• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Kualitatif Faktor Yang Mempengaruhi Kesulitan Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Berhenti Merokok

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Kualitatif Faktor Yang Mempengaruhi Kesulitan Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Berhenti Merokok"

Copied!
129
0
0

Teks penuh

(1)

SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA BERHENTI

MEROKOK

Skripsi

Disusun oleh:

AHMAD RIFQI NUBAIRI NIM: 106104003480

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

v

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Ahmad Rifqi Nubairi

Tempat/Tanggal Lahir : Indramayu, 08 Juni 1988

Jenis Kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Status : Belum Menikah

Alamat : Blok Bantenan Kel. Kaliwadas RT: 02/02 Kec.

Sumber Kab. Cirebon 45611.

Telp : 085224238868

Email : rifqinubairi@gmail.com

Riwayat Pendidikan :

1. 1992 – 1994 : TK Ash-Sholah Kaliwadas Sumber Cirebon

2. 1994 – 2000 : SDN Kaliwadas II Sumber Cirebon.

3. 2000 – 2003 : MTsN Babakan Ciwaringin Cirebon.

4. 2003 – 2006 : MAN Model Babakan Ciwaringin Cirebon.

(7)

vi

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Skripsi, 27 Juni 2012

Ahmad Rifqi Nubairi, NIM: 106104003480

ANALISIS KUALITATIF FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

KESULITAN MAHASISWA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA BERHENTI MEROKOK

xv + 59 Halaman + 5 Lampiran

Kata kunci: kesulitan berhenti, perilaku merokok.

ABSTRAK

Jumlah perokok semakin hari semakin meningkat di berbagai negara di dunia, baik di negara-negara yang sudah maju maupun negara yang sedang berkembang. Prevalensi penyakit yang salah satu faktornya disebabkan oleh rokok semakin meningkat namun hal ini tidak membuat orang menghentikan kebiasaan perilaku merokok. Pecandu rokok yang berusaha untuk berhenti merokok selalu mengalami kegagalan.

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan mahasiswa UIN Jakarta berhenti merokok. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi. Jenis data yang digunakan adalah data primer, dan pengumpulan data menggunakan pedoman wawancara mendalam dengan jumlah informan 12 orang. Analisa data yang digunakan adalah deskriptif naratif.

(8)

vii

THE STUDY PROGRAM OF NURSING SCIENCES

FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES

STATE ISLAMIC UNIVERSITY SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Thesis, June, 27 2012

By Ahmad Rifqi Nubairi, Id Number: 106104003480

QUALITATIVE ANALYSIS: FACTORS THAT INFLUENCE THE DIFFICULTY FOR STATE ISLAMIC UNIVERSITY SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA STUDENTS TO STOP SMOKING

xv + 59 Pages + 5 Enclosures

Key words: difficult to stop, smoking behavior

ABSTRACT

Day by day, the total of smokers has increased in many countries in the world, either in the developed country or in the developing countries. The prevalence of the illness that becomes one of the factors which is caused by cigarette has increased, however this does not make them to stop smoking behaviors. The addict smokers that attempt to stop smoking always deal with failure.

Purpose of the study is to find out the factors that influence the difficulty for State Islamic University Syarif Hidayatullah Jakarta students to stop smoking. This research is a qualitative descriptive with phenomenology approach. The type of the data that is used is the primary data, the collecting data is conducted through depth interview with the total of the informants were 12 peoples. The data analyzing that was used is descriptive-narrative.

(9)

viii

KATA PENGANTAR

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Segala puji bagi Allah SWT Tuhan semesta alam yang tanpa

henti-hentinya memberikan segala nikmat dan hidayah kepada semua makhluk-NYA.

Sholawat serta salam selalu penulis curahkan kepada baginda pemimpin seluruh

umat Nabiyyuna Muhammad SAW yang telah membawa umatnya ke zaman yang

penuh dengan ilmu pengetahuan dalam naungan agama islam.

Diawali dengan membaca bismillah penulis memulai menulis skripsi dan

Alhamdulillah setelah melewati perjuangan yang penuh dengan rintangan, berkat

nikmat dan hidayah-NYA akhirnya penulis dapat menyelesaikan penulisan

proposal skripsi dengan judul “ANALISIS KUALITATIF FAKTOR YANG

MEMPENGARUHI KESULITAN MAHASISWA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA BERHENTI MEROKOK”.Penulis mempunyai keyakinan bahwa skripsi ini tidak akan selesai tanpa adanya partisipasi dari berbagai pihak. Maka dengan tulus dan ikhlas dari

hati nurani penulis ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Prof. DR (hc). Dr. M. K. Tadjudin, Sp. And. Selaku Dekan Fakultas

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Islam Negeri Syarif

Hidayatullah Jakarta.

2. Tien Gartinah M.N. Selaku Ketua Program Studi dan Irma Nurbaeti, S.Kp,

M.Kp. Sp.Mat. Selaku Sekretaris Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK)

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Ita Yuanita, S.Kp, M.Kep selaku penasehat akademik yang dengan penuh

kesabaran memberikan bimbingan, petunjuk, dan nasehatnya selama masa

perkuliahan.

4. Ernawati, S.Kep, Sp.KMB dan Ns. Waras Budi Utomo, S.Kep, MKM

Selaku pembimbing skripsi yang begitu sabar dan penuh keikhlasan dalam

memberikan bimbingan, petunjuk, dan nasehat untuk mengarahkan penulis

(10)
(11)

x DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

LEMBAR PERNYATAAN ... iv

RIWAYAT HIDUP ... v

ABSTRAK ... vi

ABSTRACT ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR BAGAN ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Pertanyaan Penelitian ... 4

D. Tujuan Penelitian ... 4

E. Manfaat Penelitian ... 5

F. Ruang Lingkup Penelitian ... 6

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Rokok ... 7

1. Jenis-jenis Rokok ... 7

2. Kandungan Rokok ... 8

3. Merokok ... 11

4. Perokok ... 12

5. Alasan Merokok ... 12

6. Faktor-faktor yang mempengaruhi merokok ... 12

(12)

xi

8. Mitos-mitos Keliru Tentang Rokok ... 15

9. Adiksi ... 15

B. Berhenti Merokok ... 16

1. Manfaat Berhenti Merokok ... 17

2. Alasan Tidak Mudah Berhenti Merokok ... 18

3. Motivasi Berhenti Merokok ... 19

4. Faktor Penyulit Berhenti Merokok ... 20

C. Perilaku dan Perubahan ... 21

D. Kerangka Teori ... 23

BAB III. KERANGKA PIKIR DAN DEFINISI ISTILAH A. Kerangka Pikir ... 24

B. Definisi Istilah ... 24

BAB IV. METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian ... 26

B. Informan Penelitian ... 27

C. Tempat dan Waktu Penelitian ... 28

D. Jenis Data Penelitian ... 28

E. Prosedur Pengumpulan Data ... 28

F. Instrumen Data ... 30

G. Analisis Data ... 30

H. Validasi Data ... 31

I. Keabsahan Data ... 31

J. Etika Penelitian ... 32

BAB V. HASIL PENELITIAN A. Karakteristik Informan ... 34

B. Hasil Penelitian ... 35

1. Mulai Merokok ... 35

2. Penyebab Merokok ... 36

3. Motivasi Berhenti Merokok ... 38

(13)

xii

5. Kesulitan Berhenti Merokok ... 41

BAB VI. PEMBAHASAN A. Mulai Merokok ... 46

B. Penyebab Merokok ... 47

C. Motivasi Berhenti Merokok ... 49

D. Upaya Berhenti Merokok ... 51

E. Kesulitan Berhenti Merokok ... 52

F. Aturan Larangan Merokok ... 53

G. Keterbatasan Penelitian ... 55

BAB VII. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 56

B. Saran ... 57

(14)

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Definisi Istilah ... 24

(15)

xiv

DAFTAR BAGAN

(16)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Lembar Informed Consent.

Lampiran 2. Lembar Pedoman Wawancara.

Lampiran 3. Transkip Wawancara.

Lampiran 4. Koding Wawancara.

(17)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sehat merupakan hak mutlak bagi setiap manusia di dunia. Sebagian dari

mereka belum mengerti sepenuhnya hakekat sehat yang sesungguhnya,

sehingga mereka terkadang lalai dan tidak mensyukurinya. Dalam sebuah

hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Ibnu Abbas ra. Berkata bahwa

Rasulullah SAW bersabda, “Ada dua macam nikmat yang banyak dilupakan

manusia, yaitu nikmat kesehatan dan kesempatan (umur).” (Muchtar, 2009).

Banyak konsep mengenai pengertian sehat salah satunya menurut World

Health Organization (WHO), “Health is a complete state of physical, mental,

and social being and not merely the absence of disease or infirmity.” (sehat

adalah suatu keadaan sejahtera secara fisik, mental dan sosial yang menyeluruh

dan bukan hanya bebas dari penyakit cacat dan kelemahan). Berdasarkan

Undang-Undang (UU) Republik Indonesia No.36 Pasal 1 Tahun 2009 tentang

kesehatan, “kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual

maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara

sosial dan ekonomis”.

Kondisi fisik, mental, spiritual dan sosial yang sehat maka manusia dapat

(18)

terpenting dalam kehidupan manusia yang harus dijaga dan disyukuri. Pada

kenyataannya masih banyak orang yang dengan sengaja atau tidak sengaja

merusak kesehatan mereka dengan perilaku-perilaku yang tidak sehat, yakni

salah satunya berupa perilaku merokok.

Di sisi lain masyarakat khususnya para pemuda telah tercemar oleh

mitos-mitos yang “menyesatkan”. Rokok dianggap sebagai simbol kedewasaan dan

kejantanan bagi laki-laki, jika seorang laki-laki tidak merokok dianggap masih

kecil (belum dewasa) dan “banci”. Target dari mitos tersebut adalah para

remaja laki-laki yang sedang mencari jatidirinya. Mereka yang kondisi

psikologisnya masih labil sehingga gampang sekali terpengaruh oleh mitos

semacam itu. Dalam faktanya tidak hanya laki-laki yang merokok, perempuan

juga merokok bahkan adapula nenek-nenek yang merokok artinya, bahwa

merokok bukanlah lambang kedewasaan dan kejantanan laki-laki sejati

(Muchtar, 2009).

Peringatan yang tertulis pada kemasan rokok (merokok dapat

menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan

dan janin) semata-semata tidak lebih hanya sebagai sebuah hiasan. Para pelaku

industri rokok tidak khawatir dengan adanya peraturan untuk mencantumkan

peringatan tersebut karena pada dasarnya para perokok mengetahui dampak

negatif yang diakibatkan oleh rokok tersebut. Mereka masih terus saja

menghisapnya tanpa memikirkan dampak dari apa yang mereka lakukan itu,

karena rokok bagaikan hipnotis (Muchtar, 2009).

Jumlah perokok semakin hari semakin meningkat di berbagai negara di

(19)

berkembang. Prevalensi penyakit yang salah satu faktornya disebabkan oleh

rokok semakin meningkat namun hal ini tidak membuat orang menghentikan

kebiasaan perilaku merokok (Soedarmadji, 2011).

Banyak pecandu rokok yang berusaha untuk berhenti dari perilaku

merokok baik karena kesadaraan diri atau karena anjuran orang lain. Namun

usaha yang dilakukan selalu menemukan jalan buntu (kegagalan). Adapun

yang membuat seseorang sulit berhenti merokok adalah nikotin karena bersifat

adiktif, sehingga membuat seorang perokok menjadi kecanduan secara fisik

dan emosional. Apabila seorang perokok menghentikan kebiasaannya, ia pasti

akan tersiksa, baik secara fisik maupun mentalnya. Walaupun begitu beberapa

diantara mereka yang memiliki niat dan tekad yang kuat ada juga yang berhasil

meloloskan diri dari siksaan candu (Lisa, 2010).

Menghentikan perilaku merokok bukanlah usaha mudah, terlebih lagi bagi

perokok di Indonesia. Hasil survei yang dilakukan oleh LM3 (Lembaga

Menanggulangi Masalah Merokok), dari 375 responden yang dinyatakan 66,2

persen perokok pernah mencoba berhenti merokok, tetapi mereka gagal

(Makara, 2005). Global Youth Tobacco Survey (GYTS, 2006) melaporkan

76% perokok ingin berhenti merokok, 86% telah mencoba berhenti tahun

sebelum survei dilakukan tetapi gagal.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.19 tahun 2003 tentang Pengamanan

Rokok Bagi Kesehatan, tempat proses belajar mengajar merupakan kawasan

tanpa rokok. Hasil studi pendahuluan mahasiswa Universitas Islam Negeri

(20)

perokok 8 mahasiswa perokok ingin berhenti merokok tetapi mengalami

kesulitan berhenti merokok.

Melihat dari masalah yang ada maka dalam penelitiannya penulis tertarik

mengambil judul “Analisis kualitatif faktor yang mempengaruhi kesulitan

mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta berhenti

merokok” untuk mengetahui secara lebih luas, jelas, dan terperinci faktor yang

mempengaruhi kesulitan mahasiswa UIN Jakarta dalam berhenti merokok.

B. Rumusan Masalah

Dari hasil studi pendahuluan pada mahasiswa UIN Jakarta sebesar 80%

mahasiswa perokok ingin berhenti merokok tapi mengalami kesulitan.

Berdasarkan latar belakang di atas maka perumusan masalah penelitian adalah

tingginya keinginan mahasiswa perokok untuk berhenti merokok namun

mengalami kesulitan dan belum diketahuinya faktor yang mempengaruhi

kesulitan perokok berhenti merokok. Melalui penelitian ini peneliti ingin

mengetahui faktor yang mempengaruhi kesulitan mahasiswa UIN Jakarta

dalam berhenti merokok.

C. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah di atas maka yang menjadi pertanyaan

penelitian dalam penelitian ini adalah faktor-faktor apa saja yang

mempengaruhi kesulitan mahasiswa UIN Jakarta dalam berhenti merokok?

D. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang

(21)

2. Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi gambaran motivasi mahasiswa berhenti merokok.

b. Mengidentifikasi gambaran upaya mahasiswa berhenti merokok.

c. Mengidentifikasi gambaran lebih dalam kesulitan mahasiswa berhenti

merokok.

E. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai

elemen:

1. Institusi Kesehatan dan Perawat

Sebagai bahan masukan dan referensi dalam membantu program

pendidikan kesehatan pada pasien dengan perilaku merokok.

2. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Sebagai bahan masukan dalam membantu optimalisasi program kampus

bebas asap rokok, sebagaimana yang telah diatur dalam Peraturan Pemerintah

pusat maupun daerah bahwa tempat pendidikan merupakan kawasan bebas

asap rokok.

3. Peneliti

Bagi peneliti pribadi, penelitian ini memberikan bekal pengetahuan dalam

melaksanakan program pendidikan kesehatan, mengetahui faktor-faktor yang

mempengaruhi kesulitan perokok berhenti merokok sehingga dapat membantu

program perokok berhenti merokok.

(22)

Penelitian ini dapat memberikan gambaran kepada mahasiswa perokok

dalam mengantisipasi kesulitan untuk berhenti merokok.

F. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilakukan di UIN Jakarta dengan objek penelitian adalah

mahasiswa UIN Jakarta yang merokok dan pernah mencoba untuk berhenti

(23)

7 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Rokok

Rokok merupakan salah satu zat adiktif, yang apabila digunakan dapat

mengakibatkan bahaya kesehatan bagi individu dan masyarakat. Sebagaimana

yang tercantum dalam Bab I Ketentuan Umum, pasal 1, Peraturan Pemerintah

No. 19 Tahun 2003, rokok adalah hasil olahan tembakau terbungkus termasuk

cerutu atau bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman Nicotiana tabacum,

Nicotiana rustica, dan spesies lainnya atau sintetisnya yang mengandung

nikotin dan tar dengan atau tanpa bahan tambahan.

1. Jenis-jenis Rokok

Jenis-jenis rokok menurut Lisa (2010):

a. Rokok Berdasarkan Bahan Pembungkus

- Kawung adalah rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun

aren.

- Sigaret adalah rokok yang bahan pembungkusnya berupa kertas.

- Cerutu adalah rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun

tembakau.

b. Rokok Berdasarkan Bahan Baku atau Isi

- Rokok putih yaitu rokok yang bahan baku atau isinya hanya daun

tembakau yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan

(24)

- Rokok kretek yaitu rokok yang bahan baku atau isinya berupa

daun tembakau dan cengkeh yang diberi saus untuk mendapatkan

efek rasa dan aroma tertentu.

- Rokok klembak yaitu rokok yang bahan baku atau isinya berupa

daun tembakau, cengkeh, dan menyan yang diberi saus untuk

mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu.

c. Rokok Berdasarkan Proses Pembuatannya

- Sigaret kretek tangan (SKT) adalah rokok yang proses

pembuatannya dengan cara digiling atau dilinting dengan

menggunakan tangan ataupun alat bantu sederhana.

- Sigaret kretek mesin (SKM) adalah rokok yang proses

pembuatannya mengguanakan mesin. Caranya, material rokok

dimasukkan ke dalam mesin pembuat rokok. Keluaran yang

dihasilkan mesin pembuat rokok berupa rokok batangan. Saat ini,

mesin pembuat rokok telah mampu menghasilkan keluaran sekitar

enam ribu sampai delapan ribu batang permenit.

d. Rokok Berdasarkan Pengguanaan Filter

- Rokok filter (RF) adalah rokok yang pada bagian pangkalnya

terdapat gabus.

- Rokok nonfilter (RNF) adalah rokok yang pada bagian

pangkalnya tidak terdapat gabus.

2. Kandungan Rokok

Rokok mengandung berbagai zat toksik yang sangat berbahaya bagi tubuh,

(25)

a. Nikotin

Nikotin merupakan zat yang paling sering dibicarakan dan diteliti.

Nikotin sangat berbahaya karena dapat meracuni syaraf, meningkatkan

tekanan darah, menimbulkan penyempitan pembuluh darah tepi dan

menyebabkan ketagihan serta ketergantungan pada pemakainya. Nikotin

masuk ke dalam otak saat seseorang merokok. Kadar nikotin yang dihisap

akan menyebabkan kematian apabila kadarnya lebih dari 30 mg. Setiap

batang rokok rata-rata mengandung nikotin 0,1-1,2 mg. Namun, jumlah

yang kecil itu mampu mencapai otak dalam waktu 15 detik (Asril, 2003).

b. Timah hitam (Pb)

Timah hitam yang dihasilkan sebatang rokok adalah 0,5 µg. Ambang

batas timah hitam yang masuk ke dalam tubuh adalah 20 µg perhari.

c. Karbon monoksida (CO)

Karbonmonoksida (CO) memiliki kecenderungan kuat untuk berikatan

dengan hemoglobin dalam sel-sel darah merah. Seharusnya hemoglobin

berikatan dengan oksigen yang penting untuk pernafasan sel-sel tubuh.

Karbon monoksida lebih kuat dari oksigen sehingga merebut posisi

oksigen yang mengakibatkan hemoglobin berikatan dengan CO. Kadar CO

dalam darah non perokok kurang dari satu persen, sedangkan pada

perokok mencapai 4-15 persen.

d. Tar

Tar digunakan untuk melapisi jalan atau aspal. Tar adalah kumpulan

beribu-ribu bahan kimia dalam komponen padat asap rokok yang bersifat

(26)

sebagai uap padat. Setelah dingin akan menjadi padat dan membentuk

endapan coklat pada permukaan gigi, saluran pernafasan dan paru-paru.

Pengendapan ini bervariasi antar 30-40 mg per batang rokok. Kadar tar per

batang rokok berkisar antara 24-45 mg.

e. Eugenol

Merupakan zat yang hanya ditemui dalam rokok kretek. Eugenol di

gunakan sebagai antiseptis, anestetik dan juga sebagai antipiretik, efek

pengguna rokok kretek tidak diketahui sehingga belum diketahui efek

karsiogeniknya (Guidotti, 1989 dalam Faturrahman,2006).

f. Arsenic

Sejenis unsur kimia yang digunakan untuk membunuh serangga terdiri

dari unsur-unsur berikut:

- Nitrogen oksida, yaitu unsur kimia yang dapat mengganggu

saluran pernafasan, bahkan merangsang terjadinya kerusakan dan

perubahan kulit tubuh.

- Amonium karbonat, yaitu zat yang bisa membentuk plak kuning

pada permukaan lidah, serta mengganggu kelenjar makanan dan

perasa yang terdapat pada permukaan lidah.

g. Amonia

Amonia merupakan gas tidak berwarna yang terdiri dari nitrogen dan

hidrogen. Zat ini sangat tajam baunya. Amonia sangat mudah memasuki

sel-sel tubuh. Apabila zat ini disuntikkan sedikit saja ke dalam tubuh bisa

(27)

h. Formic Acid tidak berwarna, bisa bergerak bebas, dan dapat

mengakibatkan lepuh. Cairan ini sangat tajam dan baunya menusuk.

Zat tersebut dapat menyebabkan seseorang seperti merasa digigit

semut. Bertambahnya zat ini dalam peredaran darah akan

mengakibatkan pernafasan menjadi cepat.

i. Pyridine Cairan tidak berwarna dengan bau yang tajam. Zat ini dapat

digunakan untuk mengubah sifat alkohol sebagai pelarut dan

pembunuh hama.

j. Methanol dapat menyebabkan kebutaan bahkan kematian.

k. Hydrogen Cyanide adalah zat yang paling ringan dan mudah terbakar

sehingga sering dipakai dalam bom hidrogen. Zat ini akan

menghalangi pernafasan seseorang sehingga pada akhirnya akan

mengakibatkan kematian.

l. Formaldehyde sebagai bahan pengawet yang mengandung racun keras

sehingga sangat berbahaya bagi organisme hidup.

Bahaya zat yang dijelaskan di atas hanya sebagian saja, masih banyak lagi

zat beracun yang terkandung dalam rokok dan sangat berbahaya bagi tubuh.

1. Merokok

Merokok adalah aktivitas menyalakan api pada rokok sigaret atau cerutu,

atau tembakau dalam pipa rokok. Termasuk juga dengan menggunakan sejenis

pipa khusus yang mengandung air ditengahnya. Walaupun bahannya bukan

dari tembakau atau bahan mirip tembakau yang memberi cita rasa sama seperti

(28)

2. Perokok

Menurut peneliti seperti Gilchrist, shinke, Bobo, dan Snow (Meiyetriani,

2006) ada tiga kategori dalam perokok dan bukan perokok:

a. Non smoker adalah orang yang bukan perokok (tidak merokok) dan

belum pernah mencoba rokok sama sekali.

b. Experimental smoker adalah orang yang telah merokok beberapa kali

tetapi tidak sampai pada tahap merokok menjadi kebiasaan merokok.

c. Regular smoker atau perokok tetap adalah orang yang secara teratur

merokok baik mingguan maupun dengan intensitas yang lebih tinggi.

3. Alasan Merokok

Secara umum ketika seseorang ditanya mengenai penyebab merokok,

maka hampir sebagian orang mengatakan berbeda meskipun masih dalam

ruang lingkup yang sama. Sebagian besar jawabannya yakni pengaruh teman,

coba-coba, hasrat, ingin terlihat gagah, meningkatkan rasa percaya diri,

menambah kenikmatan, mencari kelezatan, menghilangkan stress, terpengaruh

oleh mitos-mitos merokok, ataupun sudah menjadi kebiasaan. Perokok

beralasan bahwa merokok dapat menghilangkan ketegangan (39,2%),

ikut-ikutan teman (13,7%), dapat meningkatkan produktifitas kerja (16,7%).

Penelitian lain menyebutkan 30,25% perokok beralasan merokok dapat

menghilangkan ketegangan dan 23,3% untuk mengisi kesepian (Lisa, 2010).

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Merokok

Penelitian Baequni dan Narila (2005) menunjukkan bahwa seorang

perokok pertama kali merokok dipengaruhi oleh teman (58%), diri sendiri

(29)

dan Narila (2005) menunjukkan bahwa teman (48%) merupakan orang yang

paling sering berperan mempengaruhi orang untuk merokok.

Menurut Sarafino, faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku merokok ada

tiga, yaitu faktor sosial, psikologis dan genetik (Lisa, 2010). Penelitian yang

dilakukan Matua Harahap pada tahun 2004, mengungkapkan anak-anak

merokok disebabkan pengaruh ajakan teman-temannya. Hal itu juga dampak

dari pengaruh media yang gencar melakukan promosi rokok (Zulkifli, 2010).

5. Kerugian Mengkonsumsi Rokok

Ada beberapa aspek yang merugikan jika kita mengkonsumsi rokok

diantaranya:

a. Aspek Kesehatan

Rokok mengandung 4000 zat kimia berbahaya bagi kesehatan, seperti

nikotin yang bersifat adiktif dan tar yang bersifat karsinogenik. Sedikitnya

25 penyakit di sebabkan oleh rokok diantaranya kanker paru, bronchitis

kronik, emfisema dan berbagai penyakit paru lainnya, kanker mulut,

tenggorokan, pankreas, kandung kencing, penyakit pembuluh darah, ulkus

peptikum, penyakit jantung, gangguan kehamilan dan janin, katarak,

kanker serviks, kerusakan ginjal dan periodontitis (Depkes, 2006).

Severina Sabia dan Kolega dari france`s Institute National de la Sante

et de la Recherche meneliti 10.308 warga London yang berusia 35-55

tahun untuk melihat hubungan merokok dan kemampuan daya ingat. Hasil

penelitian yang dilakukan pada 1985-1988 itu adalah, pertama, merokok

di usia pertengahan mengakibatkan penurunan daya ingat dan penurunan

(30)

yang telah berhenti dalam jangka waktu lama mengalami penurunan

kemampuan kognitif dalam mengingat kata-kata dan kemampuan verbal.

Ketiga, berhenti merokok di usia pertengahan akan mengakibatkan

peningkatan pada perilaku kesehatan. Keempat, seseorang yang

mengalami gejala penurunan kemampuan daya ingat berisiko besar

mengalami demensia dalam jangka waktu dekat (Media Indonesia, 16 Juni

2008).

b. Aspek Ekonomi

Merokok juga merugikan di sektor ekonomi. Harga rokok

berbungkusnya sekitar Rp.10.000,-. Seorang perokok setiap harinya

mengeluarkan minimal Rp.10.000,- untuk membeli rokok, kalau

dikalkulasikan dalam waktu sebulan Rp.300.000,- mereka habiskan hanya

untuk merokok. Seandainya uang itu diinvestasikan atau ditabung maka

dapat terkumpul sekitar Rp.3.600.000,- pertahun.

c. Aspek Sosial

Asap rokok bukan saja memberikan dampak buruk bagi perokok, tapi

juga orang lain disekitar perokok yang ikut menghisap asap rokok

tersebut. Perokok pasif dewasa mempunyai resiko lebih tinggi untuk

terkena penyakit kardiovaskuler, kanker paru, dan penyakit paru lainya.

Suatu penelitian di Finlandia menunjukan bahwa orang dewasa yang

terpapar asap rokok berpeluang menderita asma dua kali lipat dibanding

orang yang tidak terpapar. Perokok pasif bayi dan anak-anak mempunyai

resiko lebih tinggi untuk terkena infeksi telinga dan sindroma kematian

(31)

6. Mitos-mitos keliru tentang rokok

Beberapa mitos yang keliru tentang rokok disinyalir dapat mempengaruhi

keberlanjutan seseorang dalam merokok. Dikutip dari LM3, 2000, beberapa

mitos yang berkembang di masyarakat diantaranya:

a. Saya memilih rokok yang mild dan light sehingga mengurangi resiko

sakit.

b. Saya selalu menghisap rokok filter supaya aman.

c. Kalau tidak merokok saya menjadi tidak tenang, tegang, dan gelisah.

d. Merokok menjadikan saya lebih produktif.

e. Seringkali saya merasakan adanya dorongan sangat kuat untuk

merokok yang tidak dapat saya atasi.

f. Saya sudah mencoba beberapa kali untuk berhenti merokok tetapi

gagal. Jadi kali ini mungkin saya tidak akan berhasil lagi.

7. Adiksi/ketagihan

Berdasarkan UU No.36 Pasal 113 Tahun 2009, yang termasuk zat adiktif

meliputi tembakau, produk yang mengandung tembakau, padat, cair, dan gas

yang bersifat adiktif yang penggunaannya dapat menimbulkan kerugian bagi

dirinya dan/atau masyarakat sekelilingnya.

Gejala-gejala yang dapat diamati pada orang yang ketagihan (Lisa, 2010):

a. Adanya rasa ingin merokok yang menggebu.

b. Merasa tidak bisa hidup selama setengah hari tanpa rokok.

c. Merasa tidak tahan apabila kehabisan rokok.

d. Sebagian kenikmatan merokok terjadi saat menyalakan rokok.

(32)

f. Berkeringat dan gemetar (adanya penyesuaian tubuh terhadap

hilangnya nikotin).

g. Gelisah, susah konsentrasi, sulit tidur, lelah, dan pusing.

B. Berhenti Merokok

Robi mengungkapkan bahwa untuk berhenti merokok adalah kebijakan

kelompok. Mengutip hasil penelitian Universitas Harvard dan Universitas

California San Diego yang diterbitkan oleh jurnal The New England Journal of

Medicine, Mei 2008. Subjek penelitian adalah perokok dan bukan perokok di

AS beserta komunitas di sekitarnya, seperti keluarga, tetangga, rekan kerja, dan

teman serta temannya teman. Data yang digunakan dari pengamatan selama 32

tahun, dari tahun 1971 hingga 2003.

Hasil penelitian menunjukkan perokok cenderung berhenti merokok jika

teman, keluarga, atau tetangganya juga berhenti merokok. Artinya, keputusan

berhenti merokok bukan keputusan pribadi, tetapi lebih merupakan keputusan

bersama dalam suatu kelompok atau komunitas.

Becker (1979, dalam Notoatmodjo 2007), membuat klasifikasi lain tentang

perilaku kesehatan ini.

a. Perilaku hidup sehat

Adalah perilaku-perilaku yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan

seseorang untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya.

Perilaku ini mencakup antara lain: makan dengan menu seimbang,

olahraga teratur, tidak merokok, tidak minum minuman keras dan

narkoba, istirahat yang cukup, mengendalikan stres, dan perilaku atau

(33)

b. Perilaku sakit

Perilaku sakit ini mencakup respon seseorang terhadap sakit dan

penyakit, persepsinya terhadap sakit, pengetahuan tentang: penyebab

dan gejala penyakit, pengobatan penyakit, dan sebagainya.

c. Perilaku peran sakit

Dari segi sosiologi, orang sakit mempunyai peran yang mencakup

hak-hak orang sakit dan kewajiban sebagai orang sakit. Hak dan kewajiban

ini harus diketahui oleh orang sakit sendiri maupun orang lain.

1. Manfaat berhenti merokok

Hasil penelitian yang dimuat di Jurnal Kesehatan Inggris menunjukkan,

terdapat 20 penyakit yang terkait dengan kebiasaan merokok. Penelitian

terlama tentang dampak merokok terhadap kesehatan menunjukkan bahwa

rata-rata perokok meninggal dunia 10 tahun lebih cepat dibanding mereka yang

tidak merokok. Penelitian ini dimulai 50 tahun lalu ketika untuk pertama

kalinya muncul kaitan antara merokok dengan kanker paru-paru. Dipantau 50

tahun, penelitian ini melibatkan sekitar 35.000 dokter di Inggris yang lahir

antara 1900 dan 1930. Para ilmuan memantau kebiasaan merokok mereka

selama lebih dari 50 tahun. Data paling akhir menunjukkan risiko yang ada

jauh lebih besar dari perkiraan awal. Sir Richard Peto yang terlibat dalam

penelitian ini hampir selama 40 tahun mengatakan, berhenti merokok akan

meningkatkan kuantitas dan kualitas hidup. Bahkan setelah 20 tahun bila anda

berhenti merokok, anda bisa menghindari Sembilan dari sepuluh risiko yang

ada. Jika anda berhenti merokok setelah sepuluh tahun, anda bisa terbebas dari

(34)

merokok, orang tersebut susah untuk menghentikan kebiasaan itu. Banyak

orang yang mangaku tidak bisa berhenti merokok. Mereka yang berhenti

merokok pada usia 60 tahun, bisa meningkatkan harapan hidup selama tiga

tahun. Sementara bila seseorang berhenti merokok pada usia 30 tahun, berbagai

dampak negative terhadap kesehatan bisa diminimalkan.

Menurut Sani (2010), selain membuat orang-orang di sekitarnya lebih

sehat, orang-orang yang menghentikan kebiasaan merokok juga bisa

membersihkan tubuh mereka dari nikotin dan menjadi lebih sehat.

Pada 20 menit pertama setelah berhenti, tekanan darah, denyut jantung dan

aliran darah tepi akan membaik, 12 jam setelah berhenti tingkat karbon

monoksida dalam darah kembali normal, 48 jam setelah berhenti merokok,

sistem aliran darah juga akan membaik dan fungsi jantung meningkat, dua

sampai 12 minggu setelah berhenti nikotin akan tereliminasi dari sistem

sehingga indera pengecap dan penciuman membaik. Dalam jangka panjang,

satu sampai sembilan bulan setelah berhenti merokok, sesak nafas dan

batuk-batuk akan berkurang dan setelah satu tahun risiko terkena jantung koroner

menurun separuhnya. Risiko serangan jantung dan stroke turun ke tingkat yang

sama dengan bukan perokok setelah 15 tahun (ANTARA News, 26 Mei 2010).

2. Alasan tidak mudah untuk berhenti merokok

Aisyah, Kepala Unit Rumah Sakit Bayangkara Lemdiklat Polri,

mengungkapkan ada beberapa alasan mengapa kebiasaan merokok sulit

dihilangkan. Pertama, rokok itu legal. Perokok merasa tidak melanggar

peraturan dengan merokok. Mereka bisa merokok dimanapun tanpa takut akan

(35)

bersembunyi untuk menikmati narkoba. Kedua, rokok bisa dibeli dengan

mudah dimanapun, bahkan di warung atau kafetaria/kantin rumah sakit pun

rokok bisa dibeli. Harga rokok juga cukup terjangkau. Ketiga, perokok melihat

yang merokok bukan hanya dirinya, tetapi banyak orang. Mereka merasa tidak

bersalah karena banyak orang yang melakukan hal yang sama. Selain itu,

ketagihan rokok masih bisa ditunda. Maksudnya, walau mulut terasa asam,

kepala pusing, atau tanda-tanda ketagihan lain muncul, seorang perokok masih

bisa menunda ketagihan rokok jika tempat dan waktunya tidak memungkinkan

untuk merokok. Berbeda dengan narkoba, dimana kebutuhan tubuh akan

narkoba tidak bisa ditunda. Tingkat ketagihan yang ringan ini membuat orang

memandang enteng akan bahaya ketagihan rokok (Fathurrahman, 2006).

3. Motivasi berhenti merokok

Berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia, motivasi adalah dorongan

yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan

suatu tindakan dengan tujuan tertentu. Motivasi merupakan suatu istilah umum

yang mencakup tingkah laku yang mencari tujuan dan yang berkembang

karena adanya tujuan-tujuan. Dapat dikatakan motivasi adalah proses

menggiatkan, mempertahankan, mengarahkan tingkah laku pada tujuan tertentu

(Huffman, Vernoy, 1997 dalam Semium, 2006).

Motivasi seseorang dapat timbul dan tumbuh berkembang melalui dirinya

sendiri maupun dari lingkungan. Menurut Kort (1987) yang dikutip Bastable

(2002), motivasi adalah hasil faktor internal dan faktor eksternal dan bukan hasil

dari manipulasi eksternal saja. Motivasi internal adalah motivasi yang timbul

(36)

diri, tanpa harus menunggu rangsangan dari luar. Motivasi internal merupakan

dorongan atau rangsangan yang bersifat konstan dan biasanya tidak mudah

dipengaruhi oleh lingkungan luar. Sedangkan motivasi eksternal adalah motivasi

yang disebabkan oleh adanya rangsangan atau dorongan dari luar. Rangsangan

tersebut bisa dimanifestasikan bermacam-macam sesuai dengan karakter,

pendidikan, latar belakang orang yang bersangkutan. Kelemahan dari motivasi

ini adalah harus senantiasa didukung oleh lingkungan, fasilitas, orang yang

mengawasi, sebab kesadaran dari dalam diri individu itu belum tumbuh

(Herijulianti, 2001).

Faktor terpenting untuk berhenti merokok adalah kemauan yang kuat dari

dalam diri perokok sendiri untuk berhenti merokok. Apabila tidak ada kemauan

yang kuat, berbagai macam metode yang dipakai pasti akan gagal dan apabila

perokok berhasil berhenti merokok untuk jangka waktu tertentu, tidak lama

lagi dia akan kembali merokok. Apabila sudah ada motivasi dan kemauan yang

kuat untuk berhenti merokok, maka akan banyak metode yang dapat dipakai

untuk mewujudkan niat tersebut. Mereka yang akan berhenti merokok harus

menyadari bahwa tidak ada satupun obat atau cara yang manjur seratus persen

untuk menghentikan merokok kalau ia sendiri belum termotivasi kuat untuk

benar-benar berhenti merokok. (Aditama, 1992 dalam Fathurrahman, 2006)

4. Faktor penyulit berhenti merokok

Menghentikan perilaku merokok adalah sulit karena saat perokok-perokok

mencoba berhenti, kondisi yang mereka rasakan menjadi semakin buruk.

Secara psikologis, upaya berhenti merokok menjadi sulit karena adanya

(37)

terhadap rokok, ketiadaan aturan membatasi usia merokok, pengaruh teman

sebaya dan banyak hal lain (Jusuf, 2010).

Faktor penyulit seseorang berhenti merokok yaitu efek psikoaktif nikotin

yang sangat kuat yakni 5-10 kali lebih kuat dari kokain dan morfin, reseptor

pada otak yang menerima nikotin akan melepaskan dopamin yang memberikan

rasa nyaman sementara. Kehilangan rasa nyaman akan saat kadar nikotin

menurun menimbulkan keinginan kembali untuk merokok. Faktor lainnya

adalah kemudahan mendapatkan rokok dan gangguan-gangguan yang muncul

saat seseorang berhenti merokok (Sani, 2010). Selain kesulitan-kesulitan

semacam itu, kurangnya pengetahuan mengenai cara menghentikan kecanduan

nikotin membuat sebagian besar perokok gagal menghentikan kebiasaan

merokok (Ginting, 2010),.

C. Perilaku dan Perubahan

Perilaku dikenal sebagai tindakan organisme yang dapat diamati baik

secara langsung maupun tidak langsung, sedangkan menurut Skinner

(Notoatmojdo, 2005) bahwa perilaku adalah hasil hubungan antara stimulus

dan respon. Bloom (Notoatmodjo, 2005) membagi perilaku menjadi tiga

domain, yaitu pengetahuan (knowledge), sikap (affective), dan tindakan

(practice). Sedangkan menurut Green (Notoatmodjo, 2005) bahwa dalam

mengintervensi perilaku dengan pendidikan kesehatan maka perlu diketahui

faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku tersebut agar dapat dibuat

perencanaan yang tepat sasaran.

Green mencoba menganalisa perilaku kesehatan seseorang atau

(38)

(behaviour causes) dan faktor di luar perilaku (non behaviour causes).

Selanjutnya perilaku itu sendiri ditentukan atau terbentuk dari tiga faktor,

yaitu:

1. Faktor-faktor predisposisi (predisposing factors), yaitu faktor-faktor yang

mempermudah terjadinya perilaku seseorang yang terwujud dalam

pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai, tradisi, norma sosial,

persepsi, dan unsur-unsur lain yang terdapat dalam diri individu dan

masyarakat yang kemudian akan memotivasi individu atau kelompok

untuk melakukan suatu perilaku.

2. Faktor-faktor pendukung (enabling faktors), yaitu faktor-faktor yang

memungkinkan atau memfasilitasi terjadinya perilaku, yang terwujud

dalam lingkungan fisik, yakni tersedia atau tidaknya fasilitas-fasilitas atau

sarana-sarana kesehatan dan kemudahan untuk mencapainya, termasuk

juga prioritas dan komitmen masyarakat / pemerintah terhadap kesehatan

serta keterampilan yang berkaitan dengan kesehatan. Dalam lingkup

merokok adalah lingkungan yang permisif terhadap orang yang merokok

dan lingkungan yang kondusif (rokok mudah diperoleh, harga terjangkau,

dapat diecer).

3. Faktor-faktor penguat (reinforcing faktors), yang terwujud dalam sikap

dan perilaku dari keluarga, teman sebaya, petugas kesehatan, tokoh

masyarakat atau petugas lain yang merupakan kelompok referensi dari

(39)

D. Kerangka Teori

Kerangka teori dalam penelitian ini menggunakan teori perilaku Green,

bahwa perilaku ditentukan oleh tiga faktor, yaitu faktor predisposisi, faktor

pendukung, dan faktor penguat, dengan skema sebagai berikut:

Bagan 2.1 Modifikasi proses terbentuknya perilaku menurut Green dan Jusuf.

Berhenti merokok /

Tidak berhenti

merokok. Faktor predisposisi:

- Pengetahuan - Sikap

- Kepercayaan - Norma sosial - Persepsi

Faktor penguat:

- Perilaku para dosen, teman sebaya, dan paparan iklan rokok. Faktor pendukung:

- Ketersediaan rokok di lingkungan.

(40)

24

BAB III

KERANGKA PIKIR DAN DEFINISI ISTILAH

A. Kerangka Pikir

Dalam penelitian ini, peneliti akan menggali informasi tentang

faktor-faktor yang berkontribusi pada kesulitan perokok untuk berhenti merokok pada

mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

B. Definisi Istilah

Variabel Definisi

Istilah Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Validasi

Motivasi Dorongan

(41)

tindakan

dengan tujuan

tertentu.

Kesulitan

berhenti

merokok.

Keadaan yang

sukar sekali

bagi informan

untuk

meninggalkan

perilaku

merokok

Wawancara

mendalam.

Pedoman

wawancara

dan alat

perekam.

Faktor dari

luar dan

dalam yang

menyebabkan

tidak berhasil

berhenti

merokok.

Triangulasi

sumber.

(42)

26 BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Desain penelitian yang akan digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan

pendekatan studi fenomenologi. Penelitian deskriptif melakukan analisis hanya

sampai taraf deskripsi yaitu menganalisis dan menyajikan fakta secara

sistematik sehingga dapat lebih mudah untuk difahami dan disimpulkan.

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran yang benar mengenai

subyek yang diteliti. Penelitian deskriptif juga bertujuan untuk membuat

deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat

mengenai fakta-fakta (Nurbaeti & Utomo, 2010). Penelitian deskriptif

merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengeksplorasi dan

mengklarifikasikan suatu fenomena atau kenyataan sosial, dengan jalan

mendeskripsikan sejumlah variabel yang berkenaan dengan masalah dan unit

yang diteliti. Jenis penelitian ini tidak sampai mempersoalkan jalinan hubungan

antarvariabel yang ada, tidak dimaksudkan untuk menarik generalisasi yang

menjelaskan variabel-variabel anteseden yang menyebabkan sesuatu gejala

atau kenyataan sosial.

Penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang menghasilkan

penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai (diperoleh) dengan menggunakan

prosedur-prosedur statistik atau dengan cara-cara lain dari kuantifikasi (pengukuhan).

(43)

penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau

lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati (Salam & Jaenal, 2006).

Penelitian kualitatif lebih menekankan analisisnya pada proses penyimpulan

deduktif dan induktif serta analisis terhadap dinamika hubungan antar

fenomena yang diamati dengan menggunakan logika ilmiah (Irma & Waras,

2010).

Studi fenomenologi yaitu penelitian yang menjelaskan pengalaman

manusia melalui deskripsi dari orang yang menjadi informan penelitian,

sehingga peneliti dapat memahami pengalaman hidup informan. Penelitian ini

menggambarkan pendekatan psikologis terhadap penelitian fenomenologis

(Satori & Komariah, 2009). Metode penelitian ini ditekankan pada

subjektivitas pengalaman hidup dari perokok yang berkaitan dengan kesulitan

berhenti merokok.

B. Informan dalam Penelitian

Sampel dalam penelitian ini disebut informan. Informan dalam penelitian

ini dipilih dengan menggunakan purposive sampling technique yaitu suatu

metode yang digunakan jika penetapan informan didasarkan atas

kriteria-kriteria yang sudah ditentukan. Adapun kriteria-kriteria informan dalam penelitian ini

adalah mahasiswa UIN Jakarta, perokok dan pernah mencoba berhenti

merokok tetapi mengalami kegagalan. Proses pengambilan sampel dilakukan

dengan cara menetapkan informan sesuai kriteria yang telah ditentukan dan

akhirnya diperoleh dengan jumlah informan sebanyak 12 mahasiswa. Jumlah

tersebut ditetapkan setelah data atau jawaban yang diperoleh dari beberapa

(44)

C. Tempat dan Waktu penelitian

Penelitian ini dilakukan di UIN Jakarta dengan pengumpulan data

dilakukan di lingkungan universitas. Penelitian ini dilakukan pada bulan

Desember 2011.

D. Jenis data dalam penelitian

Jenis data dalam penelitian ini adalah data primer bersifat narasi, uraian,

penjelasan dari informan baik lisan maupun tulisan. Jenis data tersebut berupa

catatan lapangan dan rekaman audio.

E. Prosedur pengumpulan data

Sesuai dengan bentuk pendekatan kualitatif, maka teknik pengumpulan

data yang digunakan adalah wawancara mendalam dan analisis dokumen.

Pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri dari beberapa tahap, yaitu

persiapan, pelaksanaan, dan penutup.

1. Tahap persiapan

Dalam persiapan penelitian ini, peneliti telah memiliki beberapa

topik yang akan menjadi rencana penelitian. Peneliti mengajukan

topik/judul penelitian kepada pembimbing untuk mendapatkan

persetujuan, peneliti mencari bahan referensi dan menyusun proposal

penelitian. Setelah proposal penelitian direvisi sesuai dengan masukan

dan saran dari pembimbing dan penguji ketika ujian proposal,

kemudian peneliti menyiapkan instrumen dan alat bantu yang

digunakan untuk pengambilan data seperti pedoman wawancara,

(45)

mahasiswa sebagai informan dalam penelitian sesuai dengan kriteria

yang sudah ditentukan. Informan didapatkan di sekitar Unit Kegiatan

Mahasiswa (UKM) yakni dimana tempat berbagai kelompok

mahasiswa berkumpul.

2. Tahap pelaksanaan

Tahap ini merupakan tahap pengumpulan data di sekitar UKM.

Peneliti menanyakan kesediaan calon informan dengan menjelaskan

tujuan pengambilan data, waktu yang dibutuhkan dalam pengambilan

data dan memberikan lembar informed consent yang harus ditanda

tangani sebagai bukti kesediaan sebagai informan. Setelah calon

informan bersedia sebagai informan, peneliti menanyakan tempat

yang diinginkan informan untuk pengambilan data, tujuannya supaya

informan lebih fokus tanpa adanya pengaruh dari lingkungan sekitar.

Selanjutnya, sesuai kontrak dengan informan, peneliti melakukan

pengambilan data dari informan. Teknik yang digunakan adalah

melakukan wawancara mendalam serta merekam wawancara untuk

memperoleh data primer sesuai pedoman wawancara.

3. Tahap penutupan

Pada tahap penutupan ini, peneliti menentukan code setiap

informan. Selanjutnya peneliti membuat kontrak dengan informan

bahwa peneliti akan datang kembali untuk validasi data serta apabila

ada data yang belum diperoleh atau mengulang data apabila ada data

(46)

melakukan terminasi dengan memberikan apresiasi kepada informan

atas partisipasi dan kesediaannya dalam penelitian.

F. Instrumen data

Instrumen utama dalam penelitian ini adalah yang melakukan penelitian

yaitu peneliti. Peneliti dalam penelitian kualitatif merupakan orang yang

membuka kunci, menelaah dan mengeksplorasi seluruh ruang secara cermat,

tertib, dan leluasa. Untuk itu teknik penelitian yang digunakan untuk menggali

data adalah wawancara mendalam.

Wawancara mendalam adalah suatu teknik pengumpulan data dimana

peneliti mendapatkan keterangan dari informan secara lisan melalui

bercakap-cakap. Wawancara dalam penelitian kualitatif sifatnya mendalam karena ingin

mengeksplorasi informasi secara holistic dan jelas dari informan. Alat yang

digunakan adalah pedoman wawancara, alat-alat tulis dan alat perekam.

G. Analisis data

Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif narasi. Pengolahan

dilakukan dengan reduksi data, display data, dan analisis data. Proses analisis

data pada penelitian ini dilakukan langsung setelah mengumpulkan data dari

masing-masing informan. Setelah melakukan wawancara dengan informan dan

dianggap sudah menjawab semua tujuan penelitian, maka peneliti segera

melakukan transkripsi hasil rekaman secara simultan untuk selanjutnya

dianalisa. Setelah semua data dari hasil wawancara dengan informan dan

cacatan lapangan pertama dibuat transkripsi yang dilakukan secara simultan

dengan proses pengumpulan data terhadap informan yang kedua dan

(47)

wawancara, kemudian peneliti melakukan interpretasi terhadap hasil tersebut.

Proses pengolahan data akan menggunakan matriks untuk membantu proses

analisis data. Analisis data yang digunakan adalah analisis isi atau content

analysis (Burhan Bungin, 2003).

H. Validasi data

Untuk mendapatkan data yang akurat, peneliti melakukan triangulasi.

Triangulasi adalah pengecekan data dari berbagai sumber informasi (informan)

dengan berbagai cara dan berbagai waktu (Satori, 2009). Menurut Kresno dkk

(2006) ada tiga tipe triangulasi, yaitu triangulasi sumber, triangulasi metode,

dan triangulasi data. Dalam penelitian ini hanya menggunakan triangulasi

sumber karena penelitian ini hanya bisa menggunakan satu metode maka tidak

menggunakan triangulasi metode sedangkan triangulasi data sulit dilakukan,

biaya mahal, dan membutuhkan waktu yang lama.

I. Keabsahan data

Dalam peningkatan keabsahan hasil penelitian, peneliti melakukan cek dan

ricek serta croscek pada prosedur penelitian yang sudah ditempuh, serta telaah

terhadap substansi penelitian. Keabsahan data suatu penelitian kualitatif

tergantung pada empat kriteria, yaitu: credibility, dependability, transferability

dan confirmability.

Credibility merupakan kriteria untuk memenuhi nilai kebenaran dari data

dan informasi yang dikumpulkan. Artinya, hasil penelitian harus dapat

dipercaya oleh semua pembaca secara kritis dan dari responden sebagai

informan. Dalam penelitian ini, peneliti meningkatkan kualitas keterlibatan

(48)

melibatkan teman sejawat untuk berdiskusi, menggunakan bahan referensi

akan kebenaran data yang diperoleh dalam bentuk rekaman, tulisan, gambar,

dll.

Dependability merupakan suatu kekonsistenan peneliti dalam

mengumpulkan data, membentuk, dan menggunakan konsep-konsep ketika

membuat interpretasi untuk menarik kesimpulan. Dalam penelitian ini, peneliti

melakukan kegiatan auditing (pemeriksaan) dengan pembimbing penelitian.

Transferability merupakan cara membangun keteralihan untuk menilai

keabsahan data penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti menguraikan secara

rinci hasil temuan yang diperoleh, kemudian dibuat penjelasan dengan tentang

hasil wawancara dalam bentuk naratif yang menceritakan rekaman wawancara

dan catatan lapangan kemudian dilakukan pembahasan terhadap hasil

penelitian menggunakan jurnal dan literatur yang sesuai dengan topik

penelitian (Moleong, 2007).

Confirmability merupakan kriteria untuk menilai mutu tidaknya hasil

penelitian. Confirmability adalah suatu proses untuk memperoleh obyektifitas

data. Dalam penelitian ini, peneliti menyerahkan dokumen temuan data dalam

bentuk transkrip untuk dibaca oleh partisipan pada tahap validasi data sebagai

upaya untuk memperoleh kepastian atau obyektifitas data yang diperoleh.

J. Etika penelitian

Masalah etika penelitian keperawatan merupakan masalah yang sangat

penting dalam penelitian, mengingat penelitian keperawatan langsung dengan

(49)

1. Informed Consent

Informed Consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti

dengan informan penelitian dengan memberikan lembar persetujuan dan

diberikan sebelum penelitian dilakukan. Tujuannya adalah agar informan

mengerti maksud dan tujuan penelitian, serta mengetahui dampaknya. Jika

informan bersedia maka informan akan menandatangani lembar

persetujuan tersebut, dan sebaliknya jika menolak maka peneliti akan tetap

menghormati hak informan.

2. Anonimity

Anonimity merupakan jaminan untuk tidak memberikan atau

mencantumkan nama informan pada penelitian dan hanya menuliskan

kode informan pada lembar pengumpul data atau hasil penelitian yang

akan disajikan.

3. Confidentiality

Confidentiality merupakan peneliti menjaminan kerahasiaan identitas serta

semua informasi yang diperoleh dari informan dan tidak akan diungkap di

(50)

34 BAB V

HASIL PENELITIAN

A. Karakteristik Informan

Secara umum gambaran karakteristik informan yang berhasil diwawancarai

beserta identitasnya sebagai berikut:

No Informan Jenis kelamin Usia Fakultas / Program Studi

1 I1 Laki-laki 24 tahun.

Adab dan Humaniora / Ilmu

perpustakaan.

2 I2 Laki-laki 20 tahun.

Ekonomi dan Bisnis /

Manajemen.

3 I3 Laki-laki 22 tahun.

Adab dan Humaniora / Ilmu

Perpustakaan.

4 I4 Laki-laki 22 tahun.

Ekonomi dan Bisnis /

Manajemen.

5 I5 Laki-laki 21 tahun.

Ekonomi dan Bisnis /

Manajemen.

6 I6 Laki-laki 23 tahun. Psikologi

7 I7 Laki-laki 23 tahun.

Ekonomi dan Bisnis /

Manajemen.

8 I8 Laki-laki 22 tahun. Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

9 I9 Laki-laki 22 tahun. Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

10 I10 Laki-laki 22 tahun.

Sains dan Teknologi / Teknik

Informatika.

11 I11 Laki-laki 24 tahun. Ekonomi dan Bisnis / Akutansi

12 I12 Laki-laki 23 tahun.

Dakwah dan Komunikasi /

Jurnalistik.

(51)

B. Hasil Penelitian

1. Mulai merokok

Hasil penelitian didapatkan semua informan mulai merokok pada saat masih

duduk di bangku sekolah. Dari 12 informan, didapatkan 5 (41,66%) informan

mulai merokok pada saat duduk di bangku SMA, seperti ungkapan berikut:

“Saya merokok dari kelas satu SMA, sekitar umur 18 tahun” (I1).

“Kelas 2 SMA semenjak usia 17 tahun” (I4).

“Sejak Kelas 3 SMA sekitar umur 18 tahun” (I5).

“Sejak SMA kelas 3 umur 17 tahun” (I6).

“Saya merokok kelas 1 SMA sekitar umur 18 tahun” (I7).

Didapatkan 3 (25%) informan mulai merokok pada saat duduk di bangku SMP,

seperti ungkapan berikut:

“Saya merokok dari kelas 2 SMP, dari usia 13 tahun” (I2).

“Ketika saya kelas 3 SMP sekitar umur 14 tahun” (I9).

“Berapa lamanya kurang tau cuman dari kelas 2 SMP” (I10).

Bahkan didapatkan 4 (33,33%) informan mulai merokok pada saat masih duduk di

bangku SD, seperti ungkapan berikut:

“Kalau pertama sih kelas 6 SD tapi pernah fakum juga sih sekitar 2 tahun,

kelas 3 SMP mulai lagi” (I3).

“Dari kelas5 SD” (I8).

“Mulai merokok dari SD kelas 5 cuma aktif merokok ketika SMA kelas 3

kalau SD SMP kelas 2 itu masih tentatif sifatnya insidental dalam artian

seminggu sekali jadi jarang-jarangan” (I11).

(52)

Secara umum informan mulai merokok saat usia antara 12-18 tahun.

2. Penyebab merokok

Hasil penelitian didapatkan bahwa informan merokok disebabkan karena

adanya beberapa faktor, yaitu:

a. Lingkungan pergaulan teman sebaya, seperti ungkapan berikut:

“Karena faktor temen juga, faktor kumpulan temen jadi ya

kebawa-bawalah gitu (I1).

“Kalau pertama sih ikutan temen, tapi lama menjadi kebiasaan jadi

rasa enak aja” (I3).

“Diajak teman”(I4)

“awalnya ga ada keinginan untuk merokok, hanya lingkungan yang

ngebentuk saya merokok, terus saya merasakan, saya nyaman dan

akhirnya saya merokok” (I5).

“karena kebetulan juga temen-temen saya di sekolah dan di kuliah

ngrokok semua, jadi biar banyak temennya saya ikutan ngrokok” (I6).

“karena berada di komunitas anak-anak perokok sehingga saya

terpengaruh lantas menjadi suatu kebiasaan” (I7).

“Awalnya diajakin temen, kesini-kesinya jadi semacam kebutuhan” (I8).

“Pergaulan temen-temen merokok semua jadi saya kebawa untuk

merokok (I9).

“Di lingkungan sekolah juga bertemennya ama orang gitu juga

keterusan aja” (I10).

“ada selentingan dari temen sebaya cowok ga ngrokok itu ga laki

(53)

b. Mencoba-coba, seperti ungkapan berikut:

“selain faktor temen ya pengen nyoba aja kaya gimana..eeehh sekarang

jadi ngrokok juga” (I1).

“Pertama sih saya iseng-iseng aja” (I6)

“Awalnya cuma coba-coba”(I7).

“W ngrokok karena pengen, pengen tau apa sih kenapa orang pada

ngrokok ga bisa lepas dari rokok apa enaknya itu yang menyebabkan w

ngrokok akhirnya emang nikmat lanjut ngrokok ampe sekarang” (I12).

c. Kejenuhan, seperti ungkapan berikut:

“Awalnya ketika di pesantren sering mengalami kejenuhan, setelah

ngaji setelah apa saya keluar dan itu mulai terbiasa merokok” (I4).

d. Mengisi waktu luang, seperti ungkapan berikut:

“Kalau merokok kita bisa mengisi waktu luang. Awalnya merokok cuma

buat isi waktu luang” (I2).

“Dari pada nganggur, isi waktu” (I4).

e. Ingin terlihat gaya atau keren, seperti ungkapan berikut:

“Dulu kan persoalan trend bahwa laki-laki itu pengen dibilang keren itu

merokok” (I5)

“gaya-gayaan biar ga kliatan culun” (I6).

“Awalnya coba-coba karena liat temen gaya gitu kan akhirnya saya

ngikutin”(I9).

“Awalnya w liat orang dewasa kayaknya keren banget karena ketika dia

merokok ada semacem gaya mungkin w liat orang rokok itu gaya keren”

(54)

f. Anggota keluarga perokok, seperti ungkapan berikut:

“Awalnya coba-coba karena bokap ngrokok” (I10).

3. Motivasi berhenti merokok

Hasil penelitian didapatkan bahwa secara umum hampir semua informan

mempunyai keinginan dan mencoba untuk berhenti merokok. Adapun

intensitas berhenti merokok antar informan berbeda-beda. Informan berhasil

berhenti merokok dalam beberapa hari, minggu, dan beberapa bulan. Hal ini

disebabkan motivasi antar informan yang berbeda pula. Motivasi tersebut

timbul karena adanya beberapa faktor yaitu:

a. Diri sendiri, seperti ungkapan berikut:

“Selain itu, karena faktor dari kemauan diri pribadi” (I3).

“Kadang sadar kalau bener harus berhenti merokok” (I8).

b. Kesehatan, seperti ungkapan berikut:

“Penyebab ga ngrokok itu karena sakit timbul” (I5).

“Berhenti merokok kalau saya sakit atau ingin gemukin badan” (I6).

“Sebenarnya balik lagi ke diri pribadi karena menghargai kesehatan

diri sendiri karena kesehatan itu mahal” (I7).

“Saya pernah berhenti karena sakit” (I10).

“Ketika keadaan kondisi fisik saya biasa saja, saya ga akan berhenti

merokok tapi kalau mempengaruhi kesehatan saya, saya akan berhenti

merokok” (I11).

c. Lingkungan, seperti ungkapan berikut:

“Saya tidak merokok karena keadaan sosial atau lingkungan keluarga

(55)

“Kalau di rumah saya bisa nahan karena di rumah ga ada yang

merokok” (I9).

d. Tuntutan dari luar.

“berhenti waktu mau tes masuk UIN” (I2).

“Pernah 6 bulan kemarin sempet berhenti. Yang pertama faktor karena

ada tuntutan dari seseorang. Terus dia sering nasihatin tentang

kejelekan merokok jadi rada-rada tau gitu” (I3).

“Pacar sering ngingetin berhenti merokok” (I8).

“Pertama kali masuk kuliah” (I9).

e. Ekonomi, seperti ungkapan berikut:

“Ada keinginan berhenti karena jebol (finansial), akhir-akhir ini karena

ga ada kerjaan” (I4).

“Kalau sudah berkeluarga saya pengen berhenti ngrokok karena ingin

hidup hemat tanpa membuang uang sia-sia dengan merokok” (I6).

4. Upaya berhenti merokok

Hasil penelitian didapatkan bahwa upaya beberapa perokok untuk berhenti

merokok dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:

a. Menghindar dari komunitas perokok, seperti ungkapan berikut:

“Kalau saya caranya menghindar dari orang merokok” (I1).

“Saya mencoba mengurangi pergaulan dengan orang-orang yang

ngrokok, lebih karena itikad untuk berhenti karena telah merasakan efek

(56)

b. Niat diri sendiri atau merubah sugesti, seperti ungkapan berikut:

“Usaha w sebenernya karena niat w ketika w pengen berhenti w bener

-bener full pengen berhenti, sugesti w tentang rokok, pikiran w tentang

rokok, semua rasa tentang rokok itu harus w rubah karena kalau ga

ngrubah itu susah dan w ga percaya orang bilang w berhenti ngrokok

harus bertahap w ga percaya itu buktinya w bisa ketika berhenti w full

total langsung berhenti ga secara bertahap asalkan sugesti w keinginan

w bener-bener itu memang berhasil” (I12).

c. Makan cemilan, seperti ungkapan berikut:

“paling makan permen ja, nyemil-nyemil, kalau ada cemilan ya rokok

minggir” (I1).

“Paling ngemil-ngemil karena kalau ga ngrokok bawaannya laper” (I2).

“Beli cemilan banyak biar pengganti habis makan” (I6)

d. Mengurangi porsi rokok, seperti ungkapan berikut:

“Caranya biasanya dengan memperhitungkan jatah tiap hari merokok.

Terus kedepannya berkurang, berkurang lagi” (I3).

“Paling ngurangin karena ga bisa tiba-tiba langsung berhenti

sekaligus” (I8).

“Menurunkan porsi merokok tiap hari secara bertahap” (I11).

e. Puasa, seperti ungkapan berikut:

“Puasa, karena punya keyakinan puasa itu menyehatkan, kemudian aku

lakukan olahraga karena habis olahraga biasanya kita ga mo ngrokok.

(57)

f. Mengalihkan dengan kegiatan lain seperti ungkapan berikut:

“Dilampiaskan dengan maen komputer atau maen game” (I6).

5. Kesulitan berhenti merokok

Hasil penelitian didapatkan bahwa hampir semua perokok ingin berhenti

merokok, pernah berhenti merokok tetapi kembali merokok sampai sekarang. Hal

tersebut disebabkan karena beberapa faktor seperti faktor, yaitu:

a. Pergaulan teman, seperti ungkapan berikut:

“Karena faktor lingkungan juga karena temen-temen kebanyakan

merokok jadi saya ngambil kesimpulan ja, lebih baik ngikut meskipun

sedikit-sedikit buat hargain daripada nghindar ga enak, biasanya

disepelein gitu mas. Karena orang-orang kaya gitukan biasanya

ledek-ledekan cuma ga enak ja. Maksud gw kalau samping-sampingan dengan

orang merokok kan asepnya tuh, jadi daripada asepnya ga ngrokok lagi

asik ngobrol ngehindar kan ga enak, terpaksa dibakar” (I1).

“Faktor kesulitannya sih karena pengaruh pergaulan juga sih mas,

terus biasanya bingung mo nglakuin apa lagi terus jadinya ngrokok deh.

Kaya gitu biasanya”(I3).

“Lingkungan kawan-kawan atau temen-temen saya itu semuanya

merokok dulu juga saya merokok akan tetapi saya sudah berhenti

seolah-olah terpanggil kembali saya untuk merokok dan akhirnya

merokok terus (I5).

“Karena saya takut kehilangan temen-temen ketika saya nongkrong jadi

temennya berkurang atau dianggap saya ga asik bagi temen-temen

(58)

saya agak sedikit berkurang ketika ga ngrokok dengan temen-temen,

adanya duit buat beli rokok, atau bisa minta rokok ke temen. kebetulan

temen-temen sering nawarin rokok terus ya nungguin BT daripada

nglamun masih mending saya ngrokok” (I6).

“Ada, sebenernya balik lagi ke diri pribadi karena menghargai

kesehatan diri sendiri karena kesehatan itu mahal. Kalau saya hidup

dengan lingkungan yang memang ga merokok saya bisa ga merokok

karena lingkungan yang terlalu dominan ya beginilah susah” (I7).

“pergaulan juga sih mas ketika saya ingin berhenti nyampe sini pada

ngrokok semua masa saya ga, apalagi kalau lagi stress mas semakin

jadi” (I9).

b. Diri pribadi, seperti ungkapan berikut:

“Berhenti waktu mau tes masuk UIN. Kesulitannya ya bawaannya laper,

mulut ga enak, kalau ada duit, ga ada yang nglarang merokok sekalipun

cewe, mendingan pilih rokok daripada cewe, kalau cewe nglarang

ngerokok mending diputusin aja” (I2).

“Bisa ngrokok lagi karena banyak pikiran, kalau sendirian bengong mo

ngapain” (I3).

“Kesulitannya seolah-olah ga ada kegiatan tanpa rokok. Misal kita di

ruang AC, kita ga ngrokok sekian lama biasanya kalau udah 3 jam 5

jam ga ngrokok biasanya mulut saya agak gimana gitu, rasanya agak

asem-asem gitu loh, mulut rasanya ga enak, kaya digebukin orang cina

Gambar

Tabel 5.1 Karakteristik Informan  .....................................................................
Tabel 3.1. Definisi Istilah
Tabel 5.1. Karakteristik Informan

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Panitia Pengadaan Barang/Jasa Satuan Kerja Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Aceh Tamiang Sumber Dana APBK Aceh Tamiang Tahun Anggaran 2011 mengundang Penyedia

Artinya: “Dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah membunuh al -Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah (mereka menyebut Isa putera Maryam itu Rasul Allah

Single-mode dapat membawa data dengan bandwidth yang lebih besar dibandingkan dengan multi-mode fiber optik, tetapi teknologi ini membutuhkan sumber cahaya dengan

Ada dua dimensi struktur lewis yang terdiri dari electron-dot simbol yang menggambarkan masig-masing atom yang berikatan dengan pasangan yang menahan mereka bersama-sama, dan

Hasil Percobaan menunjukkan bahwa penambahan probiotik dalam pakan buatan dengan dosis yang berbeda tidak berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan

Spine mempunyai lekukan-lekukan yang normal ketika dilihat dari samping, namun tampak lurus ketika dilihat dari depan.Skoliosis dapat terjadi pada thoracal dan

Hasil pengujian menunjukkan bahwa secara simultan variabel kompetensi, independensi, etika profesi, dan pengalaman auditor berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit,