• Tidak ada hasil yang ditemukan

UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGS A W PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS IV SD NEGERI 1 JEMBRANA TAHUN PELAJARAN 2012/2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGS A W PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS IV SD NEGERI 1 JEMBRANA TAHUN PELAJARAN 2012/2013"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

(1)

UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE

JIGSAW PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS IV SD NEGERI 1 JEMBRANA TAHUN PELAJARAN 2012/2013

Oleh

MUHAMAD BAROH

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN

Pada

Jurusan Ilmu Pendidikan

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRAK

UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE

JIGSAW PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS IV SD NEGERI 1 JEMBRANA TAHUN PELAJARAN 2012/2013

Oleh

MUHAMAD BAROH

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas IV SD Negeri 1 Jembrana. Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw.

Metode penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan tes menggunakan lembar observasi aktivitas siswa dan kinerja guru serta soal tes hasil belajar disetiap siklusnya. Selanjutnya data dianalisis dengan cara analisis kualitatif dan analisis kuantitatif.

Hal ini dapat dilihat dari rata-rata aktivitas siswa pada siklus I adalah 52,9 dan mengalami peningkatan pada siklus II menjadi 79,8. Sedangkan nilai rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I adalah 59,17 dan mengalami peningkatan pada siklus II menjadi 77,92. Ketuntasan siswa pada siklus I hanya mencapai 58,33% (14 siswa) dan meningkat pada siklus II menjadi 100% (24 siswa).

(3)
(4)
(5)
(6)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 3

C. Rumusan Masalah ... 3

D. Tujuan Penelitian ... 4

E. Manfaat Penelitian ... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) ... 6

1. Pengertian IPS ... 6

2. Fungsi IPS di SD ... 7

3. Tujuan IPS di SD ... 7

B. Belajar ... 8

1. Pengertian Belajar... 8

2. Aktivitas Belajar ... 9

3. Hasil Belajar ... 10

C. Model-model Pembelajaran IPS ... 12

1. Model Inkuiri ... 12

2. Model Pembelajaran VCT ... 13

3. Pendekatan Ilmu Teknologi dan Masyarakat ... 14

(7)

D. Pembelajaran Kooperatif ... 18

E. Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw ... 22

1. Pengertian ... 22

2. Kelebihan dan Kelemahan Kooperatif Tipe Jigsaw ... 23

3. Prosedur Pelaksanaan Metode Jigsaw ... 23

F. Hipotesis Tindakan ... 24

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian ... 25

B. Pelasanaan Penelitian ... 26

C. Teknik Pengumpulan Data ... 27

D. Alat Pengumpulan Data ... 28

E. Teknik Analisis Data ... 28

F. Langkah – langkah Penelitian Tindakan Kelas ... 30

G. Indikator Keberhasilan ... 38

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Profil SD Negeri 1 Jembrana ... 39

B. Diskripsi Per Siklus ... 40

1. Siklus I ... 40

2. Siklus II ... 45

C. Pembahasan ... 49

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 54

B. Saran ... 54

(8)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

4.1. Aktivitas Belajar Siswa Siklus I ... 41

4.2. Kinerja Guru pada Pembelajaran Siklus I ... 42

4.3. Hasil Belajar Siswa Siklus I ... 43

4.4. Aktivitas Belajar Siswa Siklus II ... 46

4.5. Kinerja Guru pada Pembelajaran Siklus II... 47

4.6. Hasil Belajar Siswa Siklus II ... 48

4.7. Perbandingan Aktivitas Siklus I dan Siklus II ... 50

4.8. Perbandingan Nilai Rata-rata Aktivitas Siswa Tiap Siklus ... 51

(9)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

3.1. Siklus Penelitian Tindakan Kelas ... 14

4.1. Grafik Peningkatan Aktivitas Siswa Tiap Siklus ... 50

4.2. Grafik Rata-rata Aktivitas Siswa Tiap Siklus ... 51

(10)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Paradigma baru tentang proses belajar yang ideal adalah pembelajaran

yang berpusat pada aktivitas siswa (activity based), yang melibatkan

keseluruhan aspek seperti: fisik dan emosional, multi indrawi, dan bersifat

fleksibel, gembira serta adanya kerjasama antar siswa untuk mencapai tujuan

belajar. Peran guru lebih bersifat sebagai fasilitator dan pendamping, tidak

sebagai orang yang serba tahu tentang materi pembelajaran.

Tantangan guru saat ini adalah mewujudkan proses pembelajaran yang

melibatkan siswa secara aktif dan kreatif, mengingat budaya pembelajaran

konvensional umumnya masih terus berjalan dalam pola belajar siswa sejak

siswa memasuki bangku Sekolah Dasar. Sebagai fasilitator guru harus

mempunyai banyak kecakapan dalam memilih strategi, media, alat dan

sumber belajar yang tepat sesuai dengan karakteristik siswanya. Selain itu,

suasana dalam pembelajaran harus benar–benar kondusif agar siswa

termotivasi dan aktif dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini hasil belajar

tidak akan tercapai secara maksimal jika siswa tidak mempunyai motivasi

belajar.

Rendahnya aktivitas dan hasil belajar siswa dikarenakan pola

(11)

guru lebih sering terpaku pada buku serta penyajian materi yang bersifat

naratif dan tidak memperhatikan efisiensi waktunya sehingga membuat siswa

jenuh dan tidak dapat fokus terhadap pembelajaran yang sedang berlangsung.

Terlebih lagi guru belum menggunakan media yang menunjang proses

pembelajaran dan guru belum menggunakan model pembelajaran kooperatif

tipe Jigsaw. Ketika diadakan diskusi kelas maka siswa yang aktif melakukan

presentasi, berargumentasi dan menjawab pertanyaan hanya beberapa siswa

saja sedang yang lain sibuk dengan urusan masing-masing seperti:

mengerjakan pekerjaan yang tidak terkait dengan permasalahan yang sedang

dibahas dan ngobrol.

Hal tersebut di ketahui dari hasil wawancara dengan beberapa siswa

yang menyatakan bahwa mata pelajaran IPS membosankan, tidak menarik

dan membuat jenuh karena banyak hafalan yang harus selalu dibaca.

Berdasarkan temuan – temuan tersebut, penulis mencari upaya

pemecahan rendahnya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran yang

selama ini terjadi. Harapannya semua siswa dapat termotivasi dan terlibat

aktif dalam proses pembelajaran sehingga suasana belajar menjadi bergairah

dan menyenangkan dan mendapatkan hasil yang maksimal. Untuk

menanggulangi masalah tersebut, guru harus bisa menciptakan suasana

pembelajaran yang dapat melibatkan siswa secara aktif dalam proses

pembelajaran.

Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw merupakan salah satu

sarana guna menunjang perbaikan proses pembelajaran tersebut, untuk itu

(12)

“Upaya Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa menggunakan

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Peda Mata Pelajaran IPS Kelas

IV SD Negeri 1 Jembrana Tahun Pelajaran 2012/ 2013”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka berbagai masalah

dapat diidentifikasi sebagai berikut :

1. Penyampaian materi belum cukup menarik sehingga siswa kurang

termotivasi dalam proses belajar.

2. Hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS di kelas IV SD Negeri 1

Jembrana masih rendah.

3. Belum digunakannya model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dalam

pembelajaran IPS di kelas IV SD Negeri 1 Jembrana.

4. Pembelajaran di kelas IV SD Negeri 1 Jembrana masih bersifat teacher

center (berpusat pada guru).

5. Penggunaan waktu penyajian materi IPS yang kurang efisien.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, dalam penelitian ini perlu

dirumuskan permasalahan yang akan diteliti antara lain sebagai berikut:

1. Apakah aktivitas siswa kelas IV SD Negeri 1 Jembrana dalam pelajaran

IPS dapat meningkat melalui penerapan model pembelajaran kooperatif

(13)

2. Apakah model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan

hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS di kelas IV SD Negeri 1

Jembrana tahun 2012-2013?

D. Tujuan Penelitian

1. Untuk meningkatkan aktivitas belajar Siswa Kelas IV SD Negeri 1

Jembrana dalam pelajaran IPS melalui penerapan model pembelajaran

kooperatif dengan tipe jigsaw.

2. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa Kelas IV SD Negeri 1

Jembrana dalam pelajaran IPS melalui penerapan model pembelajaran

kooperatif dengan tipe jigsaw.

E. Maanfaat Penelitian

Adapun hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi:

1. Siswa

a. Dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa di kelas IV SD Negeri

1 Jembrana

b. Dapat meningkatkan hasil belajar siswa di kelas IV SD Negeri 1

Jembrana.

2. Guru

Dapat memperluas wawasan dan pengetahuan guru mengenai

penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, serta

mengembangkan kemampuan profesional guru dan bahan masukan

dalam meningkatkan kualitas pembelajaran IPS di kelasnya.

(14)

Dapat memberikan kontribusi yang berguna untuk

meningkatkan kualitas pendidikan di SD Negeri 1 Jembrana,

sehingga memiliki output yang berkualitas dan kompetitif.

4. Peneliti

Menambah pengetahuan serta wawasan peneliti dalam

menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada

pembelajaran IPS, serta dapat memecahkan permasalahan yang

(15)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) 1. Pengertian IPS

Menurut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan

Sosial yaitu: Merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai

dari SD/MI/SDLB sampai SMP/Mts/SMPLB mengkaji seperangkat

peristiwa, fakta, konsep dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial

dan terdiri dari materi geografi, sejarah, sosiologi dan ekonomi sehingga

siswa menjadi warganegara Indonesia yang demokrasi dan

bertanggungjawab, serta menjadi warga dunia yang cinta damai.

(Depdiknas, 2007:18)

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah suatu paduan dari pada

sejumlah ilmu-ilmu sosial dan ilmu lainnya yang tidak terikat oleh

ketentuan/disiplin/struktur ilmu tertentu melainkan bertautan dengan

kegiatan-kegiatan pendidikan yang berencana dan sistematis untuk

kepentingan program pengajaran sekolah dengan tujuan memperbaiki,

mengembangkan dan memajukan hubungan- hubungan kemanusiaan

kemasyarakatan Keller C. R. (dalam Sapriya, 2006:6).

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sebagai ilmu pengetahuan, baru

(16)

SMA) dan tahun 1976 (SPG). Mata pelajaran ini berperan

mengfungsionalkan dan merealisasikan ilmu-ilmu sosial yang bersifat

teoritik kedalam dunia kehidupan nyata di masyarakat. Oleh karenanya

secara substansi materinya, IPS mengintegrasikan dan

mengorganisasikannya secara pedagogik dari berbagai ilmu sosial yang

diperuntukan untuk pembelajaran di tingkat persekolahan, sehingga

memulai pembelajaran IPS diharapkan siswa mampu membawa dirinya

secara dewasa dan bijak dalam kehidupan nyata, melalui pembelajaran

IPS diharapkan siswa tidak hanya mampu mengasai teori teori

kehidupan dalam masyarakat tapi mampu menjalani kehidupan nyata di

masyarakat sebagai insan sosial.

2. Fungsi IPS di SD

Pembelajaran IPS di sekolah dasar berfungsi mengembangkan

pengetahuan dalam kehidupan sehari – hari yang harus dikembangkan

sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang

semakin canggih guna menciptakan generasi yang mandiri dan

sejahtera, dan untuk menumbuhkan rasa cinta dan bangga terhadap

perkembangan masyarakat Indonesia.

3. Tujuan IPS di SD

Adapun tujuan pembelajaran IPS di SD adalah untuk

mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan dasar siswa yang

(17)

Berdasarkan peraturan menteri pendidikan nasional (Permendiknas)

Nomor 22 tahun 2006 mata pelajaran IPS bertujuan agar siswa memiliki

kemampuan sebagai berikut:

a. Mengenal konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya.

b. Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, ketrampilan dalam kehidupan sosial.

c. Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai – nilai sosial dan kemanusiaan.

d. Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, ditingkat lokal, nasional, dan global.

( diposkan: djokoprihatin.blogsport.com.,kamis,agustus 2011)

B. Belajar

1. Pengertian Belajar

Belajar adalah suatu proses perubahan dalam diri seseorang yang

ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah

laku seperti peningkatan pengetahuan, kecakapan, daya pikir, sikap,

kebiasaan, dan lain-lain (Fajar, 2009: 10). Menurut Fathurrohman &

Sutikno (2010: 6) belajar adalah “perubahan” yang terjadi di dalam diri

seseorang setelah melakukan aktivitas tertentu. Winataputra, dkk. (2008:

1.14) berpendapat bahwa belajar adalah perubahan perilaku individu

sebagai akibat dari proses pengalaman baik yang dialami ataupun sengaja

dirancang.

Bruner (Trianto, 2010: 15) menyatakan bahwa belajar adalah

suatu proses aktif dimana siswa siswa membangun (mengkonstruk)

pengetahuan baru berdasarkan pada pengalaman/pengetahuan yang sudah

(18)

perilaku tersebut dilakukan secara sadar dan bersifat menetap, perubahan

perilaku tersebut meliputi perubahan dalam hal kognitif, afektif, dan

psikomotor (Hernawan, dkk. 2007: 2).

Berdasarkan pengertian belajar di atas, penulis dapat

menyimpulkan bahwa belajar adalah kegiatan seseorang yang

memberikan perubahan tingkah laku dari aspek pengetahuan, sikap serta

keterampilan, dan merupakan hasil pengalaman yang diperolehnya.

2. Aktivitas Belajar

Aktivitas belajar merupakan prinsip atau asas yang sangat penting

dalam interaksi belajar mengajar Sardiman, 2006:95 menyatakan bahwa” Pada prinsipnya belajar adalah berbuat, mengubah tingkah laku

menjadi melakukan kegitan. Tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas‟‟.

Juhri (2006:81) menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses memerlukan aktivitas, artinya orang yang belajar harus ikut serta dalam proses pembelajaran yang dilakukan secara aktif. Orang yang belajar itu mempelajari apa saja yang dilakukannya, apa yang belajar itu mempelajari apa saja yang dilakukannya, apa yang dilaksanakannya, dan apa yang dipikirkannya. Tidak jauh dengan pernyataan pertama, namun disini tidak sekedar melakukan tetapi ditambah dengan perasaan karena sebenarnya antara emosional dan intelektual mempunyai kaitan yang sangat erat dengan sebutan EQ.

Menurut Dimyati dan Mujiono (1994: 42)” Prinsip- prinsip

belajar berkaitan dengan perhatian, motivasi, keaktifan, dan keterlibatan

langsung atau berpengalaman, pengulangan tantangan, balikan dan

penguatan serta perbedaan individual .‟‟ Keaktifan merupakan salah satu

(19)

kecilnya hasil belajar, tidak dapat dipungkiri betapa pentingnya aktivitas

belajar.

Menurut Sardiman (2006: 95) jenis- jenis aktivitas belajar antara lain dapat di golongkan sebagai berikut:

1. Visual activities, yang termasuk didalamnya membaca, memperhatikan gambar demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain.

2. Oral activitien, seperti menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, instruksi.

3. Listening activities, sebagai contoh: mendengarkan uraian, percakapan, diskusi, music, pidato.

4. Writing activities, seperti menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin.

5. Drawing activities, misalnya: menggambar, membuat grafik, peta, diagram.

6. Motor activities, yang termasuk didalamnya antara lain: melakukan percobaan, membuat konstruksi, model mereparasi, bermain, berkebun, berternak.

7. Mental activities, sebagai contoh menanggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan.

8. Emotional activities, seperti menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah,berani, tenang, gugup.

3. Hasil Belajar

Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui

kegiatan belajar. Belajar merupakan suatu bentuk perubahan tingkah laku

yang relatif menetap. Anak yang berhasil belajar adalah yang berhasil

mencapai tujuan pembelajaran.( Abdurrahman 2003:37).

Larasati (2005 : 11) mengemukakan bahwa prestasi belajar

merupakan hasil yang dicapai seseorang setelah melakukan suatu proses

belajar. Hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku kognitif, tingkah

laku afektif dan tingkah laku psikomotorik. Dengan sumber yang sama

(20)

manusia. Manusia selalu berusaha mengejar prestasi menurut bidang dan

kemampuan masing-masing. Suatu prestasi belajar tidak hanya sebagai

indikator, keberhasilan dalam bidang studi tertentu, tetapi juga sebagai

indikator kualitas institusi pendidikan.

Menurut Arikonto (1992), Sebuah tes yang dapat dikatakan baik sebagai alat pengukur harus memilki persyaratan tes, yaitu memiliki: 1. Validitas

Sebuah tes disebut valid apabila tes tersebut dapat tepat mengukur apa yang hendak diukur. Contoh, untuk mengukur partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar, bukan diukur melalui nilai yang diperoleh pada waktu ulangan, tetapi dilihat melalui: kehadiran, terpusatnya perhatian pada pelajaran, ketepatan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru dalam arti relevan pada permasalahannya.

2. Reliabilitas

Berasal dari kata asal reliable yang artinya dapat dipercaya. Tes dapat dikatakan dapat dipercaya jika memberikan hasil yang tetap apabila diteskan berkali- kali. Sebuah tes dikatakan reliabel apabila hasil-hasil tes tersebut menunjukan ketetapan. Jika dihubungkan dengan validitas, maka: Validitas adalah ketepatan dan reliabilitas adalah ketetapan. 3. Objektivitas

Sebuah tes dikatakan memiliki objektivitas apabila dalam melaksanakan tes itu tidak ada faktor subjektif yang mempengaruhi. hal ini terutama terjadipada sistem scoringnya. Apabila dikaitkan dengan reliabilitas maka objektivitas menekankan ketetapan pada sistem scoringnya, sedangkan reliabilitas menekankan ketetapan dalam hasil tes.

4. Prakitikabilitas

Sebuah tes dikatakan memiliki praktibilitas yang tinggi apabila tes tersebut bersifat praktis dan mudah pengadministrasiannya. tes yang baik adalah yang mudah dilaksanakan, mudah pemeriksaannya, dan dilengkapi dengan petunjuk- petunjuk yang jelas.

5. Ekonomis

Yang dimaksud ekonomis disini ialah bahwa pelaksanaan tes tersebut tidak membutuhkan ongkos atau biaya yang mahal, tenaga yang banyak, dan waktu yang lama.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, penulis menyimpulkan

bahwa hasil belajar yaitu perubahan dalam diri siswa setelah memperoleh

(21)

keterampilan yang dimilikinya, dan hasil belajar tersebut didapat dari soal

tes yang diberikan oleh guru kepada siswa.

C. Model-model Pembelajaran IPS

Dalam pembelajaran IPS terdapat beberapa model pembelajaran, antara

lain:

1.Model Inkuiri

Pelaksanaan inkuiri di dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial

dirasionalisasi pada pandangan dasar bahwa dalam model pembelajaran

tersebut, siswa didorong untuk mencari dan mendapatkan informasi

melalui kegiatan belajar mandiri. Model inkuiri pada hakekatnya

merupakan penerapan metode ilmiah khususnya di lapangan Sains,

namun dapat dilakukan terhadap berbagai pemecahan problem sosial.

Savage Amstrong mengemukakan bahwa model tersebut secara luas

dapat digunakan dalam proses pembelajaran Social Studies (Savage and

Amstrong, 1996).

Cleaf dalam Putrayasa (2009: 2) menyatakan bahwa inkuiri

adalah salah satu strategi yang digunakan dalam kelas yang berorientasi

proses, inkuiri merupakan sebuah strategi pengajaran yang berpusat

pada siswa, yang mendorong siswa untuk menyelidiki masalah dan

menemukan informasi.

(22)

kesimpulan jawaban atau generalisasi, dan (5) mengaplikasikan kesimpulan atau generalisasi dalam situasi baru.

Dari beberapa pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa

model inkuiri adalah model pembelajaran yang menekankan kepada

siswa untuk lebih aktif dalam pembelajaran, dimana siswa dapat

menemukan atau meneliti masalah berdasarkan fakta untuk

memperoleh data, sedangkan guru hanya sebagai fasilitator dan

pembimbing siswa dalam belajar.

2. Model Pembelajaran Value Clarification Technique (VCT)

VCT adalah salah satu teknik pembelajaran yang dapat memenuhi

tujuan pancapaian pendidikan nilai. Djahiri (1979: 115) mengemukakan

bahwa Value Clarification Technique, merupakan sebuah cara

bagaimana menanamkan dan menggali atau mengungkapkan nilai-nilai

tertentu dari diri siswa. Karena itu, pada prosesnya VCT berfungsi

untuk: a) mengukur atau mengetahui tingkat kesadaran siswa tentang

suatu nilai; b) membina kesadaran siswa tentang nilai-nilai yang

dimilikinya baik yang positif maupun yang negatif untuk kemudian

dibina kearah peningkatan atau pembetulannya; c) menanamkan suatu

nilai kepada siswa melalui cara yang rasional dan diterima siswa

sebagai milik pribadinya. Dengan kata lain, Djahiri (1979: 116)

menyimpulkan bahwa VCT dimaksudkan untuk “melatih dan membina

siswa tentang bagaimana cara menilai, mengambil keputusan terhadap

suatu nilai umum untuk kemudian dilaksanakannya sebagai warga

(23)

Dari pendapat diatas dapat penulis simpulkan bahwa model

pembelajaran VTC adalah model pembelajaran untuk melatih dan

membina siswa tentang bagaimana cara menilai, mengambil keputusan

terhadap suatu masalah.

3. Pendekatan Ilmu Teknologi dan Masyarakat (ITM)

Pendekatan ITM (Ilmu, Teknologi, dan Masyarakat) atau juga

disebut STS (Science-Technology-Society) muncul menjadi sebuah

pilihan jawaban atas kritik terhadap pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial

yang bersifat tradisional (texbook), yakni berkisar masih pada pengajaran

tentang fakta-fakta dan teori-teori tanpa menghubungkannya dengan

dunia nyata yang integral. Robert E Yeger yang memasukkan ilmu,

teknologi dan masyarakat (ITM) baik sebagai bidang penerapan dan

hubungan, kreativitas dan sikap, maupun konsep dan proses.

Menurut Remy dalam http://abeng4531.blogspot.com mengemukakan konsep ITM memberikan konstribusi secara langsung terhadap misi pokok IPS, khususnya dalam mempersiapkan warga negara yang : 1. memahami ilmu pengetahuan di masyarakat,

2. pengambilan keputusan warga negara, 3. membuat hubungan antar pengetahuan

4. mengingatkan generasi pada sejarah bangsa-bangsa beradab.

Dari pendapat diatas dapat penulis simpulkan bahwa ilmu,

teknologi dan masyarakat (ITM) merupakan istilah yang diterapkan

sebagai upaya untuk memberikan wawasan kepada siswa secara nyata

dalam mengkaji ilmu pengetahuan. Konsep ITM mencakup keseluruhan

spektrum tentang peristiwa-peristiwa kritis dalam proses pendidikan,

(24)

serta penampilan guru. Ciri dasar keberadaan ITM adalah lahirnya warga

negara yang berpengetahuan yang mampu memecahkan

masalah-masalah krusial dan mengambil tindakan secara efisien dan efektif.

4. Model Role Playing

Role Playing adalah salah satu model pembelajaran yang perlu

menjadi pengalaman belajar siswa, terutama dalam konteks pembelajaran

Pengetahuan Sosial dan Kewarganegaraan didalamnya. Sebagai langkah

teknis, role playing sendiri tidak jarang menjadi pelengkap kegiatan

pembelajaran yang dikembangkan dengan stressing model pendekatan

lainnya, seperti inkuiri, ITM, Portofolio, dan lainnya.

Secara komprehensif makna penggunaan role playing dikemukakan George Shaftel (Djahiri, 1978: 109) antara lain :

a. untuk menghayati sesuatu/hal/kejadian sebenarnya dalam realitas kehidupan.

b. agar memahami apa yang menjadi sebab dari sesuatu serta bagaimana akibatnya;

c. untuk mempertajam indera dan perasaan siswa terhadap sesuatu; d. sebagai penyaluran/pelepasan tensi (kelebihan energi psykhis) dan

perasaan-perasaan;

e. sebagai alat diagnosa keadaan;

f. ke arah pembentukan konsep secara mandiri.

Dalam role playing, siswa dikondisikan pada situasi tertentu di luar

kelas, meskipun saat itu pembelajaran terjadi di dalam kelas. Selain itu,

role playing sering kali dimaksudkan sebagai suatu bentuk aktivitas

dimana pembelajar membayangkan dirinya seolah-olah berada di luar

kelas dan memainkan peran orang lain (Basri Syamsu, 2000 dalam

(25)

Dari bererapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa metode role

playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui

pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi

dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh

hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari

satu orang, hal itu bergantung kepada apa yang diperankan.

5. Model Portofolio

Protofolio dalam pendidikan mulai dipergunakan sebagai salah satu

jenis model penilaian (Assesment) yang berbasis produk, yakni penilaian

yang didasarkan pada segala hasil yang dapat dibuat atau ditunjukan siswa,

kemudian dihimpun dalam sebuah „map jepit‟ (portofolio) untuk dijadikan

bahan pertimbangan guru dalam memberikan asesmen otentik terhadap

kinerja siswa.

Sapriya Winataputra, 2002: 1.16 menegaskan bahwa: “portofolio

merupakan karya terpilih kelas/siswa secara keseluruhan yang bekerja

secara kooperatif membuat kebijakan publik untuk membahas pemecahan

terhadap suatu masalah kemasyarakatan”. Makna pembelajaran berbasis

portofolio dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial adalah

memperkenalkan kepada siswa dan membelajarkan mereka “pada metode

dan langkah-langkah yang digunakan dalam proses politik”

kewarganegaraan / kemasyarakatan.

Dari pendapat diatas dapat penulis simpulkan bahawa model

(26)

segala hasil yang dibuat atau ditunjukkan siswa yang kemudian dihimpun

untuk dijadikan bahan pertimbangan guru terhadap kinerja siswa.

6. Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)

Cooperative learning dapat diartikan suatu model pembelajaran

yang menekankan siswa belajar dan bekerja dalam kelompok– kelompok

kecil secara kolaboratif terdiri dari 4 sampai 6 orang dengan struktur

kelompoknya yang bersifat heterogen. Selanjutnya dikatakan pula,

keberhasilan belajar dari kelompok tergantung pada kemampuan dan

aktivitas anggota kelompok, baik secara kelompok (slavin dalam Etin

Solihatin 1984: 4). Falsafah yang mendasari model pembelajaran

kelompok adalah falsafah homo homini socius yang menegaskan bahwa

manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Kerjasama menjadi

kebutuhan teramat penting bagi kelangsungan hidup. Tanpa kerjasama

tidak ada individu, keluarga, masyarakat atau sekolah(Lie, 2002:27).

Dalam implementasinya, cooperative learning tidak sekedar belajar

kelompok atau kelompok kerja, karena belajar dalam model cooperative

learning harus ada “Struktur , dorongan dan tugas yang bersifat

cooperative” sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka

dan hubungan– hubungan yang bersifat interdependensi yang efektif

diantara anggota kelompok. Disamping itu pola hubungan seperti itu

memungkinkan timbulnya persepsi yang positif tentang apa yang dapat

mereka lakukan untuk berhasil berdasarkan kemampuan dirinya secara

individual dan sumbangsih dari anggota lainnya selama mereka belajar

(27)

learning menempatkan siswa sebagai bagian dari satu sistem kerjasama

dalam mencapai suatu hasil yang optimal dalam belajar (Stahl dalam Etin

Solihatin (1994:5).Model pembelajarn ini berangkat dari asumsi mendasar

dalam kehidupan masyarakat, yaitu “ Getting better together” atau “raihlah yang lebih baik secara bersama sama” (Slavin:1992).

Dari model – model pembelajaran diatas yang penulis gunakan

adalah model pembelajaran kooperatif ( Cooperative Learning).

D. Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)

Cooperative learning dapat diartikan suatu model pembelajaran

yang menekankan siswa belajar dan bekerja dalam kelompok– kelompok

kecil secara kolaboratif terdiri dari 4 sampai 6 orang dengan struktur

kelompoknya yang bersifat heterogen. Selanjutnya dikatakan pula,

keberhasilan belajar dari kelompok tergantung pada kemampuan dan

aktivitas anggota kelompok, baik secara kelompok (slavin dalam Etin

Solihatin 1984:4). Falsafah yang mendasari model pembelajaran kelompok

adalah falsafah homo homini socius yang menegaskan bahwa manusia

pada dasarnya adalah makhluk sosial. Kerjasama menjadi kebutuhan

teramat penting bagi kelangsungan hidup. Tanpa kerjasama tidak ada

individu, keluarga, masyarakat atau sekolah(Lie, 2002:27).

Dalam implementasinya, cooperative learning tidak sekedar belajar

kelompok atau kelompok kerja, karena belajar dalam model cooperative

learning harus ada “Struktur , dorongan dan tugas yang bersifat

(28)

dan hubungan– hubungan yang bersifat interdependensi yang efektif

diantara anggota kelompok. Disamping itu pola hubungan seperti itu

memungkinkan timbulnya persepsi yang positif tentang apa yang dapat

mereka lakukan untuk berhasil berdasarkan kemampuan dirinya secara

individual dan sumbangsih dari anggota lainnya selama mereka belajar

secara bersama– sama dalam kelompok. Model pembelajaran cooperative

learning menempatkan siswa sebagai bagian dari satu sistem kerjasama

dalam mencapai suatu hasil yang optimal dalam belajar (Stahl dalam Etin

Solihatin (1994:5).Model pembelajarn ini berangkat dari asumsi mendasar

dalam kehidupan masyarakat, yaitu “ Getting better together” atau

“raihlah yang lebih baik secara bersama sama” (Slavin:1992).

Permasalahan yang sering muncul dalam model pembelajaran

kelompok antara lain kekhawatiran bahwa kelas menjadi ribut dan gaduh.

Siswa yang meras tekun harus bekerja sendiri melebihi siswa lain dalam

kelompok mereka dan timbul anggapan bahwa temannya yang kurang

mampu hanya numpang dari jerih payah mereka. Selain itu, siswa yang

kurang mampu merasa minder ditempatkan dalam satu kelompok dengan

siswa yang pandai. Kesan negatif lain adalah timbulnya perasaan was–

was dari anggota kelompok akan hilangnya karakteristik dan keunikan pribadi mereka harus beradaptasi dengan kelompoknya” (Lie, 2005 :28).

Permasalahan lain dalam pembelajaran kelompok adalah “ (1) siswa sulit

melakukan job description; (2) anggota kelompok banyak yang tidak

melakukan tugasnya; (3) situasi belajar tidak terkendali dan menyimpang

(29)

Pembelajaran kelompok yang dilakukan tanpa perencanaan justru

menimbulkan berbagai permasalahan, karena model pembelajaran ini

mempunyai perbedaan mendasar dengan sekedar belajar kelompok biasa.

Roger dan David Johnson menjelaskan “ Untuk mencapai hasil maksimal

pembelajaran kelompok harus mengandung unsur– unsur sebagai berikut:

(1) adanya saling ketergantungan positif;(2) adanya tanggung jawab

perseorangan; (3) adanya komunikasi intensif antar anggota; (4) adanya

tatap muka baik didalam ataupun luar kelas; (5) adanya proses evaluasi

kelompok (Lie, 2005: 30).

Cooperative learning menekankan pada kehadiran teman sebaya yang berinteraksi antar sesamanya sebagai sebuah tim dalam menyelesaikan atau membahas suatu masalah. Beberapa hal yang perlu dipenuhi dalam cooperative learning agar lebih menjamin semua siswa bekerja secara kooperatif, yaitu : 1) para siswa yang tergabung dalam suatu kelompok harus merasa bahwa mereka adalah bagian dari sebuah tim dan mempunyai tujuan bersama yang harus dicapai, 2) siswa yang tergabung dalam suatu kelompok harus menyadari bahwa masalah yang dihadapi adalah masalah kelompok dan bahwa berhasil atau tidaknya kelompok itu akan menjadi tanggung jawab bersama oleh seluruh anggota kelompok, 3) untuk mencapai hasil yang maksimum, para siswa yang tergabung dalam kelompok tersebut harus saling berbicara satu sama lain dalam mendiskusikan masalah yang dihadapinya, dan 4) siswa yang tergabung dalam kelompok harus menyadari bahwa setiap pekerjaan siswa mempunyai akibat langsung terhadap keberhasilan kelompok (Tim MKPBM UPI, 2001: 218).

Macam-macam metode dalam pembelajaran kooperatif menurut Isjoni (cooperative learning: 2009), yakni:

1) Student Team- Achievement Division (STAD)

(30)

2) Jigsaw

Cooperative learning tipe jigsaw merupakan salah satu cooperative learning yang mendorong siswa aktif dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai prestasi yang maksimal. Pelaksanaan pembelajaran dengan jigsaw yakni adanya kelompok asal dan kelompok ahli dalam kegiatan belajar mengajar. Setiap siswa dari masing-masing kelompok yang memegang materi yang sama berkumpul dalam satu kelompok baru yakni kelompok ahli. Masing-masing kelompok ahli bertanggung jawab untuk sebuah materi atau pokok bahasan. Setelah kelompok ahli selesai mempelajari satu topik materi keahliannya, masingmasing siswa kembali ke kelompok asal mereka untuk mengajarkan materi keahliannya kepada teman-teman dalam satu kelompok dalam bentuk diskusi.

3) Teams-Games-Tournament (TGT)

Teams-Games-Tournament (TGT) adalah tipe cooperative learning yang menempatkan siswa dalam kelompok- kelompok belajar dengan adanya permainan pada setiap meja turnamen. Dalam permainan ini digunakan kartu yang berisi soal dan kunci jawabannya. Setiap siswa yang bersaing merupakan wakil dari kelompoknya, dan masing-masing ditempatkan pada meja turnamen. Cara memainkannya dengan membagikan kartu-kartu soal, pemain mengambil kartu dan memberikannya kepada pembaca soal. Kemudian soal dikerjakan secara mandiri oleh pemain dan penantang hingga dapat menyelesaikan permainannya.

4) Group Investigation (GI)

Group Investigation (GI) merupakan model cooperative learning yang kompleks karena memadukan antara prinsip belajar kooperatif dengan pembelajaran yang berbasis konstruktivisme dan prinsip pembelajaran demokrasi. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai akhir pembelajaran akan memberi peluang kepada siswa untuk lebih mempertajam gagasan. Dalam pembelajaran inilah kooperatif memainkan peranannya dalam memberi kebebasan kepada pembelajar untuk berfikir secara analitis, kritis, kreatif, reflektif, dan produktif.

5) Rotating Trio Exchange

(31)

6) Team Assisted Individualization (TAI)

Metode pembelajaran kooperatif tipe TAI dikembangkan oleh Slavin. Dalam pembejaran kooperatif tipe TAI tersebut mengkombinasikan antara pembelajaran kooperatif dengan pembelajaran individual yang dirancang untuk membantu dan memecahkan masalah pada pada proses pembelajaran, seperti halnya dalam masalah kesulitan belajar siswa secara individual setiap siswa secara individual belajar atau latihan materi pembelajaran yang dipersiapkan oleh guru. Hasil belajar atau latihan individual dibawa kekelompok kecil untuk didiskusikan dan saling diperiksa oleh anggota kelompok dan semua bertanggungjawab atas keseluruhan jawaban pada kegiatan kelompok tersebut sebagai tanggungjawab bersama.

7) Group Resume

Model ini menjadikan interaksi antar siswa lebih baik, dengan memberi penekanan bahwa mereka adalah kelompok yang bagus, dalam bakat dan kemampuannya di kelas. Setiap kelompok membuat kesimpulan dan mempresentasikan data-data setiap siswa dalam kelompok.

Dari beberapa pembelajara kooperatif (cooperative Learning) diatas

Penulis menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw.

E. Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw (Cooperative Learning Tipe Jigsaw)

1. Pengertian

Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw inidikembangkan oleh Elliot

Aronson dan kawan- kawannya dari Universitas Texas dan kemudian di

adaptasi oleh Slavin dan kawan-kawannya. Model Jigsaw dapat

digunakan secara efektif ditiap level dimana siswa telah mendapatkan

keterampilan akademis dari pemahaman, membaca maupun keterampilan

kelompok untuk belajar bersama (Isjoni, 2009: 54).

Melalui metode jigsaw kelas dibagi menjadi beberapa tim yang

(32)

heterogen. Para anggota dari berbagai tim yang berbeda memiliki

tanggung jawab untuk mempelajari suatu bagian akademik yang sama

dan selanjutnya berkumpul untuk saling membantu mengkaji bagian

bahan tersebut. Kumpulan siswa semacam itu disebut "kelompok pakar"

(expert group). Selanjutnya para siswa yang berada dalam kelompok

pakar kembali kembali ke kelompok semula (home teams) untuk

mengajar anggota lain mengenai materi yang telah dipelajari dalam

kelompok pakar. Setelah diadakan pertemuan dan diskusi dalam "home

teams", para siswa dievaluasi secara individual mengenai bahan yang

telah dipelajari.

2. Kelebihan dan Kelemahan dari Cooperative Learning Tipe Jigsaw Menurut Ibrahim (2010) dalam http://azisgr.blogspot.com pembelajaran kooperatif tipe jigsaw memiliki kelebihan dan kelemahan sebagai berikut:

1) Kelebihan

a. Dapat mengembangkan hubungan antar pribadi positif di antara siswa yang memiliki kemampuan belajar yang berbeda.

b. Menerapkan bimbingan sesama teman. c. Rasa harga diri siswa yang lebih tinggi. d. Memperbaiki kehadiran.

e. Penerimaan terhadap perbedaan individu lebih besar. f. Sikap apatis berkurang.

g. Pemahaman materi lebih mendalam. h. Meningkatkan motivasi belajar.

2) Kelemahan

a. Jika guru tidak mengingatkan agar siswa selalu menggunakan keterampilan- keterampilan kooperatif dalam kelompok masing-masing maka dikhawatirkan kelompok akan macet dalam pelaksanaan diskusi.

b. Jika jumlah anggota kelompok kurang akan menimbulkan masalah, misal jika ada anggota yang hanya membonceng dan menyelesaikan tugas-tugas dan pasif dalam diskusi.

(33)

3. Prosedur pelaksanaan metode jigsaw

1. Siswa dibagi menjadi kelompok– kelompok kecil terdiri dari 4 atau 5 siswa secara heterogen.

2. Tiap kelompok awal diberi tugas yang terdiri dari 4 bagian. Tiap siswa dalam tim diberi bagian materi dan tugas yang berbeda. 3. siswa yang mempunyai tugas sama dengan anggota kelompok lain

membentuk kelompok baru dan disebut kelompok ahli.

4. Kelompok ahli membahas dan mengerjakan tugas secara bersama– sama. Setiap anggota kelompok ahli wajib menguasai tugasnya karena bertanggung jawab menginformasikan kepada teman– temannya dikelompok awal.

5. Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh – sungguh.

6. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi. 7. Guru memberi evaluasi (Lie, 2002: 67).

(34)

F. Hipotesis Tindakan

Hipotesis Tindakan dalam penelitian ini adalah: “Apabila

pembelajaran IPS menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw

dengan langkah-langkah yang benar maka aktivitas dan hasil belajar siswa

pada mata pelajaran IPS siswa kelas IV SD Negeri 1 Jembrana Tahun

(35)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

yang difokuskan pada situasi kelas yang lazim dikenal dengan Classroom

Action research, Wardhani, dkk. (2007: 1.3) mengungkapkan penelitian

tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya

sendiri melalui refleksi diri dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya

sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat. Secara garis

besar, terdapat empat tahapan yang lazim dilalui, yaitu (1) perencanaan, (2)

pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi (Arikunto, dkk., 2006: 16).

Pendapat yang tidak jauh berbeda juga diungkapkan oleh

Kusumah, dkk. (2009: 26) bahwa ada empat langkah utama dalam PTK

yaitu, perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Dalam PTK siklus

selalu berulang. Setelah satu siklus selessai, mungkin guru akan menemukan

masalah baru atau masalah lama yang belum tuntas dipecahkan, maka

dilanjutkan ke siklus kedua dengan langkah yang sama seperti pada siklus

(36)

Gambar: Spiral Penelitian Tindakan Kelas (Adaptik Hopkins, 1993)

B. Pelaksanaan Penelitian 1. Waktu Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas IV pada

semester genap tahun pelajaran 2012/ 2013 selama kurun waktu tiga

bulan dari bulan Februari sampai dengan bulan April 2014.

2. Lokasi Penelitian

Lokasi Penelitian adalah di SD Negeri 1 Jembrana, Jl. Merdeka

desa Jembrana, Kecamatan Waway Karya, Kabupaten Lampung Timur

3. Subyek Penelitian

Subyek penelitian adalah siswa kelas IV sebanyak 24 siswa yang

terdiri dari 15 siswa perempuan dan 9 siswa laki– laki serta 1 orang guru

yakni guru kelas IV SD Negeri 1 Jembrana. Perencanaan

Refleksi Pelaksanaan

Obsevasi

Perencanaan

Pelaksanaan Refleksi

Dst.

Obsevasi SIKLUS I

(37)

C. Teknik Pengumpulan Data 1. Teknik Non Tes

Teknik ini dilakukan untuk mengamati aktivitas belajar siswa saat

mengikuti pembelajaran dan saat mengikuti diskusi serta mengamati

kinerja guru selama proses pembelajaran berlangsung, dengan

menggunakan lembar observasi.

a. Data Aktivitas Siswa

Data aktivitas siswa diperoleh dari observasi selama

pembelajaran berlangsung. Pengamatan dilakukan dengan cara

mengamati aktivitas yang dilakukan siswa sesuai dengan deskriptor

yang terdapat dalam lembar observasi.

b. Data Kinerja Guru dalam Pengelolaan Pembelajaran di Kelas Data kinerja guru dilakukan selama pembelajaran berlangsung,

diadakan observasi untuk mengamati pengelolaan pembelajaran

melalui lembar observasi yang disesuaikan dengan tahap-tahap

pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe

jigsaw. Data kinerja guru diperoleh dari pengamatan langsung kinerja

guru ketika melaksanakan pembelajaran di kelas, dengan

menggunakan lembar Instrumen Penelitian Kinerja Guru 2 (IPKG 2).

Data kualitatif pada lembar IPKG 2, dianalisis dengan menggunakan

persentase sebagai berikut:

NP =

%

(38)

Keterangan:

NP = Nilai persen yang dicari atau diharapkan JS = Jumlah skor yang diperoleh

SM = Skor maksimum ideal dari aspek yang diamati 100 = Bilangan tetap

1. Teknik Tes

Teknik ini dilakukan untuk mengetahui tingkat ketercapaian

hasil belajar siswa terhadap materi yang telah diberikan oleh guru dengan

memberikan soal tes.

D. Alat Pengumpulan Data

1. Lembar panduan observasi

Instrumen ini dirancang peneliti berkolaborasi dengan tim

peneliti. Lembar observasi ini digunakan untuk mengumpulkan data

mengenai kinerja guru dan aktivitas belajar Siswa selama penelitian

tindakan kelas dalam pembelajaran IPS dengan cooperative learning

tipe Jigsaw.

2. Tes hasil belajar

Instrumen ini digunakan untuk menjaring data mengenai

peningkatan hasil belajar atau prestasi belajar Siswa khususnya

mengenai penguasaan terhadap materi yang dibelajarkan dengan

menggunakan cooperative learning tipe Jigsaw.

E. Teknik analisis Data 1. Analisis kualitatif,

Analisis kualitatif akan digunakan untuk menganalisis data yang

(39)

R N

Data diperoleh dengan mengadakan pengamatan secara langsung

terhadap aktivitas siswa selama pembelajaran dilakukan dengan

menggunakan lembar observasi aktivitas siswa. Data aktivitas diperoleh

berdasarkan perilaku yang sesuai dan relevan dengan kegiatan

pembelajaran. Data nilai aktivitas siswa dari setiap siklus akan dianalisis.

Tabel Penilaian Aktivitas Belajar Siswa

No Skala Kategori

1 3,01 – 4,00 Sangat baik

2 2,01 – 3,00 Baik

3 1,01 – 2,00 Cukup

4 0,00 – 1,01 Kurang

Sumber: dimodifikasi dari Poerwanto (2008:5.27)

2. Analisis Kuantitatif

Analisis Kuantitatif akan digunakan untuk menganalisis data dari

instrumen tes. Data hasil penelitian tergolong data kuantitatif secara

deskriptif, yakni dengan menghitung ketuntasan klasikal dan kentutasan

individual dengan rumus sebagai berikut:

a. Ketuntasan Individual

S = X 100%

Keterangan :

S : Nilai yang diharapkan

R : Jumlah skor / item yang dijawab benar N : Skor maksimum dari tes

b. Ketuntasan klasikal

(40)

Keterangan :

Ketuntasan individual: jika siswa mencapai ketuntasan > 60

Ketuntasan klasikal: jika > 75% dari seluruh siswa mencapai KKM (60).

Berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) mata pelajaran

IPS yang digunakan di SD Negeri 1 Jembrana, siswa dikatakan berhasil

apabila memperoleh nilai > 60

B. Langkah-langkah Penelitian Tindakan Kelas

Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini menggunakan prosedur

penelitian dengan 4 (empat) tahap, yaitu: perencanaan, tindakan, observasi

dan refleksi. Secara lebih rinci prosedur penelitian tindakan untuk setiap

siklus dapat dijabarkan sebagai berikut:

I. Siklus I

a. Perencanaan

Dalam tahap perencanaan ini kegiatan yang dilakukan adalah:

1. Menetapkan dan mendiskusikan dengan guru mitra, rancangan

pembelajaran yang akan diterapkan kepada siswa di kelas sebagai

tindakan.

2. Menyusun silabus IPS untuk membuat rencana pelaksanaan

pembelajaran (RPP).

3. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) menggunakan

model cooperative learning tipe Jigsaw sesuai dengan materi koprasi dan

(41)

4. Menyusun lembar LKS yang akan diberikan kepada siswa sebagai bahan

diskusi selama pembelajaran berlangsung.

5. Menyiapkan media pembelajaran untuk mendukung proses pembelajaran.

6. Menyiapkan lembar instrumen observasi untuk melihat aktivitas belajar

siswa ketika pembelajaran berlangsung.

7. Menyiapkan lembar observasi untuk melihat tindakan guru selama

pembelajaran.

8. Menyiapkan perangkat tes sebagai alat evaluasi siswa.

9. Merencanakan waktu pelaksanaan penelitian tindakan kelas.

b. Tindakan

Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah mengelola proses

belajar dengan pembelajaran dengan model cooperative learning tipe

Jigsaw, dengan kegiatan sebagai berikut:

1 Kegiatan Awal

Pada kegiatan awal ini guru menyampaiakan penjelasan tentang

pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw sebelum menampilkan fenomena

dalam kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan materi yang akan

diajarkan sebagai tindakan apersepsi agar siswa lebih terarah dalam

pelaksanaannya. Kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajaran.

Pada kegiatan awal ini aktivitas pembelajaran adalah sebagai berikut:

1) Guru menjelaskan kepada siswa tentang cooperative learning tipe

(42)

2) Guru menjelaskan mengenai tugas dan kewajiban setiap anggota

kelompok dan tanggung jawab kelompok terhadap keberhasilan

kelompoknya. Ketentuan-ketentuan yang harus diperhatikan setiap

siswa dalam suatu kelompok sebagai berikut:

a) Anggota kelompok yang pandai dituntut untuk dapat memberi tahu

temannya yang tidak mengerti atau sulit untuk menerima materi,

sedangkan anggota kelompok yang masih tidak mengerti

hendaknya bertanya kepada temannya yang mengerti sebelum

bertanya kepada guru.

b) Pada saat pembelajaran, setiap anggota kelompok duduk dalam

kelompoknya masing-masing ( kelompok asal).

3) Guru membagi siswa menjadi 6 kelompok asal, yang masing- masing

kelompok terdiri dari 4 orang

4) Guru membagi kembali siswa dari masing- masing kelompok sebagai

ahli/pakar untuk mendiskusikan materi yang telah diberikan.

5) Guru membagikan LKK dan materi kepada para kelompok ahli untuk

di diskusikan dengan anggota kelompok ahli.

6) Guru mempersilahkan siswa kembali ke kelompok asal dan

menjelaskan hasil diskusi materi yang di dapat dari kelompok ahli.

2 Kegiatan Inti

Pada kegiatan inti, guru melakukan kegiatan mengikuti urutan

kegiatan yang ada dalam rencana pelaksanaan pembelajaran yang merujuk

pada tahap-tahap pelaksanaan cooperative learning tipe Jigsaw. Urutan

(43)

1) Siswa menyimak informasi tentang pandangan umum materi yang

disampaikan guru.

2) Siswa ahli/pakar berkumpul menjadi kelompok ahli/pakar untuk

berdiskusi dan saling bertukar pendapat.

3) Guru memberikan bantuan seperlunya sebagai mediator dan motivator.

4) Siswa kembali pada kelompok asal, dan saling mengajarkan materi yang

dimiliki (menularkan dan menerima materi dari tiap ahli).

5) Siswa bersama kelompok asal mengerjakan dan mendiskusikan lembar

kerja kelompok (LKK).

6) Siswa mempresentasikan hasil kerja kelompok diwakili oleh wakil

kelompok.

7) Guru bersama siswa membahas Lembar Kerja Kelompok (LKK).

8) Guru menyampaikan klarifikasi tiap kelompok untuk menghindari

terjadinya kesalahan konsep dan sekaligus sebagai evaluasi lisan.

9) Siswa diberi kesempatan bertanya tentang materi yang telah dipelajari.

10) Guru memberikan penghargaan kelompok.

3 Penutup

1) Siswa dan guru menyimpulkan materi pelajaran yang telah dipelajari.

2) Siswa mengerjakan soal tes individual, sebagai pengukuran ketercapaian.

(44)

c. Observasi

Pada tahap ini dilaksanakan proses observasi terhadap pelaksanaan

tindakan berdasarkan lembar observasi aktivitas siswa, lembar observasi

pengelolaan pembelajaran oleh guru (dilihat dari observasi kinerja guru

dalam pembelajaran).

Data yang didapat diolah dan digeneralisasikan agar diperoleh

kesimpulan yang akurat dari semua kekurangan dan kelebihan siklus yang

telah dilaksanakan, sehingga dapat direfleksikan guna perbaikan, baik

teknik, cara penyampaian, atau hal apa pun yang mempengaruhi jalannya

proses pembelajaran dalam pelaksanaan siklus yang telah direncanakan dan

dilaksanakan.

d. Refleksi

Pada akhir siklus, dilakukan refleksi oleh guru dan peneliti serta

pengkajian aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung, hal ini

dilakukan sebagai acuan dalam membuat rencana perbaikan pembelajaran

baru pada siklus-siklus berikutnya.

Refleksi diadakan agar pada pelaksanaan siklus yang baru,

perencanaan yang matang pun dapat dilaksanakan dengan maksimal.

II. Siklus II a. Perencanaan

Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I, maka diadakan perencanaan

ulang. Rencana yang dibuat pada prinsipnya sama dengan rencana pada

(45)

efektivitas kerja kelompok yang telah dibentuk hasil efektif dan tidak ada

keluhan siswa terhadap kelompoknya, hanya saja materi disesuaikan pada

siklus II. Dalam tahap perencanaan ini kegiatan yang dilakukan adalah:

1. Menetapkan dan mendiskusikan dengan guru mitra, rancangan

pembelajaran yang akan diterapkan kepada siswa di kelas sebagai

tindakan.

2. Menyusun rencana perbaikan pembelajaran (RPP) menggunakan model

cooperative learning tipe Jigsaw sesuai dengan materi yang telah

ditetapkan.

3. Menyusun lembar LKS yang akan diberikan kepada siswa sebagai bahan

diskusi selama pembelajaran berlangsung.

4. Menyiapkan media pembelajaran untuk mendukung proses pembelajaran.

5. Menyiapkan lembar instrumen observasi aktivitas belajar siswa ketika

pembelajaran berlangsung.

6. Menyiapkan lembar observasi untuk melihat tindakan guru selama

pembelajaran.

7. Menyiapkan perangkat tes (soal evaluasi) sebagai alat evaluasi siswa.

b. Tindakan

Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah mengelola proses

belajar dengan pembelajaran dengan model cooperative learning tipe

(46)

1. Kegiatan Awal

Pada kegiatan awal ini guru menyampaiakan penjelasan tentang

pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw sebelum menampilkan fenomena dalam

kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan materi yang akan diajarkan

sebagai tindakan apersepsi agar siswa lebih terarah dalam pelaksanaannya.

Kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajaran. Pada kegiatan awal ini

aktivitas pembelajaran adalah sebagai berikut:

1) Guru menjelaskan kepada siswa tentang cooperative learning tipe

Jigsaw.

2) Guru menjelaskan mengenai tugas dan kewajiban setiap anggota

kelompok dan tanggung jawab kelompok terhadap keberhasilan

kelompoknya. Ketentuan-ketentuan yang harus diperhatikan setiap siswa

dalam suatu kelompok sebagai berikut:

a) Anggota kelompok yang pandai dituntut untuk dapat memberi

tahu temannya yang tidak mengerti atau sulit untuk menerima

materi, sedangkan anggota kelompok yang masih tidak

mengerti hendaknya bertanya kepada temannya yang mengerti

sebelum bertanya kepada guru.

b) Pada saat pembelajaran, setiap anggota kelompok duduk dalam

kelompoknya masing-masing ( kelompok asal).

3) Guru membagi siswa menjadi 6 kelompok asal, yang masing- masing

kelompok terdiri dari 4 orang

4) Guru membagi kembali siswa dari masing- masing kelompok sebagai

(47)

5) Guru membagikan LKK dan materi kepada para kelompok ahli untuk

di diskusikan dengan anggota kelompok ahli.

6) Guru mempersilahkan siswa kembali ke kelompok asal dan

menjelaskan hasil diskusi materi yang di dapat dari kelompok ahli.

2. Kegiatan Inti

Pada kegiatan inti, guru melakukan kegiatan mengikuti urutan

kegiatan yang ada dalam rencana pelaksanaan pembelajaran yang merujuk

pada tahap-tahap pelaksanaan cooperative learning tipe Jigsaw. Urutan

kegiatan pembelajaran secara garis besar adalah:

1) Siswa menyimak informasi tentang pandangan umum materi yang

disampaikan guru.

2) Siswa ahli/pakar berkumpul menjadi kelompok ahli/ pakar untuk

berdiskusi dan saling bertukar pendapat.

3) Guru memberikan bantuan seperlunya sebagai mediator dan motivator.

4) Siswa kembali pada kelompok asal, dan saling mengajarkan materi yang

dimiliki (menularkan dan menerima materi dari siswa lain/ para ahli

dalam kelompok asalnya).

5) Siswa bersama kelompok asal mengerjakan dan mendiskusikan lembar

kerja kelompok (LKK).

6) Siswa mempresentasikan hasil kerja kelompok diwakili oleh wakil

kelompok.

7) Guru bersama siswa membahas Lembar Kerja Kelompok (LKK).

8) Guru menyampaikan klarifikasi tiap kelompok untuk menghindari

(48)

9) Siswa diberi kesempatan bertanya tentang materi yang telah dipelajari

10) Guru memberikan penghargaan kelompok.

3. Penutup

1) Siswa dan guru menyimpulkan materi pelajaran yang telah dipelajari.

2) Siswa mengerjakan soal tes individual, sebagai pengukuran ketercapaian.

3) Guru memotivasi siswa dan menutup pelajaran

c. Observasi

Pada tahap ini dilaksanakan proses observasi terhadap pelaksanaan

tindakan berdasarkan lembar observasi aktivitas siswa, lembar observasi

pengelolaan pembelajaran oleh guru (dilihat dari observasi kinerja guru

dalam pembelajara).

Data yang didapat diolah dan digeneralisasikan agar diperoleh

kesimpulan yang akurat dari semua kekurangan dan kelebihan siklus yang

telah dilaksanakan, sehingga dapat direfleksikan guna perbaikan, baik

teknik, cara penyampaian, atau hal apa pun yang mempengaruhi jalannya

proses pembelajaran dalam pelaksanaan siklus yang telah direncanakan dan

dilaksanakan.

d. Refleksi

Pada akhir siklus, dilakukan refleksi oleh guru dan peneliti serta

pengkajian aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung, hal ini

dilakukan sebagai acuan dalam membuat rencana perbaikan pembelajaran

(49)

Refleksi diadakan agar pada pelaksanaan siklus yang baru,

perencanaan yang matang pun dapat dilaksanakan dengan maksimal.

C. Indikator Keberhasilan

Pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif

tipe jigsaw dikatakan berhasil apabila:

a. Ada peningkatan aktivitas siswa dalam pembelajaran dari siklus I ke

siklus II

b. Peningkatakan hasil belajar siswa mencapai ≥ 70 % dari seluruh siswa

(50)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A.Kesimpulan

Kesimpulan yang diperoleh dari kegiatan perbaikan pembelajaran

ini adalah:

1. Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada

pembelajaran IPS dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa yang

ditunjukkan dari peningkatan nilai rata-rata serta aktivitas siswa

dalam mengikuti pelajaran. Pada siklus I rata-rata aktivitas siswa

adalah 52,9 dan pada siklus II rata-rata aktivitas siswa meningkat

menjadi 79,8 dengan peningkatan sebesar 26,8.

2. Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada

pembelajaran IPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa yang

ditunjukkan dari peningkatan nilai rata-rata serta aktivitas siswa

dalam mengikuti pelajaran. Pada siklus I rata-rata hasil belajar siswa

adalah 59,17 dan pada siklus II rata-rata hasil belajar siswa

(51)

B. Saran

1. Bagi siswa, agar senantiasa membiasakan untuk belajar dan bekerja

sama dengan siswa lain, guna memperkaya ilmu pengetahuan dan

informasi yang maksimal agar memperoleh hasil belajar yang lebih

baik.

2. Bagi guru, upayakan untuk menggunakan variasi dalam

pembelajaran untuk mencegah kejenuhan siswa dalam menerima

ilmu, karena dengan adanya variasi atau hal baru yang tepat maka

siswa akan lebih antusias dan terpancing untuk aktif dalam

mengikuti pembelajaran. Selain itu, variasi dalam pembelajaran

membuat kita lebih kreatif dan berpikiran luas.

3. Bagi Sekolah, agar dapat melengkapi sarana dan prasarana yang

dapatmendukung pembelajaran guna peningkatan prestasi siswa dan

sekolah.

4. Bagi peneliti, agar dapat menerapkan model pembelajaran kooperatif

tipe jigsaw dalam mata pelajaran lain sehingga prestasi belajar siswa

(52)

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Mulyono.2003.Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Rineka Cipta. Jakarta.

Arikunto Suharsimi Arikunto(1992), Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan: Bumi Aksara. Jakarta.

Asma, Nur. 2006. Model Pembelajaran Kooperatif. Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.

Basry, Samsu. http://sharingkuliahku.wordpress.com/2011/11/21/pengertian-model-pembelajaran-roleplaying. Diakses 24 Februari 2013. Pukul 11.10 WIB.

Djamarah, Syaiful Bahari.2000. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukativ. Rineka Cipta. Jakarta

DepDikNas.1999.Penelitian Tindakan (Action Research),Proyek Peningkatan Mutu SMU: Direktorat Dikmenum, Ditjen Dikdasmen, Depdikbud. Jakarta

DepDikNas.2003. Pendekatan Kontekstual( Contextual Teaching And Learning).: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama, Dirjen Dikdasmen. Jakarta

Dewi Riyanti. (2012). Peningkatan Aktivitas Siswa Dalam Pembelajaran Pemeliharaan Bahan Tekstil Dengan Metode Team Asisted Individualization di SMK N 6 Yogyakarta. Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta.

Dimyati & Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Rineka Cipta. Jakarta.

(53)

Hamalik,(1990) Reviewer: Bio Sanjaya.Rumus Menghitung Tingkat Keberhasilan KKM . http://sharingkuliahku.wordpress.com Posted on Selasa, 24 Januari 2012

Ibrahim. 2010. Kelebihan dan Kelemahan Cooperatif Tipe Jigsaw. http://azisgr.blogspot.com. Diakses 22 Mei 2012. Pukul 20.00 WIB).

Isjoni. 2009. Cooperative Learning: Alfabeta. Bandung.

Juhri. 2006. Landasan dan Wawasan Pendidikan: Lembaga Penelitian Universitas Muhammadiyah Metro. Metro.

Kusumah, Wijaya dkk. 2009. Mengenal Penelitian Tindakan Kelas. Malta Printindo. Jakarta.

Larasati, Riska. 2005. Analisis metode pembelajaran Kooperatif tipe STAD dan pengaruhnya terhadap upaya peningkatan hasil belajar Akutansi pada pokok bahasan pencatatan transaksi perusahaan dagang mata pelajaran Akutansi pada siswa kelas II semester I SMU Negeri 7 Purworejo, Universitas Negeri Semarang. Semarang.

Lie, Anita.2002. Cooperative Learning Mempraktekkan Cooperative Learning di Ruang –ruang kelas: Grafindo. Jakarta

Model-pembelajaran-ips.. http://dwiluky.wordpress.com,diakses , 12 februari 2011.

Moejiono & Dimyati, Moh.1993.Strategi Belajar Mengajar: Depdikbud, Ditjen.Dikti, Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan. Jakarta

Putrayasa, 2009. Model Pembelajaran Inkuiri. http://ipotes.wordpress.com. Diakses 24 Februari 2013. Pukul 11.12 WIB).

Remy, http://abeng4531.blogspot.com/2012/10/konsep-itm.html. Diakses 24 Februari 2013 Pukul 11.02 WIB.

Sapriya, dkk. 2006. Pembelajaran dan Evaluasi Hasil Belajar IPS. UPI PRESS. Bandung.

(54)

Press. Bandung.

Gambar

Gambar: Spiral Penelitian Tindakan Kelas (Adaptik Hopkins, 1993)
Tabel Penilaian Aktivitas Belajar Siswa

Referensi

Dokumen terkait

2014 menyatakan Pelelangan Gagal dengan mengacu pada Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun

Dari hasil penelitihan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa, adanya hubungan yang signifikan antara manajemen kelas dengan tingkat prestasi belajar siswa pada mata

Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi cendawan Entomophthorales dan nematoda yang menginfeksi trips dan kutudaun pada tanaman mawar dan krisan di Balai

Perhitungan % Efisiensi Vit.E Yang Terikat Pada Matriks GIF % Efisiensi Vitamin E yang terperangkap pada matriks:. % Efisiensi Vit.E yang terperangkap pada

Prinsip kerja alat penggiling biji kopi tipe flat burr mill ini, menggunakan dua besi berbentuk bulat ( flat burr ) yang terdapat gerigi disekelilingnya berukuran lebih kecil

Jl.. ketinggian manakah metode yang dianggap lebih akurat tersebut efektif perhitungannya. Efisiensi perencanaan gedung ini akan dibandingkan melalui indikator biaya.

Wahai kaum guru semua Bangunkan rakyat dari gulita Kita lah penyuluh bangsa. Pembimbing melangkah

Universitas