SKRIPSI
oleh
SOPIYAN HADI SIRAIT 111101094
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
SKRIPSI
oleh
SOPIYAN HADI SIRAIT 111101094
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Yang Maha Esa yang telah memberikan berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis
dapat menyelesaikan penulisan skripsiyang berjudul “Strategi mekanisme Koping
Orangtua Yang Memiliki Anak Dengan Retardasi Mental di Sekolah Luar Biasa
(SLB) E Negeri Sei Agul Medan”. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat
untuk menyelesaikan pendidikan dan mencapai gelar sarjana di Fakultas
Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Penyusunan skripsi ini telah banyak
mendapat bantuan, bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena
itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. dr. Dedi Ardinata, M.Kes sebagai Dekan Fakultas Keperawatan Universitas
Sumatera Utara.
2. Ibu Erniyati, S.Kp, MNS selaku Pembantu Dekan I Fakultas Keperawatan
Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Evi Karota Bukit, S.Kp, MNS selaku Pembantu Dekan II Fakultas
Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Ikhsanuddin Ahmad Harahap, S.Kp, MNS selaku Pembantu Dekan III
Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
5. Ibu Farida Linda Sari Siregar, S.Kep., Ns., M.Kep selaku dosen pembimbing
skripsi yang telah menyediakan waktu serta dengan penuh keikhlasan dan
kesabaran telah memberikan arahan, bimbingan dan ilmu yang bermanfaat
yang telah banyak mendidik penulis selama proses perkuliahan.
9. Terimah kasih yang sebesar- besarnya kepada kedua orang tua yaitu Umar.
Sirait dan Rusmi.Sinaga. atas dukungan secara moral dan materil.
10.Terimah kasih kepada teman- teman sejawat S1 Keperawatan yang telah
membantu dan memeberikan motivasi selama ini
Penulis menyadari skripsi ini masih banyak kekurangan dan kelemahan
serta masih diperlukan penyempurnaan, hal ini tidak terlepas dari keterbatasan
kemampuan, pengetahuan dan pengalaman yang penulis miliki. Sebelumnya
penulis ucapkan terimakasih.
Medan, 05 Juli 2015
Penulis,
HALAMAN PENGESAHAN... ii
PRAKATA ... iii
DAFTAR ISI……….. vi
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR SKEMA... ix
ABSTRAK... x
BAB 1. PENDAHULUAN... 1
1. Latar Belakang ... 4
2. Rumusan Masalah ... 4
3. Tujuan Penelitian... 4
4. Manfaat Penelitian... 5
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA... 6
1. Mekanisme Koping ... 6
1.1 Definisi Koping ... 6
1.2 Mekanisme Koping ... 7
1.3 Penggolongan Mekanisme Koping... 7
1.4 Strategi Mekanisme Koping... 8
1.5. Respon Koping... 10
1.6. Sumber Koping ... 11
2. Retardasi Mental ... 12
2.1. Definisi Retardasi Mental ... 13
2.2. Diagnosa Retardasi Mental... 13
2.3. Karakteristik Retardasi Mental ... 14
2.4. Klasifikasi Retardasi Mental ... 16
2.5. Penyebab Retardasi Mental ... 18
2.6. Dampak Retardasi Mental Bagi Orang Tua ... 20
2.7. Perawatan Retardasi mental... 22
BAB 3. KERANGKA PENELITIAN... 23
1. Kerangka Konsep... 23
2. Definisi Operasional... 25
BAB 4. METODOLOGI PENELITIAN... 25
1. Desain Penelitian... 25
2. Populasi dan Sampel ,teknik sampel ... 25
3. Lokasi dan Waktu Penelitian... 25
4. Pertimbangan Etik ... 26
5. Instrumen Penelitian... 27
6. Validitas dan Reliabilitas ... 27
7. Pengumpulan Data ... 28
2. Pembahasan... 35
2.1 Strategi Koping koping berfokus pada masalah……...……... 35
2.2 Strategi Koping berfokus pasa emosi………..…... 46
BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN... 39
1. Kesimpulan………..…..…... 39
2. Saran ………....………... 39
Daftar Pustaka... 41 LAMPIRAN- LAMPIRAN
1. Lembar penjelasan kepada calon subjek penelitian 2 .Lembar persetujuan menjadi subjek penelitian 3. Instrumen penelitian
4.Ethical clearance
5. Surat izin penelitian dari Fakultas Keperawatan USU 6. Surat telah menyelesaikan penelitian
7. Pernyataan telah melakukan uji validitas 8. Hasil uji reliabilitas
9.Master table
10. Hasil penelitian
11. Jadwal tentatif penelitian 12. pengeluaran dana
Nim : 111101094
Fakultas : Keperawatan USU
ABSTRAK
Hambatan perkembangan berpengaruh terhadap dinamika keluarga khususnya stres orangtua. Orangtua dengan anak retardasi mental beresiko mengalami peningkatan stres psikologik dibandingkan dengan orangtua yang memiliki anak dengan kondisi perkembangan normal. Mekanisme koping yang digunakan oleh setiap orangtua berbeda-beda, termasuk orangtua yang memiliki anak dengan retardasi mental, biasanya mekanisme koping yang mereka digunakan tergantung dari tingkat ansietas, ancaman, dan terlibat mekanisme koping. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi strategi mekanisme koping orangtua yang memiliki anak dengan retardasi mental di sekolah luar biasa (SLB) E Negeri Sei Agul Medan. Penelitian ini menggunakan dengan desain deskriktif, instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 30 orangtua yang memiliki anak retardasi mental di Sekolah Luar Biasa (SLB) E Negeri Sei Agul Medan. Pengambilan sampel menggunakan dengan teknik total sampling. Dari hasil penelitian di peroleh bahwa 22 orangtua ibu (73,33%) memiliki koping berfokus pada masalah dan orang tua yang memiliki koping berfokus pada emosi sebanyak 8 orangtua ibu (26,66%). Hasil penelitian diharapkan dapat menambah pengetahuan orangtua ibu terkait strategi mekanisme koping yang memiliki anak dengan retardasi mental.
Faculty : the Faculty of Nursing, USU
ABSTRACT
Development impediment influences family dynamics, especially parents’ stress. Parents who have mental retarded child have the risk for being affected by psychological stress, compared with those who have normal children. Coping mechanism used by parents varies. Parents who have mental retarded children usually use coping mechanism which depends on the level of anxiety, threat, and involving coping mechanism. The objective of the research was to identify the strategy of coping mechanism of parents who had mental retarded children at SLB E Negeri Sei Agul, Medan. The research used descriptive design with questionnaires. The samples were 30 parents who had mental retarded children at SLB E Negeri Sei Agul, Medan, taken by using total sampling technique. The result of the research showed that 22 respondents (73.33%) used problematic coping, and 8 respondents (26.66%) used emotional coping. The result of the research was expected to increase the knowledge of coping mechanism strategy of parents who had mental retarded children.
Setiap orangtua pada dasarnya mengharapkan anak dengan perkembangan
fisik, psikologi, dan kognitif yang sempurna. Orangtua akan sulit menerima realita
apabila melahirkan anak dalam kondisi yang tidak sempurna atau mengalami
hambatan perkembangan (Mangunsong, 2012). Hambatan perkembangan
berpengaruh terhadap dinamika keluarga khususnya stres orangtua. Orangtua
dengan anak retardasi mental beresiko mengalami peningkatan stres psikologik
dibandingkan dengan orangtua yang memiliki anak dengan kondisi perkembangan
normal (William & Wilkins (2003 dalam Jonston & Hessel 2004)
Anak dengan taraf perkembangan dan jenis masalah yang berbeda
memerlukan pengertian dan penanganan khusus dari orangtua serta tidak
memberikan label kelainan tingkah laku pada anak secara umum pada semua
tahap perkembangan (Latief dkk., 2007). Retardasi mental adalah kondisi
perkembangan mental yang terhenti atau tidak lengkap, terutama tidak adanya
hendaya dan keterampilan selama perkembangan, sehingga berpengaruh pada
semua tingkat intelegensia yang meliputi kemampuan kognitif, bahasa, motorik,
dan sosial (WHO Geneva, 1992).
Prevalens retardasi mental pada anak-anak dibawah umur 18 tahun di
Negara maju diperkirakanmencapai 0,5-2,5% , di negara berkembang berkisar
anak dalam 20 tahun terakhir.Angka kejadian anak retardasi mental berkisar 19
per 1000 kelahiran hidup. Banyak penelitian melaporkan angka kejadian retardasi
mental lebih banyak pada anak laki-laki dibandingkan perempuan ( Kadim, &
Sulary sunarwati, 2000).
Orangtua yang memiliki anak dengan retardasi mental dapat mengalami
pengalaman yang menyedihkan dan proses berduka yang panjang. Proses berduka
meliputi emosi seperti ambivalen, mengingkari (denial), rasa bersalah, rasa malu,
rasa kasihan terhadap diri sendiri, berdukacita, depresi, dan keinginan agar
anaknya meninggal dunia (Dalami dkk., 2004). Hauser et al., (2001 dalam
Sullivan, Weiss dan Diamond, 2003) menyatakan orangtua dengan anak retardasi
mental biasanya memiliki tingkat stres yang tinggi dibandingkan dengan orangtua
yang memiliki anak normal. Meningkatnya tingkat stres dihubungankan dengan
karakteristik perilaku anak (stres dihubungkan dengan anak) dan kemampuan
koping (stres dihubungkan dengan orangtua).
Perbedaan tingkat stres yang dialami keluarga dapat disebabkan oleh
perbedaan atau kombinasi faktor-faktor yang unik tiap individu dalam keluarga
seperti waktu hadirnya stres dalam siklus hidup keluarga, kombinasi stres atau
faktor yang berkontribusi pada kemampuan keluarga untuk beradaptasi dengan
situasi stres. Tingkat stres yang dialami oleh orangtua juga dipengaruhi oleh
perilaku anak dan krakteristik personal (Prizlat, 2001).
Faktor yang menentukan stres keluarga terhadap anak yang mengalami
gangguan perkembangan mental berbanding lurus dengan dukungan yang dapat
internal, dukungan sosial eksternal, dan sumber keuangan. Persepsi positif
dipandang sebagai faktor yang memperbaiki dampak dari anak dengan gangguan
mental terhadap anggota keluarga dan dapat membantu mengatasi peristiwa stres
dengan lebih baik (Gupta & Singhall, 2004). Sadock & Virginia (2007)
menyatakan penerimaan orangtua merupakan suatu respon koping dimana
individu menerima kenyataan dari suatu situasi yang menekan sebagai suatu usaha
dalam menghadapi situasi tersebut. Penerimaan terjadi dalam keadaan dimana
masalah merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari dan bukan hal yang dapat
berubah.
Individu dapat menyesuaikan diri dengan diri sendiri, masyarakat, dan
lingkungan sebagai perwujudan keharmonisan fungsi mental dan kesanggupan
dalam menghadapi masalah yang biasa terjadi. Individu merasa puas dan mampu,
jika berada pada kondisi stres ia akan menggunakan satu atau lebih sumber
koping yang tersedia (Rusman, 2001). Koping dapat diartikan sebagai suatu sikap
yang ditunjukkan seseorang dalam menghadapi situasi stres yang mengancam
dirinya baik fisik maupun secara psikologis (Keliat, 1998). Mekanisme koping
yang digunakan oleh setiap orang berbeda-beda, termasuk orangtua yang memiliki
anak dengan retardasi mental, biasanya mekanisme koping yang mereka
digunakan tergantung dari tingkat ansietas, ancaman, dan terlibat mekanisme
koping (Taylor, Lilis dan Lemon, 1997). Mekanisme koping pada orangtua
meliputi koping adaptif dan maladaptif. koping yang adaptif dapat membantu
masalah yang dialami. Sedangkan koping maladaptif menimbulkan stres bagi
individu dan keluarga (Stuart & sudden, 1995).
Kenyataannya tidak semua orangtua yang memiliki anak dengan retardasi
mental menggunakan mekanisme koping dengan adaptif. Hal ini dapat berubah
sesuai dengan bergantinya waktu, bertambahnya pengetahuan orangtua, dan sosial
yang mendukung perubahan tersebut.
Suri (2009) melakukan penelitian di Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB)
Negeri 1077708 Kabupaten Deli Serdang menunjukkan bahwa mekanisme koping
orang tua yang memiliki anak down syndrom 98,4% koping adaptif dan 1,6%
memiliki maladaptif.
Berdasarkan hal tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
mengenai strategi mekanisme koping orangtua yang memiliki anak dengan
retardasi mental.
2.Rumusan Masalah
Bagaimana strategi mekanisme koping orangtua yang memiliki anak
dengan retardasi mental di Sekolah Luar Biasa E Negeri Kecamatan Sei Agul
Medan?
3. Tujuan penelitian
Mengidentifikasi gambaran strategi mekanisme koping orangtua yang
memiliki anak dengan retardasi mental di Sekolah Luar Biasa E Negeri
4. Manfaat penelitian
4.1. Pendidikan Keperawatan
Menjadikan bahan untuk memperluas wawasan dan memperdalam kajian
tentang strategi mekanisme koping orangtua yang memiliki anak dengan retardasi
mental.
4.2 Pelayanan keperawatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi perawat
dalam memahami strategi mekanisme koping orangtua yang memiliki anak
dengan retardasi mental dan memberikan asuhan keperawatan sesuai mekanisme
koping yang dimiliki orangtua dengan anak retardasi mental.
4.3 Penelitian keperawatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan rujukan bagi
peneliti keperawatan untuk melakukan penelitian dengan strategi mekanisme
1.1 Definisi Koping
Koping adalah perubahan kognitif dan perilaku secara konstan dalam
upaya untuk mengatasi tuntunan internal dan atau tuntunan eksternal khusus yang
melelahkan atau melebihi individu (Lazarus& Foklman, 1985). Koping juga dapat
digambarkan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan masalah dan situasi, atau
menghadapinya dengan berhasil/sukses (Kozier, 2004). Sedangkan koping
menurut Rasmun (2004) adalah proses yang dilalui oleh individu dalam
menyelesaikan situasi stres. Koping tersebut merupakan respon individu terhadap
situasi yang mengancam dirinya baik fisik maupun psikologis.
1.2 Mekanisme Koping
Mekanisme koping adalah cara yang digunakan individu dalam
menyelesaikan masalah, mengatasi perubahan yang terjadi, dan situasi yang
mengancam, baik kognitif maupun perilaku (Stuartd dan Sundeen, 1995).
Suliswati dkk (2005) mengemukan bahwa mekanisme koping merupakan suatu
cara pemecahan masalah dimana bila didalam tubuh mengalami ketegangan dalam
kehidupan, mengakibatkan mekanisme koping dalam tubuh berfungsi untuk
meredakan ketegangan tersebut. Mekanisme koping itu sendiri dapat diartikan
dengan sebagai cara yang dilakukan individu dalam me nyelesaikan masalah,
menyesuaikan diri dengan perubahan, serta respon terhadap situasi yang
1.3 Penggolongan Mekanisme Koping
Penggolongan mekanisme koping dibagi menjadi dua. Stuard dan Suddeen
(1995) mengemukan dua penggolongan mekanisme koping, yaitu:
A. Mekanisme koping adaptif
Mekanisme koping adaptif merupakan koping yang mendukung
fungsi integrasi, pertumbuhan, belajar, dan mencapai tujuan. Kategorinya
adalah berbicara dengan orang lain, memecahkan masalah secara efektif,
teknik relaksasi, latihan seimbang, dan aktivitas konstruktif.
B. Mekanisme koping maladaptif
Mekanisme koping maladaptif merupakan mekanisme koping yang
menghambat fungsi integrasi, memecah pertumbuhan, menurunkan
otonomi, dan cenderung menguasai lingkungan. Kategorinya adalah
makan berlebihan/ tidak makan, bekerja berlebihan, menghindar.
Mekanisme koping dapat dibagi menjadi mekanisme koping jangka
pendek dan panjang. Mekanisme koping jangka panjang merupakan cara
konstruktif dan realistis. Sebagai contoh dalam situasi tertentu berbicara dengan
orang lain tentang masalah dan mencoba untuk menemukan lebih banyak
informasi tentang situasi. Mekanisme koping selanjutnya adalah mekanisme
koping jangka pendek, cara ini digunakan untuk mengurangi stres untuk
1.4 Strategi mekanisme koping
Folkman dan Lazarus (1984) metode koping terdapat dua strategi yang
bisa dilakukan:
A. Koping berfokus pada masalah (problem focused coping)
Problem focused koping yaitu usaha mengatasi stres dengan cara
mengatur atau mengubah masalah yang dihadapi dan lingkungan
sekitarnya yang menyebabkan terjadinya tekanan problem focused koping
ditujukan dengan mengurangi demand dari situasi yang penuh dengan
stres atau memperluas sumber untuk mengatasinya. Strategi yang dipakai
dalam problem focused coping antara lain sebagai berikut:
1) Confrontative Coping
Usaha untuk mengubah keadaan yang dianggap menekan dengan
cara yang agresif, tingkat kemarahan yang cukup tinggi, dan pengambilan
resiko.
2) Seeking social support
Usaha untuk mendapatkan kenyamanan emosional dan bantuan
informasi dari orang lain
3) Planful problem solving
Usaha untuk mengubah keadaan yang dianggap menekan dengan
B. Koping berfokus pada emosi (Emotion focused coping)
Emotion focused coping yaitu usaha mengatasi stres dengan cara
mengatur respon emosional dalam rangka menyesuaikan diri dengan
dampak yang dapat ditimbulkan oleh suatu kondisi atau situasi yang
dianggap penuh tekanan. Strategi yang digunakan dalam emotion focused
copingantara lain sebagai berikut:
1) Self-control
Usaha untuk mengatur perasaan ketika mengetahui situasi yang
menekan.
2) Distancing
Usaha untuk tidak terlibat dalam permasalahan, seperti menghindar
dari permasalahan seakan tidak terjadi apa-apa atau menciptakan
pandangan-padangan yang positif, seperti menganggap masalah seperti
lelucon.
3) Positive reappraisal
Usaha mencari makna positif dari permasalahan dengan berfokus
pada pengembangan diri, biasanya juga melibatkan hal-hal yang bersifat
religius.
4) Accepting responsibility
Usaha untuk menyadari tanggung jawab diri sendiri dalam
permasalahan yang dihadapinya dan mencoba menerima untuk membuat
5) Escape / avoidance
Usaha untuk mengatasi situasi menekan dengan lari dari situasi
tersebut atau menghindarinya dengan beralih pada hal lain seperti makan,
minum, merokok, atau menggunakan obat-obatan.
1.5 Respons Koping
Koping dapat diidentifikasi melalui respon, manifestasi (tanda dan gejala)
dan pernyataan klien. Koping dapat dikaji melalui berbagai aspek yaitu fisiologis
dan psikososial (Keliat, 1998).
A. Reaksi Fisiologis
Merupakan manifestasi tubuh terhadap stres dimana pupil melebar,
keringat meningkat untuk mengontrol peningkatan suhu tubuh, denyut nadi
meningkat, kulit dingin, tekanan darah meningkat, mulut kering, peristaltik
menurun, pengeluaran urin menurun, kewaspadaan mental meningkat terhadap
ancaman yang serius, dan ketegangan otot meningkat. Reaksi fisiologis
merupakan indikasi klien dalam keadaan stres.
B. Reaksi Psikososial
Reaksi psikososial merupakan reaksi yang berorientasi pada ego yang
sering disebut sebagai mekanisme pertahanan mental, seperti denial
(menyangkal), projeksi, regresi,displacement, isolasi, dan supresi.
Denial (menyangkal) adalah peristiwa menghindari realitas
ketidaksetujuan dengan mengabaikan atau menolak untuk mengenalinya. Proyeksi
adalah mekanisme perilaku dengan menempatkan sifat-sifat batin sendiri pada
adalah menghindarkan sters terhadap karakteristik perilaku dari tahap
perkembangan yang lebih awal. Displacement (menghindar) adalah peristiwa
mengalihkan emosi yang seharusnya diarahkan pada orang atau benda tertentu ke
benda atau orang yang netral atau tidak membahayakan.
Isolasi adalah proses pengurungan diri dari pencarian dukungan sosial
keluarga mencari dukungan atau bantuan dari keluarga, tetangga, teman atau
keluarga jauh. Reframing adalah peristiwa mengkaji ulang kejadian stres agar
lebih dapat menanganinya dan menerimanya. Mencari dukungan spiritual,
mencari dan berusaha secara spiritual, berdoa menemani pemuka agama atau aktif
pada pertemuan ibadah. Menggerakkan keluarga untuk dapat menerima bantuan,
keluarga berusaha mencari sumber-sumber komunitas dan menerima bantuan
orang lain.
1.6 Sumber Koping
Stuart (2007) menyatakan bahwa sumber koping, pilihan, atau stategi
membantu untuk menetapkan apa yang dapat dilakukan sebagaimana yang telah
ditetapkan, mengidentifikasikan lima sumber koping yang dapat membantu
individu beradaptasi dengan stessor yaitu ekonomi , keterampilan dan
kemampuan, tehnik pertahanan, dukungan sosial, dan motivasi.
Kemampuan menyelesaikan masalah termaksud kemampuan untuk
mencari informasi, identifikasi masalah, mempertimbangkan alternatif, dan
melaksanakan rencana. Kemampuan sosial memudahkan penyelesaian masalah
orang lain, meningkatkan kemungkinan memperoleh kerjasama dan dukungan
sumber keuangan meningkatkan pilihan koping seseorang dalam bentuk situasi
stres. Pengetahuan dan intelegensia adalah sumber koping yang lainya yang
memberikan individu untuk melihat cara lain untuk mengatasi stres. Sumber
koping juga termaksuk kekuatan identitas ego, komitmen untuk jaringan sosial,
stabilitas kultural, suatu genetik atau kekuatan konsitusional.
2. Retardasi Mental
2.1 Definisi Retardasi Mental
Retardasi mental adalah suatu keadaan perkembangan mental yang
terhenti atau tidak lengkap, yang terutama ditandai adanya hendaya (impairment),
keterampilan (skills) selama perkembangan, sehingga berpengaruh pada semua
tingkat intelegensia, yaitu kemampuan kognitif, bahasa, motorik, dan sosial
(WHO Geneva, 1992).
Retardasi mental adalah keadaan taraf perkembangan kecerdasan di
bawah normal sejak lahir atau masa anak- anak, biasanya terdapat perkembangan
mental yang kurang secara keseluruhan (Dalami dkk, 2009. Diagnostic and
Statistical Manual (DSM) IV (1994) mendefinisikan retardasi mental sebagai
gangguan yang ditandai fungsi intelektual yang berfungsi secara bermakna di
bawah rata-rata (IQ kira-kira 70 atau lebih rendah) yang bermula sebelum 18
tahun disertai defisit atau hendaya fungsi adaptif.
2.2 Diagnosa retardasi mental
Retardasi mental ialah kelainan fungsi intelektual yang subnormal, terjadi
maturasi, proses belajar, penyesuaian diri secara sosial. Kelainan ini dapat
merupakan suatu gejala yang berhubungan dengan banyak penyebab, akan tetapi
dapat pula dianggap sebagai suatu penyakit (Latief dkk 2007).
Latief dkk (2007) mendiagnosa retardasi mental berdasarkan kriteria
sebagai berikut:
A. Riwayat perkembangan yang terlambat (dapat disertai atau tanpa disertai
kelainan jasmani, atau akibat kerusakan otak) yang dapat dimulai saat anak
dilahirkan atau mula-mula berkembang normal lalu terlambat akibat
kelainan yang mengganggu otak.
B. Observasi kritis mengenai fungsi sekarang, termaksud prestasi dalam
pelajaran, keterampilan motorik dan kematangan emosional dan emosional
dan sosial.
WHO mengklasifikasikan pembagian Retardasi Mental berdasarkan
tingkat IQ (Intelligent Quotient), yaitu borderline (IQ 65-85), mild (IQ 53-67),
moderate (IQ 36-51), severe (IQ 20-35), profound (IQ kurang dari 20). Meskipun
begitu, sebenarnya IQ bukan satu-satunya patokan untuk diagnosa atau penentuan
beratnya kelainan.
Retardasi mental dapat juga dilihat dari sudut (Latief dkk, 2007)
A. Tanpa gangguan tingkah laku.
B. Dengan gangguan tingkah laku sebagai akibat langsung kerusakan organik
C. Dengan gangguan tingkah laku reaktif yang merupakan akibat tindakan
keluarga dan masyarakat yang menolak anak, sehingga gangguan tingkah
laku yang terjadi merupakan akibat defisit dari perasaan frustasi, ketakutan
dan kegelisahan diri anak. Dalam banyak hal anak lebih dilumpuhkan
karena gangguan emosional dari retardasi mentalnya.
2.3 Karakteristik Retardasi Mental
Retardasi mental merupakan kondisi dimana perkembangan
kecerdasannya mengalami hambatan sehingga tidak mencapai tahap
perkembangan yang optimal.
Ada beberapa karakteristik retardasi mental, yaitu: (Somantri, 2007)
A. Keterbatasan inteligensi
Inteligensi merupakan fungsi yang kompleks yang dapat diartikan sebagai
kemampuan untuk mempelajari informasi dan keterampilan-keterampilan
menyesuaikan diri dengan masalah dan situasi kehidupan baru, belajar dari
pengalaman masa lalu,berpikir abstrak kreatif,dapat menilai secara kritis,
menghindari kesalahan-kesalahan, mengatasi kesulitan-kesulitan, dan
kemampuan untuk merancanakan masa depan. Anak retardasi mental terutama
yang bersifat abstrak seperti belajar dan berhitung, menulis dan membaca juga
terbatas. Kemampuan belajarnya cenderung tanpa pengertian atau cenderung
B. Keterbatasan sosial
Disamping memiliki keterbatasan inteligensi, anak retardasi mental juga
memiliki kesulitan dalam menyesuaikan diri dalam masayarakat, oleh karena
itu mereka memerlukan bantuan.
Anak retardasi mental cenderung berteman dengan anak yang lebih muda
usianya, ketergantungan terhadap orang tua sangat besar, tidak mampu
memikul tanggung jawab sosial dengan bijaksana, sehingga mudah
dipengaruhi dan cenderung melakukan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya.
C. Keterbatasan fungsi-fungsi mental lainya
D. Anak retardasi mental memerlukan waktu lebih lama untuk menyelesikan
reaksi pada situasi yang baru dikenal. Mereka memperlihatkan reaksi
terbaiknya bila mengikuti hal-hal yang rutin dan secara konsisten
dialaminya dari hari ke hari. Anak retardasi mental tidak dapat
menghadapi sesuatu kegiatan atau tugas dalam jangka yang waktu yang
lama.
Anak retaradsi mental memilki keterbatasan dalam penguasaan bahasa.
Mereka bukannya mengalami kerusakan artikulasi, akan tetapi pusat
pengolahan yang kurang berfungsi sebagaimana mestinya.
2.4 Klasifikasi Retardasi Mental
Klasifikasi menurut DSM IV (American Psychiatric Association,
Washington, 1994) dalam Lumbantobing (2006) mengatakan bahwa terdapat 4
A. Retardasi mental ringan
Retardasi mental ringan ini secara kasar setara dengan kelompok
retardasi yang dapat dididik (educable). Kelompok ini membentuk
sebagian besar (sekitar 85%) dan kelompok retardasi mental. Pada usia
prasekolah (0-5 tahun) dapat mengembangkan kecakapan sosial dan
komunikatif, mempunyai sedikit hendaya dalam bidang sensorimotor, dan
sering tidak dapat dibedakan dan anak yang tanpa retardasi mental, sampai
pada usia yang lebih lanjut. Pada usia remaja, mereka dapat memperoleh
kecakapan akademik sampai setara kira-kira tingkat enam (kelas 6 SD).
Sewaktu masa dewasa, mereka biasanya dapat menguasai kecakapan sosial
dan vokasional cukup sekedar untuk mandiri, namun mungkin
membutuhkan supervisi, bimbingan dan pertolongan, terutama bila
mengalami tekanan sosial atau tekanan ekonomi. Dengan bantuan yang
wajar, penyandang retardasi mental ringan biasanya dapat hidup sukses di
dalam masyarakat, baik secara mandiri atau dengan pengawasan.
B. Retardasi mental sedang
Retardasi mental sedang secara kasar setara dengan kelompok yang
dapat dilatih (trainable). Kelompok individu dan tingkat retardasi ini
mernperoleh kecakapan komunikasi selama masa anak dini. Mereka
memperoleh manfaat dan latihan vokasional, dan dengan pengawasan
yang sedang dapat mengurus atau merawat diri sendiri. Anak tersebut
dapat memperoleh manfaat dari latihan kecakapan sosial dan akupasional
tingkat 2 (kelas 2 SD). Mereka dapat bepergian di Iingkungan yang sudah
dikenal.
C. Retardasi mental berat
Kelompok retardasi mental ini membentuk 3-4% dari kelompok
retardasi mental. Selama masa anak-anak sedikit saja atau tidak mampu
berkomunikasi bahasa. Sewaktu usia sekolah mereka dapat belajar bicara
dan dapat dilatih dalam kecakapan mengurus diri yang sederhana. Sewaktu
usia dewasa mereka dapat melakukan kerja yang sederhana bila diawasi
secara ketat. Kebanyakan dapat menyesuaikan diri pada kehidupan di
masyarakat bersama keluarganya, jika tidak didapatkan hambatan yang
menyertai yang membutuhkan perawatan khusus.
D. Retardasi mental sangat berat
Kelompok retardasi mental sangat berat membentuk sekitar 1-2% dan
kelompok retardasi mental. Pada sebagian besar individu dengan diagnosis
ini dapat diidentifikasi kelainan neurologik, yang rnengakibatkan retardasi
rnentalnya. Sewaktu masa anak-anak, menunjukkan gangguan yang berat
dalam bidang sensorimotor. Perkembangan motorik dan mengtirus diri dan
kemampuan komunikasi dapat ditingkatkan dengan latihan-latihan yang
adekuat, Beberapa di antaranya dapat melakukan tugas sederhana di
tempat yang disupervisi dan dilindungi.
Beberapa pakar mengklasifikasikan retardasi mental atas 2 kelompok,
retardasi mental subkultural, fisiologik atau familial, yang gangguan mentalnya
kurang berat (Lumbantobing, 2006).
2.5 Penyebab retardasi mental
Terdapat banyak penyebab cacat mental, seperti penyakit yang diderita
semasa kehamilan, terusakan dalam metabolisme, penyakit pada otak polamal,
daan yang tidak baik, dan perawatan yang tidak sesuai. Laporan Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) memaparkan bahwa 30% dari anak-anak yang cacat
mental serius disebabkan oleh ketidak normalan genetik, seperti down syndrom,
25% disebabkan oleh cerebrum palsy, 30% disebabkan oleh meningitis dan
masalah pranatal sedangkan 15% sisanya belum dapat ditemukan (Muhammad,
2008).
Muhammad (2008), memaparkan 9 faktor yang menjadi penyebab
timbulnya cacat mental : penyakit yang disebabkan minuman keras, trauma,
metabolisme atau pola makan yang tidak baik dan penyakit dalam otak, pengaruh
saat masa kehamilan yang tidak diketahui, kromosom yang abnormal, gangguan
selama kehamilan, gangguan psikiatris dan pengaruh Iingkungan.
Anak yang mengalami retardasi mental dapat disebabkan beberapa faktor
diantara faktor genetik atau juga kelainan dalam kromosom, faktor ibu selama
hamil dimana terjadi gangguan dalam gizi atau penyakit pada ibu seperti rubella,
atau adanya virus lain atau juga faktor setelah lahir dimana dapat terjadi
kerusakan otak apabila terjadi infeksi seperti terjadi meningitis, ensefalitis, dan
Etiologi retardasi mental menggambarkan pengaruh kait-mengkait antara
faktor bakat (turunan) dan faktor lingkungan. Menurut Lumbantobing (2001)
penyebab atau yang dicurigai sebagai penyebab retardasi mental (RM) antara
faktor bakat (turunan) dan faktor lingkungan. Dalam mengkaji etiologi retardasi
mental perlu disimak 3 faktor berikut, yaitu predisposisi genetik, faktor
lingkungan, dan waktu pemaparan. Faktor predisposisi termasuk kepekaan yang
dipengaruhi oleh faktor genetik terhadap agens atau faktor ekologis. Faktor
lingkungan merupakan faktor yang dapat mengganggu organisme yang sedang
tumbuh, misalnya keadaan nutrisi, radiasi, dan juga keadaan lingkungan
psikososial. Waktu terjadinya pemaparan juga dapat memengaruhi beratnya
kerusakan.
Gangguan gizi yang berat dan berlangsung lama sebelum umur 4 tahun
ternyata sangat memengaruhi perkembangan otak dan mengakibatkan retardasi
mental. Keadaan ini dapat diperbaiki dengan memperbaiki gizi sebelum umur 6
tahun. Perbaikan sesudah itu akan sukar ditingkatkan walaupun anak terus
disuguhi dengan makanan bergizi (Lumbantobing, 2006).
Beberapa penyebab retardasi mental dapat dicegah atau diobati. Selain
penyebab di atas, masih banyak penyebab retardasi mental yang dapat dicegah
dan diobati dan cukup banyak pula yang penyebabnya sampai saat ini belum dapat
diobati. Di antara penyebab yang dapat dicegah yaitu asfiksia lahir dan trauma
2.6 Dampak Retardasi Mental Bagi Orangtua
Orang yang paling banyak menanggung beban akibat retardasi mental
adalah orang tua dan keluarga anak tersebut. Oleh sebab itu, dikatakan bahwa
penanganan anak retardasi mental merupakan resiko psikiatri keluarga. Keluarga
yang memiliki anak dengan retardasi mental berada dalam resiko yang berat
(Soematri, 2007)
Perasaan dan tingkah laku orang tua dalam menangani anak dengan
retardasi mental berbeda- beda. Pembagian tingkah laku tersebut dapat dibagi
dalam: (Soemantri, 2007).
A. Perubahan emosi yang tiba-tiba
Perubahan emosi yang tiba-tiba mendorong orang tua untuk menolak
kehadiran anak dengan memberikan sikap dingin, menolak dengan
rasionalisasi, menahan anaknya dirumah dengan mendatangkan orang
terlatih untuk mengurusnya, merasa berkewajiban untuk mengasuh tetapi
melakukan tanpa memberi kehangatan, dan mengasuhnya dengan
berlebihan sebagai kompensasi terhadap perasaan menolak.
B. Perasaan bersalah
Ibu yang melahirkan anak berkelainan akan mengalami praduga yang
berlebihan dalam hal, merasa ada yang tidak beres tentang urusan
keturunan, perasaan ini mendorong timbulnya suatu perasaan depresi,
merasa kurang mengasuhnya, perasaan ini menghilangkan kepercayaan
C. Kehilangan Kepercayaan
Kehilangan kepercayaan akan dialami oleh ibu yang ingin mempunyai
anak yang normal lagi. Karena kehilangan kepercayaan tersebut orang tua
cepat marah dan menyebabkan tingkah laku agresif. Kedudukan tersebut
dapat mengakibatkan depresi. Pada permulaan, mereka segera mampu
menyesuaikan diri sebagai orang tua anak retardasi mental, akan tetapi
mereka terganggu lagi saat menghadapi peristiwa- peristiwa kritis.
D. Terkejut dan Kehilangan Kepercayaan Diri
Orang tua akan mengalami keterkejutan dan kehilangan kepercayaan
diri. Rasa keterkejutan dan kehilangan kepercayaan diri tersebut akan
muncul secara perlahan hingga tampak secara nyata. Kemudian, orang tua
berkonsultasi untuk mendapat berita-berita yang lebih baik bagi kesehatan
anaknya.
E. Perasaan Berdosa
Banyak tulisan yang menyatakan bahwa orang tua merasa berdosa.
Sebenarnya perasaan itu tidak selalu ada. Perasaan tersebut bersifat
kompleks dan mengakibatkan depresi pada orang tua.
F. Rasa Malu dan Bingung
Para orangtua akan merasa bingung dan malu, yang akan
mengakibatkan orang tua kurang suka bergaul dengan tetangga dan lebih
suka menyendiri. Adapun saat kritis itu terjadi ketika pertama kali
mengetahui bahwa anaknya cacat, memasuki usia sekolah, pada saat
anak tersebut normal, meninggalkan sekolah, orang tua bertambah tua
sehingga tidak mampu untuk mengasuh anaknya yang cacat.(Soematri,
2007).
Pada saat kritis seperti ini biasanya orang tua lebih mudah menerima saran
dan petunjuk. Setelah kejutan pertama, orang tua ingin mengetahui mengapa
anaknya retardasi mental. Meraka dan anak-anaknya yang normal ingin
mengetahui apakah sesudah melahirkan anak retardasi mental meraka dapat
melahirkan anak normal.(Soemantri, 2007)
2.7 Perawatan retardasi mental
Perawatan umum pada retardasi mental ialah pendidikan, edukasi, dan
latihan. Tim yang memberikan layanan ini dapat terdiri dari dokter, psikiater,
psikolog, guru terapi okupasi, terapi bicara, perawat, dokter keluarga, dan
neurolog mempunyai tanggung jawab besar dalam mendeteksi dini adanya
retardasi mental, menentukan penyebab serta gejala lain yang menyertai. Mereka
dapat berperan serta dalam ikut serta merencanakan pelayanan, edukasi, dan
latihan, bertindak sebagai perantaraan antara tim pengobatan, tim edukasi seta
pelayanan sosial. Bila terdapat kesulitan dalam menangani anak misalnya oleh
masalah emosional, tingkah laku dan gangguan psikiatri lainnya (Lumbangtobing,
mekanisme koping orang tua yang memiliki anak retardasi mental di SLB E
Negeri Kecamatan Sei Agul Medan. Strategi mekanisme koping orang tua yang
memiliki anak dengan retardasi mental terdiri dari dua kategori, yaitu problem
focused coping (koping berfolus pada masalah) dan emotion focused coping
(koping berfolus pada emosi).
Skema 3.1 Kerangka Penelitian Strategi mekanisme koping Orangtua yang memiliki Anak DenganRetarsai Mental.
Strategi Mekanisme koping orang
tua dengan anak retardasi mental 1. Koping berfokus pada masalah
2. Definisi Operasional
No Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Skala
1.
Strategi Mekanisme Koping
Cara yang digunakan
orangtua dalam
menghadapi anak retardasi mental di sekolah luar biasa(SLB) E Negeri Kecamatan Sei Agul Medan. Untuk
menangani dab
beraptasi dengan sters terkait anak retardasi mental.berfokus pada masalah adalah usaha orangtua untuk memperbaiki situasi dengan membuat perubahan.berfokus pada emosi adalah cara yang tidak memperbaiki masalah tetapi orangtua merasa lebih baik.
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif
yang bertujuan untuk mengetahui strategi mekanisme koping orang tua yang
memiliki anak dengan retardasi mental di SLB E Negeri Kecamatan Sei Agul
Medan .
2. Populasi, sampel, dan tehnik sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah orang tua yang memiliki anak
retardasi mental yang ada di SLB E Negeri Kecamatan Sei Agul Medan. Jumlah
anak retardasi mental yang ada di SLB E Negeri Kecamatan Sei Agul Medan
adalah 30 orang, pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik
total sampling yaitu semua orang tua yang memenuhi kriteria dijadikan sampel
penelitian. adapun kriteria sampel penelitian dalah sebagai berikut:
a. Orangtua(ibu) yang memiliki anak retardasi mental ringan
b. Orangtua (ibu) yang tinggal bersama dengan anak retardasi mental yang
bersekolah di SLB E negeri Kecamatan Sei Agul medan..
c. Orangtua ( ibu) yang bersedia menjadi responden
d. Usia anak retardasi mental 6 - 13 tahun.
3. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian akan dilaksanakan di SLB E Negeri kecamatan Sei Agul
kecamatan Sei Agul Medan memiliki jumlah sampel penelitian yang memadai
sesuai dengan kriteria sampel penelitian, disamping itu lokasi yang mudah
dijangkau peneliti,sehingga peneliti memilih lokasi ini sebagai tempat peneliti.
Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Maret - April 2015.
4. Pertimbangan Etik Penelitian
Penelitian ini menyertakan sebuah lembar persetujuan peneliti berdasarkan
prinsip etik yaitu Informed consent yaitu, lembar persetujuan yang diberikan
kepada responden bertujuan untuk mengetahui maksud peneliti. Jika subjek
bersedia menjadi responden, maka harus menandatangani lembar persetujuan
menjadi responden. Jika menjadi responden, maka peneliti tidak akan memaksa
dan tetap menghormati haknya, danAnonimityyaitu, peneliti tidak mencantumkan
nama responden pada lembar pengumpulan data, tetapi akan memberikan kode
pada masing-masing lembar persetujuan tersebut. Confidentiality yaitu, penelitian
menjamin kerahasiaan informasi responden dan kelompok data tertentu yang
dilaporkan sebagai hasil penelitian. Beneficience, selalu berupaya bahwa kegiatan
yang diberikan kepada responden mengandung prinsip kebaikan bagi responden
guna mendapatkan suatu metode atau konsep baru untuk kebaikan responden.
Nonmalaficience yaitu, penelitian yang digunakan tidak mengandung unsur
bahaya atau merugikan apabila sampai mengancam jiwa bagi responden. Veracity
yaitu, penelitian yang dilakukan harus dijelaskan secara jujur tentang manfaat,
efek dan apa yang didapat jika responden terlibat di dalam penelitian tersebut.
melaksanakan prinsip justice (keadilan) pada saat melakukan penelitian (Hidayat,
2007).
5. Instrumen Penelitian
Instrumen peneliti diperoleh dengan menggunakan instrumen penelitian
berupa kuesioner. Instrumen ini terdiri dari dua bagian, yang pertama kuesioner
yang berkaitan dengan data demografi responden dengan 8 pertanyaan meliputi
usia orangtua, jenis kelamin, agama, suku, pendidikan, pekerjaan,penghasilan
perbulan,jumlah anak. Bagian kedua yaitu kuesioner yang berisi tentang
pertanyaan yang mengidentifikasi mekanisme koping orangtua yang memiliki
anak dengan retardasi mental. Kuesioner mekanisme koping dimodifikasi dari
Ways of Coping Questionare yang disusun oleh S. Folkam dan R.S Lazarus
(1984) Kuesioner ini terdisri dari 22 pernyataan mengenai mekanisme koping.
Skala pengukuran untuk instrument penelitian yang digunakan untuk
mengidentifikasi strategi mekanisme koping yaitu dengan skala nominal dengan
jawaban Ya dan Tidak. Dengan nilai Ya 1 dan Tidak 0.
6. Validitas dan Realibilitas
6.1 Uji Validitas
Uji validitas instrumen menyatakan yang seharusnya di ukur. Sebuah
instrumen dikatakan valid jika instrumen tersebut dapat mengukur yang
seharusnya diukur menurut situasi dan kondisi tertentu (Nursalam, 2011).
Kuesioner ini divalidasi pada ahli dosen Fakultas Keperawatan, Departemen
M. Nurs.dilakukan dengan menguji setiap bitir instrument pengumpulan data.
Kuesioner dikatakan valid jika bernilai > 0,632.
Nilai validitas pada kuesioner Mekanisme kopng adalah 0,750, maka
dapat dikatakan bahwa instrument telah valid.
6.2 Uji Realibilitas
Uji realibilitas dilakukan terhadap 10 orangtua anak retardasi mental yang
berada di SLB E yang berada diluar sampel penelitian yang memiliki kriteria yang
sama dengan sama. Uji ini dilakukan pada saat sebelum penelitian dengan
menggunakan rumus KR–21. Uji reabilitas dalam peneltian ini dilakukan dengan
pemberian kuesioner kepada 10 orang responden. Dikatakan reliable bila hasilnya
bernilai > 0,632 ( Arikunto, 2006). Uji realibilitas ini menggunakan rumus KR- 21
realiabilitas dengan hasil 0,71. Hasil yang didapat sudah reliabel sehingga
instrument layak untuk diberikan pada responden.
7. Pengumpulan Data
Proses pengumpulan data dimulai dengan peneliti mengajukan surat izin
kepada Fakultas Keperawatan USU untuk pengambilan data penelitian kesekolah
yang dituju kemudian izin kepada kepala sekolah SLB E Negeri Kecamatan Sei
Agul Medan dengan menyertakan surat izin dari Fakultas Keperawatan USU.
Setelah mendapatkan izin dari kepala sekolah SLB E Negeri Kecamatan Sei Agul
Medan peneliti melihat cacatan data tentang semua anak dengan Retardasi mental
di yayasan tersebut. Data diambil terdiri dari nama anak retardasi mental, umur,
pendekatan dengan responden dan menjelaskan tujuan, manfaat peran serta
responden selama penelitian. Peneliti menjamin kerahasian responden dan hak
responden untuk menolak menjadi responden. Bila responden menyetujui maka
penelitian meminta responden untuk menandatangani lembar persetujuan menjadi
responden.
Responden diberi kuesioner untuk diisi selama 20 menit sendiri oleh
responden, Peneliti menjelaskan cara pengisian kuesioner dan menginformasikan
agar kuesioner diisi, penelitian memandu responden dalam mengisi kuesioner.
8. Analisis data
Analisa data adalah proses mengelola data dan menginterpretasikan hasil
pengolahan data (Priyatno, 2008). Setelah data terkumpul, maka peneliti
melakukan analisa masalah melalui beberapa tahap. Pertama, peneliti memeriksa
identitas responden dan memastikan semua data telah terisi. Setelah itu, data yang
akan diberi kode terhadap pertanyaan yang telah diajukan untuk mempermudah
tabulasi dan analisa. Selanjutnya memasukkan data kedalam komputer dan
melakukan penggolongan data dengan menggunakan program statistik.
Penggelolahan data dengan data deskriptif yang terdiri dari frekuensi dan
presentase untuk melihat strategi mekanisme koping orang tua yang memiliki
Dalam bab ini diuraikan hasil penelitian mengenai strategi mekanisme
koping orang tua yang memiliki anak dengan retardasi di sekolah luar biasa
(SLB) Negeri Sei Agul Medan yang diperoleh melalaui proses pengumpulan data
yang dilakukan pada bulan. Maret - April 2015
1.1 Karakteristik Responden
Pada penelitian ini jumlah responden strategi mekanisme koping orang tua
yang memiliki anak retardasi mental berjumlah 30 orang. Adapun karakteristik
responden yang akan di paparkan mencakup usia ibu , jenis kelamin, agama, suku,
pendidikan, pekerjaan, penghasilan perbulan,jumlah anak.
Data yang diperoleh menunjukkan bahwa usia ibu mayoritas adalah 36-45
sebanyak 16 orang (53,3%), Berdasarkan jenis kelamin perempuan dengan
jumlah 30 orang ibu (100%), berdasarkan agama adalah islam dengan jumlah 25
orang ( 83,3%), suku mayoritas yang paling banyak adalah jawa 14 dengan
jumlah 14 orang (46,7%) berdasarkan pendidikan orang tua ibu SMA dengan
jumlah 19 orang ( 63,3%), pekerjaan yang paling banyak adalah ibu rumah tangga
dengan jumlah 22 orang (73,3%) . dan penghasilan perbulan yang paling adalah
<Rp.1.350.000 dengan jumlah 16 orang ( 53,3%), jumlah anak yang yaitu anak
5.1 Tabel distribusi frekuensi responden berdasarkan data demografi orangtua ibu yang memiliki anak dengan retardasi mental di SLB Negeri sei agul Medan.
Karakteristik Frekuensi (F%) Persentase (%)
Usia 26-35 tahun 36-45 tahun 46-55 tahun Jenis Kelamin Perempuan Agama Islam Kristen protestan Kristen Katolik Suku Jawa Batak Minang DLL Pendidikan Terakhir SD SMP SMA Diploma Sarjana Pekerjaan
Buruh / karyawan Ibu Rumah Tangga
Jumlah Anak 1-3 4-5 24 6 80 20
5.2 Tabel distribusi Frekuensi dan presentase responden pertanyaan strategi mekanisme koping orangtua yang memiliki anak retardasi mental di Sekolah Luar Biasa (SLB) E Negeri Sei Agul Medan.
No Pertanyaan Ya (F%) Tidak (F%)
Koping Berfokus Pada Masalah
1 Apakah ibu merencanakan masa depan anak ibu?
30 (100) 0
2 Apakah ibu optimis menjalani hidup dengan anak retardasi mental?
25(83,3) 5(16,7)
3 Apakah ibu melampiaskan amarah ketika terjadi masalah kepada orang lain, keluaraga ataupun anak?
11(36,7) 18(60,0)
4 Apakah ibu mengikuti perkumpulan para orangtua retardasi mental?
18(60,0) 12(40,0%)
5 Apakah ibu selalu mencari informasi terkait anak retardasi mental?
24(80,0) 6 (20,0)
6 Apakah ibu berkonsultasi dengan dokter terkait anak ibu?
25(83,3) 5 (16,7)
7 Apakah ibu selalu
membicarakan masalah dengan keluarga dengan mencari informasi?
23 (76,6) 7 (23,3)
8 Apakah ibu memberikan terapi pada anak dalam peningkatan perkembangan anak retardasi mental?
24 (80,0) 6 (20,0)
9 Apakah ibu merasa lebih positif dengan memiliki anak
retardasi mental?
10 Apakah ibu selalu mengigat kejadian menyedihkan terkait anak retardasi mental?
19 (63,3) 11( 36,7)
11 Apakah ibu selalu sabar dan menerima keadaan anak ibu?
Koping Berfokus Pada Emosi
28 (93,3) 2 (6,7)
12 Apakah ibu selalu
mengalihkan masalah dengan menonton TvTerus- menerus?
30 (100) 0 (0)
13 Apakah ibu merasa tidak mampu dalam mengambil keputusan untu menyelesaikan masalah?
15 (50,0) 15 (50,0)
14 Apakah ibu mencoba untuk melupakan masalah yang ibualami?
22 (73,3) 8 (26,7)
15 Apakah ibu merasa masalah akan teratasi seiring dengan waktuberjalan?
27 (90,0) 3 (10,0)
16 Apakah ibu mengangap masalah yang ibu alami itu mudah untuk di atasi?
19 (63,3) 11 (36,7)
17 Apakah ibu lebih
mendekatkan diri pada Tuhan sejak memiliki anak
retardasi mental?
25 (83,3) 5 (16,7)
18 Apakah ibu berharap tuhan akan memberikan solusi untuk masalah yang saya alami?
29 (96,7) 1 (3,3)
19 Apakah ibu menjadi pribadi yang lebih baik walaupun mempunyai anak retardasi mental?
24 (80,0) 6 (20,0)
20 Apakah ibu menerima anak ibu karena itu adalah anugerah dari tuhan?
21 Apakah ibu mengkomsumi minuman beralkohol sejak mempunyai anak retardasi mental?
3 ( 10,0) 27 (90,0)
22 Apakah ibu mengkomsumsi obat obatan terlarang sejak mempunyai anak retardasi mental?
1 (3,3) 29 (96,7)
Dari tabel 5.2 dapat kita lihat bahwa semua ibu merencanakan masa depan
anaknya sebanyak 30 (100%) sebagaian besar ibu optimis menjalani hidup dengan
anak retardasi mental 25 (83,3%), ibu berkonsultasi dengan dokter terkait anaknya
25 (83,3%), ibu selalu sabar dan menerima keadaan anak ibu 28 (93,3%). Koping
berfokus pada emosi di dapat bahwa ibu tidak mengalihkan masalah dengan
menonton Tv terus- menerus 30 (100%) sedangkan ibu mencoba untuk melupakan
masalah yang ibu alami 22(73,3%), ibu merasa masalah akan teratasi seiring
dengan waktu berjalan 27 (90,0%), ibu lebih mendekatkan diri pada Tuhan sejak
memiliki anak retardasi mental 25 (83,3%), ibu berharap tuhan akan memberikan
solusi untuk masalah yang saya alami 29 (97,7%), ibu memilih menjadi pribadi
yang lebih baik walaupun mempunyai anak retardasi mental 24( 80,0%), ibu
menerima anak ibu karena itu adalah anugerah dari tuhan 26 (86,7%), kabanyakan
ibu tidak tidak mengkomsumsi minuman beralkohol sejak mempunyai anak
retradasi mental 27 (90,0%), kebanyakan ibu tidak mengkomsusmsi obat-obotan
sejak mempunyai anak retardasi mental 29 (96,7%).
Tabel 1.3 Strategi Mekanisme Koping orang tua yang memiliki anak dengan
retardasi mental di sekolah luar biasa (SLB) E Negeri Kecamatan Sei Agul
[image:46.595.110.531.110.241.2]Strategi Mekanisme Koping Orangtua
Frekuensi (%) Persentase (%)
Strategi Koping berfokus pada masalah
22 73
Strategi Koping berfokus pada emosi
8 26
5.2 Pembahasan
1.Starategi Koping berfokus pada masalah
Berdasarkan hasil penelitian, mayoritas ibu dengan anak retardasi mental
memiliki strategi koping yang berfokus pada masalah yaitu sebanyak 22 orang (
73,33%) .hal ini sejalan dengan teori Lazarus dan Folkam (1986) usaha mengatasi
stres dengan cara mengatur atau mengubah masalah yang dihadapi dan
lingkungan sekitarnya yang menyebabkan terjadinya tekanan problem focused
koping ditujukan dengan mengurangi situasi yang penuh dengan stres atau
memperluas sumber untuk mengatasinya, dimana ada beberapa 3 koping yang di
gunakan orang tua saat mengalami masalah, Confrontative Coping usaha untuk
mengubah keadaan yang dianggap menekan dengan cara yang agresif, tingkat
kemarahan yang cukup tinggi, dan pengambilan resiko, Seeking social support
usaha untuk mendapatkan kenyamanan emosional dan bantuan informasi dari
orang lain, Planful problem solving, Usaha untuk mengubah keadaan yang
dianggap menekan dengan cara yang hati-hati bertahap, dan analitis.
Hasil penelitian (Suri,2009) bahwa para orang tua cenderung
menyelesaikan masalah dengan mencari informasi-informasi terkait masalah yang
pengetahuan bagi orangtua sehingga orangtua lebih mampu menghadapi masalah
yang terjadi terkait anak mereka. Hasil penelitian (Magnawiyah 2013) mempunyai
masalah yang sama, yaitu menghadapi kondisi anak yang tidak dapat di obati
hanya bisa dilakukan dengan terapi yang rutin agar perkembangan dan
pertumbuhan optimal sesuai dengan kondisi anak tersebut serta ditambah dengan
adanya stesor lain, biaya, pandangan masyarakat terhadap dirinya serta
kekhawatiran akan masa dengan anak. Hal ini sejalan juga dengan (Pratiwi, 2014)
menemukan fakta lain bahwa mengenai perilaku koping yang digunakan si ibu
ketika awal mengetahui anaknya down syndrome berbeda-beda, dan perilaku
tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor yang mempengaruhi informan
masing-masing.
Usia sangat berpengaruh terhadap mekanisme koping orang tua, para
responden terbanyak dengan rentang 45-46 sebanyak 16 orang (53,3%), dimana
usia sangat berpengaruh daya tangkap dan pola pikir seseorang semakin
bertambah umur akan seakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirna
sehingga pengetahuan yang di peroleh semakin membaik (Ahyarwahyudi, 2010).
2.Strategi koping berfokus pada emosi
Berdasarkan penelitian strategi koping berfokus pada emosi yaitu
sebanyak 8 orang (26,66%), orangtua yang mengetahui anaknya terdiagnosa
retardassi mental orangtua menggunakan koping berfokus pada emosi,ini di
sebabkan oleh kondisi dimana lingkungan yang tidak mendukung dan
memandang bahwa orangtua ibu dipandang sebelah mata oleh
lahirkan itu sempurna,tetapi dengan kenyataan bahwa anak mereka mengalami
gangguan dan selalu mengingatnya.
Hal ini sejalan dengan Teori Lazarus dan Folkam(1986) yaitu usaha
mengatasi stres dengan cara mengatur respon emosional dalam rangka
menyesuaikan diri dengan dampak yang dapat ditimbulkan oleh suatu kondisi atau
situasi yang dianggap penuh tekanan.dimana ada 5 cara yang digunakan orangtua
untuk mengatasi emosi Self-control usaha untuk mengatur perasaan ketika
mengetahui situasi yang menekan.Distancing usaha untuk tidak terlibat dalam
permasalahan, seperti menghindar dari permasalahan seakan tidak terjadi apa-apa
atau menciptakan pandangan-padangan yang positif, seperti menganggap masalah
seperti lelucon. Positive reappraisal usaha mencari makna positif dari
permasalahan dengan berfokus pada pengembangan diri, biasanya juga
melibatkan hal-hal yang bersifat religius. Accepting responsibility usaha untuk
menyadari tanggung jawab diri sendiri dalam permasalahan yang dihadapinya dan
mencoba menerima untuk membuat semuanya menjadi lebih baik. Escape /
avoidanceusaha untuk mengatasi situasi menekan dengan lari dari situasi tersebut
atau menghindarinya dengan beralih pada hal lain seperti makan, minum,
merokok, atau menggunakan obat-obatan.
Suri (2009) didapati bahwa orangtua yang memiliki anak down syndrome
di SDLB Negeri 107708 Lubuk Pakam selalu mengingat kejadian menyedihkan
adalah (50,8%) angka ini cukup tinggi. Hal ini dikarenakan kejadian yang
menyakitkan atau menyedihkan sangat sulit untuk dilupakan oleh para orang tua
menyedihkan terkait anak down syndrome. Penelitian ( Magnawiyah, 2013)
mengatakan dalam menghadapi stressor dengan cara berusaha untuk menyadari
keadaan yang terjadi pada dirinya, menerima keadaan, pasrah den sadar bahwa
anak adalah bagian dari dirinya sebagai tanggung jawab yang harus di jalani. Hal
ini sejalan dengan teori Lazarus dan folkam (1984) bahwa Aceepting
Responsibility merupakan usaha untuk menyadari tanggung jawab diri sendiri dari
permasalahan yang dihadapi dan mencoba menerimanya untuk membuat keadaan
menjadi lebih baik.agama juga sangat berpengaruh terhadap koping yang
digunakan orangtua dimana agama responden mayorits adalah islam sebanayak 25
orang ( 83,3 %), hal ini merupakan penting karena dalam hal mengatasi stress
individu pada ketidakberdayaan yang akan menurunkan kemampuan strategi
Berdasarkan hasil analisa data dan pembasahan, peneliti dapat mengambil
kesimpulan mengenai Strategi Mekanisme Koping Orangtua Yang Memiliki Anak
Dengan Retardasi Mental di Sekolah Luar Biasa (SLB) E Negeri Kecamatan Sei
Agul Medan. Pada deskripsi karakteristik demografi responden usia orangtua
rentang 36-45 tahun 53,3%, semua responden berjenis kelamin perempuan 100%,
Agama responden mayoritas islam 83,3 %, suku dengan mayoritas jawa 46 %,
pendidikan responden terbanyak adalah Sekolah Menengah Atas (SMA) sebanyak
63,3 %, pekerjaan orangtua mayoritas adalah ibu rumah tangga sabanyak 73,3 %,
penghasilan orangtua mayoritas sebanyak 53,3%, jumlah anak orangtua ibu
mayoritas sebanyak 80 %.
Strategi mekanisme koping yang memiliki anak dengan retardasi mental di
SLB E Negeri Kecamatan Sei Agul Medan adalah strategi koping berfokus pada
masalah (73,33%). Dan strategi mekanisme koping yang memiliki anak dengan
retardasi mental di SLB E Negeri Kecamatan Sei Agul Medan adalah strategi
koping berfokus pada emosi (26,66%).
2.Saran
2.1 Pendidikan Keperawatan
Dalam pendidikan keperawatan khususnya keperawatan anak dan jiwa
perlu memberikan penekanan materi tentang strategi mekanisme koping orang tua
yang memiliki anak dengan retardasi mental, sehingga perawat dapat membantu
membantu memberikan pendidikan dalam peningkatan stretegi mekanisme koping
melalui intervensi.
2.2 Penelitian Selanjutnya
Penelititian ini mempunyai keterbatasan sehubungan waktu penelitian,
jumlah sampel yang menjadi responden hanya 30 orang yang didapatkan dari satu
SLB, diharapkan pada penelitian selanjutnya diperoleh jumlah sampel yang
memadai sehingga dapat mewakili seluruh populasi dengan menambahkan
jangkauan lokasi penelitian .diiharapkan penelitian selanjutnya untuk menambah
teknik pengambilan data yaitu dengan cara observasi yang berulang terhadap anak
dan juga wawancara
2.3 Bagi SLB E Negeri Kecamatan Sei Agul Medan
Bagi SLB E Negeri Kecamatan Sei Agul medan agar membuat suatu
wadah perkumpulan bagi sesama orangtua anak retardasi mental agar setiap
Dalami,dkk, 2009. Asuhan keperawatan klien dengan gangguan jiwa. Jakarta timur: CV. Trasn info media.
Gupta, A & Singhal, N. 2004. Positive perception in parents Of Children with Disabilities. Asian Pasific Disability Rehabilitation journal, 15 (1), 22-23. Diakses pada 23 Oktober 2014
http://. Aifo.it/resources/apdrj/apdrj04/positiveperception.pdf.
Hidayat, 2007. Metode penelitian keperawatan dan teknil analisis data. Jakarta : Salemba Medika.
Jones, J. & Passyey, J. 2003. Family adaption, coping and resources; parents Of Children with developmental disabilities and behaviour problem. Journal on Development disabilities, II (1), 32-43. Diakses pada tanggal 20
Oktober 2014.
http://www.oadd.org/publications/journal/issues/volllno1/download/jones &passey.pdf
Keliat, Budi Anna. 1998. Gangguan Konsep Koping, citra Tubuh dan Seksual pada Klien Kanker. Jakarta. : EGC
Kozier, B. & Erb, G. 2004. Fundamental Of Nursing: concept and procedure, Third Edition, USA; Addison- Wesley publishing. Inc.
Latief, Abdul dkk. (2007). Buku kuliah 1 ilmu keperawatan anak, Jakarta: Penerbit bagian ilmu Kesehatan Anak FKUI
Lazarus Richard S dan Folkam susan 1984.stress, appraisal, and coping: New York, Springer Publishing Company, Inc.
Lumbangtobing, S. M. 2006.Anak dengan mental terbelakangan. Jakarta : Balai penerbit FKUI.
Mangungsong, F. 2012. Psikologi dan pendidikan anak berkebutuhan khusus. Depok:LPSP3 UI.
Muhammad, Jamila,K. A, 2008.Spesial Education For Speacial Children, Jakarta: Hikmah PT. Mijan Publika.
Musfichin,( 2013).Pola Asauh Orangtua: Studi Keluarga Dengan Anak Retardasi Mental.Tesis Fakultas Psikologi UGM. Yogyakarta.
Magnawiyah, 2013. Strategi Koping Orang Tua Pada Anak Yang Menderita Sindrom Down di Sekolah Luar Biasa Negeri 1 Jakarta Lebak Bulus Jakarta, Tesis Universitas islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Nursalam, 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi penelitian Ilmu keperawatan. Jakarta selatan.Salemba media.
Pritzlaff, a. l. 2001.Examining the coping strategis of parents who have children with disabilities. Diakses pada tanggal 15 Oktober 2014. http://www.uvstour.edu/lib/thesis/2001/2001pritzlafa.pdf.
Priyatno, dwi. 2008. Mandiri belajar spss. Mediakom: Yogyakarta.
Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Rasmun, 2001. Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi Dengan Keluarga. Jakarta Edisi I. CV. Sagung Seto.
Rusman, 2004.Sters. Koping dan adaptasi.Jakarta: Sagung seto.
Somantri, 2007.Psikologi anak luar biasa. Bandung: PT Refika Arditama Stuart,2007. Buku saku keperawatan jiwa, Ed. 5. Jakarta: EGC
Stuartd & Sundeen, dalam Nasir abdul dan muhith abdul, 2011. Dasar-dasar keperawatan jiwa: pengantar dan teori. Jakarta: Salemba medika.
Sudjana. (2005).Metode Statika. Bandung: Tarsito
Suliswati, dkk. (2005).Konsep Dasar Keperawatan Jiwa, Jakarta : EGC
Suri, D. P., Wardiyah P. 2012. Mekanisme Koping pada Orang Tua yang Memiliki Anak Down Syndrome di SDLB Negeri 107708 Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang. Jurnal Keperawatan Vol. 1, No. 1.Universitas Sumatra Utara.
Taylor, L., Lilis, C., & Lemone, P.L. 1997. Fundamental Of Nursing; The Art And Science Of Nursing Care. Philadelphia, New York; Lippincott.
Wells, J.A, . Sullivon, A. , & Diamond, T 2003. Parents stress and adaptive functioning of indicluals With Developmental Disabilities. Juornal On Developmental Disablities, volume 10, number 1, Diakses
pada tanggal 20 Oktober 2014.
http://www.oadd.org/publications/journal/issues/vol10noldownload/werss. sullivand&diamond.pdf.
Saya bernama Sopiyan Hadi Sirait / 111101094 adalah mahasiswa
Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera
Utara ingin melakukan penelitian Strategi Mekanisme Koping Orang Yang
Memiliki Anak Dengan Retardasi Mental di Sekolah Luar Biasa (SLB) E
Negeri Kecamatan Sei Agul Medan
Penelitian ini merupakan salah satu kegiatan dalam menyelesaikan
tugas akhir di Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Keperawatan
Universitas Sumatera Utara. Peneliti menjamin bahwa penelitian yang
dilakukan tidak akan menimbulkan dampak negatif kepada anda sebagai
responden. Untuk keperluan tersebut, saya mengharapkan kesediaan anda
sebagai orangtua untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Jika anda bersedia,
peneliti akan memberikan kuesioner yang berisikan pernyataan dan pernyataan
yang terbagi atas 3 bagian yaitu data demografi, kuesioner Koping berfokus
pada masalah dan koping berfokus pada emosi Anda diharapkan menjawab
pertanyaan dengan jujur, apa adanya sesuai dengan situasi saat ini.
Partisipasi dalam penelitian ini bersifat sukarela, sehingga anda bebas
untuk mengundurkan diri setiap saat tanpa ada sanksi apapun. Semua informasi
yang diberikan akan dirahasiakan dan hanya akan dipergunakan dalam
penelitian ini.
Terima kasih atas partisipasi anda dalam penelitian ini.
Peneliti
Dengan Retardasi Mental di Sekolah Luar Biasa (SLB) E Negeri Kecamatan
Sei Agul Medan”
maka saya dengan sukarela dan tanpa paksaan menyatakan
bersedia menjadi responden dalam penelitian tersebut.
Medan,
Responden
Kode:
Tanggal:
Bagian 1:Kuesioner Data Demografi
Petunjuk:
a. Berikan tanda checklist () pada kota pilihan yang sesuai dengan ibu
b. Bila ada yang kurang dimengerti dapat ditanyakan pada peneliti
1. Usia orangtua : tahun
2. Jenis kelamin : Laki-laki
: Perempuan
3. Agama : Islam
: Kristen Protestan
: Kristen Katolik
5. Suku :
:Jawa
:Batak
:Minang
7. Pekerjaan :Buruh/Karyawan Ibu rumah tangga
Pegawai swasta PNS
Wiraswastann
8.Penghasilan perbulan : < Rp.1.350.000
Rp.1.3.50.000- Rp. 2.500.000
Rp. 2.500.000- Rp. 3.500.000
>Rp.3.500.000
() pada kolom Ya atau Tidak sesuai dengan pendapat Saudara/i.
Apa yang bapak/ibu lakukan dalam menghadapi masalah terkait anak retardasi
No Pertanyaan Ya Tidak
Koping Berfokus Pada Masalah (Problem focuses coping)
1 Apakah ibu merencanakan masa depan anak ibu?
2 Apakah ibu optimis menjalani hidup dengan anak retardasi mental?
3 Apakah ibu melampiaskan amarah ketika terjadi masalah kepada orang lain, keluaraga ataupun anak?
4 Apakah ibu mengikuti perkumpulan para orangtua retardasi mental?
5 Apakah ibu selalu mencari informasi terkait anak retardasi mental?
6 Apakah ibu berkonsultasi dengan dokter terkait anak ibu? 7 Apakah ibu selalu membicarakan masalah dengan keluarga
dengan mencari informasi?
8 Apakah ibu memberikan terapi pada anak dalam peningkatan perkembangan anak retardasi mental?
9 Apakah ibu merasa lebih positif dengan memiliki anak retardasi mental?
10 Apakah ibu selalu mengigat kejadian menyedihkan terkait anak retardasi mental?
11 Apakah ibu selalu sabar dan menerima keadaan anak ibu?
Koping Berfokus Pada Emosi(Emotion focused emotion)
12 Apakah ibu selalu mengalihkan masalah dengan menonton Tv
Terus- menerus?
13 Apakah ibu merasa tidak mampu dalam mengambil keputusan untuk
menyelesaikan masalah?
14 Apakah ibu mencoba untuk melupakan masalah yang ibu alami?
15 Apakah ibu merasa masalah akan teratasi seiring dengan waktu berjalan?
masalah yang saya alami?
19
Apakah ibu menjadi pribadi yang lebih baik walaupun mempunyai
anak retardasi mental?
20 Apakah ibu menerima anak ibu karena itu adalah anugerah dari tuhan?
21 Apakah ibu mengkomsumsi minuman beralkohol sejak mempunyai
anak retardasi mental?
22 Apakah ibu mengkomsumsi obat-obatan terlarang sejak mempunyai