• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Pengaruh Nilai Tukar, Inflasi Dan Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia Terhadap Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan Di Bursa Efek Indonesia Periode 2004 – 2008

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Analisis Pengaruh Nilai Tukar, Inflasi Dan Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia Terhadap Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan Di Bursa Efek Indonesia Periode 2004 – 2008"

Copied!
81
0
0

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI

PROGRAM STRATA 1 MEDAN

ANALISIS PENGARUH NILAI TUKAR, INFLASI DAN SUKU

BUNGA SERTIFIKAT BANK INDONESIA TERHADAP

PERGERAKAN INDEKS HARGA SAHAM

GABUNGAN DI BURSA EFEK

INDONESIA PERIODE

2004 – 2008

DRAFT SKRIPSI

RUMIRIS L. TOBING 050502093 MANAJEMEN

Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

Universitas Sumatera Utara Medan

(2)

ABSTRAK

Rumiris L. Tobing (2009). Analisis Pengaruh Nilai Tukar, Inflasi, dan Suku Bunga SBI Terhadap Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia Periode 2004-2008. Di bawah bimbingan Drs. Syahyunan, M.Si., Prof. Dr. Ritha F. Dalimunthe, SE., M.Si. (Ketua Departemen Manajemen), Dra. Lisa Marlina, M.Si. (Penguji I), T. M. Chairal Abdullah SE., MBA. (Penguji II).

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis apakah terdapat pengaruh dari Nilai Tukar, Inflasi dan Suku Bunga SBI terhadap Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia selama periode 2004-2008.

Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diperoleh dari data harian dan bulanan yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia dan Bursa Efek Indonesia dan diolah menggunakan Analisis Regresi Linier Berganda.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nilai Tukar, Inflasi dan Suku Bunga SBI secara simultan mempengaruhi Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2004-2008. Secara parsial, Nilai Tukar dan Suku Bunga SBI berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap Pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, sedangkan inflasi berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap Pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia selama periode 2004-2008.

(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan atas segala kasihNya sehingga penulis dapat

menyelesaikan perkuliahan dan penulisan skripsi ini guna memenuhi salah satu

syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi

Universitas Sumatera Utara.

Skripsi ini berjudul “Analisis Pengaruh Nilai Tukar, Inflasi dan Suku Bunga

SBI terhadap Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek

Indonesia (BEI) Periode 2004 – 2008.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini telah banyak mendapat

dukungan baik secara moril maupun materiil. Untuk itu, melalui kesempatan ini,

penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang setulusnya kepada:

1. Bapak Drs. Jhon Tafbu Ritonga, M.Ec., selaku Dekan Fakultas Ekonomi

Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Prof. Dr. Ritha F. Dalimunthe, SE., M.Si., selaku Ketua Departemen

Manajemen.

3. Ibu Dra. Nisrul Irawati, MBA., selaku Sekretaris Departemen Manajemen

Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara dan juga merupakan Dosen

Wali yang telah memberikan bimbingan selama masa kuliah..

4. Bapak Drs. Syahyunan, M.Si., selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak

memberikan bimbingan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

5. Ibu Dra. Lisa Marlina, M.Si. dan Bapak TM. Chairal Abdulllah, SE., MBA.,

(4)

6. Bapak/Ibu Dosen Pengajar di Fakultas Ekonomi USU yang telah banyak

memberikan bimbingan dan pengetahuan selama perkuliahan.

7. Seluruh Staf Karyawan di Fakultas Ekonomi USU.

8. Teristimewa Kedua orang tua tercinta, serta adik-adik atas kasih sayang dan

dukungannya.

9. Kepada sahabat-sahabat terdekat, Ayen, Rina, Irma, Hany, atas perhatian,

dukungan dan bantuannya.

10.Kepada Suri dan Ester yang selalu bersama dalam penyusunan skripsi ini.

11.Kepada teman-teman, Joseph, Lidia, Leo, Aron, dan seluruh teman-teman

Manajemen stambuk 05, atas bantuan dan dukungannya.

12.Teman terbaikku, Andre atas cinta, perhatian dan dukungannya.

13.Dan seluruh pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan skripsi ini masih jauh dari

sempurna, karena keterbatasan pengetahuan penulis dalam pengulasan skripsi ini.

Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan adanya saran dan kritik yang

membangun demi penulisan kedepan.

Akhir kata, penulis berharap semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi

pembaca.

(5)

DAFTAR ISI

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 9

1. Tujuan Penelitian... 9

2. Manfaat Penelitian ... 9

F. Metode Penelitian ... 10

1. Batasan Operasional ... 10

2. Definisi Operasional ... 10

3. Tempat dan Waktu Penelitian ... 12

4. Jenis Data ... 12

5. Teknik Pengambilan Sampel ... 13

6. Metode Analisis Data ... 13

BAB II. URAIAN TEORITIS A. Penelitian Terdahulu ... 19

B. Indeks Harga Saham Gabungan... 20

C. Nilai Tukar Mata Uang ... 24

1. Teori Nilai Tukar ... 26

2. Sistem Nilai Tukar... 27

3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nilai Tukar ... 28

D. Tingkat Inflasi... 28

1. Teori Inflasi ... 29

2. Jenis-jenis Inflasi ... 30

3. Pengukuran Tingkat Inflasi ... 31

E. Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia ... 32

1. Tujuan Penerbitan SBI... 32

(6)

BAB III. GAMBARAN UMUM PERUSAAN

A. Sejarah Pasar Modal Indonesia... 34

B. Prosedur Pendaftaran Sekuritas di BEI ... 39

C. Prosedur Transaksi di BEI ... 39

BAB IV. ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Analisis Desktriptif ... 41

B. Analisis Statistik ... 49

1. Analisis Regresi Linier Berganda ... 49

2. Uji Asumsi Klasik ... 50

3. Pengujian Hipotesis ... 56

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 60

B. Saran... 61

(7)

DAFTAR TABEL

No. Judul Halaman

Tabel 1.1 Pergerakan IHSG, Nilai Tukar, Inflasi dan Suku Bunga SBI .... 3

Tabel 4.1 Perubahan IHSG Januari 2004-Desember 2008 ... 41

Tabel 4.2 Perubahan Nilai Tukar Januari 2004-Desember 2008 ... 43

Tabel 4.3 Laju Inflasi Januari 2004-Desember 2008 ... 45

Tabel 4.4 Perubahan Suku Bunga SBI Januari 2004-Desember 2008 ... 47

Tabel 4.5 Hasil Estimasi Regresi ... 49

Tabel 4.6 Hasil Uji Kolmogorov Smirnov ... 51

Tabel 4.7 Hasil Uji Park Test ... 54

Tabel 4.8 Hasil Uji Runs ... 54

Tabel 4.9 Hasil Uji Breusch-Godfrey ... 55

Tabel 4.10 Hasil Uji Multikolinearitas ... 56

Tabel 4.11 Hasil Uji Simultan (Uji-F) ... 56

(8)

DAFTAR

GAMBAR

No. Judul Halaman

Gambar 1.1 Pergerakan IHSG, Nilai Tukar, Inflasi dan Suku Bunga SBI ... 3 Gambar 1.2 Kerangka Konseptual ... 8 Gambar 4.1 Hasil Uji Normal P-P Plot of Regression

Standardized Residual ... 52

(9)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merupakan indikator perekonomian

Indonesia yang dicerminkan melalui Bursa Efek Indonesia. Untuk mengetahui

bagaimana kegiatan ekonomi bergerak, naik dan turun, banyak orang akan

melihatnya dari sisi indeks yang dicapai pada saat itu. Salah satunya adalah Indeks

Harga Saham Gabungan.

Pertumbuhan investasi di suatu negara akan dipengaruhi oleh pertumbuhan

ekonomi negara tersebut. Semakin baik tingkat perekonomian suatu negara, maka

semakin baik pula tingkat kemakmuran penduduknya. Tingkat kemakmuran yang

lebih tinggi ini umumnya ditandai dengan adanya kenaikan tingkat pendapatan

masyarakatnya. Dengan adanya peningkatan pendapatan tersebut, maka akan

semakin banyak orang yang memiliki kelebihan dana yang dapat dimanfaatkan

untuk disimpan dalam bentuk tabungan atau diinvestasikan dalam bentuk

surat-surat berharga yang diperdagangkan dalam pasar modal. Berlangsungnya fungsi

pasar modal adalah meningkatkan dan menghubungkan aliran dana jangka

panjang dengan kriteria pasar yang secara efisien menunjang pertumbuhan riil

ekonomi secara keseluruhan (Lloyd dalam Agung, 2005).

Tandelilin (2001) menyatakan bahwa perkembangan pasar modal Indonesia

dapat dilihat dari gerakan IHSG yang tampaknya sulit dilepaskan begitu saja dari

pengaruh berbagai perubahan kondisi ekonomi makro, sosial, politik maupun

(10)

terhadap Dollar Amerika, tingkat inflasi, suku bunga (deposite rate), suku bunga

Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan jumlah uang beredar (money suply).

Keberadaan pasar modal yang selain dapat menyebabkan cepatnya arus

keluar-masuk modal ke Indonesia, juga terdapat aktifitas bisnis di Indonesia yang

banyak didominasi Dollar Amerika Serikat. Kegagalan bank sentral dalam

melakukan stabilisasi ketika Rupiah mengalami goncangan, dapat menimbulkan

instabilitas antara lain berupa meroketnya harga komoditas yang terkait dengan

Dollar. Ketergantungan terhadap Dollar terbukti menjadi bumerang ketika

Rupiah menjadi sangat fluktuatif yang membuat Indonesia terimbas contagion

effect yang berawal dari kejatuhan Baht. Dengan demikian, diharapkan

pemerintah dan lembaga terkait diharapkan mampu mempertahankan kondisi

makro pada kondisi yang stabil.

Keberhasilan bank sentral mengendalikan inflasi dan mempertahankan

kurs Rupiah ke level kondusif terlihat sepanjang tahun 2006 hingga 2007.

Berbagai kebijakan ekonomi telah mampu menjaga kestabilan nilai tukar Rupiah

terhadap USD. Namun, akhir 2007, Rupiah terus mengalami depresiasi yang

terhenti sejenak dan membaik Pebruari 2008 hingga Maret 2008, dan terus

meningkat tajam hingga Nopember 2008, Rupiah mencapai Rp 11.700 per USD.

Perubahan nilai tukar, inflasi dan SBI pada akhir 2007 hingga 2008 dapat dilihat

(11)

Tabel 1.1

Pergerakan IHSG, Nilai Tukar, Inflasi dan Suku Bunga SBI ( Oktober 2007- Desember 2008)

Sumber

Pergerakan IHSG, nilai tukar, inflasi dan suku bunga SBI secara grafik dapat

dilihat pada Gambar 1.1 dibawah ini.

Gambar 1.1. Pergerakan IHSG, Nilai Tukar, Inflasi dan Suku Bunga SBI

Sumber:

Gambar 1.1 menunjukkan bahwa IHSG, nilai tukar, inflasi dan suku bunga

SBI begitu fluktuatif di akhir 2007 – 2008. Pada gambar terlihat, sejak ahir 2008

Bulan/

(12)

Rupiah terus melemah terhadap Dollar. Bahkan dilihat dari trennya, pada akhir

2008 Rupiah akan terus melemah. Naiknya nilai tukar Rupiah terhadap USD

diikuti penurunan SBI, hal ini dipicu karena tingginya aktivitas perdagangan

valuta asing dalam hal ini Dollar Amerika sehingga banyak investor lebih memilih

menginvestasikan dananya di sektor perdagangan valuta asing. Untuk meredam

melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika, pemerintah terus

menaikkan suku bunga sertifikat Bank Indonesia (SBI) sejak Mei 2008 dan pada

Oktober 2008 menyentuh angka 11.15% pertahun.

Tandelilin (2001) menyatakan bahwa tingkat bunga yang tinggi merupakan

sinyal negatif terhadap harga saham. Hal ini dikarenakan tingkat suku bunga yang

meningkat akan menyebabkan peningkatan suku bunga yang diisyaratkan atas

investasi pada suatu saham. Di samping itu, tingkat suku bunga yang meningkat

bisa juga menyebabkan investor menarik investasinya pada saham dan

memindahkannya pada investasi berupa tabungan atau deposito. Hal itu terbukti,

terlihat bahwa naiknya suku bunga SBI sejak Mei 2008 diikuti penurunan IHSG

hingga mencapai level 1300 pada Oktober dimana suku bunga SBI pada saat itu

merupakan yang tertinggi sepanjang tahun 2007-2008.

Indikator kedua yang paling fluktuatif pada Gambar 1.1 adalah tingkat

inflasi. Dapat dilihat bahwa inflasi terus meningkat sejak akhir 2007 hingga akhir

2008 dan pernah menyentuh dua digit (12 %) pada September 2008. Krisis

moneter yang melanda Indonesia sampai sekarang telah memporakporandakan

perekonomian Indonesia yang semula mengalami pertumbuhan ekonomi yang

(13)

meningkat dan peningkatannya tidak dapat dikendalikan, membuat semua bidang

ekonomi terkena imbasnya. Khususnya pada pasar modal, harga saham

mengalami fluktuasi yang begitu besar.

Indonesia mengalami krisis ekonomi yang luar biasa akibat terpuruknya

nilai Rupiah dan krisis global yang melanda dunia yang mencapai puncaknya

pada tahun 2008. Indeks harga saham gabungan yang merupakan indikator

perekonomian Indonesia, mengalami penurunan yang luar biasa pada September

2008 hingga hampir menyentuh level 1000.

Nilai tukar, tingkat inflasi dan kebijakan suku bunga SBI dapat disimpulkan

mempunyai peran yang strategis bagi suatu perusahaan khususnya perusahaan

yang dalam aktivitas produksi dan operasinya banyak memanfaatkan mata uang

asing. Oleh karena mempunyai peran yang strategis dalam suatu perusahaan,

maka tentunya hal ini akan menjadi pertimbangan bagi investor dalam

pengambilan keputusan investasinya. Perilaku keputusan investasi dari seorang

investor dalam suatu pasar modal akan tercermin dari pergerakan-pergerakan

indeks harga saham gabungan pada pasar modal tersebut.

Pergerakan IHSG yang cenderung mengikuti pergerakan nilai tukar Rupiah

terhadap Dollar Amerika, tingkat inflasi, dan suku bunga ini menjadi ketertarikan

bagi peneliti untuk meneliti apakah terdapat hubungan antara IHSG dan

variabel-variabel tersebut.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan

penelitian dengan judul ”Analisis Pengaruh Nilai Tukar Rupiah, Inflasi, dan

(14)

B. Perumusan Masalah

Perumusan masalah yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:

1. Apakah terdapat pengaruh nilai tukar, inflasi dan suku bunga SBI secara

simultan terhadap pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia?

2. Apakah terdapat pengaruh nilai tukar, inflasi dan suku bunga SBI secara

parsial terhadap pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia?

C. Kerangka Konseptual

Tandelilin (2001) menyatakan bahwa pergerakan IHSG sulit dilepaskan

begitu saja dari pengaruh berbagai perubahan kondisi ekonomi makro. Perubahan

satu variabel makro ekonomi memiliki dampak yang berbeda terhadap setiap jenis

saham, yaitu suatu saham dapat terkena dampak positif, sedangkan saham yang

lainnya terkena dampak negatif. Harga saham emiten yang terkena dampak positif

dari kenaikan kurs USD akan meningkat harga sahamnya di bursa efek, dan

sebaliknya. Selanjutnya, IHSG juga akan terkena dampak negatif atau positif

tergantung pada kelompok yang dominan dampaknya (Samsul, 2006:202).

Ulupui (2007) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa Kurs USD

berpengaruh terhadap IHSG sebesar 6%, sedangkan 94% dipengaruhi oleh kurs

mata uang lain, inflasi, kurs BI maupun variabel makro lainnya. Samsul (2006)

menyatakan bahwa perubahan harga saham di pasar terjadi karena faktor

permintaan dan penawaran, baik yang rasional maupun yang irrasional. Pengaruh

(15)

inflasi, tingkat pertumbuhan, kurs valuta asing, atau indeks harga saham dari

negara lain.

Investasi merupakan fungsi suku bunga, semakin tinggi tingkat bunga,

semakin kecil keinginan masyarakat untuk mengadakan investasi. Karena

keuntungan yang diharapkan dari investasi akan lebih dari tingkat bunga

(Nasution, 1998:88). Tandelilin (2001) juga menyatakan bahwa tingkat bunga

yang tinggi merupakan sinyal negatif terhadap harga saham. Hal ini dikarenakan

tingkat suku bunga yang meningkat akan menyebabkan peningkatan suku bunga

yang diisyaratkan atas investasi pada suatu saham. Di samping itu, tingkat suku

bunga yang meningkat juga dapat menyebabkan investor menarik investasinya

pada saham dan memindahkannya pada investasi berupa tabungan atau deposito.

Tingkat suku bunga diukur dengan menggunakan suku bunga yang

ditentukan oleh Bank Indonesia melalui Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Besar

kecilnya suku bunga sangat tergantung dari kondisi makro yang berkembang di

Indonesia. Peningkatan suku bunga mempunyai korelasi dengan naiknya volume

penjualan saham (Riyatno, 2007). Jika tingkat bunga naik, harga saham akan

turun, dan sebaliknya jika tingkat bunga turun, harga saham akan naik. Namun

demikian, besarnya dampak kenaikan dan penurunan bunga terhadap harga saham

tergantung seberapa besar perubahan bunga tersebut (Samsul, 2006:210).

Selain itu, investasi tidak bebas dari berbagai resiko, terutama resiko inflasi.

Laju inflasi yang tinggi menjadi beban berat bagi perusahaan untuk menghasilkan

(16)

ROE lebih tinggi daripada tingkat inflasi agar investor tidak melakukan divestasi

atau menarik dana yang akan membahayakan perusahaan (Khalwaty, 2000: 283).

Berdasarkan teori dan hasil penelitian yang dikemukakan, maka model

kerangka konseptual yang digunakan adalah:

Gambar 1.2. Kerangka Konseptual

Sumber: Tandelilin (2001); Ulupui (2007) (10/01/09, diolah)

D. Hipotesis

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah

penelitian, oleh karena itu jawaban yang diberikan masih berdasar pada teori yang

relevan dan belum didasarkan pada faktor-faktor empiris yang diperoleh melalui

pengumpulan data (Sugiyono, 2005:51).

Hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut:

1. Terdapat pengaruh nilai tukar Rupiah, inflasi dan suku bunga SBI secara

simultan terhadap pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia.

2. Terdapat pengaruh nilai tukar Rupiah, inflasi dan suku bunga SBI secara

parsial terhadap pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia.

Nilai Tukar

Pergerakan IHSG Suku Bunga SBI

(17)

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini

adalah:

a. Untuk menganalisis pengaruh nilai tukar, inflasi dan suku bunga SBI

secara simultan terhadap pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia.

b. Untuk menganalisis pengaruh nilai tukar, inflasi dan suku bunga SBI

secara parsial terhadap pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia.

2. Manfaat Penelitian a. Bagi Investor

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan kontribusi

kebijakan bagi pengambilan keputusan investasi investor asing maupun

domestik demi peningkatan IHSG di BEI secara berkesinambungan.

b. Bagi Peneliti

Penelitian ini bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan

menambah wawasan dan pola pikir tentang pengaruh nilai tukar Rupiah,

inflasi, dan suku bunga SBI terhadap pergerakan Indeks Harga Saham

Gabungan di Bursa Efek Indonesia.

c. Bagi Pihak Lain

Penelitian ini bermanfaat sebagai sumbangan pemikiran dan informasi bagi

berbagai pihak yang ingin melakukan pengembangan penelitian lebih lanjut

mengenai pengaruh nilai tukar Rupiah, inflasi, dan suku bunga SBI terhadap

(18)

F. Metode Penelitian 1. Batasan Operasional

Batasan operasional penelitian yang ditetapkan oleh penulis adalah meliputi

pengaruh nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS, tingkat inflasi dan tingkat suku

bunga SBI terhadap pergerakan IHSG selama periode Januari 2004 – Desember

2008 di Bursa Efek Indonesia.

2. Definisi Operasional

Definisi variabel-variabel yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut:

a. Variabel IHSG adalah indikator pasar modal di Indonesia yang terdapat di

Bursa Efek Indonesia. Data pergerakan IHSG diukur dari perubahan IHSG

(dalam Setyawan, 2007) yang dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:

Pergerakan IHSG =

Data yang digunakan adalah data harian yang kemudian dirata-ratakan menjadi

data bulanan.

IHSG bulanan =

30

IHSGharian

Apabila nilai selisih IHSG positif, pergerakan IHSG disebut menguat dan jika

negatif, maka pergerakan IHSG disebut melemah.

b. Variabel Nilai Tukar, yaitu rasio perbandingan antara mata uang Rupiah

terhadap Dollar Amerika. Nilai tukar diukur dari perubahan nilai tukar mata

uang Rupiah Indonesia terhadap Dollar Amerika Serikat setelah disesuaikan IHSGt – IHSGt-1

(19)

dengan tingkat inflasi (dalam Utami dan Rahayu, 2003), dengan

menggunakan rumus sebagai berikut:

Nilai tukarbulanan =

Data perubahan nilai mata uang Rupiah terhadap USD dapat dihitung dengan

rumus (Madura, 2006:123):

Perubahan Nilai Tukar =

Apabila nilai tukar apresiasi akan membuat pergerakan IHSG menguat,

demikian sebaliknya, depresiasi nilai tukar akan membuat pergerakan IHSG

melemah.

c. Variabel Inflasi, yaitu kecenderungan terjadinya peningkatan harga produk

secara keseluruhan (Tandelilin, 2001: 212). Inflasi diukur dari perubahan laju

inflasi (dalam Utami dan Rahayu, 2003). Data inflasi yang digunakan dalam

penelitian ini adalah data inflasi bulanan. Inflasi yang tinggi akan

menjatuhkan harga saham di pasar, sementara inflasi yang sangat rendah akan

berakibat pertumbuhan ekonomi menjadi sangat lamban, dan pada akhirnya

harga saham juga bergerak dengan lamban.

d. Variabel Suku Bunga SBI, yaitu Surat Berharga yang dikeluarkan oleh Bank

Indonesia dengan return bulanan yang digunakan untuk menarik/menambah

jumlah uang beredar (Agung, 2005). Suku Bunga SBI diukur dengan

perubahan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia dengan jangka waktu satu

bulan yang telah disesuaikan dengan tingkat inflasi (dalam Utami dan NTt – NTt-1

(20)

Rahayu, 2003). Data suku bunga yang digunakan dalam penelitian ini adalah

suku bunga SBI 1 bulanan.

Perubahan Suku Bunga SBI =

Penurunan tingkat bunga pinjaman atau tingkat bunga deposito akan

menaikkan harga saham di pasar dan laba bersih per saham, sehingga

mendorong harga saham meningkat. Penurunan bunga deposito akan

mendorong investor mengalihkan investasinya dari perbankan ke pasar

modal. Investor akan membeli saham sehingga harga saham terdorong naik

akibat meningkatnya permintaan saham dan berujung pada pergerakan IHSG.

3. Tempat dan Waktu Penelitian

a. Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan di BEI melalui situs

b. Waktu Penelitian

Waktu penelitian yaitu dimulai dari bulan Oktober 2008 sampai bulan

Maret 2009.

4. Jenis Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang

meliputi data nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika, data tingkat inflasi dan

suku bunga SBI yang didapat dari publikasi Bank Indonesia melalui website

www.bi.go.id dan data pergerakan indeks harga saham gabungan yang diperoleh

melalui situs

SBIt – SBIt-1

(21)

5. Teknik Pengambilan Sampel

Penelitian ini menggunakan sistem penarikan sampel sensus atau sampel

jenuh (Setyawan, 2007). Adapun argumentasinya adalah:

a. Semua data baik data IHSG, inflasi, nilai tukar, dan suku bunga SBI pasti

terpublikasi dan pasti dapat diakses oleh setiap peneliti.

b. Unit analisis penelitian ini adalah negara Indonesia karena IHSG, inflasi, nilai

tukar dan suku bunga SBI memang mencerminkan perkembangan ekonomi

negara kita yang dipresentasikan oleh pasar modal yakni BEI.

Peneliti menetapkan pengambilan data secara bulanan mulai Januari 2004 –

Desember 2008 dengan tiga alasan, yakni:

a. Selama periode ini, terdapat pergerakan IHSG, inflasi, nilai tukar, dan suku

bunga SBI yang konstan dan yang sangat fluktuatif.

b. Dalam periode ini perekonomian Indonesia yang direfleksikan oleh IHSG

mencatat periode ini sebagai tahun prestasi akibat meningkatnya harga

minyak dunia secara tajam sekaligus tahun keterpurukan karena krisis yang

melanda pasar finansial global.

c. Selama periode ini IHSG, inflasi, nilai tukar, dan suku bunga SBI mengalami

volatilitas yang tinggi akibat krisis finansial global dan kebijakan Bank

Indonesia untuk menjaga stabilitas perekonomian.

6. Metode Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

(22)

a. Metode analisis deskriptif

Metode analisis deskriptif adalah suatu metode analisis dimana data-data

yang dikumpulkan, diklasifikasikan, dianalisis, dan diinterpretasikan secara

objektif sehingga memberikan informasi dan gambaran mengenai topik yang

dibahas.

b. Metode analisis statistik

1. Analisis Regresi Linear Berganda

Analisis regresi linear berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh dari

nilai tukar, inflasi dan suku bunga SBI terhadap pergerakan IHSG.

Model yang digunakan adalah sebagai berikut :

Y =

a

+

b

1X1 +

b

2X2 +

b

3X3 +

e

Dimana :

Y = IHSG

a = konstanta

X1 = Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS

X2 = Tingkat Inflasi

X3 = Suku Bunga SBI

b1,2,3 = Koefisien regresi variabel X1,2,3

e = Kesalahan Penganggu (standard error)

2. Uji Asumsi Klasik

Adapun syarat asumsi klasik yang harus dipenuhi model regresi berganda

(23)

a. Uji Normalitas

Uji Normalitas untuk mengetahui apakah variabel dependen, independen atau

keduanya berdistribusi normal, mendekati normal atau tidak (Umar,

2008:181). Model regresi yang baik hendaknya berdistribusi normal atau

mendekati normal. Mendeteksi apakah data berdistribusi normal atau tidak

dapat diketahui dengan menggambarkan penyebaran data melalui sebuah

grafik. Jika data meyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis

diagonalnya, model regresi memenuhi asumsi normalitas. Uji kenormalan data

juga dapat dilakukan dengan Uji Kolmogorov-Smirnov terhadap nilai standar

residual hasil persamaan regresi. Apabila probabilitas hasil Uji

Kolmogorov-Smirnov lebih besar dari 5%, maka data berdistribusi normal, dan demikian

sebaliknya.

b. Uji Multikolonieritas

Uji multikolinieritas untuk mengetahui apakah pada model regresi ditemukan

adanya korelasi antarvariabel independen (Umar, 2008:177). Untuk

mengetahui ada tidaknya gejala multikolineritas dapat dilihat dari besarnya

nilai Variance Inflation Factor (VIF) dengan ketentuan :

Bila VIF > 5 maka terdapat masalah multikolinearitas yang serius.

Bila VIF < 5 maka tidak terdapat masalah multikolinearitas yang serius.

c. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas dilakukan untuk mengetahui apakah dalam sebuah

model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual suatu pengamatan ke

(24)

lain tetap, disebut homoskedastisitas, sementara itu, untuk varians yang

berbeda disebut heteroskedastisitas (Umar, 2008:179). Analisis ini dilakuka n

dengan menggunakan grafik Scatterplot, dimana apabila data yang berbentuk

titik-titik membentuk pola maka tidak terjadi heterokedastisitas, sementara

apabila data menyebar maka terjadi masalah heterokedastisitas. Selain analisis

grafik Scatterplot, terdapat cara lain untuk mengetahui ada tidaknya

heterokedastisitas, yaitu dengan menggunakan Park Test.

d. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi dilakukan untuk mengetahui apakah dalam sebuah model

regresi linier terdapat hubungan yang kuat baik positif maupun negatif

antardata yang ada pada variabel-variabel penelitian (Umar, 2008:182).

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa autokorelasi terjadi jika observasi

yang berturut-turut sepanjang waktu mempunyai korelasi antara satu dengan

yang lainnya. Untuk menguji ada atau tidaknya autokorelasi dalam suatu

model regresi, dapat dilakukan dengan menggunakan Runs Test. Kaidah

keputusan dari metode ini adalah menerima hipotesis nol, yaitu tidak terjadi

autokorelasi jika nilai Asymp. Sig. (2-tailed) diatas 0.05 (tingkat signifikan,

α = 5%).

Cara lain untuk mendeteksi adanya autokorelasi juga dapat dilakukan dengan

melakukan Uji Breusch-Godfrey (BG). Menurut metode ini suatu data tidak

terkena autokorelasi jika koefisien parameter Auto (Lag) pada tabel

(25)

Pengujian asumsi klasik dilakukan untuk mendapatkan hasil penelitian yang

BLUE (Best Linier Unbiased Estimation). Dalam menganalisi data, penulis

menggunakan program Software SPSS (Statistic Package for the Social Science)

14.00 for windows.

3. Pengujian Hipotesis

Model regresi yang telah memenuhi syarat asumsi klasik tersebut akan

digunakan untuk menganalisis, melalui pengujian hipotesis sebagai berikut:

a) Uji Signifikan Simultan (Uji – F)

Pengujian ini dilakukan untuk melihat apakah model regresi ini dapat dipakai

untuk mengestimasi. Uji ini memperlihatkan apakah semua variabel

independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara

simultan terhadap variabel dependen.

Bentuk pengujiannya adalah:

H0 : i = 0, artinya secara simultan tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari nilai tukar, inflasi, dan suku bunga SBI terhadap pergerakan IHSG di

Bursa Efek Indonesia.

Ha : i ≠0, artinya secara simultan terdapat pengaruh yang signifikan dari nilai tukar, inflasi, dan suku bunga SBI terhadap pergerakan IHSG di Bursa Efek

Indonesia.

Kriteria pengambilan keputusan:

Ho diterima jika Fhitung ≤ Ftabel pada α = 5% dengan tingkat keyakinan 95%.

(26)

b) Uji Signifikan Parsial (Uji – t)

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh suatu variabel

independen secara parsial terhadap variasi variabel dependen.

Bentuk pengujiannya adalah:

H0 : i = 0, artinya secara parsial tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari nilai tukar, inflasi atau suku bunga SBI terhadap pergerakan IHSG di Bursa

Efek Indonesia.

Ha : 1≠0, artinya secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan dari nilai tukar, inflasi atau suku bunga SBI terhadap pergerakan IHSG di Bursa Efek

Indonesia.

Pada penelitian ini nilai thitung akan dibandingkan dengan ttabel pada tingkat

signifikan (α) = 5%. Kriteria pengambilan keputusan pada uji-t ini adalah :

H1 ditolak (H0 diterima) jika : - ttabel ≤thitung ≤ ttabel

(27)

BAB II

URAIAN TEORITIS

A. Penelitian Terdahulu

Ulupui (2007) dalam penelitiannya yang berjudul ”Pengaruh Kurs USD

terhadap Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Jakarta” menyatakan

bahwa Kurs USD berpengaruh secara signifikan terhadap IHSG tetapi dalam

jangka pendek. Pengaruh yang dihasilkan oleh Kurs USD terhadap IHSG adalah

negatif, yang berarti jika kurs USD naik maka indeks harga saham gabungan akan

turun. Adapun Kurs USD berpengaruh terhadap IHSG sebesar 6%, sedangkan

94% dipengaruhi oleh kurs mata uang lain, inflasi, kurs BI maupun variabel

makro lainnya.

Setyawan (2007) dalam penelitiannya yang berjudul ”Pengaruh Net Buying

(Selling) Investor Asing dan Perubahan Kurs Terhadap Pergerakan Indeks Pasar”

menunjukkan bahwa net buying (selling) dan perubahan kurs terbukti sebagai

driver penggerak IHSG selama tahun 2006. Jadi, apabila net buying (selling)

bernilai positif maka IHSG akan naik; dan hal ini berlaku bila nilai perubahan

kurs negatif maka kondisi IHSG akan apresiasi.

Agung (2005) dalam penelitiannya yang berjudul ”Analisis Pengaruh Nilai

Tukar Rupiah, Kepemilikan Saham Oleh Investor Asing dan SBI Terhadap

Pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia”. Hasil penelitian menyatakan bahwa

variabel nilai tukar dan SBI kurang signifikan mempengaruhi pergerakan IHSG,

sedangkan presentase kepemilikan saham oleh investor asing justru mempunyai

(28)

Utami dan Rahayu (2003) dalam penelitiannya yang berjudul “Peranan

Profitabilitas, Suku Bunga, Inflasi dan Nilai Tukar Dalam Mempengaruhi Pasar

Modal Indonesia Selama Krisis Ekonomi” menyatakan bahwa perubahan

profitabilitas, suku bunga, inflasi, dan nilai tukar mempunyai pengaruh secara

signifikan terhadap perubahan harga saham badan usaha selama periode krisis

ekonomi. Secara parsial hanya suku bunga dan nilai tukar mempunyai pengaruh

secara signifikan terhadap harga saham selama periode krisis ekonomi tersebut.

Ganda (2007) dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Inflasi, Nilai

Tukar Rupiah, dan Suku Bunga SBI Terhadap Indeks Harga Saham Per Sektor

Periode Januari 2002 s/d Desember 2006” menyatakan bahwa sektor pertanian

elastis terhadap perubahan suku bunga SBI 3 bulan sedangkan sektor

pertambangan bersifat elastis terhadap perubahan inflasi dan nilai tukar Rupiah

yang diteliti. Sedangkan sektor industri dasar dan kimia dan juga industri barang

konsumsi hanya bersifat elastis terhadap perubahan nilai tukar Rupiah. Sektor

aneka industri bersifat elastis terhadap nilai tukar Rupiah dan suku bunga SBI 3

bulan. Hasil estimasi regresi menunjukkan bahwa IHSG bisa diprediksi oleh

semua variabel ekonomi makro. Akan tetapi, LQ45 tidak bisa diprediksi oleh suku

bunga SBI.

B. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

Indeks harga saham adalah suatu indikator yang menunjukkan pergerakan

(29)

indeks menggambarkan kondisi pasar pada saat pasar sedang aktif atau lesu

(Fakhruddin, 2006:167).

Indeks saham merupakan harga saham yang dinyatakan dalam angka indeks.

Indeks saham digunakan untuk tujuan analisis dan menghindari dampak negatif

dari penggunaan harga saham dalam Rupiah. Dengan menggunakan indeks saham

dapat dihindari kesalahan analisis walaupun tanpa koreksi. Setiap bursa efek akan

menetapkan angka basis indeks yang berbeda, yaitu basis 100, 500, atau 1.000

(Samsul, 2006: 179).

IHS sering dikatakan merupakan cermin dari fenomena ekonomi, sosial,

politik,dan keamanan suatu negara. Logika berpikirnya adalah sebagaimana

diketahui bahwa, saham sebagai bukti kepemilikan perusahaan merupakan surat

berharga atau efek yang diterbitkan oleh perusahaan yang terdaftar di bursa (go

public). Fluktuasi harga saham ditentukan oleh kemampuan perusahaan dalam

memperoleh laba. Apabila laba yang diperoleh perusahaan relatif tinggi, maka

kemungkinan besar dividen yang dibayarkan juga relatif tinggi. Apabila dividen

yang dibayarkan relatif tinggi, akan berpengaruh positif terhadap harga saham di

bursa, dan investor akan tertarik untuk membelinya.

Akibatnya permintaan akan saham tersebut menjadi meningkat, sehingga

harganya juga akan meningkat. Peningkatan harga saham ini akan menimbulkan

capital gain bagi para pemegangnya. Sementara itu, kemampuan perusahaan

dalam memperoleh laba tersebut tidak saja ditentukan oleh kemampuan

manajemen dalam mengelola sumber daya yang ada, tetapi juga dipengaruhi oleh

(30)

keamanan. Semuanya itu akan berpengaruh terhadap kemampuan perusahaan

dalam memperoleh laba, yang pada gilirannya akan berpengaruh juga terhadap

fluktuasi harga saham. Disinilah fenomena ekonomi, sosial, politik, dan keamanan

berperan dalam penentuan kesehatan ekonomi suatu negara.

Di pasar modal, sebuah indeks diharapkan memiliki lima fungsi

(Fakhruddin 2006: 167), yaitu:

1. Sebagai indikator trend pasar.

2. Sebagai indikator tingkat keuntungan.

3. Sebagai tolak ukur (benchmark) kinerja suatu portofolio.

4. Memfasilitasi pembentukan portofolio dengan strategi pasif.

5. Memfasilitasi berkembangnya produk derivatif.

Adapun jenis indeks dapat dikelompokkan menjadi 3 (Samsul, 2006:

179-186), yaitu:

1. Indeks harga saham individu.

2. Indeks harga saham parsial.

3. Indeks harga saham gabungan.

Indeks Harga Saham Gabungan – IHSG (composite stock price index),

artinya indeks tersebut mencerminkan pergerakan seluruh saham yang terdapat di

BEI (Fakhruddin 2006: 168-170). Pergerakan IHSG secara signifikan dipengaruhi

oleh pergerakan/ perubahan harga-harga saham dengan kapitalisasi besar, hal itu

dikarenakan IHSG menggunakan semua saham yang tercatat di IHSG sebagai

komponen penghitungan indeksnya. Sehingga perubahan/ pergerakan harga-harga

(31)

Ada beberapa macam pendekatan atau metode perhitungan yang digunakan

untuk menghitung indeks, yaitu:

1. Menghitung rata-rata (arithmatic mean) harga saham yang masuk dalam

anggota indeks,

2. Menghitung (geometric mean) dari indeks individual saham yang masuk

anggota indeks,

3. Menghitung rata-rata tertimbang nilai pasar.

Umumnya semua indeks harga saham gabungan (composite) menggunakan

metode rata-rata tertimbang termasuk di Bursa Efek Indonesia. Indeks harga

saham gabungan dapat diperoleh dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

IHSGt =

ND

NPt

x 100

Keterangan:

IHSGt = indeks harga saham gabungan pada hari ke-t

NPt = nilai pasar pada hari ke-t, diperoleh dari jumlah lembar saham yang

tercatat di bursa dikalikan dengan harga pasar per lembar.

ND = nilai dasar yang di beri BEI.

Nilai Pasar

Nilai Pasar adalah kumulatif jumlah saham hari ini dikali harga pasar hari

ini atau disebut sebagai kapitalisasi pasar.

Nilai Dasar

Nilai Dasar adalah nilai yang dihitung berdasarkan harga perdana dari

(32)

perusahaan telah melakukan kegiatan yang menyebabkan jumlah saham yang

tercatat di bursa berubah. Penyesuaian dilakukan agar indeks benar-benar

mencerminkan harga saham.

C. Nilai Tukar Mata Uang

Nilai tukar merupakan jumlah unit suatu mata uang yang dapat diperoleh

dari atas pertukaran dengan satu unit mata uang lainnya. Dornbusch dan Fisher

dalam Agung (2005) mengatakan bahwa pergerakan nilai tukar mempengaruhi

daya saing internasional dan posisi neraca perdagangan, dan konsekuensinya juga

akan berdampak pada real output dari negara tersebut yang pada gilirannya akan

mempengaruhi cash flow saat ini dan masa yang akan datang dari perusahaan dan

harga saham perusahaan tersebut.

1. Teori Nilai Tukar

Berikut adalah beberapa teori yang berkaitan dengan nilai tukar valuta asing

(Berlianta, 2004:18-21).

a) Balance of Payment Approach

Pendekatan ini didasarkan pada pendapat bahwa nilai tukar valuta

ditentukan oleh kekuatan penawaran dan permintaan terhadap valuta tersebut.

Adapun alat yang digunakan untuk mengukur kekuatan penawaran dan

permintaan tersebut adalah Balance of Payment.

Apabila Balance of Payment suatu negara mengalami defisit dapat diartikan

bahwa penghasilan (arus uang masuk) lebih kecil daripada pengeluaran (arus uang

(33)

defisit tersebut, nilai tukarnya akan cenderung mengalami penurunan dan

sebaliknya.

b) Teori Purchasing Power Parity

Teori ini agak berbeda dengan pendekatan sebelumnya. Teori ini berusaha

untuk menghubungkan nilai tukar dengan daya beli valuta tersebut terhadap

barang dan jasa. Pendekatan ini menggunakan apa yang disebut Law of One Price

sebagai dasar. Dalam Law of One Price disebutkan bahwa dengan asumsi tertentu,

dua barang yang identik (sama dalam segala hal) harusnya mempunyai harga yang

sama.

c) Fisher Effect

Teori ini diperkenalkan oleh Irving Fisher. Fisher Effect menyatakan bahwa

tingkat suku bunga nominal di satu negara akan sama dengan tingkat suku bunga

riil ditambah tingkat inflasi di negara itu. Pernyataan tersebut dapat digambarkan

dengan persamaan sebagai berikut:

Suku Bunga Nominal = Suku Bunga Riil + Tingkat Inflasi

Dengan kata lain, tingkat suku bunga nominal di dua negara dapat berbeda

karena tingkat inflasi mereka berbeda.

d) Internasional Fisher Effect

Pendapat ini didasari oleh Fisher Effect, bahwa pergerakan nilai mata uang

suatu negara di banding negara lain (pergerakan kurs) disebabkan oleh perbedaan

suku bunga nominal yang ada di kedua negara tersebut.

Implikasi dari International Fisher Effect adalah bahwa orang tidak bisa

(34)

ke negara yang mempunyai suku bunga nominal tinggi karena nilai mata uang

negara yang suku bunganya tinggi tersebut akan terdepresiasi (turun nilainya)

sebesar selisih bunga nominal dengan negara yang mempunyai suku bunga

nominal lebih rendah.

2. Sistem Nilai Tukar

Sistem nilai tukar dapat dikategorikan dalam beberapa jenis berdasarkan

pada seberapa kuat tingkat pengawasan pemerintah pada nilai tukar (Madura,

2006:220-225). Secara umum, sistem nilai tukar dapat dibagi menjadi:

a) Sistem Tetap (Fixed Exchange Rate)

Pada sistem nilai tukar tetap, nilai tukar mata uang dibuat konstan ataupun

hanya diperbolehkan berfluktuasi dalam kisaran yang sempit. Bila pada suatu saat

nilai tukar mulai berfluktuasi terlalu besar, maka pemerintah akan melakukan

intervensi untuk menjaga agar fluktuasi tetap berada dalam kisaran yang

diinginkan.

b) Sistem Mengambang Bebas (Freely Floating Exchange Rate)

Pada sistem nilai tukar mengambang bebas, nilai tukar ditentukan

sepenuhnya oleh pasar tanpa intervensi dari pemerintah. Pada sistem

mengambang bebas memperbolehkan adanya fleksibilitas secara penuh, nilai

tukar akan disesuaikan secara terus-menerus sesuai dengan kondisi penawaran dan

(35)

c) Sistem Mengambang Terkendali ( Managed Floating Exchange Rate)

Sistem nilai tukar ini berada di antara sistem tetap dan mengambang bebas.

Nilai tukar dibiarkan mengambang dari hari ke hari dan tidak ada batasan-batasan

resmi, tetapi pemerintah sewaktu-waktu dapat melakukan intervensi untuk

menghindarkan fluktuasi yang terlalu jauh dari mata uangnya.

d) Sistem Terikat (Pegged Exchange Rate)

Sistem nilai tukar terikat, di mana mata uang lokal diikatkan nilainya pada

sebuah valuta asing atau pada sebuah jenis mata uang tertentu. Nilai mata uang

lokal akan mengikuti fluktuasi dari nilai mata uang yang dijadikan ikatan tersebut.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nilai Tukar

Kurs nilai tukar akan berubah sepanjang waktu karena perubahan kurva

permintaan dan penawaran. Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan kurva

permintaan dan penawaran tersebut (Madura, 2006:128-135) adalah:

a. Perubahan Tingkat Inflasi Relatif dapat mempengaruhi aktivitas perdagangan

internasional yang akan memengaruhi permintaan dan penawaran suatu mata

uang dan karenanya mempengaruhi nilai tukar.

b. Perubahan pada Suku Bunga Relatif memengaruhi investasi pada sekuritas

asing, yang akhirnya akan mempengaruhi permintaan dan penawaran mata

uang dan karenanya juga akan mempengaruhi kurs nilai tukar.

c. Tingkat Pendapatan Relatif juga mempengaruhi kurs mata uang. Hal ini

dikarenakan pendapatan mempengaruhi jumlah permintaan barang impor,

(36)

d. Pengendalian Pemerintah. Pemerintah negara asing dapat mempengaruhi kurs

keseimbangan dengan berbagai cara, termasuk mengenakan batasan atas

pertukaran mata uang asing, mengenakan batasan atas perdagangan asing,

mencampuri pasar mata uang asing (dengan membeli dan menjual), dan

memengaruhi variabel makro seperti inflasi, suku bunga, dan tingkat

pendapatan.

e. Faktor kelima yang mempengaruhi kurs mata uang adalah prediksi pasar

mengenai kurs mata uang di masa depan. Seperti pasar keuangan lain, pasar

mata uang asing juga bereaksi terhadap berita yang memiliki dampak masa

depan, yang akan memberikan tekanan menurunkan atau meningkatkan nilai

tukar mata uang.

f. Faktor yang juga mempengaruhi kurs nilai tukar adalah Interaksi Faktor.

Transaksi dalam pasar mata uang asing memfasilitasi baik arus perdagangan

maupun arus keuangan. Seringkali faktor-faktor yang terkait perdagangan

maupun keuangan berinteraksi dan mempengaruhi pergerakan mata uang

secara simultan.

D. Tingkat Inflasi

Inflasi adalah kecenderungan terjadinya peningkatan harga-harga produk

secara keseluruhan. Tingkat inflasi yang tinggi biasanya dikaitkan dengan kondisi

ekonomi yang terlalu panas (overheated). Artinya, kondisi ekonomi mengalami

permintaan atas produk yang melebihi kapasitas penawaran produknya, sehingga

(37)

menyebabkan penurunan daya beli uang (purchasing power of money)

(Tandelilin, 2001:212).

1. Teori Inflasi

Teori Kuantitas menjelaskan bahwa sumber utama terjadinya inflasi adalah

karena adanya kelebihan permintaan sehingga uang yang beredar di masyarakat

bertambah banyak (Khalwaty, 2000:15-31). Teori kuantitas membedakan sumber

inflasi menjadi:

a) Demand pull inflation, terjadi karena adanya permintaan agregatif di mana

kondisi produksi telah berada pada kesempatan kerja penuh (full employment)

sehingga kenaikan permintaan tidak lagi mendorong kenaikan output

(produksi) tetapi hanya mendorong kenaikan harga-harga.

b) Cost push inflation. Pada kondisi ini tingkat penawaran lebih rendah jika

dibandingkan dengan tingkat permintaan. Ini karena adanya kenaikan harga

faktor produksi sehingga produsen terpaksa mengurangi produksinya sampai

jumlah tertentu. Penawaran total (aggregate supply) yang terus menurun

karena semakin mahalnya biaya produksi akan meyebabkan kenaikan

harga-harga. Kenaikan biaya produksi yang menimbulkan cost push inflation

didorong oleh beberapa faktor, yakni adanya tuntutan kenaikan upah tenaga

kerja, industri yang monopolis, kenaikan bahan baku industri, kebijakan

pemerintah.

c) Structural approach. Dengan pendekatan struktur ekonomi, terjadinya inflasi

(38)

dapat ditanggulangi dengan melakukan pembenahan pada semua struktur

ekonomi.

d) Monetary approach. Dengan pendekatan moneter, inflasi dinilai sebagai suatu

fenomena moneter, yaitu keadaan yang disebabkan terlalu banyaknya uang

yang beredar dibandingkan dengan kesediaan masyarakat untuk memiliki atau

menyimpan uang tersebut yang akhirnya akan menaikkan permintaan (excess

demand for goods).

e) Accounting approach to inflation, diketahui bahwa terjadinya inflasi

bersumber pada perkembangan harga-harga pada kelompok barang dan jasa

yang digunakan untuk menyusun Indeks Harga Konsumen (IHK).

2. Jenis-jenis Inflasi

Sehubungan dengan kompleksnya faktor yang menjadi sumber terjadinya

inflasi atau banyaknya variabel yang berpengaruh terhadap inflasi, maka dapat

pula dilakukan pengelompokan terhadap jenis-jenis inflasi berdasarkan sudut

pandang (Khalwaty, 2000:31-35), sebagai berikut:

a. Ditinjau dari asal terjadinya, inflasi dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

1) Domestic inflation. Adalah inflasi yang berasal dari dalam negeri.

2) Imported inflation. Adalah inflasi yang terjadi di dalam negeri karena

(39)

b. Ditinjau dari intensitasnya, inflasi dapat dibedakan menjadi:

1) Creeping inflation adalah inflasi yang terjadi dengan laju pertumbuhan

berlangsung lambat, karena kenaikan harga-harga berlangsung secara

perlahan-lahan.

2) Hyper inflation atau galloping inflation adalah inflasi yang sangat berat

yang timbul akibat adanya kenaikan harga-harga yang umum yang

berlangsung sangat cepat.

c. Dan jika ditinjau dari sudut bobotnya, dapat dibedakan menjadi empat, yaitu:

1) Inflasi ringan adalah inflasi dengan laju pertumbuhan yang berlangsung

perlahan dan berada pada posisi satu digit atau di bawah 10% per tahun.

2) Inflasi sedang adalah inflasi dengan tingkat laju pertumbuhan berada di

antara 10-30% per tahun atau melebihi dua digit.

3) Inflasi berat merupakan inflasi dengan laju pertumbuhan berada di antara

30-100% per tahun.

4) Inflasi sangat berat adalah inflasi dengan laju pertumbuhan melampaui

100% per tahun.

3. Pengukuran Tingkat Inflasi

Untuk mengukur laju pertumbuhan tingkat inflasi, ada beberapa cara yang

dapat digunakan (Khalwaty, 2000:35-47), yaitu dengan menggunakan angka

harga umum, angka deflator PNB, indeks harga konsumen, aras harga harapan,

(40)

E. Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI)

Sebagaimana tercantum dalam UU No. 13 tahun 1968 tentang Bank Sentral,

salah satu tugas Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter adalah membantu

pemerintah dalam mengatur, menjaga, dan memelihara kestabilan nilai Rupiah.

Dalam melaksanakan tugasnya, BI menggunakan beberapa piranti moneter

yang terdiri dari giro wajib minimum (reserve requirement), fasilitas diskonto,

himbauan moral dan operasi pasar terbuka. Dalam operasi pasar terbuka Bank

Indonesia dapat melaksanakan transaksi jual beli surat berharga termasuk SBI.

Sertifikat Bank Indonesia adalah surat berharga atas unjuk dalam Rupiah

yang diterbitkan oleh Bank Indonesia sebagai pengakuan hutan berjangka waktu

pendek dengan sistem diskonto.

1. Tujuan Penerbitan SBI

Sebagai otoritas moneter, Bank Indonesia berkewajiban memelihara

kestabilan nilai Rupiah. Dalam paradigma yang dianut, jumlah uang primer (uang

kartal + uang giral di Bank Indonesia) yang berkelebihan dapat mengurangi

kestabilan nilai Rupiah. SBI diterbitkan dan dijual oleh Bank Indonesia untuk

mengurangi kelebihan uang primer tersebut.

Besar kecilnya suku bunga SBI sangat tergantung dari kondisi makro yang

berkembang di Indonesia. Peningkatan suku bunga diduga mempunyai korelasi

dengan naiknya volume penjualan saham. Tingkat suku bunga yang ideal jika

besarnya berada di bawah kisaran angka 10. Hal ini berarti tingkat keuntungan

(41)

bunga meningkat, sehingga bagi para pelaku ekonomi semakin rendah tingkat

suku bunga adalah semakin baik (Riyatno, 2007).

2. Dasar Hukum Penerbitan SBI

Surat keputusan Direksi BI No. 31/67/KEP/DIR tanggal 23 Juli 1998

tentang penerbitan dan perdagangan Sertifikat Bank Indonesia serta intervensi

(42)

BAB III

GAMBAR UMUM PERUSAHAAN

A. Sejarah Pasar Modal Di Indonesia

Bursa efek (pasar modal) yang terbesar di Indonesia adalah Bursa Efek

Jakarta (BEJ) yang juga dikenal dengan nama asingnya sebagai Jakarta Stock

Exchange (JSX) dan Bursa Efek Surabaya (BES) atau Surabaya Stock Exchange

(SSX) yang kini telah bergabung dan diresmikan menjadi Bursa Efek Indonesia.

Sekuritas yang diperdagangkan di BEI adalah saham preferen (preferred stock),

saham biasa (common stock), hak (rights), dan obligasi konvertibel (convertible

bonds).

Era pasar modal di Indonesia dapat di bagi menjadi enam periode. Periode

pertama adalah periode jaman Belanda mulai tahun 1912 yang merupakan tahun

yang didirikannya pasar modal yang pertama. Periode kedua adalah periode orde

lama yang dimulai pada tahun 1952. Periode ketiga adalah periode orde baru

dengan diaktifkannya kembali pasar modal pada tahun 1977. Periode keempat

dimulai tahun 1988 adalah periode bangunnya pasar modal dari tidur yang

panjang. Peride kelima adalah periode otomatisasi pasar modal mulai tahun 1995

dan periode keenam adalah periode krisis moneter mulai bulan Agustus 1997.

1. Periode Pertama (1912-1942): Periode Jaman Belanda

Pada tangggal 14 Desembeer 1912, suatu asosiasi 13 broker dibentuk di

Jakarta. Asosiasi ini diberi nama Belandanya sebagai “Vereniging voor

Effectenhandel” yang merupkan cikal bakal pasar modal pertama di Indonesia.

(43)

tanggal 1 Januari 1925 dan disusul di Semarang pada tanggal 1 Agustus 1925.

Karena masih jaman penjajahan Belanda dan pasar-pasar modal ini juga didirikan

oleh Belanda, mayoritas saham-saham yang diperdagangkan di sana juga

merupakan saham-saham perusahaan Belanda dan afiliasinya yang tergabung

dalam Dutch East Idies Trading Agencies. Pasar-pasar modal ini beroperasi

sampai kedatangan Jepang di Indonesia di tahun 1942.

2. Periode kedua (1952-1960): Periode Orde Lama

Setelah Jepang meninggalkan Indonesia pada tanggal 1 September 1951

dikeluarkan Undang-Undang No.12 yang kemudian dijadikan Undang-Undang

No. 15/1952 tentang pasar modal. Juga melalui keputusan Menteri Keuangan No.

289737/U.U. tanggal 1 Nopember 1951, Bursa Efek Jakarta (BEJ) akhirnya

dibuka kembali pada tanggal 3 Juni 1952.

Tujuan dibukanya kembali bursa ini untuk menampung obligasi pemerintah

yang sudah dikeluarkan pada tahun-tahun sebelumnya. Tujuan yang lainnya

adalah untuk mencegah saham-saham perusahaan Belanda yang dulunya

diperdagangkan di pasar modal di Jakarta lari ke luar negeri.

Karena adanya sengketa antara Pemerintah RI dengan Belanda mengenai

Irian Barat, semua bisnis Belanda dinasionalisasi No. 86 tahun 1958. Sengketa ini

mengakibatkan larinya modal Belanda dari tanah Indonesia. Akibatnya mulai

tahun 1960, sekuritas-sekuritas perusahaan Belanda sudah tidak diperdagangkan

lagi di bursa efek Jakarta. Sejak itu aktivitas di Bura Efek Jakarta semakin

(44)

3. Periode Ketiga (1977-1988): Periode Orde Baru

Bursa Efek Jakarta dikatakan lahir kembali pada tahun 1977 dalam periode

orde baru sebagai hasil dari Keputusan Presiden No. 52 tahun 1976. Keputusan ini

menetapkan pendirian Pasar Modal, pembentukan Badan Pembina Pasar Modal

(BAPEPAM) dan PT Danareksa. Presiden Suharto meresmikan kembali Bursa

Efek Jakarta (BEJ) pada tanggal 10 Agustus 1977. Periode ini disebut juga dengan

periode tidur yang panjang, karena sampai dengan tahun 1988 hanya sedikit sekali

perusahaan yang tercatat di BEJ, yaitu hanya 24 perusahaan saja. Kurang

menariknya pasar modal pada periode ini dari segi investor, disebabkan oleh tidak

dikenakannya pajak atas bunga deposito, sedang penerimaan dividen dikenakan

pajak penghasilan sebesar 15 %.

4. Periode Keempat (1988-1995): Periode Bangun dari Tidur yang Panjang

Setelah tahun 1988, selama tiga tahun saja yaitu sampai tahun 1990, jumlah

perusahaan yang terdaftar di BEJ meningkat sampai dengan 127. Sampai dengan

tahun 1996 jumlah perusahaan yang terdaftar menjadi 238. Pada periode ini,

Initial Public Offering (IPO) menjadi peristiwa nasional.

Peningkatan dipasar modal disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:

a) Permintaan dari investor asing

Investor asing melihat bahwa pasar modal di Indonesia telah maju dengan

pesat dengan periode ini dan mempunyai prospek yang baik. Investor asing

tertarik dengan pasar Indonesia karena dianggap sebagai pasar yang

(45)

tahun 1995, jumlah kepemilikan oleh investor asing mencapai sebanyak 7,06

milyard lembar atau sekitar 29,61% dari semua sekuritas yang terdaftar.

b) Pakto 88.

Pakto 88 merupakan reformasi tanggal 27 Oktober 1988 yang dikeluarkan

untuk merangsang ekspor non migas, meningkatkan efisiensi dari bank

komersial, membuat kebijaksanaan moneter lebih efektif, meningkatkan

simpanan domestik dan meningkatkan pasar modal. Salah satu hasil dari

reformasi pakto 88 adalah mengurangi reserve requirement dari bank-bank

deposito. Akibat dari reformasi ini adalah pelepasan dana sebesar Rp 4 triliun

dari Bank Indonesia ke sektor keuangan. Akibat lebih lanjut adalah

masyarakat mempunyai cukup dana untuk bermain di pasar saham.

c) Perubahan generasi.

Perubahan kultur bisnis terjadi diperiode ini, yaitu dari kultur bisnis keluarga

tertutup ke kultur bisnis professional yang terbuka yang memungkinkan

profesional dari luar keluarga untuk duduk kursi kepemimpinan perusahaan.

Perubahan radikal menuju ke perusahaan professional terbuka ini juga

merupakan faktor perkembangan pasar modal, yaitu dengan mulai banyaknya

perusahaan keluarga yang go public.

Periode ini juga dicatat sebagai periode kebangkitan dari Bursa Efek

Surabaya (BES). Bursa Efek Surabaya atau dengan nama asingnya Surabaya

Stock Exchange (SSX) dilahirkan kembali pada tanggal 16 Juni 1989. Sampai

kuartal yang ketiga tahun 1990, jumlah sekuritas yang tercatat di BES meningkat

(46)

emiten saham dengan nilai kapitalisasi sebesar Rp 191,57 triliun. Semua sekuritas

yang tercatat di Bursa Efek Jakarta (BEJ) juaga secara otomatis diperdagangkan di

BES.

5. Periode Kelima (Mulai 1995): Periode Otomatisasi.

Karena peningkatan kegiatan transaksi yang dirasakan sudah melebihi

kapasitas manual, maka BEJ memutuskan untuk mengotomatisasikan kegiatan

transaksi di bursa. Jika sebelumnya dilantai bursa terlihat dua deret antrian

(sebuah untuk antrian beli dan yang lainnya untuk antrian lainnya) yang cukup

panjang untuk masing-masing sekuritas dan semua kegiatan transaksi di catat di

papan tulis, maka setelah otomatisasi sekarang yang terlihat dilantai bursa adalah

jaringan-jaringan computer-komputer yang digunakan oleh broker.

6. Periode Keenam (Mulai Agustus 1997): Krisis Moneter.

Pada bulan Agustus 1997, krisis moneter melanda Negara-negara Asia,

termasuk Indonesia, Malaysia, Thailand, Korea Selatan dan Singapura. Krisis

moneter yang terjadi ini dimuali dari penurunan nilai-nilai mata uang relatif

terhadap Dollar Amerika. Penurunan mata uang ini disebabkan karena spekulasi

dari pedagang-pedagang valas, kurang percayanya masyarakat terhadap mata uang

negaranya sendiri dan kurang kuatnya pondasi perekonomian.

Untuk mencegah permintaan Dollar Amerika yang berlebihan

mengakibatkan meningkatnya dan menurunnya nilai Rupiah, Bank Indonesia

menaikkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) untuk mengurangi

permintaan terhadap Dollar. Tingginya suku bunga deposito berakibat negatif

(47)

pasar modal karena total return yang di terima lebih kecil dibanding dengan

pandapatan dari bunga deposito. Akibat lebih lanjut, harga-harga saham di pasar

modal mengalami penurunan yang drastis. Indeks Harga Saham Gabungan sejak

bulan Agustus sampai akhir tahun 1997 selalu menurun. Periode ini juga dapat

diartikan sebagai periode ujian terberat yang dialami oleh pasar modal Indonesia.

B. Prosedur Pendaftaran Sekuritas di BEI.

Sebuah perusahaan yang akan going publik dapat mengikuti prosedur yang

terdiri dari tiga tahapan utama. Yang pertama adalah persiapan diri. Yang kedua

adalah memperoleh ijin registrasi dari BAPEPAM. Yang ketiga adalah melakukan

penawaran perdana ke publik (initial public offering) dan memasuki pasar

sekunder dengan mencatatkan efeknya di bursa.

C. Prosedur Transaksi di BEI

Transaksi perdagangan di BEI menggunakan order-driven market system

dan system lelang kontinyu (continous auction system). Dengan order-driven

market system berarti bahwa pembeli dan penjual sekuritas yang ingin melakukan

transaksi harus melalui broker. Investor tidak dapat langsung melakukan transaksi

di lantai bursa. Hanya broker yang dapat melakukan transaksi jual dan beli

berdasarkan order dari investor. Disamping itu, broker juga dapat melakukan

transaksi untuk membentuk portofolionya sendiri. Masing-masing perusahaan

broker mempunyai staff yagn ditugaskan di bursa. Staf ini disebut dengan

(48)

Dengan sistem lelang kontinyu maksudnya harga transaksi ditentukan oleh

penawaran dan permintaan dari investor. Untuk system manual, harga penjualan

terendah dan harga penawaran tertinggi dari investor diumumkan oleh broker di

bursa, seperti dipasar lelang. Harga transaksi ditentukan jika ada pertemuan antara

harga penawaran dan permintaan. Kemudian order ini akan diproses oleh

computer. Sistem lelang ini akan terus dilakukan secara kontinyu selama jam

kerja bursa sampai ditemukan harga kesepakatan.

Umumnya transaksi yang terjadi di bursa bukan merupakan transaksi tunai.

Pembayaran dan penyerahan sertifikat diatur pada hari kelima atau hari ke T+4

setelah transaksi terjadi. PT. Kliring Pinjaman Efek Indonesia (KPEI) ditujukan

(49)

BAB IV

ANALISIS DAN EVALUASI

A. Analisis Deskriptif

Metode analisis deskriptif adalah suatu metode analisis dimana data-data

yang dikumpulkan, diklasifikasikan, dianalisis, dan diinterpretasikan secara

objektif sehingga memberikan informasi dan gambaran mengenai topik yang

dibahas. Hasil estimasi variabel-variabel dalam penelitian ini adalah :

1. Deskripsi Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia periode

tahun 2004-2008.

Tabel 4.1

Perubahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Periode 2004 – 2008

Bulan Tahun

Tabel 4.1 menunjukkan perubahan IHSG di Bursa Efek Indonesia setelah

(50)

2008, ditemukan adanya perubahan indeks yang bernilai positif (+) maupun

negatif (-). Apabila perubahan indeks positif, menunjukkan bahwa IHSG

mengalami kenaikan. Apabila perubahan indeks bernilai negatif, menunjukkan

bahwa IHSG mengalami penurunan,

IHSG mencatat kenaikan terbesar selama periode 2004-2008 sebesar 0.147

atau 14.7% yang terjadi pada bulan Januari tahun 2004. Sedangkan penurunan

IHSG terbesar terjadi pada Oktober 2008 sebesar 0.279 atau 27.9%.

Perubahan indeks terbesar pada tahun 2004 yang bernilai positif terjadi pada

bulan Januari sebesar 0.147 atau 14.7%. Sedangkan perubahan indeks terbesar

yang bernilai negatif terjadi pada bulan Mei sebesar -0,077 atau sebesar -7.7%.

Pada tahun 2005, perubahan indeks terbesar yang bernilai positif terjadi pada

bulan Desembersebesar 0.092 atau 9.2%. Sedangkan perubahan indeks terbesar

yang bernilai negatif terjadi pada bulan September sebesar -0,054 atau sebesar

-5.4%.

IHSG cenderung mengalami kenaikan pada tahun 2006. Hal ini terlihat

selama tahun 2006, hanya sekali IHSG mengalami penurunan, walaupun

penurunan yang terjadi relatif besar, yakni sebesar -0.104 atau -10.4%. Sedangkan

perubahan indeks terbesar yang bernilai positif terjadi pada bulan April sebesar

0.100 atau 10%. Pada tahun 2007, perubahan indeks terbesar yang bernilai positif

terjadi pada bulan Oktober sebesar 0.129 atau 12.9%. Sedangkan perubahan

indeks terbesar yang bernilai negatif terjadi pada bulan Agustus sebesar -0,062

(51)

Tabel 4.1 menunjukkan IHSG cenderung mengalami penurunan pada tahun

2008. Terlihat perubahan indeks banyak yang bernilai negatif. Adapun kenaikan

IHSG terbesar terjadi pada bulan Mei sebesar 0.059 atau 5.9%. Sedangkan

penurunan IHSG terbesar terjadi pada bulan Oktober sebesar -0,279 atau sebesar

-27.9%.

2. Deskripsi Nilai Tukar Rupiah terhadap US Dollar periode tahun 2004-2008.

Tabel 4.2

Perubahan Nilai Tukar Periode 2004 – 2008

Bulan Tahun

Tabel 4.2 menggambarkan perubahan Nilai Tukar yang telah disesuaikan

dengan tingkat inflasi selama periode tahun 2004-2008. Pada pengamatan data

bulanan yang dilakukan terhadap Nilai Tukar selama tahun 2004-2008, terlihat

pada Tabel 4.2 bahwa nilai tukar berfluktuasi setiap bulannya. Nilai tukar

tersebut diukur dengan perbandingan nilai tukar harian Rupiah terhadap US

Dollar yang dikalkulasikan menjadi rata-rata bulanan. Perubahan nilai tukar

(52)

Apabila perubahan nilai tukar bernilai positif, maka Rupiah mengalami depresiasi

atau melemah terhadap US Dollar. Sedangkan jika perubahan nilai tukar bernilai

negatif, maka Rupiah mengalami apresiasi atau menguat nilainya terhadap US

Dollar.

Apresiasi terbesar nilai tukar sepanjang tahun 2004-2008, terjadi pada bulan

Januari 2006 dimana perubahan nilai tukar sebesar -0.039 atau -3.9%. Dan

depresiasi terbesar dari nilai tukar terjadi pada bulan November 2008 dimana

perubahan nilai tukar sebesar 0.165 atau 16.5%

Apresiasi nilai tukar tertinggi pada tahun 2004 terjadi pada bulan Juli yaitu

sebesar 0.037 atau 3.7%. Sedangkan depresiasi nilai tukar tertinggi terjadi pada

bulan Juni yaitu sebesar 0.047 atau 4.7%. Pada tahun 2005, apresiasi nilai tukar

tertinggi terjadi pada bulan Desember yaitu sebesar 0.018 atau 1.8%. Sedangkan

depresiasi nilai tukar tertinggi terjadi pada bulan Juni yaitu sebesar 0.025 atau

2.5%.

Nilai tukar cenderung mengalami apresiasi pada tahun 2006. Hal itu terlihat

pada Tabel 4.2 banyaknya perubahan nilai tukar yang bernilai negatif. Adapun

apresiasi nilai tukar tertinggi terjadi pada bulan Januari yaitu sebesar 0.039 atau

3.9%. Sedangkan depresiasi nilai tukar tertinggi terjadi pada bulan Juni yaitu

sebesar 0.042 atau 4.2%. Pada tahun 2007, apresiasi nilai tukar tertinggi terjadi

pada bulan Mei yaitu sebesar 0.028 atau 2.8%. Sedangkan depresiasi nilai tukar

tertinggi terjadi pada bulan Agustus yaitu sebesar 0.033 atau 3.3%.

Nilai tukar cenderung mengalami depresiasi pada tahun 2008. Hal itu

(53)

Adapun apresiasi nilai tukar tertinggi terjadi pada bulan Desember yaitu sebesar

0.033 atau 3.3%. Sedangkan depresiasi nilai tukar tertinggi terjadi pada bulan

November yaitu sebesar 0.165 atau 16.5%.

3. Deskripsi Laju Inflasi periode tahun 2004-2008.

Tabel 4.3

Tabel 4.3 menunjukkan Laju Inflasi selama periode tahun 2004-2008. Pada

pengamatan data bulanan yang dilakukan terhadap tingkat inflasi selama tahun

2004-2008, ditemukan adanya Laju Inflasi yang bernilai positif (+) maupun

negatif (-). Apabila Laju Inflasi bernilai positif, menunjukkan bahwa tingkat

inflasi mengalami kenaikan, sedangkan apabila Laju Inflasi bernilai negatif,

menunjukkan bahwa tingkat inflasi mengalami penurunan. Adapun kenaikan

inflasi terbesar sepanjang tahun 2004-2008 terjadi pada bulan Oktober 2005

(54)

terbesar terjadi pada bulan Oktober 2006 dimana laju inflasi sebesar -0.568 atau

56.8%.

Kenaikan inflasi terbesar pada tahun 2004 terjadi pada bulan April, dimana

Laju Inflasinya sebesar 0.159 atau 15.9%. Sedangkan penurunan inflasi terbesar

terjadi pada bulan Agustus, dimana Laju Inflasinya sebesar -0,074 atau sebesar

-7.4%. Pada tahun 2005, kenaikan inflasi terbesar terjadi pada bulan Oktober,

dimana Laju Inflasinya sebesar0.975 atau 97.5%. Sedangkan penurunan inflasi

terbesar terjadi pada bulan Mei dimana Laju Inflasinya sebesar -0,089 atau sebesar

-8.9%.

Kenaikan inflasi terbesar pada tahun 2006 terjadi pada bulan Desember,

dimana Laju Inflasinya sebesar0.252 atau 25.2%. Sedangkan penurunan inflasi

terbesar terjadi pada bulan Oktober, dimana Laju Inflasinya sebesar -0,568 atau

sebesar -56.8%. Pada tahun 2007, kenaikan inflasi terbesar terjadi pada bulan

Agustus, dimana Laju Inflasinya sebesar0.074 atau 7.4%. Sedangkan penurunan

inflasi terbesar terjadi pada bulan Januari dimana Laju Inflasinya sebesar -0,052 atau

sebesar -5.2%.

Kenaikan inflasi terbesar pada tahun 2008 terjadi pada bulan Mei, dimana

Laju Inflasinya sebesar 0.158 atau 15.8%. Sedangkan penurunan inflasi terbesar

terjadi pada bulan Desember, dimana Laju Inflasinya sebesar -0,053 atau sebesar

(55)

4. Deskripsi Perubahan Suku Bunga SBI periode tahun 2004-2008.

Tabel 4.4

Perubahan Suku Bunga SBI Periode 2004-2008

Tabel 4.4 menunjukkan perubahan Suku Bunga SBI 1 Bulanan selama

periode tahun 2004-2008. Pada pengamatan data yang dilakukan terhadap tingkat

perubahan Suku Bunga SBI selama tahun 2004-2008, ditemukan adanya

perubahan Suku Bunga SBI yang bernilai positif (+) maupun negatif (-). Apabila

perubahan Suku Bunga SBI bernilai positif, menunjukkan bahwa tingkat Suku

Bunga SBI mengalami kenaikan, sedangkan apabila perubahan Suku Bunga SBI

bernilai negatif, menunjukkan bahwa Suku Bunga SBI mengalami penurunan.

Kenaikan Suku Bunga SBI terbesar sepanjang tahun 2004-2008 terjadi pada

bulan September 2005 dimana perubahan Suku Bunga SBI sebesar 0.131 atau

13.1%. Sedangkan penurunan Suku Bunga SBI terbesar terjadi pada bulan

Gambar

Gambar 4.1  Hasil Uji Gambar 1.2 Kerangka Konseptual ............................................................
Gambar 1.1.  Pergerakan IHSG, Nilai Tukar, Inflasi dan Suku Bunga SBI  Kurs
Gambar 1.2. Kerangka Konseptual Sumber:  Tandelilin (2001); Ulupui (2007) (10/01/09, diolah)
Tabel 4.1 Perubahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis apakah terdapat pengaruh dari Harga Minyak Dunia, Nilai Tukar, Inflasi dan Suku Bunga SBI terhadap Pergerakan Indeks Harga

Analisis Pengaruh Nilai Tukar (Kurs) Dolar Amerika/Rupiah (US$/Rp), Tingkat Suku Bunga SBI, Inflasi, dan Jumlah Uang Beredar (M2) Terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di

PENGARUH INFLASI, KURS, SUKU BUNGA SBI TERHADAP INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN (IHSG) PADA BURSA EFEK.. INDONESIA PERIODE 2005-2009 TRI

Pengaruh tingkat inflasi, Tingkat suku bunga SBI, nilai tukar rupiah, Indeks Dow Jones, dan Indeks KLSE terhadap indeks harga saham

Penelitian yang dilakukan oleh Hismendi dkk (2013) meneliti mengenai Analisis Pengaruh Nilai Tukar, SBI, Inflasi, dan Pertumbuhan GDP terhadap Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan

Artinya bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dapat dijelaskan oleh variabel independen yang terdiri dari tingkat inflasi, tingkat suku bunga SBI, nilai tukar Rupiah,

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis apakah terdapat pengaruh dari Harga Minyak Dunia, Nilai Tukar, Inflasi dan Suku Bunga SBI terhadap Pergerakan

Pengaruh Inflasi, Tingkat Suku Bunga Dan Nilai Tukar Kurs Rupiah Terhadap Indeks Harga Saham Gabungan Per Bulan Di Bursa Efek Indonesia Periode Januari 2018 Sampai Desember Junaldo