PENETAPAN KADAR ASAM BENZOAT PADA LIMUN
SECARA KROMATOGARAFI CAIR KINERJA TINGGI
TUGAS AKHIR
OLEH :
ANDRE KURNIAWAN NIM 082410041
PROGRAM DIPLOMA III ANALIS FARMASI DAN MAKANAN FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
LEMBAR PENGESAHAN
PENETAPAN KADAR ASAM BENZOAT PADA LIMUN SECARA KROMATOGARAFI CAIR KINERJA TINGGI
TUGAS AKHIR
Diajukan Untuk Melengkapi Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar Ahli Madya
Pada Program Diploma III Analis Farmasi dan Makanan
Fakultas Farmasi
Universitas Sumatera Utara
OLEH :
ANDRE KURNIAWAN NIM 082410041
Medan, April 2010
Disetujui Oleh:
Dosen Pembimbing,
Prof. Dr. Siti Morin Sinaga, M.Sc., Apt.
NIP 195008281976032002
Disahkan Oleh: Dekan,
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur kami panjatkan kepada Tuhan YME yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas akhir yang dilaksanakan di Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Medan. Tugas akhir ini disusun berdasarkan hasil Praktek Kerja Lapangan yang dilakukan oleh penulis, sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan Diploma III Analis Farmasi dan Makanan.
Dalam proses penyelesaian tugas akhir ini, penulis telah banyak mendapat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara
2. Ibu Prof. Dr. Siti Morin Sinaga, MSc., Apt., dan Ibu Zakiah Kurniati., S.Farm., Apt., selaku pembimbing I dan II yang telah membimbing, memberikan petunjuk dan saran sampai selesainya Tugas Akhir ini
3. Bapak Drs. Agus Prabowo, M.S., Apt., Kepala BPOM di Medan yang telah memberikan izin tempat pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan
4. Bapak Prof. Dr. Jansen Silalahi, M.AppSc., Apt., selaku koordinator program studi Diploma III Analis Farmasi dan Makanan.
6. Teman-teman seperjuangan, afriandi, niky, april, syahnan, ayu, fina dan seluruh teman-teman mahasiswa Analis Farmasi dan Makanan angkatan 2008 yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu, namun tidak mengurangi arti keberadaan mereka.
Penulis berharap semoga tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Penulis menyadari bahwa banyak kekurangan dalam penulisan tugas akhir ini, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun. Semoga Tuhan YME melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua.
Medan, April 2011 Penulis
2.7. Penetapan Kadar Benzoat Secara
3.5.1.3. Fase Gerak: Dapar Posfat : Metanol (92:8) 16 3.5.2. Larutan Uji ... 16
3.5.2. Larutan Baku ... 17
3.6. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi ... 17
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 19
4.1. Hasil ... 19
4.2. Pembahasan ... 19
BAB V . KESIMPULAN DAN SARAN ... 21
5.1. Kesimpulan ... 21
5.2. Saran ... 21
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Seiring dengan meningkatnya pertumbuhan industri makanan dan minuman di Indonesia, telah terjadi peningkatan produksi minuman ringan yang beredar di masyarakat. Pada minuman ringan sering ditambahkan penyegar, pengawet dan pemanis buatan yang kadarnya perlu diperhatikan, karena apabila konsumsinya berlebihan dapat membahayakan kesehatan. Minuman ringan yang banyak dikonsumsi masyarakat adalah limun karena harganya terjangkau dan memiliki rasa yang beraneka ragam (Hayun, 2004).
Bahan pengawet merupakan senyawa yang mampu menghambat dan menghentikan proses fermentasi, pengasaman atau bentuk kerusakan lainnya atau bahan yang dapat memberikan perlindungan dari pembusukan oleh mikroba. Dengan menambahkan pengawet tersebut, produk minuman diharapkan dapat terpelihara kesegarannya. Salah satu bahan pengawet yang banyak digunakan dalam limun adalah asam benzoat. Asam benzoat sangat efektif dalam menghambat pertumbuhan mikroba dalam pH rendah (Cahyadi, 2006).
Penetapan kadar asam benzoat dapat dilakukan dengan beberapa metode seperti titrimetri, gravimetri, spektrofotometri UV, kromatografi gas dan kromatografi cair kinerja tinggi (Cahyadi, 2006). Metode kromatografi cair kinerja tinggi memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan metode lain. Karena analisisnya cepat, daya pisah baik, peka, penyiapan sampel mudah, dan dapat dihubungkan dengan detektor yang sesuai (Hayun, 2007).
Pada penelitian ini akan dilakukan pengujian terhadap asam benzoat pada limun dengan menggunakan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)
dengan fasa gerak isokratik dan detektor sinar ultraviolet 225 nm.
1.2. Tujuan
Untuk mengetahui kadar asam benzoat dalam limun dan kesesuaiannya dengan persyaratan yang diizinkan oleh pemerintah.
1.3. Manfaat
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Pangan
Menurut undang-undang No. 7 tahun 1996, Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air baik yang diolah maupun tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan dan atau pembuatan makanan atau minuman.
2.2.Minuman Ringan
Menurut Widodo (2008), minuman ringan adalah minuman yang tidak mengandung disukai karena rasanya yang nikmat, siap saji dan sangat memenuhi selera bagi mereka yang sedang dahaga, terutama setelah berolahraga dan bekerja berat. Selain itu minuman ringan juga tersedia dalam berbagai rasa, umumnya buah-buahan. Adapun komposisi dari minuman ringan adalah :
1. Air : Sebagai komponen utama.
2. CO2 : Berguna untuk memperbaiki rasa minuman. Menghasilkan rasa
masam yang enak dan menggelitik dikerongkongan.
4. Kafein: Kadarnya cukup tinggi, membantu seseorang tetap terjaga atau tidak mengantuk. Umumnya terdapat didalam minuman jenis cola dan coffe cream. 5. Zat pengawet : Umumnya minuman ringan diawetkan dengan sodium benzoat
atau natrium benzoat, atau pengawet sintetis lainnya
6. Zat pewarna : Biasanya merupakan pewarna sintetis seperti karmoisin dan tartrazin.
7. Flavor buatan : Seperti rasa jeruk, strawberry, nanas dan sebagainya.
Salah satu minuman ringan yang banyak beredar di Indonesia adalah limun. Menurut standar nasional Indonesia (SNI) No. 01-2972-1992, limun adalah minuman ringan yang mengandung gula, CO2 dan bahan tambahan makanan yang diizinkan.
2.3.Bahan Tambahan Makanan
Tujuan penggunaan bahan tambahan pangan (makanan) adalah dapat meningkatkan atau mempertahankan nilai gizi dan kualitas daya simpan, membuat bahan pangan lebih mudah dihidangkan, serta mempermudah preparasi bahan pangan. Pada umumnya bahan tambahan pangan dapat dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu sebagai berikut :
1. Bahan tambahan pangan yang ditambahkan dengan sengaja kedalam makanan, dengan mengetahui komposisi bahan tersebut dan maksud penambahan itu dapat mempertahankan kesegaran, cita rasa, dan membantu pengolahan, sebagai contoh pengawet, pewarna dan pengeras.
2. Bahan tambahan pangan yang tidak sengaja ditambahkan, yaitu bahan yang tidak mempunyai fungsi dalam makanan tersebut, terdapat secara tidak sengaja, baik dalam jumlah sedikit atau cukup banyak akibat perlakuan selama proses produksi, pengolahan, dan pengemasan. Bahan ini dapat pula merupakan residu atau kontaminan dari bahan yang sengaja ditambahkan untuk tujuan produksi bahan mentah (Cahyadi, 2006).
2.3.1. Jenis Bahan Tambahan Makanan
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
722/Menkes/Per/IX/88, golongan bahan tambahan makanan (BTM) yang diizinkan yaitu :
2. Antikempal, merupakan bahan tambahan makanan yang dapat mencegah mengempalnya makanan yang berupa serbuk.
3. Pengatur keasaman (Asidulan) adalah bahan tambahan makanan yang dapat mengasamkan, menetralkan dan mempertahankan derajat keasaman makanan. 4. Pemanis buatan adalah bahan tambahan makanan yang dapat menyebabkan rasa manis pada makanan yang tidak atau hampir tidak mempunyai nilai gizi. 5. Pemutih dan pematang tepung adalah bahan tambahan makanan yang dapat
mempercepat proses pemutihan dan atau pematang tepung sehingga dapat memperbaiki mutu pemanggangan.
6. Pengemulsi, pemantap dan pengental adalah bahan tambahan makanan yang dapat membantu terbentuknya sistem dispersi yang homogen pada makanan. 7. Pengawet adalah bahan tambahan makanan yang dapat mencegah atau
menghambat proses fermentasi, pengasaman, atau penguraian lain terhadap makanan yang disebabkan oleh mikroorganisme.
8. Pengeras adalah bahan tambahan makanan yang dapat memperkeras atau mencegah melunaknya makanan.
9. Pewarna adalah bahan tambahan makanan yang dapat memperbaiki atau memberikan warna pada makanan.
10. Penyedap rasa dan aroma, penguat rasa adalah bahan tambahan makanan yang dapat memberikan, menambah atau mempertegas rasa dan aroma. 11. Sekuestran adalah bahan tambahan makanan yang dapat mengikat ion logam
2.4.Pengawet Pada Makanan
Bahan pengawet merupakan bahan tambahan makanan yang dapat mencegah atau menghambat proses fermentasi, pengasaman, atau penguraian lain terhadap makanan yang disebabkan oleh mikroorganisme. Bahan tambahan pangan ini biasanya ditambahkan ke dalam makanan yang mudah rusak, atau makanan yang disukai sebagai media tumbuhnya bakteri atau jamur, misalnya pada produk daging, buah-buahan, dan lain-lain. Definisi lain bahan pengawet adalah senyawa atau bahan yang mampu menghambat, menahan atau menghentikan dan memberikan perlindungan bahan makanan dari proses pembusukan (Cahyadi, 2006)
2.4.1.Tujuan Penggunaan Bahan Pengawet
Menurut Cahyadi (2006), secara umum penambahan bahan pengawet pada pangan bertujuan sebagai berikut :
1. Menghambat pertumbuhan mikroba pembusuk pada pangan baik yang bersifat patogen maupun tidak patogen.
2. Memperpanjang umur simpan pangan.
3. Tidak menurunkan kualitas gizi, warna, cita rasa, dan bau bahan pangan yang diawetkan.
4. Tidak untuk menyembunyikan keadaan pangan yang berkualitas rendah. 5. Tidak digunakan untuk menyembunyikan penggunaan bahan yang salah atau
yang tidak memenuhi persyaratan.
2.4.2. Jenis Pengawet
2.4.2.1. Pengawet Organik
Pengawet organik lebih banyak dipakai dari pada anorganik karena bahan ini lebih mudah dibuat. Bahan organik digunakan baik dalam bentuk asam maupun dalam bentuk garamnya. Zat kimia yang sering dipakai sebagai bahan pengawet dalam minuman ialah asam sorbat, paraben, asam benzoat dan asam asetat (Winarno, 1992).
2.4.2.2. Pengawet Anorganik
Zat pengawet anorganik yang masih sering dipakai adalah sulfit, nitrat, dan nitrit. Sulfit digunakan dalam bentuk gas, garam Natrium atau Kalium sulfit, bisulfit, dan metabisulfit. Bentuk efektifnya sebagai pengawet adalah asam sulfit yang terdisosiasi dan terutama terbentuk pH di bawah 3. Garam nitrat dan nitrit umumnya digunakan pada proses curing daging untuk memperoleh warna yang baik dan mencegah pertumbuhan pertumbuhan mikroba. Didalam daging nitrit akan membentuk nitrooksida yang dengan pigmen daging akan membentuk nitrosomioglobulin yang berwarna merah cerah (Anonim, 1992).
2.4.3. Mekanisme Kerja Bahan Pengawet
Kerja asam sebagai pengawet tergantung pada pengaruhnya terhadap pertumbuhan mikroorganisme seperti bakteri, khamir, dan kapang yang tumbuh pada bahan pangan. Penambahan asam berarti menurunkan PH yang disertai dengan naiknya konsentrasi ion hidrogen, dan dijumpai bahwa pH rendah lebih besar penghambatannya pada pertumbuhan mikroorganisme. Asam digunakan sebagai pengatur pH sampai pada harga yang bersifat toksik untuk mikroorganisme dalam bahan pangan. Efektivitas suatu asam dalam menurunkan pH tergantung pada kekuatan yaitu derajat ionisasi asam dan konsentrasi yaitu jumlah asam dalam volume tertentu (misalnya molaritas). Jadi, asam kuat lebih efektif dalam menurunkan pH apabila dibandingkan dengan asam lemah pada konsentrasi yang sama (Cahyadi, 2006).
2.4.4. Toksisitas Bahan Pengawet
bawaan) dan karsinogenik. Namun, bukti lain menunjukkan bahwa pemakaian dalam jangka panjang dapat menimbulkan masalah kesehatan seperti memberikan dampak negatif pada penderita asma karena bahan pengawet ini bisa mempengaruhi mekanisme pernafasan paru-paru sehingga kerja paru-paru tidak normal (Yuliarti, 2007).
2.5.Penggunaan Asam Benzoat Pada Makanan
Asam dan natrium benzoat digunakan untuk mencegah pembentukan jamur dan bakteri pada jus buah. Pengawet yang termasuk dalam golongan ini yaitu asam benzoat, natrium benzoat, kalium benzoat, dan kalsium benzoat, yang juga harus dihindari karena berpotensi menyebabkan intoleransi makanan. Propilparaben dan metilparaben yaitu dua zat yang masih terbilang golongan benzoat. Di Australia, kedua zat tersebut hanya diperkenankan sebagai pewarna makanan (Arisman, 2002)
Asam benzoat (C6H5COOH), merupakan bahan pengawet yang luas
penggunaannya dan sering digunakan pada makanan atau minuman. Bahan ini digunakan untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme. Benzoat efektif pada pH 2,5-4,0. Karena kelarutan garamnya lebih besar, maka biasa digunakan dalam bentuk garam Natrium benzoat. Sedangkan dalam bahan, garam benzoat terurai menjadi bentuk aktif, yaitu bentuk asam benzoat yang tak terdisosiasi (Winarno, 1992).
mempunyai pH 7,0 dibandingkan dengan bahan pangan yang asam yang mempunyai pH mendekati 3,0 (Desrosier,1988).
Dalam tubuh terdapat mekanisme detoksifikasi terhadap asam benzoat, sehingga tidak terjadi penumpukan asam benzoat. Asam benzoat akan bereaksi dengan glisin menjadi asam hipurat yang akan dibuang oleh tubuh. Asam benzoat secara alami terdapat dalam rempah-rempah seperti cengkeh dan kayu manis (Winarno, 1992).
2.6.Asam benzoat
Rumus bangun : COOH
Nama kimia : asam benzoat, benzoic acid, bensol carboxylic, asam carboxybenzene
Rumus empiris : C7H6O2
Berat molekul : 122,12
Pemerian : Asam benzoat berbentuk hablur bentuk jarum atau sisik, putih, sedikit berbau, biasanya bau benzaldehida atau
benzoin. Agak mudah menguap pada suhu hangat. Mudah menguap dalam uap air.
2.6.1. Penetapan Kadar Asam Benzoat Secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)
Kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) kadang-kadang disebut juga Kromatografi cair tekanan tinggi adalah teknik pemisahan didasarkan fasa diam padat dan fasa gerak cairan. Pemisahan dicapai dengan proses partisi, adsorpsi, eksklusi atau penukar ion tergantung pada tipe fasa diam yang digunakan. Senyawa yang akan dianalisis dilarutkan dalam cairan dan hampir semua pemisahan berlangsung pada suhu kamar (BPOM, 2001).
Kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) merupakan teknik yang mana solut atau zat terlarut terpisah oleh perbedaan kecepatan elusi, dikarenakan solut-solut ini melewati suatu kolom kromatografi. Pemisahan solut-solut ini diatur oleh distribusi solut dalam fase gerak dan fase diam. Penggunaan kromatografi cair secara sukses terhadap suatu masalah yang dihadapi membutuhkan penggabungan secara tepat dari berbagai macam kondisi operasional seperti jenis kolom, fase gerak, panjang dan diameter kolom, kecepatan aliran fase gerak, suhu kolom, dan ukuran sampel (Rohman, 2007).
2.6.2.Instrumentasi KCKT
1. Pompa
harus mampu mengalirkan fase gerak dengan kecepatan 20 ml/menit (Rohman, 2009).
2. Injektor
Setelah dilarutkan dalam fasa gerak atau pelarut lain yang cocok, senyawa yang akan dikromatografi disuntikkan ke dalam fasa gerak baik secara manual dengan alat suntik atau dengan loop injector atau secara otomatis dengan otosampler (BPOM, 2001).
3. Kolom
Untuk hampir semua analisis, pemisahan dicapai dengan partisi senyawa dalam larutan uji antara fasa gerak dan fasa diam. Sistem terdiri dari fasa diam polar, fasa gerak non polar disebut sebagai fasa normal. Sementara susunan yang berlawanan, fasa gerak polar dan fasa diam non polar disebut fasa diam tipe terbalik.
4. Detektor
Detektor pada kromatografi cair kinerja tinggi dikelompokkan menjadi dua golongan yaitu: detektor universal (yang mampu mendeteksi zat secara umum, tidak bersifat spesifik, dan tidak bersifat selektif) seperti detektor indeks bias dan detektor spektrometri massa dan golongan detektor yang spesifik yang hanya akan mendeteksi analit secara spesifik dan selektif, seperti detektor UV-Vis, detektor fluoresensi dan elektrokimia (Rohman, 2009).
BAB III
METODOLOGI
3.1. Tempat Pengujian
Pengujian penetapan kadar asam benzoat dalam limun secara kromatografi cair kinerja tinggi dilakukan di Laboratorium Pangan dan Bahan Berbahaya, Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) di Medan yang berada di Jalan Willem Iskandar Pasar V Barat I N0.2 Medan.
3.2. Alat
Peralatan yang digunakan adalah branson ultrasonik, HPLC (High Performance Liquid Chromatography), membran filter ukuran 0,45 μm,pipet volume, timbangan Analitik, dan alat gelas lainnya.
3.3. Bahan
Akuabides, Dikalium Hidrogen Pospat, Kalium Dihidrogen Pospat, Kalium Sorbat BP, Metanol, Natrium Benzoat BP, Natrium Sakarin BP.
3.4. Sampel
Nama : Buavanta Merah Wadah / Kemasan : Pelastik
Pabrik : Omama Opapa Food, Tanggerang-Indonesia
3.5. Prosedur
3.5.1. Pembuatan Pereaksi
3.5.1.1. Dapar Pospat pH 6,8
Ditimbang dikalium hidrogen pospat 0,8709 gram dan 0,6800 gram kalium dihidrogen pospat kemudian dimasukkan kedalam labu tentukur, dilarutkan dengan akuabides hingga 1000 ml dan dihomogenkan dengan branson ultrasonik (Ditjen POM, 1993).
3.5.1.2. Metanol 60,0 %
Diencerkan 600 ml Metanol P dengan aquabidest 400 ml dalam beaker glass 1000 ml dan dihomogenkan dengan branson ultrasonik (Ditjen POM, 1993).
3.5.1.3. Fase Gerak: Dapar Pospat : Metanol (92 : 8)
Dimasukkan 920 ml Dapar pospat pH 6,8 dan 80 ml metanol 60,0% kedalam labu tentukur 1000 ml dan dihomogenkan dengan branson ultrasonik (Ditjen POM, 1993).
3.5.2. Larutan Uji
3.5.3. Larutan Baku
3.5.3.1. Baku Induk
Ditimbang 50 mg Natrium benzoat dan dimasukkan dalam labu ukur 50 ml, kemudian dilarutkan dengan Metanol 60 % dan diencerkan sampai garis tanda (Ditjen POM, 1993).
3.5.3.2. Baku Kerja
Dipipet masing-masing 0,5; 1,0; 2,0; 3,0; 4,0 ml larutan baku induk dan dimasukkan kedalam labu tentukur 50 ml diencerkan dengan metanol 60,0% sampai dengan garis tanda kemudian disaring dengan membran filter ukuran 0,45 μm dan dihampaudarakan (B) (Ditjen POM, 1993).
3.6. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi
3.6.1. Pengaturan Kondisi Sistem
Sistem diperiksa dan dicek untuk meyakinkan apakah sistem pengalir pelarut telah disambungkan dengan baik, kolom telah dipasang, tersedia cukup pelarut di dalam botol pelarut, sistem pengawasan pelarut bekerja dengan baik untuk menghilangkan gelembung udara, penyaring pelarut sudah dipasang, dan detektor yang sesuai sudah terpasang dengan benar.
3.6.2. Pengatifkan Sistem
3.6.3. Penentuan Garis Alas
Bila nilai absorbansi yang ditampilkan pada detektor UV-VIS telah menunjukkan 0,000, biarkan beberapa menit sampai diperoleh garis alas yang relatif cukup lurus yang menandakan sistem telah stabil.
3.6.4. Penyuntikan Fase Gerak
Dimasukkan fase gerak kedalam injektor dengan menggunakan mikroliter syringe, putar injektor keposisi INJECT.
3.7. Cara Penetapan
Larutan A dan B disuntikkan secara terpisah kedalam kolom dilakukan kromatografi cair kinerja tinggi dengan kondisi menggunakan kolom L1/C18, semua penetapan dilakukan pada UV-VIS absorbansi detektor dengan panjang gelombang 255 nm, kecepatan aliran 1,00 ml/menit, volume penyuntikan 20 μl dengan fase gerak: Metanol : Dapar Pospat (8:92) disaring menggunakan membran filter 0,45 μm dan dihampaudarakan.
Hasil yang diperoleh dapat dilihat dari terbentuknya puncak yang direkam oleh CBM (Communication Bus Module) yaitu suatu penghubung dengan sistem komputer yang dilengkapi dengan pencetak kromatogram. Kromatogram dapat dilihat pada lampiran 1 halaman 24.
3.8. Interpretasi Hasil
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.6.Hasil
Kromatogram larutan baku dengan konsentrasi 0,205 μg/μl dan larutan uji limun dapat dilihat pada Gambar 4.1.
Pada kromatogram larutan uji menunjukan komponen asam benzoat dengan waktu retensi 7,600 menit sedangkan pada larutan baku, waktu retensi baku asam benzoat, sorbat dan sakarin berturut turut adalah 7,575; 9,580 dan 12,067 menit. Kadar asam benzoat dalam limun adalah 419 mg/kg.
4.2 Pembahasan
Penetapan kadar asam benzoat dilakukan dengan menggunakan metode campuran beberapa komponen lain seperti sorbat dan sakarin. Karena ketiga
komponen tersebut larut dalam air dan dapat dideteksi dengan sinar ultraviolet pada panjang gelombang 225 nm.
Mekanisme pemisahan yang terjadi didasarkan pada kompetensi antara fase gerak dan sampel berikatan dengan kolom. Zat yang keluar terlebih dahulu, adalah zat yang lebih polar dari pada zat yang lainnya, sedangkan zat yang tertahan lebih lama dari kolom, merupakan zat yang lebih non polar. Semakin polar fase gerak, waktu tambat sampel semakin lambat dan semakin non polar fase gerak, sampel semakin cepat keluar (Hayun, 2007).
Hal pertama yang dilakukan dalam pengujian dengan KCKT adalah uji verifikasi batas deteksi dan batas kuantitatif. Uji ini dilakukan untuk mengetahui batas konsentrasi minimum zat yang masih dapat memenuhi kriteria cermat dan seksama. Kemudian, dilanjutkan dengan uji kesesuaian sistem untuk mengetahui keterulangan metoda analisis, dimana syarat simpangan baku atau koefisien variasinya adalah lebih kecil dari 2%. Lalu dilanjutkan dengan pembuatan kurva kalibrasi. Dalam pengujian kali ini, didapat nilai koefisien korelasi untuk benzoat adalah 0,9997. Penetapan kadar pada sampel dilakukan duplo untuk mendapatkan hasil yang akurat.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Kadar asam benzoat dalam limun adalah 419 mg/kg dan memenuhi persyaratan SNI No.01-0222-2000.
5.2 Saran
1. Sebaiknya instansi terkait melakukan sampling secara berkala pada produk sejenis untuk mengawasi kadar benzoat yang terkandung didalamnya.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1992. Kumpulan Hand-Out Kursus Singkat Analisa Pangan. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. Hal. 3
Arisman. 2009. Buku Ajar Ilmu Gizi Keracunan Makanan. Jakarta: EGC. Hal.58 Badan Standarisasi Nasional. 1992. Limun SNI 01-2972-1992. Jakarta. Hal. 1 Badan Standarisasi Nasional. 2000. Limun SNI 01-0222-2000. Jakarta. Hal. 76 Cahyadi, W. 2006. Analisis & Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan.
Jakarta: PT. Bumi Aksara. Hal. 5-9
Ditjen POM. 1993. Metoda Analisa Pengujian Pengawasan Obat dan Makanan, No. 43/MA/1993 tentang metoda penetapan kadar benzoat, sorbat dan sakarin. Jakarta: Departemen Kesehatan RI
Ditjen POM. 1995. Farmakope Indonesia, Jilid IV. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Hal. 47-48
Desrosier, N . W. 1988. Teknologi Pengawetan Pangan. Jakarta: UI- Press. Hal. 388
Hayun, dkk. 2007. Penetapan Kadar Benzoat, Sorbat, Sakarin, dan Kafein Dalam Minuman Ringan Secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi. Jakarta :
Majalah Farmasi Universitas Indonesia
Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 722/Menkes/Per/IX/1988 tentang Bahan Tambahan Pangan
Rohman, A. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal. 379
Undang-undang pangan No.7 Tahun 1996
Widodo. 2008. Mengenal Minuman Ringan Berkarbonasi (Soft drink).
Februari 2010.
Winarno, F.G. 1992. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama. Hal. 220, 224-225
LAMPIRAN 1
KROMATOGRAM
1. Larutan Uji
Area%Report Page 1 of 1
Shimadzu CLASS-VP V6.12 SP1
Methode Name: C:\CLASS-VP\Methods\_bensorsak.met
Data Name: C:\CLASS-VP\Pangan\Bensorsak 26 Januari 2011 Sampel 430_001
User: System
Acquired: 1/3/2002 1:36:00 AM Printed: 1/3/2002 2:18:37 AM
2181764 100.000 98884 100.000
Area%Report Page 1 of 1
Shimadzu CLASS-VP V6.12 SP1
Methode Name: C:\CLASS-VP\Methods\_bensorsak.met
Data Name: C:\CLASS-VP\Pangan\Bensorsak 26 Januari 2011 Sampel 430_002
User: System
Acquired: 1/3/2002 1:55:17 AM Printed: 1/3/2002 2:22:05 AM
Lampiran 2
Contoh perhitungan
1. Data Baku
Baku pembanding : Na.Benzoat Kemurnian : 100,51%
Bobot : 51,3 mg
Volume pengenceran : 50 ml
Konsentrasi ; 1,026 mg/ml
Tabel 1. Hasil ( Larutan Baku)
No Seri
x Volume Penyuntikan
2. Data Sampel
Tabel 2. Data Sampel uji
Nama
a (Tetapan Regresi/intersep) = -36769,58537 b (Koefisien Regresi/Slope) = 3813483,692 x = Kadar ( μg/20 ml )
Kadar Na.Benzoat (Penyuntikan I) :
Y = a + bx
Kadar Na.Benzoat (Penyuntikan II) :
Y = a + bx
1864780 = -36769,58537+ 3813483,692 x x = 0,4980 μg/ 20 μl