• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Karakteristik Salesperson Terhadap Kepercayaan Pelangan Pada PT. Alfa Scorpi Jalan Adam Malik Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pengaruh Karakteristik Salesperson Terhadap Kepercayaan Pelangan Pada PT. Alfa Scorpi Jalan Adam Malik Medan"

Copied!
96
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

PENGARUH KARAKTERISTIK SALESPERSON TERHADAP

KEPERCAYAAN PELANGAN PADA PT. ALFA SCORPI

JALAN ADAM MALIK MEDAN

OLEH:

FRANS APRIADI PANJAITAN

090521038

PROGRAM STUDI MANAJEMEN STRATA 1

DEPARTEMEN MANAJEMEN EKSTENSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

ABSTRAK

PENGARUH KARAKTERISTIK SALESPERSON TERHADAP KEPERCAYAAN PELANGGAN PADA PT. ALFA SCORPI JALAN

ADAM MALIK MEDAN

Penelitian ini betujuan untuk menguji pengaruh dari karakteristik

salesperson terhadap kepercayaan pelanggan pada PT. Alfa Scorpi Jalan Adam Malik Medan. Tipe penelitian yang digunakan adalah penelitian asosiatif. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh pelanggan yang melakukan pembelian, dengan menggunakan rumus Slovin maka diperoleh sampel sebanyak 71 Orang. Metode analisis yang digunakan yaitu dan analisis regresi linier berganda.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa Koefisien Determinasi (Adjusted R

Square) sebesar 0,695 yang berarti salesperson (X) mampu menjelaskan

kepercayaan pelanggan (Y) pada PT. Alfa Scorpi Jalan Adam Malik Medan sebesar 69,5% sedangkan sisanya 30,5% dapat dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Berdasarkan pengujian hipotesis dengan uji Fhitung X1 2,361 dan Ftabel sebesar 1.99 sehingga Fhitung > Ftabel (2,361 >

1.99) pada α = 5%. Fhitung X2 4,718 dan Ftabel sebesar 1.99 sehingga Fhitung > Ftabel (4,718 > 1.99) pada α = 5%. Fhitung X3 4,652 dan Ftabel sebesar 1.99

sehingga Fhitung > Ftabel (4,652 > 1.99) pada α = 5%. Fhitung X4 3,996 dan

Ftabel sebesar 1.99 sehingga Fhitung > Ftabel (2,361 > 1.99) pada α = 5%.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel bebas salesmanship (X1),

Negotiating (X2), Relationship Marketing (X3), Kepribadian Berwibawa (X4), berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kepercayaan Pelanggan (Y) pada distributor PT. Alfa Scorpi Jalan Adam Malik Medan.

(3)

ABSTRACT

SALESPERSON CHARACTERISTICS INFLUENCE OF CUSTOMERS TRUST IN PT. ALFA SCORPI ADAM MALIK STREET FIELD

This research aims to test the effect of salesperson characteristics of customer trust in PT. Alpha Scorpi Adam Malik Street Medan. The type of research is associative. The population of this research is the whole customer makes a purchase, using the formula Slovin then obtained a sample of 71 people. Method of analysis is used multiple linear regression and analysis

The test result shows that the coefficient determinations (Adjusted R Square) of 0.695 which means the salesperson (X) capable of articulating customer trust (Y) at PT. Alpha Road Scorpi Adam Malik Medan 69.5% while the rest of 30.5% can be explained by other factors that were not examined in this study. Based on the hypothesis testing with test Fhitung X1 Ftabel of 2.361 and 1.99 until Fhitung> Ftabel (2.361> 1.99) at α = 5%. X2 Fhitung Ftabel of 4.718 and 1.99 until Fhitung> Ftabel (4.718> 1.99) at α = 5%. X3 Fhitung Ftabel of 4.652 and 1.99 until Fhitung> Ftabel (4.652> 1.99) at α = 5%. Fhitung X4 Ftabel of 3.996 and 1.99 until Fhitung> Ftabel (2.361> 1.99) at α = 5%. So it can be concluded that the independent variables Salesmanship (X1), Negotiating (X2), Relationship Marketing (X3), Personality Integrity (X4), is positive and significant impact on Customer Trust (Y) on the distributor PT. Alpha Scorpi Adam Malik Street Medan

(4)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala

rahmat dan karunia-NYA yang selalu menyertai penulis dalam menyelesaikan

skripsi dengan judul “Pengaruh Karakteristik Salesperson Terhadap Kepercayaan

Pelanggan pada PT. Alfa Scorpi Jalan Adam Malik Medan”.

Secara khusus dengan ketulusan dan kerendahan hati, penulis persembahkan

skripsi ini kepada orangtua penulis H. Panjaitan dan J. Damanik atas kasih

sayang, semangat, pengorbanan, ketulusan dan kesabaran yang terus dilimpahkan

kepada penulis. Pada kesempatan ini penulis juga menyampaikan ucapan

terimakasih kepada :

1. Alm. Bapak Drs. Jhon Tafbu Ritonga, M.Ec, selaku Dekan Fakultas

Ekonomi Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Dr. IsfentiSadalia, SE, ME dan Ibu Dra. Marhayanie, M.Si selaku

Ketua dan sekretaris Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi

Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Dr. Endang Sulistya Rini, SE, M.Si selaku Ketua Program Studi

Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara dan sekaligus

sebagai Dosen Pembimbing.

4. Dra. Ulfah, MS selaku Dosen Pembaca Penilai yang telah meluangkan

waktu dan selalu memberikan arahan, masukan dan motivasi bagi penulis

(5)

5. Seluruh Dosen, Staff dan Pegawai Departemen Manajemen Fakultas

Ekonomi.

6. Pimpinan, dan staf pegawai PT. Alfa Scorpi Jalan Adam Malik Medan

7. Sahabatku tercinta ; Jeremia Sitepu, Erick, Rocky, Tulus, Roy, Hermanto,

Desi, Ita, Adel, dan Nalom, Makis, kukket. Terimakasih atas doa dan

dukungannya, semoga ini menjadi langkah awal kita menuju kesuksesan.

Serta untuk teman-teman Ekstensi Manajemen Stambuk 2009 yang tidak

dapat disebutkan satu persatu terima kasih atas bantuan dan dukungannya.

Penulis menyadari skripsi ini masih jauh dari sempurna, masih banya

kkekurangan baik dari isi maupun penyajiannya, penulis dengan kerendahan hati

menerima saran dan masukan yang membangun untuk perbaikan dimasa depan.

Medan, 12 April 2013

Penulis

(6)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... vi

ABSTRACT ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI... x

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB I : PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah ... 1

1.2. Perumusan Masalah ... 5

1.3. Tujuan Penelitian ... 5

1.4. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Tentang Kepercayaan ... 7

2.2 Konsep Tentang Pelanggan ... 8

2.3 Membangun Kepercayaan Pelanggan ... 9

2.4 Fungsi Salesperson ... 12

2.5 Karakteristik Tenaga Penjual ... 13

2.5.1. Salesmanship ... 15

2.5.2. Negosiasi ... 18

2.5.3. Relationship Marketing ... 21

2.5.4. Kepribadian Berwibawa ... 24

2.6 Kepercayaan Kepada Tenaga Penjualan ... 26

2.7 Penelitian Terdahulu ... 26

2.8 Kerangka Konseptual... 27

2.9 Hipotesis ... 28

BAB III : METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian ... 29

3.2. Tempat Dan Waktu Penelitian ... 29

3.3. Batasan Oprasional ... 29

3.4. Defenisi Operasional Variabel ... 29

3.5. Skala Pengukuran Variabel ... 32

3.6. Populasi dan Sampel ... 33

3.6.1. Populasi ... 33

(7)

3.7.1. Data Primer ... 34

3.7.2. Data Sekunder ... 34

3.8. Metode Pengumpulan Data ... 34

3.8.1. Kuesioner ... 34

3.8.2. Studi Dokumentasi ... 34

3.9. Uji Validitas dan Reliabilitas ... 35

3.9.1. Uji Validitas ... 35

3.9.2. Uji Reliabilitas ... 38

3.10. Teknik Analisis ... 40

3.10.1. Analisis Deskriptif ... 40

3.10.2. Uji Asumsi Klasik ... 40

3.10.3 Analisis Regresi Linier Berganda ... 41

3.10.4. Uji Koefisien Determinan ... 42

3.10.5. Uji Hipotesis ... 42

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Sejarah Singkat Perusahaan ... 44

4.2. Ruang Lingkup Perusahaan ... 46

4.3. Organisasi dan Manajemen ... 46

4.3.1. Struktur Organisasi ... 46

4.3.2 Uraian Tugas dan Tanggung Jawab ... 49

4.4. Proses Service (Production)... 53

4.5. Metode Analisis Deskriptif ... 55

4.5.1. Analisis Deskriptif Responden ... 55

4.5.2. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin . 55 4.5.3. Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan ... 56

4.6. Uji Asumsi Klasik ... 64

4.6.1. Uji Normalitas ... 64

4.6.2. Uji Multikolineritas ... 67

4.6.3. Uji Heteroskedastisitas ... 68

4.7. Metode Analisis Regresi Berganda ... 69

4.8. Uji Hipotesis ... 70

4.8.1. Uji Simultan ... 70

4.8.2. Uji T (Parsial) ... 72

4.8.3. Pengujian Determinan ... 74

4.9. Pembahasan ... 76

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan ... 79

5.2. Saran ... 80

DAFTAR PUSTAKA ... 82

(8)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 3.1 Operasional Variabel ... 31

Tabel 3.2 Instrumen Skala Likert ... 33

Tabel 3.3 Item Total Statistics... 35

Tabel 3.4 Instrumen Validitas ... 37

Tabel 3.5 Uji Reliabilitas ... 39

Tabel 3.6 Reliability Statistics ... 40

Tabel 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 55

Tabel 4.2 Pekerjaan Responden ... 56

Tabel 4.3 Distribusi Jawaban Responden Terhadap Variabel Salesman . 56 Tabel 4.4 Distribusi Jawaban Responden Terhadap Variabel Negosiasi . 58 Tabel 4.5 Jawaban Responden Terhadap Variabel Relationship Market 59 Tabel 4.6 Jawaban Responden Terhadap Kepribadian Berwibawa ... 61

Tabel 4.7 Jawaban Responden Terhadap Kepercayaan Pelanggan... 63

Tabel 4.8 Koefisien Uji Multikolineritas ... 67

Tabel 4.9 Metode Analisis Regresi Berganda ... 69

Tabel 4.10 Uji Regresi Berganda (Anova) ... 71

Tabel 4.11 Reliability Statistics ... 71

Tabel 4.9 Uji T (Parsial) ... 73

(9)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1.1 Penjualan Sepeda Motor Di Indonesia Tahun 2000-2009 ... 4

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual ... 28

Gambar 4.1 Struktur Organisasi ... 44

Gambar 4.2 Histogram ... 65

Gambar 4.3 Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual ... 66

(10)

ABSTRAK

PENGARUH KARAKTERISTIK SALESPERSON TERHADAP KEPERCAYAAN PELANGGAN PADA PT. ALFA SCORPI JALAN

ADAM MALIK MEDAN

Penelitian ini betujuan untuk menguji pengaruh dari karakteristik

salesperson terhadap kepercayaan pelanggan pada PT. Alfa Scorpi Jalan Adam Malik Medan. Tipe penelitian yang digunakan adalah penelitian asosiatif. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh pelanggan yang melakukan pembelian, dengan menggunakan rumus Slovin maka diperoleh sampel sebanyak 71 Orang. Metode analisis yang digunakan yaitu dan analisis regresi linier berganda.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa Koefisien Determinasi (Adjusted R

Square) sebesar 0,695 yang berarti salesperson (X) mampu menjelaskan

kepercayaan pelanggan (Y) pada PT. Alfa Scorpi Jalan Adam Malik Medan sebesar 69,5% sedangkan sisanya 30,5% dapat dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Berdasarkan pengujian hipotesis dengan uji Fhitung X1 2,361 dan Ftabel sebesar 1.99 sehingga Fhitung > Ftabel (2,361 >

1.99) pada α = 5%. Fhitung X2 4,718 dan Ftabel sebesar 1.99 sehingga Fhitung > Ftabel (4,718 > 1.99) pada α = 5%. Fhitung X3 4,652 dan Ftabel sebesar 1.99

sehingga Fhitung > Ftabel (4,652 > 1.99) pada α = 5%. Fhitung X4 3,996 dan

Ftabel sebesar 1.99 sehingga Fhitung > Ftabel (2,361 > 1.99) pada α = 5%.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel bebas salesmanship (X1),

Negotiating (X2), Relationship Marketing (X3), Kepribadian Berwibawa (X4), berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kepercayaan Pelanggan (Y) pada distributor PT. Alfa Scorpi Jalan Adam Malik Medan.

(11)

ABSTRACT

SALESPERSON CHARACTERISTICS INFLUENCE OF CUSTOMERS TRUST IN PT. ALFA SCORPI ADAM MALIK STREET FIELD

This research aims to test the effect of salesperson characteristics of customer trust in PT. Alpha Scorpi Adam Malik Street Medan. The type of research is associative. The population of this research is the whole customer makes a purchase, using the formula Slovin then obtained a sample of 71 people. Method of analysis is used multiple linear regression and analysis

The test result shows that the coefficient determinations (Adjusted R Square) of 0.695 which means the salesperson (X) capable of articulating customer trust (Y) at PT. Alpha Road Scorpi Adam Malik Medan 69.5% while the rest of 30.5% can be explained by other factors that were not examined in this study. Based on the hypothesis testing with test Fhitung X1 Ftabel of 2.361 and 1.99 until Fhitung> Ftabel (2.361> 1.99) at α = 5%. X2 Fhitung Ftabel of 4.718 and 1.99 until Fhitung> Ftabel (4.718> 1.99) at α = 5%. X3 Fhitung Ftabel of 4.652 and 1.99 until Fhitung> Ftabel (4.652> 1.99) at α = 5%. Fhitung X4 Ftabel of 3.996 and 1.99 until Fhitung> Ftabel (2.361> 1.99) at α = 5%. So it can be concluded that the independent variables Salesmanship (X1), Negotiating (X2), Relationship Marketing (X3), Personality Integrity (X4), is positive and significant impact on Customer Trust (Y) on the distributor PT. Alpha Scorpi Adam Malik Street Medan

(12)

BAB I

PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang Masalah

Globalisasi membawa dampak yang besar bagi perkembangan dunia

bisnis, yang menuntut setiap perusahaan untuk menciptakan keunggulan

kompetitif bisnisnya agar mampu bersaing secara berkesinambungan. Di

Indonesia banyak perusahaan manufaktur dan jasa memasuki lingkungan

kompetitif dengan menggunakan salesperson dalam memasarkan produknya.

Menggunakan tenaga penjualan (salesperson) dalam meningkatkan pertumbuhan

penjualan merupakan salah satu strategi pemasaran. Keberhasilan perusahaan

dalam mempertahankan hasil penjualan tidak lepas dari peran para tenaga

penjualan. Apabila tenaga penjualan dapat dipercaya oleh pelanggan, maka

perusahaan akan mampu menjalin hubungan yang lebih dekat dengan pelanggan.

Semakin dekat dan baiknya hubungan antara perusahaan dengan para pelanggan

akan mempermudah perusahaan dalam meningkatkan keberhasilan pemasarannya.

Kepercayaan merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam hubungan

antara perusahaan dengan para pelanggan. Kepercayaan dapat membangun

hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan antara perusahaan dengan

pelanggan (Kennedy et al., 2001 : 74). Dengan dasar inilah maka diperlukan

langkah-langkah pengembangan, terutama terhadap karakteristik tenaga

penjualan. Kepercayaan pelanggan terhadap tenaga penjual adalah perilaku yang

(13)

komunikasi yang bersifat terbuka, dilandasi kejujuran dan saling ketergantungan

diantara kedua belah pihak (Smith dan Barclay, 2006 : 5).

Beberapa faktor yang dapat menumbuhkan kepercayaan pelanggan

terhadap tenaga penjual adalah dengan memperhatikan kepercayaan terhadap

karakteristik tenaga penjualan yaitu kesamaan (similarity), frekuensi kontak bisnis

(frequent business contact), frekuensi kontak sosial, jarak hubungan (length of

relationship) (Doney dan Cannon, 2000 : 39).

Kennedy et al., (2001 : 3) dalam penelitian terhadap bisnis otomotif

memberikan informasi bahwa kepercayaan akan dapat mempengaruhi pembelian

ulang dan interaksi di masa datang. Kepercayaan akan terjadi apabila salah satu

pihak dalam sebuah hubungan memiliki keyakinan kepada pihak yang lainnya

terhadap integritas dan reliabilitasnya. Adapun dalam sebuah konteks hubungan

pemasaran, kepercayaan terdiri atas dua dimensi penting yaitu kredibilitas dan

kebaikan (Ganeshan, 2004 : 12).

Swan et al., (2001 : 4) dalam penelitiannya yang mengukur berbagai

faktor yang dapat mempengaruhi kepercayaan pelanggan memberikan informasi,

bahwa faktor-faktor/karakteristik dalam diri tenaga penjualan akan berpengaruh

positif bagi kepercayaan pelanggan. Faktor-faktor/karakteristik tersebut adalah

kompentensi, kejujuran, tanggung jawab, dependable dan sikap yang

menyenangkan dari tenaga penjualan. Seperti halnya Doney dan Cannon (2000 :

39) yang menyatakan bahwa kepercayaan akan muncul dari kontak personal,

keakraban (familiarity) antara tenaga penjualan dengan pelanggan. Senada

(14)

sebuah hubungan yang memiliki kerjasama ekonomi pada masa sebelumnya atau

terdapat hubungan sosial, maka akan cenderung berkembang lebih cepat dan

efisien dibandingkan dengan hubungan yang masih asing. Hal ini menunjukkan

bahwa dengan keakraban antara tenaga penjualan dan pelanggan, maka keakraban

dengan pelanggan akan dapat mempengaruhi tumbuhnya kepercayaan dalam diri

pelanggan.

Dari uraian di atas, dapat digarisbawahi pentingnya peranan karakteristik

tenaga penjual terhadap kepercayaan pelanggan. Berdasarkan pemikiran inilah,

maka perusahaan yang mengandalkan penjualan melalui tenaga pernjualan harus

benar-benar memperhatikan hal-hal yang dapat berpengaruh atas kepercayaan

konsumen dan pelanggan atas tenaga penjualan.

PT. Alfa Scorpi adalah salah satu perusahaan otomotif yang mengandalkan

penjualan melalui tenaga penjualan (salesperson). Salah satu keunggulan

Yamaha adalah terletak pada karakteristik salesperson. Yamaha tidak sekedar

merekrut salesperson, tetapi membekali dan memberikan pelatihan agar menjadi

seorang salesperson yang professional untuk mempertahankan pelanggan dan

menjaga nama baik perusahaan. Adapun yang ditekankan Yamaha kepada

salesperson adalah bagai mana memberikan pelayanan yang terbaik bagi

pelanggan, bagai mana memuaskan keinginan pelanggan, memberi kenyamanan

yang terbaik dan menjadikan pelanggan sebagai raja.

Yamaha mengetahui betul peranan salesperson, karena karakteristik

(15)

suatu budaya bahwa seorang salesperson harus mudah tersenyum, ramah,

bersahabat, jujur dan bertanggung jawab.

Yamaha senantiasa serius dalam meningkatkan layanannya bagi

pelanggan, namun tentu saja keberhasilan ini terutama diraih berkat dukungan

pelanggan setia Yamaha. Bukan hal yang mudah untuk terus mempertahankan

kepercayaan dan kepuasan pelanggan dengan varian produk dan layanan

terlengkap, serta jaringan terluas di Indonesia.

Untuk menjadi market leader dan mempertahankan kepercayaan

pelanggan, Yamaha tidak cukup sekedar mengedepankan market share dan unit

penjualan, namun juga harus memperhatikan kepuasan menyeluruh dalam layanan

total kepada pelanggan.

Gambar. 1.1

Penjualan Sepeda Motor di Indonesia Tahun 2000-2009

(16)

Dari gambar penjualan sepeda motor di atas tampak bahwa jumlah

penjualan sepeda motor Yamaha mengalami peningkatan dari tahun 2000 sampai

tahun 2009. Jumlah penjualan sepeda motor Yamaha menyaingi jumlah penjualan

sepeda motor Honda dimana Honda merupakan pemimpin pasar tertinggi dalam

jumlah penjualan dibandingkan produk sepeda motor lainnya. Kenaikan jumlah

penjualan sepeda motor Yamaha disebabkan karena beberapa faktor, salah

satunya adalah kepercayaan pelanggan serta kepuasan layanan yang diterima oleh

pelanggan.

Berdasarkan uraian dan penjelasan yang telah dikemukakan sebelumnya,

maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh

Karakteristik Salesperson Terhadap Kepercayaan Pelanggan pada

PT. Alfa Scorpi Jalan Adam Malik Medan”.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka

peneliti merumuskan masalah sebagai berikut:

Apakah karakteristik salesperson berpengaruh secara positif dan signifikan

terhadap kepercayaan pelanggan pada PT. Alfa Scorpi Jalan Adam Malik

Medan?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui dan menganalisis pengaruh

karakteristik salesperson terhadap kepercayaan pelanggan pada PT. Alfa Scorpi

(17)

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi:

a. Bagi Peneliti

Penelitian ini merupakan suatu kesempatan bagi peneliti untuk melihat dan

memahami penerapan teori-teori dan literatur yang peneliti peroleh di

bangku perkuliahan, dan mencoba membandingkannya dengan praktek

yang ada di lapangan. Dengan demikian akan menambah pemahaman

penulisan dalam bidang manajemen, khususnya dibidang pemasaran.

b. Bagi Perusahaan

Sebagai masukan bagi perusahaan dalam bidang pemasaran untuk

meningkatkan kualitas dan kinerja salespersonnya agar produk yang

dipasarkan sesuai dengan keinginan konsumen.

c. Bagi Peneliti Selanjutnya

Sebagai bahan referensi yang dapat dijadikan bahan perbandingan dalam

(18)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Tentang Kepercayaan

Kepercayaan konsumen adalah pengetahuan konsumen mengenai suatu

objek, atributnya dan manfaatnya, sedangkan kepercayaan dalam konsep

pemasaran didefenisikan sebagai kepercayaan yang berakar kuat (deep-rooted)

pada sikap mementingkan partner dan dalam tatanan moral sebuah

hubungan/kerja sama. Kepercayaan dibentuk oleh persepsi atas kejujuran,

keadilan, (McAllister, 2001 : 12).

Dalam konteks hubungan antara pelanggan dengan tenaga penjualan,

kepercayaan merupakan perilaku yang ditunjukkan pelanggan terhadap tenaga

penjualan yang muncul akibat pengaruh komunikasi yang bersifat terbuka,

dilandasi kejujuran dan saling ketergantungan diantara kedua belah pihak (Smith

dan Barday, 2006 : 6). Kepercayaan melibatkan empat dimensi psikologis

pelanggan, yaitu:

1. Perasaan atau emosi.

2. Kepercayaan/keyakinan (belief) atau kesadaran (cognition) bahwa tenaga

penjualan (salesperson) memenuhi janji atau tidak.

3. Niat pelanggan apakah perencanaan di masa datang akan berperilaku

dengan penuh kepercayaan atau tidak, dalam menghadapi tenaga

penjualan.

(19)

2.2 Konsep Tentang Pelanggan

Menurut Rahmayanty (2010 : 1), pelanggan adalah raja, pelanggan adalah

alasan keberadaan salesperson, pelanggan adalah orang yang paling penting disisi

salesperson, tanpa pelanggan salesperson tidak punya apa-apa, pelanggan tidak

tergantung kepada salesperson, salespersonlah yang tergantung padanya,

pelanggan tidak mengganggu pekerjaan salesperson, untuknyalah salesperson

bekerja, jika salesperson tidak memahami pelanggannya maka salesperson tidak

memahami bisnisnya, salesperson tidak melayani karena kemurahan hati, tetapi

pelangganlah yang memberikan kemurahan kepada salesperson karena memberi

kesempatan kepada salesperson untuk melayaninya.

Karena begitu pentingnya peranan pelanggan, maka seorang salesperson

harus mengetahui empat kebutahan dasar pelanggan yang dijelaskan sebagai

berikut menurut (Martin, 2004 : 42)

1. Kebutuhan Untuk Dipahami.

Pelanggan yang telah memilih pelayanan salesperson butuh merasa bahwa

dirinya berkomunikasi secara efektif. Hal ini berarti pesan yang mereka

sampaikan harus diartikan dengan benar. Tembok penghalang emosi atau

bahasa bisa mencampuri pemahaman semestinya.

2. Kebutuhan Untuk Merasa Diterima.

Siapa pun yang berbisnis dengan seorang salesperson dan memperlakukan

pelanggan sebagai orang asing, maka pelanggan tidak akan kembali.

Salesperson membutuhkan pelanggan dan harus gembira jika berjumpa

(20)

kegiatan bisnis salesperson.

3. Kebutuhan Untuk Merasa Penting.

Ego dan harga diri adalah kebutuhan manusia yang kuat. Kita semua

senang merasa diri penting. Apapun yang bisa salesperson lakukan untuk

membuat seorang pelanggan merasa dirinya penting adalah langka menuju

ke arah yang tepat.

4. Kebutuhan Akan Kenyamanan.

Pelanggan membutuhkan kenyamanan fisik sebuah tempat untuk

menunggu, beristirahat, berbicara atau berbisnis. Mereka juga

membutuhkan kenyamanan psikologis kepastian bahwa mereka akan

diperlakukan secara pantas, dan keyakinan bahwa salesperson akan

memenuhi kebutuhan mereka.

2.3 Membangun Kepercayaan Pelanggan

Membangun kepercayaan didasarkan pada harapan pelanggan mengenai

motivasi dan perilaku tenaga penjual (salesperson). Sehingga dengan melakukan

analisis dan pengamatan atas perilaku dan karakteristik tenaga penjualan, maka

akan dapat dibangun kepercayaan pelanggan.

Manfaat – manfaat dibangunnya kepercayaan pelanggan bagi pelaku bisnis

adalah sebagai berikut:

1. Meraih Sukses Berkesinambungan.

Membangun kepercayaan pelanggan harus berlandaskan satu petunjuk

yang pasti, yaitu suatu petunjuk yang memiliki visi dan misi yang jauh

(21)

operasional yang baku, sehingga tidak ada kekhawatiran bagi yang

menjalankannya.

2. Selalu Dilindungi Oleh Pelanggan.

Memegang kepercayaan pelanggan, tentu akan mendapatkan imbal balik

yang paling berharga dari pelanggan, yaitu salesperson selalu

mendapatkan informasi langsung dari pelanggannya, apa yang baik dan

apa yang buruk atas barang atau jasa yang ditawarkan. Hal sebaliknya,

bila kepercayaan itu sirna, yang didapatkannya adalah permusuhan, sudah

banyak contoh di dunia ini, kehilangan kepercayaan pelanggan, akan

berakibat munculnya musuh baru.

3. Memperkokoh Loyalitas

Kepercayaan pelanggan yang diperoleh akan berakibat kepada munculnya

loyalitas pelanggan kepada salesperson, disaat – saat salesperson dalam

kondisi yang sulit, pelanggan datang kepada salesperson sebagai penolong

dengan tetap memperhatikan dan mendorong agar tetap teguh. (Raharjo,

http:/annagari.wordpress.com/2008/04/18/membangun-kepercayaan-pelanggan/ )

Berikut langkah-langkah dalam membangun kepercayaan pelanggan

yaitu:

1. Melakukan pendekatan yang ramah, hangat dan personal.

Bila customer atau pelanggan datang dan salesperson hanya memberikan

(22)

personal, maka tidak akan membuat customer membeli produk yang

ditawarkan. Lakukanlah pendekatan yang personal pada pelanggan.

2. Jujur dan jangan sekedar janji-janji.

Jangan menyembunyikan sesuatu. Bila produk bernilai, maka sampaikan

nilai-nilai yang ada dengan sejujurnya, jangan melebih-lebihkan sehingga

membuat pelanggan merasa ditipu. Jangan menjanjikan sesuatu yang

sebetulnya tidak bisa dipenuhi, sehingga pelanggan merasa dibohongi.

3. Jaminan terhadap produk.

Berikan jaminan terhadap produk dan jasa yang anda jual sehingga

pembeli merasa yakin dengan produk atau jasa yang ditawarkan.

Konsekuen dengan apa yang dijaminkan, bila terjadi komplain maka

benar-benar memberikan ganti rugi.

4. Kemudahan menyampaikan komplain.

Berikan kemudahan-kemudahan bagi pelanggan untuk bisa menyampaikan

komplain, misalnya memberikan nomor telepon, akses email dan cara lain

dimana akan memudahkan pelanggan menghubungi. Tangani komplain

dengan cepat, karena semakin lama menangani komplain pelanggan, maka

akan berpotensi untuk didengar oleh lebih banyak orang lain.

5. Bangunlah kesuksesan.

Setiap kejadian yang memberikan kepuasan bagi pelanggan menjadi

kesempatan untuk disaksikan atau publikasikan sebagai testimony

sehingga bisa diketahui oleh lebih banyak orang. Cara publikasi bisa

(23)

produk anda atau di ruang tunggu perusahaan atau bahkan

mengiklankannya dalam surat kabar atau majalah.

diakses pada tanggal 23 November 2011)

2.4 Fungsi Salesperson

Menurut Rahmayanty (2010 : 191) tugas salesperson adalah membangun

dan mempertahankan hubungan jangka panjang dengan pelanggan. Salesperson

adalah orang yang bekerja untuk sebuah perusahaan dengan melakukan suatu atau

beberapa aktivitas, seperti; mencari prospek, berkomunikasi, melayani, dan

mengumpulkan informasi.

Tetapi seorang salesperson yang terlatih secara efektif dapat memberikan

tiga sumbangan penting :

1. Meningkatkan Posisi Pesediaan.

Salesperson dapat membujuk penyalur untuk mengambil lebih banyak

persediaan dan memberikan ruang rak yang lebih luas untuk merek

perusahaan itu.

2. Membangun Antusiasme.

Salesperson dapat membangun antusiasme penyalur untuk suatu produk

baru dengan memdramatisasi periklanan yang direncanakan dan dukungan

(24)

3. Penjualan Misioner.

Salesperson dapat membuat lebih banyak penyalur menandatangani

kontrak untuk menjual merek perusahaan.

Salesperson juga harus menciptakan kesan yang baik terhadap pelanggan,

menciptakan suasana penjualan yang menyenangkan, menciptakan perhatian dan

pendekatan yang baik terhadap langganan, menciptakan persahabatan dengan

pelanggan, menciptakan syarat pembayaran yang diinginkan pelanggan,

menciptakan rasa kepuasan untuk pelanggan.

2.5 Karakteristik Tenaga penjual (Salesperson's Characteristic)

Kepercayaan terhadap tenaga penjualan (salesperon) ditentukan juga dari

diri dan personality tenaga penjualan. Oleh Doney dan Cannon (2000 : 39),

karakteristik tenaga penjualan dibentuk oleh dua hal utama, yaitu keahlian

(expertise) dan kekuatan (power). Keahilan (expertise) membangun kepercayaan

pembeli dengan meningkatkan keyakinan pembeli, bahwa tenaga penjual dapat

memenuhi janji-janjinya. Sedangkan kekuatan (power) tenaga penjualan

didefinisikan sebagai kepercayaan pembeli terhadap tenaga pejualan, bahwa

tenaga penjualan memiliki kemampuan untuk menyediakan hasil yang sesuai

dengan apa yang menjadi janjinya.

Faktor-faktor yang melekat pada diri tenaga penjualan akan dapat

mempengaruhi kepercayaan pelanggan, karena kepercayaan akan tergantung pada

dimensi-dimensi personal, seperti kompetensi, kejujuran, tanggung jawab,

dependable dan likeebility dari tenaga penjualan (Swan et al., 2001 : 4). Dengan

(25)

personal tenaga penjual, memiliki peran yang penting dalam menjalin hubungan

dengan pelanggan.

Karakteristik juga terlihat dari personality tenaga penjualan, yaitu

kejujuran dan tanggung jawab (Swan, 2001 : 4) maupun personality yang

menyenangkan (likeability) (Doney dan Cannon, 2000 : 8). Kejujuran

menunjukkan sikap dari tenaga penjualan yang memberikan informasi secara terus

terang dan jujur mengenai hal-hal yang ingin diketahui oleh pelanggan. Kejujuran

ditunjukkan juga mengenai informasi kelemahan atau kekurangan produk yang

ditawarkan secara jujur dan terbuka. Sikap yang penuh tanggung jawab dari

tenaga penjualan ditampakkan dengan menempatkan ketertarikan pelanggan pada

tempat yang utama, sehingga tenaga penjualan akan bersedia menyediakan waktu

yang lebih banyak bagi pelanggan, apabila di perlukan. Pribadi yang

menyenangkan (likeability) memberikan gambaran karakteristik tenaga penjualan

yang menyenangkan bagi pelanggan dengan ditunjukkan sikap yang bersahabat,

baik serta sopan. Dengan sikap yang menyenangkan, maka kepercayaan akan

dapat ditumbuhkan.

Pada akhirnya karakteristik tenaga penjualan yang ditampakkan dari

pribadi yang berkompeten, memiliki keahlian (expertise), jujur, tanggung jawab

dan menyenangkan (likeabillty), akan dapat mendorong kepercayaan tenaga

(26)

Menurut Rahmayanty (2010 : 188) karakteristik salesperson adalah:

1. Salesmanship.

Salesperson harus memiliki pengetahuan tentang produk dan menguasai

seni menjual, seperti cara mendekati pelanggan, memberikan presentasi

dan demontrasi, mengatasi penolakan pelanggan dan mendorong

pembelian.

2. Negotiating.

Salesperson harus mempunyai kemampuan untuk bernegosiasi tentang

syarat-syarat penjualan.

3. Relationship Marketing.

Salesperson harus tahu cara membina dan memelihara hubungan baik

dengan para pelanggan. Dimana seorang salesperson memiliki sifat yang

ramah, menyenangkan, jujur dan bertanggung jawab.

4. Kepribadian Beribawa.

Kepribadian beribawa dapat membimbing orang lain melakukan sesuatu

(misalnya membeli produk) sesuai dengan anjuran atau saran salesperson.

Semakin menonjol kepribadian beribawa salesperson maka semakin besar

pula kemungkinanan mereka dapat meyakinkan pelanggan membeli

produknya.

2.5.1 Salesmanship

Huegy dan Mitchell mendefinsikan (2002 : 55) “Salesmanship is one of

order and one of the most effective methods of creating and stimulating demand,

(27)

dan paling efektif dalam menciptkan dan mendorong permintaan, mencari

pembeli dan melakukan penjualan. (Alma, 2005 : 111).

Seorang penjual yang terampil dan professional, dapat memberikan saran

kepada para pembeli atau pelanggan, apa yang harus dibeli, bagaimana cara

menggunakan barang, dan sebagainya.

Sedangkan menurut Kurnia (2006 : 4) Salesmanship adalah ilmu menjual

yaitu suatu kemampuan atau kecakapan untuk mempengaruhi orang supaya

merasa berkeinginan membeli barang-barang yang salesperson tawarkan dengan

cara saling menguntungkan, meski calon pembeli sebelumnya tidak tertarik

menjadi tertarik untuk membelinya.

Di bawah ini digambarkan seorang yang terampil dan professional dalam

menjual:

1. Memiliki kemampuan menjual yang memuaskan para pembeli atau

pelanggan.

2. Memiliki suatu kebanggaan memilih pekerjaan menjual.

3. Memelihara kebutuhan pribadinya dan kebebasan dalam menjual.

4. Tidak ketinggalan zaman karena selalu balajar dalam menjual.

5. Memiliki standar etika yang tinggi dalam menjual.

6. Terampil dalam menjual.

7. Benar bila berjanji dalam menjual.

(28)

Sifat-sifat penjual yang baik dan berhasil dalam penjualan barang dan jasa

adalah yang disenangi para pembeli dan pelanggan. Sifat-sifat penjual yang

disenangi para pembeli dan para pelanggan adalah sebagai berikut:

1. Penuh inisiatif.

2. Penuh perhatian.

3. Tidak putus asa.

4. Ketajaman daya ingatan.

5. Mudah bergaul.

6. Selalu gembira.

7. Periang.

8. Sopan santun.

9. Bijaksana.

Di dalam ilmu menjual terdapat 3 (tiga) pengetahuan dasar mengenai

azas-azas penjualan, sebagai berikut:

a. Pengetahuan akan diri sendiri.

Seorang penjual (salesperson) sebelum mengenal para pembeli atau

pelanggan terlebih dahuli harus mengenal dirinya sendiri. Usaha ini dapat

dilakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang harus dijawab dengan

jujur. Hal-hal tersebut sangat penting karena tugas penjual selalu berhubungan

dengan orang-orang yang bermacam-macam sifat, karakternya, dan tabiatnya.

b. Pengetahuan tentang barang yang akan dijual.

Salah satu dasar ilmu menjual adalah ilmu mengenal barang. Seorang

(29)

memahami dan mengetahui apa manfaat produk, kelebihan dan kekurangannya,

dan harus mengetahui spesifikasi produknya secara terperinci.

c. Pengetahuan tentang calon pembeli atau pelanggan.

Hal terakhir yang paling penting bagi seorang penjual adalah harus

mengetahui siapa calon pembeli atau pelanggan tersebut. Dari golongan pembeli

apa, bagaimana sifatnya, tabiatnya, dan karakternya. Sebagai seorang penjual,

harus dapat mengenal segala hal yang berkaitan dengan ribuan orang yang

berbeda-beda kemauanya. Oleh karena itu, seorang penjual harus dapat mengenal

segala hal yang bersangkutan dengan para pembeli atau para pelanggan

(Kurnia, 2006 : 32).

2.5.2 Negosiasi (Negotiating)

Salesperson pastinya sangat familiar dengan negosiasi, karena tugas utama

salesperson adalah menjual produk dan dalam prosesnya pasti melalui negosiasi

untuk menentukan order pelanggan, mendapatkan tempat untuk pajangan maupun

menawarkan aktivitas promosi pada pembeli.

Negosiasi sendiri adalah ilmu sehingga dapat dipelajari, sama dengan ilmu

yang lain negosiasi sendiri memiliki berbagai tingkatan dari dasar, menengah

sampai expert. Penguasaan skill negosiasi sangat diperlukan salesperson,

semakin tinggi penguasaan atas skill ini akan semakin meyakinkan tingkat

penjualan dan loyalitas pelanggan.

Berikut adalah dasar yang harus diketahui dan dilaksanakan oleh

(30)

1. Persiapan yang matang.

Sebelum melakukan negosiasi, pastikan semua tool dan alat pendukung

tersedia seperti detail mekanisme aktivitas, penjualan toko dalam beberapa

minggu terakhir serta proyeksi penjualan melalui kalkulasi yang tepat. Hal

lain adalah persiapan flow pembicaraan dengan pelanggan, kelebihan dan

keuntungan dari produk yang ditawarkan, batas wewenang yang dimiliki

serta waktu adalah hal yang perlu disiapkan secara matang dalam

mendukung proses negosiasi yang sukses.

2. Fokus pada tujuan.

Pada saat melakukan negosiasi, selalu fokus pada tujuan akhir yang ingin

dicapai, ingat selalu point – point penting dalam tujuan kahir dan arahkan

pembicaraan semua pembicaraan ke point tersebut. Hal ini dilakukan

mengingat waktu negosiasi dengan pelanggan sangat terbatas sehingga

waktu yang ada harus dioptimalkan.

3. Beri penekanan pada keuntungan dan manfaat produk bagi pelanggan.

Dalam proses negosiasi, selalu beri penekanan yang cukup pada

keuntungan dan manfaat dari produk yang ditawarkan, dan kaitkan sebisa

mungkin dengan kebutuhan dan keinginan pelanggan seperti tambahan

keuntungan, additional konsumen traffic atau tambahan lini produk. Hal

ini akan memudahkan proses negosiasi selama penekanan pada tujuan

(31)

4. Gunakan bahasa yang sesuai.

Negosiasi adalah proses komunikasi, dan supaya komunikasi menjadi

effektif hal yang perlu diperhatikan adalah penggunaan bahasa. Gunakan

bahasa yang sesuai dengan pelanggan baik tata bahasa, gaya bahasa

maupun jenis bahasa selain kecepatan bicara. Penggunaan bahasa yang

sesuai serta kecepatan bicara yang cukup akan menjadikan proses

komunikasi menjadi effektif dan proses negosiasi dapat berjalan dengan

baik.

5. Antisipasi pertanyaan pelanggan.

Pelanggan biasanya tidak akan begitu saja menerima penawaran dan

membiarkan salesperson memimpin proses negosiasi, akan banyak hal

berupa pertanyaan pelanggan seputar produk yang ditawarkan yang

berpotensi menggagalkan proses negosiasi seperti apakah bisa mendapat

lebih banyak kompensasi atas space yang disediakan, tambahan diskon

atas produk baru atau mebandingkan produk yang ditawarkan dengan

pesaing. Hal ini dapat diatasi dengan mempersiapkan diri atas pertanyaan

yang mungkin timbul dari pelanggan sehingga antisipasi dapat dengan

cepat dilakukan.

Proses negosiasi adalah hal yang sangat kritikal dan selalu dilakukan

setiap hari oleh salesperson dalam menjual produknya, dan karena pelanggan

berbeda-beda maka proses negosiasi itu sendiri tidak akan memiliki hasil yang

sama di setiap pelanggan. Kunci utama bagi salesperson dalam sukses

(32)

akan meningkat terus menerus. Sumber Andri

(http://basic-salesmanship.blogspot.com/2008/09/dasar-negosiasi.html, tanggal 11 Desember

2011).

2.5.3 Relationship Marketing

Relationship marketing menurut Kotler (2009: 56) adalah the process of

creating, maintaining and enchanging strong, value laden relationships with

customers and other stockholder. Yang kurang lebih memiliki arti bahwa

relationship marketing adalah proses mencipta, memelihara dan mengalihkan

keunggulan, muatan nilai hubungan antara pelanggan dan pemegang saham

lainnya. Jadi setiap badan usaha atau perusahaan dalam melakukan hubungan

dengan pelanggan sangat membutuhkan proses relationship marketing.

Sedangkan menurut Tanjung (2004 : 89) relationship marketing adalah

pertumbuhan, pengembangan, dan pemeliharaan dalam jangka panjang yang

menimbulkan hubungan biaya efektif dengan pelanggan, pemasok, karyawan,

dan rekan-rekan lain yang saling menguntungkan.

Lain halnya dengan Chan (2003 : 44) relationship marketing merupakan

pengenalan pada setiap pelanggan secara lebih dekat dengan menciptakan

komunikasi dua arah yang dengan mengelola suatu hubungan yang saling

(33)

Menurut Tanjung (2004 : 56) empat dimensi relationship marketing

adalah:

1. Bonding

Ketergantungan antara kedua belah pihak harus cukup kuat, sehingga

hubungan keduanya dapat bertahan lama. Seorang pelanggan bila merasa

tidak memiliki ketergantungan yang kuat terhadap penjual (salesperson),

maka kemungkinan pelanggan tersebut akan sering berganti pemasok.

2. Empathy

Seorang penjual (salesperson) harus memiliki kepedulian (empathy)

kepada pelanggan, artinya seorang penjualan hendaknya peduli terhadap

permasalahan yang dihadapai pelanggan dan memperhatikan sudut

pandang pelanggan dalam mengatasi suatu masalah.

3. Reciprocity

Hubungan jangka panjang haruslah saling memberi dan menerima.

Artinya, baik penjual (salesperson) maupun pelanggan sama-sama

mendapat keuntungan. Pelanggan yang menginginkan diskon besar,

tentunya harus mengimbangi dengan pembayaran tunai.

4. Trust

Trust lebih dari sekedar believe, meskipun kedua kata tersebut memiliki

arti yang hampir sama. Masing-masing pihak bila memiliki komitmen

yang kuat, maka akan menciptakan rasa sangat percaya (trust) dan

(34)

Menurut Kotler (2009 : 189) suatu relationship marketing mengandung

tiga manfaat, yaitu manfaat ekonomis, sosial, dan status, yang secara singkat

dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Manfaat Ekonomis

Pendekatan pertama untuk membangun suatu hubungan nilai dengan

pelanggan adalah menambah manfaat-manfaat keuangan atau ekonomis

manfaat ekonomis dapat berupa penghematan biaya yang dikeluarkan oleh

pelanggan, potongan-potongan khusus.

2. Manfaat Sosial

Meskipun pendekatan dengan menambah manfaat ekonomis seperti di atas

dapat membangun preferensi konsumen, namun hal ini dapat mudah ditiru

oleh para pesaing satu badan usaha dengan yang lainnya hampir sama

dalam pendekatannya. Sehingga dalam pendekatan ini, badan usaha kita

harus berusaha meningkatkan hubungan sosial mereka yaitu dengan

memberikan perhatian kepada para pelanggan dengan mempelajari

kebutuhan dan keinginan pelanggan secara individual.

3. Status

Pendekatan ketiga utnuk membangun hubungan yang kuat dengan

pelanggan adalah menambah status. Maksudnya, bahwa badan

usaha-badan usaha memberikan pendekatan atau program yang terstruktur yang

dapat menarik minat konsumen untuk mau terlibat menjadi anggota kartu

(35)

2.5.4 Kepribadian Berwibawa

Kepribadian berwibawa dapat membimbing orang lain melakukan sesuatu

(misalnya membeli produk) sesuai dengan anjuran atau saran pemilik kepribadian

(dalam hal ini salesperson). Semakin menonjol kepribadian berwibawa

salesperson semakin besar pula kemungkinan mereka dapat meyakinkan

konsumen membeli produknya.

Kepribadian berwibawa dapat dibangun dengan mempraktekkan tiga

pedoman berikut ini:

1. Membangun kepandaian menguasai diri.

Salesperson harus dapat memaksa dirinya sendiri untuk melakukan

berbagai macam hal yang diperlukan dengan tujuan memperlancar proses

penjualan produk, walaupun sebenarnya mereka tidak menyukai hal itu.

Salesperson harus dapat menerima keberatan, pendapat atau saran calon

pembeli yang tidak sama dengan pendapat mereka sendiri.

Salesperson harus dapat membuang kebiasaan tidak umum mereka.

Sebagai pedoman umum dikatakan agar dapat menguasai orang lain, setiap

orang harus dapat menguasai dirinya sendiri terlebih dahulu. Pedoman itu

juga berlaku bagi para salesperson, sebelum mereka dapat “menguasai”

calon pembeli sehingga bersedia melakukan himbauan membeli produk,

salesperson harus mampu menguasai dirinya sendiri terlebih dahulu.

2. Membangun kebulatan tekad menyelesaikan tugas.

(36)

suatu proses pengambilan keputusan membeli yang dalam banyak kejadian

memakan waktu cukup lama. Salesperson harus mengikuti proses

pengambilan keputusan membeli tersebut dengan tekun, ulet dan sabar.

Apabila mereka setengah-setengah dalam melakukan tugasnya hasilnya

pun juga tidak akan optimal.

Untuk penjualan produk yang mahal harganya dan harus bersaing dengan

perusahaan lain, harapan menjual produk seringkali timbul tenggelam

sejalan dengan berjalannya proses pengambilan keputusan membeli.

Dalam keadaan demikian itu kebulatan tekad salesperson untuk

menyelesaikan tugas sangat diperlukan.

3. Membangun kecepatan berpikir dalam menghadapi konsumen.

Kemampuan berpikir cepat dalam presentasi produk atau menghadapi

konsumen dapat dibangun dengan jalan menganalisis keberhasilan

salesperson dalam setiap pertemuan mereka dengan pembeli, kemudian

mempraktikkan pada pertemuan yang lain. Untuk itu setiap saat

menyelesaikan pertemuan hendaknya salesperson beristirahat sejenak

untuk mencatat berbagai macam keberhasilannya menjawab pertanyaan

dan menangani keberatan yang diajukan calon pembeli selama pertemuan

tersebut. Mereka tidak perlu memikirkan ketidakberhasilannya kecuali hal

itu merupakan kesalahan yang fatal. Kebiasaan itu akan membantu

salesperson berpikir positif dan membangun kepribadian positif pula. Di

samping itu kebiasaan tersebut juga membantu mereka bersikap optimis

(37)

Sumber:

http://www.smakristencilacap.com/id/arti-pemasaran-dan-manajemen pemasaran/kepribadian-berwibawa.

2.6 Kepercayaan Kepada Tenaga Penjualan (Salesperson)

Kepercayaan pelanggan terhadap tenaga penjualan ditunjukkan dengan

sikap yakin dan percaya bahwa tenaga penjualan dapat memenuhi keinginan

pelanggan dalam jangka panjangnya (Crosby et al., 2000 : 71).

Sikap percaya atau tidak percaya yang ditunjukkan olen pelanggan

didasarkan pada persepsi atas pengalaman yang dikatakan dan dijanjikan tenaga

penjualan (Swan et al., 2001 : 2). Dengan demikian maka persepsi atas

karakteristik personal tenaga penjualan maupun faktor-faktor yang berperan

dalam hubungan tenaga penjualan pelanggan, akan menentukan kepercayaan

pelanggan atas tenaga penjualan.

Kepercayaan pelanggan atas tenaga penjualan diukur dari persepsi

pelanggan terhadap sikap tenaga penjualan selama berhubungan dan berinteraksi

dengan pelanggan. Penilaian pelanggan tersebut meliputi kepercayaan mengenai

apa yang dikatakan tenaga penjualan (trustworthy), kehandalan tenaga penjualan

(salesperson), serta standar ketulusan dan moralitas tenaga penjualan.

2.7 Penelitian Terdahulu

Penelitian mengenai kepercayaan pelanggan telah lama menjadi perhatian

bagi para peneliti dibidang ilmu pemasaran. Ada beberapa peneliti terdahulu

yaitu peneliti Arriawan (2001) dengan judul : “Analisi Pengaruh Karakteristik

(38)

Pelanggan (Studi Empiris Pada Pelanggan Produk Susu IMF Nenatal di Jateng

dan DIY)”.

Faktor karakteristik tenaga penjual pada penelitian ini terbukti secara

signifikan berpengaru positif terhadap kepercayaan pelanggan. Karakteristik

tenaga penjual ini menggambarkan bagai mana kepribadian dari tenaga penjual

yang berhubungan dengan pelanggan. Dengan variabel bebas yaitu Kompetensi

(X1), berkeahlian (X2), Jujur (X3), tanggung jawab (X4) dan pribadi yang

menyenangkan (X5).

Dari uji F diperoleh bahwa variabel-variabel salesperson secara

bersama-sama berpengaruh terhadap kepercayaan pelanggan pada SalesPerson Di PT Alfa

Scorpi (Y).

2.8 Kerangka Konseptual

Karakteristik tenaga penjual didifinisikan sebagi atribut-atribut personal

yang melekat pada diri tenaga penjual (salesperson) yang mencerminkan kualitas

pribadi yang menciptakan kepercayaan pelanggan kepada salesperson.

Karakteristik personal diukur dengan kriteria salesmanship, negotiating,

relationship marketing dan kepribadian beribawa. Dengan karakteristik yang

menggambarkan suatu kualitas terhadap tenaga penjual tinggi maka diharapkan

(39)

[image:39.595.136.517.120.282.2]

Sumber : Rahmayanty ( 2012) diolah peneliti Gambar 2.1

Kerangka Konseptual

2.9 Hipotesis

Hipotesis merupakan jawaban yang sifatnya sementara atas

rumusan masalah, yang kebenarannya akan diuji dalam pengujian hipotesis

(Sugiyono, 2004 : 306). Berdasarkan prumusan masalah diatas, maka hipotesis

penelitian ini adalah : “Karakteristik tenaga penjual (salesperson) meliputi

variabel salesmanship, negotiating, relationship marketing dan kepribadian

beribawa berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kepercayaan

pelanggan terhadap salesperson pada PT Alfa Scorpi Jln Adam Malik Medan.

Kepercayaan Pelanggan (Y) Salesmanship (X1)

Negotiating (X2)

Relationship Marketing (X3)

(40)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah asosiatif. Asosiatif merupakan penelitian yang

bertujuan mengetahui hubungan-hubungan antara satu variabel dengan variabel

lainnya atau bagaimana suatu variabel mempengaruhi variabel lainnya.

3.2. Tempat Dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian berada di PT Alfa Scorpi Jalan Adam Malik Medan. waktu

penelitian dari Oktober 2012 sampai dengan Maret 2013.

3.3. Batasan Operasional

Penelitian ini mengkhususkan pembahasan mengenai pengaruh hubungan

kepercayaan pelanggan terhadap salesperson. Variabel-variabel yang diteliti

dalam penelitian ini adalah:

1. Variabel Independen (X) terdiri atas salesmanship (X1), negotiating (X2),

relationship marketing (X3), dan kepribadian beribawa (X4).

2. Variabel Dependen (Y) adalah kepercayaan pelanggan.

3.4. Definisi Operasional Variabel

Penguraian definisi operasional variabel-variabel yang akan diteliti

merupakan suatu cara untuk mempermudah pengukuran variabel penelitan.

(41)

1. Variabel Bebas adalah variabel yang mempengaruhi variabel terikat baik

secara positif atau negatif. Adapun yang menjadi variabel bebas pada

penelitian ini adalah:

a. Salesmanship (X1) adalah suatu kemampuan yang sekaligus menunjukkan

loyalitas penjual, kualitas produk yang dijual atau peranan penjual dalam

pendekatan kepada seseorang atau orang lain, sehingga dapat membentuk

suatu titik keputusan untuk menetapkan hak utama sebagai individu dalam

menetapkan kesempatan mulik atau minat.

b. Negotiating (X2) adalah kemampuan salesperson berkomunikasi,

merundingkan, dan berdiskusi dengan calon pembeli baik perorangan

maupun kelompok yang di dalamnya terjadi diskusi dan perundingan

untuk mencapai kesepakatan tujuan yang saling menguntungkan kedua

belah pihak.

c. Relationship Marketing (X3) adalah suatu pengenalan pada setiap

pelanggan secara lebih dekat dengan menciptakan komunikasi dua arah

dengan mengelola suatu hubungan yang saling menguntungkan antara

pelanggan dan perusahaan.

d. Kepribadian Beribawa (X4) adalah karakteristik pribadi yang

menunjukkan kemampuan salesperson dalam membimbing atau

mengarahkan pelanggan untuk membeli produk.

2. Variabel Terikat adalah variabel yang nilainya dipengaruhi variabel bebas.

Adapun yang menjadi veriabel terikat adalah kepercayaan pelanggan (Y).

(42)

dan kredibilitas salesperson yang ditunjukkan dengan sikap yakin dan

percaya bahwa salesperson dapat memenuhi keinginan pelanggan dalam

[image:42.595.78.548.199.728.2]

jangka panjangnya.

Tabel 3.1

Operasionalisasi Variabel

Variabel Definisi Indikator Skala Pengukuran

Salesmanship

(X1)

pengetahuan tentang produk dan seni menjual, seperti cara mendekati pelanggan, memberikan

presentasi dan

demontrasi, mengatasi penolakan pelanggan dan mendorong pembelian

a. Pengetahuan

salesperson terhadap

produk (produck

knowledge)

b. Keakuratan informsi

yang diperoleh

c. Presentasi dan

demontrasi d. Sikap Likert Negotiating (X2) Kemampuan berkomunikasi, merundingkan dan berdiskusi yang baik dengan calon pembeli dengan tujuan yang saling menguntungkan kedua belah pihak

a. Kemampuan untuk

menyediakan dan meyakinkan hasil

b. Merealisasikan produk

c. Mempunyai

pengetahuan luas dan mendalam

d. Komunikasi yang baik

Likert Relationship Marketing (X3) Kemampuan untuk membina dan memelihara hubungan

baik dengan para pelanggan. Dimana

seorang salesperson

memiliki sifat yang ramah, menyenangkan, jujur dan bertanggung jawab.

a. Memberikan

informasi secara jelas dan jujur

b. Memiliki sifat yang

ramah dan menyenangkan

c. Memiliki sifat yang

bertanggung jawab

Likert

Kepribadaian Beribawa

(X4)

karakteristik pribadi yang menunjukkan

kemampuan salesperson

dalam membimbing atau mengarahkan pelanggan untuk membeli produk

a. Kemampuan untuk

mengarahkan pelanggan

b. Membujuk pelanggan

c. Membantu pelanggan

(43)

Sumber : Rahmayanty ,diolah peneliti (2012)

3.5. Skala Pengukuran Variabel

Variabel dalam penelitian ini yang di ukur adalah variabel salesmanship,

variable negotiating, variabel relationship marketing, dan variabel kepribadian

beribawa. Sekaran (2006 :31) menyatakan bahwa skala Likert didesain untuk

menelaah seberapa kuat subjek setuju dengan pernyatan pada skala 5 titik.

Variabel-variabel tersebut di ukur dengan menggunakan skala Likert dimana

[image:43.595.202.424.531.734.2]

setiap jawaban akan diberi skor.

Tabel 3.2

Instrumen Skala Likert

No Pernyataan Skor

1 Sangat Setuju 5

2 Setuju 4

3 Kurang Setuju 3

4 Tidak Setuju 2

5 Sangat Tidak Setuju 1

Sumber : Sugiyono (2004 : 86)

Variabel Definisi Indikator Skala Pengukuran

Kepercayaan Pelanggan

(Y)

keyakinan pelanggan terhadap integritas dan kredibilitas salesperson

ditunjukkan dengan sikap yakin dan percaya bahwa

salesperson dapat memenuhi keinginan pelanggan dalam jangka panjangnya

a. Integritas salesperson

b. Kredibilitas

salesperson

c. Kemampuan

salesperson untuk memenuhi kebutuhan

dan keinginan pelanggan

(44)

Pada penelitian ini, responden diharuskan memilih salah satu dari kelima

alternatif jawaban yang tersedia, kemudian setiap jawaban yang akan diberi skor

(nilai) tertentu (1,2,3,4 dan 5). Nilai yang diperoleh akan dijumlahkan dan jumlah

tersebut menjadi nilai total. Nilai inilah yang akan ditafsirkan sebagai posisi

responden dalam skala Likert.

3.6 Populasi dan Sampel

3.6.1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan kelompok orang, kejadian, atau hal minat

yang ingin diteliti (Sekaran, 2006 : 121). Populasi penelitian ini adalah seluruh

pelanggan yang melakukan pembelian pada bulan Oktober 2012 sampai dengan

Februari 2013 di PT Alfa Scorpi Jln Adam Malik Medan yaitu berjumlah 245

orang.

3.6.2. Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang diharapkan dapat mewakili

populasi penelitian (Kuncoro, 2003 : 107).

Untuk menentukan ukuran sampel dari populasi, peneliti menggunakan

rumus Slovin pada Umar (2003 : 120) sebagai berikut

n = N

(1 + Ne2)

Dimana : n = jumlah sampel

N = ukuran populasi

e = batas kesalahan

(45)

n = 245

1+245 (0,1).(0,1)= 71,014

Pada penelitian ini jumlah sampel dibulatkan menjadi 71 orang sampel

random sampling.

3.7. Jenis Dan Sumber Data

Jenis data dalam penelitian ini adalah:

3.7.1. Data primer

Data diperoleh langsung dari responden yang dipilih pada lokasi penelitian.

Data primer diperoleh dengan cara memberikan kuesioner.

3.7.2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui dokumen dengan

mempelajari berbagai tulisan melalui buku, jurnal, majalah, dan internet

untuk mendukung penelitian.

3.8. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penenlitian ini adalah:

3.8.1. Kuesioner

Memberikan daftar pertanyaan kepada pelanggan yang telah ditetapkan

sebagai sampel atau responden penelitian.

3.8.2. Studi dokumentasi

Dilakukan dengan cara mengumpulkan dan mempelajari data-data yang

diperoleh dari berbagai macam buku, jurnal dan informasi dari internet

(46)

3.9. Uji Validitas dan Reliabilitas

3.9.1. Uji Validitas

Uji validitas adalah untuk mendapatkan data yang valid.Valid diartikan

bahwa instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya

diukur (Sugiyono 2004: 172) kriteria dalam menentukan validitas kuesioner adalah

sebagai berikut:

Jika rhitung > rtabel

Jika r

maka pertanyaan tersebut valid

hitung < rtabel

Uji validitas kuesioner dalam penelitian ini menggunakan bantuan aplikasi

software SPSS versi 16.

maka pertanyaan tersebut tidak valid

Tabel 3.3 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Correlation Cronbach's Alpha if Item

Deleted

X1P1

SALESMANSHIP

103,0333 128,999 ,796 ,961

X1P2

SALESMANSHIP

103,0333 131,757 ,574 ,962

X1P3

SALESMANSHIP

103,3667 127,413 ,550 ,964

X1P4

SALESMANSHIP

103,0000 132,207 ,607 ,962

X1P5

SALESMANSHIP

103,0333 130,240 ,792 ,961

X2P1 NEGOSIASI 103,2333 125,013 ,875 ,960

X2P2 NEGOSIASI 103,2000 124,234 ,850 ,960

X2P3 NEGOSIASI 103,0667 129,168 ,793 ,961

X2P4 NEGOSIASI 103,1667 124,695 ,809 ,960

X2P5 NEGOSIASI 103,0667 128,133 ,721 ,961

(47)

X3P3 RELATION 102,9667 131,344 ,598 ,962

X3P4 RELATION 103,0000 132,207 ,607 ,962

X3P5 RELATION 103,1667 124,695 ,809 ,960

X4P1

KEPRIBADIAN

103,0333 128,999 ,796 ,961

X4P2

KEPRIBADIAN

103,0333 131,757 ,574 ,962

X4P3

KEPRIBADIAN

103,2667 130,823 ,512 ,963

X4P4

KEPRIBADIAN

103,0000 132,207 ,607 ,962

X4P5

KEPRIBADIAN

103,0333 130,240 ,792 ,961

YP1

KEPERCAYAAN

103,2333 125,013 ,875 ,960

YP2

KEPERCAYAAN

103,2000 124,234 ,850 ,960

YP3

KEPERCAYAAN

103,0667 129,168 ,793 ,961

YP4

KEPERCAYAAN

104,1000 127,886 ,493 ,965

YP5

KEPERCAYAAN

103,0667 128,133 ,721 ,961

Sumber: Hasil Pengolahan SPSS, Diolah (2012)

Berdasarkan hasil pengelolaan SPSS pada Tabel 4.3 dapat dilihat bahwa

semua variabel sudah valid, dimana rhitung > rtabel.

1. Scale mean if item deleted menunjukan hasil nilai rata-rata variabel tersebut

dihapus, misalnya jika variabel 1 dihapus maka rata-rata totalnya bernilai 56.000,

dan seterusnya.

25 variabel peryataan yang

diberikan kepada 30 orang responden dalam kuesioner penelitian, diperoleh

(48)

2. Scale variance if item deleted menunjukan besarnya variance total jika variabel

tersebut dihapus, misalnya jika variabel 1 di hapus maka nilai variance adalah

71.241, dan seterusnya.

3. Corrected item total correlation menunjukan korelasi antara skor item dengan

skor total item yang dapat digunakan untuk menguji validitas instrument. Nilai

pada kolom corrected item total correlation merupakan nilai rhitung yang

dibandingkan dengan rtabel untuk mengetahui validitas pada setiap variabel

peryataan. Adapun taraf signifikansinya adalah 5% dan N (jumlah sampel) = 30

sehingga r (0,05;30) diperoleh rtabel

Tabel 3.4 menunjukan bahwa 25 peryataan valid, dapat dilihat dari r adalah 0,361.

hitung

pada Corrected Item-Total Correlation yang pada 25 peryataan lebih besar dari

rtabel

(0.361), sehingga 25 variabel peryataan dapat digunakan untuk penelitian,

(49)
[image:49.595.141.481.128.733.2]

Tabel 3.4 Validitas Instrument Mean Corrected

Item-Total

Correlation rtabel Validitas

Variabel 1

Variabel 2

Variabel 3

Variabel 4

Variabel 5

Variabel 6

Variabel 7

Variabel 8

Variabel 9

Variabel 10

Variabel 11

Variabel 12

Variabel 13

Variabel 14

Variabel 15

Variabel 16

Variabel 17

Variabel 18

Variabel 19

Variabel 20

Variabel 21

Variabel 22

Variabel 23

Variabel 24

Variabel 25

,796 ,574 ,550 ,607 ,792 ,875 ,850 ,793 ,809 ,721 ,792 ,792 ,598 ,607 ,809 ,796 ,574 ,512 ,607 ,792 ,875 ,850 ,793 ,493 ,721 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid

(50)

3.9.2. Uji Reliabilitas

Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat

pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan (Situmorang, et al. 2010: 72).

Menurut Ghazali, 2005 dan Kuncoro, 2003 (dalam Situmorang, et al. 2010: 80),

suatu konstruk atau variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai Cronbach

Alpha > 0,60 atau nilai Cronbach Alpha > 0,80. Uji reliabilitas kuesioner dalam

penelitian ini menggunakan bantuan aplikasi SoftwareSPSS versi 16

Uji validitas dan reliabilitas akan dilakukan kepada 30 orang responden di

luar sampel dengan menyebarkan kuesioner kepada pelanggan yang berada di PT

(51)
[image:51.595.99.526.128.759.2]

Tabel 3.5 Uji Reliabilitas Cronbach’s Alpha

If Item Deleted Ghozali Kuncoro Reliabilitas

Variabel 1

Variabel 2

Variabel 3

Variabel 4

Variabel 5

Variabel 6

Variabel 7

Variabel 8

Variabel 9

(52)

19

Variabel

20

Variabel

21

Variabel

22

Variabel

23

Variabel

24

Variabel

25

[image:52.595.100.523.108.615.2]

Sumber: Hasil Pengolahan SPSS, diolah (2012)

Tabel 4.5 memperlihatkan bahwa seluruh peryataan dinyatakan reliabel

karena nilai Cronch alpha diatas 0,80 dan 0,60.

(53)

Tabel 3.6 Reliability Statistics

Cronbach's Alpha N of Items

,963 25

Sumber: Hasil Pengolahan SPSS, diolah (2012)

Tabel 4.6 menunjukan seluruh peryataan reliabel karena nilai Cronch

alpha 0.963 lebih besar dari 0.80.

3.10 Teknik Analisis

3.10.1 Analisis Deskriptif

Suatu metode analisis dimana data-data yang dikumpulkan,

diklasifikasikan, dianalisis dan diinterpretasikan secara objektif sehingga

memberikan informasi dan gambaran mengenai topik yang akan dibahas.

3.10.2 Uji Asumsi Klasik

3.10.2.1. Uji Normalitas Data

Pengujian ini dilakukan untuk melihat model regresi, apakah variabel

dependen dan independen memiliki distribusi normal atau tidak.

3.10.2.2. Uji Heteroskedastisitas

Digunakan untuk menguji model regresi apakah terjadi ketidaksamaan

atau perbedaan varians dari residual pengamatan yang lain. Jika varians

residual dari suatu pengamatan lain tetap, maka disebut

homokedastisitas, dan jika varians berbeda disebut heteroskedastisitas.

[image:53.595.240.484.113.185.2]
(54)

3.10.2.3. Uji Multikolinieritas

Uji ini digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi

ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas, jika terdapat terdapat

korelasi antara variabel bebas maka dapat dikatakan terdapat masalah

multikolinieritas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi

korelasi antar variabel bebas. Uji multikolinieritas menggunakan

kriteria Variance Inflation Factor (VIF) dengan ketentuan:

1. Bila VIF > 5 terdapat masalah multikolinieritas yang serius.

2. Bila VIF < 5 tidak terdapat masalah multikolinieritas yang serius.

3.10.3 Analisis Regresi Linier Berganda

Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui seberapa

besar pengaruh variabel bebas (Salesmanship, Negotiating, Relationship

Marketing, Kepribadian Berwibawa,) terhadap variabel terikat (Kepercayaan

Pelanggan).

Persamaan regresi berganda yang digunakan adalah:

Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4

Dimana:

+ e

Y = kepercayaan pelanggan

a = konstanta

b1...b3

X

= koefisien regresi

(55)

X2

X

= variabel negotiating

3

X

= variabel relationship marketing

4

e = standar error

= variabel kepribadian berwibawa

3.10.4 Uji Koefisien Determinan (R2

Koefisien determinasi (R )

2

) pada intinya mengukur seberapa besar

kemampuan model dalam menerangkan variabel terikat. Jika R2 semakin besar

(mendekati satu), maka dapat dikatakan bahwa pengaruh variabel bebas (X1, X2,

X3, X4) adalah besar terhadap variabel terikat (Y). Hal ini berarti model yang

digunakan semakin kuat untuk menerangkan pengaruh variabel bebas yang diteliti

terhadap variabel terikat. Sebaliknya jika R2

3.10.5 Uji Hipotesis

semakin mengecil (mendekat nol),

maka dapat dikatakan bahwa pengaruh variabel bebas (X1, X2, X3, X4) terhadap

variabel terikat (Y) semakin kecil. Hal ini berarti model yang digunakan tidak

kuat untuk menerangkan pengaruh variabel bebas yang diteliti terhadap variabel

terikat.

A. Uji Signifikansi Simultan (Uji-F)

Pengujian ini dilakukan untuk melihat apakah semua variabel bebas yang

dimasukkan dalam model yang mempunyai pengaruh secara bersama-sama

terhadap variabel terikat.

Kriteria pengujiannya adalah: H0 : b1,b2,b3,b4 = 0, artinya secara serentak tidak

terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari variabel bebas terhadap

Gambar

Gambar. 1.1
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
Tabel 3.1 Operasionalisasi Variabel
Tabel 3.2 Instrumen Skala Likert
+7

Referensi

Dokumen terkait

FAKTOR-FAKTOR RESIKO TERJADINYA KANKER SERVIKS DI RUMAH SAKIT UMUM HAJI ADAM MALIK MEDAN TAHUN 2014.. Karya

Pada data rekam medik RSUP Haji Adam Malik, Medan didapatkan 69 bayi mengalami hiperbilirubinemia.Kebanyakan bayi yang mengalami hiperbilirubinemia memiliki berat

terhadap indeks kepuasan pasien di RSUP Haji Adam Malik Medan yang diukur dengan. skala Likert (skala 1-5) tergolong masih sangat rendah, dimana skala 1

Tabel 1.1 Data Jumlah Pasien Rawat Jalan Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Sumber : Instalasi Rekam Medis

Adam Malik Medan dalam pelayanan kesehatan bagi pasien pengguna Jamkesmas serta upaya hukum apakah yang dapat dilakukan oleh pasien Jamkesmas di R.S.U.P. Adam

Mengetahui karakteristik penderita kanker paru di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2016-2018. Mengetahui kecenderungan kunjungan penderita kanker paru rawat inap di RSUP Haji

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari bauran pemasaran terhadap keputusan pembelian mobil Honda pada PT.. Istana Deli Kencana Adam

Adam Malik Medan ….……… Distribusi frekuensi kualitas pelayanan keperawatan pada pasien di ruang rawat inap terpadu (Rindu)RSUP H.Adam Malik Medan Distribusi