• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Mekanisme Koping Orangtua yang Memiliki Anak dengan Retardas Mental di Sekolah Luar Biasa (SLB) E Negeri Kecamatan Sei Agul Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Strategi Mekanisme Koping Orangtua yang Memiliki Anak dengan Retardas Mental di Sekolah Luar Biasa (SLB) E Negeri Kecamatan Sei Agul Medan"

Copied!
82
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

oleh

SOPIYAN HADI SIRAIT 111101094

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

SKRIPSI

oleh

SOPIYAN HADI SIRAIT 111101094

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)
(4)
(5)

Yang Maha Esa yang telah memberikan berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis

dapat menyelesaikan penulisan skripsiyang berjudul “Strategi mekanisme Koping

Orangtua Yang Memiliki Anak Dengan Retardasi Mental di Sekolah Luar Biasa

(SLB) E Negeri Sei Agul Medan”. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat

untuk menyelesaikan pendidikan dan mencapai gelar sarjana di Fakultas

Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Penyusunan skripsi ini telah banyak

mendapat bantuan, bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena

itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. dr. Dedi Ardinata, M.Kes sebagai Dekan Fakultas Keperawatan Universitas

Sumatera Utara.

2. Ibu Erniyati, S.Kp, MNS selaku Pembantu Dekan I Fakultas Keperawatan

Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Evi Karota Bukit, S.Kp, MNS selaku Pembantu Dekan II Fakultas

Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Ikhsanuddin Ahmad Harahap, S.Kp, MNS selaku Pembantu Dekan III

Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

5. Ibu Farida Linda Sari Siregar, S.Kep., Ns., M.Kep selaku dosen pembimbing

skripsi yang telah menyediakan waktu serta dengan penuh keikhlasan dan

kesabaran telah memberikan arahan, bimbingan dan ilmu yang bermanfaat

(6)

yang telah banyak mendidik penulis selama proses perkuliahan.

9. Terimah kasih yang sebesar- besarnya kepada kedua orang tua yaitu Umar.

Sirait dan Rusmi.Sinaga. atas dukungan secara moral dan materil.

10.Terimah kasih kepada teman- teman sejawat S1 Keperawatan yang telah

membantu dan memeberikan motivasi selama ini

Penulis menyadari skripsi ini masih banyak kekurangan dan kelemahan

serta masih diperlukan penyempurnaan, hal ini tidak terlepas dari keterbatasan

kemampuan, pengetahuan dan pengalaman yang penulis miliki. Sebelumnya

penulis ucapkan terimakasih.

Medan, 05 Juli 2015

Penulis,

(7)

HALAMAN PENGESAHAN... ii

PRAKATA ... iii

DAFTAR ISI……….. vi

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR SKEMA... ix

ABSTRAK... x

BAB 1. PENDAHULUAN... 1

1. Latar Belakang ... 4

2. Rumusan Masalah ... 4

3. Tujuan Penelitian... 4

4. Manfaat Penelitian... 5

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA... 6

1. Mekanisme Koping ... 6

1.1 Definisi Koping ... 6

1.2 Mekanisme Koping ... 7

1.3 Penggolongan Mekanisme Koping... 7

1.4 Strategi Mekanisme Koping... 8

1.5. Respon Koping... 10

1.6. Sumber Koping ... 11

2. Retardasi Mental ... 12

2.1. Definisi Retardasi Mental ... 13

2.2. Diagnosa Retardasi Mental... 13

2.3. Karakteristik Retardasi Mental ... 14

2.4. Klasifikasi Retardasi Mental ... 16

2.5. Penyebab Retardasi Mental ... 18

2.6. Dampak Retardasi Mental Bagi Orang Tua ... 20

2.7. Perawatan Retardasi mental... 22

BAB 3. KERANGKA PENELITIAN... 23

1. Kerangka Konsep... 23

2. Definisi Operasional... 25

BAB 4. METODOLOGI PENELITIAN... 25

1. Desain Penelitian... 25

2. Populasi dan Sampel ,teknik sampel ... 25

3. Lokasi dan Waktu Penelitian... 25

4. Pertimbangan Etik ... 26

5. Instrumen Penelitian... 27

6. Validitas dan Reliabilitas ... 27

7. Pengumpulan Data ... 28

(8)

2. Pembahasan... 35

2.1 Strategi Koping koping berfokus pada masalah……...……... 35

2.2 Strategi Koping berfokus pasa emosi………..…... 46

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN... 39

1. Kesimpulan………..…..…... 39

2. Saran ………....………... 39

Daftar Pustaka... 41 LAMPIRAN- LAMPIRAN

1. Lembar penjelasan kepada calon subjek penelitian 2 .Lembar persetujuan menjadi subjek penelitian 3. Instrumen penelitian

4.Ethical clearance

5. Surat izin penelitian dari Fakultas Keperawatan USU 6. Surat telah menyelesaikan penelitian

7. Pernyataan telah melakukan uji validitas 8. Hasil uji reliabilitas

9.Master table

10. Hasil penelitian

11. Jadwal tentatif penelitian 12. pengeluaran dana

(9)
(10)
(11)

Nim : 111101094

Fakultas : Keperawatan USU

ABSTRAK

Hambatan perkembangan berpengaruh terhadap dinamika keluarga khususnya stres orangtua. Orangtua dengan anak retardasi mental beresiko mengalami peningkatan stres psikologik dibandingkan dengan orangtua yang memiliki anak dengan kondisi perkembangan normal. Mekanisme koping yang digunakan oleh setiap orangtua berbeda-beda, termasuk orangtua yang memiliki anak dengan retardasi mental, biasanya mekanisme koping yang mereka digunakan tergantung dari tingkat ansietas, ancaman, dan terlibat mekanisme koping. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi strategi mekanisme koping orangtua yang memiliki anak dengan retardasi mental di sekolah luar biasa (SLB) E Negeri Sei Agul Medan. Penelitian ini menggunakan dengan desain deskriktif, instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 30 orangtua yang memiliki anak retardasi mental di Sekolah Luar Biasa (SLB) E Negeri Sei Agul Medan. Pengambilan sampel menggunakan dengan teknik total sampling. Dari hasil penelitian di peroleh bahwa 22 orangtua ibu (73,33%) memiliki koping berfokus pada masalah dan orang tua yang memiliki koping berfokus pada emosi sebanyak 8 orangtua ibu (26,66%). Hasil penelitian diharapkan dapat menambah pengetahuan orangtua ibu terkait strategi mekanisme koping yang memiliki anak dengan retardasi mental.

(12)

Faculty : the Faculty of Nursing, USU

ABSTRACT

Development impediment influences family dynamics, especially parents’ stress. Parents who have mental retarded child have the risk for being affected by psychological stress, compared with those who have normal children. Coping mechanism used by parents varies. Parents who have mental retarded children usually use coping mechanism which depends on the level of anxiety, threat, and involving coping mechanism. The objective of the research was to identify the strategy of coping mechanism of parents who had mental retarded children at SLB E Negeri Sei Agul, Medan. The research used descriptive design with questionnaires. The samples were 30 parents who had mental retarded children at SLB E Negeri Sei Agul, Medan, taken by using total sampling technique. The result of the research showed that 22 respondents (73.33%) used problematic coping, and 8 respondents (26.66%) used emotional coping. The result of the research was expected to increase the knowledge of coping mechanism strategy of parents who had mental retarded children.

(13)

Setiap orangtua pada dasarnya mengharapkan anak dengan perkembangan

fisik, psikologi, dan kognitif yang sempurna. Orangtua akan sulit menerima realita

apabila melahirkan anak dalam kondisi yang tidak sempurna atau mengalami

hambatan perkembangan (Mangunsong, 2012). Hambatan perkembangan

berpengaruh terhadap dinamika keluarga khususnya stres orangtua. Orangtua

dengan anak retardasi mental beresiko mengalami peningkatan stres psikologik

dibandingkan dengan orangtua yang memiliki anak dengan kondisi perkembangan

normal (William & Wilkins (2003 dalam Jonston & Hessel 2004)

Anak dengan taraf perkembangan dan jenis masalah yang berbeda

memerlukan pengertian dan penanganan khusus dari orangtua serta tidak

memberikan label kelainan tingkah laku pada anak secara umum pada semua

tahap perkembangan (Latief dkk., 2007). Retardasi mental adalah kondisi

perkembangan mental yang terhenti atau tidak lengkap, terutama tidak adanya

hendaya dan keterampilan selama perkembangan, sehingga berpengaruh pada

semua tingkat intelegensia yang meliputi kemampuan kognitif, bahasa, motorik,

dan sosial (WHO Geneva, 1992).

Prevalens retardasi mental pada anak-anak dibawah umur 18 tahun di

Negara maju diperkirakanmencapai 0,5-2,5% , di negara berkembang berkisar

(14)

anak dalam 20 tahun terakhir.Angka kejadian anak retardasi mental berkisar 19

per 1000 kelahiran hidup. Banyak penelitian melaporkan angka kejadian retardasi

mental lebih banyak pada anak laki-laki dibandingkan perempuan ( Kadim, &

Sulary sunarwati, 2000).

Orangtua yang memiliki anak dengan retardasi mental dapat mengalami

pengalaman yang menyedihkan dan proses berduka yang panjang. Proses berduka

meliputi emosi seperti ambivalen, mengingkari (denial), rasa bersalah, rasa malu,

rasa kasihan terhadap diri sendiri, berdukacita, depresi, dan keinginan agar

anaknya meninggal dunia (Dalami dkk., 2004). Hauser et al., (2001 dalam

Sullivan, Weiss dan Diamond, 2003) menyatakan orangtua dengan anak retardasi

mental biasanya memiliki tingkat stres yang tinggi dibandingkan dengan orangtua

yang memiliki anak normal. Meningkatnya tingkat stres dihubungankan dengan

karakteristik perilaku anak (stres dihubungkan dengan anak) dan kemampuan

koping (stres dihubungkan dengan orangtua).

Perbedaan tingkat stres yang dialami keluarga dapat disebabkan oleh

perbedaan atau kombinasi faktor-faktor yang unik tiap individu dalam keluarga

seperti waktu hadirnya stres dalam siklus hidup keluarga, kombinasi stres atau

faktor yang berkontribusi pada kemampuan keluarga untuk beradaptasi dengan

situasi stres. Tingkat stres yang dialami oleh orangtua juga dipengaruhi oleh

perilaku anak dan krakteristik personal (Prizlat, 2001).

Faktor yang menentukan stres keluarga terhadap anak yang mengalami

gangguan perkembangan mental berbanding lurus dengan dukungan yang dapat

(15)

internal, dukungan sosial eksternal, dan sumber keuangan. Persepsi positif

dipandang sebagai faktor yang memperbaiki dampak dari anak dengan gangguan

mental terhadap anggota keluarga dan dapat membantu mengatasi peristiwa stres

dengan lebih baik (Gupta & Singhall, 2004). Sadock & Virginia (2007)

menyatakan penerimaan orangtua merupakan suatu respon koping dimana

individu menerima kenyataan dari suatu situasi yang menekan sebagai suatu usaha

dalam menghadapi situasi tersebut. Penerimaan terjadi dalam keadaan dimana

masalah merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari dan bukan hal yang dapat

berubah.

Individu dapat menyesuaikan diri dengan diri sendiri, masyarakat, dan

lingkungan sebagai perwujudan keharmonisan fungsi mental dan kesanggupan

dalam menghadapi masalah yang biasa terjadi. Individu merasa puas dan mampu,

jika berada pada kondisi stres ia akan menggunakan satu atau lebih sumber

koping yang tersedia (Rusman, 2001). Koping dapat diartikan sebagai suatu sikap

yang ditunjukkan seseorang dalam menghadapi situasi stres yang mengancam

dirinya baik fisik maupun secara psikologis (Keliat, 1998). Mekanisme koping

yang digunakan oleh setiap orang berbeda-beda, termasuk orangtua yang memiliki

anak dengan retardasi mental, biasanya mekanisme koping yang mereka

digunakan tergantung dari tingkat ansietas, ancaman, dan terlibat mekanisme

koping (Taylor, Lilis dan Lemon, 1997). Mekanisme koping pada orangtua

meliputi koping adaptif dan maladaptif. koping yang adaptif dapat membantu

(16)

masalah yang dialami. Sedangkan koping maladaptif menimbulkan stres bagi

individu dan keluarga (Stuart & sudden, 1995).

Kenyataannya tidak semua orangtua yang memiliki anak dengan retardasi

mental menggunakan mekanisme koping dengan adaptif. Hal ini dapat berubah

sesuai dengan bergantinya waktu, bertambahnya pengetahuan orangtua, dan sosial

yang mendukung perubahan tersebut.

Suri (2009) melakukan penelitian di Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB)

Negeri 1077708 Kabupaten Deli Serdang menunjukkan bahwa mekanisme koping

orang tua yang memiliki anak down syndrom 98,4% koping adaptif dan 1,6%

memiliki maladaptif.

Berdasarkan hal tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian

mengenai strategi mekanisme koping orangtua yang memiliki anak dengan

retardasi mental.

2.Rumusan Masalah

Bagaimana strategi mekanisme koping orangtua yang memiliki anak

dengan retardasi mental di Sekolah Luar Biasa E Negeri Kecamatan Sei Agul

Medan?

3. Tujuan penelitian

Mengidentifikasi gambaran strategi mekanisme koping orangtua yang

memiliki anak dengan retardasi mental di Sekolah Luar Biasa E Negeri

(17)

4. Manfaat penelitian

4.1. Pendidikan Keperawatan

Menjadikan bahan untuk memperluas wawasan dan memperdalam kajian

tentang strategi mekanisme koping orangtua yang memiliki anak dengan retardasi

mental.

4.2 Pelayanan keperawatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi perawat

dalam memahami strategi mekanisme koping orangtua yang memiliki anak

dengan retardasi mental dan memberikan asuhan keperawatan sesuai mekanisme

koping yang dimiliki orangtua dengan anak retardasi mental.

4.3 Penelitian keperawatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan rujukan bagi

peneliti keperawatan untuk melakukan penelitian dengan strategi mekanisme

(18)

1.1 Definisi Koping

Koping adalah perubahan kognitif dan perilaku secara konstan dalam

upaya untuk mengatasi tuntunan internal dan atau tuntunan eksternal khusus yang

melelahkan atau melebihi individu (Lazarus& Foklman, 1985). Koping juga dapat

digambarkan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan masalah dan situasi, atau

menghadapinya dengan berhasil/sukses (Kozier, 2004). Sedangkan koping

menurut Rasmun (2004) adalah proses yang dilalui oleh individu dalam

menyelesaikan situasi stres. Koping tersebut merupakan respon individu terhadap

situasi yang mengancam dirinya baik fisik maupun psikologis.

1.2 Mekanisme Koping

Mekanisme koping adalah cara yang digunakan individu dalam

menyelesaikan masalah, mengatasi perubahan yang terjadi, dan situasi yang

mengancam, baik kognitif maupun perilaku (Stuartd dan Sundeen, 1995).

Suliswati dkk (2005) mengemukan bahwa mekanisme koping merupakan suatu

cara pemecahan masalah dimana bila didalam tubuh mengalami ketegangan dalam

kehidupan, mengakibatkan mekanisme koping dalam tubuh berfungsi untuk

meredakan ketegangan tersebut. Mekanisme koping itu sendiri dapat diartikan

dengan sebagai cara yang dilakukan individu dalam me nyelesaikan masalah,

menyesuaikan diri dengan perubahan, serta respon terhadap situasi yang

(19)

1.3 Penggolongan Mekanisme Koping

Penggolongan mekanisme koping dibagi menjadi dua. Stuard dan Suddeen

(1995) mengemukan dua penggolongan mekanisme koping, yaitu:

A. Mekanisme koping adaptif

Mekanisme koping adaptif merupakan koping yang mendukung

fungsi integrasi, pertumbuhan, belajar, dan mencapai tujuan. Kategorinya

adalah berbicara dengan orang lain, memecahkan masalah secara efektif,

teknik relaksasi, latihan seimbang, dan aktivitas konstruktif.

B. Mekanisme koping maladaptif

Mekanisme koping maladaptif merupakan mekanisme koping yang

menghambat fungsi integrasi, memecah pertumbuhan, menurunkan

otonomi, dan cenderung menguasai lingkungan. Kategorinya adalah

makan berlebihan/ tidak makan, bekerja berlebihan, menghindar.

Mekanisme koping dapat dibagi menjadi mekanisme koping jangka

pendek dan panjang. Mekanisme koping jangka panjang merupakan cara

konstruktif dan realistis. Sebagai contoh dalam situasi tertentu berbicara dengan

orang lain tentang masalah dan mencoba untuk menemukan lebih banyak

informasi tentang situasi. Mekanisme koping selanjutnya adalah mekanisme

koping jangka pendek, cara ini digunakan untuk mengurangi stres untuk

(20)

1.4 Strategi mekanisme koping

Folkman dan Lazarus (1984) metode koping terdapat dua strategi yang

bisa dilakukan:

A. Koping berfokus pada masalah (problem focused coping)

Problem focused koping yaitu usaha mengatasi stres dengan cara

mengatur atau mengubah masalah yang dihadapi dan lingkungan

sekitarnya yang menyebabkan terjadinya tekanan problem focused koping

ditujukan dengan mengurangi demand dari situasi yang penuh dengan

stres atau memperluas sumber untuk mengatasinya. Strategi yang dipakai

dalam problem focused coping antara lain sebagai berikut:

1) Confrontative Coping

Usaha untuk mengubah keadaan yang dianggap menekan dengan

cara yang agresif, tingkat kemarahan yang cukup tinggi, dan pengambilan

resiko.

2) Seeking social support

Usaha untuk mendapatkan kenyamanan emosional dan bantuan

informasi dari orang lain

3) Planful problem solving

Usaha untuk mengubah keadaan yang dianggap menekan dengan

(21)

B. Koping berfokus pada emosi (Emotion focused coping)

Emotion focused coping yaitu usaha mengatasi stres dengan cara

mengatur respon emosional dalam rangka menyesuaikan diri dengan

dampak yang dapat ditimbulkan oleh suatu kondisi atau situasi yang

dianggap penuh tekanan. Strategi yang digunakan dalam emotion focused

copingantara lain sebagai berikut:

1) Self-control

Usaha untuk mengatur perasaan ketika mengetahui situasi yang

menekan.

2) Distancing

Usaha untuk tidak terlibat dalam permasalahan, seperti menghindar

dari permasalahan seakan tidak terjadi apa-apa atau menciptakan

pandangan-padangan yang positif, seperti menganggap masalah seperti

lelucon.

3) Positive reappraisal

Usaha mencari makna positif dari permasalahan dengan berfokus

pada pengembangan diri, biasanya juga melibatkan hal-hal yang bersifat

religius.

4) Accepting responsibility

Usaha untuk menyadari tanggung jawab diri sendiri dalam

permasalahan yang dihadapinya dan mencoba menerima untuk membuat

(22)

5) Escape / avoidance

Usaha untuk mengatasi situasi menekan dengan lari dari situasi

tersebut atau menghindarinya dengan beralih pada hal lain seperti makan,

minum, merokok, atau menggunakan obat-obatan.

1.5 Respons Koping

Koping dapat diidentifikasi melalui respon, manifestasi (tanda dan gejala)

dan pernyataan klien. Koping dapat dikaji melalui berbagai aspek yaitu fisiologis

dan psikososial (Keliat, 1998).

A. Reaksi Fisiologis

Merupakan manifestasi tubuh terhadap stres dimana pupil melebar,

keringat meningkat untuk mengontrol peningkatan suhu tubuh, denyut nadi

meningkat, kulit dingin, tekanan darah meningkat, mulut kering, peristaltik

menurun, pengeluaran urin menurun, kewaspadaan mental meningkat terhadap

ancaman yang serius, dan ketegangan otot meningkat. Reaksi fisiologis

merupakan indikasi klien dalam keadaan stres.

B. Reaksi Psikososial

Reaksi psikososial merupakan reaksi yang berorientasi pada ego yang

sering disebut sebagai mekanisme pertahanan mental, seperti denial

(menyangkal), projeksi, regresi,displacement, isolasi, dan supresi.

Denial (menyangkal) adalah peristiwa menghindari realitas

ketidaksetujuan dengan mengabaikan atau menolak untuk mengenalinya. Proyeksi

adalah mekanisme perilaku dengan menempatkan sifat-sifat batin sendiri pada

(23)

adalah menghindarkan sters terhadap karakteristik perilaku dari tahap

perkembangan yang lebih awal. Displacement (menghindar) adalah peristiwa

mengalihkan emosi yang seharusnya diarahkan pada orang atau benda tertentu ke

benda atau orang yang netral atau tidak membahayakan.

Isolasi adalah proses pengurungan diri dari pencarian dukungan sosial

keluarga mencari dukungan atau bantuan dari keluarga, tetangga, teman atau

keluarga jauh. Reframing adalah peristiwa mengkaji ulang kejadian stres agar

lebih dapat menanganinya dan menerimanya. Mencari dukungan spiritual,

mencari dan berusaha secara spiritual, berdoa menemani pemuka agama atau aktif

pada pertemuan ibadah. Menggerakkan keluarga untuk dapat menerima bantuan,

keluarga berusaha mencari sumber-sumber komunitas dan menerima bantuan

orang lain.

1.6 Sumber Koping

Stuart (2007) menyatakan bahwa sumber koping, pilihan, atau stategi

membantu untuk menetapkan apa yang dapat dilakukan sebagaimana yang telah

ditetapkan, mengidentifikasikan lima sumber koping yang dapat membantu

individu beradaptasi dengan stessor yaitu ekonomi , keterampilan dan

kemampuan, tehnik pertahanan, dukungan sosial, dan motivasi.

Kemampuan menyelesaikan masalah termaksud kemampuan untuk

mencari informasi, identifikasi masalah, mempertimbangkan alternatif, dan

melaksanakan rencana. Kemampuan sosial memudahkan penyelesaian masalah

orang lain, meningkatkan kemungkinan memperoleh kerjasama dan dukungan

(24)

sumber keuangan meningkatkan pilihan koping seseorang dalam bentuk situasi

stres. Pengetahuan dan intelegensia adalah sumber koping yang lainya yang

memberikan individu untuk melihat cara lain untuk mengatasi stres. Sumber

koping juga termaksuk kekuatan identitas ego, komitmen untuk jaringan sosial,

stabilitas kultural, suatu genetik atau kekuatan konsitusional.

2. Retardasi Mental

2.1 Definisi Retardasi Mental

Retardasi mental adalah suatu keadaan perkembangan mental yang

terhenti atau tidak lengkap, yang terutama ditandai adanya hendaya (impairment),

keterampilan (skills) selama perkembangan, sehingga berpengaruh pada semua

tingkat intelegensia, yaitu kemampuan kognitif, bahasa, motorik, dan sosial

(WHO Geneva, 1992).

Retardasi mental adalah keadaan taraf perkembangan kecerdasan di

bawah normal sejak lahir atau masa anak- anak, biasanya terdapat perkembangan

mental yang kurang secara keseluruhan (Dalami dkk, 2009. Diagnostic and

Statistical Manual (DSM) IV (1994) mendefinisikan retardasi mental sebagai

gangguan yang ditandai fungsi intelektual yang berfungsi secara bermakna di

bawah rata-rata (IQ kira-kira 70 atau lebih rendah) yang bermula sebelum 18

tahun disertai defisit atau hendaya fungsi adaptif.

2.2 Diagnosa retardasi mental

Retardasi mental ialah kelainan fungsi intelektual yang subnormal, terjadi

(25)

maturasi, proses belajar, penyesuaian diri secara sosial. Kelainan ini dapat

merupakan suatu gejala yang berhubungan dengan banyak penyebab, akan tetapi

dapat pula dianggap sebagai suatu penyakit (Latief dkk 2007).

Latief dkk (2007) mendiagnosa retardasi mental berdasarkan kriteria

sebagai berikut:

A. Riwayat perkembangan yang terlambat (dapat disertai atau tanpa disertai

kelainan jasmani, atau akibat kerusakan otak) yang dapat dimulai saat anak

dilahirkan atau mula-mula berkembang normal lalu terlambat akibat

kelainan yang mengganggu otak.

B. Observasi kritis mengenai fungsi sekarang, termaksud prestasi dalam

pelajaran, keterampilan motorik dan kematangan emosional dan emosional

dan sosial.

WHO mengklasifikasikan pembagian Retardasi Mental berdasarkan

tingkat IQ (Intelligent Quotient), yaitu borderline (IQ 65-85), mild (IQ 53-67),

moderate (IQ 36-51), severe (IQ 20-35), profound (IQ kurang dari 20). Meskipun

begitu, sebenarnya IQ bukan satu-satunya patokan untuk diagnosa atau penentuan

beratnya kelainan.

Retardasi mental dapat juga dilihat dari sudut (Latief dkk, 2007)

A. Tanpa gangguan tingkah laku.

B. Dengan gangguan tingkah laku sebagai akibat langsung kerusakan organik

(26)

C. Dengan gangguan tingkah laku reaktif yang merupakan akibat tindakan

keluarga dan masyarakat yang menolak anak, sehingga gangguan tingkah

laku yang terjadi merupakan akibat defisit dari perasaan frustasi, ketakutan

dan kegelisahan diri anak. Dalam banyak hal anak lebih dilumpuhkan

karena gangguan emosional dari retardasi mentalnya.

2.3 Karakteristik Retardasi Mental

Retardasi mental merupakan kondisi dimana perkembangan

kecerdasannya mengalami hambatan sehingga tidak mencapai tahap

perkembangan yang optimal.

Ada beberapa karakteristik retardasi mental, yaitu: (Somantri, 2007)

A. Keterbatasan inteligensi

Inteligensi merupakan fungsi yang kompleks yang dapat diartikan sebagai

kemampuan untuk mempelajari informasi dan keterampilan-keterampilan

menyesuaikan diri dengan masalah dan situasi kehidupan baru, belajar dari

pengalaman masa lalu,berpikir abstrak kreatif,dapat menilai secara kritis,

menghindari kesalahan-kesalahan, mengatasi kesulitan-kesulitan, dan

kemampuan untuk merancanakan masa depan. Anak retardasi mental terutama

yang bersifat abstrak seperti belajar dan berhitung, menulis dan membaca juga

terbatas. Kemampuan belajarnya cenderung tanpa pengertian atau cenderung

(27)

B. Keterbatasan sosial

Disamping memiliki keterbatasan inteligensi, anak retardasi mental juga

memiliki kesulitan dalam menyesuaikan diri dalam masayarakat, oleh karena

itu mereka memerlukan bantuan.

Anak retardasi mental cenderung berteman dengan anak yang lebih muda

usianya, ketergantungan terhadap orang tua sangat besar, tidak mampu

memikul tanggung jawab sosial dengan bijaksana, sehingga mudah

dipengaruhi dan cenderung melakukan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya.

C. Keterbatasan fungsi-fungsi mental lainya

D. Anak retardasi mental memerlukan waktu lebih lama untuk menyelesikan

reaksi pada situasi yang baru dikenal. Mereka memperlihatkan reaksi

terbaiknya bila mengikuti hal-hal yang rutin dan secara konsisten

dialaminya dari hari ke hari. Anak retardasi mental tidak dapat

menghadapi sesuatu kegiatan atau tugas dalam jangka yang waktu yang

lama.

Anak retaradsi mental memilki keterbatasan dalam penguasaan bahasa.

Mereka bukannya mengalami kerusakan artikulasi, akan tetapi pusat

pengolahan yang kurang berfungsi sebagaimana mestinya.

2.4 Klasifikasi Retardasi Mental

Klasifikasi menurut DSM IV (American Psychiatric Association,

Washington, 1994) dalam Lumbantobing (2006) mengatakan bahwa terdapat 4

(28)

A. Retardasi mental ringan

Retardasi mental ringan ini secara kasar setara dengan kelompok

retardasi yang dapat dididik (educable). Kelompok ini membentuk

sebagian besar (sekitar 85%) dan kelompok retardasi mental. Pada usia

prasekolah (0-5 tahun) dapat mengembangkan kecakapan sosial dan

komunikatif, mempunyai sedikit hendaya dalam bidang sensorimotor, dan

sering tidak dapat dibedakan dan anak yang tanpa retardasi mental, sampai

pada usia yang lebih lanjut. Pada usia remaja, mereka dapat memperoleh

kecakapan akademik sampai setara kira-kira tingkat enam (kelas 6 SD).

Sewaktu masa dewasa, mereka biasanya dapat menguasai kecakapan sosial

dan vokasional cukup sekedar untuk mandiri, namun mungkin

membutuhkan supervisi, bimbingan dan pertolongan, terutama bila

mengalami tekanan sosial atau tekanan ekonomi. Dengan bantuan yang

wajar, penyandang retardasi mental ringan biasanya dapat hidup sukses di

dalam masyarakat, baik secara mandiri atau dengan pengawasan.

B. Retardasi mental sedang

Retardasi mental sedang secara kasar setara dengan kelompok yang

dapat dilatih (trainable). Kelompok individu dan tingkat retardasi ini

mernperoleh kecakapan komunikasi selama masa anak dini. Mereka

memperoleh manfaat dan latihan vokasional, dan dengan pengawasan

yang sedang dapat mengurus atau merawat diri sendiri. Anak tersebut

dapat memperoleh manfaat dari latihan kecakapan sosial dan akupasional

(29)

tingkat 2 (kelas 2 SD). Mereka dapat bepergian di Iingkungan yang sudah

dikenal.

C. Retardasi mental berat

Kelompok retardasi mental ini membentuk 3-4% dari kelompok

retardasi mental. Selama masa anak-anak sedikit saja atau tidak mampu

berkomunikasi bahasa. Sewaktu usia sekolah mereka dapat belajar bicara

dan dapat dilatih dalam kecakapan mengurus diri yang sederhana. Sewaktu

usia dewasa mereka dapat melakukan kerja yang sederhana bila diawasi

secara ketat. Kebanyakan dapat menyesuaikan diri pada kehidupan di

masyarakat bersama keluarganya, jika tidak didapatkan hambatan yang

menyertai yang membutuhkan perawatan khusus.

D. Retardasi mental sangat berat

Kelompok retardasi mental sangat berat membentuk sekitar 1-2% dan

kelompok retardasi mental. Pada sebagian besar individu dengan diagnosis

ini dapat diidentifikasi kelainan neurologik, yang rnengakibatkan retardasi

rnentalnya. Sewaktu masa anak-anak, menunjukkan gangguan yang berat

dalam bidang sensorimotor. Perkembangan motorik dan mengtirus diri dan

kemampuan komunikasi dapat ditingkatkan dengan latihan-latihan yang

adekuat, Beberapa di antaranya dapat melakukan tugas sederhana di

tempat yang disupervisi dan dilindungi.

Beberapa pakar mengklasifikasikan retardasi mental atas 2 kelompok,

(30)

retardasi mental subkultural, fisiologik atau familial, yang gangguan mentalnya

kurang berat (Lumbantobing, 2006).

2.5 Penyebab retardasi mental

Terdapat banyak penyebab cacat mental, seperti penyakit yang diderita

semasa kehamilan, terusakan dalam metabolisme, penyakit pada otak polamal,

daan yang tidak baik, dan perawatan yang tidak sesuai. Laporan Organisasi

Kesehatan Dunia (WHO) memaparkan bahwa 30% dari anak-anak yang cacat

mental serius disebabkan oleh ketidak normalan genetik, seperti down syndrom,

25% disebabkan oleh cerebrum palsy, 30% disebabkan oleh meningitis dan

masalah pranatal sedangkan 15% sisanya belum dapat ditemukan (Muhammad,

2008).

Muhammad (2008), memaparkan 9 faktor yang menjadi penyebab

timbulnya cacat mental : penyakit yang disebabkan minuman keras, trauma,

metabolisme atau pola makan yang tidak baik dan penyakit dalam otak, pengaruh

saat masa kehamilan yang tidak diketahui, kromosom yang abnormal, gangguan

selama kehamilan, gangguan psikiatris dan pengaruh Iingkungan.

Anak yang mengalami retardasi mental dapat disebabkan beberapa faktor

diantara faktor genetik atau juga kelainan dalam kromosom, faktor ibu selama

hamil dimana terjadi gangguan dalam gizi atau penyakit pada ibu seperti rubella,

atau adanya virus lain atau juga faktor setelah lahir dimana dapat terjadi

kerusakan otak apabila terjadi infeksi seperti terjadi meningitis, ensefalitis, dan

(31)

Etiologi retardasi mental menggambarkan pengaruh kait-mengkait antara

faktor bakat (turunan) dan faktor lingkungan. Menurut Lumbantobing (2001)

penyebab atau yang dicurigai sebagai penyebab retardasi mental (RM) antara

faktor bakat (turunan) dan faktor lingkungan. Dalam mengkaji etiologi retardasi

mental perlu disimak 3 faktor berikut, yaitu predisposisi genetik, faktor

lingkungan, dan waktu pemaparan. Faktor predisposisi termasuk kepekaan yang

dipengaruhi oleh faktor genetik terhadap agens atau faktor ekologis. Faktor

lingkungan merupakan faktor yang dapat mengganggu organisme yang sedang

tumbuh, misalnya keadaan nutrisi, radiasi, dan juga keadaan lingkungan

psikososial. Waktu terjadinya pemaparan juga dapat memengaruhi beratnya

kerusakan.

Gangguan gizi yang berat dan berlangsung lama sebelum umur 4 tahun

ternyata sangat memengaruhi perkembangan otak dan mengakibatkan retardasi

mental. Keadaan ini dapat diperbaiki dengan memperbaiki gizi sebelum umur 6

tahun. Perbaikan sesudah itu akan sukar ditingkatkan walaupun anak terus

disuguhi dengan makanan bergizi (Lumbantobing, 2006).

Beberapa penyebab retardasi mental dapat dicegah atau diobati. Selain

penyebab di atas, masih banyak penyebab retardasi mental yang dapat dicegah

dan diobati dan cukup banyak pula yang penyebabnya sampai saat ini belum dapat

diobati. Di antara penyebab yang dapat dicegah yaitu asfiksia lahir dan trauma

(32)

2.6 Dampak Retardasi Mental Bagi Orangtua

Orang yang paling banyak menanggung beban akibat retardasi mental

adalah orang tua dan keluarga anak tersebut. Oleh sebab itu, dikatakan bahwa

penanganan anak retardasi mental merupakan resiko psikiatri keluarga. Keluarga

yang memiliki anak dengan retardasi mental berada dalam resiko yang berat

(Soematri, 2007)

Perasaan dan tingkah laku orang tua dalam menangani anak dengan

retardasi mental berbeda- beda. Pembagian tingkah laku tersebut dapat dibagi

dalam: (Soemantri, 2007).

A. Perubahan emosi yang tiba-tiba

Perubahan emosi yang tiba-tiba mendorong orang tua untuk menolak

kehadiran anak dengan memberikan sikap dingin, menolak dengan

rasionalisasi, menahan anaknya dirumah dengan mendatangkan orang

terlatih untuk mengurusnya, merasa berkewajiban untuk mengasuh tetapi

melakukan tanpa memberi kehangatan, dan mengasuhnya dengan

berlebihan sebagai kompensasi terhadap perasaan menolak.

B. Perasaan bersalah

Ibu yang melahirkan anak berkelainan akan mengalami praduga yang

berlebihan dalam hal, merasa ada yang tidak beres tentang urusan

keturunan, perasaan ini mendorong timbulnya suatu perasaan depresi,

merasa kurang mengasuhnya, perasaan ini menghilangkan kepercayaan

(33)

C. Kehilangan Kepercayaan

Kehilangan kepercayaan akan dialami oleh ibu yang ingin mempunyai

anak yang normal lagi. Karena kehilangan kepercayaan tersebut orang tua

cepat marah dan menyebabkan tingkah laku agresif. Kedudukan tersebut

dapat mengakibatkan depresi. Pada permulaan, mereka segera mampu

menyesuaikan diri sebagai orang tua anak retardasi mental, akan tetapi

mereka terganggu lagi saat menghadapi peristiwa- peristiwa kritis.

D. Terkejut dan Kehilangan Kepercayaan Diri

Orang tua akan mengalami keterkejutan dan kehilangan kepercayaan

diri. Rasa keterkejutan dan kehilangan kepercayaan diri tersebut akan

muncul secara perlahan hingga tampak secara nyata. Kemudian, orang tua

berkonsultasi untuk mendapat berita-berita yang lebih baik bagi kesehatan

anaknya.

E. Perasaan Berdosa

Banyak tulisan yang menyatakan bahwa orang tua merasa berdosa.

Sebenarnya perasaan itu tidak selalu ada. Perasaan tersebut bersifat

kompleks dan mengakibatkan depresi pada orang tua.

F. Rasa Malu dan Bingung

Para orangtua akan merasa bingung dan malu, yang akan

mengakibatkan orang tua kurang suka bergaul dengan tetangga dan lebih

suka menyendiri. Adapun saat kritis itu terjadi ketika pertama kali

mengetahui bahwa anaknya cacat, memasuki usia sekolah, pada saat

(34)

anak tersebut normal, meninggalkan sekolah, orang tua bertambah tua

sehingga tidak mampu untuk mengasuh anaknya yang cacat.(Soematri,

2007).

Pada saat kritis seperti ini biasanya orang tua lebih mudah menerima saran

dan petunjuk. Setelah kejutan pertama, orang tua ingin mengetahui mengapa

anaknya retardasi mental. Meraka dan anak-anaknya yang normal ingin

mengetahui apakah sesudah melahirkan anak retardasi mental meraka dapat

melahirkan anak normal.(Soemantri, 2007)

2.7 Perawatan retardasi mental

Perawatan umum pada retardasi mental ialah pendidikan, edukasi, dan

latihan. Tim yang memberikan layanan ini dapat terdiri dari dokter, psikiater,

psikolog, guru terapi okupasi, terapi bicara, perawat, dokter keluarga, dan

neurolog mempunyai tanggung jawab besar dalam mendeteksi dini adanya

retardasi mental, menentukan penyebab serta gejala lain yang menyertai. Mereka

dapat berperan serta dalam ikut serta merencanakan pelayanan, edukasi, dan

latihan, bertindak sebagai perantaraan antara tim pengobatan, tim edukasi seta

pelayanan sosial. Bila terdapat kesulitan dalam menangani anak misalnya oleh

masalah emosional, tingkah laku dan gangguan psikiatri lainnya (Lumbangtobing,

(35)

mekanisme koping orang tua yang memiliki anak retardasi mental di SLB E

Negeri Kecamatan Sei Agul Medan. Strategi mekanisme koping orang tua yang

memiliki anak dengan retardasi mental terdiri dari dua kategori, yaitu problem

focused coping (koping berfolus pada masalah) dan emotion focused coping

(koping berfolus pada emosi).

Skema 3.1 Kerangka Penelitian Strategi mekanisme koping Orangtua yang memiliki Anak DenganRetarsai Mental.

Strategi Mekanisme koping orang

tua dengan anak retardasi mental 1. Koping berfokus pada masalah

(36)

2. Definisi Operasional

No Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Skala

1.

Strategi Mekanisme Koping

Cara yang digunakan

orangtua dalam

menghadapi anak retardasi mental di sekolah luar biasa(SLB) E Negeri Kecamatan Sei Agul Medan. Untuk

menangani dab

beraptasi dengan sters terkait anak retardasi mental.berfokus pada masalah adalah usaha orangtua untuk memperbaiki situasi dengan membuat perubahan.berfokus pada emosi adalah cara yang tidak memperbaiki masalah tetapi orangtua merasa lebih baik.

(37)

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif

yang bertujuan untuk mengetahui strategi mekanisme koping orang tua yang

memiliki anak dengan retardasi mental di SLB E Negeri Kecamatan Sei Agul

Medan .

2. Populasi, sampel, dan tehnik sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah orang tua yang memiliki anak

retardasi mental yang ada di SLB E Negeri Kecamatan Sei Agul Medan. Jumlah

anak retardasi mental yang ada di SLB E Negeri Kecamatan Sei Agul Medan

adalah 30 orang, pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik

total sampling yaitu semua orang tua yang memenuhi kriteria dijadikan sampel

penelitian. adapun kriteria sampel penelitian dalah sebagai berikut:

a. Orangtua(ibu) yang memiliki anak retardasi mental ringan

b. Orangtua (ibu) yang tinggal bersama dengan anak retardasi mental yang

bersekolah di SLB E negeri Kecamatan Sei Agul medan..

c. Orangtua ( ibu) yang bersedia menjadi responden

d. Usia anak retardasi mental 6 - 13 tahun.

3. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian akan dilaksanakan di SLB E Negeri kecamatan Sei Agul

(38)

kecamatan Sei Agul Medan memiliki jumlah sampel penelitian yang memadai

sesuai dengan kriteria sampel penelitian, disamping itu lokasi yang mudah

dijangkau peneliti,sehingga peneliti memilih lokasi ini sebagai tempat peneliti.

Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Maret - April 2015.

4. Pertimbangan Etik Penelitian

Penelitian ini menyertakan sebuah lembar persetujuan peneliti berdasarkan

prinsip etik yaitu Informed consent yaitu, lembar persetujuan yang diberikan

kepada responden bertujuan untuk mengetahui maksud peneliti. Jika subjek

bersedia menjadi responden, maka harus menandatangani lembar persetujuan

menjadi responden. Jika menjadi responden, maka peneliti tidak akan memaksa

dan tetap menghormati haknya, danAnonimityyaitu, peneliti tidak mencantumkan

nama responden pada lembar pengumpulan data, tetapi akan memberikan kode

pada masing-masing lembar persetujuan tersebut. Confidentiality yaitu, penelitian

menjamin kerahasiaan informasi responden dan kelompok data tertentu yang

dilaporkan sebagai hasil penelitian. Beneficience, selalu berupaya bahwa kegiatan

yang diberikan kepada responden mengandung prinsip kebaikan bagi responden

guna mendapatkan suatu metode atau konsep baru untuk kebaikan responden.

Nonmalaficience yaitu, penelitian yang digunakan tidak mengandung unsur

bahaya atau merugikan apabila sampai mengancam jiwa bagi responden. Veracity

yaitu, penelitian yang dilakukan harus dijelaskan secara jujur tentang manfaat,

efek dan apa yang didapat jika responden terlibat di dalam penelitian tersebut.

(39)

melaksanakan prinsip justice (keadilan) pada saat melakukan penelitian (Hidayat,

2007).

5. Instrumen Penelitian

Instrumen peneliti diperoleh dengan menggunakan instrumen penelitian

berupa kuesioner. Instrumen ini terdiri dari dua bagian, yang pertama kuesioner

yang berkaitan dengan data demografi responden dengan 8 pertanyaan meliputi

usia orangtua, jenis kelamin, agama, suku, pendidikan, pekerjaan,penghasilan

perbulan,jumlah anak. Bagian kedua yaitu kuesioner yang berisi tentang

pertanyaan yang mengidentifikasi mekanisme koping orangtua yang memiliki

anak dengan retardasi mental. Kuesioner mekanisme koping dimodifikasi dari

Ways of Coping Questionare yang disusun oleh S. Folkam dan R.S Lazarus

(1984) Kuesioner ini terdisri dari 22 pernyataan mengenai mekanisme koping.

Skala pengukuran untuk instrument penelitian yang digunakan untuk

mengidentifikasi strategi mekanisme koping yaitu dengan skala nominal dengan

jawaban Ya dan Tidak. Dengan nilai Ya 1 dan Tidak 0.

6. Validitas dan Realibilitas

6.1 Uji Validitas

Uji validitas instrumen menyatakan yang seharusnya di ukur. Sebuah

instrumen dikatakan valid jika instrumen tersebut dapat mengukur yang

seharusnya diukur menurut situasi dan kondisi tertentu (Nursalam, 2011).

Kuesioner ini divalidasi pada ahli dosen Fakultas Keperawatan, Departemen

(40)

M. Nurs.dilakukan dengan menguji setiap bitir instrument pengumpulan data.

Kuesioner dikatakan valid jika bernilai > 0,632.

Nilai validitas pada kuesioner Mekanisme kopng adalah 0,750, maka

dapat dikatakan bahwa instrument telah valid.

6.2 Uji Realibilitas

Uji realibilitas dilakukan terhadap 10 orangtua anak retardasi mental yang

berada di SLB E yang berada diluar sampel penelitian yang memiliki kriteria yang

sama dengan sama. Uji ini dilakukan pada saat sebelum penelitian dengan

menggunakan rumus KR–21. Uji reabilitas dalam peneltian ini dilakukan dengan

pemberian kuesioner kepada 10 orang responden. Dikatakan reliable bila hasilnya

bernilai > 0,632 ( Arikunto, 2006). Uji realibilitas ini menggunakan rumus KR- 21

realiabilitas dengan hasil 0,71. Hasil yang didapat sudah reliabel sehingga

instrument layak untuk diberikan pada responden.

7. Pengumpulan Data

Proses pengumpulan data dimulai dengan peneliti mengajukan surat izin

kepada Fakultas Keperawatan USU untuk pengambilan data penelitian kesekolah

yang dituju kemudian izin kepada kepala sekolah SLB E Negeri Kecamatan Sei

Agul Medan dengan menyertakan surat izin dari Fakultas Keperawatan USU.

Setelah mendapatkan izin dari kepala sekolah SLB E Negeri Kecamatan Sei Agul

Medan peneliti melihat cacatan data tentang semua anak dengan Retardasi mental

di yayasan tersebut. Data diambil terdiri dari nama anak retardasi mental, umur,

(41)

pendekatan dengan responden dan menjelaskan tujuan, manfaat peran serta

responden selama penelitian. Peneliti menjamin kerahasian responden dan hak

responden untuk menolak menjadi responden. Bila responden menyetujui maka

penelitian meminta responden untuk menandatangani lembar persetujuan menjadi

responden.

Responden diberi kuesioner untuk diisi selama 20 menit sendiri oleh

responden, Peneliti menjelaskan cara pengisian kuesioner dan menginformasikan

agar kuesioner diisi, penelitian memandu responden dalam mengisi kuesioner.

8. Analisis data

Analisa data adalah proses mengelola data dan menginterpretasikan hasil

pengolahan data (Priyatno, 2008). Setelah data terkumpul, maka peneliti

melakukan analisa masalah melalui beberapa tahap. Pertama, peneliti memeriksa

identitas responden dan memastikan semua data telah terisi. Setelah itu, data yang

akan diberi kode terhadap pertanyaan yang telah diajukan untuk mempermudah

tabulasi dan analisa. Selanjutnya memasukkan data kedalam komputer dan

melakukan penggolongan data dengan menggunakan program statistik.

Penggelolahan data dengan data deskriptif yang terdiri dari frekuensi dan

presentase untuk melihat strategi mekanisme koping orang tua yang memiliki

(42)

Dalam bab ini diuraikan hasil penelitian mengenai strategi mekanisme

koping orang tua yang memiliki anak dengan retardasi di sekolah luar biasa

(SLB) Negeri Sei Agul Medan yang diperoleh melalaui proses pengumpulan data

yang dilakukan pada bulan. Maret - April 2015

1.1 Karakteristik Responden

Pada penelitian ini jumlah responden strategi mekanisme koping orang tua

yang memiliki anak retardasi mental berjumlah 30 orang. Adapun karakteristik

responden yang akan di paparkan mencakup usia ibu , jenis kelamin, agama, suku,

pendidikan, pekerjaan, penghasilan perbulan,jumlah anak.

Data yang diperoleh menunjukkan bahwa usia ibu mayoritas adalah 36-45

sebanyak 16 orang (53,3%), Berdasarkan jenis kelamin perempuan dengan

jumlah 30 orang ibu (100%), berdasarkan agama adalah islam dengan jumlah 25

orang ( 83,3%), suku mayoritas yang paling banyak adalah jawa 14 dengan

jumlah 14 orang (46,7%) berdasarkan pendidikan orang tua ibu SMA dengan

jumlah 19 orang ( 63,3%), pekerjaan yang paling banyak adalah ibu rumah tangga

dengan jumlah 22 orang (73,3%) . dan penghasilan perbulan yang paling adalah

<Rp.1.350.000 dengan jumlah 16 orang ( 53,3%), jumlah anak yang yaitu anak

(43)

5.1 Tabel distribusi frekuensi responden berdasarkan data demografi orangtua ibu yang memiliki anak dengan retardasi mental di SLB Negeri sei agul Medan.

Karakteristik Frekuensi (F%) Persentase (%)

Usia 26-35 tahun 36-45 tahun 46-55 tahun Jenis Kelamin Perempuan Agama Islam Kristen protestan Kristen Katolik Suku Jawa Batak Minang DLL Pendidikan Terakhir SD SMP SMA Diploma Sarjana Pekerjaan

Buruh / karyawan Ibu Rumah Tangga

(44)

Jumlah Anak 1-3 4-5 24 6 80 20

5.2 Tabel distribusi Frekuensi dan presentase responden pertanyaan strategi mekanisme koping orangtua yang memiliki anak retardasi mental di Sekolah Luar Biasa (SLB) E Negeri Sei Agul Medan.

No Pertanyaan Ya (F%) Tidak (F%)

Koping Berfokus Pada Masalah

1 Apakah ibu merencanakan masa depan anak ibu?

30 (100) 0

2 Apakah ibu optimis menjalani hidup dengan anak retardasi mental?

25(83,3) 5(16,7)

3 Apakah ibu melampiaskan amarah ketika terjadi masalah kepada orang lain, keluaraga ataupun anak?

11(36,7) 18(60,0)

4 Apakah ibu mengikuti perkumpulan para orangtua retardasi mental?

18(60,0) 12(40,0%)

5 Apakah ibu selalu mencari informasi terkait anak retardasi mental?

24(80,0) 6 (20,0)

6 Apakah ibu berkonsultasi dengan dokter terkait anak ibu?

25(83,3) 5 (16,7)

7 Apakah ibu selalu

membicarakan masalah dengan keluarga dengan mencari informasi?

23 (76,6) 7 (23,3)

8 Apakah ibu memberikan terapi pada anak dalam peningkatan perkembangan anak retardasi mental?

24 (80,0) 6 (20,0)

9 Apakah ibu merasa lebih positif dengan memiliki anak

(45)

retardasi mental?

10 Apakah ibu selalu mengigat kejadian menyedihkan terkait anak retardasi mental?

19 (63,3) 11( 36,7)

11 Apakah ibu selalu sabar dan menerima keadaan anak ibu?

Koping Berfokus Pada Emosi

28 (93,3) 2 (6,7)

12 Apakah ibu selalu

mengalihkan masalah dengan menonton TvTerus- menerus?

30 (100) 0 (0)

13 Apakah ibu merasa tidak mampu dalam mengambil keputusan untu menyelesaikan masalah?

15 (50,0) 15 (50,0)

14 Apakah ibu mencoba untuk melupakan masalah yang ibualami?

22 (73,3) 8 (26,7)

15 Apakah ibu merasa masalah akan teratasi seiring dengan waktuberjalan?

27 (90,0) 3 (10,0)

16 Apakah ibu mengangap masalah yang ibu alami itu mudah untuk di atasi?

19 (63,3) 11 (36,7)

17 Apakah ibu lebih

mendekatkan diri pada Tuhan sejak memiliki anak

retardasi mental?

25 (83,3) 5 (16,7)

18 Apakah ibu berharap tuhan akan memberikan solusi untuk masalah yang saya alami?

29 (96,7) 1 (3,3)

19 Apakah ibu menjadi pribadi yang lebih baik walaupun mempunyai anak retardasi mental?

24 (80,0) 6 (20,0)

20 Apakah ibu menerima anak ibu karena itu adalah anugerah dari tuhan?

(46)

21 Apakah ibu mengkomsumi minuman beralkohol sejak mempunyai anak retardasi mental?

3 ( 10,0) 27 (90,0)

22 Apakah ibu mengkomsumsi obat obatan terlarang sejak mempunyai anak retardasi mental?

1 (3,3) 29 (96,7)

Dari tabel 5.2 dapat kita lihat bahwa semua ibu merencanakan masa depan

anaknya sebanyak 30 (100%) sebagaian besar ibu optimis menjalani hidup dengan

anak retardasi mental 25 (83,3%), ibu berkonsultasi dengan dokter terkait anaknya

25 (83,3%), ibu selalu sabar dan menerima keadaan anak ibu 28 (93,3%). Koping

berfokus pada emosi di dapat bahwa ibu tidak mengalihkan masalah dengan

menonton Tv terus- menerus 30 (100%) sedangkan ibu mencoba untuk melupakan

masalah yang ibu alami 22(73,3%), ibu merasa masalah akan teratasi seiring

dengan waktu berjalan 27 (90,0%), ibu lebih mendekatkan diri pada Tuhan sejak

memiliki anak retardasi mental 25 (83,3%), ibu berharap tuhan akan memberikan

solusi untuk masalah yang saya alami 29 (97,7%), ibu memilih menjadi pribadi

yang lebih baik walaupun mempunyai anak retardasi mental 24( 80,0%), ibu

menerima anak ibu karena itu adalah anugerah dari tuhan 26 (86,7%), kabanyakan

ibu tidak tidak mengkomsumsi minuman beralkohol sejak mempunyai anak

retradasi mental 27 (90,0%), kebanyakan ibu tidak mengkomsusmsi obat-obotan

sejak mempunyai anak retardasi mental 29 (96,7%).

Tabel 1.3 Strategi Mekanisme Koping orang tua yang memiliki anak dengan

retardasi mental di sekolah luar biasa (SLB) E Negeri Kecamatan Sei Agul

[image:46.595.110.531.110.241.2]
(47)

Strategi Mekanisme Koping Orangtua

Frekuensi (%) Persentase (%)

Strategi Koping berfokus pada masalah

22 73

Strategi Koping berfokus pada emosi

8 26

5.2 Pembahasan

1.Starategi Koping berfokus pada masalah

Berdasarkan hasil penelitian, mayoritas ibu dengan anak retardasi mental

memiliki strategi koping yang berfokus pada masalah yaitu sebanyak 22 orang (

73,33%) .hal ini sejalan dengan teori Lazarus dan Folkam (1986) usaha mengatasi

stres dengan cara mengatur atau mengubah masalah yang dihadapi dan

lingkungan sekitarnya yang menyebabkan terjadinya tekanan problem focused

koping ditujukan dengan mengurangi situasi yang penuh dengan stres atau

memperluas sumber untuk mengatasinya, dimana ada beberapa 3 koping yang di

gunakan orang tua saat mengalami masalah, Confrontative Coping usaha untuk

mengubah keadaan yang dianggap menekan dengan cara yang agresif, tingkat

kemarahan yang cukup tinggi, dan pengambilan resiko, Seeking social support

usaha untuk mendapatkan kenyamanan emosional dan bantuan informasi dari

orang lain, Planful problem solving, Usaha untuk mengubah keadaan yang

dianggap menekan dengan cara yang hati-hati bertahap, dan analitis.

Hasil penelitian (Suri,2009) bahwa para orang tua cenderung

menyelesaikan masalah dengan mencari informasi-informasi terkait masalah yang

(48)

pengetahuan bagi orangtua sehingga orangtua lebih mampu menghadapi masalah

yang terjadi terkait anak mereka. Hasil penelitian (Magnawiyah 2013) mempunyai

masalah yang sama, yaitu menghadapi kondisi anak yang tidak dapat di obati

hanya bisa dilakukan dengan terapi yang rutin agar perkembangan dan

pertumbuhan optimal sesuai dengan kondisi anak tersebut serta ditambah dengan

adanya stesor lain, biaya, pandangan masyarakat terhadap dirinya serta

kekhawatiran akan masa dengan anak. Hal ini sejalan juga dengan (Pratiwi, 2014)

menemukan fakta lain bahwa mengenai perilaku koping yang digunakan si ibu

ketika awal mengetahui anaknya down syndrome berbeda-beda, dan perilaku

tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor yang mempengaruhi informan

masing-masing.

Usia sangat berpengaruh terhadap mekanisme koping orang tua, para

responden terbanyak dengan rentang 45-46 sebanyak 16 orang (53,3%), dimana

usia sangat berpengaruh daya tangkap dan pola pikir seseorang semakin

bertambah umur akan seakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirna

sehingga pengetahuan yang di peroleh semakin membaik (Ahyarwahyudi, 2010).

2.Strategi koping berfokus pada emosi

Berdasarkan penelitian strategi koping berfokus pada emosi yaitu

sebanyak 8 orang (26,66%), orangtua yang mengetahui anaknya terdiagnosa

retardassi mental orangtua menggunakan koping berfokus pada emosi,ini di

sebabkan oleh kondisi dimana lingkungan yang tidak mendukung dan

memandang bahwa orangtua ibu dipandang sebelah mata oleh

(49)

lahirkan itu sempurna,tetapi dengan kenyataan bahwa anak mereka mengalami

gangguan dan selalu mengingatnya.

Hal ini sejalan dengan Teori Lazarus dan Folkam(1986) yaitu usaha

mengatasi stres dengan cara mengatur respon emosional dalam rangka

menyesuaikan diri dengan dampak yang dapat ditimbulkan oleh suatu kondisi atau

situasi yang dianggap penuh tekanan.dimana ada 5 cara yang digunakan orangtua

untuk mengatasi emosi Self-control usaha untuk mengatur perasaan ketika

mengetahui situasi yang menekan.Distancing usaha untuk tidak terlibat dalam

permasalahan, seperti menghindar dari permasalahan seakan tidak terjadi apa-apa

atau menciptakan pandangan-padangan yang positif, seperti menganggap masalah

seperti lelucon. Positive reappraisal usaha mencari makna positif dari

permasalahan dengan berfokus pada pengembangan diri, biasanya juga

melibatkan hal-hal yang bersifat religius. Accepting responsibility usaha untuk

menyadari tanggung jawab diri sendiri dalam permasalahan yang dihadapinya dan

mencoba menerima untuk membuat semuanya menjadi lebih baik. Escape /

avoidanceusaha untuk mengatasi situasi menekan dengan lari dari situasi tersebut

atau menghindarinya dengan beralih pada hal lain seperti makan, minum,

merokok, atau menggunakan obat-obatan.

Suri (2009) didapati bahwa orangtua yang memiliki anak down syndrome

di SDLB Negeri 107708 Lubuk Pakam selalu mengingat kejadian menyedihkan

adalah (50,8%) angka ini cukup tinggi. Hal ini dikarenakan kejadian yang

menyakitkan atau menyedihkan sangat sulit untuk dilupakan oleh para orang tua

(50)

menyedihkan terkait anak down syndrome. Penelitian ( Magnawiyah, 2013)

mengatakan dalam menghadapi stressor dengan cara berusaha untuk menyadari

keadaan yang terjadi pada dirinya, menerima keadaan, pasrah den sadar bahwa

anak adalah bagian dari dirinya sebagai tanggung jawab yang harus di jalani. Hal

ini sejalan dengan teori Lazarus dan folkam (1984) bahwa Aceepting

Responsibility merupakan usaha untuk menyadari tanggung jawab diri sendiri dari

permasalahan yang dihadapi dan mencoba menerimanya untuk membuat keadaan

menjadi lebih baik.agama juga sangat berpengaruh terhadap koping yang

digunakan orangtua dimana agama responden mayorits adalah islam sebanayak 25

orang ( 83,3 %), hal ini merupakan penting karena dalam hal mengatasi stress

individu pada ketidakberdayaan yang akan menurunkan kemampuan strategi

(51)

Berdasarkan hasil analisa data dan pembasahan, peneliti dapat mengambil

kesimpulan mengenai Strategi Mekanisme Koping Orangtua Yang Memiliki Anak

Dengan Retardasi Mental di Sekolah Luar Biasa (SLB) E Negeri Kecamatan Sei

Agul Medan. Pada deskripsi karakteristik demografi responden usia orangtua

rentang 36-45 tahun 53,3%, semua responden berjenis kelamin perempuan 100%,

Agama responden mayoritas islam 83,3 %, suku dengan mayoritas jawa 46 %,

pendidikan responden terbanyak adalah Sekolah Menengah Atas (SMA) sebanyak

63,3 %, pekerjaan orangtua mayoritas adalah ibu rumah tangga sabanyak 73,3 %,

penghasilan orangtua mayoritas sebanyak 53,3%, jumlah anak orangtua ibu

mayoritas sebanyak 80 %.

Strategi mekanisme koping yang memiliki anak dengan retardasi mental di

SLB E Negeri Kecamatan Sei Agul Medan adalah strategi koping berfokus pada

masalah (73,33%). Dan strategi mekanisme koping yang memiliki anak dengan

retardasi mental di SLB E Negeri Kecamatan Sei Agul Medan adalah strategi

koping berfokus pada emosi (26,66%).

2.Saran

2.1 Pendidikan Keperawatan

Dalam pendidikan keperawatan khususnya keperawatan anak dan jiwa

perlu memberikan penekanan materi tentang strategi mekanisme koping orang tua

yang memiliki anak dengan retardasi mental, sehingga perawat dapat membantu

(52)

membantu memberikan pendidikan dalam peningkatan stretegi mekanisme koping

melalui intervensi.

2.2 Penelitian Selanjutnya

Penelititian ini mempunyai keterbatasan sehubungan waktu penelitian,

jumlah sampel yang menjadi responden hanya 30 orang yang didapatkan dari satu

SLB, diharapkan pada penelitian selanjutnya diperoleh jumlah sampel yang

memadai sehingga dapat mewakili seluruh populasi dengan menambahkan

jangkauan lokasi penelitian .diiharapkan penelitian selanjutnya untuk menambah

teknik pengambilan data yaitu dengan cara observasi yang berulang terhadap anak

dan juga wawancara

2.3 Bagi SLB E Negeri Kecamatan Sei Agul Medan

Bagi SLB E Negeri Kecamatan Sei Agul medan agar membuat suatu

wadah perkumpulan bagi sesama orangtua anak retardasi mental agar setiap

(53)

Dalami,dkk, 2009. Asuhan keperawatan klien dengan gangguan jiwa. Jakarta timur: CV. Trasn info media.

Gupta, A & Singhal, N. 2004. Positive perception in parents Of Children with Disabilities. Asian Pasific Disability Rehabilitation journal, 15 (1), 22-23. Diakses pada 23 Oktober 2014

http://. Aifo.it/resources/apdrj/apdrj04/positiveperception.pdf.

Hidayat, 2007. Metode penelitian keperawatan dan teknil analisis data. Jakarta : Salemba Medika.

Jones, J. & Passyey, J. 2003. Family adaption, coping and resources; parents Of Children with developmental disabilities and behaviour problem. Journal on Development disabilities, II (1), 32-43. Diakses pada tanggal 20

Oktober 2014.

http://www.oadd.org/publications/journal/issues/volllno1/download/jones &passey.pdf

Keliat, Budi Anna. 1998. Gangguan Konsep Koping, citra Tubuh dan Seksual pada Klien Kanker. Jakarta. : EGC

Kozier, B. & Erb, G. 2004. Fundamental Of Nursing: concept and procedure, Third Edition, USA; Addison- Wesley publishing. Inc.

Latief, Abdul dkk. (2007). Buku kuliah 1 ilmu keperawatan anak, Jakarta: Penerbit bagian ilmu Kesehatan Anak FKUI

Lazarus Richard S dan Folkam susan 1984.stress, appraisal, and coping: New York, Springer Publishing Company, Inc.

Lumbangtobing, S. M. 2006.Anak dengan mental terbelakangan. Jakarta : Balai penerbit FKUI.

Mangungsong, F. 2012. Psikologi dan pendidikan anak berkebutuhan khusus. Depok:LPSP3 UI.

Muhammad, Jamila,K. A, 2008.Spesial Education For Speacial Children, Jakarta: Hikmah PT. Mijan Publika.

Musfichin,( 2013).Pola Asauh Orangtua: Studi Keluarga Dengan Anak Retardasi Mental.Tesis Fakultas Psikologi UGM. Yogyakarta.

Magnawiyah, 2013. Strategi Koping Orang Tua Pada Anak Yang Menderita Sindrom Down di Sekolah Luar Biasa Negeri 1 Jakarta Lebak Bulus Jakarta, Tesis Universitas islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Nursalam, 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi penelitian Ilmu keperawatan. Jakarta selatan.Salemba media.

Pritzlaff, a. l. 2001.Examining the coping strategis of parents who have children with disabilities. Diakses pada tanggal 15 Oktober 2014. http://www.uvstour.edu/lib/thesis/2001/2001pritzlafa.pdf.

Priyatno, dwi. 2008. Mandiri belajar spss. Mediakom: Yogyakarta.

(54)

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Rasmun, 2001. Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi Dengan Keluarga. Jakarta Edisi I. CV. Sagung Seto.

Rusman, 2004.Sters. Koping dan adaptasi.Jakarta: Sagung seto.

Somantri, 2007.Psikologi anak luar biasa. Bandung: PT Refika Arditama Stuart,2007. Buku saku keperawatan jiwa, Ed. 5. Jakarta: EGC

Stuartd & Sundeen, dalam Nasir abdul dan muhith abdul, 2011. Dasar-dasar keperawatan jiwa: pengantar dan teori. Jakarta: Salemba medika.

Sudjana. (2005).Metode Statika. Bandung: Tarsito

Suliswati, dkk. (2005).Konsep Dasar Keperawatan Jiwa, Jakarta : EGC

Suri, D. P., Wardiyah P. 2012. Mekanisme Koping pada Orang Tua yang Memiliki Anak Down Syndrome di SDLB Negeri 107708 Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang. Jurnal Keperawatan Vol. 1, No. 1.Universitas Sumatra Utara.

Taylor, L., Lilis, C., & Lemone, P.L. 1997. Fundamental Of Nursing; The Art And Science Of Nursing Care. Philadelphia, New York; Lippincott.

Wells, J.A, . Sullivon, A. , & Diamond, T 2003. Parents stress and adaptive functioning of indicluals With Developmental Disabilities. Juornal On Developmental Disablities, volume 10, number 1, Diakses

pada tanggal 20 Oktober 2014.

http://www.oadd.org/publications/journal/issues/vol10noldownload/werss. sullivand&diamond.pdf.

(55)

Saya bernama Sopiyan Hadi Sirait / 111101094 adalah mahasiswa

Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera

Utara ingin melakukan penelitian Strategi Mekanisme Koping Orang Yang

Memiliki Anak Dengan Retardasi Mental di Sekolah Luar Biasa (SLB) E

Negeri Kecamatan Sei Agul Medan

Penelitian ini merupakan salah satu kegiatan dalam menyelesaikan

tugas akhir di Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Keperawatan

Universitas Sumatera Utara. Peneliti menjamin bahwa penelitian yang

dilakukan tidak akan menimbulkan dampak negatif kepada anda sebagai

responden. Untuk keperluan tersebut, saya mengharapkan kesediaan anda

sebagai orangtua untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Jika anda bersedia,

peneliti akan memberikan kuesioner yang berisikan pernyataan dan pernyataan

yang terbagi atas 3 bagian yaitu data demografi, kuesioner Koping berfokus

pada masalah dan koping berfokus pada emosi Anda diharapkan menjawab

pertanyaan dengan jujur, apa adanya sesuai dengan situasi saat ini.

Partisipasi dalam penelitian ini bersifat sukarela, sehingga anda bebas

untuk mengundurkan diri setiap saat tanpa ada sanksi apapun. Semua informasi

yang diberikan akan dirahasiakan dan hanya akan dipergunakan dalam

penelitian ini.

Terima kasih atas partisipasi anda dalam penelitian ini.

Peneliti

(56)

Dengan Retardasi Mental di Sekolah Luar Biasa (SLB) E Negeri Kecamatan

Sei Agul Medan”

maka saya dengan sukarela dan tanpa paksaan menyatakan

bersedia menjadi responden dalam penelitian tersebut.

Medan,

Responden

(57)

Kode:

Tanggal:

Bagian 1:Kuesioner Data Demografi

Petunjuk:

a. Berikan tanda checklist () pada kota pilihan yang sesuai dengan ibu

b. Bila ada yang kurang dimengerti dapat ditanyakan pada peneliti

1. Usia orangtua : tahun

2. Jenis kelamin : Laki-laki

: Perempuan

3. Agama : Islam

: Kristen Protestan

: Kristen Katolik

5. Suku :

:Jawa

:Batak

:Minang

(58)

7. Pekerjaan :Buruh/Karyawan Ibu rumah tangga

Pegawai swasta PNS

Wiraswastann

8.Penghasilan perbulan : < Rp.1.350.000

Rp.1.3.50.000- Rp. 2.500.000

Rp. 2.500.000- Rp. 3.500.000

>Rp.3.500.000

(59)

() pada kolom Ya atau Tidak sesuai dengan pendapat Saudara/i.

Apa yang bapak/ibu lakukan dalam menghadapi masalah terkait anak retardasi

No Pertanyaan Ya Tidak

Koping Berfokus Pada Masalah (Problem focuses coping)

1 Apakah ibu merencanakan masa depan anak ibu?

2 Apakah ibu optimis menjalani hidup dengan anak retardasi mental?

3 Apakah ibu melampiaskan amarah ketika terjadi masalah kepada orang lain, keluaraga ataupun anak?

4 Apakah ibu mengikuti perkumpulan para orangtua retardasi mental?

5 Apakah ibu selalu mencari informasi terkait anak retardasi mental?

6 Apakah ibu berkonsultasi dengan dokter terkait anak ibu? 7 Apakah ibu selalu membicarakan masalah dengan keluarga

dengan mencari informasi?

8 Apakah ibu memberikan terapi pada anak dalam peningkatan perkembangan anak retardasi mental?

9 Apakah ibu merasa lebih positif dengan memiliki anak retardasi mental?

10 Apakah ibu selalu mengigat kejadian menyedihkan terkait anak retardasi mental?

11 Apakah ibu selalu sabar dan menerima keadaan anak ibu?

Koping Berfokus Pada Emosi(Emotion focused emotion)

12 Apakah ibu selalu mengalihkan masalah dengan menonton Tv

Terus- menerus?

13 Apakah ibu merasa tidak mampu dalam mengambil keputusan untuk

menyelesaikan masalah?

14 Apakah ibu mencoba untuk melupakan masalah yang ibu alami?

15 Apakah ibu merasa masalah akan teratasi seiring dengan waktu berjalan?

(60)

masalah yang saya alami?

19

Apakah ibu menjadi pribadi yang lebih baik walaupun mempunyai

anak retardasi mental?

20 Apakah ibu menerima anak ibu karena itu adalah anugerah dari tuhan?

21 Apakah ibu mengkomsumsi minuman beralkohol sejak mempunyai

anak retardasi mental?

22 Apakah ibu mengkomsumsi obat-obatan terlarang sejak mempunyai

(61)
(62)
(63)
(64)
(65)
(66)

Gambar

Tabel 1.3 Strategi Mekanisme Koping orang tua yang memiliki anak dengan

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan problem focused coping lebih efektif dalam menurunkan stres pengasuhan pada orangtua yang memiliki anak retardasi mental dari

Dari penelitian diperoleh hasil sebanyak 30 orang tua (100 %) memiliki spiritualitas yang tinggi dan sebanyak 22 orang (73,3 %) menunjukkan perilaku adaptif anak

Hasil penelitian menunjukkan: Pola asuh orang tua anak retardasi mental di SLB Kota Padang hampir separuhnya adalah demokratis, perkembangan sosial anak retardasi mental di SLB

Hasil penelitian menunjukkan: Pola asuh orang tua anak retardasi mental di SLB Kota Padang hampir separuhnya adalah demokratis, perkembangan sosial anak retardasi mental di SLB

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dijabarkan sebelumny, dapat disimpulkan bahwa sumber stres orang tua dengan anak retardasi mental adalah

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sirait (2015) yang berjudul Strategi Mekanisme Koping Orang Tua yang memiliki Anak dengan Retardasi Mental

Abstrak: Retardasi mental adalah suatu kondisi yang ditandai oleh intelegensi yang rendah yang menyebabkan ketidakmampuan individu untuk belajar dan beradaptasi

Hasil tersebut menyatakan bahwa keeratan hubungan antara tingkat pengetahuan tentang retardasi mental dengan mekanisme koping pada orang tua anak penyandang retardasi mental di