UJI RPM SILINDER MATA PARUT PADA ALAT PEMARUT
MEKANIS
SKRIPSI
Oleh:
WINA
DEPARTEMEN TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UJI RPM SILINDER MATA PARUT PADA ALAT PEMARUT
MEKANIS
SKRIPSI
Oleh:
WINA
060308020 / TEKNIK PERTANIAN
Skripsi sebagai salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara
Disetujui Oleh: Komisi Pembimbing
(Taufik Rizaldi, STP, MP) (Achwil Putra Munir, STP, M.Si)
Ketua Anggota
DEPARTEMEN TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
ABSTRAK
WINA: Uji RPM Silinder Mata Parut Pada Alat Pemarut Mekanis, dibimbing oleh TAUFIK RIZALDI dan ACHWIL PUTRA MUNIR.
Alat pemarut yang banyak digunakan masyarakat yaitu papan parut dimana penggunaan papan parut ini membutuhkan waktu yang relatif lama. Oleh karena itu diperlukan alat pemarut mekanis. Penelitian ini bertujuan untuk menguji rpm silinder mata parut pada alat pemarut mekanis. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2010 menggunakan rancangan acak lengkap faktorial 2 faktor yaitu rpm (650, 750, 850 rpm) dan jenis komoditi (ubi kayu, kelapa, dan jahe). Parameter yang diamati adalah kapasitas olah, kapasitas hasil, persentase bahan yang tidak terparut, analisis ekonomi,break event value, dannet present value.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rpm memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap kapasitas olah, kapasitas hasil dan memberikan pengaruh berbeda tidak nyata terhadap persentase bahan yang tidak terparut. Jenis komoditi memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap kapasitas olah, kapasitas hasil dan memberikan pengaruh berbeda tidak nyata terhadap persentase bahan yang tidak terparut. Interaksi perlakuan memberikan pengaruh sangat nyata terhadap kapasitas olah, kapasitas hasil dan memberikan pengaruh berbeda tidak nyata terhadap persentase bahan yang tidak terparut.
Kata kunci: rpm, alat pemarut mekanis, ubi kayu, kelapa, dan jahe
ABSTRACT
WINA: Effect of Revolutions per Minute grated eye cylinder of grated mechanical supervised by TAUFIK RIZALDI and ACHWIL PUTRA MUNIR.
Grated tool that is widely use community is shredded board where its use requires a relatively long time. Therefore necessary of grated mechanical. The aims of this research was to test Revolutions per Minute of grated mechanical. This research was conducted in November 2010 use the complete randomized design with 2 factors: i.e. Revolutions per Minute (650, 750, and 850) and commodities (cassava, coconut, and ginger). Parameter observed the effective capacity of device, the percentage of material that are not destroy, economy analysis, break event point and net present value.
The result showed that Revolutions per Minute had highly significantly affected the capacity of material , the capacity of result, and had no significantly on percentage material that are not destroy. The kind of had highly significantly affected the capacity of material, the capacity of result, and had no significantly on percentage material that are not destroy. The interaction of treatment had highly significantly affected capacity of material, the capacity of result, and had no significantly on percentage material that are not destroy.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkankan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Uji RPM Silinder Mata Parut pada Alat Pemarut Mekanis .
Pada kesempatan ini penulis menghaturkan pernyataan terima kasih sebesar-besarnya kepada kedua orang tua penulis yang telah membesarkan, memelihara dan mendidik penulis selama ini. Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bapak Taufuk Rizaldi, STP, MP selaku ketua komisi pembimbing dan Bapak Achwil Putra Munir, STP, M.Si selaku anggota komisi pembimbing yang telah memberikan berbagai masukan, saran, dan kritik berharga kepada penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.
Di samping itu, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua staf pengajar dan pegawai di Program Studi Keteknikan Pertanian , serta semua rekan mahasiswa yang tak dapat disebutkan satu per satu di sini yang telah membantu penulis dalam penyusunan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat.
Medan, Maret 2011
DAFTAR ISI
Elemen Mesin/Alat Pemarut Mekanis ...12
Analisis Ekonomi...16
METODOLOGI PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian ...21
Bahan dan Alat...21
Persentase bahan yang tidak terparut ...41
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan ...44
Saran ...44
DAFTAR PUSTAKA ...45
DAFTAR TABEL
No. Hal
1. Pengaruh rpm terhadap parameter yang diamati... 31
2. Pengaruh jenis komoditi terhadap parameter yang diamati ... 32
3. Uji LSR pengaruh rpm terhadap kapasitas olah... 33
4. Uji LSR pengaruh jenis komoditi terhadap kapasitas olah ... 34
5. Uji LSR Efek interaksi rpm dan jenis komoditi terhadap kapasitas olah...36
6. Uji LSR pengaruh rpm terhadap kapasitas hasil... 37
7. Uji LSR pengaruh jenis komoditi terhadap kapasitas hasil ... 39
DAFTAR GAMBAR
No. Hal
1. Pengaruh rpm terhadap kapasitas olah... 33
2. Pengaruh jenis komoditi terhadap kapasitas olah ... 35
3. Pengaruh interaksi rpm dan jenis komoditi terhadap kapasitas olah ... 36
4. Pengaruh rpm terhadap kapasitas hasil ... 38
5. Pengaruh jenis komoditi terhadap kapasitas hasil... 39
DAFTAR LAMPIRAN
No. Hal
1. Data pengamatan kapasitas olah (kg/jam) ... 47
2. Data pengamatan kapasitas hasil (kg/jam)... 48
3. Data pengamatan persentase bahan yang tidak terparut ... 49
4. Data pengamatan kapasitas olah sebelum konversi (gr/menit)... 50
5. Data pengamatan kapasitas hasil (gr/menit) ... 51
6. Analisis ekonomi ... 52
7. Break event point... 55
8. Net present value... 56
9. Spesifikasi alat pemarut mekanis... 59
10. Prinsip kerja alat ... 60
11. Flowchartpenelitian ... 61
12. Nilai kekerasan bahan... 62
13. Gambar alat pemarut mekanis tampak depan ... 63
14. Gambar alat pemarut mekanis tampak atas... 64
15. Gambar alat pemarut mekanis tampak samping kanan... 65
ABSTRAK
WINA: Uji RPM Silinder Mata Parut Pada Alat Pemarut Mekanis, dibimbing oleh TAUFIK RIZALDI dan ACHWIL PUTRA MUNIR.
Alat pemarut yang banyak digunakan masyarakat yaitu papan parut dimana penggunaan papan parut ini membutuhkan waktu yang relatif lama. Oleh karena itu diperlukan alat pemarut mekanis. Penelitian ini bertujuan untuk menguji rpm silinder mata parut pada alat pemarut mekanis. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2010 menggunakan rancangan acak lengkap faktorial 2 faktor yaitu rpm (650, 750, 850 rpm) dan jenis komoditi (ubi kayu, kelapa, dan jahe). Parameter yang diamati adalah kapasitas olah, kapasitas hasil, persentase bahan yang tidak terparut, analisis ekonomi,break event value, dannet present value.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rpm memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap kapasitas olah, kapasitas hasil dan memberikan pengaruh berbeda tidak nyata terhadap persentase bahan yang tidak terparut. Jenis komoditi memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap kapasitas olah, kapasitas hasil dan memberikan pengaruh berbeda tidak nyata terhadap persentase bahan yang tidak terparut. Interaksi perlakuan memberikan pengaruh sangat nyata terhadap kapasitas olah, kapasitas hasil dan memberikan pengaruh berbeda tidak nyata terhadap persentase bahan yang tidak terparut.
Kata kunci: rpm, alat pemarut mekanis, ubi kayu, kelapa, dan jahe
ABSTRACT
WINA: Effect of Revolutions per Minute grated eye cylinder of grated mechanical supervised by TAUFIK RIZALDI and ACHWIL PUTRA MUNIR.
Grated tool that is widely use community is shredded board where its use requires a relatively long time. Therefore necessary of grated mechanical. The aims of this research was to test Revolutions per Minute of grated mechanical. This research was conducted in November 2010 use the complete randomized design with 2 factors: i.e. Revolutions per Minute (650, 750, and 850) and commodities (cassava, coconut, and ginger). Parameter observed the effective capacity of device, the percentage of material that are not destroy, economy analysis, break event point and net present value.
The result showed that Revolutions per Minute had highly significantly affected the capacity of material , the capacity of result, and had no significantly on percentage material that are not destroy. The kind of had highly significantly affected the capacity of material, the capacity of result, and had no significantly on percentage material that are not destroy. The interaction of treatment had highly significantly affected capacity of material, the capacity of result, and had no significantly on percentage material that are not destroy.
PENDAHULUAN
Latar BelakangTeknologi mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam peningkatan pendapatan ekonomi, oleh karena dengan penerapan teknologi yang sesuai, peningkatan nilai tambah dapat dilaksanakan secara berganda. Teknologi perlu diarahkan pada semua tahapan, termasuk didalam proses pascapanen. Teknologi sebagai satu kesatuan metodologi dan peralatan yang digunakan untuk melakukan suatu aktivitas tertentu memiliki sasaran akhir yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan hidup manusia. Inovasi dan penerapan suatu teknologi dalam suatu komunitas masyarakat perlu memperhatikan berbagai faktor agar dapat mencapai sasarannya.
Penerapan teknologi mekanis dalam bentuk mesin dan peralatan tepat guna dikalangan petani sangat perlu untuk dikembangkan agar jumlah dan mutu produk yang dihasilkan dapat ditingkatkan sehingga bisa mengantarkan corak pertanian yang subsistence ke pertanian transisi menuju sistem pertanian yang modern. Persyaratan dari teknologi yang dimaksud adalah mudah dibuat, mudah dioperasikan, sederhana, praktis, efisien, dan mudah diserap oleh petani karena harganya terjangkau.
Pengolahan yang dimaksud yaitu berupa proses transformasi dan pengawetan melalui perubahan fisik atau kimiawi, penyimpanan, pengepakan, dan distribusi. Pengolahan dapat berupa pengolahan sederhana seperti pembersihan, pemilihan (grading), pengepakan atau dapat pula berupa pengolahan yang lebih canggih, seperti penggilingan (milling), penepungan (powdering), ekstraksi dan penyulingan (extraction), penggorengan (roasting), pemintalan (spinning), pengalengan (canning) dan proses pabrikasi lainnya. Dengan perkataan lain, pengolahan adalah suatu operasi atau rentetan operasi terhadap suatu bahan mentah untuk dirubah bentuknya dan atau komposisinya.
Pemarutan merupakan salah satu bentuk operasi pengecilan ukuran dengan cara pemotongan dan penghancuran. Tujuan dari pemarutan adalah memperkecil ukuran bahan (merusak dinding sel) agar pati yang terdapat dalam sel keluar. Kualitas hasil parutan sangat tergantung pada karakteristik mata parut, sedangkan efisiensi pemarutan sangat dipengaruhi oleh sifat geometri dan kondisi kinematik bagian fungsional (silinder parut dan gigi parut).
Pegecilan ukuran (reducing size) adalah penghancuran suatu bahan padat menjadi partikel-partikel kecil secara mekanik tanpa dipengaruhi sifat-sifat kimia bahan. Operasi pengecilan ukuran membutuhkan energi yang lebih besar oleh karena hanya sebagian kecil dari energi yang ditransformasikan secara efisien. Oleh karena itu, peningkatan efisiensi merupakan hal yang kritis dalam suatu peralatan pengecilan ukuran.
ukuran dilakukan untuk menambah permukaan padatan sehingga pada saat penambahan bahan lain pencampuran dapat dilakukan secara merata. Tujuan pengecilan ukuran adalah mempermudah ekstraksi unsur tertentu dan struktur komposisi, penyesuaian dengan kebutuhan spesifikasi produk atau mendapatkan bentuk tertentu, untuk menambah luas padatan dan mempermudah pencampuran bahan secara merata.
Alat parut yang banyak digunakan masyarakat yaitu papan parut. Penggunaan alat parut ini membutuhkan waktu yang relatif lama dan menyebabkan kelelahan atau rasa pegal pada bagian tubuh tertentu. Pada industri yang besar membutuhkan tenaga kerja yang besar dan waktu pemarut yang cukup lama. Untuk itu diperlukan alat pemarut mekanis untuk memudahkan produksi. Alat pemarut mekanis sudah banyak dijual di pasaran dan alat ini sudah banyak digunakan pada industri besar maupun industri kecil.
Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan dari penelitian sebelumnya dimana hasil pemarutan yang diperoleh dan waktu pemarutan diduga masih belum optimal karena masih menggunakan rpm yang tetap yaitu sebesar 750 rpm, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui performansi kerja alat. Diharapkan diperoleh hasil yang lebih optimal, dengan mencari putaran silinder mata parut pada alat pemarut mekanis untuk memperoleh hasil yang baik. Sehingga alat pemarut mekanis tersebut dapat membantu dan mempermudah masyarakat dalam memarut bahan pangan.
Tujuan Penelitian
Kegunaan Penelitian
1. Bagi penulis yaitu sebagai bahan untuk menyusun skripsi yang merupakan syarat untuk menyelesaikan pendidikan di Program Studi Keteknikan Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
2. Bagi mahasiswa, sebagai informasi pendukung untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai alat pemarut mekanis.
3. Bagi masyarakat, sebagai alat bantu dan informasi untuk alat pemarut mekanis.
Hipotesa Penelitian
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Ubi kayuAdapun sistematika tanaman ubi kayu adalah sebagai berikut: Kelas : Dycotyledoneae
Sub kelas : Archichlamydeae Ordo : Euphorbiales Famili : Euphorbiaceae Sub famili : Manihotae Genus : Manihot
Spesies :Manihot esculentaCrantz
Manihot esculentaCrantz mempunyai nama lain M. utilissimadanM. alpi. Semua genus Manihot berasal dari Amerika Selatan. Brasil merupakan pusat asal dan sekaligus sebagai pusat keragaman ubi kayu. Manihot mempunyai 100 spesies yang telah diklasifikasikan dan mayoritas ditemukan di daerah yang relatif kering. Tanaman ubi kayu tumbuh di daerah antara 30° lintang selatan dan 30° lintang utara, yakni daerah dengan suhu rata-rata lebih dari 18° C dengan curah hujan di atas 500 mm/tahun (Prihandana, dkk, 2007).
gizinya berguna bagi kesehatan tubuh. Namun singkong juga mengandung senyawa beracun, yaitu asam sianida (HCN) dalam kadar yang bervariasi. Untuk konsumsi, harus dipilih singkong yang memiliki kadar HCN terendah agar tidak keracunan. Uniknya lagi, tepung singkong dapat digunakan dalam pembuatan tepung campuran (composite flour), yakni tepung singkong dan tepung terigu. Tepung campuran tersebut bisa digunakan dalam pembuatan roti, kue, mi atau produk-produk makanan ringan lain (Prihandana,dkk, 2008).
Sebagai tanaman sumber karbohidrat, singkong memiliki peranan penting sebagai makanan pokok, bahan industri, bahan makanan ternak, maupun sebagai komoditas ekspor. Untuk komoditas ekspor biasanya singkong diolah terlebih dahulu menjadi gaplek dan tepung tapioka. Sebelum dijadikan tepung tapioka singkong diolah dulu dengan cara diparut kemudian diperas untuk mendapatkan pati. Pemarutan singkong dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pemarutan dengan cara manual atau mekanis (Anonimous, 2004)
Botani Kelapa
Dalam dunia tumbuh-tumbuhan, maka kelapa bisa digolongkan sebagai: Divisio : Spermatophyta
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Palmales
Famili : Palmae
Genus : Cocos
Species :Cocos nucifera
Penggolongan varietas kelapa umumnya berdasarkan perbedaan-perbedaan umur pohon mulai berbuah, bentuk dan ukuran buah, warna buah serta sifat-sifat khusus yang lain (Suhardiman, 1999).
Tanaman kelapa telah sejak ratusan tahun dikenal di seluruh kepulauan Nusantara. Kelapa merupakan salah satu penghasil bahan makanan yang sangat penting dalam kehidupan rakyat Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari kenyataan bahwa 75% dari minyak nabati dan 8% dari konsumsi protein bersumber dari kelapa. Selain itu tanaman kelapa merupakan tanaman serba guna, yang keseluruhan bagiannya dapat dimanfaatkan bagi kehidupan manusia dan menghasilkan keuntungan (Palungkun, 2001).
memberikan manfaat bagi manusia. Hanya saja selama ini produk kelapa mendapatkan saingan dari produk kelapa sawit. Namun, ditinjau dari ragam produk yang dapat dihasilkan oleh buah kelapa, produk kelapa sawit belum mampu menyainginya. Hal ini merupakan peluang untuk pengembangan kelapa menjadi aneka produk yang bermanfaat (Rindengan, 2004).
Tanaman kelapa disebut juga pohon kehidupan, karena dari setiap bagian tanaman dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Buah kelapa yang terdiri atas sabut, tempurung, daging buah dan air kelapa tidak ada yang terbuang dan dapat dibuat untuk menghasilkan produk industri, antara lain sabut kelapa dapat dibuat coir fibre, keset, sapu dan matras. Daging buah dapat dipakai sebagai bahan baku untuk menghasilkan kopra, minyak kelapa, coconut cream, santan dan kelapa parut kering(deciscated coconut), sedangkan air kelapa dapat dipakai untuk membuat cuka dan nata de coco. Tempurung dapat dimanfaatkan untuk membuat charcoal, carbon aktif dan kerajinan tangan. Dari batang kelapa dapat dihasilkan bahan-bahan bangunan baik untuk kerangka bangunan maupun untuk dinding serta atap. Daun kelapa dapat diambil lidinya yang dapat dipakai sebagai sapu, serta barang-barang anyaman (Suhardiyono, 1988).
kelapa diamati di bawah mikroskop, memperlihatkan bahwa struktur sel yang panjang, dipenuhi oleh cairan dan globula-globula minyak di dalam cairan. Jelasnya cairan dan globula minyak inilah yang diperas ke luar sebagai santan. Untuk membebaskan cairan dan minyak, dinding sel harus dirusak. Hal ini dapat dicapai dengan memarut daging buah kelapa. Dengan menggunakan parutan manual yang tajam dapat diperoleh hasil parutan berukuran 3-4 mm dengan ketebalan 1-2 mm, selanjutnya hasil parutan ditempatkan pada kain katun berbentuk segi empat, kemudian empat sudutnya ditarik bersama-sama menjadi satu sehingga daging buah kelapa parutan berbentuk seperti bola. Bola ini diperas dengan cara memuntir kain pembungkusnya. Dengan cara ini diperoleh santan sedikit lebih daripada 50% berat daging buah kalapa parutan mula-mula (Suhardiyono, 1988).
Kelapa parut kering (deciscated coconut) merupakan salah satu pemanfaatan buah kelapa, dimana buah kelapa dipotong-potong atau diparut kecil-kecil dan dikeringkan segera dengan warna tetap putih. Sebenarnya produk kelapa parut kering sudah lama digunakan oleh konsumen di Indonesia. Mengingat Indonesia memiliki sumber daya tanaman kelapa yang melimpah, maka produk kelapa kering menjadi peluang bagi pengembangan agroindustri kelapa (Anonimous, 2005).
Botani Jahe
Tanaman rimpang jahe memiliki sistematika sebagai berikut: Divisio : Pteridophyta
Ordo : Stilamineae Famili : Zingiberaceae Genus : Zingiber
Spesies :Zingiber offcinaleRoscoe
Di Indonesia, jahe telah diakrabi oleh sebagian besar masyarakatnya. Tak heran bila masing-masing daerah memiliki nama yang berbeda untuk menyebut tanaman berkhasiat ini. Tanaman ini dapat tumbuh di daerah terbuka sampai agak ternaungi. Tanah yang disukai berbahan organik tinggi, berjenis latosol atau andosol dan berdrainase baik. Tanaman terna ini dapat tumbuh sampai pada ketinggian 900 meter dari permukaan laut, tetapi akan lebih baik tumbuhnya pada ketinggian 900 meter dari permukaan laut. Sedangkan curah hujan yang dibutuhkan antara 2500-4000 mm per tahun (Paimin, 2000).
Bagian terpenting yang mempunyai nilai ekonomi pada tanaman jahe adalah akar tongkatnya yang lebih dikenal dengan sebutan rimpang . Jika rimpang tersebut dipotong, nampak warna daging rimpang yang bervariasi mulai putih kekuningan, kuning atau jingga tergantung pada klonnya. Pada umumnya rasa jahe pedas karena mengandung senyawa gingerol. Aromanya merangsang namun harum juga. Kandungan gingerol dipengaruhi oleh umur tanaman dan agroklimat setempat dimana tanaman jahe tumbuh. Sedangkan aroma jahe disebabkan oleh adanya minyak atsiri yang umumnya berwarna kuning dan sedikit kental (Santoso, 1989).
memasyarakat. Hal ini terlihat dari banyaknya permintaan jahe sebagai bumbu dapur yang mencapai 30.000 ton per tahun (hanya untuk pasar domestik). Kebutuhan tersebut menempati peringkat pertama dibanding kunyit, kencur dan lengkuas yang juga sering digunakan sebagai bumbu dapur. Penggunaan jahe kedua terbanyak yaitu sebagai obat tradisional. Jahe yang mengandung gingerol dapat dimanfaatkan sebagai obat antiinflamasi, obat nyeri sendi dan otot karena rematik, tonikum serta obat batuk . Selain kedua penggunaan jahe di atas, jahe kering juga digunakan untuk memberi aroma dan rasa pada makanan seperti permen, biskuit, kue dan minuman. Minyak jahe atau oleoresin yang dihasilkan dari destilasi jahe kering banyak digunakan dalam industri parfum dan minuman (Syukur, 2001).
Peranan Mekanisasi Pertanian
Ilmu mekanisasi pertanian adalah ilmu yang mempelajari penguasaan dan pemanfaatan bahan dan tenaga alam untuk mengembangkan daya kerja manusia dalam bidang pertanian, demi untuk kesejahteraan manusia. Pengertian pertanian dalam hal ini adalah pertanian dalam arti yang seluas-luasnya.
Peranan mekanisasi pertanian dalam pembangunan pertanian di Indonesia adalah:
1. Mempertinggi efisiensi tenaga manusia 2. Meningkatkan derajat dan taraf hidup petani
4. Memungkinkan pertumbuhan tipe usaha tani, yaitu dari tipe pertanian untuk kebutuhan keluarga (subsistance farming) menjadi tipe pertanian perusahaan(commercial farming)
5. Mempercepat transisi bentuk ekonomi Indonesia dari sifat agraris menjadi sifat industri (Hardjosentono, dkk., 2000 ).
Elemen Mesin / Alat Pemarut Mekanis Motor listrik
Motor listrik dapat digolongkan menjadi dua golongan sesuai dengan sumber arus listrik, yaitu motor listrik arus searah atau DC dan motor listrik arus bolak-balik atau AC. Motor listrik AC yang kecil banyak dipakai pada peralatan rumah tangga misalnya alat cukur, alat kecantikan, alat dapur, dan sebagainya. Sedangkan motor listrik yang besar banyak digunakan pada kompresor, penggiling jagung, dan alat-alat bengkel atau pabrik. Dasar utama yang menyebabkan motor berputar ialah reaksi antar kutub magnet. Kutub yang senama tolak-menolak dan kutub yang tak senama tarik-menarik. Reaksi medan magnet listrik pada stator dan medan magnet penghantar yang dialiri arus listrik (Hartanto, 1997).
Puli (Pulley)
puli yang digerakkan n2 dan diameternya Dp, maka perbandingan putaran
dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut:
p
Pemasangan puli antara lain dapat dilakukan dengan cara:
- Horizontal, pemasangan puli dapat dilakukan dengan cara mendatar dimana pasangan puli terletak pada sumbu mendatar.
- Vertikal, pemasangan puli dilakukan secara tegak di mana letak pasangan puli adalah pada sumbu vertikal. Pada pemasangan ini akan terjadi getaran pada bagian mekanisme serta penurunan umur sabuk ( MabieandOcvirrk, 1967 ).
Menurut Daryanto (1986), ada beberapa jenis tipe pulley yang digunakan untuk sabuk penggerak, yaitu:
1. Pulleydatar
Pulley ini kebanyakan dibuat dari besi tuang dan juga dari baja dalam bentu yang bervariasi.
2. Pulleymahkota
Pulley ini lebih efektif dari pili datar karena sbuknya sedikit menyudut sehingga untuk slip relatif sukar, dan derajat ketirusannya bermacam-macam menurut kegunaannya.
3. Tipe lain
Menurut Wiriaatmadja (1995) kapasitas kerja suatu alat dapat diperbesar atau diperkecil dengan mengubah rpm, yaitu dengan jalan menambahkan transmisi baik dengan menggunakanpulleymaupun dengan menggunakan rantai.
Menurut Purwadaria (1994), rpm dapat mempengaruhi kemampuan kerja alat.
Roda Gigi
Bila sebuah mesin mempunyai susunan yang kompak dan letak poros saling berdekatan, untuk pemindahan gaya digunakan roda gigi. Penggunaaan roda gigi menghasilkan konstruksi yang lebih kokoh dan meniadakan sejumlah besar gerakan yang hilang tak berguna. Prinsip kerja pasangan roda gigi yaitu penyaluran atau pemindahan daya dari poros penggerak ke poros yang digerakkan dihubungkan langsung antara roda gigi yang satu dengan roda gigi yang lain. Pada sistem ini pun tidak mungkin terjadi slip karena masing-masing roda gigi saling berhubungan secara langsung (SmithandWilkes, 1990).
Dalam hal penggolongan roda gigi dibedakan atas tiga keadaan sesuai dengan kedudukan yang diambil poros yang satu terhadap yang lain, yaitu:
1. Poros sejajar satu sama lain (roda gigi silindrik) 2. Poros saling memotong (roda gigi kerucut) 3. Poros saling menyilang (poros gigi sekrup) (Stolk dan Kross, 1981).
Sabuk-V
Sabuk/beltberfungsi untuk memindahkan putaran dari satu poros ke poros lainnya, baik putaran tersebut pada kecepatan putaran yang sama maupun putarannya dinaikkan atau diperlambat, searah dan kebalikannya. Sabuk V terbuat dari karet dan mempunyai penampang trapesium. Sabuk V dibelitkan di sekeliling alur pulley yang berbentuk V pula. Transmisi sabuk yang bekerja atas dasar gesekan belitan mempunyai keuntungan karena murah harganya, sederhana konstruksinya dan mudah untuk mendapatkan perbandingan putaran yang diinginkan. Transmisi tersebut telah digunakan dalam semua bidang industri, misalnya mesin-mesin pabrik, otomobil, mesin pertanian, alat kedokteran, mesin kantor dan alat-alat listrik. Kekurangan yang terjadi pada sabuk ini adalah terjadinya slip antara sabuk dan pulley sehingga tidak digunakan untuk putaran tetap atau perbandingan transmisi yang tetap (Daryanto, 1993).
Adapun kelebihan sabuk-V adalah sebagai berikut: - Rasio kecepatan yang tepat tidak pernah dipertahankan - Slip yang terjadi tidak lebih dari 1-2 %
- Efisiensi penyaluran daya (dengan mengabaikan kehilangan daya pada bantalan shaft) berkisar 97-99 %
- Mampu meredam beban mendadak - Tidak memerlukan pelumasan - Tidak berisik
- Tidak cocok untuk beban yang berat pada kecepatan rendah (Daywin dkk, 2008).
Penggerak berbentuk sabuk bekerja atas dasar gesekan tenaga yang disalurkan dari mesin penggerak dengan cara persinggungan sabuk yang menghubungkan antar pulley penggerak dengan pulley yang akan digerakkan. Sebaliknya sabuk mempunyai sifat lekat tetapi tidak lengket padapulleydan salah satupulleyitu harus dapat diatur (Pratomo dan Irwanto, 1983).
Analisis Ekonomi
Pengukuran biaya pemarutan bahan dilakukan dengan cara menjumlahkan biaya yang dikeluarkan yaitu biaya tetap dan biaya tidak tetap ( biaya pokok ).
Biaya pokok BTx BTTC
. ...( 2) dimana:
BT = Total biaya tetap ( Rp/tahun ) BTT = Total biaya tidak tetap ( Rp/jam ) x = Total jam kerja pertahun ( jam/tahun ) C = Kapasitas alat ( jam/satuan produksi )
Ada dua kelompok biaya pemakaian alat atau mesin (alsin) yang umum dibicarakan, yaitu biaya tetap dan biaya tidak tetap. Jumlah biaya tetap tidak tidak dipengaruhi oleh jam kerja alsin, sedangkan biaya tidak tetap sangat dipengaruhi oleh alsin.
1. Biaya tetap
Dalam pemakaian alsin, biaya ini merupakan biaya yang sangat penting dan dapat merupakan biaya yang terbesar. Biaya ini merupakan biaya untuk mengganti alsin jika umur ekonominya telah sampai atau jika alsin itu dijual sebelum habis masa umur ekonominya. Dapat dihitung dengan metoda garis lurus dengan rumus sebagai berikut :
D = Biaya penyusutan ( Rp/tahun )
P = Nilai awal (harga beli/pembuatan) alsin ( Rp ) S = Nilai akhir alsin ( 10% dari P ) ( Rp )
n = Umur ekonomi ( tahun ) b. Biaya bunga modal dan asuransi
Bunga modal dan asuransi ada kalanya perhitungannya digabung dan kadang kala dipisah, maka biaya-biaya ini diperhitungkan berdasarkan persentase nilai awal. Jika digabung, besarnya adalah:
I = Total biaya bunga modal dan asuransi (Rp/th)
i = Total persentase bunga modal dan asuransi ( 17% pertahun ) P = Nilai awal (harga beli) alsin (Rp)
c. Biaya pajak
Di negara kita belum ada ketentuan besar pajak secara khusus untuk mesin-mesin dan peralatan pertanian, namun beberapa literatur menganjurkan bahwa biaya pajak alsin pertanian diperkirakan sebesar 2% pertahun dari nilai awalnya.
d. Biaya gudang/gedung
Biaya gudang atau gedung diperkirakan berkisar antara 0,5-1%, rata-rata diperhitungkan 1% nilai awal ( P ) pertahun.
2. Biaya tidak tetap
Biaya tidak tetap terdiri dari :
a. Biaya perbaikan untuk motor listrik sebagai sumber tenaga penggerak. Biaya perbaikan ini dapat dihitung dengan persamaan :
b. Biaya karyawan/operator yaitu biaya untuk gaji operator. Biaya initergantung kepada kondisi lokal, dapat diperkirakan dari gaji bulanan atau gaji pertahun dibagi dengan total jam kerjanya.
3. Perhitungan titik impas
Manfaat perhitungan titik impas ( break event point ) adalah untuk mengetahui batas produksi minimal yang harus dicapai dan dipasarkan agar usaha yang dikelola masih layak untuk dijalankan. Pada kondisi ini income
Untuk menentukan produksi titik impas ( BEP ) maka dapat digunakan
N : jumlah produksi minimal untuk mencapai titik impas ( kg ) F : biaya tetap per tahun ( rupiah )
R : penerimaan dari tiap unit produksi ( harga jual ) ( rupiah ) V : biaya tidak tetap per unit produksi. VN = total biaya tidak
tetap per tahun ( rupiah/unit ) 4. Net present value
Identifikasi masalah kelayakan financial dianalisis dengan menggunakan metode analisis financial dengan kriteria investasi. Net present value (NPV) adalah kriteria yang digunakan untuk mengukur suatu alat layak atau tidak untuk diusahakan. Perhitungan net present value
merupakan net benefit yang telah di diskon dengan discount factor. Secara singkat rumusnya :
B = manfaat penerimaan tiap tahun
C = manfaat biaya yang dikeluarkan tiap tahun t = tahun kegiatan usaha ( t = 1,2,...n )
Dengan kriteria:
- NPV > 0, berarti usaha menguntungkan dan layak untuk dilaksanakan dan dikembangkan;
- NPV < 0, berarti sampai dengan t tahun investasi proyek tidak menguntungkan dan tidak layak untuk dilaksanakan dan dikembangkan; - NPV = 0, berarti tambahan manfaat sama dengan tambahan biaya
BAHAN DAN METODE
Lokasi dan Waktu PenelitianPenelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2010 di Laboratorium Teknik Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian adalah: ubi kayu, kelapa, jahe dan plat besi.
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat pemarut mekanis untuk memarut ubi kayu, kelapa dan jahe, pulley, timbangan untuk mengukur berat bahan, alat tulis untuk pencatatan dalam pengolahan data, kalkulator untuk perhitungan dalam pengolahan data, stopwatch untuk menghitung waktu, dan ember untuk wadah hasil parutan.
Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian faktorial dengan model rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari dua faktor perlakuan yaitu:
Faktor 1 : rpm silinder mata parut, dengan tiga taraf perlakuan N1 = 650
Faktor 2 : jenis komoditas K1 = ubi kayu K2 = kelapa K3 = jahe
Jumlah kombinasi perlakuan sebanyak T = 3 x 3 = 9, sehingga ulangan percobaan dapat dihitung :
T (n-1) 15 9(n-1) 15 (n-1) 1,67 n 2,67 n 3
Penelitian dilakukan dengan kombinasi perlakuan sebagai berikut :
N1K1 N2K1 N3K1
N1K2 N2K2 N3K2
N1K3 N2K3 N3K3
Adapun model rancangan yang digunakan yaitu : Yijk = µ + i + j +( )ij + ijk
dimana :
Yijk = pengamatan pada unit percobaan yang mendapat perlakuan faktor rpm pada taraf ke-i dan perlakuan jenis komoditas pada taraf ke-j pada ulangan k
µ = nilai tengah sebenarnya
i = efek perlakuan rpm pada taraf ke-i
( )ij = efek interaksi perlakuan rpm pada taraf ke-i dengan perlakuan jenis komoditas pada taraf ke-j
ijk = pengaruh pengacakan
Komponen Alat
Alat pemarut mekanis ini mempunyai beberapa bagian penting, yaitu : 1. Kerangka alat
Kerangka alat ini berfungsi sebagai pendukung komponen lainnya, yang terbuat dari besi siku. Alat ini mempunyai panjang 25 cm, tinggi 75cm, dan lebar 23 cm.
2. Silinder pemarut
Silinder pemarut adalah komponen utama yang akan memarut bahan. Pada alat ini digunakan dua buah silinder. Satu silinder untuk memarut bahan dan silinder yang lain untuk menahan bahan. Panjang silinder pemarut 22 cm dan berdiameter 10 cm dengan luasan 1 cm x 1 cm terdapat 12 gerigi. Sedangkan silinder yang lain memiliki permukaan yang licin dengan panjang 22 cm dan diameter 15 cm.
3. Gear
Gear berguna untuk memutar salah satu silinder pemarut yang diputar oleh motor listrik. Keduagearini akan berputar berlawanan arah.
4. Motor listrik
5. Lubang pemasukan
Lubang pemasukan berguna untuk memasukkan bahan yang akan diparut ke silinder pemarut, dimensi lubang pemasukan adalah panjang 25 cm, lebar 23 cm, dan tinggi 5 cm.
6. Saluran pengeluaran
Saluran pengeluaran ini berguna untuk menyalurkan bahan yang sudah diparut dengan silinder pemarut ke tempat penampungan bahan hasil parutan.
Prosedur Penelitian
Adapun prosedur penelitian adalah sebagai berikut: A. Pembuatanpulleydan persiapan bahan
1. Pembuatan dan pemasanganpulley
a. Disiapkan bahan untuk membuatpulleyyaitu plat besi
b. Dilakukan pengukuran terhadap plat besi sesuai dengan ukuran yang ditentukan
c. Dipotong besi yang sudah diukur untuk dilakukan pembentukanpulley
d. Dilubangi bagian tengah untuk lubang poros
e. Dibuat penampang/alur untuk sabuk V yang akan digunakan
f. Setelah dibubut kemudian dihaluskan seluruh permukaanpulley
g. Dipasangkanpulleyke poros.
2. Persiapan bahan
a. Disiapkan bahan yang akan diparut yaitu ubi kayu, kelapa dan jahe b. Dikupas dan dibersihkan ubi kayu dan jahe sedangkan kelapa diambil
daging buahnya yang akan diparut
c. Ditimbang bahan yang akan diparut (dimana dalam penelitian berat bahan adalah 2 kg)
d. Ubi kayu, kelapa dan jahe siap untuk diparut B. Pelaksanaan penelitian
a. Dipasangpulleysesuai dengan rpm yang diinginkan
b. Dimasukkan bahan sedikit demi sedikit ke dalam lubang pemasukan (hopper)
c. Dinyalakan motor listrik dengan menghubungkan steker motor listrik pada sumber arus listrik
d. Dicatat waktu yang dibutuhkan untuk memarut bahan
e. Dihitung kapasitas olah, kapasitas hasil, persentase bahan yang tidak terparut dan dilakukan analisis ekonomi
f. Dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali terhadap masing-masing perlakuan
Parameter yang Diamati
1. Kapasitas olah ( Kg/jam )
Kapasitas olah dilakukan dengan membagi berat bahan awal terhadap waktu yang dibutuhkan untuk memarut bahan.
T BB
dimana:
KM = kapasitas olah ( kg/jam ) BB = berat awal ( kg )
T = waktu ( jam ) 2. Kapasitas hasil ( kg/jam )
Kapasitas hasil dilakukan dengan membagi berat bahan yang terparut terhadap waktu yang dibutuhkan untuk memarut bahan.
KH = T
BT ...(9)
dimana:
KH = kapasitas hasil (Kg/jam) BT = berat bahan yang terparut (Kg)
T = waktu (jam)
3. Persentase bahan yang tidak terparut
Pengukuran persentase bahan yang tidak terparut dapat ditentukan dengan membagi berat bahan yang tidak terparut dengan berat isian bahan awal ( sebelum diparut ) dikali dengan 100 %. Secara matematis dapat dituliskan dengan rumus:
4. Analisis ekonomi
Biaya pemarutan bahan ( Rp/kg ).
Pengukuran biaya pemarutan bahan dilakukan dengan cara menjumlahkan biaya yang dikeluarkan yaitu biaya tetap dan biaya tidak tetap ( biaya pokok ).
Biaya pokok BTx BTTC
. ...( 2 )
dimana:
BT = Total biaya tetap ( Rp/tahun ) BTT = Total biaya tidak tetap ( Rp/jam ) x = Total jam kerja pertahun ( jam/tahun ) C = Kapasitas alat ( jam/satuan produksi ) a. Biaya tetap
Biaya tetap terdiri dari :
i. Biaya penyusutan ( metode garis lurus )
D = Biaya penyusutan ( Rp/tahun )
P = Nilai awal (harga beli/pembuatan) alsin ( Rp ) S = Nilai akhir alsin ( 10% dari P ) ( Rp )
ii. Biaya bunga modal dan asuransi, perhitungannya digabungkan, khusus untuk mesin-mesin dan peralatan pertanian, namun beberapa literatur menganjurkan bahwa biaya pajak alsin pertanian diperkirakan sebesar 2% pertahun dari nilai awalnya.
b. iv Biaya gudang/gedung
Biaya gudang atau gedung diperkirakan berkisar antara 0,5-1%, rata-rata diperhitungkan 1% nilai awal ( P ) pertahun.
b. Biaya tidak tetap
Biaya tidak tetap terdiri dari :
i. Biaya perbaikan untuk motor listrik sebagai sumber tenaga penggerak. Biaya perbaikan ini dapat dihitung dengan persamaan :
5. Perhitungan titik impas
Manfaat perhitungan titik impas ( break event point ) adalah untuk mengetahui batas produksi minimal yang harus dicapai dan dipasarkan agar usaha yang dikelola masih layak untuk dijalankan. Pada kondisi ini income
yang diperoleh hanya cukup untuk menutupi biaya operasional tanpa adanya keuntungan.
Untuk menentukan produksi titik impas ( BEP ) maka dapat digunakan rumus sebagai berikut:
N= V
RF ( 6 )
dimana:
N : jumlah produksi minimal untuk mencapai titik impas ( kg ) F : biaya tetap per tahun ( rupiah )
R : penerimaan dari tiap unit produksi ( harga jual ) ( rupiah ) V : biaya tidak tetap per unit produksi. VN = total biaya tidak
tetap per tahun ( rupiah/unit ) 6. Net present value
Identifikasi masalah kelayakan financial dianalisis dengan menggunakan metode analisis financial dengan kriteria investasi. Net present value (NPV) adalah kriteria yang digunakan untuk mengukur suatu alat layak atau tidak untuk diusahakan. Perhitungan net present value
dimana:
B = manfaat penerimaan tiap tahun
C = manfaat biaya yang dikeluarkan tiap tahun t = tahun kegiatan usaha ( t = 1,2,...n )
i = tingkatdiscountyang berlaku Dengan kriteria:
- NPV > 0, berarti usaha menguntungkan dan layak untuk dilaksanakan dan dikembangkan;
- NPV < 0, berarti sampai dengan t tahun investasi proyek tidak menguntungkan dan tidak layak untuk dilaksanakan dan dikembangkan; - NPV = 0, berarti tambahan manfaat sama dengan tambahan biaya
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengaruh RPMDari hasil penelitian yang dilakukan, secara umum diperoleh bahwa rpm memberikan pengaruh yang berbeda terhadap kapasitas olah, kapasitas hasil dan persentase bahan yang tidak terparut. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 1. Pengaruh rpm terhadap parameter yang diamati
Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa kapasitas olah tertinggi terdapat pada perlakuan N3 yaitu sebesar 35.02 kg/jam dan terendah terdapat pada perlakuan N1 yaitu sebesar 17.27 kg/jam. Kapasitas hasil tertinggi terdapat pada perlakuan N3 yaitu sebesar 32.08 kg/jam dan terendah terdapat pada perlakuan N1 yaitu sebesar 16.44 kg/jam. Persentase bahan yang tidak terparut tertinggi terdapat pada perlakuan N3 yaitu sebesar 8.48% dan terendah terdapat pada perlakuan N1 yaitu sebesar 2.64%.
Pengaruh Jenis Komoditi
Dari hasil penelitian yang dilakukan, secara umum diperoleh bahwa jenis komoditi memberikan pengaruh yang berbeda terhadap kapasitas olah, kapasitas hasil dan persentase bahan yang tidak terparut. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut ini:
rpm Kapasitas olah(kg/jam) Kapasitas hasil(kg/jam) yang tidak terparutPersentase bahan (%)
N1= 650 17.27 16.44 2.64
N2= 750 21.52 19.42 8.39
Tabel 2. Pengaruh jenis komoditi terhadap parameter yang diamati
Jenis komoditi Kapasitas olah(kg/jam) Kapasitas hasil(kg/jam) yang tidak terparutPersentase bahan (%)
K1 = Ubi kayu 55.27 52.26 1.65
K2 = Kelapa 7.30 6.27 8.68
K3 = Jahe 11.24 9.41 9.19
Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa kapasitas olah tertinggi terdapat pada perlakuan K1 yaitu sebesar 55.27 kg/jam dan terendah pada perlakuan K2 yaitu sebesar 7.30 kg/jam. Kapasitas hasil tertinggi terdapat pada perlakuan K1 yaitu sebesar 52.26 dan terendah pada perlakuan K2 yaitu sebesar 6.27 kg/jam. Persentase bahan yang tidak terparut tertinggi terdapat pada perlakuan K3 yaitu sebesar 9.19% dan terendah terdapat pada perlakuan K1 yaitu sebesar 1.65%.
Untuk analisa tingkat perbedaan masing-masing taraf perlakuan rpm dan jenis komoditi terhadap parameter yang diamati (kapasitas olah, kapasitas hasil, dan persentase bahan yang tidak terparut) maka dilakukan uji statistik lebih lanjut dengan hasil sebagai berikut.
Kapasitas Olah Pengaruh rpm
Dari daftar analisis sidik ragam kapasitas olah (Lampiran 1) dapat dilihat bahwa rpm memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap kapasitas olah.
Tabel 3. Uji LSR efek utama pengaruh rpm terhadap kapasitas olah (kg/jam)
Jarak LSR
Perlakuan Rataan Notasi
p 0.05 0.01 0.05 0.01
- - - N1 17.22 c C
2 1.884 2.986 N2 21.52 b B
3 1.976 2.962 N3 35.02 a A
Keterangan: Notasi yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% dan sangat nyata pada taraf 1%
Dari Tabel 3 dapat dilihat bahwa perlakuan N1 memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata dengan perlakuan N2 dan N3. Perlakuan N2 berbeda sangat nyata terhadap perlakuan N3. Kapasitas olah tertinggi terdapat pada perlakuan N3 yaitu 35.02 kg/jam dan terendah pada perlakuan N1 yaitu 17.22 kg/jam.
Hubungan rpm terhadap kapasitas olah dapat dilihat pada Gambar 1.
Gamba r 1. Pengaruh rpm terhadap kapasitas olah
sehingga dalam waktu tertentu jumlah bahan yang dapat diparut semakin banyak. Hal ini sesuai dengan pernyataanWiriaatmadja (1995) bahwa kapasitas kerja suatu alat dapat diperbesar atau diperkecil dengan mengubah rpm, yaitu dengan jalan menambahkan transmisi baik dengan menggunakan pulley maupun dengan menggunakan rantai.
Pengaruh jenis komoditi
Dari daftar analisis sidik ragam kapasitas olah (Lampiran 1) dapat dilihat bahwa jenis komoditi memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap kapasitas olah.
Hasil pengujian dengan least significant range(LSR) yang menunjukkan pengaruh jenis komoditi terhadap kapasitas olah untuk tiap-tiap perlakuan dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4. Uji LSR efek utama jenis komoditi terhadap kapasitas olah (kg/jam)
Jarak LSR
Keterangan: Notasi yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% dan sangat nyata pada taraf 1%
Hubungan jenis komoditi dengan kapasitas olah dapat dilihat pada Gambar
2. Gam
bar 2. Pengaruh jenis komoditi terhadap kapasitas olah
Dari Gambar 2 menunjukkan bahwa kapasitas olah tertinggi diperoleh pada komoditi ubi kayu dan terendah diperoleh pada komoditi kelapa. Hal ini disebabkan pengaruh kekerasan bahan (Lampiran 12). Semakin keras tekstur bahan maka semakin kecil kapasitas olahnya, namun hal ini tidak berlaku pada komoditi jahe karena mempunyai tekstur serat yang kasar. Hal ini sesuai dengan pernyataan Earle (1969) bahwa energi yang dibutuhkan pada proses penyobekan tergantung kepada kekerasan bahan dan juga kecenderungan bahan untuk patah.
Pengaruh interaksi rpm dan jenis komoditi
Hasil pengujian dengan least significant range (LSR) yang menunjukkan pengaruh interaksi rpm dan jenis komoditi terhadap kapasitas olah intuk tiap-tiap perlakuan dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 5. Uji LSR efek utama pengaruh interaksi rpm dan jenis komoditi terhadap kapasitas olah (kg/jam)
Jarak LSR Perlakuan Rataan Notasi
p 0.05 0.01 0.05 0.01
Keterangan: Notasi yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% dan sangat nyata pada taraf 1%
Dari tabel 5 dapat dilihat bahwa kombinasi dari rpm dan jenis komoditi memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap kapasitas olah. Kapasitas olah tertinggi diperoleh pada kombinasi perlakuan N3K1 yaitu sebesar 84.01 kg/jam dan terendah pada kombinasi perlakuan N1K2 yaitu sebesar 5.05 kg/jam.
Gam bar 3. Pengaruh interaksi rpm dan jenis komoditi terhadap kapasitas olah
(kg/jam)
Dari Gambar 3 dapat dilihat bahwa pada komoditi ubi kayu, kelapa, dan jahe diperoleh kapasitas olah yang mengikuti garis linier yang mana semakin besar rpm silinder pemarut maka semakin besar kapasitas olah.
Kapasitas Hasil Pengaruh rpm
Dari daftar analisis sidik ragam kapasitas material (Lampiran 2) dapat dilihat bahwa rpm memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap kapasitas hasil.
Hasil pengujian dengan least significant range (LSR) yang menunjukkan pengaruh rpm terhadap kapasitas hasil untuk tiap-tiap perlakuan dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 6. Uji LSR efek utama rpm terhadap kapasitas hasil (kg/jam)
Jarak LSR
Perlakuan Rataan Notasi
p 0.05 0.01 0.05 0.01
- - - N1 16.44 c B
2 1.958 3.105 N2 19.42 b B
Keterangan: Notasi yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% dan sangat nyata pada taraf 1%
Dari Tabel 6 dapat dilihat bahwa perlakuan N1 memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap perlakuan N2 dan N3. Perlakuan N2 memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap perlakuan N3. Kapasitas hasil tertinggi terdapat pada perlakuan N3 yaitu 32.08 kg/jam dan terendah pada perlakuan N1 yaitu 16.44 kg/jam.
Gamba r 4. Pengaruh rpm terhadap kapasitas hasil (kg/jam)
Pengaruh jenis komoditi
Dari daftar analisis sidik ragam kapasitas material (Lampiran 2) dapat dilihat bahwa jenis komoditi memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap kapasitas hasil.
Hasil pengujian dengan least significant range(LSR) yang menunjukkan pengaruh jenis komoditi terhadap kapasitas hasil untuk tiap-tiap perlakuan dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 7. Uji LSR efek utama jenis komoditi terhadap kapasitas hasil (kg/jam)
Jarak LSR
Perlakuan Rataan Notasi
p 0.05 0.01 0.05 0.01
- - - K2 6.27 c C
2 1.958 3.105 K3 9.41 b B
3 2.055 2.799 K1 52.26 a A
Keterangan: Notasi yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% dan sangat nyata pada taraf 1%
Gamba r 5. Pengaruh jenis komoditi terhadap kapasitas hasil (kg/jam)
Dari Gambar 5 menunjukkan bahwa kapasitas hasil tertinggi diperoleh pada komoditi ubi kayu dan terendah diperoleh pada komoditi kelapa. Hal ini disebabkan pengaruh kekerasan bahan. Semakin keras tekstur bahan maka semakin kecil kapasitas olahnya, namun hal ini tidak berlaku pada komoditi jahe karena mempunyai tekstur berserat. Hal ini sesuai dengan pernyataan Earle (1969) bahwa energi yang dibutuhkan pada proses penyobekan tergantung kepada kekerasan bahan dan juga kecenderungan bahan untuk patah.
Pengaruh interaksi rpm dan jenis komoditi
Dari daftar analisis sidik ragam kapasitas hasil (Lampiran 2) dapat dilihat bahwa interaksi antara rpm dengan jenis komoditi memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap kapasitas hasil
Tabel 8. Uji LSR efek utama pengaruh interaksi rpm dan jenis komoditi terhadap kapasitas hasil (kg/jam)
Jarak LSR
Perlakuan Rataan Notasi
p 0.05 0.01 0.05 0.01
- - - N3K2 4.52 gi E
2 3.392 5.378 N2K2 6.67 fg E
3 3.559 4.848 N1K3 7.18 fg E
4 3.665 4.979 N1K2 7.63 f DE
5 3.738 5.075 N2K3 8.67 e DE
6 3.791 5.148 N3K3 12.38 d D
7 3.832 5.205 N1K1 34.52 c C
8 3.862 5.253 N2K1 42.93 b B
9 3.886 5.292 N3K1 79.33 a A
Keterangan: Notasi yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% dan sangat nyata pada taraf 1%
Dari Tabel 8 dapat dilihat bahwa kombinasi dari rpm silinder pemarut dan jenis komoditi memeberi pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap kapasitas hasil. Kapasitas hasil tertinggi terdapat pada perlakuan N3K1 yaitu sebesar 79,33 kg/jam dan yang terendah pada perlakuan N3K2 yaitu sebesar 4,52 kg/jam.
Hubungan interaksi antara rpm dan jenis komoditi terhadap kapasitas hasil dapat dilihat pada Gambar 6.
Dari Gambar 6 dapat dilihat bahwa pada komoditi ubi kayu, kelapa, dan jahe diperoleh kapasitas hasil yang mengikuti garis linier yang mana semakin besar rpm silinder pemarut maka semakin besar kapasitas hasil.
Persentase bahan yang tidak terparut Pengaruh rpm
Dari daftar analisis sidik ragam persentase bahan yang tidak terparut (Lampiran 3) dapat dilihat bahwa rpm memberikan pengaruh berbeda tidak nyata terhadap persentase bahan yang tidak terparut, sehingga pengujian dengan least significant range(LSR) tidak dilanjutkan.
Pengaruh jenis komoditi
Dari daftar analisis sidik ragam persentase bahan yang tidak terparut (Lampiran 3) dapat dilihat bahwa jenis komoditi memberikan pengaruh berbeda tidak nyata terhadap persentase bahan yang tidak terparut, sehingga pengujian denganleast significant range(LSR) tidak dilanjutkan.
Pengaruh interaksi rpm dan jenis komoditi
Analisis Ekonomi
Analisis ekonomi digunakan untuk menentukan besarnya biaya yang harus dikeluarkan saat produksi menggunakan alat ini. Dengan analisis ekonomi dapat diketahui seberapa besar biaya produksi sehingga keuntungan alat dapat diperhitungkan.
Dari analisis biaya (Lampiran 4), diperoleh biaya pemarutan bahan sebesar Rp. 272,56/kg yang merupakan hasil perhitungan dari biaya tetap dan biaya tidak tetap. Untuk biaya tetap sebesar Rp. 1. 578.870/tahun dan biaya tidak tetap sebesar Rp. 5138,45/jam.
Break Event Point
Manfaat perhitungan titik impas (break event point) adalah untuk mengetahui batas produksi minimal yang harus dicapai dan dipasarkan agar usaha yang dikelola masih layak untuk dijalankan. Pada kondisi ini income yang diperoleh hanya cukup untuk menutupi biaya operasional tanpa adanya keuntungan.
Berdasarkan data yang diperoleh (Lampiran 5), alat ini akan mencapai nilai break event point pada nilai 15.787,121 kg. hal ini berarti alat ini akan mencapai keadaan titik impas apabila telah memarut sebanyak 15.787,121 kg dalam setahun.
Net Present Value
Dalam menginvestasikan modal dalam penambahan alat pada suatu usaha maka net present value ini dapat dijadikan salah satu alternatif dalam analisa
NPV 20% dari alat ini adalah Rp. 5.352.940,68. Hal ini berarti usaha ini layak untuk dijalankan karena nilainya lebih besar atau sama dengan nol.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan1. RPM memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap kapasitas olah dan kapasitas hasil dan memberikan pengaruh berbeda tidak nyata terhadap persentase bahan yang tidak terparut.
2. Jenis komoditi memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap kapasitas olah dan kapasitas hasil dan memberikan pengaruh berbeda tidak nyata terhadap persentase bahan yang tidak terparut.
3. Kapasitas efektif rata-rata pada alat pemarut mekanis adalah sebesar 22,63 kg/jam.
5. Alat ini akan mencapai nilai break event point apabila telah memarut sebanyak 15.787,121 kg.
6. NPV 16% dari alat ini adalah Rp. 6.348.636,656 dan NPV 20% dari alat ini adalah Rp. 5.352.940,68. Hal ini berarti usaha ini layak untuk dijalankan.
Saran
1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan range rpm silinder yang lebih bervariasi.
2. Perlu dilakukan modifikasi alat untuk mengefisiensikan kerja alat pemarut mekanis terutama penambahan alat penekan padahopper.
DAFTAR PUSTAKA
Anonimous. 2004. Mesin Pembuat Tepung Tapioka. http: //digilib.petra.ac.id / viewer.phptepung_tapioka-chapter1.pdf.
Darun. 2002. Ekonomi Teknik. Jurusan Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian USU. Medan.
Daryanto. 1986. Ikhtisar Praktis Bagian-Bagian Mesin. Tarsito. Bandung. Daryanto. 1984. Dasar Dasar Teknik Mesin. Bina Aksara. Jakarta. Daryanto. 1993. Dasar Dasar Teknik Mesin. Rineka Cipta. Jakarta.
Daywin,FJ, RG. Sitompul, Imam Hidayat. 2008. Mesin-Mesin Budidaya Pertanian di Lahan Kering. Graha Ilmu. Yogyakarta.
Earle, R. L. 1969. Satuan Operasi Dalam Pengolahan Pangan. Sastra Hudaya Bogor
5. Alat ini akan mencapai nilai break event point apabila telah memarut sebanyak 15.787,121 kg.
6. NPV 16% dari alat ini adalah Rp. 6.348.636,656 dan NPV 20% dari alat ini adalah Rp. 5.352.940,68. Hal ini berarti usaha ini layak untuk dijalankan.
Saran
1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan range rpm silinder yang lebih bervariasi.
2. Perlu dilakukan modifikasi alat untuk mengefisiensikan kerja alat pemarut mekanis terutama penambahan alat penekan padahopper.
DAFTAR PUSTAKA
Anonimous. 2004. Mesin Pembuat Tepung Tapioka. http: //digilib.petra.ac.id / viewer.phptepung_tapioka-chapter1.pdf.
Darun. 2002. Ekonomi Teknik. Jurusan Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian USU. Medan.
Daryanto. 1986. Ikhtisar Praktis Bagian-Bagian Mesin. Tarsito. Bandung. Daryanto. 1984. Dasar Dasar Teknik Mesin. Bina Aksara. Jakarta. Daryanto. 1993. Dasar Dasar Teknik Mesin. Rineka Cipta. Jakarta.
Daywin,FJ, RG. Sitompul, Imam Hidayat. 2008. Mesin-Mesin Budidaya Pertanian di Lahan Kering. Graha Ilmu. Yogyakarta.
Earle, R. L. 1969. Satuan Operasi Dalam Pengolahan Pangan. Sastra Hudaya Bogor
Mabie, H. H and F.W. Ocvirk. 1967. Mechanics and Dynamic of Machinery. Jhon Wiley & Sons, Inc. New York.
Paimin, F. B dan Murhananto. 2000. Budidaya, Pengolahan dan Perdagangan Jahe. Penebar Swadaya. Jakarta.
Palungkun, R. 2001. Aneka Produk Olahan Kelapa. Penebar Swadaya. Jakarta. Pratomo, M. dan K. Irwanto. 1983. Alat dan Mesin Pertanian. Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Prihandana, dkk. 2007. Bioetanol Ubi Kayu: Bahan Bakar Masa Depan. PT AgroMedia Pustaka. Jakarta.
Prihandana, R., dan Hendroko, R. 2008. Energi Hijau. Penebar Swadaya. Jakarta. Purwadaria, H. K. 1994. Teknologi Penanganan Pasca Panen. Edisi Kedua, Dinas
Pertanian Tanaman Pangan Provinsi DATI-I Sumatera Utara Medan. Rindengan, B., dan Hengky, N. 2004. Minyak Kelapa Murni: Pembuatan dan
Pemanfaatan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Roth, L.O.,F.R.Crow, and G.W.A. Mahoney. 1982. Agriculture Engineering. AVI Publishing. Westport, USA.
Santoso, B. H. 1989.Jahe. Kanisius. Yogyakarta.
Smith, H. P. and L. H. Wilkes. 1990. Mesin dan Peralatan Usaha Tani. Terjemahan Tri Purwadi. UGM Press. Yogyakarta.
Stolk, J. dan Kross. 1981. Elemen Mesin : Elemen Konstruksi Dari Bangunan Mesin. Terjemahan Hendersin dan A. Rahman. Erlangga. Jakarta.
Suhardiman, P. 1999. Bertanam Kelapa Hibrida. Penebar Swadaya. Jakarta. Suhardiyono, L. 1988. Tanaman Kelapa. Kanisius. Yogyakarta
Sularso dan K. Suga. 2004. Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin. Pradya Paramitha. Jakarta.
Syukur, C. 2001. Agar Jahe Berproduksi Tinggi. Penebar Swadaya. Jakarta. Wiriaatmadja, S. 1995. Alsintan Pengiris dan Pemotong. Penebar Swadaya.
Lampiran 1. Data pengamatan kapasitas olah (kg/jam)
Perlakuan I UlanganII III Total Rataan
N1K1 37.27 33.80 36.36 107 35.81
N2K1 47.43 48.58 41.96 138 45.99
N3K1 80.54 83.92 87.59 252 84.01
N1K2 8.57 8.25 8.42 25 8.41
N2K2 8.41 9.06 7.83 25 8.43
N3K2 4.39 5.99 4.77 15 5.05
N1K3 7.63 7.78 7.33 23 7.58
N2K3 10.86 10.65 8.94 30 10.15
N3K3 14.53 16.04 17.42 48 16.00
Total 220 224 221 664
Rataan 24.40 24.90 24.51 24.60
Daftar analisa sidik ragam
SK db JK KT Fhitung F0.05 F0.01
Perlakua
n 8 16774.49 2096.81 579.54 ** 2.51 3.71
K 2 12767.11 6383.55 1764.34 ** 3.55 6.01
4 8
Kuadrati
k 1 4042.87 4042.87
1117.4
0 ** 4.41 8.29
N 2 1546.17 773.09 213.67 ** 3.55 6.01
Linier 1 1418.08 1418.08 391.94 ** 4.41 8.29
Kuadrati
Lampiran 2. Data pengmatan kapasitas hasil (kg/jam)
Perlakuan I UlanganII III Total Rataan
N1K1 35.44 32.55 35.56 104 34.52
N2K1 43.64 45.28 39.88 129 42.93
N3K1 75.50 78.97 83.52 238 79.33
N1K2 7.87 7.55 7.48 23 7.63
N2K2 7.87 8.17 3.97 20 6.67
N3K2 3.80 5.54 4.22 14 4.52
N1K3 7.20 7.38 6.96 22 7.18
N2K3 9.27 9.16 7.58 26 8.67
N3K3 11.59 11.94 13.62 37 12.38
Total 202 207 203 612
Rataan 22.47 22.95 22.53 22.65
Daftar analisa sidik ragam
SK db JK KT Fhitung F0.05 F0.01
Perlakuan 8 15343.21 1917.90 490.43 ** 2.51 3.71
Linier 1 8261.91 8261.91 2112.68 ** 4.41 8.29
Kuadratik 1 3619.57 3619.57 925.57 ** 4.41 8.29
N 2 1240.22 620.11 158.57 ** 3.55 6.01
Linier 1 1099.85 1099.85 281.25 ** 4.41 8.29
Kuadratik 1 140.36 140.36 35.89 ** 4.41 8.29
K x N 4 2221.52 555.38 142.02 ** 2.93 4.58
Lampiran 3. Data pengamatan persentase bahan yang tidak terparut
Perlakuan I UlanganII III Total Rataan
N1K1 0.50 0.55 0.45 2 0.50
N2K1 0.90 0.60 0.65 2 0.72
N3K1 3.40 3.70 4.10 11 3.73
N1K2 2.85 5.40 6.25 15 4.83
N2K2 1.90 6.40 45.60 54 17.97
N3K2 5.60 2.50 1.60 10 3.23
N1K3 2.70 3.30 1.80 8 2.60
N2K3 7.10 5.50 6.90 20 6.50
N3K3 17.50 20.00 17.95 55 18.48
Total 42 48 85 176
Rataan 4.72 5.33 9.48 6.51
Daftar analisa sidik ragam
SK db JK KT Fhitung F0.05 F0.01
Perlakuan 8 1142.53 142.82 2.18 tn 2.51 3.71
K 2 319.73 159.86 2.44 tn 3.55 6.01
Kuadratik
N 2 201.49 100.74 1.54 tn 3.55 6.01
Linier 1 153.42 153.42 2.35 tn 4.41 8.29
Kuadratik 1 48.07 48.07 0.74 tn 4.41 8.29
K x N 4 621.32 155.33 2.38 tn 2.93 4.58
Lampiran 4. Data pengamatan kapasitas olah sebelum di konversi
Perlakuan Waktu Berat Bahan (gr) Kapasitas Olah(gr/menit) (menit)
N1K1 (I) 3.22 2000 621.12
N1K1 (II) 3.55 2000 563.38
N1K1 (III) 3.30 2000 606.06
N2K1 (I) 2.53 2000 790.51
N2K1 (II) 2.47 2000 809.72
N2K1 (III) 2.86 2000 699.30
N3K1 (I) 1.49 2000 1342.28
N3K1 (II) 1.43 2000 1398.60
N3K1 (III) 1.37 2000 1459.85
N1K2 (I) 14.01 2000 142.76
N1K2 (II) 14.54 2000 137.55
N1K2 (III) 14.25 2000 140.35
N2K2 (I) 14.27 2000 140.15
N2K2 (II) 13.25 2000 150.94
N2K2 (III) 15.32 2000 130.55
N3K2 (I) 27.35 2000 73.13
N3K2 (III) 25.16 2000 79.49
N1K3 (I) 15.73 2000 127.15
N1K3 (II) 15.42 2000 129.70
N1K3 (III) 16.36 2000 122.25
N2K3 (I) 11.05 2000 181.00
N2K3 (II) 11.27 2000 177.46
N2K3 (III) 13.43 2000 148.92
N3K3 (I) 8.26 2000 242.13
N3K3 (II) 7.48 2000 267.38
N3K3 (III) 6.89 2000 290.28
Lampiran 5. Data pengamatan kapasitas hasil sebelum di konversi
Perlakuan Waktu Berat Bahanyang Terparut (gr)
Kapasitas Hasil (gr/menit) (menit)
N1K1 (I) 3.22 1902 590.68
N1K1 (II) 3.55 1926 542.54
N1K1 (III) 3.30 1956 592.73
N2K1 (I) 2.53 1840 727.27
N2K1 (II) 2.47 1864 754.66
N2K1 (III) 2.86 1901 664.69
N3K1 (I) 1.49 1875 1258.39
N3K1 (II) 1.43 1882 1316.08
N3K1 (III) 1.37 1907 1391.97
N1K2 (I) 14.01 1838 131.19
N1K2 (II) 14.54 1830 125.86
N1K2 (III) 14.25 1776 124.63
N2K2 (I) 14.27 1871 131.11
N2K2 (II) 13.25 1804 136.15
N2K2 (III) 15.32 1013 66.12
N3K2 (III) 25.16 1770 70.35
N1K3 (I) 15.73 1888 120.03
N1K3 (II) 15.42 1896 122.96
N1K3 (III) 16.36 1898 116.01
N2K3 (I) 11.05 1708 154.57
N2K3 (II) 11.27 1720 152.62
N2K3 (III) 13.43 1697 126.36
N3K3 (I) 8.26 1595 193.10
N3K3 (II) 7.48 1489 199.06
N3K3 (III) 6.89 1564 227.00
Lampiran 6. Analisis ekonomi I. Unsur Produksi
1. Biaya pembuatan alat (P) = Rp. 4.965.000 2. Umur ekonomi (n) = Rp. 5 tahun 3. Nilai akhir alat (S) = Rp. 496.500
4. Jam kerja = 5 jam / hari
5. Produksi/hari = 113,23 kg
10. Pajak = Rp. 99.300 / tahun
11. Jam kerja alat per tahun = 1495 jam / tahun (asumsi 299 hari efektif berdasarkan tahun 2010)
II. Perhitungan Biaya Produksi 1. Biaya Tetap (BT)
1. Biaya Penyusutan
D = ..(3)
D =
D = Rp. 893.700
2. Bunga modal dan asuransi
Bunga modal pada bulan Mei 16% Asuransi 2%
Bunga modal dan asuransi
I = ...(4)
I =
= Rp. 536.220/tahun 3. Biaya sewa gedung
= Rp. 49.650 4. Pajak
= 2% . P
= 2% x 4.965.000 = Rp. 99.300/tahun
Total Biaya Tetap (BT) = Rp. 1. 578.870/tahun 2. Biaya Tidak Tetap (BTT)
1. Biaya perbaikan alat (reparasi)
=
=
= Rp. 35,87/jam 2. Biaya listrik
Motor listrik 0,5 HP; 0,5 HP = 0,373 kW Biaya listrik = 0,373 kW x Rp. 275/kWh
= Rp. 102,575/jam 3. Biaya operator
= Rp.5000/jam
Total biaya tidak tetap (BTT) = Rp. 5138,45/jam Biaya pemarutan
Biaya Pokok =
C
(2)= x 0,044 jam/kg
Lampiran 7.Break event point
N = (6)
Biaya tetap (F) = Rp. 1. 578.870 / tahun
Biaya tidak tetap (V) = Rp. 5138,45 / jam (1 jam = 22.63 kg) = Rp. 227,06 / kg
Penerimaan dari tiap kg produksi = (20% x (BT+BTT)) + (BT+BTT) = Rp. 327,07 / kg
Alat akan mencapaibreak event pointjika alat telah memarut sebanyak
N =
=
= 15.787,121 kg / tahun
Lampiran 8.Net present value
Berdasarkan persamaan nilai NPV alat ini dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
CIF COF 0 ..(7)
Investasi : Rp. 4.965.000
Pendapatan : Rp. 11.065.383,18 / tahun
Nilai akhir : Rp. 496.500
Pembiayaan : Rp. 7.681.982,75 / tahun
Keuntungan yang diharapkan : Rp. 16%
Umur alat : 5 tahun
1. Pendapatan : pendapatan x (P/A, 16%, 5) : Rp. 11.065.383,18 x 3,274 : Rp. 36.228.064,53
2. Nilai akhir : nilai akhir x (P/F, 16%, 5) : Rp. 496.500 x 0,4761 : Rp. 236.383,65
Jumlah CIF : Rp. 36.464.448,18
Cash out flow16%
1. Investasi : Rp. 4.965.000
2. Pembiayaan : pembiayaan x (P/A. 16%, 5) : Rp. 7.681.982,75 x 3,274 : Rp. 25.150.811,52
Jumlah COF : Rp. 30.115.811,52
NPV 16% : CIF COF
: Rp. 36.464.448,18 - Rp. 30.115.811,52 : Rp. 6.348.636,656
Cash in flow20%
1. Pendapatan : pendapatan x (P/A, 20%, 5) : Rp. 11.065.383,18 x 2,9906 : Rp. 33.092.134,94
2. Nilai akhir : nilai akhir x (P/F, 20%, 5) : Rp. 496.500 x 0,4019 : Rp. 199.543,35
Cash out flow20%
1. Investasi : Rp. 4.965.000
2. Pembiayaan : pembiayaan x (P/A, 20%, 5) : Rp. 7.681.982,75 x 2,9906 : Rp. 22.973.737,61
Jumlah COF : Rp. 27.938.737,61
NPV 20% : CIF COF
: Rp. 33.291.678,29 - Rp. 27.938.737,61 : Rp. 5.352.940,68
Jadi besarnya NPV 16% adalah Rp. 6.348.636,656 dan nilai NPV 20% adalah Rp. 5.352.940,68. Jadi nilai NPV dari alat ini 0 maka usaha ini layak untuk dijalankan.
Lampiran 9. Spesifikasi alat pemarut
Dimensi
Panjang : 48 cm
Lebar : 40 cm
Tinggi : 102 cm
Silinder pemarut
Panjang : 20 cm
Lebar : 10 cm
Jumlah mata parut : 9 mata parut / cm² Sarang silinder pemarut
Panjang : 22 cm
Tinggi : 18 cm
Kapasitas efektif : 22,63 kg / jam
Lampiran 10. Prinsip kerja alat
Lampiran 12. Nilai kekerasan bahan
Nilai kekerasan bahan diukur dengan menggunakanFruit Pressure Tester
Pemasangan Pulley
Memasukkan Bahan Kedalam Saluran
Pemasukan
Catat Waktu Pemarutan
Pengukuran Parameter: 1. Kapasitas Material 2. Kapasitas Hasil
3. Persentase Bahan yang Tidak Terparut 4. Analisis Ekonomi
Mulai
Analisis
Jenis Komoditi Nilai Kekerasan Bahan (kg/mm)
Ubi kayu 1.594
Kelapa > 1.625
Jahe 0.906