• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Pola Asuh Keluarga dengan Perilaku Remaja di SMA Negeri 14 Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Hubungan Pola Asuh Keluarga dengan Perilaku Remaja di SMA Negeri 14 Medan"

Copied!
99
0
0

Teks penuh

(1)

di SMA Negeri 14 Medan

SKRIPSI

Oleh

Yuli Anita Tarigan

111101054

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)
(3)
(4)

Nama Penelitian : Yuli Anita Tarigan

NIM : 111101054

Program Studi : Ilmu Keperawatan (S.Kep)

Tahun : 2015

ABSTRAK

Remaja sangat rentan untuk melakukan perilaku yang tidak baik (negatif). Hal ini disebabkan oleh masa remaja yang merupakan masa peralihan dan remaja akan mengalami perubahan fisik, psikologi, dan sosial. Peran orangtua dalam memberikan pola asuh sangat penting untuk mencegah terjadinya perilaku yang tidak baik pada remaja. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif korelasi yang bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan pola asuh keluarga dengan perilaku remaja di SMA Negeri 14 Medan. Jumlah responden sebanyak 94 orang siswa yang diambil dengan teknik Proppartional Stratified Sampling. Pengumpulan data dengan melakukan pengisian kuesioner. Teknik analisa data dengan menggunakan Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi positif yang signifikan antara pola asuh keluarga dengan perilaku remaja di SMA Negeri 14 Medan (ρvalue=0,000), dengan nilai

koefisien korelasi 0,861 dengan interpretasi sangat kuat. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan pola asuh keluarga akan mempengaruhi perilaku remaja. Oleh karena itu orangtua disarankan untuk memberikan pola asuh yang tepat sehingga perilaku remaja yang tidak baik dapat dicegah.

(5)

Name of Researcher : Yuli Anita Tarigan Std. ID Number : 111101054

Study Program : Nursing Science (S.Kep) Academic Year : 2015

ABSTRACT

Teenagers are vulnerable to performing negative behavior because adolescence is a changing period, and a teenager will undergo physical, psychological, and social changes. Parents’ role in providing raising pattern is very important to forestall the incidence of adolescence negative behavior. The research was a quantitative study with descriptive correlation approach which was aimed to identify the correlation between family caring pattern and teenagers’ behavior at SMA Negeri 14, Medan. The samples were 94 students as respondents, taken by using proportional stratified sampling technique. The data were gathered by distributing questionnaires and analyzed by using Rank Spearman method. The result of the research showed that there was positive and significant correlation between family caring pattern and teenagers’ behavior at SMA Negeri 14, Medan (pvalue = 0.000) and coefficient correlation value of 0.861 with very strong interpretation. It could be concluded that family raising pattern cold influence teenagers’ behavior. It is recommended that parents should provide caring pattern so that teenagers’ negative behavior can be forestalled.

(6)

hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Hubungan Pola Asuh Keluarga dengan Perilaku Remaja di SMA Negeri 14

Medan”. Skripsi ini disusun dengan tujuan untuk memenuhi salah satu

persyaratan mencapai gelar kesarjanaan pada Program Studi Ilmu Keperawatan

Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dan

membimbing peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini yaitu:

1. Bapak dr. Dedi Ardinata, M.Kes selaku Dekan Fakultas Keperawatan

Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Erniyati, S.Kp, MNS selaku Pembantu Dekan I Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Evi Karota Bukit, S.Kp, MNS selaku Pembantu Dekan II Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Ikhsanuddin Ahmad Harahap, S.Kp, MNS selaku Pembantu Dekan III Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

5. Ibu Siti Zahara Nasution, S.Kp, MNS selaku dosen pembimbing dalam pembuatan skripsi ini.

6. Ibu Roxana Devi Tumanggor, S.Kep, Ns, M.nurs dan Bapak Iwan Rusdi,

(7)

8. Kepala SMA Negeri 14 Medan yang telah memberikan izin untuk

melakukan penelitian.

9. Kepala SMA Negeri 21 Medan yang telah memberikan izin untuk

melakukan uji reliabilitas.

10.Orang tua, keluarga, dan seluruh teman-teman Program Studi Ilmu Keperawatan Stambuk 2011 yang selalu memberikan semangat dan

motivasi yang tiada henti-hentinya sehingga proposal penelitian ini dapat diselesaikan.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini belum sempurna, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik serta masukan yang membangun. Dan

penulis berharap semoga hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan bagi ilmu pengetahuan, khususnya keperawatan serta bermanfaat bagi semua pihak

yang membutuhkan.

Medan, 20 Juni 2015

Penulis

(8)

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

4.3. Penelitian Keperawatan ... 5

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku ... 17

2.5. Pengertian Remaja ... 18

2.6. Tugas-Tugas Perkembangan Remaja ... 18

3. Pola Asuh keluarga terhadap Remaja ... 20

BAB 3 KERANGKA PENELITIAN 1. Kerangka Konseptual... 22

2. Defenisi Operasional ... 23

4. Pertimbangan Etik Penelitian ... 26

5. Instrumen Penelitian ... 27

6. Pengumpulan Data ... 28

7. Uji Validitas dan Reliabilitas ... 29

(9)

1.1.Karakteristik Responden ... 33

1.2.Pola Asuh Keluarga di SMA Negeri 14 Medan ... 34

1.3.Perilaku Remaja di SMA Negeri 14 Medan ... 35

1.4.Hubungan Pola Asuh Keluarga dengan Perilaku Remaja di SMA Negeri 14 Medan ... 35

2. Pembahasan... 36

2.1.Pola Asuh Keluarga di SMA Negeri 14 Medan ... 36

2.2.Perilaku Remaja di SMA Negeri 14 Medan ... 39

2.3.Hubungan Pola Asuh Keluarga dengan Perilaku Remaja di SMA Negeri 14 Medan ... 41

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan ... 44

2. Lembar Persetujuan Menjadi Responden Penelitian ... 51

3. Instrumen Penelitian ... 52

4. Surat Izin Survey Awal dari Fakultas Keperawatan ... 56

5. Surat Pemberian Izin Survey Awal dari Dinas Pendidikan Kota Medan ... 57

6. Surat Telah Melakukan Survey Awal dari SMA Negeri 14 Medan ... 58

7. Lembar Persetujuan Validitas ... 59

8. Surat Persetujuan Komisi Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Keperawatan USU ... 60

9. Surat Izin Uji Reliabilitas dan Pengambilan Data dari Fakultas Keperawatan ... 61

10. Surat Pemberian Izin Uji Reliabilitas dan Pengambilan Data dari Dinas Pendidikan Kota Medan ... 63

11. Surat Telah Melakukan Uji Reliabilitas dari SMA Negeri 21 Medan ... 65

12. Surat Telah Melakukan Pengambilan Data dari SMA Negeri 14 Medan ... 66

13. Hasil Uji Reliabilitas Cronbach Alpha ... 67

14. Hasil Distribusi Frekuensi dan Persentase Data Demografi, Pola Asuh Keluarga, dan Perilaku Remaja ... 69

15. Hasil Uji Korelasi Rank Spearman ... 76

16. Master Data ... 77

17. Lembar Bukti Bimbingan ... 81

18. Jadwal Penelitian ... 83

19. Riwayat Hidup ... 84

20. Pengeluaran Dana Penelitian ... 85

(10)

Tabel 1. Defenisi Operasional Penelitian ... 23 Tabel 2. Panduan Interpretasi Hasil Uji Hipotesis Berdasarkan Kekuatan

Korelasi, Nilai p, dan Arah Korelasi ... 32 Tabel 3. Distribusi Frekuensi dan Persentase Data Demografi Responden di

SMA Negeri 14 Medan ... 33 Tabel 4. Distribusi Frekuensi dan Persentase Pola Asuh Keluarga di SMA

Negeri 14 Medan ... 35 Tabel 5. Distribusi Frekuensi dan Persentase Perilaku Remaja di SMA Negeri

14 Medan ... 35 Tabel 6. Hubungan Pola Asuh Keluarga dengan Perilaku Remaja di SMA

(11)
(12)

Nama Penelitian : Yuli Anita Tarigan

NIM : 111101054

Program Studi : Ilmu Keperawatan (S.Kep)

Tahun : 2015

ABSTRAK

Remaja sangat rentan untuk melakukan perilaku yang tidak baik (negatif). Hal ini disebabkan oleh masa remaja yang merupakan masa peralihan dan remaja akan mengalami perubahan fisik, psikologi, dan sosial. Peran orangtua dalam memberikan pola asuh sangat penting untuk mencegah terjadinya perilaku yang tidak baik pada remaja. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif korelasi yang bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan pola asuh keluarga dengan perilaku remaja di SMA Negeri 14 Medan. Jumlah responden sebanyak 94 orang siswa yang diambil dengan teknik Proppartional Stratified Sampling. Pengumpulan data dengan melakukan pengisian kuesioner. Teknik analisa data dengan menggunakan Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi positif yang signifikan antara pola asuh keluarga dengan perilaku remaja di SMA Negeri 14 Medan (ρvalue=0,000), dengan nilai

koefisien korelasi 0,861 dengan interpretasi sangat kuat. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan pola asuh keluarga akan mempengaruhi perilaku remaja. Oleh karena itu orangtua disarankan untuk memberikan pola asuh yang tepat sehingga perilaku remaja yang tidak baik dapat dicegah.

(13)

Name of Researcher : Yuli Anita Tarigan Std. ID Number : 111101054

Study Program : Nursing Science (S.Kep) Academic Year : 2015

ABSTRACT

Teenagers are vulnerable to performing negative behavior because adolescence is a changing period, and a teenager will undergo physical, psychological, and social changes. Parents’ role in providing raising pattern is very important to forestall the incidence of adolescence negative behavior. The research was a quantitative study with descriptive correlation approach which was aimed to identify the correlation between family caring pattern and teenagers’ behavior at SMA Negeri 14, Medan. The samples were 94 students as respondents, taken by using proportional stratified sampling technique. The data were gathered by distributing questionnaires and analyzed by using Rank Spearman method. The result of the research showed that there was positive and significant correlation between family caring pattern and teenagers’ behavior at SMA Negeri 14, Medan (pvalue = 0.000) and coefficient correlation value of 0.861 with very strong interpretation. It could be concluded that family raising pattern cold influence teenagers’ behavior. It is recommended that parents should provide caring pattern so that teenagers’ negative behavior can be forestalled.

(14)

1. Latar Belakang

Masa remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Anak remaja mengalami perubahan secara fisik, psikologis, dan sosial.

Perubahan fisik pada remaja dimulai dari masa remaja awal hingga remaja akhir. Begitupula dengan perubahan psikologis remaja yang terdiri dari perubahan

kemampuan intelektual, perubahan emosi, perubahan perilaku sosial dan perubahan minat (Purwanto, 1998). Perkembangan remaja dimulai dari usia 10-19 tahun dan dapat memanjang hingga usia 24 tahun dan dapat dimulai sebelum usia

10 tahun. Remaja yang sejahtera adalah remaja yang membangun kemampuan yang komprehensif untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, pengalaman,

nilai-nilai, hubungan sosial, serta akses ke layanan dasar yang akan memungkinkan seseorang untuk melakukan penyesuaian dengan kehidupan,

berpartisipasi dalam urusan masyarakat dan sipil, mendapatkan penghasilan, menghindari perilaku berbahaya dan berisiko, dan dapat berkembang dalam berbagai situasi, mencegah penyakit, eksploitasi, kekerasan dan diskriminasi

(Unicef, 2009).

Fenomena perilaku remaja yang bersifat negatif banyak ditemukan di

lingkungan masyarakat. Berbagai bentuk perilaku negatif yang terjadi dalam lingkungan remaja seperti merokok, seks bebas, dan lain-lain. Hasil penelitian menunjukkan angka perilaku negatif remaja semakin meningkat setiap tahun, hal

(15)

pengawasan dari orangtua yang kurang (Edwards, 1999). Berdasarkan penelitian dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (BPPK)

Kementerian Kesehatan RI tahun 2013 menyatakan bahwa prevalensi kecelakaan sepeda motor pada kelompok usia 15-24 tahun sebanyak 67,4%. Data kebiasaan

merokok umur 15-19 tahun sebanyak 11,2%. Dan informasi kehamilan memberikan gambaran proporsi penduduk Indonesia sedang hamil pada usia 15-19 tahun sebanyak 1,97%. Berdasarkan survey Komnas Perlindungan Anak di 33

Provinsi bulan Januari-Juni 2008 menyatakan bahwa 97% remaja SMP dan SMA pernah menonton film porno. Remaja SMP dan SMA pernah ciuman, meraba alat

kelamin dan oral sex sebanyak 93,7%. Remaja tidak perawan sebanyak 62,7% dan 21,12% remaja mengaku pernah aborsi (BPPK Kementrian Kesehatan RI,

2013 dan Mohan, 2012).

Perilaku remaja yang bersifat negatif juga dilakukan oleh siswa/i sekolah menengah atas (SMA) di kota Medan. Berdasarkan hasil survey awal yang

dilakukan oleh peneliti di SMA Negeri 14 Medan terhadap 10 orang siswa/i dengan metode wawancara didapatkan data, empat orang siswa mengaku sering melihat siswa lain merokok di kamar mandi. Dua orang siswa melihat temannya

yang pacaran dan berpegangan tangan. Delapan siswa mengaku tidak memiliki keberanian untuk bercerita tentang rasa suka terhadap lawan jenis kepada

orangtua/keluarga dan lebih memilih bercerita dengan teman sebaya. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan remaja dengan keluarga kurang berfungsi dengan

(16)

Alshinawi (1998 dalam Alzahrani, Zuri & Ahmad, 2014) mengatakan bahwa keluarga berperan aktif dalam pertumbuhan kepribadian normal pada anak.

Keluarga adalah faktor yang paling berpengaruh dalam kesehatan dan normalitas psikologis pada anak. Hal ini dianggap sebagai sumber dasar informasi,

keterampilan dan lembaga yang paling penting dimana anak menerima perawatan, bimbingan dan nilai-nilai. Binauf (2009 dalam Alzahrani, et al., 2014) menambahkan bahwa keluarga adalah dimana anak diberikan pendidikan

keluarga, nilai-nilai dan standar yang berorientasi pada aturan untuk tindakan dan perilakunya. Peran orangtua mempengaruhi pertumbuhan dan perilaku anak.

Asuhan keluarga yang normal adalah salah satu indikator menilai kemajuan atau keterbelakangan masyarakat. Belsky, Steinberg, Houts, Halpern dan Felsher (2010 dalam Alzahrani, et al., 2014) berpendapat bahwa perlakuan kasar dari ibu ke

anaknya diprediksi dapat beresiko terhadap perilaku anak usia dini seperti menggunakan obat-obatan, alkohol, kenakalan dan pola perilaku agresif serta

meningkatkan kesempatan penyimpangan perilaku.

Penelitian berkaitan dengan pola asuh keluarga dilakukan oleh Junita (2006) di Kelurahan Selawan Kisaran dengan hasil penelitian dari 88 responden

didapatkan hasil 48 responden (55%) memberikan pola asuh demokrasi dengan sosialisasi anak dalam kriteria baik sebanyak 61 responden (69%). Penelitian

Lestari (2006) dengan 144 responden di SMU Negeri 1 Medan didapatkan hasil 135 responden (93,75%) menggunakan pola asuh demokrasi dengan perkembangan moral anak dalam kriteria baik sebanyak 125 responden (86,8%).

(17)

menghasilkan sosialisasi dan moral yang baik. Pada penelitian ini akan dibahas

tentang pola asuh keluarga dengan perilaku pada remaja.

Pengetahuan orangtua mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan perilaku anak akan sangat membantu dalam mengupayakan lingkungan pengasuhan yang kompeten bagi pembentukan perilaku anak sesuai

dengan yang diharapkan (Sunarti, 2004). Dalam hal ini penting bagi orangtua untuk mengenal pola asuh serta memahami dampak dari pengasuhan tersebut

terhadap perilaku anak. Berdasarkan uraian di atas sehingga peneliti tertarik untuk meneliti hubungan pola asuh keluarga dengan perilaku remaja di SMA Negeri 14

Medan.

2. Rumusan Masalah

Rumusan Masalah penelitian ini adalah:

2.1. Bagaimana gambaran pola asuh keluarga di SMA Negeri 14 Medan? 2.2. Bagaimana gambaran perilaku remaja di SMA Negeri 14 Medan? 2.3. Adakah hubungan pola asuh keluarga terhadap perilaku remaja di

SMA Negeri 14 Medan?

3. Tujuan Penelitian 3.1. Tujuan Umum

Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi hubungan pola asuh keluarga dengan perilaku remaja di SMA Negeri

(18)

3.2. Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari penelitian ini adalah:

a. Menggambarkan pola asuh keluarga di SMA Negeri 14 Medan. b. Menggambarkan perilaku remaja di SMA Negeri 14 Medan.

4. Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi, antara lain: 4.1. Pendidikan Keperawatan

Hasil penelitian ini menjadi informasi untuk persiapan materi perkuliahan terkait pola asuh keluarga yang berguna untuk meningkatkan kualitas pendidikan keperawatan keluarga.

4.2 Pelayanan Keperawatan

Hasil penelitian ini akan menjadi informasi kepada perawat komunitas

dalam melakukan penyuluhan kepada masyarakat terkait pola asuh keluarga terhadap remaja.

4.3 Keluarga dan Masyarakat

Hasil penelitian ini akan membantu keluarga untuk menentukan dan memberikan pola asuh yang efektif terhadap remaja.

4.4 Penelitian Keperawatan

Hasil penelitian ini diharapakan menjadi bahan perbandingan bagi

peneliti lain yang ingin membahas masalah yang berkaitan dengan penelitian ini. Selain itu diharapkan dapat menjadi sumber referensi

(19)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

1. Pola Asuh Keluarga

1.1. Pengertian Pola Asuh Keluarga

Pola asuh merupakan pola perilaku orangtua yang paling dominan dalam menangani anaknya sehari-hari. Pengasuhan anak adalah

implementasi dan keputusan yang dilakukan orangtua atau orang dewasa kepada anak sehingga memungkinkan anak menjadi bertanggung jawab,

menjadi anggota masyarakat yang baik serta memiliki karakter-karakter baik (Sunarti, 2004).

Pola asuh adalah cara atau metode pengasuhan yang digunakan oleh

orangtua agar anak-anaknya dapat tumbuh menjadi individu-individu yang dewasa secara sosial (Santrock, 2002). Almoudnat ( 2003 dalam Alzahrani, et

al., 2014) menambahkan bahwa pola asuh orangtua adalah sebuah proses pendidikan yang dilakukan oleh orangtua dan dimana anak belajar perilaku, standar, keterampilan dan sikap yang diterima oleh agama, masyarakat dan

pendidikan.

1.2. Tipe Pola Asuh Keluarga

Hurlock (1993) membagi pola asuh menjadi tiga yaitu otoriter,

demokratis, dan permisif.

1.2.1.Pola asuh otoriter

Orangtua yang menerapkan pola asuh otoriter mempunyai

(20)

sayang serta simpatik. Orangtua memaksa anak untuk patuh pada nilai-nilai mereka, mencoba membentuk tingkah laku anak

sesuai dengan tingkah laku mereka serta cenderung mengekang keinginan anak. Orangtua tidak mendorong dan tidak memberi

kesempatan kepada anak untuk mandiri serta jarang memberi pujian. Hak anak dibatasi tetapi dituntut tanggung-jawab seperti orang dewasa. Orangtua yang otoriter cenderung memberi hukuman

terutama hukuman fisik. Orangtua yang otoriter sangat berkuasa terhadap anak. Orangtua memegang kekuasaaan tertinggi serta

mengharuskan anak patuh pada perintahnya dan segala tingkah laku anak dikontrol dengan ketat (Stewart dan Koch, 1983; Hurlock, 1993).

Pola asuh otoriter adalah pola pengasuhan yang menempatkan

orangtua sebagai pusat dan pemegang kendali. Orangtua melakukan kontrol terhadap anak yang didasarkan kepada nilai-nilai yang

dipercayai kebenarannya. Anak yang dibesarkan dengan pola asuh otoriter akan mengembangkan sikap sebagai pengekor, selalu tergantung kepada orang lain dalam mengambil keputusan, dan tidak

memiliki pendirian. Anak sulit menangkap makna dan hakikat dari setiap fenomena hidup, kurang fokus terhadap aktivitas yang

dikerjakan, dan sering kali kehilangan arah yang akan dituju. Anak tidak memilki rasa percaya diri yang tinggi, merasa ketakutan ketika melakukan kesalahan, dan cenderung sulit mempercayai orang-orang

(21)

memiliki kecenderungan untuk agresif dan mempunyai tingkah laku yang menyimpang (Baumrind, 1966 dalam Sunarti, 2004). Baumrind

(1989 dalam Papalia, 2008) menambahkan bahwa orangtua otoriter memandang penting kontrol dan kepatuhan tanpa syarat. Mereka

mencoba membuat anak menyesuaikan diri dengan serangkaian standar perilaku dan menghukum anak dengan keras atas pelanggaran yang dilakukan anak. Mereka menjadi kurang hangat dibandingkan

orangtua lain. Anak mereka cenderung menjadi lebih tidak puas, menarik diri, dan tidak percaya pada orang lain.

1.2.2.Pola asuh demokratis

Stewart dan Koch (1983) menyatakan bahwa orangtua yang

demokratis memandang kewajiban dan hak antara orangtua dan anak adalah sama. Orangtua memberikan tanggung-jawab kepada anak atas perbuatannya sampai anak menjadi dewasa secara bertahap. Orangtua

selalu berdialog dengan anak-anaknya, saling memberi dan menerima, selalu mendengarkan keluhan-keluhan dan pendapat anak-anaknya.

Mereka selalu memberikan penjelasan kepada anak, mendorong anak untuk saling membantu dan bertindak secara obyektif. Orangtua dengan pola asuh demokratis tegas, namun hangat dan penuh

pengertian.

Hurlock (1993) mengatakan bahwa pola asuh demokratis

(22)

dalam pengambilan keputusan, dan dalam menetapkan peraturan serta mengatur kehidupan anak. Backman (1986) mengemukakan bahwa

semakin demokratis suatu keluarga akan semakin bebas setiap anggota keluarga untuk mengungkapkan hal-hal yang tidak disukainya

maupun mengekspresikan hal-hal yang disukainya dalam interaksinya dengan masing-masing anggota keluarga. Di samping itu, remaja yang memilki orangtua yang menggunakan pola asuh demokratis memiliki

hubungan yang lebih harmonis dengan anak lain dan dengan orangtuanya.

Baumrind (1966 dalam Sunarti 2004) mengatakan bahwa pola asuh demokrasi adalah pola pengasuhan dimana orangtua senantiasa mengontrol perilaku anak, namun kontrol tersebut dilakukan dengan

fleksibel atau tidak kaku. Anak yang diasuh dengan pola asuh demokratis akan mengembangkan rasa percaya diri, kontrol dan emosi

diri yang baik, selalu ingin tahu, menggali hal-hal yang dapat memperluas wawasan dan kematangan pribadinya. Anak mampu menemukan arah dan tujuan dari tugas-tugas perkembangannya. Anak

mengembangkan sikap bertanggung jawab dan percaya terhadap kemampuan sendiri. Baumrind (1989 dalam Papalia, 2008)

menambahkan bahwa orangtua demokrasi menghargai individualitas anak tetapi juga menekankan batasan sosial. Mereka memiliki keyakinan diri akan kemampuan mereka membimbing anak-anak,

(23)

ketertarikan, pendapat, dan kepribadian anak. Mereka mencintai dan menerima tetapi juga menuntut perilaku yang baik, dan kokoh dalam

mempertahankan standar, dan memiliki keinginan untuk menjatuhkan hukuman yang bijaksana dan terbatas ketika memang hal tersebut

dibutuhkan dalam konteks hubungan yang hangat dan suportif. Mereka menjelaskan logika di belakang tindakan mereka. Anak-anak merasa aman ketika mengetahui bahwa mereka dicintai dan dibimbing

secara hangat oleh orangtuanya.

1.2.3.Pola asuh permisif

Hurlock (1993) menyatakan pola asuh permisif memiliki ciri-ciri, antara lain: kontrol orangtua kurang, anak kurang dibimbing

dalam mengatur dirinya, hampir tidak menggunakan hukuman, anak diijinkan membuat keputusan sendiri dan dapat berbuat sekehendaknya sendiri. Baumrind (1966 dalam Sunarti 2004)

menyatakan bahwa pola asuh permisif adalah pola asuh orangtua yang senantiasa menyetujui keinginan anak. Anak merupakan sumber

pengambilan keputusan dalam berbagai hal di keluarga. Hal tersebut bahkan berlaku untuk hal-hal dimana anak belum waktunya untuk terlibat. Orangtua kurang melakukan evaluasi dan kontrol terhadap

perilaku anak. Orangtua senantiasa mengikuti keinginan anak. Disisi lain orangtua tidak meminta anak untuk menunjukkan prestasi yang

(24)

Anak yang dibesarkan dengan pola asuh permisif akan tumbuh menjadi anak yang kontrol dirinya rendah, kurang bertanggung jawab,

tidak terampil dalam mengatasi masalah dan mudah frustasi. Anak kurang mengembangkan pengetahuannya yang sudah ada. Anak

cenderung impulsif dan agresif, sehingga bermasalah dalam pergaulan sosialnya. Rendahnya keterampilan emosi sosial menyebabkan kepercayaan dirinya rendah. Anak yang dibesarkan dengan gaya asuh

permisif menunjukkan tidak matangnya tingkat perkembangan sesuai usianya.

2. Perilaku Remaja

2.1. Pengertian Perilaku

Skiner (1938 dalam Notoatmodjo 2007) menyatakan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari

luar). Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme atau makhluk hidup yang bersangkutan. Perilaku manusia adalah tindakan atau aktivitas

dari manusia yang sangat luas, antara lain: berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca dan sebagainya. Perilaku adalah

penghayatan dan aktivitas seseorang yang merupakan hasil dari berbagai faktor, yaitu faktor internal maupun eksternal seperti perhatian, pengamatan,

pikiran, ingatan, dan fantasi.

2.2. Tipe Perilaku

(25)

2.2.1.Perilaku tertutup (Covert behavior)

Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung

atau tertutup. Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan,/kesadaran dan sikap yang

terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain.

2.2.2.Perilaku terbuka (Overt behavior)

Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas

dalam bentuk tindakan atau praktik yang dapat dengan mudah diamati atau dilihat oleh orang lain.

2.3. Domain Perilaku

Bloom (1908 dalam Notoatmodjo 2010) membagi perilaku manusia

itu ke dalam 3 domain, antara lain: pengetahuan, sikap dan tindakan. 2.3.1.Pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil pengindraan manusia terhadap objek

melalui indra yang dimilikinya seperti mata, hidung, telinga, dan sebagainya. Pengetahuan diperoleh dari hasil penginderaan dan

dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebahagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indra pendengaran (telinga), dan indra penglihatan (mata). Pengetahuan

(26)

berbeda-beda. Secara garis besarnya dibagi dalam 6 tingkat pengetahuan, yakni:

a. Tahu (Know)

Tahu diartikan hanya sebagai memanggil memori yang telah ada

sebelumnya setelah mengamati sesuatu dan mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.

b. Memahami (Comprehension)

Memahami suatu objek bukan sekadar tahu terhadap objek tersebut, tidak sekadar dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut harus

dapat menginterpretasikan secara benar tentang objek yang diketahui tersebut.

c. Aplikasi (Application)

Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang dimaksud dan dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip

yang diketahui tersebut pada situasi yang lain. d. Analisis (Analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan seseorang untuk

menjabarkan, memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau objek

yang diketahui. Indikasi bahwa pengetahuan seseorang itu sudah sampai pada tingkat analisa adalah apabila orang tersebut telah dapat membedakan, memisahkan, mengelompokkan, membuat diagram

(27)

e. Sintesis (Synthesis)

Sintesis adalah suatu kemampuan seseorang untuk merangkum

komponen-komponen pengetahuan yang dimiliki. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari

formulasi-formulasi yang telah ada. f. Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan

penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini dengan sendirinya didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau

norma-norma yang berlaku di masyarakat. 2.3.2.Sikap (Attitude)

Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari

seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus

tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial.

Komponen pokok sikap menurut Allport (1954 dalam

Notoatmodjo 2010) sikap itu mempunyai 3 komponen pokok, yaitu: a. Kepercayaan atau keyakinan, ide, dan konsep terhadap objek.

b. Kehidupan emosional atau evaluasi orang terhadap objek. c. Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave).

Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap

(28)

pikiran, keyakinan, dan emosi memegang peranan penting. Seperti halnya pengetahuan, sikap juga mempunyai tingkat-tingkat

berdasarkan intensitasnya, sebagai berikut: a. Menerima (Receiving)

Menerima diartikan bahwa orang atau subjek mau menerima stimulus yang diberikan (objek).

b. Menanggapi (Responding)

Menanggapi diartikan memberikan jawaban atau tanggapan

terhadap pertanyaan atau objek yang dihadapi.

c. Menghargai (Valuing)

Menghargai diartikan subjek atau seseorang memberikan nilai yang positif terhadap objek atau stimulus, dalam arti membahasnya

dengan orang lain, bahkan mengajak atau mempengaruhi atau menganjurkan orang lain merespons.

d. Bertanggung jawab (Responsible)

Sikap yang paling tinggi tingkatannya adalah bertanggung jawab

terhadap apa yang telah diyakininya. Seseorang yang telah mengambil sikap tertentu berdasarkan keyakinannya, dia harus berani mengambil

risiko bila ada orang lain yang mencemohkan atau adanya risiko lain.

2.3.3.Tindakan atau Praktik (Practice)

Seperti telah disebutkan di atas bahwa sikap adalah

(29)

tindakan, sebab untuk terwujuudnya tindakan perlu faktor lain antara lain adanya fasilitas atau sarana dan prasarana. Praktik atau tindakan

ini dapat dibedakan menjadi 3 tingkatan menurut kualitasnya, yakni: a. Respons terpimpin (guided response)

Apabila subjek atau seseorang telah melakukan sesuatu tetapi masih tergantung pada tuntunan atau menggunakan panduan.

b. Praktik secara mekanisme (Mechanism)

Praktik secara mekanisme adalah apabila seseorang telah dapat melakukan atau mempraktikkan sesuatu hal secara otomatis.

c. Adopsi (Adoption)

Adopsi adalah suatu tindakan atau praktik yang sudah berkembang, artinya apa yang dilakukan tidak sekadar rutinitas, tetapi

sudah dilakukan modifikasi.

Skema 1: Hubungan pengetahuan, sikap dan tindakan

Skema 1. Hubungan pengetahuan, sikap dan tindakan STIMULUS

(Rangsangan)

PROSES STIMULUS

REAKSI TERBUKA (Tindakan)

(30)

Skema di atas menjelaskan bahwa perubahan perilaku tidak selalu melalui proses yang didasari oleh pengetahuan, dan sikap. Apabila adopsi

perilaku melalui proses yang didasari oleh pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang positif, maka perilaku tersebut akan bertahan lama. Sebaliknya

apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama.

2.4. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku

Papalia, Old, dan feldman (2008) menyatakan bahwa faktor yang

mempengaruhi perilaku manusia adalah faktor keturunan (hereditas/genetik) dan lingkungan. Faktor keturunan merupakan penurunan sifat dari orangtua. Keturunan (hereditas) tidak dapat diukur secara langsung, peneliti perilaku

genetik bergantung pada 3 tipe utama riset korelasional, yaitu: keluarga, adopsi dan kembar. Anggota keluarga langsung memiliki kemiripan genetik yang lebih besar dari keluarga jauh, kembar monozigotik memiliki

kemiripan genetik yang lebih besar dibandingkan kembar dizygotik, dan anak adopsi lebih mirip secara genetik dengan keluarga asalnya dari pada

keluarga pengadopsi.

Lingkungan merupakan benda yang terdapat di sekitar manusia yang turut memberi warna pada jiwa manusia yang berada di sekitarnya.

Lingkungan dapat mempengaruhi perilaku manusia sehingga kenyataannya akan menuntut suatu keharusan sebagai makhluk sosial yang dalam keadaan

(31)

mengubah manusia menjadi tidak mampu bersosialisasi dan berperilaku dengan sesamanya. (Purwanto, 1998). Para penganut aliran perilaku genetik

menyadari bahwa efek pengaruh genetik terhadap perilaku sangat jarang terjadi, dan lingkungan dapat memberikan pengaruh yang substansial

sebanyak 50%. Bahkan terkadang lingkungan dapat mengalahkan kondisi yang telah ditentukan secara genetik (Rutter, 2002 dalam Papalia et al.,

2008).

2.5. Pengertian Remaja

Remaja adalah periode ketika karakteristik seksual primer dan sekunder berkembang dan matang. Pubertas pada remaja perempuan dimulai pada usia antara 8-14 tahun dan dapat berakhir pada usia 17 tahun.

Pubertas pada remaja laki-laki dimulai pada usia antara 9-16 tahun dan dapat berakhir pada usia 18-19 tahun (Muscari, 2001).

2.6. Tugas – Tugas Perkembangan Remaja

Tugas perkembangan remaja adalah upaya meninggalkan sikap dan

perilaku kekanak-kanakan serta berusaha untuk mencapai kemampuan bersikap dan berperilaku secara dewasa (Ali dan Asrori, 2004). Keberhasilan individu dalam menunaikan tugas perkembangan ini, akan

menentukan perkembangan kepribadiannya. Seorang individu yang mampu menjalani dengan baik, maka timbul perasaan mampu, percaya diri,

berharga dan optimis menghadapi masa depannya. Sebaliknya, mereka yang gagal akan merasakan dirinya tidak mampu, gagal, kecewa, putus-asa,

(32)

Tugas perkembangan remaja pertengahan menurut Havighurst (1965

dalam Agustiani 2006) adalah sebagai berikut:

a. Mencapai relasi baru dan lebih matang bergaul dengan teman seusia dari kedua jenis kelamin.

Tujuan utama: Belajar melihat anak perempuan sebagai wanita dan

anak laki-laki sebagai pria, untuk menjadi manusia dewasa diantara orang dewasa lainnya. Belajar bekerja sama dengan orang lain dengan tujuan

umum/ tujuan bersama tanpa memperdulikan perasaan pribadi, dan belajar untuk menjadi pimpinan tanpa mendominasi.

b. Mencapai maskulinitas dan femininitas dari peran sosial

Tujuan utama: Menerima dan belajar mengenai peran sosial maskulinitas dan femininitas yang dibenarkan dalam lingkungan orang

dewasa.

c. Menerima perubahan fisik dan menggunakannya secara efektif.

Tujuan utama: Merasa bangga atau memiliki toleransi terhadap kondisi fisiknya, dapat menggunakan dan memelihara tubuhnya secara efektif dengan kepuasan pribadi.

d. Mencapai ketidaktergantungan emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya.

(33)

e. Menyiapkan perkawinan dan kehidupan berkeluarga.

Tujuan utama: Mengembangkan sikap positif terhadap kehidupan

berkeluarga. Khusus untuk wanita untuk mendapatkan pengetahuan penting dalam mengelola rumah dan mengasuh anak.

f. Menyiapkan diri untuk karir ekonomi.

Tujuan utama: Mengorganisasikan suatu perencanaan dan berusaha dengan berbagai cara untuk mencapai tingkat karir yang teratur untuk

merasa mampu membina kehidupan.

g. Menemukan set dari nilai-nilai dan sistem etika sebagai petunjuk

dalam berperilaku mengembangkan ideologi.

Tujuan utama: Mencapai identitas seperti menyeleksi dan menyiapkan karir dalam bekerja atau pekerjaan rumah dan politik/pembentukan dari

ideologi sosial.

h. Mencapai tingkah laku sosial secara bertanggung jawab.

Tujuan utama: Mengembangkan ideologi sosial untuk berpartisipasi sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat, agama, dan nasionalisme.

3. Pola Asuh Keluarga terhadap Remaja

Keluarga yang memiliki remaja berada dalam posisi yang dilematis karena

mengingat perhatian anak sudah mulai menurun terhadap orangtua dibandingkan dengan teman sebayanya. Pada tahap ini sering sekali ditemukan perbedaan pendapat antara orangtua dan anak remaja. Apabila hal ini tidak diselesaikan akan

(34)

lain: memberikan perhatian lebih kepada remaja, bersama-sama mendiskusikan tentang rencana sekolah ataupun kegiatan di luar sekolah, memberikan kebebasan

dalam batas tanggung jawab, mempertahankan komunikasi terbuka dua arah (Setiawati dan Dermawan, 2008). Hasil pengkajian menunjukkan bahwa orangtua

yang efektif adalah orangtua yang memperlakukan anaknya dengan hangat, mendukung anak secara positif, menetapkan batasan-batasan dan nilai-nilai, mengikuti dan memonitor perilaku anak, serta konsisten dalam menegakkan

aturan-aturan (Sunarti, 2004).

Pola asuh berhubungan dengan indikator penyesuaian diri selama usia

remaja, termasuk prestasi akademik, masalah perilaku, kesehatan dan perilaku berisiko seperti merokok, penggunaan narkoba atau kekerasan, kebiasaan diet dan gizi, dan kesehatan emosional seperti harga diri dan depresi. Dukungan dan

kontrol orangtua adalah kunci untuk mempraktekkan pengasuhan kepada remaja yang sedang menyesuaikan diri (Baumrind, 1991; Maccoby & Martin, 1983).

Seorang anak sangat berisiko mengembangkan perilaku yang bermasalah dan mendapat tekanan atau ketegangan psikologis jika orangtuanya gagal dalam pengasuhan. Pertumbuhan dan perkembangan anak sebagai 2 indikator utama dari

kualitas anak membutuhkan lingkungan yang sehat, aman, nyaman, stabil, dan lingkungan yang tidak tegang. Lingkungan pengasuhan yang penuh cinta kasih

sangat dibutuhkan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak. Lingkungan pengasuhan anak merupakan wujud ekspresi kondisi keluarga secara keseluruhan dan secara khusus berkaitan dengan kualitas perkawinan orangtua

(35)

BAB 3

KERANGKA PENELITIAN

1. Kerangka Konseptual

Kerangka konsep dalam penelitian ini untuk mengidentifikasi adanya hubungan antara pola asuh keluarga dengan perilaku remaja di SMA Negeri 14

Medan yang dijabarkan dengan menggunakan skema berikut ini:

Skema 2: kerangka konsep hubungan pola asuh keluarga dengan prilaku

remaja

Keterangan :

: Variabel yang diteliti

: Hubungan antara variabel

Skema 2. Kerangka konsep penelitian Perilaku Remaja

1. Mencapai relasi baru dan lebih matang bergaul dengan teman seusia dari kedua jenis kelamin.

2. Mencapai maskulinitas dan femininitas dari peran sosial. 3. Menerima perubahan fisik dan

menggunakannya secara efektif.

4. Mencapai ketidaktergantungan emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya.

5. Menyiapkan perkawinan dan kehidupan berkeluarga.

6. Menyiapkan diri untuk karir ekonomi.

(36)

2. Defenisi Operasional

Tabel 1. Tabel defenisi operasional

Variabel Defenisi operasional Alat ukur dan Cara Ukur Hasil ukur Skala ukur

Pola Asuh orangtua yang senantiasa menyetujui keinginan anak.

Pola asuh otoriter adalah pola pengasuhan yang menempatkan orang tua sebagai pusat dan pemegang kendali, orang tua melakukan kontrol terhadap anak yang didasarkan kepada nilai-nilai yang dipercayai kebenarannya.

Pola asuh demokrasi adalah pola pengasuhan dimana orangtua

(37)

bergaul dengan teman

nilai-nilai dan sistem etika sebagai petunjuk

Hipotesis dari penelitian ini adalah:

Ha : Ada hubungan antara pola asuh keluarga dengan perilaku remaja di SMA

(38)

BAB 4

METODOLOGI PENELITIAN

1. Desain Penelitian

Desain penelitian dalam penelitian ini adalah deskriptif korelatif yang bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan pola asuh keluarga dengan perilaku

remaja di SMA Negeri 14 Medan.

2. Populasi dan Sampel 2.1. Populasi

Populasi penelitian adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2006). Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X, XI, XII SMA

Negeri 14 Medan yang berjumlah 935 orang.

2.2. Sampel

Sampel adalah bagian populasi terjangkau yang dapat dipergunakan sebagai subjek penelitian melalui sampling. Sampling adalah proses

menyeleksi porsi dari populasi yang dapat mewakili populasi yang ada (Nursalam, 2009). Penentuan jumlah sampel penelitian menurut Arikunto (2006) jika populasi banyak dapat diambil jumlah sampel 10%-15% atau

20-25% dari jumlah populasi yang dianggap representatif. Sampel penelitian ini adalah 10% dari jumlah populasi, sehingga didapatkan sampel penelitian

sebanyak 94 orang yang terdiri dari siswa dan siswi kelas X dan XI. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah Proppartional Stratified Sampling. Pemilihan teknik pengambilan sampel ini karena populasi terdiri

(39)

3. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 14 Medan pada tanggal 16 sampai 17 April 2015. Adapun pertimbangan pemilihan lokasi penelitian di SMA Negeri 14 Medan dikarenakan belum pernah dilakukannya penelitian tentang Pola

Asuh Keluarga dengan Perilaku Remaja dan memungkinkan untuk mendapatkan sampel yang memadai sesuai dengan kebutuhan peneliti dalam penelitian ini.

4. Pertimbangan Etik Penelitian

Penelitian ini terdapat beberapa hal yang berkaitan dengan permasalahan

etik, yaitu memberi penjelasan kepada calon responden penelitian tentang tujuan penelitian dan prosedur pelaksanaan penelitian. Penelitian ini dilakukan setelah

mendapat persetujuan dari komisi etik Keperawatan, pemberian izin dari Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara dan izin pengumpulan data dari Kepala Sekolah SMA Negeri 14 Medan. Peneliti mengakui hak-hak responden dalam

menyatakan kesediaan atau ketidaksediaan untuk dijadikan objek penelitian. Peneliti memberi penjelasan tentang penelitian. Selanjutnya lembar persetujuan

(informed consent) ditandatangani berdasarkan keinginan oleh responden, untuk menjaga kerahasiaan responden, peneliti tidak akan mencantumkan nama responden pada lembar pengumpulan data (kuesioner) yang diisi oleh responden.

Lembar tersebut hanya diberi nomor kode tertentu, kerahasiaan informasi yang diberikan oleh responden dijamin oleh peneliti (Nursalam, 2009).

5. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes dalam bentuk

(40)

disusun. Lembar kuisioner terdiri dari tiga bagian yaitu data demografi, lembar

format pola asuh keluarga, dan lembar format perilaku remaja.

5.1. Kuisioner data demografi

Kuisioner data demografi meliputi, usia, jenis kelamin, pendidikan Ayah dan Ibu, pekerjaan orangtua, dan penghasilan orangtua. Data demografi bertujuan untuk mengetahui karakteristik responden dan

mendeskripsikannya dalam distribusi frekuensi dan presentase.

5.2. Kuisioner pola asuh keluarga

Kuisioner tentang pola asuh keluarga disusun oleh peneliti dengan berpedoman kepada tinjauan pustaka. Kuisioner terdiri dari 8 pertanyaan

dengan bentuk pertanyaan Multiple Choice dengan pilihan jawaban a untuk pilihan jawaban pola asuh permisif, b untuk pilihan jawaban pola asuh

otoriter dan c untuk pilihan jawaban pola asuh demokrasi. Apabila pilihan Jawaban A ≥ 4 maka mendapat hasil pola asuh permisif. Apabila pilihan

jawaban B ≥ 4 maka mendapat hasil pola asuh otoriter. Dan apabila pilihan jawaban C ≥ 4 maka mendapat hasil pola asuh demokrasi.

5.3. Kuisioner perilaku remaja

Kuisioner tentang perilaku remaja disusun oleh peneliti dengan berpedoman pada tinjauan pustaka. Kuisioner terdiri dari 8 pertanyaan

dengan pilihan jawaban selalu (SL), sering (SR), Jarang (JR), dan tidak pernah (TP). Setiap pernyataan diberi penilaian, yaitu jawaban selalu (SL)

(41)

pernah (TP) diberi nilai 1. Maka nilai tertinggi yang diperoleh adalah 32 dan

nilai terendah 8. Skala pengukuran yang digunakan adalah skala Likert.

6. Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan setelah mengikuti langkah–langkah pengumpulan data yaitu :

a. Mengajukan permohonan izin pelaksanaan penelitian kepada institusi

pendidikan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara (USU). b. Mengirimkan permohonan izin pelaksanaan penelitian yang diperoleh dari

institusi pendidikan Fakultas Keperawatan USU kepada Kepala Dinas Pendidikan kota Medan.

c. Setelah mendapat izin dari Kepala Dinas Pendidikan kota Medan, peneliti

mengirimkan permohonan izin pelaksanaan penelitian kepada Kepala SMA Negeri 14 Medan.

d. Peneliti meminta data jumlah keseluruhan siswa dan siswi SMA Negeri 14

Medan.

e. Peneliti menyebarkan kuesioner kepada siswa dan siswi SMA N 14 Medan.

f. Menjelaskan kepada calon responden tentang tujuan dan prosedur pelaksanaan penelitian.

g. Calon responden yang bersedia, diminta untuk menandatangani lembar

persetujuan.

h. Menjelaskan kepada responden tentang prosedur pengisian kuesioner.

(42)

masing-masing bagian. Selama pengisian kuesioner responden diberikan kesempatan untuk bertanya pada penelitian bila ada pertanyaan yang tidak

dipahami.

j. Setelah diisi, kuesioner dikumpulkan oleh peneliti dan diperiksa

kelengkapannya, apabila ada yang tidak lengkap diselesaikan di saat itu juga.

k. Pengolahan data dan analisa data dilakukan setelah data terkumpul sesuai

dengan keperluan.

7. Uji Validitas dan Reliabilitas 7.1. Uji Validitas

Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan kemampuan instrumen pengumpulan data untuk mengukur apa yang harus diukur, untuk mendapatkan data yang relevan dengan apa yang sedang diukur (Nursalam,

2009). Validitas dalam penelitian ini dengan validitas isi yaitu instrumen sesuai dengan variabel yang diteliti dan akan dikonsultasikan dan diuji oleh

Dosen yang kompeten dalam keperawatan keluarga Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

7.2. Uji Reliabilitas

Reliabilitas adalah suatu instrumen dikatakan reliabel apabila

instrumen tersebut dapat mengukur apa yang mau diukur walaupun sudah berulang-ulang kali (Nursalam, 2009). Uji reliabilitas instrumen adalah suatu uji yang dilakukan untuk mengetahui konsistensi dari instrumen

(43)

yang sama. Uji reliabilitas dilakukan sebelum pengumpulan data kepada responden yang memenuhi kriteria seperti responden yang sebenarnya. Uji

reliabilitas penelitian ini telah dilakukan terhadap 30 orang siswa SMA Negeri 21 Medan. Uji reliabilitas ini dilakukan dengan menggunakan

komputerisasi analisa Cronchbach alpha. Hasil uji reliabilitas untuk kuisioner pola asuh keluarga adalah 0,736. Hasil uji reliabilitas kuisioner perilaku remaja adalah 0,733. Sebuah instrumen dikatakan reliabel apabila

harga r bernilai 0,7–1,0. Jadi dapat disimpulkan bahwa kuisioner pola asuh keluarga dan perilaku remaja yang digunakan dalam penelitian ini adalah

reliabel.

8. Analisa Data

Setelah data terkumpul maka peneliti melakukan analisa data melalui beberapa tahapan, antara lain tahap pertama editing yaitu memeriksa kelengkapan identitas responden serta memastikan bahwa semua pertanyaan telah diisi sesuai

petunjuk, tahap kedua Coding yaitu memberi kode atau angka tertentu pada kuisioner untuk mempermudah tabulasi dan analisa data, tahap ketiga processing

yaitu memasukkan data dari kuisioner ke dalam program komputer dengan menggunakan sitem komputerisasi pengolah data, tahap ke empat cleaning yaitu memeriksa kembali data yang telah dimasukkan untuk mengetahui ada kesalahan

atau tidak. Selanjutnya melakukan analisa data secara deskriptif statistik dan korelasi.

(44)

dilakukan dengan mendeskripsikan distribusi frekuensi dan persentase dalam bentuk tabel. Pengolahan data pola asuh keluarga diidentifikasi dengan

mendeskripsikan distribusi frekuensi dan persentase dalam bentuk tabel. Sehingga untuk mengetahui tipe pola asuh dapat dilihat dari persentasenya. Pengolahan data

perilaku remaja diidentifikasi dengan mendeskripsikan distribusi frekuensi dan persentase dalam bentuk tabel. Sehingga untuk mengetahui perilaku remaja baik

dan tidak baik, dapat dilihat dari persentasenya.

Untuk mengidentifikasi hubungan pola asuh keluarga dengan perilaku remaja dianalisa secara statistik dengan menggunakan uji statistik . Uji statistik Rank Spearman digunakan untuk menguji hubungan antara 2 variabel dan untuk

(45)

Tabel 2. Panduan Interpretasi Hasil Uji Hipotesis Berdasarkan Kekuatan Korelasi, Nilai p, dan Arah korelasi (Dahlan, 2008)

No Parameter Nilai Interpretasi

1. antara dua variabel yang akan diuji. Tidak terdapat korelasi yang

bermakna antara dua variabel yang akan diuji.

Searah semakin besar nilai satu variabel, semakin besar pula nilai variabel lainnya.

(46)

BAB 5

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan dibahas mengenai hasil penelitian dan pembahasan

setelah dilakukan pengumpulan data pada tanggal 16 sampai 17 April 2015 di SMA Negeri 14 Medan.

1. Hasil Penelitian

Hasil penelitian akan dijabarkan mulai dari deskripsi karakteristik responden, deskripsi pola asuh keluarga dan perilaku remaja di SMA Negeri 14 Medan, dan hubungan pola asuh keluarga dengan perilaku remaja di SMA Negeri

14 Medan.

1.1. Karakteristik responden

Deskripsi karakteristik responden mencakup usia, jenis kelamin,

pendidikan ayah, pendidikan ibu, pekerjaan orangtua, dan penghasilan. Dari 94 responden diperoleh karakteristik dan data demografi sebagai berikut,

berdasarkan usia, mayoritas responden berusia 15 tahun yaitu sebanyak 47 orang (50%). Berdasarkan jenis kelamin, mayoritas responden adalah perempuan yaitu sebanyak 71 orang (75,5%). Berdasarkan tingkat

pendidikan, mayoritas pendidikan ayah responden adalah SMA sebanyak 51 orang (54,3%) dan begitupula dengan pendidikan ibu responden adalah

SMA sebanyak 52 orang (55,3%). Berdasarkan pekerjaan, mayoritas pekerjaan orangtua responden adalah wiraswasta yaitu sebanyak 57 orang (60,6%). Dan penghasilan orangtua responden adalah >Rp. 1.850.000 yaitu

(47)

Tabel 3. Distribusi Frekuensi dan Persentase Data Demografi Responden di SMA Negeri 14 Medan (N=94)

Karakteristik Frekuensi (n) Persentase (%)

Usia

1.2. Pola asuh keluarga di SMA Negeri 14 Medan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 91 responden (96,8%) mendapat

(48)

keluarga otoriter dan 1 responden (1,1%) mendapat pola asuh keluarga

permisif.

Tabel 4. Distribusi Frekuensi dan Persentase Pola asuh keluarga di SMA Negeri 14 Medan (N=94)

Pola Asuh Keluarga Frekuensi (n) Persentase (%) - Demokratis

1.3. Perilaku remaja di SMA Negeri 14 Medan

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa 90 responden

(95,7%) memiliki perilaku yang baik dan 4 responden (4,3%) memiliki perilaku yang tidak baik.

Tabel 5. Distribusi Frekuensi dan Persentase Perilaku Remaja di SMA Negeri 14 Medan (N=94)

Perilaku Remaja Frekuensi (n) Persentase (%) - Baik

1.4. Hubungan pola asuh keluarga dengan perilaku remaja di SMA Negeri 14 Medan.

Uji korelasi Rank Spearman dilakukan secara komputerisasi dan menunjukkan nilai ρ pada kolom Sig 2 tailed sebesar 0,000. Angka ini lebih

(49)

asuh keluarga dengan perilaku remaja di SMA Negeri 14 Medan. Nilai koefisien korelasi yang diperoleh r = 0,861. Koefisien korelasi (r) 0,861

artinya hubungan kedua variabel dalam penelitian ini memiliki arah korelasi positif dengan interpretasi kekuatan hubungan sangat kuat.

Tabel 6. Hubungan Pola Asuh Keluarga dengan Perilaku Remaja di SMA Negeri 14 Medan (N=94)

Variabel 1 Variabel 2 Ρ R Keterangan

Pola asuh keluarga Perilaku Remaja 0,000 0,861 Hubungan positif dengan interpretasi sangat kuat

2. Pembahasan

2.1. Pola asuh keluarga di SMA Negeri 14 Medan

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh responden yang mendapat pola

asuh demokratis sebanyak 91 orang (96,8%), pola asuh otoriter sebanyak 2 orang (2,1%) dan pola asuh permisif hanya 1 orang (1,1%). Hal ini dapat diasumsikan bahwa pola asuh keluarga yang diterima oleh responden

sebagian besar dalam kategori pola asuh demokratis. Hasil ini sejalan dengan penelitian Panjaitan dan Daulay (2012) yang berjudul pola asuh

orangtua dan perkembangan sosialisasi remaja di SMA Negeri 15 Medan yang menunjukkan bahwa mayoritas pola asuh keluarga yang diberikan kepada remaja adalah pola asuh demokratis sebanyak 74 orang (82,22%).

Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Aguma, Dewi & Karim (2014) yang berjudul hubungan pola asuh orangtua dengan perilaku seksual

(50)

yang diterima oleh responden adalah pola asuh demokratis yaitu sebanyak 66 orang (37,3%). Penelitian Permasih (2014) yang berjudul hubungan tipe

pola asuh orangtua dengan tempramen pada remaja di SMK Kesatrian Purwokerto juga mendukung hasil peneltian sebelumnya bahwa sebagian

besar pola asuh keluarga yang diterima responden adalah pola asuh demokratis yaitu sebanyak 37 orang (46,2%).

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas pola asuh keluarga

yang diberikan kepada remaja adalah pola asuh demokratis, hal ini bertentangan dengan hasil penelitian Yuniartiningtyas (2013) yang berjudul

hubungan antara pola asuh orangtua dan tipe kepribadian dengan perilaku bullying di sekolah pada siswa SMP yang menunjukkan bahwa dari 87 siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Gudo bahwa mayoritas pola asuh keluarga

yang diterima oleh responden adalah pola asuh permisif sebanyak 66 orang (69%). Peneliti berasumsi bahwa hal ini terjadi karena sampel yang diambil

adalah remaja SMP sehingga orangtua dari responden memberikan pola asuh permisif yang bersifat memanjakan anak.

Hasil Penelitian Murtiyani (2011) yang berjudul hubungan pola asuh

orangtua dengan kenakalan remaja di RW V Kelurahan Sidokare Kecamatan Sidoarjo menunjukkan hasil penelitian yang berbeda yaitu

mayoritas pola asuh yang diterapkan oleh orangtua terhadap remaja adalah pola asuh otoriter sebanyak 26 orang (65%).

Penentuan pola asuh yang diberikan orangtua kepada remaja tentu

(51)

orangtua. Pendidikan orangtua pada penelitian ini cukup baik dengan mayoritas pendidikan orangtua sederajat SMA yaitu pendidikan ayah

sebanyak 51 orang (54,3%) dan pendidikan ibu sebanyak 52 orang (55,3%). Dan disusul dengan pendidikan orangtua diploma/S1/S2 sebanyak 35 orang

(37,2%) pada ayah dan 34 orang (36,2%) pada ibu. Orangtua yang berpendidikan tinggi umumnya mengetahui bagaimana perkembangan dan bagaimana tingkat perkembangan pengasuhan orangtua terhadap remaja

yang baik sesuai dengan perkembangan remaja (Achmad, Latifah & Husadayanti, 2010).

Pekerjaan orangtua pada penelitian ini mayoritas wiraswasta sebanyak 57 orang (60,6%) dan sebagian besar orangtua responden memiliki penghasilan >Rp. 1.850.000 sebanyak 56 orang (59,6%). Hal ini

diasumsikan oleh peneliti bahwa pekerjaan orangtua sebagai wiraswasta umumnya memiliki waktu yang cukup untuk berinteraksi dengan anak dan

mengajarkan banyak hal kepada anak sehingga baik untuk perkembangan dan perilaku anak. Begitu juga dengan penghasilan orangtua pada penelitian ini sejalan dengan penelitian Puspitawati (2010) bahwa semakin tinggi

keadaan ekonomi keluarga berpengaruh secara positif terhadap pola asuh remaja. Dari hasil penelitian di atas peneliti menyimpulkan bahwa pola asuh

demokratis sudah banyak digunakan oleh para orangtua hal ini menunjukkan bahwa orangtua sudah memilih pola asuh yang tepat untuk para remaja dan pola asuh tentunya dipengaruhi oleh latar belakang

(52)

2.2. Perilaku remaja di SMA Negeri 14 Medan

Perilaku adalah suatu respon seseorang (organisme) terhadap stimulus atau suatu objek. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa

mayoritas responden memiliki perilaku yang baik yaitu 90 orang (95,7%) dan memiliki perilaku tidak baik yaitu 4 orang (4,3%). Hal ini menunjukkan

bahwa perilaku remaja di SMA Negeri 14 Medan hanya sebagian kecil yang berperilaku tidak baik. Pada hasil penelitian ini ditemukan data bahwa sebagian besar siswa mengakui kesalahan dan meminta maaf ketika

melakukan kesalahan kepada orang lain. Namun siswa jarang mengikuti kegiatan sosial yang diadakan di masyarakat ataupun komunitas serta jarang

mengikuti ekstrakulikuler di sekolah, hal ini menunjukkan bahwa perilaku sosial siswa di masyarakat kurang baik dan bila dilanjutkan siswa akan menjadi pribadi yang individulistik. Peneliti berasumsi hal ini terjadi karena

tidak ada timbal balik dari mengikuti ekstrakulikuler terhadap prestasi akademik misalnya syarat untuk mendapatkan beasiswa.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Gianoza, Zikra & Ibrahim (2013) yang berjudul hubungan perhatian orangtua dengan moral remaja didapatkan hasil sebanyak 50 responden (57,47%) memiliki moral

anak dalam kategori baik. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Panjaitan dan Daulay (2012) pada remaja di SMA Negeri 15 Medan dengan

hasil penelitian dari 90 responden didapatkan hasil sebanyak 79 responden (87,78%) memiliki perkembangan sosialisasi remaja dalam kriteria baik. Arsyad (2013) dalam penelitiannya menyatakan bahwa perilaku remaja

(53)

prososial yang tinggi. Namun ada perbedaan perilaku prososial jika ditinjau dari pendidikan pesantren dan sekolah umum. Siswa yang menempuh

pendidikan pondok pesantren memiliki perilaku prososial yang lebih tinggi dari siswa sekolah umum. Peneliti berasumsi hal ini terjadi karena siswa

yang menginap di pesantren diberikan pendidikan berperilaku dengan menerapkan metode keteladanan, latihan dan pembiasaan, kedisiplinan, dan nasihat. Pondok pesantern memiliki peraturan yang ketat dan perilaku siswa

diawasi 24 jam. Sedangkan siswa di sekolah umum hanya mendapatkan mata pelajaran bimbingan konseling hanya 2 jam per minggu.

Hasil penelitian yang menunjukkan bahwa dari 94 responden didapatkan hasil sebanyak 90 orang (95,7%) memiliki perilaku remaja yang baik, hal ini bertentangan dengan hasil penelitian Arista (2013) yang

menunjukkan bahwa dari seluruh responden terdapat 32 orang (58,18%) tugas-tugas perkembangan remaja pada anak TKI di Desa Jenangan

Kecamatan Jenangan Kabupaten Ponorogo tidak tercapai. Peneliti berasumsi bahwa hal ini terjadi karena keluarga yang dalam kesulitan ekonomi sehingga harus sibuk bekerja sebagai TKI. Hasil penelitian Arista

(2013) didukung oleh peneltian sebelumnya yaitu penelitian Murtiyani (2011) pada remaja di Kelurahan Sidokare Kecamatan Sidoarjo yang

menunjukkan bahwa dari 40 responden diperoleh data sebanyak 33 remaja (82,5%) berperilaku nakal seperti berbohong, membolos sekolah, berkelahi, kebut-kebutan di jalan, mabuk, dan pengguna narkoba. Dari hasil penelitian

(54)

merupakan indikator utama dari kualitas remaja. Perilaku remaja dapat dilihat dari moral, kecerdasan emosi dan perilaku prososialnya.

2.3. Hubungan pola asuh keluarga dengan perilaku remaja di SMA Negeri 14 Medan.

Hasil analisa statistik dalam penelitian ini bahwa pola asuh keluarga

dan perilaku remaja di SMA Negeri 14 Medan memiliki hubungan yang signifikan dilihat dari nilai ρ = 0,000 yang berada dibawah level of

signifikan α = 0,05 dengan arah hubungan positif dengan kekuatan

hubungan sangat kuat (r =0,861), yang artinya semakin demokratis pola asuh orangtua maka semakin baik perilaku remaja.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Husada (2013) bahwa adanya hubungan yang signifikan antara pola asuh demokratis dan kecerdasan emosional dengan perilaku prososial remaja dengan nilai ρ =

0,000 dan nilai r = 0,707. Hal ini menunjukkan bahwa variabel pola asuh demokratis dan kecerdasan emosi secara bersama-sama memberikan

pengaruh sebesar 70,7% terhadap perilaku prososial. Hasil perhitungan statistik menunjukkan nilai p = 0,000 (p < 0,05) untuk korelasi antara

variabel pola asuh demokratis dengan perilaku prososial dan nilai p = 0,008 (p < 0,05) untuk korelasi antara variabel kecerdasan emosi dengan perilaku prososial, hal ini menunjukkan secara parsial variabel pola asuh demokratis

(55)

kecerdasan emosi juga berkorelasi sangat signifikan dengan perilaku prososial.

Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Permasih (2014) yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pola asuh orangtua

dengan tempramen pada remaja di SMK Kesatrian Purwokerto dengan nilai ρ = 0,003. Hasil penelitian Panjaitan dan Daulay (2012) juga semakin

mempertegas bahwa terdapat hubungan signifikan antara pola asuh demokratis dengan perkembangan sosialisasi remaja dengan nilai ρ = 0,000.

Namun penelitian ini bertentangan dengan hasil penelitian Wawomeo

(2009) yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara pola asuh dengan perilaku kekerasan remaja. Peneliti berasumsi bahwa hal ini terjadi karena metode dan instrumen penelitian yang digunakan peneliti berbeda.

Hasil penelitian Zhao (2002 dalam Papalia 2008) menyatakan bahwa kepatuhan dan ketegasan lebih dihubungkan kepada kekerasan dan hal ini

terkait dengan pengasuhan, perhatian dan keterlibatan orangtua serta upaya mempertahankan keharmonisan keluarga diantara Asia dan Amerika. Kultur tradisional Cina melaksanakan sikap hormat kepada yang lebih tua,

menekankan tanggung jawab orang dewasa dalam mempertahankan keteraturan sosial dengan mengajarkan perilaku yang tepat secara sosial.

Kewajiban ini dilaksanakan dengan kontrol yang tegas dan bahkan menggunakan hukuman fisik kepada anak. Hasil penelitian ini juga dilakukan oleh Chao (1994 dalam Papalia 2008) yang menyatakan bahwa

(56)

pola asuh demokratis karena memiliki kehangatan dan dukungan yang menandakan bahwa hubungan keluarga di Asia-Amerika lebih mendekati

dengan pola asuh demokratis menurut teori Baumrind tetapi tanpa penekanan terhadap nilai individualis, pilihan dan kebebasan di Amerika.

Dalam sebuah studi komparatif yang dilakukan oleh Chao (2004 dalam Papalia 2008) terhadap lima ratus remaja Cina-Amerika dan Eropa-Amerika mendapatkan hasil bahwa hubungan orangtua dan anak yang erat akan

memberikan efek yang positif terhadap prestasi sekolah anak.

Dari hasil penelitian ini peneliti menyimpulkan bahwa dari hasil

penelitan yang ditemukan oleh peneliti sebagian besar penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan yang sangat signifikan antara pola asuh keluarga dengan perilaku remaja. Meskipun ada sebagian kecil yang

menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara pola asuh keluarga dengan perilaku remaja. Hal ini dapat terjadi karena banyak faktor yang

(57)

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini akan dibuat kesimpulan dan saran sesuai dengan hasil

penelitian sebagai berikut:

1. Kesimpulan

a. Hampir seluruh orangtua siswa SMA Negeri 14 Medan sudah

menerapkan pola asuh keluarga demokratis yaitu sebanyak 91 orang (96,8%). Hal ini menunjukkan bahwa orangtua sudah memilih pola asuh keluarga yang tepat untuk remaja, sebab pola asuh demokratis

merupakan pola asuh yang disarankan.

b. Hampir seluruh remaja di SMA Negeri 14 Medan sudah memiliki

perilaku yang baik sebanyak 90 orang (95,7%). Hal ini menunjukkan hanya sebagian kecil dari remaja yang belum dapat melaksanakan tugas perkembangan dengan baik sehingga masih tergolong

berperilaku tidak baik.

c. Hipotesa pada penelitian ini diterima yaitu terdapat hubungan yang

sangat kuat antara pola asuh keluarga dengan perilaku remaja di SMA Negeri 14 Medan (ρvalue = 0,000; r = 0,861). Hal ini menunjukkan

semakin demokratis pola asuh keluarga maka perilaku remaja akan

semakin baik. 2. Keterbatasan Penelitian

(58)

b. terdapat beberapa item yang memiliki nilai uji reliabilitas < 0,7 sehingga perlu dilakukan penyempurnaan pada item instrumen tersebut, apabila akan dipergunakan oleh peneliti selanjutnya.

c. Penelitian ini hanya meneliti hubungan pola asuh keluarga dengan perilaku remaja. Namun banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi perilaku remaja selain dari pola asuh keluarga. Sehingga pada penelitian ini tidak dipaparkan secara luas tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku remaja.

3. Saran

a. Pendidikan Keperawatan

Penelitian ini dapat dijadikan referensi informasi terkait hubungan

antara pola asuh keluarga dengan perilaku remaja dalam penerapannya pada proses pendidikan.

b. Pelayanan Keperawatan

Hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai pola asuh keluarga dengan perilaku remaja.

c. Keluarga dan Masyarakat

Untuk orangtua harus dapat menjaga hubungan yang hangat dalam keluarga dengan cara saling menghargai, perhatian, pengertian dan kasih

sayang. Pola asuh keluarga yang disarankan adalah dominan pola asuh demokratis.

d. Penelitian Keperawatan

Gambar

Tabel 1. Tabel defenisi operasional
Tabel 2. Panduan Interpretasi Hasil Uji Hipotesis Berdasarkan Kekuatan Korelasi, Nilai p, dan Arah korelasi (Dahlan, 2008)
Tabel 3. Distribusi Frekuensi dan Persentase Data Demografi Responden di SMA Negeri 14 Medan (N=94)
Tabel 4. Distribusi Frekuensi dan Persentase Pola asuh keluarga di SMA Negeri 14 Medan (N=94)
+2

Referensi

Dokumen terkait

16 Dalam penelitian ini sumber data primer diambil dari hasil angket siswa. Data sekunder, yaitu data yang dikumpulkan untuk suatu maksud yang

Dikarenakan karakteristik sistem, pengurangan nilai rise time juga akan mengurangi nilai settling time , dan tidak terjadi peningkatan Max OS yang terlalu

Fungsi LP2M STKIP PGRI Bangkalan dalam eksistensi tridarma perguruan tinggi. Pada kegiatan LP2M STKIP PGRI Bangkalan belum sepenuhnya

During the period January-June 2007, a total of 242 projects with foreign participation involving investments of US$4.2 billion were approved, as compared with US$5.5 billion in

Menurut peneliti hasil peneltian pengaruh hipnoterapi terhadap tekanan darah penderita hipertensi di Jombatan wilayah kerja puskesmas Jabon bahwasanya terdapat 2

Faktor-faktor yang berhubungan dengan diare akut pada kasus berupa keadaan kebersihan lingkungan serta makanan dan pengetahuan orang tua pasien tentang penyakit

sumber alam lampung selatan, maka hipotesis yang peneliti ajukan adalah pengembangan sumber daya manusia mempunyai pengaruh positif terhadap produktivitas kerja karyawan..

Berdasarkan latar belakang tersebut maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh efektivitas iklan terhadap sikap konsumen, efektivitas iklan terhadap keyakinan