REGIONALISME ARSITEKTUR MELAYU PADA KANTOR DPRD LANGKAT
SKRIPSI
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik
Dalam Departemen Arsitektur
Pada Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
OLEH
RAHMA WARDANI SIREGAR 110406017
DEPARTEMEN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2015
PERNYATAAN
REGIOANALISME ARSITEKTUR MELAYU
PADA KANTOR DPRD LANGKAT
SKRIPSI
Dengan ini penulis menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat
karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu
perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan penulis juga tidak terdapat karya
atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang
secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Medan, Juli 2015
Penulis,
(Rahma Wardani Siregar)
Judul Skripsi : Regionalisme Arsitektur Melayu Pada Kantor DPRD
Langkat
Nama Mahasiswa : Rahma Wardani Siregar
Nomor Pokok : 110406017
Departemen : Arsitektur
Menyetujui
Dosen Pembimbing
(Dr. Ir. Nelson M. Siahaan, Dipl. T.P., M.Arch.)
Koordinator Skripsi,
(Dr. Ir. Dwira N. Aulia, M.Sc)
Ketua Program Studi,
(Ir. N. Vinky Rahman, MT)
Tanggal Lulus : 08 Juli 2015
Telah diuji pada
Tanggal : 08 Juli 2015
Panitia Penguji Skripsi
Ketua Komisi Penguji : Dr. Ir. Nelson M. Siahaan, Dipl. T.P., M.Arch.
Anggota Komisi Penguji : 1. Salmina Wati Ginting, S.T., M.T.
2. Hajar Suwantoro, S.T., M.T.
i KATA PENGANTAR
Alhmdulillah puji dan syukur, saya panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat
rahmat dan karunia-Nya dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu
syarat untuk menyelesaikan Program Studi Strata Satu (S1) Departemen
Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.
Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan skripsi ini tidak terlepas
dari dukungan dan bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin
menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak yang
berperan penting yaitu:
1. Bapak Dr. Ir. Nelson M. Siahaan, Dipl. T.P., M. Arch. selaku Dosen
Pembimbing, yang telah banyak memberikan bimbingan, masukan,
dukungan serta meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam membantu
penulis menyelesaikan skripsi ini.
2. Ibu Salmina Wati Ginting, S.T., M.T. dan Bapak Hajar Suwantoro, S.T.,
M.T. selaku Dosen Penguji, atas saran dan masukan yang diberikan
kepada penulis terhadap skripsi ini.
3. Bapak Ir. N. Vinky Rahman, MT selaku Ketua Departemen Arsitektur
dan Bapak Ir. Rudolf Sitorus, MLA selaku Sekretaris Departemen
Arsitektur.
4. Bapak/Ibu staff pengajar Departemen Arsitektur Fakultas Teknik
Universitas Sumatera Utara.
5. Orang tua saya yang tercinta Ibu Hj.Siti Eslan Pohan, S.pd dan Bapak
Drs. Muin Siregar. Abang dan kakak saya, Nurhasanah Siregar, Amkeb,
ii
Riyani Siregar SE, dan Suherman Nasution S.H. Terima kasih atas doa
dan dukungannya selama ini.
6. Sahabat spesial saya, yang membantu dalam proses pengerjaan skripsi ini,
Risna Nailan Aziz Amd , Rizky anjelina SE, dan Rizky Ramadhan
Batubara ST.
Medan, April 2015 Penulis
Rahma Wardani Siregar 110406017
iii ABSTRAK
Saat ini di Sumatera Utara banyak bangunan yang menerapkan regionalisme arsitektur. Penerapan regionalisme arsitekur banyak dijumpai pada gedung perkantoran guna menampilkan kembali ciri khas arsitektur lokalnya. Salah satunya adalah kantor DPRD Langkat. Studi terhadap regionalisme arsitektur melayu pada kantor DPRD Langkat untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kantor DPRD Langkat sebagai regionalisme arsitektur melayu. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan ilustrasi deskriptif-interpretatif yaitu dengan melihat secara langsung kantor DPRD Langkat. Hasil analisa menyatakan bahwa kantor DPRD Langkat di pengaruhi oleh tiga arsitektur melayu yaitu, melayu Langkat, melayu Deli, dan melayu Serdang. Faktor-faktor yang mempengaruhi kantor DPRD Langkat sebagai regionalisme arsitektur melayu yaitu, adanya tempelan arsitektur masa lampau pada Kantor DPRD Langkat, menyatunya elemen arsitektur masa lampau pada kantor DPRD Langkat, adanya wujud arsitektur masa lampau yang mentrasformasi ke dalam kantor DPRD Langkat, adanya ekspresi wujud arsitektur masa lampau pada kantor DPRD Langkat.
Kata Kunci : Regionalisme Arsitektur, Melayu, Kantor
ABSTRACT
Currently in North Sumatra many buildings that implement architectural regionalism. Application of architectural regionalism often found in office buildings in order to redisplay the hallmark of the local architecture. One is the Langkat Parliament's office. Studies of regionalism architecture wither on Langkat Parliament's office to determine the factors that influence Langkat Parliament's office as malay architecture regionalism. The method used in this study is a qualitative descriptive-interpretative approach is illustrated by looking directly Langkat Parliament's office. Results of the analysis states that the Parliament's office langkat influenced by three Malay architecture, namely, Malay Langkat, Deli Malay and Malay Serdang. Factors that affect Langkat Parliament's office as regionalism, namely Malay architecture, the architecture of the past patches on langkat Parliament Office, the merging of architectural elements of the past on Parliament's office langkat, the architecture of the past form that transform into langkat Parliament's office, their form of expression architectural past the Langkat Parliament's office.
Key Word :Regionalism Arcitecture, Malay, Office
iv DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
ABSTRAK ... iii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR GAMBAR ... vii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1.Latar Belakang ... 1
1.2.Perumusan Masalah ... 2
1.3.Tujuan Penelitian ... 2
1.4.Manfaat Penelitian ... 3
1.5.Kerangka Berfikir ... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 5
2.1. Regionalisme... 5
2.2. Regionalisme Dalam Arsitektur ... 6
2.3. Jenis Regionalisme Dalam Arsitekur ... 7
2.4. Taksonomi Regionalisme Arsitektur ... 10
2.5. Penerapan Regionalisme Dalam Desain Arsitktur ... 11
2.6. Arsitektur Melayu di Sumatera Utara ... 16
2.7. Karakteristik Arsitektur Melayu Sumatera Utara ... 16
v
2.8. Arsitektur Melayu Langkat ... 17
2.9. Arsitektur Melayu Deli ... 30
2.10. Arsitektur Melayu Serdang ... 44
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 61
3.1. Jenis Penelitian ... 61
3.2. Variabel Penelitian ... 61
3.3. Metode Pengumpulan Data ... 62
3.4. Kawasan Penelitian ... 63
3.5. Metode Analisa Data ... 65
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 66
4.1. Sejarah Kawasan Penelitian ... 66
4.2. Gambaran Umum Kawasan Penelitian ... 67
4.3. Regionalisme Arsitektur Pada Kantor DPRD Langkat ... 73
4.3.1. Jenis Penerapan Regionalisme Pada Kantir DPRD Langkat ... 73
4.3.2. Taksonomi Regionalisme Pada Kantor DPRD Langkat ... 74
4.4. Elemen Arsitektur Pada Kantor DPRD Langkat ... 76
4.5. Bentuk Kantor DPRD Langkat ... 90
4.6. Komposisi Arsitektur Kantor DPRD Langkat ... 91
BAB V KESIMPULAN ... 96
DAFTAR PUSTAKA ... 98
vi DAFTAR TABEL
Tabel 2.1. Elemen Arsitektur Melayu Langkat, Deli, dan Serdang ... 53
Tabel 3.1. Variabel Penelitian... 61
Tabel 3.2. Metode Pengumpulan Data ... 62
tabel 4.1. Warna Pada Istana Melayu Langkat, Melayu Deli, dan
Melayu Serdang ... 94
vii DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Alung ... 7
Gambar 2.2. Sketsa bangunan hotel Lombok Intan Laguna ... 8
Gambar 2.3. Kyoto Confrence Hall ... 9
Gambar 2.4. Chigi ... 9
Gambar 2.5. Bentuk trapezoidal ... 10
Gambar 2.6. Contoh bangunan tempelan elemen AML pada AMK ... 12
Gambar 2.7. Rancangan Awal Mesjid Ganting, Padang ... 13
Gambar 2.8. Mesjid Ganting, Padang (2015) ... 13
Gambar 2.9. Rumah Tradisional Padang (AML) ... 13
Gambar 2.10. Bank Nagara, Padang (AMK) ... 14
Gambar 2.11. Rumah Padang (AML) ... 14
Gambar 2.12. Bank Indonesia Padang (AML) ... 15
Gambar 2.13. Peta Negeri-negeri di Sumatera Timur (1863) ... 16
Gambar 2.14. Arsitektur Melayu ... 17
Gambar 2.15. Istana Darul Aman ... 18
Gambar 2.16. Mesjid Azizi, Tanjung Pura ... 18
Gambar 2.17. Kantor Kerapatan Langkat pada tahun 1933 ... 19
Gambar 2.18. Museum Kabupaten Langkat tahun 2014 ... 19
Gambar 2.19. Istana Darul Aman terkena Banjir pada tahun 1921 ... 20
Gambar 2.20. Istana Darussalam, Tanjung Pura ... 20
Gambar 2.21. Papan Tebukan Istana Darussalam, Tanjung Pura ... 21
viii
Gambar 2.22. Replika Istana Langkat, Stabat ... 21
Gambar 2.23. Denah Replika Istana Langkat ... 21
Gambar 2.24. Atap Arsitektur Melayu Langkat ... 22
Gambar 2.25. Teban layar Melayu Langkat ... 22
Gambar 2.26. Plafond Arsitektur Melayu Langkat ... 23
Gambar 2.27. Detail ornament Bunga Pecah Lima ... 23
Gambar 2.28. Lebah Bergantung pada Atap ... 23
Gambar 2.29. Detail Lebah Bergantung ... 24
Gambar 2.30. Kolom Arsitektur Melayu Langkat ... 24
Gambar 2.31. Ornamen Pucuk Rebung pada Kolom ... 25
Gambar 2.32. Pintu arsitektur Melayu Langkat ... 25
Gambar 2.33. Detail Ornamen Sebuk Layar ... 26
Gambar 2.34. Jendela Arsitektur Melayu Langkat ... 26
Gambar 2.35. Detail Ornamen Bunga Hutan ... 26
Gambar 2.36. Lantai Arsitektur Melayu Langkat ... 27
Gambar 2.37. Ornamen Pucuk Rebung didinding ... 27
Gambar 2.38. Ornamen Pokok Kolom didinding ... 28
Gambar 2.39. Tangga Utama ... 28
Gambar 2.40. Tangga Samping ... 29
Gambar 2.41. Papan Tebukan ... 29
Gambar 2.42. Detail Kolom pada Papan Tebukan Tangga ... 29
Gambar 2.43. Panca Persada ... 30
Gambar 2.44. Labuhan, Pusat Pemerintahn Kesultanan Deli yang Pertama .. 30
ix
Gambar 2.45. Mesjid Al-Osmani tahun 1854 ... 31
Gambar 2.46. Istana Kota Batu, Labuhan Deli 1870 ... 31
Gambar 2.47. Istana Maimun 1925 ... 32
Gambar 2.48. Kantor Pusat Deli di Medan ... 32
Gambar 2.49. Kantor Kerapatan Deli di Medan ... 33
Gambar 2.50. Derikhan Park (Taman Sri Deli) 1905 ... 33
Gambar 2.51. Istana Puri Kota Maksum ... 34
Gambar 2.52. Istana Tengku Besar Deli ... 34
Gambar 2.53. Istana Maimun 2014 ... 35
Gambar 2.54. Denah Istana Maimun 2014 ... 35
Gambar 2.55. Atap Kuba Istana Deli ... 35
Gambar 2.56. Atap Kuba dan Atap Lima ... 36
Gambar 2.57. Lebah Bergantung ... 36
Gambar 2.58. Lebah Bergantung ... 36
Gambar 2.59. Lebah Bergantung ... 37
Gambar 2.60. Plafond pada Tangga Utama ... 37
Gambar 2.61. Plafond pada Ruang Utama ... 38
Gambar 2.62. Kolom Melayu Deli dipengaruhi Arsitektur Belanda ... 38
Gambar 2.63. Kolom Melayu Deli ... 39
Gambar 2.64. Pintu Samping Istana Deli ... 39
Gambar 2.65. Pintu Dapur Bersih ... 40
Gambar 2.66. Jendela Tingakp Pada Kamar Putri ... 40
Gambar 2.67. Jendela Kwari Pada Kamar Sultan ... 41
x
Gambar 2.68. Dinding Papan Istana Deli ... 41
Gambar 2.69. Ornamen Dinding Papan Istana Deli ... 41
Gambar 2.70. Lantai Istana Deli ... 42
Gambar 2.71. Tangga Utama Istana Deli ... 42
Gambar 2.72. Papan Tebukan Pada Tangga Istana Deli ... 43
Gambar 2.73. Papan Tebukan Pada Serambi Istana Deli ... 43
Gambar 2.74. Papan Tebuakan Pada Tangga Istana Deli ... 43
Gambar 2.75. Istana Bogok Sultan Serdang, Rantau Panjang, pantai Labu, Deli Serdang 1728-1896 ... 44
Gambar 2.76. Istana Darul Arif, Kota galuh, Perbaungan (1896-194) ... 44
Gambar 2.77. Gerbang Istan Darul Arif, Kota Galuh, Perbaungan ... 45
Gambar 2.78. Mesjid Raya Sulaimaniyah ... 45
Gambar 2.79. Replika Istana Serdang ... 46
Gambar 2.80. Prespektif Istana Serdang ... 46
Gambar 2.81. Denah Replika Istana Serdang ... 46
Gambar 2.82. Atap Lima Istana Serdang ... 47
Gambar 2.83. Lebah Bergantung ... 47
Gambar 2.84. Tiang Istana Serdang ... 48
Gambar 2.85. Tiang Beton Istana Serdang ... 48
Gambar 2.86. Pintu Istana Serdang ... 49
Gambar 2.87. Jendela Istana Serdang ... 49
Gambar 2.88. Ornamen Pada Dinding ... 50
Gambar 2.89. Lantai Istana Serdang ... 50
xi
Gambar 2.90. Tangga Utama Berorientasi Pada Samping Jalan ... 50
Gambar 2.91. Tangga Berorientasi Pada Depan Jalan ... 51
Gambar 2.92. Papan Tebukan Tangga ... 51
Gambar 2.93. Maligai ... 52
Gambar 3.1. Peta Kabupaten Langkat ... 64
Gambar 3.2. Skematik Jarak Kawasan Penelitian ... 64
Gambar 4.1. Peta Kabupaten Langkat ... 67
Gambar 4.2 Peta Stabat ... 68
Gambar 4.3 Peta Kawasan Eksisting kantor DPRD Langkat ... 69
Gambar 4.4. Master Plan Kantor DPRD Langkat ... 70
Gambar 4.5. Denah kantor DPRD Langkat ... 71
Gambar 4.6. Tampak Depan Kantor DPRD Langkat ... 72
Gambar 4.7. Kantor DPRD Langkat ... 72
Gambar 4.8. Persfektif Kantor DPRD Langkat ... 72
Gambar 4.9. Elemen Atap Kantor DPRD Langkat ... 73
Gambar 4.10. Elemen Pada Kantor DPRD Langkat ... 74
Gambar 4.11. Bentuk denah kantor DPRD Langkat (kiri), bangunan melayu Deli ( kanan)... 75
Gambar 4.12. Elemen yang paling menonjol pada kantor DPRD Langkat .... 75
Gambar 4.13. Bentuk Atap Kantor DPRD Langkat ... 77
Gambar 4.14. Teban Layar Kantor DPRD Langkat ... 78
Gambar 4.15. Motif Teban Layar Kantor DPRD Langkat ... 78
Gambar 4.16. Bentuk pucuk rebung lebah bergantung kantor DPRD Langkat
xii
... 79
Gambar 4.17. Plafond Pada Kantor DPRD Langkat ... 80
Gambar 4.18. Denah Tiang Pada Tangga Utama Kantor DPRD Langkat .... 81
Gambar 4.19. Tiang pada Kantor DPRD Langkat (kiri), Tiang Pada Istana Deli (kanan) ... 81
Gambar 4.20. Ornamen Pucuk Rebung Kantor DPRD Langkat (kiri), Istana Langkat (kanan) ... 82
Gambar 4.21. Ornamen Kuntum Tak Jadi Pada Tiang ... 82
Gambar 4.22. Tiang PadaCourt YardKantor DPRD Langkat ... 83
Gambar 4.23. Ornamen Pada Dinding Kantor DPRD Langkat ... 84
Gambar 4.24. Pintu Pada Kantor DPRD Langkat ... 85
Gambar 4.25. Jendela Pada Kantor DPRD Langkat ... 85
Gambar 4.26. Lantai Parkit Pada Hall Kantor DPRD Langkat ... 86
Gambar 4.27. Lantai Keramik Pada Tangg Kantor DPRD Langkat ... 86
Gambar 4.28. Lantai Keramik Pada Ruang Fraksi dan kepegawaian ... 87
Gambar 4.29. Orientasi Tangga Kantor DPRD Langkat ... 88
Gambar 4.30. Tangga Utama Kantor DPRD Langkat ... 88
Gambar 4.31. Tangga Belakang Kantor DPRD Langkat ... 89
Gambar 4.32. Papan Tebukan Utama (kiri), bBelakang (kanan) ... 89
Gambar 4.33. Denah Kantor DPRD Langkat ... 90
Gambar 4.34. Denah Zona Kantor DPRD Langkat ... 90
Gambar 4.35. Denah Istana Melayu Deli ... 91
Gambar 4.36. Denah Simetris Istana Kantor DPRD Langkat (kiri), Istana
xiii
Deli (kanan) ... 92
Gambar 4.37. Kesenadaan Atau Irama Pada Tampak Kantor DPRD
Langkat (atas), Istana Melayu Deli (bawah) ... 92
Gambar 4.38. Warna Pada Arsitektur Melayu ... 93
Gambar 4.39. Warna Pada Kantor DPRD Langkat ... 94
iii ABSTRAK
Saat ini di Sumatera Utara banyak bangunan yang menerapkan regionalisme arsitektur. Penerapan regionalisme arsitekur banyak dijumpai pada gedung perkantoran guna menampilkan kembali ciri khas arsitektur lokalnya. Salah satunya adalah kantor DPRD Langkat. Studi terhadap regionalisme arsitektur melayu pada kantor DPRD Langkat untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kantor DPRD Langkat sebagai regionalisme arsitektur melayu. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan ilustrasi deskriptif-interpretatif yaitu dengan melihat secara langsung kantor DPRD Langkat. Hasil analisa menyatakan bahwa kantor DPRD Langkat di pengaruhi oleh tiga arsitektur melayu yaitu, melayu Langkat, melayu Deli, dan melayu Serdang. Faktor-faktor yang mempengaruhi kantor DPRD Langkat sebagai regionalisme arsitektur melayu yaitu, adanya tempelan arsitektur masa lampau pada Kantor DPRD Langkat, menyatunya elemen arsitektur masa lampau pada kantor DPRD Langkat, adanya wujud arsitektur masa lampau yang mentrasformasi ke dalam kantor DPRD Langkat, adanya ekspresi wujud arsitektur masa lampau pada kantor DPRD Langkat.
Kata Kunci : Regionalisme Arsitektur, Melayu, Kantor
ABSTRACT
Currently in North Sumatra many buildings that implement architectural regionalism. Application of architectural regionalism often found in office buildings in order to redisplay the hallmark of the local architecture. One is the Langkat Parliament's office. Studies of regionalism architecture wither on Langkat Parliament's office to determine the factors that influence Langkat Parliament's office as malay architecture regionalism. The method used in this study is a qualitative descriptive-interpretative approach is illustrated by looking directly Langkat Parliament's office. Results of the analysis states that the Parliament's office langkat influenced by three Malay architecture, namely, Malay Langkat, Deli Malay and Malay Serdang. Factors that affect Langkat Parliament's office as regionalism, namely Malay architecture, the architecture of the past patches on langkat Parliament Office, the merging of architectural elements of the past on Parliament's office langkat, the architecture of the past form that transform into langkat Parliament's office, their form of expression architectural past the Langkat Parliament's office.
Key Word :Regionalism Arcitecture, Malay, Office
1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Sejarah perkembangan arsitektur Indonesia erat kaitannya dengan sejarah
bangsa Indonesia. Perkembangan ini dibagi atas tiga periode besar sejarah budaya
di Indonesia yaitu, periode Hindu-budha, periode Islamisasi dan periode Modern.
Dalam hubunganya dengan perkembangan arsitektur Indonesia periode ini dapat
diurutkan sebagai berikut, arsitektur klasik atau candi, arsitektur peradaban atau
kebudayaan islam, arsitektur kolonial, dan arsitektur modern (Musridin, 2014).
Dalam periode arsitektur modern munculah regionalisme sebagai upaya
melahirkan kembali arsitektur lokal ke dalam arsitektur masa kini (Frampton,
1982).
Sumatera Utara salah satu provinsi multietnis. Salah satunya suku Melayu
sebagai penduduk asli. Penyebaran suku Melayu berada di pesisir Timur, terutama
di Kabupaten Deli Serdang, Serdang Bedagai, dan Langkat (BPS kabupaten/kota
Sumatera Utara, 2011). Saat ini di Sumatera Utara banyak dijumpai bangunan
yang memadukan desain modern dan tradisional. Guna menampilkan kembali
identitas atau simbolik (Buchanan, 1983). Kebanyakan bangunan yang dibangun
ingin menunjukkan ciri arsitektur kedaerahannya terutama pada bangunan
pemerintahan, salah satunya kabupaten Langkat.
Langkat merupakan kabupaten yang memiliki beberapa bangunan
regionalisme. Sesuai persyaratan pemerintah daerah Langkat arsitektur bangunan
2
meliputi tata ruang dalam, keseimbangan, keserasian, dan keselarasan. Bangunan
dengan lingkungannya serta mempertimbangkan adanya keseimbangan antara
nilai-nilai tradisional sosial budaya setempat terhadap penerapan berbagai
perkembangan arsitektur dan rekayasa (PU, Langkat). Salah satu bangunan
regionalisme di kabupaten Langkat adalah Kantor DPRD Langkat yang
menerapkan regionalisme arsitektur melayu.
Penerapan regionalisme arsitektur melayu terlihat pada elemen-elemen
arsitektur melayu pada bangunan tersebut. Penggunaan elemen-elemen melayu
pada kantor DPRD Langkat untuk menampilkan kembali ciri khas melayu
Langkat.
Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan di atas, penelitian ini
menarik untuk diteliti dengan mengkaji bagaimana kantor DPRD menerapkan
regionalisme arsitektur melayu yang berada di kabupaten Langkat yang memiliki
ciri khas arsitektur lokal tersendiri..
1.2.Perumusan Masalah
1. Bagaimanakah kantor DPRD Langkat menerapkan regionalisme arsitektur
melayu ?
2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kantor DPRD Langkat sebagai
bangunan regionalisme arsitektur melayu ?
1.3.Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang akan dicapai pada penelitian ini adalah :
3
1. Mengidentifikasi Regionalisme arsitektur melayu pada kantor DPRD Langkat.
2. Mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi kantor DPRD Langkat
sebagai regionalisme arsitektur melayu.
1.4.Manfaat Penelitian
1. Bagi akademis, penelitian ini untuk pengembangan ilmu pengetahuan tentang
penerapan regionalisme dalam arsitektur pada bangunan.
2. Bagi praktis, memberikan informasi berupa regionalisme arsitektur sehingga
diharapkan kepada pemerintah kota dalam perancangan bangunan gedung
pemerintahan agar diterapkan regionalisme sebagai upaya menampilkan
kembali arsitektur lokalnya.
4 1.5.Kerangka Berfikir
LATAR BELAKANG
•Regionalisme dalam arsitektur muncul pada periode arsitektur modern sebagai upaya menampilkan kembali arsitektur lokal ke dalam arsitektur masa kini (Frampton, 1982).
•Salah satu bangunan regionalisme arsitektur pada sumatera utara adalah kantor DPRD Langkat yang menerapka regionalisme arsitektur melayu.
•Penerapan regionalisme tersebut merupakan upaya untuk menampilkan kembali ciri khas arsitektur melayu Langkat
RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana kantor DPRD Langkat menerapkan regionalisme arsitektur melayu ? 2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kantor DPRD Langkat sebagai bangunan
regionaisme arsitektur melayu ?
TUJUAN PENELITIAN
1. Mengidentifikasi regionalisme arsitektur melayu pada kantor DPRD Langkat.
2. Mendeskripsikan faktor-faktor Yang mempengaruhi kantor DPRD Langkat sebagai
regionalisme arsitektur melayu.
MANFAAT PENELITIAN
1. Bagi akademis, penelitian ini untuk pengembangan ilmu pengetahuan tentang penerapan regionalisme dalam arsitektur pada bangunan.
2. Bagi praktis, memberikan informasi berupa regionalisme arsitektur sebagai upaya menampilkan kembali arsitektur lokalnya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Menjelaskan regionalisme arsitektur melayu pada kantor DPRD Langkat.
2. Mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi kantor DPRD Langkat sebagai regionalisme arsitektur melayu.
5 BAB II
TINJAUAN PUSAKA
2.1. Regionalisme
Regionalisme muncul di era sebelum perang dingin sekitar tahun 1947.
Sejarah munculnya regionalisme adanya kesadaran regional dan keinginan
negara-negara untuk melakukan sesuatu yang terbaik di lingkungan regional
mereka. Munculnya regionalisme dapat dilihat dari dua tolak ukur. Pertama,
dengan adanya kesadaran regional, identitas bersama, serta adanya rasa saling
memiliki di antara negara yang secara geografis berdekatan yang menjadikan
negara-negara untuk melakukan kerjasama regional. Kedua, terwujudnya
kerjasama yang berujung pada pembentukan institusi regional sebagai wujud dari
kerjasama regional (Fawcett dan Hurrel, 2002).
Awalnya regionalisme dilakukan untuk alasan ekonomi sebagai rancangan
dan implementasi serangkaian kebijakan khusus antar pemerintah negara-negara
di dalam sebuah kawasan. Tujuannya untuk meningkatkan pertukaran barang
maupun faktor produksi antar negara anggota, namun pada akhirnya politik juga
ikut berbicara. Dalam beberapa kasus integrasi ekonomi regional juga dipicu
karena untuk peningkatan keamanan (Ravenhill, 2007).
Menurut Fawcett dan Hurrel (2002) regionalisme merupakan suatu
kebijakan negara dalam bentuk kerjasama negara untuk tujuan
mengkoordinasikan strategi demi mencapai kepentingan suatu kawasan.
Regionalisme bertujuan untuk mempromosikan dan mengupayakan tujuan-tujuan
bersama dalam satu isu atau lebih.
6
Latar belakang regionalisme lebih bersifat politis, karena pasca perang
dunia ke-2, negara-negara di dunia memandang security sebagai salah satu yang
sangat penting. Collective security menjamin kemanan mereka. Pada era perang dingin, regionalisme terbentuk akibat adanya dua blok yang saling berseteru yaitu
blok barat dan blok timur.
Pada era sesudah perang dingin, muncullah new regionalism atau suatu bentuk regionalisme baru. Fenomena ini disebabkan oleh beberapa empat faktor
yaitu, berakhirnya perang dingin yang juga mengakhiri blok-blok pada era
tersebut, perubahan yang terjadi dalam aspek perekonomian dunia, berakhirnya
paham tentang istilah‘Dunia Ketiga’,demokraisi (Fawcett dan Hurrel, 2002).
2.2. Regionalisme Dalam Arsitektur
Menurut Jenks (1977) regionalisme diperkirakan berkembang sekitar
tahun 1960. Timbulnya usaha untuk memperkuat antara arsitektur tradisional dan
arsitektur yang baru diakibatkan munculnya gaya arsitektur modern yang biasa
disebut international style yang berusaha meninggalkan masa lampaunya dan meninggalkan ciri serta sifat-sifatnya. Salah satu aliran tersebut adalah
regionalisme (Dharma, 2006).
Regionalisme merupakan suatu kesadaran untuk membuka kekhasan
tradisi dalam merespon terhadap tempat dan iklim, kemudian melahirkan kembali
identitas formal dan simbolik ke dalam bentuk kretaif yang baru (Beng, 1994).
Curtis (1985) mengatakan bahwa regionalisme diharapkan dapat
menghasilkan bangunan yang bersifat abadi, menyatu antara yang lama dan yang
7
Gambar 2.1. Alung
Sumber : Abarchitecs.blogspot.com
8
Gambar 2.2. Sketsa bangunan hotel Lombok Intan Laguna
Sumber : Abarchitecs.blogspot.com
9
Gambar 2.3. Kyoto Confrence Hall
Sumber : Abarchitecs.blogspot.com
Gambar 2.4. Chigi
Sumber : Abarchitecs.blogspot.com
10
2.4. Taksonomi Regional
Regionalisme
bagian, yaitu :
1. Pola Derivatif
Meniru atau m
fungsi bangunan bar
kecendrungan
• Tipologis, men
membangun sa
• Interpretif atau
membangunny
• Konservasi, m
menyesuaikann
10
suai dengan tuntutan bentuk auditorium, bagian
ak orang dituntuk ruang lebih besar, sedangka
k sejajar baik bagi akustik.
ra struktural dengan adanya bentuk tersbut,
susunan letak lantai, melebar ke bawah atau menyem
onalisme Arsitektur
e menurut Budiharjo (1997) dikelompokka
u memelihara bentuk arsitektur tradisi atau ve
baru atau modern. Dalam hal ini kita dapt
engelompokkan bangunan vernakular, kemudi
un salah satu tipe yang dianggap baik untuk kepe
tau interpretasi, menafsirkan bangunan verna
unnya untuk kepentingan baru.
, mempertahankan bangunan lama yang masih
kannya dengan kepentingan baru.
Gambar 2.5. Bentuk trapezoidal
Sumber : En.wikipedia.org
10
ian bawah dimana
gkan dinding yang
sbut, dapat mengatur
yempit ke atas.
pokkan menjadi 2
u vernakular, untuk
dapt melihat tiga
udian memilih dan
pentingan baru.
nakular kemudian
sih ada, kemudian
11
2. Pola transformatif
Gagasan arsitektur regional yang bersifat transformatif, tidak lagi
sekedar meniru bangunan lama. Tetapi berusaha mencari bentuk-bentuk baru,
dengan titik tolak ekspresi bangunan lama baik yang visual maupun abstrak.
Gagasan arsitekur yang bersifat visual dapat dilihat dari usaha
pengambilan elemen-elemen bangunan lama yang yang dianggap baik, menonjol
atau ekspresif untuk di ungkapkan kepada bangunan baru. Pemilihan elemen yang
dianggap baik ini disebut eklektik. Kemudian pastiche, atau mencampur-baurkan
beberapa elemen bangunan baik modern maupun tradisional, beberapa diantara
desain bangunan seperti ini juga dapat menimbulkan kesan ketidakserasian.
Sedangkan reinterpretatif, adalah menafsirkan kembali bangunan lokal itu dalam
versi baru.
2.5. Penerapan Regionalisme dalam Desain Arsitektur
Menurut Wondoamiseno (1991) penerapan regionalisme dalam desain
arsitektur sebagai berikut, yaitu pengkaitan Arsitektur Masa Lampau (AML) dan
Arsitektur Masa Kini (AMK) menjadi satu kesatuan adalah :
a. Tempelan elemen AML pada AMK
Satu bangunan yang di rancang sebagai bangunan modern kemudian diberi
elemen budaya lokalnya disebut tempelan elemen AML pada AMK.
Contohnya kantor Gubernur Padang, Sumatera Barat. Kantor Gubernur
dibangun tahun 1968 dengan desain arsitektur modern, kemudian beberapa
tahun kemudian ditempel atap gonjong untuk menampilkan kembali ciri
khas kedaerahan.
12
Rancangan awal kantor Gubernur Padang (bangunan modern), 1968
Gambar 2.6. Contoh bangunan tempelan elemen AML pada AMK
Sumber : Couto (2008)
Atap gonjong tradisional Padang
Kantor Gubernur Padang dengan tambahan atap gonjong Menempelkan
Kantor Gubernur Padang , 2015
13
c. Wujud AML m
Suatu bangun
AMK. Contohn
tampak samping Gamba
Gam
Gam
13
ML mendominasi AMK
unan mencoba mentransformasikan bentuk-be
ontohnya Bank Nagara Padang mentransformasika
ping bentuk badan rumah tradisonal Padang. bar 2.7. Rancangan awal Mesjid Ganting, Pada
Sumber : Couto (2008)
Atap Limas ciri khas mesjid lama kota Padang
Penambahan 2 menara ciri khas mesjid lama kota Padang
ambar 2.8. Mesjid Ganting, Padang (2015)
Sumber : Couto (2008)
ambar 2.9. Rumah tradisional Padang (AML)
Sumber : Couto (2008)
13
-bentuk AML ke
sikam kemiringan adang
)
14
Gambar 2.10. Bank Nagara, Padang (AMK)
Sumber : Couto (2008)
Gambar 2.11. Rumah Padang (AML)
Sumber : Couto (2008)
15
Gambar 2.12. Bank Indonesia Padang (AMK)
Sumber : Couto (2008)
16 2.6. Arsitektur Melayu
Suku bangsa
penyebaran suku mela
Utara yaitu Langkat,
Kota Pinang. Pada a
yang berada di pesisi
kesultanan Aru, kesul
2.7. Karakteristik Ar
Karakterist
tiang-tiang tinggi seki Gambar 2.13.
16 elayu di Sumatera Utara
sa Melayu di Sumatera utara berasal dari M
elayu di Sumatera Timur yang sekarang dinam
kat, Deli, Serdang, Lima Puluh, Asahan, Kuala
awalnya Sumatera Timur memiliki kesultana
sisir. Kemudian muncullah kesultanan Deli da
sultanan Serdang, kesultanan Langkat, dan kesul
Arsitektur Melayu di Sumatera Utara
ristik arsitektur melayu adalah rumah panggun
sekitar 2 - 2,5M. Hal ini sesuai dengan iklim 2.13. Peta negeri-negri di Sumatera Timur (1863)
Sumber : Basarshah II (2003)
16
i Malaka. Terjadi
namakan Sumatera
ualah, Bilah, Panai,
sultanan Aru (Haru)
li dari cikal bakal
sultanan Asahan.
ung, dan memiliki
klim setempat serta 1863)
17
kebiasaan yang suda
pengaruh syariat Isl
pemisahan ruang lela
rumah melayu domina
suluran dan menghinda
2.8. Arsitektur Melayu
Leluhur kesult
si pintar ukum. Masa
Syahdan turun ke Del
Tahun 1884
Sultan Musa akibat m
Istana di Darul Aman (
17
sudah turun-temurun (Mudra, 2004). Menurut
Islam yang mempengaruhi pada arsitektur
lelaki dengan ruang perempuan. Ukiran-ukira
inan menggunakan motif bentuk bunga, daun,
hindari motif manusia maupun hewan (Husny, 1976
elayu Langkat
sultanan Langkat adalah Dewa Syahdan denga
sa kekuasannya tahun 1500 -1580. Tidak lama ke
eli tua, kemudian pindah ke Guri atau Buluh C
1884 Kesultanan Langkat mengalami kemakmur
t melakukan kontra dengan Belanda. Sultan Musa
an (Gambar 2.15).
Gambar 2.14. Arsitektur Melayu
Sumber : Omtatok (2012)
17
nurut Sinar (1993)
ur melayu berupa
ukiran pada elemen
daun, buah,
sulur-, 1976).
gan gelar Sibayak
a kemudian Dewa
uh Cina.
uran pada masa
n Musa mendirikan
18
Gambar 2.15. Istana Darul Aman
Sumber : Tembakaudeli.blogspot.com
Gambar 2.16. Mesjid Azizi, Tanjung Pura
Sumber : Tembakaudeli.blogspot.com
19
Pada tanggal
bergelar Sultan Mahm
Aman. Sultan Mahm
membangun balai K
Kerapatan menjadi use
Gambar 2.
Gambar
19
al 24 Oktober 1927 Sultan Aziz digantikan
Mahmud AbdulAziz Abdul Jalil Rahmadsyah
Mahmud melanjutkan pemerintahan Sultan
Kerapatan Langkat (Gambar 2.17), dan se
useum Kabupaten Langkat (Gambar 2.18).
r 2.17. Kantor Kerapatan Langkat pada tahun 1933
Sumber : Tembakaudeli.blogspot.com
bar 2.18. Museum Kabupaten Langkat tahun 2014
Sumber : Kualikata (2014)
19
kan oleh anaknya
h di Istana Darul
an Aziz dengan
n sekarang kantor
un 1933
2014
20
Akibat sering
membangun Istana ba
Istana Darussa
sudah dipengaruhi ol
dapat dilihat pada pap Gambar 2.19. Ist
Sum
Gamba
Sum
20
g terkena banjir Sultan Mahmud pindah ke Ta
baru yaitu istana Darussalam di Tanjung Pura.
ussalam di bangun oleh arsitek Belanda. Gaya a
oleh arsitektur Kolonial Belanda. Pengaruh
papan tebukan Istana.
19. Istana Darul Aman terkena Banjir pada tahun 1921
Sumber : Tembakaudeli.blogspot.com
bar 2.20. Istana Darussalam, Tanjung Pura
Sumber : Tembakaudeli.blogspot.com
20
Tanjung Pura dan
a.
a arsitektur Istana
ruh gaya tersebut hun 1921
21
Akibat revol
dan di bangunlah repl
istana langkat ini diba
Gam
Sum
Gambar 2.21. P
Sum
Gam
21
revolusi bangunan Istana Darussalam di hancur
replika istana Langkat yang letaknya di kota
dibangun tahun 2001. (Juhdi, 2015)
ambar 2.22. Replika istana Langkat, Stabat
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
21. Papan tebukan Istana Darussalam, Tanjung P
Sumber : Tembakaudeli.blogspot.com
ambar 2.23. Denah replika Istana Langkat
Sumber : diolah dari
21
ncurkan oleh rakyat
kota Stabat. Replika Pura
22
Bangunan me
bertingkat dan mengg
terdapat teban layar
pada bangunan melay
layar tersebut sudah di
Bentuk plafond
disebut daun sayap y
Ornamen pada daun s
Gambar 2.24. A
Sumbe
Gamba
Sum
22
melayu Langkat menggunakan bentuk atap
nggunakan bahan atap genteng (Gambar 2.24
ar yang berfungsi sebagai ventilasi atap. Bent
elayu Langkat berbentuk bulat dan terbuat da
h dipengaruhi oleh arsitektur Belanda (Gambar 2.25
fond melengkung seperti bentuk kuba. Ujung
p yang harus ditutupi dengan ornamen agar
un sayap ialah bunga pecah lima (gambar 2.27). bar 2.24. Atap arsitektur melayu Langkat
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
bar 2.25. Teban layar melayu Langkat
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
22
p bubungan lima
2.24). Pada atap
entuk teban layar
dari beton, teban
bar 2.25).
ung-ujung plafond
ar tidak kelihatan.
).
23
Terdapat lebah
lisplang. Lebah berg
memiliki makna sebaga Gambar 2.26. P
Sum
Gambar Sum
Gamba
Sum
23
bah bergantung pada atap. Lebah bergantung
ergantung terbuat dari kayu yang diukir. Le
bagai kehidupan makmur.
bar 2.26. Plafond arsitektur melayu Langkat
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
bar 2.27. Detail ornemen bunga pecah lima Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
mbar 2.28. Lebah begantung pada atap
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
23
g diletakkan pada
Lebah bergantung
24
Kolom pada
ornamen pucuk rebun
batangnya kuat namun
melayu Langkat rama
Gamba
Sum
Ga
Sum
24
da arsitektur melayu Langkat berbentuk bul
ebung. Pucuk rebung menggambarkan pohon
un ranting dan daunnya merunduk yang bera
mah tamah ketika menyambut tamu.
bar 2.30. Kolom arsitektur Melayu Langkat
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
Gambar 2.29. Detail lebah begantung
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
24
bulat dan diberi
pohon bambu yang
rarti bahwa orang
25
Pintu pada m
(gambar 2.32). Pada a
Langkat. Fungsi tebok
pintu ialah serbuk laya
Gamba
Sum
Gambar 2.31. O
Sum
25
melayu Langkat berbentuk persegi yang ter
da atas pintu dibuat tebok yang diukir dengan or
bok sebagai ventilasi. Ornamen tebok yang di
ayar (gambar 2.33).
mbar 2.32. Pintu arsitektur melayu Langkat
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
r 2.31. Ornamen pucuk rebung pada kolom
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
25
terbuat dari kayu
n ornamen melayu
g digunakan pada
26
Jenis jendela
seperti bentuk pintu.
jendela dibuat tebok
jendela ialah bunga hut Gam
Sum
Gambar
Sum
Gam
Sum
26
la pada melayu Langkat ialah kuari. Bentuk
u. Bahan jendela terbuat dari kayu. Sama sepe
bok yang berfungsi sebagai ventilasi. Ornam
hutan (gambar 2.35).
ambar 2.33. Detail ornamen sebuk layar
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
bar 2.34. Jendela arsitektur melayu Langkat
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
ambar 2.35. Detail ornemen bunga hutan
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
26
ntuk jendela sama
eperti pintu, diatas
namen tebok pada
27
Lantai pada r
ornamen yang mirip de
Dinding pada banguna
Ornamen yang terda
rebung dan pokok kol Gam
Gam
27
da replika istana Langkat ialah keramik. Pada
p dengan bintang-bintang (gambar 2.36).
unan melayu Langkat biasanya di beri ornam
dapat pada dinding bangunan Istana Langka
n pokok kolan.
ambar 2.36. Lantai arsitektur melayu Langkat
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
ambar 2.37. Ornamen pucuk rebung didinding
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
27
ada lantai diberi
namen atau hiasan.
kat adalah pucuk at
ng
28
Terdapat 4 bua
berlawanan, tangga y
Jumlah anak tangga
tebukan atau pegangan t
Sum
Gam
28
buah tangga, tangga utama diletakkan dari ara
a yang ketiga dan keempat berorientasi lang
a pada setiap tangga 22 buah. Pada tangga
gan tangga.
Gambar 2.39. Tangga utama
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
ambar 2.38. Ornamen pokok kolan di dinding
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
28
arah orintasi yang
angsung ke jalan.
gga terdapat papan ng
29
Gamba
Sum
29
bar 2.42. Detail kolom pada papan tebukan tangg
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
Gambar 2.40. Tangga samping
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
Gambar 2.41. Papan tebukan
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
29
angga
30
Arsitektur me
panca persada (gamba
sebagai tempat menun
Sultan. Fungsi yang
menikah. Bentuk ata
Menurut sejarah kesul
Malaka.
2.9. Arsitektur Melayu
Tahun 1632 be
Pahlawan (raja Deli
Labuhan.
Gambar 2.44. Labuha
Sum
30
melayu Langkat memilki ciri khas tersendiri
mbar 2.29). Panca persada memilki 2 fungsi
enunggu untuk orang-orang ketika ingin be
ng kedua adalah sebagai tempat siraman put
atap panca persada dipengaruhi oleh gaya
kesultanan Langkat, timbulnya melayu Langka
elayu Deli
1632 berdirilah kesultanan Deli dengan Raja P
li I). Pusat pemerintahan kesultanan Deli pe
buhan, pusat pemerintahan kesultanan Deli yan
Sumber : Basarshah II (2003)
Gambar 2.43. Panca persada
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
30
ndiri yaitu memiliki
gsi, yang pertama
berjumpa dengan
putri raja setelah
a arsitektur Cina.
gkat berawal dari
Panglima Gocah
petama berada di
ang pertama
31
Pada tahun
Alam Shah yang me
mendirikan sebuah me
Pada tahun 1858
tiggal di Istana Kota
dengan pihak asing y
dengan pembukaan pe
merenovasi Mesjid Al Gam
Sum
Gambar 2.46.
Sum
31
hun 1824 kesultanan Deli dipimpin oleh Sultan
merupakan sultan Deli ke- VII. Tahun 1854
h mesjid yang bernama Mesjid Al Osmani di Labuh
hun 1858 sultan Deli yang ke-VIII, Sultan Mahmud
ota Batu di Labuhan Deli. Beliau mulai menj
g yaitu, Belanda, Belgia, Polandia, dan Inggri
n perkebunan temabakau di kerajaan Deli. Sulta
d Al Osmani.
ambar 2.45. Mesjid Al Osmani tahun 1854
Sumber : Tembakaudeli.blogspot.com
bar 2.46. Istana Kota Batu, Labuhan Deli 1870
Sumber : Tembakaudeli.blogspot.com
31
an Osman Perkasa
1854 Sultan Osman
abuhan Deli.
hmud Perkasa Alam
enjalin kerja sama
ggris yang ditandai
ultan Mahmud pun
1870
32 Sultan Ma’m
Sultan Ma’mun Deli m
Medan. Sultan Ma’m
kesultanan Deli, antar
Maimoon tahun 1888.
Pembanguna
mendirikan gedung Ma
Sum
Ga
Sum
32 ’mun Al Rasyid merupakan sultan Deli yang ke
li mengalami kemakmuran dan pusat kerajaan
’mun Al Rasyid mulai membangun sejumlah si
ntara lain Kampong Bahari (Labuhan) tahun 1886,
hun 1888.
unan simbol-simbol kebesaran Deli dilanj
Mahkamah Kerapatan Besar tahun 1903. Gambar 2.47. Istana Maimun 1925
Sumber : Tembakaudeli.blogspot.com
Gambar 2.48. Kantor pusat Deli di Medan
Sumber : Tembakaudeli.blogspot.com
32 ke-IX. Pada masa
n di pindahkan ke
h simbol kejayaan
hun 1886, Istana Agung
lanjutkan dengan
33
Tahun 1905
Sri Deli di depan Mesj
Sultan mendi
Maimoon adalah seora
Pada 12 Nove
terletak antara jl. Ama
tahun 1906 Sultan m
1905 Sultan juga membangun perumahan kelua
n Mesjid raya Al Mahsun.
ndirikan Masjid Raya Al Mansun tahun 1906.
orang tentara Kolonial Belanda bernama Kapte
ovember 1905 Sultan juga mendirikan sebuah i
maliun dan jl.puri yang diberi nama istana kota
n mendirikan istana untuk Tengku besar Deli bar 2.49. Kantor kerapatan Deli di Medan
Sumber : Tembakaudeli.blogspot.com
bar 2.50. Derikhan Park (taman sri Deli) 1905
Sumber : Tembakaudeli.blogspot.com
33
luarga dan Taman
1906. Arsitek Istana
pten Th.Van Erp.
h istana baru yang
kota maksum. Serta
eli di sekitar kota 1905
34
Gambar 2.51. Istana Puri Kota maksum
Sumber : Tembakaudeli.blogspot.com
Gambar 2.52. Istana Tengku Besar Deli
Sumber : Tembakaudeli.blogspot.com
35
Gamba
Sum
G
Sum
Gam
35
mbar 2.53. Istana Maimun tahun 2014
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
Gambar 2.55. Atap kuba Istana Deli
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
Gambar 2.54. Denah Istana Maimun 2014
Sumber : Diolah dari
36
Bangunan Ista
yang digunakan pada l Gam
Sum
G
Sum
G
Sum
36
Istana Deli memiliki tiga bentuk lebah bergant
da lebah bergantung adalah pucuk rebung. mbar 2.56. Atap Kuba dan atap Lima
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
Gambar 2.57. Lebah bergantung
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
Gambar 2.58. Lebah bergantung
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
36
gantung. Ornamen
37
Plafond pada istana
warna kuning dan disususn ve
Pada ruang ha
warna yang berciri kha
tersebut adalah ornam
Sum
Gam
Sum
37
na langkat adalah papan. Pada tangga utama
n disususn vertikal. Pada pinggir plafond diberi da
g hall atau ruang utama raja plafond di ukir orna
i khas melayu Deli. ornamen yang digunaka
namen bunga melur, kaluk pakis, dan kaluk pakis w Gambar 2.59. Lebah bergantung
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
ambar 2.60. Plafond pada tangga utama
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
37
ma plafond diberi
daun sayap.
ornamen dan diberi
kan pada plafond
kis wajik.
38
Elemen arsit
macam kolom yang t
beton terletak di depa
arsitektur Belanda.
Terdapat kol
yang terdiri dari dua
tersebut merupakan pe Gam
Sum
Sum
38
sitektur lainnya pada Istana Deli adalah kolom
g terdapat pada serambi Istana Deli. Kolom ya
depan bangunan Istana Deli, kolom ini sudh di
kolom yang terbuat dari kayu yang berbentuk
dua kolom bulat lalu di letakkan di antara kolom
n perpaduan arsitektur melayu Deli dan Kolonia ambar 2.61. Plafond pada ruang utama
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
Gambar 2.62. Kolom melayu Deli
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
38
kolom. Terdapat dua
yang terbuat dari
sudh dipengaruhi gaya
ntuk bulat. Kolom
kolom beton. Kolom
onial Belanda.
39
Pintu pada Ist
berfungsi sebagai vent
macam. Warna pada
Material pintu kayu ja
Sum
Gam
Sum
39
Istana Deli berbentuk persegi. Pada pintu terda
ventilasi pintu. Bentuk tebok pintu di Istana D
da pintu di Istana Deli yaitu warna kuning, hi
u jati.
Gambar 2.63. Kolom melayu Deli
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
ambar 2.64. Pintu samping Istana Deli
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
39
erdapat tebok yang
na Deli
bermacam-, hijaubermacam-, dan putih.
40
Jenis jendela
jenis tingkap digunaka
kamar baik raja maupun G
Sum
Gamba
Sum
40
ndela pada melayu Deli ada dua, yaitu tingkap dan
unakan pada kamar putri. Jenis kwari diguna
upun keluarga raja lainnya. Pada jendela juga te Gambar 2.65. Pintu dapur bersih
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
bar 2.66. Jendela tingkap pada kamar putri
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
40
dan kwari. Jendela
unakan pada seluh
a terdapat tebok.
41
Material dindi
Dinding diberi warna
ditempel di dinding. Gambar 2.
Gam
Sum
Gambar
Sum
41
dinding pada Istana Deli adalah papan yang di
rna kuning. pada dinding ruang utama terdapa
.
bar 2.67. Jendela kwari pada kamar keluarga sult
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
ambar 2.68. Dinding papan Istana Deli
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
bar 2.69. Ornamen Dinding papan Istana Deli
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
41
disususn vertikal.
pat ornamen yang sultan
i
42
Mater
ornamen dengan warna
Arah orienta
Belanda. material tangga
Bentuk dan ornamen p
G
42
terial lantai Istana Deli adalah marmer. Pada
arna biru,merah, hijau.
ntasi tangga utama Istana Deli sudah dipeng
angga beton dan marmer. Pada tangga terdapat
n papan tebukan di Istana Deli beragam. Gambar 2.70. Lantai Istana Deli
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
Gambar 2.71. Tangga utaman Istana Deli
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
42
Pada lantai diberi
ngaruhi arsitektur
pat papan tebukan.
43
Gambar 2.
Sum
Gambar 2.73.
Sum
Gambar 2.74.
Sum
43
r 2.72. Papan tebukan pada tangga Istana Deli
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
2.73. Papan tebukan pada serambi Istana Deli
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
2.74. Papan tebukan pada tangga Istana Deli
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
43
li
li
44 2.10. Arsitektur Mel
Pada tahun 1723, r
Tuanku Umar Johan.
Pada masa sul
Serdang mengalami ke
kota Galuh.
Gambar 2.75. Istana
Sum
Gambar 2.76. Istana
Sum
44 elayu Serdang
hun 1723, raja pertama kesultanan Serdang dipim
n.
sultan Sulaiman Syariful Alamsyah, sultan Serda
i kemakmuran. Tahun 1894 sulta Sulaiman istana stana Bogok sultan Serdang, Rantau Panjang, Pa
Deli Serdang 1728-1896
Sumber : Tembakaudeli.blogspot.com
stana Darul Arif, kota Galuh, Perbaungan
(1896-Sumber : Tembakaudeli.blogspot.com
44
pimpin oleh
rdang ke-V
stana Serdang ke , Pantai labu,
1896-1946)
45
Pada tahun 1901, sul
dikenal sebagai Mesji
Istana kesultana
2000 dibangun sebuah r Gam
Sum
Gambar 2.77. Ge
Sum
45
hun 1901, sultan Sulaiman juga mendirikan sebuah e
sjid Raya Sulaimaniyah.
tanan Serdang di hancurkan pada masa revolusi
buah replika istana Serdang di Sergai. ambar 2.78. Mesjid raya Sulaimaniyah
Sumber : Tembakaudeli.blogspot.com
2.77. Gerbang Istana Darul Arif, kota Galuh, Perbaun
Sumber : Tembakaudeli.blogspot.com
45
buah esjid yang
usi. Pada tahun ungan
46
Gam
Sum
Gamba
Sum
Gam
46
ambar 2.79. Replika Istana Serdang
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
mbar 2.80. Perspektif Istana Serdang
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
ambar 2.81. Denah replika Istana Serdang
Sumber : Diolah dari
47
Istana Serdang
denahnya. Terdapat le
Tiang pada ista
berbeda ukuran. Tiang
tiangnya terbuat dari be Gam
Sum
G
Sum
47
dang menggunakan bentuk atap Lima yang dap
t lebah bergantung pada lisplang atap.
istana Serdang berbentuk persegi. Terdapat dua
ang pada serambi terbuat dari kayu, dan pada rua
ri beton.
ambar 2.82. Atap lima Istana Serdang
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
Gambar 2.83. Lebah bergantung
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
47
dapat terlihat pada
dua tiang yang
ruang terbuka
48
Bentuk pintu I
pintu diberi ventilasi
namun terdapat perbed Ga
Sum
Gam
Sum
48
ntu Istana Serdang persegi dan pintu diberi war
asiyang berbentuk persegi. Bentuk jendela m
bedaan pada ventilasinya.
Gambar 2.84. Tiang Istana Serdang
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
ambar 2.85. Tiang beton Istana Serdang
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
48
arna hijau. Diatas
menyerupai pintu
49
Terdapat orna
keliling dinding. Lant
Sum
49
namen pada dinding Istana Serdang. Ornamen
ntai yang digunakan Istana Serdang adalah kera Gambar 2.86. Pintu Istana Serdang
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
Gambar 2.87. Jendela Istana Serdang
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
49
en tersebut dibuat
eramik biasa.
50
Tangga pada I
berorientasi pada sam Gam
Sumbe
Gam
Sumbe
Gambar 2.90. T
Sum
50
da Istana Serdang memiliki 2 arah orintasi, yait
samping jalan dan tangga kedua berorientasi pada ambar 2.88. Ornamen pada dinding
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
ambar 2.89. Lantai Istana Serdang
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
2.90. Tangga utama berorientasi pada samping j
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
50
aitu tangga utama
pada depan jalan.
ng jalan
51
Tangga terbua
papan tebukan. Papan t
Warna papan tebukan pa
bunga-bunga yang di t Gambar 2.
Sum
51
buat dari beton yang diberi lantai keramik. Pada t
an tebukan pada tangga Istana Serdang terbuat da
an pada Istana serdang adalah warna kuning. Te
di tempel-tempel pada dinding papan tebukan (g bar 2.91. Tangga berorientasi pada depan jalan
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
Gambar 2.92. Papan tebukan tangga
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
51
da tangga terdapat
at dari besi.
. Terdapat motif
n (gambar 2.92). n
52
Pada masa kerajaan, put
khusus. Tempat terse
tidur para putri raja ya
(gambar 2.93).
Tabel 2.1 akan mengg
Langkat, melayu Deli
Sum
52
n, putri-putri raja di di lindungi dan di tempatkan di
rsebut diberi nama maligai. Maligai merupakan ka
yang ditempatkan pada menara atau puncak ba
ggambarkan secara singkat elemen-elemen arsi
eli, dan melayu Serdang. Gambar 2.93. Maligai
Sumber : Dokumentasi pribadi (2015)
52
kan ditempat yang
kan kamar tempat
k bangunan Istana.
rsitektur melayu
53 No.
1
53 Elemen Arsitektur
Atap
Bentuk
Teban layar
Lebah bergantung
53
Tabel 2.1. Elemen Arsitektur Melayu La
Arsitektur Melayu Langkat
Lima
Pucuk rebung
53
u Langkat, Deli, dan Serdang
Arsitektur Melayu Deli
Kombinasi kuba dan lima
Tidak ada
Pucuk rebung
53 Arsitektur Melayu Serdang
Lima
Tidak ada
Pucuk rebung
54
2.
54
Plafond plafond
54
Bentuk kuba dari papan poly
54
Papan disusun vetikal
54
Asbes
55
3.
55
Daun sayap
Tiang
D
55
Ornamen
Tiang Bulat dari beton
Detail ornamen Pucuk Rebung
Tiang
55
Tidak ada
ang bulat dari kayu dengan kombinasi beton
Tiang beton
55
Tidak ada
Tiang persegi dari kayu
Tiang persegi dari beton
56
4.
56
Pintu Bentuk
Pe
Tebok
56
Persegi dari kayu bewarna cokela
Ornamen julun kacang
56
Persegi
Persegi
Ornamen bunga melur
56
Persegi
Tidak ada
57
5.
6.
57
Jendela
Bentuk
Tebok
Lantai Jenis material
57
Persegi
Ornamen bunga hutan
Keramik
57
Persegi
Marmer
57
Persegi
Keramik
58
7.
8
58
Dinding
Material
Dindi
Ornamen
Dindi
Tangga
58
inding bata dengan Ornamen pokok koloan
inding bata dengan Ornamen pucuk rebung
Dindi
Tangga Utama
58
Dinding papan
inding papan dengan ornamen bunga
Tangga Utama
58
Dinding bata
Tangga Utama
59 59
Papan tebukan
59
Tangga Samping
59 59
Tangga Samping
60
9.
10.
11.
12.
60
Panca persada
Maligai
-60
Tidak ada
Tampak Istana Langkat
Denah Istana Langkat
60
Tidak ada
Tampak Istana Deli
Denah Istana Deli
60
Tidak ada
Tampak Istana Serdang
Denah Istana Serdang
61 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Penelitian yang
menunjang penggunaan metode kualitatif dengan pendekatan ilustrasi
deskriptif-interpretatif ( Silaen S. dan Widiyono (2013 ).
3.2. Variabel Penelitian
Variabel pada penelitian ini dilakukan dengan 2 cara. cara yang pertama
dengan penerapan teori berdasarkan tinjauan pustaka. Cara yang kedua dengan
mencermati objek penelitian secara visual. Adapun variabel dalam penelitian ini
sebagai berikut :
Variabel Sub variabel Metode
Jenis penerapan
regionalsime arsitektur
Concrete regionalism Abstract regionalism
Observasi langsung (pengambilan gambar), sketsa ulang tampak bangunan DPRD Langkat kemudian menyesuaikan dengan kajian pustaka Taksonomi
regionalisme arsitektur
Pola Derivatif Pola Transformatif
Observasi langsung (pengambilan gambar), sketsa ulang denah bangunan DPRD Langkat kemudian menyesuaikan dengan kajian pustaka Elemen arsitektur
kantor DPRD Langkat
Atap :
Bentuk bubungan atap Teban layar
Lebah bergantung Plafond
Dinding : Jendela
Observasi langsung (pengambilan gambar), sketsa denah dan tampak kantor DPRD Langkat kemudian menyesuaikan dengan kajian pustaka Tabel 3.1 Variabel penelitian
62 Pintu
Tiang Lantai Tangga
Papan tebukan Wujud arsitektur pada
kantor DPRD Langkat
Bentuk bangunan Observasi langsung (pengambilan gambar), sketsa ulang denah dan tampak bangunan DPRD Langkat kemudian menyesuaikan dengan kajian pustaka
Ekspresi wujud arsitektur pada Kantor DPRD Langkat
Komposisi arsitektur Warna
Observasi langsung (pengambilan gambar), sketsa ulang denah dan tampak bangunan DPRD Langkat kemudian menyesuaikan dengan kajian pustaka.
3.3. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan metode
kualitatif. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri ada 2 bagian yaitu
data primer dan data sekunder. Tabel 3.2 memperlihatkan metode pengumpulan
data pada penelitian ini.
Jenis Data Data Metode Pengumpulan Data
Data Primer
Gambaran umum bentuk kantor DPRD.
Elemen- elemen kantor DPRD beserta detail Arsitekturnya.
Observasi langsung (pengambilan gambar) Kantor DPRD Langkat. Sktesa atau gambar ulang
site plan kantor DPRD Langkat.
Sktesa atau gambar ulang denah, tampak kantor DPRD Langkat.
Gambaran umum bentuk Observasi langsung Tabel 3.2 Metode pengumpulan data
63
Istana melayu Langkat, Istana melayu Deli, dan Istana melayu Serdang. Elemen- elemen Istana
melayu Langkat, Istana melayu Deli, dan Istana melayu Serdang.
(pengambilan gambar) bangunan Istana melayu Langkat, Istana melayu Deli, dan Istana melayu Serdang. Sketsa atau gambar ulang
denah dan tampak bangunan Istana melayu Langkat, Istana melayu Deli, dan Istana melayu Serdang.
Data Sekunder
Tinjauan pustaka tentang Regionalisme.
Mencari dan memilih tinjauan pustaka tentang regionalisme secara umum dari jurnal dan artikel.
Tinjauan pustaka tentang regionalisme dalam arsitektur
Mencari dan memilih tinjauan pustaka tentang regionalisme dalam arsitektur dari buku, jurnal, dokumen, dan artikel. Tinjauan pustaka tentang
arsitektur bangunan melayu Langkat, melayu Deli, dan melayu Serdang.
Mencari dan memilih tinjauan pustaka tentang arsitektur bangunan melayu Langkat, melayu Deli, dan melayu Serdang dari buku, dokumen, dan artikel.
Rancangan Peraturan daerah kabupaten Langkat tentang bangunan gedung.
Mendapatkan arsip langsung tentang peraturan daerah dari pihak karya cipta di kantor PU Langkat.
3.4. Kawasan Penelitian
Kantor DPRD Langkat terletak di jalan T. Amir Hamzah No.2 Stabat,
kabupaten Langkat. Bangunan eksisiting yang berada di kawasan kantor tersebut
didominasi oleh gedung-gedung pemerintahan seperti, kantor bupati Langkat,
kantor dinas pekerjaan umum, badan perencanaan dan pengembangan daerah, dan
alun-alun Kota Stabat.
64
Gambar 3.1 Peta kabupaten Langkat
Sumber : Peta-langkat-dan-sejarah-langkat.html
Gambar 3.2. Skematik jarak kawasan penelitian
Sumber : Diolah dari google maps 39.4 KM 426 KM
133 KM
Stabat
(Jl. T.amir
hamzah no.2)
Medan Kabupaten
karo
Aceh Selat
malaka
65 3.5. Metode Analisa Data
Metode yang digunakan untuk menganalisa data berupa deskripsi
mengenai data yang diperoleh. Adapun tahapan analisa untuk menemukan hal apa
yang mempengaruhi kantor DPRD Langkat sebagai regionalisme arsitektur
melayu yaitu sebagai berikut :
1. Mengumpulkan data-data tentang regionalisme arsitektur berupa jurnal,
dokumen, buku. Setelah itu memilih teori yang sesuai dalam penelitian.
2. Mengumpulkan data-data tentang arsitektur melayu yaitu melayu Langkat,
melayu Deli, melayu Serdang. Data ditemukan pada buku dan observasi
langsung dengan wawancara kepada ketua adat dan pengambilan gambar.
Kemudian melakukan sketsa atau penggambaran ulang Istana melayu
Langkat, Deli, dan Serdang berupa denah dan tampak.
3. Melakukan survei lapangan dengan pengambilan gambar arsitektur kantor
DPRD Langkat. Gambar yang diambil berupa elemen-elemen bangunan,
eksterior, dan interior. Kemudian melakukan sketsa atau penggambaran
ulang bangunan DPRD Langkat berupa denah dan tampak.
4. Setelah semua data berhasil dikumpulkan, maka dilakukan
pengelompokkan data untuk dianalisa
5. Menganalisa data yang di dapat pada hasil observasi langsung yang
disesuaikan dengan kajian pustaka yang telah dikumpulkan.
6. Pada akhir analisis akan disusun kesimpulan bagaimana kantor DPRD
Langkat menerapkan regionalisme arsitektur melayu dan faktor apa saja
yang mempengaruhinya sebagai regionalisme arsitektur melayu.
66 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Sejarah Kawasan Penelitian
Pada masa pemerintahan Belanda, kabupaten Langkat masih berstatus
kesultanan (kerajaan) dengan pimpinan pemerintah oleh Morry Agesten dan
berkedudukan di Binjai. Pemerintahan kesultanan di Langkat dibagi atas tiga
kepala Luhak yaitu :
1. Luhak Langkat Hulu, yang berekedudukan di Binjai yang terdiri atas
beberapa wilayah yaitu, kejuruan Selesai, Kejuruan Bahorok, Kejeruan Sei
Bingai, Distrik Kwala, dan Distrik Salapian.
2. Luhak Langkat Hilir, yang berkedudukan di Tanjung Pura yang terdiri atas
beberapa wilayah yaitu, Kejuruan Stabat, Kejuruan Bingai, Kejuruan
Secanggang, Distrik Padang Tualang, Distrik Cempa, Distrik Pantai
Cermin.
3. Luhak Teluk Haru, yang berkedudukan di Pangkalan Berandan yang terdiri
atas beberapa wilayah yaitu, Kejeruan Besitang meliputi Langkat Tamiang
dan Salahaji, Distrik Pulau Kampai, Distrik Sei Lepan.
Pada awal kemerdekaan Republik Indonesia, Kabupaten Langkat tetap
dengan status keresidenan atau kepala pemerintahan dijabat oleh Tengku Amir
Hamzah. Pada tahun 1947-1949, terjadi agresi militer Belanda I, dan II, dan
Kabupaten Langkat terbagi dua, yaitu Pemerintahan Negara Sumatera Timur
(NST) yang berkedudukan di Binjai dan Negara Kesatuan Republik Indonesia
yang berkedudukan di Pangkalan Berandan. Berdasarkan PP No.7 tahun 1965
67
Gambar 4.1 Peta Kapubaten Langkat
Sumber : www.Langkatkab.go.id
68
Gambar 4.2. Peta Stabat
Sumber : Dioalah dari peta kabupaten Langkat Kecamatan Secanggang
Deli Serdang
Binjai Kecamatan
Wampu