• Tidak ada hasil yang ditemukan

Beberapa Jenis Bahan Sarang dan Perilaku Bersarang Burung Seriti (Collocalia esculenta) di Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Beberapa Jenis Bahan Sarang dan Perilaku Bersarang Burung Seriti (Collocalia esculenta) di Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara"

Copied!
93
0
0

Teks penuh

(1)

BEBERAPA JENIS BAHAN SARANG DAN PERILAKU BERSARANG BURUNG SERITI (Collocalia esculenta)

DI KABUPATEN HALMAHERA SELATAN PROVINSI MALUKU UTARA

WIRDA AZ UMAGAP

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

ABSTRAK

WIRDA AZ UMAGAP. Beberapa Jenis Bahan Sarang dan Perilaku Bersarang Burung Seriti (Collocalia esculenta) di Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara. Dibimbing oleh HERU SETIJANTO DAN SAVITRI NOVELINA.

Salah satu jenis burung yang sudah dikenal oleh masyarakat di Maluku Utara adalah jenis burung seriti (Collocalia esculenta). Burung ini dikenal karena menghasilkan sarang yang berkhasiat bagi kesehatan manusia dan mempunyai nilai ekonomis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui beberapa bentuk dan jenis bahan sarang burung seriti, serta perilaku bersarang burung seriti di jembatan dan gua di Kabupaten Halmahera Selatan.

Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Halmahera Selatan selama 5 bulan menggunakan metode survey. Lokasi pengamatan adalah di 2 jembatan dan 2 gua. Pengamatan meliputi pola peletakan sarang, jumlah sarang, struktur sarang, jenis bahan penyusun sarang dan perilaku bersarang burung seriti. Jumlah petak pengamatan di bawah jembatan (3 petak) dan di dalam gua (5 petak). Pengambilan sampel di setiap petak sebanyak 10 sarang dan jenis bahan sarang di identifikasi. Pengamatan perilaku bersarang burung seriti memerlukan waktu 288 jam. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan statistik non-parametrik khi-kuadrat.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa di lokasi jembatan burung seriti meletakkan sarang pada sirip-sirip kayu sedangkan pada lokasi gua sarang diletakkan pada dinding gua. Jumlah sarang seriti pada jembatan I (121 sarang), jembatan II (130 sarang), gua I (212 sarang) dan gua II (206 sarang). Struktur fisik sarang burung seriti pada lokasi jembatan dan gua terdiri atas sarang mangkok dan sarang pojok dengan ukuran yang berbeda. Jenis bahan sarang yang terdapat di jembatan dan gua lebih banyak tersusun atas lumut, serta lumut dan rumput yang direkatkan dengan air liur. Jenis bahan sarang yang teridentifikasi terdapat pada lumut dengan jumlah spesies lebih banyak dibandingkan dengan bahan sarang lainnya. Aktivitas perilaku bersarang burung seriti adalah keluar dan masuk sarang, menyambut dan mengoper bahan sarang, menyusun bahan sarang, merekatkan bahan sarang dengan air liur. Terdapat perbedaan jumlah sarang, ukuran dan bentuk sarang, serta jenis bahan sarang diantara lokasi jembatan dan gua di Kabupaten Halmahera Selatan adalah jumlah sarang di J II lebih banyak dibandingkan di lokasi J I, sedangkan G I lebih banyak dibandingkan G II, ukuran dan bentuk sarang seriti pada lokasi gua sarang mangkok berukuran besar, sedangkan di jembatan sarang seriti sarang mangkok dan sarang pojok berbentuk segitiga yang berukuran kecil, jenis bahan sarang di 4 lokasi dapat dibedakan atas beberapa jenis bahan (lumut, rumput, dan serpihan daun).

(3)

ABSTRACT

WIRDA AZ UMAGAP. Type of White-Bellied Swiftlets Nest Materials (Collocalia esculenta) and Nested Behavior in South Halmahera Region, North Maluku. Under Direction of HERU SETIJANTO and SAVITRI NOVELINA.

White-bellied swiflets (Collocalia esculenta) is one of well known bird spesies, especially in North Maluku. The bird is famous due to economic valuable, it can produce the nest which benefit especially for human healthy. The objective of the research are to several the shape and type of the nest material, and white-bellied swiftlet nested behavior at the bridge and the cave in South Halmahera Region. This research has been done within 5 months by survey method. The observation was taken place at two location, 2 at the bridges and 2 at the caves. The observation consisted of the pattern of nest setting and the nest of number, the nest of structure, type of nest materials and the nested behavior of white-bellied swiftlets. The plot number of the observation under the bridges (3 plots) and the caves (5 plots). The sampling was done in the each of the plots are 10 nest and the types of the nest material were identified. The observation of the nested behavior were spent 288 hours. The data obtained were analyzed descriptively using statistic non-parametric (Chi-quadratic). The result of the research showed that white-bellied swiftlet set their nest at the wood slices of the under a bridge mean while at the caves location the swiftlets set their nest on the cave wall. The nest number of the swiftlets to the bridge I (121 nest), the bridge II (130 nest), the cave I (212 nest), and the cave II (206 nest) respectively. Physically structure of the white-bellied swiftlet nest at the bridges and the caves was consisted of cup nest and corner nest with the different size. Most of the nest material type of swiftlet which found at the bridges and the caves consisted of moss, or moss and grass which bounded by saliva. The types of nest material of the swiftlet which identified was consisted of moss with the more spesies than other nest of materials. The activity of the nested behavior of white-bellied swiftlet that could be observed were go and come to the nest, to gets and over the nest materials, arrange the nest, bound the nest materials with saliva. There are any different of the number, size, form and type of the nest materials of swiftlet, between the bridges location and the caves which are the number of the nest at the bridge II is more than the bridge I, mean while the cave I is more than the cave II. The size and form of the nest at the caves is like the cup nest of the bigger. At the bridge, the nest like the small cup nest and corner nest to the triangle. The type of swiftlet the nest materials at 4 site study can be distinguished within plants as the nest materials (moss, grass, and leaves of chip).

(4)

BEBERAPA JENIS BAHAN SARANG DAN PERILAKU BERSARANG BURUNG SERITI (Collocalia esculenta)

DI KABUPATEN HALMAHERA SELATAN PROVINSI MALUKU UTARA

WIRDA AZ UMAGAP

Tesis

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh gelar Magister Sains Pada

Departemen Biologi

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(5)

Judul Penelitian : Beberapa Jenis Bahan Sarang dan Perilaku Bersarang Burung Seriti (Collocalia esculenta) di Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara.

Nama Mahasiswa : Wirda Az Umagap NRP : G351040051

Disetujui Komisi Pembimbing

Dr. Drh. Heru Setijanto Drh. Savitri Novelina, M.Si Ketua Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi Biologi Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr. Ir. Dedy Duryadi, DEA Prof. Dr. Ir. Khairil Anwar Notodiputro, M.S

(6)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Beberapa Jenis Bahan Sarang dan Perilaku Bersarang Burung Seriti (Collocalia Esculenta) di Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara adalah hasil karya saya sendiri dan belum pernah diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber data dan informasi yang berasal dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Juli 2007

(7)

RIWAYAT HIDUP

(8)

P R A K A T A

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas hidayah dan rahmatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan tesis dalam rangka memperoleh gelar Magister Sains.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada :

1. Dr. Drh. Heru Detijanto dan Drh. Savitri Novelina M.Si, selaku komisi pembimbing yang telah memberikan bimbingan, arahan dan dukungan yang tiada henti selama proses pembuatan dan penulisan tesis.

2. Dr. Ir. R. R. Dyah Perwitasari, Msc, selaku dosen penguji atas kritik dan saran yang berguna bagi penyelesaian akhir tesis ini.

3. Departemen Pendidikan Nasional DIKTI dan Universitas Muhammadiyah Ternate atas kesempatan yang diberikan sehingga penulis dapat memperluas wawasan untuk studi di IPB.

4. Sekolah Pascasarjana IPB atas kesempatan belajar yang diberikan sehingga penulis dapat diterima pada Program Studi Biologi.

5. Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam Bacan Halmahera Selatan atas ijin penelitian yang diberikan.

6. Pemerintahan Daerah Maluku Utara di Ternate atas bantuan dana penelitian yang diberikan.

7. Walikota Propinsi Maluku Utara atas bantuan dana penelitian. 8. Bupati Halmahera Selatan di Bacan atas bantuan dana penelitian. 9. Bupati Halmahera Utara di Jailolo atas bantuan dana penelitian. 10.Bupati Sula Kepulauan di Sanana atas bantuan dana penelitian.

11.Seluruh staf Departemen Biologi dan Pascasarjana IPB atas pelayanan Akademik yang diberikan selama penulis menjalani studi.

12.Staf pengajar Labolatorium Anatomi Fakultas Kedokteran Hewan atas kesempatan yang diberikan dan bantuan menyelesaikan penyusunan tesis. 13.Mama, Papa, Isman, Betty, M. Guntur dan keluarga besar di Ternate atas

segala doa, dukungan dan kasih sayang.

(9)

15.Pak Bahim, Pak Ade dan Pak Hasan sekeluarga atas bantuan dan kerjasama dan keramahan selama penelitian.

16.Adik-adik mahasiswa Unkhair dan Muhammadiyah atas bantuan dan kerjasama selama penelitian.

17.Pak Maikel, Bu Trias, Pak Yan, Kuncup dan mbak Rahmi atas bantuan dan dukungan sangat berarti selama masa penulisan tesis.

18.Rekan-rekan dan saudara-saudara yang namanya tidak bisa disebutkan satu persatu atas dukungannya selama ini.

Akhir kata segala kerendahan hati penulis berharap agar tesis ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi yang membutuhkan.

Amin, Insyaallah

.

Bogor, Juli 2007

Wirda Az Umagap

(10)

© Hak Cipta milik IPB, Tahun 2007 Hak Cipta dilindungi undang-undang

1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber

a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjaun suatu masalah

b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB

(11)
(12)

x

DAFTAR TABEL

Halaman 1. Jumlah sarang di lokasi jembatan dan gua di Pulau Bacan ... 21 2. Ukuran fisik sarang mangkok di lokasi jembatan dan gua di

Kabupaten Halmahera Selatan ... 23 3. Ukuran fisik sarang pojok di lokasi jembatan di Pulau Bacan ... 23 4. Jenis bahan penyusun sarang seriti di jembatan I dan jembatan II di

Pulau Bacan ... 25 5. Jenis bahan penyusun sarang seriti di gua I dan gua II di

Pulau Kasiruta (Ruta) ... 26 6. Jenis bahan penyusun sarang seriti di lokasi jembatan dan gua di

Kabupaten Halmahera Selatan ... 27 7. Aktivitas burung seriti bersarang pagi hari di jembatan

Pulau Bacan ... 30 8. Aktivitas burung seriti bersarang siang hari di jembatan

Pulau Bacan ... 30 9. Aktivitas burung seriti bersarang sore hari di jembatan

Pulau Bacan ... 30 10. Aktivitas burung seriti bersarang pagi hari di gua Pulau

Kasiruta (Ruta) ... 31 11. Aktivitas burung seriti bersarang siang hari di gua Pulau

Kasiruta (Ruta) ... 31 12. Aktivitas burung seriti bersarang sore hari di gua Pulau

(13)

xi

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Burung seriti (Collocalia esculenta) ... 5

2. Sarang burung seriti (Collocalia esculenta) ... 9

3. Peta Provinsi Maluku Utara ... 14

4. Peta Pulau Bacan Kabupaten Halmahera Selatan ... 14

5. Pemetakkan di lokasi jembatan dan gua ... 16

6. Pengukuran sarang seriti ... 17

7. Bentuk sarang seriti ... 17

8. Sarang mangkok di lokasi jembatan dan gua ... 24

9. Sarang pojok di lokasi jembatan I dan jembatan II ... 25

(14)

xii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Perhitungan penyebaran sarang di lokasi jembatan I Pulau Bacan ... 43

2. Perhitungan penyebaran sarang di lokasi jembatan II Pulau Bacan ... 45

3. Perhitungan penyebaran sarang di lokasi gua I Pulau Kasiruta (Ruta) ... 47

4. Perhitungan penyebaran sarang di lokasi gua II Pulau Kasiruta (Ruta) ... 50

5. Ukuran fisik sarang mangkok di lokasi jembatan I Pulau Bacan ... 53

6. Ukuran fisik sarang mangkok di lokasi jembatan II Pulau Bacan ... 54

7. Ukuran fisik sarang pojok di lokasi jembatan I Pulau Bacan ... 55

8. Ukuran fisik sarang pojok di lokasi jembatan II Pulau Bacan ... 56

9. Ukuran fisik sarang mangkok di lokasi gua I Pulau Kasiruta (Ruta) ... 57

10. Ukuran fisik sarang mangkok di lokasi gua II Pulau Kasiruta (Ruta)... 59

11. Ukuran fisik sarang di lokasi jembatan I Pulau Bacan ... 61

12. Ukuran fisik sarang di lokasi jembatan II Pulau Bacan ... 62

13. Ukuran fisik sarang di lokasi gua I Pulau Kasiruta (Ruta) ... 63

14. Ukuran fisik sarang di lokasi gua II Pulau Kasiruta (Ruta) ... 65

15. Jenis-jenis bahan penyusun sarang seriti di lokasi jembatan dan gua Kabupaten Halmahera selatan ... 67

16. Kunci identifikasi kelompok jenis bahan penyusun sarang sebagai kelompok tumbuhan (lumut, rumput dan serpihan daun) ... 68

17. Ukuran fisik lokasi sarang, suhu dan kelembaban di jembatan dan gua di Kabupaten Halmahera Selatan ... 69

18. Pengukuran fisik lokasi sarang burung seriti di jembatan I dan Jembatan II di Pulau Bacan ... 69

19. Pengukuran fisik lokasi sarang burung seriti di gua I dan gua II di Pulau Kasiruta (Ruta) ... 70

20. Perilaku bersarang burung seriti di lokasi jembatan Pulau Bacan ... 71

21. Perilaku bersarang burung seriti di lokasi gua Pulau Kasiruta (Ruta) .... 71

22. Gambar lokasi penelitian di jembatan I, jembatan II, gua I dan gua II di Kabupaten Halmahera Selatan ……… 72

(15)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.

Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki kekayaan alam hayati

berupa flora dan fauna yang melimpah. Kekayaan alam tersebut sepantasnya

mendapatkan perhatian sebagai bahan kajian ilmu pengetahuan dan untuk

usaha pelestarian.

Salah satu jenis burung yang sudah dikenal oleh masyarakat di Kabupaten

Halmahera Selatan adalah jenis burung seriti (Collocalia esculenta). Burung

ini dikenal karena menghasilkan sarang yang berkhasiat bagi kesehatan

manusia dan mempunyai nilai ekonomis. Pada umumnya sarang burung seriti

terbuat dari bahan-bahan berupa tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam

seperti rumput-rumputan, lumut, ijuk, daun cemara, daun pinus dan

bahan-bahan lainnya yang direkatkan dengan air liur (saliva). Kandungan air liur

pada sarang seriti sekitar (5-10%), tetapi sangat berharga dan mudah

diperoleh.

Harga jual sarang burung seriti yang relatif tinggi mendorong minat

masyarakat untuk memanfaatkannya. Pemanenan dan pascapanen sarang

burung seriti di Kabupaten Halmahera Selatan masih bersifat tradisional

dengan memanfaatkan tempat bangunan atau rumah sebagai tempat budidaya

sarang seriti. Sarang seriti dapat dikonsumsi oleh masyarakat dan dipercaya

berkhasiat bagi kesehatan.

Burung seriti memiliki perilaku yang sangat khas dan unik sebagai

aktivitas di dalam kehidupanya sehari-hari. Bersarang merupakan salah satu

perilaku burung seriti dalam membuat sarang sebagai tempat untuk

beristirahat, berkembangbiak, dan merawat anak-anaknya.

Habitat hidup burung seriti adalah di gua-gua di daerah pantai karang dan

beberapa daerah pegunungan kapur. Ada juga ditemukan di bawah jembatan

dan bangunan rumah penduduk. Tempat yang disukai seriti adalah tempat

yang tenang, belum tercemar polusi udara dengan suhu 24ºC - 30ºC dan

(16)

Sebagai salah satu kekayaan fauna Indonesia dan sumber komoditi

potensial, burung seriti dirasakan masih sangat kurang diminati dan

dimanfaatkan sebagai bahan kajian ilmiah oleh kalangan ilmuwan atau

peneliti terutama pada pengolahan sarang burung seriti baik itu secara

tradisional maupun moderen. Pemanfaatan dan pengembangan lokasi untuk

tempat bersarang burung seriti di Kabupaten Halmahera Selatan belum pernah

dilaporkan.

Kebupaten Halmahera Selatan merupakan daerah pemekaran Provinsi

Maluku Utara yang terdiri atas beberapa pulau diantaranya adalah Pulau

Bacan, Kecamatan Bacan Timur, Pulau Kasiruta (Ruta), Pulau Obi, Pulau

Makian, Pulau Kayoa, Pulau Mandioli, Kecamatan Gane Timur, dan

Kecamatan Gane Barat (BAPPEDA KABHALSEL 2007). Pulau Bacan dan

Pulau Kasiruta (Ruta) mempunyai lereng gunung dengan hamparan

hutan-hutan luas berfungsi sebagai daerah tangkapan air (sungai-sungai) yang besar

sangat penting bagi masyarakat di Kabupaten Halmahera Selatan (FAO 1982h

dalam Sujatnika et al., 1995). Pada daerah ini terdapat bermacam-macam jenis burung diantaranya jenis burung seriti (Collocalia esculenta) yang dijadikan sebagai objek penelitian. Burung seriti ini umumnya membuat sarang dan

berkembangbiak pada tempat-tempat di Kabupaten Halmahera Selatan.

B. Rumusan Masalah

Data mengenai kondisi tempat bersarang, jenis bahan sarang dan

pemanfaatan tempat bersarang burung seriti sebagai tempat yang baik untuk

burung seriti membuat sarang di Kabupaten Halmahera Selatan belum banyak

diketahui. Pengetahuan masyarakat mengenai pengolahan tempat bersarang

burung seriti sebagai tempat budidaya di Kabupaten Halmahera Selatan masih

kurang. Pada umumnya sebagian masyarakat di Kabupaten Halmahera Selatan

menjual sarang burung seriti untuk menunjang kebutuhan ekonomi mereka,

dimana proses pemanenan dan pascapanen sarang burung seriti masih

dilakukan secara tradisional.

Keterkaitan antara sarang burung seriti dengan tempat beristirahat,

(17)

burung seriti untuk pembudidayaan secara optimal. Demikian itu masih

banyak diperlukan penelitian-penelitian dasar yang dapat memberikan data

ekologis. Selain itu hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi data

dasar bagi peneliti untuk melanjutkannya.

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :

1. Beberapa bentuk dan jenis bahan sarang burung seriti di lokasi jembatan

dan gua di Kabupaten Halmahera Selatan.

2. Perilaku bersarang burung seriti di lokasi jembatan dan gua di Kabupaten

Halmahera Selatan.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai

perbedaan jenis bahan dan bentuk sarang burung seriti sebagai akibat adanya

perbedaan lokasi dan dapat mengelola kawasan tersebut agar kelestarian sarang

burung seriti tetap terjaga, serta perkembangan populasi burung seriti pun tetap

dipertahankan. Terutama mengenai pemanfaatan tempat sarang burung seriti

(18)
(19)

II. TINJAUAN PUSTAKA a = tidak ; podos – kaki), dan sering disebut juga white – bellied swiftlet

(burung seriti berdada/perut putih) (Lack 1956 ; Bryant dan Hails 1983).

Menurut tim penulis Penerbit Swadaya (1992) genus Collocalia sp terdiri atas 6 spesies yaitu Collocalia gigas (walet besar), Collocalia maxima (walet

sarang hitam), Collocalia fuciphaga (walet putih), Collocalia brevirostris

(walet gunung), Collocalia vanikorensis (walet sarang lumut), dan Collocalia esculenta (walet sapi/seriti). Burung ini membuat sarang dari bahan tumbuh-tumbuhan seperti rumput-rumputan, lumut, ijuk dan bahan-bahan lainnya yang

direkatkan dengan saliva (air liur) (Tompkins dan Clayton 1999).

Burung seriti tidak menggunakan sistem ekholokasi karena burung seriti

dapat menemukan sarang dengan penglihatannya yang tajam (Adiwibawa

2000). Sistem ekholokasi adalah suatu sistem yang digunakan oleh burung

untuk mengenal keadaan lingkungan suatu tempat (terutama dalam keadaan

gelap), dengan mengeluarkan suara putus-putus berfrekuensi tertentu dan

(20)

menentukan jarak dan arah dari benda yang memantulkan (Adiwibawa 2000;

Price et al., 2004)

Menurut Whendrato et al., (1989) burung seriti merupakan jenis burung

pemakan serangga terbang, biasanya burung ini menangkap serangga sebagai

makanannya sambil berterbangan diatas rerumputan, pepohonan, atau diatas

perairan dan cara menangkapnya sambil terbang. Serangga yang bermanfaat

bagi burung seriti sebagai pakan adalah jenis serangga terbang, berukuran

tubuh kecil, dan berkulit lunak.

Burung seriti mempunyai warna bulu bagian atas berwarna gelap atau

hitam kehijau-hijauan atau kebiru-biruan dan bagian perut berwarna putih,

bentuk ekor sedikit bercelah tidak dalam dan pendek, terbangnya cepat hingga

mencapai 150 km/jam dengan ukuran tubuh sedang/kecil sekitar 9-15 cm

sedangkan ukuran dewasa hanya berkisar 10-16 cm dan ukuran paruh kecil

agak melengkung berwarna gelap, serta sayap berbentuk sabit yang sempit dan

runcing sangat kuat (Coates dan Bishop 2000; Mackinnon et al., 1993).

Menurut Holmes dan Phillips (1999) bentuk mata seriti bulat dan cekung

pita-tunggir lebih pucat tidak jelas dan warnanya abu-abu agak gelap. Burung ini

memiliki kaki yang kecil dan lemah, serta berkuku kecil dan runcing

digunakan untuk hinggap pada waktu burung seriti istirahat dalam posisi

menggantung di sarang (BPRSB 1979). Seriti memiliki 2 butir telur berwarna

putih dan bulat pendek agak lonjong (Abeng 2004).

(21)

2. Penyebaran

Burung seriti (Collocalia esculenta) tersebar di beberapa daerah diantaranya wilayah Peninsular, Malaysia, Thailand, Archiplago, Andaman,

Pulau Nicobar, Philipina, Irlandia baru, Roma, di Indonesia : Sumatra, Pulau

Nias, Pulau Batu dan Pulau Mentawai, Sumbawa, Flores, Sumba, Damar,

Wetar, dan Alor, Sulawesi Selatan, Banggai, Sulawesi utara, Sangihe, Papua

Nugini, Maluku Selatan, Kai, Ambon, Pulau Roti, dan juga burung seriti ini

tersebar di Maluku Utara: Ternate, Tidore, Obi, Pulau Sula, Halmahera,

Kasiruta dan Bacan. (Chantler 2000 ; Coates dan Bishop 2000 ; Palliser 2001).

3. Habitat

Menurut Soetjipta (1993) habitat merupakan tempat dengan setiap unit

kehidupan yang berada didalamnya mampu melakukan aktivitas hidup dan

mengalami interaksi dengan lingkungannya. Hal ini disebabkan karena hewan

mempunyai kemampuan hidup, tumbuh dan berkembang pada kondisi

lingkungan yang sesuai. Berdasarkan fungsinya, habitat burung seriti terbagi

atas habitat untuk mencari makan (feeding habitat), habitat untuk beristirahat (rosting habitat) dan habitat untuk berbiak (nesting habitat) (Marzuki et al. 2002). Habitat burung seriti untuk beristirahat dan berbiak yaitu di dalam gua,

di pemukiman penduduk dan di bawah jembatan, sedangkan habitat burung

seriti untuk mencari makan yaitu padang rumput, persawahan, perladangan,

perkebunan, hutan, dan daerah perairan (Djana 2004).

Setiap mahluk hidup membutuhkan tempat untuk kelangsungan hidupnya

dalam mencari makan, bercengkerama, berlindung dan berkembangbiak

(Yunanto 2004a). Pada umumnya mencari daerah yang potensial diperlukan

pengetahuan tentang lingkungan ideal untuk seriti. Berikut ini dua faktor

lingkungan yaitu: habitat makro (kondisi di luar tempat bersarang) faktor yang

mempengaruhinya adalah faktor makanan, hunian, air, ketinggian tempat,

keamanan dan musim, sedangkan habitat mikro (kondisi di dalam tempat

bersarang) faktor yang mempengaruhinya adalah kelembaban, suhu, aroma,

cahaya, juga sangat mempengaruhi perkembangbiakan seriti (Whendrato et

(22)

Burung seriti menyukai daerah lembab dan basah, dan tersedia pakan yang

berlimpah sehingga memberikan perkembangan populasi seriti lebih banyak,

serta kurang menyukai daerah yang terlalu dingin karena dapat memperlambat

perkembangan populasi seriti (Yamin dan Sukma 2002). Burung ini lebih

banyak memilih hidup pada daerah yang bersuhu 24-30ºC dan kelembaban

ideal 60-80 %, serta cahaya yang dibutuhkan tidak terlalu terang atau gelap

disebut habitat mikro (Yamin dan Hartono 2002). Kelembaban dan suhu juga

sangat berpengaruh pada perilaku kawin, produksi sarang, kwalitas sarang,

penetasan telur dan perkembangan kesehatan seriti itu sendiri (Yunanto

2004b).

Menurut Whendrato et al., (1989) kawasan dimana seriti berkeliaran berburu mangsa atau serangga sebagai makanannya disebut habitat makro.

Kawasan yang dipilih sebagai habitat makro adalah padang rumput,

persawahan, perladangan, perkebunan, hutan dan daerah perairan yang selalu

terdapat serangga terbang, baik yang terdapat di dataran rendah dengan

ketinggian sekitar 500 m dpl - 1000 m dpl maupun diatas 500 m dpl - 1000 m

dpl. Habitat mikro burung seriti adalah rumah penduduk, di bawah jembatan,

dan gua-gua.

Gua merupakan tempat hidup burung seriti yang mencakup

ruangan-ruangan kecil misalnya rekah-rekahan dan celah-celah yang biasa terdapat

dalam batu gamping. Seriti membuat sarang di dinding gua yang kering dan

menjorok kedalam berbentuk lubang, selain untuk menyembunyikan diri, hal

tersebut juga merupakan suatu usaha untuk menghindarkan diri dari terjangan

air yang terkadang meluap sampai keatap gua (Ko 1986). Pada dinding gua

yang basah, sarang yang terbentuk kurang kuat, lembek dan lekas berubah

warna dari putih menjadi kecoklatan (BPRSB 1979).

Di bawah jembatan tempat hidup burung seriti memiliki suhu rendah

(sekitar 23°C) atau pada suhu tinggi (sekitar 26°C) yang stabil dan tidak

memerlukan kelembaban yang sangat tinggi. Di bawah jembatan juga terdapat

sungai kecil yang mengalir keluar. Terdapat ruangan yang terbuat dari kayu

merupakan sirip tempat burung seriti meletakkan sarang dan sirip-sirip

(23)

B. Perilaku.

Menurut Soetjipta (1993) perilaku hewan sebagai usaha adaptasi hewan

terhadap perubahan lingkungan sehingga hewan tersebut dapat tetap hidup dan

berkembangbiak. Perilaku merupakan kegiatan teramati pada suatu mahluk

hidup dalam menjalani hidupnya yang seringkali beradaptasi terhadap

lingkungan.

Pasangan seriti jantan dan betina akan saling bergantian mengoles air

liurnya sedikit demi sedikit ke sarang yang berada di dinding tempat

meletakkan sarang (Budiman 2002a). Seriti dapat membuat sarang sepanjang

tahun tanpa berhenti. Namun sarang yang dibuat di luar musim berbiak

berukuran lebih kecil dibandingkan sarang yang dibuat pada musim berbiak.

Pada saat musim berbiak waktu yang dibutuhkan untuk membuat sarang

adalah 40 hari, sedangkan di luar musim berbiak lamanya pembuatan sarang

adalah 80 hari karena produksi air liur seriti sedikit (BPRSB 1979).

Musim berbiak seriti banyak ditandai dengan adanya sekawanan seriti

yang saling berkejaran, secara alami seriti akan memilih musim kawin dan

berbiak menjelang musim hujan, hal ini berkaitan dengan melimpahnya

makanan (Marzuki et al., 2002). Selang waktu 5-8 hari seriti betina mulai

bertelur, sampai telur berjumlah 2 butir, selanjutnya pasangan seriti akan

saling bergantian untuk mengerami telur-telur tersebut selama 21-24 hari,

setelah itu anak seriti yang baru menetas akan disuapi oleh induknya selama

45 hari, kemudian anak-anak seriti ini dapat terbang dan mencari makan

sendiri (BPRSB 1979).

C. Sarang Burung Seriti (Collocalia esculenta) 1. Kriteria Sarang

Kriteria sarang seriti menurut Djana (2004) adalah :

a. Sarang dibuat oleh pasangan seriti (jantan dan betina)

b. Sarang seriti direkatkan dengan air liur (saliva)

c. Sarang seriti menempel pada bidang vertikal dan horisontal.

d. Sarang seriti terbuat dari beberapa jenis tumbuhan seperti lumut, rumput,

(24)

Gambar 2. Sarang Seriti (Collocalia esculenta) Keterangan : Bar = 2 cm

2. Peletakkan sarang

Pada umumnya sarang seriti menempel pada suatu bidang vertikal,

misalnya pada sirip kayu dan menempel di celah-celah batu pada dinding gua.

Tempat membuat sarang dapat ditentukan oleh jantan, betina ataupun

keduanya dan sarang seriti dibuat oleh pasangan seriti (Taslim 2002).

Menurut Whendrato et al., (1989) tempat yang dipilih seriti untuk menempelkan sarang yaitu tidak terkena air hujan, dan tempat yang suhu dan

kelembabannya stabil, tidak licin dan mengkilap, berwarna kotor dan agak

lembab, dinding kasar atau guratan-guratan pada dinding, terlindungi dari

hembusan angin kencang. Tempat peletakkan dan meletakkan sarang seriti

mempunyai ciri-ciri diantaranya adalah seriti berjejeran di dekat sarang yang

sudah ada, membentuk kumpulan sarang baik ke kiri-kanan, kadang ke atas

dan ke bawah mengelompok pada koloninya, pada tonjolan dan lubang

dinding yang terdapat tumpuan mendatar sehingga sarang dapat dengan

mudah diletakkan tergantung pada ujung atau bendolan (Whendrato et al., 1989).

3. Pembuatan dan bentuk Sarang.

Sarang seriti dibuat dari air liurnya (saliva) yang kemudian menjadi keras.

Perubahan warna sarang yang terbuat dari air liur adalah akibat pengaruh

(25)

mencemarinya (Adiwibawa 2000). Keadaan iklim dapat mempengaruhi awal

pembuatan sarang. Burung seriti memilih tempat untuk membuat sarang pada

tempat yang suhu dan kelembabannya stabil dan tempat yang mudah

menempeli sarang.

Dalam bersarang, burung seriti membutuhkan waktu lebih lama karena

mencari bahan rumput-rumputan kering. Hal ini membutuhkan waktu

kira-kira 60-70 hari tergantung musim kemarau atau penghujan.

Bentuk sarang seriti yaitu ada yang berbentuk mangkok dan pojok

tergantung dari tempat seriti melekatkan sarang (Whendrato et al., 1989). Sarang seriti ada yang berbentuk seperti mangkok dibelah dua apabila melekat

pada tengah-tengah sirip dan ada yang dibelah empat atau tiga apabila melekat

di sudut sirip.

4. Bahan Penyusun Sarang

Sarang seriti terbuat dari bahan dasar berupa serabut memanjang yang

diambil dari alam. Bahan dasar tersebut berupa tumbuh-tumbuhan, misalnya

rumput, bunga rumput, daun pohon cemara (Casuarina equisetifolia), tangkai daun berjari, serat kelapa, ijuk, bunga tebu, lumut, mahkota bunga, tulang

daun dari pohon flamboyan (Delonix regia) dan daun pinus (Soehartono dan Mardiastuti 2003). Bahan dasar sarang burung seriti bisa juga dari hewan atau

bahan buatan manusia, misalnya bulu seriti atau tali rafia yang direkatkan

dengan air liur. Bahan-bahan tersebut diambil sambil terbang saat bahan

tersebut melayang tertiup angin atau masih melekat pada sesuatu (ranting

pohon atau yang lainnya) yang mudah diambil (Adiwibawa 2000).

Menurut Nugroho (1996) sarang burung seriti terdiri dari bahan rumput

kering yang dilumuri oleh air liur kira-kira sebesar 15% dan kadang-kadang

sedikit bulu. Menurut Alikodra (1989) lumut, lumut kerak, dan ranting-ranting

direkatkan dengan air liur sebagai perekat bahan-bahan pembentuk sarang

seriti.

Persentase berat liur kering sarang burung seriti tergantung pada jenis serat

yang dipakai dan susunan bahan dasar sarang seriti. Berat liur kering dapat

(26)

D. Pemanfaatan Sarang Burung Seriti.

Data mengenai produksi sarang seriti (Collocalia esculenta) hingga kini belum tersedia. Perlu di ingat bahwa tidak semua sarang seriti tersebut

memiliki nilai komersial karena tergantung bahan sarang yang di pakai, saat

ini hanya sarang dari jenis bahan pinus Pinus merkusii yang bernilai karena adanya kesulitan dalam proses pemisahan material tumbuhan dari air liur seriti

(Soehartono dan Mardiastuti 2003). Sarang seriti yang sudah di panen dapat

dikelola dengan baik karena adanya temuan teknologi yang mudah

memisahkan air liur dari bahan sarang dan hingga kini hanya sedikit

perusahan pembersih sarang di Indonesia yang mampu memproses sarang

seriti (Soehartono dan Mardiastuti 2003).

Burung seriti sangat mudah beradaptasi dan toleran terhadap lingkungan

manusia, sehingga mudah ditemukan. Bila dibandingkan dengan sarang walet,

sarang seriti mempunyai nilai jual lebih rendah yaitu Rp 250.000 sampai

Rp 300.000/kilogram. Harga sarang seriti di daerah Kabupaten Halmahera

Selatan merupakan nilai yang sangat komersial untuk di jual keluar kota dan

mudah terjual ke daerah yang dapat mengelola sarang burung seriti.

Pada umumnya sebagian masyarakat banyak yang menginginkan sarang

seriti untuk kebutuhan ekonomi mereka. Sarang seriti yang di jual sangat

bermanfaat, serta dapat dikonsumsi oleh masyarakat dan dipercaya berkhasiat

bagi kesehatan diantaranya berupa obat-obatan seperti obat sakit pernapasan,

obat awet muda, meningkatkan vitalitas dan obat kecantikan, serta

(27)

III. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

A. Letak Geografis dan Fisik Wilayah

Kabupaten Halmahera Selatan terletak pada 126º 45’ dan 129º 30’ Bujur

Timur, 0º 30’ Lintang Utara dan 2º 00’ Lintang Utara. Wilayah Kabupaten

Halmahera Selatan dengan ibu kota Bacan (Labuha), secara administratif

merupakan bagian dari wilayah Provinsi Maluku Utara dengan luas sekitar

40.236,72 Km² yang terdiri atas luas daratan 8.779,32 Km² dan lautan seluas

31.484,40 Km². Kabupaten Halmahera Selatan terletak di kawasan timur

Indonesia, tepatnya berbatasan dengan :

- Sebelah Utara dibatasi oleh Kota Tidore Kepulauan dan Kota Ternate.

- Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Seram.

- Sebelah Timur berbatasan dengan Laut Halmahera.

- Sebelah Barat berbatasan dengan Laut Maluku.

Kabupaten Halmahera Selatan adalah salah satu daerah hasil pemekaran

dari Provinsi Maluku Utara termasuk didalamnya gugusan pulau-pulau yang

wilayahnya sebagian besar dikelilingi oleh lautan, tujuh diantaranya Pulau

Obi, Pulau Bacan, Pulau Makian, Pulau Kayoa, Pulau Kasiruta (Ruta), Pulau

Mandioli dan sebagian Pulau Halmahera di bagian selatan. Dari ketujuh Pulau

tersebut yang paling besar adalah Pulau Obi dengan luas wilayah ± 3.111 Km²

(PEMDA KABHALSEL 2006).

Dilihat dari topografi wilayah maka kondisi Kabupaten Halmahera Selatan

tidak jauh berbeda dengan daerah-daerah lain yang ada di Provinsi Maluku

Utara yang sebagian besar merupakan perbukitan dan pegunungan dengan

kemiringan rata-rata 15-40 % dan bukit tertinggi adalah gunung sibela yang

berada di Pulau Bacan dengan elevasi 2.111 m dpl.

Faktor iklim (curah hujan dan suhu) memiliki pengaruh yang cukup kuat

terhadap pembentukan jenis tanah di daerah ini, sehingga menyebabkan tanah

yang berada di Kabupaten Halmahera Selatan mempunyai sifat yang berbeda.

Kondisi iklim di wilayah Kabupaten Halmahera Selatan secara umum

beriklim tropis dan iklim musim. Keadaan iklim di daerah Kabupaten

(28)

dari laut Seram dan laut Maluku. Musim angin yang terjadi adalah pada

musim barat atau utara dan musim selatan atau timur tenggara yang diselingi

dengan 2 musim pancaroba akibat dari transisi kedua musim tersebut. Pada

musim barat atau utara berlangsung pada bulan Desember sampai dengan

bulan Maret dan bulan April adalah masa transisi ke musim tenggara dan pada

saat itu biasanya diikuti dengan musim kemarau. Sedangkan musim selatan

atau timur tenggara umumnya berlangsung selama 6 bulan, yang berawal dari

bulan November dan biasanya terjadi hujan (PEMDA KABHALSEL 2006).

Pada masa transisi antara bulan April dan bulan Nopember kecepatan

angin yang terjadi rata-rata 10,2 km/jam dengan kecepatan terbesar 14,3

Km/jam sedangkan curah hujan yang terjadi rata-rata 1500-2500 mm/tahun

dengan jumlah hari hujan 80-150 Hari. Besarnya curah hujan tersebut menurut

klasifikasi Schmidt F.H dan J.H.A Ferguson yang menunjukan bahwa Daerah

Halmahera Selatan tergolong dalam klasifikasi tipe iklim A dan B kecuali

daerah Saketa yang beriklim C dan daerah Laiwui yang bertipe Am

(Klasifikasi Koppen). Salah satu daerah Halmahera Selatan yang berada pada

garis katulistiwa yaitu gugusan Pulau Guraici yang berakibat suhu udara di

daerah tersebut bersuhu 27 - 30ºC.

Gambar 3. Peta Provinsi Maluku Utara

Keterangan : Tanda panah merupakan arah lokasi penelitian

(29)

Gambar 4. Peta Kabupaten Halmahera Selatan

Keterangan : (J 1) jembatan I dan (J II) Jambatan II di Pulau Bacan (Labuha), (G I) Gua I dan (G II) Gua II di Pulau Kasiruta (Ruta) sebagai lokasi pengamatan.

(30)

IV. METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di lokasi jembatan dan gua di Kabupaten

Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara selama 5 bulan (Maret hingga

Agustus 2006).

B. Alat dan bahan Penelitian.

Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Alat bantu untuk mengukur fisik sarang dan pengukuran petak, serta

mengambil sarang yaitu : Meteran/pitaukur, tali, tangga, pisau dan

keranjang, serta alat bantu untuk mengukur suhu dan kelembaban yaitu :

Termometer dan Higrometer.

2. Alat bantu untuk identifikasi jenis bahan sarang yaitu : Miskroskop, loupe,

kaca pembesar, cawan, pinset, dan pisau kecil/silet.

3. Alat bantu untuk pengamatan perilaku yaitu : Monokuler, Binokuler,

lampu/senter dan kompas. Perlengkapan fotografi sebagai alat

dokumentasi obyek kegiatan penelitian, serta alat tulis dan lembar data.

C. Tahapan Penelitian.

1. Studi Pustaka

Studi pustaka dilakukan untuk mempersiapkan penelitian melalui

pengumpulan informasi mengenai tempat-tempat sarang burung seriti,

perilaku bersarang burung seriti, jenis-jenis bahan penyusun sarang seriti, dan

kondisi lokasi sarang.

2. Survey (Menjajaki lapangan)

Pengamatan langsung di lapangan yang dilakukan untuk menjajaki dan

mengenali keadaan lapangan, menentukan lokasi sarang burung seriti,

mengukur fisik sarang, suhu dan kelembaban, serta mengukur fisik lokasi

sarang burung seriti, mengamati dan mengidentifikasi jenis bahan penyusun

(31)

Berdasarkan pengamatan ini yang dilakukan pada bulan Maret 2006 dapat

diketahui bahwa tempat-tempat burung seriti di Kabupaten Halmahera Selatan

yang ditemukan adalah di jembatan yang berdekatan dengan hutan

tanaman/kebun dan di gua berdekatan dengan pantai karang. Selanjutnya,

lokasi tersebut dijadikan sebagai unit contoh pegamatan sarang burung seriti

dan perilaku bersarang burung seriti.

3. Pengumpulan Data.

3.1. Sarang Burung Seriti (Collocalia esculenta). a. Peletakkan dan jumlah sarang Seriti.

Dalam pengamatan peletakkan dan jumlah sarang seriti dilakukan di dua

lokasi diantaranya di bawah jembatan dan di dalam gua yang terdiri atas

jembatan I (J I), jembatan II (J II), gua I (G I) dan gua II (G II). Pemetakkan di

lokasi jembatan terdiri atas 3 petak berupa sirip-sirip kayu sebagai tempat

burung seriti meletakkan sarang, dan di lokasi gua terdiri atas 5 petak berupa

celah-celah batu di dinding gua yang merupakan tempat burung seriti

meletakkan sarang. Setelah itu, sarang seriti yang terdapat di masing-masing

petak dihitung untuk mengetahui jumlah sarang.

(A) (B)

Gambar 5. A. (a) petak 1, (b) petak 2, dan (c) petak 3 merupakan letak sarang pada lokasi di bawah jembatan.

B. (a) petak 1, (b) petak 2, (c) petak 3, (d) petak 4, dan (e) petak 5 merupakan letak sarang pada lokasi di dalam gua.

Dalam pengukuran suhu dan kelembaban dilakukan di lokasi jembatan dan

gua di Kabupaten Halmahera Selatan selama sehari (1 hari) dalam 3 kali

pengukuran yaitu pagi, siang, dan sore hari.

(32)

Pengamatan sarang yang dilakukan adalah sarang seriti diambil di lokasi

jembatan (3 petak) dan gua (5 petak) di masing-masing petak sebanyak

10 sarang. Untuk pengukuran fisik sarang baik itu sarang mangkok dan sarang

pojok dipergunakan beberapa variabel diantaranya adalah :

1. Panjang sarang (cm), yaitu bagian sarang terpanjang.

2. Lebar sarang (cm), yaitu bagian sarang terlebar.

3. Tinggi total sarang (cm), yaitu jarak dari sarang bagian bawah ke bagian

tertinggi sarang.

4. Kadalaman sarang (cm), yaitu jarak tegak lurus dari dasar bagian dalam

sarang ke bagian permukaan sarang.

5. Bibir sarang (cm), yaitu jarak bagian dalam sarang yang merupakan tepi

sarang ke bagian terluar.

Gambar 6. Pengukuran sarang

Keterangan : 1 : Panjang sarang 3 : Tinggi sarang 5 : Bibir sarang 2 : Lebar sarang 4 : Kedalaman sarang

Gambar 7. Bentuk sarang seriti, (a) sarang mangkok dan (b) sarang pojok.

c. Jenis bahan penyusun sarang burung seriti.

Sarang seriti di lokasi jembatan dan gua di Kabupaten Halmahera Selatan

diambil dan dipisahkan dari air liur dengan bahan-bahan penyusun sarang,

untuk diidentifikasi sebanyak 10 sarang pada masing-masing petak.

(33)

spesimen jenis-jenis tumbuhan dari jenis bahan penyusun sarang seriti, serta

kunci identifikasi kelompok jenis bahan sarang seriti dari kelompok tumbuhan

lumut, rumput dan serpihan daun menurut Steenis 1987 ; Hasan dan Ariyati

2004 (Lampiran 20).

Identifikasi bahan-bahan penyusun sarang dilakukan dengan cara

merendam sarang dengan Aquades selama beberapa menit (satu per satu

sarang seriti direndam) dalam sebuah ember kecil, kemudian pemisahan air

liur dari bahan-bahan penyusun sarang dengan menggunakan pinset. Proses

identifikasi bahan-bahan sarang tersebut dilakukan dengan cara bahan-bahan

sarang yang telah dipisahkan tersebut diletakkan dalam ember kecil kering,

dilakukan pemotongan spesimen bahan sarang secukupnya, kemudian

potongan tersebut direndam dengan air, setelah itu bahan sarang tersebut

dibuat preparat basah diletakkan diatas gelas preparat dan ditutup dengan

gelas preparat agar bisa diamati di bawah mikroskop.

3.2. Perilaku

Pengamatan perilaku dilakukan di lokasi jembatan di Pulau Bacan dan

gua di Pulau Kasiruta (Ruta) Kabupaten Halmahera Selatan dengan

menggunakan metode one zero. Perilaku burung seriti yang diamati adalah

perilaku bersarang. Pengamatan perilaku burung seriti dilakukan saat burung

seriti melakukan aktivitas bersarang di dalam lokasi jembatan dan gua, waktu

pengamatan mulai dari jam 06.00 hingga 18.00 WIB (pagi, siang sampai sore

hari).

4. Analisis Data

4.1. Sarang Burung Seriti (Collocalia esculenta). a. Peletakkan dan Jumlah Sarang Seriti.

Data mengenai pola peletakkan dan jumlah sarang dianalisis secara

deskriptif kemudian dipetakkan. Untuk mengetahui penyebaran sarang pada

setiap petak digunakan perhitungan statistik non-parametrik khi-kuadrat

(34)

X² = ∑ ( σ – E ) ²

digunakan statistik non-parametrik khi-kuadrat pada taraf kepercayaan 0.05

dengan rumus :

tersebut berdasarkan kerapatan sarang per luasan yang dibutuhkan

(35)

b. Jenis Bahan Sarang, Struktur dan Bentuk Sarang Burung Seriti.

Data hasil pengukuran fisik sarang dan pengamatan jenis bahan penyusun

sarang dianalisis secara deskriptif. Data yang diperoleh disajikan dalam

bentuk tabel.

4.2. Perilaku

(36)

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

1. Sarang Burung Seriti (Collocalia esculenta). a. Peletakkan dan Jumlah Sarang Seriti.

Dari hasil perhitungan jumlah sarang seriti yang ada di bawah jembatan

dan di dalam gua diperoleh bahwa jumlah sarang di J I sebanyak 121 sarang

dan di J II berjumlah 130 sarang tersebar di sirip-sirip kayu. Jumlah sarang

seriti di G I sebanyak 212 sarang dan di G II berjumlah 206 sarang menyebar

pada dinding gua. Jumlah sarang seriti dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Jumlah sarang di lokasi jembatan dan gua di Kabupaten Halmahera Selatan. (Periode pengamatan Maret – Agustus 2006)

Lokasi sarang

J I J II G I G II

Petak Jumlah Petak Jumlah Petak Jumlah Petak Jumlah

a 41 a 46 a 42 a 41

diketahui dengan menggunakan statistik non-parametrik khi-kuadrat, dengan

tarif kepercayaan 0.05. Berdasarkan hasil perhitungan dapat diketahui bahwa

sarang seriti di J I yang terletak pada sirip-sirip kayu di setiap petak

penyebarannya merata (X² = 0.016; db = 5; P > 0.05). Perhitungan penyebaran

sarang seriti dengan khi-kuadrat (Lampiran 1).

Sebagian besar sarang seriti di jembatan I terletak di pojok petak (sarang

pojok). Dari hasil perhitungan dapat diketahui bahwa penyebaran sarang

mangkok dan sarang pojok tidak merata (X² = 15.02; db = 1; P < 0.05).

Perhitungan penyebaran sarang mangkok dan sarang pojok dengan

khi-kuadrat (Lampiran 1).

Penyebaran sarang seriti di lokasi jembatan II di Pulau Bacan dapat

(37)

tarif kepercayaan 0.05. Berdasarkan hasil perhitungan dapat diketahui bahwa

sarang seriti di J II yang terletak pada sirip-sirip kayu di setiap petak

penyebarannya tidak merata (X² = 0.2922; db = 5; P > 0.05). Perhitungan

penyebaran sarang seriti dengan khi-kuadrat (Lampiran 2).

Sebagian besar sarang seriti di jembatan II terletak di pojok petak (sarang

pojok). Dari hasil perhitungan dapat diketahui bahwa penyebaran sarang

mangkok dan sarang pojok tidak merata (X² = 15.02; db = 1; P < 0.05).

Perhitungan penyebaran sarang mangkok dan sarang pojok dengan

khi-kuadrat (Lampiran 2).

Penyebaran sarang seriti di lokasi gua I di Pulau Kasiruta (Ruta) dapat

diketahui dengan menggunakan statistik non-parametrik khi-kuadrat, dengan

taraf kepercayaan 0.05. Berdasarkan hasil perhitungan dapat diketahui bahwa

sarang seriti di G I yang terletak pada sirip-sirip kayu di setiap petak

penyebarannya tidak merata (X² = 676.974; db = 5; P < 0.05). Perhitungan

penyebaran sarang seriti dengan khi-kuadrat (Lampiran 3). Dalam gua I

terdapat sarang mangkok yang terletak di dinding gua. Dari hasil perhitungan

dapat diketahui bahwa penyebaran sarang mangkok merata (X² = 0.0020;

db = 1;P > 0.05). Perhitungan penyebaran sarang mangkok dengan khi-kuadrat

(Lampiran 3).

Penyebaran sarang seriti di lokasi gua II di Pulau Kasiruta (Ruta) dapat

diketahui dengan menggunakan statistik non-parametrik khi-kuadrat dengan

taraf kepercayaan 0.05. Berdasarkan hasil perhitungan dapat diketahui bahwa

sarang seriti di G II yang terletak pada sirip-sirip kayu di setiap petak

penyebarannya tidak merata (X² = 390.006; db = 5; P < 0.05). Perhitungan

penyebaran sarang seriti dengan khi-kuadrat (Lampiran 4). Dalam gua II

terdapat sarang mangkok yang terletak di dinding gua. Dari hasil perhitungan

dapat diketahui bahwa penyebaran sarang mangkok merata (X² = 0.00011;

db = 1;P > 0.05). Perhitungan penyebaran sarang mangkok dengan khi-kuadrat

(Lampiran 4).

Berdasarkan hasil pengukuran suhu dan kelembaban di lokasi jembatan

dan gua yang diukur pada waktu pagi, siang dan sore hari diperoleh antara lain

(38)

kelembaban antara 62.0% - 85.0%. Suhu di lokasi jembatan II antara

23.8ºC - 26.7ºC, sedangkan kelembaban antara 63.0% - 86.0%. Suhu di lokasi

gua I antara 25.0ºC-27.0ºC, sedangkan kelembaban antara 91.8% - 92.0%.

Suhu di lokasi gua II antara 24.0ºC - 26.9ºC, sedangkan kelembaban antara

90.5% - 92.0% (Lampiran 17).

b. Struktur dan Bentuk Sarang Seriti.

Dari hasil pengukuran fisik sarang mangkok di lokasi jembatan dan gua

diperoleh bahwa sarang mangkok di J I berukuran kecil dan sarang mangkok

di J II berukuran besar, sedangkan sarang mangkok yang terdapat di G I

berukuran besar dan sarang mangkok di G II berukuran kecil. Hasil

pengukuran fisik sarang mangkok di jembatan dan gua (Tabel 2).

Tabel 2. Ukuran fisik (rata-rata total ± SD) sarang mangkok di lokasi Jembatan dan gua di Kabupaten Halmahera Selatan (Periode pengamatan Maret – Agustus 2006).

kecil, sedangkan sarang pojok di jembatan II berukuran besar. Hasil

pengukuran fisik sarang pojok di lokasi jembatan I dan jembatan II (Tabel 3).

Tabel 3. Ukuran fisik (rata-rata total ± SD) sarang pojok di lokasi jembatan di Pulau Bacan. (Periode pengamatan Maret – Agustus 2006).

(39)

Ukuran fisik sarang seriti dari tinggi sarang (0,4 ± 6,8) dan bibir sarang

(3,5 ± 1,2) berbeda, sedangkan panjang, lebar, dan kedalaman sarang seriti

tidak terdapat perbedaan.

Hasil pengamatan dari kondisi fisik sarang mangkok diperoleh bahwa

sarang mangkok yang terdapat di jembatan I dan jembatan II berukuran kecil,

kering, dan kurang tebal. Sedangkan sarang mangkok yang terdapat di gua I

dan gua II berukuran besar, basah, sedikit kering, dan agak tebal (Gambar 8).

(a) (b)

(c) (d)

Gambar 8. Sarang mangkok (a) Jembatan I, (b) Jembatan II, (c) Gua I, dan (d) Gua II di Kabupaten Halmahera Selatan (Periode pengamatan Maret – Agustus 2006).

Keterangan : Bar = 2 cm.

Sarang pojok di jembatan I berukuran sedikit besar, dibandingkan

jembatan II yang berukuran agak kecil. Bentuk sarang pojok di jembatan I dan

(40)

(a) (b)

Gambar 9. (a) sarang pojok jembatan I dan (b) sarang pojok jembatan II di Pulau Bacan Kabupaten Halmahera Selatan (Periode pengamatan Maret-Agustus 2006).

Keterangan : Bar = 2 cm

c. Jenis Bahan Penyusun Sarang Seriti.

Jenis bahan penyusun sarang seriti dari 10 sarang yang diamati pada lokasi

J I dan J II diperoleh hasil bahwa jenis bahan penyusun sarang seriti dari

bahan lumut yang memiliki jumlah lebih banyak dibandingkan dari jenis

bahan penyusun sarang seriti lainnya dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Jenis bahan penyusun sarang seriti di jembatan I dan jembatan II di Pulau Bacan (Periode pengamatan Maret – Agustus 2006).

Lokasi sarang

J I (n=10) J II (n=10)

Jenis bahan sarang

a b c a b c

Lumut 7 6 7 6 6 5

Rumput 2 1 - 1 1 -

Lumut & ijuk - 1 - - - 1

Lumut & rumput 1 2 3 3 3 4

- : sampel bahan sarang tidak di peroleh. (a) petak 1, (b) petak 2, dan (c) petak 3. (J I) jembatan I, (J II) jembatan II.

Jenis bahan penyusun sarang seriti dari 10 sarang yang diamati pada lokasi

G I dan G II diperoleh hasil bahwa jenis bahan penyusun sarang seriti dari

bahan lumut, serta lumut dan rumput yang memiliki jumlah lebih banyak

(41)

Tabel 5. Jenis bahan penyusun sarang di gua I (G I) dan gua II (G II) di Pulau Kasiruta (Ruta) (Periode pengamatan Maret – Agustus 2006)

Lokasi srang

jumpai pada lokasi jembatan dan gua di Kabupaten Halmahera Selatan

diantaranya terdiri atas lumut, rumput, ijuk, serpihan daun, dan bulu burung.

Jenis bahan penyusun sarang seriti yang terdapat di lokasi jembatan dan gua

yang jumlahnya paling banyak adalah jenis bahan sarang dari lumut tanpa

campuran bahan tumbuhan lainnya, serta bahan sarang campuran dari lumut

dan rumput.

Hasil identifikasi jenis bahan sarang burung seriti diantara lokasi jembatan

dan gua diperoleh bahwa jenis lumut di jembatan I berjumlah 6 spesies dan

jembatan II sebanyak 9 spesies, serta gua I sebanyak 12 spesies dan gua II

sebanyak 10 spesies. Jenis rumput di jembatan I berjumlah 3 spesies dan

jembatan II sebanyak 3 spesies, sedangkan gua I berjumlah 4 spesies dan

gua II sebanyak 4 spesies. Jenis serpihan daun di lokasi gua I sebanyak

2 spesies dan gua II berjumlah 1 spesies. Sedangkan bahan sarang lainnya

adalah ijuk terdapat di lokasi jembatan dan gua, sedangkan bulu burung hanya

(42)

Tabel 6. Jenis bahan penyusun sarang seriti di lokasi jembatan dan gua di

Lejenea Spruceanthus polymorphus √ √ √ √

Lumut tapak Calyptothecium wrightii √ √ √ √

Lumut tanduk Herpetineuron toccoae √ √ √ √

Lumut tapak Homalia trichomanoides - √ - - Lumut berbulu lembut Oedicladium fragile - - √ √

Lumut tumpul

Homaliodendron

microdendron - √ √ √

Lumut hati berjari Kurzia gonyotricha √ √ √ √

Lumut payung leher

angsa Campylopus umbellatus - - √ - Rumput rawa Leersia hesandra √ √ √ √

Rumput menahun Oplismenus burmanni - - √ √ Rumput geganjuran Paspalum commersonii √ √ √ √

Rumput bermuda Cynodon dactylon √ √ √ √

terdapat 13 spesies sedangkan rumput 4 spesies dan serpihan daun 2 spesies,

serta bahan-bahan sarang lainnya sebagai bahan tambahan. Jenis bahan sarang

seriti di gua memiliki jumlah lebih banyak dibandingkan di lokasi jembatan.

Jenis bahan sarang seriti yang teramati adalah lumut, rumput, serpihan

daun, ijuk dan bulu burung (Gambar 10a). Bahan-bahan penyusun sarang seriti

direkatkan dengan air liur yang diproduksi sendiri oleh burung seriti. Sarang

seriti yang terdapat di gua mempunyai air liur berwarna kecoklat-coklatan

sedangkan sarang seriti yang terdapat di jembatan memiliki air liur berwarna

sedikit coklat keputih-putihan. Hasil pengamatan diperoleh bahwa air liur

sebelum direndam dan sesudah direndam memiliki warna yang tidak berubah

(43)

(a) (b)

Gambar 10. Jenis bahan penyusun sarang burung seriti di Kabupaten Halmahera Selatan, (a) bahan sarang tumbuh-tumbuhan dan (b) air liur seriti

Keterangan : Bar = 1 cm

B. Perilaku Bersarang Burung Seriti (Collocalia esculenta).

Perilaku bersarang burung seriti diamati selama 24 hari (288 jam).

Pengamatan perilaku dilakukan pada lokasi jembatan I Pulau Bacan dan gua I

di Pulau Kasiruta (Ruta) Kabupaten Halmahera Selatan.

1. Bersarang.

Pasangan burung seriti membutuhkan sarang untuk meletakkan telurnya.

Kedua pasangan seriti terbang bersama, hinggap berjejeran pada suatu tempat

dimana sarang akan di bangun, aktivitas seriti bersarang biasanya dilakukan

adalah :

- Keluar masuk sarang

Seriti terbang keluar masuk sarang dan mulai membawa rerumputan atau

bahan sarang lainnya. Terbang keluar sarang, biasanya dilakukan seriti makin

sering pada hari terang dan kembali masuk ke sarang sambil membawa

beberapa bahan penyusun sarang untuk membangun sarang dan makanan

untuk anak-anaknya. Dalam satu hari pasangan seriti bisa pulang pergi dalam

beberapa kali.

- Penyambutan

Burung seriti biasanya memiliki panggilan khusus sehingga keduanya

(44)

meninggalkan sarang, maka saat kembali ke sarang pasangan seriti

mengeluarkan suara (berirama mencicit) yang kemudian di jawab oleh

pasangan seriti yang berada di sarang. Pada umumnya pasangan seriti (betina)

yang berada di sarang mengeluarkan suara saat menyambut pasangan seriti

(jantan) ketika kembali ke sarang.

- Pengoperan bahan sarang

Pasangan seriti akan mengoper bahan sarang pada pasangannya di dalam

sarang melalui paruh ke paruh, setelah itu pasangan seriti akan pergi lagi,

kemudian setelah pasangan seriti kembali lagi ke sarang disambut oleh

pasangan seriti di dalam sarang, setelah itu bahan sarang mulai dioper lagi ke

pasangannya. Pada umumnya pasangan seriti dalam sehari dapat pulang-pergi

beberapa kali, lalu bahan sarang dioper dan seterusnya.

- Menyusun/merapikan sarang

Bahan sarang seriti yang telah diambil oleh pasangan seriti dikumpul,

barulah seriti akan menyusun atau merapikan bahan sarang tersebut dengan

pasangannya secara bersama-sama.

- Merekatkan air liur (saliva)

Dalam mengoleskan air liur dilakukan oleh kedua pasangan seriti secara

bergantian. Seriti membangun sarang secara bersama-sama, tetapi seriti secara

bergantian mengoleskan paruhnya ke kiri dan ke kanan dengan mengeluarkan

air liurnya sebagai bahan pokok untuk membuat sarang.

2. Aktivitas Bersarang Burung Seriti.

Hasil dari pengamatan total dalam sehari dibagi menjadi 3 kelompok,

yaitu pagi (06.00-10.00), siang (10.00-14.00), dan sore (14.00-18.00) di

lakukan di lokasi jembatan di Pulau Bacan dan gua di Pulau Kasiruta (Ruta)

Kabupaten Halmahera Selatan. Dari aktivitas burung seriti bersarang yang

teramati adalah saat seriti terbang keluar masuk sarang, penyambutan, operan

bahan sarang, menyusun atau merapikan sarang, melumuri atau merekatkan

air liur dilakukan lebih banyak pada waktu pagi, siang, dan sore hari,

sedangkan waktu istirahat lebih banyak pada sore hari. Aktivitas yang diamati

saat seriti mulai membuat sarang. Aktivitas burung seriti bersarang di lokasi

(45)

Tabel 7. Aktivitas burung seriti bersarang pagi hari di lokasi jembatan Pulau

Menyusun/merapikan sarang 1 1 1 1

Melumuri air liur 1 1 1 1

Menyusun/merapikan sarang 1 1 1 1

Melumuri air liur 1 1 1 1

Menyusun/merapikan sarang 1 1 1 1

Melumuri air liur 1 1 1 1

Istirahat 0 0 1 1

1 = ada aktivitas dan 0 = tidak ada aktivitas

Burung seriti memerlukan tempat untuk bersarang yang cukup tenang

tanpa gangguan dan kondisi tempat yang sangat lembab, untuk beristirahat

mengerami telur atau berkembangbiak. Aktivitas burung seriti bersarang di

(46)

Tabel 10. Aktivitas burung seriti bersarang pagi hari di lokasi gua Pulau

Menyusun/merapikan sarang 1 1 1 1

Melumuri air liur 1 1 1 1

Menyusun/merapikan sarang 1 1 1 1

Melumuri air liur 1 1 1 1

Menyusun/merapikan sarang 1 1 1 1

Melumuri air liur 1 1 1 1

Istirahat 0 1 1 1

(47)

B. Pembahasan

1. Sarang Burung Seriti (Collocalia esculenta). a. Peletakan dan Jumlah Sarang Seriti.

Burung seriti dapat terbang pada waktu terang, karena mengandalkan

penglihatanya saja sehingga dalam meletakkan sarang pun burung seriti lebih

memilih tempat terang. Sarang seriti dibuat sangat berdekatan sehingga jarak

antara sarang yang satu dengan sarang lainnya saling berdempetan

(Whendrato et al., 1989).

Berdasarkan hasil pengamatan pola peletakkan sarang seriti diperoleh

bahwa di bawah jembatan burung seriti meletakkan sarang pada sirip-sirip

kayu, baik itu di bagian tengah maupun di bagian pojok sirip. Di dalam gua

burung seriti meletakkan sarang pada celah-celah batu di dinding gua.

Diasumsikan bahwa seriti cenderung menyukai sudut sirip di jembatan dan

celah-celah batu di dinding gua sebagai tempat untuk meletakkan sarang.

Penyebaran sarang di masing-masing petak pada lokasi jembatan I merata

karena sarang seriti banyak dibuat di petak 1, sedangkan petak 2 dan petak 3

sarangnya terlihat sedikit. Karena pada petak 2 dan petak 3 kurang gelap dan

lembab atau banyak terdapat cahaya matahari yang masuk menerangi

sirip-sirip di petak tersebut (petak 2 dan 3).

Perbandingan jumlah sarang mangkok dan sarang pojok di jembatan I dari

10 sarang terambil sangat besar yaitu 16 untuk sarang pojok dan 14 untuk

sarang mangkok. Jika dibandingkan dengan area yang digunakan seriti untuk

menempelkan sarang dimana area yang tersedia untuk sarang pojok 0.48 m

dan untuk sarang mangkok 0,42 m. Dari hasil perhitungan statistik diketahui

bahwa penyebaran sarang pojok dan sarang mangkok tidak merata. Secara

deskriptif dapat diketahui bahwa sarang pojok lebih disukai oleh seriti. Hal ini

diduga karena bagian pojok sirip kondisi udaranya lebih stabil disebabkan

pengaruh angin yang masuk lebih sedikit jika dibandingkan dengan bagian

tengah sirip (Whendrato et al., 1989).

Penyebaran sarang di masing-masing petak pada lokasi jembatan II tidak

merata karena sarang seriti banyak dibuat di petak 1 dan petak 2 serta jumlah

(48)

sarang terlihat sedikit. Karena pada petak 3 kurang gelap dan lembab atau

banyak terdapat cahaya matahari yang masuk menerangi sirip-sirip di petak 3.

Perbandingan jumlah sarang mangkok dan sarang pojok di jembatan II

dari 10 sarang terambil sangat besar yaitu 14 untuk sarang pojok dan 16 untuk

sarang mangkok. Jika dibandingkan dengan area yang digunakan seriti untuk

menempelkan sarang dimana area yang tersedia untuk sarang pojok 0.42 m

dan untuk sarang mangkok 0,48 m. Dari hasil perhitungan statistik diketahui

bahwa penyebaran sarang pojok dan sarang mangkok tidak merata. Secara

deskriptif dapat diketahui bahwa sarang pojok lebih disukai oleh seriti. Hal ini

diduga karena bagian pojok sirip kondisi udaranya lebih stabil disebabkan

pengaruh angin yang masuk lebih sedikit jika dibandingkan dengan bagian

tengah sirip (Whendrato et al., 1989).

Penyebaran sarang di masing-masing petak pada lokasi gua I tidak merata

karena sarang seriti banyak dibuat di petak 1, petak 2 dan petak 5, serta jumlah

sarang lebih banyak (petak 5, petak 1 dan petak 2), sedangkan petak 3 dan

petak 4 jumlah sarang sedikit. Karena pada petak 3 kurang gelap dan lembab,

sedangkan petak 4 sangat gelap dan dinding gua terlihat sangat basah. Jumlah

sarang mangkok di gua I dari 10 sarang terambil sangat besar yaitu 40 sarang.

Jika dibandingkan dengan area yang digunakan seriti untuk menempelkan

sarang dimana area yang tersedia untuk sarang mangkok 0,45 m. Dari hasil

perhitungan statistik diketahui bahwa penyebaran sarang mangkok merata.

Secara deskriptif dapat diketahui bahwa sarang mangkok lebih disukai oleh

seriti. Hal ini diduga karena bagian dinding gua I kondisi udaranya lebih stabil

disebabkan pengaruh angin yang masuk lebih sedikit (Suyanto 1983).

Penyebaran sarang di masing-masing petak pada lokasi gua II tidak merata

karena sarang seriti banyak dibuat di petak 1, petak 4 dan petak 5, serta jumlah

sarang lebih banyak (petak 5, petak 1 dan petak 4), sedangkan petak 2 dan

petak 3 jumlah sarang sedikit. Karena pada petak 2 dan petak 3 kurang gelap

atau kurang lembab dan dinding gua terlihat sangat basah. Jumlah sarang

mangkok di gua II dari 10 sarang terambil sangat besar yaitu 35 sarang. Jika

dibandingkan dengan area yang digunakan seriti untuk menempelkan sarang

(49)

perhitungan statistik diketahui bahwa penyebaran sarang mangkok merata.

Secara deskriptif dapat diketahui bahwa sarang mangkok lebih disukai oleh

seriti. Hal ini diduga karena bagian dinding gua II kondisi udaranya lebih

stabil disebabkan pengaruh angin yang masuk lebih sedikit (Suyanto 1983).

Pengukuran suhu dan kelembaban di jembatan dan gua (Lampiran 17),

diperoleh bahwa perbedaan suhu dan kelembaban antara jembatan I dan

jembatan II terutama pagi, siang, dan sore hari sedikit ideal yaitu, di J I dan

J II suhu berkisar antara 23.6ºC - 26.8ºC dengan kelembaban antara

62.0% - 86.0%, hal ini disebabkan bahwa di jembatan I dan jembatan II

kurang gelap, kurang lembab, dan banyak terdapat cahaya matahari masuk.

Sedangkan perbedaan suhu dan kelembaban di gua I dan gua II terutama pagi,

siang dan sore hari terlalu besar atau ideal yaitu, di G I dan G II suhu berkisar

antara 24.0ºC - 27.0ºC dengan kelembaban antara 90.0% – 92.0%. Hal ini

disebabkan adalah bahwa di gua I dan gua II gelap, tidak terdapat sinar

matahari masuk, dan sangat lembab atau basah. Dapat diasumsikan bahwa di

gua memiliki kondisi suhu dan kelembaban lebih tinggi dari pada di jembatan

yang kurang, serta di gua berdekatan dengan daerah perairan atau pantai yang

sangat lembab.

Menurut Nugroho (1996) burung seriti mempunyai tempat perhunian

(habitat mikro) yang relatif sama dalam arti sedikit berbeda diantaranya adalah

suhu udara ideal untuk seriti 23ºC - 30ºC sedangkan kelembaban udara

60% - 80%. Iklim di dalam gua umumnya memiliki temperatur dan

kelembaban yang tinggi dan relatif stabil, karena itu organisme yang hidup di

dalamnya harus menyesuaikan diri dengan kadar oksigen yang rendah,

temperatur dan kelembaban yang tinggi, keadaan yang gelap dan sedikit

makanan (Suyanto 1983).

Kondisi lingkungan di luar dan di dalam lokasi jembatan I diantaranya

adalah terdapat pohon-pohon dan berdekatan dengan kebun atau hutan

tanaman, di bawah jembatan terdapat sungai kecil yang mengalir keluar,

pondok kecil, bentuk fisik jembatan sedikit rendah dan lebar (Lampiran 25).

Kondisi lingkungan di luar dan di dalam lokasi jembatan II diantaranya adalah

(50)

kebun atau hutan tanaman, di bawah jembatan terdapat sungai kecil yang

mengalir keluar, batu-batuan sungai yang besar, bentuk fisik jembatan sedikit

tinggi dan kurang lebar (Lampiran 25).

Kondisi lingkungan di luar dan di dalam lokasi gua I diantaranya adalah

terletak paling dekat dengan air laut atau pantai karang yang memiliki batuan

karang, di mulut gua tertutup oleh akar pohon, banyak terdapat

tumbuh-tumbuhan besar dan kecil, di dalam gua terdapat batuan dinding gua basah,

lantai gua tanah basah dan kering, serta bentuk fisik gua sedikit besar

(Lampiran 25). Kondisi lingkungan di luar dan di dalam lokasi gua II

diantaranya adalah terletak berdekatan dengan gua I, di mulut gua tertutup

oleh akar pohon, diluar gua terdapat tumbuhan besar dan kecil, di dalam gua

terdapat batuan dinding gua basah dan kering, lantai gua tanah basah dan

kering, berkerikil kecil, dan bentuk fisik gua kecil (Lampiran 25).

b. Struktur dan Bentuk Sarang Seriti

Sarang seriti di jembatan terdapat sarang mangkok dan sarang pojok

berbentuk segitiga. Sedangkan sarang seriti di gua terdapat sarang mangkok.

Dari hasil pengamatan bahwa sarang mangkok lebih banyak terdapat pada

lokasi gua dibandingkan di jembatan. Sarang mangkok yang terdapat di

jembatan berukuran kecil sedangkan sarang mangkok di gua berukuran besar

dan tebal. Hal ini disebabkan bahwa sarang seriti di gua yang berukuran besar

dan tebal karena air liur dan bahan penyusun sarang lebih banyak

dibandingkan sarang seriti di jembatan yang bahan penyusun sarang sedikit.

Sarang yang dibuat oleh seriti besar-besar dan tebal berfungsi sebagai

tempat untuk burung seriti berlindung, beristirahat, berkembangbiak,

mengerami anaknya dan menjaga atau merawat anaknya (Marzuki et al.,

2002). Bentuk sarang seriti yang dibuat tidak sempurna dan kecil-kecil

berfungsi sebagai tempat bergantung atau tempat beristirahat. Seandainya

sarang seriti tersebut tidak di panen maka pasangan seriti menggunakan sarang

itu untuk membesarkan anak-anaknya (Whendrato et al., 1989).

Sarang pojok banyak di jumpai di lokasi jembatan karena kondisi fisik

lokasi jembatan banyak terdapat sudut-sudut yang berupa sirip kayu atau

Gambar

Gambar 3. Peta Provinsi Maluku Utara
Tabel 11. Aktivitas burung seriti bersarang siang hari di lokasi gua Pulau Kasiruta (Ruta), Maret – Agustus 2006

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa ekologi bivalvia di Ponelo Kepulauan terdiri dari aspek kelimpahan yang diperoleh dengan indeks

Dilihat dari aspek sebab-sebab melakukan kejahatan, dalam hukum pidana islam unsur-unsur sebab dilakukannya suatu kejahatan menjadi salah satu pertimbangan terhadap

sebagai pengubahan sinyal periodik  f  # t  $ menjadi suatu spektrum yang terdiri dari spektrum amplitudo dan spektrum sudut fasa. %eret !ourier, yang koefisiennya diberikan oleh

Sama seperti yang ditunjukkan pada plot curah hujan, wilayah Moisture source menunjukkan curah hujan yang rendah, dan wilayah moisture sink menunjukkan curah hujan

Hasil penelitian mendapatkan ada perbedaan kontrol diri pada remaja yang berasal dari keluarga utuh dan bercerai, yakni remaja dari keluarga utuh memiliki kontrol diri yang lebih

Al-Ahliah Enterprise Mengeluarkan produk kesihatan berasaskan lintah, madu dan herba secara tradisional. Kapsul aulia Jenama

Ekivalensi Mobil Penumpang (emp) adalah faktor yang menunjukkan pengaruh berbagai tipe kendaraan dibandingkan kendaraan ringan terhadap kecepatan, kemudahan bermanufer,

Untuk itu dengan sedikit kreativitas, saya mencoba mengembangkan produk semacam ini di sekitar Demak, mengingat ketersediaan bahan baku yaitu buah kersen di daerah Demak itu