Nusyuz sebagai alasan perceraian

93  11  Download (0)

Teks penuh

(1)

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Syari’ah dan Hukum Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat mencapai Gelar Sarjana Syari’ah (S.Sy)

Oleh:

Tajuddin NIM :108044100018

K O N S E N T R A S I P E R A D I L A N A G A M A

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM

FAKULTAS

SYARI’AH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

(2)

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Syariah (S.sy)

Oleh

TAJUDDIN NIM : 108044100018

Di Bawah Bimbingan

Prof.Dr.H.M.Amin Suma, SH, MA, MM NIP. 195505051982031021

K O N S E N T R A S I P E R A D I L A N A G A M A

PROGRAM STUDI AKHWAL-ASYAKHSIYAH

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UINSYARIF HIDAYATULLAH

(3)

dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada 21 Juni 2011. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Syariah (S. sy) pada Program Studi Peradilan Agama.

Jakarta, 22 Juni 2011 Mengesahkan,

Dekan Fakultas Syariah dan Hukum

Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, SH., MA, MM NIP. 195505051982031021

PANITIA UJIAN

1. Ketua Majelis : Drs. H. A. Basiq Djalil, SH., MA NIP. 195003061976031001

2. Sekretaris : Dra. Hj. Rosdiana, MA NIP. 196906102003122001

3. Pembimbing : Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, SH., MA, MM NIP. 195505051982031021

4. Penguji I : Drs. H. A. Basiq Djalil, SH., MA NIP. 195003061976031001

(4)

i

ميح رلا نم رلا ها مسب

Alhamdulilah, segala pujian serta syukur yang tak terhingga penulis panjatkan kehadirat Allah Swt yang senantiasa memberikan limpahan rahmat dan kasih sayang-nya sehingga penulis dapat menyeselesaikan skripsi ini tepat pada waktusayang-nya.

Shalawat teriring salam semoga tercurahkan kepada nabi Muhammad SAW yang telah menebarkan cahaya islam keseluruh penjuru dunia sehingga penulis dapat menikmati indahnya hidup dalam naungan cahaya islam.

Skripsi ini sebagai bentuk nyata dari perjuangan penulis selam menuntut ilmu di bangku kuliah Universitas Islam Negi (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Berbagai hambatan dan kesulitan selama proses penulisan skripsi ini dapat penulis lalui. Semua

ini karena do’a dan dukungan orang-orang yang ada disekitar penulis. Oleh karena

itu, penulis ingin menyampaikan ucapan rasa terimakasih yang tak terhingga kepada para pihak yang telah mendukung penulis dalam penulisan skripsi ini, diantaranya :

(5)

ii

pembimbing yang senantiasa membimbing penulis dari awal hingga selesainya penulisan skripsi ini.

3. Bapak Drs. H. A. Basiq Djalil, SH, MH dan Ibu Hj. Rosdiana, MA. Selaku Ketua Jurusan dan Sekretaris Jurusan studi Ahwal-Asysyakhshiyyah yang dengan penuh kesabaran membimbing penulis selama menempuh pendidikan S1 di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Bapak/Ibu dosen penghajar Fakultas Syariah dan Hukum yang telah member ilmu, pengalaman dan nasehat kepada penulis. Semoga ilmu yang penullis dapatkan dari Bapak/Ibu dapat bermanfaat dunia dan akhirat serta menjadi amal kebaikan bagi Bapak/ibu dosen.

5. Pimpinan dan segenap staff Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah membantu dalam kelancaran penulisan skripsi ini.

6. Bapak Ketua Pengadilan Agama Jakarata Timur beserta staff Pengadilan Agama Jakarta Timur yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan wawancara di Pengadialn Agama Jakarta Timur serts telah membantu dalam kelancaran birokrasi.

(6)

iii

support serta membantu dalam penyelesaian baik moril maupun materil 9. Teman-teman seperjuangan Peradilan Agama 2007. Selam 4 tahun kenal dan

kuliah bersama kalian merupakan hal terindah dalam hidup penulis.

Semoga semua pengorbanan dan kebaikan yang diberikan mendapatkan nilai kebaikan di sisi Allah Swt dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pengembangan Ilmu pengetahuan.

Ciputat, 8 April 2011M 6 Jumadil Ula 1432 H

(7)

iv

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pembatasan dan Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan Penelitian dan Kegunaannya ... 8

D. Metode Penelitian... 9

E. Riview Studi Terdahulu ... 11

F. Sistematika Penulisan ... 12

BAB II TEORI TENTANG PERCERAIAN ISTRI NUSYUZ ... 14

A. Pengertian Perceraian ... 14

B. Dasar Hukum Perceraian... 16

C. Sebab-Sebab Terjadi Perceraian ... 20

D. Macam-macam Perceraian ... 23

BAB III TEORI SEPUTAR NUSYUZ ... 31

A. Pengertian dan dasar hukum Nusyuz ... 31

B. Akibat Nusyuz ... 35

(8)

v

yang Nusyuz. ... 45

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISA HASIL PENELITIAN ... 49

A. Gambaran Umum Pengadilan Agama Jakarta Timur ... 49

B. Duduk perkara ... 56

C. Pertimbangan hukum hakim ... 63

D. Analisa Penulis ... 68

BAB V PENUTUP ... 74

A. Kesimpulan ... 74

B. Saran-saran. ... 76

DAFTAR PUSTAKA ... 78

LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 82

1. Wawancara ... 82

2. Surat permohonan Mohon Kesediaan Menjadi Pembimbing Skripsi .... 85

3. Surat Permohonan data/ wawancara ke Pengadilan Agama Jakarta Timur ... 86

(9)

1

A. Latar Belakang Masalah

Manusia diciptakan Allah SWT mempunyai naluri manusiawi yang perlu mendapat pemenuhan. Dalam pada itu manusia diciptakan oleh Allah SWT untuk mengabdikan dirinya kepada Khaliq penciptanya dengan segala aktivitas hidupnya. Pemenuhan naluri manusiawi, menusia yang antara lain keperluan biologisnya termasuk aktivitas hidup, agar manusia memuruti tujuan kejadiannya, Allah mengatur hidup manusia dengan perkawinan. Jadi aturan perkawinan menurut islam merupakan tuntunan agama yang perlu mendapat perhatian, sehingga tujuan melangsungkan pekawinan ialah memenuhi nalurinya dan petunjuk agama1

Dan setiap manusia yang hidup dimuka bumi ini pasti mendambakan kebahagiaan dan salah satu jalan untuk mencapai kebahagiaan itu adalah dengan jalan perkawinan. Menurut Undang-undang replubik indonesia No 1 tahun 1974 seperti yang termuat dalam pasal 1 ayat 2 perkawinan didefinisikan sebagai

:”Ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami-istri

dengan tujuan membentuk keluarga, rumah tangga yang bahagia dan kekal

berdasarkan ketuhanan yang maha esa”2

dalam pencantuman berdasarkan ketuhanan yang maha esa adalah karena Negara indonesia berdasarkan kepada

1

Abd Rahman Ghozaly,fikih munakahat, (kencana Prenada Media 2003) h22

2

(10)

pancasila yang sila pertamanya adalah ketuhanan yang maha esa bahwa perkawinan mempunyai hubungan yang erat sekali dengan agama, kerohanian sehingga perkawinan mempunyai unsur lahir batin/jasmani tetapi juga memiliki unsur batin/rohani3

Perkawinan dalam bahasa Arab disebut dengan an-nikah yang artinya

al-wathi’ dan al-dammu wal at-taddakhul terkadang juga disebut al-dammu

wal-jam‟u atau ibarat‟an al-wath‟ wal al-„aqdu yang bernama bersetubuh, berkumpul

dan akad yang mana perkawinan secara etimologisnya para ulama fiqih mendefinisiakan perkawianan seperti yang didefinisikan oleh wahba zuhaili ialah:

“ akad yang membolehkan terjadinya al-istimta’ (persetubuhan) dengan seorang

wanita, atau melakukan wathi’, dan berkumpul selama wanita tersebut bukan wanita yang diharamkan baik sebab keturunan, ataupun sepersusuan “ definisi

wahba zuhailli adalah “ akad yang telah ditetapkan oleh syar‟i agar seorang laki

-laki dapat mengambil manfaat untuk melakukan istimta’ dengan seorang wanita

atau sebaliknya” kemudian Abu Zahra mendifinisikan nikah sebagai akad yang

menimbulkan akibat hukum berupa halalnya melakukan persetubuhan antara laki-laki dengan perempuan, saling tolong-menolong serta menimbulkan hak dan kewajiban diantara keduanya.4

Didalam Kompilasi Hukum Islam, seperti yang terdapat pasal 2 dinyatakakan bahwa perkawianan dalam islam adalah : “pernikahan yaitu akad

3

Amiur Nuruddin, Hukum Perdata Islam di Indonesia; Study Kritis Perkembangan Hukum

Islam dari Fikih, UU No 1/1974 Sampai KHI (Jakrata Prenada Group, 2004 cet-3) h 43

4Ibid

(11)

yang sangat kuat atau mitsaqan gholozhan untuk mentaati perintah Allah dan

melaksanakannya merupakan ibadah”.5

Dan tujuan pernikahan sesungguhnya perintah suatu ikatan yang mulia dan penuh kasih barakah. Allah SWT mensyariatkan untuk memberikan suatu kemaslahatan dan manfaat kepada hambanya agar tercapai maksud-maksud yang baik dan tujuan pernikahan ada dua: mendapatkan keturunan atau anak dan

menjaga diri dari yang haram.6

Dalam kehidupan rumah tangga, meskipun pada mulanya suami-istri penuh kasih sayang seolah-olah tidak akan menjadi pudar, namun pada kenyataan rasa kasih sayang itu bila tidak dirawat bisa menjadi pudar bahkan bisa hilang berganti dengan kebencian kalau kalau kebancian sudah datang, dan suami-istri tidak sungguh hati mencari jalan keluar dan memulihkan kembali kasih sayangnya, akan berakibat negatif bagi anak keturunannya, suami-istri dalam ajaran islam tidak boleh terlau cepat mengambil keputusan bercerai, walaupun dalam ajaran islam ada jalan penyelesaian terkhir yaitu perceraiain, namun perceraian adalah suatu hal yang meskipun boleh dilakukan tetapi dibenci oleh nabi. Seperti para sahabat yang ingin bercerai dengan istrinya, Rasulullah selalu menunjukkan rasa tidak senangnya seraya berkata: Abgahdul halali „indallahi

at-thalaq, (Hal yang halal tapi sangat dibenci oleh Allah adalah perceraian) untuk

mencapai perdamaian antara suami-istri bilamana tidak dapat diselesaikan oleh

5

Abdurrahman,Kompilasi Hukum Islam (Jakarata: Pressindo,1992) cet-2 h-114

6

(12)

mereka, maka islam mengajarkan agar diselesaikan melalui Hakam, yaitu dengan mengutus satu orang yang mungkin untuk didamaikan.

Putusnya perkawinan Dalam Undang-Undang No 1 tahun 1974 Pasal 38 tentang Perkawinan ialah:

Perkawinan dapat putus karena 1. Kematian

2. Perceraian

3. Keputusan pengadilan7

Pasal tersebut menyatakan bahwa putusnya perkawinan yaitu Karena kematian, perceraian dan putusan pengadilan. Dan tentunya ketentuan tersebut dapat menjadikan media hukum bagi suami dan istri dalam dasar hukum pengajuan perkara putusan perceraian dipengadilan khususnya Hakim. Terlebihnya Hakim harus memenuhi asas prinsip dasar Hakim, yaitu menerima, memeriksa, dan memutuskan perkara yang mana sesuai dengan UU No 4 tahun 2004 Pasal 28 ayat 1 yaitu tentang asas-asas yang berkaitan dengan Hakim dan kewajibannya yaitu: Hakim wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. Kita bisa menyimpulkan segala perkara yang diajukan Hakim itu harus sesuai dengan kewenangan kekuasaannya.8

7

Subekti, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, PT Prenadya Paramita 1999, h 549

8

M Fauzan,Pokok-pokok Hukum acara Perdata Peradilan agama dan mahkamah Syar’iyyah

(13)

Terkadang ada dari kalangan suami yang bertindak kasar, sewenang-wenangnya dan tidak bertanggung jawab terhadap istrinya, yang pada akhirnya sang istri berbuat serong kepada lelaki lain. Begitupun sebaliknya, tidak sedikit para istri yang mengacuhkan suaminya, tidak mau melayani dan memenuhi hak-haknya atau menyeleweng dari garis-garis suami-istri, kesemua itu disebut dengan Nusyuz.9

Kemudian Didalam fikih juga dikenal adanya kewajiban bagi istri untuk mentaati perintah suami, selama tidak bertentangan dengan Syariat. Dan didalam pandangan fikih dikenal istilah Nusyuz, yaitu Wanita-wanita yang diduga meninggalkan kewajiban suami-istri. Ketika terjadi Nusyuz tersebut maka suami mempunyai hak pula untuk memperingatkan, dengan cara menasehatinya bahwa istri yang tidak taat kepada suami akan mendapatkan siksaan Allah, dan perbuatan nusyuz juga dapat menggugurkan nafkah dan giliran.

Ketika Istri tidak mau untuk membenahi dirinya lagi dari perbuatan Nusyuz nya tersebut, maka suami dapat meninggalkan istri ditempat tidurnya, jika juga tidak sadar, maka suami boleh memukul istri dengan pukulan yang tidak membahayakan.

Perbuatan istri yang nusyuz itu mengakibatkan Gugurnya Nafkah setelah perceraian seperti didalam Kompilasi Hukum Islam Akibat Putusnya Perkawinan Pasal 149 Point b yaitu para suami harus memberi nafkah, maskan dan kiswah kepada bekas istri selama dalam iddah, kecuali bekas istri telah dijatuhi talak bain

9

(14)

Atau nusyuz, dan dalam keadaan tidak hamil, ayat tersebut menjelaskan bahwa istri yang nusyuz dan tidak taat pada suami itu tidak berhak mendapatkan nafkah setelah perceraian seperti nafkah iddah, pada Kompilasi hukum Islam Pasal 152 yang berbunyi : bekas Istri berhak mendapat nafkah iddah dari bekas suaminya, kecuali bila istri nusyuz, dan jumhurul ulama juga sepakat bahwa istri yang nusyuz tidak menadapkan nafkah.

Tetapi didalam putusan pengadilan agama Jakarta timur memutuskan perkara perceraian terhadap suami dan istri dengan sebab-sebab alasan istri tidak taat kepada suami atau Nusyuz, didalam putusan tersebut dijelaskan ; istri terbukti suka membantah, tidak taat, sering keluar malam dengan alasan kerja bahkan kalau pulang sampai larut malam dan juga sampai pagi, kurang memperhatikan anak. Istri yang nusyuz itu tetap mendapatkan Nafkah iddah setelah perceraian padahal didalam teorinya yaitu didalam fikih bahwa istri yang Nusyuz itu tidak berhak mendapatkan nafkah, dan juga didalam KHI pasal Pasal 152 yang berbunyi : bekas Istri berhak mendapat nafkah iddah dari bekas suaminya, kecuali bila istri nusyuz, dan jumhurul ulama juga sepakat bahwa istri yang nusyuz tidak menadapkan nafkah.

(15)

Perceraian, bagaimana sikap dan pandangan hukum hakim terhadap putusan tersebut.

Maka disinillah penulis tertarik untuk mengangkat dalam sebuah skripsi yang berjudul : “NUSYUZ SEBAGAI ALASAN PERCERAIAN(Analisis

Yuridis Putusan Perkara No 423/Pdt.G/2006/PAJT)”

B. Batasan dan Rumusan Masalah

1. Pembatasan Masalah

Agar pembahasan dalam skripsi ini lebih terarah dan efisien dalam mencapai pokok masalah, maka penulis merasa perlu untuk memberikan batasan dalam membahas masalah,Untuk Mempermudah pembahasan dan agar penelitian ini lebih akurat dan terarah sehingga tidak menimbulkan masalah baru serta meluas maka penulis membatasi pembahasan ini pada masalah seputar Istri yang Nusyuz menurut Hukum Islam. dan untuk pembatasan objek penelitian, maka penelitiannya difokuskan Putusan Pengadilan agama Jakarta timur No No 423/Pdt.G/2006/PAJT

2. Perumusan Masalah

(16)

Untuk memudahkan masalah tersebut, penulis rinci dalam bentuk pertanyaan sebabagai berikut :

a. Bagaimana Pandangan Hukum Islam Terhadap Nafkah Bagi Istri yang Nusyuz.?

b. Apa Faktor-Faktor Penyebab Istri Nusyuz Terhadap Suami?

c. Apa alasan hakim dalam memutuskan perkara No 423/Pdt.G/2006/PAJT. terhadap istri yang nusyuz tetap mendapatkan nafkah iddah?

C. Tujuan Penelitian dan Kegunaannya

1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penulisan yang dilakukan adalah untuk :

a. Untuk mengetahui pandangan Hukum Islam dan Undang-Undang tentang istri yang nusyuz

b. Untuk mengetahui faktor penyebab istri melakukan nusyuz terhadap suami

c. Untuk mengetahui pertimbangan Hukum yang digunakan majlis Hakim.

2. Kegunaan Penelitian

Adapun Kegunaan penelitian ialah :

a. Untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan khusunya didalam hukum perkawinan islam di indonesia

(17)

c. Menambah wawasan keilmuan untuk khususnya untuk mahasiswa UIN syarief hidayatullah Jakarta Fakultas syariah dan hukum dan masyarakat pada umumnya

D. Metodologi Penelitian

Untuk memperoleh data yang akan dibutuhkan untuk menyusun skripsi ini, maka penulis menggunakan beberapa metode antara lain :

1. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini adalah penilitian hukum normative, dimana pada penelitian hukum normative yang diteliti hanya bahan pustaka atau data sekunder, yang mungkin mencangkup bahan hukum primer, Dan juga Penelitian Kepustakaan yaitu penelitian yang dilakukan dengan mengkaji buku-buku, dan data-data yang diperoleh dari literature dan referensi yang berhubungan dengan judul skripsi diatas dan referensi yang diambil dari al-quran dan hadist, juga kitab-kitab fiqih klasik dan kontemporer yang berkaitan dengan materi skripsi.

2. Jenis Penelitian

(18)

3. Sumber Data

Dalam penelitian ini akan digunakan data primer dan data sekunder. Di bawah ini akan dirinci satu per satu apa saja yang termasuk ke dalam data primer dan data sekunder :

a. Data Primer

Data tersebut diambil dari pengadiilan agama jakarat timur berupa

putusan pengadilan agama tentang “NUSYUZ SEBAGAI ALASAN

PERCERAIAN(AnalisisYuridisPutusanPerkaraNo423/Pdt.G/2006/PAJT), dengan menganalisa putusan tersebut

b. Data sekunder

Data sekunder adalah data yang berkaitan dengan data primer yaitu berupa dokumen-dokumen yang berhubungan dengan masalah yang diajukan, seperti dokumen-dokumen yang dimaksud adalah: Al-quran, Hadist, Buku-buku ilmiah, Undang-undang Perkawinan, No 1 Tahun 1974, fikih, buku-buku ilmiah, jurnal-jurnal, dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama jo Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama (PA), Kompilasi Hukum Islam (KHI), serta Peraturan lainnya yang dapat mendukung skripsi ini.

4. Instrument Pengumpul Data

(19)

sehingga diperoleh informasi yang dibutuhkan. Instrumen penelitian antara lain dapat berbentuk, wawancara, angket, kuesioner10, petunjuk wawancara atau daftar isian, tergantung pada jenis penelitian yang akan dilakukan. Dalam penelitian ini penulis menggunakan instrumen penelitian yaitu dalam bentuk wawancara. Dalam wawancara yang digunakan yaitu menggunakan wawancara terstruktur yang dilakukan melalui tatap muka (face to face)

5. Teknik Penulisan

Adapun untuk teknis penulisan ini penulis berpedoman pada buku

“Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Syari‟ah dan Hukum UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta tahun 2009.”

E. Riview Study Terdahulu

Penulis menemukan beberapa judul skripsi yang pernah ditulis oleh mahasiswa-mahasiswa sebelumnya yang berkaitan erat dengan judul skripsi yang akan diteliti oleh penulis. Ternyata setelah penulis membaca beberapa skripsi tersebut ditemukan pembahasan yang berbeda dengan judul skripsi yang akan penulis ajukan, sehingga dalam penulisan skripsi ini nantinya tidak akan timbul kecurigaan plagiasi. Untuk itu di bawah ini akan penulis kemukakan 2 buah skripsi yang pernah ditulis oleh mereka, diantaranya sebagai berikut :

1. Judul : “ Penanganan Istri Nusyuz dalam Hukum Islam Perbandingan Dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang PKDRT.Oleh (

Hanafyah Ahmad) Nim 201044100824,

10

(20)

Skripsi ini lebih fokus terhadap konsep Perbandingan tentang Nusyuz dengan Undang-Undang PKDRT, Apakah antara kedua tersebut terjadi pertentangan atau tidak yang berlaku di Indonesia, dengan menitik beratkan terhadap Undang-undang No 23 2004 tentang PKDRT.

Perbedaan skripsi ini dengan judul yang penulis angkat ialah pada skripsi penulis lebih menekankan pada pembahasan seputar istri Nusyuz menurut Pandangan Hukum islam .

2. Judul : “Penyelesaian Perceraian Karenan Istri Nusyuz (Studi Pada

Pengadilan agama serang) Oleh (Uwes Hujjatul Islam) Nim 14044101449

Skripsi ini lebih fokus membahas tentang Prosedur penyeleasaian perkara cerai istri Nusyuz dan bentuk-bentuk istri nusyuz dipengadilan Agama Serang.

Dari review yang saya rujuk mempunyai perbedaan dalam skripsi yang saya tulis lebih menitikbertkan Pada analisa Putusan Pengadilan Agama Jakarta timur dengan menganalisa pertimbangan hukum hakim yang menetapkan istri yang nusyuz tetap mendapat nafkah iddah dan juga mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya istri Nusyuz kepada suami.

F. Sistematika penulisan.

Untuk mengetahui bagaimana penjelasan dalam penulisan skripsi ini, maka penulis paparkan sistematika penulisan skripsi ini terdiri dari :

(21)

mengetahui Tujuan Penelitian dan Kegunaannya, menggunakan Metode Penelitian sesuai dengan pedoman yang saya rujuk, membedakan Riview Studi Terdahulu dan Sistematika Penulisan Bab kedua : adalah membahas tentang perceraian karena istri nusyuz dengan

rincian sebagai berikut ; menjelaskan pengertian, Dasar Hukum Perceraian, Seba-sebab Terjadi Perceraian, macam-macam Perceraian.

Bab Ketiga : adalah membahas Tentang teoritis seputar nusyuz dengan rincian sebagai berikut ; menjelaskan pengertian nusyuz dan dasar hukum nusyuz, akibat nusyuz, Upaya mengatasi nusyuz, Faktor Penyebab Istri Nusyuz Terhadap Suami, Pandangan Hukum Islam Terhadap Nafkah iddah Bagi Istri yang Nusyuz

Bab keempat : adalah Deskripsi dan analisa hasil penelitian yang menjelaskan tentang ; Gambaran Umum pengadilan agama Jakarta Timur, menjelaskan duduk perkara, menjelaskan pertimbangan hukum hakim, dan Analisa Penulis.

(22)

14

A. Pengertian Perceraian

Perceraian dalam istilah fikih disebut “talak” atau “Furqah” talak berarti

“membuka Perjanjian”. Furqoh berarti bercerai lawan kata dari berkumpul.

Kemudian kedua perkataan tersebut dijadikan oleh ahli fikih yang berarti perceraian antara suami istri.1

Pengertian Kata talak atau perceraian dapat dilihat dari dua segi, yaitu dari

segi bahasa dan istilah. Secara bahasa, Talak berasal dari bahsa Arab yaitu “ قاطا

artinya lepasnya suatu ikatan perkawinan dan berakhirnya hubungan perkawinan.2 kemudian perceraian berarti putusnya suatu hubungan sebagai suami istri semasa hidup atau bahkan mati. Secara Istilah perceraian berarti segala macam bentuk perceraian yang dijatuhkan oleh suami yang telah ditetapkan oleh hakim dan perceraian yang disebabkan meninggalnya salah seorang dari suami atau istri.3

Sedangkan menurut Muthahhari-M, Baqir As shadr talak ialah melepaskan ikatan-ikatan perkawinan (nikah) dengan kata-kata talak atau lainnya. Umpamanya suami berkata kepada istrinya “saya talak engkau satu kali”, dengan

1

Kamal Mukhtar, Asas-Asas Hukum Islam Tentang Perkawinan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), Cet Ke-2, h.156

2

H.S.A. Al-Hamdani, Risalah Nikah, (Hukum Perkawinan Islam), Jakarta : Pustaka Amani, 2002

3

(23)

kata-kata seperti itu maka telah jatuh talak 1 kepada istrinya. Dengan demikian si suami tidak boleh menggauli atau berhubungan lagi dengan istrinya sebelum sisuaminya tersebut merujuknya kembali.4

Didalam Kompilasi Hukum Islam mendefinisikan talak sebagai Ikrar suami dihadapan Pengadilan Agama yang menjadi salah satu sebab putusnya perkawinan, dengan cara sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 129, 130 dan 131.

Subekti mengatakan bahwa perceraian adalah penghapusan perkawinan dengan putusan hakim atau tuntutan salah satu pihak dalam perkawinan itu.5

Sayyid sabiq dalam Kitabnya “ Fiqh sunnah” memberikan definisi thalaq

ialah

6

Artnya : “Thalaq ialah melepas ikatan perkawinan atau menyelesaikan

hubungan perkawinan.”

Sedangkan menurut Wahbah Zuhaili dalam Kitabnya “Al-fiqh Al-Islami

Wa Adillatuhu” memberi definisi talaq sebagai berikut

7

4

Muthahhari-M. Baqir As shadr, Pengantar ushul Fiqh dan Ushul Fiqh Perbandingan, (PT. Pustaka Hidayah 1993) h.206

5

Subekti, Pokok Hukum Perdata, (Jakarta : PT. Inter Masa, 2002), Cet Ke-30, Hal. 42

6

(24)

Artinya : “melepaskan ikatan pernikahan atau melepaskan tali akad nikah

dengan lafaz At-Thalaq dan semisalnya.”

Menurut Al-jaziri, talak ialah”:

8

Artinya: “Talak ialah menghilangkan ikatan perkawinan atau mengurangi

pelepasan ikatannya dengan menggunakan kata tertentu.”

Jadi dari beberapa pengertian diatas meskipun berbeda-beda redaksinya, tetapi mempunyai substansi yang sama dimana talak ialah salah satu bentuk putusnya perkawinan antara suami dan istri karena sebab-sebab tertentu yang memang sudah tidak diteruskan lagi dalam ikatan pernikahan mereka demi menghilangkan kesengsaraan yang diderita, maka dapat diambil kesimpulan bahwa talak merupakan pemutus hubungan suami dan istri serta hilanglah pula hak dan kewajiban suami istri. Meskipun dalam pengucapan talak menggunakan lafaz-lafaz tertentu, namun penekanannya dimaksud dengan tujuan yang sama yaitu untuk berpisah antara suami dan istri dalam artian putusnya perkawinan.

B. Dasar Hukum Perceraian

Hidup dalam hubungan perkawinan itu merupakan sunnah Allah dan Rasul. Itulah yang dikehendaki oleh Islam. Sebaliknya melepaskan diri dari kehidupan perkawinan itu menyalahi sunnah Allah dan sunnah Rasul tersebut dan menyalahi kehendak Allah menciptakan rumah tangga yang Sakinah, Mawaddah

7

Wahba zuhailiy, Al Fiqh Al Islamiy wa Adillatuhu, Juz IX (damaskus : Da Al Fikr, 2007), h.6873

8

(25)

dan Warahmah. Dan pada prinsipnya suatu perkawinan itu ditujukan untuk selama hidup dan kebahagiaan yang kekal abadi bagi pasangan suami istri yang bersangkutan.9

Meskipun demikian, ketika hubungan pernikahan itu tidak dapat dipertahankan dan kalau dilanjutkan juga akan menghadapi kehancuran dan kemudharatan, maka Islam membuka pintu untuk terjadinya perceraian. Dengan demikian, pada dasarnya perceraian atau talak itu adalah sesuatu yang tidak disenangi, memang tidak terdapat dalam Al-quran menyuruh atau melarang eksistensi perceraian itu,10 sedangkan untuk perkawinan ditemukan beberapa ayat yang menyuruh melakukannya. Walaupun banyak ayat Al-quran yang mengatur perceraian atau talak mesti terjadi, seperti dalam firman Allah :

kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak

9

Moh. Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islam, (Jakarta; PT. Bumi Aksara, 1996), Cet ke 1, hal 98

10

(26)

akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, Maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, Maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka Itulah orang-orang yang zalim. (Qs Al-baqarah 229)

Dalam surat yang lain juga Allah berfirman yang berbunyi :





Artinya: Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu Maka hendaklah

kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) (At-Thalaq :1)

Artinya: apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa iddahnya,

Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya (Qs. Al-Baqarah ayat 232)

Adapun hadist Nabi yang menyatakan bahwa ketidaksenangan Nabi kepada perceraian yang diriwayatkan dari Ibnu Umar menurut riwayat Abu Daud, , sabda Nabi :

11

11

(27)

Artinya : Perbuatan halal yang paling dibenci Allah adalah thalak.

Walaupun hukum asal dari thalak itu adalah makruh, namun melihat keadaan tertentu dalam situasi tertentu, maka hukum thalaq itu adalah sebagai berikut12 :

1. Nadab atau sunnah; yaitu dalam keadaan rumah tangga sudah tidak dapat dilanjutkan dan seandainya dipertahankan juga kemudharatan yang lebih banyak akan timbul.

2. Mubah atau boleh saja dilakukan bila memang perlu terjadi perceraian dan tidak ada pihak-pihak yang dirugikan dengan perceraian itu sedangkan manfaatnya juga ada kelihatannya.

3. Wajib yaitu seperti menalak istri yang disumpah (di-ila), yaitu si suami bersumpah demi Allah bahwa dia tidak akan menjimainya selama 4 bulan. Jika waktu telah berlalu atau bila sudah 4 bulan sisuami tidak menjimainya, istrinya berhak mengadukan perkaranya ke Pengadilan Agama agar mendapat penyelesaian sebagaimana mestinya. Kemudian setelah ketua Pengadilan Agama menerima istri itu serta telah mempelajari dengan cukup bukti-bukti kebenaran istri itu, lalu mengadakan siding dan menghadirkan suaminya. Kemudian ketua Pengadilan Agama setelah mengadakan pemeriksaan sebagaimana mestinya, atas wewenang hukum untuk menceraikan suami sitri termaksud dengan sekalian talak.13

12

Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan di Indonesia,h.201

13

(28)

4. Haram thalaq itu dilakukan tanpa alasan, sedangkan istri dalam keadaan haid atau suci yang dalam masa itu ia telah digauli.

C. Sebab-Sebab Terjadi Perceraian

Didalam Kompilasi Hukum Islam, pasal 2 dinyatakakan bahwa

perkawianan dalam islam adalah :“pernikahan yaitu akad yang sangat kuat atau

mitsaqan gholozhan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya

merupakan ibadah, dengan memahami keterangan pasal tersebut bahwa, sebenarnya Islam mendorong terwujudnya perkawinan yang bahagia dan kekal tampak dan menghindari terjadinya perceraian (talak). Dapat dikatakan, pada prisipnya Islam tidak memberi peluang untuk tejadinya perceraian kecuali pada hal-hal darurat, meskipun didalam Hadis Rasul dikatakan, Ínna abghad al-mubahat „inda Allah

al-talak” “Sesungguhnya perbuatan mubah tapi dibenci Allah adalah talak”

kecuali pada hal-hal yang darurat.14

Setidaknya ada empat kemungkinan yang dapat terjadi dalam kehidupan rumah tangga yang dapat memicu terjadi penyebab perceraian; nusyuz istri, nusyuz suami, syiqaq, salah satu berbuat zina15 dan sebab-sebab perceraian akan dijelaskan sebagai :

1. Nusyuz dari pihak istri

Nusyuz dipihak istri yaitu : istri mendurhakai, angkuh, sombong, dan ingkar terhadap suami mereka serta tidak melaksanakan tanggungjawab sebagaimana

14

Amiur Nuruddin,dan Azhari Akmal Tarigan. Hukum Perdata Islam di Indonesia,(Jakarta Kencana 2004) cet.1 h.208

15

(29)

yang telah diperintahkan oleh Allah SWT kepada suami mereka. Seseorang istri boleh dikategorikan sebagai Nusyuz, apabila istri menolak ajakan

suaminya untuk melakukan persetubuhan tanpa ada keuzuran syar‟I, keluar

rumah tanpa izin suami, tidak taat kepada suami dan sebagainya.16 2. Nusyuz suami terhadap Istri

Kemungkinan nusyuz ternyata tidak datang pada pihak istri tetapi dapat juga datang dari pihak suami. Seperti, seorang suami tidak menjalankan kewajiban yang menjadi hak-hak istri, seperti tidak memberikan nafkah dan lain sebagainya. Didalam surat an-nisa ayat 128 Allah Ta‟ala berfirman, yang artinya, “Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir, dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui apa yang kamu

kerjakan.” (QS. an-Nisa`: 128)

Kekhawatiran adalah dugaan terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan dengan terlihatnya sebagian tanda-tandanya atau indikasi-insikasinya. Dalam kondisi semacam ini, maka ayat di atas mengarahkan kepada suami isteri untuk melakukan islah/ kesepakatan damai sekalipun salah satu pihak harus mundur

16

(30)

dari haknya dan pihak lain mendapatkan lebih, hal ini demi keutuhan rumah tangga.17

3. Terjadinya Syiqaq

Jika dua kemungkinan yang telah disebutkan dimuka menggambarkan satu pihak yang melakukan nusyuz sedang pihak yang lain dalam kondisi normal, maka kemungkinan penyebab ketiga ini karena kedua-duanya terlibat dalam Syiqaq (percekcokan), syiqaq menurut bahasa berarti perselisihan, percekcokan, dan permusuhan. Sedangkan menurut istilah berarti perselisihan yang berkepanjangan dan meruncing antara suami-istri, syiqaq merupakan perselisihan yang biasanya terjadi dan berawal pada kedua belah pihak suami-istri secara bersama-sama.misalnya disebabkan kesulitan ekonomi, sehingga keduanya sering bertengkar.18

4. Salah Satu pihak melakukan Perbuatan Zina (Fahisyah), yang menimbulkan

saling tuduh-menuduh antara keduanya. Li‟an yang dimaksud, sumpah yang

diucapkan suami ketika ia menuduh istrinya berbuat zina dengan empat kali

kesaksian bahwa ia termasuk orang yang benar dalam tuduhannya, kemudian

pada kesaksian kelaima disertai persyaratan bahwa ia bersedia menerima

laksat Allah jika ia berdusta dalam tuduhannya.19 Li‟an sesungguhnya telah

17

http:// masjidalmukarramah nusyuz-isteri-derhaka-atau-suami-zalim. Diakses pada tanggal 16 februari 2011

18

K.H. Miftah Faridl, 150 Masalah Nikah Keluarga, (Jakakarta Gema Insani Press, 1999) Cet.1 h.158

19

(31)

memasuki “gerbang putusnya” perkawinan, dan bahkan untuk selama

-lamanya. Karena akibat lian adalah terjadinya talak ba‟in kubra.20

D. Macam-Macam Perceraian

Pada dasarnya perkawinan itu dilakukan untuk waktu selamanya sampai matinya salah seorang suami istri. Inilah sebenarnya yang dikehendaki agama islam, namun dalam keadaan tertentu terdapat hal-hal yang menghendaki putusnya perkawinan itu dalam arti bila hubungan perkawinan tetap dilanjutkan, maka kemudharatan akan terjadi. Dalam hal ini Islam membenarkan putusnya perkawinan sebagai langkah terakhir dari usaha melanjutkan rumah tangga. Putusnya perkawinan adalah suatu jalan keluar yang baik, Macam-macam perceraian dengan rincian sebagai berikut yaitu : Perceraian atau talak, Khulu, Zhihar, Ila, syiqaq dan Lian.21

Berikut ini penjelasan masing masing, kecuali perceraian atau talak sudah di bahas pada awal bab II ini :

1. Khulu‟

a. Khulu‟ dan Hikmahnya

Menurut para fuqoha yang dimaksud dengan khulu‟ dalam arti umumnya yaitu perceraian yang disertai dengan sejumlah harta sebagian Iwadh yang diberikan oleh istri kepada suami untuk menebus diri agar terlepas dari ikatan perkawinan. hukum Islam memberikan jalan kepada istri yang menghendaki perceraian dengan mengajukan khulu‟ sebagaimana Islam

20Ibid,

Ahmad Rafiq, h.274

21

(32)

memberi jalan kepada suami untuk menceraikan istrinya dengan jalan talak.22

Dasar hukum disyariatkan khulu‟ ialah Allah berfirman dalam surat Al

-baqharah ayat 229 yang artinya : tidak halal bagikamu mengambil sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka (Istri) kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah, jika kamu khawatir bahwa keduanya tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya itulah hukum-hukum Allah maka jangan kamu melanggarnya, barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang Zalim

Hikmahnya adalah menolak bahaya, maksudnya yaitu apabila kebencian antara suami dan istri memuncak dan dikhawatirkan tidak dapat menjalankan syarat-syarat dalam kehidupan suami istri, maka Khulu‟ adalah cara-cara yang sudah ditetapkan oleh Allah yang Maha Bijaksan, menegaskan hukum-hukum Allah.

b. Syarat-syarat Khulu‟

a. Kerelaan dan persetujuan, Khulu‟ dilakukan berdasarkan kerelaan dan persetujuan suami dan istri, dengan maksud kerelaan dan persetujuan itu tidak dapat berakibat kerugian dipihak orang lain

22Ibid,

(33)

b. Istri adalah seorang yang berada dalam wilayah si suami dalam arti istrinya atau yang telah diceraikan, namun masih berada dalam Iddah

raj‟iy.

c. Khulu‟ harus diridhai oleh pihak yang memberikan ganti materi.

d. Khulu‟ dengan ganti materi yang sah sebagai mahar. Ganti yang sah sebagai mahar adalah setiap yang sah dijadikan sebagai harga dan imbalan23

c. Akibat Khulu‟ ini ialah sama dengan akibat talak bain shughra. Yaitu suami tidak mempunyai hak untuk merujuk bekas istrinya kecuali dengan perkawinan yang baru dan akad yang baru berdasarkan persetujuan dari masing-masing pihak.

2. Zihar

Zihar adalah seseorang laki-laki yang mengharamkan istrinya bagi

dirinya dengan menyerupakan keharamannya seperti ibunya, saudara

perempuannya, atau salah satu mahramnya.24 Zihar dari segi bahasa arab,

Zhihaar berasal dari kata zahr (punggung) bukan dari kata yang berarti

pertolongan, dengan maksud suami mengatakan kepada istrinya; kamu bagiku

seperti punggung ibuku.25 Dalam istilah fikih, zihar diartikan sebagai

23

Syaikh Muhammad Al-utsaimin, Shahih Fiqih wanita, (Jakarta : akbar Media Eka Sarana 2009) Cet-2 hal. 343-344

24

Ali Yusuf As-subki, Fiqih Keluarga, (Jakarta :Sinar Grafika Offset), cet-1, hal.360

25

(34)

perkataan suami terhadap istrinya yang mengandung maksud menyamakan

istrinya dengan ibunya sendiri. Misalnya, perkataan : “Punggung kamu seperti

punggung ibuku.” Pengkhususan kata “Punggung” dalam hal ini disebabkan

biasanya yang ditunggangi itu adalah punggung. Oleh karena itu orang-orang

arab menyebut binatang-binatang tunggangan dengan kata az-zahr.

Wanita yang di-zihar memang di haramkana untuk digauli, tetapi

hanya bersifat sementara, yaitu sampai membayar “kafarat zihar-nya,

mengenai hal ini, Allah SWT berfirman dalam surat Al- mujadalah ayat 2

yang artinya : “Orang-orang yang men-zihar istrinya diantara kamu,

(menganggap istrinya sebagai ibunya, padahal ) tiadalah istri mereka itu ibu

mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka.

Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan

yang munkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha pemaaf lagi Maha

pengampun.”

Adapun kafarat dari zihar yang harus ditunaikan oleh suami yang

men-zihar istrinya, sesuai dengan bunyi surat al-mujadalah ayat 3-4 adalah

a. memerdekakan budak,

b. berpuasa selama dua berturut-turut atau

c. memberi makan enam puluh orang miskin.26

26

Peunoh Daly, Hukum Prekawinan Islam, Usatu studi Perbandingan dalam kalangan

(35)

Kemudian Jumhur ulama sepakat bahwa bentuk-bentuk kafarat diberlakukan secara berurut, artinya, tidak boleh yang kedua dijadikan yang pertama. Dalam istilah mereka, hukuman itu dikenakan kepada pelaku zihar sesuai dengan tertib hukuman yang terdapt dalam ayat tersebut.27

3. Ila‟

a. Ila‟ dan hukumnya

Ila’ menurut bahasa artinya menolak dengan bersumpah.

Jadi ila‟ ialah berarti menolak untuk mengumpuli istrinya dengan

bersumpah. Dalam hal ini sumpahnya baik dengan nama allah ataupun dengan berpuasa atau dengan besadhaqah atau dengan haji, atau dengan bercerai.28sumpah suami tidak akan mencampuri istrinya dalam masa lebih dari empat bulan atau tidak menyebutkan jangka waktunya.

Apabila seorang suami bersumpah sebagaimana sumpah tersebut, hendaklah ditunggu selama empat bulan. Kalau dia kembali baik kepada istrinya, sebelum sampai empat bulan, dia diwajibkan membayar denda sumpah ( kafarat ) saja. Tetapi sampai empat bulan dia tidak kembali baik dengan istrinya, hakim berhak menyuruhnya memilih dua perkara, yaitu membayar kaparat sumpah serta berbuat baik pada istrinya, atau menalak istrinya. Kalau suami itu tidak mau menjalani salah satu dari kedua perkara tersebut, hakim berhak menceraikan mereka secara terpaksa.

27

Ensiklopedia Islam 5, PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 2001. H. 59-60

28

(36)

Sebagian ulama berpendapat, apabila sampai empat bulan suami tidak kembali ( tidak campur ), maka dengan sendirinya kepada istri itu

jatuh talak bain, tidak perlu dikemukakan kepada hakim.29

b. Syarat-syarat ila‟

1) Syarat-syarat yang berhubungan dengan suami istri sepakat para

fuqoha bahwa suami yang dibolehkan mengila‟ istrinya ialah suami

yang baligh, berakal, dan tidak gila 2) Ila‟ hendaknya berupa sumpah

3) Isi ila‟ hendaklah bahwa suami bersumpah tidak akan mencampuri

istrinya.

c. Kafarat sumpah

Bagi suami yang meng-ila‟ istrinya lalu diwajibkan menjauhinya selama 4

bulan itu menimbulkan kerinduan terhadap isrti, lalu menyesali sikapnya

yang sudah berlalu, memperbaiki diri sebagai bekal sikap yang lebih baik,

ketimbang masa-masa sebelumnya. Dalam hal ini jika kemudian suami

berbaik kembali kepada istrinya diwajibkan membayar kafarat sumpah

karena telah mempergunakan nama Allah untuk keperluan dirinya, kafarat

itu berupa; member makan 10 orang miskin, memerdekakan seorang

budak, puasa tiga hari.30

29

Sulaiman.Rasyid 1996. Fiqih islam. (Jakarta : Sinar baru argensindo.) h.410

30

(37)

4. Syiqaq

Syiqaq berarti “perselisihan”, maskudnya perselisishan suami istri yang diselesaikan oleh kedua orang hakam, yaitu seorang hakam dari pihak suami dan seorang dari pihak istri.

Dasar hukumnya ialah Allah berfirman dalam Surat An-nisa Ayat 35 :

Artinya : Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya,

Maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. jika kedua orang hakam itu bermaksud Mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. ( Qs. An-Nisa ; 35 )

Menurut firman Allah tersebut jika terjadi kasus syiqaq antara suami istri, maka diutus seorang hakam dari pihak suami dan seorang hakam dari pihak istri untuk mengadakan penyelidikan sebab terjadinya syiqaq tersebut serta berusaha mendamaikan kembali agar suami istri kembali hidup bersama dengan sebaik-baiknya, kemudian jika jalan perdamaian itu tidak mungkin ditempuh, maka kedua hakam berhak mengambil inisiatif untuk menceraikan. 5. Li‟an

(38)

orang saksi, maka dia harus besumpah empat kali sumpah dengan menyatakan bahwa kalau suami tersebut berbohong dengan tuduhannya maka laknat Allah untuk dirinya (suami).31 Kemudian istri menolak tuduhan dengan empat kali sumpah juga dengan ucapan penolakan tuduhan suaminya tersebut dan ia siap dilaknat oleh Allah kalau ia melakukannya. Dengan terjadinya sumpah lian itu maka terjadilah perceraian antara suami istri tersebut dan antara keduanya tidak boleh terjadi perkawinan kembali untuk selam-lamanya.32

31

Syaikh Muhammad Al-utsaimin, Shahih Fiqih wanita,hal.384

32

(39)

31

A. Pengertian dan Dasar Hukum Nusyuz

1. Pengertian Nusyuz

Nusyuz secara bahasa berasal dari kata nazyaza-yansyuzu-nasyazan

wa nusyuzan, yang bebarti meninggi, menonjol, durhaka, menentang, atau

bertindak kasar.1 Secara definitive nusyuz diartikan dengan : “Kedurhakaan istri terhadap suami dalam hal menjalankan apa-apa yang diwajibkan Allah atasnya.2

Nusyuz juga diartikan sebagai kedurhakaan istri terhadap suami dan pembangkangannya atas perintah Allah dalam ketaatan terhadap suami ataupun penolakan istri atas ajakan suami untuk bersetubuh, ataupun keluarnya istri dari rumah tanpa seizin dari suami.dalam hal ini Nusyuz ialah penolakan atau pembangkangan intri terhadap suami terhadap hal-hal yang menjadikan otoritas suami untuk mendidik istrinya, seperti keluar tanpa izin suami, meninggalkan perintah Allah, seperti Shalat, atau berkhianat terhadap suaminya dalam urusan harta dan jiwa.3

Kemudian nusyuz adalah tindakan istri yang dapat ditafsirkan menentang

atau membandel atas kehendak suami. Tentu saja kehendak suami yang tidak

1

Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia, (Yogyakarta : Pustaka Progresif, 1997) Cet. XIV, h. 1418-1419

2

Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan di Indonesia, (Jakarta Kencana, 2006) Cet.2 h. 190-191

3

(40)

bertentangan dengan hukum agama. Apabila kehendak suami bertentangan atau tidak dapat dibenarkan oleh agama, maka istri berhak menolaknya. Dan penolakan tersebut bukanlah sifat nusyuz ( durhaka ).4

Adapun beberapa perbuatan yang dilakukan istri, yang termasuk nusyuz, antara lain :

a. Suami telah menyediakan rumah yang sesuai dengan keadaan suami, tetapi istri tidak mau pindah kerumah itu, atau istri meninggalkan rumah tangga tanpa izin suami .

b. Apabila suami istri tinggal dirumah kepunyaan istri dengan izin istri, kemudian pada suatu waktu istri mengusir (melarang) suami masuk rumah itu, dan bukan karena minta pindah kerumah yang disediakan oleh suami.

c. Istri menolak ajakan suaminya untuk menetap dirumah yang disediakannya, tetapi istri berkeberatan dengan tidak ada alasan yang pantas.

d. Apabila istri bepergian dengan tidak beserta suami atau mahramnya, walaupun perjalanan itu wajib, seperti pergi haji, karena perjalanan perempuan yang tidak beserta suami atau mahram terhitung maksiat.5

2. Dasar Hukum Nusyuz

Dalam firman Allah.Q.s An-Nissa : 34

34

4

Syamsul Rijal Hamid. Buku pintar agama islam. (Jakarta : Cahaya salam 1997) h.250

5

(41)

Artinya: “wanita-wanita yang khawatirkan kedurhakaanya (nusyuz), maka

nasihatilah mereka, dan pisahkan diri dari tempat tidur mereka danpukullah mereka (dengan pukulan yang tidak membahayakan). Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari jalan untuk memisahkan mereka. Sesungguhnya Allah Swt Maha Tinggi lagi Maha Besar.”6

Kemudian ayat selanjutnya Allah berfirman dalam surat An-nisa ayat 128 yang berbunyi :

dari suaminya, Maka tidak mengapa bagi keduanya Mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Didalam sebuah Hadis disebutkan :

Artinya: “dari Hakim bin Mu’awiyah Al-qusyairy, dari ayahnya, ia

berkata,”saya bertanya, Wahai Rasulullahapakah hak seorang istri pada suaminya?” Beliaubersabda. “Hendaklah kamu member makan

6

Hasbi Ash-Sidqi dkk,quran dan Terjemahnya; Proyek Pengadaan Kitab suci

(42)

dia jika engkau makan, berilah pakaian kepadanya seperti cara engkau berpakaian. Jangan pukul mukanya, jangan engkau menjelekkannya, dan jangan engkau meninggalkannya kecuali masih dalam serumah.7

Berdasarkan kepada nash-nas al-quran dan sunnah, jlas menunjukkan bahwa Nusyuz berkemungkinan kepada pihak anatar suami atau istri atau kedua-duanya secara sekaligus. Sebagaimahluk yang diciptikan oleh allah SWT, diamaha mengetahui setipa kelebihan dan kelenahan yang ada pada manusia. Allah SWT telah meggariskan panduan yang perlu diikuti oleh setiap insane bagi menghadapi pasangan nusyuz supaya tindakan yang diambil adalah tindankan yang bijaksana dan tidak melampaui batasan-batasan yang ditetapkan oleh syara‟8 Didalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 80 pada ayat ke-7 dijelaskan tentang beberapa pasal yang berkenaan dengan Nusyuz yaitu : Kewajiban suami sebagaimana dimaksud ayat (5) gugur apabila isteri nusyuz.9

Dan juga pada pasal 149 point (b) dijelaskan bahwa Bilamana perkawinan putus karena talak, maka bekas suami wajib: memberi nafkah, maskan dan kiswah kepada bekas isteri selama dalam iddah, kecuali bekas isteri telahdi jatuhi talak ba1in atau nusyuz dan dalam keadaan tidak hamil. Lalu KHI juga menyebutkan

7Makatabah Syamilah.Sunan abu daud, bab fi haqqil marah ala‟zaujiha juz 6. h.45

8

Norzulaili Mohd Ghazali, nusyuz, syiqaq dan Hakam menurut Al-quran, sunnah dan

Undang-undang Keluarga islam, h.5

9

(43)

pada Pasal 152 Yang berbunyi : Bekas isteri berhak mendapatkan nafkah iddah dari bekas suaminya kecuali ia nusyuz.10

B. Akibat Nusyuz

Pada dasarnya nafaqah itu diwajibkan sebagai penunjang kehidupan suami istri. Bila kehidupan suami istri berada dalam keadaan yang biasa, dimana suami maupun istri sama-sama melaksanakan kewajiban yang ditetapkan agama tidak ada masalah. Namun bila salah satu pihak tidak menjalankan kewajibannya, maka berhaklah ia menerima hak yang sudah ditentukan, seperti istri tidak menjalankan kewajibannya berhaklah menerima nafaqah dari suaminya; sebaliknya suami tidak menjalankan kewajibannya, berhaklah menerima pelayanan dari istrinya.

Dalam hal istri tidak menjalankan kewajiban yang disebut dengan nusyuz, menurut jumhurul ulama suami tidak wajib memberi nafaqah dalam masa

nusyuznya itu. Alasan bagi jumhur itu adalah bahwa nafaqah yang diterima istri

itu merupakan imbalan dari ketaatan yang diberikannya kepada suami. Istri yang nusyuz hilang ketaatannya pada masa itu, oleh karena itu istri tidak berhak atas nafaqah selama masa nusyuz berlangsung dan kewajiban itu kembali dilakukan setelah nusyuz istri berhenti.11 Dari uraian diatas bahwa istri yang nusyuz dalam hal tidak taat, suka membantah, tidak menjalankan kewajibannya sebagai istri yang baik dan menelantarkan anaknya itu tidak berhak mendapatkan nafakah dari suaminya karena istri tersebut sudah tidak mampu dalam menjalankan kewajiban

10Ibid

h.149

11

Amir syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, Antara Fikih Munakahat dan

(44)

yang disyariatkan oleh agama, oleh karena itu hak nafakah istri terlaksana lagi apabila istri kembali taat dan nusyuz istri berhenti.

Sebab, wabah nusyuz akan berakibat pada rusaknya bangunan keluarga, serta menimbulkan suasana tidak kondusif bagi pendidikan anak-anak.konsekuensi akhirnya, bahtera rumah tangga menjadi oleng dan kemudian tenggelam.12

C. Upaya Mengatasi Nusyuz

Bahwa ada beberapa tahapan upaya mengatasi Nusyuz yang harus dilakukan suami terhadap istri yang durhaka yaitu :

Pertama: Suami memberi nasihat, atau dengan nasihat orang lain.13 Nasihat Yang Baik, Suami berhak memberi nasihat kepada istrinya bila tanda-tanda kedurhakaan istri sudah tampak. Nasihat terbaik adalah dengan mengembalikan si isteri kepada Allah.. Isteri yang baik terus akan terdidik dengan nasihat yang baik dari suami. Sebab itulah, bagi suami hendaknya menjadi psikiater, sekiranya ia menasehati istri dengan hal yang sesuai baginya dan menyelaraskan wataknya serta sikapnya, diantara hal yang dapat dilakukan suami adalah seperti memperingatkan dengan hukuman Allah bagi perempuan yang bermalam sedangkan suami marah dengannya, mengancam denagn tidak member sebagian kesenangan materiil, mengingatkan istri pada sesuatu yang layak dan patut dan menyebutkan dampak-dampak Nusyuz, diantaranya bisa berupa

12

Abd Al-qadir Mansur,Fikih Wanita,PenerbitZaman cet.1 2009 h.317

13

Peunoh Daly, Hukum Prekawinan Islam, Usatu studi Perbandingan dalam kalangan

(45)

perceraian yang berdampak baginya keretakan seksistensi keluarga dan terlantarnya anak-anak,14

Ingatkan mereka bahwa tindakannya itu telah menyakiti hati suami dan telah durhaka kepada suaminya, dan peran suami harus memberikan peringatan dan pengajaran kepada istrinya dengan menjelaskan bahwa tindakannya itu adalah salah menurut agama dan menimbulkan risiko ia dapat kehilangan haknya. Bila dengan pengajaran itu si istri kembali dalam keadaan semula sebagai istri yang

baik, masalah sudah terselesaikan dan tidak boleh diteruskan”15

Kedua: Jika nasihat itu tidak sedikitpun memberi kesan, dan istri tidak

memperlihatkan perbaikan sikapnya dan memang secara nyata nusyuz itu telah terjadi dengan perhitungan yang objektif, suami melakukan usaha berikutnya yaitu hendaklah suami pisah tidur dari istrinya, dalam arti menghentikan hubungan seksual didalam firman Allah dalam suart An-nisa‟ (4) : 34 ; yang

Artinya: dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, (QS. An-nisa (4) :34)

Berpisah tempat tidur dari tempat tidur yaitu suami tidak tidur bersama istrinya, memalingkan punggungnya dan tidak bersetubuhan dengannnya. Jika istri mencintai suami maka hal itu terasa berat atasnya sehingga ia kembali baik. Jika

14

Ali Ali Yusuf As-subki, Fiqih Keluarga, Pedoman Belkeluarga dalam Islam,Sinar Grafika Offset 2010 cet-1 h.302

15

(46)

masih marah maka dapat diketahui bahwa nusyuz darinya sehingga jelas bahwa nusyuz berawal darinya. Beberapa suami ada yang meninggalkan kamar tidur ataupun rumah ketika ia marah.16 bila dengan usaha pisah ranjang ini istri telah kembali taat, dan persoalan sudah selesai maka tidak boleh dilanjutkan ke tahap berikutnya.17

Ketiga : dari penjelasan-penjelasan panjang tentang tujuan di balik

langkah-langkah pereventif atas perbuatan nusyuz di atas, kita tahu bahwa memukul istri disini bukan dimaksudkan untuk menyiksa dan menyakiti istri, menghina dan melecehkannya, atau memaksa melakukan sesuatu yang tidak disukainya. Pukulan dimaksud untuk mendidik, seperti halnya pukulan seorang ayah terhadap anaknya atau pukulan seorang guru terhadap muridnya.

Jadi, ketiga langkah diatas memberikan nasihat yang baik, memisahkan istri ditempat tidur lain, dan memukulnya, tentu saja tidak perlu diambil ketika terjadi keharmonisan diantara dua belah pihak, yaitu suami sitri. Ketiga langkah itu baru diambil ketika terjadi sebuah penyimpangan dari istri, ketika nasihat yang baik tidak lagi berguna, begitu pun langkah memisahkan istri dari tempat tidur, maka penyimpangan dan kemaksiatan yang dilakukan oleh istri terkadang tidak bias diluruskan dengan cara lain selain cara ketiga.18

16

Ibid Ali Yusuf As-subki, 2010 cet-1 h.305-306

17

Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan di Indonesia, (Jakarta Kencana, 2006) Cet.2h.192

18

(47)

Yang terpenting untuk dicatat, yang boleh dipukul hanyalah bagian yang tidak membahayakan si istri19 dan pukulan dalam hal ini adalah dalam bentuk

ta’dib atau edukatif, bukan atas dasar kebencian. Bila dengan pukulan ringan

tersebut istri telah kembali kepada keadaan semula masalah telah dapat diselesaikan. Namun bila dengan langkah ketiga cara ini masalah belum dapat diselesaikan baru dibolehkan suami menempuh jalan lain yang lebih lanjut yaitu dengan jalan perceraian.

D. Faktor-Faktor Penyebab Istri Nusyuz Terhadap Suami

1. Faktor ekonomi

Setiap aktivitas yang dilakukan manusia secara sadar dan sengaja yang bertujuan untuk menghasilkan uang atau sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan baik secara langsung maupun tidak langsung20

Persoalan ekonomi adalah salah satu hal yang sangat urgen dalam kehidupan rumah tangga. Sebagai kepala keluarga suami harus mampu mencukupi biaya hidup istri, yaitu berupa belanja sandang, pangan, perhiasan, bahkan pada kebutuhan make up. Dengan begitu istri dapat melakukan kewajibannya dalam mengurusi rumah tangga.

Namun, terkadang istri tidak mensyukuri atas penghasilan suami, yang telah di usahakan semaksimal mungkin oleh suami, istri tetap menuntut lebih dari batas kemampuan suaminya, dengan melihat kondisi kemampuan suami

19

Amiur Nuruddin,dan Azhari Akmal Tarigan. Hukum Perdata Islam di Indonesia,(Jakarta Kencana 2004) cet.1 h. 210

20

(48)

terbatas, istri tidak boleh membebaninya dengan menuntut yang berlebihan apalagi sampai bersikap acuh terhadap suami.

2. Faktor karier

Perempuan telah berlomba-lomba untuk menguasai wilayah kerja kaum laki-laki. Mereka mengira bahwa hal tersebut adalah bagian yang dapat menggambarkan persamaan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan. Kaum laki-laki menerima saja hal tersebut bahkan mereka mendorong kaum perempuan untuk melakukan. Maka apa hasil dari pada itu? Akhrinya pintu kehancuran semakin terbuka dalam bangunan kehidupan masyarakat. Sebagian orang mengatakan, perempuan sekarang terpaksa untuk meninggalkan rumah mereka untuk bekerja. Dengan keluarnya perempuan untuk bekerja, hilanglah generasi-generasi kita dimasa yang akan datang. Anak-anak telah kehilangann kasih sayang dan asuhan seorang ibu. Hal tersebut membuat mereka tertimpa kelainan jiwa dan berimbas pada moralitas mereka ketika menginjak dewasa.21

Realitas hidup kita berkata bahwa keluarnya perempuan untuk bekerja di luar rumah telah menjadi unsure penghancur kehidupan kita sekarang ini.

21

(49)

Perempuan karier telah menyebabkan kekosongan dan kematian keindahan hidup sebuah keluarga.22

Dampak negative yang timbul dengan adanya permpuan karier, antara lain seperti berikut

a. Terhadap anak-anak. Perempuan yang hanya mengutamakan kariernya akan berpengaruh pada pembinaan dan pendidikan anak-anak, maka tidak aneh kalau banyak terjadi hal-hal yang tidak diharapkan, seperti perkelahian antar-remaja dan antar-sekolah, penyalah gunaan obat-obat terlarang, minuman keras, pencurian, pemerkosaan, dan sebagainya. b. Terhadap suami dibalik kabanggan suami yang mempunyai istri

perempuan berkarier yang maju, aktif, dan kreatif, pandai dibutuhkan masyarakat, tidak mustahil menemui persoalan-persoalan denga istrinya. Istri yang bekerja di luar rumah setelah pulang dari kerjanya tentu ia merasa capek, dengan demikian kemungkinan ia tidak dapt melayani suaminya denga baik sehingga suami merasa kurang hak-kanya sebagai suami. Waktu yang disishkan istrinya kepadanya tidak dapat memenuhi kebutuhannya, akibatnya si suami menemukan problem ditempat kerjanya, ia berharap masalah ini bias diselesaikan dengan istrinya, tetapi tidak terselasikan karena istri pun mengalami masalah di tempat kerjanya.

22

(50)

Untuk mengatasi masalahnya, si suami mencari penyelesaian dan kepuasan di luar rumah.23

c. Terhadap rumah tangga. Kadang-kadang rumah tangga berantakan disebabkan oleh kesibukan ibu rumah tangga sebagai perempuan karier, yang waktunya banyak tersita oleh pekerjaannya di luar rumah sehingga ia tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai istri dan ibu rumah tangga. Hal ini dapat menimbulkan pertengkaran, bahkan perceraian kalau tidak ada pengertian dari suami.24

3. Faktor seksual

Hubungan seksual hanya dapat berjalan dengan baik apabila pasangan suami istri dalam keadaan sehat. suami tidak mengalami kelemahan syahwat, sehingga dapat memenuhi kebutuhan seksual istrinya; dan sebaliknya, istripun tidak mengalami frigiditas, sehingga dapat pula memberikan kehangatan dan kemesraan seksual kepada suaminya. Hubungan seksual sangatlah penting dalam melestarikan perkawinan.25

Salah satu penyebab istri tidak taat kepada suaminya sehingga nusyuznya istri timbul karena seoarang istri tidak lagi bersabar mengahadapi suaminya yang mengalami lemah syahwat, sedangkan dia belum pernah

23

Huzzaimah Tahido Yanggo, Fikih Perempuan Kontemporer, Ghalia Indonesia, h.64

24

Huzzaimah Tahido Yanggo, hal.65

25

(51)

tersentuh oleh suaminya, berhak melakukan tuntutan cerai setelah lewat satu tahun dari masa penderitaan lemah syahwat suaminya, sedangkan suaminya tidak boleh mengambil maskawin yang sudah diberikan kepada istrinya.26

4. Faktor cemburu

Cemburu adalah salah satu penyakit yang biasa menerpa kehidupan rumah tangga. Seseorang yang membela dirinya dengan cemburu baik suami atau istri, niscaya tidak akan menyadari bahwa ia menjadi penyebab utama terjadinya malapetaka yang sangat mengerikan itu, bahkan terkadang menganggap sebagian cemburu sebagai ungkapan cinta. Tetapi dalam kenyataanya , bahwa cemburu dianggap sebagai keinginan yang egois dalam kepemilikan. Cemburu telah menggiring para suami dan istri melakukan sejumlah ketololan yang mengakibatkan hancurnya kehidupan berrumah tangga.27

Rasa cemburu yang berlebihan juga bisa menimpa terhadap laki-laki, faktor cemburu yang berlebihan itulah yang menyebabkan istri lepas kontrol dan dapat melakukan tidakan diluar akal sehat. Sehingga dengan kondisi yang demikian menjadi istri nusyuz. Rasa cemburu yang didasari tanpa keraguan akan mendorong seorang istri untuk melakukan perbuatan dosa dan berbuat maksiat seperti : Ghibah, adu domba, hasut, dengki dann sebagainya.28

26

Ibid, Muhammad Thalib, h.40

27

Butsainah As-sayyid Al-iraqi, Asror fi hayati Al-muthallaqoot, Pustaka Al-sofwa, cet 1 h. 51-54

28

(52)

5. Faktor suami kikir

Suami yang kikir, dan selalu mengadakan perhitungan untuk memberikan belanja yang amat dibutuhkan oleh istrinya, padahal ia mampu dan mempunyai uang. Kekiriran itu yang paling besar adalah ketidak wajiban suami untuk memberikan nafkah wajib, sementara dia sangat gampang menggunakan uangnya dengan penuh kebanggaan untuk diberikan kepada orang-orang disebelah kanan dan kiri, demi kepentingan dirinya yang tidak penting seperti : membantu kawannya yang kurang baik, menyelengarakan pesta pora, dan mengadakan rekreasi yang tidak bermanfaat. Akan tetapi sangan disayangkan, apabila diminta oleh keluarganya, dia sangat bakhil dan kikir serta selalu mengadakan perhitungan. Kondisai seperti diatas, merupakan keadaan yang amat menyakitkan, amat menggetirkan, dan amat menyakitkan hati. Tidak sedikit rumah tangga mengalami keputus-asaan, dirundung nestapa, dan dililit ketidak harmonisan sebagai akubat dari sikap dan perbuatan suami yang bakhil dan selalu mengadakan perhitungan. Boleh jadi, istri dan anak-anaknya tinggal dirumah yang tak layak huni, pakaian mereka sudah rombeng dan lusuh, bisa jadi mereka memint-minta kekanan-kekiri. Tidak dapat diragukan lagi, rumah tangga seperti ini akan mengalami keretakan, anak-anaknya akan mencari orang yang mau mengulurkan tangannya untuk membantu mereka.29

29

(53)

Apabila seorang suami mempersulit nafkah wajib yang selayaknya diberikan untuk menutupi kebutuhan istri dan anak-anaknya, maka istri diperbolehkan oleh syariat mengambil dan memanfaatkannya untuk kebutuhan mereka tanpa seizin suaminya.30

Jadi suami kikir bisa menyebabkan tibulnya istri nusyuz kepada suami dikarenakan suami kikir terhadap istri dan anak-anaknya dalam kebutuhan kehiduapan rumah tangganya yang mengakibatkan istri lalai dalam kewajibannya dan menimbulkan penyebab terjadinya perceraian.

E. Pandangan Hukum Islam Terhadap Nafkah iddah Bagi Istri yang Nusyuz.

Menurut para ahli fikih bahwa bekas istri dalam masa iddah talak raj‟I atau dalam keadaan hamil baik dalam masa iddah, berhak menadapkan nafkah dan tempat tinggal dari suaminya.31 Dan Perempuan yang nusyuz tidak berhak mendapatkan nafkah dan juga tempat tinggal ketika nusyuznya itu berlaku dalam masa iddah, kecuali apabila ia taat kepada suaminya maka barulah nafkah dan tempat tinggal itu bisa diberlakukan kembali kepada istrinya.32

Para ulama mazhab sepakat bahwa istri yang melakukan nusyuz tidak berhak atas nafkah,33 Istri dikategorikan nusyuz, Apabila istri meninggalkan rumah tanpa seizin suami, atau menolak tinggal dirumah (suami) yang layak

30

Ibid Muhammad bin Ibrahim Al-hamd, h. 41

31

Kamal Muchtar, Asas-Asas Hukum Islam Tentang Perkawinan, h. 235

32

Mohd Salleh Haji Ahmad, Ruju’ dan Iddah Dalam Sistem Perkawinan Islam, k Pustaka abdul Majid 1995 cet 1 h.60

33

(54)

baginya, maka dia dianggap sebagai istri Nusyuz, dan menurut kesepakatan seluruh mazhab, dia tidak berhak atas nafkah. Hanya saja Syafi‟I dan Hambali menambahkan bahwa. Apabila istri keluar rumah demi kepentingan suami, maka hak atas nafkah tidak menjadi gugur. Tetapi bila bukan untuk kepentingan suami, sekalipun dengan izinnya, gugurlah nafkah hak atas nafkahnya. kemudian apabila seorang istri dicerai suaminya ketika dia dalam keadaan Nuyus, maka istri tidak

berhak atas nafkah. Kalau dia dalam keadaan „Iddah dari talak raj‟I, lalu

melakukan Nusyuz ketika menjalani iddah-nya, maka haknya atas nafkahnya menjadi gugur. Kemudian bila dia kembali taat, maka nafkahnya diberikan terhitung dari waktu ketika diketahui dia kembali taat.34

Tetapi Hanafi berbeda pendapat tentang batasan nusyuz yang mengakibatkan gugurnya nafkah., sekaplipun haram, tetap tidak menggugurkan haknya atas nafkah.

Hanafi berpendapat ; manakalah istri mengeram dirinya dalam rumah suaminya, dan tidak keluar rumah tanpa izin suaminya, maka dia masih disebut patuh (Muthi’ah), sekalipun dia tidak bersedia dicampuri tanpa dasar syara‟ yang benar, penolakannya yang seperti itu, sekaplipun haram, tetap tidak menggugurkan haknya atas nafkah. Bagi hanafi, yang menjadi sebab keharusan memberikan nafkah kepadanya adalah beradanya wanita tersebut dirumah suaminya. Persolalan ranjang dan hubungan seksual tidak ada hubungannnya dengan kewajiban nafkah. Dengan pendapat ini, hanafi berbeda pendapat dengan

34

Figur

gambaran umum bagi hakim dalam mengambil keputusan, sehingga dalam

gambaran umum

bagi hakim dalam mengambil keputusan, sehingga dalam p.81

Referensi

Memperbarui...