Shah yang me

mendirikan sebuah me

Pada tahun 1858

tiggal di Istana Kota

dengan pihak asing y

dengan pembukaan pe

merenovasi Mesjid Al Gam

Sum

Gambar 2.46.

Sum

31

hun 1824 kesultanan Deli dipimpin oleh Sultan

merupakan sultan Deli ke- VII. Tahun 1854

h mesjid yang bernama Mesjid Al Osmani di Labuh

hun 1858 sultan Deli yang ke-VIII, Sultan Mahmud

ota Batu di Labuhan Deli. Beliau mulai menj

g yaitu, Belanda, Belgia, Polandia, dan Inggri

n perkebunan temabakau di kerajaan Deli. Sulta

d Al Osmani.

ambar 2.45. Mesjid Al Osmani tahun 1854

Sumber : Tembakaudeli.blogspot.com

bar 2.46. Istana Kota Batu, Labuhan Deli 1870

Sumber : Tembakaudeli.blogspot.com

31

an Osman Perkasa

1854 Sultan Osman

abuhan Deli.

hmud Perkasa Alam

enjalin kerja sama

ggris yang ditandai

ultan Mahmud pun

1870

(51)

32 Sultan Ma’m

Sultan Ma’mun Deli m

Medan. Sultan Ma’m

kesultanan Deli, antar

Maimoon tahun 1888.

Pembanguna

mendirikan gedung Ma

Sum

Ga

Sum

32 ’mun Al Rasyid merupakan sultan Deli yang ke

li mengalami kemakmuran dan pusat kerajaan

’mun Al Rasyid mulai membangun sejumlah si

ntara lain Kampong Bahari (Labuhan) tahun 1886,

hun 1888.

unan simbol-simbol kebesaran Deli dilanj

Mahkamah Kerapatan Besar tahun 1903. Gambar 2.47. Istana Maimun 1925

Sumber : Tembakaudeli.blogspot.com

Gambar 2.48. Kantor pusat Deli di Medan

Sumber : Tembakaudeli.blogspot.com

32 ke-IX. Pada masa

n di pindahkan ke

h simbol kejayaan

hun 1886, Istana Agung

lanjutkan dengan

(52)

33

Tahun 1905

Sri Deli di depan Mesj

Sultan mendi

Maimoon adalah seora

Pada 12 Nove

terletak antara jl. Ama

tahun 1906 Sultan m

1905 Sultan juga membangun perumahan kelua

n Mesjid raya Al Mahsun.

ndirikan Masjid Raya Al Mansun tahun 1906.

orang tentara Kolonial Belanda bernama Kapte

ovember 1905 Sultan juga mendirikan sebuah i

maliun dan jl.puri yang diberi nama istana kota

n mendirikan istana untuk Tengku besar Deli bar 2.49. Kantor kerapatan Deli di Medan

Sumber : Tembakaudeli.blogspot.com

bar 2.50. Derikhan Park (taman sri Deli) 1905

Sumber : Tembakaudeli.blogspot.com

33

luarga dan Taman

1906. Arsitek Istana

pten Th.Van Erp.

h istana baru yang

kota maksum. Serta

eli di sekitar kota 1905

(53)

34

Gambar 2.51. Istana Puri Kota maksum

Sumber : Tembakaudeli.blogspot.com

Gambar 2.52. Istana Tengku Besar Deli

Sumber : Tembakaudeli.blogspot.com

(54)

35

Gamba

Sum

G

Sum

Gam

35

mbar 2.53. Istana Maimun tahun 2014

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

Gambar 2.55. Atap kuba Istana Deli

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

Gambar 2.54. Denah Istana Maimun 2014

Sumber : Diolah dari

(55)

36

Bangunan Ista

yang digunakan pada l Gam

Sum

G

Sum

G

Sum

36

Istana Deli memiliki tiga bentuk lebah bergant

da lebah bergantung adalah pucuk rebung. mbar 2.56. Atap Kuba dan atap Lima

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

Gambar 2.57. Lebah bergantung

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

Gambar 2.58. Lebah bergantung

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

36

gantung. Ornamen

(56)

37

Plafond pada istana

warna kuning dan disususn ve

Pada ruang ha

warna yang berciri kha

tersebut adalah ornam

Sum

Gam

Sum

37

na langkat adalah papan. Pada tangga utama

n disususn vertikal. Pada pinggir plafond diberi da

g hall atau ruang utama raja plafond di ukir orna

i khas melayu Deli. ornamen yang digunaka

namen bunga melur, kaluk pakis, dan kaluk pakis w Gambar 2.59. Lebah bergantung

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

ambar 2.60. Plafond pada tangga utama

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

37

ma plafond diberi

daun sayap.

ornamen dan diberi

kan pada plafond

kis wajik.

(57)

38

Elemen arsit

macam kolom yang t

beton terletak di depa

arsitektur Belanda.

Terdapat kol

yang terdiri dari dua

tersebut merupakan pe Gam

Sum

Sum

38

sitektur lainnya pada Istana Deli adalah kolom

g terdapat pada serambi Istana Deli. Kolom ya

depan bangunan Istana Deli, kolom ini sudh di

kolom yang terbuat dari kayu yang berbentuk

dua kolom bulat lalu di letakkan di antara kolom

n perpaduan arsitektur melayu Deli dan Kolonia ambar 2.61. Plafond pada ruang utama

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

Gambar 2.62. Kolom melayu Deli

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

38

kolom. Terdapat dua

yang terbuat dari

sudh dipengaruhi gaya

ntuk bulat. Kolom

kolom beton. Kolom

onial Belanda.

(58)

39

Pintu pada Ist

berfungsi sebagai vent

macam. Warna pada

Material pintu kayu ja

Sum

Gam

Sum

39

Istana Deli berbentuk persegi. Pada pintu terda

ventilasi pintu. Bentuk tebok pintu di Istana D

da pintu di Istana Deli yaitu warna kuning, hi

u jati.

Gambar 2.63. Kolom melayu Deli

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

ambar 2.64. Pintu samping Istana Deli

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

39

erdapat tebok yang

na Deli

bermacam-, hijaubermacam-, dan putih.

(59)

40

Jenis jendela

jenis tingkap digunaka

kamar baik raja maupun G

Sum

Gamba

Sum

40

ndela pada melayu Deli ada dua, yaitu tingkap dan

unakan pada kamar putri. Jenis kwari diguna

upun keluarga raja lainnya. Pada jendela juga te Gambar 2.65. Pintu dapur bersih

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

bar 2.66. Jendela tingkap pada kamar putri

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

40

dan kwari. Jendela

unakan pada seluh

a terdapat tebok.

(60)

41

Material dindi

Dinding diberi warna

ditempel di dinding. Gambar 2.

Gam

Sum

Gambar

Sum

41

dinding pada Istana Deli adalah papan yang di

rna kuning. pada dinding ruang utama terdapa

.

bar 2.67. Jendela kwari pada kamar keluarga sult

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

ambar 2.68. Dinding papan Istana Deli

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

bar 2.69. Ornamen Dinding papan Istana Deli

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

41

disususn vertikal.

pat ornamen yang sultan

i

(61)

42

Mater

ornamen dengan warna

Arah orienta

Belanda. material tangga

Bentuk dan ornamen p

G

42

terial lantai Istana Deli adalah marmer. Pada

arna biru,merah, hijau.

ntasi tangga utama Istana Deli sudah dipeng

angga beton dan marmer. Pada tangga terdapat

n papan tebukan di Istana Deli beragam. Gambar 2.70. Lantai Istana Deli

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

Gambar 2.71. Tangga utaman Istana Deli

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

42

Pada lantai diberi

ngaruhi arsitektur

pat papan tebukan.

(62)

43

Gambar 2.

Sum

Gambar 2.73.

Sum

Gambar 2.74.

Sum

43

r 2.72. Papan tebukan pada tangga Istana Deli

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

2.73. Papan tebukan pada serambi Istana Deli

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

2.74. Papan tebukan pada tangga Istana Deli

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

43

li

li

(63)

44 2.10. Arsitektur Mel

Pada tahun 1723, r

Tuanku Umar Johan.

Pada masa sul

Serdang mengalami ke

kota Galuh.

Gambar 2.75. Istana

Sum

Gambar 2.76. Istana

Sum

44 elayu Serdang

hun 1723, raja pertama kesultanan Serdang dipim

n.

sultan Sulaiman Syariful Alamsyah, sultan Serda

i kemakmuran. Tahun 1894 sulta Sulaiman istana stana Bogok sultan Serdang, Rantau Panjang, Pa

Deli Serdang 1728-1896

Sumber : Tembakaudeli.blogspot.com

stana Darul Arif, kota Galuh, Perbaungan

(1896-Sumber : Tembakaudeli.blogspot.com

44

pimpin oleh

rdang ke-V

stana Serdang ke , Pantai labu,

1896-1946)

(64)

45

Pada tahun 1901, sul

dikenal sebagai Mesji

Istana kesultana

2000 dibangun sebuah r Gam

Sum

Gambar 2.77. Ge

Sum

45

hun 1901, sultan Sulaiman juga mendirikan sebuah e

sjid Raya Sulaimaniyah.

tanan Serdang di hancurkan pada masa revolusi

buah replika istana Serdang di Sergai. ambar 2.78. Mesjid raya Sulaimaniyah

Sumber : Tembakaudeli.blogspot.com

2.77. Gerbang Istana Darul Arif, kota Galuh, Perbaun

Sumber : Tembakaudeli.blogspot.com

45

buah esjid yang

usi. Pada tahun ungan

(65)

46

Gam

Sum

Gamba

Sum

Gam

46

ambar 2.79. Replika Istana Serdang

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

mbar 2.80. Perspektif Istana Serdang

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

ambar 2.81. Denah replika Istana Serdang

Sumber : Diolah dari

(66)

47

Istana Serdang

denahnya. Terdapat le

Tiang pada ista

berbeda ukuran. Tiang

tiangnya terbuat dari be Gam

Sum

G

Sum

47

dang menggunakan bentuk atap Lima yang dap

t lebah bergantung pada lisplang atap.

istana Serdang berbentuk persegi. Terdapat dua

ang pada serambi terbuat dari kayu, dan pada rua

ri beton.

ambar 2.82. Atap lima Istana Serdang

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

Gambar 2.83. Lebah bergantung

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

47

dapat terlihat pada

dua tiang yang

ruang terbuka

(67)

48

Bentuk pintu I

pintu diberi ventilasi

namun terdapat perbed Ga

Sum

Gam

Sum

48

ntu Istana Serdang persegi dan pintu diberi war

asiyang berbentuk persegi. Bentuk jendela m

bedaan pada ventilasinya.

Gambar 2.84. Tiang Istana Serdang

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

ambar 2.85. Tiang beton Istana Serdang

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

48

arna hijau. Diatas

menyerupai pintu

(68)

49

Terdapat orna

keliling dinding. Lant

Sum

49

namen pada dinding Istana Serdang. Ornamen

ntai yang digunakan Istana Serdang adalah kera Gambar 2.86. Pintu Istana Serdang

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

Gambar 2.87. Jendela Istana Serdang

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

49

en tersebut dibuat

eramik biasa.

(69)

50

Tangga pada I

berorientasi pada sam Gam

Sumbe

Gam

Sumbe

Gambar 2.90. T

Sum

50

da Istana Serdang memiliki 2 arah orintasi, yait

samping jalan dan tangga kedua berorientasi pada ambar 2.88. Ornamen pada dinding

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

ambar 2.89. Lantai Istana Serdang

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

2.90. Tangga utama berorientasi pada samping j

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

50

aitu tangga utama

pada depan jalan.

ng jalan

(70)

51

Tangga terbua

papan tebukan. Papan t

Warna papan tebukan pa

bunga-bunga yang di t Gambar 2.

Sum

51

buat dari beton yang diberi lantai keramik. Pada t

an tebukan pada tangga Istana Serdang terbuat da

an pada Istana serdang adalah warna kuning. Te

di tempel-tempel pada dinding papan tebukan (g bar 2.91. Tangga berorientasi pada depan jalan

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

Gambar 2.92. Papan tebukan tangga

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

51

da tangga terdapat

at dari besi.

. Terdapat motif

n (gambar 2.92). n

(71)

52

Pada masa kerajaan, put

khusus. Tempat terse

tidur para putri raja ya

(gambar 2.93).

Tabel 2.1 akan mengg

Langkat, melayu Deli

Sum

52

n, putri-putri raja di di lindungi dan di tempatkan di

rsebut diberi nama maligai. Maligai merupakan ka

yang ditempatkan pada menara atau puncak ba

ggambarkan secara singkat elemen-elemen arsi

eli, dan melayu Serdang. Gambar 2.93. Maligai

Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)

52

kan ditempat yang

kan kamar tempat

k bangunan Istana.

rsitektur melayu

(72)

53 No.

1

53 Elemen Arsitektur

Atap

Bentuk

Teban layar

Lebah bergantung

53

Tabel 2.1. Elemen Arsitektur Melayu La

Arsitektur Melayu Langkat

Lima

Pucuk rebung

53

u Langkat, Deli, dan Serdang

Arsitektur Melayu Deli

Kombinasi kuba dan lima

Tidak ada

Pucuk rebung

53 Arsitektur Melayu Serdang

Lima

Tidak ada

Pucuk rebung

(73)

54

2.

54

Plafond plafond

54

Bentuk kuba dari papan poly

54

Papan disusun vetikal

54

Asbes

(74)

55

3.

55

Daun sayap

Tiang

D

55

Ornamen

Tiang Bulat dari beton

Detail ornamen Pucuk Rebung

Tiang

55

Tidak ada

ang bulat dari kayu dengan kombinasi beton

Tiang beton

55

Tidak ada

Tiang persegi dari kayu

Tiang persegi dari beton

(75)

56

4.

56

Pintu Bentuk

Pe

Tebok

56

Persegi dari kayu bewarna cokela

Ornamen julun kacang

56

Persegi

Persegi

Ornamen bunga melur

56

Persegi

Tidak ada

(76)

57

5.

6.

57

Jendela

Bentuk

Tebok

Lantai Jenis material

57

Persegi

Ornamen bunga hutan

Keramik

57

Persegi

Marmer

57

Persegi

Keramik

(77)

58

7.

8

58

Dinding

Material

Dindi

Ornamen

Dindi

Tangga

58

inding bata dengan Ornamen pokok koloan

inding bata dengan Ornamen pucuk rebung

Dindi

Tangga Utama

58

Dinding papan

inding papan dengan ornamen bunga

Tangga Utama

58

Dinding bata

Tangga Utama

(78)

59 59

Papan tebukan

59

Tangga Samping

59 59

Tangga Samping

(79)

60

9.

10.

11.

12.

60

Panca persada

Maligai

-60

Tidak ada

Tampak Istana Langkat

Denah Istana Langkat

60

Tidak ada

Tampak Istana Deli

Denah Istana Deli

60

Tidak ada

Tampak Istana Serdang

Denah Istana Serdang

(80)

61 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Penelitian yang

menunjang penggunaan metode kualitatif dengan pendekatan ilustrasi

deskriptif-interpretatif ( Silaen S. dan Widiyono (2013 ).

3.2. Variabel Penelitian

Variabel pada penelitian ini dilakukan dengan 2 cara. cara yang pertama

dengan penerapan teori berdasarkan tinjauan pustaka. Cara yang kedua dengan

mencermati objek penelitian secara visual. Adapun variabel dalam penelitian ini

sebagai berikut :

Variabel Sub variabel Metode

Jenis penerapan

regionalsime arsitektur

 Concrete regionalism  Abstract regionalism

Observasi langsung (pengambilan gambar), sketsa ulang tampak bangunan DPRD Langkat kemudian menyesuaikan dengan kajian pustaka Taksonomi

regionalisme arsitektur

 Pola Derivatif  Pola Transformatif

Observasi langsung (pengambilan gambar), sketsa ulang denah bangunan DPRD Langkat kemudian menyesuaikan dengan kajian pustaka Elemen arsitektur

kantor DPRD Langkat

Atap :

 Bentuk bubungan atap  Teban layar

 Lebah bergantung  Plafond

Dinding :  Jendela

Observasi langsung (pengambilan gambar), sketsa denah dan tampak kantor DPRD Langkat kemudian menyesuaikan dengan kajian pustaka Tabel 3.1 Variabel penelitian

(81)

62  Pintu

Tiang Lantai Tangga

 Papan tebukan Wujud arsitektur pada

kantor DPRD Langkat

 Bentuk bangunan Observasi langsung (pengambilan gambar), sketsa ulang denah dan tampak bangunan DPRD Langkat kemudian menyesuaikan dengan kajian pustaka

Ekspresi wujud arsitektur pada Kantor DPRD Langkat

 Komposisi arsitektur  Warna

Observasi langsung (pengambilan gambar), sketsa ulang denah dan tampak bangunan DPRD Langkat kemudian menyesuaikan dengan kajian pustaka.

3.3. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan metode

kualitatif. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri ada 2 bagian yaitu

data primer dan data sekunder. Tabel 3.2 memperlihatkan metode pengumpulan

data pada penelitian ini.

Jenis Data Data Metode Pengumpulan Data

Data Primer

Gambaran umum bentuk kantor DPRD.

Elemen- elemen kantor DPRD beserta detail Arsitekturnya.

Observasi langsung (pengambilan gambar) Kantor DPRD Langkat. Sktesa atau gambar ulang

site plan kantor DPRD Langkat.

Sktesa atau gambar ulang denah, tampak kantor DPRD Langkat.

Gambaran umum bentuk Observasi langsung Tabel 3.2 Metode pengumpulan data

(82)

63

Istana melayu Langkat, Istana melayu Deli, dan Istana melayu Serdang. Elemen- elemen Istana

melayu Langkat, Istana melayu Deli, dan Istana melayu Serdang.

(pengambilan gambar) bangunan Istana melayu Langkat, Istana melayu Deli, dan Istana melayu Serdang. Sketsa atau gambar ulang

denah dan tampak bangunan Istana melayu Langkat, Istana melayu Deli, dan Istana melayu Serdang.

Data Sekunder

Tinjauan pustaka tentang Regionalisme.

Mencari dan memilih tinjauan pustaka tentang regionalisme secara umum dari jurnal dan artikel.

Tinjauan pustaka tentang regionalisme dalam arsitektur

Mencari dan memilih tinjauan pustaka tentang regionalisme dalam arsitektur dari buku, jurnal, dokumen, dan artikel. Tinjauan pustaka tentang

arsitektur bangunan melayu Langkat, melayu Deli, dan melayu Serdang.

Mencari dan memilih tinjauan pustaka tentang arsitektur bangunan melayu Langkat, melayu Deli, dan melayu Serdang dari buku, dokumen, dan artikel.

Rancangan Peraturan daerah kabupaten Langkat tentang bangunan gedung.

Mendapatkan arsip langsung tentang peraturan daerah dari pihak karya cipta di kantor PU Langkat.

3.4. Kawasan Penelitian

Kantor DPRD Langkat terletak di jalan T. Amir Hamzah No.2 Stabat,

kabupaten Langkat. Bangunan eksisiting yang berada di kawasan kantor tersebut

didominasi oleh gedung-gedung pemerintahan seperti, kantor bupati Langkat,

kantor dinas pekerjaan umum, badan perencanaan dan pengembangan daerah, dan

alun-alun Kota Stabat.

(83)

64

Gambar 3.1 Peta kabupaten Langkat

Sumber : Peta-langkat-dan-sejarah-langkat.html

Gambar 3.2. Skematik jarak kawasan penelitian

Sumber : Diolah dari google maps 39.4 KM 426 KM

133 KM

Stabat

(Jl. T.amir

hamzah no.2)

Medan Kabupaten

karo

Aceh Selat

malaka

(84)

65 3.5. Metode Analisa Data

Metode yang digunakan untuk menganalisa data berupa deskripsi

mengenai data yang diperoleh. Adapun tahapan analisa untuk menemukan hal apa

yang mempengaruhi kantor DPRD Langkat sebagai regionalisme arsitektur

melayu yaitu sebagai berikut :

1. Mengumpulkan data-data tentang regionalisme arsitektur berupa jurnal,

dokumen, buku. Setelah itu memilih teori yang sesuai dalam penelitian.

2. Mengumpulkan data-data tentang arsitektur melayu yaitu melayu Langkat,

melayu Deli, melayu Serdang. Data ditemukan pada buku dan observasi

langsung dengan wawancara kepada ketua adat dan pengambilan gambar.

Kemudian melakukan sketsa atau penggambaran ulang Istana melayu

Langkat, Deli, dan Serdang berupa denah dan tampak.

3. Melakukan survei lapangan dengan pengambilan gambar arsitektur kantor

DPRD Langkat. Gambar yang diambil berupa elemen-elemen bangunan,

eksterior, dan interior. Kemudian melakukan sketsa atau penggambaran

ulang bangunan DPRD Langkat berupa denah dan tampak.

4. Setelah semua data berhasil dikumpulkan, maka dilakukan

pengelompokkan data untuk dianalisa

5. Menganalisa data yang di dapat pada hasil observasi langsung yang

disesuaikan dengan kajian pustaka yang telah dikumpulkan.

6. Pada akhir analisis akan disusun kesimpulan bagaimana kantor DPRD

Langkat menerapkan regionalisme arsitektur melayu dan faktor apa saja

yang mempengaruhinya sebagai regionalisme arsitektur melayu.

(85)

66 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Sejarah Kawasan Penelitian

Pada masa pemerintahan Belanda, kabupaten Langkat masih berstatus

kesultanan (kerajaan) dengan pimpinan pemerintah oleh Morry Agesten dan

berkedudukan di Binjai. Pemerintahan kesultanan di Langkat dibagi atas tiga

kepala Luhak yaitu :

1. Luhak Langkat Hulu, yang berekedudukan di Binjai yang terdiri atas

beberapa wilayah yaitu, kejuruan Selesai, Kejuruan Bahorok, Kejeruan Sei

Bingai, Distrik Kwala, dan Distrik Salapian.

2. Luhak Langkat Hilir, yang berkedudukan di Tanjung Pura yang terdiri atas

beberapa wilayah yaitu, Kejuruan Stabat, Kejuruan Bingai, Kejuruan

Secanggang, Distrik Padang Tualang, Distrik Cempa, Distrik Pantai

Cermin.

3. Luhak Teluk Haru, yang berkedudukan di Pangkalan Berandan yang terdiri

atas beberapa wilayah yaitu, Kejeruan Besitang meliputi Langkat Tamiang

dan Salahaji, Distrik Pulau Kampai, Distrik Sei Lepan.

Pada awal kemerdekaan Republik Indonesia, Kabupaten Langkat tetap

dengan status keresidenan atau kepala pemerintahan dijabat oleh Tengku Amir

Hamzah. Pada tahun 1947-1949, terjadi agresi militer Belanda I, dan II, dan

Kabupaten Langkat terbagi dua, yaitu Pemerintahan Negara Sumatera Timur

(NST) yang berkedudukan di Binjai dan Negara Kesatuan Republik Indonesia

yang berkedudukan di Pangkalan Berandan. Berdasarkan PP No.7 tahun 1965

(86)

67

Gambar 4.1 Peta Kapubaten Langkat

Sumber : www.Langkatkab.go.id

(87)

68

Gambar 4.2. Peta Stabat

Sumber : Dioalah dari peta kabupaten Langkat Kecamatan Secanggang

Deli Serdang

Binjai Kecamatan

Wampu

Gambar

Gambar 2.6. Contoh bangunan tempelan elemen AML pada AMKSumber : Couto (2008)
Gambar 2.11. Rumah Padang (AML)Sumber : Couto (2008)
Gambar 2.12. Bank Indonesia Padang (AMK)Sumber : Couto (2008)
Gambar 2.13. 2.13. Peta negeri-negri di Sumatera Timur (1863)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Secara spesifik tujuan penelitian ini adalah: (1) mengidentifikasi tipe- tipe dan makna eufemisme dalam proses Upacara Adat Perkawinan Masyarakat Melayu Langkat, (2)

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah menemukan faktor yang menyebabkan tumbuhnya permukiman etnik Melayu di Dusun 2 Desa besilam Babussalam Langkat dan

Seharusnya gedung MABMI yang dibangun dengan tujuan sebagai identitas keberadaannya masyarakat Melayu di Kabupaten Langkat lebih memperhatikan kesesuaian dengan

Penulisan tentang representasi tradisi berahoi pada masyarakat Melayu Langkat Sumatera Utara dimaksudkan untuk mengangkat kembali budaya lokal yang bercorak

Penelitian ini berjudul “Makna Simbolik Pada Prosesi Perkawinan Adat Melayu Langkat (Suatu Penelitian tentang Simbol-simbol Yang Mengandung Makna pada Acara Makan

Hotel Resort yang dibangun di Kawasan Kuta membutuhkan pendekatan arsitektur regionalisme agar suatu bangunan dapat terpadu dan harmoni dengan lingkungan sekitar agar

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah menemukan faktor yang menyebabkan tumbuhnya permukiman etnik Melayu di Dusun 2 Desa besilam Babussalam Langkat dan

Arsitektur regionalisme ialah aliran arsitektur yang memadukan antara arsitektur modern dan tradisional sehingga diterapkan pada rancangan Laboratorium Forensik Polri Cabang Gorontalo