KEMENTERIAN KESEHATAN RM.2.11/IC.SPenelitian/2016 DIREKTORAT JENDERAL BINA PELAYANAN KESEHATAN
RUMAH SAKIT UMUM PUSAT
H. ADAM MALIK
Jl. Bunga Lau No. 17 Medan Tuntungan Km.12 Kotak Pos 246 Telp. (061) 8364581-8360143-8360051 Fax. 8360255 MEDAN-20136
Hubungan Harga Diri dengan Interaksi Sosial pada Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di RSUP H. Adam Malik Medan
INSTANSI/SMF PELAKSANA :
Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara
Bapak/Ibu yang terhormat ,
Saya adalah mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara yang sedang melakukan penelitian dengan tujuan mengidentifikasi hubungan harga diri dengan interaksi sosial pada Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA).
Saya mengharapkan kesediaan Bapak/Ibu untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Penelitian ini tidak memberikan dampak yang membahayakan. Jika Bapak/Ibu bersedia, maka saya akan memberikan kuisioner kepada Bapak/Ibu untuk dijawab. Peneliti memohon kesediaan Bapak/Ibu memberikan jawaban sesuai keadaan yang Bapak/Ibu alami saat ini dengan jujur apa adanya.
Partisipasi Bapak/Ibu bersifat suka rela, sehingga Bapak/Ibu bebas mengundurkan diri setiap saat tanpa sanksi apapun. Semua informasi yang Bapak/Ibu berikan akan dirahasiakan dan hanya akan dipergunakan dalam penelitian ini.
Atas perhatian dan kerjasama Bapak/Ibu peneliti ucapkan terimakasih.
KEMENTERIAN KESEHATAN RM.2.11/IC.SPenelitian/2016 DIREKTORAT JENDERAL BINA PELAYANAN KESEHATAN
RUMAH SAKIT UMUM PUSAT
H. ADAM MALIK
Jl. Bunga Lau No. 17 Medan Tuntungan Km.12 Kotak Pos 246 Telp. (061) 8364581-8360143-8360051 Fax. 8360255 MEDAN-20136
LEMBARAN PERSETUJUAN
Setelah membaca lembaran penjelasan di atas dan sudah dimengerti, kami
Nama :
Alamat :
Orang Tua/Wali dari :
bersedia untuk turut serta sebagai subyek dalam penelitian atas nama : Heni Ismaya
dengan judul penelitian : Hubungan Harga Diri dengan Interaksi Sosial pada Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di RSUP H. Adam Malik Medan.
Menyatakan tidak keberatan maupun melakukan tuntutan di kemudian hari.
Kuesioner Penelitian
Hubungan Harga Diri dengan Interaksi Sosial Pada Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA)
di RSUP H. Adam Malik Medan
No. Responden : (diisi oleh peneliti) 1. Data Demografi
Petunjuk pengisian :
Di bawah ini adalah data demografi yang dibutuhkan sebagai identitas responden penelitian. Isilah pertanyaan di bawah ini sesuai dengan keadaan Saudara/I yang sebenarnya, dengan memberi tanda check list (√ ) pada kotak yang telah disediakan.
1. Jenis Kelamin : Laki-laki Perempuan 2. Umur : ... tahun
3. Suku Bangsa : Batak Mandailing Minang
Aceh Jawa Melayu
Lainnya, sebutkan...
4. Agama : Islam Buddha Lain-lain, sebutkan...
Kristen Hindu
5. Pendidikan Terakhir : Tidak ada SMP Perguruan Tinggi
SD SMA
6. Pekerjaan : Pegawai Negeri Petani
Pegawai Swasta Lainnya, sebutkan...
Pedagang 7. Lama terkena HIV/AIDS : ≤ 1 tahun ≥ 1 tahun
2. Kuesioner Harga Diri Petunjuk:
1. Pernyataan dibawah ini biasa digunakan untuk menggambarkan perasaan seseorang terhadap dirinya sendiri, meliputi rasa dihormati, diterima, mampu melakukan sesuatu, dan berharga. Bacalah masing-masing pernyataan di bawah ini kemudian beri tanda check list (√ ) pada kotak yang tersedia di sebelah kanan untuk menunjukkan bagaimana perasaan Saudara/I terhadap diri sendiri pada saat menyandang status sebagai Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Tidak ada jawaban yang benar atau salah. Jangan habiskan waktu terlalu banyak pada satu pernyataan tetapi berikanlah jawaban yang paling sesuai dengan perasaan Saudara/I pada umumnya.
2. Tiap kotak tersebut berisi angka yang mengandung jawaban sebagai berikut : 1. Sangat Setuju (SS)
2. Setuju (S)
3. Tidak Setuju (TS)
4. Sangat Tidak Setuju (STS) Contoh :
Pernyataan SS S TS STS
Saya merasa sebagai orang yang sangat berguna, paling tidak sama seperti orang lain.
√
Tidak ada jawaban yang salah. Semua JAWABAN ADALAH BENAR, selama menggambarkan Diri Saudara/I.
No Pernyataan SS S TS STS
1 Saya merasa memiliki beberapa kelebihan dalam diri saya. 2 Saya merasa tidak memiliki banyak hal untuk dibanggakan. 3 Secara umum, saya cenderung merasa sebagai orang yang
gagal.
4 Saya mampu melakukan hal-hal baik seperti yang kebanyakan orang.
5 Saya merasa sebagai orang yang sangat berguna, paling tidak sama seperti orang lain.
6 Saya memandang diri saya sebagai orang yang baik.. 7 Saya berharap diri saya lebih menghargai diri saya sendiri. 8 Secara umum, saya puas dengan diri saya.
3. Kuesioner Interaksi Sosial Petunjuk:
1 Pernyataan dibawah ini digunakan untuk menggambarkan hubungan sosial atau interaksi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) terhadap keluarga, teman atau orang-orang sekitarnya. Bacalah masing-masing pernyataan di bawah ini kemudian beri tanda check list (√ ) pada kotak yang tersedia di sebelah kanan untuk menunjukkan bagaimana hubungan sosial Saudara/I terhadap keluarga, teman atau orang-orang disekitar. Tidak ada jawaban yang benar atau salah. Jangan habiskan waktu terlalu banyak pada satu pernyataan tetapi berikanlah jawaban yang paling sesuai dengan perasaan Saudara/I pada umumnya.
Contoh :
Pernyataan Ya Tidak
Jika ada masalah keluarga, saya tetap terlibat untuk menyelesaikannya. √
Tidak ada jawaban yang salah. Semua JAWABAN ADALAH BENAR, selama menggambarkan Diri Saudara/I.
No Pernyataan Ya Tidak
1 Jika ada masalah keluarga, saya tetap terlibat untuk menyelesaikannya.
2 Saya tetap menghadiri ketika saya diundang dalam acara keluarga. 3 Saya tetap berinteraksi dengan teman satu ruangan saya.
4 Saat saya ada masalah, saya akan meminta saran kepada keluarga untuk menyelesaikan masalah saya.
5 Saya sering berkomunikasi dengan pasien lain tentang masalah kesehatan yang kami alami.
6 Saya mau mendengarkan dan menuruti nasehat dari keluarga saya. 7 Saya selalu membalas sapaan petugas kesehatan yang datang
merawat saya.
8 Jika dalam masa perawatan saya mendapatkan masalah, maka saya akan membicarakannya dengan petugas kesehatan.
9 Saya tidak pernah menceritakan masalah kesehatan saya dengan teman satu ruangan saya.
06) dengan standar valid 0,8 (Polit & Beck, 2006), yakni :
CVI=Number of item expert agreement rated 3 or 4 Total number of item
Pengukuran validitas variabel : Skala harga diri
No p1 p2 p3 p4 p5 p6 p7 p8 p9 p10
expert1 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
Skala interaksi sosial
No p1 p2 p3 p4 p5 p6 p7 p8 p9 p10
expert1 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
CVI= 1
20 20
, berdasarkan nilai CVI yang telah diperoleh, maka kuisioner penelitian telah
valid.
[DataSet0]
Scale: ALL VARIABLES
Case Processing Summary
N %
Cases Valid 30 100.0
Excludeda 0 .0
Total 30 100.0
a. Listwise deletion based on all variables in the
procedure.
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
.880 10
Item Statistics
Mean Std. Deviation N
P1 3.03 .890 30
P2 2.17 .986 30
P3 2.27 .980 30
Scale Statistics
Mean Variance Std. Deviation N of Items
26.57 45.564 6.750 10
Scale: ALL VARIABLES
Case Processing Summary
N %
Cases Valid 30 100.0
Excludeda 0 .0
Total 30 100.0
a. Listwise deletion based on all variables in the
procedure.
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
.772 10
Item Statistics
Mean Std. Deviation N
P1 .77 .430 30
P2 .53 .507 30
P3 .60 .498 30
Scale Statistics
Mean Variance Std. Deviation N of Items
Frequency Table
Usia
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Valid 17-25 4 3.4 59.4 31.6
26-35 33 56.9 29.7 89.1
36-45 18 31.0 10.9 59.4
45-55 6 6,9 6.9 22.1
56-65 3 1.7 1.7 100.0
Total 64 100.0 100.0
Jenis_kelamin
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Valid laki-laki 35 54.7 54.7 54.7
Perempuan 29 45.3 45.3 100.0
Total 64 100.0 100.0
Statistics
Usia Jenis_kelamin Suku Agama Pendidikan
Status_perka
winan Pekerjaan Lama_terkena
N Valid 64 64 64 64 64 64 64 64
Missing 0 0 0 0 0 0 0 0
Suku
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Valid Batak 27 42.2 42.2 42.2
Aceh 1 1.6 1.6 43.8
Mandailing 2 3.1 3.1 46.9
Jawa 13 20.3 20.3 67.2
Melayu 1 1.6 1.6 68.8
lain-lain 20 31.2 31.2 100.0
Total 64 100.0 100.0
Agama
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Valid islam 19 29.7 29.7 29.7
kristen 43 67.2 67.2 96.9
budha 2 3.1 3.1 100.0
Total 64 100.0 100.0
Pendidikan
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid sd 2 3.1 3.1 3.1
sma 40 62.5 62.5 87.5
perguruan tinggi 8 12.5 12.5 100.0
Total 64 100.0 100.0
Status_perkawinan
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Valid kawin 36 56.2 56.2 56.2
tidak kawin 19 29.7 29.7 85.9
janda/duda 9 14.1 14.1 100.0
Total 64 100.0 100.0
Pekerjaan
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Valid pegawai negeri 3 4.7 4.7 4.7
pegawai swasta 10 15.6 15.6 20.3
pedagang 14 21.9 21.9 42.2
petani 8 12.5 12.5 54.7
lainnya 29 45.3 45.3 100.0
Lama_terkena
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Valid <1tahun 22 34.4 34.4 34.4
>1tahun 42 65.6 65.6 100.0
[DataSet0]
Frequency Table
Haga_diri
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Valid Sedang 21-30 61 95.3 95.3 95.3
Tinggi 31-40 3 4.7 4.7 100.0
Total 64 100.0 100.0
Statistics
Haga_diri Interaksi_sosial
N Valid 64 64
Missing 0 0
Interaksi_sosial
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Valid Buruk 1-5 21 32.8 32.8 32.8
Baik 6-10 43 67.2 67.2 100.0
Total 64 100.0 100.0
[DataSet0]
Correlations
Harga_diri Interaksi_sosial
Spearman's rho Harga_diri Correlation Coefficient 1.000 .271*
Sig. (2-tailed) . .030
N 64 64
Interaksi_sosial Correlation Coefficient .271* 1.000
Sig. (2-tailed) .030 .
N 64 64
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Heni Ismaya
Tempat Tanggal Lahir : Medan, 21 Agustus 1994 Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Jalan Bunga Kardiol, Kel. Ladang Bambu, Medan Tuntungan
Email : [email protected]
Riwayat Pendidikan :
1. SD Negeri 064026 Ladang Bambu Tahun 2000-2006
2. SMP Negeri 31 Medan Tahun 2006-2009
3. SMA Negeri 17 Medan Tahun 2009-2012
4. S1 Fakultas Keperawatan USU Tahun 2012- sekarang
Riwayat Berorganisasi:
1. Angg. Dept. MAI FORKIS Rufaidah FKep USU Tahun 2013-2014 2. Ketua Dept. MAI FORKIS Rufaidah Fkep USU Tahun 2014-2015 3. Kadiv Jaringan dan Kemitraan SGC USU Tahun 2016-2017 4. Angg. Manajemen Pelayanan Masyarakat GMM Tahun 2016-2017
69
DAFTAR PUSTAKA
Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara. (2009). Gambaran Kasus AIDS di Sumatera Utara s/d April 2009. KPA Sumut.
Ditjen PP & PL Kemenkes RI. (2014). Statistik Kasus HIV/AIDS di Indonesia. Retrieved on November 30, 2015, from source: DirGen. Communicable Diseases & Environmental Health, MoH, RI.
Djoerban, Z. (2001). Membidik AIDS: Ikhtiar Memahami HIV dan ODHA. Yogyakarta: Galang Press.
Duriah. (2014). Interaksi Sosial Orang Dengan HIV/AIDS Dibawah Naungan Lembaga Advokasi dan Rehabilitasi Sosial Kota Samarinda. eJournal Sosiatri-Sosiologi, 2014, 2 (2): 1-11. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman, ISSN 0000-0000, ejournal.sos.fisip-unmul.org. Firmansyah, F. (2011). Psikologi Sosial 1. Universitas Mercu Buana : Pusat Dengan Harga Diri Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di Lembaga Medan Plus, Medan. Skripsi.
Hasanah, N. (2012). Konsep Diri Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) Yang Menerima Label Negatif dan Diskriminasi dari Lingkungan Sosial. Psikologia-online, 2012, Vol. 7, No. 1, hal. 29-40
Hermawan, G. (2006). Perspektif Masa Depan Imunologi-Infeksi. Surakarta: Sebelas Maret University Press.
Hermawati, P. (2011). Hubungan Persepsi ODHA Terhadap Stigma HIV/AIDS Masyarakat Dengan Interaksi Sosial Pada ODHA. (Skripsi). Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.
70
(ODHA). (Tesis). Magister Psikologi Profesi Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Moskowitz, D. A., & Seal, D. W. (2010). Self-Esteem in HIV-Positive and HIV-Negative
Gay and Bisexual Men: Implications for Risk-Taking Behaviors with Casual Sex Partners. Department of Psychiatry and Behavioral Medicine, Center for AIDS Intervention Research, Medical College of Wisconsin, Milwaukee, WI, USA.
Mubarak, W. I. (2011). Sosiologi untuk Keperawatan: Pengantar dan Teori. Jakarta: Salemba Medika.
Muslimah, A.I., & Aliyah, S. (2013). Tingkat Kecemasan dan Strategi Koping Religius Terhadap Penyesuaian Diri Pada Pasien HIV/AIDS Klinik VCT RSUD Kota Bekasi. Jurnal Soul, Vol. 6, No.2
Niko, N. (2014). Peran Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Dalam Upaya Mengurangi Stigma Sosial Bagi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kota Pontianak. Jurnal S-1 Program Studi Sosiologi Volume 2. http://jurmafis.untan.ac.id
Notosoedirdjo, M., & Latipun. (2011). Kesehatan Mental: Konsep dan Penerapan,. Ed. 4. Malang: UMM Press.
Nursalam. (2009). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Polit, D. F., & Beck. C. T. (2012). Nursing Research : Generation and Assessing Evidence for Nursing Practice. Wolters Kluwer.
Potter, P. A. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan Praktik., Ed. 4. Jakarta: EGC.
Ramiro, M.T. (2013). Social Support, Self-Esteem and Depression: Relationship With Risk for Sexually Transmitted Infections/HIV Transmission.
International Journal of Clinical and Health Psychology (2013), 181−188.
Salbiah. (2003). Konsep Diri, 1-8. USU digital Library.
71
Saryono. (2008). Metodologi Penelitian Kesehatan: Penuntun Praktis Bagi Pemula. Jogjakarta: Mitra Cendikia Press.
Schrimshaw, E. W. (2003). Relationship-Specific Unsupportive Social Interactions and Depressive Symptoms Among Woman Living With HIV/AIDS: Direct and Moderating Effects. Journal of Behavioral Medicine, Vol. 26, No. 4
Siahaan, R.R. (2011). Pengaruh Dukungan Keluarga Terhadap Program Pengobatan Pasien HIV/AIDS di Posyansus Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. (Skripsi). Program Studi Ilmu Keperawatan STIKES Mutiara Indonesia Medan.
Soedarto. (2010). Virologi Klinik: Membahas Penyakit-Penyakit Virus Termasuk AIDS, Flu Burung, Flu Babi dan SARS. Jakarta: CV. Sagung Seto.
Tetan, M. J. (2013). Hubungan Antara Self Esteem Dan Proktanisasi Akademik Pada Mahasiswa Angkatan 2010 Fakultas Psikologi Universitas Surabaya. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol. 2 No. 1
Wahyu, S. (2012). Konsep Diri dan Masalah Yang Dialami Orang Terinfeksi HIV/AIDS. Jurnal Ilmiah Konseling, Vol. 1, hal. 1-12. http://ejournal.unp.ac.id/index.php/konselor.
42
BAB 3
KERANGKA PENELITIAN
Pada bab ini akan dijelaskan beberapa konsep yang mendasari penelitian yang tersusun dalam kerangka konsep sehingga mudah dipahami dan menjadi acuan peneliti. Dari kerangka konsep akan diperoleh gambaran-gambaran mengenai variabel-variabel yang akan dijelaskan pada tabel definisi operasional yang akan ditetapkan sebagai hipotesis penelitian.
3.1. Kerangka Konsep
Berdasarkan landasan teori yang diuraikan pada studi kepustakan, maka secara sistematis kerangka konsep pada penelitian dapat digambarkan pada skema sebagai berikut.
Variabel Independen Variabel Dependen
Skema 3.1 Kerangka konsep “Hubungan Harga Diri dengan Interaksi Sosial pada Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di RSUP H. Adam Malik Medan.”
Interaksi Sosial
- Baik - Buruk
Harga Diri
45
46
BAB 4
METODOLOGI PENELITIAN
4.1. Desain penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain deskriptif korelasi yang bertujuan untuk mendeskripsikan hubungan antara variabel yang berasal dari satu grup sampel. Pada penelitian ini, peneliti dapat menggambarkan hubungan harga diri dengan interaksi sosial pada Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di RSUP H. Adam Malik Medan.
4.2. Populasi, sampel, dan teknik pengambilan sampel
4.2.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) yang dirawat di RSUP H. Adam Malik Medan, dengan jumlah populasi HIV positif sebanyak 178 orang (Ditjen PP & PL Kemenkes RI, 2014).
4.2.2 Sampel
Sampel terdiri dari bagian populasi terjangkau yang dapat dipergunakan sebagai subjek penelitian melalui sampling (Nursalam, 2009). Rumus yang digunakan peneliti dalam menghitung besar sampel penelitian ini adalah Rumus slovin (Nursalam, 2009), sebagai berikut :
n =
�47
Keterangan :
n = Besar sampel
N = Besar populasi
d = Tingkat signifikansi/ketepatan yang diinginkan (0,1)
Maka :
n =
�1+� (�)2
=
1781 + 178 (0,1)2
=
1782,78
=
64,02(dibulatkan menjadi 64 orang)4.2.3 Teknik pengambilan sampel
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan accidental sampling.
4.3. Lokasi dan waktu penelitian
4.3.1 Lokasi penelitian
Penelitian ini dilakukan di RSUP H. Adam Malik Medan.
4.3.2 Waktu penelitian
48
dengan tempat tinggal dan menghemat biaya karena tidak jauh dari tempat tinggal.
4.4 Pertimbangan etik
Pertimbangan etik pada penelitian ini adalah sebagai berikut : 4.4.1 Self Determination
Peneliti memberikan kebebasan terhadap responden untuk ikut terlibat atau tidak terlibat didalam penelitian ini.
4.4.2 Right to privacy
Responden mempunyai hak untuk meminta bahwa data yang diberikan harus dirahasiakan.
4.4.3 Anonymity dan Confidentiality
Peneliti tidak mencantumkan identitas responden melainkan hanya menuliskan kode pada lembar isian dan peneliti menjamin kerahasiaan responden.
4.4.4 Right in fair treatment
Responden diperlakukan secara adil baik sebelum, selama dan sesudah keikutsertaannya dalam penelitian tanpa adanya diskriminasi.
4.4.5 Informed Consent
49
4.5 Instrumen penelitian
Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik (cermat, lengkap dan sistematis) sehingga lebih mudah diolah (Saryono, 2008).
Penelitian ini menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data dengan dua alat ukur, yaitu skala Harga Diri Rosenberg (self esteem scale) (Baron, Bryne, Branscombe, 2006). Terdiri dari 10 pernyataan, dengan 6 pernyataan positif (favorable) dan 4 pernyataan negatif (unfavorable). Dan Kuesioner Skala Interaksi Sosial yang dibuat oleh peneliti dengan merujuk dari penelitian Pian Hermawati (2011) dengan judul “Hubungan Persepsi ODHA
terhadap Stigma HIV/AIDS Masyarakat Dengan Interaksi Sosial Pada ODHA”.
Terdiri dari 10 pernyataan, dengan dengan 8 pernyataan positif (favorable) dan 2 pernyataan negatif (unfavorable).
Skala harga diri dalam penelitian ini menggunakan skala likert dengan alternatif pilihan jawaban Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS), melalui pernyataan favorable dan pernyataan unfavorable. Pada pernyataan favorable, jawaban Sangat Setuju (SS) diberi nilai
4, Setuju (S) diberi nilai 3, Tidak Setuju (TS) diberi nilai 2, dan Sangat Tidak Setuju (STS) diberi nilai 1. Pada pernyataan unfavorable jawaban Sangat Setuju (SS) diberi nilai 1, Setuju (S) diberi nilai 2, Tidak Setuju (TS) diberi nilai 3, dan Sangat Tidak Setuju (STS) diberi nilai 4.
50
pernyataan unfavorable. Pada pernyataan favorable, jawaban Ya diberi nilai 1 dan jawaban Tidak diberi nilai 0, sedangkan pada pernyataan unfavorable jawaban Ya diberi nilai 0 dan Tidak diberi nilai 1.
Bagian pertama berisi pernyataan yang berkaitan dengan data demografi responden. Bagian kedua kuesioner penelitian ini akan mencantumkan beberapa pernyataan yang berkaitan dengan harga diri ODHA di RSUP H. Adam Malik Medan. Bagian ketiga kuesioner peneliti akan mencantumkan pernyataan yang menggambarkan interaksi sosial ODHA di RSUP H. Adam Malik Medan.
Pengukuran variabel pada penelitian ini menggunakan pengukuran skala ordinal untuk variabel harga diri dan interval untuk variabel interaksi sosial. Pada penelitian ini peneliti menggunakan variabel harga diri yang dikategorikan sebagai berikut : rendah, sedang dan tinggi. Sedangkan variabel interaksi sosial dikategorikan baik dan buruk.
4.6 Alat dan bahan
Penelitian ini menggunakan alat dan bahan sebagai berikut: instrumen penelitian (kuesioner), alat tulis, komputer, kalkulator, buku referensi, media komunikasi (internet atau hand phone).
4.7 Validitas dan reliabilitas 4.6.1 Uji validitas
51
menggunakan uji validitas dengan memenuhi unsur penting dengan menentukan validitas pengukuran instrumen yaitu: relevansi isi, instrumen disesuaikan dengan tujuan penelitian agar dapat mengukur objek dengan jelas.
Jenis penelitian ini digunakan uji content validity index, instrumen diujikan pada Dosen Departemen Jiwa dan Komunitas Fakultas Keperawatan USU, yaitu Ibu Siti Zahara Nasution, S.Kp, MNS. Adapun rumus CVI (Content Validity Index) Lynn (1986) dalam Polit & Beck (2006) dengan standar valid 0,8 (Polit & Beck, 2006), yakni :
CVI=Number of item expert agreement rated 3 or 4 Total number of item
Tabel 4.1 perhitungan validitas penelitian
CVI= 1
52
waktu yang berlainan (Nursalam, 2009). Hasil pengukuran konsisten atau tetap azas bila dilakukan pengukuran berulang (konsistensi, akurasi dan presisi) (Saryono, 2008).
Peneliti menggunakan analisa Cronbach’s Alpha dengan menggunakan bantuan komputer untuk mengukur realibilitas instrumen harga diri dan interaksi sosial ODHA. Untuk instrumen yang baru akan reliabel jika memiliki reliabilitas > 0.70 (Polit & Beck, 2012). Uji reliabilitas dalam penelitian ini dilakukan pada 30 responden di RSUP H. Adam Malik Medan yang tidak termasuk dalam jumlah sampel penelitian, yaitu di Ruang Rindu A1 dan Rindu A5. Setelah dilakukan proses penghitungan dengan menggunakan bantuan komputer diperoleh hasil 0,88 untuk instrumen harga diri dan instrument interaksi sosial 0,77. Oleh karena itu kuisioner yang digunakan peneliti dapat dikatakan reliabel.
4.8 Pengumpulan data
53
yang dialaminya saat itu. Selesai mengisi lembar kuisioner selanjutnya data yang terkumpul dianalisa.
4.9 Analisis data
Analisa data dilakukan setelah semua data dalam kuisioner dikumpulkan, data yang diperoleh diolah dengan menggunakan komputer melalui beberapa tahap sebagai berikut: editing yaitu memeriksa kelengkapan data yang diperoleh atau dikumpulkan serta memastikan bahwa semua jawaban sudah diisi, kemudian data yang sesuai diberikan kode (coding). Pemberian kode sangat penting bila pengolahan dan analisis data menggunakan komputer.
Kemudian memasukkan (entry) data ke dalam program komputer dan dilakukan pengolahan data. Pengolahan data dilakukan dengan analisis data univariat yaitu untuk menganalisa data demografi dan karakteristik harga diri dan interaksi sosial Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan persentase. Dan analisis data bivariat untuk mengetahui hubungan harga diri dengan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di RSUP H. Adam Malik Medan.
4.9.1 Analisis Univariat
54
data karakteristik variabel harga diri dan interaksi sosial dianalisis dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi dan persentase.
4.9.2 Analisis Bivariat
Selanjutnya peneliti akan melakukan analisis bivariat yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel independen yaitu harga diri dengan variabel dependen yaitu interaksi sosial dengan menggunakan korelasi Spearman’s rho dengan taraf signifikan 5% untuk membuktikan hipotesa penelitian yaitu ada hubungan harga diri dengan interaksi sosial Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di RSUP H. Adam Malik Medan.
Tabel 4.2
Interpretasi Koefisien Korelasi Nilai r
Interval koefisien Tingkat hubungan
0 Tidak ada
0 – 0,25 Lemah
0,25 – 0,5 Cukup
0,5 – 0,75 Kuat
0,75 – 0,99 Sangat kuat
1 Korelasi sempurna
55
BAB 5
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini menguraikan tentang hasil penelitian dan pembahasan mengenai karakteristik responden, variabel harga diri, variabel interaksi sosial, dan hubungan harga diri dengan interaksi sosial pada Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di RSUP H. Adam Malik Medan. Penelitian ini dilakukan pada bulan juni sampai juli 2016, dengan jumlah responden sebanyak 64 orang yang menderita HIV/AIDS di RSUP H. Adam Malik Medan.
5.1 Hasil Penelitian
5.1.1 Karakteristik Responden
Penelitian yang dilakukan di RSUP H. Adam Malik Medan dengan jumlah responden sebanyak 64 orang yang menderita HIV/AIDS menunjukkan bahwa umumnya responden berusia 26-35 tahun sebanyak 56,9%, berjenis kelamin laki-laki sebanyak 54,7% dengan mayoritas bersuku batak sebanyak 42,2% dan umumnya responden beragama kristen sebanyak 67,2%.
Selanjutnya tingkat pendidikan terakhir responden pada umumnya adalah SMA sebanyak 62,5%, status perkawinan responden adalah kawin/menikah sebanyak 56,2%. Kemudian pekerjaan responden tidak diketahui atau lainnya sebanyak 45,3%, dan umumnya responden terkena HIV/AIDS >1 tahun sebanyak 65,6%.
56
57
5.1.2 Gambaran Harga Diri
Mayoritas karakteristik harga diri responden berada pada rentang sedang sebanyak 95,3%. Responden yang memiliki harga diri tinggi sebanyak 4,7%, dan tidak ada responden yang memiliki harga diri rendah. Berdasarkan hasil estimasi ordinal dan disesuaikan dengan skala instrumen, dapat disimpulkan bahwa pasien HIV/AIDS di RSUP H. Adam Malik Medan memiliki harga diri dalam rentang sedang (Medium self-esteem).
Tabel 5.2. Distribusi Frekuensi dan Persentasi Karakteristik Harga Diri Orang Dengan HIV/AIDS di RSUP H. Adam Malik Medan (n=64)
No Karakteristik Frekuensi (n) Persentasi (%)
1 Rendah - -
2 Sedang 61 95,3
3 Tinggi 3 4,7
5.1.3 Gambaran Interaksi Sosial
58
Tabel 5.3. Distribusi Frekuensi dan Persentasi Karakteristik Interaksi Sosial Orang Dengan HIV/AIDS di RSUP H. Adam Malik Medan (n=64)
No Karakteristik Frekuensi (n) Persentasi (%)
1 Buruk 21 32,8
2 Baik 43 67,2
5.1.4 Hubungan Harga Diri dengan Interaksi Sosial Orang Dengan HIV/AIDS di RSUP H. Adam Malik Medan
Analisa hubungan harga diri dengan interaksi sosial diukur dengan menggunakan uji Spearman’s rho. Dari hasil analisa didapat p=0,030 (α=0,05) dan nilai koefisien korelasi r=0,271 yang berarti hipotesa diterima, artinya bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara harga diri dengan interaksi sosial ODHA (Pvalue = 0,030) dengan kekuatan hubungan lemah dan arah hubungan yang positif atau searah.
Tabel 5.4. Hasil Analisa Hubungan Harga Diri dengan Interaksi Sosial Orang Dengan HIV/AIDS di RSUP H. Adam Malik Medan
Variabel 1 Variabel 2 r pValue
59
5.2 Pembahasan
Tujuan penelitian ini meliputi penjelasan mengenai gambaran harga diri, interaksi sosial, dan hubungan harga diri dengan interaksi sosial pada Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di RSUP H. Adam Malik Medan.
5.2.1 Gambaran Harga Diri Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di RSUP H. Adam Malik Medan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada 64 Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di RSUP H. Adam Malik Medan selama Juni – Juli 2016 didapatkan sebagian besar responden memiliki tingkat harga diri berada kategori sedang (Medium self-esteem) dengan jumlah sebanyak 95,3% dan hanya 4,7% yang memiliki harga diri tinggi, serta tidak ditemukan responden ODHA yang memiliki harga diri rendah.
Harga diri pada kategori sedang (Medium self-esteem) menurut Coopersmith (dalam Mruk, 2006) menyatakan bahwa individu dengan tingkat harga diri sedang merupakan hasil dari tidak tereksposnya seorang individu pada faktor-faktor yang mendukung kepemilikan tingkat harga diri yang tinggi, namun memiliki sebagian faktor sehingga menghindarkan mereka dari tingkat harga diri yang rendah. Karakteristik individu dengan harga diri sedang hampir sama dengan karakteristik individu harga diri tinggi, terutama dalam kualitas, perilaku dan sikap.
60
kemasyarakatan. Hal ini sesuai dengan Epstein (dalam Mruk, 2006) yang menyatakan bahwa salah satu sumber harga diri adalah penerimaan dan penolakan. Penerimaan dan penolakan dalam hubungan interpersonal seorang individu dengan orang tua, saudara, teman, pasangan, dan rekan kerja dapat mempengaruhi perasaan seorang individu atas dirinya. Bentuk penerimaan seperti rasa peduli, pengasuhan, perasaan tertarik, respek, serta kagum dan bentuk penolakan seperti tidak dihiraukan, direndahkan, atau dimanfaatkan dapat memperharuhi harga diri seseorang.
Hasil penelitian ini didukung oleh Harefa (2012) dengan judul Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Harga Diri Orang HIV/AIDS (ODHA) di Lembaga Medan Plus, Medan yang menunjukkan bahwa pada umunya responden memiliki harga diri yang positif sebanyak 83,9%. Hal ini dipengaruhi oleh lingkungan keluarga dan lingkungan sosial responden, dimana keluarga memberikan dukungan baik emosional, instrumental, informasional, dan penilaian.
Harga diri merupakan semua yang dirasakan dan dipikirkan seseorang mengenai dirinya, mencakup seluruh kepercayaan dan sikap seseorang terhadap dirinya (Rakhmat, 2003). Banyak faktor yang membangun harga diri seseorang. Salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan harga diri seseorang, yaitu penghargaan, penerimaan, dan perhatian yang diterima individu dari orang-orang terdekatnya; sejarah kesuksesan dan status seseorang dalam masyarakat; nilai-nilai dan aspirasi yang dianut individu; serta cara-cara individu dalam merespon penilaian dari lingkungannya (Coopersmith, 1967) dalam (Harefa, 2012).
61
responden adalah 26 – 35 tahun, yaitu sebanyak 56,9%. Hal ini berarti responden pada umumnya berada di fase dewasa awal atau usia produktif, dimana menurut Notoadmodjo (2007), umur merupakan periode terhadap pola-pola kehidupan yang baru, semakin bertambahnya umur akan mencapai usia reproduksi, dan semakin banyak pengalaman yang diperolehnya. Faktor umur, menyatakan fokus harga diri seseorang mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan seseorang.
Kemudian tingkat pendidikan. Mayoritas tingkat pendidikan terakhir responden dalam penelitian ini adalah SMA, yaitu sebanyak 62,5% dibandingkan dengan SMP 21,9%. Hal ini dapat dilihat bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka cenderung semakin tinggi pula harga diri. Pernyataan ini didukung oleh pendapat dari Dusek (1996) dalam Nurmalasari (2007), bahwa kelas sosial yang ditandai oleh pendidikan, pekerjaan dan penghasilan merupakan penentu dari harga diri. Hal yang senada juga diungkapkan oleh Coopersmith (1967), yang menyatakan bahwa tingkat pendidikan yang lebih tinggi lebih memiliki banyak pengalaman, dan harga diri yang tinggi dapat terbentuk melalui pengalaman-pengalaman, baik itu pengalaman yang menyenangkan maupun kurang menyenangkan.
62
Kemudian lamanya seseorang menderita suatu penyakit juga dapat mempengaruhi tingkat harga diri. Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa responden menderita HIV/AIDS mayoritas >1 tahun yaitu sebanyak 65,6%. Dimana dalam mempertahankan harga diri, mekanisme koping yang digunakan pada pasien HIV/AIDS adalah sebagai berikut : 1) Penolakan: meniadakan realitas situasi; 2) Penghindaran: mencoba untuk mengabaikan akibat situasi; 3) Regresi: menjadi lebih tergantung, lebih pasif, lebih emosional; 4) Kompensasi: meniadakan keterbatasan disatu area dan mendapatkan keahlian didaerah lain; 5) Rasionalisasi: memaafkan diri untuk tidak mencapai harapan; 6) Pengalihan perasaan: penyaluran perasaan yang tidak dapat diterima ke dalam perilaku yang dapat diterima secara sosial. Hal ini berarti mayoritas responden telah mencapai mekanisme kopingnya dengan baik.
5.2.2 Interaksi Sosial Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di RSUP H. Adam Malik Medan
63
yang melihat kemudian meniru. Lalu sugesti, yaitu pengaruh psikis baik yang datang dari orang lain maupun dari dirinya sendiri yang pada umumnya datang tanpa ada kritikan. Kemudian faktor identifikasi pribadi dan yang terakhir faktor simpati.
Penelitian ini didukung oleh Duriah (2014) yang menyatakan bahwa interaksi sosial yang dialami ODHA lebih bersifat asosiatif daripada disasosiatif. Hal tersebut dibuktikan dengan pergaulan ODHA yang memenuhi semua ciri dari interaksi sosial asosiatif, yakni ODHA dapat bekerjasama, berasimilasi, terakomodasi, dan berakulturasi dengan baik dengan semua lapisan masyarakat, baik keluarga, relasi, teman, dan orang-orang yang ada di lingkungan tempat tinggal mereka. Interaksi sosial disasosiatif terjadi pada permulaan saja.
Pernyataan tersebut juga didukung dengan karakteristik responden yang mayoritas menderita HIV/AIDS >1 tahun. Dimana responden telah melewati mekanisme kopingnya dengan baik dan interaksi sosial disasosiatif atau yang buruk hanya terjadi pada permulaan saja.
64
dihormati, diterima, kompeten, dan bernilai, inilah yang diharapkan oleh pasien ODHA.
Selain itu faktor-faktor yang mempengaruhi dukungan sosial, juga turut mempengaruhi subjek. Dimana menurut Sarafino (1994) dalam Nurmalasari (2007) didapatkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan seseorang menerima dukungan sosial adalah potensi penerima dukungan, potensi penyedia dukungan dan komposisi serta struktur jaringan sosial. Hal ini berarti responden memperoleh dukungan sosial seperti yang diharapkannya, memperoleh kesediaan dari seseorang yang diharapkan dapat menjadi penyedia dukungan yang dibutuhkan, dan memperoleh kedekatan hubungan yang dimiliki dengan orang-orang dalam keluarga maupun lingkungannya.
Hasil penelitian ini didukung oleh Erwina & Aulia (2014) yang melakukan penelitian di Yayasan Lentera Minangkabau Support, bahwa pada penelitian tersebut diketahui sebanyak 64,4% ODHA memiliki interaksi sosial yang baik. Hal ini dilihat dari karakteristik ODHA sendiri terkait dengan pekerjaannya, seluruh ODHA di Yayasan Lantera Minangkabau adalah orang yang memiliki aktivitas atau kesibukan yang rutin. Kegiatan itu berlangsung di luar rumah, yang mengharuskan ODHA untuk melakukan kontak sosial dan komunikasi dengan orang lain. Secara tidak langsung ODHA telah melewati masa-masa proses kembali ke kehidupan sosialnya. Mereka bertemu, berinteraksi dan bekerja bersama orang lain. ODHA telah mampu masuk ke kehidupan sosialnya. Menyesuaikan diri sedari didiagnosa sebagai Orang Dengan HIV/AIDS.
65
12,5% dan ODHA dengan interaksi sosial negatif 87,5%. Hasil yang berbeda disebabkan oleh penelitian ini dilakukan pada suatu komunitas yang bersifat non yayasan yang sama sekali belum mendapatkan pemahaman nilai-nilai moral dan psikososial.
5.2.3 Hubungan Harga Diri dengan Interaksi Sosial Pada Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di RSUP H. Adam Malik Medan
Analisis hubungan hubungan harga diri dengan interaksi sosial, menunjukkan semakin tinggi tingkat harga diri ODHA maka semakin baik interaksi sosial ODHA tersebut. Hubungan kedua variabel lemah (r=0,271). Hasil uji statistik lebih lanjut disimpulkan, adanya hubungan yang bermakna antara harga diri dengan interaksi sosial (p=0,030).
Hasil penelitian sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Harefah (2012) yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan harga diri ODHA di Lembaga Medan Plus Medan Tahun 2013 dengan nilai p = 0,019, maka Ha terbukti. Hal ini juga didukung oleh penelitian Hermawati (2011) yang menunjukkan hasil penghitungan bahwa didapat r square sebesar 0,335 yang berarti bahwa variabel interaksi sosial memberikan pengaruh sebesar 33,5% terhadap variabel persepsi ODHA terhadap stigma HIV/AIDS di masyarakat.
66
yang berasal dari diri ODHA sendiri, ODHA telah mampu mengartikan setiap stigma yang muncul dari lingkungannya. Sehingga dengan keadaan dirinya sekarang ODHA telah mampu menepis semua pandangan yang keluar dari lingkungan sekitar terhadap dirinya.
Sedangkan menurut Spiritia (2010) dalam Aulia & Erwina (2014)terdapat hubungan yang berarti antara kepercayaan diri yang merupakan bagian dari harga diri dengan kenyamanan ODHA dalam berinteraksi dengan orang lain. Pada penelitian ini, interaksi sosial yang baik dipengaruhi oleh lingkungan rumah sakit, dimana pihak RSUP H. Adam Malik Medan memfasilitasi ataupun memberikan dampingan relawan untuk pasien ODHA yang bekerjasama dengan beberapa lembaga kemasyarakatan yang masih peduli dan bersimpati serta mendukung ODHA.
67
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga diri pasien ODHA di RSUP H. Adam Malik Medan berada pada kategori sedang (Medium self-esteem) dan interaksi sosial ODHA berada pada kategori baik yang berarti bahwa responden memiliki interaksi sosial yang baik. Terdapat hubungan yang signifikan antara harga diri dengan interaksi sosial ODHA dengan kekuatan hubungan lemah dan arah hubungan yang positif. Peningkatan harga diri yang dimiliki oleh ODHA memiliki peranan yang penting dalam interaksi sosialnya, semakin meningkat harga diri ODHA maka semakin baik pula interaksi sosialnya.
6.2 Saran
6.1.1. Bagi pendidikan keperawatan
Hasil penelitian diharapkan sebagai informasi tambahan untuk persiapan materi penyuluhan khususnya mengenai aspek psiko-sosial ODHA, yang berguna untuk meningkatkan kualitas pendidikan keperawatan keluarga dan komunitas.
6.1.2 Bagi pelayanan keperawatan
68
6.1.2. Bagi penelitian keperawatan selanjutnya
8
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep HIV/AIDS
2.1.1 Definisi HIV/AIDS
HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, merupakan penyakit lain (infeksi oportunitik) dan dapat berlangsung lama/bertahun-tahun tanpa memberikan gejala. Infeksi oportunistik adalah infeksi yang umumnya tidak berbahaya pada orang dengan tubuh normal namun dapat berakibat fatal pada ODHA (orang dengan HIV/AIDS) karena sistem kekebalan tubuhnya lemah. Sedangkan AIDS adalah singkatan dari Acquired Immunodefeciency Syndrome suatu kumpulan gejala penyakit yang di dapat akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh yang di sebabkan oleh virus HIV. HIV/AIDS adalah suatu kumpulan kondisi klinis tertentu yang merupakan hasil akhir dari infeksi oleh HIV (Slyvia & Wilson, 2005) dalam (Indah, 2013).
HIV adalah virus dan seperti kebanyakan virus, HIV memerlukan sel inang untuk memperbanyak diri guna melakukan replikasi dan bertahan hidup. HIV diklasifikasikan sebagai retrovirus, yaitu virus asam ribonukleat (RNA) (French, 2015).
9
menyerang tubuh manusia sesudah sistem kekebalannya dirusak oleh virus yang disebut HIV (Human Immunodeficiency Virus) (Djoerban, 2000).
AIDS adalah sindrom atau kumpulan gejala yang disebabkan oleh HIV yang mudah menular dan mematikan. Virus tersebut menyerang sistem kekebalan tubuh, dengan akibat turunnya/hilangnya daya tahan tubuhnya, sehingga mudah terjangkit dan meninggal karena penyakit infeksi, keganasan dan lain-lain (Hermawan, 2006).
Dari pengertian di atas penulis menyimpulkan bahwa HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Imune Deficiency Syndrome) adalah kumpulan gejala penyakit yang terjadi akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh manusia yang disebabkan oleh virus dari golongan retrovirus, yaitu virus asam ribonukleat (RNA).
2.1.2 Transmisi HIV/AIDS
HIV bukan fenomena yang terjadi secara alamiah, virus ini ditransmisikan dari mana pun agar seseorang dapat terinfeksi. Transmisi HIV dapat terjadi baik melalui kontak seksual, via darah atau produk darah, atau dari ibu ke bayinya.
a. Kontak seksual – Sebagian besar infeksi HIV terjadi melalui
hubungan intim tanpa pelindung. HIV terdapat pada semen, pre-cum, cairan vagina, dan darah haid. Selama berhubungan
10
dengan membran mukosa. Seperti melalui hubungan seksual anal dan vaginal tanpa pelindung, HIV dapat ditransmisikan juga melalui seks oral tanpa pelindung meskipun beberapa bukti menyatakan bahwa metode ini berisiko lebih kecil untuk mengalami infeksi. Beberapa faktor tertentu akan membuat transmisi HIV lebih memungkinkan, contohnya, jika seorang individu sudah mengalami SAI, seperti klamidia, ia lebih rentan terhadap infeksi (French, 2015). Dalam Hermawan (2006) disebutkan juga bahwa kontak dengan menggunakan mulut, hubungan seksual menggunakan kondom, ciuman mulut dengan mulut, dan ciuman mulut dengan kelamin dapat memberikan risiko penularan HIV.
b. Kontak darah dengan darah – HIV terdapat di dalam darah,
setiap kontak dengan darah yang terinfeksi HIV berpotensi menyebabkan infeksi. Metode infeksi yang paling umum adalah melalui berbagai peralatan injeksi di antara pengguna obat terlarang yang diinjeksikan. Saat ini, infeksi HIV jarang terjadi melalui tranfusi darah karena semua darah yang didonasikan untuk tranfusi di Inggris sudah diperiksa untuk HIV dan pemeriksaan tersebut sudah dilakukan sejak tahun 1985. Infeksi HIV melalui luka akibat jarum injeksi jarang terjadi dan hanya terjadi pada sekitar kurang dari 1% individu. c. Transmisi ibu ke anak – HIV dapat ditularkan ibu ke bayinya,
11
Semua ibu hamil ditawarkan dan dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan HIV karena jika HIV dikonfirmasi selama kehamilan, medikasi dapat diberikan ke ibu untuk mengurangi risiko infeksi HIV ditransmisikan ke janin.
Risiko transmisi bergantung juga pada jenis pajanan dan daya infeksi pasien yang menjadi sumbernya. Risiko transmisi melalui hubungan intim diperkirakan sekitar 0,2% (1 dalam 500) (Varghese et al., 2002).
2.1.3 Gambaran klinis HIV/AIDS
Menurut French (2015) gambaran klinis terkait infeksi HIV adalah a. Dugaan infeksi primer dengan penyakit serokonversif (proses, setelah pajanan terhadap agens penyebab penyakit, perubahan darah dari penanda serum yang negatif menjadi positif untuk penyakit yang spesifik).
b. Setiap manifestasi yang tidak lazim dari penyakit yang
disebabkan oleh bakteri, fungal, virus: infeksi tuberkulosis; dugaan Pneumocystis jiroveci pneumonia (PCP); atau dugaan oksoplasmosis serebral.
c. Ulserasi genital persisten.
d. Tumor yang tidak lazim, contohnya, limfoma serebral, limfoma
non-Hodgkin, atau sarkoma Kaposi.
12
f. Masalah kulit yang tidak biasa, seperti dermatitis seboreik berat, psoriasis atau moluskum kontagiosum, herpes zoster kambuhan atau herpes zoster pada individu berusia muda. g. Limfadenopati umum (generalised lymphadenopathy, PGL)
persisten atau limfoedema yang tidak dapat dijelaskan.
h. Masalah neurologis mencakup neuropati perifer atau tanda fokal yang disebabkan oleh lesi intra serebral yang memenuhi ruang.
i. Penurunan berat badan atau diare yang tidak dapat dijelaskan, keringat berlebihan di malam hari atau pireksia yang tidak diketahui penyebabnya (Rogstad et al., 2006).
Menurut Soedarto (2010) penderita yang terinfeksi HIV dapat dikelompokkan menjadi 4 golongan, yaitu
a. Penderita Asimtomatik, tanpa gejala, yang terjadi pada masa inkubasi yang berlangsung antara 7 bulan sampai 7 tahun lamanya.
b. Persistent Generalized Lymphadenopathy (GPL) dengan gejala limfadenopati umum.
c. AIDS Related Complex (ARC) dengan gejala lelah, demam, dan gangguan sistem imun atau kekebalan.
13
disebabkan oleh infeksi oportunistik dan neoplasia misalnya Sarkoma Kaposi. Penderita akhirnya meninggal dunia akibat komplikasi penyakit infeksi sekunder.
Diagnosis HIV/AIDS dari gejala klinis khas HIV adalah sebagai berikut :
a. HIV stadium 1 : asimtomatis atau terjadi GPL (persistent generalized lymphadenopathy).
b. HIV stadium 2 : berat badan menurun lebih dari 10%, ulkus
atau jamur di mulut, menderita herpes zoster 5 tahun terakhir, sinusitis rekuren.
c. HIV stadium 3 : berat badan menurun lebih dari 10%, diare kronis dengan sebab tak jelas lebih dari 1 bulan.
d. HIV stadium 4 : berat badan menurun lebih dari 10%,
gejala-gejala infeksi pneumosistosis, TBC, kriptokokosis, herpes zoster dan infeksi lainnya sebagai komplikasi turunnya sistem imun (AIDS). Untuk menentukan diagnosis pasti HIV/AIDS, virus penyebabnya dapat diisolasi dari limfosit darah tepi atau dari sumsum tulang penderita.
Menurut kriteria W.H.O gejala klinis AIDS untuk penderita dewasa meliputi minimum 2 gejala major dan 1 gejala minor. Gejala major :
14
c. demam lebih dari 1 bulan.
Gejala minor :
a. batuk lebih dari 1 bulan,
b. pruritus dermatitis menyeluruh,
c. infeksi umum rekuren misalnya herpes zoster atau herpes
simpleks,
d. limfadenopati generalisata, e. kandidiasi mulut dan orofaring,
f. ibu menderita AIDS (kriteria tambahan untuk AIDS anak).
Untuk membantu menegakkan diagnosis, dilakukan pemeriksaan serologi untuk menentukan antibodi terhadap HIV dengan uji ELISA, uji imunofluoresens, radioimmunoprecipitin assay dan pemeriksaan western blot.
2.1.4 Tahapan infeksi HIV/AIDS
Progresi penyakit HIV dibagi menjadi empat tahap utama, yaitu :
2.1.4.1 Primer
15
dalam tubuh, ketika kadar HIV mencapai angka tertinggi di dalam darah yang bersirkulasi. Pada saat ini, orang yang terinfeksi menjadi sangat infeksius.
a. Serokonversi
Gejala untuk penyakit serokonversi bersifat samar dan sering kali dideskripsikan sebagai gejala “seperti flu”. Umumnya, gejala mulai
terjadi pada 2-6 minggu pasca-infeksi HIV dan akan terjadi sekitar 10-14 hari. Gejala dapat mencakup :
a. Demam dan rasa nyeri pada ekstremitas. b. Ruam berbercak merah pada tubuh bagian atas. c. Sakit tenggorok (faringitis).
d. Ulserasi pada mulut atau genital. e. Diare.
f. Sakit kepala berat.
g. Tidak dapat melihat cahaya.
Diperkirakan hingga 80% orang yang terinfeksi HIV akan mengalami beberapa gejala ini; namun beberapa gejala ini amat samar dan berkaaitan dengan penyakit minor lainnya; gejala ini tidak dikaitkan dengan infeksi HIV.
Gejala yang lebih jarang mencakup :
a. Meningitis. b. Paralisis.
16
Jika gejala yang jarang terjadi ini dialami atau jika gejala terjadi lebih dari yang diperkirakan, prognosisnya buruk. Tanpa medikasi antiretroviral, diagnosis AIDS cenderung dapat ditegakkan dalam 5 tahun.
2.1.4.2 Asimtomatik
Tahap infeksi asimtomatik disebut seperti itu karena orang yang terinfeksi HIV sering kali menunjukkan tanda infeksi yang tidak terlihat dan tidak adanya progresi penyakit pada tahap ini. Tahap infeksi HIV ini dapat berlangsung selama beberapa tahun.
Jika terdapat gejala-gejala tersebut, mayoritas dari individu akan mengalami pembengkakan kelenjar getah bening, yang disebut PGL. PGL adalah tanda dari tubuh yang mencoba melawan infeksi HIV dari pada tanda kerusakan pada sistem imun.
Walaupun individu dengan HIV tidak akan memiliki tanda-tanda infeksi yang kasat mata, terkadang terdapat kerusakan pada sistem imun mereka yang hanya dapat terdeteksi dengan pemeriksaan darah spesifik. Pemeriksaan darah ini termasuk hitung sel CD4 dan pemeriksaan beban virus.
2.1.4.3 Simtomatik
17
semakin rentan mengalami infeksi dan/atau tumor yang mengindikasikan infeksi HIV simtomatik.
a. Aksi spesifik HIV
Sebagian besar gejala yang terlihat pada individu yang terinfeksi HIV disebabkan oleh penurunan sistem imun dibanding aksi virus itu sendiri. Satu-satunya pengecualian dari kondisi tersebut adalah sindrom wasting HIV dan demensia HIV, yang disebabkan oleh aksi langsung HIV.
b. Infeksi oportunistik
Infeksi oportunistik adalah infeksi yang masih dapat dikendalikan oleh sistem imun yang sehat, tetapi setelah sistem imun mengalami gangguan akibat HIV; infeksi mengambil “kesempatan” untuk menimbulkan masalah dan menyebabkan
kondisi sakit. Infeksi oportunistik yang paling sering terjadi di Inggris adalah Pneumocystis jiroveci (carinii) pneumonia. 2.1.4.4 AIDS
AIDS adalah diagnosis yang ditegakkan hanya jika kriteria medis tertentu telah ditemukan. Sebagai contoh, individu yang didiagnosis AIDS akan ditemukan kondisi oportunistik, seperti PCP atau Sarkoma Kaposi, dan mengalami imunosupresi yang nyata.
2.1.5 Pengobatan HIV/AIDS
18
yang menggunakan protease inhibitor, berupa kombinasi sedikitnya 3 ARV berasal dari sedikitnya 2 jenis / kelas yang berbeda. Kombinasi ARV yang umum digunakan adalah NRTI (nucleoside analogue reverse transcriptase inhibitor), dengan protease inhibitor atau dengan non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTI). Penerapan HAART
meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan umum penderita HIV, menurunkan dengan drastis angka kesakitan dan angka kematian HIV.
Pada prinsipnya ARV harus diberikan segera sesudah diagnosis HIV ditegakkan.
Tabel 2.1. Obat antiretroviral (NRTI) yang telah disetujui FDA
Singkatan Nama Generik Nama Dagang Cara Pemberian
3TC Lamivudine Epivir Dengan atau tanpa makanan
ABC Abacavir Ziagen Dengan atau tanpa makanan
AZT/ZDT Zidovudine Retrovir Dengan atau sesudah makan
D4T Stavudine Zerit Dengan atau tanpa makanan
DdC Zalcitabine Hivid Dengan atau sesudah makan
Ddl Didanosine Videx Berikan 30 menit sebelum makan; hindari alkohol
19
Tabel 2.2. Obat antiretroviral (NNRTI) yang disetujui FDA
Singkatan Nama Generik Nama Dagang Cara Pemberian
DLV Delavirdine Rescriptor Dengan atau tanpa
makanan
EFV Efavirenz Sustiva/Stocrin Berikan waktu lambung dalam keadaan kosong
ETR Etravirine Intelence Berikan bersama makanan
NVP Nevirapine Viramune Dengan atau tanpa
makanan
(Sumber : Soedarto, 2010)
Tabel 2.3. Protease Inhibitor yang disetujui FDA
Singkatan Nama Generik Nama Dagang Cara Pemberian
APV Amprenavir Agenerase Dengan atau tanpa
makanan
Hindari makanan berlemak
FOS-APV Fosamprenavir Lexiva
Telzir
Dengan atau tanpa makanan
20
2.1.6 Pencegahan HIV/AIDS
Tidak ada vaksin untuk mencegah HIV atau AIDS. Pencegahan hanya dapat dilakukan dengan menghindari kontak dengan virus yang berasal dari penderita baik secara langsung maupun tidak langsung melalui barang-barang yang tercemar dengan bahan inefektif berasal dari penderita HIV.
Petugas yang telah kontak dengan virus diberikan perawatan antiretrovirus secara langsung (post exposure prophylaxis, PEP). Untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS di masyarakat harus dilakukan upaya mencegah paparan HIV yang terjadi melalui tranfusi darah, persalinan, penularan dari ibu ke anak, penggunaan jarum suntik bersama, hubungan seksual baik yang heteroseksual maupun homoseksual atau perilaku seksual lainnya.
2.1.7 Dampak Psikologis Akibat HIV
21
Selama progresi HIV, individu memerlukan bertahun-tahun untuk memahami mengapa mereka terinfeksi, dapatkah mereka mencegahnya, kapan waktu yang tepat untuk memberi tahu tentang kondisinya saat ini ke orang lain, siapa yang harus mereka beri tahu karena orang tersebut berisiko terinfeksi, dan apa yang akan terjadi pada dirinya di masa depan. Bagi beberapa orang, diagnosis HIV dapat serupa dengan diagnosis kanker, seperti yang dijelaskan Elizabeth Kubler-Ross (1969) dalam siklus berdukanya-penyangkalan dan isolasi, kemarahan, penerimaan, tawar-menawar , depresi, dan akhirnya penerimaan (French, 2015).
Selanjutnya, seiring progresi HIV, individu harus menghadapi kondisi sakit. Bagi beberapa orang, kondisi sakit ini berarti hilangnya kendali terhadap tubuh yang dapat menyebabkan rasa tidak memiliki kendali terhadap hidupnya. HIV menjadi musuh dan orang yang terinfeksi HIV melaporkan bahwa mereka merasa disiksa oleh virus (Schonnesson and Ross, 1999) dalam (French, 2015).
2.2 Konsep harga diri
2.2.1 Definisi harga diri
22
Harga diri adalah rasa dihormati, diterima, kompeten, dan bernilai. Orang dengan harga diri rendah seiring merasa tidak dicintai dan sering mengalami depresi dan ansietas. Harga diri berfluktuasi sesuai dengan kondisi sekitarnya, meskipun inti dasar dari perasaan negatif dan positif dipertahankan (Potter and Perry, 2005).
Maslow dalam teori hirarki kebutuhannya menyatakan bahwa harga diri adalah salah satu motivasi dasar manusia untuk mencapai aktualisasi diri (dalam Huitt, 2007). APA dictionary of Psychology (2007, hal. 830) mendefinisikan harga diri sebagai tahapan dimana kualitas dan karakteristik self-concept yang dimiliki seseorang dianggap positif. Harga diri merefleksikan gambaran citra diri, kemampuan, pencapaian, dan nilai yang dimiliki serta sejauh mana seorang individu sukses menerapkannya. 2.2.2 Bentuk harga diri
Berdasarkan kajian literatur mengenai harga diri yang dilakukan beberapa ahli Brown dan Marshall (2006) membagi bentuk harga diri kedalam 3 kategori :
a. Global self-esteem
23
maka kemungkinan besar individu tersebut akan memiliki tingkat harga diri yang sama ketika dewasa (weiten et al., 2012).
b. Feeling of self-worth
Harga diri juga sering dirujuk sebagai reaksi emosi evaluatif terhadap kejadian tertentu. Contohnya seseorang mungkin merasa harga dirinya naik setelah mendapat promosi jabatan dan harga dirinya turun setelah menjalani perceraian. Self-worth adalah perasan bangga terhadap diri sendiri (dalam sisi positif) dan malu terhadap diri sendiri (dalam sisi negatif). Harga diri yang demikian disebut juga sebagai state self-esteem, yaitu harga diri yang bersifat dinamis dan dapat dirubah bergantung pada perasaan seseorang terhadap dirinya di waktu tertentu (Heathertron & Polivy dalam Weiten et al., 2012).
c. Self-evaluations
Disebut juga sebagai domain spesific self-esteem, yaitu harga diri digunakan untuk merujuk cara seseorang mengevaluasi kemampuan dan atribut bervariasi yang ada pada dirinya. Contohnya seorang individu yang memiliki keraguan atas kemampuannya di sekolah dapat disebut memiliki academic self-esteem yang rendah sedangkan individu yang merasa dirinya
24
2.2.3 Sumber harga diri
Epstein (dalam Mruk, 2006) menambahkan sumber harga diri yang dikemukakan oleh Coopersmith sehingga lebih dinamis dengan alasan apabila kesuksesan (hal positif) terlibat dalam pembentukan harga diri maka kemungkinan akan adanya kegagalan (hal negatif) juga harus dilibatkan. Keempat sumber harga diri tersebut adalah :
a. Acceptance vs. rejection
Penerimaan dan penolakan dalam hubungan interpersonal seorang individu dengan orang tua, saudara, teman, pasangan, dan rekan kerja dapat mempengaruhi perasaan seorang individu atas dirinya. Bentuk penerimaan seperti rasa peduli, pengasuhan, perasaan tertarik, respek, serta kagum dan bentuk penolakan seperti tidak dihiraukan, direndahkan, atau dimanfaatkan dapat memperharuhi harga diri seseorang.
b. Virtue vs. guilt
Virtue menurut Epstein adalah kepatuhan terhadap standar moral
25
yang berlaku maka akan mempengaruhi harga dirinya secara negatif.
c. Power vs. powerlessness
Epstein mendefinisikan power sebagai kemampuan untuk mengatur atau mengontrol lingkungannya atau dengan kata lain kemampuan untuk memberi pengaruh. Kemampuan seorang individu untuk berinteraksi dengan lingkungan dan individu sekitarnya dengan cara-cara yang dapat membentuk atau mengarahkan interaksi tersebut mencerminkan kompetensi dalam menghadapi tantangan dalam kehidupan dan akan mempengaruhi harga diri secara positif.
d. Achievement vs. failure
26
2.2.4 Tingkat harga diri
Mruk (2006) menyimpulkan tingkat harga diri berdasarkan beberapa definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli menjadi tiga kategori, yaitu :
a. Low Self-esteem
Karakteristik individu dengan harga diri rendah meliputi hipersensitivitas, ketidakstabilan, rasa canggung, dan kurang percaya diri. Individu dengan harga diri rendah lebih berfokus pada melindungi diri dari ancaman dibanding berusaha untuk mengaktualisasikan potensi yang dimiliki dan menikmati hidup. Individu dengan harga diri rendah juga tidak memiliki gambaran identitas yang jelas dan sensitif terhadap isyarat sosial yang dianggap relevan dengan dirinya, mereka menggunakan strategi self-handicapping dan menurunkan ekspektasi untuk menghindari perasaan inferior lebih lanjut.
b. High self-esteem
27
interpersonal. Individu yang memiliki harga diri tinggi memiliki karakteristik interpersonal yang disukai serta memiliki standar moral dan kesehatan yang baik. Harga diri yang tinggi juga dapat membantu meningkatkan kinerja berkaitan dengan kemampuan pemecahan masalah dalam situasi tertentu yang membutuhkan inisiatif dan presistensi.
c. Medium self-esteem
Coopersmith (dalam Mruk, 2006) menyatakan bahwa individu dengan tingkat harga diri sedang merupakan hasil dari tidak tereksposnya seorang individu pada faktor-faktor yang mendukung kepemilikan tingkat harga diri yang tinggi, namun memiliki sebagian faktor sehingga menghindarkan mereka dari tingkat harga diri yang rendah.
2.2.5 Faktor-faktor yang mempengaruhi harga diri
Harga diri mempengaruhi bagaimana individu akan berfungsi dalam kehidupannya sehari-hari. Individu dengan harga diri rendah, cenderung memiliki motivasi rendah (Branden, 1994) dalam Karima (2004). Sementara individu dengan harga diri tinggi akan lebih dapat berperilaku efektif (Coopersmith dan Branden) dalam Karima (2004).
28
a. Penerimaan atau penghinaan terhadap diri.
Individu yang merasa dirinya berharga akan memiliki penilaian yang lebih baik atau positif terhadap dirinya dibandingkan dengan individu yang tidak mengalami hal tersebut. Individu yang memiliki harga diri yang baik akan mampu menghargai dirinya sendiri, menerima diri, tidak menganggap rendah dirinya, melainkan mengenali keterbatasan dirinya sendiri dan mempunyai harapan untuk maju dan memahami potensi yang dimilikinya. Sebaliknya individu dengan harga diri yang rendah umumnya akan menghindar dari persahabatan, cenderung menyendiri, tidak puas akan dirinya, walaupun sesungguhnya orang yang memiliki harga diri yang rendah memerlukan dukungan.
b. Kepemimpinan atau popularitas
29
c. Keluarga – orangtua
Keluarga dan orangtua memiliki porsi terbesar yang mempengaruhi harga diri, ini dikarenakan keluarga merupakan modal pertama dalam proses imitasi. Alasan lainnya karena perasaan dihargai dalam keluarga merupakan nilai yang penting dalam mempengaruhi harga diri.
d. Keterbukaan – kecemasan
Individu cenderung terbuka dalam menerima keyakinan, nilai-nilai, sikap, moral dari seseorang maupun lingkungan lainnya jika dirinya diterima dan dihargai. Sebaliknya seseorang akan mengalami kekecewaan bila ditolak lingkungannya.
2.2.6 Gambaran harga diri ODHA
Harga diri pada pasien HIV/AIDS mempunyai peranan penting dalam proses perawatan seperti yang diunhkapkan oleh Stuart dan Sundeen (2000) self esteem (harga diri) adalah perilaku tentang nilai individu menganalisa kesesuaian paerilaku dengan ideal diri. Harga diri yang tinggi berakar dari penerimaan diri tanpa syarat sehingga diharapkan pasien HIV/AIDS dengan harga diri yang tinggi dapat berpengaruh terhadap penerimaan diri tentang kondisinya tanpa syarat.
30
Saat divonis sebagai Orang dengan HIV/AIDS (ODHA), yang terbayang dibenak mereka adalah kematian (Djoerban, 2000).
Harga diri adalah konsep yang meliputi rendah diri, dan penerimaan mereka kepada orang lain. Ini meliputi penilaian diri mereka secara internal yang didasarkan pada pengalaman masa lalu. ODHA dengan harga diri rendah bukan dikarenakan untuk melindungi dirinya sendiri atau orang lain terhadap penularan infeksi HIV, namun adanya stigmatisasi, rasa bersalah, kehilangan citra tubuh yang positif, kehilangan peran, kehilangan pekerjaan, dan hilangnya jaringan sosial. Dalam mempertahankan harga diri, mekanisme koping yang digunakan pada pasien HIV/AIDS adalah sebagai berikut :
1) Penolakan: meniadakan realitas situasi
2) Penghindaran: mencoba untuk mengabaikan akibat situasi 3) Regresi: menjadi lebih tergantung, lebih pasif, lebih emosional 4) Kompensasi: meniadakan keterbatasan disatu area dan
mendapatkan keahlian didaerah lain
5) Rasionalisasi: memaafkan diri untuk tidak mencapai harapan 6) Pengalihan perasaan: penyaluran perasaan yang tidak dapat
31
2.3 Konsep interaksi sosial
2.3.1 Definisi interaksi sosial
Manusia adalah makhluk sosial sekaligus makhluk individual. Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki motif untuk mengadakan hubungan dan hidup dengan orang lain dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar, yang disebut dengan dorongan sosial (Mubarak, 2011).
Menurut M. Sitorus dalam Mubarak (2011), interaksi sosial adalah hubungan-hubungan dinamis yang menyangkut hubungan antarindividu-individu, individu dan kelompok, kelompok dan kelompok dalam bentuk kerja sama serta persaingan atau pertikaian.
Interaksi sosial adalah hubungan antarindividu satu dan individu lain, individu satu dapat mempengaruhi yang lainnya atau sebaliknya, jadi terdapat hubungan yang saling timbal balik (Walgito, B., 2001) dalam (Mubarak, 2011).