Teks penuh

(1)

DAFTAR PUSTAKA

Skripsi/Thesis

Susanti, Iva. (2009). Kantor Sewa Diponegoro (Arsitektur Hemat Energi). Skripsi, Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.

Wati, Upi Rika. (2006). Tegal Trade Center (Skripsi S1 tidak diterbitkan). Skripsi, Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Dipenogoro.

Wijanarko, Andre. (2014). Penerapan Arsitektur Tropis Pada Bangunan High Tech. Skripsi, Fakultas Arsitektur dan Desain Universitas Katolik Soegijapranata Semarang.

Zhou, You. (2011). An Application of The Aerotropolis Concept Developing the City of Hapeville into the Future Airport City. The Option Paper Requirement, School of City and Regional Planning Georgia Institute of Technology.

Buku

Chiara, Joseph De & John Callender. (1980). Time Saver Standard for Building Types second edition International Edition. Singapura: McGraw-Hill. Juwana, Jimmy S. (2005). Panduan Sistem Bangunan Tinggi. Jakarta: Penerbit

Erlangga.

Karlen, Mark. (2007). Space Planning Basics, 2nd Edition. Dasar-Dasar Perencanaan Ruang, Edisi Kedua (terj). Jakarta: Penerbit Erlangga.

(2)

Neufert, Ernest. (1996). Data Arsitek Edisi 33 jilid 1 dan 2 (terj.), Jakarta: Erlangga

Science, Blackwell. (2002). The Architects’ Handbook edited by Quentin Picakard RIBA, Bodmin: A Blackwell Publishing Company MPG Books Ltd.

Jurnal

Maer, Bisatya W., Benjamin Lumantarna, & Joyce M. Laurens. (2011). Penataan Elemen Struktural Untuk Menyederhanakan Perilaku Dinamik, Dalam Keterpaduan Dengan Desain Arsitektur. Journal of Architecture and Built Environment, 43-54.

Dananjaya, Anwari, Alpha Febela Priyatmono, & Samsudin. (2013). Identifikasi Fasad Arsitektur Tropis Pada Gedung-Gedung Perkantoran Jakarta (Studi Kasus Pada Koridor Dukuh Atas-Semanggi). Journal of Sinektika Vol.13 No.2.

Kasarda. John D. (2010). Airport Cities and the Aerotropolis: The Way Forward. London: Insight Media

Kasarda, John D. (2016). Aerotropolis. West Sussex UK: John Wiley & Sons Press.

Talarosha, Basaria. (2005). Menciptakan Kenyamanan Thermal Dalam Bangunan. Journal of Sistem Teknik Industri Volume 6, No. 3.

WANG, Ying. Chien-chang CHOU. Gi-tae YEO. (2013). Criteria for Evaluating Aerotropolis Service Quality. The Asian Journal of Shipping and Logistics. Volume 29, Nomor 3, hal. 399.

Company atau Instituisi

(3)

Sustainable Development BSD City Newtown Development. (PT. Sinarmas Land). were used Low carbon initiative through City transport model and Green Building. 2014.

Internet

Almirhea, Fathi. (2016). Aerotropolis, Konsep Kota Berbasis Bandar Udara, [Online]. Tersedia: http://www.kompasiana.com/fathialmirhea/

aerotropolis-konsep-kota-bebasis-bandar-udara_56c1c7742d7a61c20b772a84. [8 Maret 2016]

Anonim. (2013). Wisma Dharmala Tower, [Online]. Tersedia: https://en.wikiarquitectura.com/index.php/Wisma_Dharmala_Tower. [8 Maret 2016]

Jatmiko, Bambang Priyo. (2014). Aerotropolis, Konsep Pengembangan Kawasan Berbasis Aviasi, [Online]. Tersedia: http://bisniskeuangan. kompas.com/read/2014/07/23/091600426/Aerotropolis.Konsep.Pengemba ngan.Kawasan.Berbasis.Aviasi. [28 Februari 2016]

Jatmiko, Bambang Priyo. (2014). Menimbang Manfaat Pengembangan Aerotropolis di Kualanamu, [Online]. Tersedia: http://bisniskeuangan. kompas.com/read/2014/07/23/055540326/Menimbang.Manfaat.Pengemba ngan.Aerotropolis.di.Sumatra.Utara?utm_source=RD&utm_medium=inart &utm_campaign=khiprd. [28 Februari 2016]

KBBI. (2016). Dagang, [Online]. Tersedia: http://kbbi.web.id/dagang. [28 Februari 2016]

Kualanamu. (2016). Bandar Udara Internasional Kualanamu, [Online]. Tersedia: http:// kualanamu-airport.co.id/id/general/about-us. [23 Februari 2016]

(4)

Mandiri, Yufakarya. (2016). Pengertian Dan Konsep Arsitektur Tropis, [Online]. Tersedia: http://cv-yufakaryamandiri.blogspot.co.id/2012/10/ pengertian-dan-konsep-arsitektur-tropis.html [29 Februari 2016]

Perkasa, William. (2014). Mewujudkan Mimpi Aerotropolis, [Online]. Tersedia: http://lyonair.blogspot.co.id/2014/07/mewujudkan-mimpi-aerotropolis.html. [8 Maret 2016]

Pers, Siaran. (2016). PT Angkasa Pura II Inisiasikan Pengembangan Aerotropolis di Indonesia, [Online]. Tersedia: http://www.angkasapura2.

co.id/id/informasi/siaran-pers-detail/pt-angkasa-pura-ii-inisiasikan-pengembangan-aerotropolis-di-indonesia--1018. [12 April 2016]

Wardhono, Fitri. (2013). Aero City, [Online]. Tersedia: https://fitriwardhono. wordpress.com/2013/06/17/aero-city/. [8 Maret 2016]

WBP. (2012). Makanan & Wisata, [Online]. Tersedia: http://www.beritasatu.com/destinasi/40960-kualanamu-bakal-jadi-bandara -berkonsep-aerotropolis.html. [23 Februari 2016]

Wikipedia. (2015). Kantor, [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/ wiki/Kantor. [28 Februari 2016]

Wikipedia. (2015). Bisnis, [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/ wiki/Bisnis. [28 Februari 2016]

Wikipedia. (2015). Amsterdam Airport Schiphol, [Online]. Tersedia: https://en.wikipedia.org/wiki/Amsterdam_Airport_Schiphol. [13 April 2016]

Wikipedia. (2015). Hong Kong International Airport, [Online]. Tersedia: https://en.wikipedia.org/wiki/Hong_Kong_International_Airport. [13 April 2016]

(5)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pada Bab II ini mendiskusikan definisi dan deskripsi dari judul penelitian, tinjauan fungsi dan penerapan tema pada bangunan.

2.1. Terminologi Judul

Judul dari proyek adalah Kantor Bisnis Kualanamu yang berkonsep aerotropolis, yaitu merupakan tempat dimana para pebisnis menjalankan usaha untuk mendapatkan keuntungan. Berikut ini merupakan pengertian definisi kata dari judul,

2.1.1. Kantor

Dikutip dari Wikipedia.com (terakhir disunting 2 September 2015), kantor (dari bahasa Belanda kantoor, sendirinya dari bahasa Perancis comptoir) adalah sebutan untuk tempat yang digunakan untuk perniagaan atau perusahaan yang dijalankan secara rutin. Kantor bisa hanya berupa suatu kamar atau ruangan kecil maupun bangunan bertingkat tinggi. Tujuan utama lingkungan perkantoran adalah untuk mendukung penghuninya dalam pelaksanaan pekerjaan, dengan biaya serendah mungkin dan tingkat kepuasan setinggi mungkin. Mengingat beragamnya pekerja dan tugas yang dikerjakan, ruang kantor dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu ruangan kerja (work spaces), ruangan pertemuan (meeting spaces), ruangan pendukung (support spaces).  Menurut Cyril M. Harris dalam bukunya “Dictionary of Architecture and

Construction,” kantor adalah bangunan yang digunakan untuk tujuan professional ataupun administrasi, dan tidak ada bagian yang dipergunakan untuk keperluan hunian, kecuali oleh para penjaga dan pembersih kantor.

(6)

kapitalis, di mana kebanyakan bisnis dimiliki oleh pihak swasta, bisnis dibentuk untuk mendapatkan profit dan meningkatkan kemakmuran para pemiliknya. Secara etimologi, bisnis berarti keadaan di mana seseorang atau sekelompok orang sibuk melakukan pekerjaan yang menghasilkan keuntungan. Bisnis memiliki cara kerja sistem desentralisasi dan biasanya memperoleh keuntungan dengan proses jangka waktu yang panjang sehingga membutuhkan visi yang jauh ke depan. Bisnis juga biasanya mendirikan brand sebagai image dalam pemasaran produk dalam cabang.

2.1.3. Kualanamu

 Kualanamu (Bandar Udara Internasional Kualanamu) adalah bandar udara yang beroperasi di Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Berdasarkan sumber website resmi Kualanamu, bandara ini terletak 39 km dari Kota Medan. Bandara ini adalah Bandara terbesar kedua di Indonesia setelah Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Lokasi Bandara ini dulunya bekas areal perkebunan PT Perkebunan Nusantara II Tanjung Morawa yang terletak di Kecamatan Beringin, Deli Serdang, Sumatera Utara.

2.2. Aerotropolis

Aerotropolis adalah sebuah teori yang dikemukakan oleh profesor di University of North Carolinas KenanFlagler Business School, John D. Kasarda pada tahun 2000. Dalam konsepnya, bandara hanya bisa efektif memberikan dampak ekonomi jika dirancang dan dikelola secara integrasi dengan kawasan di sekitarnya. Kasarda (2011) menyatakan bahwa; "The 20th century was about cities building airports. The 21st century will be about airports building cities" dan “The airport leaves the City. The City follows airport. The airport becomes a City.

(7)

Aerotropolis adalah pengembangan dari konsep aerocity yang merupakan konsep paling modern dalam pembangunan, pengelolaan, dan pengembangan fungsi bandar udara di suatu wilayah. Dalam konsep aerocity, bandara dirancang menjadi sebuah kota yang di dalamnya terdapat sejumlah kegiatan bisnis. Pada konsep Aerotropolis, konsep aerocity ini diperluas dengan mengintegrasikan bandara dengan kawasan di sekitar bandara dengan radius hingga 30 kilometer dengan dampak ekonomi sampai dengan 70 kilometer.

Kasarda menempatkan bandara sebagai pusat kegiatan ekonomi yang dikelilingi berbagai fasilitas pendukung seperti perkantoran, area komersial, area hiburan, layanan kesehatan kelas dunia, sarana pendidikan dan berbagai industri terkait lainnya. Pengembangan di dalam pagar bandara akan di koordinasikan langsung oleh pengelola bandara, serta pihak bandara juga dapat bekerja sama dengan investor untuk mengembangkan kawasan. Sementara untuk kawasan di luar bandara, dibuka untuk para investor.

(8)

sebuah magnet yang akan menarik aktivitas manusia. Bagi bandara sendiri, konsep aerotropolis akan memberikan keuntungan diluar pendapatan konvensional namun pada konsentrasi investasi bisnis. Saat ini, transaksi ekonomi pada bandara dan kawasan sekitarnya di Indonesia belum maksimal. Secara agregat besarannya tertinggal jauh dari bandara internasional lain yang dianggap sebagai model aerotropolis di dunia bila dibandingkan bandara terbesar di Indonesia, Bandara Soekarno-Hatta.

Makin banyak mobilitas yang terjadi di dekat bandar udara, semakin banyak sarana prasarana penunjang yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang bermobilitas. Konektivitas pusat-pusat pertumbuhan dengan bandara pun harus baik. Konektivitas yang baik antar pusat pertumbuhan dapat memacu perkembangan suatu wilayah.

Tiga Syarat. Menurut Kasarda, konsep aerotropolis harus memenuhi tiga syarat utama. Pertama adalah membangun wilayah sekitar bandara dengan hotel, perkantoran, ritel, factory outlet, dan pusat bisnis lainnya. Agar wisatawan atau pengunjung yang singgah di bandara tidak kesulitan untuk mengakses fasilitas-fasilitas perekonomian. Kedua, menyediakan transportasi yang beragam dan saling terhubung dengan bandara. Seperti transportasi kereta api, bus, jalan tol dan transportasi publik lainnya yang terhubung dengan bandara. Ketiga, menyediakan dan membangun fasilitas pengangkutan logistik di sekitar bandara. Untuk beberapa kriteria berdasarkan para ahli, dapat dilihat berdasarkan tabel berikut,

Tabel 2.1. Kunci Kriteria Pelayanan di Kawasan Aerotropolis

Penulis (tahun) Kunci Kriteria

Loo (2008) Tarif penerbangan, waktu akses, frekuensi penerbangan dan jumlah penerbangan, jumlah mode akses bandara, biaya akses, tempat perbelanjaan daerah bandara dan waktu antrian check-in di counter Han et al. (2012) Image, aksesibilitas, suasana, pelayanan untuk makanan dan

minuman, dimensi fasilitas Button dan Hall

(1999)

Liberalisasi peraturan, meningkatkan pilihan destinasi perjalanan, strategi jaringan yang efisien

Nucciarelli dan Gastaldi (2009)

Ada sebuah platform TI, brand baru, manajemen pariwisata yang bersifat kolaboratif

Pagliari (2005) Pariwisata, lokasi geografis, skala dan distribusi spasial permintaan bisnis dan wisata, hubungan yang tersedia, dukungan pemerintah Graham dan Guyer

(2000)

(9)

dan kontribusi dari transportasi udara untuk pertumbuhan ekonomi daerah

Wang (2011) Diversifikasi industri, konstruksi agresif, liberalisasi perdagangan, peraturan rasionalisasi, kenyamanan lingkungan, operasi globalisasi dan manajemen bisnis

Kasarda (2009) Transportasi multimoda, business parkss dan bandara yang terhubung, kompleks teknologi informasi, ritel, pusat hotel dan hiburan, taman industri, logistics parks, pendidikan dan pelayanan kesehatan, meeting dan area pemukiman

Steven (2010) Pengembangan ekonomi, land use (tata guna lahan), infrastruktur dan tata kelola, kepemilikan bandara, prosedur konsultatif dan konflik, bandara dan transportasi udara keamanan, manajemen, peraturan dan kebijakan, pengaturan kelembagaan dan kemitraan swasta publik

Infrager, J.F. (2011)

Konektivitas non-stop antara moda transportasi, zona perdagangan bebas, pengembangan tenaga kerja terampil, kolaborasi antar yang berkepentingan, fasilitas, undang-undang terkait

McAllister, B. (2011)

Zona bebas pajak, infrastruktur, operator kargo, diversifikasi industri, penggunaan ketersediaan lahan, insentif untuk perusahaan Mark, A (2012) Lokasi geografis, lahan yang tersedia dengan harga yang wajar,

kerjasama antar berbagai lembaga pemerintah dan swasta, transportasi, penggunaan fasilitas, insentif, tenaga kerja

Hirsh (2011) Free trade zones, pusat ritel dan logistik, pusat perbelanjaan, hotel, high-tech, pariwisata, perkantoran, perumahan, universitas, penelitian terapan

Maister, P. (2012) Hubungan pribadi publik, dana pemerintah, membangun kerangka kebijakan nasional, transportasi multimodal, tanah sekitarnya yang cukup untuk pengembangan

Klann (2009) Peran Teknologi Informasi Skouloudis et al.

(2012)

Ekonomi (indikator ekonomi), lingkungan (indikator lingkungan) dan sosial (praktek kerja dan pekerjaan yang layak, hak asasi manusia, penanggung jawab masyarakat dan produk

Sumber: The Asian Journal of Shipping and Logistics “Criteria for Evaluating Aerotropolis Service Quality” Volume 29, Nomor 3, Desember 2013, hal. 399

(10)

Kasarda menjelaskan, konsep aerotropolis dapat menjawab tantangan pertumbuhan ekonomi yang merata dalam cakupan wilayah Indonesia yang sangat luas. Sebab, konsep aerotropolis bertujuan meningkatkan efektifitas, efisiensi, dan pembangunan ekonomi berkelanjutan yang meletakkan bandara sebagai pusat pertumbuhan dan konetivitas dengan pasar global.

Tri S. Sunoko, Presiden Direktur Angkasa Pura II (April, 2014) mengatakan bahwa Bandara Kualanamu diharapkan menjadi hub International kedua di bagian Barat Indonesia setelah Bandara Soekarno-Hatta. Dengan 680 Ha lahan untuk pengembangan kawasan komersial dalam pagar Bandara (KNO Airport City), dan lebih dari 10.000 Ha lahan untuk pengembangan yang tersedia diluar pagar bandara (Aerotropolis). Dimana Bandara Kualanamu menrupakan Bandara pertama yang memiliki jalur kereta api ekspres menuju kota.

John D. Kasarda pencetus konsep aerotropolis, dalam kesempatan yang sama menuturkan bahwa Kualanamu bisa dikembangkan menjadi kawasan aerotropolis seperti halnya Schipol International Airport di Amsterdam, Incheon Internasional Airport di Korea Selatan, dan beberapa bandara lainnya. “Di dalam Schipol International Airport maupun di kawasan sekitarnya sudah terdapat banyak perkantoran, hotel, tempat hiburan, industri, dan sebagainya. Bahkan kantor Microsoft berada di Schipol. Semakin banyak aerotropolis di negara-negara lain akan mendorong semakin mudahnya koneksi global,” jelas John. John menuturkan harus ada kesamaan

Gambar 2.2 Skematik Konsep Kualanamu

(11)

visi diantara pengelola bandara, maskapai, dan pemerintah setempat, untuk memuluskan pembangunan bandara berkonsep aerotropolis. “Pengelola bandara, maskapai, dan pemerintah setempat saling mempengaruhi satu sama lain, namun tidak bisa ada yang lebih kuat. Ketiganya harus saling mendukung,” kata John.

2.2.1. Lokasi Aerotropolis Secara Umum

Lokasi kawasan aerotropolis umumnya berada diluar pagar bandara dengan memiliki akses mudah dan langsung menuju bandara dan kota. Kasarda mengatakan bahwa, “Bagian kota bandara aerotropolis sering dipandang sebagai batas properti bandara. Hal ini memberikan perbedaan definisi yang jelas untuk dua komponen utama aerotropolis (luar dan dalam bandara). Tetapi, sama seperti kota-kota pusat yang tidak berhenti tumbuh pada batas-batas wilayah politik, mirip dengan Biro Sensus AS dimana definisi wilayah perkotaan dimaksudkan untuk menangkap unit metropolitan inti lebih-lengkap. Demikian juga, batas luar dari aerotropolis tidak diatur oleh batas-batas yurisdiksi atau jarak, tetapi terkait pada saat konektivitas bisnis penerbangan dan orang-orang bisnis ke bandara. Tidak ada batas yang disepakati untuk menentukan ukuran jarak dan waktu, namun diperkirakan waktu radius 20 menit hingga atau 30 menit digunakan sebagai acuan untuk mengatur batas luar dalam beberapa studi rencana induk aerotropolis.”

Sebagai contoh, seiring meningkatnya jumlah fungsi kantor, fungsi komersial, perumahan klaster, dan perusahaan penerbangan yang berorientasi dan terkait dengan perkembangan di sekitar bandara, hal tersebut menciptakan kutub pertumbuhan kota baru sendiri. Beberapa kelompok aerotropolis terbesar seperti Amsterdam Zuidas, dapat ditempuh selama 7 menit dari Bandara Schiphol; Las Colinas, Texas, berlokasi tepat disebelah timur dari DFW; Songdo Business District International dekat dengan Bandar Udara Internasional Korea Selatan Incheon; dan Zhengzhou (Cina) Bandara Zona Ekonomi yang telah menjadi signifikan secara global.

(12)

Ring 1 (memiliki ketinggian maksimal < 45 meter), Ring 2 (memiliki ketinggian antara 45-150 meter), dan Ring 3 (memiliki ketinggian maksimal > 150 meter).

Berdasarkan pertimbangan faktor pola pemanfaatan, faktor kebisingan dan faktor komponen pendukung Bandar Udara Kualanamu dinyatakan bahwa pada daerah perpanjangan landasan baik sebelah utara maupun selatan berada dalam daerah kontur kebisingan dengan nilai NEF lbih dari 40 db yang artinya pada daerah ini tidak dibenarkan adanya pengembangan ataupun pembangunan karena dapat mengganggu kesehatan masyarakat dan apabila tetap ingin dilaksanakan harus menggunakan konstruksi bangunan khusus seperti peredam kebisingan. Kebisingan maksimum pada daerah ini, untuk Ring 1 adalah 10 meter; Ring 2 adalah 28,5 meter; dan untuk Ring 3 adalah 88,5 meter; sehingga pemanfaatan lahan yang sesuai adalah yang tidak berhubungan langsung dengan aktivitas masyarakat seperti RTH, pertanian, peternakan, perikanan, dan kuburan.

2.2.2. Bangunan-Bangunan di Kawasan Aerotropolis

Aerotropolis memiliki beberapa konsep sebagai dasar pengembangannya. Aerotropolis menjadi generator utama pengembangan kawasan karena merupakan kawasan cepat tumbuh berbasis bandara atau sering disebut airportcentric commercial development. Kawasan ini menciptakan secara mandiri:

(13)

Penjelasan diatas menunjukkan bahwa kriteria bangunan yang umumnya eksis dalam kawasan aerotropolis meliputi,

1. Gedung-gedung perkantoran 2. Hotel, apartemen dan akomodasi

3. Convention dan Exhibitions centres serta ruang meeting pribadi dengan layanan dukungan bisnis

4. Restoran, catering dan pelayanan tempat makan lainnya yang sejenis

5. Shopping mall dan ritel-ritel berbasis internasional 6. Bank dan Money Changer

7. Tempat hiburan dan atraksi budaya termasuk museum, galeri seni, dan bioskop

8. Berbagai jenis kios-kios

9. Area rekreasi yang melayani pribadi dan keluarga seperti, fasilitas kebugaran, spa, dan tempat penitipan anak-anak untuk pekerja 10.Fasilitas medis dan kesehatan

11.Logistik dan Air Cargo 12. Factory outlet

13.Industri terkait dengan penerbangan 14. Free Trade Zones

15.dan kebutuhan lainnya yg terkait dengan kawasan.

2.2.3. Literatur Aerotropolis

Berikut ini beberapa studi kasus aerotropolis yang sudah beroperasi di negara-negara Eropa, dan Asia Pasifik.

A. Amsterdam Airport Schiphol - Zuidas Aerotropolis (Eropa)

(14)

Deskripsi Singkat

Sebagai salah satu dari tiga bandara tersibuk di Eropa, Amsterdam Schiphol Airport dilayani oleh semua penerbangan internasional dan merupakan dasar untuk maskapai nasional. Fasilitas dan layanan di Amsterdam Schiphol International Airport (AMS) dianggap “yang terbaik” di Eropa, dengan berbagai pilihan restoran, bar dan toko-toko, ditambah bank, ATM dan fasilitas yang sangat baik untuk pelancong bisnis, orang-orang dengan kebutuhan khusus dan keluarga muda. Pusat perbelanjaan AMS Bandara 'See Buy Fly' saham berbagai merek top, pengunjung dapat berbelanja secara bebas pajak pada saat kembali ke AMS. Amsterdam Airport Schiphol sering dinominasikan sebagai "bandara terbaik di dunia".

Schiphol memiliki daerah perbelanjaan yang besar sebagai sumber pendapatan dan sebagai daya tarik tambahan untuk penumpang. Schiphol Plaza merupakan pusat perbelanjaan yang dapat dinikmati oleh wisatawan udara dan pengunjung. Pada musim panas 2010, Perpustakaan Bandara Schiphol dibuka bersamaan dengan museum, memberikan penumpang akses ke koleksi 1.200 buku (diterjemahkan ke dalam 29 bahasa) oleh penulis Belanda pada studi yang berkaitan dengan sejarah dan budaya negara. Perpustakaan menawarkan e-book dan musik oleh seniman Belanda dan komposer yang dapat didownload secara gratis.

Gambar 2.3 Bandara Internasional Amsterdam Schiphol 1

(15)

Amsterdam Airport Schiphol memiliki area tampilan atap besar, yang disebut Panoramaterras. Sejak Juni 2011, lokasi untuk KLM Cityhopper Fokker 100, dimodifikasi menjadi sebuah pameran terbuka dimana masyarakat umum bisa masuk secara gratis. Selain Panoramaterras, Schiphol memiliki fasilitas lainnya, terletk di sepanjang landasan pacu Polderbaan terbaru dan restoran McDonald di sisi utara dari bandara.

Untuk fasilitas medis, Schiphol memiliki kamar mayat sendiri, dimana orang yang meninggal dapat ditangani dan disimpan sebelum keberangkatan atau setelah kedatangan. Bahkan semenjak Oktober 2006, masyarakat juga bisa mengadakan upacara pernikahan di Schiphol.

Schiphol juga memiliki bangunan hotel new state-of-the-art yang berbentuk kubus dengan 433 kamar, yang memiliki sudut lengkung dan jendela berbentuk berlian. Atrium luas akan memiliki tinggi 41 meter dengan langit-langit yang terbuat dari kaca dan berada di jantung dari bangunan. Sebuah jalan khusus akan menghubungkan hotel langsung ke terminal.

Seiring berkembangnya kebutuhan, Schiphol akhirnya memperluas terminal dan membangun fasilitas baru untuk check-in dan kedatangan untuk penumpang tambahan yang datang ke bandara. Lalu lintas udara Schiphol di kontrol melalui menara kontrol dengan ketinggian 101 meter.

Gambar 2.5 Schiphol Airport Library

(16)

Bandara Schiphol menyajikan infrastruktur transportasi dengan sangat baik. Kereta berangkat dari platform yang terletak di bawah Plaza Schiphol dan dapat dicapai dengan eskalator atau lift. Serta jadwal kereta yang cepat dan efisien ke Central Station Amsterdam, ada juga kereta langsung dari bandara ke negara lain. Kereta Api Internasional, termasuk Thalys, selatan ke Brussels dan Paris juga dapat diakses di stasiun Schiphol. Peran transportasi menjadi penting ketika datang ke konsep Airport City.

Schiphol Real Estate Group, telah terlibat selama dua dekade dalam pengembangan komersial sisi darat. Perkembangan ini termasuk kompleks kantor bisnis, hotel, ruang pertemuan dan fasilitas hiburan, taman logistik, belanja dan kegiatan komersial lainnya bermerek dengan nama Airport City. Lebih dari 60.000 orang bekerja di Schiphol, yang terintegrasi transportasi multi-modal, kantor pusat perusahaan daerah, belanja ritel, logistik dan ruang pameran untuk membentuk tiang pertumbuhan ekonomi utama bagi perekonomian Belanda.

Gambar 2.6 Overviw Bandara Schiphol (sumber: https://en.wikipedia.org/ wiki/File:Schiphol-overview.png)

(17)

Amsterdam memulai sebuah proyek ambisius dan bergengsi mengembangkan kota internasional baru yang disebut "Zuidas", yang berarti sumbu selatan, sebagai solusi untuk permintaan yang semakin meningkat dari ruang kantor kualitas yang lebih tinggi. Membentang sepanjang bagian selatan dari jalan A10 yang mengelilingi kota bersejarah ibukota Belanda - Amsterdam, Zuidas dapat ditempuh selama 6 menit dari Bandara Internasional Schiphol. Kota ini dirancang untuk menjadi lokasi utama bagi perusahaan global dan pengembangan bisnis.

Pengembangan 25 tahun terdiri dari 42% perumahan, 42% kantor, dan 15% jasa (Jantzen dan Venter, 2008). Mulai dari unit terjangkau untuk apartemen mewah, perumahan direncanakan untuk menampung 25.000 penduduk. Proyek ini menyediakan 1 juta meter dari Kelas A ruang kantor, 0,5 juta meter persegi ruang hunian, fasilitas rekreasi, dan terbuka ruang (Pujinda, 2006). Zuidas saat ini menjadi markas dunia ABN AMRO Group dan ING Corporate. Pada saat proyek selesai, kantor pusat internasional menjadi lebih banyak, usaha kecil, industri kreatif, dan lembaga kebudayaan

(18)

Fitur lain yang khusus dari perkembangan ini adalah interkonektivitas. Sejumlah besar perumahan dibangun di area jalan raya dan rel kereta api, sehingga hal tersebut akan dialokasikan menjadi sebuah stasiun bawah tanah membentang sepanjang 1.5 kilometer (hampir 1 mil). Stasiun baru kereta api berkecepatan tinggi di jantung pembangunan, yang disebut "Zuid / WTC", akan menjadi salah satu dari tiga stasiun terbesar di Belanda dengan 200.000 penumpang setiap hari dan frekuensi keberangkatan setiap menit kedua (Jantzen dan Venter 2008). Stasiun kereta api bawah tanah ini akan berfungsi sebagai pintu gerbang ke dan dari Amsterdam, yang memotong waktu perjalanan dari Bandara Internasional Schiphol ke ibukota turun hanya 11 menit. Selain kereta bawah tanah metro, pusat transportasi multi-modal ini juga menyediakan bus, trem cepat, dan rel kecepatan tinggi ke Brussels, Paris, Cologne dan Berlin.

Selain kegiatan industri dan komersial sekitar bandara, kota bandara menjadi sinergi bagi industri yang padat pengetahuan. Lebih dari tiga perempat dari Grup Schiphol (pemilik bandara Amsterdam) menerima pendapatan operasional tahunan, lebih dari $ 400 juta, berasal dari real estate, bisnis dan pengeluaran konsumen, dan sisanya kurang dari

Gambar 2.9 Pra Pengembangan Zuidas Gambar 2.10 Pasca Pengembangan Zuidas

(19)

seperempat berasal dari operasi penerbangan (Yigitcanlar, Martinez -Fernandez, et al, 2008). Kasus Schiphol memberikan contoh lain bahwa nilai ekonomi dari aerotropolis tidak hanya terletak pada operasi penerbangan, tetapi juga dapat dikapitalisasi dari nilai-nilai tambahan yang diciptakan oleh sekitarnya bisnis yang berhubungan dengan penerbangan dan industri pendukungnya.

Lokasi Zuidas secara umum masih berada dalam blok Bandara Internasional Schiphol, berjarak sekitar 500 meter dari pintu bandara dan 1 kilometer dari pusat bandara. Tampilan bangunan yang terdapat dikawasan bandara identik dengan tema post-modern dan high tech. Secara kesuluruhan, Lokasi Zuidasarea Amsterdam Airport Schiphol memiliki fasilitas:

a. Pusat Transportasi Multi-modal (udara, kereta api penumpang dan akses jalan raya)

b. Dari Kota ke Bandara Kota - Arena Shopping

- Kafe-kafe dengan fasilitas Internet - Restoran-restoran yang memiliki tema - Galeri seni/museum, Spa, Casino c. Bangunan Kantor (didalam pagar bandara)

- Microsoft - Ernst & Young

- Salomon Brothers Internasional - Unilever

- Heineken Ekspor Group

d. Dua First-Class Hotel dan Fasilitas Exhibition (di dalam pagar bandara) e. Cargo City (di dalam pagar bandara)

f. Total 61.000 Pekerja Harian (di dalam pagar bandara)

(20)

h. Amsterdam Zuidas, 5 kilometer diluar pagar bandara – 2,5 M m2, kantor 43%, 42% perumahan, dan 15% fasilitas komersial lainnya, dapat dijangkau selama 6 menit dari terminal Schiphol (Jantzen dan Venter, 2008).

B. Hong Kong International Airport - SkyCity Aerotropolis (Asia Pasifik)

Hong Kong International Airport adalah bandara utama di Hong Kong. Bandara ini berlokasi di pulau Chek Lap Kok, yang sebagian besar terdiri dari tanah reklamasi untuk pembangunan bandara itu sendiri.

Bandara ini merupakan gerbang kargo tersibuk di dunia dan juga menjadi salah satu bandara dengan penumpang tersibuk di dunia. HKIA merupakan kontributor penting bagi perekonomian Hong Kong, dengan sekitar 65.000 karyawan. Lebih dari 100 airlines mengoperasikan penerbangan dari bandara ke lebih dari 180 kota di seluruh dunia. Pada 2015, HKIA ditangani 68,5 juta penumpang, sehingga termasuk dalam 8 bandara tersibuk di dunia dari lalu lintas penumpang. Hal ini juga

Gambar 2.12 Aalsmeer Flower Market Gambar 2.13 Amsterdam Zuidas: Airport Edge

City

Gambar 2.14 Hong Kong

International Airport (HKIA)

Gambar 2.15 A bird's eye view of Hong Kong

(21)

melampaui Bandara Memphis International untuk menjadi bandara tersibuk di dunia oleh lalu lintas kargo.

Pemerintah jasa penerbangan menyediakan pencarian jangkauan dan penyelamatan jasa pendek dan panjang, dukungan polisi, evakuasi medis dan penerbangan tujuan umum untuk Pemerintah. Untuk fasilitas penumpang, terminal didesain senyaman mungkin agar mempermudah pergerakan penumpang melalui bangunan. Tersedia juga Kereta wisata dengan kecepatan 62 kilometer per jam. Bandara ini juga menawarkan sebuah teater IMAX yang memiliki layar terbesar di Hong Kong. Teater ini terletak di Terminal 2, tingkat 6 dan dapat menampung 350 orang pada satu waktu. Hong Kong Business Aviation Centre (BAC), terletak di dalam bandara dan memiliki terminal sendiri dan fasilitas terpisah dari terminal publik.

BAC menyediakan layanan untuk pesawat eksekutif dan penumpang, termasuk ruang penumpang, kamar pribadi dan kamar mandi, fasilitas pusat bisnis, ground handling, penanganan bagasi, bahan bakar, keamanan, adat istiadat dan perencanaan penerbangan. Beberapa fasilitas yang tersedia didalam bandara meliputi pusat transportasi inter-modal, fasilitas bagasi dan kargo, teknisi pesawat, fasilitas airport sebagai area peralihan, fasilitas sistem penyelamatan kebakaran, hotel-hotel bandara, serta transportasi darat yang terhubung dengan pusat Hong Kong yaitu bus, ferry, akses kereta api, dan taksi.

(22)

Hong Kong SkyCity adalah kompleks besar meliputi ritel, pameran, bisnis kantor, hotel dan kompleks hiburan yang berdekatan dengan Bandara Internasional Hong Kong, dan dibangun di atas tanah milik Otoritas Bandara Hong Kong. Saat ini fasilitas mencakup AsiaWorld-Expo, SkyPlaza, SkyPier, Golf course, dan Hong Kong Skycity Marriott Hotel. Hong Kong SkyCity dapat dijangkau dengan menggunakan shuttle buses – dari bandara, dan kereta api ekpres (Automatic People Mover) – dari luar dan dalam bandara.

Dalam pengembangan kawasan aerotropolis, Hong Kong Skycity memiliki dua fase. Fase pertama yang telah selesai adalah AsiaWorld-Expo Center, SkyPlaza dan SkyPier: Cross Boundary Ferry Terminal, yang dibuka pada tahun 2007, menawarkan pusat perdagangan, pusat pameran, Sky Plaza, SkyPier, dan lapangan golf. World Trade Center, langsung

Gambar 2.17 Hong Kong’s Broader Aerotropolis

(23)

terhubung ke terminal kereta api, terdiri dari pusat pameran, ritel, kantor dan perhotelan ruang, dan tempat-tempat rekreasi lainnya.

Lokasi SkyCity berada 0,3 mil dari Hong Kong International Airport. Pengembangan SkyCity menargetkan penumpang domestik dan internasional, dengan tujuan untuk lebih meningkatkan peran bandara sebagai pusat transportasi internasional serta mendorong pertumbuhan ekonomi regional.

Fase kedua Hong Kong Skycity masih dalam taham pembangunan, diperkirakan pada tahun 2018 – 2020 akan dibangun SkyCity & Hongkong Disneyland untuk menarik turis dan bisnis hiburan, dan juga pengembangan-pengembangan konsep serta perancangan friendy urban pedestrian di SkyCity.

Gambar 2.19 Fase 1 Gambar 2.20 Fase 1 - Completed

Gambar 2.21 AsiaWorld-Expo Center Gambar 2.22 SkyPlaza

(24)

C. Incheon International Airport New Songdo City Aerotropolis (Asia Pasifik)

Bandar Udara Internasional Incheon adalah bandara terbesar di Korea Selatan dan merupakan salah satu yang terbesar di Asia. Bandara ini menggantikan Bandar Udara Internasional Gimpo yang sekarang distatuskan sebagai bandara domestik kecuali penerbangan international ke Bandar Udara Internasional Haneda di Tokyo, Jepang, dan Bandar Udara Internasional Hongqiao di Shanghai, RRC.

Gambar 2.24 SkyCity as a Friendly Urbam Pedestrian Precinct

Gambar 2.25 SkyCity & Hong Kong Disneyland Concept

Gambar 2.26 Bandara

(25)

Berperan sebagai bandara penghubung untuk kawasan Asia Timur, terdapat 63 maskapai penerbangan yang melayani penerbangan ke bandara ini. Bandara Incheon ditargetkan menjadi poros mobilitas Pentaport Korea Selatan, yaitu Konsep, integrasi dari bandara, pelabuhan, pelabuhan bisnis, teleport, dan port rekreasi.

New Songdo City

Dikembangkan pada 1500 hektar tanah reklamasi di sepanjang Incheon waterfront, Korea Selatan New Songdo City, juga dikenal sebagai Songo International City atau Songdo Smart City, sekitar 40 mil dari Seoul dan hanya 7 mil dari Bandara Internasional Incheon.

Proyek ini dikembangkan oleh Gale International (pengembang berbasis New York City) dan POSCO E & C (produsen baja terbesar Korea Selatan), pengembangan sektor swasta terbesar di dunia ini bernilai $ 30 miliar yang menggabungkan beberapa rencana induk berupa 40 juta kaki persegi ruang komersial, 35 juta kaki persegi ruang perumahan, 10 juta kaki persegi retail, 5 juta kaki persegi untuk sosial, dan 10 juta kaki persegi ruang publik (Songdo IBD, 2011).

(26)

Dirancang khusus untuk bisnis profesional dan keluarga, kegiatan di lokasi mencakup distrik bisnis internasional, taman teknologi, pusat penelitian dan pengembangan, kompleks olahraga, sekolah negeri dan swasta, serta fasilitas perawatan kesehatan. Kawasan ini juga meliputi Incheon Free Enterprise Zone, zona bebas khusus dengan taman. Upacara peletakan batu berlangsung pada November 2004, dan tahap pertama New Songdo City dibuka pada tahun 2009. Diharapkan bahwa ketika proyek selesai pada tahun 2014, pusat bisnis baru di Timur laut Asia ini akan menjadi rumah bagi 65.000 penduduk dan menarik 300.000 komuter lainnya.

Songdo City diharapkan menjadi manifestasi dari konsep aerotropolis, berkembang di sekitar tepi bandara dan kegiatan komersial

Gambar 2.29 Master Plan Songdo

(27)

bandara-sentris lainnya. Letak yang strategis yaitu sekitar 15 menit berkendara dari Bandara Incheon, New Songdo City menyediakan akses ke 1/3 dari populasi dunia dalam waktu kurang dari 3,5 jam, termasuk China, Jepang, dan Rusia.

Ditunjuk sebagai kota berkelanjutan pertama di dunia, New Songdo City merupakan visi baru untuk kota internasional, baik dari segi prinsip-prinsip desain yang berkelanjutan dan praktek perencanaan kota. Kota ini tidak hanya akan menggabungkan proyek LEED pertama bersertifikat di Korea Selatan dan terbesar di luar Amerika Utara, namun akan menjadi bagian dari LEED ND (New Development) Program Pilot, yang dibangun di atas prinsip-prinsip Smart Growth dan Transit-Oriented-Development, dengan penekanan khusus pada konektivitas lingkungan, aksesibilitas transit, efisiensi energi, dan penyediaan ruang terbuka dan habitat alami.

(28)

Di jembatan Songdo, dibangun sebuah playland besar untuk menyaingi Macau dan Las Vegas. Lorong-lorong yang dilapisi dengan 73 toko high-end, termasuk toko bandara Louis Vuitton pertama. Di beberapa tempat, jika dilihat dengan cara yang benar, kita mungkin berpikir sedang berada di pusat kota Chicago. Proyek Songdo dimulai hampir 20 tahun yang lalu bersamaan dengan dimulainya konstruksi Bandara Internasional baru Incheon.

Apa yang membuat Songdo unik? Dua atraksi utama: Ini adalah tempat pertama di Korea di mana perusahaan asing dapat memiliki tanah, sehingga ide besar untuk mendapatkan perusahaan asing ada dan daerah telah dirancang agar tidak membosankan, seperti perkembangan homogen yang mengelilinginya.

Rencana-gambaran besar: sebuah futuristik, kota hijau dengan kualitas kehidupan yang sangat tinggi dari. Dirancang oleh Firma Arsitektur New York, Kohn Pedersen Fox, Songdo mengambil isyarat dari beberapa kota terbaik di dunia. Central Park dan kanal Venesia, sebuah perumahan "casbah", dan bangunan campuran yang terdiri dari apartemen, retail, serta bangunan komersial, disusun dengan ketinggian yang sedemikian rupa agar cityscape berbentuk seperti tenda.

Gambar 2.32 Suasana Malam di jalanan Songdo

(29)

Tidak seperti kebanyakan perkembangan kota di Korea, yang terdiri dari deretan pilar beton identik, bangunan Songdo bervariasi, menampilkan banyak kaca dan baja, dengan nama-nama yang aspiratif seperti "First World" dan "New World”.

Northeast Asia Trade Tower yang masih belum selesai, gedung tertinggi di Korea Selatan, terlihat sangat mirip dengan One World Trade Center yang baru di Manhattan. Pusat konvensi Songdo, terinspirasi oleh Sydney Opera House, merupakan ruang kolom-bebas terbesar di Asia. Semuanya dirancang untuk dapat dicapai dalam waktu kurang dari 15 menit dengan berjalan kaki, sehingga orang dapat berjalan atau sepeda untuk bekerja bukan mengemudi. Dan segala sesuatu bersifat baru, bertingkat, bersih, dan indah.

Tidak terekcuali ruang hijau kota yang merupakan bagian dari fitur bangunan. Sebuah lapangan golf kejuaraan Jack Nicklaus. Sebuah sekolah internasional yang dijalankan oleh akademi tingkat atas swasta California.

(30)

2.2.4. Rangkuman Konsep Aerotropolis

Tabel 2.2 Rangkuman Konsep Aerotropolis

No. Konsep Aerotropolis Zuidas Aerotropolis SkyCity Aerotropolis New Songdo City Aerotropolis

1. Lokasi Kota Haarlemmermeer,

Provinsi Belanda Utara

Pulau Chek Lap Kok, Hong Kong

Songdo-dong, Yeonsu-gu,

Incheon, Korea Selatan 2. Jarak dari Bandara 1 kilometer dari Barat Daya

Amsterdam (sekitar 20 menit tempuh)

- Salomon Brothers Internasional

- Unilever

- Heineken Ekspor Group

1. Asiaworld-Expo Center 2. Skyplaza Dan Skypier 3. Cross Boundary Ferry

Terminal

1. Distrik Bisnis Internasional 2. Taman Teknologi

3. Pusat Penelitian Dan Pengembangan 4. Kompleks Olahraga

5. Sekolah Negeri Dan Swasta 6. Fasilitas Perawatan

Kesehatan

7. Northeast Asia Trade Tower 8. Family Mart

9. Toko Murah

10.Toko Hewan Peliharaan

4. Tampilan dan Karakteristik Bangunan

Umumnya bangunan bertema high-tech dan post-modern

Umumnya bangunan bertema high-tech dan post-modern

Umumnya bangunan bertema high-tech dan post-modern

(31)

Kesimpulan dari konsep Zuidas Aerotropolis, SkyCity Aerotropolis dan Incheon Aerotropolis, ada beberapa kriteria dan konsep perencanaan aerotropolis seperti pemilihan lokasi, bangunan-bangunan yang direncanakan serta tampilan karakteristik bangunan, yang memiliki persamaan yaitu,

Tabel 2.3 Konsep Perencanaan Aerotropolis

Konsep Perencanaan Aerotropolis Berdasarkan Literatur

Lokasi Umumnya berada dekat dengan bandara, sebelum bandara, mengelilingi bandara ataupun setelah bandara. Kota aerotropolis memiliki akses yang mudah untuk menjangkau dan dijangkau ke/dari bandara. Lokasi yang digunakan biasanya dapat mengalami pengembangan daerah baik secara fisik ataupun ekonomi.

Jarak dari bandara Tidak ada batasan khusus untuk menentukan kawasan kota aerotropolis pada setiap negara. Karena umumnya kota aerotropolis bisa mengalami pengembangan kedepannya. Namun, umumnya waktu yang ditempuh dari kota aerotropolis ke bandara ataupun sebaliknya dapat ditempuh dengan cepat (sekitar 30 menit), mudah dan bebas hambatan.

Bangunan Fungsi bangunan yang ada pada kawasan aerotropolis Zuidas, Skycity dan Incheon umumnya adalah perkantoran, perhotelan, tempat makan, dan permukiman

Karakteristik bangunan

Bangunan yang terdapat pada kawasan aerotropolis Zuidas, Skycity dan Incheon umumnya berkonsep hig-tech

Sumber: data primer yang diolah

(32)

2.3. Lokasi

Sumatera Utara termasuk salah satu provinsi yang sedang berkembang di Indonesia. Kota Medan adalah ibukota dari Provinsi Sumatera Utara yang merupakan kota terbesar ketiga di Indonesia. Semakin berkembangnya kegiatan penduduk diiringi dengan pertambahan populasi menyebabkan Bandara Polonia dipindahkan guna memenuhi kebutuhan

penduduk Kota Medan. Bandar udara merupakan prasarana penting bagi masyarakat dalam kegiatan transportasi udara, terutama Indonesia yang merupakan negara kepulauan. Bandar udara juga berperan dalam kelangsungan pertumbuhan ekonomi daerah. Bandar Udara Internasional Kualanamu adalah bandar udara yang beroperasi di Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara.

Berdasarkan sumber website resmi Kualanamu, bandara ini terletak 39 km dari Kota Medan. Bandara ini adalah Bandara terbesar kedua di Indonesia setelah Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Lokasi Bandara ini dulunya bekas areal perkebunan PT Perkebunan Nusantara II Tanjung Morawa yang terletak di

Kecamatan Beringin, Deli Serdang, Sumatera Utara. Aerotropolis menjadi topik utama dalam perancangan ini dan pengembangan pusat-pusat pelayanan kota dititikberatkan di kawasan sekitar Bandara Kualanamu. Secara makro, kawasan Kualanamu dan sekitarnya merupakan bagian dari kawasan Medan-Binjai-Deli Serdang (Mebidang). Dalam RTRWN kawasan Mebidang dan sekitarnya berfungsi sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN). Kriteria Pusat Kegiatan Nasional (PKN) adalah :

- Mempunyai potensi sebagai pintu gerbang ke kawasan-kawasan internasional dan mempunyai potensi untuk mendorong daerah sekitarnya.

Gambar 2.35 Peta Kab. Deli Serdang

(33)

- Pusat jasa pelayanan keuangan/bank yang melayani nasional atau beberapa provinsi.

- Pusat pengolahan barang secara nasional atau meliputi beberapa provinsi. - Simpul transportasi secara nasional atau untuk beberapa provinsi.

- Pusat jasa pemerintahan untuk nasional atau meliputi beberapa provinsi.

- Pusat jasa kemasyarakatan yang lain untuk nasional atau meliputi beberapa provinsi.

Adapun Kawasan Metropolitan Mebidang di Provinsi Sumatera Utara terdiri dari 1 (satu) Kabupaten yaitu Kabupaten Deli Serdang (yang mencakup 14 Kecamatan) dan 2 (dua) Kota yaitu Kota Medan dan Kota Binjai. Luas Kawasan Metropolitan Mebidang + 1.637,63 Km2 atau hanya 2,28 % dari luas Provinsi Sumatera Utara (71.680 Km2).

Lokasi kawasan terletak di Kecamatan Batang Kuis di Kabupaten Deli Serdang. Di sebelah Utara, kecamatan ini berbatasan dengan Kecamatan Pantai Labu, di sebelah Selatan dengan Kecamatan Tanjung Morawa, di sebelah Barat dengan Kecamatan Batang Kuis dan di sebelah Timur dengan Kecamatan Pantai Labu. Kecamatan Batang Kuis terletak di 3o 35 – 3o 41 LU dan 41o – 46o BT dengan ketinggian 4 – 30 meter diatas permukaan laut. Curah hujan di Kecamatan Batang kuis sebesar 1.821 mm/tahun dan kecepatan angin 1,33 mm/tahun. Rata-rata iklim di kecamatan ini maksimum 32oC dan minimum 22,4oC dengan tingkat penguapan 4,08 mm/tahun. Pada umumnya keadaan tanah di Kecamatan Batang Kuis putih bercampur pasir dan memiliki topografi yang relatif datar.

a. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Deli Serdang

(34)

kegiatan Bantuan Teknis dari Departemen Pekerjaan Umum. Kab. Deli Serdang dimekarkan menjadi dua Kabupaten yaitu Kab. Deli Serdang (Kabupaten Induk) dan Kab. Serdang Bedagai (Kabupaten pemekaran) berdasarkan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2003.

Beberapa Kebijakan RTRW Kabupaten Deli Serdang tahun 1999 -2009 yang dapat dipertimbangkan antara lain :

WPP A : Berpusat di Lubuk Pakam, terdiri dari Pagar Merbau, .Tanjung Morawa, Beringin, Pantai Labu, Perbaungan, Pantai Cermin, Batang Kuis, Percut Sei Tuan dan Galang

WPP B : Berpusat di Pancur Batu, terdiri dari Deli Tua, Patumbak, Kutalimbaru, Namo Rambe, Sibolangit, Biru-Biru, STM Hilir, Labuhan Deli, Hamparan Perak, dan Sunggal

WPP C : Berpusat di Bangun Purba, terdiri dari STM Hulu, Gunung Meriah, dan Kotarih

WPP D : Berpusat di Sei Rampah, terdiri dari Dolok Masihul, Sipispis, Dolok Merawan, Tebing Tinggi, Bandar Khalifah, Tanjung Beringin dan Teluk Mengkudu.

Berdasarkan kebijakan pengembangan WPP A diarahkan sebagai kawasan pertumbuhan utama dengan pusat pelayanan di Lubuk Pakam dengan pengembangan fungsi pusat pemerintahan, perdagangan dan jasa, permukiman, perumahan baru, pertanian, industri dan wisata pantai.

(35)

b. Rencana Tata Ruang Kawasan Kuala Namu dan Sekitarnya

i. Tujuan dan Sasaran Pemanfaatan Ruang

Adapun tujuan pemanfaatan ruang di kawasan sekitar Bandara Kuala Namu adalah untuk mewujudkan ruang kawasan sekitar Bandara Kuala Namu sebagai Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) yang berfungsi sebagai pusat jasa, pariwisata dan industri dengan senantiasa berwawasan lingkungan, efisiensi dalam alokasi investasi, bersinergi dan dapat dijadikan sebagai acuan dalam penyusunan program pembangunan untuk tercapainya kesejahteraan masyarakat.

Sedangkan sasaran dari perencanaan tata ruang Kawasan Bandara Kuala Namu dan Sekitarnya adalah:

1. Terkendalinya pembangunan di Kawasan Bandara Kuala Namu dan Sekitarnya, baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun oleh masyarakat; 2. Tenciptanya keserasian antara kawasan lindung dan kawasan budidaya; 3. Tersusunnya rencana dan keterpaduan program-program pembangunan di

Kawasan Bandara Kuala Namu dan Sekitarnya;

4. Terdorongnya minat investasi masyarakat dan dunia usaha di Kawasan Bandara Kuala Namu dan Sekitarnya

ii. Fungsi Kawasan

Fungsi utama kawasan sekitar Bandara Kuala Namu adalah sebagai kawasan keselamatan operasi penerbangan yang dipergunakan untuk kegiatan operasi penerbangan yang dipergunakan untuk kegiatan operasi penerbangan dalam rangka menjamin keselamatan penerbangan.

(36)

buatan yang digambarkan secara hirarki dan berhubungan satu dengan yang lainnya membentuk struktur ruang kawasan. Isi dari Rencana Struktur Pemanfaatan Ruang diantaranya meliputi :

 Hirarki pusat pelayanan wilayah seperti sistem pusat-pusat perkotaan dan pedesaan, pusat-pusat permukiman.

Hirarki sarana dan prasarana

 Sistem jaringan transportasi seperti sistem jalan arteri, jalan kolektor, jalan lokal dan kelas terminal

2.3.1. Kriteria Pemilihan Lokasi

Untuk memilih lokasi site yang sesuai, haruslah mempertimbangkan beberapa kriteria sehingga lokasi diharapkan mampu memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi pengguna. Kriteria-kriteria tersebut diantaranya:

Tabel 2.4 Kriteria Pemilihan Lokasi

No. KRITERIA LOKASI

1. Tinjauan terhadap struktur kota

a. Berada di Kecamatan Batang Kuis, di Kabupaten Deli Serdang, tepatnya pada Jalan Bandara Internasional Kualanamu, Sumatera Utara 20157.

b. Berdasarkan peraturan KKOP Bandara Kualanamu, lokasi perancangan terletak pada ring 2.

c. Bandar Udara Kualanamu telah ditetapkan sebagai icon primer dalam membentuk struktur ruang di Sumatera Utara. Dalam konteks kebijakan pembangunan, kawasan Bandara Kualanamu dan sekitarnya merupakan bagian dari kawasan strategis dan kawasan andalan untuk mendukung pengembangan kawasan perkotaan Mebidang dan Sumatera Utara pada umumnya.

(37)

2. Pencapaian Dapat diakses dari segala penjuru kota, baik angkutan umum maupun pribadi. Jalan utama dalam pencapaian ke site merupakan jalan arteri yaitu Jalan Bandara Internasional Kualanamu. Secara umum keterkaitan antar wilayah akan banyak ditentukan oleh kondisi prasarana transportasi, terutama jalan dan jembatan.

3. Area Pelayanan

Perancangan ini berada di kawasan dimana lingkungan sekitar mendukung eksisting bangunan, seperti fungsi shopping mall, hotel, apartemen, theme park, museum dan pusat kerajinan tangan. Area pelayanan meliputi perencanaan tapak yang melayani pejalan kaki dan kendaraan bermotor.

4. Peraturan dan persyaratan

 Tanah milik pemerintah atau pribadi

 Nilai lahan termasuk dalam golongan menengah untuk daerah komersial

 Untuk pengembangan kawasan komersial, perdagangan, jasa, dan rekreasi

 KDB Bangunan Fungsi Perkantoran dan Perdagangan 60%

 KLB 4-8

 Luas lahan 1,5 ha dengan luas total bangunan 10.000 m2 (berdasarkan ketentuan TOR PA 6 bangunan single mass) Sumber: data primer yang diolah

2.3.2. Alternatif Lokasi Proyek a) Alternatif Lokasi 1

(38)

 Kasus Proyek : Kantor Bisnis Kualanamu

 Status Proyek : Fiktif

 Lokasi Proyek : Jalan Bandara Kualanamu, Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang

o Batas Utara : Pabrik batu o Batas Timur : Crew Hotel o Batas Selatan : Pondok Pesantren o Batas Barat : Sawah dan Perkebunan  Luas Lahan : 1,5 Ha (15.000 m2)

 Kontur : Datar

 KDB : 60%

 KLB : 4-8

 GSB : Jalan Bandara Kualanamu 9 m

 Potensi Lahan:

- Lokasi site dekat dengan bandara

- Memiliki jalan arteri yang sesuai peraturan

- Memiliki jalan di samping site yang dapat digunakan sebagai jalan keluar masuk service

- Berada dalam pengembangan kawasan komersil dan wisata - Tersedianya fasilitas utilitas seperti listrik, air, dan telepon - Adanya parit untuk drainase

(39)

b) Alternatif Lokasi 2

Lokasi ini berada pada Kecamatan Tanjung Morawa di jalan Batang Kuis, site berada di daerah kawasan perumahan, perkantoran, dan juga komersil. Pada Rencana Sistem Perkotaan di Kabupaten Deli Serdang kawasan ini merupakan kawasan perdagangan dan jasa lokal, industri, dan perumahan dan permukiman.

 Kasus Proyek : Kantor Bisnis Kualanamu

 Status Proyek : Fiktif

 Lokasi Proyek : Jln. Batang Kuis, Kecamatan Tanjung morawa, Kabupaten Deli Serdang

o Batas Utara : Perumahan o Batas Timur : Kantor PTPN o Batas Selatan : Perumahan o Batas Barat : Perumahan TNI

 Luas Lahan : 1,5 Ha (15.000 m2)

 Kontur : Datar

 KDB : 60%

 KLB : 4-8 lantai

 GSB : Jalan Batang Kuis 9 m

 Potensi Lahan

- Lokasi site berada dekat dengan jalan tol

(40)

2.4. Tinjauan Umum

Tenaga kerja adalah modal bagi geraknya roda pembangunan. Jumlah dan komposisi tenaga kerja akan terus mangalami perubahan seiring dengan berlangsungnya proses demografi. Bagian dari tenaga kerja yang aktif dalam kegiatan ekonomi disebut angkatan kerja. Pada kondisi 2014, di kabupaten Deli Serdang terdapat 898.033 penduduk angkatan kerja. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) merupakan ukuran yang menggambarkan jumlah angkatan kerja untuk setiap 100 penduduk usia kerja.

Pertumbuhan tenaga kerja yang kurang diimbangi dengan pertumbuhan lapangan kerja akan menyebabkan tingkat kesempatan kerja cenderung menurun. Meski demikian jumlah penduduk yang bekerja tidak selalu menggambarkan jumlah kesempatan kerja yang ada. Hal ini dikarenakan sering terjadinya mismatch dalam pasar kerja. Pada tahun 2014, dari total angkatan kerja sebesar 898.033 orang, sekitar 93 persen dari mereka telah bekerja dan sebagian dari mereka tidak bekerja 7 persen.

(41)

a. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Deli Serdang pada tahun 2014 mengalami perlambatan bila dibandingkan dengan tahun 2013. Berdasarkan perhitungan PDRB atas dasar harga konstan 2010, laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Deli Serdang tahun 2014 adalah sekitar 7,67 persen. Nilai PDRB atas dasar harga konstan 2010 pada tahun 2013 adalah 51.892,42 milyar rupiah, pada tahun 2014 meningkat menjadi 55.870,48 milyar rupiah.

b. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Per Kapita

Secara umum pendapatan setiap penduduk Kabupaten Deli Serdang dicerminkan oleh PDRB perkapita. Besarnya PDRB perkapita atas dasar harga berlaku meningkat dari 31,35 juta rupiah pada tahun 2013 menjadi sekitar 34,94 juta rupiah pada tahun 2014. Sedangkan PDRB perkapita Kabupaten Deli Serdang pada tahun 2014 bila dilihat berdasarkan harga konstan 2010 meningkat menjadi 28,15 juta rupiah dari sebesar 26,75 juta rupiah pada tahun sebelumnya.

(42)

Tabel 2.5 Rencana sistem perkotaan di kabupaten deli serdang tahun 2025

NO HIRARKI KOTA FUNGSI YANG DIKEMBANGKAN

1 Pusat Pelayanan Kawasan (PPK)

Tanjung Morawa

 Perdagangan dan jasa lokal;  Industri;

 Perumahan dan permukiman. Batang

Kuis

Perdagangan dan jasa lokal;

Pengolahan pertanian dan perkebunan; TOD

Perumahan dan permukiman; Kota transit

Wisata Percut Sei

Tuan

 Perdagangan dan jasa regional;  Pengolahan pertanian dan perikanan;  Perumahan dan permukiman.  Industri;

 Pusat pendidikan dan olah raga; Hamparan

Perak

 Perdagangan dan jasa;  Industri;

 Kawasan konservasi (Kawasan Suaka Alam);  Pariwisata, dan

 Kegiatan Militer

 Perumahan dan permukiman.

Sunggal  Perdagangan dan jasa lokal;

 Industri;

 Perumahan dan permukiman.

Deli Tua  Perdagangan dan jasa regional (pasar induk sayuran);

 TOD

 Pelayanan sosial

 Perumahan dan permukiman. Pagar

Merbau

 Perdagangan dan jasa lokal;

 Pengolahan pertanian dan perkebunan;  Perumahan dan permukiman.

Tembung  Perdagangan dan jasa;

 Industri;

 Perumahan dan permukiman.

Galang  Perdagangan dan jasa lokal;

 Pengolahan pertanian dan perkebunan;  TOD

 Militer

(43)

NO HIRARKI KOTA FUNGSI YANG DIKEMBANGKAN

Sibolangit  Perdagangan dan jasa lokal;  Pariwisata;

 Agropolitan

 Kawasan konservasi (Kawasan Suaka Alam)  Perumahan dan permukiman.

Gunung Meriah

 Pengolahan pertanian;

 Kehutanan

Namo Rambe

 Pengolahan pertanian;  Perumahan

 Pariwisata Bangun

Purba

 Pengolahan pertanian dan perkebunan;  Perumahan dan permukiman;

Patumbak  Pengolahan pertanian dan perkebunan;  Perumahan;

 Industri;

 Perdagangan dan jasa.

(44)

BANYAKNYA PENDUDUK MENURUT KECAMATAN DAN STATUS KEWARGANEGARAAN

2014

Tabel 2.5 Penduduk Menurut Kecamatan Dan Status Kewarganegaraan 2014

(45)

PENDUDUK BERUMUR 15 TAHUN KEATAS YANG BEKERJA MENURUT LAPANGAN USAHA UTAMA DAN JENIS KELAMIN

2014

(46)

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN DELI SERDANG ATAS DASAR HARGA KONSTAN 2010 MENURUT LAPANGAN USAHA

(MILYAR RUPIAH), 2010-2014

Tabel 2.7 Produk Domestik Regional Bruto Kab. Deli Serdang

Lapangan Usaha (Industry) 2010 2011 2012 2013* 2014**

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

A Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan

6.134,94 6.373,40 6.539,92 6.755,76 6.859,95

B Pertambangan dan Penggalian 387,66 407,76 425,78 444,18 460,38

C Industri Pengolahan 15.843,48 16.383,34 16.869,40 17.640,63 18.280,34

D Pengadaan Listrik dan Gas 61,87 68,17 71,61 76,20 82,05

E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang

20,65 21,65 22,83 23,88 25,03

F Konstruksi 6.543,22 6.904,37 7.297,03 7.696,44 8.101,72

G Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda

Motor

7.063,04 7.519,86 8.040,09 8.564,48 9.144,42

H Transportasi dan Pergudangan 847,75 906,73 963,65 2.745,99 4.514,37

I Penyediaan Akomodasi dan

Makan Minum

1.085,08 1.153,93 1.226,46 1.320,82 1.410,83

J Informasi dan Komunikasi 656,18 702,61 750,24 788,22 832,03

K Jasa Keuangan dan Asuransi 828,28 978,08 1.251,86 1.503,07 1.533,09

L Real Estat 1.334,89 1.431,09 1.511,53 1.628,54 1.757,57

M,N Jasa Perusahaan 181,28 196,09 207,31 221,57 237,72

O Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial

Wajib

833,24 907,95 962,30 999,01 1.047,49

P Jasa Pendidikan 767,22 792,30 820,60 887,64 944,44

Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial

337,28 387,19 422,02 456,85 491,84

R,S, T,U

Jasa Lainnya 113,94 123,20 131,23 139,12 147,21

(47)

LAJU PERTUMBUHAN PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN DELI SERDANG ATAS DASAR HARGA KONSTAN 2010 MENURUT LAPANGAN

USAHA (PERSEN), 2010-2014

Tabel 2.8 Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto Kab. Deli Serdang Lapangan Usaha (Industry) 2010 2011 2012 2013* 2014**

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

A Pertanian, Kehutanan, dan

Perikanan

- 3,89 2,61 3,30 1,54

B Pertambangan dan Penggalian - 5,18 4,42 4,32 3,65

C Industri Pengolahan - 3,41 2,97 4,57 3,63

D Pengadaan Listrik dan Gas - 10,18 5,05 6,41 7,67

E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang

- 4,48 5,47 4,58 4,84

F Konstruksi - 5,52 5,69 5,47 5,27

G Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

- 6,47 6,92 6,52 6,77

H Transportasi dan Pergudangan - 6,96 6,28 184,96 64,60

I Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum

O Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial

Wajib

- 8,97 5,99 3,81 4,85

P Jasa Pendidikan - 3,27 3,57 8,17 6,40

Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan

(48)

INDEKS PERKEMBANGAN PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN DELI SERDANG ATAS DASAR HARGA BERLAKU MENURUT

LAPANGAN USAHA (2010 = 100), 2010-2014

Tabel 2.9 Indeks Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto Kab. Deli Serdang Lapangan Usaha (Industry) 2010 2011 2012 2013* 2014**

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

A Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan

100,00 109,35 117,01 127,44 132,83

B Pertambangan dan Penggalian 100,00 113,12 121,96 132,16 141,86

C Industri Pengolahan 100,00 112,97 120,01 130,56 143,85

D Pengadaan Listrik dan Gas 100,00 116,72 126,72 128,63 124,05

E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang

100,00 112,37 124,39 135,13 152,21

F Konstruksi 100,00 112,31 123,20 137,94 153,89

G Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

100,00 111,56 123,21 138,15 153,70

H Transportasi dan Pergudangan 100,00 112,82 123,53 414,64 741,86

I Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum

O Administrasi Pemerintahan,

Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib

100,00 116,82 137,30 150,56 169,77

P Jasa Pendidikan 100,00 108,27 116,32 129,76 145,34

Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan

Sosial

100,00 120,16 136,79 153,21 176,45

R,S,

T,U

Jasa Lainnya 100,00 116,09 126,94 146,41 167,69

(49)

Berdasarkan tabel-tabel diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa:

- Urutan jumlah penduduk yang bekerja menurut lapangan usaha utama di Kabupaten Deli Serdang,

a. Bangunan/construction (190.001 orang)

b. Perdagangan Besar, Eceran, Rumah Makan, dan Hotel/Trade, Hotel and Restaurant (157.728 orang)

c. Jasa Kemasyarakatan/Social Community and Personal Services (156.504 orang)

d. Pertanian/Agriculture (142.047 orang)

- Jika dilihat dari banyaknya penduduk menurut kecamatan dan status kewarganegaraan 2014, Kecamatan Batang Kuis berada pada urutan ke-11.

- Berdasarkan penduduk berumur 15 tahun keatas yang bekerja menurut lapangan usaha utama di Kabupaten Deli Serdang, “Perdagangan Besar dan Eceran, Rumah Makan dan Hotel” berada di urutan kedua (157.728 orang) dengan pekerja perempuan lebih banyak daripada laki-laki. Sebaliknya, dalam kategori “Keuangan, Asuransi, Usaha, Persewaan Bangunan, Tanah, dan Jasa Perusahaan” berada di urutan ke-7 (21.909 orang) dengan pekerja laki-laki lebih banyak daripada perempuan.

- Produk domestik regional bruto Kabupaten Deli Serdang atas dasar harga konstan 2010 menurut lapangan usaha, kategori perdagangan dan jasa (bisnis) meningkat setiap tahunnya hingga 2014.

- Laju pertumbuhan produk domestik regional bruto Kabupaten Deli Serdang atas dasar harga konstan 2010 menurut lapangan usaha, kategori perdagangan dan jasa (bisnis) mengalami naik dan turun setiap tahunnya hingga 2014.

(50)

2.5. Tinjauan Fungsi

2.5.1. Tinjauan Kantor

a. Klasifikasi Gedung Perkantoran

Berdasarkan dari KADIN (Kamar Dagang dan Industri), gedung perkantoran terbagi menjadi beberapa kategori, yaitu:

- Tujuan usaha dan lingkungan bersama  Kantor administrasi pemerintah  Kantor administrasi perusahaan  Kantor administrasi sosial - Kepemilikan

 Milik pemerintah  Milik swasta

- Sifat dari bangunan kantor  Kantor bersifat komersil

Bangunan kantor ini adalah bangunan kantor yang disewakan untuk memperoleh keuntungan materi.

Klasifikasi kantor sewa dibedakan atas: o Faktor jumlah lantai

o Faktor fasilitas perkantoran

Sistem pemanfaatan kantor sewa dilakukan antara lain dengan: o Strata title (sistem hak milik untuk tiap lantai bangunan) o Leasing (sistem sewa)

 Kantor bersifat non komersil

o Sistem dan tujuan administrasi  Kantor profit

 Kantor non profit o Pemakaian bangunan kantor

 Kantor untuk badan usaha sejenis  Kantor untuk berbagai bidang usaha o Hirarki

(51)

 Kantor pewakilan

Sedangkan menurut L.Manaseh dan R.Cunliffe, kantor dibagi menjadi 4 jenis, yaitu:

Commercial Office

Jenis perkantoran yang termasuk golongan ini adalah perkantoran untuk umum (yang disewakan), perusahaan dagang (trading company), asuransi dan transportasi.

Industrial Office

Jenis perkantoran ini terikat harus mempunyai hubungan fisik dengan pabriknya.

Professional Office

Jenis perkantoran ini tidak dipakai dalam waktu yang panjang dan merupakan perkantoran dengan jumlah modal yang digunakan relatif kecil.  Institutional / Governmental Office

Jenis perkantoran ini bersifat usaha yang teratur dalam bentuk lembaga yang berpedoman pokok untuk hidup lama dan kokoh. Biasanya digunakan waktu yang lama atau panjang.

Dari jenis-jenis kantor di atas, jenis Commercial Office akan diterapkan sebagai fungsi utama proyek ini.

b. Klasifikasi Sistem Sewa

Sistem sewa perkantoran pada umumnya terbagi menjadi 2 jenis berdasarkan perhitungan luasan yang disewa, yaitu:

Net System artinya sewa per meter persegi diperhitungkan atas dasar luasan lantai bersih (tidak termasuk koridor ataupun common space dan biasanya harga sewa per meter persegi lebih tinggi.

(52)

Dari kedua sistem sewa tersebut maka sistem sewa akan digunakan dalam proyek ini adalah kombinasi keduanya, yaitu semi-gross. Sistem semi-gross artinya penyewa dikenakan biaya sewa akumulasi luasan lantai yang dipakai ditambah dengan luasan common space seperti lobby, area parkir, dan sebagainya yang telah dibagi sama rata dengan penyewa lainnya. Untuk hal ini, fleksibilitas antar pengelola gedung dengan penyewa dapat dicapai dengan negosiasi melihat jenis usaha, kelompok penyewa dan jumlah luasan yang dipakai oleh penyewa.

c. Wadah Perkantoran - Kompleks perkantoran

Kompleks perkantoran merupakan bangunan perkantoran yang terpadu; seperti kantor pemerintah, perkantoran umum, pusat perbelanjaan, klub eksekutif, hotel, hunian, pusat rekreasi, dan lain-lain. Wadah tersebut terbentuk seiring dengan perkembangan kota yang mencakup perkembangan kebutuhan manusia yang terus bertumbuh, yang dinilai dari perkembangan ekonomi dan lahan yang semakin sempit. Pertimbangan akan lahan yang semakin sempit dipengaruhi pertumbuhan penduduk, aktivitas bekerja, tempat tinggal isirahat dan berekreasi/bermain.

- Gedung perkantoran

(53)

Gedung perkantoran memiliki karakter masing-masing dan konfigurasi yang berbeda.

Selain itu, kantor merupakan bangunan dengan fungsi usaha yang harus memperhatikan fasilitas dan aksesibilitas dengan ketentuan minimum paling sedikit menyediakan satu buah meja atau kantor pelayanan yang aksesibel serta menyediakan aksesibel secara menyeluruh pada bagian area perdagangan (dalam hal ini kantor yang berperan sebagai distributor dan memiliki retail sewa).

2.5.2. Tinjauan Bisnis

Berikut ini beberapa penjelasan dari defenisi bisnis. Dalam bentuk dasar kepemilikan bisnis, meskipun bentuk kepemilikan bisnis berbeda-beda pada setiap

Gedung Kantor

Gedung milik sendiri

Gedung Sewa

Bangunan milik pribadi Kantor pemerintah

pusat/daerah

Sebagian besar gedung disewakan Bangunan sebagian

milik pribadi

Sebagian kecil gedung disewakan

(54)

a) Perusahaan perseorangan adalah bisnis yang kepemilikannya dipegang oleh satu orang. Pemilik perusahaan perseorangan memiliki tanggung jawab tak terbatas atas harta perusahaan.

b) Persekutuan adalah bentuk bisnis di mana dua orang atau lebih bekerja sama mengoperasikan perusahaan untuk mendapatkan keuntungan. Sama seperti perusahaan perseorangan, setiap sekutu (anggota persekutuan) memiliki tanggung jawab tak terbatas atas harta perusahaan. Persekutuan dapat dikelompokkan menjadi persekutuan komanditer dan firma.

c) Perseroan adalah bisnis yang kepemilikannya dipegang oleh beberapa orang dan diawasi oleh dewan direktur. Setiap pemilik memiliki tanggung jawab yang terbatas atas harta perusahaan.

d) Koperasi adalah bisnis yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan. Koperasi bertujuan untuk menyejahterakan anggotanya. Karateristik utama koperasi yang membedakan dengan badan usaha lain adalah anggota koperasi memiliki identitas ganda. Identitas ganda maksudnya anggota koperasi merupakan pemilik sekaligus pengguna jasa koperasi.

Berdasarkan klasifikasi, bisnis terdiri dari berbagai macam tipe, dan, bisnis dapat dikelompokkan dengan cara yang berbeda-beda. Cara yang dapat digunakan adalah dengan mengelompokkan bisnis berdasarkan aktivitas yang dilakukannya dalam menghasilkan keuntungan.

a) Manufaktur adalah bisnis yang memproduksi produk yang berasal dari barang mentah atau komponen-komponen, kemudian dijual untuk mendapatkan keuntungan. Contoh manufaktur adalah perusahaan yang memproduksi barang fisik seperti mobil atau pipa.

b) Bisnis jasa adalah bisnis yang menghasilkan barang intangible, dan mendapatkan keuntungan dengan cara meminta bayaran atas jasa yang mereka berikan. Contoh bisnis jasa adalah konsultan dan psikolog.

Figur

Tabel 2.2 Rangkuman Konsep Aerotropolis
Tabel 2 2 Rangkuman Konsep Aerotropolis . View in document p.30
Tabel 2.4 Kriteria Pemilihan Lokasi
Tabel 2 4 Kriteria Pemilihan Lokasi . View in document p.36
Gambar 2.37 Kawasan Alternatif 1 Jalan Bandara Kualanamu
Gambar 2 37 Kawasan Alternatif 1 Jalan Bandara Kualanamu . View in document p.38
Gambar 2.39  Jumlah Penduduk Kab. Deli Serdang  2009 – 2014 (Juta/Million)
Gambar 2 39 Jumlah Penduduk Kab Deli Serdang 2009 2014 Juta Million . View in document p.40
Gambar 2.40 Persentase Jumlah Penduduk Bekerja Per Sektor 2014 (%)
Gambar 2 40 Persentase Jumlah Penduduk Bekerja Per Sektor 2014 . View in document p.41
Tabel 2.5 Rencana sistem perkotaan di kabupaten deli serdang tahun 2025
Tabel 2 5 Rencana sistem perkotaan di kabupaten deli serdang tahun 2025 . View in document p.42
Tabel 2.5 Penduduk Menurut Kecamatan Dan Status Kewarganegaraan 2014
Tabel 2 5 Penduduk Menurut Kecamatan Dan Status Kewarganegaraan 2014 . View in document p.44
Tabel 2.7 Produk Domestik Regional Bruto Kab. Deli Serdang
Tabel 2 7 Produk Domestik Regional Bruto Kab Deli Serdang . View in document p.46
Tabel 2.8 Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto Kab. Deli Serdang
Tabel 2 8 Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto Kab Deli Serdang . View in document p.47
Tabel 2.9 Indeks Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto Kab. Deli Serdang
Tabel 2 9 Indeks Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto Kab Deli Serdang . View in document p.48
Tabel 2.13 Kebutuhan Ruang Kelompok Pelayanan/Servis
Tabel 2 13 Kebutuhan Ruang Kelompok Pelayanan Servis . View in document p.64
Tabel 2.15 Kebutuhan Ruang Kantor Perdagangan Berdasarkan Literatur
Tabel 2 15 Kebutuhan Ruang Kantor Perdagangan Berdasarkan Literatur . View in document p.67
Tabel 2.16 Nisbah Luas Netto terhadap Luas Lantai Bruto
Tabel 2 16 Nisbah Luas Netto terhadap Luas Lantai Bruto . View in document p.69
Gambar 2.41 Tipikal Layout Open Plan Office
Gambar 2 41 Tipikal Layout Open Plan Office . View in document p.78
Gambar 2.40 Perbandingan Jenis Layout Kantor. Layout bervariasi tergantung pada: derajat kedekatan, kepadatan pengguna, dan distribusi ruang
Gambar 2 40 Perbandingan Jenis Layout Kantor Layout bervariasi tergantung pada derajat kedekatan kepadatan pengguna dan distribusi ruang . View in document p.78
Gambar 2.44 Tipikal Layout Self-Regulatory Office
Gambar 2 44 Tipikal Layout Self Regulatory Office . View in document p.79
Gambar 2.47 Meja dengan tempat untuk   meletakkan kertas pada satu sisi
Gambar 2 47 Meja dengan tempat untuk meletakkan kertas pada satu sisi . View in document p.80
Gambar 2.46 Jangkauan rata-rata orang yang duduk di                kursi. Untuk menjangkau daerah luar, orang                 harus membungkuk, tapi tidak sampai berdiri
Gambar 2 46 Jangkauan rata rata orang yang duduk di kursi Untuk menjangkau daerah luar orang harus membungkuk tapi tidak sampai berdiri . View in document p.80
Gambar 2.50 Meja dengan tempat untuk kertas, alat tulis, dan telepon
Gambar 2 50 Meja dengan tempat untuk kertas alat tulis dan telepon . View in document p.81
Gambar 2.56 Layout dan ruang sirkulasi meja dan rak file
Gambar 2 56 Layout dan ruang sirkulasi meja dan rak file . View in document p.82
Gambar 2.59 Layout meja kerja dengan meja tambahan yang digunakan berssma beserta jalur sirkulasinya
Gambar 2 59 Layout meja kerja dengan meja tambahan yang digunakan berssma beserta jalur sirkulasinya . View in document p.82
Gambar 2.58 Layout meja kerja dengan tambahan dan jalur sirkulasi
Gambar 2 58 Layout meja kerja dengan tambahan dan jalur sirkulasi . View in document p.82
Gambar 2.57 Layout meja dengan kursi dan rak file, serta jalur sirkulasinya
Gambar 2 57 Layout meja dengan kursi dan rak file serta jalur sirkulasinya . View in document p.82
Gambar 2.65 Meja gambar yang dapat dipindahkan untuk sirkulasi: luas 6 m2
Gambar 2 65 Meja gambar yang dapat dipindahkan untuk sirkulasi luas 6 m2 . View in document p.83
Gambar 2.67 Tipologi Denah Kantor 1
Gambar 2 67 Tipologi Denah Kantor 1. View in document p.84
Gambar 2.66 Kebutuhan ruang bagi pertemuan formal
Gambar 2 66 Kebutuhan ruang bagi pertemuan formal. View in document p.84
Gambar 2.68 Tipologi Denah Kantor 2
Gambar 2 68 Tipologi Denah Kantor 2 . View in document p.84
Gambar 2.69 Tipologi Denah Kantor 3
Gambar 2 69 Tipologi Denah Kantor 3 . View in document p.85
Gambar 2.70 Tipologi Denah Kantor 4
Gambar 2 70 Tipologi Denah Kantor 4 . View in document p.86
Gambar 2.72 EEA + Taxes Office
Gambar 2 72 EEA Taxes Office . View in document p.87

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (161 Halaman)