• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbandingan Sifat Anatomi Kayu Tusam (Pinus merkusii) Alami dan Tanaman

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Perbandingan Sifat Anatomi Kayu Tusam (Pinus merkusii) Alami dan Tanaman"

Copied!
73
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

DAFTAR PUSTAKA

Aprianis, Y dan Rahmayanti, S. 2006. Dimensi Serat dan Nilai Turunannya dari Tujuh Jenis Kayu Asal Provinsi Jambi. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. Vol. 22 No. 4: 231-237. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan. Bogor.

Achmadi, S. S. 1995. Kimia Kayu. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat. IPB. Bogor.

BMKG

Budi, A. S dan N. Husein. 2006. Serat Eksentrik Pada Kulit Kayu Marobamban. Laboratorium Anatomi dan Identifikasi Kayu Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman. Samarinda.

Butarbutar, T., Rusli M.S.H. dan Pidin M. 1998. Evaluasi pertumbuhan tanaman pinus merkusii di Aceh Tengah. Buletin Penelitian Kehutanan 13 (4): 329-358 BPK Pematang Siantar. Balitbang Kehutanan.

Casey, J. P. 1960. Pulp and Paper : Chemistry and Chemical Technology. 3th ed. Vol 1. Jhon Willey and Sons. New York.

Dephut. 2012. Taman Hutan Raya (TAHURA) Bukit Barisan. Dumanauw, J. F. 1990. Mengenal Kayu. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Harahap, R.M.S. 2000. Keragaman Sifat Dan Data Ekologi Populasi Alam Pinus

Merkusii Di Aceh, Tapanuli Dan Kerinci. Prosiding Seminar Nasional Status

Silvikultur Tgl : 1-2 Desember 1999, Hal. 216-227. Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada.Yogyakarta.

Harahap, R. M. S., dan E. Izudin. 2002. Konifer di Sumatera Bagian Utara. Pematang Siantar.NO. 1/Thn XVII 66-67.

Hartono, R. 2006. Kayu Juvenil. Jurusan Kehutanan. Fakultas Pertanian. USU. Medan.

(10)

Husein, N. 2004. Anatomi Kayu Palele (Casianopsis javanica). Jurnal Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis Vol. 2, No. 2.

Khaerudin. 1999. Pembibitan Tanaman HTI. Penebar Swadaya. Jakarta.

Kasmudjo. 1994. Cara Penetuan Proporsi Tipe Sel dan Dimensi Sel Kayu. Yayasan Pembina Fakultas Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.

Mandang, Y. I dan I. K. Pandit. 1997. Pedoman Identifikasi Kayu di Lapangan. Yayasan Prosea. Bogor.

Marsoem, S.N., 1996. Sifat Sifat Kayu untuk Bahan Baku Industri. Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta

Nawawi, D. S. 1997. Persiapan, Pemasakan dan Pengujian Pulp. Bahan Praktikum M.A Pulp dan Kertas Bagian I. Jurusan Teknologi Hasil Hutan. Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.

Nurrahman, A. Dan T. Silitonga. 1973. Dimensi Serat Beberapa Jenis Kayu Sumatera Selatan. Laporan Lembaga Penelitian Hasil Hutan No. 13. Direktorat Jendral Kehutanan. Departemen Pertanian. Bogor.

Pandit, I. K. N. 2000. Metoda Identifikasi Kayu Juvenil. Seminar Nasional III. Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia. Jatinangor. Sumedang.

Pandit, I dan H. Ramdan. 2002. Anatomi Kayu: Pengantar Sifat Kayu Sebagai Bahan Baku. Yayasan Penerbit Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.

Pasaribu dan Ritonga. 1997. Percobaan Pengolahan Kayu Daun Lebar dan Kayu Campuran Sebagai Bahan Baku Pulp dan Kertas. Laporan No. 1000. Lembaga Penelitian Hasil Hutan. Bogor.

Pasaribu, R.A dan A.P.Tampubolon. 2007. Status Teknologi Pemanfaatan Serat Kayu Untuk Bahan Baku Pulp. Workshop Sosialisasi Program dan Kegiatan BPHPS Guna Mendukung Kebutuhan Riset Hutan Tanaman Kayu Pulp dan Jejaring Kerja. (Tidak dipublikasikan).

Rulliaty, S dan M. Lempang. 2004. Sifat Anatomi Dan Fisis Kayu Jati Dari Muna Dan Kendari Selatan. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. No. 231 – 237. Bogor Sanusi, D. 1990. Teknologi Kayu , Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin ;

(11)

Sjostrom, E. 1995. Kimia Kayu: Dasar-Dasar dan Penggunannya. Terjemahan Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Sulistyowati,P. 1998. Kajian Anatomi Pinus oocarpa Schiede Sebagai Bahan Baku Pilp dan Kertas. Skripsi Jurusan Teknologi Hasil Hutan Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.

Sutiya, B., W.T. Istikowati, A. Rahmadi, Sunardi. 2012. Kandungan Kimia Dan Sifat Serat Alang-Alang ( Imperata Cylindrica) Sebagai Gambaran Bahan Baku Pulp Dan Kertas. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. Vol.9 No. 1 : 8-19

(12)

METODE PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian makroskopis dan pembuatan preparat sayatan dilakukan di Laboratorium Teknologi Hasil Hutan, Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian,, pengamatan mikroskopis di lakukan di Laboratorium Mikrobiologi, Fakultas MIPA, Universitas Sumatera Utara. Pelaksanaan penelitian ini dimulai dari bulan April 2012 sampai dengan Juli 2012.

Bahan dan Alat Penelitian

Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah kayu tusam (P. merkusii). Bahan kimia yang digunakan adalah larutan CH3COOH (asam asetat), larutan H2O2 (hydrogen peroksida), airdestilata, alkohol (10%, 20%, 30%, 50%, 70% dan 90%), haematoxylin 2%, NH4

Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah tabung reaksi, waterbath, mikroskop yang dilengkapi dengan mikrometer, cawan petri, kuas kecil, gelas ukur, penjepit, spatula, pipet tetes, timbangan electrik, preparat, gelas objek, kaca penutup, kamera digital, plastik transparansi, kertas milimeter, cutter (pisau tajam), LUP, kertas pH indikator, pulpen OHP, penggaris, alat tulis dan kalkulator.

OH, safranin 2%, dan larutan xylol.

Prosedur Penelitian

Persiapan Bahan Baku

(13)

Pagaran,Kabupaten Tapanuli Utara dan tusam tanaman dari Taman Hutan Raya (TAHURA) Tongkoh, Berastagi.

Tabel 4. Karakteristik Pohon Penelitian

Pohon Umur pohon (tahun) Tinggi total

(Height), m

Diameter (Diameter),

cm

Tusam alami 10 20 29

Tusam tanaman 20 38 37

Bahan baku yang akan diukur dan dilakukan perbandingan dimensi seratnya adalah yang berasal dari batang pohon yang terlebih dahulu dilakukan pembagian batang dengan membagi tiga bagian, yaitu contoh uji diambil pada bagian pangkal, tengah dan ujung pohon seperti pada Gambar 1. Jarak setiap pangkal, tengah dan ujung disesuaikan dengan tinggi bebas cabang dengan melakukan proses pemisahan kulit terlebih dahulu, setelah itu diproses lebih lanjut untuk mendapatkan serat.

Keterangan: E=Empelur ;D=Dalam ; T=Tengah ; L=Luar

Batang A (ujung), Batang B (tengah) dan Batang C (pangkal) @50 serat

Gambar 1.. Pembagian Batang Pohon Kayu Bagian Ujung

Kayu Bagian Tengah

L T D E

(14)

Pengujian Sifat Anatomis

1. Pengamatan Makroskopis Kayu

Menyiapkan potongan kayu 5x5x5 cm yang akan diamati

• Mengamati sifat makroskopis kayu secara langsung : warna kayu, kilap, serat, tekstur.

Untuk kesan raba dan kekersaan menggunakan kuku atau cutter. • Mencatat hasi pengamatan seperti tabel berikut:

Tabel 5. Kriteria Penilaian Makroskopis Kayu Tusam (P. merkusii) Alami dan Tanaman

Kriteria Penilaian (Sifat Makroskopis)

Jenis Kayu

Tusam Alami Tusam Tanaman Ciri Umum Warna Ciri khusus Ciri yang khas

2. Kayu Teras dan Kayu Gubal

Diamati penampang melintang pada tiap sampel (sisi atas dan sisi bawah), diletakkan plastik transparansi pada penampang melintang dan digambar bentuk penampang melintangnya. Dihitung luas penampang kayu secara keseluruhan dengan menggunakan kertas milimeter blok, dihitung luas penampang kayu teras dengan kertas milimeter blok. Dihitung % kayu teras dengan rumus sebagai berikut:

(15)

3. Pembuatan Preparat Sayatan (Mikrotom)

Menurut Husein (2004), pembuatan preparat sayatan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

• Contoh uji dibuat berukuran 2 x 2 x 10 cm3

Contoh uji disayat dengan menggunakan cutter

dari bidang lintang. Kemudian contoh uji direndam dengan air panas selama 24 jam sampai agak lunak.

• Sayatan direndam dalam safranin selama 24 jam

Sayatan ditempatkan di atas object glass, lalu ditutup dengan cover glass dan diukur diameter trakeid dan saluran dammar diamati dibawah mikroskop • Dilakukan penggolongan frekuensi jari-jari dengan kriteria sebagai berikut:

Tabel 6. Penggolongan Frekuensi Jari- Jari

No. Frekuensi Jumlah per mm

Sumber: Mandang dan Pandit (1997)

• Dilakukan penggolongan lebar jari-jari dengan kriteria sebagai berikut: Tabel 7. Penggolongan Lebar Jari-Jari

No. Golongan Lebar (micron)

(16)

4. Pengamatan Mikroskopis Kayu

Proses Pemisahan Serat

Proses pemisahan serat yang dilakukan dengan menggunakan metode Forest

Products Laboratory (FPL) yaitu dengan cara sebagai berikut:

A. Pencucian Sederhana

1. Dimasukkan partikel yang sudah tersedia ke dalam tabung reaksi sebanyak 10 potongan.

2. Ditambahkan larutan H2O2 (hidrogen peroksida) dan CH3

3. Dimasukkan ke dalam waterbath dengan suhu 60-80ºC sampai sebagian serat terpisah yang dicirikan dengan warna putih dan terlihat adanya tanda-tanda serat mulai lepas.

COOH (asam asetat) dengan perbandingan 20:1 sampai serat terendam.

4. Dimasukkan airdestilata dan dikocok filtrat untuk mendapatkan serat-serat yang terlepas dengan sempurna.

5. Dicuci berulang-ulang di atas kertas saring sampai bebas asam. B. Pencucian dan Pewarnaan

1. Direndam serat yang sudah terlepas dengan alkohol 50%, 30%, 20%, dan 10% masing-masing selama 1 menit.

2. Direndam dengan airdestilata dan didiamkan selama 1 menit lalu dibuang airnya.

(17)

Jika warna masih hitam maka, dibuang airnya lalu dicuci kembali dengan aquadestilata dan diteteskan lagi haematoxylin 2% sebanyak 2-3 tetes sampai warna menjadi kekuningan

Jika warna kekuningan maka, sudah tercapai dan dibuang cairannya dan dicuci beberapa kali dengan aquadestilata.

4. Diteteskan 1-2 tetes NH4

5. Ditambahkan safranin 2% untuk memberikan warna sehingga mempermudah pengukuran.

OH agar masing-masing serat terpisah dan dicuci dengan airdestilata.

C. Dehidrasi dan Pemindahan Serat Pada Gelas Objek

1. Setelah safranin dibuang, diganti dengan alkohol 30%, 50% , 70% dan 90% masing-masing 1 menit.

2. Diganti dengan larutan xylol secukupnya dan dipindahkan pada gelas objek. 3. Ditutup dengan kaca penutup.

4. Diamati serat di bawah mikroskop okuler dan diukur dimensinya.

Pengukuran Dimensi Serat

(18)

Serat dipindahkan dengan kuas kecil agar mudah dilihat seratnya satu persatu. Dalam pengukuran dimensi serat yang meliputi panjang serat, diameter serat, diameter lumen dan tebal dinding serat, dipilih serat yang utuh atau tidak patah, rusak terlipat, pecah, terpotong dan kerusakan lainnya. Bagian-bagian serat yang diukur dapat dilihat pada Gambar 2.

L

Gambar 2. Bagian-Bagian Serat Pohon Sumber: Husein (2004)

Selanjutnya, data hasil pengukuran serat dihitung rataan dari nilai turunannya. Untuk nilai turunan serat dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

1. Runkle Ratio (Bilangan Runkel) =

Keterangan : w = tebal dinding serat l = diameter lumen

2. Felting Power/Slenderness (Daya Tenun) =

(19)

3. Mulhsteph Ratio (Bilangan Muhlsteph) =

Keterangan : d = diameter serat l = diameter lumen

4. Coefficient og Rigidity (Koefisien Kekakuan) =

Keterangan : w = tebal dinding serat d = diameter serat

5. Flexibility Ratio (Bilangan Fleksibilitas) =

Keterangan : l = diameter lumen

d = diameter serat ( Sutiya, dkk, 2012).

Perbandingan Dimensi Serat dan Nilai Turunan Serat Terhadap Klasifikasi Kualitas Serat

Nilai kualitas serat sebagai bahan baku pulp dan kertas dapat ditentukan dengan membandingkan nilai-nilai dimensi serat dan turunannya yang didapatkan dari hasil pengukuran dan perhitungan terhadap nilai-nilai dimensi serat dan turunannya yang terdapat dalam tabel persyaratan dan nilai serat. Persyaratan nilai serat dapat dilihat dari beberapa Tabel 8, 9, 10, 11 dan 12

Tabel 8. Klasifikasi Diameter Serat

Kelas Nilai interval (µm)

Lebar 26,00-40,00

Sedang 11,00-25,00

Sempit 2,00-10,00

Sumber: Kasmudjo (1994)

d w

(20)

Tabel 9. Klasifikasi Panjang Serat

Kelas Sub Kelas Selang Kelas (µm)

Pendek Teramat pendek <500

Sangat pendek 501-700

Cukup pendek 701-900

Sedang - 901-1600

Panjang Cukup panjang 1601-2200

Sangat panjang 2201-3000

Teramat panjang >3000 Sumber: Kasmudjo (1994)

Tabel 10. Klasifikasi Serat Berdasarkan Bilangan Runkel

Kelas Runkel Ratio Dinding Serat Kualitas Serat

I <0,25 Sangat Tipis Sangat Baik

Tabel 11. Klasifikasi Serat Berdasarkan Bilangan Muhlsteph

Kelas Bilngan Muhlsteph Kerataan/Kehalusan Plastisitas Kualitas Serat

Tabel 12. Klasifikasi Serat Berdasarkan Daya Tenun, Koefisien Kekakuan, dan Nilai Fleksibilitas

(21)

Pemanfaatan Kayu Tusam Alami dan Tanaman Sebagai Bahan Baku Pulp Dan Kertas

Kayu tusam (Pinus merkusii) alami dan tanaman selanjutnya akan dinilai kelayakannya sebagai bahan baku pulp dan kertas. Kriteria kayu Indonesia untuk bahan baku pulp dan kertas dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13. Kriteria Penilaian Serat Kayu Indonesia

No Uraian

Kelas Mutu

I II III

Syarat Nilai Syarat Nilai Syarat Nilai 1 Panjang (µm)

> 2000 100

1000-2000 50 <1000 25 2 Nisbah Runkel < 0,25 100 0,25-0,50 50 0,5-1,0 25 3 Daya tenun > 90 100 50-90 50 < 50 25 4 Muhlsteph Ratio < 30 100 30-60 50 60-80 25 5 Fleksibility

Ratio > 0,80 100 0,50-0,80 50 < 0,50 25 6 Koeff.

Kekakuan < 0,10 100 0,10-0,15 50 > 0,15 25 Selang Nilai 450 –600 225 – 449 < 225

(22)

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pengujian Sifat Anatomis

1. Pengamatan Makroskopis Kayu

Pengamatan makroskopis diperoleh dengan mengamati kayu (5x5x5) cm. Secara makroskopis, karakter tusam (P. merkusii) alami dan tanaman tidak terlihat perbedaan yang mencolok. Kedua jenis Tusam ini memiliki warna yang sedikit berbeda walaupun merupakan satu jenis pohon. Kayu gubal pada tusam alami memiliki warna krem sampai keputihan sedangkan kayu terasnya memiliki warna krem sampai kecoklatan.Warna kayu gubal pada tusam tanaman memiliki warna krem kuning kecoklatan dan kayu teras memiliki warna coklat sampai merah-merahan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Mandang dan Pandit (1997) yang menyatakan bahwa warna kayu sangat bervariasi, perbedaan warna kayu tidak terjadi pada jenis kayu yang berbeda saja, tetapi perbedaan warna juga terjadi dalam jenis kayu yang sama, bahkan dapat terjadi pada sebatang kayu.

(23)

menyatakan bahwa warna dari suatu jenis kayu dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut: umur dari pohon waktu ditebang, kelembaban udara dan penyingkapan.

(a) (b)

Gambar 3. Pengamatan Warna (a) Tusam Alami (b) Tusam Tanaman

Tusam alami sangat sukar dibedakan antara kayu teras dan kayu gubal karena masih berumur muda yaitu 10 tahun, lain halnya dengan tusam tanaman lebih mudah membedakan kayu teras dan kayu gubal. Hal ini sesuai dengan pernyataan Pandit dan Ramdan (2002) yang menyatakan bahwa warna teras sukar dibedakan dari gubal, kecuali pada pohon yang berumur tua.

(24)

Kayu tusam memiliki tekstur yang halus. Hal ini sesuai dengan pernyataan Dumanauw (1991) yang menyatakan bahwa kayu bertekstur halus : yaitu kayu yang memiliki rongga sel kecil dan tersebar menyeluruh pada batang pohon. Hasil pengamatan yang dilakukan dengan menggunakan lup diketahui bahwa kayu tusam ini memiliki rongga sel yang kecil dan tersebar.

Kayu tusam memiliki sifat kekerasan yang tergolong agak lunak. Hal ini dapat diketahui dengan cara menyayat bagian dari kayu. Kayu ini tidak sulit untuk dipotong dengan menggunakan cutter. Hal ini sesuai dengan pernyatataan dari Haygreen dan Bowyer (1996) yang menyatakan bahwa kayu yang keras akan sangat sulit dipotong pada arah melintangnya dengan pisau dan juga pada umumnya kayu keras dihasilkan oleh kayu yang berdaun lebar sedangkan kayu lunak banyak terdapat pada kayu daun jarum.

(25)

Tabel 14. Hasil Pengamatan Makroskopis Kriteria Penilaian

(Sifat Makroskopis)

Jenis Kayu

Tusam Alami Tusam Tanaman Ciri Umum Warna Gubal: Krem sampai

Kilap Mengkilap Agak mengkilap

Corak Dekoratif Dekoratif

Kekerasan Agak keras Agak keras

Arah serat Lurus Lurus

Kesan raba Licin Agak licin

Ciri khusus Ciri yang khas Tidak mempunyai pori,melainkan trakeid

Tidak mempunyai pori,melainkan trakeid

2. Kayu Teras dan Kayu Gubal

Pengukuran persentase kayu gubal dan kayu teras dilakukan untuk mengetahui perbandingan persentase masing-masing bagian kayu. Persentase kayu gubal dan kayu teras masing-masing jenis kayu tusam (P.merkussi) dapat dilihat pada Tabel 15

Tabel 15. Perhitungan Kayu Gubal dan Kayu Teras

Baguan kayu Alami %

(26)

42,22%. Umur tanaman mempengaruhi persentasi kayu teras suatu pohon, dimana kayu tusam alami memiliki umur ±10 tahun sedangkan kayu tusam tanaman memiliki umur 20 tahun. Semakin tua umur suatu pohon, maka persentasi kayu terasnya akan semakin besar dan sebaliknya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Pandit (1996) yang menyatakan bahwa teori pembentukan kayu teras, salah satunya adalah proses penuaan (aging process), yaitu semakin tua suatu pohon, maka persentase kayu teras yang terbentuk juga semakin besar.

Persentase kayu gubal yang lebih besar pada kedua jenis tusam yang diamati lebih besar dibanding dengan persentase kayu terasnya. Hal ini disebabkan karena kedua jenis tusam ini adalah jenis kayu yang cepat tumbuh. Hal ini sesuai dengan pernyataan Pandit (1996) yang menyatakan bahwa tebal lapisan kayu gubal bervariasi menurut jenis pohon. Umumnya jenis yang tumbuh cepat mempunyai lapisan kayu gubal lebih tebal dibandingkan dengan kayu terasnya, dan biasanya kayu gubal mempunyai warna terang.

3. Pembuatan Preparat Sayatan (Mikrotom)

(27)

kayu tusam, namun kehadirannya jarang, sehingga mungkin sekali tidak dapat terlihat pada contoh kayu berukuran kecil. Hasil pengamatan dapat dilihat pada Gambar 4 dan 5.

(28)

Gambar 5. Pengamatan Melintang Saluran Dammar Dan Trakeid (Perbesaran 40x) Pada Tusam (P.merkusii) Tanaman

(29)

Tabel 16. Pengukuran Diameter Trakeid

Keterangan Jenis Kayu

Tusam alami (µm) Tusam tanaman (µm)

Trakeid 1 75,5 64,0

Trakeid 2 47,8 61,6

Trakeid 3 53,9 61,7

Trakeid 4 49,4 62,3

Trakeid 5 47,8 52,2

Trakeid 6 48,3 75,9

Trakeid 7 60,2 75,9

Trakeid 8 62,9 78,0

Trakeid 9 54,7 63,1

Trakeid 10 56,5 70,1

Rata-rata 55,7 66,5

Gambar 4 dan 5 dapat dilihat bahwa kayu tusam alami dan tanaman tersusun 90% oleh sel trakeid. Rata-rata diameter tusam alami yaitu 55,7 µm dan tusam tanaman yaitu 66,5 µm. Hal ini tidak sesuai dengan pernyataan dari Mandang dan Pandit (2007) menyatakan tusam memiliki saluran horizontal terdapat dalam jari-jari dengan diameter 45-55 µm.

Hasil pengukuran yang dilakukan pada saluran dammar kedua jenis tusam

(P.merkussi) diketahui bahwa diameternya tidak berbeda jauh. Kayu tusam alami

sebesar 232,7 µm dan tusam tanaman sebesar 312,4 µm. Hal ini tidak sesuai dengan pernyataan Pandit dan Ramdan (2002) yang menyatakan bahwa tusam memiliki saluran damar aksial menyebar, sangat jarang dan diameternya sekitar 170-190 µm .

(30)

Penggolongan lebar jari-jari diketahui bahwa kayu tusam alami dan kayu tusam tanaman termasuk golongan sangat lebar (200-400 µm). Pada tusam alami sebesar 271,14 µm sedangkan pada tusam tanaman sebesar 208,92 µm.

4. Pengujian Sifat Mikroskopis

Pengukuran Dimensi Serat

Dimensi serat yang diukur meliputi panjang, diameter serat, diameter lumen, dan tebal dinding serat yang memiliki hubungan yang kompleks dan memiliki pengaruh terhadap tujuan penggunaannya. Pengukuran dimensi serat diperoleh dari hasil rata-rata masing-masing dimensi serat. Hasil pengukuran serat dapat dilihat pada Gambar 6 dan 7.

(31)

Gambar 7. Dimensi Serat Tusam Tanaman (Perbesaran 40x)

Hasil pengukuran dimensi serat kayu tusam (P. merkusii) alami dan tanaman ditampilkan pada Tabel 17.

Tabel 17. Rata-Rata Dimensi Serat Kedua Jenis Pohon Tusam (P. merkusii) No

. Jenis

Dimensi Serat (µm) Panjang serat Diameter

serat

Diameter lumen

Tebal dinding

serat 1 Tusam (P.

merkusii) alami 10

Tahun

1672.80 25.17 13.39 5.89

2 Tusam (P.

merkusii) tanaman

20 Tahun

2377.27 31.85 15.81 8.02

(32)

20 tahun memiliki panjang serat sebesar 2377.27 µm. Tusam alami berumur ±10 tahun termasuk ke dalam subkelas cukup panjang dengan selang 1601-2200 µm sedangkan pada tusam tanaman umur 20 tahun termasuk ke dalam subkelas sangat panjang dengan selang 2201-3000 µm. Dalam Pasaribu dan Ritonga (1997) menyatakan serat yang panjang dianggap akan memberikan kertas dengan sifat kekuatan sobek tinggi dan dalam batas yang lebih rendah memberikan pula kekuatan tarik, jebol, dan kekuatan lipat yang tinggi. Serat panjang memungkinkan terjadinya ikatan antar serat yang lebih luas. Penelitian lebih lanjut membuktikan bahwa panjang serat bukan satu-satunya dasar yang menentukan kekuatan kertas yang tinggi tetapi terdapat faktor lain yang besar peranannya seperti tebal dinding serat, diameter serat, dan diameter lumen.

(33)

Tabel 17 menunjukkan diameter serat dan diameter lumen. Dalam Kasmudjo (1994) mengklasifikasikan diameter serat ke dalam tiga kelas yaitu kelas diameter lebar (26,00 – 40,00) µm, diameter sedang (11,00 – 25,00) µm, dan diameter sempit (2,00 – 10,00) µm. Berdasarkan klasifikasi tersebut maka tusam alami umur ±10 tahun dengan nilai rata-rata diameter sebesar 25.17 µm dan tusam tanaman sebesar 31.85 µm termasuk ke dalam klasifikasi diameter serat dengan kelas lebar dengan interval 26,00 – 40,00. Perbandingan rata-rata diameter serat kedua jenis tusam tersebut tidak terlalu nampak. Hal ini dapat dilihat dari pengklasifikasiannya, keduanya termasuk kelas lebar.

Diameter lumen rata-rata tusam alami sebesar 13,39 µm, sedangkan tusam tanaman sebesar 15,81 µm. Diameter lumen juga berpengaruh sebagai perbandingan dengan diameter serat yang disebut sebagai flexibility ratio (tingkat fleksibilitas) serat yang menunjukkan hubungan parabolis dengan kekuatan tarik dan panjang putus (Haygreen dan Bowyer, 1996).

(34)

yang luas bagi terjadinya ikatan antar serat sedangkan serat dengan dinding tebal sukar menjadi lembek/ lembut dan bentuknya tetap membulat pada waktu pembentukan lembaran. Struktur tersebut menyulitkan dalam penggilingan dimana akan memberikan kekuatan sobek yang tinggi. Serat dengan dinding sel tipis memberikan sifat kekuatan sobek yang rendah tetapi kekuatan tarik yang tinggi

Turunan Dimensi Serat

Dimensi serat dan turunannya merupakan salah satu sifat penting kayu yang dapat digunakan untuk mengetahui sifat-sifat pulp yang dihasilkan. Turunan dimensi serat (runkle ratio, felting power, muhlsteph ratio, coefficient of rigidity, flexibility

ratio) dari jenis kayu tusam (P. merkusii) alami dan tanaman dapat dilihat pada Tabel

18.

Tabel 18. Rata-rata turunan dimensi serat kedua jenis pohon tusam (P.merkussi) alami dan tanaman.

(35)

kayu agak berat/sedang. Serat dalam lembaran pulp memipih dan ikatan antar serat masih cukup baik.

Berdasarkan klasifikasi Runkel dan hubungannya dengan mutu pulp dan kertas maka nilai Runkel yang baik untuk pulp dan kertas adalah di bawah 1,00. Nilai

runkel ratio (bilangan Runkel) untuk kedua jenis tusam adalah lebih kecil atau di

bawah 1,00. Hal ini sesuai dengan pernyataan Kasmudjo (1994) yang menyatakan bahwa serat yang tipis apabila yang dibuat kertas akan menghasilkan lembaran yang lebih pipih dan ikatan serat yang diperoleh lebih kuat dan baik.

Nilai rata-rata felting power (daya tenun) tusam alami sebesar 67.93 dan tusam tanaman sebesar 77.22. Tusam alami termasuk ke dalam kelas III(40-70) sedangkan untuk tusam tanaman termasuk kedalam kelas II (77,22). Nilai daya tenun merupakan perbandingan panjang serat dengan diameter serat. Semakin besar perbandingan tersebut maka semakin tinggi kekuatan sobek dan semakin baik daya tenun seratnya. Dengan kekuatan sobek yang tinggi itu juga berarti panjang serat juga semakin panjang karena dalam menjalin antara serat semakin panjang dan gaya sobek akan terbagi dalam luasan yang lebih besar (Syafii dan Siregar, 2006).

(36)

Nilai rata-rata coefficient of rigidity (koefisien kekakuan) tusam alami umur ±10 tahun sebesar 0,23 dan tusam tanaman umur 25 tahun sebesar 0,25 termasuk ke dalam kelas IV (>0,20). Semakin tinggi koefisien kekakuan maka semakin rendah kekuatan tarik dari kertas tersebut. Sebaliknya semakin rendah koefisien kekakuan maka semakin tinggi kekuatan tarik kertas bersangakutan. Maka untuk pembuatan pulp sebaiknya mempunyai nilai koefisien kekakuan yang rendah .

Nilai rata-rata flexibility ratio (nilai fleksibilitas) tusam alami umur ±10 tahun sebesar 0,54 dan tusam tanaman 0,50 tergolong ke dalam kelas III(0,40 -0,60). Hal ini sesuai dengan pernyataan Syafii dan Siregar (2006) yang menyatakan bahwa semakin tinggi flexibility ratio (nilai fleksibilitas) maka semakin baik, dimana serat dalam komposisi kertas akan semakin fleksibel terhadap adanya tarikan sehingga apabila dijadikan produk kertas maka kualitasnya akan sangat baik. Umumnya nilai

flexibility ratio (nilai fleksibilitas) yang tinggi memungkinkan serat-serat tersebut

untuk dibuat menjadi kertas khusus dengan mementingkan kualitas yang baik.

Perbandingan dimensi serat dan nilai turunan serat terhadap klasifikasi kualitas serat

Tabel 19. Penilaian kedua serat kayu P. merkusii sebagai bahan baku pulp dan kertas

N

o Parameter yang diamati

Rata-rata nilai pengukuran Nilai berdasarkan kriteria serat kayu Indonesia

(37)
(38)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Sifat anatomi tusam (Pinus merkusii) alami dan tanaman tidak jauh berbeda, hanya terdapat sedikit perbedaan dalam hal warna kayu.

2. Dimensi serat (panjang serat, diameter serat, diameter lumen, dan tebal dinding serat) tusam tanaman lebih besar dibanding tusam alami.

3. Nilai turunan dimensi serat (Runkle ratio dan Flexibility ratio) tusam alami lebih besar dibanding tusam tanaman sedangkan nilai turunan (Felting power,

Muhlsteph ratio dan Coefficient of rigidity) tusam tanaman lebih besar

dibanding tusam alami.

4. Berdasarkan kriteria penilaian serat kayu Indonesia untuk bahan baku pulp dan kertas maka kedua jenis tusam (P.merkusii) (alami dan tanaman) termasuk dalam kelas mutu II.

Saran

(39)

TINJAUAN PUSTAKA

Botani dan Deskripsi Tanaman Tusam

Genus pinus termasuk divisi Embriophyta Siphonogama atau lebih dikenal sebagai divisi Spermatophyta sub divisi Gymnospermae, ordo Coniferae (Mirov, 1967). P. merkusii Jungh et de Vriese termasuk famili Pinaceae, sinonim dengan P.

sylvestri auct. Non. L, P. sumatrana Jung, P. finlaysoniana Blume, P. latteri Mason,

P. merkusii var. tonkinensis, P. merkusiana Cooling & Gaussen. Nama daerah :

Damar Batu, Huyam, Kayu Sala, Sugi, Tusam (Sumatera), Pinus (Jawa), Sral (Kamboja), Thong Mu (Vietnam), Tingyu (Burma), Tapusan (Filipina), Indochina Pine, Sumatra Pine, Merkus Pine (Amerika Serikat, Inggris) dan lain-lain (Harahap, 2000).

Tinggi P. merkusii dapat mencapai 20-40 m dengan diameter 100 cm dan batang bebas cabang 2-23 m. Pinus tidak berbanir, kulit luar kasar berwarna coklat kelabu sampai coklat tua, tidak mengelupas dan beralur lebar serta dalam. Warna kayu teras dari kayu tusam ini adalah coklat-kuning muda dengan pita dan gambar yang berwarna lebih gelap dan warna kayu gubalnya putih atau kekuning-kuningan,serta teksturnya halus dan berserat lurus. Berat jenis kayunya adalah sekitar 0,40-0,75 atau rata-ratanya 0,55 dan termasuk kelas kuat III serta kelas awet IV (Harahap dan Izudin, 2002).

P. merkusii Jungh et de Vriese pertama sekali ditemukan dengan nama tusam

(40)

Junghuhn - pada tahun 1841. Jenis ini tergolong jenis cepat tumbuh dan tidak membutuhkan persyaratan khusus. Keistimewaan jenis ini antara lain merupakan satu-satunya jenis pinus yang menyebar secara alami ke selatan khatulistiwa sampai melewati 20 LS (Harahap, 2000).

Syarat Tumbuh dan Penyebaran

P. merkusii termasuk famili Pinaceae, tumbuh secara alami di Aceh, Sumatera

Utara, dan Gunung Kerinci. P. merkusii mempunyai sifat pioner yaitu dapat tumbuh baik pada tanah yang kurang subur seperti padang alang-alang. Di Indonesia,

P. merkusii dapat tumbuh pada ketinggian antara 200-2.000 mdpl. Pertumbuhan

optimal dicapai pada ketinggian antara 400-1.500 mdpl (Khaerudin, 1999).

P. merkusii atau tusam merupakan satu-satunya jenis pinus asli Indonesia. Di

daerah Sumatera, tegakan pinus alam dapat dibagi ke dalam tiga strain, yaitu :

1. Strain Aceh, penyebarannya dari pegunungan Selawah Agam sampai sekitar Taman Nasional Gunung Leuser. Dari sini menyebar ke selatan mengikuti pegunungan Bukit Barisan lebih kurang 300 km melalui Danau Laut Tawar, Uwak, Blangkejeren sampai ke Kotacane. Di daerah ini tegakan pinus pada umumnya terdapat pada ketinggian 800 – 2000 mdpl.

(41)

3. Strain Kerinci, menyebar di sekitar pegunungan Kerinci. Tegakan pinus alami yang luas terdapat antar Bukit Tapan dan Sungai Penuh. Di daerah ini tegakan pinus tumbuh secara alami umumnya pada ketinggian 1500 – 2000 mdpl (Butarbutar et al., 1998).

Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson Tahura Bukit Barisan termasuk ke dalam klasifikasi type B dengan curah hujan rata-rata pertahun 2.000 s/d 2.500 mm. Suhu udara minimum 13°C dan maksimum 25°C dengan kelembaban rata-rata berkisar antara 90-100% (Dephut, 2012), sedangkan di Tapanuli Utara suhunya lebih tinggi yaitu 20-310c dengan kelembaban 80- 90% (BMKG, 2012).

Sifat Makroskopis Kayu

1. Warna Kayu

Warna kayu disebabkan adanya zat ekstraktif pada kayu. Warna kayu sangat bervariasi, perbedaan warna kayu tidak terjadi pada jenis kayu yang berbeda saja, tetapi perbedaan warna juga terjadi dalam jenis kayu yang sama, bahkan dapat terjadi pada sebatang kayu. Warna dari suatu jenis kayu dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut :

1. Tempat di dalam batang

2. Umur dari pohon pada saat ditebang 3. Kelembaban udara dan penyingkapan. (Pandit dan Ramdan, 2002).

(42)

yang lebih muda dari jenis yang sama. Kayu yang kering berbeda warnanya bila dibandingkan dengan warna yang basah. Kayu yang sudah lama tersimpan di tempat terbuka warnanya akan lebih gelap atau lebih terang dibandingkan dengan kayu segar, ini tergantung kepada keadaan lingkungannya (cuaca, angin, cahaya matahari, dan sebagainya) (Bowyer et al., 2003).

Warna kayu ada beraneka ragam antara lain kuning, hitam, keputih-putihan, coklat muda, coklat tua, kemerah-merahan dan lain sebagainya. Hal ini disebabkan oleh zat pengisi warna yang berbeda-beda. Warna kayu dapat disebabkan oleh faktor-faktor kelembaban kayu, tempat dalam batang, umur pohon dan adanya zat ekstraktif dalam sel kayu. Kayu teras umumnya memiliki warna kayu yang lebih gelap dari pada kayu gubalnya. Kayu yang lebih tua dapat memiliki warna yang lebih gelap dari kayu yang lebih muda dari jenis kayu yang sama. Kayu yang kering berbeda pula dengan kayu yang masih basah. Pada umumya, warna kayu bukanlah warna yang murni tetapi warna campuran dari berbagai jenis warna kayu yang ada (Dumanauw, 1990).

2. Tekstur(penampilan sifat struktur pada bidang lintang)

Tekstur adalah sifat kayu yang nampak menunjukkan ukuran relatif dari sel-sel yang nampak dalam suatu jenis kayu tertentu oleh besar kecilnya rongga kayu oleh karena kecilnya rongga kayu dan keseragaman ciri ukuran-ukuran sel yang menyusun kayu. Pada umumnya tekstur kayu dibagi atas :

(43)

- Kayu bertekstur halus : yaitu kayu yang memiliki rongga sel kecil dan tersebar menyeluruh pada batang pohon.

Tekstur berukuran dengan ukuran dan kualitas unsur-unsur kayu. Kayu dapat bersektur kasar, halus, rata, tidak rata, licin, dan tidak licin. Pada kayu jarum , ukuran yang terbaik bagi tekstur ialah diameter tangensial sel-sel trekaid. Tekstur kayu dinyatakan kasar atau halus tergantung pada besar kecilnya elemen kayu. Serat menunjukkan susunan dan arah elemen kayu. Serat terpadu yaitu bila batang kayu terdiri dari lapisan-lapisan yang secara berselang seling mempunyai serat yang arahnya bergantan dari kiri ke kanan terhadap sumbu batang Perbedaan tekstur pada berbagai jenis kayu disebabkan oleh adanya variasi tekstur sel dan ukuran sel penyusun masing-masing kayu yang berbeda. Kayu yang memiliki pori besar kemungkinan memiliki tekstur yang kasar sedangkan kayu yang berpori kecil memiliki tekstur yang halus (Dumanauw, 1991).

3. Kilap Kayu

Kilap kayu adalah suatu sifat kayu yang memungkinkan kayu dapat memantulkan cahaya. Beberapa jenis kayu tampak mengkilap atau buram ini tergantung dari tingkat karakteristik yang dimiliki kayu. Kilap kayu tergantung dari sudut penyinaran (sudut datangnya sinar) pada permukaan kayu dan tergantung juga dari jenis sel pada permukaan kayu tersebut (Mandang dan Pandit, 1997).

4. Kekerasan Kayu

(44)

dari kayu daun lebar yang menggugurkan daunnya pada musim kemarau atau musim gugur sedangkan kayu daun jarum menghasilkan kayu lunak. Dalam pembagian antara kayu daun lebar dan kayu daun jarum didasarkan atas ada tidaknya pembuluh (Sjostrom, 1995).

Cara untuk mengetahui kerasnya suatu kayu yaitu dengan cara memotong kayu tersebut arah melintang dan mencatat atau menilai kesan raba dan kilapnya pada bidang potongan yang dihasilkan. Kayu yang keras akan sangat sulit dipotong pada arah melintangnya dengan pisau. Kayu lunak akan mudah rusak dan hasil potongan melintang akan memberikan hasil yang kusam/kasar pada kayu tersebut. Pada umumnya kayu keras dihasilkan oleh kayu yang berdaun lebar sedangkan kayu lunak banyak terdapat pada kayu daun jarum (Haygreen dan Bowyer, 1996).

Menurut Pandit dan Ramdan (2002), P. merkusii mempunyai ciri umum selain yang ada diatas yaitu:

• Corak: bidang radial dan tangensial mempunyai corak yang disebabkan oleh perbedaan struktur kayu akhir dan kayu awal sehingga terkesan ada pola dekoratif

• Arah serat : lurus sampai sedikit berpadu

(45)

5. Serat Kayu

Serat menunjukkan arah umum sel-sel kayu di dalam kayu terhadap sumbu batang pohon. Arah serat dapat ditentukan oleh arah alur-alur yang terdapat pada permukaan kayu. Kayu dikatakan berserat lurus, jika arah sel-sel kayunya sejajar dengan sumbu batang. Jika arah sel-sel itu menyimpang atau membentuk sudut terhadap sumbu panjang batang, dikatakan kayu itu berserat miring (Dumanauw, 1990).

Serat kayu dalam identifikasi kayu berarti sifat dari kayu yang menunjukan arah orientasi umum dan sel-sel panjang di dalam kayu terhadap sumbu batang pohon. Arah serat ini dapat ditentukan dari arah alur-alur yang terdapat di dalam kayu. Kayu dikatakan memiliki serat lurus (straight grain) jika arah umum dari sel-sel panjang sejajar dengan sumbu batang. Jika arah umum dari sel-sel-sel-sel pajang tadi menyimpang atau membentuk sudut dengan sumbu batang pohon maka disebut serat miring (cross grain). Serat miring dibagi menjadi sebagai berikut :

1. Serat terpadu (interlocked grain) : bila sebatang kayu terdiri atas lapisan-lapisan berganti-ganti mempunyai arah serat miring ke kanan atau ke kiri terhadap sumbu batang. Misalnya kayu rengas, kapur dan kulim.

2. Serat berombak (wavy grain) : bila permukaan kayunya menunjukkan serat-serat atau gambaran yang berombak. Misalnya kayu rengas dan merbau.

3. Serat terpilin (spiral grain) : apabila serat dari batang membuat gambaran seakan-akan mengelilingi sumbunya (puntir). Misalnya bintangur, kasuarina.

(46)

membentuk sudut. Serat diagonal ini disebabkan karena perlakuan manusia, maksudnya karena cara penggergajian. Sedangkan arah serat yang lain (serat terpadu, serat berombak, terpilin) disebabkan oleh karena faktor lingkungan, seperti angin, dan sebagainya.

6. Kesan Raba

Kesan raba adalah kesan yang kita peroleh saat kita meraba permukaan suatu kayu tertentu. Ada kayu yang bila diraba terasa kasar, licin dan sebagainya. Kesan raba yang berbeda-beda tersebut untuk setiap jenis kayu tergantung dari tekstur kayu, besra kecilnya air dan dikandung serta kadar zat ekstraktif yang terdapat pada kayu (Domanauw, 1990).

Menurut Sanusi (1990), kesan raba sangat dipengaruhi oleh tekstur kayu itu sendiri. Sifat ini biasa digunakan untuk pengenalan pada beberapa jenis kayu tertentu namun tidak dapat berlaku secara umum. Pada kayu rengas misalnya, terdapat zat ekstraktif yang memberikan rasa gatal dan ini merupakan ciri yang sangat mencolok untuk kesan raba pertama. Kesan raba berikutnya biasanya untuk penggunaan kayu yang mewah misalnya untuk meubel.

(47)

diraba Kesan raba suatu jenis kayu adalah kesan yang diperoleh pada saat kita meraba permukaan kayu. Ada kayu yang bila diraba memberi kesan kasar, halus dan licin bahkan memberi kesan dingin. Kesan raba yang berbeda-beda akan mempermudah dalam pengenalan kayu. Perbedaan kesan raba tergantung tekstur kayu, kadar air yang dikandung oleh kayu dan banyaknya kandungan zat ekstraktif dalam kayu. Kesan raba licin bila tekstur kayu halus permukannya dan mengandung lilin sedangkan kesan raba kasar bila tekstur kayunya kasar. Kesan raba dingin ada pada kayu bertekstur halus dan berat jenisnya tinggi serta terasa panas jika teksturnya kasar dan berat jenisnya rendah (Dumanauw, 1990).

7. Kayu Teras dan Kayu Gubal

Pandit (1996) mengemukakan tentang teori pembentukan kayu teras, salah satunya adalah proses penuaan (aging process), yaitu semakin tua suatu pohon, maka persentase kayu teras yang terbentuk juga semakin besar. Keberadaan kayu teras yang semakin banyak sangat menguntungkan karena bagian kayu teras lebih awet dibandingkan kayu gubal. Kayu gubal adalah bagian kayu yang masih muda terdiri dari sel-sel yang masih hidup, terletak disebelah dalam kambium dan berfungsi sebagai penyalur cairan dan tempat penimbunan zatzat makanan. Tebal lapisan kayu gubal bervariasi menurut jenis pohon. Umumnya jenis yang tumbuh cepat mempunyai lapisan kayu gubal lebih tebal dibandingkan dengan kayu terasnya, dan biasanya kayu gubal mempunyai warna terang.

8. Pembuatan Preparat Sayatan

(48)

parenkim jari-jari. Apabila sel trakeida bertemu dengan sel trakeida jari-jari akan terbentuk noktah halaman. Noktah halaman tersusun menurut 2 pola yaitu tersusun berhadapan (opposite) sedangkan pola berseling (alternate) contohnya terdapat pada araucariaceae. Tusam memiliki saluran damar aksial menyebar, sangat jarang dan diameternya sekitar 170-190 µm (Pandit dan Ramdan, 2002). Dalam Mandang dan Pandit (2002) menyatakan bahwa tusam memiliki diameter 45- 55 µm saluran horizontal yang terdapat dalam jari-jari. Jari-jari sangat halus dan ada yang berbrntuk gelondong jumlahnya sekitar 4-7 per mm

Sifat Mikroskopis Kayu

1. Dinding Serat

Menurut Marsoem (1996) bahan yang menyusun kayu tidak tersebar seragam, setiap bahan cenderung terkonsentrasi pada satu bagian dari serat dibanding bagian lain. Dijelaskan variasi yang ada dapat dihubungkan dengan posisi radial dan aksial dari batang. Variabilitas dalam satu pohon biasanya berkaitan dengan perubahan yang disebabkan oleh dewasanya kambium serta modifikasi kegiatan kambium oleh pengaruh lingkungan.

(49)

Penyimpanan dalam arah sudut menyebabkan perbedaan-perbedaan fisik dan lapisan-lapisan dapat diamati dalam mikroskop di bawah sinar terpolarisasi (Sjostrom, 1995).

2. Dimensi Serat

Sel serat berfungsi sebagai pemberi tenaga mekanik pada batang, sehingga mempunyai dinding sel yang relatif tebal. Pada kayu daun lebar serat dibagi atas dua macam serat yaitu serat libriform dan serat trakeida. Serat libriform memiliki noktah sederhana yang lebih kecil, memberi kekuatan karena diameternya lebih kecil dan lumen selnya lebih sempit. Serat trakeida adalah serat yang mempunyai noktah halaman (Achmadi, 1995).

Menurut Pandit dan Ramdan (2002), sel serat (fibers) hanya terdapat pada golongan kayu dan daun lebar dimana 50 % atau lebih volume dari kayu daun lebar ini disusun dari serat. Bahan baku serat yang memenuhi kriteria dalam produksi pulp biasanya lebih ditentukan oleh kualitas seratnya (Nawawi, 1997). Beberapa dimensi serat yang penting dipelajari untuk menganalisis bahan baku pulp antara lain panjang serat, diameter serta, diameter lumen, dan tebal dinding serat. Faktor-faktor yang mempengaruhi dimensi serat meliputi umur kayu, tempat tumbuh, lingkar tahun dan faktor genetis.

(50)

seperti kondisi tanah, cuaca atau iklim setempat yang berbeda (Rulliaty dan Lempang, 2004).

Serat yang tipis apabila yang dibuat kertas akan menghasilkan lembaran yang lebih pipih dan ikatan serat yang diperoleh lebih kuat dan baik. Semakin besar nilai

felting power (daya tenun) maka makin baik hasil pulp dan kertasnya. Felting power

(daya tenun) berkaitan dengan tingkat kelicinan kertas, dimana semakin besar nilai

felting power (daya tenun) maka kertas akan semakin licin. Nilai Muhlsteph ratio

(bilangan Muhlsteph) akan memberikan sifat kekuatan tarik pulp yang tinggi, apabila nilai muhlsteph ratio (bilangan Muhlsteph) semakin besar (tetapi tidak maksimal) maka hasil kertas tersebut akan mudah robek jika diremas atau dilipat (Kasmudjo, 1994).

3. Panjang Serat

Serat kayu adalah kumpulan dari sel-sel individu penyusun kayu terutama sel serat/sel trakeida, sel pembuluh, dan sel parenkim. Serat yang panjang dianggap akan memberikan kertas dengan sifat kekuatan sobek tinggi dan dalam batas yang lebih rendah memberikan pula kekuatan tarik, jebol, dan kekuatan lipat yang tinggi. Serat panjang memungkinkan terjadinya ikatan antar serat yang lebih luas (Pasaribu dan Ritonga, 1997).

(51)

Lebih lanjut, pulp serat panjang lebih sulit lolos saringan, sehingga lebih mudah dicuci. Panjang serat mempengaruhi sifat-sifat tertentu pulp dan kertas, termasuk ketahanan sobek, kekuatan tarik dan daya lipat.

Nilai daya tenun merupakan perbandingan panjang serat dengan diameter serat. Semakin besar perbandingan tersebut maka semakin tinggi kekuatan sobek dan semakin baik daya tenun seratnya. Dengan kekuatan sobek yang tinggi itu juga berarti panjang serat juga semakin panjang karena dalam menjalin antara serat semakin panjang dan gaya sobek akan terbagi dalam luasan yang lebih besar. Nilai koefisien kekakuan adalah perbandingan tebal dinding sel dengan diameter serat. Perbandingan ini menunjukkan korelasi negatif terhadap kekuatan panjang putus (kekuatan tarik), artinya semakin tinggi koefisien kekakuan maka semakin rendah kekuatan tarik dari kertas tersebut. Sebaliknya semakin rendah koefisien kekakuan maka semakin tinggi kekuatan tarik kertas bersangakutan. Maka untuk pembuatan pulp sebaiknya mempunyai nilai koefisien kekakuan yang rendah (Syafii dan Siregar, 2006).

4. Diameter Serat

Diameter serat berpengaruh besar terhadap sifat kekuatan pulp dalam pencucian, penyaringan, refining, pembentukan lembaran, ikatan antara serat, kekuatan serat, dan mobilitas serat dalam lembaran. Serat dengan diameter besar dan berdinding tipis mampu memberikan ikatan antar serat yang kuat dengan kekuatan yang tinggi (Haygreen dan Bowyer, 1996).

(52)

sangat disukai sebagai bahan baku pulp dan kertas dengan kualitas yang baik (Nawawi, 1997).

5. Diameter Lumen

Diameter lumen adalah diameter rongga serat. Diameter lumen akan berpengaruh sebagai perbandingan dengan diameter serat yang disebut sebagai

flexibility ratio (tingkat fleksibilitas) serat yang menunjukkan hubungan parabolis

dengan kekuatan tarik dan panjang putus (Haygreen dan Bowyer, 1996).

Semakin tinggi flexibility ratio (nilai fleksibilitas) maka semakin baik, dimana serat dalam komposisi kertas akan semakin fleksibel terhadap adanya tarikan sehingga apabila dijadikan produk kertas maka kualitasnya akan sangat baik. Umumnya nilai flexibility ratio (nilai fleksibilitas) yang tinggi memungkinkan serat-serat tersebut untuk dibuat menjadi kertas khusus dengan mementingkan kualitas yang baik( Syafii dan Siregar , 2006).

6. Tebal Dinding Serat

(53)

Parameter Penilaian Kualitas Serat

1. Klasifikasi Dimensi Serat

Teknologi pulp dan kertas mempunyai beberapa macam klasifikasi dimensi serat yang dipakai sebagai penduga mengenai sifat pulp yang dihasilkan. Klasifikasi dimensi dan turunan dimensi serat tertera pada Tabel 1 dan 2.

Tabel 1. Klasifikasi Diameter Serat

Kelas Nilai interval (µm)

Lebar 26,00-40,00

Sedang 11,00-25,00

Sempit 2,00-10,00

Sumber: Kasmudjo (1994)

Tabel 2. Klasifikasi Panjang Serat

Kelas Sub Kelas Selang Kelas (µm)

Pendek Teramat pendek <500

Sangat pendek 501-700

Cukup pendek 701-900

Sedang - 901-1600

Panjang Cukup panjang 1601-2200

Sangat panjang 2201-3000

Teramat panjang >3000 Sumber: Kasmudjo (1994)

2. Klasifikasi Turunan Dimensi Serat A. Klasifikasi Runkel

Kasmudjo (1994) menyatakan bahwa Runkel mengklasifikasikan kayu tropis dalam lima kelas:

(54)

b. Kelas II (0,26-0,50), dinding sel tipis dan lumen agak lebar, terdapat pada jenis kayu ringan. Serat dalam lembaran pulp memipih dan ikatan antar serat baik.

c. Kelas III (0,51-1,00), dinding sel dan lumen sedang, terdapat pada kayu agak berat/sedang. Serat dalam lembaran pulp memipih dan ikatan antar serat masih cukup baik.

d. Kelas IV (1,01-2,00), dinding sel tebal dan lumen sempit, terdapat pada kayu berat. Serat dalam lembaran pulp memipih dan ikatan antar serat kecil.

e. Kelas V (>2,01), dinding sel sangat tebal dan lumen sangat sempit, terdapat pada kayu sangat berat. Serat dalam lembaran pulp mempertahankan bentuk semula dan ikatan antar sel sangat kecil.

B. Klasifikasi Muhlsteph

Kasmudjo (1994) menyatakan bahwa Muhlsteph mengklasifikasikan dimensi serat dalam hubungannya dengan kualitas pulp menjadi empat kelas:

a. Kelas I: serat yang mempunyai Muhlsteph sampai 30% untuk serat kayu dan 20% untuk pulp. Serat membentuk lembaran pulp dan kertas yang baik dengan sifat kekuatan baik.

(55)

c. Kelas III: serat yang mempunyai nisbah Muhlsteph 61-80% untuk kayu, dan 21-80% untuk pulp. Seratnya bersifat plastis dan memberikan lembaran yang lebih halus.

d. Kelas IV: serat yang mempunyai nisbah Muhlsteph >80%, seratnya bersifat kaku, menghasilkan kertas dengan kerapatan rendah dan kekuatan rendah kecuali keteguhan sobek yang lebih tinggi dari kelas I.

1. Kriteria Penilaian Serat Kayu Indonesia

Kriteria penilaian kayu Indonesia pada dimensi serat yang dihubungkan dengan mutu pulp yang dihasilkan. Kriteria penilaian serat ini dikeluarkan oleh Pusat Penelitian Hasil Hutan Bogor. Menurut Kasmudjo (1994), kriteria serat kayu Indonesia untuk bahan baku pulp dibagi menjadi 3 kelas mutu yaitu:

a. Kelas mutu I: jenis kayu agak ringan berdinding serat sangat tipis dengan lumen lebar. Serat menggepeng seluruhnya pada lembaran pulp dengan ikatan antar serat dan daya tenun sangat kuat. Lembaran pulp yang dihasilkan mempunyai keteguhan sobek, dan tarik yang tinggi.

b. Kelas mutu II: jenis kayu agak ringan sampai berat, dinding sel serat tipis sampai sedang dan lumen agak lebar. Dalam pembentukan lembaran pulp, serat mudah menggepeng dengan ikatan antar serat dan tenunan baik, menghasilkan lembaran dengan keteguhan sobek, dan tarik yang sedang. c. Kelas mutu III: jenis kayu agak berat sampai berat, mempunyai dinding serat

(56)

Kriteria penilaian serat kayu Indonesia untuk bahan baku pulp dan kertas dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Kriteria Penilaian Serat Kayu Indonesia No Uraian

Kualitas pulp tidak hanya ditentukan oleh dimensi serat kayu, tetapi perkembangan teknologi menunjukkan bahwa perbandingan antar faktor morfologis serat berpengaruh lebih nyata terhadap pulp dibandingkan pengaruh dimensi serat itu sendiri (Nawawi, 1997).

1. Runkel Ratio (Bilangan Runkle)

Runkel Ratio adalah perbandingan antara dua kali tebal dinding serat dengan

diameter lumen, yang dinyatakan dengan persamaan:

Runkel Ratio =

Keterangan : w = tebal dinding serat

l = diameter lumen (Sutiya,dkk, 2012).

l w

(57)

Perbandingan runkel ratio (bilangan runkle) rendah, berarti memiliki dinding sel tipis dan lumen yang tebal pada waktu pembentukan lembaran serat akan membentuk pita dengan memperluas permukaan kontak serat memungkinkan terjadinya ikatan antar serat yang tinggi melalui gugus hidroksilnya. Lembaran kertas selain memiliki sifat kekuatan yang baik juga dihasilkan lembaran yang tembus cahaya.

2. Felting Power/Slendernes (Daya Tenun)

Felting Power/Slendernes adalah perbandingan antar panjang serat dengan

diamter serat, dengan persamaan:

Felting Power/Slendernes =

Keterangan : L = panjang serat

d = diameter serat (Sutiya,dkk, 2012).

Menurut Nawawi (1997), daya tenun serat sangat berpengaruh terhadap kekuatan sobek kertas sedangkan bilangan fleksibilitas mempunyai hubungan parabolis terhadap kekuatan panjang putus, tetapi negatif dengan koefisien kekuatan serat.

3. Mulhsteph Ratio (Bilangan Multsteph)

Mulhsteph Ratio adalah perbandingan antara luas penampang tebal dinding

serat dengan luas penampang lintang serat, dengan persamaan:

Mulhsteph Ratio =

Keterangan : d = diameter serat

(58)

Mulhsteph Ratio akan memberikan sifat kekuatan tarik pulp yang tinggi dan

sebaliknya serat yang mempunyai dinding sel tebal dan diameter kecil cenderung akan mempertahankan bentuknya selama pembentukan lembaran, sehingga luas kontak antar serat kecil yang mengakibatkan kekuatan tarik dan sobek rendah.

4. Coefficient of Rigidity (Koefisien Kekakuan)

Coefficient of Rigidity adalah perbandingan antara tebal dinding serat dengan

diameter serat, dengan persamaan:

Coefficient of Rigidity =

Keterangan : w = tebal dinding serat

d = diameter serat (Sutiya,dkk, 2012).

5. Flexibility Ratio (Bilangan Fleksibilitas)

Flexibility Ratio adalah perbandingan antara diameter lumen dengan diameter

serat dengan persamaan:

Flexibility Ratio =

Keterangan : l = diameter lumen

d = diameter serat (Sutiya,dkk, 2012).

Pengukuran Dimensi Serat

Pengukuran dimensi serat menggunakan mikroskop cahaya dengan perbesaran 10 kali untuk pengukuran panjang serat dan pembesaran 40 kali untuk diameter serat dan diameter lumen. Pengukuran tebal dinding serat diperoleh dari perhitungan diameter serat dikurangi diameter lumen lalu dibagi dua. (Budi dan Husein, 2006).

d w

(59)

PENDAHULUAN

Kayu merupakan hasil hutan dari sumber kekayaan alam yang merupakan bahan mentah mudah diproses untuk dijadikan barang sesuai dengan kemajuan teknologi. Kayu memiliki beberapa sifat sekaligus, yang tidak dapat ditiru oleh bahan-bahan lain. Pengetian kayu disini ialah sesuatu bahan, yang diperoleh dari hasil pemungutan pohon-pohon di hutan, yang merupakan bagian dari pohon tersebut, setelah diperhitungkan bagian-bagian mana yang lebih banyak dapat dimanfaatkan untuk sesuatu tujuan penggunaan.

(60)

lingkaran pertumbuhan kayu awal dan kayu akhir, susunan pori, tekstur, jari-jari, kilap, arah serat, kesan raba, dan lain-lain (Aprianis dan Rahmayanti, 2006).

Kayu tusam memiliki potensi yang cukup besar dari manfaatnya. Penelitian mengenai sifat-sifat anatomi dari kayu tusam sudah banyak diketahui informasinya. Namun mengenai perbandingan sifat anatomi tusam alami dan tanaman belum diketahui informasi yang jelas, Diduga terdapat perbedaan kualitas sifat anatomi kayu tusam yang tumbuh alami dengan kayu tusam yang ditanam. Sifat anatomi kayu telah teridentifikasi dapat menjadi parameter serat tersebut berkualitas atau tidak. dengan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai anatomi kayu tusam alami dan tanaman.

Tujuan Penelitian

1. Membandingkan sifat anatomi kayu tusam (P. merkusii) alami dan tanaman. 2. Mengukur dan menentukan nilai dimensi serat kayu tusam (P. merkusii) alami

dan tanaman (panjang serat, diameter serat, diameter lumen dan tebal dinding serat).

3. Mengukur turunan dimensi serat (bilangan Runkle, daya tenun, bilangan Multisheph, koefisien kekakuan, dan bilangan fleksibilitas).

(61)

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat berupa:

1. Memberikan informasi mengenai sifat anatomi kayu tusam (P. merkusii) alami dan tanaman.

2. Memberikan informasi mengenai kelas mutu (penilaian serat) kayu tusam (P. merkusii) alami dan tanaman.

(62)

ABSTRAK

Friska Evalina Ginting: Perbandingan Sifat Anatomi Kayu Tusam (Pinus merkusii)

Alami dan Tanaman. Di bawah bimbingan Luthfi Hakim S.Hut, M.Si dan

Ridwanti Batubara S.Hut, MP.

Kayu berasal dari berbagai pohon yang memiliki sifat yang berbeda-beda baik sifat anatomi kayu, sifat fisika dan kimianya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan sifat anatomi kayu tusam alami dan tanaman; mengukur dimensi serat; mengukur turunan dimenasi serat dan membandingkan mutu serat kayu tusam alami dan tanaman. Metode yang digunakan yaitu pengamatan makroskopis dengan menggunakan lup dan juga pengamatan mikroskopis dengan melakukan proses maserasi dan pengukuran dimensi serat diamati dibawah mikroskop.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat anatomi tusam alami dan tusam tanaman tidak jauh berbeda, hanya terdapat sedikit perbedaan dalam hal warna kayu. Dimensi serat (panjang serat,diameter serat, diameter lumen dan tebal dinding serat) tusam tanaman lebih besar dibanding tusam alami. Nilai turunan dimensi serat

(Runkle ratio, Felting power, Muhlsteph ratio, Coefficient of rigidity, Flexibility ratio) berturut-turut untuk tusam alami yaitu 0,95; 67,93; 69,89; 0,23; 0,54 sedangkan

untuk tusam tanaman nilainya berturut-turut yaitu 0,73; 77,22; 72,02; 0,25; 0,50. Berdasarkan kriteria penilaan serat kayu Indonesia untuk bahan baku pulp dan kertas maka kedua jenis tusam (alami dan tanaman) termasuk dalam kelas mutu II.

(63)

ABSTRACT

Friska Evalina Ginting : Camparison of anatomy characteristic for Natural Pine (Pinus merkusii) and Planted. Under the guidances of Luthfi Hakim S.Hut, M.si and Ridwanti Batubara.Hut, MP.

Wood comes from trees that have different characteristics. They are referred to wood anatomy, physics and chemical characteristics. The purpose of this study is to compare the anatomical characteristics of Pine's wood with planted ; to measure fiber’s dimensional derivative; to measure fiber’s dimensional derivative and compare the quality of natural pine’s wood fiber with a planted. The methods used are the macroscopic observation by using a magnifying glass as well as microscopic observation by maceration’s processing and dimensional measuring using a microscope.

The results showed that the anatomical characteristics of natural Pine's and planted are not much different, there is only a little difference in the color of wood. Dimensions of fiber (fiber’s length, fiber’s diameter, lumen’s diameter and fiber’s wall thickness) from the highest to the lowest is planted Pines > natural Pines . Values of dimensional derivative (Runkle ratio, Felting power, Muhlsteph ratio, Coefficient of rigidity, Flexibility ratio) of pine’s fiber in a row for the natural are 0.95: 67.93: 69.89: 0.23: 0.54 while for the planted in a row are 0.73: 77.22: 72.02 ; 0.25; 0.50. Based on Indonesian assessment criteria of wood fibers as raw material for pulp and paper, the two types of Pine's (natural and Planted) are included in quality of class II.

(64)

PERBANDINGAN SIFAT ANATOMI KAYU TUSAM

(Pinus merkusii) ALAMI DAN TANAMAN

SKRIPSI

Oleh:

FRISKA EVALINA GINTING

081203048/ TEKNOLOGI HASIL HUTAN

PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS PERTANIAN

(65)

ABSTRAK

Friska Evalina Ginting: Perbandingan Sifat Anatomi Kayu Tusam (Pinus merkusii)

Alami dan Tanaman. Di bawah bimbingan Luthfi Hakim S.Hut, M.Si dan

Ridwanti Batubara S.Hut, MP.

Kayu berasal dari berbagai pohon yang memiliki sifat yang berbeda-beda baik sifat anatomi kayu, sifat fisika dan kimianya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan sifat anatomi kayu tusam alami dan tanaman; mengukur dimensi serat; mengukur turunan dimenasi serat dan membandingkan mutu serat kayu tusam alami dan tanaman. Metode yang digunakan yaitu pengamatan makroskopis dengan menggunakan lup dan juga pengamatan mikroskopis dengan melakukan proses maserasi dan pengukuran dimensi serat diamati dibawah mikroskop.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat anatomi tusam alami dan tusam tanaman tidak jauh berbeda, hanya terdapat sedikit perbedaan dalam hal warna kayu. Dimensi serat (panjang serat,diameter serat, diameter lumen dan tebal dinding serat) tusam tanaman lebih besar dibanding tusam alami. Nilai turunan dimensi serat

(Runkle ratio, Felting power, Muhlsteph ratio, Coefficient of rigidity, Flexibility ratio) berturut-turut untuk tusam alami yaitu 0,95; 67,93; 69,89; 0,23; 0,54 sedangkan

untuk tusam tanaman nilainya berturut-turut yaitu 0,73; 77,22; 72,02; 0,25; 0,50. Berdasarkan kriteria penilaan serat kayu Indonesia untuk bahan baku pulp dan kertas maka kedua jenis tusam (alami dan tanaman) termasuk dalam kelas mutu II.

(66)

ABSTRACT

Friska Evalina Ginting : Camparison of anatomy characteristic for Natural Pine (Pinus merkusii) and Planted. Under the guidances of Luthfi Hakim S.Hut, M.si and Ridwanti Batubara.Hut, MP.

Wood comes from trees that have different characteristics. They are referred to wood anatomy, physics and chemical characteristics. The purpose of this study is to compare the anatomical characteristics of Pine's wood with planted ; to measure fiber’s dimensional derivative; to measure fiber’s dimensional derivative and compare the quality of natural pine’s wood fiber with a planted. The methods used are the macroscopic observation by using a magnifying glass as well as microscopic observation by maceration’s processing and dimensional measuring using a microscope.

The results showed that the anatomical characteristics of natural Pine's and planted are not much different, there is only a little difference in the color of wood. Dimensions of fiber (fiber’s length, fiber’s diameter, lumen’s diameter and fiber’s wall thickness) from the highest to the lowest is planted Pines > natural Pines . Values of dimensional derivative (Runkle ratio, Felting power, Muhlsteph ratio, Coefficient of rigidity, Flexibility ratio) of pine’s fiber in a row for the natural are 0.95: 67.93: 69.89: 0.23: 0.54 while for the planted in a row are 0.73: 77.22: 72.02 ; 0.25; 0.50. Based on Indonesian assessment criteria of wood fibers as raw material for pulp and paper, the two types of Pine's (natural and Planted) are included in quality of class II.

(67)

RIWAYAT HIDUP

Friska Evalina Ginting dilahirkan di Kabanjahe pada tanggal 11 Oktober 1989 dari Ayah D. Ginting dan Ibu S. Milala. Penulis merupakan anak pertama dari empat bersaudara.

Pendidikan formal yang ditempuh selama ini: 1. SD Methodist Kabanjahe, lulus tahun 2002 2. SMP Negeri 1 Kabanjahe, lulus tahun 2005 3. SMA Negeri 1 Kabanjahe, lulus tahun 2008

4. Tahun 2008 lulus ujian Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri

(SNMPTN)

Penulis melaksanakan Praktik Pengenalan Pengelolaan Hutan (P3H) di Hutan Alam, Gunung Sinabung, Lau Kawar, Tanah Karo. Penulis melaksanakan Praktik Kerja Lapang (PKL) di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur.

diterima di Program Studi Teknologi Hasil Hutan, Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara

(68)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkah dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi ini. Judul dari penelitian ini adalah “Perbandingan Sifat Anatomi Kayu Tusam (Pinus merkusii) Alami dan Tanaman”.

Penelitian ini melibatkan banyak pihak sehingga memberi kesan yang berarti di hati penulis. Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ayah D. Ginting dan Ibu S Br. Meliala, ketiga adikku Okta Selviani Br Ginting, Aprida Triana Br Ginting, Zefanya Diankosta Ginting serta keluarga besar yang telah memberikan doa yang tulus, kasih sayang, dorongan materi dan semangat kepada penulis.

2. Bapak Luthfi Hakim S.Hut., M.Si., dan Ibu Ridwanti Batubara S.Hut., M.P. selaku komisi pembimbing yang telah banyak memberikan bantuan serta masukan yang sangat bermanfaat selama penulis menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi ini.

3. Teman-Teman Program Studi Teknologi Hasil Hutan 2008 yang telah banyak memberikan bantuan dan motivasi dari awal penelitian hingga akhir skripsi ini.

(69)

DAFTAR ISI

Botani dan Deskripsi Tanaman Tusam ... 4

Syarat Tumbuh dan Penyebaran ... 5

Sifat Makroskopis Kayu ... 6

Warna Kayu ... 6

Tekstur (Penampilan Sifat Struktur pada Bidang Lintang ... 7

Kilap Kayu ... 8

Kekerasan Kayu ... 8

Serat Kayu ... 9

Kesan Raba... 11

Kayu Teras dan Kayu Gubal ... 12

Pembuatan Preparat Sayatan ... 12

Sifat Mikroskopis Kayu ... 13

Parameter Penilaian Kualitas Serat ... 17

Klasifikasi Dimensi Serat ... 17

Klasifikasi Turunan Dimensi Serat ... 18

Klasifikasi Runkel ... 18

(70)

Kriteria Penilaian Serat Kayu Indonesia ... 20

Turunan Dimensi Serat ... 21

Runkel Ratio (Bilangan Runkle) ... 21

Felting Power/ Slendernes (Daya Tenun) ... 22

Mulhsteph ratio (Bilangan Mulhsteph) ... 22

Coefficient of Rigidity (Koefisien Kekakuan) ... 23

Flexibility Ratio (Bilangan Fleksibilitas) ... 23

Pengukuran Dimensi Serat ... 23

METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian ... 24

Bahan dan Alat Penelitian ... 24

Prosedur Penelitian... 24

Persiapan bahan baku ... 24

Pengujian Sifat Anatomi ... 26

Pengamatan Makroskopis Kayu ... 26

Kayu Teras dan Kayu Gubal ... 26

Pembuatan Preparat Sayatan (Mikrotom) ... 27

Pengamatan Mikroskopis Kayu ... 28

Proses pemisahan serat ... 28

Pengukuran dimensi serat ... 29

Perbandingan dimensi serat dan nilai turunan serat terhadap klasifikasi kualitas serat... 31

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengujian Sifat Anatomi ... 34

Pengamatan Makroskopis ... 34

Kayu Teras dan Kayu Gubal ... 38

Pembuatan Preparat Sayatan ... 38

Pengujian Sifat Mikroskopis ... 42

Pengukuran Dimensi Serat ... 42

Turunan Dimensi Serat ... 46

Perbandingan dimensi serat dan nilai turunan serat Terhadap klasifikasi kualitas serat ... 48

KESIMPULAN Kesimpulan ... 50

Saran ... 50

(71)

DAFTAR TABEL

No. Halaman

1. Klasifikasi Diameter Serat ... 18

2. Klasifikasi Panjang Serat ... 18

3. Kriteria Penilaian Serat Kayu Indonesia ... 21

4. Karakteristik Pohon Penelitian ... 25

5. Kriteria Penilaian Makroskopis Kayu Tusam (Pinus Merkussi) Alami Dan Tanaman... 26

6. Penggolongan Frekuensi Jari-Jari ... 27

7. Penggolongan Lebar Jari-Jari... 27

8. Klasifikasi Diameter Serat ... 31

9. Klasifikasi Panjang Serat ... 32

10. Klasifikasi Serat Berdasarkan Bilangan Runkel... 32

11. Klasifikasi Serat Berdasarkan Bilangan Muhlsteph... 32

12. Klasifikasi Serat Berdasarkan Daya Tenun, Koefision Kekakuan, Dan Nilai Fleksibilitas...32

13. Kriteria Penilaian Serat Kayu Indonesia ... 33

14. Hasil Pengamatan Makroskopis ... 37

15. Perhitungan Kayu Gubal Dan Teras ... 37

16. Pengukuran Diameter Trakeid ... 41

17. Rata-Rata Dimensi Serat Kedua Jenis Kayu Tusam ... 43

18. Rata-Rata Turunan Dimensi Serat Kedua Jenis Kayu Tusam ... 46

(72)

DAFTAR GAMBAR

No. Halaman

1. Pembagian Batang Pohon ... 26 2. Pembagian Serat Pohon... 31 3. Pengamatan Warna Tusam Alami dan Tanaman ... 35 4. Pengamatan Melintang Saluran Damar (perbesaran 40x)

Alami ... 39 5. Pengamatan Melintang Saluran Damar (perbesaran 40x)

(73)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Halaman

Gambar

Gambar 1.. Pembagian Batang Pohon
Tabel 5. Kriteria Penilaian Makroskopis Kayu Tusam (P. merkusii) Alami dan               Tanaman
Tabel 7. Penggolongan Lebar Jari-Jari No.  Golongan
Gambar 2. Bagian-Bagian Serat Pohon Sumber: Husein (2004)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai perbedaan struktur anatomi sel-sel penyusun bagian kayu tarik dan kayu opposite , kualitas serat, sifat

Dari kedua gambar tersebut diketahui bahwa untuk kayu pinus bagian batang dan bidang pengujian tidak berpengaruh terhadap nilai induktansi pada frekuensi 10 4 -10 6

Kayu mangium dan tusam yang diimpregnasi dengan polistiren memiliki nilai kekerasan radial yang tinggi karena polistiren tahan terhadap asam, basa, dan zat pengarat

[r]

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh posisi kayu (pangkal, tengah, dan ujung) dalam pohon dan bidang pengamatan (tangensial, radial, dan acak (R-T)) terhadap

Kanduruan memiliki kayu teras berwarna coklat keabuan, gubal berwarna cokelat muda, tekstur agak halus, arah serat berpadu, agak mengkilap, kesan raba agak licin, agak keras,

(Codification according IAWA List, 1989) Ciri umum (General characteristics) Warna: kayu teras kuning kecoklatan, Corak: bergaris vertikal selang-seling pada bidang

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul “Kajian Struktur Anatomi dan Kualitas Serat Kayu Normal, Kayu Tarik, dan Kayu Opposite dari Jenis