Neuferts, Ernst. & Amril, Sjamsu. (1995). Data Arsitek Jilid 2, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Ching, Francis DK. (1985). Bentuk, Ruang dan Tatanan. Jakarta: Erlangga
ChangeLab Solutions. 2014. Human-Scale Building Façade, (Online),
(http://changelabsolutions.org/childhood-obesity/human-scale-building-facade, diakses 7 Mei 2016).
Tentang Salihara 2013. Tentang komunitas Salihara (online),
(http://www.salihara.org/aboutus#about-us)
Badan Pusat Statistik Sumatera Utara. 2012. Suhu Udara Rata-rata Kota Medan Tahun
2012, (Online), (http://sumut.bps.go.id/?opt=1&qw=tstasek&kd=2401, diakses 12 Maret 2016).
Juwana, J.S. (2005). Panduan Sistem Bangunan Tinggi, Penerbit Erlangga, Jakarta.
www.wikipedia.org/spaces diakses pada tanggal 25 Desember 2016 www.archdaily.com diakses pada tanggal 15 Januari 2016
Wilson, Forrest. (1971). Structure the Essence of Architecture. New York : Van Nostrand Reinhold Company.
Saputra Nur Muhammad Firman,2014.Struktur Sebagai Elemen Estetis Dalam Rancangan Pengembangan di Kawasan Institut Teknologi Nasional Bandung. http://Jurnal-Online-Institut-Teknologi-Nasional.com
Schodek, Daniel L. 1999. Struktur, edisi kedua, terj. Ir. Bambang Suryoatmono, M.Sc., Ph.D. Jakarta : Erlangga.
Ching, Francis DK. 1996. Arsitektur: Bentuk-Ruang & Susunannya, terj. Ir. Paulus Hanoto Adjie. Jarata:Erlangga
Lawson,Fred, Conference, Convention and Exhibition Facilities, The Architecture Press, London, 1981.
Shelen Liem.,2009.”Ekspresi Struktur sebagai Kejujuran bentuk“ Kilas Jurnal Arsitektur.
BAB III METODOLOGI
Diagram 3.1 Metodologi Judul Proyek
Kuala Namu Convention And Exhibition Centre
Latar Belakang
Kurangnya fasilitas hiburan dan pertemuan seperti eksebisi dan convention hall, sebagai sarana pendukung wilayah Kuala Namu untuk menjadi pusat bisnis dan komersil.
Tujuan
Merancang dan merencanakan sebuah bangunan bentang lebar yang dapat mewadahi kegiatan pertemuan, bisnis dan seni dalam skala besar.
Permasalahan
Bagaimana memahami dan menerapkan tema yang berkaitan
dengan teknologi bangunan, serta mewujudkannya pada bangunan melalui proses perancangan dan pendekatan sehingga dapat diterapkan pada desain.
Bagaimana menciptakan bangunan yang sesuai dengan
kondisi site dan nyaman bagi penghuni.
Bagaimana pembangunan hunian ini dapat membantu
perkembangan site menjadi wilayah berkembang.
Pengumpulan Data
Studi Literatur
Studi permasalahan di lapangan
BAB IV
ANALISA PERANCANGAN
VI.1 Analisa kondisi tapak dan Lingkungan
VI.1.1 Analisa Lokasi
Gambar 4.1 Foto Lokasi Site Dari Satelit (Sumber: Google Earth)
Lokasi proyek Kuala Namu Convention And Exhibition Centre ini terletak di Kecamatan Batang Kuis. Kecamatan Batang Kuis, adalah salah satu kecamatan dari 22 kecamatan yang berada di Kabupaten Deli Serdang. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 Tentang Rencana Ruang Wilayah Nasional, Kabupaten Deli Serdang merupakan andalan dan kawasan strategis nasional bersama dengan Kota Medan, Binjai dan sebahagian wilayah Kabupaten Karo, yang disebut sebagai kawasan perkotaan metropolitan Mebidangro, yang merupakan kawasan yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh yang sangat penting secara nasional terhadap kedaulatan negara, pertahanan dan keamanan negara,
Peta Indonesia Peta P.Sumatera Peta Prov.Sumut
di Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Kecamatan Batang Kuis terdiri atas 11 Desa, dan 72 Dusun. Sejalan dengan rencana pemindahan Bandara Internasional Polonia- Medan ke Bandara Internasional Kuala Namu yang berbatasan dengan Kecamatan Batang Kuis, kecamatan ini terus berbenah diri menjadi Kecamatan GAPURA (Gerbang Dan Pintu Utama Menuju Bandara). Selanjutnya, melalui kebijakan lokal Pemerintah Kabupaten Deli Serdang yang dinamakan Gerakan Deli Serdang Membangun , sampai dengan akhir tahun 2010, kecamatan ini mampu menghimpun partisipasi swadaya masyarakat dan pengusaha senilai Rp.17.735.160.000. Atas prestasi tersebut, pada tahun 2008 itu pula kecamatan ini ditetapkan sebagai juara ketiga Kecamatan Terbaik Tingkat Provinsi Sumatera Utara.
Gambar 4.2 Lokasi Eksisting Site (Sumber : Google Earth)
Lokasi site Kuala Namu Convention & Exhibition Centre ini berada di Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Luas lahan ± 3 Ha dengan sebagian besar didominasi oleh perkebunan.
Deskripsi kondisi eksisting lokasi sebagai tapak rancangan: Kasus Proyek : Bangunan bentang lebar
Status Proyek : Fiktif
Lokasi Lahan : Jalan Bandar Udara Kuala Namu
Luas Lahan : ± 3 Ha
Kontur : Relatif Datar
KDB : 40 – 70 %
KLB : 4-8 lantai
Potensi Lahan :
1. Berada pada kawasan bisnis dan komersil 2. Transportasi sangat lancar dan baik 3. Luas site yang mendukung
4. Berdekatan dengan sarana penginapan
IV.1.3 Analisa Sirkulasi
Gambar 4.5 Analisa Sirkulasi Site (Sumber: Hasil Survey)
Gambar 4.6 Foto A sirkulasi menuju Bandara KNO Gambar 4.7 Foto B sirkulasi menuju site (Sumber: Hasil Survey) (Sumber: Hasil Survey)
Sirkulasi kendaraan di sekitar kawasan cukup lengang dilewati kendaraan karena jalur ini merupakan jalur lingkar luar Kota Medan, jalur Jalan Bandar Udara Kuala Namu ini cukup lebar sehingga tidak terjadi macet.
Tanggapan : 1. Jalan ini dijadikan sebagai akses utama untuk menuju site.
2. Namun, untuk mengantisipasi kemacetan masuk menuju site,ada alternatif jalan di sisi kanan dan kiri site yang dijadikan sebagai pintu masuk utama.
Adanya beberapa signage disekitar site, untuk menandakan rest area yang tepat berada di depan site. Serta rambu lalu
lintas yang terdapat di median jalan. Tidak ada sumber kemacetan yang ada di jalan utama menuju site,kondisi jalan
IV.1.4 Analisa Vegetasi dan Pedestrian
Gambar 4.8 Analisa Vegetasi Site (Sumber: Hasil Survey)
Tanggapan : 1. Vegetasi yang sudah ada dapat dikembangkan dan ditata ulang.
2. Pepohonan dan vegetasi yg sudah ada dapat dirawat hingga tumbuh dengan baik.
3. Jalur pedestrian pada jalan ini belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan pejalan kaki, namun dibeberapa bagian sudah ada pedestrian yang dapat dipertahankan.
IV.1.5 Analisa Pencapaian
6) Pencapaian dari jalan Bandar Udara Kuala Namu menuju lokasi site dapat dilalui berbagai jenis moda transportasi, seperti kendaraan pribadi roda dua/empat, kendaraan umum (becak, taksi, ojek, bus, mobil pribadi maupun mobil pengangkutan barang. Namun transportasi umum seperti angkot tidak masuk melalui jalan ini.
7) Kendaraan yang mendominasi jalan ini yaitu mobil dan bus.
Tanggapan: 1. Pencapaian menuju lokasi site dapat dicapai dengan berbagai macam jenis transportasi, selain angkot.
Vegetasi yang ada di sekitar site seperti:
1. Pohon sawit
2. Entrance utama akan dibuat terhadap Jalan alternatif di bagian sisi sebelah kanan site, demi memudahkan pengunjung untuk mengakses site serta mengurangi beban kepadatan kendaraan pada jalan utama.
IV.1.6 Analisa View
Gambar 4.9 Analisa View Site (Sumber: Hasil Survey)
A B C D
View dari dalam keluar site dari posisi ini cukup baik, karena lahan masih asri dan ditumbuhi pepohonan
Pada titik ini, view yang dapat dilihat sangat baik, yaitu menghadap ke area publik.
View yang dapat dilihat cukup baik, karena aliran anak sungai yang tenang namun tidak tercemar.
Pada view ini, yang dapat di lihat hanya perkebunan sawit pada eksisiting site.
Tanggapan: 1. Pada titik B perlu bukaan yang baik, namun karena menghadap barat, fasad bangunan dapat didesain sedemikian rupa dengan shading atau secondary skin dan desain fasad yang menarik, karena bagian view ini langsung menghadap jalan utama. Dan juga dapat dibuat jalur pedestrian sehingga view ke luar site dapat dinikmati dari dalam bangunan maupun dari luar site.
2. Pada titik A dan D dapat memaksimalkan bukaan, dan dapat dijadikan area side entrance atau area servis.
IV.1.7 Analisa Kebisingan
Gambar 4.10 Analisa Kebisingan Site (Sumber: Hasil Survey)
IV.1.8 Analisa Bangunan Sekitar
Bangunan disekitar site didominasi oleh lahan kosong yang ditanami oleh pohon sawit, namun ada juga beberapa rumah warga dan ruko dengan ketinggian 1-3 lantai. Pada bagian sebelah Barat site terdapat The Crew Hotel dengan ketinggian 8-10 lantai yang menjadi area komersil dan rest area. Selain itu pada area Terminal Building, terdapat Bandar Udara Kuala Namu yang menjadi landmark Kuala Namu saat ini.
A : Sumber kebisingan sedang terdapat pada bagian timur site,karena terdapat beberapa perumahan warga.
B : Sumber kebisingan terdapat pada area taman dan hotel yang terdapat pada area komersil ini. Sumber ini berada di depan jalan utama,namun jalan ini tidak terlalu ramai.
C : Sumber kebisingan yang terdapat pada area ini sangat rendah, karena masih belum ada bangunan yang dibangun.
Gambar 4.11 Bandar Udara Internasional Kuala Namu Gambar 4.12 The Crew Hotel (Sumber: Hasil Survey) (Sumber: Hasil Survey)
IV.1.9 Sarana dan Prasarana
Prasarana yang mendukung pada lokasi site di antaranya:
Jalan menuju site cukup lebar dan dengan laju lalu lintas yang lancar, memungkinkan untuk sirkulasi yang lancar.
Fasilitas saluran air dan pedestrian
Fasilitas air bersih
Gambar 4.13 Foto lampu jalan Gambar 4.14 Foto tanda PDAM Gambar 4.15 Jalur pedestrian Gambar 4.16 Tiang listrik site (Sumber: Hasil Survey) (Sumber: Hasil Survey) (Sumber: Hasil Survey) (Sumber: Hasil Survey)
Sarana yang mendukung pada lokasi site meliputi bidang komersil,ekonomi dan sosial di antaranya:
Hotel
Tempat peribadatan
IV.1.10 Analisa Utilitas
Gambar 4.17 Analisa Utilitas Site (Sumber: Hasil Survey)
Jalur Drainage
Tiang Listrik
Tiang Telepon
Jarak tiap tiang listrik 14 meter, dan dengan ketinggian 12 meter. Letak beberapa utilitas site seperti yang terlihat mempunyai letak atau posisi yang teratur, namun masih banyak kabel tiang listrik yang masih tidak teratur. Kondisi drainage yang ada disamping site, memiliki lebar 20 meter dengan kedalaman sekitar 13-20 meter. Jalur drainage berasal dari sungai Hitam ke Pantai Timur.
Tanggapan : 1. Posisi lampu jalan yang sudah teratur dapat di tata ulang kembali.
IV.1.13 Analisa Matahari
Gambar 4.20 Analisa Matahari (Sumber: Hasil Survey)
Keadaan site menghadap utara – selatan, maka pengolahan penempatan area yang tepat disesuaikan dengan kebutuhan sinar matahari dan penerangannya. Pada area timur bangunan dimanfaatkan memiliki bukaan yang cukup lebar/ luas untuk masuknya sinar matahari pagi. Pada area barat bangunan diberi buffering untuk mengurangi radiasi matahari yang masuk secara berlebihan ke dalam bangunan.
Tanggapan: 1.Penambahan vegetasi di bagian barat bangunan dapat mengurangi radiasi matahari yang masuk di sekitar site.
2. Sisi pendek site menghadap ke timur-barat. Pencahayaan alami dapat masuk pada siang hari, sedangkan pada pagi dan sore hari cahaya masuk melalui celah-celah bangunan.
IV.2 Analisa Fungsional
IV.2.1 Ruang
4.2.1.2 Kapasitas Ruang
Ada 2 cara untuk menghitung kapasitas ruangan. Pertama yaitu dengan studi banding , kedua dengan studi literatur.
1. Studi Banding
2. Studi literatur
Menurut Fred Lawson Jenis ruang dan fasilitas yang tersedia dalam ruangan Convention and Exhibition Centre menurut Fred Lawson (1981; hal. 91) adalah sebagai berikut :
a) Ruang Konvensi Utama, berjumlah satu atau dua dengan kapasitas antara 1000 – 3000 tempat duduk.
b) Ruang Konvensi sedang atau ballroom berjumlah dua atau tiga buah dengan kapasitas 200 – 500 tempat duduk.
c) Ruang pertemuan berjumlah empat sampai sepuluh buah dengan kapasitas antara 20 – 50 tempat duduk.
d) Exhibition Hall.
e) Servis food untuk peserta konvensi. f) Monitor televisi dan broadcasting.
g) Pelayanan pers, cenference organizer untuk delegasi. h) Pelayanan penggandaan, printing, dan penerjemah bahasa. j) Pelayanan parkir untuk delegasi (VIP) dan parkir umum.
IV.2.2 Suasana Ruang dan Bentuk
Analisa bentuk bangunan adalah suatu penganalisaan terhadap karakter maupun visualisasi yang akan ditampilkan pada bangunan. Bentuk merupakan penghubung ruang dalam dengan lingkungan luar bangunan. Bentuk terdiri atas elemen-elemen seperti ukuran, warna, tekstur, posisi, orientasi, dan massa. Semua elemen ini bertujuan untuk mewujudkan citra dan tampilan bentuk bangunan (Ching 2000;33)
Pemilihan bentuk dasar bangunan dipertimbangkan terhadap faktor-faktor: a) Kesesuaian bentuk site
b) Orientasi bangunan c) Konstruksi bangunan d) Efisiensi ruangan
e) Ekonomi bangunan
Bentuk arsitektural adalah titik temu antara massa dan ruang. Bentuk-bentuk arsitektural, tekstur, material, pemisah antara cahaya dan bayangan, warna merupakan perpaduan dalam menentukan mutu atau jiwa dalam penggambaran ruang (Ching 2000;33)
Terdapat beberapa komposisi bentuk untuk mempermudah identitas dari bangunan itu sendiri
Tabel 4.1 Jenis-jenis Pola Bentukan
No. Bentuk Gambar Keterangan
1. Bentuk Terpusat
Terdiri dari sejumlah
bentuk sekunder yang mengelilingi satu bentuk
dominan yang berada
tepat di pusatnya
2. Bentuk Linier
Terdiri atas
bentuk-bentuk yang diatur
berangkaian pada sebuah baris.
bentuk yang tergabung
bersama-sama karena
saling berdekatan atau
saling memberikan
kesamaan sifat visual.
5. Bentuk Grid
Merupakan
bentuk-bentuk modular yang
dihubungkan dan diatur
oleh grid-grid tiga
Dari pola-pola bentukan diatas diharapkan perancangan konvensi dan eksibisi ini, dapat menghasilkan bentukan dan suasana ruang yang bisa difungsikan.
Hubungan simbiosis antara bentuk dan ruang pada tiap tingkat tidak hanya diperhatikan bentukannya saja, namun juga suasana ruang disekitarnya. Pada skala tapak pada suatu bangunan, ada beberapa strategi untuk menggabungkan bentuk suatu bangunan terhadap ruang sekitar.
Menurut Ching 2000;96 suatu bangunan dapat:
1. Membentuk dinding sepanjang sisi tapak dan membentuk ruang-ruang lebar yang positif
2. Mengelilingi dan melingkupi suatu halaman atau ruang atrium didalam volumenya.
3. Menyatukan ruang interior dengan ruang luar pribadi pada suatu tapak yang dipagari oleh dinding tembok.
4. Melingkupi tapaknya sebagai ruang luar.
5. Berdiri sebagai bentuk yang jelas didalam ruang dan mendominasi tapak tersebut. 6. Merentang keluar dan meciptakan suatu muka yang luas menghadap pada suatu
arah tapak tersebut.
7. Berdiri sebagai bentuk positif didalam ruang negatif.
Selain itu, organisasi ruang sangat lah penting disetiap bangunan yang ada. Karena merupakan sebuah karakter bentuk yang ada agar dapat berfungsi sesuai dengan kebutuhan, dapat menciptakan alur gerak, dan jarak yang ditempuh lebih pendek.
Berikut ini merupakan pola-pola dari organisasi sebuah ruang:
Tabel 4.2 Jenis-jenis Pola Organisasi Ruang
No Pola Gambar Keterangan
1. Organisasi Terpusat Sebuah ruang dominan terpusat
dengan pengelompokan sejumlah
2. Organisasi Linier Suatu urutan dalam satu garis dari ruang-ruang yang berulang.
3. Organisasi Radial Sebuah ruang pusat yang menjadi
acuan organisasi-organisasi ruang linier berkembang menurut arah jari-jari.
4. Organisasi Cluster Kelompok ruang berdasarkan
kedekatan hubungan atau bersama-sama memanfaatkan satu ciri atau hubungan visual.
5. Organisasi Grid Kelompok ruang berdasarkan
kedekatan hubungan atau bersama-sama memanfaatkan satu ciri atau hubungan visual.
Sirkulasi pada perancangan Convention dan Exhibition ini sangatlah diperlukan sebagai penentuan arah, hubungan antar ruang, pencapaian, agar kita dapat dapat merasakan ruang-ruang yang ada dan dapat mempengaruhi persepsi kita terhadap bentuk dan ruang yang terdapat di Convention dan Exhibition ini.
1. Sirkulasi Pencapaian
Pendekatan kesebuah bangunan dan jalan masuknya mungkin berbeda-beda dalam waktu tempuh, dari beberapa langkah menuju ruang-ruang singkat hingga suatu jalur panjang yang berbelok-belok. Pada perancangan Exhibition dan Convention ini, pengaplikasiannya jarak antara jalan masuk menuju ruang yang dituju singkat, agar tidak membuat jenuh pengunjung yang ada.
Sirkulasi pencapain terdapat 3 jenis yaitu:
Tabel 4.3 Jenis-jenis Pola Pencapaian
No Pola Gambar Keterangan
1. Langsung Suatu pendekatan yang engarah
langsung ke suatu tempat masuk, melalui sebuah jalan lurus, yang segaris dengan alur sumbu bangunan.
Tujuan visual yang mengakhiri
pencapaian ini jelas, dapat
merupakan fasad muka seluruhnya dari sebuah bangunan atau suatu
perluasan tempat masuk dalam
sebuah bidang.
2. Tersamar Pendekatan yang samar-samar
meningkatkan efek perspektif pada fasad depan dan bentuk suatu bangunan.
3. Berputar Sebuah jalan berputar
memperpanjang urutan pencapaian, dan mempertegas bentuk tiga dimensi
suatu bangunan dan bergerak
mengelilingi bangunan.
2. Sirkulasi Konfigurasi Alur
Sifat konfigurasi jalan mempengaruhi atau dipengaruhi oleh pola organisasi ruang-ruang yang dihubungkannya. Konfigurasi jalan dapat memperkuat organisasi ruang dan mensejajarkannya.
Pola sirkulasi konfigurasi ada 5 jenis, diantaranya:
Tabel 4.4 Jenis-jenis Pola Konfigurasi Alur
No Pola Gambar Keterangan
1. Linier
2. Radial
Konfigurasi radial memiliki jalan-jalan lurusyang berkembang dari atau berhenti pada sebuah pusat, titik bersama.
3. Spiral (berputar)
Konfigurasi spiral adalah suatu jalan tunggal menerus yang berasal dari titik pusat, mengelilingi pusat dengan jarak yang berubah.
4. Grid
Konfigurasi grid terdiri dari jalan-jalan yang menghubungkan jalan-jalan sejajar yang saling berpotongan pada jarak yang sama dan menciptakan bujur sangkar atau kawasan-kawasan ruang segi empat.
5. Jaringan Konfigurasi jaringan terdiri dari
jalan-jalan yang menghubungkan titik tertentu didalam ruang.
IV.2.3 Program Ruang dan Besaran Ruang
Pendekatan perhitungan kapasitas :
Penentuan kapasitas Kuala Namu Convention & Exhibition Center berdasarkan kapasitas gedung konvensi yang ada di Medan :
Tabel 4.5 Kapasitas Gedung Konvensi dan Eksebisi di Medan
Gedung Kapasitas
Santika Hotel and Convention 3000 org
Medan International Convention Center 2400 org
Tiara Convention 2000 org
Hermes 2000 org
Pardede Hall 1500 org
Griya Dome Convention Center 1200 org
JW Marriott Hotel 1200 org
Selecta Building 1000 org
Uniland 1000 org
Danau Toba Hotel and Convention 1000 org
Kapasitas gedung konvensi di Medan tersebut belum mencukupi untuk kapasitas kebutuhan masyarakat dalam melaksanakan kegiatan konvensi yang berskala internasional, jumlah rata – rata kapasitas gedung yaitu ±2000 orang. Di Medan hanya memiliki satu buah convention yang berkapasitas 3000 org, yaitu Santika Hotel & Convention. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, jumlah wisatawan mancanegara yang datang di Sumatera Utara per tahun mencapai 121.000 orang, dengan rata-rata 10.000 per bulan. Dengan mengasumsikan 10% dari wisatawan mancanegara tersebut datang untuk kegiatan konvensi, maka kapasitas untuk Kuala Namu Convention and Exhibition Centre adalah 3000 orang.
IV.2.2 Tabel Program dan Besaran Ruang
Tabel 4.6 Program Ruang dan Besaran Ruang Konvensi
Tabel 4.7 Program Ruang dan Besaran Ruang Eksebisi
Nama Ruang Standar/org Sumber Kapasitas Unit Luas
Exhibition Lobby 0,8 m2 FL 300 org 1 150
Sirkulasi 20% Subtotal
Total
Sirkulasi 20% Subtotal
Gudang 16 m2 Asm 1 32
Sirkulasi 20% Subtotal
Total
155.2 m2 30 m2
185.2 m2 Art Gallery
Resepsionis 2 m2 NDA 3 1 6
Ruang Pamer 1.2 m2 NDA 100 1 120
Ruang Kerja 2 m2 Asm 50 1 100
Seating Area 2 m2 Asm 30 1 60
Sirkulasi 20% Subtotal
Total
280 m2 56 m2
Tabel 4.Program Ruang dan Besaran Ruang Pengelola
8. Water Tank (Bisa dilantai
6. R.Administrasi 14-18,5 m2 NDA 8 org 1 112
FL :Conference, convention, and exhibition hall, Fred Lawson
NDA :Neufert Data Architect
Asm : Asumsi
Kebutuhan Parkir
Ukuran standart parkir kendaraan :
Standart parkir 1 mobil = 2.5 x 5 m (1 mobil diasumsikan memuat 4 orang) Standart parkir 1 motor = 2 x 1 m (1 kereta diasumsikan memuat 2 orang)
Jumlah maksimal total pemakai bangunan = pengunjung + pengelola + bag, servis = 5000 orang + 40 orang + 20 orang = 5060 orang
Daya tampung parkir untuk pengunjung dan pengelola dan bagian servis adalah :
30 % naik mobil = 30 % x 5060 orang = 1518 orang = 380 mobil.
30 % naik kereta = 30 % x 5060 orang = 1518 orang = 759 kereta.
40 % berjalan kaki = 40 % x 5060 orang = 2012 orang
1. Struktur Bawah (Sub Structure), berfungsi sebagai pemikul dan penerus beban ke tanah secara merata.
Objek Keterangan
1) Pondasi Tiang Pancang
a. Cukup aman untuk menahan gaya, baik itu gaya vertikal maupun horizontal b. Mencapai kedalaman hingga tanah terkeras (8-20 meter)
c. Pengerjaan cepat dan mudah d. Bahan dari beton, baja, dan kayu
e. Menimbulkan getaran dan bunyi yang relatif besar
2) Pondasi Sumuran
a. Digunakan pada tanah rawa-rawa atau lunak
b. Mencapai kedalaman hingga tanah terkeras (4-8 meter) c. Mudah pengerjaan dalam perluasan bangunan
d. Aman dan ekonomis untuk tipe bangunan tingkat rendah 3) Pondasi Bore Pile
a. Cukup aman untuk menahan gaya vertikal
b. Mencapai kedalaman hingga tanah terkeras (>10 meter) c. Pengeboran untuk pengecoran pondasi
d. Digunakan pada tanah yang tidak keras
e. Tidak menimbulkan getaran dan bunyi yang besar
2. Struktur Bawah (Upper Structure), berfungsi menyalurkan beban atau gaya dari atas ke bawah.
a. Struktur badan
Pemilihan struktur badan berdasarkan pertimbangan: 1) Dapat memenuhi kebutuhan fungsi bangunan.
2) Keuntungan struktur yang ekonomis, tahan gempa dan mudah dalam pelaksanaannya. Berdasarkan kriteria diatas maka pada bangunan ini menggunakan sistem struktur truss / space frame dengan konstruksi baja.
penanggulangan kebakaran, sanitasi, elektrikal, penangkal petir, pembuangan sampah, dan sistem akustik yang baik.
Bahan Bangunan
1) Kayu
Ciri-ciri bahan kayu biasa digunakan untuk bangunan rendah, sebagai struktur rangka, dan balok, tidak tahan terhadap rayap, perawatannya pun tergolong intensif.
2) Aluminium
Ciri-cirinya merupakan bahan yang ringan, jenis bahan pabrikan, perlu keahlian khusus untuk merakitnya, sebagai struktur pendukung, dan tahan cuaca tropis.
3) Gipsum
Merupakan bahan yang kedap suara, anti serangga, dapat digunakan pada plafon dan partisi dinding, daya tahan tinggi.
4) Kaca
Merupakan struktur pelingkup, tahan terhadap kelembaban, ringan dan transparan, kuat pada fungsi tertentu kriteria dalam pemilihan bahan dan sistem struktur tergantung dari ketinggian bangunan, faktor teknis/teknologi, faktor fisik dan ekonomis.
IV.3.2 Utilitas
4.3.2.1 Aspek Mekanikal
A. Sistem Penyediaan dan Distribusi Air Bersih
Penyediaan air bersih dapat diperoleh dari PAM atau sumur artetis (deep well boaring) dengan kedalaman 100 meter lebih. Convention Center merupakan bangunan yang cukup tinggi ada dua macam sistem pendistribusian air bersih, yakni :
1) Down Feed System
2) Up Feed System
Air bersih dari saluran PAM atau deep well masuk ke dalam distribusi bangunan dan ditampung dalam ground reservoir, dengan menggunakan pompa air bersih didistribusikan ke tiap-tiap lavatory.
B. Sistem Pengolahan Air Buangan
Sistem pembuangan air kotor dibedakan menjadi 2 yaitu :
A. Sistem pembuangan air bekas
Air bekas yang dimaksud adalah air bekas cucian pakaian, cucian peralatan makan, atau peralatan memasak dan beberapa macam cucian lainnya.Pipa pembuangan digunakan pipa-pipa PVC atau pipa beton dengan diameter yang diperhitungkan ukurannya. Mengingat panjang PVC 4 m, maka tiap 4 m dibuat sambungan atau dihubungkan dengan pipa-pipa lain. Untuk pipa vertikal, hubungannya menggunakan sambungan dengan sudut lebih kecil
dari 90 derajat sehingga tidak terjadi air memgalir balik. Pembuangan air bekas ini dapat dialirkan ke saluran lingkungan atau saluran kota.
B. Sistem pembuangan air limbah
Air limbah adalah air bekas buangan yang bercampur kotoran atau air yang berasal dari lavatory. Saluran air limbah di tanah atau di dasar bangunan dialirkan pada jarak sependek mungkin dan tidak diperbolehkan membuat belokan-belokan tegak lurus, dialirkan dengan kemiringan 0,5 – 1 % ke dalam septictank.
C. Sistem Pengelolaan Sampah
Pembuangan sampah pada Convention Center pada umumnya adalah dengan menggunakan tempat sampah, yaitu sampah dari masing-masing ruangan maupun bangunan, dikumpulkan pada kantong-kantong sampah, kemudian dibuang melalui shaft sampah yang langsung sampai ke lantai dasar, di mana terdapat penampungan sampah. Untuk banguan Convention Center, biasanya karyawan kebersihan mengambil sampah dari tiap unit ruangan
Dapur Toilet Washtafel
Dapur Toilet Washtafel
Penampungan Water
Treatment
Pompa RIOL kota
Kloset Urinoir
Kloset Urinoir
konvensi dan titik-titik peletakan kantung sampah untuk dimasukkan ke tempat penampungan sampah sementara, setelah itu sampah-sampah tersebut akan dialihkan ke luar tapak oleh Dinas Kebersihan Kota yang selanjutnya dibuang ke TPA.
IV.3.2.2 Aspek Elektrikal
A. Sistem Penyediaan dan Distribusi Listrik
Distribusi listrik berasal dari PLN yang disalurkan ke gardu utama. Setelah melalui transformator (trafo), aliran tersebut didistribusikan ke tiap-tiap unit kantor dan fasilitas, melalui meteran yang letaknya jadi satu ruang dengan ruang panel (hal ini dimaksudkan untuk memudahkan monitoring). Untuk keadaan darurat disediakan generator set yang dilengkapi dengan automatic switch system yang secara otomatis (dalam waktu kurang dari 5 detik) akan langsung menggantikan daya listrik dari sumber utama PLN yang terputus. Generator set mempunyai kekuatan 70% dari keadaan normal. Perlu diperhatikan bahwa generator set ini membutuhkan persyaratan ruang tersendiri, untuk meredam suara dan getaran yang ditimbulkan. Biasanya untuk mereduksi getaran dan suara ini digunakan double slab, pada ruang ini juga bisa dilapisi dengan rockwall.
B. Sistem Komunikasi
Berdasarkan penggunaannya, system telekomunikasi dapat dibedakan dalam dua jenis yaitu :
1) Komunikasi Internal
Komunikasi yang terjadi dalam satu bangunan. Alat komunikasi ini antara lain intercom, handy talky (untuk penggunaan individual dua arah).Biasanya digunakan untuk komunikasi antar pengelola atau bagian keamanan. Untuk sistem ini menggunakan PABX (Private Automatic Branch Exchange)
2) Komunikasi Eksternal
C. Sistem Pencahayaan (Ligthting)
Terdapat dua macam system pencahayaan yang dapat digunakan pada Convention Center yaitu:
1) Pencahayaan alami
Dengan intensitas cahaya matahari yang besar, terang langit dapat dimanfaatkan untuk pencahayaan pada siang hari terutama pada
ruangan Eksibisi. Sedangkan ruangan lain yang dapat
memaksimalkan penggunaan pencahayaan alami yaitu ruang servis, ruang pengelola, dan ruang penunjang. Selain itu, lobby juga dapat terkena cahaya alami, sehingga menghemat penggunaan listrik apabila tidak digunakan.
2) Pencahayaan Buatan
Diutamakan penggunaan penerangan buatan pada ruang utama yaitu ruangn konvensi agar dapat menciptakan suasana yang dibutuhkan pada acara. Pada umumnya, system pencahayaan ini digunakan pada seluruh ruangan.
Pada ruangan Eksibisi, untuk menghemat energi maka digunakan sistem-sistem yang dapat menangkap cahaya matahari di siang hari. terlebih lagi acara eksibisi seringnya dilaksanakan di siang hari.
D. Sistem Audio Visual
Perlengkapan sound system dan audio visual yang digunakan adalah sebagai berikut:
1) Public Address sebagai sarana untuk mengumumkan informasi ke seluruh penjuru bangunan
2) Microphone dan speaker, yaitu alat pengeras suara yang digunakan pada ruang utama
3) Film Projector, yaitu alat yang digunakan untuk menampilkan visualisasi pada suatu layar, biasanya digunakan pada auditorium 4) OHP, sebagai alat perlengkapan untuk menampilkan presentasi
5) Simultaneous Interpreting System (SIS) merupakan alat untuk menerjemahkan bahasa yang dibutuhkan pada ruang konvensi, terutama pada ruang konvensi skala besar
6) Audio High fidelity, yaitu alat untuk memberikan suara dan music pada ruang konvensi
7) CCTV, digunakan untuk memantau keamanan pada bangunan
IV.4 Analisa dan Penerapan Tema
IV.4.1 Pendekatan Teknis
Struktur bangunan Pusat Konvensi dan Eksibisi pada umumnya dipengaruhi oleh beberapa aspek seperti kekuatan, bentang, keamanan, dan ketahanan. Penjelasan aspek tersebut dijelaskan dibawah ini:
a. Strenghten / Kekuatan
Struktur bangunan harus kuat karena untuk keamanan juga untuk menjadikan bangunan ini tahan lama sehingga mengurangi biaya renovasi kerusakan.
b. Bentang
Struktur bangunan harus menggunakan bentang lebar karena fungsi dari gedung konvensi eksibisi adalah hall yang digunakan untuk kegiatan berkumpulnya suatu kelompok dalam sebuah acara. Sehingga kehadiran kolom di tengah – tengah ruangan akan menjadi pengganggu.
c. Safety dan Keamanan
Keamanan pada struktur tidak hanya berhubungan dengan kekuatan bangunan saja, namun juga desain struktur yang tidak membahayakan keselamatan pengunjung seperti perletakan balok dan kolom.
d. Durability / Tahan Lama
Bangunan konvensi eksibisi ini diharuskan ekonomis, karena
penggunaannya yang tidak setiap hari. sehingga apabila bangunan itu kuat dan berumur panjang, akan mengurangi biaya renovasi yang tidak terasa akan merugikan pemilik dan pengelola.
a. Struktur rangka ruang / space frame
Struktur rangka atau space frame menyalurkan gaya-gaya 3 dimensional dalam satu ruang secara bersama-sama dengan menggunakan batang-batang baja yang dihubungkan satu dengan lain sehingga membentuk rangka 3 dimensi (Schodek, 1991; hal. 393)
b. Struktur kabel
Struktur atap yang menggunakan kabel baja sebagai penyalur gaya yang tahan terhadap gaya tarik. Bentuk struktur bangunan yang ada hanya mampu menahan gaya tarik atau sering disebut dengan form active structure. Daya tarik yang tinggi dari baja dengan efesiensi tarik murni memungkinkan kabel baja sebagai elemen struktur yang dapat menutup ruang secara efisien (Schodek, 1991; hal. 194)
c. Struktur membran / tenda
Struktur membran murni merupakan struktur atap yang menggunakan membran tipis sebagai penutup atap yang digantung pada satu atau beberapa buah tiang dan tepi membran ditarik dengan kuat dan dipancangkan ke tanah sehingga membran dapat mengembang dan menutup ruangan. (Schodek, 1991; hal. 431) Namun sekarang ini banyak dipergunakan struktur membran tidak murni dengan menggabungkannya dengan rangka baja atupun dengan struktur kabel.
d. Struktur Rangka Kaku
Struktur rangka kaku merupakan struktur yang terdiri dari atas elemen-elemen linear, umumnya balok dan kolom yang saling dihubungkan pada ujung-ujungnya oleh titik hubung yang dapat mencegah rotasi relatif diantara elemen struktur yang dihubungkannya (Schodek, 1991; hal. 362)
IV.4.2 Pendekatan Arsitektural
1. Beberapa kemungkinan struktur atap modern yang memenuhi kriteria dan dapat diterapkan pada Convention Center adalah :
2.
a) Space Truss System (rangka batang ruang)
(ruang).Sering disebut juga sebagai space frame. Space frame atau sistem rangka ruang adalah sistem struktur rangka tiga dimensi yang membentang dua arah, di mana batang-batangnya hanya mengalami gaya tekan atau tarik saja. Sistem tersebut merupakan salah satu perkembangan sistem struktur batang. Struktur rangka ruang merupakan susunan modul yaang diatur dan disusun berbalikan antara modul satu dengan modul lainnya sehingga gaya-gaya yang terjadi menjalar mengikuti modul-modul yang tersusun. Modul ini satu sama lain saling menguatkan, sehingga sistem struktur ini tidak mudah goyah.
Gambar 4.21 Struktur Space Frame (Sumber: Google)
Gambar 4.22 Struktur Beton Bertulang (Sumber: Google)
b) Flat Truss System (rangka batang bidang)
Susunan elemen-elemen linear yang membentuk segitiga atau kombinasi segitiga yang secara keseluruhan berada di dalam satu bidang tunggal.
Bangunan Eksebisi
Rangka Space Frame
Kolom beton +Pipa Besi GIP
3. Ruang pameran atau Eksebisi
Ruang Eksibisi direncanakan menggunakan ruang bebas kolom sehingga penutup atapnya menggunakan rangka berbentang lebar. Untuk layout ruang menggunakan pola grid modular.
Gambar 4.23 Pola Grid Modular (Sumber: Google)
IV.5 Kesimpulan
1) Perancangan dan perencanaan Kuala Namu Convention and Exhibition Centre berada pada daerah yang sedang berkembang di kota Medan yaitu di Kecamatan Batang Kuis.
2) Perancangan dan perencanaan bangunan ini,dilatar belakangi karena kurangnya fasilitas berkumpul dan pertunjukkan seni bagi masyarakat lokal maupun internasional di daerah Kecamatan Batang Kuis.
3) Kuala Namu Convention and Exhibition Centre ini, merupakan bangunan multi-fungsi yang satu sisi digunakan sebagai tempat konfrensi dan disatu sisi lainnya digunakan sebagai area eksebisi yang dapat mewadahi pelaku bisnis serta komunitas seni untuk menampilkan kreatifitas mereka sebagai sarana hiburan di Kecamatan Batang Kuis ini.
4) Site perancangan ini berorientasi ke arah sebelah selatan yang langsung menghadap jalan Bandar Udara Kuala Namu.
6) KDB yang diperbolehkan sebesar 60% didaerah ini menurut RDTR kabupaten Deli Serdang, medan dengan KDH 10%, GSB 10 meter dan ketinggian maksimal yaitu 40%.
7) Daerah lokasi site didominasi oleh lahan kosong atau lahan perkebunan karet dan sawit, yang sebagian membuka toko usaha seperti toko oleh-oleh dan rumah makan. dan fasilitas umum yang terdapat didekat site proyek yaitu sebuah bangunan mesjid.
8) Perancangan dan perencanaan bangunan ini menggunakan pendekatan
terhadap tema struktur sebagai elemen estetis, yang menjadi fokus utama bangunan terletak pada penambahan struktur yang menjadi elemen estetis pada bangunan ini nantinya, dan perancangan fasad bangunan.
9) Luas bangunan total yaitu 14.362 m2 dimana sudah mencakup untuk
BAB V
KONSEP PERANCANGAN
V.1 Konsep Dasar
A. Perancangan Bangunan Melalui Pendekatan Teori Vitruvius
Konsep bentukan massa dipengaruhi oleh kondisi site yang telah dilihat dari analisa dan zoning maka terbentuklah bentukkan site. Kuala Namu Convention and Exhibition Center yang terbentuk dari tema Struktur Sebagai Elemen Estetika.
Hal ini juga disebabkan oleh prinsip penilaian masyarakat pada saat itu hanya rnelakukan Struktur seringkali dianggap dan diperlakukan seperti pipa plambing, kabel listrik dan elemen-elemen servis lainnya yang keberadaannya harus disembunyikan karena struktur tidak indah untuk diperlihatkan penerapan praktis saja, Yang dimaksud penerapan praktis adalah apabila seseorang menilai benda dari segi fungsi atau kegunaannya saja. Namun seiring perkembangan teknologi dalam Arsitektur telah banyak terlihat bangunan bangunan strukturnya. Masyarakat mulai melihat adanya kemungkinan nilai estetika terkandung dalam elemen struktur. Penilaian estetika merupakan penilaian yang cenderung subyektif dimana patokan sesuatu yang dikatakan indah itu tergantung pada pengalaman dan persepsi orang terhadap sesuatu tersebut. Namun terdapat beberapa teori yang menyatakan bahwa penilaian estetika merupakan penilaian yang bisa dijadikan obyektif.
Diagram 5.1 Diagram Pencapaian Arsitektur Menurut Vitruvius
Firmitas
Utilitas
Venustas
B. Bentukan Bangunan
Berdasarkan teori-teori yang dipaparkan sebelumnya, perancang merumuskannya kedalam sebuah bagan yang merupakan proses penerapan suatu tema kedalam rancangan Kuala Namu Convention and Exhibition Center ini seperti berikut:
Bentuk persegi dan lengkungan sebagai bentuk dasar
Gambar 5.1 Bagan proses penerapan tema terhadap bangunan Kuala Namu Convention and Exhibiton Center. Tema : Struktur Sebagai Elemen Estetika
Memiliki 3 aspek penting:
Keindahan (Venustas)
Kekuatan (Firmitas)
Kegunaan (Utilitas)
Penerapan tema struktur dan konstruksi yang tepat
Pemilihan material yang sesuai dengan kondisi lingkungan sekitar bangunan.
Dapat menjadi suatu icon yang dapat diingat oleh pengunjung.
Penerapan tema terhadap bangunan
Adanya struktur tangga yang terekspose pada bagian fasad bangunan yang menjadikan sebuah estetika dan dirancang sedemikian rupa untuk menjadi sebuah keindahan dan daya tarik bangunan.
V.2 Konsep Perancangan Tapak
A. Konsep Tata Ruang Luar
Pada kondisi tapak yang dianalisa perancang, dengan acuan pada analisa sirkulasi, view dan pencapaian, maka posisi massa bangunan akan diletakkan tepat di bagian depan tapak dan menghadap jalan utama. Pembagian fungsi tersebut secara garis besar yaitu :
Gambar 5.2 Konsep Perancangan Tapak
Area Parkir
B. Konsep Gubahan Massa
Gubahan massa pada proyek pembangunan Kuala Namu Convention And Exhibition Center seperti yang terlihat di Gambar 5.3
Gambar 5.3 Konsep Gubahan Massa Keterangan
A : Exhibition Building B : Ruang Transisi C : Convention Area
C. Konsep Sirkulasi Kendaraan dan Tata ruang luar
Gambar 5.4 Konsep Entrance
Entrance Utama Point View
Exit Sirkulasi kendaraan
Entrance Service
D. Konsep Vegetasi
Sesuai dengan perancangan dan perencanaan dengan kondisi tapak site, vegetasi terletak menyebar disekitar site. Vegetasi yang ada disekitar lahan parkir sebagai peneduh, dan penanda arah jalan. Vegetasi pada site direncanakan berupa area yang ditumbuhi oleh rumput hijau yang terdapat kolam dan juga beberapa jenis pohon dengan tingkat kerimbunan yang tidak terlalu tinggi.
Pohon
Gambar 5.5
Pohon tanjung :
Gambar 5.9
Dalam rancangan area hijau dan vegetasi yang dilakukan pada site memilki tujuan diantaranya sebagai berikut:
1) Sebagai pembentuk ruang luar dan pengarah bagi pengguna. 2) Membentuk suasana tapak yang lebih alami.
3) Sebagai sarana penyaring kebisingan dan peneduh (buffer). 4) Sebagai sarana penyerapan air hujan.
D. Konsep Paving
Gambar 5.10
Pohon Dadap Merah : Pohon ini baik ditanam di halaman terbuka, karena bisa mengundang datangnya para burung.
Dan selain itu warna merah juga melambangkan Kehidupan dan kekuatan
Gambar 5.11
Gambar 5.12
Gambar 5.13
V.3 Konsep Perancangan Bangunan
A. Konsep Ruang Dalam
Ruang dalam bangunan yang terdiri dari beberapa fungsi ruangan meliputi zonasi vertikal ataupun horizontal. Bangunan terdiri dari 2 lantai basement,1 lantai untuk fungsi ruang convention dan exhibition hall dengan area khusus serta 2 lantai untuk fungsi kantor pengelola serta kantor sewa. Pembagian area utilitas, servis (parkir), publik, semi publik, dan privat sebagian besar secara jelas terlihat pada zonasi vertikal. 2 Lantai basement merupakan area utilitas dan servis, lantai 1,2, dan 5 merupakan area publik dan semi publik, dan lantai 3,4 merupakan area privat.
Tipe Infiltration yaitu permukaan merembes secara langsung ke dalam tanah melalui jarak atau celah antara unit paving yang satu dengan lainnya
Perkerasan pada pedestrian sekitar bangunan
Gambar 5.14 Zonasi Basement Lantai 1
Gambar 5.15 Zonasi Ground Plan
Utilitas Tangga Darurat Core
Gambar 5.16 Zonasi Lantai 2
Core Tangga Darurat Area Service Area Publik Area Semi Publik
Gambar 5.17 Zonasi Lantai 3
Gambar 5.18 Zonasi Lantai 4
Gambar 5.19 Zonasi Lantai 5
B. Konsep Bentuk dan Estetika Bentuk
Sesuai dengan kondisi eksisting, dimana pada umumnya bangunan yang berada di kawasan dengan lahan kosong berbentuk persegi. Bentuk persegi menjadi konsep dari bentuk dasar pada bangunan covention yang akan di rancang dan
Core Tangga Darurat Area Service Area Private Area Publik
Exhibition Hall dirancang berbentuk persegi untuk menampung jumlah pengunjung dan wisatawan dalam skala yang lebi besar ketika ada pameran,expo dll. Dalam proses pengolahan kebutuhan ruang convention hingga bentuk fasad bangunan bentuk persegi lebih mempermudah pada penempatan furniture hingga alur sirkulasi dan penggunaan material yang sesuai dengan pasaran.
Konsep perancangan yang diambil pada massa bangunan sesuai dengan tema yaitu, Struktur Sebagai Elemen Estetika. Dari bentuk massa bangunannya menyesuaikan dengan orientasi site yaitu persegi, akan tetapi diberikan tambahan dimana struktur tidak hanya sebagai penahan beban, tetapi dapat dirasakan dan lebih dominan pada bagian fasad bangunannya sendiri, sedangkan proporsi besaran gedung disesuaikan dengan kondisi tapak sekitar, agar menjaga kenyaman sirkulasi dan tidak mengganggu lingkungan.
C. Konsep Fasad dan Skyline Bangunan
Gambar 5.20 Konsep Fasad
Gambar 5.21 Skyline Bangunan
V.4 Konsep Perancangan Struktur Bangunan
Konsep dasar struktur bangunan ini, menggunakan fondasi dalam berupa tiang pancang atau tiang bor. Di samping itu, kerap menggunakan fondasi rakit (basement) yang kadang diperkuat dengan fondasi tiang. Pemisahan bangunan (dilatasi) juga terdapat dibangunan ini, untuk memisahkan bangunan convention dengan bangunan sayap,atau bangunan lain yang memiliki kelemahan geometris, agar tidak akumulasi gaya yang sangat besar pada dimensi yang panjang dan menimbulkan retakan atau keruntuhan struktural. Perancangan dan tata letak sirkulasi vertikal seperti lif yang terdapat di posisi tengah dan depan bangunan, dengan jumlah 6 lif untuk kapasitas kurang lebih 3000 orang, serta lif servis lainnya. Selain itu tangga yang terdapat dientrance bangunan yang menjadi estetika struktur juga dapat difungsikan untuk pengunjung, dengan kaca ekspose yang dapat memanjakan mata pengunjung untuk melihat view ke arah jalan utama. Pada bagian penutup bangunan yaitu atap, terdapat jenis struktur rangka space frame yang dilapisi oleh zincalumunium pada kedua fungsi bangunan. Struktur baja ekpose yang terdapat pada pehanan atap serta kolom-kolom ekspose pada bangunan ini diharapkan dapat menciptakan kesan megah dan kokoh. Keseluruhan penutup bangunan menggunakan tempered glass, yang ditopang oleh struktur baja ringan.
hammer) yang dipasang pada mobil derek. Pekerjaan galian dimulai dengan menggunakan berbagai peralatan menggunakan excavator atau shovel.
Gambar 5.22
Pada daerah yang muka airnya tinggi, maka perlu disiapkan sumuran untuk menampung air yang kemudian dipompa keluar
Gambar 5.23
Gambar 5.24
Pengecoran beton pada bangunan tinggi, dilakukan dengan mengangkut adukan beton dari bawah ke elevasi lantai yang dicor dengan ember semen ukuran besar (bucket). Bucket diangkat dengan bantuan alat pengerek tower crane. Adukan beton dari lokasi pembuatan adukan beton dengan truk atau dicampur dilokasi proyek.
BAB VI
HASIL PERANCANGAN
6.1 Visualisasi 3 Dimensi
Gambar 6.1 Gambar 6.2
6.2 Foto Maket
Gambar 6.5 Gambar 6.6
Hasil perancangan pada proyek Kuala Namu Convention and Exhibition Centre merupakan gambar kerja yang meliputi :
1. Site Plan (Lampiran) 2. Grund Plan (Lampiran)
3. Denah Basement 1 (Lampiran)
4. Denah Basement 2 (Lampiran)
5. Denah Lantai 2 (Lampiran) 6. Denah Lantai 3 (Lampiran) 7. Denah Lantai 4 (Lampiran) 8. Denah Lantai 5 (Lampiran)
9. Tampak – tampak tiap sisi bangunan (Lampiran) 10.Potongan AA dan BB (Lampiran)
11.Rencana Pembalokan dan Pondasi (Lampiran) 12.Rencana Elektrikal/ Lantai (Lampiran)
13.Rencana Sanitasi/ Lantai (Lampiran)
14.Rencana Pengkondisian Udara/ Lantai (Lampiran) 15.Rencana Heat Detector/ Lantai (Lampiran)
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Terminologi Judul
Judul dari proyek ini adalah Kuala Namu Convention & Exhibition Centre. Berikut merupakan penjelasan terhadap judul kasus proyek tersebut:
Kuala Namu : Adalah sebuah wilayah dari Kec.Batang Kuis, dengan konsep pengembangan wilayah Aerocity. Dan terdapat sebuah landmark kawasan ini yaitu, Bandar Udara Internasional Kuala Namu, yang melayani kota Medan dan sekitarnya. Bandara ini terletak 39 km dari kota Medan.
Convention : Bangunan besar yang dirancang untuk mengadakan konvensi,
dimana individu dan kelompok berkumpul untuk
mempromosikan dan berbagi kepentingan bersama. Pusat konvensi biasanya menawarkan luas lantai yang cukup untuk menampung beberapa ribu peserta. Tempat yang sangat besar, cocok untuk pameran, dan dikenal juga sebagai pusat pameran. Pusat konvensi biasanya memiliki setidaknya satu auditorium dan mungkin juga mengandung ruang konser, ruang kuliah, ruang rapat , dan ruang konferensi. (Wikipedia.Org)
And : Dan
Exhibition : Exhibition secara umum merupakan gedung multifungsi yang memadukan fungsi eksibisi dan konferensi yang di dalamnya menawarkan area yang cukup untuk mengakomodasi ribuan pengunjung. Exhibition Center menyewakan ruang untuk
pertemuan seperti konferensi perusahaan, pameran
Exhibition center merupakan gabungan yang harus mewadahi 3 fungsi yaitu pertemuan (meeting), konferensi (conference), dan pameran (exhibition). (Lawson, Congress, convention & Exhibition Facilities, 2000)
Centre : 1) Sebuah titik dimana perhatian orang diarahkan (Oxford Advanced Learner’s Dictionary)
2) Sebuah tempat dimana aktifitas-aktifitas tertentu dikonsentrasikan (Oxford Advanced Learner’s Dictionary)
3) Tempat yang berada ditengah-tengah /mengumpul pada suatu dimana segala sesuatu dipusatkan pada tempat tersebut.
II.2 Lokasi
II.2.1 Kriteria Pemilihan Lokasi
1). Tinjauan Terhadap Struktur Kota
Dalam draft Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan sekitar Bandar Udara Kuala Namu merupakan tindak lanjut dari Rencana Tata Ruang Kawasan Bandar Udara Kuala Namu yang telah disusun pada tahun 2006 serta menyelaraskan ketentuan Pasal 14 dari UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang agar rencana tata ruang dapat menjadi acuan operasional pengembangan kawasan sebagaimana yang dimaksud dalam perundang-undangan tersebut, maka diperlukan yang merupakan Rencana Rinci Tata Ruang Kawasan Perkotaan.
Kriteria pemilihan lokasi agar perancangan bangunan Kuala Namu Convention And Exhibition Centre ini dapat dirancang secara maksimal bila:
-
Lokasi site merupakan daerah yang mudah di jangkau untuk wisatawan maupun masyarakat lokal sendiri.- Adanya bangunan konvensi,eksebisi sebagai sarana pertemuan bisnis
- Lokasi site merupakan lahan kosong yang sudah memenuhi kriteria dalam perancangan bangunan ini.
- Sirkulasi site yang efektif bagi pengguna
- Site bukan merupakan lokasi yang dilarang pemerintah untuk pembangunan.
Gambar 2.1 Keadaan Sekitar Site (Sumber: Google Earth)
2). Pencapaian
Dalam hal pencapaian, site harus terletak pada daerah yang mudah dicapai oleh wisatawan lokal maupun internasional. Baik dengan kendaraan pribadi, maupun kendaraan umum.
3). Area Pelayanan
4). Persyaratan Lain
Status kepemilikan lahan : Individu
Nilai Tanah : Harga nilai tanah semakin tinggi dari
harga biasanya, semenjak adanya pembangunan Kualanamu dan banyaknya para investor membeli tanah dengan kepentingan bisnis dari harga per meternya Rp. 300.000 menjadi 1-1,5 juta (Artikel Situs Medan)
II.2.2 Deskripsi Kondisi Eksisting Lokasi Proyek
Gambar 2.2 Kondisi Eksisting Site Proyek (Sumber: Google Earth)
Lokasi site
Lokasi lahan : Jl. Bandar Udara Kualanamu
Kondisi lahan : Relatif datar
Orientasi site : Menghadap ke utara Arah lalu lintas : 2 arah
Eksisting site : Lahan kosong
Luas site : 2 Ha
KDB : 40-70%
Tinggi bangunan : 4-8 Lantai Dengan batas–batas tapak yaitu:
Utara : Lahan kosong
Timur : Sungai
Selatan : Lahan kosong
Barat : The Crew Hotel
II.3 Tinjauan Fungsi
II.3.1 Deskripsi Pengguna dan Kegiatan
Ada 4 karakter pengelompokkan pengguna pada proyek Kuala Namu Convention & Exhibition Centre ini, pengelompokkan antara lain yaitu :
1. Pengunjung, terbagi atas dua bagian yaitu pengunjung yang bersifat khusus dan bersifat umum
a) Pengunjung bersifat umum yaitu pengunjung yang datang untuk bersifat rekreasi, tertarik menikmati pameran untuk memuaskan rasa keingin tahuannya, kegiatannya melihat-lihat objek yang dipamerkan dan jika cocok akan membeli objek yang dipilih. Pengunjung yang dapat mengikuti pelatihan atau komunitas seni sebagai peserta.
c) Penyelenggara/penyewa yaitu orang yang mengorganisir pelaksanaan kegiatan. Penyelenggara adalah kelompok orang yang tersusun dalam sebuah organisasi yang mempunyai jabatannya masing-masing guna melancarkan jalannya acara konvensi atau eksibisi tersebut. Beberapa kelompok penyelenggara antara lain: pelayanan fasilitas yang di butuhkan penyelenggara.
Diagram 2.1 Struktur Organisasi Pengelola Gedung
4. Komunitas seni yaitu sekumpulan orang yang dapat menyalurkan bakat dan sebagai wadah untuk melatih dan mengapresiasikan kreatifitas mereka di bidang seni theater, seni musik dan seni rupa.
II.3.1.1 Segmen Pengguna
1. Trade fair/ exhibition/ pameran pameran yang diselenggarakan secara regional, nasional, dan internasional
2. Rapat asosiasi merupakan kegiatan rapat yang diselenggarakan oleh suatu asosiasi, seperti IDI (Ikatan Dokter Indonesia), IAI (Ikatan Arsitektur Indonesia)
3. Company event merupakan pertemuan yang dilakukan oleh perusahaan besar yang pesertanya merupakan karyawan dari perusahaan tersebut, seperti kegiatan pertemuan perusahaan Honda Motor Indonesia.
4. Program insentif merupakan kegiatan pertemuan yang
diselenggarakan perusahaan besar, pesertanya merupakan karyawan khusus atau dealer khusus dari perusahaan tersebut, yang bisa meningkatkan provit perusahaan
5. Organisasi Internasional merupkan kegiatan yang pesertanya merupakan anggota dari organisasi internasional seperti WWF, OPEC, UNESCO
6. Konser merupakan kegiatan pertunjukan yang di selenggarakan oleh suatu event organiser berskala nasional yang ditampilkan oleh peserta komunitas seni.
II.3.1.2 Kegiatan
Adapun kegiatan di Kuala Namu Convention & Exhibition Centre ini adalah :
A. Pameran
Exhibition center mempunyai kegiatan dalam hal melakukan suatu pergelaran pameran yang mana memamerkan beberapa bentuk objek contohnya :
1) Pameran dagang, seperti furniture expo, pameran komputer, pameran buku, pameran otomotif.
2) Pameran seni, seperti pameran lukisan, patung dll.
3) Pameran jasa, seperti pameran pendidikan, bursa tenaga kerja.
Pada umumnya pameran terdiri dari beberapa bagian yaitu :
2) Pameran umum yaitu pameran yang diselenggarakan terbuka untuk umum
3) Pameran khusus yaitu pameran yang memamerkan satu jenis produk
4) Pameran tunggal pameran yang diadakan oleh satu orang ataupun satu perusahaan kepada calon konsumen
Berdasarkan skala pelaksanaannya pameran dibagi atas : 1) Pameran skala internasional
2) Pameran skala nasional 3) Pameran skala regional 4) Pameran skala lokal
B. Konvensi
Merupakan kegiatan pertemuan sekelompok orang, seperti:
1) Kegiatan konfrensi yang dilakukan oleh sekelompok orang seperti kelompok industri, pelaku bisnis, dan staf pemerintahan. 2) Kegiatan seminar lokakarya dan penataran.
3) Resepsi yaitu acara yang bersifat informal seperti acara silaturahmi, ulang tahun, dan pernikahan.
4) Kongres merupakan kegiatan pertemuan berupa diskusi untuk menyelesaikan beberapa masalah, merupakan jenis kegiatan pertemuan besar yang bersifat formal untuk bertukar informasi, mencari pemecahan terhadap suatu permasalahan.
5) Workshop merupakan kegiatan pertemuan dimana kegiatan ini membahas sesuatu dan memberi pelatihan secara bersama-sama antar kelompok.
6) Peserta, sehingga para peserta mendapatkan ilmu, wawasan dan keahlian seperti workshop desain dan fotografi
7) Kuliah umum
8) Panel yang yang berupa tanya jawab oleh dua atau lebih kelompok peserta
9) Forum, merupakan kegiatan diskusi dua arah dimana
C. Pergelaran
Yaitu kegiatan berupa penampilan yang bersifat menghibur seperti pergelaran seni, drama dan theater serta musik.
D. Kegiatan kelompok penunjang
Yaitu kelompok kegiatan yang mendukung keberlangsungan kegiatan seperti kegiatan pengelolaan, sistem manejemen/teknis bangunan, dan kegiatan lainnya yang berfungsi menghidupkan mobilitas manusia di dalam bangunan.
II.3.2 Deskripsi Perilaku
II.3.2.1 Karakteristik Pengguna
Berdasarkan sifat aktifitas yang dilakukan, prilaku dari pengguna Kuala Namu Convention & Exhibition Centre terbagi atas 2 yaitu:
a) Bersifat Stastis
Perilaku pengguna bangunan lebih bersifat menetap pada satu tempat. Kebiasaan ini merupakan kegiatan yang bersifat rutinitas maupun sementara dengan intensitas waktu yang lama sebagai contoh pengelola.
b) Bersifat Dinamis
II.3.2.2 Alur Kegiatan Pengguna
a. Analisa sirkulasi Pengunjung
Diagram 2.2 Analisa Sirkulasi Pengunjung
b. Analisa sirkulasi Penyelenggara dan Peserta Pameran
c. Analisa sirkulasi Pengelola
Diagram 2.4 Analisa Sirkulasi Pengelola
II.3.3 Deskripsi Kebutuhan ruang dan Besaran ruang a. Kebutuhan Ruang
1. Lobby 11. Gallery
2. Healing Park 12. Loading Dock
3. Waiting/Dressing room 13. Kantor Sewa
4. Multifunction Hall 14. Ruang Keamanan
5. Exhibition Hall 15. Musholla
6. Kantor Pengelola
7. Meeting Room
8. Convention Room
9. Gudang
10.Parkir
Parkir
Main Entrance
Lobby
R.Rapat Toilet
R.Direktur
R.Sekretaris
R.Staff
R.Arsip
Tabel 2.1 Kebutuhan Ruang (Sumber: Hasil data primer)
1. Kelompok pengelola
No. Aktifitas Pelaku Sifat Ruang
1. Mengelola
2. Mengelola finansial Kabag finansial
Sekretaris
Staff bag.finansial
Privat Ruang kerja kabag
Ruang tamu
Ruang sekretaris
3. Mengelola pemasaran Kabag pemasaran
Sekretaris
Staff pemasaran
Privat Ruang kerja kabag
Ruang tamu
Privat Ruang kerja kabag
Ruang tamu
Privat Ruang kerja kabag
Ruang tamu
Privat Ruang kerja kabag
Ruang tamu
Ruang sekretaris
2. Kelompok pengunjung
No. Aktifitas Pelaku Sifat Ruang
1. Melihat pameran dan
menikmati pagelaran kesenian
Pengunjung Publik Exhibition Hall
Sanggar seni
2. Berbelanja kuliner,
Pengunjung Publik Convention Hall
Multifunction room
Pengunjung Publik Studio musik
Sanggar seni
Exhibiton Hall
3. Kegiatan pelayanan
No. Aktifitas Pelaku Sifat Ruang
1. Mencari Informasi Pengunjung Publik Pusat informasi
Kantor pengelola
2. Berkumpul komunitas,
Mengadakan acara, Menyaksikan acara pagelaran seni.
Pengunjung Publik Studio musik
Sanggar seni
Ruang genset & trafo
Ruang PABX
Privat Loker Cleaning Servis
Toilet Cleaning Servis
Ruang peralatan
II.3.4 Deskripsi Persyaratan dan Kriteria ruang
Persyaratan dan kriteria ruang yang harus diperhatikan dalam merencanakan dan merancang sebuah exhibition center adalah fleksibilitas ruang pameran, kenyamanan pengunjung yang dihubungkan dengan keadaan termal, pencahayaan terhadap objek yang di pamerkan, serta sirkulasi, baik sirkulasi dari pengunjung maupun sirkulasi dari kegiatan pergudangan. Fleksibilitas ruang dimaksudkan sebagai kemampuan suatu ruang untuk dapat menyesuaikan diri terhadap aktivitas yang berlangsung didalamnya. Kefleksibilitasan ruang ini berpengaruh terhadap potensi ruang dapat menampung item dan stan pameran. Fleksibelnya suatu ruang dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :
1) Pembagian ruang
Pembagian ruang yang tepat dapat membantu seberapa banyak ruangan dapat menampung kegiatan pameran. Penggunaan dinding geser pada bangunan eksebisi merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan agar ruang pameran dapat fleksibel menampung kegiatan pameran sehingga dapat menampung kegiatan pameran yang berbeda dalam waktu yang bersamaan.
2) Pemilihan stuktur bangunan
Pemilihan struktur bangunan yang tepat dapat mempengaruhi seberapa fleksibelnya suatu bangunan. untuk kasus bangunan
membutuhkan suatu pemilihan struktur bentang lebar yang sesuai untuk sebuah gedung eksibisi.
3) Ketinggian ruang
Ketinggian ruang ditentukan oleh jenis produk yang di pamerkan dan bentuk stan pameran. Dengan ruang yang tinggi kita dapat memberikan space pada produk-produk yang memiliki ketinggian yang cukup dan menjadikan ruang lebih fleksibel dengan menerapkan desain stan yang bertingkat.
4) Lighting/pencahayaan
Tujuan dari perancangan pencahayaan adalah memberikan suatu lingkungan suasana lingkungan yang menyenangkan dan nyaman terhadap visual, cahaya yang baik dapat membuat atmosfir dan mood suatu ruangan menjadi lebih efektif . Banyak pameran yang menjadi kurang menarik akibat pencahayaan yang tidak didesain sejalan dengan desain dari pameran. Menurut sumbernya cahaya dibagi atas dua bagian yaitu pencahayaan alami dan pencahayaan buatan. Cahaya buatan merupakan cahaya yang bersumber dari alam yaitu matahari, sedangkan buatan berasal dari penerangan buatan seperti lampu yang digunakan pada ruangan-ruangan dalam kondisi tertentu. Penggunaan efek pencahayaan akan menjadi penerima yang baik dengan pengunaan peralatan spesial seperti lampu sorot (spot light) atau peralatan optical lainnya.
5)
SirkulasiII.3.5 Studi Banding Arsitektur (Fungsi sejenis)
1. Komunitas Salihara
Gambar 2.3 Gedung komunitas Salihara (Sumber: Google)
Lokasi : Jalan Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Bangunan Utama : Teater Salihara, Galeri Salihara, Anjung Salihara dan ruang perkantoran. Saat ini, Teater blackbox Salihara adalah satu-satunya yang ada di Indonesia. Sementara Sejak 2014 Kompleks Salihara diperluas dengan bangunan baru: Anjung Salihara. Di dalamnya terdapat Studio Tari, Studio Musik, Wisma Seni, Ruang Serbaguna dan Teater Anjung.
Arsitek : Andra Matin merancang bangunan perkantoran, Adi
purnomo merancang teater, dan Marco Kusumawijawa merancang galeri.
tiap lirikan mata. Tidak ada drop-off di sini. Ketika memasuki pelataran parkir bermaterial grass block berjalan masuk melalui area Kedai Salihara, yang memang awalnya merupakan selasar penerima. Pengunjung bebas memasuki kompleks bangunan lewat mana saja, karena komposisi tiga massa bangunan ini tidak diberi pintu khusus yang dijaga satpam seperti bangunan-bangunan publik komersial yang membuat risih saat pengecekan keamanan. Namun vocal point tetap ada, yaitu tangga selebar dua meter sebagai pengakhiran dari sequence yang diciptakan koridor diantara Kedai Salihara dan Art Store yang menghubungkan tempat parkir dan bangunan, sedangkan ruang terbuka sebelum tangga ini merupakan simpul sirkulasi menuju lantai dua, Art Store, toilet, dan resepsionis yang bersebelahan dengan Serambi Salihara.
Material utama dari bangunan ini adalah beton ekspos, ditambah material bata, kaca, besi, dan sedikit detail kayu pada beberapa elemen fungsional. Alih-alih terlihat monoton, bangunan ini justru menunjukkan keanggunan yang rendah hati. Ditambah material bata, kaca, besi, dan sedikit detail kayu pada beberapa elemen fungsional. Alih-alih terlihat monoton, bangunan ini justru menunjukkan keanggunan yang rendah hati, mempersilahkan alam membingkai sekelilingnya yang justu menambah estetika. Tanaman hijau yang menjuntai dari atas bangunan perkantoran, semakin panjang, semakin membuat bangunannya apik sekaligus unik. Tak hanya alam, manusia di dalamnya pun bebas mempercantik tiap detail yang ada. Terlihat beberapa grafiti, mural dan kata-kata mutiara menempel di tembok-tembok beton, mencirikan kreativitas komunitas seni di dalamnya. Pada bagian interior teater, Adi Purnomo menggunakan batu bata yang disusun dengan bentuk merotasi 5 derajat, datar di bagian bawah dan semakin merongga ke atas, untuk menghasilkan kekedapan yang baik dan responsif terhadap pemantulan dan penyerapan bunyi, sebuah detail yang cerdas dan cantik.