PELAKSANAAN DAN MAKNA PUASA (UPOSATHA)
DALAM AGAMA BUDDHA
( Studi kasus di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya Sunter Jakarta Utara )
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Theologi Islam (S.Th.I.)
Oleh:
Efriani Syukur
NIM: 102032124624
PROGRAM STUDI PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
PELAKSANAAN DAN MAKNA PUASA (UPOSATHA)
DALAM AGAMA BUDDHA
( Studi kasus di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya Sunter Jakarta Utara )
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat
untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Theologi Islam (S.Th.I.)
Oleh
Efriani Syukur
NIM: 102032124624
Pembimbing
Drs. H. Roswen Dja’far
NIP: 150 022 782
PROGRAM STUDI PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
LEMBAR PENGESAHAN
Skripsi yang berjudul:
Pelaksanaan dan Makna Puasa (Uposatha) Dalam Agama Buddha
(Studi kasus di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya Sunter Jakarta Utara)
Telah diajukan dalam Sidang Munaqasyah Fakultas Ushuluddin dan Filsafat,
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, pada tanggal 28 Agustus 2007.
Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana
Strata I (SI) pada program Studi Perbandingan Agama.
Jakarta, 28 Agustus 2007
Sidang Munaqosyah,
Ketua Sidang Sekretaris Sidang
Drs. Masri Mansoer, M.A Maulana, M.A
NIP: 150 244 493 NIP: 150 293 221
Anggota,
Penguji I Penguji II
Prof. Dr. Kautsar Azhari Noer Drs. M. Nuh Hasan, M.A
NIP: 150 209 685 NIP: 150 240 090
Pembimbing,
Drs. H. Roswen Dja’far
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR………... i
DAFTAR ISI... iv
BAB I : PENDAHULUAN………... 1
A. Latar Belakang Masalah………... 1
B. Perumusan Masalah………... 4
C. Tujuan Penulisan………... 5
D. Tekhnik Penulisan………. 5
E. Sistematika Penulisan………... 7
BAB II : PUASA DALAM AGAMA BUDDHA A. Pengertian Puasa Menurut Agama Buddha……….. 8
B. Sistem Penanggalan dan Sejarah Hari Uposatha……….. 11
C. Masa Vassa………... 16
D. Tujuan Puasa di Dalam Agama Buddha………... 20
BAB III : PELAKSANAAN DAN MAKNA PUASA (UPOSATHA) DI VIHARA JAKARTA DHAMMACAKKA JAYA A. Gambaran Umum Vihara Dhammacakka Jaya…………. 27
B. Pelaksanaan Puasa (Uposatha) di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya……….…... 45
a. Puasa Bagi Umat Awam………... 46
b. Puasa Bagi Umat Viharawan……… 56
1. Puasa Bagi Samanera…..………...58
2. Puasa Bagi Para Bhikkhu……….. 61
C. Makna Puasa (Uposatha) Bagi Umat Buddha…………66
BAB IV : PENUTUP
A. Kesimpulan………... 72
B. Saran-saran……… 74
DAFTAR PUSTAKA... 75
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Puasa di dalam kehidupan sehari-hari adalah bukan masalah yang asing
lagi, bahkan hampir semua orang telah mengetahuinya, karena puasa ini
merupakan suatu fenomena universal yang terdapat di dalam hampir semua
kebudayaan, baik timur maupun barat. Oleh karena itu akan lebih menarik lagi
apabila masalah puasa ini dikaji secara mendalam, khususnya puasa menurut
agama Buddha, karena puasa menurut agama Buddha mempunyai keunikan
tersendiri bila dibanding dengan puasa yang terdapat di dalam agama-agama besar
dunia lainnya. Walaupun kadang-kadang orang menganggap bahwa puasa di
dalam agama Buddha ini hanyalah sebagai formalitas keagamaan.1
Puasa di dalam agama Buddha bukanlah sebagai formalitas keagamaan,
tetapi sebagai suatu bentuk amalan yang didasarkan pada suatu pengetahuan moral
dan psikologi yang mendalam.2
Di dalam agama Buddha, puasa merupakan perwujudan dari pelaksanaan
sila,3 yaitu suatu cara untuk mengendalikan diri dari segala bentuk-bentuk pikiran
yang tidak baik dan merupakan suatu usaha untuk membebaskan diri dari segala
akar kejahatan, yaitu lobha (keserakahan), dosa (kebencian), dan moha
1
K. Sri Dhammananda, What Buddhis Believe (Taiwan: The Corporate Body of The Buddha Education, Foundational, 1993), h. 214
2
K. Sri Dhammananda, What Buddhis Believe, h. 214
3
(kebodohan batin).4 Dimana setiap orang memiliki sila yang baku, yang dilakukan
sebagai suatu usaha untuk mencapai tujuan akhir (nibbana).
Bhikkhu dan bhikkhuni diharapkan mematuhi peraturan yang telah
ditetapkan dalam dua disiplin moral (sila dan vinaya) sesuai dengan tanggung jawab mereka terhadap Patimokkha. Samanera dan samaneri harus memperhatikan Dasasila sebagai standar sila mereka. Bagi umat awam (upasaka dan upasika) memiliki Pancasila sebagai standar sila mereka di dalam kehidupan sehari-hari dan atthasila dianjurkan sebagai sila khusus pada hari-hari Uposatha.5
Dasar ajaran puasa di dalam agama Buddha terdapat di dalam ajaran sila,
dari atthasila, dasasila, dan patimokkha.6 Sehingga di dalam pelaksanaannya terdapat tingkat yang mendasar, yaitu bagi umat awam puasa dilaksanakan pada
setiap hari Uposatha yang jatuh pada tanggal 1, 8, 15 dan 23 menurut penanggalan
lunar, sedangkan bagi umat viharawan puasa dilaksanakan pada setiap hari.7
Pelaksanaan puasa ini telah diajarkan oleh Sang Buddha, dimana Sang Buddha
telah menganjurkan kepada para bhikkhu untuk tidak makan setelah tengah hari.
Demikian pula orang-orang yang melaksanakan atthasila (delapan peraturan latihan hidup suci) untuk berpantang dari mengambil makanan setelah tengah
hari.8
4
Pandit J. Kaharuddin, Hidup dan Kehidupan (Jakarta: Tri Sattva Buddhist Centre, 1991), h. 170
5
Matara Sri Nanarama Mahathera, Tujuh Tingkat Kesucian dan Pengertian Langsung (Penerbit Karaniya: Yayasan Karaniya, tt), h. 1-2
6
Lihat Anjali G.S, Tuntunan Uposatha dan Atthasila (Jakarta: Lembaran Khusus Agama Buddha, tt), h. 25-25 ; Bhikkhu Khamio, Samanera Sikkha-Latihan Samanera (Jakarta: Dhammadipa Arama, 1997), h. 31-32 ; dan Bhikkhu Subalaratano, Pengantar Vinaya (Jakarta: Sekolah Tinggi Agama Buddha Nalanda, 1988), h. 37-64.
7
Bhikkhu Subalaratano, Tanya Jawab Agama Buddha (tp, tt), h. 36.
8
Pada hari puasa umat Buddha hanya dibolehkan makan dari pagi sampai
tengah hari, yaitu sebelum matahari melewati jam 12.00 siang.9 Mereka berjanji
pada dirinya sendiri untuk berpantang memakan makanan setelah lewat tengah
hari dan melaksanakan delapan peraturan latihan lainnya serta melakukan
perenungan dan mendengarkan Dhamma.
Adapun waktu untuk menjalankan Uposathasila (peraturan yang dilaksanakan pada hari Uposatha) itu dimulai sejak terbitnya matahari hingga
keesokan harinya, jadi dengan demikian pelaksanaan puasa di dalam agama
Buddha itu selama 24 jam atau sehari semalam.10 Bagi para bhikkhu pada hari
Uposatha (jika jumlah mereka lima atau lebih di dalam satu vihara), mereka akan
berkumpul untuk mendengarkan 227 Patimokkhasila yang dibacakan oleh salah seorang bhikkhu. Pembacaan patimokkha ini berkisar antara satu jam, dan umat awam diperbolehkan ikut mendengarkan.
Lepas dari kegiatan tersebut, para bhikkhu akan menjalankan latihan yang
lebih ketat dari biasanya.11 Dan pada masa Vassa, para bhikkhu harus berdiam disuatu tempat dan tidak pergi ketempat lainnya sampai larut malam selama tiga
bulan sampai tiba hari pavarana (upacara pengakhiran masa Vassa).12
Dari uraian tersebut diatas, maka apakah puasa di dalam agama Buddha itu
hanya sebagai formalitas keagamaan ataukah dapat dikatakan sebagai disiplin
keagamaan yang merupakan fenomena universal yang ada pada berbagai agama.
9
Anomius, Dhamma Rakkha-Kumpulan Parrita Penting Untuk Upacara (Jakarta: Balai Kitab Tri Dharma Indonesia, 1980), h. 47.
10
Bhikkhu Vijano (Ven), Dhamma-Sekolah Minggu Buddhis (Jakarta: Yayasan Dhammadipa Arama, 1996), h. 37.
11
Bhikkhu Khantipalo, Saya Seorang Buddhis-Bagaimana Menjadi Buddhis Sejati (Penerbit Karaniya: Yayasan Buddhis Karaniya, 1991), h. 61.
12
Hal itulah yang menarik penulis untuk mengambil judul “Pelaksanaan dan Makna
Puasa (Uposatha) dalam Agama Buddha (studi kasus di Vihara Jakarta
Dhammacakka Jaya Sunter Jakarta Utara)”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas, maka
dalam skripsi ini penulis akan membahas mengenai Pelaksanaan dan Makna Puasa
(Uposatha) dalam Agama Buddha di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya, dengan
perumusan masalah sebagai berikut :
1. Apakah makna puasa menurut agama Buddha di Vihara Jakarta
Dhammacakka Jaya?
2. Bagaimanakah pelaksanaan puasa menurut agama Buddha di Vihara
Jakarta Dhammcakka Jaya?
C. Tujuan Penulisan
Penulisan ini memiliki beberapa tujuan diantaranya :
1. Untuk memperluas pengetahuan dan pemahaman terhadap Buddha
Dhamma (ajaran Sang Buddha) khususnya puasa menurut agama Buddha.
2. Menambah khazanah kepustakaan pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Penulisan skripsi ini ditujukan untuk memenuhi tugas akademik yang
merupakan syarat dan kewajiban bagi setiap mahasiswa dalam rangka
menyelesaikan studi tingkat sarjana program strata 1 (S1) di Universitas
Filsafat, Jurusan Perbandingan Agama dengan gelar Sarjana Teologi
Islam (S.Th.I).
D. Tekhnik Penulisan
Dalam tekhnik penulisan skripsi ini, penulis berpedoman pada
ketentuan-ketentuan dan petunjuk-petunjuk yang telah di tentukan oleh UIN syarif
Hidayatullah Jakarta, yaitu “Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan Disertasi)” UIN Syarif Hidayatullah (Jakarta; CeQDA UIN, 2007)”.
Adapun metode yang penulis gunakan dalam penyusunan skripsi ini di
tempuh dengan dua cara, yaitu: Library Research (penelitian kepustakaan) dengan metode ini penulis mengadakan studi kepustakaan mengenai penelitian terhadap
buku-buku yang ada kaitannya dengan pembahasan skripsi ini. Sedangkan cara
yang kedua dengan cara Field Research13 (penelitian lapangan) dimana cara ini dilakukan untuk memperkuat data-data yang telah diproses dan penulis juga
menggunakan teknik observasi sebagai alat pengumpulan data. Observasi yang
penulis lakukan adalah dengan mendatangi dan mengamati jama’ah dan
viharawan di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya dan melakukan wawancara
langsung secara mendalam (indepth interview) dengan informan tersebut diatas tentang data-data yang diperlukan dan sesuai dengan judul skripsi. Dalam
wawancara, penulis telah mempersiapkan beberapa pertanyaan yang ada
kaitannya dengan skripsi. Disamping itu, ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak
tertulis.
13
E. Sistematika Penulisan
Dalam penulisan skripsi ini penulis membagi pembahasan menjadi lima
bab, dimana masing-masing mempunyai spesifikasi pembahasan mengenai
topik-topik tertentu, yaitu sebagai berikut :
Bab pertama berisi latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan
penulisan, tekhnik penulisan, dan sistematika penulisan. Bab ini juga merupakan
bab pendahuluan.
Bab kedua landasan teori, yang memuat tinjauan tentang puasa di dalam
agama Buddha, pembahasannya meliputi lima sub bab, yaitu: pengertian puasa
menurut agama Buddha, sistem penanggalan dan sejarah hari Uposatha, masa
Vassa, dan tujuan puasa di dalam agama Buddha.
Bab ketiga menjelaskan tentang pelaksanaan dan makna puasa dalam
agama Buddha yang meliputi gambaran umum Vihara Jakarta Dhammacakka
Jaya, puasa bagi umat awam dan puasa bagi umat viharawan dan juga makna
puasa bagi umat Buddha serta analisis.
Bab keempat merupakan bab penutup yang berisi kesimpulan dan
saran-saran yang berkaitan dengan judul. Terakhir sekali penulis mencantumkan daftar
BAB II
PUASA DALAM AGAMA BUDDHA
A. Pengertian Puasa Menurut Agama Buddha
Puasa di dalam agama Buddha adalah suatu usaha untuk menghindarkan
diri dari mengambil makanan atau minuman pada waktu yang salah, yang disebut
dengan istilah Upovasa. Akan tetapi di dalam pengertian sehari-hari, mereka lebih suka menyebutnya dengan istilah Uposatha.14 Istilah ini berasal dari bahasa Pali, yaitu bahasa yang dipakai pada jaman Sang Buddha Gotama.
Istilah Uposatha mengandung dua arti, yaitu:
1. Uposatha berarti nama atau sebutan hari untuk menjalankan peraturan-peraturan khusus, sehingga disebut sebagai hari Uposatha.
2. Uposatha berarti nama atau sebutan terhadap peraturan-peraturan yang dijalankan, sehingga disebut sebagai Uposathasila.15
Dalam Buddhist Dictionary, Uposatha ini diartikan sebagai berpuasa, hari puasa, yaitu hari Purnama sidhi, hari bulan baru dan hari seperempat bulan yang
pertama dan yang terakhir.16
Kata Uposatha, juga mengandung makna “masuk dan berdiam diri”,
dalam pengertian berdiam di dalam vihara atau komplek vihara.17 Maksud
berdiam di sini bukan berarti diam dan tidak melakukan sesuatu tetapi tinggal atau
berada di vihara atau komplek vihara (uposathavasamvasati), belajar dhamma
14
Wawancara pribadi dengan Bhante Jayaratano, Jakarta, 8 Mei 2007
15
Anjali G. S., Tuntunan Uposatha dan Atthasila (Jakarta: Lembaran Khusus Agama Buddha Informasi, tt), h. 21
16
Nyanataloka, Buddhist Dictionary (Frewin: Co. Tto, 1972), h. 187
17
melalui buku, diskusi, mendengarkan khotbah, menjalankan delapan sila dan
berlatih meditasi. 18
Jadi istilah Uposatha ini merupakan suatu istilah yang dipakai untuk melaksanakan suatu upacara keagamaan yang ketat, yang berhubungan dengan
menahan diri (puasa).19 Menahan diri di sini maksudnya untuk mengendalikan diri
dari hawa nafsu jahat, seperti rasa dengki, iri hati, marah, serakah dan sebagainya.
Selain untuk menghindari makan dan minum, puasa atau Upovasa (bahasa Pali) di dalam agama Buddha juga mempunyai pengertian:
1. Mengendalikan diri untuk tidak berbuat sesuatu yang merugikan dirinya
sendiri maupun orang lain.
2. Meningkatkan kualitas diri, artinya segala kebajikan atau perbuatan baik yang
pernah dilakukan, perlu selalu di ulang-ulang, dan kebajikan atau perbuatan
baik yang belum dilakukan perlu dilakukan (kusalassa upasampada/selalu mengembangkan kebajikan). 20
Singkatnya apa yang disebut puasa atau upovasa itu bukan saja mengendalikan diri dari makan dan minum, tetapi meliputi seluruh gerak-gerik
pikiran, ucapan, dan jasmani.21
Karena puasa di dalam agama Buddha ini merupakan pelaksanaan sila,
yang merupakan suatu ajaran kesusilaan yang didasarkan atas konsepsi cinta kasih
dan belas kasihan kepada semua makhluk. Sehingga yang termasuk di dalam
kelompok sila di sini adalah:
• Pembicaraan benar (samma vaca)
18
Wawancara pribadi dengan Bhante Jayaratano, Jakarta, 8 Mei 2007
19
Bhikkhu Subalaratano (ed), Pengantar Vinaya (Jakarta: Sekolah Tinggi Agama Buddha Nalanda, 1988), h. 28
20
Supomo, Dasar-Dasar Uposatha, (Yogyakarta: Vihara Vidyaloka Vidyasena, 1993), h. 1-2
21
• Perbuatan benar (samma kammanta) • Mata pencaharian benar (samma ajiva)
Puasa di dalam agama Buddha merupakan salah satu cara praktek
pengendalian diri dari segala bentuk pikiran yang tidak baik dan merupakan usaha
untuk membebaskan diri dari segala kejahatan, yaitu: ketamakan, kebencian dan
kebodohan batin.22 Sang Buddha melarang para bhikkhu mengambil makanan
padat (yang mengenyangkan) setelah lewat tengah hari. Begitu juga umat awam
yang menjalankan delapan peraturan (atthasila) pada hari Uposatha, untuk berpantang mengambil makanan padat setelah tengah hari.23
Berkaitan dengan masalah puasa di dalam agama Buddha, bahwa
kegunaan dari memakan makanan adalah tidak untuk kesenangan, pemabukan,
menggemukkan badan atau untuk memperindah diri, tetapi hanyalah untuk
kelangsungan hidup dan mempertahankan tubuh, menghentikan rasa tidak enak,
dan untuk membantu kehidupan suci. Sehingga akan mendapatkan kebebasan
tubuh dari gangguan-gangguan serta akan dapat hidup dengan tentram.24
B. Sistem Penanggalan dan Sejarah Hari Uposatha
Di dalam kehidupan keagamaan umat Buddha, dalam satu bulan terdapat
hari-hari khusus untuk melaksanakan peraturan pelatihan tertentu (sikkhapada).
22
Pandit J. Kaharuddin, Hidup dan Kehidupan (Jakarta: Tri Sattva Buddhis Center, 1991), h. 44
23
K. Sri Dhammananda, What Buddhist Believe (Taiwan: The Corporate Body of The Buddha Educational Foundational, 1993), h. 214
24
Hari khusus itu dipandang sebagai hari yang suci (sakral) dan disebut Uposatha-divasa.
Istilah Uposatha arti harfiahnya adalah masuk untuk berdiam diri (dalam keluhuran). Istilah ini digunakan untuk sebutan hari dimana upasaka-upasika
(umat Buddha laki-laki dan perempuan) menjalankan peraturan pelatihan khusus
yang terdiri dari delapan unsur peraturan pelatihan. Hari itu disebut hari Uposatha.25
Hari Uposatha adalah hari-hari tanggal 1, 8, 15 dan 23 menurut
penanggalan lunar. Biasanya kalender yang dibuat oleh umat Buddha, tanggal
jatuhnya hari Uposatha diberi tanda khusus dengan warna tertentu sehingga mempermudah bagi mereka yang akan melaksanakan Atthangika Uposatha
(delapan peraturan pelatihan pada hari Uposatha).26 Selain itu, dengan pemberian
tanda dalam kalender tersebut, diharapkan agar para umat Buddha dapat
melaksanakan delapan peraturan tersebut.27
Kebiasaan menjalankan Uposatha ini telah ada sebelum jamannya Sang Buddha. Sang Buddha menyetujui kebiasaan tersebut dan memperkenankannya
untuk dipergunakan sebagai hari untuk bertemu bersama, membicarakan dan
mendengarkan dhamma serta merupakan kesempatan untuk melaksanakan
Uposatha bagi umat awam (atthanga Uposathasila). Sehubungan dengan pertemuan para bhikkhu, Sang Buddha mengijinkan mereka melakukan
Uposathasila pada tanggal 1 dan 15 pada penanggalan bulan.28
Pada hari Uposatha ini umat Buddha melakukan puja bhakti, yaitu berupa:
25
Pandita Dhammavisarada, Sila dan Vinaya (Jakarta: Penerbit Buddhis Bodhi, 1997), h. 40
26
Pandita Dhammavisarada, Sila dan Vinaya, h. 40
27
Anjali G. S., Tuntunan Uposatha dan Atthasila, h. 22
28
• Melakukan persembahan bunga/ dupa/ lilin di depan altar.
• Melakukan puja kepada Sang Tiratana dan membaca parrita-parrita
suci.
• Memohon kepada bhikkhu untuk membimbing melaksanakan
Pancasila (lima sila) atau atthasila (delapan sila).
• Mendengarkan Khotbah Dhamma dari para bhikkhu atau pandita.
• Ada pula umat yang melakukan makan sayuranis ( sayur mayur ) dan tidak
makan daging.
• Dan memperbanyak meditasi.29
Puasa di dalam agama Buddha mempunyai sejarah yang panjang, bahkan
sebelum jaman Sang Buddha, yaitu dimulai dari tradisi para Brahmana yang
menyucikan diri dengan menjalani ritus veda, menyepi meninggalkan rumah
keluar selama beberapa waktu hingga selesai, saat yang dipilih untuk ritus itu
biasanya berpedoman pada peredaran bulan, yaitu saat-saat bulan penuh dan bulan
gelap atau kadang-kadang di saat-saat bulan separuh wajah.30
Pada masa itu, banyak kelompok petapa (samana) yang menggunakan
hari-hari saat bulan penuh, bulan gelap, maupun bulan separuh wajah untuk
memperdalam teori dan latihan-latihan mereka. Sang Buddha sendiri
menganjurkan kepada siswa-siswanya untuk berkumpul di vihara pada hari-hari
tersebut, mendengarkan pembacaan Patimokkha (aturan pokok bagi para bhikkhu) dan mengajarkan dhamma kepada umat yang datang ke vihara mereka.31
29
Herman S. Endro, Hari Raya Umat Buddha dan Kalender Buddhis 1996-2026 (Jakarta: Yayasan Dhammadipa Arama, 1997), h. 1
30
Bhikkhu Khantipalo, Saya Seorang Buddhis, h. 59
31
Demikian pula upacara-upacara yang dilaksanakan pada hari-hari
Uposatha sudah dilaksanakan oleh orang-orang India pada jaman Sang Buddha. Atas saran Raja Bimbisara dari Magadha kepada Sang Buddha, maka hari-hari
Uposatha ini kemudian juga dilaksanakan oleh para bhikkhu dan umat awam
(upasaka-upasika) sampai sekarang ini.32 Secara lengkap Sang Buddha bersabda:
“Demikianlah kejadiannya, Pada suatu waktu Sang Bhagava sedang berdiam di
Rajagaha, di puncak karang Burung Nazar. Pada waktu itu kelana-kelana dari
sekte lain mempunyai kebiasaan untuk berkumpul pada waktu pertengahan bulan
pada tanggal 14 dan 15 dan perempatan bulan pada tanggal 8 dan berkhotbah
tentang Dhamma. Orang-orang berdatangan untuk mendengarkannya. Mereka
semakin menyukai dan semakin mempercayai kelana dari sekte lain. Maka
kelana-kelana itu memperoleh bantuan. Maka ketika Raja Magadha Seniya
Bimbisara sedang bermeditasi, ia merenungkan hal-hal ini: “mengapa para Yang
Mulia untuk tidak berbuat serupa pada hari-hari itu?”.
Kemudian ia menemui Sang Bhagava menyampaikan apa yang dipikirkannya dan
menambahkan: “Guru, alangkah baiknya jika pada hari-hari itu pula para Yang
Mulia untuk berkumpul”. Sang Bhagava memberi petunjuk tentang Dhamma
kepada Raja itu, setelah mana ia meninggalkan tempat itu. Kemudian Sang
Bhagava membuat hal itu suatu alasan untuk memberikan wejangan tentang
Dhamma kepada bhikkhu. Beliau berkata: “O, para bhikkhu, aku mengijinkan
pertemuan pada pertengahan bulan, yaitu hari ke 14 dan ke 15, dan pada
perempatan bulan, yaitu pada hari ke 8”.
32
Kemudian para bhikkhu mulai saat itu berkumpul bersama sebagaimana
yang diijinkan Sang Bhagava, tetapi mereka duduk dengan diam. Orang-orang
datang untuk mendengarkan Dhamma. Mereka menjadi kecewa sehingga mereka
berkata: “Bagaimana para bhikkhu ini, putera-puteri Sakya berkumpul pada
hari-hari ini hanya untuk membisu seperti tonggak?. Tidakkah Dhamma seharusnya
dikhotbahkan pada waktu-waktu mereka berkumpul?”.
Para bhikkhu mendengar hal ini, kemudian mereka menyampaikan kepada
Sang Bhagava. Beliau menjadikan hal ini sebagai alasan untuk memberikan
wejangan tentang Dhamma dan beliau berpesan demikian: “O, para bhikkhu, bila
ada pertemuan pada pertengahan bulan dan perempatan bulan, aku mengijinkan
untuk memberikan Dhamma.33
Pada saat-saat awal perkembangan agama Buddha, Sang Buddha sendiri
yang memberikan ajaran pada pertemuan Sangha dan meningkatkan kebajikan
yang merupakan inti dari ajaran (sasana) dan menjelaskannya, kemudian Sang Buddha memberikan ijin kepada Sangha untuk melaksanakan Uposatha sendiri.
Di dalam setiap pertemuan suatu kelompok bhikkhu, seorang bhikkhu
akan membacakan peraturan latihan yang disebut Patimokkha. Ini dilakukan apabila terdapat empat orang bhikkhu atau lebih. Apabila hanya terdapat tiga atau
dua orang bhikkhu, mereka disebut gana (group). Mereka dibolehkan memberitahukan satu sama lain tentang “kemurnian mereka” masing-masing, bila
hanya terdapat seorang bhikkhu, ia disebut puggala (seorang) dan ia harus membuat adhitthana atau tekad oleh dirinya sendiri.34
C. Masa Vassa
33
Herman S. Endro, Hari Raya Umat Buddha dan Kalender Buddhis 1996-2026 , h. 6-7
34
Selain hari Uposatha, musim hujan juga mempunyai peran penting bagi umat Buddha, karena masa-masa musim hujan ini akan memberikan peluang yang
sangat besar bagi para bhikkhu untuk hidup lebih dekat dengan gurunya, bhikkhu
senior yang telah lanjut latihan meditasinya, berpengalaman dalam vinaya atau
yang telah banyak mendalami dan mengetahui sutta-sutta.
Dalam kamus Buddha dharma, Vassa ini diartikan sebagai musim hujan. Masa Vassa adalah masa dimana menurut tradisi, pada musim penghujan para
bhikkhu harus berdiam di suatu tempat dan mentaati peraturan-peraturan Vassa.
Masa Vassa ini berlangsung selama tiga bulan (90 hari) dan dimulai sehari
sesudah Purnama sidhi bulan ke delapan (asalhamasa) dan berakhir pada Purnama sidhi bulan kesebelas (assajuyamasa) menurut penanggalan lunar.
Demikian juga bagi umat awam, masa-masa ini dapat dipergunakan untuk:
• Melatih diri menjadi samanera sementara ( calon bhikkhu/bhikkhuni)
• Menjalankan latihan puasa bagi para bhikkhu dengan cara makan hanya satu
kali untuk sehari atau praktek makan langsung dari satu wadah (pata), tanpa
perlu menggunakan banyak piring atau mangkok. Latihan ini sangat baik
untuk membatasi keserakahan terhadap makanan, kelezatan dan bentuknya
yang menggiurkan.
• Atau juga untuk melatih berdana sebanyak mungkin, sekuat-kuatnya sesuai
dengan kemampuannya.35
Hal-hal yang berkenaan dengan masa Vassa ini terdapat di dalam Kitab Suci Tipitaka bagian Vinaya Pitaka, Mahavagga Vassupaniya-kakkhandhaka. Sang Buddha bersabda:
35
”Anujanami Bhikkhave Vassane Vassam Upagantum Dve Ma Bhikkhave Vassupana-yikaya Purimika Pacchimika Aparajju-gataya Asalhiya Purimika Upagantabha.”
Yang artinya bahwa masa Vassa haruslah dilaksanakan oleh para bhikkhu. Selama masa itu terdapat hari pertama untuk memulai dan terdapat hari penutup untuk
mengakhirinya.36
Ketika jumlah bhikkhu berkembang pesat, Sang Buddha menetapkan
peraturan bahwa bhikkhu harus berdiam di suatu tempat selama musim hujan
(Vassa) dan tidak pergi ke tempat lain selama tiga bulan.37 Masa Vassa ini dimulai pada hari pertama sesudah Purnama sidhi bulan Asadha atau pada hari pertama bulan Savana (bulan 9 lunar Buddhis) dan diakhiri sesudah tiga bulan dilampaui, yaitu pada Purnama sidhi bulan Assayuja (bulan September/Oktober).
Para bhikkhu dapat memulai masa Vassa pada hari pertama sesudah hari raya Asadha (hari raya untuk memperingati kejadian yang menyangkut kehidupan Sang Buddha dan ajarannya, yaitu saat Sang Buddha untuk pertama kalinya
membabarkan ajarannya kepada lima orang pertapa) atau satu bulan kemudian.
Hal ini dikenal sebagai Vassa pertama, dan Vassa kedua.38 Saat Vassa merupakan saat untuk para bhikkhu melaksanakan Samanadhamma (Dhamma untuk seseorang yang membuat dirinya damai) yaitu pelaksanaan meditasi ketenangan
dan pandangan terang.39
Hari dimulainya massa Vassa apabila bulan memasuki konstelasi Asadha, namun pada tahun kabisat haruslah dimulai 30 hari kemudian. Malam menjelang
36
Kitab Suci Tipitaka Bagian Vinaya Pitaka, Mahavagga Vassupaniya-kakkhandhaka (Klaten: Vihara Bodhivamsa, tt), h. 158
37
Bhikkhu Subalaratano, Pengantar Vinaya, h. 29
38
Herman S. Endro, Hari Raya Umat Buddha dan Kalender Buddhis 1996-2026, h. 80
39
penutupan masa Vassa, yaitu saat Purnama sidhi bulan Assayuja, diselenggarakanlah Pavarana, yaitu upacara pengakhiran masa Vassa dan dilanjutkan dengan persembahan dana yang secara umum dikenal dengan hari
Kathina.
Upacara Kathina akan berlangsung mulai bulan pertama pada saat bulan menyusut (tanggal 16) bulan Assayuja sampai Purnama sidhi bulan ke 12
(kattikamasa). Namun perayaan ini pada hakekatnya akan berlangsung selama satu bulan untuk memberi kesempatan kepada umat agar bisa mempersembahkan
dana kepada Sangha.40
Terjadinya Vassa
Lebih dari dua ribu lima ratus tahun yang lalu Sang Buddha beserta
siswa-siswanya membabarkan Dhamma. Perjalanan yang jauh dan musim yang berganti
tidaklah menjadi halangan bagi Sang Buddha dan para siswanya. Hal ini terlihat
dari adanya kelompok bhikkhu yang mengadakan perjalanan pada musim dingin,
musim panas maupun musim hujan (di India dikenal tiga musim).
Pada saat itu masa Vassa belum ditetapkan oleh Sang Buddha, sehingga para bhikkhu mengadakan perjalanan selama musim panas, musim dingin dan
musim hujan. Tetapi ketika jumlah bhikkhu semakin meningkat dan para bhikkhu
harus keluar masuk hutan, sawah maupun ladang, mengakibatkan
tumbuh-tumbuhan yang ditanam oleh para petani pada musim hujan rusak terinjak-injak
oleh para bhikkhu tersebut.
40
Melihat kenyataan ini, masyarakat mengkritik para bhikkhu dengan
mengatakan “mengapa para bhikkhu Sakyaputta (murid-murid Sang Buddha) mengadakan perjalanan pada musim dingin, panas, dan hujan, sehingga mereka
menginjak tunas-tunas muda rumput dan mengakibatkan binatang-binatang kecil
mati? tetapi petapa lain meskipun kurang baik dalam melaksanakan peraturan
(vinaya), menetap selama musim hujan.” Mendengar keluhan masyarakat tersebut,
beberapa bhikkhu menghadap Sang Buddha dan melaporkan kejadian tersebut.
Sang Buddha kemudian memberikan keterangan yang masuk akal dan bersabda:
“Para bhikkhu, saya ijinkan kalian melaksanakan masa Vassa”. Kemudian terpikir oleh para bhikkhu, “kapan masa Vassa dimulai?”, mereka menanyakan hal ini kepada Sang Buddha dan kemudian beliau mengatakan “saya ijinkan kalian
melaksanakan masa Vassa pada musim hujan”. Kemudian terpikir lagi oleh para bhikkhu, “berapa banyak periode untuk memulai masa Vassa?”. Mereka menyampaikan hal ini kepada Sang Buddha dan beliau berkata: “O para bhikkhu,
terdapat dua masa untuk memasuki masa Vassa. Periode pertama Vassa (purimikavasupanayika) dan periode terakhir (pacchimikavasupanayika). Periode pertama Vassa adalah sehari setelah Purnama di bulan Asalha (kini dikenal dengan hari raya Asadha). Periode berikutnya dimulai sebulan setelah Purnama di
bulan Asadha. Itulah periode untuk memulai musim hujan”.41
Sejak saat itu para bhikkhu menetap selama tiga bulan musim hujan.
Mereka lebih banyak melatih dan mengembangkan batin, belajar dari para
bhikkhu yang lebih senior.42
41
Kitab Suci Tipitaka Bagian Vinaya Pitaka, Mahavagga Vassupaniya-kakkhandhaka (Klaten: Vihara Bodhivamsa,1982), h. 186
42
D. Tujuan Puasa di Dalam Agama Buddha
Puasa di dalam agama Buddha adalah melaksanakan sila, yang merupakan
dasar utama dalam melaksanakan ajaran agama, yaitu mencakup semua perilaku
dan sifat-sifat baik yang termasuk di dalam ajaran moral dan etika dalam agama
Buddha.43 Sila adalah cara untuk mengendalikan diri dari segala bentuk-bentuk
pikiran yang tidak baik dan merupakan usaha untuk membebaskan diri dari segala
akar kejahatan, yaitu: lobha, dosa dan moha.44
• Lobha artinya ketamakan atau keserakahan. Dapat pula diartikan sebagai
keterikatan pikiran terhadap obyek.
• Dosa artinya kebencian atau rasa dendam. Dapat pula diartikan sebagai
keinginan jahat.
• Moha artinya kebodohan batin atau rasa tidak mengerti kebenaran mulia.
Dapat pula diartikan sebagai avijja (tidak tahu), anana (tidak berpengetahuan),
adasana (tidak dapat melihat dengan sewajarnya).45 Sebagaimana sabda Sang Buddha:
Bilamana, O para bhikkhu, tindakan Uposatha sempurna di dalam delapan faktor, maka buah dan manfaatnya pun berlimpah, bersinar dan merebak. Dan
bagaimana tindakan Uposatha sempurna di dalam delapan faktor yang membuatnya memiliki buah dan manfaat yang melimpah, bersinar, dan merebak?
Disini, para bhikkhu, seorang siswa mulia merenungkan demikian:
”Selama hidup, para Arahat meninggalkan pembunuhan dan tidak melakukannya;
dengan kail dan senjata yang disingkirkan, mereka penuh kesadaran, baik hati dan
hidup dalam kasih sayang terhadap semua makhluk. Hari ini aku juga, selama
43
Pandita Dhammavisarada, Sila dan Vinaya, h. 3
44
Pandit J. Kaharuddin, Hidup dan Kehidupan, h. 170
45
siang dan malam ini, akan melakukan hal yang sama. Aku akan meniru para
Arahat di dalam hal itu, dan tindakan Uposatha akan terpenuhi olehku.” Inilah faktor pertama yang dimiliknya.
Selanjutnya, dia merenungkan: ”Selama hidup, para Arahat meninggalkan
perbuatan mengambil apa yang tidak diberikan dan tidak melakukannya; mereka
menerima hanya apa yang diberikan, mengharapkan apa yang diberikan, dan
berdiam dengan hati yang jujur, bebas dari keinginan mencuri. Hari ini aku juga,
selama siang dan malam ini akan melakukan hal yang sama…”Inilah faktor kedua
yang dimilikinya.
“Selama hidup, para Arahat meninggalkan kehidupan seksual dan hidup
selibat, jauh dari seksualitas, menahan diri dari praktek hubungan seksual yang
kasar. Hari ini aku juga, selama siang dan malam ini, akan melakukan hal yang
sama…”Inilah faktor ketiga yang dimilikinya.
“Selama hidup, para Arahat meninggalkan perbuatan berbicara yang tidak
benar dan tidak melakukannya, mereka adalah pembicara kebenaran, pengikut
kebenaran, dapat dipercaya dan dapat diandalkan, bukan penipu dunia. Hari ini
aku juga, selama siang dan malam ini, akan melakukan hal yang sama…”Inilah
faktor keempat yang dimilikinya.
“Selama hidup, para Arahat meninggalkan anggur, minuman keras dan
apapun yang bersifat meracuni yang menjadi landasan bagi kelalaian dan tidak
melakukannya. Hari ini aku juga, selama siang dan malam ini, akan melakukan
hal yang sama…” Inilah faktor kelima yang dimilikinya.
“Selama hidup, para Arahat makan hanya sekali sehari dan menahan diri
juga, selama siang dan malam ini, akan melakukan hal yang sama…” Inilah faktor
keenam yang dimilikinya.
“Selama hidup, para Arahat tidak menari, menyanyi, melihat pertunjukkan
musik instrument dan pertunjukkan yang tidak pantas, dan mereka tidak menghias
diri dengan mengenakan kalung bunga dan menggunakan wangi-wangian dan
minyak-minyakan. Hari ini aku juga, selama siang dan malam ini, akan
melakukan hal yang sama…” Inilah faktor ketujuh yang dimilikinya.
“Selama hidup, para Arahat meninggalkan penggunaan tempat tidur dan
alas duduk yang mewah dan tidak melakukannya; mereka menggunakan tempat
beristirahat yang rendah-bisa tempat tidur yang kecil atau alas jerami. Hari ini aku
juga, selama siang dan malam ini, akan melakukan hal yang sama…” Inilah faktor
kedelapan yang dimilikinya.46
Sila ini merupakan gerak-gerik kehendak (cetana) yang bersikap menghindarkan diri untuk tidak bertindak jahat dan bersikap mengendalikan diri
untuk tidak melanggar peraturan-peraturan dan norma-norma kebaikan yang
berkenaan dengan pembersihan batin, maupun peraturan-peraturan yang
ditentukan oleh masyarakat yang merupakan kebiasaan atau tradisi yang baik.47
Sila ini merupakan dasar yang mutlak untuk memperoleh hasil yang luhur, karena
perkembangan batin tidak mungkin tercapai tanpa memiliki dasar sila ini.
Sebagian umat Buddha yang meyakini adanya tumimbal lahir (hukum punarbhava), sebetulnya manusia sudah mengalami kelahiran berjuta-juta kali bahkan tidak terhitung, begitu juga halnya dengan kelaparan, tentu sudah
berjuta-juta kali bahkan tidak terhitung orang merasakan lapar. Dengan mengendalikan
keinginan makan yang muncul setelah waktu berjuta-juta tahun yang lampau,
46
Kitab Suci Tipitaka Bagian Anguttara Nikaya 3 (Klaten: Vihara Bodhivamsa, 2003), h. 526
47
secara tidak langsung sebetulnya hal tersebut juga merupakan latihan untuk
mengendalikan emosi. Mengapa demikian? kalau seseorang mampu
mengendalikan keinginan makan yang telah muncul berjuta-juta tahun yang
lampau, mengapa tidak bisa menahan diri untuk tidak marah, misalnya. Dengan
cara ini seseorang bisa menghadapi segala sesuatu dengan tenang dan tidak emosi.
Walaupun cara menahan diri ini merupakan cara yang sederhana, tetapi cara ini
ada kaitannya dengan praktek kesabaran.48
Begitu juga sampai pada tingkat tertentu, kemajuan di dalam Dhamma
akan menurun di bawah pengaruh nafsu-nafsu keinginan jasmani yang timbul dari
pikiran yang kotor. Kekotoran akan nafsu-nafsu itu akan dapat dikendalikan
dengan baik justru ketika kekotoran dan nafsu-nafsu itu tampak dan muncul
dengan begitu kuatnya. Hampir tidak mungkin mengendalikan kekotoran batin
yang tidak tampak di permukaan meski mereka mungkin saja beroperasi di bawah
sadar.
Perilaku seorang bhikkhu yang baik menunjukkan cara yang benar untuk
menghadapi kekotoran-kekotoran itu. Begitu pula halnya dengan hari-hari
Uposatha, saat kekotoran-kekotoran itu menampakkan dirinya, mudahlah bagi kita mengendalikan dan memangkasnya dengan bantuan disiplin serta
melaksanakan Atthasila (delapan sila).49 Dengan demikian, latihan-latihan itu benar-benar tindakan untuk menguji sejauh mana seseorang bisa mengendalikan
dirinya. Atau jelasnya, sejauh mana bentuk-bentuk mental yang baik, yang
terbentuk oleh praktek Dhamma selama ini, mampu mengalahkan
48
Bhikkhu Uttamo, Hidup Sesuai dengan Dhamma (Jakarta: Vihara Samaggi Jaya, 1994), h. 48
49
karakter buruk yang dibentuk oleh batin yang serakah, benci yang diselumuti
kebodohan.50
Sang Buddha sangat memuji keagungan pelaksanaan Atthasila, yang dimenangkan oleh pria dan wanita atas kekuasaan duniawi, yang meraih
kekuasaan dan kebahagiaan pada kehidupan selanjutnya dan diyakinkan akan
memberikan buah kelahiran kembali di surga para dewata. Sang Buddha
menjelaskan kepada Visakha berbagai bentuk perenungan batin (mental reflection), guna memperkuat diri bagi seseorang yang akan menjalankan
Uposatha Arya, yang membimbing pada ketenangan dan kesucian batin.
Sebagaimana terdapat di dalam kitab suci, Sang Buddha bersabda:
“Dan apakah Uposatha Arya itu, Vesakha? Hal itu adalah pembersihan pikiran
yang keruh dan kotor melalui proses yang benar. “Dan bagaimanakah hal itu
dilaksanakan, Visakha?”. Dengan cara ini pengikut Sang Arya merenungkan Sang
Tathagata sebagai berikut:
“Demikianlah Sang Bhagava, yang maha suci yang telah mencapai Penerangan
Sempurna, sempurna pengetahuan serta tindak-tanduknya, sempurna menempuh Sang Jalan (ke
Nibbana), pengenal segenap alam, pembimbing manusia yang tiada Taranya, Guru para deva dan
manusia, Yang sadar, Yang patut dimuliakan”.
“Bila ia melakukan perenungan terhadap Tathagata batinnya menjadi tenang, timbul kegembiraan dan kekotoran batin menjadi lenyap”. “ Demikian
pula ia melakukan perenungan terhadap Dhamma dan Sangha. Kebajikan
seseorang dan kebajikan para dewa”.51
Dalam uraian Atanatiya Sutta. Pada hari kedelapan lunar, dewa penjaga mengirim utusannya ke alam dunia untuk meyakinkan apakah manusia memegang
50
Bhikkhu Khantipalo, Saya Seorang Buddhis, h. 68
51
teguh kebenaran dan kebajikan. Mereka kirimkan anak-anaknya pada hari ke
empat belas lunar untuk alasan dan tujuan yang sama. Pada hari ke lima belas para
dewa penjaga sendiri turun ke bumi dan mengirimkan laporannya pada sidang
para dewa di surga Tavatimsa. Mereka akan bergembira atau bersedih tergantung apa yang dia saksikan dari tingkah laku manusia dalam menegakkan dan
menjalankan kebenaran dan kebajikan. Bila para dewa bergembira, maka berkah
akan turun ke bumi, tetapi bila para dewa bersedih dan marah, maka akan
memberi pertanda banyak kejahatan dan malapetaka akan terjadi.52
52
BAB III
PELAKSANAAN DAN MAKNA PUASA (UPOSATHA)
DI VIHARA JAKARTA DHAMMACAKKA JAYA
A. Gambaran Umum Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya
Yayasan Jakarta Dhammacakka Jaya didirikan berdasarkan Akte Notaris,
Kartini Mulyadi, S.H., tanggal 9 Maret 1981, No. 248. Yayasan ini merupakan
suatu lembaga yang berdasarkan hukum dalam Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Peletakan batu pertama pembangunan Vihara Jakarta Dhammacakka
Jaya oleh Ditjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI, yaitu Gde
Padja, MA. SH pada tanggal 2 September 1982 pukul 09.00 WIB. Vihara ini
terletak di blok C Sunter Agung Kelurahan Sunter Kecamatan Tanjung Priok
wilayah Jakarta Utara di atas tanah seluas 8.640 m persegi. Tanah ini
disumbangkan oleh Bapak Anton Haliman atas nama pengurus PT. Agung
Podomoro. Pada tanggal 24 Agustus 1985, Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya
diresmikan oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Munawir Sjadzali, M.A.,
dan didampingi oleh Panglima tertinggi Angkatan bersenjata dan Panglima
Angkatan Darat Kerajaan Thailand, Jendral Athit Kamlang Ek.53
Sejarah Vihara ini diawali dengan nasehat Bhante Acariya Nirodha
melalui Bhante Sutat Phan Pheree untuk mencari tanah calon vihara yang baik.54
Beliau mengatakan bahwa tanah tersebut terletak di sebelah Utara Jakarta.
Tempatnya agak tinggi, terdapat pohon besar dan ada sumur di bawahnya. Dengan
53
Yayasan Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya (YJDJ), Pembangunan Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya, (Jakarta: YJDJ, 1983), h. 30
54
pedoman tersebut, dicarilah lokasi yang dimaksud. Pada awal tahun 1981
lokasinya sudah ditemukan, tempat itu ternyata masih penuh ditumbuhi
alang-alang, terdapat dua pohon besar dan sumur di bawahnya.
Sesuai dengan petunjuk Bhante Acariya Nirodha, bahwa sesudah lokasi
ditemukan segera menghubungi pemilik tanah. Tanah tersebut ternyata milik PT.
Agung Podomoro. Dalam pembicaraan pihak yang akan membangun vihara
dengan Direktur PT. Agung Podomoro Anton Haliman, disarankan untuk
memperoleh ijin membangun vihara dari pemerintah daerah terlebih dahulu. Sejak
pembicaraan tersebut di atas maka secara resmi Sangha Theravada Indonesia
mengajukan permohonan untuk mendapat ijin mendirikan vihara dari pemerintah
daerah. Permohonan ijin tersebut di bantu oleh Ir. Rai Pratadaja dan Ir. Imam
Soebagyo.
Perlu diketahui bahwa tanah tersebut menurut rencana kota adalah untuk
bangunan perumahan. Karena akan digunakan sebagai bangunan tempat ibadah
(vihara), maka harus ada persetujuan perubahan rencana dari tata kota. Ijin
perubahan akhirnya dikabulkan oleh pemerintah daerah dan memakan waktu lebih
dari 1 tahun, luas tanah 8.640 m persegi. Direncanakan bangunan induk
(Uposathagara) didirikan dengan ukuran: panjang 22 meter tinggi maksimal 9 meter. Rencana bangunan Uposatha ini telah di gambar dengan teliti oleh Ir. Rai Pratadaja dan Ir. Aswin Suganda. Sedangkan rencana keseluruhan dirancang oleh
Indira Sujana dan Ir. Evy Ekasanthirni. Semua perencanaan dibuat berlandaskan
nilai keagamaan dan kebudayaan nasional Indonesia.
Dana pembangunan vihara dikumpulkan sejak beberapa tahun sebelumnya
dari seluruh umat dan juga para donatur di Jakarta. Pengolahan pembangunan
Ketua kehormatan dijabat oleh Anton Haliman, sedangkan Ketua Umum dijabat
oleh Laksamana (Purnawirawan) Oyo Prayogo Kusno.
Vihara atau arama pertama dalam sejarah Buddha terletak di atas tanah
yang dinamakan Isipatana Migadaya (taman rusa Isipatana), dekat kota Banarasi. Tempat yang sangat indah ini mengandung makna sejarah yang sangat penting
bagi umat Buddha yang tidak mungkin dapat dilupakan.55
Pada awalnya pengertian vihara sangat sederhana yaitu pondok atau
tempat tinggal atau temp;at penginapan para bhikkhu dan bhikkhuni, samanera,
samaneri. Namun kini pengertian vihara mulai berkembang, yaitu:
Vihara adalah tempat melakukan segala macam bentuk upacara keagamaan
menurut keyakinan, kepercayaan, dan tradisi agama Buddha, serta tempat umat
awam melakukan ibadah atau sembahyang menurut keyakinan, kepercayaan, dan
tradisi masing-masing baik secara perorangan maupun berkelompok. Didalam
vihara terdapat satu atau lebih ruangan untuk penempatan altar.56
Dulu sebelum dikenal vihara, tempat tinggal para bhikkhu adalah goa-goa,
di bawah pohon, di kuburan, di atas bukit, di tumpukan jerami, dan di tempat
penduduk yang menyediakan tempat untuk menginap. Setelah banyak orang yang
mendengarkan ajaran Sang Buddha dan berlindung kepada Sang Tri Ratna mereka
bermaksud untuk memberikan tempat tinggal bagi para bhikkhu yang layak. Sang
Buddha kemudian memperbolehkan umat berdana di vihara.
Pada mulanya umat Buddha belum mempunyai vihara secara khusus.
Gagasan untuk membangun sebuah vihara pertama kali dilakukan oleh Raja
Bimbisara dari kerajaan Rajagaha. Suatu ketika setelah Raja Bimbisara
55
Bhikkhu Subalaratano dan Samanera Utamo, Bhakti (Puja), (Jakarta: Sangha Theravada Indonesia, tt), h. 16
56
mendengarkan ajaran Sang Buddha dan mencapai Sottapati (tingkat kesucian pertama) maka beliau memberikan persembahan kepada Sang Buddha dan para
bhikkhu. Atas pemberian tersebut, Sang Buddha memberikan persyaratan sebagai
berikut:
• Tempat tersebut tidak jauh, dekat dan ada jalan untuk lewat.
• Tidak terlalu banyak suara di siang hari maupun malam hari.
• Tempat tersebut tidak banyak gangguan serangga, angin, terik matahari dan
pohon menjalar.
• Orang yang tinggal di situ mudah mendapat jubah, makanan, tempat tinggal,
obat-obatan sebagai pengobatan bagi orang sakit.
• Di tempat tersebut ada bhikkhu yang lebih tua (senior) yang mempunyai
pengetahuan tentang kitab suci (Dhamma-Vinaya).
Sejak saat itu pengurusnya menerima Dana Vihara. Dengan semakin
banyak penganut ajaran Sang Buddha, maka vihara bukan hanya sebagai tempat
singgah para bhikkhu tetapi juga digunakan oleh para upasaka dan upasika (umat awam laki-laki dan perempuan) untuk belajar dhamma. Pada hari-hari Uposatha
umat Buddha datang ke vihara untuk mendengarkan dhamma, menjalankan
atthasila dan melatih meditasi.
Vihara adalah sebagai tempat singgah atau tempat tinggal bagi para
bhikkhu dan sebagai sarana ibadah umat Buddha. Sedangkan jika dilihat dari
fungsi vihara, adalah sebagai berikut:
a. Tempat tinggal para bhikkhu dan samanera.
b. Tempat pendidikan putera-puteri bangsa, agar menjadi warga masyarakat yang
berguna.
d. Tempat pendidikan moral, sopan santun dan kebudayaan.
e. Tempat untuk berbuat kebajikan dan kebaikan.
f. Tempat menyebarkan dhamma.
g. Tempat yang menunjukkan jalan kebebasan.
h. Tempat latihan meditasi dalam usaha merealisasi cita-cita kehidupan suci.
i. Tempat kegiatan-kegiatan sosial yang bersifat keagamaan.57
Sebagai tempat tinggal para bhikkhu dan tempat ibadah umat Buddha
maka vihara terdiri dari beberapa bangunan, dimana setiap bangunan mempunyai
fungsi tersendiri. Banyaknya bangunan tergantung pada kemampuan umat Buddha
yang mendirikan vihara tersebut. Biasanya pekerjaan membangun vihara ini
dilakukan secara gotong-royong oleh para umat yang memiliki keyakinan kepada
Sang Tiratana.58
Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya terletak di Jalan Agung Permai XV/12
Blok C-3 Sunter Agung Podomoro ini mempunyai berbagai fasilitas untuk
menunjang proses kegiatan penyebaran ajaran Buddha, diantaranya:
1. Uposathagara (gedung Uposatha)
Uposathagara dibuat di tengah-tengah vihara dengan posisi menghadap ke
utara. Gedung ini merupakan gedung induk yang di kelilingi oleh gedung-gedung
lainnya. Uposathagara merupakan bangunan yang paling besar di antara bangunan lain di vihara.
Uposathagara disebut pula sebagai Sima. Secara harfiah sima artinya batas. Gedung ini dibangun di atas tanah yang sudah diberi batas atau tanda
57
Yayasan Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya, Pembangunan Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya, h. 30
58
(sima). Uposathagara yang ada di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya dikukuhkan pada tanggal 24 Agustus 1985.59
Didalamnya terdapat cetiya yang digunakan untuk tempat menancapkan
dupa, tempat lampu (lilin), bunga dan ornamen-ornamen lainnya. Cetiya paling
atas terdapat Buddharupang diapit oleh rupang Sariputta dan Moggallana. Di belakang cetiya terdapat relief Buddha dalam ukuran kecil. Samping depan kiri
dan kanan diletakkan kotak dana.60 Bila umat ingin melakukan puja bakti secara
sendiri-sendiri ataupun bersama-sama maka diawali dengan sikap namakara.61
Di pintu masuk Uposathagara bagian luar terdapat bendera Buddhis dan bendera lambang Sangha Theravada Indonesia. Pada bagian luar juga dilengkapi
genta dan tambur besar. Genta dan tambur digunakan sebagai tanda dimulainya
upacara peringatan atau perayaan hari-hari besar agama Buddha. Untuk
melaksanakan upacara tertentu dan juga sebagai tanda para bhikkhu akan
melaksanakan fungsi Sangha.62
Uposatha artinya berdiam dan ghara artinya ruangan. Gedung ini merupakan bangunan utama dari suatu vihara yang dipakai untuk
menyelenggarakan upacara keagamaan yang khusus untuk para bhikkhu
(sanghakamma).63
Berdasarkan vinaya pitaka, sanghakama yang dilakukan dalam
Uposathagara antara lain:
59
Yayasan Jakarta Dhammacakka Jaya, Pengukuhan Uposathagara Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya, h. 35
60
Wawancara pribadi dengan Bhante Jayaratano, Jakarta 8 Mei 2007
61
Namakara adalah menghormati dengan sikap sujud atau sungkem, membuat lima titik anggota tubuh menyentuh lantai; dahi dan kedua telapak tangan merapat menyentuh lantai; titik kedua dan ketiga; kedua siku dan lutut, dan titik keempat kelima dua ujung telapak kaki.
62
Wawancara pribadi dengan Bhante Jayaratano, Jakarta 8 Mei 2007
63
a. Upacara penahbisan samanera menjadi bhikkhu (upasampada).
b. Pembacaan Patimokkha, yaitu 227 peraturan kebhikkhuan yang dilakukan pada setiap bulan gelap dan terang.
c. Upacara persembahan jubah Kathina.
d. Upacara merehabilisir kesalahan sedang (majjimapatti) dari para bhikkhu.64
2. Dhammasala/Dhammasabha (Balai Dhamma).
Dhammasala dibangun di depan kuti menghadap ke barat. Di dalam ruangan ini terdapat cetiya (altar) yang sama dengan cetiya Uposathagara namun
Buddharupangnya lebih kecil. Di dalam Dhammasala juga terdapat kotak dana dan ornamen lainnya. Dhammasala berasal dari kata Dhamma dan sala.Dhamma
artinya ajaran dan sala artinya ruangan. Dhammasala juga dikenal dengan bhakti sala. Bhakti artinya kebaktian dan sala artinya ruangan. Jadi Bhaktisala artinya tempat untuk melakukan puja bhakti.65
Dhammasala ini mempunyai fungsi untuk pembacaan parrita, pembabaran dhamma, diskusi dhamma, meditasi atau untuk melaksanakan Vesakha-Puja, Asalha-Puja, Magha-Puja, Kathina-Puja. Selain itu Dhammasala juga berfungsi sebagai tempat untuk melangsungkan pernikahan, ulang tahun atau upacara
kematian.66
3. Kuti
Kuti terletak di depan Uposathagara di sebelah kiri menghadap ke timur. Kuti ini berhadapan dengan Dhammasala. Bangunan kuti dibangun dua lantai dengan fungsi yang berbeda. Bagian atas terdapat lima kamar digunakan sebagai
64
Oka Diputra, Pelajaran Agama Buddha SMP untuk kelas 2, h. 1
65
Wawancara Pribadi dengan Bhante Jayaratano, Jakarta 8 Mei 2007
66
tempat tinggal bhikkhu. Lantai bawah digunakan sebagai ruang tamu dan ruang
makan.
Kuti adalah bangunan untuk tempat tinggal bagi para bhikkhu dan
samanera (calon bhikkhu). Bangunan kuti ini merupakan bangunan yang terpisah
dari gedung Uposatha.
Menurut Bhante Jayaratano pada awalnya satu kuti didiami satu bhikkhu
atau samanera (calon bhikkhu). Tetapi dengan bertambahnya jumlah bhikkhu
maka dibuatkan kuti yang agak besar, dengan beberapa ruangan sehingga kuti ini
dapat didiami oleh beberapa orang bhikkhu. Di Vihara Jakarta Dhammacakka
Jaya sendiri terdapat lima kamar dengan dua tempat tidur. 67
4. Pohon Bodhi/Pohon Penerangan
Pohon Bodhi atau pohon penerangan dalam bahasa latin Ficus Religiosa
adalah tempat Sang Buddha duduk mencapai tingkat penerangan sempurna. Pohon
Bodhi di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya ini ada 2 buah dan didatangkan
langsung dari Thailand dan hasil dari cangkokan. Pohon Bodhi ditanam di taman,
ketika orang masuk pintu utama vihara maka akan terlihat pohon bodhi. Dengan
melihat letaknya diharapkan umat Buddha yang datang ke vihara akan langsung
teringat akan kesempurnaan Sang Buddha.
5. Perpustakaan Narada
Dewasa ini perpustakaan juga merupakan sarana yang penting untuk
pembinaan kehidupan beragama di samping menambah ilmu pengetahuan. Umat
Buddha dapat menambah pengetahuan tentang buku-buku yang tersedia di dalam
perpustakaan.68
67
Wawancara pribadi dengan Bhante Jayaratano, Jakarta 8 Mei 2007
68
Perpustakaan Narada ini berada di belakang Uposathgara berhadapan dengan jalan raya. perpustakaan dibangun dua lantai dengan fungsi yang berbeda.
Lantai atas di gunakan sebagai perpustakaan yang dilengkapi dengan
fasilitas-fasilitas perpustakaan, yaitu buku-buku, komputer, audio visual.
Perpustakaan Narada didirikan dalam rangka mengenang seorang bhikkhu
berkebangsaan Sri Lanka bernama Narada Mahatera. Pendiriannya tidak hanya terbatas untuk umat Buddha, namun juga untuk masyarakat umum yang berlainan
agama. Buku-buku yang terdapat di sana tidak terbatas hanya buku-buku agama
Buddha, buku umum dan buku-buku agama lain pun banyak didapati di sana.
6. Kesekretariatan
Gedung ini dibuat menjadi tiga ruangan. Ruang sekretariat, ruang tamu
dan pos keamanan yang mempunyai fungsi yang berbeda. Ruang sekretariat
berfungsi untuk melaksanakan administrasi vihara, menyerahkan dana dan untuk
menyimpan dokumentasi. Ruang tamu digunakan pada saat kunjungan tamu
resmi. Pos keamanan berfungsi untuk menjaga keamanan vihara juga sebagai
tempat informasi.
7. Bursa
Bursa buku vihara dibuatkan gedung yang juga dibagi menjadi tiga
ruangan, yaitu: ruang bursa buku, ruang majalah, dan ruang pemeriksaan
kesehatan (klinik). Bangunan ini digunakan untuk penjualan buku-buku dhamma
dan souvenir yang bercirikan Buddha. Ruang sebelah bursa buku dipakai untuk
pusat kegiatan. Majalah Dhammacakka, majalah ini terbit tri wulan, yaitu:
Waisak, Kathina, Asadha, dan Magha Puja. Ruang yang paling ujung digunakan
untuk pemeriksaan kesehatan.
Replika Candi Pawon ini adalah tempat untuk menyimpan abu para
donatur dan pendiri Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya.
9. Mading
Tempat untuk menempelkan berbagai informasi yang dibutuhkan oleh
umat, baik itu tentang kegiatan vihara maupun informasi lowongan pekerjaan.
10.Bedug atau Gong
Alat ini berfungsi sebagai tanda dimulai dan diakhirinya puja bhakti atau
upacara khusus.
11.Kamar Mandi
12.Taman
13.Parkir.
Lambang-lambang yang terdapat di vihara dimaksudkan untuk
mengingatkan umat Buddha pada ajaran Sang Buddha parinibbana (mangkat), umat merenungkan Sang Buddha dan ajarannya melalui lambang-lambang yang
sesuai. Adapun lambang yang dipakai di vihara Jakarta Dhammacakka Jaya antara
lain rupang, stupa, cakka, dan lambang-lambang yang terdapat di altar.
1. Buddharupang (rupang)
Banyak orang beranggapan bahwa penganut agama Buddha adalah
penyembah berhala, mereka berpikir bahwa di depan Buddharupang umat Buddha menyembah Buddharupang dan meminta-minta segala sesuatu yang di kehendakinya, hal ini tidak sesuai dengan apa yang sesungguhnya dilakukan umat
Buddha di hadapan Buddharupang tersebut.
Dalam melakukan puja kepada Sang Buddha, sesuai dengan ajaran-Nya,
disembah begitu saja. Umat Buddha menghormatinya karena Buddharupang
memiliki makna filosofis yang dalam bagi mereka.69 Buddharupang sebagai lambang pemujaan tidak hanya dipuja sebagai sosok kepribadian. Sang Buddha
yang sangat mulia, melainkan juga karena perjuangan dan ajaran beliau yang
dapat membebaskan manusia dari penderitaan.
Sekalipun Buddharupang hanya terbuat dari kayu, batu, perunggu atau emas, umat Buddha tetap menghormatinya dengan cara beranjali (merangkap
kedua tangan di depan dada) atau bernamaskara (bersujud) di hadapan
Buddharupang, rasa bakti yang dilakukan di hadapan Buddharupang didasarkan rasa terima kasih kepada guru junjungan yang juga merupakan awal atau pintu
memperoleh kebenaran atau paling tidak melakukan kusala kamma (kamma baik). Atas jasa-jasa beliau manusia dapat bebas dari penderitaan, menuju kebahagiaan,
dan mencapai kebebasan.
Rupang diletakkan di setiap bangunan vihara (Uposathagara, Dhammasala,
Kuti dan Perpustakaan), gunanya agar umat mengetahui bahwa rupang merupakan
lambang yang sering digunakan dalam agama Buddha.
2. Stupa
Stupa (sansekerta) atau thupa (pali) adalah suatu monumen yang didirikan sebagai tempat untuk menempatkan abu jenazah sisa kremasi atau benda
peninggalan (relic) dari orang suci atau Cakkavati (raja sejagat). Bentuk stupa adalah melambangkan empat unsur pokok yang berbentuk jasmani manusia, yaitu
tanah, air, api dan udara. Stupa telah ada sejak masa Sang Buddha. Stupa juga
69
dijadikan sebagai objek penghormatan.70 Puja Bhakti maupun penghormatan pada
stupa adalah suatu sikap mental dengan tujuan merenungkan dan selalu ingat akan perbuatan atau perilaku baik orang-orang suci yang peninggalan atau relicnya
terdapat dalam stupa (pada masa hidupnya), agar umat Buddha dapat meneladaninya. Inilah makna dari penghormatan pada stupa tersebut.
Stupa yang ada di vihara Jakarta Dhammacakka jaya adalah stupa dalam
bentuk kecil dan diletakkan di altar.
3. Cakka atau Cakra
Kata cakka atau cakra ini dikenal dalam agama Buddha yang disebut
Dhammacakka (Pali) atau Dhammacakra (Sansekerta) yang berarti roda dhamma, yaitu sebagai lambang permulaan pembabaran dhamma yang diajarkan Buddha
Gotama kepada murid pertama 5 petapa. Lambang ini berbentuk lingkaran, di
dalamnya terdapat ruji-ruji serta porosnya. Semua itu menggambarkan bahwa ban
dari lingkaran roda itu sebagai belas kasihan yang tidak berhenti. Ruji-ruji di
dalam lingkaran itu sebanyak delapan buah adalah menggambarkan Jalan Mulia
Berunsur Delapan, yang harus dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari demi
tercapainya pembebasan mutlak atau nibbana.
Lambang cakka di vihara ini diletakkan di pintu masuk Uposathagara. Lambang-lambang lain yang terdapat di cetiya adalah lampu/lilin, dupa, bunga
dan air.
a. Lampu penerangan
Dalam melaksanakan puja di depan Sang Buddha digunakan lampu
penerangan. Lampu ini melambangkan cahaya yang menerangi kegelapan.
Ruangan yang semula gelap gulita, dapat menjadi terang dengan cahaya lampu.
70
Demikian juga dhamma dapat menerangi batin yang gelap menuju penerangan
sempurna.
b. Dupa atau hio
Di dalam vihara biasanya ada bau harum dari dupa yang ditancapkan di
tempat khusus di altar. Dalam hal ini dupa melambangkan harumnya kebajikan
yang dilakukan oleh siapa saja. Namun bau harumnya dupa tidak dapat melawan
arah angin, sebaliknya bau harumnya kebajikan atau nama baik dapat melawan
arah angin. Dalam Dhammapada disebutkan:
Harumnya bunga tak dapat melawan arah angin. Begitu pula harumnya kayu
cendana, bunga tagara dan melati. Tetapi harumnya kebajikan dapat
melawan arah angin; harumnya nama orang bajik dapat menyebar kesegala
penjuru.71
Harum juga nama Sang Buddha karena beliau penemu jalan kebenaran.
Inilah yang patut direnungkan dengan objek dupa yang ada.
c. Bunga
Bunga adalah lambang ketidakkekalan (Anicca), bunga segar yang diletakkan di altar setelah beberapa waktu akan menjadi layu. Begitu pula dengan
badan dan jasmani, suatu waktu pasti akan menjadi tua, lapuk dan akhirnya mati.
Pada saat dipetik dan dipersembahkan di cetiya, bunga masih segar dan harumnya
membuat altar kelihatan indah dan agung namun beberapa waktu kemudian akan
layu dan hancur. Begitulah ketidak kekalan (anicca) akan dialami oleh setiap
perpaduan dari unsur-unsur baik yang hidup ataupun yang mati.
d. Air
Air dalam agama Buddha melambangkan kerendahan hati, kesejukkan,
kemurnian, dan kebersihan karena air mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
71
• Air dapat membersihkan noda-noda.
• Air dapat memberikan tenaga hidup kepada makhluk-makhluk.
• Air dapat menyesuaikan diri dengan semua keadaan.
• Air selalu mencari tempat yang rendah.
• Air kelihatannya lemah, akan tetapi suatu saat akan menjadi tenaga yang
sangat besar.
Selain itu air juga melambangkan kesucian, oleh karena itu hendaknya
manusia mampu berbuat seperti air. Sifat air yang dapat membersihkan kekotoran
memberikan arti tersendiri dalam kehidupan manusia. Bagaikan air manusia juga
dapat membersihkan segala kekotoran batinnya dengan cara melaksanakan
meditasi.
Kegiatan yang dilaksanakan di Vihara Dhammacakka Jaya ini meliputi
kegiatan keagamaan, pendidikan keagamaan dan kegiatan sosialkeagamaan.
1. Kegiatan Keagamaan a. Kegiatan Rutin
Kegiatan rutin adalah kegiatan yang dilaksanakan berulang-ulang dalam
jangka panjang. Kegiatan yang dilakukan secara rutin oleh umat Buddha ialah
pemeriksaan kesehatan, pemberkatan perkawinan, latihan meditasi, puja bhakti
umum, puja bhakti remaja, puja bhakti sore, puja bhakti mahasathi, puja bhakti
uposatha, puja bhakti lanjut usia. Kebaktian-kebaktian ini dilakukan dengan
membaca paritta, meditasi, permohonan Pancasila, permohonan Atthasila (bila dihadiri oleh bhikkhu), mendengarkan dhamma. Rangkaian puja bakti ini biasanya
dilakukan di seluruh vihara agama Buddha.
Kegiatan berkala adalah kegiatan yang dilakukan berulang-ulang pada
waktu tertentu dan beraturan. Kegiatan yang dilakukan berulang-ulang adalah
memperingati hari raya Tri Suci waisak, asadha, kathina, dan magha puja, donor
darah, perayaan HUT SIMA Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya.
c. Kegiatan Khusus
Kegiatan keagamaan yang dilakukan secara khusus, yaitu: Pabbajja dan
Upasampada. Pabbaja artinya meninggalkan rumah memasuki kehidupan tak berumah tangga. Orang yang telah mengikuti Pabbajja dipanggil samanera (calon bhikkhu), sedangkan orang yang telah di Upasampada disebut bhikkhu.
1. Kegiatan Pendidikan Keagamaan a. Kelas Dhamma
Untuk mengetahui ajaran Sang Buddha, umat tidak hanya mendengarkan
dhammadesana yang diadakan satu kali dalam seminggu. Sisi lain untuk mengerti ajaran Sang Buddha adalah dengan cara mengikuti kelas dhamma. Pada kelas
dhamma umat bisa menanyakan yang belum dimengerti. Ini sangat baik bagi
pemula yang sedang belajar dhamma, karena mereka dapat menanyakan dhamma
yang belum diketahui. Ada lima manfaat yang diperoleh seseorang yang sering
mendengarkan dhamma, yaitu:
1. Assutim sunati : mendengarkan sesuatu yang belum pernah didengar, belajar mengetahui sesuatu yang
belum pernah diketahui.
2. Sutam pariyodapeti : sesuatu yang pernah didengar, dilaksanakan dengan tekun untuk mendapatkan kenyataan.
4. Ditthim ujum karoti : berpandangan yang benar. 5. Cittamassa pasidati : pikirannya bersih.72
Setelah menyadari manfaat belajar dhamma maka akan banyak orang yang
semakin tertarik mengikuti kelas dhamma.
b. Sekolah Minggu
Buddha Dhamma perlu diajarkan kepada anak-anak. Pengenalan Buddha
dhamma kepada anak sebaiknya dilakukan sejak dini. Dengan demikian maka
pribadi anak akan terbentuk dengan baik karena dhamma merupakan landasan
pembentukan pribadi yang baik. Sekolah minggu merupakan pendidikan
pengenalan Buddha Dhamma kepada anak. Pada hari minggu vihara mengadakan
sekolah minggu untuk anak-anak. Buddha Dhamma disampaikan kepada anak
dalam bentuk cerita, nyanyian ataupun praktek langsung dalam hal tata cara
kebaktian.
c. Kesenian
Kesenian merupakan curahan hati bagi seseorang yang berjiwa seni
melalui lantunan sebuah lagu misalnya, seseorang dapat menuangkan buah
pikirannya. Banyak umat Buddha yang berjiwa seni, mereka akan merasa lebih
mudah menuangkan dhamma lewat karya seninya dari pada harus menuangkan
dhamma dengan metode lainnya.
2. Kegiatan Sosial Keagamaan
Aksi sosial adalah salah satu kegiatan dalam bentuk dana. Dana yang umat
berikan dapat berupa uang, makanan, pakaian, donor darah, dan lain-lain. Setelah
72
dana tersebut terkumpul, maka disalurkan melalui seksi sosial ke tempat-tempat
yang membutuhkan. Kegiatan sosial tersebut dapat dilaksanakan di vihara.
Dengan melakukan aksi sosial ini maka umat telah melaksanakan salah satu ajaran
Sang Buddha.
B. Pelaksanaan Puasa (Uposatha) di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya
Dalam agama Buddha pelaksanaan sila dalam bentuk peraturan pelatihan
itu berbeda-beda, hal ini disesuaikan dengan kelompok umat Buddha tersebut
menjalani kehidupannya. Dalam hal ini umat Buddha terbagi menjadi dua bagian,
yaitu:
1. Gharavasa (perumahtangga), yaitu orang yang menjalani hidup berkeluarga atau tidak, mempunyai pekerjaan seperti: petani, pedagang, militer, dan
lain-lain yang memberikan penghasilan untuk biaya kehidupan mereka.
2. Pabbajita, yaitu orang yang meninggalkan kehidupan berumah tangga (keduniawian) dan menjalani hidup suci untuk mencapai nibbana. Pabbajita
tidak mempunyai pekerjaan, hidupnya dari menerima dana yang layak bagi
seorang petapa dari umat perumah tangga (gharavasa) yang memiliki saddha
(keyakinan) dan simpatik. Pabbajita ini terdiri dari bhikkhu (laki-laki), bhikkhuni (perempuan), samanera (laki-laki) dan samaneri (perempuan).73
a. Puasa Bagi Umat Awam
Umat Buddha yang menjalani hidup berkeluarga di dalam masyarakat
disebut Upasaka dan Upasika. Kata Upasaka berarti yang duduk dekat dengan guru. Kadang-kadang disebut pula umat yang berpakaian putih. Di dalam
kehidupan sehari-hari upasaka dan upasika, mereka melatih diri untuk
73