• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan antara Efektivitas Kepemimpinan Dengan Job Insecurity

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Hubungan antara Efektivitas Kepemimpinan Dengan Job Insecurity"

Copied!
107
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN ANTARA EFEKTIVITAS KEPEMIMPINAN

DENGAN JOB INSECURITY

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan

Ujian Sarjana Psikologi

Oleh

KHAIRANI RIZKY

091301030

FAKULTAS PSIKOLOGI

(2)

LEMBAR PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan dengan sesungguhnya

bahwa skripsi saya yang berjudul:

Hubungan antara Efektivitas Kepemimpinan Dengan Job Insecurity

Adalah hasil karya saya sendiri dan belum pernah diajukan untuk

memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi manapun.

Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan skripsi saya kutip dari

hasil karya orang lain telah ditulis sumbernya secara jelas dan sesuai dengan

norma dan etika penulisan ilmiah

Apabila dikemudian hari ditentukan adanya kecurangan didalam skripsi

ini, saya bersedia menerima sanksi dari Fakultas Psikologi Universitas Sumatera

Utara sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Medan, Juni 2014

Khairani Rizky

(3)

Hubungan Antara Efektivitas Kepemimpinan Dengan Job Insecurity

Khairani Rizky dan Ferry Novliadi

ABSTRAK

Efektivitas kepemimpinan merupakan salah satu faktor terpenting didalam

pengembangan dan kemajuan suatu perusahaan,salah satu dampak yang dapat

ditimbulkan ketika kepemimpinan kurang efektif didalam perusahaan maka akan

menimbulkan kondisi yang tidak aman terhadap karyawan didalam menjalankan

pekerjaanya atau disebut juga Job Insecurity. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara efektivitas kepemimpinan dengan job insecurity

pada karyawan PT.X Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah

karyawan PT.X yang berjumlah 50 orang. Alat ukur yang digunakan adalah skala

job insecurity yang disusun berdasarkan aspek yang duikemukakan oleh Ashford dan skala efektivitas kepemimpinan di susun berdasarkan dimensi yang

dikemukakan oleh Fiedler. Metode analisa data yang digunakan adalah

personproduct moment . Hasil analisa data menunjukkan adanya hubunga yang negative antara efektivitas kepemimpinan dengan job insecuritypada karyawan PT.X -0,537.

(4)

The Relationship Between Leadership Effectiveness With Job Insecurity

Khairani Rizky and Ferry Novliadi

ABSTRACT

The effectiveness of leadership is one of the most important factors in the

development and progress of a company, one of the effects that can be caused

when a lack of effective leadership within the company then this will cause unsafe

conditions for employees in performing their job or also called Job Insecurity. This study aims to determine the relationship between leadership effectiveness

with job insecurity on employee PT.X. The subjects used in this study were employees PT.X totaling 50 people.Measuring instruments used are job scale insecurity and leadership effectiveness scale. Data analysis method used is the

product moment person. The results of the data analysis showed a negative correlation between leadership effectiveness with job insecurity on employee PT.X of -0.537.

(5)

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur dan terima kasih saya panjatkan ke hadirat Allah SWT

oleh karena rahmat serta hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi

ini guna memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan di Fakultas

Psikologi Universitas Sumatera Utara serta meraih gelar Strata 1 (S1).

Keberhasilan penulisan skripsi ini dapat terwujud tidak hanya hasil kerja

keras saya sendiri namun juga berkat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena

itu, saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih setulus-tulusnya kepada

berbagai pihak yang telah membantu proses penyelesaian skripsi ini dan juga

selama menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara,

yaitu kepada:

1. Ibu Prof. Dr. Irmawati, psikolog selaku dekan Fakultas Psikologi

Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Ferry Novliadi, M.Si selaku dosen pembimbing. Terima kasih

banyak penulis ucapkan atas perhatian, pengertian, bantuan, serta

bimbingan yang Bapak berikan kepada penulis dalam pengerjaan

skripsi ini.

3. Bapak Eka Danta J. G., M.A., selaku dosen pembimbing akademik

yang telah memberikan saran dan motivasi selama masa perkuliahan di

(6)

4. Seluruh dosen pengajar di Fakultas Psikologi yang tidak mungkin saya

sebutkan satu per satu namun tidak mengurangi niat saya untuk Terima

Kasih atas semua ilmu yang diajarkan dan bermanfaat untuk saya.

5. Kepada kedua orang tua yang selalu memberikan dukungan, do’a yang

tiada habisnya dan kasih sayang yang tidak dapat diungkapkan dengan

kata-kata. InsyaAllah kakak akan memberikan yang terbaik buat

mama dan Alm.papa

6. Kepada saudara saya Bang M.yuli Andri,Amd,SE dan Adik saya

Ainun Mardiah , terima kasih untuk doa tulus,motivasnya, dan selalu

mengingatkan saya untuk mennyelesikan skripsi ini.

7. Kepada Bang Raja Siregar,Spsi tersayang, terima kasih atas

kebersamaan yang banyak memberikan pelajaran yang berharga, serta

kasih sayang,semangat dan bantuan yang tiada henti-hentinya,

khususnya ketika saya menyelesaikan skripsi ini.

8. Kepada kakak S2 kak ulpah, terima kasih banyak untuk kebaikannya

berbagi ilmu dan bantuan selama penyelesain skripsi ini.

9. Ubi (Resky Amelia), Runa, Munisa, Nita, Tila, meme terima kasih

atas pengertiannya, canda tawa dan mengingatkan saya dalam

mengerjakan skripsi ini,

10. Teman-teman angkatan 2009 dan 2010 yang saling menyokong dalam

(7)

11.Semua pihak dan teman – teman yang mendukung proses penyelesaian

penelitian ini yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Semoga

Allah SWT membalas bantuan dan kebaikan yang telah diberikan

Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang

telah membantu penulis dalam penulisan skripsi ini. Meskipun penyusunan skripsi

ini telah diupayakan seoptimal mungkin, penulis menyadari bahwa skripsi ini

masih jauh dari kesempurnaan, dikarenakan keterbatasan yang namun sumbangan

pemikiran yang peneliti sampaikan mudah-mudahan dapat bermafaat bagi

pembaca.

Medan, Juni 2014

(8)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABLE ... ix

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

I.A. Latar Belakang ... 1

I.B. Rumusan Masalah ... 9

I.C. Tujuan Penelitian ... 9

I.D. Manfaat Penelitian ... 9

I.E. Sistematika penulisan ... 10

BAB II. LANDASAN TEORI ... 11

I.A. JOB INSECURITY ... 11

I.A.1. Definisi Job Insecurity ... 11

I.A.2. Aspek-Aspek Job Insecurity ... 12

I.A.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Job Insecurity ... 13

II.B. Efektivitas Kepemimpinan ... 14

II.B.1. Efektivitas Kepemimpinan ... 14

II.B.2. Dimensi Efektivitas Kepemimpinan ... 16

(9)

II.C. Dinamika Hubungan Antara Efektivitas Kepemimpinan

Dengan Job Insecurity Karyawan PT X ... 18

II.D. Hipotesa Penelitian ... 21

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ... 22

III.A. Identifikasi Variabel Penelitian ... 22

III.B. Defenisi Operasional Penelitian ... 22

III. B.1. Job Insecurity ... 22

III. B.2. Efektivitas Kepemimpinan ... 23

III.C. Lokasi Penelitian ... 23

III.D. Subjek Penelitian ... 24

III. D.1. subjek Penelitian ... 24

III.E. Metode Pengumpulan Data ... 24

III.F. Uji Coba Alat Ukur Validitas ... 29

III. F.1. Validitas Alat Ukur ... 29

III. F.2. Uji Daya Beda Aitem ... 29

III. F.3. Reliabilitas Alat Ukur ... 30

III. F.4. Hasil Uji Coba Alat Ukur ... 31

III.G. Prosedur Pelaksanaan Penelitian ... 37

III.G.1. Tahap Persiapan Penelitian ... 37

III.H. Metode Analisis Data ... 38

BAB IV. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN ... 41

IV.A. Gambaran Umum Subjek Penelitian ... 41

(10)

IV.A.2. Gambaran Subjek Berdasarkan Usia ... 42

IV.A.3. Gambaran Subjek Berdasarkan Tingkat Pendidikan . 42 IV.A.4. Gambaran Subjek Berdasarkan Masa Kerja ... 43

IV.B. Hasil Penelitian ... 44

IV.B.1. Hasil Uji Asumsi ... 44

IV.B.2. Hasil Utama Penelitian ... 47

IV.C. Pembahasan dan Hasil Penelitian ... 52

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 55

A, Kesimpulan ... 56

B.Saran ... 57

DAFTAR PUSTAKA ... 58

(11)

DAFTAR TABLE

Tabel.1 Skor Alternatif Jawaban Skala ... 25

Tabel.2 Distribusi Aitem-Aitem Skala Job Insecurity Sebelum Uji Coba .... 26

Tabel.3 Skor Alternative Jawaban Skala ... 27

Tabel.4 Distribusi Aitem-Aitem Efektivitas Kepemimpinan Sebelum Uji Coba ... 28

Tabel.5 Aitem-Aitem Hasil Uji Coba Skala Job Insecurity ... 32

Tabel.6 Penomoran Aitem-Aitem Penelitian Skala Job Insecurity ... 33

Tabel.7 Aitem-Aitem Hasil Uji Coba Skala Efektivitas Kepemimpinan ... 35

Tabel.8 Penomoran Aitem-Aitem Penelitian Skala Efektivitas Kepemimpinan ... 36

Tabel.9 Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin ... 41

Tabel.10 Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Usia ... 42

Tabel.11 Gambaran Subjek Berdasarkan Tinggkat Pendidikan ... 43

Tabel.12 Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Masa Kerja ... 43

Tabel.13 Normalitas Sebaran Variabel Job Insecurity Dengan Efektivitas Kepemimpinan ... 44

Tabel.14 Hasil Pengujian Linieritas ... 46

Tabel.15 Hasil Analisis Korelasi Pearson Product Moment ... 48

Tabel.16 Nilai Mean Hipotetik Dan Mean Empirik Job Insecurity ... 48

(12)

Tabel.18 Norma Kategorisasi Penelitian ... 50

(13)

DAFTAR GAMBAR

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A Skala Uji Coba ... 62

Lampiran B Uji Daya Beda dan Reliabilitas Aitem ... 72

Lampiran C Data Mentah Penelitian dan Hasil Olah Data Penelitian ... 80

(15)

Hubungan Antara Efektivitas Kepemimpinan Dengan Job Insecurity

Khairani Rizky dan Ferry Novliadi

ABSTRAK

Efektivitas kepemimpinan merupakan salah satu faktor terpenting didalam

pengembangan dan kemajuan suatu perusahaan,salah satu dampak yang dapat

ditimbulkan ketika kepemimpinan kurang efektif didalam perusahaan maka akan

menimbulkan kondisi yang tidak aman terhadap karyawan didalam menjalankan

pekerjaanya atau disebut juga Job Insecurity. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara efektivitas kepemimpinan dengan job insecurity

pada karyawan PT.X Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah

karyawan PT.X yang berjumlah 50 orang. Alat ukur yang digunakan adalah skala

job insecurity yang disusun berdasarkan aspek yang duikemukakan oleh Ashford dan skala efektivitas kepemimpinan di susun berdasarkan dimensi yang

dikemukakan oleh Fiedler. Metode analisa data yang digunakan adalah

personproduct moment . Hasil analisa data menunjukkan adanya hubunga yang negative antara efektivitas kepemimpinan dengan job insecuritypada karyawan PT.X -0,537.

(16)

The Relationship Between Leadership Effectiveness With Job Insecurity

Khairani Rizky and Ferry Novliadi

ABSTRACT

The effectiveness of leadership is one of the most important factors in the

development and progress of a company, one of the effects that can be caused

when a lack of effective leadership within the company then this will cause unsafe

conditions for employees in performing their job or also called Job Insecurity. This study aims to determine the relationship between leadership effectiveness

with job insecurity on employee PT.X. The subjects used in this study were employees PT.X totaling 50 people.Measuring instruments used are job scale insecurity and leadership effectiveness scale. Data analysis method used is the

product moment person. The results of the data analysis showed a negative correlation between leadership effectiveness with job insecurity on employee PT.X of -0.537.

(17)

BAB I

PENDAHULUAN

I.A. Latar Belakang

Dalam era globalisasi saat ini perusahaan dihadapkan pada iklim

persaingan usaha yang semakin ketat yang menuntut perusahaan untuk saling

berlomba-lomba dalam meningkatkan produktivitas perusahaan, agar mampu

bertahan dalam menghadapi persaingan yang terjadi, Menurut Petter & Watermen

(1982) karyawan atau sumber daya manusia merupakan aset terpenting yang

berfungsi untuk mengerakkan dan mengembangkan perusahaan.

Menurut Allen (dalam As’ad,1999) menyatakan bahwa sebaik apapun

perencanaan organisasi dan pengawasan yang dilakukan perusahan, namun

apabila sumber daya manusia (karyawan) tidak dapat menjalankan pekerjaanya

dengan aman dan nyaman maka suatu perusahaan tidak akan mencapai hasil yang

maksimal. Salah satu masalah yang terjadi dalam perusahaan yang berhubungan

dengan karyawan saat ini adalah organisasi dituntut untuk aktif dalam melakukan

perubahan internal (perubahan yang melibatkan dari dalam organisasi) sebagai

salah satu cara dalam merancang strategi untuk memenangkan persaingan antar

perusahaan.

Menurut Hellegren dkk (1999 fenomena perubahan internal dalam

perusahan salah satunya adalah pergantian kepemimpinan atau peralihan

kepemimpinan, yang secara tidak langsung dapat memberikan ancaman bagi para

(18)

Menurut Santoso (2005) karyawan yang sudah memiliki perasaan tidak

aman lagi berada di perushan,dapat menyebabkan mereka menjadi bingung dalam

melaksanakan berbagai aktivitas pekerjaan mereka, karena hal ini dianggap oleh

karyawan sebagai situasi yang dapat mengancam kelangsungan kehidupan

mereka, disuatu sisi mereka ingin terus eksis di dalam tempat kerja mereka tetapi

disisi lain mereka merasa bahwa posisinya senantiasa terancam. Kondisi inilah

yang disebut dengan job insecurity.

Menurut Ashford dkk (1989) job insecurity diartikan sebagai tingkat dimana karyawan merasa terancam pada pekerjaanya dan merasa tidak berdaya

untuk melakukan apapun terhadap situasi tersebut.Job insecurity yang dirasakan tidak hanya disebabkan oleh ancaman terhadap kehilangan pekerjaan tetapi juga

kehilangan dimensi pekerjaan.Job insecurity juga mempunyai dampak terhadap menurunnya keinginan pekerja untuk bekerja di suatu perusahan tertentu dan

akhirnya mengarah pada keinginan untuk berhenti bekerja.

Menurut Greenberg&Baron (2003) karyawan yang mengalami

ketidakamanan bekerja (job insecurity) biasanya memunculkan prilaku

withdrawal yang diartikan sebagai usaha karyawan untuk meminimalisasikan hubungan atau kontak mereka dengan pekerjaan, lebih lanjut menurut Hullin

(dalam Parahayanti, 2005) menyatakan bentuk withdrawal sebagai berikut yaitu, menggunakan waktu kerja untuk kepentingan pribadi, memanjangkan waktu

istirahat, datang terlambat, tingginya tingkat absensi dan menghindari sebagian

(19)

Menurut Vurren (dalam Pradiansayah,1999) menyatakan bahwa dalam

menghadapi job insecurity ada tiga respon yang biasanya diambil oleh karyawan yaitu,tindakan pertama adalah avoidance(menghindar), seperti malas datang ke kantor, tidak berminat terhadap pekerjaan. Tindakan kedua adalah

ketidakpercayaan terhadap kepemimpinan perusahaan dan mencari pekerjaan

yang baru, dan tindakan ketiga adalah pasrah dalam menghadapi situasi

lingkungan kerja dan mengikuti alur dari kepemimpinan tersebut. Menurut Vurren

(dalam Pradiansyah,1999) dalam ketidakamanan mereka dalam bekerja tindakan

pertama dan kedua agak sulit untuk dilakukan karena itu tindakan ketigalah yang

paling mungkin untuk diambil. Selintas nampaknya karyawan tetap bekerja

padahal mereka lebih sering berbagi kecemasan dengan rekan kerjanya.

Job insecurity selalu dikaitkan dengan kesejahteraan pekerja serta menurunnya kepercayaan terhadap kepemimpinan didalam organisasi serta

rendahnya persepsi terhadap dukungan organisasi dan kepemimpinan dalam

perusahaan dan beakhir kepada keputusan karyawan untuk keluar dari perusahan,

(Ashford 1989). Job insecurity juga akan berdampak terhadap pekerjaan yang dihasilkan oleh karyawan menjadi kurang produktif dan efektif, komitmen yang

rendah dan akhirnya dapat menimbulkan turn over di perusahaan tersebut.

Menurut Hellgren (1999) pada umumnya organisasi tidak mudah untuk

mendeteksi setiap job insecurity yang ada di dalamnya karena hal ini berhubungan dengan persepsi karyawan terhadap organisasi tersebut, sehingga dapat dikatakan

bahwa diperlukan penanganan yang serius terhadap masalah tersebut serta

(20)

insecurity ,maka sebaiknya setiap organisasi perlu melakukan deteksi atau diagnosis dini terhadap kondisi setiap karyawannya terkait dengan job insecurity

yang mungkin terjadi.

Faktor yang menyebabkan karyawan merasa job insecurity dalam

perusahaan dibagi 2 yaitu, faktor situasional dan faktor posisional. Menururt

Ashford (1989) faktor situasional seperti kondisi lingkungan organisasi,

sedangkan faktor posisional yaitu kepemimpinan. Menurut penelitian dari

Kinneuen & Naetti (1989) menyatakan bahwa prediktor utama yang menyebabkan

job insecurity karyawan berasal dari faktor posisional, dalam hal ini yaitu kepemimpinan.

Pemimpin didefenisikan sebagai seseorang yang menduduki satu posisi di

kelompok ,mempengaruhi orang-orang dalam kelompok sesuai dengan ekspektasi

peran dari posisi tersebut dan mengkordinasi serta mengarahkan kelompok untuk

mempertahankan diri serta mencapai tujuannya. Menurut Raven (dalam Bernadine

& Susilo:2005) pemimpin dalam suatu perusahaan memiliki peranan penting

dalam memajukan perusahannya dan merupakan suatu posisi sentral yang

menentukan arah lajunya perusahaan.

Pemimpin yang dapat dikatakan sebagai pemimpin yang efektif yaitu

pemimpin yang mampu menggerakkan anggotanya untuk mencapai tujuan

bersama (Nawawi &Hadari,2006).Menurut Bernadatte (dalam,Munandar,2001)

terdapat empat ciri pemimpin yang efektif yaitu memiliki integritas, keterampilan

(21)

Menurut Jacobs (dalam Munandar,2001)pemimpin yang efektif memiliki

ciri kepribadian yang caring, openness, flexibility, warmth, objectivity, truthworthiness, honesty, strength, patience, dan sensitivity. Ciri lainnya adalah bahwa pemimpin tersebut nyaman dengan diri sendiri dan orang lain, meliputi

nyaman dengan posisi sebagai pemegang otoritas, percaya diri dengan

kemampuannya untuk memimpin, dan kemampuan untuk mendengarkan

perasaan, reaksi, mood, dan pendapat orang lain.Tetapi menurut Jacobs,

efektivitas kepemimpinan tidak hanya ditentukan oleh pemimpin saja, melainkan

dari hasil bersama antara pemimpin, karyawan dan gaya kepemimpinan yang

diterapkan oleh pemimpin.

Menurut Robbins (2007) kepemimpinan merupakan kemampuan untuk

mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan. Menurut Chemeres

(1997) kepemimpinan yang efektif berpedoman pada tiga fungsi utama yaitu

kemampuan pemimpin untuk pemproyeksikan pemikiran dan harapannya,

pengembangan hubungan interpersonal (menciptakan hubungan yang baik dengan

bawahannya),dan kemampuan pemimpin untuk memanfaatkan kemampuan atau

aset bawahnnya untuk mencapai visi dan misi perusahaan.Dalam Munandar(2001)

kepemimpinan yang dipilih oleh seorang pemimpin merupakan salah satu faktor

yang dapat mempengaruhi efektif atau tidaknya kepemimpinan tersebut dan

kenyamanan dan kemananan kerja karyawan, karena semakin nyaman dan aman

karyawan di suatu perusahan diharapkan kinerjanya akan semakin baik sehingga

(22)

Kepemimpinan yang efektif merupakan faktor yang terpenting dalam

perkembangan serta kesuksesan suatu organisasi atau perusahaan,serta ada

pandangan yang berbeda-beda yang ditunjukan oleh setiap karyawan didalam

menilai efektivitas kepemimpinan yang dijalankan oleh pemimpinnya, (Wexley

&Yulk,2002). Menurut Soonhe(2002) adanya perubahan kepemimpinan disuatu

organisasi atau perusahan dapat membuat karyawan memeprsepsikan

berbeda-beda tentang efektivitas kepemimpinan tersebut,pemimpin yang tidak mampu

membina hubungan baik dengan bawahannya membuat karyawan merasa tidak

nyaman dan aman untuk bekerja diperusahan tersebut.

Menurut Hartley, dkk (1991) fenomena job insecurity bukan merupakan istilah baru dalam lingkungan industry dan organisasi. Fenomena ini telah

menyebar sejak tahun 1990 dan terus berkembang hingga sekarang. Pada dasarnya

job insecurity ini disebabkan oleh perubahan dari sistem perusahaan yang berdampak terhadap karyawan seperti status karyawan di perusahaan, perubahan

kepemimpinan,dan sistem kerja karyawan. Bagi perusahaan hal ini dapat

berdampak positif yang mampu meningkatkan kualitas organisasi, namun bagi

karyawan hal ini dapat menganggu keberadaannya di dalam perusahaan tersebut

sehingga timbul job insecurity dalam pekerjaan tersebut.

Menurut penelitian dari Burgard (2006) menyatakan bahwa job insecurity

yang terjadi di dalam perusahaan dapat menyebabkan persepsi karyawan untuk

meninggalkan dan kehilangan pekerjaan akibat ketidakmampuannya untuk

(23)

Menurut Bader (2001) job insecurity dapat dipengaruhi oleh tidak efektifnya metode yang digunakan pemimpin dalam suatu organisasi. Menurut

Siagian (2003) pemimpin yang tidak efektif adalah pemimpin yang memiliki ciri

yaitu tidak adanya rasa tanggung jawab, tidak berani untuk mengambil resiko,

kurang memiliki semangat dan ketidakmampuan dalam melibatkan karyawan

dalam dinamika organisasi,seperti kurangnya kemampuan interpersonal seperti

berbicara,mendengarkan masukkan,berkoordinasi dengan bawahan,kondisi seperti

inilah yang dapat membuat karyawan menjadi tidak aman (insecure) dan nyaman dalam menjalankan pekerjaan mereka. Hal ini juga terjadi pada PT.X.

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi dengan manager HRD dan

karyawan PT.X didapat informasi bahwa karyawan PT.X berada dalam kondisi

kerja yang insecure hal ini dilihat dari tingkat absen yang tinggi, turnover yang tinggi ,motivasi kerja menurun dan kurang di hargainya ide-ide yang di keluarkan

oleh karyawan.

Berdasarkan informasi yang didapat kondisi yang dirasakan karyawan saat

ini terkait dengan adanya pergantian atau peralihan kepemimpinan di PT.X.

dengan adanya kepemimpinan yang baru sistem yang diterapkan di perusahan pun

berbeda,pemimpin lebih menekankan pada rekstrukturisasi atau perombakan

karyawan, selainn itu adanya pemasangan CCTV yang langsung terhubung ke

ruang pemimpin yang bertujuan agar pemimpin dapat secara intens mengawasi

setiap kegiatan yang dilakukan oleh karyawan. Selain itu pemimpin yang sekarang

kaku terhadap karyawan, kurang peduli terhadap kesejahteraan karyawan,

(24)

menilai hasil kerja karyawan, dan terkadang semena-mena dalam memecat

karyawannya.

Berdasarkan fenomena diatas dapat di simpulkan bahwa metode

kepemimpinan yang ada di PT.X kurang efektif, karena pemimpin kurang dapat

mejalin hubungan yang baik dengan bawahannya, kurang sensitive terhadap

bawahannya (sensitivity), kurang objektif dalam menilai hasil kerja bawahannya

(objectivity), kurang peduli (caring), kurang terbuka (openness), dan kurang sabar

(Honesty) dan kurang sabar dalam membimbing bawahnnya. Menurut Jacobs

(dalam Munandar,2001) pemimpin yang efektif memiliki cirri kepribadian yang

caring.Oppnness,flexibility,warmth, objectivity, trutnworthiness,honesty,patience,

dan sensitivity. Kurang terpenuhinya cirri-ciri pemimpin efektif yang dikemukana oleh Jacob (dalam Munandar,2001),oleh sebab itu dapat di katakan bahwa

pemimpin PT.X kurang efektif.

Berdasarkan uraian diatas maka peneliti ingin meneliti hubungan antara

Efektivitas kepemimpinan dengan job insecurity pada karyawan PT.X.

I..B.

Rumusan Masalah

Peneliti ingin mengetahui bagaimana hubungan antaraefektivitas

kepemimpinan dengan job insecurity pada Karyawan PT.X.

I.C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana hubungan

(25)

I.D. Manfaat Penelitian

I.D.1 Manfaat Teoritis

Dapat dijadikan sebagai pembuktian secara empiris teori yang sudah ada.

I.D.2 Manfaat Praktis

Pemimpin dapat mengetahui bagaimana persepsi karywan terhadap

kepemimpinanya,bagaimana hubungan antara efektifitas pemimpin dengan

job insecurtiyyang dimiliki oleh karyawannya dan dapat diketahui tingkat

job insecurity karyawan

I.E. Sistematika penulisan

Skripsi ini disusun dalam lima bab, masing-masing bab memuat materi

sebagai berikut:

BAB 1 Latar Belakang

Bab ini berisikan penjelasan latar belakang permasalahan,perumusan

masalah,tujuan penelitian,manfaat penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II mengenai landasan teori. Pada bagian ini berisi uraian teori yang

menjadi acuan dalam pembahasan masalah.

BAB III metodelogi penelitian. Pada bagian ini berisikan uraian yang

menjelaskan mengenai pertanyaan penelitian,indentifikasi variable

penelitian, defenisi operasional, populasi, sample dan metode pengambilan

sample, teknik pengmbilan sample ,alat ukur penelitian , validitas dan

rehabilitas alat ukur, prosedur pelaksanaan penelitian dan metode analisis

(26)

BAB IV mengenai analisa data dan pembahasan. Pada bab ini akan

dibahas mengenai analisa data dan hasil penelitian, interpretasi data dan

pembahasan dari kuisioner yang telah di sebarkan kepada para partisipan.

BAB V mengenai kesimpulan dan saran.bab ini membahas mengenai

kesimpulan penelitian mengenai hasil penelitian serta saran penelitian

(27)

BAB II

LANDASAN TEORI

I.A.

JOB INSECURITY

I.A.1. Definisi Job Insecurity

Menurut Ashford dkk (1989) mengatakan bahwa job insecurity merupakan suatu tingkat dimana karyawan merasa pekerjaannya terancam dan merasa tidak

berdaya untuk melakukan apapun terhadap situasi tersebut. Job insecurity

dirasakan tidak hanya disebabkan oleh ancaman terhadap kehilangan

pekerjaan,tetapi juga kehilangan bagian dari pekerjaan, dan perasaa tidak berdaya

untuk mengendalikan kejadian di lingkungan pekerjaan.

Menurut Greenhalgh dan Rosenblat(dalam Hartley ,1991) mendefinisikan

job insecurity sebagai ketidakberdayaan untuk mempertahankan kesinambungan yang diinginkan dalam kondisi kerja yang terancam. Dengan berbagai perubahan

yang terjadi dalam organisasi, karyawan sangat mungkin merasa terancam,

gelisah, dan tidak aman karena potensi perubahan untuk mempengaruhi kondisi

kerja dan kelanjutan hubungan serta balas jasa yang diterimanya dari organisasi.

Menurut Sverke ,dkk (2003) job insecurity adalah persepsi terhadap tekanan yang merupakan pengalaman subjektif individu yang tidak dapat

dikontrol yang berhubungan dengan kehilangan pekerjaan dan kecemasan akan

terjadinyaa kehilangan pekerjaan tersebut. Menurut Hartley (1991) menyatakan

(28)

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa job insecurity merupakan penilaian pekerja terhadap suatu keadaan dimana mereka merasa terancam dan

tidak berdaya untuk mempertahankan kesinambungan pekerjaan tersebut.

I.A.2. Aspek-Aspek Job Insecurity

Job insecurity menurut (Greenhalgh dan Rosenblatt,1984;Ashford,Lee &Bobko,1989) terdiri dari lima komponen yaitu penerimana ancaman pada

berbagai kejadian kerja,derajat kepentingan tiap kejadian kerja bagi individu,

penerimaan ancaman pada berbagai fitur kerja, derajat kepentingan tiap fitur

individu , dan powerlessness.

Selanjutnya Ashford, Lee & Bobko (1989) menggabungkankomponen

pertama dan kedua, lalu menggabungkan komponen ketiga dengan keempat

sehingga menjadi tiga komponen, yaitu: pertama adalah perasaan terancam pada

total pekerjaan seseorang, yaitu.

1. Perasaan terancam pada total pekerjaan seseorang

Yaitu kehilangan keseluruhan atau banyaknya pekerjaan yang dimiliki,

misalnya sseseorang dipindahkan ke posisi yang lebih rendah dalam

organisasi ,dipindahkan ke pekrerjaan lain dengan level sama dalam

organisasi atau di berhentikan sementara.

2. Perasaan terancam terhadap tampilan kerja (job features)

Yaitu kehilangan bagian-bagian dari pekerjaan. Misalnya perubahan

organisasional mungkin menyebabkan seseorang kesulitan mengalami

(29)

mengerjakan pekerjaan sesuai dengan kehendaknya, dan dalam hal

pengambilan keputusan

3. Poewerlessness

Yaitu perasaan tidak berdaya yang mungkin berperan dalam perasaan

seseorang terhadap kurangnya kontrol atau ketidakmampuan untuk

mengendalikan kejadian-kejadian dilingkungan kerjanya.

I.A.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Job Insecurity

Menurut Ashford,dkk(1989), telah mengkategorikan penyebab job insecurity kedalam tiga kelompok sebagai berikut:

a. Kondisi Lingkungan Organisasi

Kondisi lingkungan dan organisasi ini dapat dijelaskan oleh beberapa

faktor, misalnya: komunikasi organisasional dan perubahan organisasional

yang terjadi antara lain dengan dilakukakannya downsizing,restrukturasi ,

dan merger oleh perusahaan. Menurut Brockner ( dalam Ashford,1989) menyatakan bahwa adanya rencana pemberhentian karyawan di organisasi

merupakan hal yang dapat mengakibatkan job insecurity pada karyawan tersebut.

b. Karakteristik Individual dan Jabatan Pekerja

Karakteristik individual dan jabatan pekerja terdiri dari: usia, gender,

senioritas,pendidikan, posisi pada perusahaan, latar belakang budaya

(30)

c. Karakteristik Personal Pekerja

Karakteristik personal pekerja yang dapat mempengaruhi job insecurity

misalnya locus of control self esteem , dan perasaan optimis atau pesimis

pada karyawan. Menurut Ashford,dkk(1989) locus of control adalah faktor yang berhubungan dengan dimensi ketidakberdayaan dari job insecurity, Terdapat dua penelitian yang dapat menyebabkan timbulnya job insecurity

pada karyawan di dalam perusahaan, menurut Kinneun& Naetti(dalam

Ashford,1989) job insecurity dapat ditimbulkan dari faktor possisional yaitu kepemimpinan, dan faktor ini merupakan prediktor (penyebab) utama terjadinya

job insecurity,sementara menurut penelitian Rokies& Louisguerin (dalan Ashford.1989) job insecurity ditimbulkan dari faktor personal dalam diri karyawan karena adanya ancaman dari perusahaan seperti perubahan manajemen

(reorganisasi) yang dapat mengancam eksistensi karyawan di dalam perusahaan

tersebut.

II.B. Efektivitas Kepemimpinan

II.B.1. Efektivitas Kepemimpinan

Menurut Robbins & Coulter (2005) Kepemimpinan yaitu kemampuan

untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk pencapaian tujuan dalam organisasi,

sehingga memiliki kemampuan mempengaruhi orang lain (dalam hal ini bawahan)

agar bersedia bekerja bersama-sama dalam tugas yang saling berkaitan untuk

mencapai tujuan yang diinginkan dari organisasi.

Menurut Robert & Irving (dalam Hersey dan Blanchard (1982)

(31)

dalam suatu situasi dan diarahkan,melalui proses komunikasi untuk dapat mecapai

tujuan-tujuan tertentu.MenurutAnwar(2005) menyatakan kepemimpinan

merupakan kemampuan seseorang untuk menguasi atau mempengaruhi orang lain

yang berbeda-beda dan memotivasi individu untuk mencapai tujuan organisasi.

Kemampuan mempengaruhi akan menentukan cara yang digunakan pegawai

dalam mencapai hasil kerja bahwa seorang pemimpin memiliki otoritas dalam

merencanakan, mengarahkan, mengkoordinasikan, dan mengontrol perilaku

pegawai.

Dalam suatu organisasi usaha kepemimpinan untuk mencapai tujuan

organisasi,dapat juga dilihat dengan seberapa efektif kepemimpinan yang ada di

organisasi tersebut. Menurut Reddin (dalam Munandar,2001) kepemimpinan yang

efektif juga ditentukan oleh bagaimana penilaian bawahan terhadap

kepemimpinan yang dijalankan oleh atasannya.

Menurut Ducker (dalam Nawawi 2003) menyatakan bahwa efektivitas adalah melakukan yang benar (doing the right) dalam upaya pencapaian sasaran. Efektivitas seringkali diartikan sebagai melakukan sesuatu yang tepat, yaitu suatu

kegiatan atau kerja yang membantu sebuah organisasi mencapai sasarannya.

Efektivitas merupakan suatu penilaian yang dibuat sehubungan dengan prestasi

individu, kelompok dan organisasi sehingga semakin dekat prestasi yang dicapai

dengan prestasi yang diharapkan, berarti semakin efektif penilaian terhadap

individu, kelompok dan organisasi.

Menurut Mahdi (2001) efektivitas kepemimpinan adalah bagaimaan

(32)

efektivitas kepemimpinan yang ada di satu organisasi tergantung dari proses yang

terjadi yang terletak pada wibawa (pengaruh) interaktif anatara pemimpin dan

pengikutnya.kepemimpinan yang berhasil adalah kepemimpina yang mampu

melaksanakan tugasnya dalam rangka memberikan arahan dan petunjuk,

mewujudkan target bersama,mengembangkan organisasi,komitmen dan menjaga

kekuatan organisasi yang dipimpinnya.

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa efektivitas

kepemimpinan merupakan cara pandang atau penilaian karyawan terhadap

pemimpin yang dapat membimbing mereka dalam melaksanakan pekerjaan yang

ada agar tercapinya tujuan bersama. Dalam hal ini karyawan menilai

kepemimpinan atau pemimpin yang efektif berdasarkan

kesamaan,kepribadian,pemunhan kebutuhan, pengalaman, yang sesuai dengam

harapan mereka.

II.B.2. Dimensi Efektivitas Kepemimpinan

Menurut Fiedler (dalam Robbins 2006) menyatakan bahwa dimensi dari

efektivitas kepemimpinan adalah sebagai berikut :

1. Hubungan Pemimpin-Bawahan.

Hubungan pemimpin bawahan menunjukkan sejauh mana seorang

pemimpin mendapatkan dukungan dan loyalitas daripada bawahan dan hubungan

dengan para bawahan itu dapat membuat aman karyawan dalam melaksanakan

pekerjananya

(33)

Pada struktur tugas terdapat prosedur pengoperasian yang standar untuk

menyelesaikan tugas dan indikator obyektif tentang seberapa baik tugas itu

dikerjakan. Struktur tugas yang tinggi akan memberikan kontribusi pada situasi

yang menguntungkan pemimpin karena pemimpin akan lebih mudah memonitor

dan mempengaruhi perilaku bawahannya pada tugas yang terstruktur tinggi.

Sedangkan tugas yang tidak terstruktur akan memberikan kontribusi yang tidak

menguntungkan pemimpin, sehingga kemampuan pemimpin untuk mengontrol

bawahannya rendah.

3. Kekuatan Posisi Pemimpin

Pada kekuatan posisi pemimpin terdapat tingkat wewenang pemimpin

untuk mengevaluasi pelaksanaan kerja bawahan, memberikan penghargaan,

promosi, hukuman, dan demosi. Semakin besar seorang pemimpin untuk

memberikan hukuman dan penghargaan, semakin kuat kontrol pemimpin, dan hal

ini membuat situasi semakin menguntungkan.

II.B.3. Dampak Efektivitas Kepemimpinan

Menurut Bader (2001) efektivitas kepemimpinan yang diterapkan di suatu

organisasi memiliki dampak seperti:

1. Komunikasi antara pemimpin dan bawahan

Komunikasi yang baik di dalam organisasi mampu memperkuat peran

pemimpin didalam organisasi dan membawa dampak yang positif antara

pemimpin dan bawahan, didalam mencapai tujuan bersama .

(34)

Efektivitas yang ditunjukan oleh pemimpin dpaat membuat karayawan

lebih berkomitmen didalam tugas dan tangung jawab mereka.

3. Kepuasan kerja

Di katakan bahwa kepuasan kerja yang didapat oleh karyawan diakibatkan

karena adanya kenyamanan dan kepemimpinan yang efektif.

4. Motivasi kerja

Pemimpin yang efektif mampu meningkatkan semangat kerja karyawan

untuk mencapai tujuan bersama,karena adanya dukungan dari pemimpin.

5. Kenyaman kerja

Pemimpin yang efektif juga mampu membuat karyawan nyaman dalam

menyelesaikan tugas yang diberikan oleh pemimpin.

6. Keamanan (secure)

Pemimpin yang efektif mampu menciptakan keadaan yang membuat

karyawan menjadi aman (secure) didalam organisasi,karena pemimpin

mampu mnyesuaikan sikapnya sebagai pemimpin dengan kondisi yang

ada,

II.C. Dinamika Hubungan Antara Efektivitas Kepemimpinan

Dengan Job Insecurity Karyawan PT X

Menurut Hellegren dkk(1999) mengatakan bahwa setiap perusahan atau

organisasi harus melakukan perubahan internal pada era globalisasi ,perubahan

internal salah satunya adalah pergantian atau peralihan kepemimpinan dalam

rangka penyegaran di suatu lingkungan organisasi. Karyawan yang berada

(35)

mempersepsikan perubahan yang dilakukan oleh perusahan ,seperti peralihan

kepemimpinan.

Peralihan kepemimpinan dapat dikatakan sebagai suatu perubahan yang

terjadi didalam perusahaan. Menurut Soonhee(2000) pergantian kepemimpinan

atau adanya kepemimpinan baru disuatu perusahan dipersepsikan berbeda-beda

oleh setiap karyawan yang ada diperusahan tersebut. Ada yang

mempersepsikannya secara positif maupun negative. Persepsi yang negative inilah

yang lama-kelamaan akan menimbulkan job insecurity.

Job insecurity merupakan suatu keadaan dimana pekerja atau karyawan merasa tidak berdaya untuk melakukan tindakan apapun terhadap situasi tersebut,

dalam menghadapi job insecurity (Ashford,1989)

Menurut Ashford,dkk(1989) ada faktor-faktor yang mempengaruhi job insecurity salah satunya kondisi lingkungan organisasi. Dikatakan bahwa adanya perubahan organisasi dapat membuat seseorang menjadi job insecurity.Menurut (Bader,2001) perubahan kondisi lingkungan organisasi salah satunya adalah

adanya kepemimpinan yang baru yang tentunya akan merubah sistem di

perusahaan tersebut. Dan disinilah karyawan menilai berbeda-beda efektivitas

pemimpinnya didalam menjalankan tugas dan fungsinya sebgai pemimpin.

Menurut Hullin(2005) respon negative atau buruk terhadap kepemimpinannya

(36)

Menurut Mahdi kepemimpinan yang efektif merupakan pemimpin yang

mampu menerjemahkan fungsinya didalam suatu organisasi seperti,memberikan

arahan kepada bawahan agar mencapai tujuan bersama,mengembangkan

komitmen,mengembangkan organisasi,dan mampu untuk membangun hubungan

yang dengan karyawannya,sehingga karyawan merasa aman dan nyaman berkerja

dan dapat menghasilkan hasil yang maksimal untuk kemajuan perusahaan. Selain

itu Menurut Svereke (2002) kepemimpinan efektif yaitu apabila karyawan merasa

aman ,dan dihargai oleh pemimpin dan pemimpin mampu menciptakan hubungan

yang baik dengan karyawannya sehingga karyawan dapat memandang bahwa

pemimpinnya merupakan pemimpin yang efektif.

Kondisi ini menurut Fidler (dalam Robbins, 2006) merupakan efek dari

ketidakmampuan pemimpin dalam mengelola organisasi dan sumber daya yang

terdapat di dalamnya. Kondisi di dalam organisasi yang terjadi ini menyebabkan

banyak dampak yang mempengaruhi pekerjaan diantaranya adalah keadaan yang

tidak aman (insecure) dalam bekerja.

Menurut Hellegren (1999), umumnya penyebab atau salah satu faktor dari

ketidaknyamanan kerja dalam perusahaan adalah seberapa baik karyawan tersebut

menilai atau mempersepsikan bagaimana pemimpin dalam mengambil suatu

kebijakan dalam menjalankan perusahaan, sehingga salah satu indikator bahwa

karyawan tersebut merasa aman (secure) dalam perusahaan tersebut adalah dengan melihat seberapa besar kepercayaannya terhadap pemimpin dalam

(37)

perusahan dapat di lihat dari pemialain atau persepsi karyawan terhadap

kepemimpinan yang ditunjukan oleh pemimpin di perusahan tersebut.

II.D. Hipotesa Penelitian

Berdasarkan penjelasan diatas, maka hipotesa yang diajukan pada

penelitian adalah ada hubungan negative antara persepsi terhadap efektivitas

(38)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Metode penelitian merupakan salah satu elemen penting dalam suatu

penelitian, sebab metode penelitian menyangkut cara yang benar dalam

pengumpulan data, analisis data dan pengambilan keputusan hasil penelitian

(Hadi,2000). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

korelasional bivariat, dimana penelitian korelasional menurut Azwar (2010)

bertujuan untuk menguji hubungan antara dua variabel yang diukur dengan

menggunakkan tingkatan dan arah. Penelitian ini bertujuan untuk melihat

hubungan antara efektifitas kepemimpinan dengan job insecurity pada karyawan PT X

III.A. Identifikasi Variabel Penelitian

Untuk dapat menguji hipotesa penelitian terlebih dahulu diidentifikasi

variabel-variabel penelitian. Dalam penelitian ini variabel-variabel penelitian yang

digunakan terdiri dari :

Variabel Tergantung (dependent variable) : Job insecurity

Variabel Bebas (independent Variable ) : Efektifitas kepemimpinan

III.B.Defenisi Operasional Penelitian

III. B.1. Job Insecurity

(39)

Pengukuran job insecurity menggunakan skla yang terdiri dari tiga aspek yang disusun berdasarkan teori dari Ashford,dkk(1989) yaitu perasaan terancam

pada pekerjaan, perasaan terancam terhadap tampilan kerja dan powerlessness.

Skor total pada skala merupakan petunjuk tinggi rendahnya Job Insecurity.

Semakin tinggi skor yang dicapai seseorang maka semakin tinggi tingkat perasaan

ketidakamanan terhadap pekerjaannya.

III. B.2. Efektivitas Kepemimpinan

Efektivitas kepemimpinan adalah pandangan atau penilaian karyawan

terhadap prilaku,gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh pemimpin dalam

mewujudkan tujuan bersama

Efektivitas kepemimpinan diukur dengan mengunakan dimensi efektivitas

kepmimpinan yang dikemukakan oleh Fiedler (dalam Robbins 2006) terdiri dari

hubungan pemimpin bawahan,struktur tugas,dan kekuatan posisi pemimpin.

Semakin tinggi skor persepsi karyawan terhadap efektivitas kepemimpinan

maka semakin positif persepsi karyawan terhadap efektivitas kepemimpinan

atasannya, sebaliknya semakin rendah skor yang diperoleh ,maka semakin

negative pula persepsi karyawan terhadap efektivitas kepemimpinan atasannya.

III.C. Lokasi Penelitian

Lokasi yang digunakan untuk melakukan penelitian adalah PT.X yang ada

(40)

III. D. Subjek Penelitian

III. D.1. Subjek Penelitian

Hadi (2000) menyatakan bahwa populasi adalah semua individu untuk

siapa kenyataan-kenyataan yang diperoleh dari sampel itu akan digeneralisasikan.

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan yang

bekerja di PT.Xyang berada di kota Medan yang berjumlah 163 orang.

III.E. Metode Pengumpulan Data

Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode

pengumpulan data dengan skala. Metode pengumpulan data ini menggunakan

skala psikologi yang berbentuk skala likert dengan beberapa pilihan, yatu dengan

cara menyebarkan skala yang berisi daftar pertanyaan yang telah disiapkan dan

disusun sedemikian rupa sehingga subjek penelitian dapat menegisi dengan

mudah (Azwar,2010)

Menurut Hadi (2000), metode skala mempunyai kebaikan-kebaikan

dengan alasan sebagai berikut:

a. Subjek adalah orang yang paling tahu tentang dirinya.

b. Apa yang dinyatakan subjek pada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya.

c. Interpretasi subjek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya

adalah sama dengan apa yang dimaksudkan oleh peneliti.

1. Skala job insecurity

Metode skala yang digunakan adalah metode Likert (Azwar, 2012). Setiap

aitem meliputi lima pilihan jawaban yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Netral

(41)

pernyataan diperoleh dari jawaban subjek yang menyatakan mendukung

[image:41.595.114.508.223.426.2]

(favorable) atau tidak mendukung (unfavorable). Tabel 1.

Skor Alternatif Jawaban Skala

Favorable Unfavorable

Alternatif Jawaban Skor Alternatif Jawaban Skor

Sangat setuju 5 Sangat setuju 1

Setuju 4 Setuju 2

Netral 3 Netral 3

Tidak setuju 2 Tidak setuju 4

Sangat tidak setuju 1 Sangat tidak setuju 5

Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala job insecurity

yang dibuat berdasarkan aspek-aspek job insecurity yang dikemukakan Ashford,

Lee & Bobko (1989) yaitu: Perasaan terancam pada total pekerjaan, Perasaan

terancam terhadap tampilan kerja, Powerlessness

Adapun blue print untuk skala job insecurity dapat dilihat pada tabel

(42)

Tabel 2.

Distribusi Aitem-Aitem Skala job insecurity Sebelum Uji Coba

Aspek

Aitem

Jlh %

Favorable Un-favorable Perasaan terancam terhadap

pekerjaan

-dipindahkan ke posisi yang lebih rendah

- dipindahkan ke pekerjaan yang lain dengan level yang sama - diberhentikan . 1,7,6,11 3,4,12 10,15 2,13 5,8 9,14

15 41,6%

Perasaan terancam terhadap tampilan kerja

-sulit mengalami kemajuan organisasi -pengurangan wewenang (pengambilan keputusan) 18,28,19, 22,16,23 25,26.32 17,20

21,24 13 36,1%

powerlerness

-tidak berdaya 31,27,35,

33,36

29,30,34

8 22,2%

(43)

2. Skala terhadap efektivitas kepemimpinan

Metode skala yang digunakan adalah metode Likert (Azwar, 2012). Setiap

aitem meliputi lima pilihan jawaban yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Netral

(N), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Nilai skala setiap

pernyataan diperoleh dari jawaban subjek yang menyatakan mendukung

[image:43.595.114.508.333.536.2]

(favorable) atau tidak mendukung (unfavorable). Tabel 3.

Skor Alternatif Jawaban Skala

Favorable Unfavorable

Alternatif Jawaban Skor Alternatif Jawaban Skor

Sangat setuju 5 Sangat setuju 1

Setuju 4 Setuju 2

Netral 3 Netral 3

Tidak setuju 2 Tidak setuju 4

Sangat tidak setuju 1 Sangat tidak setuju 5

Skala efektivitas kepemimpinan disusun berdasar dimensi-dimensi

efektivitas kepemimpinan yang di kemukanan oleh Fiedler (dalam Robbins,2006)

(44)
[image:44.595.114.513.193.644.2]

Tabel 4.

Distribusi Aitem-Aitem Skala efektivitas

kepemimpinan Sebelum Uji Coba

No. Aspek

Aitem

Jlh %

Favorable Un-favorable

1. Hubungan pemimpin dan bawahan

-pemimpin mendapat dukungan -karyawan mendapat dukungan - kerjasama pemimpin dan bawahan - kepatuhan bawahan

-akrab dengan bawahan

3,7 4,8 16 11,17 1,12 5,10 2 6,9 13,15 13,15 17 41,4%

2. Struktur tugas

-prosedur pengoperasian strandar -indikator objektif

20,22 19

18,24

21,23.25 8 19,5%

3. Kekuatan posisi pemimpin

-wewenang -tinggkat wewenang -promosi -hukuman . 26,30 27,29,31, 39 38,41 34,37 28 33,36 40

16 39,0%

(45)

III. F. Uji Coba Alat Ukur Validitas

III. F.1. Validitas Alat Ukur

Validitas adalah sejauh mana kejituan dan ketelitian suatu alat ukur dalam

menjalankan fungsi ukur artinya alat ukur memang mengukur apa yang

dimaksudkan untuk diukur (Hadi, 2000).

Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi atau

content validity, yaitu sejauh mana alat tes yang digunakan dilihat dari segi isi adalah benar-benar mengukur apa yang seharusnya diukur (Hadi, 2000). Teknik

yang digunakan untuk melihat validitas isi dalam penelitian ini adalah

professional judgement (Azwar, 2012). Pendapat profesional diperoleh dengan cara berkonsultasi dengan beberapa dosen.

III. F.2. Uji Daya Beda Aitem

Uji daya beda aitem dilakukan untuk melihat sejauh mana aitem

mampumembedakan antara individu atau kelompok individu yang memiliki

atribut dengan yang tidak memiliki atribut yang akan diukur (Azwar, 2012)

Pengujian daya beda aitem yang digunakan dilakukan dengan menghitung

koefisien korelasi antara distribusi skor pada setiap aitem dengan suatu kriteria

yang relevan yaitu skor total tes itu sendiri dengan menggunakan teknik analisa

korelasi Pearson Product Moment. Teknik pengujian korelasi tersebut akan menghasilkan koefisien korelasi aitem total yang disebut dengan indeks daya beda

aitem.

Besarnya koefisien korelasi item total bergerak dari 0 sampai dengan 1,00

(46)

koefisien korelasinya semakin mendekati angka 1,00. Semua aitem yang

mencapai koefisien korelasi minimal 0,30 daya pembedanya dianggap

memuaskan (Azwar, 2010). Batasan nilai indeks daya beda item dalam penelitian

ini adalah 0,3, sehingga setiap item yang memiliki harga kritik ≥ 0,3 sajalah yang akan digunakan dalam pengambilan data yang sebenarnya.

Uji daya beda aitem ini akan dilakukan pada alat ukur yang dalam

penelitian ini adalah skala Job insecurity dan skala persepsi terhadap efektivitas

kepemimpinan . Untuk mempermudah perhitungan, peneliti menggunakan

komputer dengan Statistical Packages for Social Science (SPSS) forwindows versi 17.0.

III. F.3. Reliabilitas Alat Ukur

Menurut Azwar (2010) reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu

pengukuran dapat dipercaya. Hadi (2000) mengemukakan bahwa reliabilitas alat

ukur menunjukkan derajat keajegan atau konsistensi alat ukur yang bersangkutan.

Reliabilitas alat ukur dapat dilihat dari koefisien reliabilitas yang merupakan

indikator konsistensi aitem-aitem tes dalam menjalankan fungsi ukurnya secara

bersama-sama.

Teknik yang digunakan adalah reliabilitas Alpha Cronbach. Data untuk menghitung koefisien reliabilitas Alpha diperoleh lewat penyajian satu bentuk

skala yang dikenakan hanya sekali saja kepada subjek penelitian (singletrial

(47)

Menurut Azwar (2010) koefisien reliabilitas yang mendekati angka

1,00berarti semakin tinggi reliabilitasnya. Sebaliknya, koefisien reliabilitas yang

mendekati angka 0,00 berarti semakin rendah reliabilitasnya

III.F.4. Hasil Uji Coba Alat Ukur

Uji coba terhadap alat ukur yaitu skala job insecurity dan efektivitas kepemimpinan dilakukan pada tanggal 28Aril 2014. Uji coba dikenakan kepada

karyawan PT.X dengan karakteristik yakni menyandang status karyawan tetap

dan sudah bekerja di instansi tersebut selama minimal satu tahun.

Pada uji coba ini peneliti menyebarkan kedua skala sekaligus kepada 60

orang karyawan. Kemudian skala yang dikembalikan ke peneliti juga berjumlah

60, sehingga dapat dilakukan pengolahan data. Uji daya beda aitem dan

reliabilitas skala penelitian dihitung dengan menggunakan program SPSS versi

17,0 for windows.

a) Skala job insecurity

Hasil analisis skala job insecurity menunjukkan bahwa dari 36 aitem terdapat 23 aitem yang memiliki daya beda tinggi. Ada 13 aitem yang gugur

dikarenakan daya bedanya tidak baik yaitu aitem nomor

4,5,10,13,14,22,23,24,25,26,27,28,34. Hasil uji daya beda aitem ini menggunakan

batasan rix ≥ 0,30. Jadi apabila aitem yang memiliki daya beda dibawah 0,30

dianggap gugur (Azwar, 2012),

Pada skala job insecurity menunjukkan hasil reliabilitas dengan menggunakan teknik reliabilitas Alpha Cronbach, maka diperoleh hasil rxx’ =

(48)
[image:48.595.111.512.194.722.2]

Tabel 5.

Aitem-Aitem yang Memiliki Daya Beda Tinggi

pada Skala job insecurity

Aspek

Aitem

Jlh %

Favorable Un-favorable

Perasaan terancam terhadap pekerjaan

-dipindahkan ke posisi yang lebih rendah

- dipindahkan ke pekerjaan yang lain dengan level yang sama

- diberhentikan

Perasaan terancam terhadap tampilan kerja

-sulit mengalami kemajuan organisasi -pengurangan wewenang 1,6,7,11 3,12 15 16,18,19 32 2 8 9 17,20 21 9 7 39,1% 30,4% Powerlessness

-tidak berdaya 31,33,35,

36,

29,30 6

26,0%

(49)

Setelah diketahui aitem-aitem yang memiliki daya beda tinggi pada skala

job insecurity,maka aitem-aitem tersebut akan digunakan dalam penelitian. Skala tersebut akan disusun kembali dengan melakukan penyesuaian nomor bagi

aitem-aitem tersebut untuk selanjutnya digunakan dalam proses pengambilan data

[image:49.595.113.513.331.716.2]

penelitian. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 6 di bawah ini.

Tabel 6.

Penomoran Aitem-Aitem Skala job insecurity

yang Digunakan dalam Penelitian

Aspek

Aitem

Jlh %

Favorable Un-favorable

Perasaan terancam terhadap pekerjaan

-dipindahkan ke posisi yang lebih rendah

- dipindahkan ke pekerjaan yang lain dengan level yang sama

- diberhentikan

Perasaan terancam terhadap tampilan kerja

(50)

Berdasarkan hasil uji daya beda aitem dan reliabilitas tersebut, maka dapat

dikatakan bahwa aitem-aitem pada skala job insecurity dapat diandalkan untuk tujuan pengambilan data penelitian. Hasil uji daya beda aitem dan reliabilitas

skala job insecurity dapat dilihat pada lampiran B. b) Skala Efektivitas kepemimpinan

Hasil analisis skala Efektivitas Kepemimpinan menunjukkan bahwa dari

41 aitem terdapat 31 aitem yang memiliki daya beda tinggi. Ada 10 aitem yang

gugur dikarenakan daya bedanya tidak baik yaitu aitem nomor

3,4,5,11,13,15,17,30,37,39. Hasil uji daya beda aitem ini menggunakan batasan rix

≥ 0,30. Jadi apabila aitem yang memiliki daya beda dibawah 0,30 dianggap gugur

(Azwar, 2012).

Pada skala efektivitas kepemimpinan menunjukkan hasil reliabilitas

dengan menggunakan teknik reliabilitas Alpha Cronbach, maka diperoleh hasil rxx’ = 0,932 yang berarti tingkat reliabilitasnya tinggi.

Powerlessness

-tidak berdaya 13,16 14 3

17,6%

(51)
[image:51.595.113.510.192.602.2]

Tabel 7.

Aitem-Aitem yang Memiliki Daya Beda Tinggi

pada Skala Efektivitas Kepemimpinan

Aspek

Aitem

Jlh %

Favorable Un-favorable Hubungan pemimpin dan bawahan

-pemimpin mendapat dukungan -karyawan mendapat dukungan - kerjasama pemimpin dan bawahan - kepatuhan bawahan

-akrab dengan bawahan

4 2 1 - 5,7 3 8 6,10 - 9

10 41,4%

Struktur tugas

-prosedur pengoperasian strandar -indikator objektif

14,16 11

13,17 12,15,18

8 19,5%

Kekuatan posisi pemimpin

-wewenang -tinggkat wewenang -promosi -hukuman 22 19,24,30 23,26 20 29 21,27 28,31 25

13 39,0%

Total 31 100%

Setelah diketahui aitem-aitem yang memiliki daya beda aitem tinggi pada

skala efektivitas kepemimpinan, maka aitem-aitem tersebut dapat digunakan

dalam penelitian. Skala tersebut akan disusun kembali dengan melakukan

(52)

dalam proses pengambilan data penelitian. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada

[image:52.595.114.512.247.634.2]

table 8 dibawah ini.

Tabel 8.

Penomoran Aiten-Aitem skala Efektivitas Kepemimpinan yang digunakan

dalam penelitian

Aspek

Aitem

Jlh %

Favorable Un-favorable

Hubungan pemimpin dan bawahan

-pemimpin mendapat dukungan -karyawan mendapat dukungan - kerjasama pemimpin dan bawahan - kepatuhan bawahan

-akrab dengan bawahan

4 2 1 - 5,7 3 8 6,10 - 9

10 37,03%

Struktur tugas

-prosedur pengoperasian strandar -indikator objektif

14 11

13,15 12,,16

6 22,2%

Kekuatan posisi pemimpin

-wewenang -tinggkat wewenang -promosi -hukuman 20 17,22, 21 18 26 19,24 25,27 23

11 40,7%

Total 27 100%

Berdasarkan hasil uji coba daya beda aitem dan reliabilitas tersebut, maka

dapat dikatakan bahwa aitem-aitem pada skala efektivitas kepemimpinan dapat

diandalkan untuk tujuan pengambilan data penelitian. Hasil uji daya beda aitem

(53)

III. G.Prosedur Pelaksanaan Penelitian

Prosedur pelaksanaan penelitian terdiri dari 3 tahap. Ketiga tahap tersebut

adalah tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap pengolahan data.

III. G.1. Tahap Persiapan Penelitian

Pada tahap ini terdapat beberapa langkah yang dilakukan oleh peneliti,

yaitu:

a)Perizinan

Hal yang pertama kali dilakukan dalam proses persiapan untuk

melakukan penelitian adalah mengurus surat izin untuk melakukan penelitian dari

Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara ke organisasi yang hendak dituju.

Peneliti mengajukan surat permohonan pengambilan data penelitian ke

Perusahaan PT.X

Surat permohonan ini diberikan langsung oleh peneliti kepada pihak

perusahaan pada tanggal 16 April 2014, Kemudian pada tanggal 25 April 2014

pihak instansi mengirimkan surat balasan yang menyatakan bahwa peneliti

diberikan izin untuk melakukan penelitian di instansi tersebut.

b) Pembuatan Alat Ukur

Sebelum melakukan uji coba alat ukur, maka peneliti membuat alat

ukur yang terdiri dari skala job insecurity dan skala efektivitas kepemimpinan

yang dibuat berdasarkan teori yang telah diuraikan. Peneliti membuat 36 aitem

untuk skala job insecurity dan 41 aitem untuk skala efektivitas kepemimpinan.

(54)

ditelaah dengan analisis rasional dari professional judgement untuk mengetahui validitas alat ukur tersebut.

c) Uji Coba Alat Ukur

Untuk memperoleh alat ukur yang memiliki validitas dan reliabilitas

yang memadai maka peneliti terlebih dahulu melakukan uji coba alat ukur

penelitian. Uji coba alat ukur dikenakan kepada karyawab PT.X. Karyawan yang

dijadikan subjek untuk uji coba alat ukur adalah sebanyak 60 orang dengan

karakteristik yakni berstatus karayawantetap dan sudah bekerja di instansi

tersebut selama minimal satu tahun.

III. G.2. Tahap Pelaksanaan Penelitian

Setelah peneliti melakukan uji coba, merevisi alat ukur, dan telah

menyusun kembali aitem-aitem yang diterima pada saat uji coba, maka peneliti

mengambil data penelitian dengan menyebarkan skala efektivitas kepemimpinan

dengan job insecurityyang telah direvisi kepada sampel penelitian yaitu karyawan yang berjumlah 103 orang di perusahaan tempat peneliti akan melakukan

penelitian.

III. G.3. Tahap Pengolahan Data

Setelah diperoleh data dari masing-masing subjek penelitian, maka untuk

pengolahan data selanjutnya diolah dengan menggunakan SPSS versi 17.0 for windows.

III.H. Metode Analisa Data

Metode analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini untuk

(55)

karyawanadalah dengan menggunakan person product moment. Analisis data pada penelitian ini menggunakan program SPSS versi 17.0 for windows. Sebelum dilakukan analisis data terlebih dahulu dilakukan uji asumsi penelitian yaitu uji

normalitas dan uji linearitas.

1.Uji Normalitas

Uji normalitas dimaksudkan untuk menguji apakah data yang dianalisis

sudah terdistribusi sesuai dengan prinsip-prinsip distribusi normal agar dapat

digeneralisasikan terhadap populasi. Uji normalitas pada penelitian ini dilakukan

untuk membuktikan bahwa data semua variabel yang berupa skor-skor yang

diperoleh dari hasil penelitian tersebar sesuai dengan kaidah normal. Pada

penelitian ini uji normalitas dilakukan dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dengan bantuan program komputerSPSSversi17.0 for windows.

Kolmogorov-Smirnov adalah suatu uji yang memperhatikan tingkat kesesuaian antara distribusi serangkaian harga sampel (skor yang diobservasi) dengan suatu

distribusi teoritis tertentu.

Kaidah normal yang digunakan adalah jika p ≥ 0,05 maka sebarannya dinyatakan normal dan sebaliknya jika p < 0,05 maka sebarannya dinyatakan tidak

normal (Hadi, 2000).

2. Uji Linieritas

Uji linieritas hubungan untuk mengetahui linier atau tidaknya hubungan

antara variabel bebas dan variabel tergantung serta untuk mengetahui signifikansi

penyimpangan dari linieritas hubungan tersebut. Apabila penyimpangan tersebut

(56)

dinyatakan linier. Uji linieritas dilakukan dengan menggunakan analisis statistik

uji F dengan bantuan program komputer SPSS versi 17.0 for windows.

Kaidah yang digunakan untuk mengetahui linier atau tidaknya hubungan

antara variabel bebas dengan variabel tergantung adalah jika p < 0,05 maka

hubungannya antara variabel bebas dengan variabel tergantung dinyatakan linier,

sebaliknya jika p > 0,05 berarti hubungan antara variabel bebas dengan variabel

(57)

BAB IV

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan diuraikan mengenai analisis data dan pembahasan hasil

penelitian sesuai dengan data yang diperoleh. Pembahasan diawali dengan

memberikan gambaran umum subjek penelitian dan hasil penelitian.

IV.A. Gambaran Umum Subjek Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan PT.X,yang berjumlah 50

orang. Sebelum dilakukan analisis data terlebih dahulu diuraikan gambaran subjek

penelitian berdasarkan jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, dan masa kerja.

IV.A.1. Gambaran Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan jenis kelamin subjek penelitian, maka dapat digambarkan

penyebaran subjek seperti terdapat pada tabel 9 di bawah ini.

Tabel 9.

Gambaran Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Jumlah (N) Persentase

Laki-laki 23 46%

Perempuan 27 54%

Total 50 100 %

Berdasarkan tabel 9 di atas maka dapat dilihat bahwa subjek yang berjenis

(58)

sebanyak 46 %. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa subjek yang berjenis

kelamin perempuan lebih banyak daripada yang berjenis kelamin laki-laki.

IV.A.2. Gambaran Subjek Berdasarkan Usia

Berdasarkan usia subjek penelitian, maka dapat digambarkan penyebaran

subjek seperti terdapat pada tabel 10 di bawah ini.

Tabel 10.

Gambaran Subjek Berdasarkan Usia

Usia Jumlah (N) Persentase

20-40 Tahun 39 78%

40-60 Tahun 11 22%

Total 50 100%

Berdasarkan teori perkembangan yang dikemukakan oleh Havighurst

(Papalia, Olds, & Feldman, 2008) maka rentang usia 20 – 40 tahun dinamakan

periode masa dewasa muda, sedangkan rentang usia 40 – 60 tahun dinamakan

periode masa dewasa madya. Dapat dilihat pada tabel 10 di atas bahwa subjek

yang berada pada periode dewasa muda (20 – 40 tahun) lebih banyak yaitu

sebesar 78 % daripada subjek yang berada pada periode dewasa madya (40 – 60

tahun) yaitu sebesar 22%.

IV.A.3. Gambaran Subjek Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Berdasarkan tingkat pendidikan subjek penelitian, maka dapat

(59)

Tabel 11.

Gambaran Subjek Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Tingkat Pendidikan Jumlah (N) Persentase

SD 1 2%

SMA/SMK 17 34%

D3 8 16%

S1 22 44%

S2 2 4%

Total 50 100%

Berdasarkan tabel 11 di atas maka dapat dilihat bahwa subjek yang

memiliki tingkat pendidikan yang paling banyak adalah S1 yaitu sebesar 44 %,

sedangkan yang memiliki tingkat pendidikan paling sedikit adalah SD yaitu

sebesar 2%

IV.A.4. Gambaran Subjek Berdasarkan Masa Kerja

Berdasarkan masa kerja subjek penelitian, maka dapat digambarkan

penyebaran subjek seperti terdapat pada tabel 12 di bawah ini.

Tabel 12.

Gambaran Subjek Berdasarkan Masa Kerja

Masa Kerja Jumlah (N) Persentase

< dari 2 tahun 13 26%

2-10 tahun 23 46%

>10 tahun 14 28%

Total 50 100%

Berdasarkan pembagian masa kerja di dasarkan pada tahapan masa kerja

(60)

tahun berada pada tahap perkembangan ,2-10 tahun berada pada tahapa lanjutan,

dan lebih dati 10 tahun berada pada tahapan pemeliharaan. Dapat dilihat pada

table 12 diatas bahwa subjek yang memiliki masa kerja 2-10 tahun lebih banyak

yaitu sebesar 46%, sedangkan yang memiliki masa kerja yang paling sedikit

adalah yang memiliki masa kerja lebih dari 10 tahun yaitu sebesar 26%.

IV.B. Hasil Penelitian

IV.B.1.

Hasil Uji Asumsi

Hipotesa dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan negatif antara job insecurity dengan efektivitas kepemimpinan . Oleh karena itu, sebelum analisis data dilakukan, terlebih dahulu dilakukan uji asumsi normalitas dan uji linearitas

yang bertujuan untuk mengetahui pengelolahan data yang akan dipakai apakah

menggunakan statistic parametric atau non parametrik.

a) Uji Normalitas

Hasil uji normalitas untuk mengetahui apakah data tersebar secara normal

[image:60.595.112.512.647.716.2]

dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 13.

Normalitas Sebaran Variabel

Job insecurity dengan efektivitas kepemimpinan

Variabel Z P Keterangan

Job insecurity 1,237 0,94 Normal

(61)

Kaidah normal yang digunakan adalah jika p ≥ 0,05 maka sebarannya dinyatakan normal dan sebaliknya jika p < 0,05 maka sebarannya dinyatakan tidak

normal (Hadi, 2000).

Hasil uji normalitas terhadap variabel job insecurity diperoleh nilai Z = 1,237 dan p = 0,94. Hasil menunjukkan bahwa nilai p (0,94) > 0,05 maka data

dari variabel job insecurity terdistribusi secara normal.

Hasil uji normalitas terhadap variable efektivitas kepemimpinan diperoleh

nilai Z = 1,153 dan p = 1,40. Hasil menunjukkan bahwa nilai p (1,40) > 0,05 maka

[image:61.595.172.470.409.604.2]

data dari variabel efektivitas kepemimpinan terdistribusi secara normal.

Grafik 1. Uji Normalitas job insecurity

Berdasarkan grafik 1 dapat dilihat bahwa data terdistribusi secara normal,

karena sebaran titik-titik nilai dari data job insecurity berada sangat dekat dengan garis bahkan ada yang menempel pada garis. Oleh karena itu dapat disimpulkan

(62)
[image:62.595.174.467.183.376.2]

Grafik 2. Uji Normalitas efektivitas kepemimpinan

Berdasarkan grafik 2 dapat dilihat bahwa data terdistribusi secara normal,

karena sebaran titik-titik nilai dari data efektivitas kepemimpinan berada sangat dekat dengan garis bahkan ada yang menempel pada garis. Oleh karena itu dapat

disimpulkan bahwa data dalam penelitian ini mengikuti distribusi normal.

b) Uji Linieritas

Hasil uji linieritas untuk mengetahui linier atau tidaknya hubungan antar

kedua varibel dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 14.

Hasil Pengujian Linieritas

Variabel F P Keterangan

Job insecurity*efektivitas

kepemimpinan

[image:62.595.112.516.641.727.2]
(63)

Uji linieritas dapat diketahui dengan hasil analisis statistik yaitu dengan

metode statistik uji F. Kaidah yang digunakan untuk mengetahui linier atau

tidaknya hubungan antara variabel

Gambar

Tabel 1.
Tabel 3.
Tabel 4.
Tabel 5.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil korelasi antara job insecurity dengan komitmen organisasi pada karyawan Hotel Istana Bandungberkategori sangat kuat, hal ini menandakan bahwa adanya hubungan

yang diperoleh dari penelitian tentang hubungan antara komunikasi interpersonal dengan. job insecurity ini selain dapat memberikan suatu kontribusi empiris

HUBUNGAN PERCEIVED CONTROL DAN JOB INSECURITY DALAM MENGHADAPI KONDISI KRISIS PADA..

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Reisel, et al. 2010) yang menyatakan bahwa job insecurity memiliki hubungan yang negatif terhadap job

Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “ Hubungan antara Job Insecurity dengan Stres Kerja pada Perawat Rumah Sakit ”,

Hubungan antara Ketidakamanan Pekerjaan (Job Insecurity) dengan Komitmen Organisasi ( Organizational Commitment) Pada Karyawan PT Yasa Industri Nusantara di Jakarta..

(2-tailed) sebesar 0,001 &lt; 0,05, artinya terdapat hubungan yang signifikan antara job insecurity dengan komitmen organisasi dengan nilai korelasi negative, dimana peningkatan

Skripsi dengan judul PENGARUH JOB INSECURITY TERHADAP TURNOVER INTENTION DENGAN ORGANIZATIONAL CHANGES SEBAGAI VARIABEL MODERASI (Studi Pada Karyawan PT. Arta Boga